Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Apendiks disebut juga umbai cacing. Istilah usus buntu yang dikenal di
masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus buntu yang sebenarnya
adalah saekum. Organ yang tidak diketahui fungsinya ini sering menimbulkan
masalah kesehatan. Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah
segera untuk menghindari komplikasi yang umumnya berbahaya.
(1)

Apendisitis merupakan peradangan dari apendiks vermiformis, yang lebih
dikenal dengan sebutan infeksi usus buntu dan ini merupakan penyakit yang
sering dijumpai. Meskipun sebagian besar pasien dengan apendisitis akut
dapat dengan mudah didiagnosis tetapi tanda dan gejalanya cukup bervariasi,
sehingga diagnosis secara klinis dapat menjadi sulit ditegakkan, untuk itu
dokter harus mempunyai pengetahuan yang baik untuk mengenal apendisitis.
(1)

Pada apendisitis tidak mungkin dapat ditemukan satu galala klinis yang
tidak dapat ditentukan oleh satu test khusus untuk mendiagnosanya secara
tepat. Pada beberapa kasus apendisitis dapat sembuh tanpa pengobatan, tapi
banyak juga yang memerlukan laparotomi. Apendisitis akut dapat
menyebabkan kamatian karena peritonitis dan syok. Apendisitis merupakan
penyebab tersering dari nyeri abdomen yang progresif dan menetap pada
semua golongan umur, kegagalan menegakkan diagnosa dan keterlambatan
penatalaksanaannya akan menyebabkan peningakatan morbiditas dan
mortalitas.
(1)

Pada masyarakat dengan kebiasaan diet tinggi serat, apendisitis jarang
terjadi, dikarenakan serat akan menurunkan viskositas feses, mempersingkat
waktu transit feses dan menghambat pembentukan fekalit. Fekalit dapat


2

menyababkan obstruksi pada lumen apendiks. Kejadian apendisitis
dapat berkurang karena kebiasaan diet tinggi serat dan kebiasaan
menggunakan toilet jongkok bila dibandingkan dengan toilet duduk.
(1)


1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk melengkapi persyaratan tugas kepanitraan klinik stase Anak Rumah
Sakit Umum Daerah Deli Serdang Lubuk Pakam.
b. Tujuan Khusus
Memberikan penjelasan tentang pengertian sampai penanganan dari
Apendisitis.





















3

BAB II
STATUS ORANG SAKIT

2.1. ANAMNESA PRIBADI OS:
Nama : Maulana
Umur : 9 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Jl.Medan Lubuk Pakam
Tanggal masuk : 18 Januari 2014
BB Masuk : 27 Kg
2.2. ANANMESA ORANG TUA OS:
Ayah Ibu
Nama Abdul Hanif Misyati
Umur 42 tahun 40 tahun
Perkawinan ke- 1 1
Pekerjaan PNS IRT
Penyakit - -
Pendidikan S1 SMA
Alamat Jl. Medan Lubuk Pakam Jl. Medan Lubuk Pakam



4

2.3. RIWAYAT KELAHIRAN OS:
Tanggal lahir : 25 November 2004
Cara lahir : PSP
Tempat lahir : Rumah Sakit
Ditolong oleh : Bidan
BB lahir : 3100 gram
PB lahir : 51 cm

2.4. ANAMNESA MAKANAN:
0 4 bulan : ASI + susu formula
5 6 bulan : ASI + susu formula
7 12 bulan : ASI + susu formula + Bubur + Buah-buahan
1 tahun sekarang : Susu Formula + Nasi

2.5. RIWAYAT IMUNISASI:
BCG : 1 x
DPT : 5 x
Campak : 2 x
Polio : 5 x
Hepatitis B : 3 x
Kesan : Lengkap



5

2.6. RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU OS:
-
2.7. KETERANGAN MENGENAI SAUDARA OS:
Anak tunggal
2.8. ANAMNESA PENYAKIT OS:
Keluhan utama : sakit perut kanan bawah
Telaah : sakit perut kanan bawah sudah dialami os 1
minggu, sakit hilang timbul, awalnya sakit pada daerah ulu hati kemudian
sekarang sakit pada bagian perut kanan bawah dan terasa semakin sakit
bila batuk dan bila daerah tersebut ditekan. Demam sudah 1 minggu, os
tidah suka makan sayuran, nafsu makan menurun, mual (+), BAB (-)
sudah 2 hari.

