Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakter
mycobacteri tuberculosis yang merupakan Bakteri Tahan Asam (BTA). Penyakit TB
pada umumnya menyerang organ paru, sehingga disebut TB Paru, namun, kuman ini
juga dapat menyerang organ vital lainnya seperti tulang. Menurut WHO (2009) pada
tahun 2008 diperkirakan kasus TB sekitar 9.6 juta sampai 13.3 juta kasus diseluruh
dunia. Yang mana setiap tahunnya insiden TB paru mencapai 583.000 kasus dengan
kematian sekitar 140.000 kasus.
Penularan penyakit tuberculosis dapat melalui percikan batuk yang berbentuk
dorman, kuman tuberculosis dapat hidup pada semua umur, dan kuman tersebut dapat
tinggal didalam paru manusia bertahun-tahun, dan adanya imunitas tubuh akan
membantu kekebalan tubuh dalam melawan kuman penyakit tuberculosis. Penularan
penyakit bergantung dengan daya tahun tubuh manusia, beberapa masalah adalah
karena hidup lama serumah dengan penderita pada lingkungan yang padat dan kotor.
(WHO, 2004).
Menurut Achmadi (2008) Determinan penyakit TB Paru adalah kependudukan
dan faktor lingkungan. kependudukan meliputi jenis kelamin, umur, status gizi,
kondisi sosial ekonomi. Sedangkan faktor lingkungan meliputi kepadatan, lantai
rumah, ventilasi, pencahayaan, dan kelembaban.
Penyakit tuberkulosis paru yang terjadi pada orang dewasa sebagian besar
terjadi pada orang-orang yang mendapatkan infeksi primer pada waktu kecil yang
tidak ditangani dengan baik. Beberapa faktor yang erat hubungannya dengan
terjadinya infeksi basil tuberkulosis adalah adanya sumber penularan, tingkat paparan,
virulensi, daya tahan tubuh yang erat kaitannya dengan faktor genetik, faktor faali,
jenis kelamin, usia, status gizi, perumahan dan jenis pekerjaan. (Amir dan Assegaf,
1989)
Penelitian pada tahun 2006 di Kabupaten Banyumas menyimpulkan bahwa
ada asosiasi antara tuberkulosis paru dengan pencahayaan, kepadatan hunian rumah,
ventilasi, keberadaan jendela ruang tidur, jenis lantai, pembagian ruang tidur, jenis
dinding, kelembaban luar rumah, suhu luar rumah, kontak penderita dan status gizi.
(Subagyo, 2007)
2

Tuberculosis menyerang penduduk yang tinggal dilokasi padat huni dan kotor
dengan lingkungan yang tidak sehat, sehingga penyakit yang berhubungan dengan
lingkungan seperti Tuberculosis semakin bertambah banyak.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran faktor risiko terhadap dengan kejadian TB Paru.

2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui hubungan antara lingkungan fisik dengan kejadian TB paru
b) Mengetahui hubungan antara lingkungan kimia dengan kejadian TB paru
c) Mengetahui hubungan antara lingkungan biologi dengan kejadian TB paru
d) Mengetahui hubungan antara sosial ekonomi dengan kejadian TB paru














3


BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi TB Paru
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium tuberculosis), yang menyerang terutama paru dan
disebut juga tuberkulosis paru. Bila menyerang organ selain paru (kelenjar limfe,
kulit, otak,tulang, usus, ginjal) disebut tuberkulosis ekstra paru.
Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang, berukuran panjang 1-4
mikron dan tebal 0,3-0,6 mikron, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap
asam pada pewarnaan, oleh karena itu disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA).
Kuman tuberkulosis cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan
tubuh, kuman ini dapat dormant atau tertidur lama dalam beberapa tahun (Depkes
RI, 2002).

B. Mekanisme Penularan
Sumber penularan adalah penderita TB Paru BTA positif. Pada waktu
batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada
suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut
terhirup kedalam saluran pernafasan, kuman TB Paru tersebut dapat menyebar
dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran
limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman
yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan
dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak
menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB Paru ditentukan oleh konsentrasi
droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Faktor yang
mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita Tuberkulosis paru
adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantarannya gizi buruk atau HIV/AIDS.

4

3. Gejala TB Paru
a. Gejala utama: batuk terus menerus dan berdahak selama tiga minggu atau
lebih.
b. Gejala tambahan:
1) Dahak bercampur darah
2) Batuk darah
3) Sesak nafas dan rasa nyeri dada
4) Badan lemah dan nafsu makan menurun
5) Malaise atau rasa kurang enak badan
6) Berat badan menurun
7) Berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan
8) Demam meriang lebih dari satu bulan

