Anda di halaman 1dari 20

PEMINDAHAN MAYAT DARI DALAM RUMAH SAKIT KE KAMAR JENAZAH

Pengertian :
Adalah prosedur pemindahan jenazah dari dalam lingkungan BLUD RSU Kab.
Serang ke kamar jenazah untuk ditangani lebih lanjut termasuk dipulsarakan.
Tujuan :
1. Agar pelayanan tertib, aman, dan bermanfaat.
2. Agar Keselamatan petugas dan orang-orang lainnya serta lingkungan dapat
terjamin.
Kebijakan :
1. UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran.
2. UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
Prosedur :
1. Semua orang yang meninggal dilingkungan dalam BLUD RSU Kab. Serang,
baik sebagai pasien maupun non pasien, harus diperiksa dan dinyatakan
telah meninggal terlebih dahulu.
2. Petugas yang menangani di ruangan/instalasi/tempat orang yang meninggal
tersebut, harus memberitahu petugas UPKJ mengenai status dan kondisi
mayat.
3. Semua petugas yang terlibat dalam penanganan mayat harus menerapkan
kewaspadaan standar kewaspadaan berdasarkan transmisi sesuai dengan
sumber infeksi.
4. Bila myat mengeluarkan cairan tubuh, maka petugas yang menangani di
ruangan/instalasi/tempat orang yang meninggal tersebut harus melakukan
usaha menghalangi keluarnya cairan tubuh dengan antara lain menutup
lubang asal keluarnya cairan tubuh dengan kain kasa.
5. Petugas UPKJ setelah mendapat pemberi-tahuan dari petugas
ruangan/instalasi/tempat mayat berada menjalankan prosedur Penerimaan
Jenazah Dari Dalam Rumah Sakit.
6. Petugas yang menjalankan prosedur pengambilan mayat harus melakukan
cuci tangan dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai saat
menangani jenazah.
7. Untuk mayat berpenyakit SARS, Avian Flu, dan Flu babi, petugas harus
menjalankan prosedur Penanganan Mayat Dengan Penyakit Menular Khusus,
dimana mayat harus dimasukkan ke dalam kantong jenazah terlebih dahulu
ke kamar jenazah.
8. Untuk mayat berpenyakit menular dan/atau mengeluarkan cairan tubuh,
petugas UPKJ harus memasang lembaran kain pertama sebagai alas terlebih
dahulu pada kereta dorong jenazah yang kemudian di atasnya dihamparkan
lembaran plastik, baru di atasnya diletakkan mayat yang kemudian ditutupi
dengan lembaran kain kedua; setelah itu lembaran kain dan plastik tersebut
dilipatkan ke atas mayat tersebut.
9. Untuk mayat yang tidak berpenyakit menular atau tidak mengeluarkan cairan
tubuh, dapat dibawa oleh petugas UPKJ sesuai ketentuan.
10. Evakuasi mayat dari tempat meninggalnya ke kamar jenazah harus
menggunakan kereta dorong yang tertutup.
Unit terkait :
1. Unit Pelayanan Kamar Jenazah Dept. Forensik dan Medikolegal RSCM.
2. Instalasi Gawat Darurat RSCM.
3. IGD Kencana.
4. Seluruh Unit Rawat Inap.
5. Seleruh Unit Rawat Jalan.
PENATALAKSANAAN JENAZAH DEATH ON ARIVAL (D.O.A)
Pengertian :
D.O.A adalah setiap pasien atau korban yang telah meninggal saat tiba di pelayanan
kesehatan / IGD / Poliklinik.
Tujuan :
1. Agar korban/pasien memperoleh kejelasan dan kepastian hukum.
2. Agar penatalaksanaan mayat D.O.A tertib dan aman.
3. Agar kepentingan pihak pasien/korban dan keluarganya terpenuhi sesuai
kebutuhan.
Kebijakan :
1. Pasal 28 dan pasal 117 UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
3. UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
Prosedur:
A. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
1. Setiap pasien/korban ynag datang ke IGD harus dibawa ke bagian Triase IGD
terlebih dahulu, sementara pihak keluarga atau pengantar pasien/korban
melakukan registrasi di bagian pendaftaran.
2. Petugas admisi bagian pendaftaran harus memakukan pencatatan secara
lengkap tentang identitas pasien/korban dan identitas pengantar/keluarga.
3. Apabila identitas pasien/korban belum diketahui, maka dianggap sebagai
pasien/korban yang belum dikenal.
4. Apabila identitas pasien/korban yang datang ke IGD harus dilakukan
penapisan (screening) awal oleh perawat triase, jika menunjukkan tanda-
tanda telah meninggal maka dilakukan pemeriksaan triase sekunder oleh
