Anda di halaman 1dari 17

REVIEW JURNAL BIOLOGI MOLEKULER

Overview of bacterial cellulose


composites: A multipurpose advanced
material





KELOMPOK DIAMOND :

Danar Aditya (1206263401)
Denny Setyadarma (1206263351)
Deviani Nabila (1206226072)
Husnul Fajri (1206224994)
Rizki Mulia (1206263345)

2014
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
INDONESIA



Abstrak
Bacterial cellulose (BC) telah menerima substansial karena fitur strukturalnya yang
unik dan sifat fisik-mekanik yang mengesankan. BC memiliki berbagai aplikasi dalam
bidang biomedis, termasuk digunakan sebagai biomaterial untuk kulit buatan,
pembuluh darah buatan, cangkok vaskular, perancah untuk teknik jaringan, dan
membalut luka. Namun, BC murni tidak memiliki sifat tertentu yang menjadi batasan
penerapannya dalam berbagai bidang. Oleh karena itu sintesis komposit BC telah
dilakukan untuk mengatasi keterbatasan ini. Berbagai strategi BC sintetik komposit
telah dikembangkan, yang berbasis di alam dan aplikasi yang relevan dari bahan
penguat ke BC Media sintetik atau ex situ penetrasi bahan-bahan tersebut ke dalam
mikrofibril BC. Pencampuran polimer dan pencampuran larutan kurang sering
digunakan pada pendekatan sintetis.
Kata kunci: aplikasi, klasifikasi, komposit selulosa bakteri, pendekatan sintetik

1. Pendahuluan
Ketika BC ditemukan, itu memperlihatkan potensi yang besar sebagai biopolymer
yang efektif dalam berbagai bidang. Sifat structural BC sangat unggul untuk selulosa
tanaman, dimana itu memberikan sifat yang lebih baik (UI-Islam, Khan, & Park,
2012a; UI-Islam, Khan, & Park, 2012b). Jaringan fibril mengandung serat nano tiga
dimensi yang tersusun dengan rapih yang dapat memperoduksi lembaran BC
dengan luas area dan porositas yang tinggi (UI-Islam et al.,2012a). Lebih jauh lagi,
kristalinitas dan kekuatan mekanikal dari BC lebih tinggi daripada selulosa pada
tumbuhan, dimana ini mengalami peningkatan pemanfaatan dalam biomedical dan
bidang-bidang lain yang bersangkutan. Secara khusus, BC telah digunakan untuk
membalut luka, pengobatan luka bakar, pembaharuan jaringan, pergantian kulit,
mendeteksi material katalis, dan peralatan elektronik (Ciechanska, 2004; Czaja,
Krystynowicz, Bielecki, & Brown, 2006; Czaja, Young, Kawechi, & Brown, 2007).
Namun, kekurangan antibacterial, antioksidan, pengadaan dan sifat magnetic telah
mengalami penurunan kapabilitas dalam biomedical dan bidang elektronik (Kim et
al., 2011; Maria, Santos, Oliveira, & Valle, 2010).
Campuran polimer memiliki peningkatan pada sifat material dan biological daripada
polimer murni (Bloor, Donnelly, Hands, Laughlin, & Lussey, 2005; Islam et al., 2011;
Maneerung, Tokura, & Rujiravanit, 2007; Qian, 2004). Sebagai hasilnya, campuran
BC telah disintesis untuk mengatasi keterbatasan dan meningkatkan
pengaplikasiannya. Efisiensi biomedical BC telah meningkat dengan sintesis dari
campuran menggunakan polimer bioaktif, nano material, dan partikel solid.
Campuran BC memberikan antibacterial, antivirus, anti jamur,
biocompatible,penyembuhan luka, magnetic, dan sifat optikal untuk BC (Evans,
ONeill, Malyvanh, Lee, & Woodward, 2003; Kim et al., 2011 ; Maneerung et al., 2007
; Nakayama et al., 2004 ; Saibuatong & Philsalaphong, 2010; Shi et al., 2012 ; UI-
Islam et al., 2012a). Teknologi pencampuran sintesis telah mengalami kemajuan
dengan pembangunan beberapa teknik yang baru. Saat ini, campuran BC disintesis
melalui beberapa cara berdasarkan sifat alami dan ukuran dari kekuatan material.
Diantara polimer-polimer yang digunakan dalam sintesis pencampuran, chitosan
(Ch), gelatin dan kolagen (COL) telah dengan sukses berkombinasi dengan BC
untuk meningkatkan sifat biological nya, dimana grapheme oxide (GO) dan
plyanaline (PAni) meningkatkan sifat dari BC (Feng, Zhang, Shen, Yoshino, & Feng,
2010; Shi et al., 2012). Beberapa nano partikel (NPs) termasuk perak (Ag), emas
(Au), palladium (Pd), besi oksida (FeO), platinum (Pt), dan titanium oksida (TiO
2
)
telah dimanfaatkan dalam pencampuran BC untuk beberapa jenis aplikasi (Evans et
al., 2003 ; Maneerung et al., 2007 ; Serafica, Mormino, & Bungay, 2002; Zhang et al.,
2010). Sebagai contoh, BC-Ag telah disintesis melalui beberapa strategi sintesis
untuk memberikan aktivitas antibakteri pad BC, dimana hasilnya mengalami
peningkatan ketika digunakan untuk membalut luka. BC-Pd, BC-Pt, BC-Au, dan BC-
FeO telah dikenalkan sifat keadaan pada lembaran BC yang dimanfaatkan dalam
biosensor, peralatan display, kertas elektronik, kertas keamanan, dan katalisis
(Evans et al., 2003; Maneerung et al., 2007; Zhang et al., 2010).
Sejak BC memiliki banyak aplikasi, penggabungan dasar sintesis mendekati pada
peningkatan produksi, isu lingkungan dan kebutuhan industry adalah hal yang
penting. Terlebih lagi pendekatan untuk mengatasi batasan yang berhubungan
dengan BC murni harus diketahui sebelum proses menuju aplikasi di lapangan. Oleh
karena itu, keterkaitan pengetahuan pada jalan yang memungkinkan sintesis
campuran BC dan pro-kontra nya dapat mengawali kemajuan material-material ini
pada aplikasi yang spesifik. Studi kritikus literature hingga saat ini memberikan
pernyataan bahwa strategi pembangunan pencampuran BC ditentukan oleh
penguatan alami material dan aplikasi yang diinginkan.
Upaya sebelumnya pengidentifikasian kelemahan BC murni, tahapan pembangunan
campuran BC untuk mengatasi batasan dan pedekatan menuju aplikasi secara nyata
pada campuran BC menyediakan sebuah platform untuk mengerti kemajuan
keseluruhan dalam bidang ini hingga sekarang. Dalam review saat ini, kita
merangkum beberapa upaya yang telah membuat untuk menjadi murah dan
peningkatan produksi BC, beberapa jalan telah meningkatkan untuk sintesis
campuran BC, pro dan kontra dari ketersediaan strategi sintesis campuran, kelas
pada campuran BC, dan aplikasi pada campiran ini. Untuk pengetahuan kami yang
terbaik, tidak seperti investigasi keberlanjutan yang sebelumnya dilakukan untuk
campuran BC. Oleh karena itu, review ini akan menyediakan ide untuk peningkatan
statregi untuk pemisahan campuran BC dengan aplikasi yang spesifik
.
2. Material Komposit