4. Diagnosis TB Paru
Diagnosis tuberkulosis paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan
ditemukannya BTA Positif pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil
pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen hasilnya
positif. Bila hanya satu spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih
lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak Sewaktu, Pagi, Sewaktu
(SPS) diulang :
a. Kalau hasil rontgen mendukung tuberkulosis paru, maka penderita di
diagnosis sebagai penderita tuberkulosis paru BTA Positif.
b. Kalau hasil rontgen tidak mendukung tuberkulosis paru, maka pemeriksaan
dahak ulangi dengan SPS lagi.
Apabila fasilitas memungkinkan maka dapat dilakukan pemeriksaan
biakan. Bila tiga spesimen dahak hasilnya negatif, diberikan antibiotik spektrum
luas (misal : kotrimoksasol atau amoksisillin) selama 1 2 minggu, bila tidak ada
perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan tuberkulosis paru, ulangi
pemeriksaan dahak SPS.
a. Kalau hasil SPS positif, maka didiagnosis sebagai penderita tuberkulosis paru
BTA positif.
b. Kalau hasil SPS tetap negatif, dilakukan pemeriksaan foto rontgen dada, untuk
mendukung diagnosis tuberkulosis paru.
5

1) Bila hasil rontgen mendukung tuberkulosis paru, di diagnosis sebagai
penderita tuberkulosis paru BTA negatif rontgen positif
2) Bila hasil rontgen tidak mendukung tuberkulosis paru, penderita tersebut
bukan tuberkulosis paru.

5. Faktor yang Mempengaruhi TB Paru
Teori John Gordon, mengemukakan bahwa timbulnya suatu penyakit sangat
dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu bibit penyakit (agent), penjamu (host), dan
lingkungan (environment). Ketiga faktor penting ini disebut segi tiga epidemiologi
(Epidemiologi Triangle), hubungan ketiga faktor tersebut digambarkan secara
sederhana sebagai timbangan yaitu agent penyebab penyakit pada satu sisi dan
penjamu pada sisi yang lain dengan lingkungan sebagai penumpunya.
a. Agen
Penyebab yang esensial yang harus ada, apabila penyakit timbul atau manifest,
tetapi agent sendiri tidak mencukupi syarat untuk menimbulkan penyakit. Agent
memerlukan dukungan faktor penentu agar penyakit dapat manifestasi. Agent
yang mempengaruhi penularan penyakit tuberkulosis adalah kuman
Mycobacterium tuberculosis. Agent ini dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya pathogenitas, infektifitas dan virulensi.
Pathogenitas adalah daya suatu mikroorganisme untuk menimbulkan penyakit
pada host. Pathogenitas kuman tuberkulosis paru termasuk pada tingkat rendah.
Infektifitas adalah kemampuan mikroba untuk masuk ke dalam tubuh host dan
berkembangbiak di dalmnya. Berdasarkan sumber yang sama infektifitas kuman
tuberkulosis paru termasuk pada tingkat menengah. Virulensi adalah keganasan
suatu mikroba bagi host. Berdasarkan sumber yang sama virulensi kuman
tuberkulosis termasuk tingkat tinggi.
b. Host
Host atau pejamu adalah manusia atau hewan hidup, termasuk burung dan
arthropoda yang dapat memberikan tempat tinggal dalam kondisi alam (lawan dari
percobaan).
Host untuk kuman tuberkulosis paru adalah manusia dan hewan, tetapi host
yang dimaksud dalam penelitian ini adalah manusia. Beberapa faktor host yang
mempengaruhi penularan penyakit tuberkulosis paru adalah :
1) Jenis Kelamin
6

Di benua Afrika banyak tuberkulosis terutama menyerang laki-laki. Pada
tahun 1996 jumlah penderita tuberkulosis paru laki-laki hampir dua kali lipat
dibandingkan jumlah penderita tuberkulosis paru pada wanita, yaitu 42,34%
pada laki-laki dan 28,9 % pada wanita. Antara tahun 1985-1987 penderita
tuberkulosis paru laki-laki cenderung meningkat sebanyak 2,5%, sedangkan
penderita tuberkulosis paru pada wanita menurun 0,7%. tuberkulosis paru
Iebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-
laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan
terjangkitnya tuberkulosis paru dimana Kebiasaan merokok meningkatkan
resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali.
2) Umur
Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di New York pada Panti penampungan
orang-orang gelandangan menunjukkan bahwa kemungkinan mendapat infeksi
tuberkulosis aktif meningkat secara bermakna sesuai dengan umur. Insiden
tertinggi tuberkulosis paru biasanya mengenai usia dewasa muda. Di Indonesia
diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif yaitu 15-
50 tahun.
3) Status Gizi
Umumnya penderita tuberkulosis paru dalam keadaan malnutrisi dengan berat
badan sekitar 30-50 kg atau indeks masa tubuh kurang dari 18,5 pada orang
dewasa. Sementara berat badan yang lebih kecil 85% dari berat badan ideal
kemungkinan mendapat tuberkulosis paru adalah 14 kali lebih besar
dibandingkan dengan berat badan normal. Ini yang menjadi pemikiran bahwa
malnutrisi atau penurunan berat badan telah menjadi faktor utama peningkatan
resiko tuberkulosis menjadi aktif. Pola makan orang Indonesia yang hampir
70% karbohidrat dan hanya 10% protein yang pada penyakit kronis selalu
disertai dengan tidak selera makan, tidak mau makan, tidak bisa makan atau
tidak mampu membeli makanan yang mempunyai kandungan gizi baik
(kurang protein), sehingga penderita ini mempunyai status gizi yang buruk.
4) Penyakit penyerta
Penyakit penyerta seperti Diabetes Mellitus (DM) dan infeksi HIV merupakan
salah satu faktor risiko yang tidak berketergantungan untuk berkembangnya
infeksi saluran napas bagian bawah. Prevalensi tuberkulosis paru pada DM
meningkat 20 kali dibanding non DM dan aktivitas kuman tuberkulosis
7

