Anda di halaman 1dari 61

GANGGUAN

SOMATOFORM
 Reyhan Farandi 1301 1212 0621
 Maria Agustine
 Tara

Pendahuluan
 Soma (Yunani) tubuh

Gangguan somatoform :
 adanya keluhan gejala fisik yang berulang yang
disertai permintaan pemeriksaan medis,
meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya
negatif dan sudah dijelaskan oleh dokter bahwa
tidak ditemukan kelainan fisik yang menjadi
dasar keluhannya.
Klasifikasi
Menurut DSM IV
Gangguan somatoform spesifik :
 Gangguan somatisasi
 Gangguan konversi
 Hipokondriasis
 Gangguan dismorfik tubuh
 Gangguan nyeri.
Klasifikasi
Kategori diagnostik residual, yaitu :
 Gangguan somatoform tidak
terdiferensiasi dan
 Gangguan somatoform yang tidak dapat
ditentukan.

GANGGUAN SOMATISASI
 banyaknya keluhan yang ada dan
melibatkan sistem organ multipel
 bersifat kronis dan disertai distres
psikologis bermakna, gangguan fungsi
sosial dan pekerjaan, dan perilaku
mencari bantuan medis yang berlebihan.
Epidemiologi
 0,2 - 2 % pada wanita dan 0,2 % pada pria
 Biasanya gangguan somatisasi ini muncul
sebelum usia 30 tahun
 Sekitar 2/3 dari seluruh pasien dengan
gangguan somatisasi mempunyai gejala
psikiatri
Etiologi
 Faktor psikososial
Penyebab gangguan somatisasi melibatkan
interpretasi gejala sebagai suatu tipe komunikasi
sosial, yang hasilnya berupa sikap menghindari
kewajiban (contoh : mengerjakan pekerjaan
yang tidak disukai), mengekspresikan emosi
(contoh : marah pada pasangan), atau untuk
melambangkan suatu perasaan atau keyakinan
(contoh : nyeri pada saluran pencernaan)
Etiologi
 Faktor biologis
Pasien memiliki gangguan perhatian dan
kognitif yang dapat menyebabkan
persepsi dan penilaian yang salah
terhadap input somatosensorik
Etiologi
Faktor genetika
 10-20 % sanak saudara wanita derajat
pertama dari pasien
 29% pada kembar monozigot
 10% pada kembar dizigotik.
Kriteria diagnostik (DSM IV)
A. Riwayat banyaknya keluhan fisik sejak
sebelum usia 30 tahun yang muncul
dalam banyak periode selama beberapa
tahun dan terdapat hendaya berat dalam
kehidupan sosial, pekerjaan, atau bidang
penting lainnya.

Kriteria diagnostik (DSM IV)
B. Setiap kriteria di bawah ini harus ada :

 4 rasa nyeri : riwayat rasa nyeri pada minimal 4 bagian
atau fungsi tubuh
 2 gejala gastrointestinal : riwayat minimal 2 gejala
gastrointestinal selain rasa nyeri
 1 gejala seksual : riwayat minimal 1 gejala seksual atau
reproduksi selain rasa nyeri
 1 gejala pseudoneurologikus : riwayat minimal 1 kali
gejala atau defisit yang menandakan gangguan
neurologis, tidak terbatas pada rasa nyeri
C. Terdapat salah satu dari di bawah ini :

 setelah pemeriksaan yang tepat, setiap gejala
pada poin B tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya berdasarkan kondisi medik umum
atau akibat efek zat tertentu

 bila terdapat kondisi medik umum yang
berhubungan, maka keluhan fisik atau
hendaya sosial atau pekerjaan berlebihan dari
yang diharapkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, atau hasil laboratorium.
Kriteria diagnostik (DSM IV)
Kriteria diagnostik (DSM IV)
D. Gejala-gejala yang ada bukan akibat
kesengajaan atau dibuat-buat

Gambaran Klinis
 mengeluhkan banyak gejala somatik dan
memiliki riwayat medik yang panjang,
kompleks
 percaya bahwa mereka sakit hampir
sepanjang masa hidupnya
 Distres psikologis dan masalah
interpersonal menonjol; cemas dan
depresi adalah kondisi psikiatri yang
paling sering ditemukan
Gambaran Klinis
 menggambarkan keluhannya secara dramatis,
emosional, dan melebih-lebihkan, dengan
bersemangat; mereka keliru dengan urutan
waktu dan tidak dapat membedakan dengna
tepat gejala saat ini dengan gejala sebelumnya.

