Anda di halaman 1dari 9

1

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL PEMIMPIN J EMAAT


BELAJ AR DARI YESUS KRISTUS


PENDAHULUAN

Gereja adalah persekutuan (communio) kaum beriman kristiani yang percaya
kepada Allah dalam/ melalui Yesus dengan kekuatan (dijiwai) oleh Roh Kudus. Sebagai
suatu persekutuan Gereja juga merupakan suatu institusi atau lembaga dengan adanya
struktur-struktur tertentu. Salah satu struktur yang ada dalam Gereja adalah
kepemimpinan. Kepemimpinan dalam jemaat sangat menentukan dalam pengembangan
persekutuan dan pengembangan iman dalam Gereja. Model-model kepemimpinan sudah
banyak dikemukakan, pemimpin/ kepemimpinan otokratis, konsultasi, partisipasi,
demokrasi dan kontengensi/ situasional. Dewasa ini dunia berada dalam situasi yang
terus berubah, hal ini sudah disadari sebelum dan sejak Konsili Vatikan II (1962-1965).
Penggagas sekaligus yang membuka Konsili Vatikan II yakni Paus Yoanes XXIII
menyerukan aggiornamento (Gereja membuka diri, perlu membaharui diri dan
menyesuaikan dengan situasi terkini).
Begitu pula dalam umat/ jemaat kita dengan pelbagai latar-belakang yang berbeda
sangat dipengaruhi oleh situasi-situasi dan perubahan-perubahan dunia dewasa ini.
Menghadapi situasi ini diperlukan suatu model kepemimpinan dalam pengembangan
iman. Salah satu model kepemimpinan yang dapat diterapkan adalah kepemimpinan
transformasional. Kepemimpinan transformasional sebagai model kepemimpinan yang
menekankan motivasi dan pemberdayaan umat/ jemaat menghadapi situasi dan
perubahan-perubahan terkini sehingga terjadi perkembangan yang lebih berarti dalam
komunitas Gereja. Model kepemimpinan transformasional yang sejati nampak dalam diri
Yesus Kristus Sang Pembaharu yang selalu menampilkan nilai-nilai baru dan
pembaharuan dalam pewartaan-Nya.

1. KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
1.1. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
Kepemimpinan transformasional sebagai proses dimana pemimpin dan
pengikutnya bersama-sama saling meningkatkan dan mengembangkan moralitas dan
motivasinya. Dapat dikatakan pula bahwa kepemimpinan transformasional sebagai
kepemimpinan yang mampu mendatangkan perubahan di dalam diri setiap individu
yang terlibat atau bagi seluruh organisasi untuk mencapai performa yang semakin
tinggi. Kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan peran pemimpin
yang memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggung-jawab mereka lebih dari
yang mereka harapkan (J unaidi, 2010). Karakteristik utama pemimpin transformasional
ini diantaranya memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai agen perubahan (agent of
change) bagi organisasi, sehingga dapat menciptakan strategi-strategi baru dalam
mengembangkan praktik-praktik organisasi yang lebih relevan. Dengan demikian
pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai
peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin
transformasional harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan
dengan bawahannya serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih
tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.

1.2. DIMENSI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
Bass dan Avolio (1994) mengemukakan empat dimensi kepemimpinan
transformasional yakni: idealized influence, inspiration motivation, intellectual stimulation,
dan individual consideration (Sunarsih 2001:106-116):
a. Dimensi pertama, idealized influence (pengaruh ideal). Pemimpin dengan karakter ini
adalah pemimpin yang memiliki karisma dengan menunjukkan pendirian,
menekankan kepercayaan, menempatkan diri pada isu-isu yang sulit, menunjukkan
nilai yang paling penting, menekankan pentingnya tujuan, komitmen dan konsekuen
etika dari keputusan, serta memiliki visi dan sence of mission. Pemimpin yang
demikian harus menjadi teladan bagi para pengikutnya, tutur katanya harus sesuai
dengan perbuatannya. Pemimpin seperti ini biasanya akan dikagumi, dihormati dan
dipercayai oleh para bawahannya. Dimensi ini sama seperti yang dimukakan oleh Ki
Hajar Dewantara, dengan prinsip Ing ngarso sung tulodo.

