Anda di halaman 1dari 24

i

LAPORAN KEGIATAN

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN (PPDH)
PT. CHAROEN POKPHAND INDONESIA Tbk.
Farm Unit 01 dan Hatchery
Gempol, Pasuruan, Jawa Timur
(12-24 Agustus 2013)











OLEH
KELOMPOK IA
Bedhi Kuswantoro., S.KH 120130100011012
Christina Dewi P., S.KH 120130100011001
Faris Nurhanafi., S.KH 120130100011007
Galuh Pawestri P., S.KH 120130100011010
Isma Prasthani H.P., S.KH 120130100011006
M Hartanto Yusufa., S.KH 120130100011011



PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN (PPDH)
PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberi rahmat
dan pertolongan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan
kegiatan PPDH rotasi industri di PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Dalam
penulisan laporan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Pratiwi TS, drh, M.S. selaku penanggungjawab kegiatan PPDH
rotasi industri
2. Manajer Farm CP-1, drh. Alam Pamuja, dan Manajer Hatchery, Bapak Tedy
Kusardianto, S.Pt selaku pembimbing lapang atas bimbingan, waktu, dan
fasilitas yang telah diberikan.
3. Supervisor farm dan hatchery, Bapak Yudha Makalosa, S.Pt, Bapak Hanif
S.Pt, Bapak Habib, S.Pt, dan Ibu Anny Ismail, S.Pt, serta seluruh staf dan
petugas atas bimbingan dan bantuannya selama menjalankan kegiatan
koasistensi di PT. Charoen Pokphand.
4. Teman sejawat sekelompok koasistensi atas kerjasama dan kebersamaannya.

Penulis sepenuhnya menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh
dari sempurna, untuk itu penulis mohon kritik dan saran yang bersifat membangun
demi masa mendatang yang lebih baik. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
banyak pihak.
Malang, September 2013
Penulis


iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2. Tujuan .......................................................................................................... 2
1.3. Manfaat ........................................................................................................ 3
BAB 2 ANALISIS SITUASI PERUSAHAAN .................................................... 4
2.1. Profil Perusahaan ......................................................................................... 4
2.1.1. Sejarah Perusahaan............................................................................ 4
2.1.2. Keadaan umum perusahaan............................................................... 4
2.2. Organisasi Charoen Pokphan ...................................................................... 5
2.2.1. Unit Farm .......................................................................................... 5
2.2.2. Unit Hatchery .................................................................................... 6
BAB 3 METODOLOGI ........................................................................................ 7
3.1. Metode Kegiatan ......................................................................................... 7
3.2. Waktu dan Lokasi ........................................................................................ 7
3.3. Jadwal Kegiatan .......................................................................................... 7
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 9
4.1 Unit Farm .................................................................................................... 9
4.1.1 Fase produksi (Layer) ....................................................................... 9
4.1.2 Perkandangan .................................................................................. 11
4.1.3 Biosekuriti dan Program Kesehatan ................................................ 14
4.1.4 Inseminasi Buatan ........................................................................... 15
4.2 Unit Hatchery ............................................................................................ 16
BAB 5 PENUTUP ................................................................................................ 20
5.1 Kesimpulan ................................................................................................ 20
5.2 Saran .......................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 21

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Visi pembangunan sub sektor peternakan adalah pertanian berkebudayaan
industri, dengan landasan efisiensi, produktivitas, dan berkelanjutan.
Peternakan masa depan dihadapkan dengan tantangan global akibat perubahan
ekonomi global, perkembangan teknologi biologis, berbagai kesepakatan
internasional, tuntutan produk, kemasan produk, dan kelestarian lingkungan.
Prospek peternakan Indonesia akan bersaing ketat dengan peternakan negara lain
bukan saja merebut pasar internasional tapi juga dalam merebut pasar dalam
negeri Indonesia. Untuk itu perlu mendorong peternak agar tetap mampu bersaing
baik pada skala lokal, regional dan nasional maupun internasional.
Seiring meningkatnya kebutuhan gizi masyarakat Indonesia,
perkembangan peternakan di sektor unggas pun semakin meningkat. Permintaan
masyarakat yang tinggi terhadap telur dan daging putih membuat dunia
perunggasan meningkatkan kualitas sehingga produk unggas yang sampai di
tangan masyarakat menjadi produk ASUH (aman, sehat, utuh dan halal) untuk
dikonsumsi. Namun untuk mendapatkan kualifikasi produk tersebut banyak
pengusaha peternakan harus memutar otak dalam mengendalikan berbagai macam
penyakit, mengatur menajemen perkandangan yang baik dan pola vaksinasi serta
biosekuriti yang baik.
Agrobisnis perunggasan nasional telah mengalami perkembangan yang
sangat pesat sejak dekade 1970-an. Saat ini, dunia perunggasan Indonesia sudah
sangat berkembang, sehingga bisa dikatakan bahwa agrobisnis perunggasan,
terutama ayam petelur dan pedaging, merupakan salah satu usaha yang sudah
berskala industri agrobisnis modern. Hal ini salah satunya diakibatkan dari
perkembangan zaman yang membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya
gizi dari bahan hewani diiringi dengan pertambahan penduduk tiap tahunnya,
yang menyebabkan permintaan akan daging semakin meningkat. Daging ayam
merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak digemari masyarakat
Indonesia, karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan daging
sapi, selain itu juga mudah didapat. Oleh sebab itu kini banyak bermunculan
2

