Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Sampah merupakan persoalan klasik di perkotaan. Namun, sampai saat ini masih
menjadi masalah yang serius. Disamping rendahnya kesadaran masyarakat atas kebersihan,
upaya yang dilakukan pemerintah juga belum optimal. Kalau kita lihat di beberapa tempat
pembuangan sampah sementara, pada siang hari banyak tumpukan sampah yang tidak
terangkut. Belum lagi, berapa anak sungai yang mati akibat adanya sampah yang terus
menumpuk. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh pengelola kota adalah masalah sampah.
Masyarakat sampah menurut hemat penulis adalah masyarakat yang selalu
menghasilkan sampah setiap hari. Memang sekarang ini tidak ada masyarakat yang tidak
menghasilkan sampah, perbedaannya terletak pada kemampuan masyarakat tersebut untuk
mengelola sampah, dan kemampuan itu belum terdapat dalam keseluruhan masyarakat kita.
Dinegara tetangga kita, Australia, sudah dijual bebas alat pengurai sampah dengan bantuan
cacing penghasil humus seperti cacing red worm di plaza-plaza.
Badan pemerintah yang bersangkutan dengan hal tersebut, belum dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik karena terbentur dengan pola hidup masyarakat sampah yang ada.
Teknologi untuk mengatasi sampah kalah cepat dengan fasilitas penghasil sampah. Dampak
revolusi industri telah menghasilkan plastik yang penguraiannya memerlukan waktu 500 tahun
/ kantong, sementara sebagian besar konsumsi kita dibungkus oleh bahan sintetis tersebut.
Pada masa sekarang ini generasi masyarakat sampah sudah beranak pinak memenuhi
wilayah kita. Tentunya tantangan untuk kita semua makin banyak untuk mewujudkan wilayah
yang bersih dan bungas seperti yang sedang digalakkan oleh walikota.


1.2 Tujuan dan Manfaat penulisan :
Adapun tujuan penulisan dari karya tulis ini adalah :
Sebagai wahana introspeksi diri agar mengurangi pola hidup selaku masyarakat sampah,
Untuk membuka wawasan kita terhadap masalah sampah, dan Untuk memenuhi salah satu
tugas perspektif global. Sedangkan manfaat yang dapat dikemukakan adalah menambah
pengetahuan tentang keadaan lingkungan kita dewasa ini, diharapkan dapat memberikan
ilham untuk menciptakan alat pengurai sampah untuk daerah kita, dan sebagai feed back
untuk aktivitas kita selama ini dalam hal menangani sampah.
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah dalam makalah ini adalah hanya membahas tentang masalah sampah
yang ada dikota Banjarmasin secara umum, penyebab dan dampaknya. ditambah dengan
beberapa contoh alat pengurai sampah yang ada di kota-kota besar seperti
Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
1.4 Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari 4 bab. Terdiri dari :
Bab I Pendahuluan : Latar belakang, tujuan dan manfaat penulisan, batasan masalah, dan
sistematika penulisan.
Bab II Isi :
1. Kondisi Lingkungan di Kalimatan Selatan, khususnya Banjarmasin,
2. Penyebab,
3. Dampak yang ditimbulkan,
4. Alat pengurai sampah dibeberapa kota besar lain.
Bab III Penutup terdiri dari :
Kesimpulan dan saran
Daftar pustaka

BAB II
ISI
2.1 Kondisi Lingkungan di Kalimatan Selatan, khususnya Banjarmasin
Berdasarkan data BPS pada tahun 2000, dari 384 kota yang menimbulkan sampah
sebesar 80. 235,87 ton setiap hari, penanganan sampah yang diangkut ke dan dibuang ke
Tempat Pembuangan Sampah Akhir sebesar 4,2%, yang dibakar 37,6%, yang dibuang ke
sungai 4,9% dan yang tidak tertangani sejumlah 53,3%. Di Kalimatan selatan, dengan jumlah
penduduk kota 1. 347. 527 yang tersebar di 11 kota, cakupan yang terlayani oleh adanya
pelayanan pemerintah dalam pengelolaan sampah hanya 550. 017 jiwa atau 40% (Bappenas,
2002).
Keadaan Banjarmasin sekarang yang bisa dilihat, dengar, cium, dan rasakan adalah
sampah-sampah di tempat pembuangan sampah sementara yang selalu menggunung, truk-truk
sampah yang selalu penuh bahkan kepenuhan, tempat sampah yang kadang kosong karena
adanya tumpukan atau ceceran sampah ditempat notabene bukan tempat pembuangan sampah,
kumuhnya kawasan karena dihiasi sampah, setiap hari truk sampah dan penyapu jalan bekerja.