Komposit pada dasarnya tersusun atas 2 material yang berbeda. Kedua
material tersebut berfungsi sebagai matriks dan material penguat. Komponen matriks
dijadikan sebagai bahan dasar atau rangka untuk menopang material penguat.
Komponen penguat memberikan peningkatan kualitas dari material komponen
matriks secara fisiko-kimia dan biologis. Reaksi yang sinergis antar kedua material
tersebut menghasilkan sifat material yang tidak terkandung dalam kedua material
secara terpisah. Dengan jumlah atau variasi komponen matriks dan penguat yang
luas, dapat memungkinkan terbentuknya sintesis material komposit dengan sifat
yang optimal. Terdapat banyak bahan dan komposit natural yang digunakan, akan
tetapi material komposit pertama yang diproduksi adalah fiberglass yang dikenalkan
oleh Owrns Corning pada tahun 1935. Kombinasi fiberglass dengan polimer plastik
menghasilkan struktur yang jaul lebih kuat dan dijadikan sebagai dasar untuk industri
fiber reinforced polymer (FRP).
Komposit polimer mendapatkan perhatian yang besar dikarenakan sifat
fisiko-kimia yang diperkuat serta aplikasinya yang banyak pada bahan polimetrik
yang dikompositkan. Bahan penguat yang berbeda sifat alaminya seperti partikel
tanah liat, oksida logam, karbonat, dan material berserat tidak hanya memperkuat
polimer, namun juga menambahkan sifat biologis pada komposit polimer. Selulosa
digunakan sebagai material penguat dan juga matriks. Jaringan fibrosa yang
tersusun secara struktural dapat mengurung NPs sehingga dapat dijadikan matriks.
Sama halnya dengan selulosa nanofiber yang dapat memperkuat material polimetrik
maupun non polimetrik, sel, dan jaringan. BC mempunyai sifat fisika dan kimia yang
menyerupai selulosa dari tumbuhan. Dengan demikian BC dapat digunakan untuk
membentuk beberapa matrial komposit untuk berbagai macam aplikasi.

3. Sintesis komposit BC

3.1 Selulosa Bakteri

BC diproduksi dari berbagai macam media sintetik dan non sintetik
dari asam asetat yang memproduksi bakteri seperti Acetobacter xylinus
dan Acetobacter hansenii. Selama proses sintesis, rantai glukosa yang
terproduksi dalam sel bakteri dieksresikan melalui pori-pori kecil yang
terdapat pada plasma membran dan dinding sel. Kemudian, rantai
glukosa tersebut membentuk mikrofibril yang kemudian terkumpul
membentuk pita selulosa yaitu nanofiber. Nanofiber ini kemudian
membentuk jaringan terstruktur dengan terdapat banyak ruang kosong
antar serat. nanofibril yang terpisah-pisah tersebut kemudian membentuk
luas permukaan yang luas dengan porositas yang tinggi. Nanofiber yang
tersusun secara terstruktur, alami, luas permukaan yang besar, dan
variabel porositas gemoteris membuat BC memiliki sifat-sifat yang
menakjubka. Sifat-sifat tersebut adalah kekuatan mekanik yang tinggi,
kristalinitas yang lebih baik, kapasitas menampung air yang lebih besar,
kemammpuan modifikasi kimia yang luas, biodegradable, biocompatible,
dan kemampuan untuk membentuk striuktur 3 dimensi selama sintesis.

3.2 Pendekatan sintetik dan tren dalam produksi BC

Pada dasarnya, BC dapat dihasilkan dengan memanfaatkan
mikroorganisme yaitu bakteri sebagai biomassa. Dalam bakteri tersebut,
glukosa akan disintesis menjadi selulosa. BC dapat disintesis melalui
berbagai macam metode, dimana dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu
kultur statis dan teragitasi. Pada kultur statis, BC diproduksi pada
interfase udara-air sebagai perkumpulan dari kristalin yang membentuk
lapisan yang kemudian membentuk gel yang meningkat ketebalannya
seiiring dengan pertumbuhan waktu kultivasi. Lapisan tipis tersebut
kemudian bertumbuh ke bawah hingga seluruh sel terperangkap alam
lapisan tersebut menjadi inaktif atau mati dikarenakan defisit oksigen.
Aplikasi medis dan yang lainnya memanfaatkan lembaran BC yang
dihasilkan melalui kultur statis ini. Akan tetapi, proses sintesis BC dengan
kultur statis memilikki yield yang rendah sehingga produksi pada tahap
komersial menjadi tidak begitu efektif. Dengan demikian, tujuan utama
pada riset mengenai BC adalah untuk meningkatkan yield dalam proses
produksi BC. Beberapa metode telah diajukan untuk mengubah glukosa
dari mikroba menjadi selulosa. Beberapa pendekatan tersebut meliputi
insitu pH control, controlled side production formation, modifikasi reaktor,
dan yang lainnya.
Pendekatan alternatif lainnya dalam produksi BC adalah dengan
direndamkan pada fermentasi melalui kultivasi teraerasi atau teragitasi.
Pada saat ini, produksi BC secara komersial dilakukan dengan metode
fermentasi teragitasi, dimana pada prosess sintesisnya, selulosa
dihasilkan dalam bentuk pellet atau granul. BC dalam bentuk pellet ini
menghasilkan selulosa dengan derajat polimerisasi yang rendah,
kekuatan mekanik yang lebih rendah, dan kristalinitas yang lebih rendah
dibandingkan dengan sintesis pada kultur statis. Akan tetapi, proses
produksi pada kultur teragitasi lebih cepat dibandingkan dengan sintesis
pada kultur statis. Sel dengan densitas dinggi dan kontak dengan oksigen
yang lebih banyak mengakibatkan produksi dengan volumetrik yang lebih
tinggi.
Saat ini, riset sedang dilakukan untuk mengidentifikasi bahan baku
yang ekonmis untuk memproduksi BC. Beberapa terobosan telah
ditemukan untuk menunjukkan hasil yang sifnigikan dalam proses
produksi BC dari limbah fermentasi beer, pertanian, molasses, buah-
buahan, dan tekstil berbahan wol. Efek penambahan beberapa karbon
dari berbagai sumber mengarahkan pada produksi BC. Riset terdahulu
yang ditujukan untuk meningkatkan produksi BC melalui kultur statis dan
teragitasi menggunakan sumber karbon, bahan ekonomis alternatif, dan
material tambahan dapat dilihat dari tabel dibawah ini.