perusahaan yang bergerak di bidang perunggasan seperti misalnya perusahaan
budidaya, pemeliharaan, pembibitan, pembuatan pakan ternak, obat-obatan dan
lain sebagainya. Kesemuanya bergerak dengan tujuan dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat akan konsumsi protein hewani dengan peningkatan populasi ayam
melalui breeding.
PT. Charoen Pokphand Indonesia merupakan salah satu industri
perunggasan besar di Indonesia dengan sistem sirkulasi usaha unggas yang baik.
Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Kedokteran Hewan Universitas
Brawijaya merupakan proses pendidikan untuk menghasilkan dokter hewan yang
unggul dalam intelektual dan terampil dalam lapangan. Oleh karena itu, jika
hanya berpedoman pada materi yang telah diberikan selama pendidikan formal di
bangku perkuliahan saja rasanya belum cukup maksimal, apabila belum
dipraktekkan secara langsung di lapangan. Banyak manfaat yang diperoleh
mahasiswa guna pendewasaan cara berfikir dalam menghadapi masalah
pembangunan masyarakat khususnya di bidang Kedokteran Hewan dan
Peternakan, maka kegiatan ini juga merupakan kesempatan untuk menerapkan
materi yang telah diperoleh dibangku kuliah dengan kenyataan yang ada di
lapangan.

1.2. Tujuan
Tujuan Umum
1. Meningkatkan kemampuan dan pemahaman mahasiswa PPDH Program
Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya tentang pembangunan peternakan
unggas, manajemen peternakan unggas, pembibitan (breeding farm) dan
upaya upaya pencegahan, penanganan serta pengendalian penyakit unggas
di lokasi koasistensi industri pilihan.
2. Meningkatkan kerja sama antar perguruan tinggi dengan stake holder atau
perusahaan.




3

Tujuan Khusus
1. Mahasiswa memahami sistem manajemen perusahan.
2. Mahasiswa mendefinisikan dan mengidentifikasi berbagai masalah
peternakan dan kasus kasus penyakit unggas.
3. Mahasiswa dapat mempraktekan teori teori penanganan penyakit lewat
pemeriksaan anamnesa, menegakkan diagnosa dan menerapkan terapi yang
tepat terhadap kasus penyakit unggas.
4. Mahasiswa dapat menganalisis dengan cermat berbagai permasalahan dalam
peternakan unggas.
5. Mahasiswa dapat memahami faktor yang berpengaruh terhadap proses
produksi dan distribusi.
6. Mahasiswa mampu memahami proses produksi serta distribusi produk
industri.
7. Mempersiapkan calon dokter hewan yang mampu mengintegrasikan
kemampuan, ilmu pengetahuan, dan kepribadian dalam menjalankan
manajemen praktik di lapangan.
8. Menjalin kerja sama kemitraan di antara perguruan tinggi dengan instansi
terkait untuk bersama mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan
dan teknologi.

1.3. Manfaat
Manfaat dari pelaksanaan kegiatan Koasistensi Pendidikan Profesi Dokter
Hewan (PPDH) Industri Pilihan Unggas ini adalah mendapatkan tambahan
pengetahuan, pengalaman, wawasan dan ketrampilan khususnya di bidang
perunggasan.



4

BAB 2 ANALISIS SITUASI PERUSAHAAN

2.1. Profil Perusahaan
2.1.1. Sejarah Perusahaan
PT. Charoen Pokphand Indonesia Gempol Jawa Timur merupakan anak
perusahaan dari PT. Charoen Pokphand Group, sebuah perusahaan besar di
Thailand yang bergerak di berbagai bidang di antaranya bidang peternakan.
Charoen Pokphand Group diketahui bahwa perusahaan tersebut masuk ke
Indonesia pertama kali pada tahun 1972 yaitu dengan mendirikan pabrik pakan
pertama di Ancol, Jakarta, dengan nama PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk.
Pada tahun 1979, didirikan hatchery guna memenuhi kebutuhan akan DOC di
Indonesia dengan nama PT. Charoen Pokphand Unit Hatchery Gempol, Pasuruan,
Jawa Timur. Sampai saat ini perusahaan ini masih aktif berproduksi dan
memenuhi kebutuhan DOC ayam layer (petelur) di seluruh area Jawa
Timur. Selain hatchery di PT. Charoen Pokphand Gempol, Pasuruan, Jawa Timur
juga terdapat farm yang bergerak dibidang pembibitan yang letaknya
bersebelahan dengan hatchery ini.