dokter jaga triase.
5. Dokter jaga triase harus melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang pada pasien/korban serta tanya-jawab (allo-anamnesa) terhadap
keluarga pasien/korban untuk dapat menentukan riwayat penyakit dan
perkiraan sebab kematian pasien/korban sesuai dengan ketentuan.
6. Apabila hasil pemeriksaan fisik dan penunjang oleh dokter jaga triase tidak
didapatkan tanda kehidupan dari pasien/korban maka pasien/korban
dinyatakan D.O.A (Death on Arrival).
7. Apabila berdasarkan hasil tanya jawab (allo-anamnesa) dan pemeriksaan
ternyata pasien/korban tidak terdapat tanda-tanda ruda-paksa dan
diperkirakan mati wajar, maka DPJP mengisi perkiraan penyebab kematian
dan diagnosa pada lembaran surat keterangan kematian serta
menandatanganinya sesuai dengan ketentuan.
8. Apabila berdasarkan hasil tanya-jawab (allo-anamnesa) dan pemeriksaan
ternyata pasien/korban terdapat tanda-tanda ruda-paksa dan diperkirakan
mati tidak wajar, maka DPJP menigisi perkiraan penyebab kematian dan
diagnosa pada lembaran surat keterangan kematian namun TIDAK menanda-
tanganinya sesuai dengan ketentuan.
9. Mayat pasien/korban beserta rekam medis, formulir triase, dan surat
keterangan kematian yang sudah diisi kemudian diserah-terimakan kepada
Unit Pelayanan Kamar Jenazah Dept. Forensik.
B. Unit Pelayanan Kamar Jenazah Dept. Forensik
10. Mayat pasien/korban yang diterima di Unit Pelayanan Kamar Jenazah Dept.
Forensik dan bersal dariIGD harus dilakukan pemeriksaan ulang oleh dokter
yang memiliki kompetensi dan berwenang untuk itu (DPJP dan/atau PPDS).
11. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, setidaknya dapat memberikan
petunjuk cara kematian (kematian wajar atau kematian tidak wajar) dan
mengkonfirmasi ulang temuan dokter jaga triase IGD.
12. Dokter pemeriksa dapat melakukan tanya jawab (allo-anamnesa) dengan
melibatkan pihak keluarga dan atau pengantar untuk memperoleh data-
data/riwayat lebih lanjut pasien/korban sebelum meninggal.
13. Dokter pemeriksa harus menjelakan terlebih dahulu kepada pihak keluarga
tentang maksud dan tujuan dilakukannya pemeriksaan mayat.
14. Apabila hasil pemeriksaan dokter ditemukan petunjuk bahwa kematian adalah
kematian wajar, maka selanjutnya surat keterangan kematian yang diterbitkan
oleh dokter jaga triase berlaku sesuai dengan ketentuan.
15. Apabila hasil pemeriksaan dokter ditemukan petunjuk bahwa kematiannya
adalah kematian tidak wajar, maka dokter menyarankan pihak keluarga untuk
melapor ke institusi kepolisian sesuai tempat kejadian.
16. Apabila hasil pemeriksaan dokter ditemukan petunjuk bahwa kematiannya
adalah kematian tidak wajar, maka selanjutnya surat keterangan kematian
yang diterbitkan oleh dokter jaga triase dibatalkan dan dinyatakan tidak
berlaku sesuai dengan ketentuan.
17. Penatalaksanaan kasus kematian tidak wajar dilakukan sesuai ketentuan
(penatalaksanaan korban mati kasus forensik).
18. Apabila kematian pasien/korban tidak wajar, surat keterangan kematian akan
diterbitkan setelah dilakukan pemeriksaan sesuai dengan surat permintaan
keterangan ahli dari penyidik.
19. Surat keterangan kematian diserahkan kepada ahli waris atau pihak lain yang
ditunjuk secara resmi oleh ahli waris tersebut.
20. Apabila pihak keluarga menolak pemeriksaan setelah memperoleh
penjelasan dokter, maka pihak keluarga menandatangani surat pernyataan
penolakan pemeriksaan dan dilakukan prosedur pulang sebelum selesai
pemeriksaan.
21. Pihak keluarga menolak pemeriksaan setelah memperoleh penjelasan dokter,
maka tidak diberikan surat keterangan kematian.
Unit terkait :
1. Instalasi Gawat Darurat RSCM
2. IGD Kencana RSCM
3. Unit Pelayanan Kamar Jenazah Dept. Forensik dan Medikolegal FK-UI/RSCM
4. Unit Pelayanan Forensik Dept. Forensik dan Medikolegal FK-UI/RSCM
5. Unit Pelayanan Laboratorium Forensik dan Medikolegal FK-UI/RSCM
6. P3RN

