2.9. PEMERIKSAAN FISIK:
1. Status present
Keadaan Umum : lemas
Sensorium : compos mentis
Heart Rate : 100 x/i
Respiratory Rate : 20 x/i
Temperatur : 38,5C
Berat Badan : 27 kg
2. Status lokalisata
a. Kepala
Rambut : hitam, lurus,
Mata : anemis (-), ikterus (-)


6

Hidung : dalam batas nornal
Telinga : dalam batas normal
Mulut : dalam batas normal
b. Leher
Pembesaran kelenjar getah bening (-)
c. Thorax
Inspeksi : simetris fusiformis, retraksi dinding dada (-),
Palpasi : stem fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor kedua lapang paru
Auskultasi : vesikuler kedua lapang paru
d. Abdomen
Inspeksi : simetris, pembesaran (-)
Palpasi : psoas sign (+)
Perkusi : timpani
Auskultasi : peristaltik (+)
e. Ekstremitas
Superior : Dalam Batas Normal
Inferior : Dalam Batas Normal

f. Genitalia
Laki-laki , Dalam Batas Normal




7

2.10. PEMERIKSAAN PENUNJANG:
1. Darah
Tanggal : 18 januari 2014
- WBC : 15,6 x 10 /uL
- HGB : 12,6 g/dL
- RBC : 4, 66 x 10
6
/uL
- HCT : 35,6 %
- PLT : 320 x 10 /uL
- LED : 25 mm/jam
- Bt/Ct : 4/9

2. Faces
-
3. Urine
-
4. Pemeriksaan radiologi
1. Foto thorax (18 Januari 2014) : Cor dan pulmo clear
2. Foto polos abdomen (20 Januari 2014) : ileus local

2.11. RESUME:
Os datang ke RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam dengan keluhan sakit
perut kanan bawah sudah dialami os 1 minggu, sakit hilang timbul,
awalnya sakit pada daerah ulu hati kemudian sekarang sakit pada bagian
perut kanan bawah dan terasa semakin sakit bila batuk dan bila daerah
tersebut ditekan. Demam sudah 1 minggu, os tidah suka makan sayuran,
nafsu makan menurun, mual (+), BAB (-) sudah 2 hari.




8

Pada pemerikdaan fisik abdomen didapat
- Inspeksi : simetris,
- Palpasi : psoas sign (+), defans muscular (+)
- Perkusi : timpani
- Auskultasi : peristaltik (+)
Pada pemeriksaan laoratorium pada tanggal 18 januari 2014 didapat WBC
: 15,6 x 10 /uL, HGB : 12,6 g/dL, LED 25mm/jam. Dan pada
memeriksaan foto polos abdomen pada tanggal 20 Januari 2014 terlihat
ileus local.

2.12. DIAGNOSA BANDING:
1. Appendisitis Akut
2. Dyspepsia
3. Gastroenteritis
4. Typhoid fever

2.13. DIAGNOSA KERJA:
Apendisitis akut
2.14. PENATALAKSANAAN:
- IFVD Ringer laktat 30 gtt/i (mikro)
- Ij. Ceftriaxone 1gr/12jam / IV
- Ij. Ranitidin 25mg/8jam/ IV
- Ij. Novalgin 250mg/8jam/IV
- Ij. Metronidazole 150mg/8jam/IV
- Apendiktomi


9

2.15. PROGNOSA:
Prognosis dari kasus ini quo ad vitam dan quo ad functionam nya
bonam karena diagnosis apendisitis akut segera ditegakkan dan segera
dilakukan apendiktomi.




