meningkat 3 kali pada DM berat dibanding DM ringan. Penderita tuberkulosis
menular (dengan sputum BTA positif) yang juga mengidap HIV merupakan
penularan kuman tuberkulosis tertinggi. tuberkulosis diketahui merupakan
infeksi oportunistik yang paling sering ditemukan pada pasien dengan reaksi
seropositif. Apabila seseorang dengan seropositif tertular kuman ini maka
karena kekebalannya rendah, besar sekali kemungkinannya akan langsung
menderita tuberkulosis. Hal ini berbeda sekali dengan orang normal atau
mereka dengan seronegatif, karena kuman ini yang masuk akan dihambat oleh
reaksi imunitas yang ada dalam tubuhnya. Disamping itu penyakit tuberkulosis
pada mereka dengan seropositif cepat berkembang kearah perburukan.
(Kepmen PU no 20/KPRS/1986)

3. Lingkungan
a. Lingkungan Fisik
1) Kepadatan Hunian dan Kondisi Rumah
Kepadatan penghuni merupakan suatu proses penularan penyakit.
Semakin padat maka perpindahan penyakit semakin cepat, khususnya
penyakit menular melalui udara akan semakin mudah dan cepat, apalagi
terdapat anggota keluarga yang menderita tuberkulosis dengan BTA
positif. Kepadatan hunian ditempat tinggal penderita tuberkulosis paru
paling banyak adalah tingkat kepadatan rendah. suhu didalam ruangan erat
kaitannya dengan kepadatan hunian dan ventilasi rumah. Kondisi
kepadatan hunian perumahan atau tempat tinggal lainnya seperti
penginapan, panti-panti tempat penampungan akan besar pengaruhnya
terhadap risiko penularan. Di daerah perkotaan (urban) yang lebih padat
dari pada di pedesaan.
Ventilasi cukup menjaga agar aliran udara di dalam rumah tetap segar,
sehingga keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah
tetap terjaga. Ventilasi yang baik juga menjaga dalam kelembaban
(humidity) yang optimum. Kelembaban yang optimal (sehat) adalah sekitar
4070%. Kelembaban yang lebih Dari 70% akan berpengaruh terhadap
kesehatan penghuni rumah. Kelembaban udara di dalam ruangan naik
karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan.
8

Kelembaban juga merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri
patogen (penyebab penyakit).
Cahaya matahari cukup, tidak lebih dan tidak kurang, dimana cahaya
matahari ini dapat diperoleh dari ventilasi maupun jendela/genting kaca.
Suhu udara yang ideal dalam rumah antara 18 - 30C. Suhu optimal
pertumbuhan bakteri sangat bervariasi, mycobacterium tuberculosis
tumbuh optimal pada suhu 37C. Paparan sinar matahari selama 5 menit
dapat membunuh mycobacterium tuberculosis. Bakteri tahan hidup pada
tempat gelap, sehingga perkembangbiakan bakteri lebih banyak di rumah
yang gelap. (Azwar, 2000).
2) Lantai rumah
Secara hipotetis jenis lantai tanah memiliki peran terhadap proses
kejadian tuberkulosis, melalui kelembaban dalam ruangan, lantai tanah
cenderung menimbulkan kelembaban dengan demikian viabilitas kuman
tuberkulosis dilingkungan juga sangat mempengaruhi.
3) Ventilasi
Ventilasi bermanfaat bagi sirkulasi pergantian udara dalam rumah serta
mengurangi kelembaban. Luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan
adalah 10 % luas lantai rumah. Luas lantai <10% lantai rumah
mengakibatkan berkurangnya konsentrasi oksigen dan bertambahnya
konsentrai karbondioksida yang bersifat racun bagi penghuninya.
Disamping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan peningkatan
kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan dari kulit dan
penyerapan. (Azwar, 2007)
Ventilasi mempengaruhi proses dilusi udara, juga dengan kata lain
mengencerkan konsentrasi kuman tuberkulosis dan kuman lain terbawa
keluar dan mati terkena sinar ultraviolet.
Menurut Supriyono dalam Achmadi (2010) menghitung di Ciampea
risiko untuk terkena tuberkulosis 5,2 kali pada penghuni yang memiliki
ventilasi buruk dibanding penduduk berventilasi memenuhi syarat
kesehatan. Meski secara skeptical bias saja terdapat bisa karena sebab lain,
misalnya kemiskinan.