PENATALAKSANAAN KORBAN MATI KASUS FORENSIK

PENJELASAN PEMBEDAHAN MAYAT
1. Pembedahan mayat (autopsy) harus dilakukan apabila diperlukan keterangan
tentang sebab kematian korban secara pasti untuk kepentingan pembuktian,
baik untuk kepentingan peradilan maupun untuk kepentingan hokum sipil-
administratif
2. Pembedahan mayat (autpsy) adalah pemeriksaan tubuh mayat secara
menyeluruh dengan membuka rongga kepala, leher, dada, perut dan panggul,
serta melakukan pemeriksaan laboratorium yang diperlukan. Setelah
pemeriksaan selesai, alat-alat dalam tubuh dikembalikn ke tempat semula.
3. Pasal 133 KUHAP memberikan wewenang kepada penyidik polisi untuk
meminta pemeriksaan (luar) mayat atau pemeriksaan pembedahan mayat
(autopsy) terhadap mayat yang diduga korban tindak pidana.
4. Mayat yang belum selesai diperiksa sesuai dengan surat permintaan visum et
repertum dari penyidik polisi tidak diperkenankan dibawa
pulang/meninggalkan BLUD RSU Kabupaten Serang.
5. Mayat yang dibawa pulang sebelum selesai dilakukan pemeriksaan forensic
oleh dokter Departemen Kedokteran Forensik FKUI dapat menimbulkan
kesulitan bagi keluarga, oleh karena:
a. Tidak akan diberikan SURAT KETERANGAN DOKTER/ SURAT
KETERANGAN KEMATIAN, yang diperlukan untuk mengurus perizinan
permakaman, pengurusan pension dan asuransi, pengurusan jasa raharja
bagi korban kecelakaan lalu lintas dan untuk kepentingan sipi administratif
lainnya.
b. Keluarga korban dapat dituntut telah melanggar pasal 222 KUHP dengan
ancaman hukuman penjara selama-lamanya Sembilan bulan.
c. Setiap saat polisi penyidik dapat menggali kuburan korban dan melakukan
pemeriksaan mayat.
Demikian penjelasan ini diberikan untuk menghindari kesalah-pahaman dan
menghindari kerugian dikemudian hari.
Dijelaskan oleh DPJP/PPDS:
Paraf DPJP/PPDS











PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa saya telah membaca dan memahami
penjelasan di atas. Saya atas nama ahli waris, menyatakan TIDAK KEBERATAN
atas pembedahan mayat (autopsy) terhadap jenazah almarhum/almarhumah:
Nama :.....
Jenis Kelamin : Laki-laki/ Perempuan. Umur : .....
Alamat : ....
Hubungan dengan saya :
Sesuai dengan permintaan visum et repertum dari kepolisian..
Dalam suratnya nomor.. tanggal.
Selanjutnya saya akan mematuhi segala ketentuan dan tertib administratif yang
berlaku.