 biasanya berhubungan dengan gangguan
mental lainnya, termasuk gangguan depresi
mayor, gangguan kepribadian, gangguan akibat
penggunaan zat, gangguan cemas generalisata,
dan fobia
Diagnosis Banding
 Gangguan kondisi medis umum
 Gangguan afektif (depresif) dan anxietas
 Gangguan waham
 Gangguan Somatoform lain
Perjalanan Penyakit dan Prognosis
 Onset biasanya terjadi di usia sebelum 30
tahun dengan durasi selama beberapa
tahun
 Timbulnya gejala somatik biasanya
berhubungan dengan peningkatan
kejadian stres
 Prognosis yang buruk jika gangguan
disertai stress yang berlebihan
Terapi
 Tujuan terapi : menyadarkan pasien bahwa
kemungkinan besar keluhan tersebut
disebabkan oleh faktor psikologis
 Penanganan terbaik dilakukan oleh satu orang
dokter
 Psikoterapi individu dan kelompok
 Farmakoterapi diberikan harus dengan indikasi,
yaitu jika ada gangguan mental yang menyertai

GANGGUAN KONVERSI
 Suatu gangguan yang ditandai oleh adanya satu
atau lebih gejala neurologis (seperti paralisis,
kebutaan, dan parestesia) yang tidak dapat
dijelaskan oleh gangguan neurologis atau medis
yang diketahui. Di samping itu, penegakan
diagnosis mengharuskan adanya faktor
psikologis yang berhubungan dengan awal atau
eksaserbasi gejala.
Epidemiologi
 insidensi tahunan gangguan konversi
adalah 22 per 100.000 orang

 wanita : pria (usia dewasa) = 5 : 1
Etiologi
 Faktor psikoanalitik
disebabkan oleh represi konflik intrapsikis
bawah sadar dan konversi kecemasan ke dalam
suatu gejala fisik

 Faktor biologis
hipometabolisme pada hemisfer dominan dan
hipermetabolisme pada hemisfer nondominan
dan telah melibatkan gangguan komunikasi
hemisfer
Kriteria Diagnosis (DSM-IV)
 Satu atau lebih gejala atau defisit mempengaruhi
fungsi sensorik atau motorik volunter yang mendukung
kondisi neurologis atau kondisi medis umum lainnya.

 Faktor psikologis diduga berhubungan dengan
timbulnya gejala atau defisit tersebut karena inisiasi
atau eksaserbasi gejala atau defisit didahului oleh
konflik atau stresor lainnya.

 Gejala atau defisit bukan akibat kesengajaan atau
dibuat-buat.


Kriteria Diagnosis (DSM-IV)
 Gejala atau defisit tidak dapat, setelah pemeriksaan
yang tepat, dijelaskan sepenuhnya berdasarkan
kondisi medik umum, atau sebagai akibat langsung
penggunaan zat, atau tingkah laku atau pengalaman
sanksi kultural.

 Gejala atau defisit mengakibatkan distres klinis atau
hendaya berat dalam sosial, pekerjaan, atau bidang
lainnya atau memerlukan evaluasi medik.

Kriteria Diagnosis (DSM-IV)
 Gejala atau defisit tidak terbatas pada rasa nyeri atau
disfungsi seksual, tidak muncul semata-mata selama
perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak lebih baik
dijelaskan pada gangguan mental lainnya.

Spesifikasi tipe :
 Dengan gejala atau defisit motorik
 Dengan gejala atau defisit sensorik
 Dengan kejang
 Dengan gambaran campuran
Gambaran Klinis
 Paralisis, kebutaan, dan mutisme paling
sering ditemukan
 Biasanya berhubungan dengan gangguan
kepribadian pasif-agresif, ketergantungan,
antisosial, dan histrionik
 Gejala sensorik biasanya berupa
anestesia dan parestesia, terutama pada
ekstremitas
Gambaran Klinis
 Gejala motorik meliputi gerakan abnormal,
gangguan postur tubuh, kelemahan, dan
paralisis atau paresis

 Kejang semu (sulit dibedakan dengan
kejang sesungguhnya hanya melalui
observasi klinis)
Diagnosis Banding
 Gangguan Kondisi Medis Umum
 Skizofrenia
 Depresi
 Anxietas
 Gangguan Somatoform Lain
Perjalanan Penyakit dan Prognosis
 Gejala awal dari kebanyakan pasien dengan gangguan
Konversi akan sembuh dalam beberapa hari atau kurang
dari sebulan.