2.1.2. Keadaan umum perusahaan
PT. Charoen Pokphan Indonesia Gempol terletak di desa Winong
merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang pembibitan unggas parent
stock ayam petelur. Fasilitas yang disediakan di PT. Charoen Pokphan Indonesia
di desa Winong berupa mess staff dan karyawan, kantor adminitrasi, pos satpam,
parkir, kantin, bengkel, koperasi, kantor utama, mushola, lapangan olah raga serta
tempat untuk semprot mobil dan orang. Total luas wilayah adalah 17 ha, yang
terbagi menjadi wilayah farm, hatcery, dan fasilitas-fasilitasnya. Desa Winong
merupakan kawasan industri yang penuh dengan pabrik-pabrik seperti
pabrik minuman dan pabrik makanan. Kawasan ini juga dekat dengan pemukiman
penduduk. Jarak lokasi peternakan dengan pemukiman penduduk sekitar 500
meter.
Unit Farm PT. Charoen Pokphand Gempol, Pasuruan mempunyai kandang
tipe close house yang berjumlah 16 kandang, masing-masing dengan kapasitas
5

populasi 11000 ekor ayam parent stock. Setiap kandang dilengkapi dengan
exhaust fan sebanyak 8 buah serta dilengkapi ruang cellpad untuk pendingin di
kanan kiri kandang. Unit Hatchery PT. Charoen Pokphand Gempol, Pasuruan
mempunyai 24 buah mesin inkubasi (setter) dan 24 buah mesin tetas (hatcher),
tipe buttler yang dimodifikasi menyerupai mesin jamesway. Suhu mikro mesin
dapat diatur dengan tempron secara manual sehingga tidak dipengaruhi oleh suhu
makro.

2.2. Organisasi Charoen Pokphan
2.2.1. Unit Farm









Gambar 2.1. Struktur Organisasi Unit Farm PT. Charoen Pokphand, Gempol,
Pasuruan

Keterangan
Farm Manager : Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan dalam satu unit
farm.
PGA : Bertugas dalam bidang kepegawaian sekaligus diberi
wewenang dalam pengadaan sarana dan prasarana.
Statistik : Bertugas menganalisis data-data mengenai hal-hal
yangberkaitan dengan produksi seperti pertumbuhan berat
badan ayam, penggunaan pakan, dan deplesi.
Staf AHL : Bertugas mengawasi dan memastikan bahwa tata laksana
pemeliharaan yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur.
Supervisor : Bertugas memimpin para caretaker untuk melaksanakan
kegiatan pemeliharaan didampingi oleh assistant supervisor.
Chief Mekanik : Bertugas memimpin para mekanik dalam kegiatan
pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada di farm. Jika
terdapat kerusakan, para mekanik harus segera melakukan
perbaikan.

Farm Manager
PGA
(Personalia
General
Affair)
Statistik Staf AHL
(Animal
Helath
Laboratory)
Supervisor Chief
Mekanik
Koordinator
Lapangan
Asisten
Supervisor Mekanik Pekerja
Harian

Caretaker
6

Koordinator Lapang : Bertugas mengatur pembagian kerja para karyawan supaya
pekerjaan yang ada terlaksana secara merata dansaling
membantu pada tiap-tiap kandang. Koordinator Lapang
mempekerjakan beberapa warga sekitar untuk dijadikan
pekerja harian untuk membantu kegiatan perkandangan, hal
ini hanya dilakukan saat pekerjaan yang ada sangat banyak
dan dalam kondisi kekurangan tenaga.

2.2.2. Unit Hatchery









Gambar 2.2. Struktur Organisasi Unit Hatchery PT. Charoen Pokphand, Gempol,
Pasuruan

Keterangan
Hatchery Manager : Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan dalam satu unit
Hatchery.
Supervisor : Bertugas mengawasi kegiatan setiap bagian
Teknisi : Bertugas memimpin para mekanik dalam kegiatan
pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada di hatchery.
Jika terdapat kerusakan, para mekanik harus segera
melakukan perbaikan.
Personalia : Bertugas dalam bidang kepegawaian sekaligus diberi
wewenang dalam pengadaan sarana dan prasarana.
Koordinator lapangan : Bertugas mengatur pembagian kerja para karyawan supaya
pekerjaan yang ada terlaksana secara merata dan saling
membantu pada tiap-tiap bagian.
Hatchery Manager
Supervisor Teknisi Personalia Koordinator
Lapangan
Karyawan
mekanik
1. Spv. Produksi
2. Spv. Setter
3. Spv. Holding
4. Spv. Statistika
Pekerja
Harian
7

BAB 3 METODOLOGI

3.1. Metode Kegiatan
Metode yang digunakan dalam PPDH rotasi industri ini adalah dengan
survei melalui pengumpulan data primer dan data sekunder. Kegiatan ini
dilaksanakan sesuai dengan jadwal pelaksanaan kegiatan. Pengumpulan data
primer yang akan digunakan dalam kegiatan ini yaitu melalui observasi
partisipatori, yang merupakan kegiatan observasi langsung di lapangan, serta
wawancara terkait dengan hal-hal yang akan diamati kepada pihak-pihak yang
bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan masing-masing. Sumber data lainnya
adalah dari data sekunder yakni, bersumber dari data laporan kegiatan data dari
instansi terkait, buku, jumal, serta penelusuran intemet. Analisis data dilakukan
menggunakan metode analisa deskriptif.