2

b. Dimensi kedua, inspirational motivation (motivasi inspirasi). Pemimpin mempunyai
visi yang menarik untuk masa depan, menetapkan standar yang tinggi bagi para
bawahan, optimis dan memiliki antusiasme, memberikan dorongan dan arti terhadap
apa yang perlu dilakukan. Pemimpin harus mampu bertindak sebagai pencipta
semangat kelompok atau tim dalam organisasi, memperlihatkan komitmen yang
tinggi terhadap tujuan organisasi dan mampu mengartikulasikan pengharapan
(expectation) yang jelas atas kinerja bawahan.
c. Dimensi ketiga, disebut intellectual stimulation (stimulasi intelektual). Pemimpin
mendorong bawahan untuk lebih kreatif, menghilangkan keengganan bawahan
untuk mengeluarkan ide-denya dan dalam menyelesaikan permasalahan
menggunakan pendekatan-pendekatan baru dengan menggunakan intelengensi dan
alasan-alasan rasional. Pemimpin harus mampu berperan sebagai
penumbuhkembang ide-ide yang kreatif sehingga dapat melahirkan inovasi, maupun
sebagai pemecah masalah (problem solver) yang kreatif sehingga dapat melahirkan
solusi terhadap berbagai permasalahan yang muncul dalam organisasi. Dimensi
kedua dan ketiga dapat disebut sebagai Ing madyo mangun karso.
d. Dimensi yang keempat adalah individualized consideration (konsiderasi individu).
Pemimpin memperlakukan orang lain sebagai individu, mempertimbangkan
kebutuhan individual dan aspirasi-aspirasi, mendengarkan, mendidik dan melatih
bawahan. Pemimpin yang memberikan perhatian personal terhadap bawahannya.
Pemimpin harus memiliki kemampuan berhubungan dengan bawahan (human skill),
dan berupaya untuk pengembangan karier bawahan. Dimensi ini cocok dengan
konsep Tut Wuri Hadayani.
Keempat dimensi kepemimpinan sebagai agen perubahan di atas, dapat menjadi
suatu kekuatan atau energi yang dapat menggerakkan, memelihara keseimbangan dan
mempertahankan organisasi sekalipun organisasi dihadapkan kepada situasi transisi,
kritis, bahkan kemunduran. J ika keempat dimensi ini terus dipertahankan secara
konsisten dan disepakati sebagai suatu nilai-nilai, asumsi ataupun kepercayaan oleh
seluruh anggota organisasi, maka akan terbentuk apa yang dinamakan budaya
organisasi (corporate culture) dan dapat menjadikan organisasinya sebagai komunitas
pembelajar (community learning).

1.3. CIRI-CIRI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
Burn (dalam Wirawan, 2008) mengemukakan ciri-ciri kepemimpinan
transformasional sebagai berikut:
a. Antara pemimpin dan pengikut mempunyai tujuan bersama yang melukiskan nilai-
nilai, motivasi, keinginan, kebutuhan, aspirasi dan harapan mereka. Pemimpin
dalam tujuan tersebut dan bertindak atas namanya sendiri dan atas nama para
pengikut/ anggotanya.
b. Walaupun pemimpin dan pengikut mempunyai tujuan bersama, akan tetapi level
motivasi dan potensi mereka untuk mencapai tujuan tersebut berbeda-beda.
Pemimpin memiliki potensi dan motivasi kepemimpinan dengan daya pengaruhnya,
sedangkan anggota memiliki potensi dan motivasi keanggotaan.
c. Pemimpin dan pengikut/ anggota mengembangkan sistem yang sedang berlangsung
dengan mengemukakan visi yang mendorong berkembangnya masyarakat baru. Visi
ini menghubungkan pemimpin dan pengikut dan kemudian menyatukannya.
Keduanya saling mengangkat ke level yang lebih tinggi menciptakan moral yang
makin lama makin tinggi. Kepemimpinan transformasional meningkatkan perilaku
individu.
d. Kepemimpinan transformasional mengajarkan dan memberdayakan
pengikut/ anggota menjadi pemimpin dengan melaksanakan peran aktif dalam
perubahan. Nilai-nilai akhir yang dituju adalah kebebasan, kemerdekaan, persamaan
dan persaudaraan dalam masyarakat, organisasi atau komunitas.


2. KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL YESUS KRISTUS
Kepemimpinan transformasional tidak hanya berkembang dalam teori-teori
organisasi dan manajemen akan tetapi juga bisa temukan dalam pribadi Yesus Kristus,
seorang Pembaharu dan Pemimpin yang heroik dan memiliki kepemimpinan yang khas.
Menurut Robert Greenleaf (1977) bahwa faktor kunci dalam menghadirkan
kepemimpinan transformasional yang efektif adalah Kepemimpinan Pelayan (Servant

3

Leardership) yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus (DSouza, 2009:3). Kepemimpinan
Pelayan oleh Yesus Kristus diimplementasikan oleh para pengikut-Nya (Rasul-rasul
Yesus) dalam karya pelayanan mereka, dan secara heroik dengan segala tantangan
mereka mentransfromasikan perubahan-perubahan dalam dunia. Sesudah masa para
rasul, Gereja Kristen menghadapi masa kemartiran selanjutnya masa penjelajahan
untuk mewartakan (misi) Kristus ke seluruh dunia. Kepemimpinan transformasional
Yesus Kristus telah mendorong para rasul dan para misionaris untuk
mengimplementasikan dalam diri mereka apa yang disebut dengan Kepemimpinan
Heroik (Heroic Leadership) dengan keutamaan: kesadaran diri, heroisme dan cinta kasih
(Lowney, 2005:vii).