Jakarta,.. 20.

Mengetahui
Petugas Jaga


( Nama, Paraf )

Yang Menyatakan
Nama..
Hubungan dengan Alm
No. KTP/SIM.


Tanda Tangan















SURAT PERNYATAAN
PENUNDAAN BEDAH MAYAT


Jakarta, .20.
Jam : ...WIB

Kepada Yth.
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik
dan Medikolegal FKUI/BLUD RSU Kabupaten Serang
di Serang

Yang bertanda tangan dibawah ini mohon agar bedah mayat almarhum/
almarhumah:

Nama :
Umur :
Alamat :

DITUNDA, karena :
1. Sedang diusahakan pencabutan permintaan visum
2. Menunggu ahli warisnya

Saya telah memahami atas penjelasan dokter tentang akibat dari penundaan
tersebut:
a. Pengambilan jenazah oleh keluarga akan tertunda
b. Apabila dalam waktu 2 (dua) hari belom ada keterangan sebagaimana
tersebut diatas, maka dokter dapat melakukan bedah mayat sesuai dengan
surat permintaan kepolisian dan pasal 134 ayat (3) KUHAP.



DPJP/PPDS Nama Pemohon :
yang menjelaskan, Hubungan keluarga :
KTP/ SIM :





PENJELASAN PEMBEDAHAN MAYAT
1. Pembedahan mayat (autopsy) harus dilakukan apabila diperlukan keterangan
tentang sebab kematian korban secara pasti untuk kepentingan pembuktian,
baik untuk kepentingan peradilan maupun untuk kepentingan hokum sipil-
administratif
2. Pembedahan mayat (autopsy) adalah pemeriksaan tubuh mayat secara
menyeluruh dengan membuka rongga kepala, leher, dada, perut dan panggul,
serta melakukan pemeriksaan laboratorium yang diperlukan. Setelah
pemeriksaan selesai, alat-alat dalam tubuh dikembalikn ke tempat semula.
3. Pasal 133 KUHAP memberikan wewenang kepada penyidik polisi untuk
meminta pemeriksaan (luar) mayat atau pemeriksaan pembedahan mayat
(autopsy) terhadap mayat yang diduga korban tindak pidana.
4. Mayat yang belum selesai diperiksa sesuai dengan surat permintaan visum et
repertum dari penyidik polisi tidak diperkenankan dibawa
pulang/meninggalkan BLUD RSU Kabupaten Serang.
5. Mayat yang dibawa pulang sebelum selesai dilakukan pemeriksaan forensic
oleh dokter Departemen Kedokteran Forensik FKUI dapat menimbulkan
kesulitan bagi keluarga, oleh karena:
a. Tidak akan diberikan SURAT KETERANGAN DOKTER/ SURAT
KETERANGAN KEMATIAN, yang diperlukan untuk mengurus perizinan
permakaman, pengurusan pension dan asuransi, pengurusan jasa raharja
bagi korban kecelakaan lalu lintas dan untuk kepentingan sipi administratif
lainnya.
b. Keluarga korban dapat dituntut telah melanggar pasal 222 KUHP dengan
ancaman hukuman penjara selama-lamanya Sembilan bulan.
c. Setiap saat polisi penyidik dapat menggali kuburan korban dan melakukan
pemeriksaan mayat.
Demikian penjelasan ini diberikan untuk menghindari kesalah-pahaman dan
menghindari kerugian dikemudian hari.