9

4) Pencahayaan
Rumah sehat memerlukan cahaya cukup, khususnya cahaya alam
berupa cahaya matahari. Cahaya matahari minimal masuk 60 lux dengan
syarat tidak menyilaukan. Cahaya matahari selain berguna untuk
menerangi ruang juga mempunyai daya untuk membunuh bakteri. Hal ini
dibuktikan oleh Robert Koch (1843-1910). Dari hasil penelitiannya Robert
Koch menyimpulkan sinar matahari dapat dimanfaatkan untuk pencegahan
penyakit tuberkulosis paru, dengan mengusahakan masuknya sinar
matahari masuk melalui jendela atau genteng kaca. (Azwar, 2007).
5) Kelembaban
Menurut Mulyadi dalam Achmadi (2010) meneliti di kota bogor,
penghuni rumah yang mempunyai kelembaban ruang keluarga lebih besar
dari 60 % berisiko terkena TBC 10,7 kali dibanding penduduk yang
tinggal pada perumahan yang memiliki kelembaban lebih kecil atau sama
dengan 60%.
Kelembaban merupakan sarana baik untuk pertumbuhan
mikroorganisme, termasuk tuberkulosis sehingga viabilitas lebih lama.
Seperti telah dikemukakan kelembaban berhubungan dengan
kepadatan penghuni dan ventilasi. Topografi menurut penelitian juga
berpengaruh terhadap kelembaban, wilayah lebih tinggi cenderung
memiliki kelembaban lebih rendah. (Achmadi, 2010).
6) Ketinggian
Ketinggian secara umum mempengaruhi kelembaban dan suhu
lingkungan. Setiap kenaikan 100 meter, selisih suhu udara dengan
permukaan laut sebesar 0,5
0
C.
Ketinggian berkaitan juga dengan kerapatan oksigen. M. tuberculosis
sangat aerob, sehingga diperkirakan kerapatan oksigen dipegunungan akan
mempengaruhi viabilitas kuman TBC (olander, 2003).
b. Lingkungan Kimia
c. Lingkungan Biologi
d. Sosial ekonomi
WHO (2003) menyebutkan 90 % penderita TBC di dunia menyerang
sosial ekonomi lemah atau miskin. Hubungan antara kemiskinan dengan TBC
10

bersifat timbal balik, TBC merupakan penyebab kemiskinan dan karena
miskin maka manusia menderita TBC. Kondisi soasial ekonomi itu sendiri
mungkin tidak hanya berhubungan secara langsung, namun dapat merupakan
penyebab tidak langsung seperti adanya kondisi gizi buruk serta perumahan
yang tidak sehat dan akses terhadap pelayanan kesehatan juga menurun
kemampuannya.
Menurut perhitungan, rata-rata penderita tuberkulosis kehilangan 3 sampai
4 bulan waktu kerja dalam setahun. Mereka juga kehilangan penghasilan
setahun secara total mencapai 30 % dari pendapatan rumah tangga. (Achmadi,
2010).

6. Penanggulangan TB Paru
a. Pencegahan
1) Penderita tidak menularkan pada orang lain;
a) Menutup mulut pada waktu batuk dan bersin dengan sapu tangan atau
tissu.
b) Tidur terpisah dari keluarga terutama pada dua minggu pertama
pengobatan.
c) Tidak meludah di sembarang tempat, tetapi dalam wadah yang diberi
lysol, kemudian dibuang dalam lubang dan ditimbun dalam tanah.
d) Menjemur alat tidur secara teratur pada pagi hari.
e) Membuka jendela pada pagi hari, agar rumah mendapat udara bersih
dan
f) cahaya matahari yang cukup sehingga kuman tuberkulosis paru dapat
mati.
2) Masyarakat tidak tertular dari penderita TB Paru
a) Meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain dengan makan- makanan
yang bergizi
b) Tidur dan istirahat yang cukup
c) Tidak merokok dan tidak minum-minuman yang mengandung alkohol.
d) Membuka jendela dan mengusahakan sinar matahari masuk ke ruang
tidur dan ruangan lainnya.
e) Imunisasi BCG pada bayi.
f) Segera periksa bila timbul batuk lebih dari tiga minggu.
11

g) Menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50% dari penderita Tuberkulosis
Paru akan meninggal, 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh
yang tinggi, dan 25% sebagai kasus kronik yang tetap menular. (Depkes RI
dalam ruswanto, 2010)
b. Pengobatan
Pengobatan penderita tuberkulosis paru harus dengan panduan beberapa
Obat Anti Tuberkulosis (OAT), berkesinambungan dan dalam waktu tertentu
agar mendapatkan hasil yang optimal ( OAT dalam bentuk kombipak atau
FDC (Fixed
Dose Combination). Kesembuhan yang baik akan memperlihatkan sputum
BTA negatif, adanya perbaikan radiologi dan menghilangnya gejala penyakit.
Tujuan pengobatan tuberkulosis paru dengan jangka pendek adalah untuk
memutus rantai penularan dengan menyembuhkan penderita tuberkulosis paru
minimal 80% dari seluruh kasus tuberkulosis paru BTA positif yang
ditemukan, serta mencegah resistensi ( kekebalan kuman terhadap OAT).