3.3 Aplikasi dan batasan BC

Sifat BC yang unik membuat BC dikembangkan untuk menghasilkan
produk komersil. Produk komersil yang memanfaatkan BC meliputi ban,
membran headphone, diafragma speaker, kertas berkualitas tinggi, make-
up pads, dan tekstil. Aplikasi paling menarik dari BC ada pada bidang
biomedis, dimana dimanfaatkan sebagai bahan pembalut, implan kulit,
cangkok vaskular, rangka untuk jaringan, pembuluh darah artifisial,
bantalan medis, dan implan gigi. Biofill, membran yang dihasilkan dari BC
digunakan sementara untuk pengganti kulit bagi pasien yang mengalami
luka bakar. BC juga digunakan untuk sumber material bagi membran
pertukaran ion untuk fuel cell. Terlebih lagi, BC juga dimanfaatkan
sebagai bahan sensor biodegradabel dan biokompatibel.
Modifikasi perlu dilakukan untuk menignkatkan kualitas dari material
untuk aplikasi-aplikasi yang berbeda. Sama dengan polimer, BC memilikki
batasan-batasan tertentu sehingga tidak dapat diaplikasikan untuk
bidang-bidang tertentu. Sebagai contoh, BC merupakan bahan pembalut
yang sangat baik dan memberikan kelembaban yang memungkinkan
untuk penyembuhan cepat. Akan tetapi, BC tidak memilikki perlindungan
antimikroba untuk mencegah infeksi. Terlebih lagi, apabila pembalut luka
merupakan material dengan sifat antioksidan, maka pembalut tersebut
dapat memberukan perlindungan bagi spesi yang reaktif dengan oksigen.
Selain itu, BC juga tidak memilikki konduktifitas, sifat magnetik, dan
hidrofobik sehingga tidak bisa secara langsung dimanfaatkan sebagai
bahan-bahan elektronik.

3.4 Keperluan komposit BC

Keterbatasan-keterbatasan diatas menunjukkan aplikasi BC yang
terbatas pad bidang tertentu, sehingga BC perlu disintesis dengan bahan
lain untuk membentuk material komposit. Dikarenakan strukturnya yang
kuat, BC memilikki potensi yang besar untuk dijadikan material matriks
dan penguat dalam sintesis material komposit. BC telah disintesis
membentuk material komposit yang bermacam-macam untuk
meningkatkan sifat mekanik, biologis, konduktifitas, magnetik, dan
aplikasi biomedis. Pada tabel 2, terdapat bermacam-macam komposit BC
yang disintesis melalui metode sintesis yang bermacam-macam dimana
komposit yang dihasilkan memilikki sifat tambahan yang tidak dimilikki
pada BC murni.


4. Pendekatan untuk sintesis komposit BC
Komposit polimer disintesis melalui berbagai metode tergantung pada sifat
polimer dan penggabungnya. Strategi sintesis juga bervariasi dengan aplikasi yang
dibutuhkan. Secara umum, ada dua pendekatan dasar sintesis komposit, in situ dan
ex situ. Dalam metode in situ menggunakan penambahan bahan penguat untuk
polimer selama sintesis, yang kemudian menjadi bagian dari struktur polimer. Dalam
sintesis ex situ, matriks polimer diresapi dengan bahan penguat untuk menghasilkan
komposit. Teknik ini dapat dijabarkan lebih lanjut berdasarkan sifat dari agen
menggabungkan dan pendekatan pembangunan. BC adalah biopolimer yang dapat
dipakai pada semua teknik tersebut untuk sintesis polimer. Di sini, kita mencoba
untuk rekapitulasi sebuah pendekatan umum digunakan untuk beberapa BC
komposit sintesis untuk berbagai aplikasi. Perbandingan dari ketiga pendekatan
berdasarkan kelebihan dan kekurangan mereka dalam Tabel 3.
4.1 in situ BC sintesis komposit
Metode ini menggunakan pendekatan synthesic di mana material penguatan
ditambahkan ke media kultur SM di awal proses sintetis SM . Mikrofibril BC menjadi
lebih padat dengan waktu dan menghasilkan struktur berbentuk web yang dapat
menangkap berbagai bahan yang ditambahkan ke BC media yang sintetis . Bahan
encaged menjadi bagian dari jaringan urat saraf BC. Sebuah diagram skematik yang
menunjukkan sintesis BC komposit melalui strategi in situ disediakan pada Gambar 1
. Beberapa penelitian telah memberikan contoh pembentukan in situ komposit SM .
Misalnya, saibuatong dan Phisalaphong disintesis BC - lidah buaya film komposit
dengan menambahkan berbagai jumlah dari lidah buaya ke BC Media sintetik
dibudidayakan dalam kondisi statis . Komponen lidah buaya yang terperangkap
dalam fibril BC dan komposit yang dihasilkan memiliki fisik - mekanik sifat unggul .
Demikian pula , nanotube karbon berdinding multi- ( CNT ) yang ditambahkan ke
media sintetis dan diinkubasi selama dua minggu . Analisis struktural menunjukkan
bahwa CNT terjebak antara urat saraf SM. Baru-baru ini dilaporkan BC - komposit
dengan air larut poli - 3 - hidroksibutirat ( PHB ) disusun dengan menggunakan
sebuah strategi sintesis komposit in situ . Selain itu awal dari berbagai konsentrasi
PBH tidak hanya produksi BC terpengaruh , tetapi juga mengubah morfologi dan
crytallinity BC . Beberapa contoh lain dari bahan komposit BC disintesis melalui in
situ komposit strategi sintesis juga tersedia .

