10












BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Anatomi
Appendiks merupakan suatu organ limfoid seperti tonsil, payer patch (analog
dengan Bursa Fabricus) membentuk produk immunoglobulin, berbentuk
tabung, panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm) dengan diameter 0,5-1
cm, dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan
melebar dibagian distal.
(2)

Apendiks vermiformis disangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang
bergabung dengan mesenterium usus halus pada daerah ileum terminale.
Mesenteriolum berisi a. Apendikularis (cabang a.ileocolica). Orificiumnya
terletak 2,5 cm dari katup ileocecal. Mesoapendiknya merupakan jaringan
lemak yang mempunyai pembuluh appendiceal dan terkadang juga memiliki
limfonodi kecil.
(3)

Struktur apendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa,
submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler) dan
serosa. Apendiks mungkin tidak terlihat karena adanya membran Jackson


11

yang merupakan lapisan peritoneum yang menyebar dari bagian lateral
abdomen ke ileum terminal, menutup caecum dan appendiks. Lapisan
submukosa terdiri dari jaringan ikat kendor dan jaringan elastic membentuk
jaringan saraf, pembuluh darah dan lymphe. Antara Mukosa dan submukosa
terdapat lymphonodes. Mukosa terdiri dari satu lapis collumnar epithelium
dan terdiri dari kantong yang disebut crypta lieberkuhn. Dinding dalam sama
dan berhubungan dengan sekum (inner circular layer). Dinding luar (outer
longitudinal muscle) dilapisi oleh pertemuan ketiga taenia colli pada
pertemuan caecum dan apendiks. Taenia anterior digunakan sebagai
pegangan untuk mencari apendiks.
(4)

Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke-8
yaitu bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal,
pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi apendiks, yang akan
berpindah dari medial menuju katup ileosekal.
(3)

Pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan
menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya
insiden apendisitis pada usia itu. Pada 65 % kasus, apendiks terletak
intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang
geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada
kasus selebihnya, apediks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di
belakang kolon asendens, atau ditepi lateral kolon asendens. Gejala klinis
apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.
(2)

Appendiks terletak di ileocaecum, pertemuan di 3 tinea (Tinea libera, tinea
colica, dan tinea omentum). Memiliki beberapa jenis posisi yaitu:
- Retrocaecal
- Pelvic
- Patileal
- Paracaecal
- subcaecal


12

- preleal


Gambar 1 : jenis posisi apendiks
Vaskularisasi dari appendiks: a. Appendicularis, cabang dari a. Iliocaecalis,
cabang dari A. Mesentrika superior. Inervasinya simpatis berasa dari N.
Thoracalis, sedangkan parasimpatis : N. Vagus. Apendiks memiliki topografi
yaitu pangkal appendiks terletak pada titik Mc Burney.
Garis Monroe : Garis antara umbilicus dengan SIAS dekstra
Titik Mc Burney : 1/3 bagian dari SIAS dekstra pada garis Monroe
Titik Lanz : 1/6 bagian dari SIAS dekstra pada garis antara
IAS dekstra dan SIAS sinistra
Garis Munro : Pertemuan antara garis Monroe dengan garis
pertengahan SIAS dekstra dengan simfisis.
(3)



13


Gambar 2: Anatomi Apendiks


Gambar 3 : posisi apendiks






14

Gambar 4 : posisi apendiks
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti
a.mesenterika superior dan a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis
berasal dari n.torakalis X. Oleh karena itu, nyeri visceral pada apendisitis
bermula disekitar umbilikus. Pendarahan apendiks berasal dari a.
apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat,
misalnya karena trombosis pada infeksi, apendiks akan mengalami
gangrene.
(2)


3.2. Fisiologi
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir di muara apendiks
tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.
(2)

Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut associated
Lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk
apendiks, ialah IgA. Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung
terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak
mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil
sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan diseluruh
tubuh.
(2)

