Anda di halaman 1dari 11

GLAUKOMA AKUT

Definisi
Glaukoma akut adalah suatu kondisi dimana terjadi aposisi iris dengan jalinan
trabekular pada sudut bilik mata. Saat kondisi iris terdorong atau menonjol kedepan maka
outflow humor akuos akan terhambat, keadaan ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan
intra okular. Jika penutupan sudut terjadi secara mendadak, maka gejala yang ditimbulkan
sangat berat seperti: nyeri pada mata, sakit kepala, pandangan kabur, halo, mual dan muntah.
Gejala dan Tanda Klinis
Sebelum penderita mendapat serangan akut, ia mengalami serangan prodormal,
meskipun tidak selalu demikian :
a. Fase Prodormal ( Fase Nonkongestif )
Pada stadium ini terdapat penglihatan kabur, melihat halo ( gambar pelangi ) sekitar
lampu atau lilin, disertai sakit kepala, sakit pada mata dan kelemahan akomodasi. Keadaan ini
berlangsung 0,5-2 jam. Bila serangannya reda, mata menjadi normal kembali.
b. Fase glaukoma akut ( Fase Kongestif ).
Pada stadium ini penderita tampak sangat payah, memegangi kepalanya karena sakit
hebat. Jalannya dipapah, karena tajam penglihatannya sangat turun, muntah-muntah, mata
hiperemis dan fotofobia. Karenanya sering disangka bukan menderita sakit mata, melainkan
suatu penyakit sistemik.
Glaukoma akut menyebabkan visus cepat menurun, disertai sakit hebat di dalam mata
yang menjalar sepanjang nervus kranial V, sakit kepala, mual muntah, tampak warna pelangi
di sekitar lampu ( halo ).
Diagnosis
Diagnosis glaukoma akut biasanya ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan
pemeriksaan penunjang.



Beberapa pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis glaukoma akut:
a. Slit-lamp biomikroskopi
- Hiperemia limbal dan konjungtiva
- Hiperemis siliar karena injeksi limbal dan pembuluh darah konjungtiva
- Edema kornea dengan vesikel epitelial dan penebalan struma
- Bilik mata depan dangkal dengan kontak iridokorneal perifer
- Flare dan sel akuos dapat dilihat setelah edem kornea dapat dikurangi
- Pupil dilatasi bulat lonjong ( oval ) vertikal dan tidak ada reaksi terhadap cahaya
dan akomodasi
- Iris bombans tanpa adanya rubeosis iridis
- Dilatasi pembuluh darah iris
- Tekanan intra-okular sangat meningkat (50-100 mmHg)

Gambar 8. Edema kornea pada glaukoma akut

Gambar 9. Pupil dilatasi dan oval pada glaukoma akut

Gambar 10. Edema kornea dan sudut bilik mata

Gambar 11. Gambaran gonioskopi, sudut tertutup komplit. Depan dangkal pada glaukoma
akut.
b. Tonometri Schiotz: ( Normal TIO : 10-21 mmHg) pada glaukoma akut dapat mencapai 50-
100 mmHg.
9

Gambar. 12. Tonometri
c. Funduskopi: papil saraf optik menunjukan penggaungan dan atrofi, seperti pada glaukoma
simpleks. Sehingga cup disk ratio membesar (N = <0,4) (gambar 11 dan 12).
10
Sering juga
ditemukan optic-disk edema dan hiperemis.

Gambar 13. Saraf optik normal ( kiri ), penggaungan saraf optik pada glaukoma akibat
peningkatan TIO ( kanan )

Gambar 14. Terlihat cup-disk ratio membesar akibat penggaungan saraf optik pada
funduskopi ( kanan ).
d. Pemeriksaan Sudut Bilik Mata Depan

Merupakan suatu cara untuk menilai lebar dan sempitnya sudut bilik mata depan.
Lebar sudut bilik mata depan dapat diperkirakan dengan pencahayaan oblik bilik mata depan,
menggunakan sebuah senter atau dengan pengamatan kedalaman bilik mata depan perifer
menggunakan slitlamp, yang umumnya digunakan yaitu teknik Van Herick. Dengan teknik
ini, berkas cahaya langsung diarahkan ke kornea perifer, menggunakan sinar biru untuk
mencegah penyinaran yang berlebihan dan terjadinya miosis. Pada teknik ini, kedalaman
sudut bilik mata depan ( PAC ) dibandingkan dengan ketebalan kornea ( CT ) pada limbus
kornea temporal dengan sinar sudut 60º. Penilaiannnya dibagi dalam empat grade yaitu:


 Grade 4 : PAC > 1 CT
 Grade 3 : PAC > ¼-1/2 CT
 Grade 2 : PAC = ¼ CT
 Grade 1 : PAC ¼ CT
PAC = ¼ CT sudut sempit ( kedalaman sudut 20º )
Untuk menilai kedalaman sudut digunakan sistem Shaffer (1960) yaitu sebagai
berikut:

Akan tetapi, sudut mata depan sebaiknya ditentukan dengan gonioskopi yang
memungkinkan visualisasi langsung struktur-struktur sudut.

Dengan gonioskopi juga dapat
dibedakan glaukoma sudut tertutup dan glaukoma sudut terbuka, selain itu juga dapat dilihat
apakah terdapat perlekatan iris bagian perifer ke bagian depan.
e. Gonioskopi

Pemeriksaan gonioskopi adalah tindakan untuk melihat sudut bilik mata dengan
goniolens. Gonioskopi adalah suatu cara untuk melihat langsung keadaan patologik sudut
bilik mata, juga untuk melihat hal-hal yang terdapat pada sudut bilik mata seperti benda asing.
Dengan gonioskopi dapat ditentukan klasifikasi glaukoma penderita apakah glaukoma terbuka
atau glaukoma sudut tertutup dan mungkin dapat menerangkan penyebab suatu glaukoma
sekunder.

Pemeriksaan ini berhubungan penting pada aliran keluar humor akous. Lebar sudut
bilik mata depan dapat diperkirakan dengan pencahayaan oblik bilik mata depan dengan
sebuah senter tangan atau dengan pengamatan kedalaman bilik mata depan perifer dengan
slitlamp, tetapi sebaiknya ditentukan dengan gonioskopi, yang memungkinkan visualisasi
langsung struktur-struktur sudut. Apabila keseluruhan jalinan trabekular, taji sklera, dan
prosessus iris dapat terlihat, sudutnya dinyatakan terbuka. Apabila hanya garis Schwalbe atau
sebagian kecil dari jalinan trabekular yang dapat terlihat sudut dikatakan sempit. Apabila garis
schwalbe tidak terlihat dikatakan sudut tertutup.

Gonioskopi sudut terbuka = grade 4,
Gonioskopi sudut tertutup = grade 0.

Dengan gonioskopi kita bisa menentukan seberapa jauh penyempitan sudut yang
terjadi pada suatu glaukoma. Derajat lebarnya ukuran sudut dibagi menjadi 5 menurut Sistem
Shaffer:
 Grade 0 : Sudut antara iris dan kornea tertutup, bisa dilihat dari tidak
tampaknya Schwalbe's line
 Grade I : Sudut antara iris dan kornea sebesar 10°, bisa dilihat dari masih
tampaknya Schwalbe's line
 Grade II : Sudut antara iris dan kornea sebesar 20°, bisa dilihat dari tampaknya
gambaran Trabecular Meshwork Anterior
 Grade III : Sudut antara iris dan kornea sebesar 30°, bisa dilihat dari
tampaknya gambaran scleral spur
 Grade IV : Sudut antara iris dan kornea sebesar 40°, bisa dilihat dari
tampaknya korpus siliaris

Pemeriksaan gonioskopi ditunda sampai edem kornea berkurang, salah satunya
dengan obat yang dapat menurunkan tekanan intra okular, misalnya dengan gliserin topical
atau saline hipertonik salep mata.