Sintesis komposit melalui budaya statis BC agak sulit karena partikel hanya
tetap tersuspensi di media sintetis SM untuk waktu yang singkat . Dalam budaya
statis , lembar BC terbentuk pada permukaan media pada antarmuka udara. Setelah
diendapkan atau bergerak lebih rendah di media , partikel tidak bisa terperangkap
dalam serat SM permukaan . Beberapa strategi telah diterapkan untuk mengatasi
masalah ini , termasuk sintesis komposit. Budaya Agitasi menyediakan lingkungan
yang jauh lebih baik untuk bahan tambahan agar terperangkap dalam fibril SM . Hal
ini karena gerakan konstan di media mencegah partikel fro menetap . Pembentukan
BC homogen dan distribusi jebakan partikel tetap konstan . Sintesis komposit BC
dengan berbagai bahan yang terperangkap di dalam BC diproduksi melalui kultur
agitasi menggunakan disk berputar yang dirancang khusus . Kepadatan partikel
menembus tergantung pada ukuran partikel , kecepatan rotasi dan konsentrasi
suspensi . Di situ SM teknik sintesis komposit adalah pendekatan yang paling
banyak digunakan yang mempekerjakan berbagai modifikasi dalam peralatan agitasi
dan metode operasi . Namun, teknik ini memiliki keterbatasan tertentu yang
mencegah sintesis banyak komposit SM . Contoh , beberapa bioaktif penting (
antibakteri ) agen ( Ag , ZnO , TiO2 dll ) tidak dapat ditambahkan ke media karena
efek beracun terhadap mikroorganisme . Selain itu , BC komposit disintesis melalui
kultur agitasi tidak dapat diterapkan sebagai gel atau lembaran dalam aplikasi
biomedis , sedangkan gel / lembar terbentuk dalam budaya statis tidak dapat
menjebak bahan penguat untuk sintesis komposit .
4.2 Ex -situ komposit BC sintesis
Masalah yang terkait dengan in situ BC sintesis komposit dapat diselesaikan dengan
memasukkan cairan dan NP ke dalam matriks struktural dari BC disiapkan . Interaksi
fisik atau terjadi melalui ikatan hidrogen yang pasti antara SM dan penguatan materi
. Zat cair dan partikel padat kecil dapat dengan mudah menembus dan menjadi
mudah dalam BC matriks berpori . Selain absorbansi fisik ini , adanya gugus OH
dalam rantai selulosa menghasilkan ikatan hidrogen dengan bahan penguat. Strategi
ini jauh lebih sederhana dan lebih berharga dari pada in situ komposit strategi
sintesis . Faktor yang paling penting dalam memanfaatkan metode ini untuk sintesis
komposit adalah bahwa struktur asli dari BC tetap hampir sepenuhnya tidak berubah
. Lembar BC diperoleh melalui budidaya statis biasanya digunakan untuk sintesis
komposit , yang dapat secara efektif digunakan dalam aplikasi industri biomedis dan
lainnya . Oleh karena itu , strategi telah diterapkan ke sejumlah BC komposit ,
termasuk yang terbentuk dari polimer , bahan anorganik , logam dan logam oksida.
Sifat BC yang berbeda dipengaruhi oleh bahan penguat . Studi kami dari BC- Ch
komposit digambarkan bahwa molekul Ch menembus matriks BC dan
dikombinasikan melalui interaksi ikatan hidrogen yang kuat antara gugus OH dan NH
. Komposit diperkuat fibril BC dengan meningkatkan sifat mekanik mereka. Komposit
BC dibentuk dengan gelatin , hidroksiapatit ( HA ) , dll, yang disintesis melalui
strategi yang sama meningkatkan aplikasi biomedis mereka. Untuk mencapai hal ini ,
lembar BC basah disimpan dalam larutan polimer untuk jangka waktu yang berbeda
untuk memastikan penetrasi yang cukup dan lampiran dari polimer ke SM . Sejumlah
komposit BC telah disintesis dengan bahan anorganik dengan menggunakan strategi
sintetis yang sama untuk aplikasi yang berbeda . Kegiatan antibakteri dari BC yang
ditingkatkan melalui penggabungan Ag NP ke lembar SM . Komposit disusun melalui
rute hijau tanpa menggunakan pereaksi kimia , memanfaatkan SM baik sebagai
agen mengurangi dan menstabilkan . Potongan BC dibilas dengan larutan AgNO3
dan kemudian dipanaskan perlahan memungkinkan untuk produksi hidrotermal Ag
NP . Partikel disimpan dalam matriks Bc yang menghasilkan kegiatan antibakteri
yang tinggi . BC - Pd , BC- CNT dan BC- MMT komposit disintesis melalui ex situ
untuk strategi yang sama dalam produksi komposit .
Hambatan utama yang terkait dengan komposit in situ strategi ex sintesis adalah
ukuran dan sifat dari bahan penguat . Secara khusus , hanya submikron bahan
nanosized dapat diresapi ke BC matriks . Hal ini karena partikel yang lebih besar
tidak bisa masuk ke pori-pori SM dan bahan hidrofobik tidak dapat menggabungkan
dengan BC . Selain itu , susunan struktural dari fibril BC tidak selalu seragam ; Oleh
karena itu , bahan penetrasi mungkin tidak homogen didistribusikan di dalam matriks
BC . Dengan demikian , ada kebutuhan untuk mengidentifikasi baru rute BC sintesis
komposit untuk menyelesaikan masalah ini .
4.3 sintesis dari larutan terlarut BC
Pembentukan komposit BC dari larutan terlarut BC adalah pendekatan yang lebih
baik yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai komposit BC dengan
berbagai bahan . Selain itu, komposisi matriks dan penguatan materias dapat
dengan mudah dikontrol . Distribusi homogen dan pencampuran salah satu
pasangan juga mungkin. Skema umum untuk BC pengembangan komposit melalui
pendekatan ini ditunjukkan pada Gambar . 1 . Masalah utama yang terkait dengan
metode ini adalah kelarutan terbatas SM . Memang , BC sangat sulit larut, karena
tidak larut dalam air dan paling banyak digunakan pelarut organik . Hal ini juga tidak
larut dalam pelarut non polar karena sifat polar. Ikatan hidrogen yang kuat antar dan
intra molekul dan kristalinitas tinggi BC telah diusulkan sebagai kemungkinan alasan
untuk kelarutannya rendah . Perilaku yang tidak biasa ini telah menciptakan minat
yang besar dalam mempelajari kelarutan dan modifikasi lebih lanjut . Namun,
beberapa kelas senyawa sepenuhnya dapat melarutkan BC . Beberapa pelarut ini
meliputi N - Methy morpholine N - oksida ( NMO ) , cairan ionik , ZnCl2 ( 3H2O ) ,
NaOH dan LiOH / urea / tiourea . Pelarutan BC dapat dengan mudah digunakan
untuk mensintesis film SM , microfiber , nanofibers , nanocrystals dan material
komposit . Disiapkan film BC regenerasi dari BC dilarutkan dalam NMMO untuk
memiliki pengaturan urat saraf seragam dengan sifat mekanik dan termal yang tinggi
. Pembubaran sukses BC dan sintesis film regenerasi telah menghasilkan bunga
yang luar biasa dalam pemanfaatan metode ini untuk persiapan komposit . Bahan
yang berbeda ditambahkan untuk membubarkan BC dapat dicampur dengan baik
dalam larutan BC dan diproses dengan mudah untuk menghasilkan film komposit
atau serat. Pendekatan ini belum intens diterapkan untuk komposit BC , tetapi telah
secara komprehensif digunakan untuk sintesis berbagai komposit polimer dengan
bahan anorganik termasuk tanah liat , logam dan NP . Selain itu, kami baru-baru
disintesis RBC - ZnO komposit menggunakan teknik yang sama dan
nanocomposites RBC - ZnO ditemukan memiliki termal , mekanik dan sifat
antibakteri enchanced . Komposit yang dihasilkan melalui metode ini memiliki
interaksi kuat antara SM dan bahan penggabungan ; sesuai, pendekatan ini akan
sangat berguna dalam strategi masa depan pengembangan komposit BC .