Jaringan lymphoid pertama kali muncul pada apendiks sekitar 2 minggu
setelah lahir. Jumlahnya meningkat selama pubertas, dan menetap saat
dewasa dan kemudian berkurang mengikuti umur. Setelah usia 60 tahun,
tidak ada jaringan lymphoid lagi di apendiks dan terjadi penghancuran lumen
apendiks komplit.
(3)


3.3. Definisi


15

Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai
semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang
laki-laki berusia antara 10-30 tahun.
(5)


3.4. Epidemiologi
Terdapat sekitar 250.000 kasus appendicitis yang terjadi di Amerika
Serikat setiap tahunnya dan terutama terjadi pada anak usia 6-10 tahun.
Appendisitis lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan
dengan perbandingan 3:2. Bangsa Caucasia lebih sering terkena dibandingkan
dengan kelompok ras lainnya. Appendisitis akut lebih sering terjadi selama
musim panas. Insidensi Appendisitis acuta di negara maju lebih tinggi
daripada di negara berkembang, tetapi beberapa tahun terakhir angka
kejadiannya menurun secara bermakna. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya
penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.
(7)

3.5. Etiologi
Penyumbatan lumen apendiks disebabkan oleh hyperplasia folikel limfoid,
fekalit, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya,cacing usus atau
neoplasma. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah
erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. Histolityca.
(4)
Bakteri
penyebab apendisitis merupakan bakteri yang normal ada pada usus. Bakteri
yang paling sering ditemukan yaitu Bacteroides fragilis, bakteri anaerob, gram
negatif dan Escherichia coli, bakteri gram negatif, facultative anaerob.
Sedangkan bakteri lainnya yaitu: Peptostreptococcus, Pseudomonas,
Klebsiela, dan Klostridium, Lactobacillus, dan B.splanchnicus. Obstruksi
lumen merupakan faktor predominan penyebab apendisitis akut.
(8)

Penyebab sumbatan 35% disebabkan karena 60% adalah hyperplasia kelenjar
getah bening dan 1% oleh striktur 4% oleh benda asing (termasuk cacing)
fekalith lumen yang bisa disebabkan karsinoma.
(6)




16

3.6. Gejala dan Tanda
Appendisitis akut mempunyai gejala klinis yang banyak sekali dan
menyerupai penyakit lain. Pada bebrapa kasus appendiks tidak mempunyai
tanda utama, gejala, maupun tes diagnostik yang akurat.
(1)


Gambaran klinis appendicitis akut
1. Tanda awal nyeri mulai di epigastrium atau region umbilicus disertai
mual dan anorexia. Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar
37,5C - 38,5 C. Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi
perforasi.
2. Nyeri berpindah ke perut kanan bawah dan menunjukkan tanda
rangsangan peritoneum lokal di titik Mc Burney nyeri tekan nyeri
lepas defans muskuler
3. Nyeri rangsangan peritoneum tak langsung nyeri kanan bawah pada
tekanan kiri (Rovsings Sign) nyeri kanan bawah bila tekanan di
sebelah kiri dilepaskan (Blumbergs Sign) nyeri kanan bawah bila
peritoneum bergerak seperti nafas dalam berjalan batuk atau
mengedan.
(2)


Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya
sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak biasanya tidak bisa
melukiskan rasa nyerinya. Dalam beberapa jam kemudian akan timbul
muntah-muntah dan anak menjadi lemah dan letargi. Karena gejala yang
tidak khas tadi, sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Pada bayi,
80-90% apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.
(2)


Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga
tidak ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya, pada
orang berusia lanjut yang gejalanya sering samar-samar saja sehingga
lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi.
(2)



17


Appendiks yang terletak retrosekal akan menyebabkan nyeri peda
daerah sisi dan nyeri punggung, sedangkan appendiks yang terletak pelvic
akan menyebabkan nyeri pada suprapubis, serta yang terletak retroileal
dapat menyebabkan nyeri pada daerah testis. Bila terjadi peritonitis, dapat
ditemukan nyeri tekan yang difus, defence muskuler, bising usus yang
menurun atau hilang pada distensi abdomen.
(1)


Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual
dan muntah. Yang perlu diperhatikan adalah, pada kehamilan trimester
pertama sering juga terjadi mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut,
sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak
dirasakan diperu kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.
(2)


3.7. Patofisiologi
Pada dasarnya appendicitis akut adalah suatu proses penyumbatan yang
mengakibatkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin
lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan
intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe
yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada
saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
(2)

Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal
tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri
akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah.
Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.
(5)




18

Setelah mukosa terkena kemudian serosa juga terinvasi sehingga akan
merangsang peritoneum parietale maka timbul nyeri somatic yang khas yaitu
di sisi kanan bawah (titik Mc Burney). Titik Mc Burney terletak pada 1/3
lateral garis yang menghubungkan SIAS dan umbilicus.
(6)


Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks
yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis
gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis
perforasi.
(5)


Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak ke arah apendiks sehingga melokalisasi daerah
inflamasi dengan mengelompok dan membentuk suatu infiltrate apendiks dan
disebut proses walling off. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses
atau menghilang.
(6)

Pada orang tua kemungkinan terjadi perforasi lebih besar karena daya
tahan tubuh sudah lemah dan telah ada gangguan pembuluh darah. Pada anak-
anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding
apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh
yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi.
(5)



3.8. Pemeriksaan fisik
A. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
- Tidak ditemukan gambaran spesifik.
- Kembung sering terlihat pada komplikasi perforasi.
- Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada masaa atau abses
periapendikuler.
- Tampak perut kanan bawah tertinggal pada pernafasan


19

2. Palpasi
Uji Psoas
Dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi
panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian
paha kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang menepel di m.
poas mayor, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri.

Gambar 5: Pemeriksaan Psoas sign
Uji Obturator
Digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak
dengan m. obturator internus yang merupakan dinding panggul
kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi
terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendisitis pelvika.
(2)

Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan
yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. .
(2)



20


o Gambar 6: Pemeriksaan Obturator sign.
(1)


Rovsings Sign :
Dengan cara penekanan pada kuadran kiri bawah menyebabkan
refleks nyeri pada daerah kuadran kanan bawah.
(1)

Gambar 7: Pemeriksaan Rovsings sign
Defens musculer
Rangsangan m.rektus abdominis. Defence muscular adalah nyeri
tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan adanya
rangsangan peritoneum parietal.
(6)


3. Perkusi


21

- Terdapat nyeri ketok, pekak hati (jika terjadi peritonotis pekak hati ini
hilang karena bocoran usus karena udara bocor).
(1)


4. Auskultasi
- Sering normal
- Peristaltic dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis
generalisata akibat apendisitis perforata pada keadaan lanjut
- Bising usus tidak ada (karena peritonitis).
(2)


5. Rectal Toucher
- Tonus musculus sfingter ani baik
- Ampula kolaps
- Nyeri tekan pada daerah jam 09.00-12.00
- Terdapat massa yang menekan rectum (jika ada abses).
- Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan maka kunci
diagnosis dalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.
(2)


Gambar 8: Pemeriksaan Rectal Toucher
(1)


6. Alvarado Score
Digunakan untuk menegakkan diagnosis sebagai appendisitis akut atau
bukan, menjadi 3 symptom, 3 sign dan 2 laboratorium Alvarado Score:


22

Manifestasi Skor
Gejala Adanya migrasi nyeri 1
Anoreksia 1
Mual/muntah 1
Tanda Nyeri RLQ 2
Febris 1
Nyeri lepas 1
Laboratorium Leukositosis 2
Shif to the left 1
Total 10

Keterangan:
0-4 : kemungkinan Appendicitis kecil
5-6 : bukan diagnosis Appendicitis
7-8 : kemungkinan besar Appendicitis
9-10 : hampir pasti menderita Appendicitis
Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit, bila skor >6
maka tindakan bedah sebaiknya dilakukan.
(6)




