Anda di halaman 1dari 7

AKUNTASI BIAYA

Biaya Bahan Baku dan Biaya


Tenaga Kerja
Anggota
kelompok :
1. I.B Winastya Pratama
(1115251052)
2. I Gd Aditya Cahya Gunarsa
(1115351078)
3. I.B Satwika Adhi N. (1115351083)
4. I.B Oka Surya W.
(1115351084)
5. Dewa Ketut Wira Santana (1115351076)
BIAYA BAHAN BAKU
A. PENGERTIAN BIAYA BAHAN BAKU
Bahan baku adalah bahan pokok atau bahan utama yang diolah dalam proses
produksi menjadi produk jadi. Bahan baku dapat diidentifikasikan dengan produk
atau pesanan tertentu dan nilainya relatif besar. Biaya yang timbul atau terjadi untuk
memperoleh bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan siap diolah
disebut biaya bahan baku. Harga pokok bahan baku terdiri dari harga beli, biaya
angkutan, dan biaya-biaya lainnya yang dikeluarkan untuk menyiapkan bahan baku
tersebut siap dipakai. Jadi harga pokok bahan baku bukan hanya harga yang
tercantum pada faktur pembelian (harga beli). Biaya-biaya lainnya yang biasanya ikut
diperhitungkan sebagai biaya bahan baku selain harga beli dan biaya angkutan,
antara lain; biaya pesan (order cost), biaya penerimaan, biaya pembongkaran, biaya
pemeriksaan, biaya asuransi, dan biaya pergudangan. Pada umumnya, biaya bahan
baku dicatat hanya sebesar harga beli menurut faktur pembelian karena biaya-biaya
lain yang terjadi selain harga beli sulit diperhitungkan kepada harga pokok bahan
baku yang dibeli. Biaya-biaya lain tersebut biasanya diperhitungkan sebagai biaya
overhead pabrik.
B. SISTEM PEMBELIAN
Transaksi pembelian lokal baha baku mlibatkan bagian-bagian produksi,
gudang, pembelian, penerimaan barang, dan akuntansi. Sistem pembelian lokal bahan
baku terdiri dari prosedur permintaan pembelian, prosedur order pembelian, prosedur
permintaan barang, prosedur pencatatan penerimaan barang di gudang, dan prosedur
pencatatan utang. Berikut uraian tiap prosedur :
1) Prosedur permintaan pembelian bahan baku.
Juka persedian bahan baku yg ada di gudang sudah mencapai
tingkat minimum pemesanan kembali (reorder point), bagian gudang
kemudian membuat surat permintaan pembelian (purchase requisition)
2) Prosedur order pembelian.
Bagian pembelian melaksanakan pembelian atas dasar surat
permintaan pembelian dari bagian gudang. Untuk pemilihan pemasok,
bagian pembelian mengirimkan surat permintaan penawaran harga
(purchase price quotation) kepada para pemasok, yg berisi permintaan
informasi harga dan syarat pembelian dari masing-masing pemasok.
3) Prosedur penerimaan bahan baku.
Pemasok mengirimkan bahan baku kepada perusahaan sesuai
dengan surat order pembelian yg diterimanya. Bagian penerimaan yg
bertugas menerima barang, mencocokkan kualitas, kuantitas, jenis serta
spesifikasi bahan baku yg diterima dari pemasok dengan tembusan surat
order pembelian.
4) Prosedur pencatatan penerimaan bahan baku di bagian gudang.
Bagian penerima menyerahkan bahan baku ke bagian gudang.
Bagian gudang menyimpan bahan baku tersebut dan mencatat bahan baku
yg diterima dalam kartu gudang(stock card). Kartu gudang hanya berisi
informasi kuaittas tiap-tiap jenis barang yg disimpannya di gudang dan
tidak berisi informasi mengenai harganya.
5) Prosedur pencatatan utang yg timbul dari pembelian bahan baku.
Bagian pembelian menerima faktur dari pemasok. Bagian
pembelian memberikan tanda tangan di atas faktur pembelian, sebagai
tanda persetujuan bahwa faktur dapat dibayar karena pemasok telah
memenuhi syarat-syarat pembelian yg telah ditentukan.
C. BIAYA YG DIPERHITUNGKAN DALAM HARGA POKOK BAHAN BAKU YG
DIBELI.
Menurut prinsip akuntansi yg lazim semua biaya yg terjadi untuk
memperoleh bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan siap untuk
diolah, merupakan unsur harga pokok bahan baku yg dibeli. Oleh karena itu, harga
pokok bahan baku tidak hanya berupa harga yg tercantum dalam faktur pembelian
saja. Harga pokok bahan baku terdir dari harga beli (harga yg tercantum dalam
faktur) ditambah dengan biaya-biaya pembelian dan biaya-biaya yg dikeluarkan untuk
menyiapkan bahan baku tersebut dalam kondisi siap diolah.
