Anda di halaman 1dari 14

Berkaca pada Kasus JIS, Sekolah

Internasional Kini Terapkan Tes Psikologi
- 04 Mei 2014 15:54 wib

Metrotvnews.com, Jakarta: Terbongkarnya kasus pelecehan seksual terhadap siswa Taman
Kanak-Kanak (TK) Jakarta International School (JIS) beberapa waktu lalu membuat pihak
sekolah internasional lainnya di Jakarta Selatan menerapkan tes psikologi terhadap petugas
keamanan.

Salah satu petugas keamanan di sebuah sekolah internasional di Jakarta Selatan, Eko
Pramudiyanto, mengungkapkan dia harus menjalani sejumlah tes termasuk tes psikologi akibat
mencuatnya kasus kekerasan seksual di JIS. Menurutnya, kebijakan tes psikologi itu menjadi
kebijakan baru manajemen sekolah tempatnya bekerja. "Iya nih, jadi harus ikut tes lagi, cuma
saya gilirannya Senin untuk tes psikologi," ujarnya.

Dia juga mengungkapkan, adanya tes ulang yang harus dilakukannya itu untuk mencegah kasus
pelecehan seksual. Menurutnya, kasus pelecehan seksual yang ada di JIS memengaruhi sistem
perekrutan dan keamanan sekolah international tempatnya bekerja. "Iya gara-gara kasus itu (JIS)
semuanya bakal dites psikologi," terangnya.

Kendati harus menjalani tes psikologi, Eko menilai tidak keberatan terhadap tes tersebut sebab
menurutnya standar sekolah internasional memang berbeda dari sekolah formal lainnya,
termasuk dari segi pendidikan dan biayanya yang lebih mahal. Nelly Marlianti
(Pri)
http://news.metrotvnews.com/read/2014/05/04/238013/berkaca-pada-kasus-jis-sekolah-
internasional-kini-terapkan-tes-psikologi




Fenomena sekolah internasional yang
terlihat kokoh dari luar

Merdeka.com - Sekolah bertaraf internasional belakangan sering berkumandang di telinga khalayak.
Bukan prestasi yang didengar, melainkan sebuah kasus pelecehan seksual terhadap salah satu siswa pre-
school yang disodomi oleh para petugas kebersihan di sekolah tersebut.

Miris, sudah barang tentu. Pasalnya, selain bertaraf internasional, pengamanan super ketat acap kali
diterapkan di sekolah tersebut.

Seakan tak mau disusupi oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab, sekolah internasional di bilangan
Cilandak, Jakarta Selatan malah tercoreng nama baik oleh orang dalam. Bahkan, salah satu tenaga
pengajarnya pun masuk dalam daftar buronan agen FBI atas kasus paedofilia.
Pengamatan merdeka.com di beberapa sekolah bertaraf internasional di Ibu Kota, pengamanan yang
ada cukup ketat. Mulai dari pintu gerbang yang dijaga belasan sekuriti, hingga tembok berlapis serta
pagar yang tinggi dibangun guna menjaga keamanan para siswa.

Bahkan karena terlalu ketatnya pengamanan, wali murid pun terkadang hanya bisa mengantarkan
anaknya sampai tempat parkir yang telah disediakan.

Eko Pramudiyanto, petugas keamanan di salah satu sekolah internasional di bilangan Tebet menuturkan
dirinya sangat 'concern' dengan keamanan para siswa.

"Jadi kalau di sini siswa enggak boleh keluar gerbang kalau tidak ada kepentingan. Kalau pas jam pulang,
kalau siswa belum dijemput keluarganya kita enggak akan kasih dia keluar," jelas Eko kepada
merdeka.com, Sabtu (3/5).

Eko pun dibekali Handy Talkie (HT) untuk mempermudah berkoordinasi dengan sesama rekannya.

"Saya jaga di luar. Teman saya di dalam. Nanti kalau ada orangtua murid yang mau jemput, tinggal sebut
nama dan kelas berapa. Nanti saya kasih tahu teman saya yang di dalam," terang Eko.

Eko menjelaskan, di dalam lingkungan sekolah sendiri terdapat sekitar empat rekannya yang bertugas.

