Anda di halaman 1dari 60

KAPITA SELEKTA

ILMU THT
dr. Redha Cipta Utama
PRIVATE CLASS UKDI
Gangguan Pendengaran
Kelainan pendengaran terbagi menjadi:
1. Tuli konduktif
2. Tuli sensorineural
3. Tuli campuran
Tuli konduktif (CHL) kelainan di telinga luar
atau tengah
Tuli sensorineural (SNHL) kelainan di
koklea atau retrokoklea

Tuli Konduktif (CHL)
Kelainan telinga luar atresia CAE, serumen
prop, OE sirkumkripta
Kelainan telinga tengah tubair catarrh, OM,
otosklerosis, timpanosklerosis, hemotimpanum,
dan dislokasi ossikula auditiva
Tuli Sensorineural (SNHL)
Koklea aplasia, labirinitis, intoksikasi obat,
trauma kapitis, tuli mendadak, acoustic trauma,
paparan bising
Retrokoklea acoustic neuroma, tumor pons
cerebellum, multiple mieloma, mcedera otak,
GPDO, dll
Cara dan Tujuan Pemeriksaan Pendengaran
Umur Cara Pemeriksaan Tujuan Utama Pemeriksaan
0-4 bln 1. Identifikasi faktor resiko
ibu, kelainan fisik
2. Observasi
3. Otoskopi
4. Reflek moro Neometer
5. OAE - BERA
1. Untuk mengetahui kelainan
congenital dan telinga
tengah
2. Sifat deteksi awal /
screening
4-24 bln 1. Follow up faktor resiko ibu
2. Pertumbuhan, perkembanga
3. Otoskopi
4. Ewing methode
1. Tindak lanjut
2. Sifat deteksi awal / screening
2-3 thn 1. Laporan / keluhan keluarga
2. Pertumbuhan, perkembangan
bicara
3. Otoskopi
4. Play Audiometri
5. Psikologi - neurologi

1. Mengetahui tuna rungu wicara
2. Mengetahui tingkat intelegensi anak
3. Kelainan yang menyebabkan gangguan
pendengaran bicara anak
4. Pemeriksaan mengenai perkembangan
anak
5. Sifat deteksi awal diagnostik
3-5 thn 1. Keluhan keluarga
2. Otoskopi
3. Play Audiometri
4. Psikologi - neurologi
5-12 thn 1. Keluhan Keluarga guru
2. Otoskopi
3. Play audioletri pure audiometri
4. tes bisik
1. Mengetahui status pendengaran anak
2. Pemeriksaan mengenai pendidikannya
3. Memikirkan aspek medis
4. Sifat diagnostik screening

12 thn -

1. Anamnese
2. kelainan fisik
3. Otoskopi
4. Audiometer
5. Suprathreeshoid
6. Speech audiometer
7. Impedansi metri

1. Diagnostik
2. mengetahui derajat jenis ketulian dan
lesinya
3. SDS SRT
4. Penentuan aspek medis dan sosial
(operasi, APM dan sebagainya).
TES PENALA
Garpu tala 512, 1024, 2048 Hz
Tes penala : Rinne, Weber, Schwabach
1. Tes RINNE membandingkan hantaran
melalui udara (AC) dan tulang (BC) pada
telinga yang diperiksa
2. Tes WEBER membandingkan hantaran
tulang telinga kanan dan kiri
AC (Air Conduction)
BC (Bone Conduction)
Tes Penala (Interpretasi)
Weber
Lateralisasi (-)
Weber
Lateralisasi Kiri
Weber
Lateralisasi
Kanan
RINNE kedua
telinga
AC>BC
Normal SNHL kanan SNHL kiri
RINNE kiri
BC>AC
CHL kiri Combine : CHL
+ SNHL kiri
RINNE kanan
BC>AC
Combine : CHL +
SNHL kanan

CHL kanan
OTITIS EKSTERNA
Terbagi menjadi:
1. Otitis Eksterna Sirkumkripta (Furunkulosa)
2. Otitis Eksterna Maligna
3. Otitis Eksterna Diffusa, terbagi:
a. Otitis Eksterna Diffusa Akuta
b. Otitis Eksterna Diffusa Kronika