2.1. GAMBARAN KEPEMIMPINAN YESUS KRISTUS
Kepemimpinan yang ditampilkan Yesus Kristus memberikan tiga gambaran
kepemimpinan transformasional yang menarik (DSouza, 2009: xxiii-vviv), yakni sebagai
Pelayan (Servant), Gembala (Shepherd) dan Pengurus (Steward)..

2.1.1. PEMIMPIN SEBAGAI PELAYAN
Karakteristik kepemimpinan Yesus sebagai Pelayan adalah pelayanan, dukungan
dan pemberdayaan dengan perilaku utama memberikan teladan dan semangat rendah
hati. Memberikan teladan merupakan cara transfromasi yang efektif sehingga para
pengikut dapat melihat langsung perilaku apa yang dibuat oleh pemimpin sehingga
menimbulkan kekaguman dan kewibawaan yang besar. Di tengah penghormatan para
murid dan orang-orang yang mendengarkan ajaran-Nya, Yesus berkata: Aku ada di
tengah-tengah kamu sebagai pelayan (Luk. 22:27). Yesus tidak hanya berkata-kata
sebagai pelayan, melainkan dengan memberi teladan: membasuh kaki para murid
(Yoh.13). J ikalau aku membasuh kakimu, aku yang adalah Tuan dan Gurumu, maka
kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab aku telah memberikan suatu teladan
kepada kamu supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah kuperbuat
kepadamumaka berbagahagialah kamu, jika kamu melakukanya (Yoh.13:14).
Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk
dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan
bagi banyak orang. (Mat. 20:25-28).
Kepemimpinan pelayan yang ditunjukkan oleh Yesus mentransfromasi para
pengikut-Nya untuk ikut memiliki, terlibat dan berkomitmen. Para pengikut melakukan
pekerjaan karena memang mereka menghendakinya, bukan karena diperintah.
Kepemimpinan pelayan memberdayakan orang melalui teladan, bimbingan, kepedulian,
pemahaman, kepekaaan, kepercayaan, apresiasi, dorongan semangat, penguatan dan
visi bersama. Maxwell (2006:64) mengidentifikasikan lima prinsip sebagai petunjuk
untuk dapat menjadi teladan, yaitu: memperbaiki diri sebelum memperbaiki orang lain,
memperbaiki diri lebih banyak dari pada orang lain, mengejar apa yang benar daripada
melakukan apa yang benar, melakukan apa yang dapat dilihat bukan hanya dengan
kata-kata, dan belajar dari teladan orang lain. J adi intinya adalah memimpin diri sendiri
terlebih dahulu baru memimpin orang lain.
Dr. J erry C. Wofford dalam bukunya Transforming Christian Leadership (1999)
mengungkapkan bahwa kepemimpinan pelayan memperluas kepemimpinan
transformatif hingga ke wilayah perhatian baru, yakni pelayanan yang rendah hati.
(DSouza, 2009: 14-16). Covey (1997:30) menyebut salah satu ciri kepemimpinan yang
berprinsip (Principle Centered Leardership) ialah berorientasi pada pelayanan. Mereka
melihat kehidupan sebagai suatu misi tidak hanya sebagai karir semata.

2.1.2. PEMIMPIN SEBAGAI GEMBALA
Karakteristik pemimpin sebagai gembala ialah kepedulian, keberanian dan
tuntutan. Bagi pemimpin-gembala perhatian dan produk bukan pada hasil dan
keuntungan melainkan para pengikut/ anggota (DSouza, 2009:27). Dalam Mazmur 23
dikatakan:Allah adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku. Sumber inspirasi
seorang pemimpin sebagai gembala adalah Allah sendiri. Allah sebagai Gembala
memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umatnya sebagai domba-domba.
Yesus menyatakan diri sebagai Gembala yang Baik (Yoh.10). Yesus mengangkat Petrus
sebagai Gembala (Yoh.21:15-19), dan Petrus meminta kepada para Penatua Gereja