3.2. Waktu dan Lokasi
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 12 24 Agustus 2013 di PT.
Charoen Pokphand Jaya Farm Unit CP-1 dan Unit Hatchery Gempol di desa
Winong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

3.3. Jadwal Kegiatan
Tabel 3.1. Jadwal Kegiatan
No Waktu Keterangan
1 12 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian hatchery
(holder room)
2 13 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian hatchery
(setter room)
3 14 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian hatchery
(hatcher room)
4 15 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian hatchery (pull
chick & production room)
5 16 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian hatchery
(break out room)
8

6 17 Agustus 2013 Libur hari kemerdekaan Republik Indonesia
7 18 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian farm
production CP-1 (Grading, fumigasi, holding, inseminasi
buatan)
8 19 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian farm
production CP-1 (Grading, fumigasi, holding, inseminasi
buatan)
9 20 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian farm
production CP-1 (Grading, fumigasi, holding, inseminasi
buatan)
10 21 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian farm
production CP-1 (Grading, fumigasi, holding, inseminasi
buatan)
11 22 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian farm
production CP-1 (Grading, fumigasi, holding, inseminasi
buatan)
12 23 Agustus 2013 Observasi dan mengikuti kegiatan di bagian farm
production CP-1(Grading, fumigasi, holding, inseminasi
buatan)
13 24 Agustus 2013 Evaluasi & diskusi ,pelepasan dan pulang.



9

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Unit Farm
4.1.1 Fase produksi (Layer)
PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit CP-1 yang berlokasi di gempol
pasuruan ini merupakan industri unggas yang bergerak di bidang penyediaan bibit
unggul ayam petelur (layer). Unit kerja meliputi peternakan yang menghasilkan
telur fertil serta unit penetasan untuk proses menghasilkan bibit unggul.
Menejemen pemeliharaan pada periode laying bertujuan untuk mendapatkan telur
fertil dan pencapaian berat badan yang baik untuk bertelur. Periode laying dimulai
dari umur 23 sampai 72 minggu.
Sistem yang diterapkan pada setiap kandang adalah all in all out,
maksudnya adalah ayam serempak masuk dan serempak afkir. Hal ini dilakukan
untuk memaksimalkan produksi dan memudahkan dalam menejeman kesehatan.
Ayam mulai dimasukkan kandang batrai pada usia 17 minggu, pada minggu ke-18
dilakukan puasa makan hanya diberikan minum. Usia awal produksi yaitu 23
minggu sampai 72 minggu afkir. Produksi puncak dapat mencapai 96 %.
Manajemen kesehatan meliputi vaksin dan pemberian vitamin. Vaksin
dilakukan pada usia ke-19 minggu untuk vaksinasi AI dan ND, serta booster
dilakkan usia 38 minggu, selain itu untuk menjaga kesehatan dan stamina
ditambahkan vitastress (nepros dan amilin) yang diberikan 2x per minggu.
Program pencahayaan yang dilakukan guna mengoptimalkan produksi
diberlakukan pada beberapa fase, yaitu fase growing (usia 17-20 minggu) selama
10 jam, produksi 5% selama 13 jam, produksi 40% selama 14 jam, produksi 60%
selama 15 jam. Waktu pencahayaan dan intensitas cahaya sangat penting karena
berkaitan dengan pemicu perkembangan alat alat reproduksi (dewasa kelamin),
feed intake, dan produksi telur.
Produksi telur fertil dilakukan melaui sistem intensifikasi peternakan yang
memiliki populasi ayam betina 9900 dan 650 jantan dalam satu kandang. Usia
ayam yang berada di peternakan ini adalah diatas 19 minggu (fase layer) sampai
dengan usia 72 minggu (afkir). Usaha pemeliharaan yang digunakan di peternakan
ini diantaranya adalah penggunaan kandang dengan sistem closed house, pakan
10

berkualitas sesuai dengan usia dan jenis ayam, vaksinasi serta manajemen
kesehatan, serta penggunaan Inseminasi buatan untuk menunjang keberhasilan
fertisilasi.
Jenis ayam petelur yang digunakan di peternakan ini adalah strain isa
brown. Strain ini merupakan strain pilihan terbaik untuk industri ayam petelur.
Strain ini memiliki tingkat efektivitas bertelur yang lebih tinggi, memiliki kualitas
telur terbaik, serta mampu beradaptasi dengan iklim dan lingkungan dengan baik.
Produksi awal saat ayam berusia 19 minggu. Pencapaian produksi telur
yang maksimal secara umum dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu genetik, ransum, dan
managemen. Faktor genetik meliputi jenis strain ayam yang dipelihara, sedangkan
manajemen meliputi keseluruhan sistem pemeliharaan mulai dari awal sampai
ayam berpoduksi. Produksi ayam maksimal diawali dari teracapianya target ayam
pullet (ayam dara/siap produksi) yaitu berat badan (BB) sesuai standar ( 1385
g/ekor pada umur 16 minggu) dan keseragaman ayam dilihat dari BB maupun
kematangan seksual mencapai > 80 %. Stimulasi pematangan seksual dilakukan
dengan pencahayaan. Stimulasi cahaya ditujukan untuk merangsang pertumbuhan
dan pematangan organ reproduksi, mengontrol agresivitas ayam, minimalisasi
floor egg, membatasi agresivitas jantan saat kawin, dan menekan jumlah
broodines.
Proses pengambilan telur dilakukan oleh petugas menggunakan mesin
otomatis. Telur tetas di koleksi mesin berjalan kemudian ditempatkan ke dalam
egg tray. Posisi meletakkan telur di egg tray tidak boleh terbalik, yaitu bagian
telur yang runcing diletakkan di bawah. Telur yang kotor atau pecah tidak boleh
dicampur dengan telur yang bersih. Semua telur yang dikoleksi kemudian
langsung dilakukan grading di ruang kerja yang tersedia di setiap kandang.
Proses grading dilakukan dengan pengamatan langsung dan membagi
telur menjadi empat jenis yaitu telur A3 ( > 69 gram), A2 (62 68,9 gram), A1
(55-61,9 gram), B3 (50-54,9 gram). Telur tetas yang kotor dibersihkan terlebih
dahulu dengan mengggunakan alkohol 70%. Telur tetas difumigasi dan diberi
kode kandang pada cangkang telurnya. Kode kandang ini berfungsi untuk
memudahkan dalam evaluasi terhadap hasil penetasan. Kemudiaan akan di ambil
11