Otitis Eksterna Sirkumkripta
(Furunkulosa)
Infeksi gram (+) staphylococcus aureus di folikel
rambut liang telinga luar, biasanya karena trauma
Gejala
Sakit telinga, demam
Pendengaran berkurang, daun telinga terdorong ke
depan
Tanda
Edema liang telinga
Liang telinga sempit/menutup
Tragus pain (+)

Contd ... (Otitis Eksterna Sirkumkripta)
Diagnosis : riwayat mengorek telinga,
demam, otoskopi tampak edema liang telinga
Tatalaksana :
Tampon : pakai gliserin, salep dll
Antibiotika spektrum luas (amoxicillin, eritromisin,
ciprofloxacin)
Bila ada pus : kultur
Bila abses : insisi dan drainase
Otitis Eksterna Diffusa
Biasanya diawali korek-korek telinga lepas lapisan
pelindung lipid dari telinga bakteri masuk infeksi
akut bakteri liang telinga luar diffuse
Membran timpani sulit dinilai pada akut
Etiologi: proteus mirabilis, pseudomonas, staf.aureus
Predisposisi:
Berenang (swimmer ear)
Iklim panas lembab
Trauma benda asing
Hearing aid dll

Contd...(Otitis Eksterna)
Otitis Eksterna Diffusa Akuta sakit telinga
saat menggerakkan rahang bawah
(mengunyah) pmx. tampak bengkak, pus,
deskuamasi epithel (mass cheesy debris)
Otitis Eksterna Diffusa Kronika iritation
discharge, penebalan liang telinga, kadang
granulasi membran timpani
Otitis Eksterna Maligna
Peradangan luas progresif kulit hingga sub
kutis dan jaringan organ sekitar
Predisposisi : Diabetes Mellitus
Klinis : gatal, nyeri hebat, bengkak, sekret (+),
ada jaringan granulasi
Komplikasi : parese N.facialis, kondritis,
osteitis, osteomyelitis, kerusakan Os.temporal
Tx : AB 6 minggu, kontrol gula darah, tampon
neomisin, dan pertimbangkan steroid
KELAINAN KONGENITAL
ATRESIA CAE
CHOLESTEATOMA
INFEKSI = OTITIS MEDIA

PENYAKIT & KELAINAN TELINGA TENGAH
OTITIS MEDIA
OTITIS MEDIA
SUPURATIF
OTITIS MEDIA
NON SUPURATIF
O M S K
O M A
OTITIS MEDIA
SEROSA KHRONIK
(Bila sekret kental mukoid Glue Ear)
OTITIS MEDIA
SEROSA AKUT(BAROTRAUMA)
TRAUMA HAEMOTYMPANIUM
DISLOKASI / PUTUS OSIKULA AUDITIVA
TUMOR GLOMUS YUGULARE TUMOR
METABOLISME OTOSLEROSIS
KOLESTEATOMA
PENYAKIT & KELAINAN TELINGA TENGAH
OTITIS MEDIA AKUTA
AURIS MEDIA (AM) STERIL, +MIKROBA NASOPHARING,
FARING.
FUNGSI TUBA EUSTACHII (TE) AERASi DAN DRAINASE
+ PENCEGAHAN
MASUKNYA MIKROBA
ENZYM, ANTIBODI o.k. silia mukosa tuba
TERJADI FAKTOR PERTAHANAN TUBUH TERGANGGU
KUMAN MASUK AM INFLAMASI
TRIGGER FAKTOR / PENCETUS OMA URTI
OTITIS MEDIA AKUTA
ANAK SERING
- OK : URTI SERING
BAYI TE - PENDEK
- LEBAR
- AGAK HORISONTAL
+ POSISI MINUM ASI / SUSU BOTOL
PATOGENESIS TERJADINYA OTITIS MEDIA
(OMA, OME, OMSK / OMP)
GANGGUAN
TUBE
EFUSI Tek ()
AM
CT
SEMBUH / NORMAL
Infeksi (-)
OME
Sembuh
OMA
OMSK / OMP OME
ETIOLOGI
-Perubahan Tekanan
udara tiba-tiba
-Alergi
-Infeksi
-Sumbatan
Sekret
Tampon
Tumor
Tuba tetap terganggu
+ Ada Infeksi
PATOLOGI
KUMAN BAKTERI PIOGENIK
STREPTOKOKUS HEMOLITIKUS
STAFILOKOKUS AUREUS
PNEUMOKOKUS
- HEMOFILUS INFLUENZA
- ESHERIA COLLI
- STREPTOCOCCUS AU HAEMOLITICUS
- POTEUSVULGARIS
- PSEUOMONAS AUREGENOSA
>> ANAK < 5TH
STADIUM OMA amati dengan OTOSKOPI
1. STADIUM OKLUSI TE
2. STADIUM HIPEREMESIS (STD PRESUPORASI)
3. STADIUM SUPORASI
4. STADIUM PERFORASI
5. STADIUM RESOLUSI
KOMPLIKASI OMA
ABSES SUB PERIOSTEAL
MENINGITIS
ABSES OTAK