Dijelaskan oleh DPJP/PPDS:
Paraf DPJP/PPDS







PERNYATAAN PENOLAKAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa saya telah membaca dan memahami
penjelasan di atas. Saya atas nama ahli waris, menyatakan KEBERATAN atas
pembedahan mayat (autopsy) terhadap jenazah almarhum/almarhumah:

Nama :.....
Jenis Kelamin : Laki-laki/ Perempuan. Umur : .....
Alamat : ....
Hubungan dengan saya :

Saya membawa pulang mayat almarhum/almarhumah sebelum selesai pemeriksaan
forensic dan saya bersedia menanggung semua akibat hokum yang timbul, seperti
yang telah diuraikan diatas.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, dalam keadaan sehat dan
tanpa paksaan.

Serang, Pukul.

Yang Menyatakan,

Nama
Alamat.
..
No. KTP/SIM..

Tanda Tangan









SURAT PERMOHONAN
PENITIPAN JENAZAH DARI LUAR BLUD RSU KABUPATEN SERANG

Kepada Yth.
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik
dan Medikolegal FKUI/BLUD RSU Kabupaten Serang
di SERANG

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:

Nama :
Pangkat/ Jabatan :
Alamat Kantor :
Alamat Rumah :

Telepon :

Dengan ini menitipkan Jenazah :

Nama :
Jenis Kelamin : Laki-laki/ perempuan Umur. tahun/bulan/hari/jam
Pekerjaan :
Alamat Kantor :
Alamat rumah :

Alasan Penitipan : a) Sedang dusahakan pencabutan permintaan visum
b) Menunggu ahli warisnya

Meninggal Karena ; a) Sakit
b) Lecelakaan Lalu Lintas di Jalan:..
c) Lainnya :...

Hubungan saya dengan jenazah yang saya titipkan:..

Selanjutnya saya akan mematuhi mekanisme dan tertib administrasi yang berlaku di
Unit Pelayanan Jenazah BLUD RSU Kabupaten Serang.







Serang,..20.
Petugas yang menjelaskan Yang menitipkan,





() (.)






