5. Kelas dari BC Komposit
BC komposit disiapkan dengan menggunakan bahan-bahan dari
polimer sampai NPs. Berdasarkan asal dari bahan material tersebut, BC
komposit dapat dibedakan menjadi material organik dan material anorganik.
Selanjutnya kedua kelas utama ini dapat dibedakan lagi menjadi sub-kelas
BC komposit dengan polimer, NPs, logam, oksida logam, lilin, dan partikel
padat berukuran besar. Berikut ini adalah sketsa dan gambar dari klasifikasi
BC komposit :

Fig2. (a) Klasifikasi umum dari komposit BC dengan berbagai material organik dan
inorganik
(b) Foto FE-SEM dari beberapa komposit BC termasuk BC-Ch (a), BC-Au (b) dan
BC-MMT (c).

5.1 BC Komposit dengan Polimer
Sebagai biopolimer, BC diutilisasi dalam sintesis berbagai macam
komposit dengan beberapa material polimer. Ada beberapa contoh BC
komposit dengan biopolimer yang menuju pada perkembangan dalam
aplikasi biomedical, properti psiko-mekanikal, dan kapabilitas konduksi dari
BC. Progres dari sintesis komposit dihadapkan pada situasi limitasi aplikasi
BC dalam berbagai bidang, misalnya antimicrobial, antioksidan,
penyembuhan luka, dan kapabilitas konduksi.
Sintesis dari BC-Ch komposit didasarkan pada peran aktif dari Ch
pada biomedical. Chitosan telah lama dikenal sebagai aktifitas spectrum,
contohnya absorpsi dari penyembuhan luka, efek dari penyembuhan luka,
anti-mikrobial, anti-fungal, dan properti anti-viral. Komposit dari BC dengan
Ch telah disiapkan baik in situ maupun ex situ metode penetrasi. Kesamaan
struktur dan kehadiran dari gugus O-H dan N-H memproduksi ikatan yang
kuat antara molekul BC dan Ch. Lebih jauh lagi, BC-Ch komposit
menunjukkan perkembangan pada property physio-mekanik dan biomedical.
BC komposit dengan gelatin didasarkan pada strategi yang sama dengan
BC-Ch. Komposit dari BC-Gelatin bisa diaplikasikan dalam industri medis
untuk meningkatkan adhesi dan perkembangbiakan sel. Beberapa
biopolymer yang lain bisa dikombinasikan dengan BC untuk meningkatkan
aplikasi biomedical termasuk BC-COL, BC-Alginate, dan Novo aloe vera.
Dapat ditambahkan dari contoh-contoh diatas, beberapa komposit
BC-Polimer disintesis untuk meningkatkan beberapa aplikasi BC. BC-
Polimerik komposit dapat meningkatkan secara signifikan property termal,
fisikal mekanikal, dan biologikal dari BC.
5.2 BC komposit dengan logam dan oksida logam
Logam dan oksida logam adalah kelas material yang terpisah yang
telah mendapatkan banyak perhatian karena sifat-sifatnya yang istimewa.
Ukurannya yang kecil, bermuatan, dan sifat-sifat lainnya menghasilkan
karakteristik-karakteristik spesifik yang dibutuhkan oleh material polimer.
Karena itu, inkorporasi logam dan oksida logam ke dalam material polimer
telah dilakukan sejak dulu. Sifat-sifat yang menonjol dari partikel logam
adalah konduktivitas dan kapasitas magnetiknya, aktivitas foto-oksidasi, dan
sifat antimikroba (Qian, 2004). Logam dan oksida logam telah digunakan
secara ekstensif dalam komposit polimer untuk menghasilkan sifat-sifat
elektrik, optis, konduksi, dan antimikroba pada polimer. Seperti material
polimer lainnya, BC dapat digunakan untuk membuat komposit dengan logam
dan logam oksida melalui berbagai metode sintesis. Berikut akan dibahas
beberapa komposit BC-logam dan logam oksida serta metode sintesis dan
aplikasinya.
Contoh pertama adalah nankomposit BC-Ag. Komposit ini disintesis
dengan tujuan utama untuk menanamkan sifat antibakterial pada BC.
Maneerung, dkk (2007) menyiapkan nanokomposit BC-Ag dengan cara
menyelupkan lembaran-lembaran BC dalam larutan AgNO
3
yang telah
direduksi dengan NaBH
4
untuk menghasilkan logam Ag. Nanopartikel Ag
yang teradsorbsi pada permukaan BC diamati dengan spektroskopi UV dan
XRD. Nanokomposit BC-Ag menghasilkan pengaruh antibakterial yang
sangat kuat terhadap spesies bakteri gram positif dan gram negatif
(Maneerung,dkk, 2007).
Berikutnya, komposit BC dengan logam emas. Komposit BC-Au
disiapkan melalui teknik-teknik yang spesifik dan digunakan untuk bio-
sensing dan bio-devices. Zhang, dkk (2010) menggunakan serat-serat nano
(nanofiber) BC sebagai biotemplates untuk sintesis nanokomposit BC-Au.
Dalam penelitian mereka, pelikel (semacam lembaran-lembaran tipis) BC
dipecah-pecah untuk memisahkan nanofiber BC, lalu nanopartikel logam
emas disimpan ke dalam serat-serat BC tersebut. Komposit ini memiliki
potensi untuk digunakan dalam immobilisasi enzim dan sistem bioelektronik.
Sifat menonjol lainnya dari partikel logam adalah konduktivitas dan
sifat kemagnetannya. Contoh komposit BC dengan logam yang
memanfaatkan sifat tersebut adalah komposit BC-Pd. Komposit ini disintesis
melalui deposisi logam pada permukaan BC dengan cara mencelupkan BC
dalam larutan amonium heksakloropaladat. Ion-ion logam dalam larutan
direduksi oleh selulosa dan menghasilkan coating (pelapisan) pada
permukaan BC. Nanokomposit BC-Pd ternyata dapat menjadi katalis dalam
reaksi pembentukan gas hidrogen ketika diinkubasi dengan natrium dithionit.
Penelitian lainnya mengenai nanokomposit BC dengan logam adalah
nanokomposit BC-Pt. Penelitian menunjukkan bahwa nanokomposit ini
memiliki efisiensi konduksi yang signifikan dan dapat digunakan sebagai sel
bahan bakar dan biosensor. Sintesis nanokomposit BC-Pt dilakukan melalui
metode deoksidisasi kmia fase cair. Komposit ini memiliki aktivitas elektro-
katalitik yang tinggi.
Selain logam, beberapa oksida logam juga telah dikombinasikan
dengan BC untuk meningkatkan aktivitas biologis dan konduktivitasnya.
Contohnya, nanokomposit BC-oksida titanium. Sintesis nanokomposit ini
dilakukan oleh Gutierrez, dkk (2012). Dalam penelitiannya, mereka
menyiapkan nanopartikel TiO
2
dengan metodel sol gel. Kemudian
nanopartikel ini dimasukkan ke dalam membran hidrofilik BC. Ikatan hidrogen
mengikat dengan kuat nanopartikel-nanopartikel TiO
2
tersebut di antara
serat-serat BC. Nanokomposit BC-oksida Ti ini memiliki daya hantar listrik
yang baik.