"Di dalam ada sekitar empat orang buat nyari siswa yang dimaksud. Kalau itu anak belum mau pulang ya
jadi tugas mereka ngebujuk. Paling ngejar-ngejar dikit kalau anak TK-nya," ucap Eko seraya tersenyum.

Eko mengatakan di sekolah tempatnya bekerja terdapat siswa TK, SD dan SMP. Seperti halnya sekolah
internasional, di tempat Eko bekerja pun orangtua tidak diperkenankan untuk seenaknya memasuki
lingkungan sekolah.

"Buat orangtua atau mbak (pembantu) yang mau jemput atau nungguin itu di kantin saja. Kalau soal
keamanan di sini Insya Allah aman," tandas Eko.



Kasus sodomi di JIS bikin sekolah
internasional ketar ketir

Merdeka.com - Pelecehan seksual di Jakarta International School (JIS) mau tak mau berdampak juga
pada sekolah internasional lainnya. Sebut saja Jakarta International Korean School (JIKS). Meski tidak
terlalu reaktif, tetapi tetap saja ada perubahan suasana di sekolah ini.

"Secara operasional tidak ada perubahan signifikan tetapi kelihatannya maikin banyak orangtua yang
menjemput anaknya," terang L, salah satu guru di sekolah tersebut kepada merdeka.com, Jakarta, Sabtu
(3/5).

Bahkan topik pelecehan ini menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan guru-guru yang mayoritas
orang Korea tersebut. Beberapa anak SD sempat menyatakan kekhawatirannya kepada guru ini.

"Anak kelas 5 cerita itu (pelecehan di JIS) menakutkan. Lalu saya berpesan makanya kamu ke mana-
mana hati-hati," pungkasnya.

Menurut L, peraturan dan kultur di JIKS sedikit berbeda dengan JIS.

"Untuk ke toilet saja mereka jarang mau sendiri, mereka selalu berdua bareng temannya. Kalau sudah
lima menit tidak kembali saya suruh temannya untuk lihat," jelas dia.

Hubungan antara pegawai Indonesia dengan para WN Korea memang tidak dekat. Namun dia percaya
bahwa para pekerja Indonesia di sana tidak akan melakukan apa-apa.

"Beda dengan JIS, pekerja di sini kebanyakan sudah lama yang direkrut langsung bukan dari lembaga
tertentu," ucapnya.

L berharap kejadian di JIS tidak terulang di sekolahnya. Sebagai bentuk antisipasinya dia akan lebih
mengawasi hubungan anak muridnya dengan orang-orang dewasa.




pendidikan - karakter

Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Secara
umum kepribadian manusiaada 4 macam dan ada banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda
bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan,
bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali
dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis : tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak,
teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi
yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Di atas ini adalah teori yang klasik dan sekarang teori ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak
digunakan sebagai alat tes sampai pengukuran potensi manusia.
Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Nah dari ke
4 kepribadiantersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing-
masing. Misalnya tipekoleris identik dengan orang yang berbicara “kasar” dan terkadang tidak peduli, sanguin
pribadi yang sering susah diajak untuk serius, phlegmatis sering kali susah diajak melangkah yang pasti dan
terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilemma pribadi “iya” dimulut dan “tidak” dihati, serta cenderung
perfectionis dalam detil kehidupan serta inilah yang terkadang membuat orang lain cukup kerepotan.
Tiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari Tuhan sang pencipta saat
manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di
aspek kehidupan social dan masing-masing pribadi. Mudah ya, penjelasan ini.
Nah, karakter nya dimana? Saat tiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki
kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter.
Misalnya, seorang koleris murni tetapi sangat santun dalam menyampaikan pendapat dan instruksi kepada
sesamanya, seorang yang sanguin mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang
membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus. Itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian
pandangan mengenai berbagai jenis nilaihidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan
itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia
dini (idealnya).
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa
ditukar. Karakter harus DIBANGUNdan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui
suatu PROSES yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi
seperti sidik jari.
Banyak saya perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan
mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan
orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam
kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian.
Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.
Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu.
Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter
akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.
Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki KONTROL PENUH atas karakter Anda,
artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang
bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah TANGGUNG JAWAB pribadi Anda.
sumber : http://www.pendidikankarakter.com/


