12

BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang berjudul Faktor Penyebab Kejadian Tuberculosis Serta
Hubungannya Dengan Lingkungan Tempat Tinggal Di Provinsi Jawa Tengah
(Analisis Lanjut Riskesdas 2007) oleh Merryani Girsang., KristinaTobing dan
Rafrizal. Penelitian ini menjelaskan adanya hubungan antara kepadatan penghui
rumah dengan kejadian TB paru. Berikut tabel hasil penelitian :
Tabel 1. Persentase Karakteristik Kondisi Lingkungan Rumah Tinggal Terhadap
Kejadian TB


Berdasarkan tabel 1, memperlihatkan persentase dan karakteristik kejadian TB
terhadap lingkungan rumah tinggal di Propinsi Jawa Tengah. Kepadatan hunian
sebesar 25% juga mempengaruhi kejadian TB, hal ini berhubungan dengan data
Riskesdas 2007 yang menyebutkan prevalensi penyakit menular di JawaTengah
sebesar 1,58%, menunjukkan tingginya masalah penyakit menular yang berhubungan
dengan respiratory yaitu penyakit yang berhubungan dengan pemafasan dan paru.
Angka kejadian TB tertinggi sebesar 33% ditemukan pada lingkungan rumah yang
mempunyai dinding yang tidak permanen atau bukan terbuat dari beton,
13

dibandingkan dengan dinding permanen dari beton kejadian penyakit tuberculosis
lebih sedikit yaitu sebesar 20% memperlihatkan (p<O,05). Kepadatan hunian dalam
satu rumah tinggal berpengaruh terhadap kejadian penyakit tuberculosis sebesar 25%
dibandingkan dengan yang tidak padat sebesar 75%. Sebesar 21 % responden
membuang sampah ketempat sampah, dan hanya 14% tidak ada tempat pembuangan
sampah (p<O,05) dan ditemukan kejadian TB, ini berpengaruh terhadap kebersihan
lingkungan tempat tinggal. Sebesar 23% kejadian TB ditemukan pada rumah yang
berlantai tanah dan juga memelihara unggas serta mengkonsumsi air minum yang
tidak sehat, sebesar 23% air tidak memenuhi syarat minum, karena kotor dan keruh.
Udara yang tercemar insektisida sebesar 23% kejadian tuberculosis pada (p<O,05),
keadaan ini mengakibatkan anggota rumah tangga mengalami sesak nafas, dan
akibatnya paru menjadi rentan terserang penyakit terutama penyakit yang
berhubungan dengan paru.
Tabel 2. Analisis Hubungan Kepadatan Penghuni dengan Kejadian TB Paru di
Kecamatan Semarang Utara tahun 2011

Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa nilai = 0,781 dan OR=0,857
dengan CI 95%=0,288<OR<2,547 proporsi responden yang tidak memenuhi syarat
luas ruangan cenderung lebih banyak dibandingkan yang memenuhi syarat luas
ruangan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa kepadatan penghuni responden
tidak mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian TB Paru dan kepadatan
penghuni yang tidak memenuhi syarat luas ruangan mempunyai risiko terkena TB
Paru dengan risiko 0,857 kali lebih besar dibandingkan dengan yang memenuhi
syarat luas ruangan.
Hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian TB paru pada penelitian
yang berjudul Hubungan Perilaku Dan Kondisi Lingkungan Fisik Rumah Dengan
Kejadian Tb Paru Di Kota Bima Provinsi NTB , oleh Imam Bachtiar , Erniwati
Ibrahim , Ruslan.

14

Tabel 3. Hubungan antara Kondisi ventilasi dengan Kejadian Penyakit TB Paru
Ventilasi BTA
Positif
BTA
Negatif
Total p OR
n % N % n %
(0,00) 36,417
Tidak
memenuhi
syarat (< 10%)
38 76 4 8
42 42
Memenuhi
syarat ( 10%)
12 24 46 92 58 58

Berdasarkan tabel 3, kondisi ventilasi dengan kejadian penyakit TB paru dimana
kelompok masyarakat yang memiliki kondisi ventilasi < 10% kemungkinan menderita
penyakit TB paru sebesar 36 kali dibandingkan yang memiliki kondisi ventilasinya
10%.
Hasil penelitian yang menguji hubungan antara kelembaban dengan kejadian
TB paru pada penelitian yang berjudul Hubungan Perilaku Dan Kondisi Lingkungan
Fisik Rumah Dengan Kejadian Tb Paru Di Kota Bima Provinsi NTB, oleh Imam
Bachtiar , Erniwati Ibrahim , Ruslan.

Tabel 4. Hubungan antara Kelembaban Udara dengan kejadian TB Paru
Kelembaban
Udara
BTA
Positif
BTA
Negatif
Total p OR
n % N % n %
(0,009) 2,935
Tidak memenuhi
syarat (>70%)
29 58 16 32 45 45
Memenuhi
syarat (40-70%)
21 42 34 68 55 55
TOTAL 50 100 50 100 100 100

Berdasarkan tabel 4, adanya hubungan yang bermakna antara kelembaban udara
dengan kejadian penyakit TB Paru dimana kelompok masyarakat yang memiliki
kelembaban udara > 70% (tidak memenuhi syarat) kemungkinan menderita penyakit TB
paru sebesar 3 kali dibandingkan kelompok masyarakata yang memiliki kelembaban
udaranya 40% - 70% (memenuhi syarat).
15

Hubungan antara pencahayaan alami dalam rumah dengan kejadian TB paru
pada penelitian yang berjudul Analisis Spasial Sebaran Kasus Tuberkulosis paru
ditinjau dari Faktor Lingkungan Dalam dan Luar Rumah, Bambang Ruswanto.

