Anda di halaman 1dari 4

Libido Presiden dan Libido Pedofilia (Catatan Ngawur Akibat Kurang Tidur

)
Oleh Niduparas Erlang
Belakangan, di samping isu terkait pencalonan presiden dan wakil presiden dengan
sederet elite partai politik yang sedang bertungkus-lumus merumuskan koalisi, kita juga
dihadapkan pada persoalan pedofilia yang salah satunya—dan paling santer diperbincangkan—
dilakukan seorang Emon yang telah “melukai lebih dari !"" anak# $alam ranah pencapresan,
tentu saja dunia politik menjadi hiruk-pikuk dengan berbagai argumen, kampanye, pledoi,
bahkan saling serang-menyerang atau saling memburukkan satu sama lain# %ementara dalam
ranah sosial, dunia anak-anak pun menjadi ramai diperbincangkan dan seakan-akan semua
elemen masyarakat sepakat untuk mengganjar seorang Emon—dan para pelaku serupa—dengan
hukuman yang setimpal# &ukum, sebagaimana berlaku di berbagai negara, entah mengapa masih
saja dipercayai masyarakatnya dapat ditegakkan sedemikian rupa walaupun pada kenyataannya
tampak melulu mendongak angkuh ke atas dengan posisi “meruncing ke bawah#
'h, ketika bersinggungan dengan hukum, saya selalu kembali terkesan dengan cerpen
(rans )afka berjudul Vor dem Gesetz *$i $epan +engadilan,, yang berkisah dengan nada
murung tentang seorang kampung dan seorang penjaga yang tak pernah mengi-inkan si orang
kampung itu untuk pergi menghadap atau dihadapkan di muka pengadilan.hukum# $an karena
pengadilan atau hukum—dalam cerpen itu—hanyalah sesuatu yang tak terjangkau, maka boleh
jadi sebetulnya peng-adil-an *dari kata “adil, itu tidak pernah ada, tak pernah nyata manfaatnya
bagi segenap warga negara# Barangkali, yang tersisa hanya hukum sosial di dalam masyarakat
kita, yang tampaknya jauh lebih garang daripada hukum positif dalam ranah negara# /alaupun,
keduanya sering tidak adil terhadap pelaku apalagi terhadap korban#
$an kita tahu belaka, bahwa hukum-hukum yang berlaku di negara kita adalah sebuah
produk yang digadang-gadang oleh para anggota dewan—yang notabene adalah para penyokong
partai politik—yang baru beberapa waktu lalu *0 'pril 1"!2, kita pilih beramai-ramai di tempat
pemungutan suara# %ebagai sebuah produk yang ditetapkan dan diberlakukan bagi seluruh warga
negara, seperangkat hukum itu tampaknya memang selalu dikonstruksi sedemikian rupa agar
tidak dapat menyentuh para pengadil dan para penetap hukum-hukum tersebut, dan hanya
menujah kepada masyarakat sipil biasa#
%eorang Emon, mungkin saja dapat babak-belur oleh hukum dan dikurung sekian lama
karena perilakunya yang menyimpang itu# Bahkan, konon, dengan sigap para pengadil dan para
penetap hukum negara itu akan merumuskan suatu produk hukum untuk menjerat dan
mengganjar Emon sedemikian rupa—dari upaya untuk memenjarakannya seumur hidup hingga
merebaknya isu untuk “suntik-kebiri# %edangkan para elite pengadil dan penetap hukum-hukum
itu—meskipun juga perilakunya menyimpang karena konon ditemukan banyak kondom bekas
pakai di gedung pemerintahan—tak pernah dengan sigap disikapi untuk dirumuskan dalam
sebuah produk hukum yang dapat menjerat para pelaku asusila di gedung pemerintah itu#
Barangkali, para pengadil dan penetap hukum itu memiliki selorohnya begini3 “tak mungkin gue
bikin produk hukum untuk menjerat diri gue sendiri, coy#
Nah, antara kekerasan seksual yang dilakukan Emon dengan “kenyamanan seksual yang
dilakukan para elite pemerintah itu memang tampaknya berbeda# 4ang pertama dilakukan atas
dasar tindak kekerasan salah satu pihak dan ketahuan orang lain lalu dipublikasi sedemikian
gencar, sedangkan yang kedua mungkin dilakukan atas dasar “butuh sama butuh dan tidak
ketahuan orang lain apalagi dipublikasi5 dan karena yang pertama dilakukan terhadap anak-anak
di bawah umur—yang dalam konsep kita melulu disebut sebagai aset pelanjut bangsa—,
sedangkan yang kedua dilakukan terhadap para “sekretaris pribadi—yang dalam konsep kita
melulu dikaitkan dengan kecantikan dan kesensualan belaka#
$an lagi-lagi kita tahu belaka, bahwa setiap kali kasus semacam ini—pemerkosaan,
pencabulan, sodomi, dan sebagainya—mengambang ke permukaan dan tiba-tiba menjadi
fenomenon, mayoritas masyarakat kita cenderung menyikapinya secara reaktif# +erbincangan
penuh gugatan, caci maki, kutukan, dan semacamnya berlompatan menyesaki udara dan
menyesakkan paru-paru kita# &anya segelintir orang saja yang berpikir prefentif-edukatif agar
hal yang sama tidak terulang pada waktu mendatang# $an lebih sedikit lagi, saya kira, yang
reflektif terhadap kasus serupa itu agar—minimal dirinya—tidak melakukan hal-hal yang
menyimpang itu#