Gambar 15. Gonioskopi
Diagnosis Banding
Iritis akut, menimbulkan fotofobia lebih besar daripada glaukoma. Tekanan intraokular
biasanya tidak meningkat, pupil konstriksi, dan kornea biasanya tidak edematosa. Di kamera
anterior tampak jelas sel–sel, dan terdapat injeksi siliaris dalam.
Konjungtivitis akut, nyerinya ringan atau tidak ada dan tidak terdapat gangguan
penglihatan. Terdapat tahi mata dan konjungtiva yang meradang hebat tetapi tidak terdapat
injeksi siliaris. Respon pupil dan tekanan intraokular normal, dan kornea jernih.
Glaukoma sudut tertutup akut sekunder dapat terjadi akibat pergeseran diafragma lensa-
iris ke anterior disertai perubahan volume di segmen posterior mata. Hal ini dapat dijumpai
pada sumbatan vena retina sentralis, pada skleritis posterior dan setelah tindakan – tindakan
terapeutik misalnya fotokoagulasi panretina, krioterapi retina, dan scleral buckling untuk
pelepasan retina. Gambaran klinis biasanya mempermudah diagnosis
Terapi
1. Terapi medikamentosa:
1.1. Agen osmotik
Agen ini lebih efektif untuk menurunkan tekanan intra okular, pemberiannya
dianjurkan kepada pasien yang tidak mengalami emesis. Pemberian anti emetik dapat
membantu mencegah muntah akibat emesis. Agen osmotik oral pada penggunaannya tidak
boleh diencerkan dengan cairan atau es, agar osmolaritas dan efisiensinya tidak menurun.
 Gliserin, dosis efektif 1 - 1,5 cc/kg BB dicampur dengan sari buah (jeruk) dengan jumlah
yang sama. Dapat menurunkan tekanan intra okular dalam waktu 30-90 menit setelah
pemberian, dan dipastikan agen ini bekerja selama 5 - 6 jam. Selama penggunaannya,
gliserin dapat menyebabkan hiperglikemia dan dehidrasi. Hati-hati terhadap pasien
diabetes dan lansia dengan gagal ginjal serta penyakit kardiovaskular. Karena agen ini
sendiri dapat menyebabkan mual dan muntah.
 Mannitol, merupakan diuretik osmotik kuat yang dapat memberikan keuntungan dan
aman digunakan pada pasien diabetes karena tidak dimetabolisme. Dosis yang dianjurkan
adalah 1 - 2 gram/kgBB dalam 50% cairan. Puncak efek hipotensif okular terlihat dalam 1
- 3 jam dan berakhir dalam 3-5 jam.
Bila intoleransi gastrik dan mual menghalangi penggunaan agen oral, maka manitol
dapat diberikan secara intravena dalam 20% cairan dengan dosis 2 gram/kgBB selama 30
menit. Mannitol dengan berat melekul yang tinggi, akan lebih lambat berpenetrasi pada
mata sehingga lebih efektif menurunkan tekanan intraokular. Maksimal penurunan tekanan
dijumpai dalam 1 jam setelah pemberian manitol intravena.
 Ureum intravena, merupakan agen osmotik yang dahulu sering digunakan, mempunyai
berat melekul yang rendah. Urea lebih cepat berpenetrasi pada mata, sehingga tidak
seefektif mannitol dalam menurunkan tekanan intra okular. Karena agen ini merupakan
salah satu alternatif, maka penggunaan urea harus dengan pengawasan yang ketat untuk
menghindari komplikasi kardiovaskular.
1.2. Karbonik anhidrase inhibitor
Digunakan untuk menurunkan tekanan intra okular yang tinggi, dengan menggunakan
dosis maksimal dalam bentuk intravena, oral atau topikal. Asetazolamid, merupakan
pilihan yang sangat tepat untuk pengobatan darurat pada glaukoma akut. Efeknya dapat
menurunkan tekanan dengan menghambat produksi humour akuos, sehingga sangat
berguna untuk menurunkan tekanan intraokular secara cepat, yang digunakan secara oral
dan intravena. Asetazolamid dengan dosis inisial 2x250 mg oral, dapat diberikan kepada
pasien yang tidak mempunyai komplikasi lambung. Dosis alternatif intravena 500 mg
bolus, efektif terhadap pasien nousea. Penambahan dosis maksimal asetazolamid dapat
diberikan setelah 4-6 jam untuk menurunkan tekanan intraokular yang lebih rendah.
Karbonik anhidrase inhibitor topikal dapat digunakan sebagai inisial terapi pada pasien
emesis. Sekarang diketahui bahwa, karbonik anhidrase inhibitor oral sedikit atau tidak ada
sama sekali efek samping sistemik. Menurut pengalaman penulis pemberian karbonik
anhidrase inhibitor oral sangat diperlukan dalam pengobatan glaukoma akut.