4

untuk menjadi gembala umat Allah(1 Pet. 5:2), seperti yang dilakukan Paulus di Efesus
(Kis Ras, 20:28).
Yesus menguraikan beberapa ciri gembala yang baik, yakni: gembala mengenal
domba-dombaya, domba-domba mengenal gembalanya, gembala harus hadir dan siap
sedia, memimpin dari depan, berani, menuntun dan membimbing, peduli pada domba
yang bermasalah dan pergorbanan diri. Kepemimpinan Yesus berpusat pada pribadi
manusia, menjaga para anggota dan menginginkan mereka berkembang dan berhasil
memenuhi tujuan dan panggilan mereka (Blanchard & Hodges, 2007:157-158).
Pemimpin sebagai gembala didorong dengan keutamaan cinta kasih. Kepemimpinan
yang didorong oleh cinta kasih: memiliki visi untuk melihat bakat, potensi, dan harkat
setiap pribadi; memiliki keberanian, gairah, dan komitmen untuk membuka kunci
potensi; kesetiaan dan dukungan satu sama lain sebagai hasilnya, yang menyemangati
dan mempersatukan Tim (Lowney, 2005:200).

2.1.3. PEMIMPIN SEBAGAI PENGURUS
Sebagai pengurus seorang pemimpin harus memiliki karakter dapat dipercaya,
bertanggung-jawab dan mampu mempertanggungjawabkan. Karakter-karakter tersebut
ditampilkan Yesus dengan pelbagai perumpamaan. Dalam perumpamaan tentang
talenta (Mat. 25:14-30; Luk 19:12-27), Yesus menunjukkan bahwa menjadi pengurus
berarti mengemban kepercayaan yang akhirnya yang dituntut dari pelayan-pelayan
adalah mereka dapat dipercaya. Kesadaran bahwa dirinya dipercaya memberikan
kepercayaan diri yang sangat besar pada pemimpin-pengurus. Pemimpin-pengurus
berusaha membina orang lain yang dapat dipercaya dan setia untuk diberi kepercayaan
untuk melaksanakan karya yang bermakna.
Kepercayaan menuntut tanggung-jawab. Yesus menegaskan: J adi, siapakah
pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi
kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada
waktunya? Berbagaialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika
tuannya itu datang (Luk.12:42-43). Kepercayaan sebagai pemimpin-pengurus harus
diikuti dengan tanggung-jawab yang besar. Dalam arti ini pemimpin-pengurus harus
dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan. Setiap orang yang
banyak diberi akan banyak dituntut, dan siapa yang banyak dipercayai akan lebih
banyak lagi dituntut. (Luk.12:48). Keutamaan yang menjadi nilai dalam meningkatkan
kepercayaan dan tanggung-jawab adalah kejujuran, integritas dan transparansi.
Kemampuan mempertanggungjawabkan akan meningkatkan tingkat kepercayaan dan
penghargaan diri, membangkitkan semangat dan motivasi secara positif. Haring
menjelaskan bahwa rasa percaya diri (self-confidence) dan merasa diri berharga (self-
esteem) adalah syarat yang perlu agar seseorang berkembang dalam kematangan yang
cukup untuk bisa bertanggung-jawab (Sujoko, 2008:109).

2.2. SIFAT KEPEMIMPINAN YESUS KRISTUS
Donna Prestwood dan Paul Schumann (DSouza, 2009:175) mengungkapkan
bahwa sifat kepemimpinan sejati menurut Yesus Kristus ialah dapat membuat
perubahan-perubahan yang mendasar dan berarti dengan empat kemampuan utama,
yakni ennoble-ennobling (memaknai), enable-enabling (memampukan), empower-
empowering (memberdayakan), dan encourage-encouraging (mendorong)
a. Ennoble, kepemimpinan Yesus mampu mengajak dan memungkinkan pengikut-Nya
untuk memaknai dan mencapai keluhuran. Memaknai berarti memberi atau
menanamkan makna dan tujuan orang maupun kerja mereka; menanamkan visi dan
misi organisasi. Memaknai diupayakan dengan cara memberi alasan dan keperluan,
memotivasi dan men-justifikasi untuk melakukan inovasi. Menurut Yesus, pemimpin
yang efektif adalah pemimpin yang memiliki kemampuan inovasi, merumuskan dan
mengtransfromasikan visi, misi dan tujuan menjadi milik bersama/ kelompok. Covey
(1997:61) mengemukakan bahwa pribadi yang proaktif adalah pribadi yang
berinisiatif. Selanjutnya Covey (2004:81) memandang bahwa pribadi yang proaktif
adalah pribadi yang memiliki imaginasi kreatif, yakni kemampuan melihat keadaan
di masa mendatang dan saat ini bagaimana menghadapinya.
b. Enable, kepemimpinan Yesus mendorong para pengikutnya untuk mampu berdaya
guna dan efektif. Yesus dalam pewartaan-Nya menggunakan pendekatan-pendekatan
manusiawi sehingga mampu dicerna dan diterima oleh para rasul dan para
pendengar. Yesus memungkinkan para pengikut-Nya merasa memiliki apa yang