Sungai, pojok-pojok jalan, dibawah jendela, kolong rumah, kolong jembatan, di
kampus, maupun kos-kosan tidak luput menjadi tempat pembuangan sampah, hampir tidak ada
bedanya antara tempat tinggal seorang siswa dengan gembel dibawah jembatan dari segi
sampahnya. Apalagi sekarang sebagian pelajar terjangkit virus malas membersihkan kos-
kosannya sehingga sampah-sampah yang dipermainkan kucing berhamburan begitu saja.
Banyaknya sampah-sampah yang tidak terdeteksi ini menambah lengkap penderitaan
kota Banjarmasin yang tidak lagi seribu sungai. Disalah satu sekolah di Banjarmasin pun,
sampah tidak semuanya dikelola dengan baik. Pengalaman penulis, sampah dari kantin hanya
ditumpuk begitu saja dalam kantong plastik merah sedikit tersembunyi disemak-semak depan
Aula Hasan Bondan dan tidak ada yang perduli dengan hal itu.
Mungkin tidak perlu diuraikan dengan panjang lebar bagaimana keadaan kota kita ini
karena teramat parahnya walikota sampai memasang baliho sebesar 1 x 2 meter pada
beberapa ruas jalan untuk menghimbau warga untuk menjaga kebersihan dan menciptakan
lingkungan yang bersih dan bungas.
2.2 Penyebab
Penyebab yang dapat diungkapkan dalam tulisan ini atas masalah yang dikemukakan
ada dua, secara internal dan eksternal. Secara internal diantaranya adalah pola pikir masyarakat
yang berhasil dibentuk oleh budaya pasar bebas yang tidak disadari oleh masyarakat itu sendiri
bahwa mereka dikonstruk untuk menjadi pendukung budaya konsumerisme, yang mana pusat
perbelanjaan dan kaki tangannya sebagai lambang kemodernan. Ada citra harat dan
kebanggaan tersendiri apabila sudah menenteng kresek Hypermart, Ramayana, Roberta, atau
Mangga Dua, daripada belanja di Pasar Harum Manis atau Sudi Mampir.
Sementara yang memakai bakul dari purun dianggap kampungan, padahal secara
lingkungan bakul dari purun, paikat, atau daun rumbia lebih ramah lingkungan karena dibuat
dari bahan-bahan alami. Di Kuin, barang-barang kerajinan tangan dari bahan-bahan tersebut
diatas masih dijual bebas. Memang secara kualitas lebih cepat rusak, tetapi dari segi
penguraiannya lebih cepat lingkungan daripada plastik.
Dari pola pikir berkembang menjadi tindakan, kalau internalisasi dan sosialisasi tentang
kebersihan dan penempatan sampah kurang, akan menyeret kita menjadi masyarakat sampah,
apalagi kalau ditambah dengan ketidakperdulian kita yang selalu beranggapan bahwa masalah
sampah bukan urusan dan masalah yang harus dipikirkan.
Tindakan yang selalu dilakukan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan berkembang lagi
menjadi watak. Apabila membuang sampah sembarangan telah menjadi watak, tidak perduli
laki-laki atau perempuan akan tega mencemari lingkungan tanpa rasa bersalah.
Sedang penyebab secara eksternal adalah dengan bebasnya peredaran plastik dipasaran
bebas dengan berbagai bentuk dan ukuran, dan ada pergeseran arti istilah dalam masyarakat
tentang istilah modern dan kampungan.
2.3 Dampak yang ditimbulkan
Dampak paling nyata dirasakan oleh daerah yang memiliki masyarakat sampah adalah
rasa malu secara nasional ketika kota Banjarmasin dinobatkan menjadi kota terkotor pada
kunjungan Wapres pada beberapa waktu yang lalu. Padahal sebagian besar orang Banjar
beragama Islam, dan Nabi Muhammad, SAW telah mengajarkan bahwa kebersihan adalah
sebagian dari iman. Hal ini sangat bertolak belakang dengan predikat kota terkotor.
Kemudian dengan semangat hangat-hangat tahi ayam dilakukan lah gerakan jumat
bersih seminggu sekali dilingkungan dinas pegawai negeri sipil, tetapi sampai sekarang yang
bersih hanya didaerah yang eks perkampungan Belanda pada masa lalu yang sekarang menjadi
daerah percontohan kebersihan. Sementara di tempat yang pada masa lalu hingga sekarang
menjadi kampung pribumi tetap saja seperti biasa, dikelilingi sampah disekitarnya minimal
sampah dedaunan dari pohon dihalaman rumah. Bahkan sekarang sampah malah tambah
banyak ditandai dengan adanya rombongan anak-anak usia Sekolah Dasar yang ikut
memunguti sampah untuk dijual seperti gelas plastik air minum kemasan.