5.3 BC komposit dengan material padat
Percobaan telah banyak dilakukan untuk mengkombinasikan banyak
partikel berukuran mikro hingga nano dengan BC untuk mengakselerasi
efisiensinya dan meningkatkan kegunaannya dala aplikasi. Dari beberapa
material tanah liat, partikel silica(Si) dan karbonat telah memproduksi efek
yang berguna. Beberapa komposit tersebut dapat dideskripsikan berikut.
Partikel tanah liat dengan ukuran mikro hingga nano yang diperkaya
dengan mineral yang istimewa. Diantara partikel-partikel tersebut,
montmorrilonite (MMT) telah menjadi popular dengan kemampuannya dalam
aplikasi biomedical dan properti penguat polimer. Oleh karena itu, beberapa
bentuk tanah liat telah diutilisasi sebagai bahan penguat dalam komposit
polimer tanah liat. Penelitian telah membuktikan bahwa terjadi peningkatan
hingga sepuluh kali lipat dalam properti mekanik diikuti dengan pembesaran
matriks polimer dengan partikel tanah liat. Tanah liat ini dan hasil produknya
telah digunakan dalam aplikasi medis tanpa ada efek samping seperti
perlindungan kulit, pembersih dan anti bacterial, serta imobilisasi sel toxin
yang diproduksi beberapa bakteri dan penyembuhan luka yang sangat efektif
dan kemampuan pembekuan darah. Lebih jauh lagi, komposit polimer tanah
liat dapat disintesis tanpa menggunakan pelarut organik yang beracun atau
mahal.
Kita mempersiapkan BC-MMT komposit dengan cara pembesaran ex
situ partikel MMT di dalam jaringan MMT dengan tujuan untuk
mengkombinasikan properti BC dan MMT yang diinginkan untuk
mendapatkan suatu biomaterial dengan properti fisio-mekanika yang telah
ditingkatkan untuk beberapa aplikasi. Komposit tersebut menghasilkan
properti termal dan mekanik yang lebih tinggi dibandingkan dengan BC biasa.
Dengan memikirkan pertukaran ion pada MMT, kita lebih jauh lagi melanjuti
pekerjaan dengan mensintesis komposit BC dengan MMTs yang telah
dimodifikasi. Dalam penelitian tersebut, komposit BC dengan Ca-MMT, Na-
MMT, dan Cu-MMT telah disiapkan dan kemampuan antibacterial nya pun
telah diinvestigasi. BC-MMT komposit ini sangat berperan dalam biomedical
dan industri lainnya.
Selain itu, terdapat juga BC komposit yang telah dikembangkan
secara in situ dan ex situ dengan menggunakan partikel silica. BC-Si
komposit yang diproduksi dengan cara in situ memiliki properti mekanik yang
lebih rendah dibandingkan dengan yang diproduksi dengan cara ex situ. BC-
Si komposit dibuat dengan merendam gel BC ke dalam larutan
tetraethoxysilane dan kemudian direaksikan pada suhu 120
o
C dan tekanan
2MPa. Hasilnya properti mekanik dari BC-Si akan meningkat secara
signifikan dengan kenaikan 7% dari partikel Si.