5

harus diperbuat, tanpa merasa diperintah atau dipaksa karena Yesus memberikan
teladan sebagai pelayan. Proses memampukan diupayakan dengan cara melengkapi
orang/ anggota dengan pengetahuan, kecakapan dan kemampuan untuk melakukan
inovasi. Upaya-upaya ini dilakukan dari dalam diri manusia yakni: hati. Blanchard &
Hodges (2006:49) mengemukakan bahwa kepemimpinan yang efektif menurut Yesus
harus mulai dari dalam, yakni dari hati yang berbelas kasih. Kendala terbesar untuk
menjadi pemimpin seperti Yesus adalah hati yang dimotivasi oleh kepentingan
pribadi.
c. Empower, kepemimpinan-pelayan Yesus adalah meneguhkan dan memberdayakan
para pengikut-Nya. Memberdayakan dengan cara membangkitkan kegairahan,
membangun kepercayaan dan menghasilkan tindakan. Para rasul dengan pelbagai
latar-belakang dipanggil dan diutus oleh Yesus untuk menjadi pemimpin dan
pelayan yang besar dengan komitmen yang tinggi. Proses pemberdayaan dilakukan
oleh Yesus selama para rasul hidup dengan-Nya dan tetap memberi kepercayaan dan
kekuatan dengan Roh-Nya sampai akhir hidup mereka. Covey (1997:31-32)
menyatakan bahwa salah satu ciri kepemimpinan yang berprinsip adalah
mempercayai orang lain.
d. Encourage, kepemimpinan Yesus mendorong untuk membuahkan hasil dan
pengaruh bagi misi dan membangun kegairahan yang lebih besar sehingga dapat
membuahkan perubahan dan pemberdayaan terus-menerus. Pemberdayaan
dilakukan tidak hanya secara konstan tetapi terus-menerus sehingga orang lain
dapat menjadi pemimpin. Covey (1997:262) mengemukakan habitus ke-tujuh dari
manusia yang efektif adalah mengasah gergaji, maksudnya memperbaharui diri
secara terus-menerus pada empat dimensi hidup manusia, yaitu: fisik, mental,
spiritual dan sosial/ ekonomi. Covey selanjutnya mengemukakan habitus ke-delapan
dari manusia efektif yaitu menemukan potensi diri sendiri dan memberikan inspirasi
bagi orang lain untuk menemukan potensi mereka. Dalam arti ini manusia telah
mencapai keagungan.


3. IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DALAM GEREJ A
KATOLIK
3.1. MAKNA KATOLIK
Secara etimologis, istilah katolik tersusun dari dua kata dalam Bahasa Yunani,
yakni kata yang berarti menurut, dari, sebab-musabab, menuju, tujuan; dan holon
yang berarti keseluruhan. Kemudian menjadi adjektif: katholon yang berarti menurut
keseluruhan, dan adverbium: katholikos yang berarti sesuai dengan keseluruhan,
menyeluruh, mencakup segalanya, lengkap, sempurna. Aristoteles menggunakan istilah
katholon yang berarti sesuai dengan keseluruhan. Zeno menggunakan istilah:
katholika untuk menunjuk (berarti) asas-asas umum. Phito menggunakan istilah
katholikos yang berarti umum, dibedakan dengan khusus. Dalam Kis 4:18 ditemukan
istilah katholou dalam arti sama sekali Pada jaman patristik (jaman Bapa-bapa Gereja)
untuk pertama kali istilah katolik dipakai oleh Ignatius dari Antiokhia sekitar tahun
110 dalam suratnya kepada umat di Smyrna sebagai sifat Gereja: Di mana Uskup
tampil, di sana hendaknya jemaat berhimpun, seperti di mana Kristus Yesus berada, di
sana Gereja Katolik berada. Makna Katolik dalam surat ini dapat ditafsirkan sebagai
universal dan benar atau sejati, jadi Gereja universal dalam kebenaran dan persatuan
dengan Kristus Kemudian istilah katolik mulai dipergunakan dalam perkembangan
Gereja selanjutnya sebagai salah satu sifat Gereja. Istilah katolik dipakai sebagai
atribut Gereja sehingga menjadi Gereja Katolik sejak adanya reformasi dan zaman
apologetik (abad XVII-XIX) (bdk. Piet Go, 2005:20-23).
Pengertian Katolik dalam perkembangan selanjutnya tidak hanya dalam arti
atribut untuk Gereja Katolik akan tetapi harus dimengerti secara lebih luas. Makna
Katolisitas berdasarkan inspirasi Kis Ras 2:42-47 dapat diringkaskan sebagai berikut: 1)
Koinonia (persekutuan): bertekun dalam persekutuan, sehati sejiwa; 2) Kerygma
(pewartaan): bertekun dalam pengajaran para rasul; 3) Leiturgia (ibadat, sakramen-
sakramen): berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa; 4) Diakonia (pelayanan
persaudaraan): berbagi sehingga tidak ada yang kekurangan; 5) Martyria (kesaksian):
sehati sejiwa, berbagi dan disukai semua orang.