1.3. Miotik kuat
Pilokarpin 2% atau 4% setiap 15 menit sampai 4 kali pemberian sebagai inisial terapi,
diindikasikan untuk mencoba menghambat serangan awal glaukoma akut. Penggunaannya
ternyata tidak efektif pada serangan yang sudah lebih dari 1-2 jam. Hal ini terjadi karena
muskulus spingter pupil sudah iskhemik sehingga tidak dapat merespon terhadap
pilokarpin. Pilokarpin diberikan satu tetes setiap 30 menit selama 1-2 jam. Pada umumnya
respon pupil negatif terhadap serangan yang telah berlangsung lama sehingga
menyebabkan atrofi otot spingter akibat iskemia.
Pada umumnya Pilokarpin diberikan jika TIO sudah mulai turun dan bila sudah < 40
mmHg. Pilokarpin tidak perlu diberikan secara “intensive”.
1.4. Beta bloker
Merupakan terapi tambahan yang efektif untuk menangani serangan sudut tertutup.
Beta bloker dapat menurunkan tekanan intraokular dengan cara mengurangi produksi
humor akuos.
Timolol merupakan beta bloker nonselektif dengan aktifitas dan konsentrasi tertinggi
di bilik mata belakang yang dicapai dalam waktu 30 – 60 menit setelah pemberian topikal.
Beta bloker tetes mata nonselektif sebagai inisial terapi dapat diberikan 2 kali dengan
interval setiap 20 menit dan dapat diulang dalam 4, 8, dan 12 jam kemudian.
1.5. Apraklonidin
Merupakan agen alfa2-agonis yang efektif untuk hipertensi okular, apraklonidin
bekerja dengan cara menurunkan produksi humor akuos dan tidak memberikan efek pada
outflow humor akuos. Apraklonidin 0,5% dan 1%, keduanya telah menunjukkan efektifitas
yang sama dan rata-rata dapat menurunkan tekanan intraokular 34% setelah 5 jam
pemakaian topikal. Apraklonidin dapat digunakan pada pengobatan glaukoma akut yang
dikombinasikan dengan terapi medis lainnya. Setelah tekanan intra okular menurun dan
miosis pupil telah dicapai, terapi topikal dengan pilokarpin, beta bloker, karbonik
anhidrase inhibitor dan apraklonidin dapat diteruskan sampai tindakan operasi dilakukan
atau reopening sudut bilik mata. Pemeriksaan ulang gonioskopi harus dilakukan, jika perlu
gliserin tetes mata dapat digunakan untuk menjernihkan kornea. Sekarang ini, dilakukan
gonioskopi indentasi untuk mendorong akuos dari sentral ke perifer agar sudut yang telah
tertutup dapat terbuka kembali. Tehnik ini telah diuji sebagai terapi untuk serangan sudut
tertup akut. Meskipun sudut telah sukses membuka kembali dengan gonioskopi indentasi,
tetapi tidak dapat menggantikan terapi definitif yaitu: iridektomi perifer.
2. Observasi respon terapi:
2.1. Monitor ketajaman visus, edema kornea, dan ukuran pupil.
2.2. Ukur tekanan intraokular setiap 15 menit.
2.3. Periksa sudut dengan gonioskopi.
3. Parasintesis
4. Bedah Laser:
4.1. Laser iridektomi
4.2 Laser iridoplasti
5. Bedah insisi
5.1. iridektomi bedah insisi
5.2. Trabekulektomi
6. Ekstraksi lensa
7. Tindakan profilaksis
Prognosis
Prognosis baik apabila glaukoma akut cepat terdeteksi dan mendapat terapi yang
sesegera mungkin. Sering diagnosa dibuat pada stadium lanjut, dimana lapangan pandang
telah hilang secara progresif, iris menjadi atrofi dan midriasis pupil telah menetap.
Penanganan episode akut yang terlambat akan menyebabkan sinekia sudut tertutup permanen
dan bahkan menyebabkan kebutaan permanen dalam 2-3 hari.


Daftar Pustaka
Atiyatul, A. 2008. Penatalaksanaan Glaukoma Akut. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara, Medan.
Larasati, K. 2011. Glaukoma Akut. Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara , Jakarta.
Caroline, V. 2010. Glaukoma Akut. Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti , Jakarta.
Nurwasis, Komaratih E. 2006. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Bagian/SMF Ilmu Penyakit
Mata Edisi III. RSU Dokter Soetomo. Surabaya. Hal:2-3