STADIUM OMA
STADIUM OMA TANDA-TANDA DI MT TERAPI
STADIUM OKLUSI ET - Retraksi MT
- + Normal
- + Keruh
- + Efusi
- Kausa Alergi
Virus Sulit dibedakan
1) Dekkongestan membuka
ET
- R/ Tetes Hidung (HCl
Efidrin 0.5% (A))
(HCl Efidrin 1% (B))
2) Antibiotika >< Kuman
STADIUM HIPEREMIS
(PRESUPURASI)
- Venal Injction
- Hyperamie
- Oedeme
- Sekret Eksudat Sulit terlihat
1) Antibiotika : Penisilin
Ampisilin
Eritromisin
1) Tetes hidung
2) Analgesik
AB adekuat 7 hari
>< Mastoiditis
>< Gangguan Pendengaran
>< Kekambuhan
STADIUM SUPURASI -Bulging Miringotomi
-Menderita, Sakit
- Nadi, Suhu naik
- Nyeri Telinga Hebat
- Ruptur MT
1) Antibiotika
2) Miringotomi
STADIUM OMA TANDA-TANDA DI MT TERAPI
STADIUM PERFORASI Ruptur MT
Nanah / Sekret Keluar
+ Pulsasi
Anak Jadi tenang
Suhu Turun Tidur Nyenyak
- Sekret 7 10 hari hilang ;
perforasi menutup
- Cuci Telinga
H202
3
%
3-5 Hari
- Antibiotik Adequat
STADIUM RESOLUSI 1) MT Normal
2) Sekret Keluar dari perforasi
MT
Kering Resolusi
1) Kronik (>6 Minggu)
Perforasi tetap dengan
Sekret Hilang / timbul
OMA tdk Perforasi Otitis
Media Serosa + Cairan
dari cavum timpani
OMA + Sekret >>>3
minggu OMA Sub
Akut
OMSK
1) Resolusi
2) Tidak Resolusi
Antibiotik + 3 Minggu
+ Mastoiditis
MIRINGOTOMI
Tindakan insisi pada paristensa MT, agar terjadi
drainage dan CT CAE (pembedahan minor) pada
quadran posterior inferior.
Parasintese : punksi aspirasi dengan jarum / spet
untuk mikro
Komplikasi
Perdarahan Trauma CAE
Dislokasi ossikula auditiva
Trauma fenestra rotundum
Trauma n. fascialis
Trauma bulbus jugulare
OMSK
OMP, OMC, CONGEK, KOPOK
INFEKSI KHRONIS
PERFORASI MT
SEKRET DARI CT KE CAE
hingga timbul : Encer
Kental
Bening
Nanah
PERJALANAN PENYAKIT
OMA + PERFORASI < 2 bln OM Sub Akut
> 2 bln OMSK
Faktor penyebab : - Terapi terlambat
- Terapi Unadequate
- Virulensi kuman tinggi
- Daya tahan tubuh gizi rendah
- Hygiene buruk
JENIS OMSK
TIPE PERADANGAN SEKRET CT PERFORASI KOMPLIKASI
MUKOSA TULANG
BENIGNA + - Sentral -
MALIGNA +
Bahaya
Marging
Sub Total
Cholesteatoma
AKTIF +
>>
+
Sekret
TENANG Basah
Kering
KOLESTEATOMA
KISTA EPITERIAL
ISI DESKUAMASI EPITL (KERATIN) YANG MENUMPUK BESAR
PATOGENESIS
TEORI INVAGINASI
TEORI IMIGRASI
TEORI IMPLANTASI
(PATOGENIK) OPBLAST INJURY, GROMET MIRINGOTOMI.
EP. KULIT (KERITINIZING STRATIFIED SQUAMOUS EPITHELIUM) DI LUAR
EP.KULIT DI CAE CUL-DE-SAC
+ CERUMEN EP. KULIT MEDIAL TERPERANGKAP CHOLEASTOM
KLASIFIKASI KONGENITAL-EMBRIONIK SAMPAI OTAK
- AKUISITAL : PRIMER
INVAGINASI
PERFORASI MT
SEKUNDER
+PERFORASI MT
TEORI IMIGRASI EP. KULIT CAE MASUK LEWAT PERFORASI
TEORI METAPLASI MUKOSA CT IRITASI INFEKSI LAMA
OMSK MALIGNA
TANDA:
Perforasi Marginal
--Atik
Abses/fistel retro aurikuler
Jaringan Ganulasi / Polip CAE
Sekret bau nanah khas / Kolesteatoma
Xpoto : + Kolesteatoma
TERAPI: waktu lama
Sekret >>> sebab
+ perforasi
+ Infeksi faring, Nasofaring
+ Jar. Pathologi di Mastoid
+ Gizi dan HS yang Jelek
Abses Mastoid Incisi Mastoidektomi
Simpel
Radikal
Bondy (termodifikasi)