PEMULASARAN JENAZAH NON MUSLIM
Pengertian :
Adalah panduan tata cara memandikan jenazah yang bukan beragama Islam.
Tujuan :
1. Untuk kepastian hokum sesuai dengan keyakinan agama.
Kebijakan :
1. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
Prosedur :
1. Jenazah yang akan dimandikan harus diperlakukan dengan baik, dengan penuh
penghormatan.
2. Sebelum jenazah dimandikan harus diberitahukan terlebih dahulu kepada ahli
waris dan atau keluarga terdekat.
3. Yang memandikan jenazah adalah petugas yang kompeten dan berwenang
untuk itu.
4. Ahli waris dan/atau keluarga atau pendeta dapat berpartisipasi dalam proses
pemandian jenazah.
5. Sebelum jenazah dimandikan ahli waris dan/atau keluarga atau pendeta dapat
melakukan upacara atau doa sesuai dengan keyakinan agama.
6. Jenazah yang akan dimandikan diletakkan di atas diapan, ditutup dengan kain
mulai dari kepala sampai kaki.
7. Petugas yang memandikan harus menggunakan penutup kepala, masker, sarung
tangan dan berpakaian sesuai ketentuan.
8. Jenazah laki-laki dimandikan oleh petugas laki-laki, jenazah perempuan
dimandikan oleh petugas perempuan.
9. Jenazah yang dimandikan, diistinjakan terlebih dahulu dengana cara
mengangkat sedikit bagian kepala, mengeluarkan kotoran dalam perut dengan
menekan dan memijit perutnya secara perlahan.
10. Dibilas dan dibasuh dengan air sabun.
11. Menggosok giginya, lubang hidung, telinga, celah ketiak, celah jari tangan dan
kaki serta rambut. Kemudian dibilas dan dibasuh dengan air sabun.
12. Kemudian seluruh tubuh dibilas dengan air bersih.
13. Keringkan dengan lap atau handuk, kemudian diberi pakaian sesuai dengan
yang diserahkan oleh keluarga.
Unit terkait :
1. Unit Pelayanan Kamar Jenazah Dept. Forensik dan Medikolegal FK-UI/BLUD
RSU Kab. Serang.
PEMERIKSAAN MAYAT KASUS FORENSIK PATOLOGI
Pengertian :
Kematian akibat peristiwa tindak pidana atau diduga akibat suatu peristiwa yang
merupakan tindak pidana.
Tujuan :
1. Agar pemeriksaan mayat tertib dan bermanfaat
2. Agar kepentingan penyidikan terpenuhi sesuai kebutuhan
Kebijakan :
1. Pasal 133 (3) KUHAP
2. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Prosedur :
1. Mayat yang akan diperiksa oleh dokter harus diperlakukan dengan baik dan penuh
penghormatan.
2. Pemeriksaan mayat kasus forensik meliputi pemeriksaan luar dan/atau bedah mayat
sesuai dengan surat permintaan keterangan ahli dari penyidik atau disebut juga
sebagai Surat Permintaan Visum (SPV).
3. Sebelum pemeriksaan dilakukan, harus dicek terlebih dahulu identitas mayat sesuai
dengan surat permintaan keterangan ahli.
4. Setiap pemeriksaan mayat harus dilakukan di atas meja otopsi kecuali terdapat
kondisi- kondisi yang tidak memungkinkan sehingga dilakukan pemeriksaan di atas
meja otopsi.
5. Mayat yang diperiksan diposisikan sesuai dengan kebutuhan.
6. Setelah pemeriksaan selesai, mayat dibersihkan terlebih dahulu, kemudian
diserahkan kepada pihak keluarga atau disimpan di dalam kamar pendingin apabila
belum ada pihak keluarga.
7. Setelah pemeriksaan selesai sesuai dengan yang tersebut dalam surat permintaan
keteraangaan ahli, maka selanjutnya dibuatkan suraat keterangan kematian.
8. Mayat yang belum selesai dilakukan pemeriksaan seperti yang tersebut dalam surat
permintaan keterangan ahli dari penyidik tidak diperkenankan untuk dilakukan
pelayanan pemulsaraan jenazah; namun apabila mayat dibawa pulang oleh
keluarganya sebelum selesai pemeriksaan maka berlaku prosedur Pulang Sebelum
Selesai Prosedur Pemeriksaan Forensik.
Unit terkait :
1. Unit Pelayanan Forensik Patologi Dept. Forensik dan Medikolegal FK-UI/BLUD RSU
Kab. Serang.

PEMERIKSAAN LUAR MAYAT KASUS FORENSIK
Pengertian :
Adalah pemeriksaan luar mayat akibat peristiwa tindak pidana atau diduga akibat suatu
peristiwa yang merupakan tindak pidana.
Tujuan :
1. Agar pemeriksaan mayat tertib dan bermanfaat
2. Agar kepentingan penyidikan terpenuhi sesuai kebutuhan
Kebijakan :
1. Pasal 133 KUHAP
2. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Prosedur :
1. Mayat yang akan diperiksa oleh dokter harus diperlakukan dengan baik dan
penuh penghormatan.
2. Setiap pemeriksaan mayat harus dilakukan di atas meja otopsi.
3. Mayat yang diperiksa diposisikan dalam posisi terlentang atau sesuai dengan
keperluan pemeriksaan.
4. Pemeriksaan luar mayat dimulai dengan pemeriksaan identifikasi pada korban.
5. Memeriksa ada tidaknya label mayat, tutup/bungkus mayat, perhiasan mayat,
pakaian mayat, benda disamping mayat.
6. Memeriksa perubahan tanatologi yang meliputi lebam mayat, kaku mayat, serta
ada tidaknya tanda- tanda pembusukan.
7. Melakukan identifikasi personal yang terdiri dari jenis kelamin, bangsa, ras, umur,
kulit, panjang tubuh, gizi, berat tubuh, zakar dan identifikasi khusus meliputi ada
tidaknya cacat kelamin, cacat tubuh bawaan, tattoo, dll.
8. Melakukan pemeriksaan terhadap bagian- bagian kepala, rambut, alis mata, bulu
mata, kumis, jenggot.
9. Melakukan pemeriksaan terhadap mata yaitu selaput bening mata, teleng mata,
warna tirai mata, selaput bola mata, selaput kelopak mata.
10. Melakukan pemeriksaan hidung, telinga dan mulut serta gigi geligi.
11. Melakukan pemeriksaan terhadap lubang mulut, lubang hidung, lubang telinga,
lubang kemaluan dan lubang pelepasan.
12. Melakukan pemeriksaan tentang luka-luka dan atau patah tulang.
13. Melakukan pengambilan sampel darah dan/atau air seni, swab buccal, kerokan
kulit, swab vagina, swab glands penis, dan lain sebagiannya apabila diperlukan.
14. Setelah pemeriksaan luar selesai, mayat dibersihkan, dipindahkan ke belangkar,
dan ditutup dengan kain bersih.