3.9. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium
a. Pemeriksaan darah
- leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama pada
kasus dengan komplikasi.
- pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat
b. Pemeriksaan urin untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri
di dalam urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam
menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau


23

batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan
appendicitis.
(2)


2. Radiologis
a. Foto polos abdomen
Dapat membantu dalam mendiagnosis appendicitis akut, tetapi
gambaran radiologis yang didapatkan kadang tidak spesifik dan
harus diinterpretasikan dengan baik.
(1)

Beberapa petunjuk dalam menilai foto polos abdomen , menurut
Brooksdan Killen (1965) :
1. Adanya fluid level yang terlokalisir dalam sekum dan
ileumterminal, menandakan suatu inflamasi lokal pada abdomen
kanan bawah
2. Ileus yang terlokalisir dengan gas didalam saekum, kolon
ascenden dan ileum terminal.
3. Garis panggul kanan yang tidak jelas (kabur), dimana garis
radioluscen timbul akibat adanya lemak diantara peritoneum dan
m.tranversus abdominis.
4. Bertambahnya densitas jaringan lunak pada kuadran kanan
bawah.
5. Adanya fekalit pada fossa iliaka kanan.
6. Bayangan psoas yang tidak jelas (kabur) pada sisi kanan.
7. Terisinya appendiks oleh gas
8. Adanya bayangan udara bebas intraperitoneum.
9. Adanya deformitas bayangan gas sekum karena berdekatan
dengan massa yang meradang (hal ini sulit untuk
diinterpretasikan, karena mungkin terganggu oleh gas sekal dari
cairan intraluminal atau feses.
(1)




24

Pada appendicitis akut yang terjadi lambat dan telah terjadi
komplikasi (misalnya peritonitis) tampak:
- Scoliosis ke kanan
- Psoas shadow tak tampak
- Bayangan gas usus kanan bawah tidak tampak
- Garis retroperitoneal fat sisi kanan tubuh tak tampak
- 5% dari penderita menunjukkan fecalith radio-opak
- Appendicogram hasil positif bila : non filling, partial filling,
mouse tail, cut off.
(6)


b. USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan
pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya
abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis
banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya.
(7)


c. Barium enema
Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke
colon melalui anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-
komplikasi dari appendicitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk
menyingkirkan diagnosis banding. Foto barium enema yang
dilakukan perlahan pada appendicitis akut memperlihatkan tidak
adanya pengisian apendiks dan efek massa pada tepi medial serta
inferior dari seccum; pengisisan lengkap dari apendiks
menyingkirkan appendicitis.
(4)

d. Laparoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang
dimasukkan dalam abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara
langsung.Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum.
Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada


25

appendix maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan
pengangkatan appendix.
(2)


3.10. Diagnosa banding
1. Gastroenteritis akut
Adalah kelainan yang sering dikacaukan dengan apendisitis. Pada
kelainan ini muntah dan diare lebih sering. Demam dan lekosit akan
meningkat jelas dan tidak sesuai dengan nyeri perut yang timbul.
Lokasi nyeri tidak jelas dan berpindah-pindah. Hiperperistaltik
merupakan gejala yang khas. Gastroenteritis biasanya berlangsung
akut, suatu observasi berkala akan dapat menegakkan diagnosis.
2. Adenitis Mesenterium
Penyakit ini juga dapat menunjukkan gejala dan tanda yang identik
dengan apendisitis. Penyakit ini lebih sering pada anak-anak, biasanya
didahului infeksi saluran nafas. Lokasi nyeri diperut kanan bawah
konstan dan menetap.
(3)


3. Urolitiasis pielium/ureter kanan
Batu ureter atau batu ginjal kanan. Adanya riwayat kolik dari pinggang
ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas.
Disertai nyeri saat BAK bila batu ureter terdapat didistal ureter.
Eritrosituria sering ditemukan. Foto perut polos atauurografi intravena
dapat meyakinkan penyakit tersebut. Pielonefritis sering disertai
dengan demam tinggi, menggigil, nyeri kostovertebral disebelah
kanan, dan piuria.
(1)