 Prognosis baik : awitan bersifat akut, faktor stressor
mudah dikenali, kemampuan penyesuaian diri baik
sebelum pasien jatuh sakit, tidak ada gangguan psikiatri
atau medis lain yang menyertai, tidak sedang mengikuti
suatu proses peradilan.

 Prognosis bersifat buruk : jika gejala gangguan konversi
ini telah timbul sejak lama.
Terapi
 Psikoterapi  mengurangi faktor stres.
 Terapi Hipnotis, obat-obatan anxyolitik,
serta pelatihan relaksasi tingkah laku
 Amobarbital atau Lorazepam
 Terapi psikodinamik : untuk menganalisa
dan menggali konflik psikis serta
simbolisasi dari gejala gangguan
konversinya

HIPOKONDRIASIS
 Hipokondriasis timbul sebagai akibat dari
interpretasi yang tidak realistis atau salah
dari gejala fisik, walaupun tidak terdapat
kelainan medis yang menyebabkannya.
Pada pasien, terdapat preokupasi dengan
ketakutan akan mengalami, atau keyakinan
memiliki, penyakit serius
Epidemiologi
 Prevalensi dalam enam bulan sebesar 4-6
% pada populasi umum.

 Pria = wanita

 Onset usia paling sering antara usia 20
dan 30 tahun.
Etiologi
 Gejala mencerminkan misinterpretasi gejala-
gejala tubuh (meningkatkan dan membesar-
besarkan sensasi somatiknya)

 Gejala hipokondriasis dipandang sebagai
keinginan untuk mendapatkan peranan sakit
oleh seseorang yang menghadapi masalah yang
tampak berat dan tidak dapat dipecahkan
Etiologi
 hipokondriasis sebagai bentuk varian gangguan
mental lainnya. Diperkirakan 80% pasien
hipokondriasis mungkin memiliki gangguan
depresif atau gangguan cemas yang ditemukan
bersama-sama

 psikodinamika hipokondriasis, yang menyatakan
harapan agresif dan permusuhan terhadap
orang lain dialihkan kepada keluhan fisik
Kriteria Diagnosis (DSM-IV)
A. Preokupasi akan rasa takut memiliki, atau ide
bahwa seseorang mempunyai, penyakit serius
berdasarkan misinterpretasi pasien mengenai
gejala tubuhnya.

B. Preokupasi tersebut bertahan tanpa
menghiraukan hasil evaluasi medis yang tepat
dan pengyakinan kembali oleh klinisi.

C. Keyakinan yang disebutkan pada poin A tidak
pada intensitas waham dan tidak terbatas
pada perhatian akan penampilan.
Kriteria Diagnosis (DSM-IV)
D. Preokupasi tersebut mengakibatkan distres
klinis atau hendaya berat dalam sosial,
pekerjaan, atau bidang lainnya.
E. Durasi minimal 6 bulan.
F. Preokupasi tersebut tidak lebih baik dijelaskan
sebagai akibat gangguan kecemasan
generalisata, Preokupasif-kompulsif, gangguan
panik, episode depresi berat, cemas akan
perpisahan, atau gangguan somatoform
lainnya
Kriteria Diagnosis (DSM-IV)
 Spesifikasi bila :
Dengan tilikan diri buruk : bila, hampir
sepanjang waktu selama episode kini,
penderita tidak menyadari bahwa
keyakinannya memiliki penyakit serius
tersebut berlebihan atau tidak beralasan.
Gambaran Klinis
 merasa yakin dirinya memiliki penyakit
serius yang belum terdeteksi, dan tidak
dapat diyakinkan sebaliknya
 Keyakinan tersebut bertahan tanpa
menghiraukan hasil pemeriksaan
laboratorium negatif
 Hipokondriasis sering disertai depresi atau
cemas
Diagnosis Banding
 Gangguan Kondisi Medis Umum
 Gangguan depresif
 Gangguan waham
 Gangguan anxietas dan gangguan panik
 Gangguan Somatoform lain
Perjalanan Penyakit dan Prognosis
 bersifat episodik dengan durasi bulanan
hingga tahunan dan disertai interval yang
lama
 Sepertiga hingga setengah dari pasien
akan membaik dengan sendirinya
Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Prognosis baik :
 Status sosial ekonomi pasien baik.
 Sensitif terhadap terapi anxietas atau depresi.
 Onset yang tiba-tiba.
 Tidak adanya gangguan kepribadian.
 Tidak ditemukan adanya gangguan medis lain
yang nonpsikiatrik.
Terapi
 Psikoterapi (terapi perilaku, terapi kognitif,
dan hipnotis)