Unit terkait :
1. Unit Pelayanan Forensik Patologi Dept. Forensik dan Medikolegal BLUD RSU
Kab. Serang.
























PENGGUNAAN LEMARI PENDINGIN
Pengertian :
Adalah tempat penyimpanan jenazah
Tujuan :
1. Pengendalian infeksi
2. Agar penatalaksanaan jenazah tertib dan aman
Kebijakan :
1. SK Direktur no 622/TU.K/54/I/2011 Tentang KSO Pengelolaan Pemulaseraan
Jenazah di RSCM
2. Undang-undang No. 36 tahun 2009
3. KUHAP Pasal 133 (3)
Prosedur :
1. Jenazah yang disimpan di lemari pendingin adalah:
a. Jenazah yang ditangguhkan atas permintaan penyidik
b. Jenazah yang ditangguhkan atas permintaan keluarga
c. Jenazah tidak dikenal
2. Jenazah yang akan disimpan di lemari pendingin harus dibersihkan terlebih
dahulu dan diberikan gelang identitas
3. Memasukkan dan mengeluarkan jenazah dari lemari pendingin hanya boleh
dilakukan oleh petugas jaga yang berwenang untuk itu
4. Memasukkan dan mengeluarkan jenazah dari lemari pendingin harus tercatat
dalam buku register
5. Pemeliharaan lemari pendingin dilakukan secara berkala
6. Pengeluaran jenazah dari kamar pendingin untuk kepentingan identifikasi,
maka pengenalan oleh keluarga/pihak lain, hanya dilakukan setelah
pencocokan data antemortem dan post mortem serta telah disetujui oleh
Dokter Penanggung Jawab Pelayanan.
7. Lemari perndingin harus selalu dalam keadaan terkunci






PENGAWETAN JENAZAH (EMBALMING)
Pengertian :
Tindakan pengawetan jenazah adalah tindakan medis yang mengaplikaskan zat
pengawet jenazah ke dalam tubuh jenazah sehingga menghambat proses
pembusukkan dan menjaga kondisi jenazah tampak seprti saat sebelum meninggal.
Tujuan:
1. Menghambat proses pembusukan
2. Mencegah penularan penyakit
3. Menjaga kondisi jenazah sehingga tampak seperti saat sebelum meninggal
4. Memberikan pengharum (fragrance)
Kebijakan :
1. UU no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. UU no. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
3. UU no. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Prosedur :
1. Pengawetan jenazah hanya dilakukan oleh dokter
2. Tindakan pengawetan jenazah dilakukan di kamar otopsi.
3. pengawetan jenazah hanya dilakukan atas permintaan keluarga yang
diajukan secara tertulis.
4. Jenazah yang akan diawetkan harus dibersihkan terlebih dahulu.
5. Dokter harus menjelaskan terlebih dahulu kepada pihak keluarga tentang tata
cara pelaksanaan pengawetan jenazah
6. Apabila kematiannya wajar/karena sakit, maka pengawetan jenazah dapat
dilakukan langsung
7. Apabila kematiannya tidak wajar (pembunuhan, bunuh diri, atau kecelakaan),
maka pengawetan jenazah hanya boleh dilakukan setelah selesai dilakukan
prosedur Penatalaksanaan Mayat Kasus Forensik
8. Selama proses pengawetan jenazah berlangsung, aurat jenazah tertutup/
9. Setelah pengawetan jenazah selesai, dibuatkan sertifikat embalming dan
ditandatangani oleh dokter yang melakukan tindakan.