KI HAJAR DEWANTARA
Nama: Ki Hajar Dewantara
Gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional
Dasar Hukum: Kepres No.305 Tahun 1959 tanggal 28 November 1959
Lahir: Yogyakarta, 2 Mei 1889
Wafat: Yogyakarta, 28 April 1959
Makam: Yogyakarta
R.M. Suwardi Suryaningrat, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara,
lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Sesudah menamatkan Sekolah Dasar, ia melanjutkan
pelajaran ke STOVIA di Jakarta, tetapi tidak sampai selesai. Sesudah itu, ia bekerja sebagai
wartawan, membantu beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden J ava, De Express, dan
Utusan Hindia. Bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, pada tanggal 25 Desember
1912 ia mendirikan I ndische Partij yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Pada tahun 1913
ia ikut membentuk Komite Bumiputra. Melalui komite itu dilancarkan kritik terhadap Pemerintah
Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dan penjajahan Prancis.
Karangannya yang berjudul Als I k een Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda), berisi
sindiran dan kecaman yang pedas. Akibatnya, pada bulan Agustus 1913 ia dibuang ke negeri
Belanda. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran,
sehingga ia berhasil memperoleh Europeesche Akte.

Setelah kembali ke tanah air pada tahun 1918, ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan. Pada
tanggal 3 Juli 1922 didirikannya Taman Siswa, sebuah perguruan yang bercorak nasional. Kepada
anak didik ditanamkan rasa kebangsaan agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang
untuk memperoleh kemerdekaan. Banyak rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa,
antara lain adanya Ordonansi Sekolah Liar yang dikeluarkan oleh Pemerintah Belanda. Tetapi,
berkat perjuangan Ki Hajar Dewantara, ordonansi itu dicabut kembali.

Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan pendiri Taman Siswa.
Ajarannya yang terkenal ialah Tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung
tulada, artinya: di belakang memberi dorongan, di tengah memberi teladan.

Ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Hari lahir
Ki Hajar Dewantara, tanggal 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
“ Menjemput Impian “