oleh petugas telur tersendiri. Fumigasi dilakukan dengan tujuan agar telur tidak
membawa bibit penyakit yang dapat mempengaruhi daya tetas dan kualitas DOC.
Inseminasi buatan pada unggas memiliki beberapa manfaat, yaitu
penggunaaan pejantan lebih efisien, mempercepat produksi telur tetas,
mempercepat produksi anak ayam umur sehari (DOC), sarana menungkatakan
mutu genetik, dan memungkinkan dilakukan persilangan dengan ayam lain.
Manajerial inseminasi buatan (IB) untuk ayam pejantan melitputi
pemotongan kuku pejantan usia 18 minggu dan latihan koleksi semen usia 19-20
minggu. Target produksi semen setiap penajantan + 1 ml. Manajerial untuk ayam
betina meliputi perlakuan puasa makan selama 1 minggu pada usia 19 minggu,
setelah itu pakan diganti dan siap dilatih untuk IB pada usia 20-21 minggu.

4.1.2 Perkandangan
PT. Charoen Pokphand menerapkan perkandangan dengan sistem close
house. Kandang sistem closed house adalah kandang tertutup yang menjamin
keamanan secara biologi karena kontak dengan organisme lain semakin sedikit.
Sistem closed house dibuat dengan tujuan agar faktor lingkungan seperti panas,
cuaca, angin hujan dan sinar matahari tidak berpengaruh banyak saat
pemeliharaan. Dengan pengaturan ventilasi yang baik maka akan lebih sedikit
stres yang terjadi pada ayam. Kandang dengan sistem tersebut diharapkan dapat
menyediakan sebanyak-banyaknya oksigen dan mengeluarkan gas-gas berbahaya
seperti karbondioksida dan amonia.
Keuntungan dari sistem closed house antara lain 1) meningkatkan
kapasitas pemeliharaan; 2) Ayam lebih sehat, nyaman, segar dan tenang; 3)
Sirkulasi udara lebih baik; 4) Mendukung produktivitas maksimal; 5) Efisiensi
tenaga kerja; 6) Temperatur dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan
pemeliharaan; 7) faktor lingkungan tidak berperan banyak saat pemeliharaan.
Hampir dikatakan tidak ada kontak dengan faktor lingkungan selama
pemeliharaan, didalam sistem kandang tertutup ventilasi memiliki peranan yang
sangat penting untuk menjaga temperatur dan kelembapan udara di dalam
kandang.
12

Ukuran kandang pada PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit CP-1 adalah
12 x 100 m dengan kapasitas 11.000 ekor ayam parent stock dengan persentase
ayam jantan 6,5 %. Dengan ukuran 12 x 100 m kandang terbagi menjadi beberapa
ruang yaitu, ruang yang tempat penyimpanan pakan dan tandon air minum, tempat
depo telur sementara, ruang cooling pad, serta kandang baterai. Skema kandang
pada PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit CP-1 dapat diamati pada Gambar 1.












Gambar 4.1. Skema kandang close house PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit
CP-1

Ruang untuk kandang baterai memiliki ukuran 12 x 90 m, yang terdiri dari
4 line kandang baterai, yang setiap line terdiri dari 2 shaf kanan dan kiri untuk
ayam betina serta 1 shaf untuk ayam jantan (Gambar 2). Kandang baterai untuk
ayam betina memiliki ukuran 38,5 cm
2
, yang disusun berderet 5 dengan panjang 2
m dengan tinggi 40 cm (sudah dengan tebal sekat tiap baterai). Jadi total kandang
baterai ayam betina pada ruang kandang baterai adalah 3200 buah kandang
baterai. Setiap satu kandang baterai diisi dengan 2-3 ekor. Kandang baterai untuk
ayam pejantan memiliki ukuran panjang 35 cm, lebar 38,5 cm, dan 50 cm, yang
disusun berderet 6 baterai dengan panjang 2,1 m. Setiap 1 line jumlah kandang
baterai ayam jantan adalah 165-170 buah dengan masing-masing berisi 1 ekor
ayam jantan.
a b
c
c
d
Keterangan:
a. tempat penyimpanan pakan dan tandon air minum
b. tempat depo telur sementara
c. ruang cooling pad
d. kandang baterai
e. ekhaust fan
e
13