4. Demam Dengue
Demam Dengue dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis. Di
sini didapatkan hasil tes positif untuk Rumple Leede, trombositopenia,
dan hematokrit yang meningkat.
(1)



26



3.11. Penatalaksanaan
1. Sebelum operasi
a. Observasi
Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala
apendisitis seringkali masih belum jelas. Dalam keadaan ini
observasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah
baring dan dipuasakan. Laktasif tidak boleh diberikan bila dicurigai
adanya apendisitis ataupun bentuk peritonitis lainnya. Pemeriksaan
abdomen dan rectal serta pemeriksaan darah (lekosit dan hitung
jenis) diulang secara periodic. Foto abdomen dan toraks tegak
dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada
kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di
daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.

b. Antibiotik.
Pada apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak perlu diberikan
antibiotic, kecuali pada apendisitis gangrenosa atau apendisitis
perforate. Penundaan tindak bedah sambil memberikan antibiotic
dapat mengakibatkan abses atau perforasi.

2. Operasi
- Appendiktomi cito (appendicitis akut, abses, dan perforasi)
- Appendiktomi elektif (appendisitis kronis)
- Konservatif kemudian operasi elektif (appendisitis infiltrat)
Operasi Appendisitis akut disebut : A. Chaud
Operasi Appendisitis kronis disebut : A. Froid




27

3. Pascaoperasi
Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui
terjadinya pendarahan di dalam, syok, hipertermia, atau gangguan
pernafasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga
aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posii
Fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi
gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih
besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan
sampai fungsi usus kembali normal.
(1)


Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat
tidur selama 2x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan
duduk di luar kamar. Hari ke tujuh jahitan dapat diangkat dan pasien
diperbolehkan pulang.
(1)

3.12. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin timbul adalah peritonitis, abses subfrenikus,
infiltrat dan fokal sepsis intraabdominal lain.
(1)

3.13. Prognosis
Mortalitas adalah 0.1% jika appendicitis akut tidak pecah dan 15% jika
pecah pada orangtua. Kematian biasanya berasal dari sepsis, emboli paru
atau aspirasi; prognosis membaik dengan diagnosis dini sebelum rupture
dan antibiotic yang lebih baik.
(3)


Morbiditas meningkat dengan rupture dan usia tua. Komplikasi dini adalah
sepsis. Infeksi luka membutuhkan pembukaan kembali insisi kulit yang
merupakan predisposisi terjadinya robekan. Abses intra abdomen dapat
terjadi dari kontaminasi peritonealis setelah gangren dan perforasi. Fistula
fekalis timbul dari nekrosis suatu bagian dari seccum oleh abses atau
kontriksi dari jahitan kantong. Obstruksi usus dapat terjadi dengan abses


28

lokulasi dan pembentukan adhesi. Komplikasi lanjut meliputi
pembentukan adhesi dengan obstruksi mekanis dan hernia.
(4)

Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan, tingkat mortalitas dan
morbiditas penyakit ini sangat kecil. Keterlambatan diagnosis akan
meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi. Serangan
berulang dapat terjadi bila apendiks tidak diangkat. Terminologi
apendisitis kronis sebenarnya tidak ada.
(3)



