MEMBRAN TIMPANI
1. RETRAKSI, ADHESI, SINECHIA
2. BULGING, BULA
3. PERFORASI
KELAINAN TINDAKAN - OPERASI

RETRAKSI
ADHESI
SINECHIA
BULLA
BULLGING
PERFORASI

POLITZERISASI
POLITZERISASI
TYMPANOTOMI
PUNKSI TAMPONADE
MIRINGOTOMI
MIRINGO BRIDGE
MIRINGO PLASTI
TIMPANO PLASTI
MEMBRAN TIMPANI
TINDAKAN PADA KELAINANNYA
CAE
CAE
CT
CT
BULA 1. LAPIS LUAR
2. VIRUS
3. PARASINTESE LAPIS 2 UTUH

BULGING 1. 3 LAPIS
2. BAKTERI
3. PARASINTESI 3 LAPIS
LUBANG
OTITIS MEDIA NON SUPURATIFA
O.M. SEROSA EFUSI ENCER
GLUE EAR EFUSI KENTAL
MEE
PATOLOGI
+ Sekret Non Purulen di CT, MT utuh
- Tanda-tanda Infeksi:
Transudasi OK Tek. Hidrostatik OM. Serosa
Sekresi Kel. Kista Mukoid OM. Mukoid
OK : ETD
Adenoid Hipertropi
Adenoiditis
Palatoschisis
NPC
Baro Trauma
Rino Sinusitis
DEF. Imunologik Metabolik
Alergi
OTITIS MEDIA SEROSA
I. AKUT : + Sekret tiba-tiba OK. ETD
Sebab : ETAD 1. Baro Trauma
2. Virus URTI
3. Alergi
4. Idiopatik
Gejala : Pendengaran
Rasa Tersumbat (Diplacusis binauralis)
Rasa + Cairan Bergerak
Rasa Nyeri (+ Tek. di CT)
MT Retraksi
TERAPI: Medika Mentosa
2 Minggu Miringotomi Bila + Gejala
Khronis : Gromet Tube