Gambar 4.2. Model kandang baterai PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit CP-1

Desain kandang close house pada PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit
CP-1 dilengkapi dengan exhaust fan dan ruang cooling pad yang berfungsi untuk
mengatur sirkulasi udara dan suhu ruangan. Semua sistem yang ada sudah diseting
otomatis dengan indikator suhu ruangan. Setiap kandang dilengkapi dengan 8
exhaust fan yang terletak dikandang bagian belakang dengan letak sesuai pada
Gambar 1. Suhu didalam kandang close house dipertahankan pada 18 - 25
o
C.
Exhaust fan akan menyala bergantian dan atau menyala semua, tergantung
terhadap keadaan didalam kandang. Jika kondisi suhu didalam kandang berkisar
28,5 29,5
o
C, maka ruangan cooling pad akan bekerja. Cellpad pada ruangan
cooling pad akan menyala untuk membantu menurunkan suhu didalam kandang,
alat ini menyala selama 2 menit dan mati 6 menit, hal ini berlangsung terus
sampai suhu didalam ruangan kembali pada standar.
Pengaturan pencahayaan pada kandang close house PT. Charoen
Pokphand Jaya Farm Unit CP-1 diterapkan mulai pukul 20.00 - 06.00. Hal ini
dilakukan untuk mengatur dan mengoptimalkan aktifitas ayam pada malam hari.
Sehingga dengan pemberian pencahayaan yang baik, porsi pakan yang disediakan
akan optimal. Selain itu, faktor pencahayaan juga mempengaruhi perkembangan
pembentukan telur. Semua sistem pencahayaan yang ada sudah diseting otomatis
dengan indikator waktu.
14

4.1.3 Biosekuriti dan Program Kesehatan
Biosecurity merupakan suatu sistem dan penerapan manajemen untuk
mengurangi atau mencegah potensi transmisi perkembangan organisme yang
menimbulkan penyakit infeksius. Menurut Dirjen Peternakan (2005) biosekuriti
bertujuan untuk mencegah semua kemungkinan penularan dengan peternakan
tertular dan penyebaran penyakit. Penerapan biosekuriti pada seluruh sektor
peternakan, baik di industri perunggasan atau peternakan lainnya akan
mengurangi risiko penyebaran mikroorganisme penyebab penyakit yang
mengancam sektor tersebut. Meskipun biosekuriti bukan satu satunya upaya
pencegahan terhadap serangan penyakit, namun biosekuriti merupakan garis
pertahanan pertama terhadap penyakit. Program biosekuriti yang telah diterapakan
di PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit CP-1 meliputi isolasi, pengendalian lalu
lintas, sanitasi, desinfeksi, biosekuriti tamu dan pekerja, biosekuriti peti telur,
biosekuriti terhadap hewan pengganggu, biosekuriti peti telur dan telur serta
biosekuriti ayam sakit/mati.
Isolasi ini diterapkan dengan cara penempatan atau pemeliharaan ayam di
dalam lingkungan yang terkendali dengan pengandangan sistem baterai dan
pemagaran kandang untuk menjaga dan melindungi unggas serta mencegah
masuknya hewan lain. Penerapan manajemen all-in/all-out serta mempraktikan
depopulasi secara berkesinambungan, serta dilakukan pelaksanaan pembersihan
dan disinfeksi seluruh kandang dan peralatan untuk memutus siklus penyakit.
Pengendalian lalu lintas ini diterapkan terhadap lalu lintas ke peternakan
dan lalu lintas di dalam peternakan. Pengendalian lalu lintas ini diterapkan pada
pekerja, peralatan, barang, dan bahan. Pengendalian yang dilakukan berupa
penyediaan fasilitas kolam dipping dan spraying pada pintu masuk untuk
kendaraan, penyemprotan desinfektan terhadap peralatan dan kandang, sopir, dan
petugas lainnya dengan mengganti pakaian ganti dengan yang pakaian khusus.
Terdapat tiga fasilitas kolam dipping dan spraying dari pintu gerbang area
perusahaan, pintu gerbang area farm dan pintu masuk setiap flock.
Sanitasi ini diterapkan pada disinfeksi bahan, pekerja dan peralatan yang
masuk ke dalam area farm, serta kebersihan pegawai di farm. Sanitasi meliputi
pembersihan dan disinfeksi secara teratur terhadap bahan bahan dan peralatan
15