6

3.2. BEBERAPA APLIKASI TEKNIK KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DALAM
GEREJ A/ UMAT

3.2.1. BEBERAPA KETERAMPILAN TEKNIS KEPEMIMPINAN

a. Komunikasi dalam J emaat
Apa saja yang perlu dikomunikasikan? Tujuan-tujuan, misi, rencana & strategi,
hasil yang dicapai dalam kegiatan jemaat, prediksi-prediksi kejadian yang akan
terjadi, Alasan-alasan diadakan kegiatan, bantuan yang disediakan oleh/ bagi
jemaat, keinginan-keinginan anda dan jemaat.
Bagaimana cara berkomunikasi? Sebanyak mungkin komunikasi tatap muka,
memilih orang yang benar-benar dapat diajak berbicara mengenai rencana
pengembangan jemaat, mintalah kepada jemaat dalam hal apa mereka ingin
mendapat informasi lebih banyak, tentang kebutuhan dan masalah jemaat.
Komunikator yang baik melakukan: melihat perpektif menyeluruh bukan bagian-
bagian, rasional, memakai bahasa sendiri, antusias, enerjik dan yakin pada topic
yang dibicarakan, menggunakan anekdot, cerita & imajinasi, menggunakan
bahasa sesuai dengan pendengar, berhenti berbicara pada waktunya.
Indikator komunikasi yang buruk/ tidak berhasil: gelisah & tegang, tidak peduli
dan tidak perhatian, usaha semakin berkurang dan melemah, keras kepala dan
kurang kerja-sama, banyak menuntut, sering absen dan senang bertengkar.
b. Menangani konflik
Anda harus mendiamkan bila: isu kecil dan tidak berarti, tidak ada kesempatan
untuk menang, memenangkan masalah tapi membuat masalah baru, ada orang
lain yang bisa menyelesaikan.
Anda harus menyelesaikan dengan cara halus/ sopan bila: anda yang bersalah dan
perlu dipandang orang yang bertanggung-jawab, isu lebih penting bagi orang lain
daripada anda, anda perlu orang lain untuk membahas kerja-sama.
Anda berkompromi bila: anda memerlukan waktu untuk menyelesaikan masalah,
anda memerlukan pemecahan dalam waktu yang sempit dan menekan, anda siap
menghadapi lawan yang seimbang yang memiliki tujuan yang berlawanan.
Posisi anda kuat tetapi tidak cukup kuat untuk bertindak tegas.
Anda harus mendominasi bila: ada keadaan darurat, hal penting telah dilanggar,
ada pertikaian dan anda dalam posisi yang benar.
Anda harus bekerja sama, bila: kedudukan orang yang ada sangat penting untuk
diajak kompromi, anda perlu belajar dari orang lain, untuk menyatukan titik
pandang yang berlainan, memperoleh consensus (kesepakatan) semua pihak,
hubungan yang retak harus diperbaiki.
c. Mengatasi masalah jemaat
Menghadapi anggota/ jemaat yang suka bikin rebut dan merusak hubungan baik,
pemimpin perlu: memberikan contoh yang benar, menghentikan masalah pada
permulaan jika masalah itu potensial menjadi masalah serius, mencoba sesuatu
yang positif, menghindarkan bias-bias emosi pribadi, mendisiplinkan untuk
menghindarkan cemoohan dan hilangnya rasa hormat, bertindak segera terhadap
keluhan, menjaga kepala tetap dingin.
Bagaimana melakukan konseling pastoral (bimbingan pengembangan iman):
tujuan bukan menyelesaikan masalah tetapi memberi wawasan, tunjukkan bahwa
anda serius mendengarkan dan peduli, berusaha untuk melihat sesuatu yang baik
dalam diri anggota atau dalam jemaat, tanyakan kesan & pendapat
anggota/ jemaat atas tanggapan anda, yakinkan bahwa anda menyimpan semua
pembicaraan, katakan bahwa anda tetap menghargai mereka.

d. Rapat (pertemuan)
Sebelum rapat sebarkan tujuan & masukan yang dibutuhkan dari partisipan,
tetapkan batas waktu lamanya rapat, mulai pada waktunya, batasi jumlah
sasaran pada yang dapat dicapai dalam waktu yang tersedia, pakai alat
bantu/ sarana/ media jika dibutuhkan, kendalikan diskusi dengan mencatat siapa
yang harus berbicara dan kapan.
Buka rapat dengan menyebutkan sasaran-sasaran, bentuk dan harapan-harapan,
tunjuk seseorang untuk mencatat titik-titik penting dan keputusan yang dicapai,
beri kesempatana pengurus/ pimpinan lain untuk memimpin, dorong partisipasi &