 Farmakoterapi dilakukan jika ditemukan
gangguan lain yang mendasari dan
responsif terhadap obat (seperti gangguan
anxietas atau depresi).
GANGGUAN DISMORFIK TUBUH
 Adanya preokupasi seseorang memiliki
cacat tubuh khayalan atau suatu
interpretasi berlebihan dari cacat yang
minimal atau kecil.
 Inti gangguan ini adalah bahwa seseorang
yakin atau takut bahwa dirinya tidak
menarik atau bahkan menjijikkan.
Epidemiologi
 Onset usia tersering 15 sampai 20 tahun.
 Wanita > pria.
 Suatu penelitian, 90% menyebutkan pada
pasien gangguan dismorfik tubuh pernah
mengalami episode depresif berat, 70%
pernah mengalami gangguan cemas, dan
30% pernah menderita gangguan psikotik.
Etiologi

 Penyebab gangguan dismorfik tubuh tidak diketahui.
 Patofisiologi gangguan mungkin melibatkan serotonin
dan dapat berhubungan dengan gangguan metal lain.
 Pengaruh kultural atau sosial yang bermakna bagi
pasien.
 Dalam psikodinamika, mencerminkan pengalihan konflik
seksual atau emosional ke dalam bagian tubuh yang
tidak berhubungan.
 Asosiasi timbul melalui mekanisme pertahanan represi,
disosiasi, distorsi, simbolisasi, dan proyeksi.
Diagnosis

Kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV-TR :
 Preokupasi akan defek khayalan pada
penampilan.
 Preokupasi mengakibatkan distres klinis atau
hendaya berat dalam sosial, pekerjaan, atau
bidang lainnya.
 Preokupasi tidak lebih baik dijelaskan dengan
gangguan mental lainnya.
Gambaran Klinis
 Perhatian paling sering melibatkan cacat wajah,
khususnya pada bagian spesifik.
 Terkadang keluhan tidak jelas dan sulit dimengerti.
 Efek pada kehidupan pasien dapat signifikan; sebagian
besar pasien menghindari ekspos hubungan sosial atau
pekerjaan.
 Diagnosis komorbid dengan gangguan depresi dan
cemas sering ditemukan, dan pasien juga dapat memiliki
ciri kepribadian obsesif-kompulsif, skizoid, dan narsistik.
Diagnosis Banding

 Gangguan Kepribadian Narcistik 
perhatian terhadap salah satu bagian
tubuh tidaklah menonjol.
 Gangguan Depresif, Obsesif-Kompulsif
dan Skizofrenia.
Perjalanan Penyakit dan Prognosis

 Awitan bersifat gradual, timbulnya
perhatian berlebih jika disadari telah
terjadi adanya gangguan fungsi.
 Timbul keinginan untuk mencari
pertolongan medis atau tindakan operasi.
 Gangguan ini biasanya bersifat kronis jika
terabaikan.
Terapi

 Pengobatan pasein dapat dilakukan dengan terapi
bedah, pengobatan dermatologis, dan pengobatan Gigi
dan Mulut.
 Farmakoterapi seperti: Trisiklik anti depresan, Monoamin
Oksidase Inhibitor dan pimozide (Orap).
 Obat-obatan pro Serotonin spesifik  clomipramine
(Anafranil) dan Fluoxetine (Prozac)
 Jika disertai gangguan mental, dilakukan farmakoterapi
dan psikoterapi yang sesuai.
GANGGUAN NYERI