PENULIS : MASHRUHAN
Pagi itu Danu di dalam kamarnya yang tampak berantakan dan tidak rapi
tampak bermalas-malasan di tempat tidurnya. Jam weker yang berada di atas
meja belajrnya telah menunjukkan pukul delapan pagi. Ia malah tampak
menguap saja berkali-kali tanpa menghiraukan matahari yang telah
menjulang tinggi.
“Dan…bangun, bangun, bangun, sampai di panggil berkali-kali oleh
ibunya, Danu tetap saja tidak bangun. Akhirnya Danu!” teriak Bu Fatimah
membangunkan Danu.
Akan tetapi Danu tetap saja teguh dengan pendiriannya untuk tetap
menikmati tidurnya bagaikan menikmati surga di alam bawah sadarnya. Pada
saat itu ia merasa telah menjadi seorang raja yang kaya raya dan mempunyai
banyak permaisuri yang senantiasa dikawal oleh pengawal yang kekar
badannya yang selalu siap menjaga kapan pun dan di mana pun ia pergi.
Sesaat ia tengah jalan-jalan dengan salah satu permaisurinya yang begitu
mempesona.
“Duh, sungguh nikmat serta beruntunglah akau mendapatkan seorang
permaisuri yang begitu cantik dan mempesona.” Begitulah kata-kata Danu
dalam hatinya.
Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba hujan menguyur mereka berdua
sehingga basah kuyup. Mendadak sang permaisuri marah kepadanya tanpa
sebab. Karena tak kuat dengan rasa dingin dan marahnya dari permaisuri,
Danu pun mulai perlahan-lahan membuka matanya. Saat terbagun ia sudah
basah kuyup seluruh tubuhnya. Ternyata Bu Fatimah telah menyiram Danu
dengan seember air sambil marah-marah.
“Aduh, Bu’….Ibu ini gimana tho? Kok Danu disiram air, kan dingin Bu.”
“Oalah, le, le, dasar anak nggak tahu diri! Sekarang ini sudah jam
berapa?”
“Baru aja jam setengah Sembilan, kan masih pagi Bu…” wong nanti
masuk kuliahnya jam setengah sepuluh.”
“Jam setengah Sembilan kamu bilang masih pagi? Dasar bocah malas!
Mau jadi guru macam apa , kalu bangunnya siang terus, bisa-bisa berengkat
ngajr para muridmu telat. Ayo cepat bangun, terus siap-siap untuk berangkat
kuliah biar nanti nggak telat.”
Keluarga Danu memang tergolong keluarga yang standard dalam
kekayaannya. Bu Fatimah merupakan seorang Guru di Sekolah Dasar, Pak
Budi Guru di SMP di kecamatannya, untuk kakanya yang bernama Sulasmi
sekarang sudah selesai kuliah S1 nya, dan mengajar di sebuah SMA di daerah
kabupaten, sedangkan untuk Danu sendiri masih kuliah pada tingkat akhir
dan setahun lagi dia lulus dari perkuliahanya. Benar-benar keluarga yang
guru sejati.
Sewaktu sampai di kampus, ternyata Dosen yang mengampu mata kuliah
hari itu tidak hadir karena sakit, dan digantikan oleh dosen lain. Dosen yang
mengantikan adalah Prof. Suranto, beliau merupakan Guru besar di fakultas
yang diambil oleh Danu. Tetapi pada saat itu Prof. Suranto tidak memberikan
materi, tetapi beliau bercerita yang bertujuan untuk memotivasi saya dan
teman-teman.
Danu tampak berpikir sejenak tentang cerita yang disampaikan oleh Prof.
Suranto. Satu jem kemudian perkuliahan telah selesai, sebelum menutup
perkuliahan tersebut ada kalimat yang diucapkan oleh Prof. Suranto. ” Semoga
kalian sukses” dengan serempak semunya menjawab “Amiiiiiiin”.
Sesampainya di rumah pun Danu masih saja terus memikirkan tentang
cerita yang disampaikan tadi oleh Prof. Suranto. Hari itu ia malamun sampai
larut malam sejak pulang dari kuliah tadi siang. Bu Fatimah menjadi heran
dengan melihat tingkah laku Danu yang tidak biasanya itu.
“Ada apa tho le? Dari tadi ibu lihat kamu kok melamun terus? Apa ada
masalah? Kalau ada masalah bicara sama ibu, barangkali Ibu bisa bantu.”
“Nggak ada masalah kok , Bu. Danu Cuma berpikir aja, bagaiman
caranya Danu bisa seperti orang yang diceritakan oleh Prof. Suranto tadi pas
kuliah. Cerita tersebut menceritakan bahwa ada orang yang sukses menjadi
guru yang telah diimpikannya, padahal tadinya orang itu malas saat
kuliahnya. Orang tersebut menjadi rajin karena sebelum ibunya meninggal
beliau menginginkan anaknya sukse kelak.”
“Gitu Bu ceritanya”. Mendengar cerita itu Ibunya malah senyum-senyum
sendiri.
“Ibu ini gimana tho, katanya bisa bantu? Kok malah senyum-senyum
sendiri? Apa Ibu nggak ingin anaknya berubah nggak jadi malas lagi?.
Bukannya mengejek le, tapi bener apa yang diceritakan oleh Profmu itu ada
benarnya.
“Bukannya kamu memimpikan ingin menjadi guru yang sukse?” ia Bu,
saya ingin menjadi Guru yang sukses, Jawab Danu. Makanya ubahlah
kebiasaanmu saat ini yang tadinya malas menjadi rajin, dan mulai sekarang
jemput impianmu menjadi guru yang sukses dan tidak malas.”
Pagi ini rasanya tidak seperti biasanya. Entah angin apa yang membawa
Danu hingga pagi-pagi sekali Danu sudah bangun dari tempat tidurnya. Pukul
tujuh ia sudah siap-siap untuk berangkat kuliah, sambil duduk-duduk ia
membayangkan ia menjadi guru yang sukses seperti yang selalu ia bayangkan.
“lo, le kok malah duduk-duduk aja? Sana berangkat kuliah, bukanya
kamu ingin berubah dan menjemput impianmu menjadi guru yang sukses?”
“Oke, Bu! Danu siap berangkat dan menjemput impian Danu.” Tapi Bu,
sebelumnya uang saku dulu, he,he,he…..
http://adenuur.blogspot.com/





Ari, seorang remaja berusia 17 tahun dari keluarga sederhana dalam kegigihannya untuk
mewujudkan cita-citanya dengan harapan dia mampu membuat kedua orangtuanya bangga
dengannya.