Unit terkait :
1. Unit Pelayanan Kamar Jenazah Dept. Forensik dan Medikolegal BLUD RSU
Kab. Serang.

PENGADAAN VISUM ET REPERTUM
Pengertian :
Adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan tertulis penyidik
yang berwenang yang memuat tentang hasil pemeriksaan medis terhadap tubuh
manusia/barang bukti berdasarkan keilmuannya di bawah sumpah, untuk
kepentingan peradilan.
Tujuan :
Agar kepentingan penyidikan dapat terpenuhi.
Kebijakan :
1. KUHAP Pasal 133 (1)
2. UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
3. Staadsblad No.350 tahun 1937
4. SK Menkeh No. M.01.PW.07.03 tahun 1982 tentang Pedoman Pelaksanaan
KUHAP
Prosedur :
1. Penerbitan Visum et Repertum di BLUD RSU Kab. Serang dilakukan sesuai
kebutuhan penyidik yang meliputi Visum et Repertum korban hidup dan
Visum et Repertum mayat.
2. Visum et Repertum dibuat berdasarkan surat permintaan dari penyidik
kepolisian dan/atau aparat penegak hokum lainnya yang berwenang untuk itu.
3. Visum et Repertum dibuat setelah pemeriksaan atas korban selesai.
4. Visum et Repertum diperlakukan sebaggai surat yang harus dirahasiakan
5. Visum et Repertum dibuat oleh dokter yang memiliki kompetensi dan
kewenangan untuk itu.
6. Visum et Repertum yang telah selesai dibuat, hanya diserahkan kepada
institusi penyidik yang meminta.
7. Penyerahan Visum et Repertum kepada pihak penyidik harus dibuatkan berita
acara.

Unit terkait :
1. Unit Pelayanan Forensik Patologi Dept. Forensik dan Medikolegal BLUD RSU
Kab. Serang
2. Unit Pelayanan Forensik Klinik Dept. Forensik dan Medikolegal BLUD RSU
Kab. Serang

PENGADAAN VISUM ET REPERTUM SEMENTARA
Pengertian :
Adalah keterangan hasil pemeriksaan sementara yang dibuat oleh dokter atas
permintaan penyidik apabila pemeriksaan atas korban belum selesai
Tujuan :
Agar kepentingan penyidikan dapat terpenuhi.
Kebijakan :
1. KUHAP Pasal 133 (1)
2. UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
3. Staadsblad No.350 tahun 1937
4. SK Menkeh No. M.01.PW.07.03 tahun 1982 tentang Pedoman Pelaksanaan
KUHAP
Prosedur :
1. Penerbitan Visum et Repertum sementara dibuat atas permintaan penyidik.
2. Visum et Repertum sementara dibuat oleh dokter yang melakukan
pemeriksaan atas korban.
3. Visum et Repertum memuat tentang identitas korban, jenis luka, jenis racun
atau obat, dan/atau jenis kekerasan.
4. Visum et Repertum sementara hanya diserahkan kepada penyidik yang
meminta
5. Petugas dari Kepolisian Republik Indonesia penerima Visum et Repertum
sementara harus menuliskan nama, pangkat, NRP serta membubuhkan
tanda-tangannya.

Unit terkait :
1. Unit Pelayanan Forensik Patologi Dept. Forensik dan Medikolegal BLUD RSU
Kab. Serang
2. Unit Pelayanan Forensik Klinik Dept. Forensik dan Medikolegal BLUD RSU
Kab. Serang