Tabel 5. Analisis pencahayaan alami di dalam rumah dengan kejadiann
tuberkulosis paru di Kabupaten Pekalongan

Berdasarkan tabel 5, pencahayaan alami dalam rumah yang kurang dari 60
lux mempunyai risiko meningkatkan kejadian tuberkulosis paru sebanyak 8,712 kali
lebih besar dibandingkan dengan pencahayaan alami dalam rumah yang lebih dari 60
lux.

Hubungan antara suhu dengan kejadian TB paru, pada penelitian yang
berjudul Analisis Hubungan Antara Kondisi Ventilasi, Kepadatan Hunian,
Kelembaban Udara, Suhu, Dan Pencahayaan Alami Rumah Dengan Kejadian
Tuberkulosis Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Wara Utara Kota Palopo, Hera.T.S.
Batti , dr. Budi. T Ratag, MPH, Prof. dr. Jootje. M.L. Umboh, MS

Tabel 6. Hubungan antara suhu ruangan dengan penyakit TB paru
Suhu BTA Positif BTA Negatif p
Tidak memenuhi syarat
(<18C/ >30C)
36 11
9,117
Memenuhi syarat
(>18C-30C)
14 39

Berdasarkan tabel 6, menyatakan bahwa terdapat hubungan antara suhu
ruangan dengan kejadian penyakit TB paru. Dimana kelompok masyarakat yang suhu
ruangannya <18C/ >30C (tidak memenuhi syarat) kemungkinan menderita penyakit
16

TB paru sebesar 9 kali dibandingkan kelompok masyarakat yang suhu ruangannya
>18C-30C (memenuhi syarat).


B. Pembahasan
1. Hubungan Antara kondisi ventilasi dengan Kejadian Penyakit TB Paru
Pada penelitian yang berjudul Faktor Penyebab Kejadian Tuberculosis Serta
Hubungannya Dengan Lingkungan Tempat Tinggal Di Provinsi Jawa Tengah
(Analisis Lanjut Riskesdas 2007) oleh Merryani Girsang., KristinaTobing dan
Rafrizal. Lingkungan rumah tinggal merupakan cermin kepribadian bagi individu
yang menempatinya, dan rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat
tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga, oleh karena itu lingkungan rumah
tinggal perlu diperlakuakan dengan baik dan sehat, karena kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial. Kejadian TB (Tuberculosis) juga berpengaruh
terhadap ketersediannya anggaran belanja kesehatan, karena semakin tinggi anggaran
kesehatan yang tersedia maka semakin banyak masyarakat yang sehat. Penyakit
tuberculosis berpengaruh terhadap lmgkungan rumah tinggal,terutama mengenai
kepadatan hunian rumah tinggal, dimana pada kepadatan hunian akan menyebabkan
sesak dan jumlah Oksigen yang diperlukan oleh paru menjadi berkurang, dan jika
tubuh kekurangan Oksigen akan mudah lemah dan jika keadaan ini terus menerus
terjadi,maka individu yang mengalaminya akan mudah mengalami berbagai penyakit
terutama penyakit yang berhubungan dengan paru-paru,dan yang paling sering
menyerang paru adalah penyakit Tuberculosis (TB). Lingkungan rumah tempat
tinggal berhubungan dengan penyakit tuberculosis, menurut penelitian Philip Hill
faktor utama kej adian TB yang terj adi di masyarakat adalah faktor lingkungan dan
faktor prilaku. Angka kejadian TB tertinggi sebesar 33% ditemukan pada lingkungan
rumah yang mempunyai dinding yang tidak permanen atau bukan terbuat dari beton,
karena dinding rumah sebagian anggota rumah tangga yang di wawancara terbuat dari
tepaslbambu dan juga kayu, dibandingkan dengan din ding permanen dari beton
kejadian penyakit tuberculosis lebih sedikit yaitu sebesar 20% memperlihatkan
(p<O,05). Kepadatan hunian dalam satu rumah tinggal berpengaruh terhadap
kejadian penyakit tuberculosis sebesar 25% dibandingkan dengan yang tidak padat
sebesar 75%, kepadatan hunian menyebabkan udara menjadi kotor, Oksigen tidak
mencukupi karen saling berebut sesama keluarga, akibatnya terj adi sesak nafas, batuk
17