O.M. SEROSA KRONIK (GLUE EAR)
PROSES AKUT KRONIK
TERJADI Tiba-tiba (ETAD) Bertahap (ETCD)
KELUHAN Nyeri Rasa Lama
USIA Dewasa - >> Anak
LETAK - Unilateral NPC
SEKRET Kental ~ Lem (Glue Ear)
Sisa OMA
PENYEBAB - Baro Trauma
- Virus URTI
- Alergi
- Idiopatik
- Virus
- Alegi
- ETD
TERAPI Medika Mentosa
Pembedahan
Medika Mentosa
Pembedahan
VERTIGO
Perasaan subjektif ttg kehilangan orientasi thdp
lingkungan sekitar
Vert.Subjektif : perasaan badan digerakan kearah
bawah, berputar, dikocok-kocok.
Vert. Objektif : dimana dunia di sekitarnya
berputar
Gejala Vertigo : mual, muntah, keringat dingin,
pucat akibat defect autonomi
Merupakan keluhan utama kelainan vertigo uni
lateral pada permulaan kelainan.
MINIERE DISEASE (ENDOLYMPHATIC HYDROPS)
Kelainan endolymphe labyrinth
Gejala trias minierre vertigo
- Deafness
- Tinnitus
Ethiologi :1. Kelainan metabolisme
2. Retensi Na dalam Tubuli
3. Sensitive Thd Histamin (Allergi)
4. Vaso spasmus OK saraf simpatis
5. Kelainan / kerusakan dari hormon
yang mengontrol air dan elektrolit
pada stria vaskullaris dan
membrane Reisnners

Minierre
Disease
Minierre
Syndrome
Pseudo
Minierre
Endo Lymphatitic
Hydrops
Labirynthitis Tubair Catarh
Vertigo + + +
Nystagmus + + +
Tinnitus + + +
SNHL + Mixed Deafness CHL
SINUSITIS AKUT
Hidung : pilek, buntu, foetor
Pd Sinusitis : bau dirasakan oleh penderita
Pd ozena : bau dirasakan oleh orang lain
Faring : dahak terutama pagi hari
ditemukan sekret mukoid pada dinding faring
kanan& kiri di sebut : Post nasal drip
Telinga : Kurang pendengaran
- OM
- Sekret lewat dinding lat limfadenitis peritubal
oklusi tuba absorbsi O2
tek udara turun gendang telinga tertarik
Sakit pada Sinusitis
1. Maksilla
Lokasi : pipi, hidung, bibir, gigi
Referal Pain : retrobulbair, gigi, mandibula atas
2. Ethmoid
Lokasi : retronasal, retroorbital
Referal Pain : occipital, leher atas
3. Spenoid
Lokasi : retronasal, retroorbital
Referal pain : frontal, vertex, occipital, mastoid, caninus,
bahu
4. Frontal
Lokasi : frontal, supraorbital
Referal pain : bitemporal,occipital