6.2 Conducting materials and electrical devices
Selulosa bakteri terdiri dari jaringan fibril tiga dimensi, yang terlihat serupa
dengan kertas yang dikeringkan, potensi dari selulosa bakteri sebagai bahan
pengganti untuk alat opto elektronik fleksibel dan fotonik, telah melalui beberapa
peninjauan. Karena sifatnya yang tidak konduktif di alam, selulosa bakteri dapat
dikonversi menjadi lembaran konduktor dengan penyatuan dengan material material
konduktor lain. Kemudian, lembaran selulosa bakteri yang bersifat konduktif diberi
pewarna elektrokromi dan selanjutnya akan bisa dihubungkan dengan elektroda.
Contohnya adalah (OLED) Organic Light Emitting Diode, yang sudah digunakan
pada beberapa perangkat elektronik didasarkan pada selulosa dari bakteri. Komposit
selulosa bakteri dengan Graphene-Oxide (BC-GO) sangat membantu dalam
meningkatkan sifat konduktif dan sifat mekanis, dengan begitu, BC-GO yang bersifat
fleksibel ini merupakan material tingkat tinggi sebagai kandidat yang dapat
digunakan dalam bidang biokimia dan elektrokimia.
6.3 Separation and waste purifications
Selulosa bakteri memiliki potensi untuk diaplikasikan sebagai membrane
untuk media pemisahan dan atau pemurnian, bila dimodifikasi dengan beberapa
material khusus. Membran komposit dari selulosa bakter dipersiapkan dengan
modifikasi menggunakan asam akrilik (Acrylic-Acid) dengan kapasitas pertukaran
ion. Membran komposit Selulosa bakteri dengan asam akrilik memiliki kelebihan dari
sifat elektrokimia bila dibandingkan dengan membrane lain. Seperti absorpsi
sempurna terhadap logam, kemapuan untuk berikatan dengan ion logam. Dan
pemisahan sisa-sisa logam. Penggunaan selulosa bakteri dengan bahan yang dapat
terurai di alam merupakan solusi efektif, Karena pembuangannya tidak merusak
lingkungan.
6.4 Composites with mechanical strength for industrial application
Material komposit selulosa bacteria dengan memiliki ketahanan material
tinggi, memiliki potensial untuk diaplikasikan pada berbagai macam jenis industri,
dalam studi terkait, selulosa bakteri dipersiapkan dengan penambahan glukosa
fosfat bersama dengan glukosa pada media kultur, dalam sistem ini, fosfat tergabung
dalam gel selulosa. Selulosa bakteri yang mengandung fosfat tersebut, kemudian
digunakan untuk mensisntesis komposit dengan bubur kayu saat pembentukan
lembaran kertas.

7. Kesimpulan
Komposit selulosa bakteri telah berkembang menjadi sesuatu yang penting
untuk perkembangan hydrogel dari selulosa, yang dapat diaplikasikan di banyak
bidang. Selain itu, untuk meningkatkan sifat dari selulosa yang ada, material
komposit dimodifikasi dengan selulosa bakteri, agar dapat digunakan luas di industri.
Perkembangan dari selulosa bakteri, dari segi sintesis komposit, perkembangan dari
sisi sifat kimia, fisika, biokimia, dan elektrokimia juga amat berperan dalam
perkembangan selulosa bakteri, termasuk sifatnya yang ramah lingkungan