dan besar kemungkinan menj adi sakit, dan apabila ada yang membawa kuman
tuberculosis, maka seisi rumah akan tertular karena kepadatan hunian. Adanya tempat
pembuangan sampah dilingkungan rumah juga berpengaruh terhadap kebersihan dan
kesehatan keluarga, sebesar 21 % responden membuang sampah ketempat sampah,
dan hanya 14% tidak ada tempat pembuangan sampah (p<O,05)dan ditemukan
kejadian TB, ini berpengaruh terhadap kebersihan lingkungan temp at tinggal. Sebesar
23% kejadian TB ditemukan pada rumah yang berlantai tanah dan juga memelihara
unggas serta mengkonsumsi air minum yang tidak sehat, sebesar 23% air tidak
memenuhi syarat minum, karena kotor dan keruh, jika anggota rumah tangga terpapar
terus menerus maka ada kemungkinan sebesar 1,8 kali kemungkinan terpapar
penyakit menular. Pada umumnya responden yang diwawancara adalah kelompok
masyarakat miskin dan tidak mampu, terbukti ada per-bedaan (p=O,097) antara yang
miskin dan yang tidak, karena umumnya kelompok masyarakat yang miskin tidak
mampu mengobati dirinya, karena keterbatasan keuangan sehingga penyakit yang
diderita apabila belum parah masih dibiarkan tanpa diobat. Semakin kotor udara yang
dihirup maka semakin nyata adanya kejadian TB, karena udara yang tercemar
insektisida sebesar 23% kejadian tuberculosis pada (p<O,05), keadaan ini
mengakibatkan anggota rumah tangga mengalami sesak nafas, dan akibatnya paru
menjadi rentan terserang penyakit terutama penyakit yang berhubungan dengan paru.
Sedangkan, pada penelitian yang berjudul Hubungan Antara Karakteristik
Individu, Praktik Hygiene Dan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Tuberculosis
Di Kecamatan Semarang Utara Tahun 2011, oleh Rikha Nurul Pertiwi, M.Arie
Wuryanto dan Dwi Sutiningsih. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa kepadatan
penghuni responden tidak mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian TB Paru
dan kepadatan penghuni yang tidak memenuhi syarat luas ruangan mempunyai risiko
terkena TB Paru dengan risiko 0,857 kali lebih besar dibandingkan dengan yang
memenuhi syarat luas ruangan. Hal ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Agus Subagyo dalam Ruswanto (2010) dimana kepadatan penghuni rumah tidak
ada hubungan dengan kejadian tuberkulosis paru, hasil uji statistik menunjukkan nilai
-value > 0,05 ( = 0,860).
Analisis sanitasi lingkungan pada kepadatan penghuni, yaitu selain dapat
menimbulkan masalah privasi bagi penghuninya dari segi kesehatan, kepadatan
penghuni akan dapat mempercepat terjadinya penularan penyakit terutama penyakit
menular secara droplet infection misalnya penyakit tuberkulosis paru. Semakin padat,
18

maka perpindahan penyakit, khususnya penyakit menular melalui udara akan semakin
mudah dan cepat. Syarat rumah sehat Berdasarkan Departemen Kesehatan adalah 9
m
2
per orang. Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan memberikan
pengaruh bagi penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah
penghuninya akan menyebabkan overcrowded. Hal ini tidak sehat karena disamping
menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga
terkena penyakit infeksi, terutama tuberkulosis akan mudah menular kepada anggota
keluarga yang lain (Lubis, 1989; Notoatmodjo, 2003).
1. Hubungan Antara Kondisi Ventilasi dengan Kejadian Penyakit TB
Paru
Hubungan yang bermakna antara kondisi ventilasi dengan kejadian penyakit TB
paru dimana kelompok masyarakat yang memiliki kondisi ventilasi < 10% kemungkinan
menderita penyakit TB paru sebesar 36 kali dibandingkan yang memiliki kondisi
ventilasinya 10%. Hal ini terjadi dimana kondisi ventilasi yang tidak memenuhi syarat
kurang atau tidak melakukan pertukaran udara dalam ruangan yang akan menyebabkan
bakteri-bakteri penyakit terkhusus bakteri tuberculosis dapat berkembang biak
(Hariza,2011). Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis, lokasi penelitian ini
sebagian besar rumah tidak memiliki ventilasi yang cukup untuk melakukan pertukaran
udara yang disebabkan rumah yang saling berhimpitan sehingga mendukung hidupnya
bakteri ini di rumah tersebut.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hariza
Adani dan Asih Mahastuti tahun 2003-2006, dan Anggie Mareta Rosiana 2012. Menurut
hasil penelitian yang dilakukan oleh Hariza Adani dan Asih Mahastuti yang menyatakan
bahwa ada hubungan antara ventilasi yang tidak memenuhi syarat dengan kejadian
penyakit TB Paru dimana odds ratio sebesar 5,17. Dengan hasil OR tersebut dapat
diinterpretasikan bahwa risiko untuk menderita TBC Paru 5 kali lebih tinggi. Sedangkan
hasil penelitian yag dilakukan oleh Anggie Mareta Rosiana yang meyatakan bahwa ada
hubungan antara luas ventilasi dengan terjadinya TBC Paru (p value = 0,569).
Hasil penelitian ini juga berbeda dengan yang dilakukan oleh Sri Rezeki Moha
(2012) yang menyatakan bahwa kondisi ventilasi tidak memiliki hubungan yang
bermakna dengan kejadian TB Paru dimana p = (1,742 < 3,841).
2. Hubungan Antara Kelembaban Udara dengan Kejadian Penyakit TB Paru
Hasil penelitian yang telah dilakukan menyatakan adanya hubungan yang
bermakna antara kelembaban udara dengan kejadian penyakit TB Paru dimana kelompok
19