yang masuk ke dalam farm menggunakan bahan desinfektan. Sanitasi yang
dilakukan meliputi kebersihan sampah, feses dan air yang digunakan. Air yang
digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya harus memenuhi persyaratan
air bersih. Intensitas pengambilan sampah dan limbah peternakan (kotoran ayam)
dilakukan pada periode tertentu secara teratur, untuk mengurangi lalat atau insekta
karena dapat menjadi vektor penyakit.
Biosekuriti sumber ayam diterapkan pada ayam yang masuk ke dalam
farm, ayam yang diperoleh berasal dari hasil pemeliharaan sejak masa DOC di
tempat farm lain dan dipindah ke farm produksi pada masa layer siap untuk
bertelur. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan terhadap sumber ayam
yang akan masuk ke dalam wilayah farm, yaitu ayam yang datang berasal dari
farm yang bebas penyakit dan tidak membawa agen penyakit.
Biosekuriti terhadap hewan penggangu seperti tikus diterapkan dengan
pemasangan alat listrik kejut yang dipasang diseluruh area, sedangkan burung liar
diterapkan dengan sistem kandang yang tertutup rapat atau menyeluruh. Hal ini
dilakukan untuk mengurangi adanya vektor pembawa penyakit. Menurut Kuney
(1999), pakan bisa menjadi sumber datangnya bangsa rodensia dan unggas liar.
Oleh karena itu, tikus dan unggas liar dicegah agar tidak menjangkau pakan.
Biosekuriti peti telur dan telur diterapkan dengan tujuan untuk mencegah
agen-agen patogen ataupun yang berbahaya mengkontaminasi area dalam farm.
Tindakan desinfeksi dengan cara fumigasi menggunakan bahan kimia formalin.
Biosekuriti untuk ayam yang sakit/mati segera dikeluarkan dan dipisahkan
sejauh mungkin dari kandang ayam sehat sehingga tidak menyebar ke ayam yang
sehat. Ayam yang sakit/mati segera diisolasikan dan didiagnosa di laboratorium
oleh dokter hewan farm untuk segera diketahui penyebabnya. Setelah itu, ayam
tersebut harus segera dibakar atau dimusnahkan

4.1.4 Inseminasi Buatan
Manajemen reproduksi yang digunakan di PT. Charoen Pokphand Jaya
Farm Unit CP-1 adalah dengan cara inseminasi buatan, yaitu dengan melakukan
koleksi semen pada ayam jantan kemudian dimasukkan ke alat kelamin betina
menggunakan gun IB ayam. Kriteria ayam pejantan yang baik diambil semennya
16

yaitu: daerah kloaka dan sekitarnya berwarna merah, jarak antara kloaka dengan
kedua ujung tulang pelvis dan jarak antara kedua ujung tulang pelvis tidak kurang
dari 2 jari, serta bulu ekornya panjang dan indah. Ayam-ayam pejantan yang akan
diambil spermanya harus dikandangkan terpisah dengan betina serta harus diberi
pakan kering.
Kualitas semen ayam jantan dapat bertahan selama 12 menit setelah
pengambilan semen pada ayam jantan yang pertama. Setiap pengambilan
diperlukan 6-7 ayam jantan dengan kapasitas wadah 5 ml semen. Setiap betina di
inseminasi dengan 0,05 ml semen, jadi target 5 ml yang sudah dikoleksi untuk
membuahi 100 betina.

4.2 Unit Hatchery
Kendaraan dan orang yang akan masuk ke hatchery harus melewati bagian
sanitasi. Sanitasi kendaraan dilakukan menggunakan spray yang didalamnya
terdapat larutan disinfektan. Barang bawaan di sterilkan dengan cara dimasukkan
kedalam kotak UV. Sedangkan orang yang akan masuk ke hatchery harus melalui
ruang sanitasi yaitu ruang kamar mandi dan tempat berganti baju.
Unit hatchery terdiri dari bagian holding room/penyimpanan, bagian
setter/inkubator, bagian hatcher/penetasan, serta bagian pull chik, vaksinasi, dan
pengemasan. Sebelum masuk ke holding room, telur-telur tersebut yang
selanjutnya disebut hatching egg (HE) difumigasi untuk mencegah rekontaminasi
menggunakan campuran formalin dan fumigan dengan perbandingan 75 gram
Forcent dalam 150 ml formalin/ 5m
3
ruang fumigasi selama 20 menit. Bubuk
fumigan tersebut akan berevaporasi ketika dipanaskan secara elektrik, kemudian
asapnya akan berpenetrasi melalui cangkang. Selain menggunakan fumigan
Forcent, fumigasi juga dapat dilakukan menggunakan campuran formalin
dengan kalium permanganat (KMnO
4
) dengan perbandingan 20 gram PK di dalam
40 ml formalin/2,83m
3
ruang fumigasi selama 20 menit atau menggunakan
campuran formalin dan air dengan perbandingan 40 ml formalin dan 10 ml
air/2,83m
3
ruang fumigasi selama 20 menit.
Selanjutnya, HE disusun berdasarkan urutan farm flock, strain, dan grade.
Oleh karena itu, HE akan di grading sesuai beratnya, yaitu:
17

Grade A3 : > 69,0 gram
Grade A2 : 62,0 - 68,9 gram
Grade A1 : 55,0 - 61,9 gram
Grade B3 : 50,0 - 54,9 gram
Grade B2 : 45,0 - 49,9 gram
Grade B1 : kotor, rusak
Selain grading, penyimpanan HE juga dilakukan berdasarkan hasil
candling dan culling. Kondisi hasil candling dan culling tersebut adalah seperti
pada gambar dibawah ini:

Gambar 4.3. Kategori grading telur HE

Peletakkan HE di tray juga harus dengan posisi bagian yang tumpul di
atas. Pelabelan HE dilakukan berdasarkan umur lama penyimpanan dan jenis
ayam penghasil HE: tinta biru untuk Ross dan tinta merah untuk Cobb, hijau
untuk umur simpan 1-4 hari, kuning untuk umur simpan 5-7 hari, dan merah
untuk umum simpan > 7 hari.
Temperatur dan humidity/kelembaban holding room harus selalu
diperhatikan untuk mencegah kontaminasi karena temperatur yang terlalu tinggi
akan menyebabkan timbulnya air di permukaan cangkang sehingga akan
memudahkan tumbuhnya mikroorganisme yang kemudian akan berpenetrasi ke
18

dalam cangkang. Temperatur dan kelembaban ideal tersebut diatur berdasarkan
umur lama penyimpanan, yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.1. Temperatur dan Kelembapan unit hatchery Charoen Pokphan Gempol,
Pasuruan

Hari ke- Temperatur
( C)
Humidity
(%RH)
1 s.d. 4 19 75
5 s.d. 8 18 80
8 s.d. 12 16 80
> 12 15 85

Menurut Practical Guidlines for the Incobation of Layer Egg yang
dikeluarkan oleh Pas Reform Hatchery Technologies setelah 3 hari pasca
produksi, kemampuan penetasan (hatchability) HE menurun sekitar 0,7-1% setiap
harinya oleh karena itu penyimpanan lebih dari 1 minggu tidak disarankan.
Apabila penyimpanan HE akan lebih dari 10 hari, HE diletakkan dengan posisi
yang lancip diatas kemudian diputar setiap 24 jam. Semua HE yang mengalami
penyimpanan lebih dari 10 hari tersebut harus mengalami preheat selama 18 jam
dengan temperatur 23C dan kelembaban 50 % RH.
Sebelum masuk ke masa inkubasi di mesin setter/inkubator, HE harus
mengalami preheat. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kerusakan
telur karena perubahan suhu yang ekstrim. Inkubasi dilakukan selama 18 hari.
Terdapat dua jenis inkubasi yaitu inkubasi single stage (all in/all out) dan
inkubasi multi stage. Inkubasi jenis ini, mesin inkubator diisi oleh HE yang umur
embrionya sama. Kelebihan inkubasi single stage adalah kondisi temperatur
disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan embrio. Sedangkan apabila inkubasi
jenis multi stage, mesin inkubator berisi HE yang umurnya berbeda-beda. Pada
PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit CP-1, jenis inkubasi yang digunakan
adalah inkubasi single stage menggunakan teknik output james way.
Kontrol temperatur output dilakukakan 1 jam sebelum transfer (100,3-
100,5F) dan 5 jam setelah transfer (99,7-99,9F). Selanjutnya pengontrolan
temperatur cangkang dilakukan pada hari ke 7, 11, dan 15 dan temperatur dicatat
setiap 3 jam sekali di setting form. Dari hasil pengontrolan output tersebut,
19

lakukan pump up dan pump down agar kondisi di dalam setter tetap stabil.
Temperatur cangkang biasanya digunakan sebagai referensi temperatur embrio.
Temperatur cangkang diukur menggunakan thermoscan yang disentuhkan pada
cangkang. Rerata temperatur cangkang 30-50 telur didapat dari pengukuran
temperatur cangkang dari troli yang berbeda



20

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Keberhasilan pemeliharaan parent stock layer sangat ditentukan oleh
manajemen pemeliharaan. Dalam hal ini manajemen kesehatan dan manajemen
sebelum fase layer menjadi pertimbangan untuk mengoptimalkan produksi.
Keberhasilan produksi telur fertil ditentukan oleh keberhasilan dalam tahap tata
laksana inseminasi buatan (IB). Hal yang menjadi prinsip dalam pelaksannan IB
adalah waktu pengambilan sampai dilakukan IB dan ketepatan dalam
menembakkan semen ayam pada kloaka ayam betina.
Penanganan telur tetas sebisa mungkin dilakukan dengan steril dan
koleksinya dilakukan sesering mungkin untuk mengurangi resiko kontaminasi.
Penanganan dalam proses penetasan juga menajdi faktor keberhasilan angka tetas
dari telur fertil yang telah diproduksi, antara lain pada bagian holding
room/penyimpanan, bagian setter/inkubator dan bagian pull chik. Prinsipnya
pengaturan pada kelembapan dan suhu ruangan selama proses penetasan.

5.2 Saran


21

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Peternakan. 2005. Bagaimana Terhindar dari Flu Burung
(Avian Influenza). Jakarta.
Kuney, D.R. 1999. Guidelines for risk reduction of microbial introduction
intopoultry flocks and products. Poultry fact sheet 11a. [Diakses pada
4 Oktober 2013, http://animalscience.ucdavis.edu/extension/avian ]
Payne JB, Kroger EC, Watkins SE. 2002. Evaluation of litter treatments
on Salmonella recovery from poultry litter. J. Appl. Poult. Res. 11: 239-
243.