)asus 'riel-6una 7aya dan 'riel-8ut 9ari yang beberapa tahun lalu menggegerkan jagat
maya dan jagat nyata kita, misalnya, tentu saja lebih banyak kita gugat, caci, kutuk, dan publikasi
sedemikian rupa sambil diam-diam kita nikmati adegan percintaan itu di layar-layar komputer di
ruang-ruang pri:asi kita# Begitupun kasus Emon sekarang yang lebih banyak kita gugat, caci,
kutuk, dan publikasi sedemikian rupa sambil diam-diam kita lupa kepada peran para orangtua
yang seharusnya paling bertanggung jawab terhadap anak-anaknya#
9erkait kasus 'riel, saya punya pengalaman menarik ketika orangtua kekasih-saya-dulu
—yang memang gandrung kepada 'riel—menyalahkan publikasi dalam berita-berita di tele:isi
dan terutama infotainmen yang tengah membeberkan kasus tersebut# $i depan tele:isi, orangtua
kekasih-saya-dulu itu tiba-tiba merasa iba kepada sang idola karena sikap reaktif mayoritas kita
yang menggugat, mencaci, dan mengutuk perilaku tak senonoh yang direkam dan disebarluaskan
tersebut# +adahal di sisi lain, orangtua kekasih-saya-dulu itu selalu mewanti-wanti dan khawatir
terhadap hubungan anak perempuannya dengan saya yang mungkin saja akan terjerumus ke
dalam hubungan seks di luar nikah# %ampai pada titik ini, sikap orangtua kekasih-saya-dulu itu
tampak kontradiktif# /alaupun kemudian, saya pikir, kekhawatiran orangtua kekasih-saya-dulu
itu lebih pada khawatir akan nama baik keluarganya yang bakal tercemar—karena hukum sosial
—jikalau anak perempuannya bunting sebelum menikah# %ebab walau bagaimanapun, orangtua
kekasih-saya-dulu itu tidak akan mengetahui perbuatan “mesum—seandainya pun saya dan
kekasih-saya-dulu itu melakukannya—jika kekasih-saya-dulu itu tidak bunting dan tidak
diketahui orang lain yang lalu membebernya# 'rtinya, yang dominan dipikirkan mayoritas
masyarakat kita yang cenderung reaktif itu hanyalah menyangkut nama baik—akibat dari hukum
sosial itu—, entah sebagai korban apalagi sebagai pelaku#
%ementara hukum positif di negara kita sekaligus hukum sosial di masyarakat kita,
rasanya tak dapat menjerat hubungan seks sebelum menikah yang dilakukan sepasang kekasih
yang saling mencintai, atau hubungan seks antara bos dan sekretaris, antara pemegang kuasa dan
yang dikuasai, selama hal itu dilakukan di ruang pri:asi, tidak ketahuan orang lain, tidak
dipublikasi, dan si perempuan tidak sampai bunting—yang tentu saja tak bisa lagi
menyembunyikan perutnya yang membuncit#
$alam hal kasus kekerasan seksual baik kepada anak-anak, remaja, maupun orang
dewasa, saya kira masalahnya bukan semata berada di pundak si pelaku—yang konon pernah
juga menjadi korban—, tapi menjadi tanggung jawab setiap indi:idu terhadap indi:idu lainnya#
%ebab bukan salah sang anak jika mereka lebih menyayangi atau patuh atau dekat secara
emosional kepada pelaku kekerasan seksual tersebut# Bukan pula kesalahan dorongan libido
yang tak tertanggungkan oleh si pelaku kekerasan seksual hingga tak dapat mengalihkannya ke
dalam bentuk kreati:itas lainnya# 7asalahnya, menurut saya, ada pada tabu-tabu yang menjerat
masyarakat kita kepada pendidikan seksual, sensor yang kelewat ketat kepada hal-hal yang
dianggap tidak senonoh, dan sikap serta perhatian segenap anggota di dalam sebuah keluarga#
;uga hukum positif di negara kita yang melulu menujah ke bawah dan hukum sosial di
masyarakat kita yang tidak reflektif#
%ementara dalam hal kasus asusila para anggota dewan, tentu masalahnya bukan pada
sistem pemerintahan yang dianut# /alaupun, mungkin saja, secara metaforik para anggota dewan
terpilih telah “menyodomi ribuan rakyat pemilihnya pada saat pemungutan suara#
Barangkali, jika kita mau merujuk (reud, antara pengidap pedofilia dan para
capres.cawapres itupun tidaklah begitu berbeda# &anya saja, yang pertama merealisasikan
dorongan ekonomi libido seksual secara konkret tanpa memanfaatkan seperangkat mekanisme
pertahanan diri, sedangkan yang kedua menyalurkan dorongan ekonomi libido seksual kepada
bentuk kreati:itas yang berterima di dalam masyarakat kita# 8alon presiden dan pengidap
pedofilia, sama-sama menanggung dorongan ekonomi libido yang tak tertanggungkan# %ama
juga seperti saya ketika menulis ini, dalam pandangan psikoanalisis (reud sebenarnya saya
tengah menyalurkan dorongan ekonomi libido ke dalam kreati:itas yang berterima, yakni tulisan#
$an saya rasa, kasus-kasus yang menjadi fenomenon itu, hanyalah segelintir kecil kasus
saja# %ebagian besar kasus serupa, baik kekerasan seksual atau hubungan seks butuh sama butuh,
tetap menjadi pri:asi masing-masing pelaku dan masing-masing korban# <=>
Penulis adalah bukan capres/cawapres apalagi pedofilia.