DAFTAR PUSTAKA
1. Shah, Nasrullah. Ul-Islam, Mazhar, dkk. 2013. Jurnal Overview of bacterial
cellulose composites : A multipurpose advanced material. Korea :
ELSEVIER.
2. Dufresne, Cellulose-Based Composites and Nanocomposites, in Monomers,
Polymers and Composites From Renewable Resources, M. N. Belgacem and
A. Gandini, Eds., Elsevier, Amsterdam, Netherlands, 2008.
3. D. Klemm, B. Heublein, H.-P. Fink, and A. Bohn, Cellulose: fascinating
biopolymer and sustainable raw material, Angewandte Chemie, vol. 44, no.
22, pp. 33583393, 2005. View at Publisher View at Google Scholar View
at Scopus
4. T. Heinze and T. Liebert, Celluloses and polyoses/hemicelluloses,
in Polymer Science, M. Krzysztof and M. Martin, Eds., Elsevier, Amsterdam,
Netherlands, 2012.
5. D. Klemm, F. Kramer, S. Moritz et al., Nanocelluloses: a new family of
nature-based materials,Angewandte Chemie, vol. 50, no. 24, pp. 5438
5466, 2011. View at Publisher View at Google Scholar View at Scopus
6. H. P. S. Abdul Khalil, A. H. Bhat, and A. F. Ireana Yusra, Green composites
from sustainable cellulose nanofibrils: a review, Carbohydrate Polymers, vol.
87, no. 2, pp. 963979, 2012. View at Publisher View at Google
Scholar View at Scopus
7. L. M. M. Costa, G. M. de Olyveira, P. Basmaji, and L. X. Filho, Bacterial
cellulose towards functional medical materials, Journal of Biomaterials and
Tissue Engineering, vol. 2, no. 3, pp. 185196, 2012.
8. J. M. A. Caiut, H. D. S. Barud, Y. Messaddeq, and S. J. L. Ribeiro, Optically
transparent composites based on bacterial cellulose and boehmite, siloxane
and/or a boehmite-siloxane system, Patent WO/2012/100315, 2012.
9. E. Trovatti, L. Oliveira, C. S. R. Freire et al., Novel bacterial cellulose-acrylic
resin nanocomposites,Composites Science and Technology, vol. 70, no. 7,
pp. 11481153, 2010. View at Publisher View at Google Scholar View at
Scopus
10. S. Gea, E. Bilotti, C. T. Reynolds, N. Soykeabkeaw, and T. Peijs, Bacterial
cellulose-poly(vinyl alcohol) nanocomposites prepared by an in-situ
process, Materials Letters, vol. 64, no. 8, pp. 901904, 2010.View at
Publisher View at Google Scholar View at Scopus
11. I. M. G. Martins, S. P. Magina, L. Oliveira et al., New biocomposites based
on thermoplastic starch and bacterial cellulose, Composites Science and
Technology, vol. 69, no. 13, pp. 21632168, 2009. View at Publisher View
at Google Scholar View at Scopus
12. S. C. M. Fernandes, L. Oliveira, C. S. R. Freire et al., Novel transparent
nanocomposite films based on chitosan and bacterial cellulose, Green
Chemistry, vol. 11, no. 12, pp. 20232029, 2009. View at Publisher View at
Google Scholar View at Scopus
13. S. C. M. Fernandes, C. S. R. Freire, A. J. D. Silvestre et al., Transparent
chitosan films reinforced with a high content of nanofibrillated
cellulose, Carbohydrate Polymers, vol. 81, no. 2, pp. 394401, 2010. View at
Publisher View at Google Scholar View at Scopus
14. E. Trovatti, S. C. M. Fernandes, L. Rubatat, C. S. R. Freire, A. J. D. Silvestre,
and C. P. Neto, Sustainable nanocomposite films based on bacterial
cellulose and pullulan, Cellulose, vol. 19, no. 3, pp. 729737, 2012. View at
Publisher View at Google Scholar View at Scopus
15. A. L. Buyanov, I. V. Gofman, L. G. Revel'skaya, A. K. Khripunov, and A. A.
Tkachenko, Anisotropic swelling and mechanical behavior of composite
bacterial cellulose-poly(acrylamide or acrylamide-sodium acrylate)
hydrogels, Journal of the Mechanical Behavior of Biomedical Materials, vol.
3, no. 1, pp. 102111, 2010. View at Publisher View at Google
Scholar View at Scopus
16. N. Halib, M. C. I. M. Amin, and I. Ahmad, Unique stimuli responsive
characteristics of electron beam synthesized bacterial cellulose/acrylic acid
composite, Journal of Applied Polymer Science, vol. 116, no. 5, pp. 2920
2929, 2010. View at Publisher View at Google Scholar View at Scopus
17. J. Zhang, J. Rong, W. Li, Z. Lin, and X. Zhang, Preparation and
characterization of bacterial cellulose/polyacrylamide hydrogel, Acta
Polymerica Sinica, no. 6, pp. 602607, 2011. View at Publisher View at
Google Scholar View at Scopus
18. F. Kramer, D. Klemm, D. Schumann et al., Nanocellulose polymer
composites as innovative pool for (Bio)material
development, Macromolecular Symposia, vol. 244, pp. 136148, 2006. View
at Publisher View at Google Scholar View at Scopus
19. M. C. I. Mohd Amin, N. Ahmad, N. Halib, and I. Ahmad, Synthesis and
characterization of thermo- and pH-responsive bacterial cellulose/acrylic acid
hydrogels for drug delivery, Carbohydrate Polymers, vol. 88, no. 2, pp. 465
473, 2012. View at Publisher View at Google Scholar View at Scopus
20. J. Kopeek, Hydrogels: from soft contact lenses and implants to self-
assembled nanomaterials, Journal of Polymer Science A, vol. 47, no. 22, pp.
59295946, 2009. View at Publisher View at Google Scholar View at
Scopus
21. T. V. Chirila, An overview of the development of artificial corneas with porous
skirts and the use of PHEMA for such an application, Biomaterials, vol. 22,
no. 24, pp. 33113317, 2001. View at Publisher View at Google
Scholar View at Scopus
22. S. Atzet, S. Curtin, P. Trinh, S. Bryant, and B. Ratner, Degradable poly(2-
hydroxyethyl methacrylate)-co-polycaprolactone hydrogels for tissue
engineering scaffolds, Biomacromolecules, vol. 9, no. 12, pp. 33703377,
2008. View at Publisher View at Google Scholar View at Scopus
23. D. Hork, H. Hldkov, J. Hradil, M. Lapkov, and M. louf, Superporous
poly(2-hydroxyethyl methacrylate) based scaffolds: preparation and
characterization, Polymer, vol. 49, no. 8, pp. 20462054, 2008. View at
Publisher View at Google Scholar View at Scopus
24. S. Hestrin and M. Schramm, Synthesis of cellulose by Acetobacter xylinum
II. Preparation of freeze-dried cells capable of polymerizing glucose to
cellulose, The Biochemical Journal, vol. 58, no. 2, pp. 345352, 1954. View
at Scopus
25. S. C. M. Fernandes, P. Sadocco, A. Alonso-Varona et al., Bioinspired
antimicrobial and biocompatible bacterial cellulose membranes obtained by
surface functionalization with aminoalkyl groups, ACS Applied Materials &
Interfaces, vol. 5, no. 8, pp. 32903297, 2013.
26. D. Gulsen and A. Chauhan, Effect of water content on transparency,
swelling, lidocaine diffusion in p-HEMA gels, Journal of Membrane Science,
vol. 269, no. 1-2, pp. 3548, 2006. View at Publisher View at Google
Scholar View at Scopus
27. D. N. S. Hon, Chemical Modification of Lignocellulosic Materials, Marcel
Dekker, New York, NY, USA, 1996.
28. D. Klemm, Comprehensive Cellulose Chemistry: Fundamentals and
Analytical Methods, Wiley-VCH, 1998.
29. N. Nishioka, T. Itoh, and M. Uno, Thermal decomposition of
cellulose/synthetic polymer blends containing grafted products. IV.
Cellulose/poly(2-hydroxyethyl methacrylate) blends, Polymer Journal, vol.
31, no. 12, pp. 12181223, 1999. View at Scopus
30. R. K. Bose and K. K. S. Lau, Mechanical properties of ultrahigh molecular
weight PHEMA hydrogels synthesized using initiated chemical vapor
deposition, Biomacromolecules, vol. 11, no. 8, pp. 21162122, 2010. View at
Publisher View at Google Scholar View at Scopus
31. R. Prtile, S. Moreira, F. Andrade, L. Domingues, and M. Gama, Bacterial
cellulose modified using recombinant proteins to improve neuronal and
mesenchymal cell adhesion, Biotechnology Progress, vol. 28, no. 2, pp.
526532, 2012. View at Publisher View at Google Scholar View at Scopus
32. M. E. Gomes, T. Rada, and R. L. Reis, Adipose tissue-derived stem cells
and their application in bone and cartilage tissue engineering, Tissue
Engineering B, vol. 15, no. 2, pp. 113125, 2009. View at Publisher View at
Google Scholar View at Scopus
33. A. Sterodimas, J. De Faria, B. Nicaretta, and I. Pitanguy, Tissue
engineering with adipose-derived stem cells (ADSCs): current and future
applications, Journal of Plastic, Reconstructive and Aesthetic Surgery, vol.
63, no. 11, pp. 18861892, 2010. View at Publisher View at Google
Scholar View at Scopus