PEMERIKSAAN
1. Hidung : sekret mukopurulen di meatus
media, meatus superior, hipertrophi concha,
bisa juga odem pd wkt hipertropi concha
sehingga waktu Px meatus tidak bisa terlihat
maka concha harus dikecilkan dengan
efedrin 1%
2. Faring :
Tampak post nasal drip
PEMERIKSAAN PENUNJANG :
1. Transluminasi = diafanoskopi
Di px dikamar gelap, sebelumnya mulut
dimasuki kap kemudian dimasukkan bola
lampu penderita disuruh mengemut bola
lampu terlihat pembiasan pipi lihat di
daerah infraorbita :
- terang : udara
- Gelap : sekret/penebalan mukosa
pertumbuhan sinus tdk sempurna
2. Pungsi antrum
3. X foto SPN posisi Waters & Cadwell
Bisa melihat fluid level pada sinus
dr: AP : sinus maksilla
Lateral : sinus lainnya
4. CT scan
5. Endoskopi
6 MRI
1. Mata Peradangan ringan, selulitis orbitalis, Abses
subperiosteal, Abses orbita, neuritis optik
2. Intra Kranial Meningitis, Abses durameter
3. Fistula Oroantral
KOMPLIKASI
TINDAKAN
1. Proetz
Mengeluarkan sekret dengan mencuci posisi penderita
Trendelenberg cuci lewat osteum dengan cairan
antiseptik sambil kita cuci kita hisap lewat nasofaring
2. Punksi Antrum
Kontra indikasi pd penderita dengan suhu > 38
o
c krn dapat
menimbulkan septikimia
3. Operasi
TERAPI MEDIKAMENTOSA
Antibiotika Amoksillin, Kotrimoksasol, Doksisiklin Sefalosporin
Decongestan
Mukolitik
SINUSITIS MAKSILLA
Sumbatan hidung & rinorhoe
Epistaksis
Pembengkakan palatum, fasial dan ginggivibukalis
Trismus
Kelainan mata : diplopia, proptosis, epiphora
Gigi tanggal dan sakit tekan
Hipoastesi : gigi atas, pipi, bibir atas
Terbanyak pada anak-anak
Sumbatan hidung dan rhinorhea
Mata bengkak atau sakit
Proptosis dan diplopi
Sakit di atas caninus
SINUSITIS ETMOIDALIS
SINUSITIS
SPHENOID
Post nasal drip
Gangguan indra
penciuman
Batuk
Anoreksia
Vertigo
Gangguan Visus
Sumbatan hidung
dan rhinorea
Pus di duktus
nasofrontalis dan
bag anterior
meatus medius
Sakit di frontal
Petting oedema
Tanda meningitis
SINUSITIS
FRONTALIS
Atrophic Rhinitis
Clinical Features
Anosmia
Ozena, i.e. foul odor
Extensive nasal crusting
Subjective nasal congestion
Enlargement of the nasal cavity
Resorption or absence of turbinates
Squamous metaplasia of nasal mucosa
Depression
Physical findings
Atropic Rhinitis
Crusting
100% Present
Inferior Turbinates
62% Partial absence
37% Total absence
Middle Turbinates
57% Absent
Discharge
52% Present
Septum
10% Perforations
Moore & Kern. Amer J Rhin. 2001 15(6): 355-361.
DIAGNOSIS RHINITIS ALERGI
Anamnesis Gejala rinitis alergi :
bersin-bersin (> 5 kali/serangan)
rinore (ingus bening encer)
hidung tersumbat (menetap/berganti-ganti)
gatal di hidung, tenggorok, langit-langit atau telinga
mata gatal, berair atau kemerahan
hiposmia/anosmia
sekret belakang hidung/post nasal drip atau batuk kronik
adakah variasi diurnal
frekuensi serangan, beratnya penyakit, lama sakit (intermiten atau
persisten), usia timbulnya gejala,
pengaruh terhadap kualitas hidup : ggn. aktifitas dan tidur
Gejala penyakit penyerta : sakit kepala, nyeri wajah,sesak napas,gejala
radang tenggorok, mendengkur, penurunan konsentrasi, kelelahan
Definisi
Kelainan pada hidung dengan gejala bersin, rinore, gatal, tersumbat
setelah mukosa terpapar alergen yang diperantarai IgE (WHO-ARIA
2001)
SITE CAUSAL DISEASE
Oropharyngeal Inflammatory
Neural
Mechanical Obstruction
Congenital Anomalies
Miscellaneous
Laryngeal Inflammatory
Neural
Miscellaneous
Esophageal Inflammatory or Traumatic
Disorders of motility
Neighboring Organs
Congenital Anomalies
Tumors
Neurologic Disorders Amyotrophic lateral sclerosis
Bulbar paralysis