7

yakinkan bahwa kontribusi tiap orang sangat penting, pastikan semua diskusi
relevan pada sasaran, mintalah kepada orang yang banyak bicara untuk
memperjelas maksud dan pendapat mereka langsung pada sasaran, mencatat
masukan-masukan yang tepat sasaran dengan cepat dan tepat.
Ambil keputusan secara tepat dan tegas (tanpa ragu-ragu; salah satu cirri
pemimpin mampu mengambil keputusan apapun resikonya), keputusan
hendaknya dapat diterima oleh mayoritas.
e. Berbicara di depan umum
Memperkuat kesan penyajian dilakukan dengan: buat ringkasan/ garis besar,
tekankan kata-kata penting, gunakan kata-kata sederhana, langsung dan positif,
pakai lelucon, analogi (perbandingan) dan humor yang berkaitan, tetapkan waktu
untuk berbicara, perhatikan kecepatan berbicara, jeda (antara) dan intonasi,
pastikan pendengar tahu apa yang anda harapkan.
Penyajian memerlukan pendahuluan yang kuat. Untuk masuk ke dalam
permasalahan, perlu dimunculkan: masalah menarik, lelucon, anekdot,
pertanyaan, pujian, sesuatu yang menimbulkan keingintahuan, fokus pada
masalah, batasi pembicaraan/ masalah, tujuan diungkapkan.

3.2.2. KEUTAMAAN PEMIMPIN J EMAAT

a. Visi : melihat semuanya secara luas dan mendorong anggota tentang
bagaimana mereka harus menyesuaikan diri dengan visi, berbagi
dengan anggota tentang kemungkinman baru di masa mendatang,
menyemangati & memotivasi yang lain dengan visi tentang apa yang
akan diraih, mendorong anggota untuk memikirkan cara untuk
sampai ke sana (visi).
b. Realitas : J angan terlalu muluk-muluk akan tetapi sederhana yang mudah
dijangkau dan jemaat mampu, sesuai dengan situasi (kebutuhan dan
masalah).
c. Orang (manusia): yang dihadapi adalah manusia sama dengan kita, sensitive,
simpatik, empati, peduli dan menanggapi kebutuhan dan masalah
jemaat, bangun rasa percaya & menghormati.
d. Keberanian : Berinisiatif, mau bertanggung-jawab & mengambil resiko, tidak
terbelenggu cara-cara lama atau ketakutan akan kesalahan masa lalu,
berani berdiri seorang diri, bersedia menentang pendapat umum demi
kemajuan bersama, tetap berusaha supaya tidak tercela, tidak puas
dengan hasil yang belum memadai.
e. Spiritualitas : Panggilan (dipercayai & diberi tugas oleh Allah dan manusia), hidup
rohani yang mendalam (doa, ibadat, permenungan); Kasih (1 Kor 13:4-
8): sabar, murah hati, tidak cemburu/ iri, tidak memegahkan
diri/ sombong, tak congkak, tak mementingkan diri, tak kasar, tak
menuntut kemauan sendiri, tidak mudah marah/ tersinggung, tak
menaruh dendam, tidak memperhatikan kesalahan orang, tidak
senang melihat kelaliman, bergembira bila kebenaran menang, setia
betapapun besar pengorbanan, selalu mempercayai orang lain, selalu
membela orang lain, kasih tidak berkesudahan. Selalu belajar dari
Yesus: sebagai pelayan, gembala dan pengurus.
f. Membina pengikut/ anggota menjadi pemimpin: langkah-langkah pengkaderan: 1)
pengikut melaksanakan petunjuk pemimpin; 2) pengikut
melaksanakan petunjuk dari pemimpin, tetapi pemimpin meminta
masukan dari pengikut; 3) Pemimpin menugaskan pengikut untuk
merancang dan melaksanakan sebuah proyek/ kegiatan dengan
masukan dari pemimpin. Pemimpin menugaskan orang lain untuk
dipimpin oleh pengikut; 4) Pengikut merancang dan melaksanakan
sebuah proyek/ kegiatan tanpa masukan dari pemimpin. Pengikut
menyarankan kepada pemimpin yang harus bekerja di bawah sang
pengikut dalam proyek/ kegiatan. Pemimpin memeriksa hasilnya
bersama dengan pengikut; 5) Pengikut menyiapkan
kelompok/ regu/ tim kerja sendiri dan bekerja bebas dari pemimpin,
kecuali memberi masukan bila diperlukan dan pemeriksanaan.