 Gejala utama gangguan nyeri adalah adanya
nyeri pada satu atau lebih lokasi yang tidak
sepenuhnya disebabkan oleh kondisi medis atau
neurologis non psikiatrik.
 Gejala tersebut disertai distres emosional dan
gangguan fungsional serta memiliki hubungan
sebab yang masuk akal dengan faktor
psikologis.
Epidemiologi

 Gangguan nyeri, wanita > pria.
 Onset usia puncaknya pada dekade
keempat dan kelima.
 Gangguan depresi, gangguan cemas, dan
penyalahgunaan zat.
Etiologi


 Faktor psikodinamika.
 Faktor perilaku.
 Faktor interpersonal.
 Faktor biologis.
Diagnosis

Kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV-TR :
 Rasa nyeri pada satu atau lebih bagian anatomis.
 Rasa nyeri mengakibatkan distres klinis atau hendaya
berat dalam sosial, pekerjaan, atau bidang lainnya.
 Faktor psikologis  memegang peranan pada onset,
berat, eksaserbasi, atau bertahannya nyeri.
 Gejala atau defisit bukan disengaja atau dibuat-buat.
 Nyeri tidak dijelaskan dengan gangguan mood,
kecemasan, atau psikotik dan tidak memenuhi kriteria
dispareunia.
Jenis Jenis Gangguan Nyeri
 Gangguan nyeri berasosiasi dengan faktor
psikologis
 Gangguan nyeri berasosiasi dengan baik faktor
psikologis maupun kondisi medik umum
 Gangguan nyeri berasosiasi dengan kondisi medik
umum

Spesifikasi :
 Akut : durasi kurang dari 6 bulan
 Kronik : durasi 6 bulan atau lebih
Gambaran Klinis

 Pasien dengan gangguan nyeri bukan
merupakan kelompok yang uniform tapi
merupakan kumpulan heterogen.
 Pasien dengan ganguan nyeri memiliki riwayat
panjang akan perawatan medik dan bedah.
 Komplikasi dapat berupa gangguan akibat
penggunaan zat, karena pasien berusaha
mengurangi nyeri dengan konsumsi alkohol dan
zat lainnya.
Diagnosis Banding


 Nyeri Fisik Murni

 Gangguan Somatoform Lain

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

 Gangguan nyeri biasanya timbul secara
mendadak dan semakin bertambah parah
dalam beberapa minggu atau bulan.
Prognosis dapat bervariasi.
 Prognosis buruk terjadi jika ditemukan
adanya masalah tertentu yang
melatarbelakangi.
Terapi

 Rehabilitasi
 Farmakoterapi seperti analgetika  tidak
bermanfaat pada pasien dengan
gangguan Nyeri.
 Antidepresan seperti Trisiklik dan
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor
(SSRI), adalah obat-obatan yang sangat
efektif.
Gangguan Somatoform Tidak
Terdiferensiasi

 Kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV-TR :
 Satu atau lebih keluhan fisik
 Terdapat salah satu dari di bawah ini :
 setelah pemeriksaan yang tepat, setiap
gejala pada poin A tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya berdasarkan kondisi medik
umum atau akibat efek zat tertentu
 bila terdapat kondisi medik umum yang
berhubungan, maka keluhan fisik atau
hendaya sosial atau pekerjaan lebih
hebat dari yang diharapkan
 Gejala mengakibatkan distres psikologis
atau hendaya berat dalam bidang sosial,
pekerjaan, atau bidang lainnya.
 Durasi minimal 6 bulan.
 Gangguan tidak lebih baik dijelaskan
dengan gangguan mental lainnya
(seperti gangguan somatoform lainnya,
disfungsi seksual, gangguan mood,
gangguan cemas, gangguan tidur, atau
gangguan psikotik).
 Gejala bukan disengaja atau dibuat-buat.
Gangguan Somatoform Yang
Tidak Dapat Ditentukan
 Pseudocyesis : keyakinan yang salah
bahwa ia mengalami kehamilan.
 Gangguan melibatkan gejala
hipokondriakal nonpsikotik dengan
durasi kurang dari 6 bulan.
 Gangguan melibatkan keluhan fisik yang
tidak dapat dijelaskan (contoh :
kelelahan atau badan lemah) dengan
durasi kurang dari 6 bulan.