29

BAB III
ANALISA DATA

Pasien didiagnosis apendisitis akut berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
laboratorium.
Dari anamnesis didapatkan keluhan berupa nyeri 1 minggu perut kanan bawah
sebelum masuk rumah sakit, sebelumnya nyeri dirasakan di ulu hati disertai mual
dan konstipasi. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa gejala klasik
appendisitis adalah nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar
umbilikus. Nyeri ini dirasakan di sekitar umbilikus atau periumbilikus karena
persarafan appendix berasal dari thorakal X yang lokasinya di sekitar umbilikus
atau periumbilikus. Maka nyeri pada umbilikus atau periumbilikus merupakan
suatu reffered pain. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran
kanan bawah, ke titik Mc Burney. Dititik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas
letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Nyeri bertambah jika
pasien mengalami batuk. Hal ini menunjukkan telah terjadi inflamasi pada
peritoneun parietal. Keluhan lain yang ditemukan adalah adanya rasa mual.
Menurut literatur, keluhan mual ditemukan sekitar 75% dari pasien yang
menderita appendisitis. Pasien appendisitis dapat mengeluhkan konstipasi atau
diare. Dari autoanamnesa kepada ibunya, pasien tidak mau makan sayur dan hal
ini merupakan salah satu penyebab apendisitis, dengan diet yang rendah serat ini
mengakibatkan singkatnya waktu transit feses dan menghambat pembentukan
fekalit. Fekalit dapat menyababkan obstruksi pada lumen apendiks.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan berupa demam yaitu 38,8 C , nyeri tekan dan
nyeri lepas pada titik Mc Burney, psoas sign (+), obturator sign (+). Demam yang
terjadi disebabkan karena peradangan pada appendix. Nyeri tekan dan lepas pada
titik Mc Burney merupakan salah satu kunci diagnosis apendisitis akut. Pasien


30

pada kasus ini berbaring dengan posisi kaki kanan fleksi pada sendi lutut, hal ini
sesuai dengan teori dimana tanda yang didapat pada pemeriksaan fisik adalah
sikap penderita yang datang dengan posisi membungkuk dan bila berbaring kaki
kanan sedikit ditekuk. Pemeriksaan psoas dan obturator dilakukan untuk
mengetahui letak appendix yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan
rangsangan otot psoas dengan cara hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi
aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendix yang
meradang menempel di musculus Psoas mayor maka tindakan tersebut akan
menimbulkan nyeri. Sedangkan uji obturator dilakukan dengan cara gerakan fleksi
dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila appendix yang
meradang kontak dengan musculus Obturator internus yang merupakan dinding
panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri.
Dari hasil laboratorium didapat leukositosis yaitu leukosit 15,6 x 10 /uL yang ini
menandakan adanya suatu infeksi. Dan dari hasil foto abdoment didapatkan illeus
lokal yang menyatakan Ileus yang terlokalisir dengan gas didalam sekum, kolon
ascenden dan ileum terminal dan ini merupakan salah satu gambaran yang didapat
dari hasil foto abdoment dengan apendisistis.
Diagosisi banding gastroenteritis dapat disingkirkan karena pada kelainan ini
muntah dan diare lebih sering. Demam dan lekosit akan meningkat jelas dan tidak
sesuai dengan nyeri perut yang timbul. Lokasi nyeri tidak jelas dan berpindah-
pindah. Sedangkan pada pasien ini muntah tidak ditemukan dan nyeri perut jelas
letaknya yaitu di perut kanan bawah. Dan diagnosis batu ureter dapat
disingkirkan karena pada batu ureter didapat nyeri BAK jika batu berasa di distal
ureter, sedangkan pada kasus ini pasien tidak merasakan nyeri saat BAK.





31

Dan berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium
yang disesuaikan dengan Alvarado Score, maka didapat:
Manifestasi Skor
Gejala Adanya migrasi nyeri 1
Anoreksia 1
Mual/muntah 1
Tanda Nyeri RLQ 2
Febris 1
Nyeri lepas 1
Laboratorium Leukositosis 2
Shif to the left 1
Total 10
Berdasarkan rujukan Alvarado Score bila skor 9-10 maka hampir pasti menderita
Appendicitis. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnosa kasus ini adalah apendisitis.
Penatalaksanaan pada pasien adalah dilakukan apendektomi. Hal ini sesuai
dengan teori yang mana bila diagnosis positif apendisitis akut, maka tindakan
yang paling tepat adalah segera dilakukan appendektomi. Prognosis dari kasus ini
quo ad vitam dan quo ad functionam nya bonam . Setelah dilakukan appendiktomi
pasien dianjurkan untuk makan makanan yang berserat seperti sayur-sayuran dan
buah buahan agar proses pencernaannya berjalan lancar.
.