8


PENUTUP
Kepemimpinan pada dasarnya adalah pengaruh dari seorang pemimpin untuk
menggerakkan dan mendorong sehingga pengikut/ anggota melaksanakan sesuai dengan
tujuan bersama. Ada banyak model kepemimpinan, salah satunya adalah
kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional adalah model
kepemimpinan yang memotivasi untuk membuat perubahan-perubahan yang lebih
bernilai. Yesus Kristus merupakan pemimpin sejati sepanjang masa. Pemimpin kristiani
(katolik) dapat belajar dan menimbah inspirasi dari-Nya, untuk menjadi pelayan,
gembala dan pengurus dengan kemampuan memaknai, memampukan, memberdayakan
dan mendorong. Kiranya dengan spiritualitas yang mendalam dan keterampilan-
keterampilan yang memadai dalam kepemimpinan, pemimpin jemaat dapat mendorong
terjadi perubahan-perubahan yang bernilai dalam komunitas dan Gereja.


9

SUMBER BACAAN

Blanchard Ken & Hodges Phil, 2007, Lead Like J esus, Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat
Sepanjang Zaman, penerjemah: Dinonisius Pare, J akarta: Visi Media.
Covey R. Stephen, 1997, Principle Centered Leadership (Kepemimpinan yang Berbrinsip), alih bahasa: J ulius
Sanjaya, J akarta: Binarupa Aksara.
_________________, 1997, The 7 Habits of Highly Effective People, penerjemah: Budijanti, J akarta: Bina Rupa
Aksara.
_________________, 2006, The 8
th
Habit, Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan, penerjemah: Brata S.
Wandi & Isa Zein, J akarta: Gramedia.
Danin Sudarwan., 2003, Menjadi Komunitas Pembelajar, Kepemimpinan Transformasional dalam Komunitas
Organisasi Pembelajaran, J akarta: Bumi Aksara.
___________________, 2006, Visi Baru Manajemen Sekolah, Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik, J akarta:
Bumi Aksara.
DSouza Anthony., Ennoble, Enable, Empower, Kepemimpinan Yesus Sang Almasih, J akarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Firmanto Antonius Denny, 2005, Pengelolaan dan Pemberdayaan J emaat, Malang: Dioma.
Hall J ohn, et al., 2002, Transformational Leadership: The Transformation of Managers and Associates,
www.edis.ifas.ufl.edu.com.
J unaidi W., 2010, Model Kepemimpinan Transformasional (Models of Transformational Leadership), 6 J anuari
2010, Blogspot.com.
Konperensi Wali Gereja Indonesia, 2006, Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici), Edisi Resmi Bahasa
Indonesia, J akarta: KWI.
Konsili Vatikan II, 1993, Dokumen Konsili Vatikan II, penerjemah: Hardawirayana, DOKPEN KWI, J akarta:
Obor.
Koontz H., ODonnell & Weihrich H., 1990, Manajemen, J ilid I, J akarta: Erlangga.
Lowney Chris, 2005, Heroic Leadership, alih bahasa: Alfons Taryadi, J akarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Maxwell C. J ohn, 2001, The 21 Indispensable Qualities of A Leader (21 Kualitas Kepemimpinan Sejati), alih
bahasa: Saputra Arvin, Batam: Interaksara.
_______________, 2006, 5 Teladan Kpemimpinan, J akarta: Gramedia.
OLeary Elizabeth, 2001, Kepemimpinan, Yogyakarta: Andi.
Piet Go, Pastoral Sekolah, Visi-Tugas-tugas Pokok-Operasionalisasi, Malang: Dioma1991.
_______, Katolisitas Sekolah Katolik, 2005, Dioma: Malang.
Sudrajat A., 2008, Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah, 15 April 2008, Blogspot.com.
Sujoko Albertus, 2008, Belajar Menjadi Manusia, Berteologi Moral menurut Bernard Haring CSsR, Yogyakarta:
Kanisius.
Sunarsih, 2001, Kepemimpinan Transformasional Dalam Era Perubahan Organisasi, J urnal Manajemen dan
Bisnis, Vol 5 No. 2, Desember 2001.
Wijaya M., 2005, Kepemimpinan Transformasional dalam Meningkatkan Outcomes Peserta Didik, Bandung:
J urnal Pendidikan Penabur-No.05/ Th.IV/ Desember 2005.
Wirawan, 2008, Teori Kepemimpinan Transformasional, 9 J uli 2008, Blogspot.com.



Manado, 17 September 2011.
Oleh: Lastiko Runtuwene, S,Ag, M.Pd
Disampaikan dalam Pembinaan Pimimpin Umat Paroki Santu Yohanes Rasul Tahuna-Sangihe, Kabupaten
Kepulauan Sangihe.