Ari lulus sekolah lanjutan tingkat akhir (SLTA) diusianya yang ke 16 tahun. Keinginan untuk
melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi harus tertunda lantaran dia tidak memiliki uang
untuk biaya studi di perguruan tinggi. Demi mewujudkan harapannya untuk melanjutkan
pendidikannya Ari mau malang melintang memperjuangkan keinginannya tersebut.

Dengan kondisi keluarga yang hidup serba pas-pasan sulit bahkan tidak mungkin bagi Ari untuk
meminta orangtuanya membiayai pendidikannya di perguruan tinggi. Satu-satunya jalan agar
tetap bisa melanjutkan pendidikan adalah dengan mencari biaya sendiri. Diusianya yang masih
sangat muda dan belum berbekal pengalaman kerja tentunya sulit bagi Ari untuk bisa
mendapatkan perkerjaan.

Sulitnya kondisi Ari tidak membuat remaja ini patah arang. Ari terus berusaha memperjuangkan
keinginannya. Dia sadar bahwa pendidikan sangat penting baginya. Dia terus berusaha
mendapatkan pekerjaan dengan kondisinya yang kurang mendukung. Berbulan-bulan Ari terus
berusaha mencari pekerjaan, namun belum juga mendapatkannya. Kegigihan Ari dalam berusaha
terus dia lakukan.

Selama berbulan-bulan hingga hampir memasuki satu tahun dia mencari pekerjaan ternyata
masih belum ditemukannya. Namun, Ari memang sosok remaja yang tangguh dan tidak
mengenal arti lelah. Terus berusaha dan terus mencari peluang. Setiap berita yang dia dapat
langsung dia manfaatkan. Meski hasilnya masih belum sesuai harapan, namun dia terus
berusaha.

Kegigihan Ari selama hampir satu tahun mencari pekerjaan akhirnya terbayar. Dia lantas
mendapatkan telepon dari sebuah perusahaan dimana tiga hari sebelumnya dia memasukkan
lamaran. Informasi lowongan kerja tersebut dia dapat dari surat kabar. Pekerjaan yang selama ini
dia harap-harapkan akhirnya selangkah lagi dia dapatkan.

Ari mendapatkan panggilan interview. Dia diwawancarai oleh ka. Personalia tempat dimana dia
memasukkan lamaran. Hampir 30 menit dia menjalani sesi tanya jawab dengan kepala personalia
tersebut. Kendati belum memiliki pengalaman kerja, namun Ari bisa menjawab dengan baik
setiap pertanyaan yang diajukan oleh kabag personalia tersebut. 30 menit berselang Ari lantas
keluar dari ruangan interview. Ari keluar dari kantor tersebut untuk pulang.

Besoknya, kabar gembira menghinggapi Ari. Dia mendapatkan kabar kalau dia diterima
diperusahaan tersebut. Ari langsung diperintahkan masuk kerja keesokan harinya setelah
mendapatkan konfirmasi diterima sebagai karyawan baru diperusahaan tersebut.

Sebulan dia bekerja bertepatan dengan pembukaan/pendaftaran mahasiswa baru. Dia pun lantas
mendaftarkan diri di sebuah kampus swasta dan mengambil kelas malam karena siangnya dia
bekerja. Akhirnya dia berhasil merealisasikan harapannya untuk melanjutkan pendidikan di
perguruan tinggi.

Read more: http://www.teksdrama.com/2012/10/Cerpen-Seorang-Remaja-Memperjuangkan-
Cita-cita.html#ixzz30kxBQ0yv



JERIT ANAK PEDALAMAN
Oleh Dea Puji Yuliani

Aku anak pedalaman
Aku punya kemampuan
Tapi untuk belajar saja aku kesusahan
Tak ada sarana yang memungkinkan

Aku anak pedalaman
Untuk kalian
Yang mengaku orang besaran
Coba hargai arti pendidikan

Aku anak pedalaman
Jerit ku ingin seperti kalian
Hidup dengan serba kemewahan
Bersekolah di tempat menyejukan
Berbangku bahkan ber-AC

Tapi lihat aku bahkan kami
Seorang anak pedalaman bertaruh nyawa
Demi sebuah pendidikan dan kepintaran