General Diseases Infections, botulism, iron deficiency anemia
Autonomic dysphagia Autonomic dysfunction, psychogenic overlay
(globus hystericus)
DISFAGIA
TONSILITIS AKUT
Anamnesis :
Mula-mula tenggorokan terasa kering
Disusul timbulnya nyeri telan yang makin berat, anak sering tidak mau
makan
Nyeri dapat menjalar ke telinga (referred pain)
Demam (dapat sangat tinggi), nyeri kepala.
Pemeriksaan Fisik
Suara penderita seperti mulut penuh makanan (plummy voice)
Mulut berbau busuk (foetor ex ore)
Ptialismus
Tonsil hiperemis & membengkak disertai detritus dipermukaan tonsil.
Ismus fausium menyempit
Palatum mole, arkus anterior & posterior tonsil udem & hiperemis
Kelenjar limfe jugulodigastrikus membesar & nyeri tekan
Dx.Banding :
Difteri tonsil : didapatkan pseudo membran putih
keabuan, melekat erat, bila dilepas timbul perdarahan,
meluas keluar dari tonsil. Didapati pembesaran kelenjar
limfe leher (bull neck)
PENYULIT
Lokal :
Peritonsilitis, 4-5 hari kemudian menjadi abses peritonsil
Abses parafaring (sering pada penderita diabetes yang tak
terkontrol)
Otitis media supuratif akut (pada anak-anak)
Sistemik :
bila penyebabnya streptokokus pyogenes
Glomerulonefritis akut
Demam rheumatic
Endokarditis bacterial sub akut
TERAPI
Istirahat, makan lunak, minum hangat
Analgesik antipiretik : parasetamol, ibuprofen, metamizol
Pemberian antibiotik : pada tonsillitis karena streptokokus
Amoxicilin asam klavulanat
Gol Sefalosporin : sefadroksil, sefiksim
Gol Makrolide : eritromisin, azitromisin
Pengobatan diberikan selama 5-10 hari, untuk kasus
dengan nyeri telan yang berat antibiotika dapat diberikan
intra vena (sefotaksim, seftriakson, amoxicillin asam
klavulanat).
Bila terjadi abses peritonsil / parafaring dilakukan insisi.
Sumbatan Laring : keadaan tersumbatnya laring oleh
bermacam sebab
Seperti :
Peradangan di laring oleh difteri / non difteri
Tumor laring, jinak / ganas
Kelainan kongenital laring : laringomalasia,
trakoemalasia, lesi anatomik (selaput pita suara,
stenosis, hemangioma), kelumpuhan pita suara, anomali
pembuluh darah
Paresis nervus rekuren laring (postikus) bilateral
Trauma laring dan trakea
Benda asing yang menyumbat laring
Anamnesis, Pemeriksaan Fisik & Pemeriksaan
Penunjang
Anamnesis : - stridor,
- sesak napas,
- terdpt cekungan di fosa suprasternal,
epigastrium, sekitar klavikula serta di sela iga
- suara parau
- sianosis
Pemeriksaan Fisik : pemeriksaan laring, laringoskopi tak
langsung / laringoskopi langsung
Pemeriksaan Penunjang : Laringogram, CT Scan

SUMBATAN LARING
A
Anamnesis & Pemeriksaan Fisik
- Stridor
- Sesak napas
- Cekungan : suprasternal, epigastrium, sela iga, sekitar klavikula
- Suara parau
- Sianosis


Sumbatan Laring


Pemeriksaan Penunjang :
- Laringogram
- CT Scan (atas indikasi)
B
Tindakan Segera :
- Laringoskopi - krikotirotomi
- Bebaskan jalan napas - Oksigen
- intubasi/trakeostomi
difteri : trakeostomi, ADS
C : Radang :
(demam) Non difteri : Antibiotika, kortikosteroid

D : Tumor Laring Mikrolaringoskopi Jinak / ganas

E : Kelainan Kongenital Laring : Inturbasi
Laringomalasia, trakeomalasia, lesi anatomik,
kelumpuhan pita suara, anomali pembuluh

F : Paresis Postikus Bilateral (pasca tiroidektomi) trakeostomi

G : Trauma Laring Eksplorasi Trakeostomi

H : Benda asing di Laring Perasat Heimlich, laringoskopi
ABSES PERITONSIL
Gejala :
- Pus terkumpul di daerah fosa supratonsil edema
palatum mole