D. PENETUAN HARGA POKOK BAHAN BAKU YG DIPAKAI DALAM PRODUKSI
Harga bahan baku biasanya berfluktuasi, karena itu antara pembelian yang
satu dengan pembelian lainnya sering terdapat perbedaan harga. Akibatnya adalah
timbul perbedaan pada harga pokok bahan baku yang ada di gudang meskipun
jenisnya sama. Untuk mengatasinya, maka diperlukan berbagai macam metode
penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi, antara lain:
1. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First-In, First-Out Method)
Metode ini menentukan biaya bahan baku dengan anggapan bahwa harga
pokok per satuan bahan baku yang pertama masuk ke dalam gudang, digunakan
untuk menentukan harga bahan baku yang pertama kali di pakai.
2. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last-In, First-Out Method)
Metode LIFO menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam
produksi dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang terakhir
masuk dalam persediaan di gudang yang dipakai untuk menentukan harga pokok
bahan baku yang dipakai pertama kali dalam produksi.
3. Metode rata-rata bergerak (Moving Average Method)
Metode ini mengitung harga pokok rata-ratanya dengan cara membagi total
harga pokok dengan jumlah satuannya. Setiap kali terjadi pembelian yang harga
pokok per satuannya berbeda dengan harga pokok satuan barang yang ada di gudang,
harus dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuan yang baru.
4. Metode Identifikasi Khusus (Specific Identification Method)
Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberi
tanda pada harga pokok per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Setiap
pembelian bahan baku yang berbeda harga satuannya harus dipisahkan
penyimpanannya dan diberi tanda pada harga berapa bahan tersebut dibeli.
Kelebihannya adalah tiap-tiap jenis bahan baku yang ada di gudang jelas harga
pokoknya sehingga untuk setiap pemakainnya dapat diketahui harga pokoknya secara
tepat. Kekurangannya adalah walapun jenis bahan bakunya sama namun berbeda
harga pokok per satuannya, maka harus disimpan secara terpisah di gudang.
E. MASALAH-MASALAH KSHUSU YG BERHUBUNGAN DENGAN BAHAN
BAKU.
Dalam bagian ini diuraikan akuntansi bahan baku, jika dalam proses
produksi terjadi sisa bahan (scrap materials), produk cacat (defective goods), dan
produk rusak (spoiled goods).
1. Sisa bahan.
Sisa bahan merupakan bahan baku yg rusak dalam proses produksi,
sehingga tidak dapat menjadi bagian produk jadi. Jika sisa bahan tidak
mempunyai nilai jual, akibat yg ditimbilkan adalah harga pokok per satuan produk
menjadi lebih tinggi. Jika sisa bahan masih memiliki nilai jual, masalah yg
ditimbulkan adalah bagaimana memberlakukan hasil penjualan sisa bahan
tersebut. Hasil penjualan sisa bahan dapat diperlakukan sebagai pengurang biaya
bahan baku pesanan yg menghasilkan sisa bahan tersebut, sebagai pengurang
biaya overhead pabrik yg sesungguhnya terjadi, atau sebagai penghasil di luar
usaha.
2. Produk cacat.
Produk cacat adalah produk yg tidak memenuhi standar mutu yg telah
ditentukan, namun dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk
memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomis dapat disempurnakan lagi
menjadi produk yg baik. Maslah kauntansi yg timbul dari adanya produk cacat
adalah bagaimana mepelakukan biaya pengerjaan kembali produk cacat tersebut.
Biaya pengerjaan kembali dapat dibebankan kepada pesanan yg menghasilkan
produk cacat tesebut atau diperlakukan sebagai elemen biaya overhead pabrik.
3. Produk rusak.
Produk rusak adalah produk yg tidak memenuhi standar mutu yg telah
ditetapkan, yg secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk yg baik.
Masalah akuntansi yg timbul dari adanya produk rusak adalah bagaimana
memperlakukan kerugian yg timbul dari adanya produk rusak tersebut. Kerugian
adanya produk rusak dapat dibebankan kepada pesanan yg menghasilkannya atau
diperhitungkan sebagai elemen biaya overhead pabrik.
BIAYA TENAGA KERJA
A. PENGERTIAN DAN PENGGOLONGAN BIAYA TENAGA KERJA
Sebelum masuk pada akuntansi biaya tenaga kerja, terlebih dahulu perlu
dketahui mengenai pengertian dan penggolongan biaya tenaga kerja.
Yang dimaksud dengan biaya tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk
membiayai penggunaan tenaga kerja (manusia) dalam proses produksi.