masyarakat yang memiliki kelembaban udara > 70% (tidak memenuhi syarat)
kemungkinan menderita penyakit TB paru sebesar 3 kali dibandingkan kelompok
masyarakata yang memiliki kelembaban udaranya 40% - 70% (memenuhi syarat). Hal ini
sangat memiliki hubungan dikarenakan kelembaban udara merupakan salah satu faktor
yang menyebabkan pertumbuhan bakteri-bakteri penyakit terkhusus bakteri tuberkulosis
dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik.
Responden dengan Kejadian Tuberkulosis Paru BTA Positif dengan memiliki
kelembaban rumah yang tinggi berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru BTA
positif karena menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembangbiaknya kuman
tuberkulosis. Semakin tinggi suhu udara, maka kelembaban udaranya akan semakin
rendah. Hal ini akan meningkatkan kehilangan panas tubuh dan tubuh akan berusaha
menyeimbangkan dengan suhu lingkungan melalui proses evaporasi. Kehilangan panas
tubuh ini akan menurunkan vitalitas tubuh dan merupakan predisposisi untuk terkena
infeksi oleh agen yang menular ( Betty,2007).
Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Susiani
Wulandari (2012), dan Susiani Wulandari (2011). Hasil penelitian yang menyatakan
bahwa ada hubungan yang bermakna antara kelembaban udara dengan kejadian TB Paru
dimana nilai p 0,001 dan OR 13,14 dengan CI 95% 5,58-145,4. Dan penelitian yang
dilakukan oleh Susiani Wulandari yang menyatakan bahwa ada hubungan antara
kelembaban ruang tidur dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas
Bandarharjo Kelurahan Bandarharjo Kota Semarang tahun 2011. Hal ini didasarkan pada
hasil chi square yang diperoleh p value =0,001 (<0,05) dan OR=13,14.





BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium tuberculosis), yang menyerang terutama paru dan disebut
juga tuberkulosis paru. Penularan penyakit TB disebabkan oleh beberapa factor dan
salah satunya adalah Faktor lingkungan . Faktor lingkungan sangat memegang
20

peranan penting dalam penularan penyakit ini. Faktor lingkungan dapat dilihat dari
syarat rumah sehat dari segi ventilasi rumah, kelembaban, intensitas cahaya dan suhu.

B. Saran
Pentingnya penyuluhan tentang bahaya penyakit TB paru kepada penderita
yang berkaitan dengan penyebab seseorang terjangkit penyakit TB paru, cara
pencegahan penyakit TB paru serta cara pengobatan yang tepat untuk penyakit TB
paru, dan penyuluhan tentang rumah sehat terutama pada penderita TB paru yang
tinggal di rumah yang padat huniannya dan suhu, ventilasi, kelembaban, jenis lantai
yang tidak memenuhi syarat guna mencegah terjadinya keparahan penyakit TB paru.
















DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, 2010. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. UI Press ; Jakarta.
Amir, M.,Assegaf H.1989. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press :
Surabaya.
21

Antoro, Setiawan Dwi, dkk. 2010. Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Rumah dan Respons
Terhadap Praktik Pengobatan Strategi DOTS Dengan Penyakit Tb Paru di
Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan Tahun 2010. Jurnal Kesehatan Lingkungan
Indonesia Vol. 11 No. 1 / April 2012.
Azwar,. A, 1996. Pengantar Kesehatan Lingkungan. PT. Rineka Cipta : Jakarta
Bactiar, imam., dkk. 2012. Hubungan Perilaku Dan Kondisi Lingkungan Fisik Rumah
Dengan Kejadian TB Paru Di Kota Bima Provinsi NTB. Jurusan Kesehatan
Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin; Makassar.
Departemen Kesehatan RI (Depkes RI). 2001. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis; Jakarta
____________________________________. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis, Cetakan ke 8. hal. 1-37; Jakarta.
Fatimah, siti. 2008. Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah Yang Berhubungan Dengan
Kejadian TB Paru Di Kabupaten Cilacap (Kecamatan : Sidareja, Cipari,
Kedungreja, Patimuan, Gandrungmangu, Bantarsari) Tahun 2008. Program Pasca
Sarjana Universitas Diponegoro; Semarang.
Girsang, Merryani, dkk. 2011. Faktor Penyebab Kejadian Tuberculosis Serta Hubungannya
Dengan Lingkungan Tempat Tinggal Di Provinsi JawA Tengah (Analisis Lanjut
Riskesdas 2007). Buletin. Penelitian Kesehatn, Vol. 39, No.1, 2011: 34- 41.
Pertiwi, rikha nurul., dkk. 2011. Hubungan Antara Karakteristik Individu, Praktik Hygiene
Dan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Tuberculosis Di Kecamatan Semarang
Utara Tahun 2011. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012,
Halaman 435 445.
Ruswanto, bambang. 2010. Analisis Spasial Sebaran Kasus Tuberkulosis Paru Ditinjau Dari
Faktor Lingkungan Dalam Dan Luar Rumah Di Kabupaten Pekalongan. Program
Pasca Sarjana Universitas Diponegoro; Semarang.
Subagyo, Agus, 2007, Hubungan Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian Penyakit
Tuberkulosis Paru di Kabupaten Banyumas. Program Magister Kesehatan
Lingkungan Universitas Diponegoro; Semarang
WHO (World Health Organitation) .2004. Tuberculosis Basic facts about TB. Background
Information on Tuberculosis and HIV. TB/HIV a Clinical Manual, Second edition.
Stop TB Department. Department of Child and Adolescent Health and Development
Geneva,; 23-47
22

____________________________. 2009. Global Tuberculosis Control A Short Update to
The 2009 Report.