- pd pemeriksaan fisik : panas, nyeri & sukar menelan,
hipersalivasi, mulut bau (foetor ex ore), di tengah kutub
atas tonsil teraba ada fluktuasi, uvula terdorong ke sisi sehat

- kadang-kadang terdpt nyeri di telinga (Otalgia), trismus &
pembesaran kelenjar submandibula
Terapi :
Aspirasi & dilanjutkan dgn insisi pd daerah kutub atas
tonsil / tempat yg jelas fluktuasinya

Antibiotika dosis tinggi (utk aerob & anaerob), obat
kumur-kumur, analgesik.

AB intra vena bila pasien dgn disfagi berat / pasien dgn
penurunan daya tahan tubuh (DM, imuno-compromised)

Tonsilektomi dianjurkan bila ada riwayat tonsilitis kronis
rekuren utk mencegah kambuhnya abses tonsil
ABSES RETROFARING
Gejala :
Rasa nyeri & sukar menelan, sesak napas timbul bila abses
sdh meluas sampai ke daerah hipofaring

Stridor inspirasi bila anak tidur dlm posisi telentang

Pemeriksaan fisik : dinding belakang faring menonjol, pd
perabaan teraba lunak

Pemeriksaan foto jaringan lunak leher AP lateral tampak
bayangan radiolusen di daerah prevertebra
Tindakan :
Bila tdk ada tanda sumbatan jalan napas, dgn Laringoskop
dilakukan pungsi & aspirasi dilanjutkan dgn insisi

Pus hrs dihisap dgn baik spy tdk terjadi aspirasi

Posisi pasien pd wkt tindakan : baring scr Trendelenburg

Tindakan dilakukan dlm analgesia dgn semprotan Xylocan
2%, jg dpt dilakukan dlm narkosis umum

Bila ada tanda-tanda sumbatan jalan napas dilakukan
trakeostomi seblm melakukan pungsi

Antibiotika : dosis tinggi utk kuman aerob & anaerob

Bila penyebabnya tuberkulosis : ditmbh obat antituberkulosis
ABSES PARAFARING
Gejala :

Trismus

Pembengkakan di sekitar angulus mandibula

Panas & adanya pembengkakan dinding lateral faring ke
arah medial

Nyeri & sukar menelan akibat adanya pembengkakan di
daerah faring
Tindakan :
Diperlukan trakeostomi seblm melakukan eksplorasi

Melakukan eksplorasi utk mengeluarkan nanah secpt
mungkin

Eksplorasi dilakukan dgn membuat insisi dr luar pd daerah yg
paling menonjol (horisontal sejajar dgn angulus mandibula).
Insisi dpt diperluas scr vertikal di depan
m.sternokleidomatoideus (insisi scr Hosher), kmdn dilakukan
eksplorasi scr tumpul.

Insisi intra oral sering dilakukan. Dgn cara memakai klem
arteri panjang, ditusuk ke arah m.konstriktor faring, shg
masuk ke ruang prestiloid.
Diberikan antibiotik dosis tinggi utk kuman aerob & anaerob.
ABSES SUBMANDIBULA
Sering disebabkan oleh infeksi di daerah rongga mulut / gigi
Menyebabkan adanya pembengkakan di daerah
submandibula, yg pd perabaan sangat keras
Sering mendorong lidah ke atas & ke belakang
Menyebabkan trismus
Menyebabkan sumbatan jalan napas shg hrs dilakukan
trakeostomi secepatnya dilanjutkan dgn insisi di grs tengah &
eksplorasi dilakukan scr tumpul utk mengeluarkan pus
Bila tdk ada tanda sumbatan jalan napas dpt segera
dilakukan eksplorasi dgn analgesia (Lokal)
Bila pd insisi-eksplorasi tdk ditemukan pus, kelainan ini
disebut Angina Ludovici (selulitis submandibula)
Diberikan antibiotika dosis tinggi utk kuman aerob & anaerob