Dalam perusahaan industry, penggolongan tenaga kerja dikelompokkan menjadi:
1. Penggolongan menurut fungsi pokok dalam perusahaan.
Dalam perusahaan manufaktur ada 3 fungsi pokok, yaitu; produksi,
pemasaran dan administrasi. Jadi, biaya tenaga kerja dapat digolongkan menjadi
biaya tenaga kerja produksi, biaya tenaga kerja pemasaran, dan biaya tenaga kerja
administrasi.
2. Penggolongan menurut kegiatan departemen dalam perusahaan.
Biaya tenaga kerja digolongkan menurut departemen-departemen yang ada
dalam perusahaan. Misalnya; dalam departemen produksi suatu perusahaan terdiri
dari departemen pulp, departemen kertas dan departemen penyempurnaan. Biaya
tenaga kerja dalam departemen produksi tersebut digolongkan sesuai dengan bagian-
bagian yang dibentuk dalam perusahaan. Penggolongan semacam ini dilakukan
dengan tujuan untuk lebih memudahkan pengendalian biaya tenaga kerja yang terjadi
dalam setiap departemen yang dibentuk dalam perusahaan.
3. Penggolongan menurut jenis pekerjaannya.
Penggolongan biaya tenaga kerja juga dapat dilakukan menurut sifat
pekerjaannya. Misalnya tenaga kerja digolongkan menjadi: operator, mandor, penyelia.
Maka biaya tenaga kerjanya dapat digolongkan menjadi; upah mandor, upah operator,
upah penyelia. Penggolongan biaya tenaga kerja seperti ini bertujuan untuk
digunakan sebagai dasar penetapan deferensiasi upah standar kerja.
4. Penggolongan menurut hubungannya dengan produk.
Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja digolongkan menjadi
tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsung adalah
semua karyawan secara langsung ikut serta dalam proses produksi produk jadi, yang
dapat ditelusuri secara langsung pada produk. Upah tenaga kerja langsung dapat
diperlakukan sebagai biaya tenaga kerja langsung dan diperhitungkan langsung
sebagai unsur biaya produksi. Tenaga kerja tidak langsung adalah karyawan yang
secara tidak langsung ikut serta dalam proses produk jadi. Upah tenaga kerja tidak
langsung ini disebut biaya tenaga kerja tidak langsung dan tetapi tidak secara
langsung dibebankan kepada produk melainkan melalui tarif biaya overhead pabrik
yang ditentukan dimuka.
B. AKUNTANSI BIAYA TENAGA KERJA
Akuntansi biaya tenaga kerja melalui 4 tahap, yaitu:
1. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja.
Kartu hadir karyawan Daftar gaji & upah
Rekapitulasi gaji & upah
Bagian pabrik Bagian adm & umum Bagian pemasaran

Upah tak langsung Upah langsung
Jurnal:
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja xxx
Biaya Overhead Pabrik xxx
Biaya Administrasi & Umum xxx
Biaya Pemasaran xxx
Gaji dan Upah xxx
2. Pencatatan utang upah dan gaji karyawan.
Daftar gaji dan upah Pencairan dana untuk pembayaran gaji & upah
Jurnal:
Gaji dan upah xxx
Utang PPh Karyawan xxx
Utang gaji dan upah xxx
3. Pencatatan pembayaran upah kepada karyawan.
Pembayaran gaji & upah karyawan Gaji siap dibayarkan
Jurnal:
Utang gaji dan upah xxx
Kas xxx
4. Penyetoran pajak penghasilan ke kas Negara.
Pajak Penghasilan (PPh) karyawan kemudian disetor ke kas Negara.
Jurnal:
Utang PPh Karyawan xxx
Kas xxx
Insentif
Untuk meningkatkan produktifitas karyawan perusahaan biasanya
memberikan insentif kepada karyawan. Insentif dapat didasarkan atas waktu kerja,
hasil produksi atau kombinasi keduamya.
Cara-cara pemberian insentif :
a. Insentif satuan dengan jam minimum
Karyawan dibayar atas dasar tarif per-jam untuk menghasilkan jumlah
satuan standar. Untuk hasil produksi yang melebihi standar, karyawan diberikan
upah tambahan sebesar jumlah kelebihan satuan produk x tarif upah per satuan.
b. Taylor differential piece rate plan
Cara pemberian insentif ini adalah semacam straight piece rate plan yang
menggunakan tarif tiap potong untuk jumlah keluaran rendah per jam dan tarif tiap
potong yang lain untuk jumlah keluaran tinggi per jam.
Premi lembur
Jika karyawan sebuah perusahaan bekerja lebih dari 40 jam dalam seminggu,
maka mereka berhak menerima uang lembur dan premi lembur. Perlakuan terhadap
premi lembur tergantung alasan-alasan terjadinya lembur tersebut dan dapat
dibenarkan apabila pabrik telah bekerja pada kapasitas penuh dan
pelanggan/pemesan bersedia menerima beban tambahan karena lembur tersebut.