Jeritku ingin sekali
Membuat kalian peka membuat kalian sadar
Sadar sadar kalian sudah hidup enak
Jangan sampai kalian sia sia kan
Dengar dengarlah jertit kami
JERIT ANAK PEDALAMAN



Pendidikan yang Bermutuh, Membentuk Karakter Bangsa
Senin, 11 Februari 2013 02:01

Oleh: Alexander Gobai
Sumber daya manusia (SDM) merupakan hal yang penting dalam membangun sebuah bangsa.
Berbicara tentang pembangunan adalah juga berbicara tentang sejauhmana kesiapan SDM yang
berkualitas untuk membangun. Tanpa SDM yang cukup, kita tidak dapat membangun bangsa
secara kuantitas dalam pembangunan fisik maupun kualitas hidup masyarakatnya.

Dengan adanya Sumber daya Manusia (SDM) yang berkualitas maka kesiapaan untuk menempu
pendidikan pun akan berjalan dengan baik. Karena dengan melalui pendidikan maka setiap
individu dengan sendirinya akan terbentuk karakter kepemimpinan.
Kita mesti bersyukur bahwa dengan adanya pendidikan, kita bisa melihat dunia luas. Dimana
pendidikan itu membawa kita kejalan yang lebih benar. Maka kita yang sementara ini masih
berada di bangku pendidikan kita harus lebih berfokus pada tugas belajar. Artinya bahwa dengan
melalui pendidikan maka karakter kepribadian akan terbentuk dengan sendirinya.
Jangan kita berpikir bahwa pendidikan merupakan salah satu lembaga yang membuat karakter
setiap individu menjadi tidak berguna. Ini adalah salah presepsi dari orang yang tidak mengerti
tentang pendidikan. Ketika kita berbicara tentang pendidikan berarti juga berbicara tentang
kesiapan individu. Dimana kesiapan itu, akan menimbulkan suatu reaksi dari dalam individu.
Maka, dengan adanya kesiapan itu, kita akan mendapatkan pejaran yang berguna baik dari guru
maupun dari siapa saja.
Kebanyakan individu tidak memikirkan pendidikan yang bermutuh dan yang tidak bermutuh.
Yang penting mereka bersekolah. Namun, mereka tidak berpikir bahwa pendidikan harus
dipertanggung jawabkan. Artinya bahwa pendidikan itu bukan maianan yang harus dimainkan
pada setiap hari dan disetiap waktu. Sementara kita masih berada di bangku pendidikan berarti
mental dan kesiapan kita mulai terbentuk.
Dengan demikian, kebanyakan individu berlari pada sekolah yang tidak ada guru dan tidak ada
apa-apa. Mereka tidak berpikir bahwa pembentuk karakter yang baik itu datang dari mana.
Namun, mereka tabrak saja. Yang penting mereka sekolah dan mendaptkan ijasah. Hal itu yang
lebih penting dalam hidup mereka. Jangan berpikir bahwa ketika kita masuk sekolah yang
tidak bermutuh, tentunya kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Dengan demikian, hasilnya juga
tidak akan bermutuh dan baik. Maka akibatnya ialah akan susah disaat kita menempu dibangku
pendidikan yang atas.
Pendidikan yang bermutuh adalah pendidikan yang siap membentuk karakter kepemimpinan.
Dengan demikian, ketika kita berada di bangku pendidikan yang bermutuh maka kita harus
bersyukur bahwa mental kita dengan sendirinya akan terbentuk. Oleh karena itu, kesiapan
sumber daya manusia (SDM) harus lebih diutamakan dalam hidup. Apabila kesiapan kita telah
matang berarti karakter kepribadian pun telah terbentuk dengan bagus.
Dengan demikian, marilah kita mencari pendidikan yang lebih bermutuh demi terwujudnya
karakter kepribadian kita. Jangan kita asal-asal sekolah. Namun kita harus pintar berpikir bahwa
pendidikan yang mana yang lebih bermutuh dan yang mana yang tidak bermutuh. Ketika kita
berada di bangku yang tidak bermutuh kita akan gampang dibodohin dengan mereka yang
bersekolah dibangku pendidikan yang bermutuh. Oleh karena itu, jangan sampai kita dapat
tertipu dengan mereka yang pintar dari kemampuan kita.
Penulis: (Alumni 2012 dari SMA Adhi Luhur Nabire-Papua)