Dampak berikutnya adalah meningkatnya jam kerja para armada kebersihan sementara
skala kebersihan hanya berada dititik yang sama.
Dampak terakhir yang dapat dikemukakan adalah banyaknya himbauan abah wali berupa
baliho, plakat, maupun poster di ruas-ruas jalan yang menyerukan kebersihan.
2.4 Alat Pengurai Sampah di Beberapa Kota Besar Lain
Tata ruang kota merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan pembangunan
dan pengelolaan lingkungan hidup. Perkembangan kota yang cenderung mengabaikan kawasan
hijau kota, berupa ruang terbuka hijau, hutan kota, dan taman kota sangat disayangkan.
Ketiadaan hutan kota yang mestinya dapat berfungsi sebagai penyerap karbon, peredam
kebisingan, dan pengatur tata air makin membuat kondisi lingkungan kota Banjarmasin makin
parah.
Masyarakat sampah yang ada di Banjarmasin adalah masyarakat setengah matang,
semestinya pada saat mereka mengenal sampah, juga mengetahui dan mempunyai cara untuk
mengatasi sampah, sehingga tidak mengorbankan lingkungan yang pada akhirnya mengancam
kesehatan kita. Memang sampah adalah masalah klasik sebuah kota besar, namun tidak
menutup kemungkinan jika kita bisa menangani sampah, kota yang bersih menjadi milik kita.
Beberapa artikel yang membahas tentang penguraian sampah diantaranya :
a. Jamur Pengurai Sampah Plastik
Jakarta, Kamis, 08 Juni 2006 Kompas
Jenis jamur tertentu yang biasanya menguraikan kayu ternyata juga dapat mengunyah
plastik. Temuan para peneliti AS ini menawarkan metode pengolahan sampah plastik agar
tidak tertimbun di tanah selamanya dan mencemari lingkungan.
Namun, tidak semua jenis plastik dapat diuraikan. Plastik yang baru dapat diuraikannya
adalah jenis resin fenol yang banyak digunakan untuk membuat lem plywood dan papan serat
kayu atau pada cetakan mobil. Plastik memiliki molekul yang besar dan sulit dipecahkan
terbentuk dari molekul-molekul fenol berbentuk cincin dan formaldehida yang diberi tekanan
dan panas tinggi.
Jenis plastik ini populer sebab tahan lama. Namun, efek sampingnya sulit didaur ulang.
Tidak seperti polietilen yang digunakan untuk kemasan air mineral, resin tersebut sangat keras
sehingga sulit meleleh. Sekitar 2,2 juta ton resin fenol diproduksi di AS setiap tahun atau
sekitar 10 persen dari jenis plastik yang diproduksi di sana.
Sebagian sampah resin fenol digunakan lagi dalam bentuk aslinya. Percobaan daur
ulang juga dilakukan dengan memanaskan pada suhu tinggi dan menggunakan larutan kimia.
Namun, cara seperti ini mahal dan menghasilkan produk samping yang mencemari lingkungan.
Adam Gusse dan koleganya dari Universitas Winconsin-La Crosse kemudian meneliti
manfaat jamur yang biasanya hidup di pangkal batang yang membusuk. Jamur yang berwarna
putih ini menghasilkan ramuan enzim yang dapat memecah lapisan lignin yang keras. Lignin
memiliki struktur kimia yang mirip resin fenol karena disusun dari molekul-molekul yang
saling berikatan.
Gusse meletakkan serpihan-serpihan resin fenol ke lima spesies jamur berbeda untuk
membandingkan pengaruhnya. Tim peneliti melihat terdapat satu spesies bernama
Phanerochaete chrysosporium yang berubah warna tubuhnya dari putih menjadi merah muda
setelah beberapa hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa jamur tersebut telah menguraikan resin
menjadi molekul-molekul polimer lebih kecil yang berwarna merah muda.
Mereka memastikan temuannya setelah memberi makan jamur tersebut dengan resin
fenol yang mengandung isotop karbon lebih berat. Hasilnya, isotop terserap ke tubuh jamur
setelah berpesta plastik.
Kerusakannya jelas sekali terlihat, kata Gusse. Dengan mikroskop elektron,
permukaan resin terlihat penuh dengan kawah seperti bekas dikunyah.
Menurut Gusse, jamur tersebut bahkan dapat dimanfaatkan untuk mendaur ulang
komponen-komponen fenol jika metode pemanfaatannya telah dikembangkan. Namun, ide
tersebut masih jauh untuk dikomersialkan.
Sejauh ini, para peneliti belum menghitung seberapa efektif jamur menguraikan resin.
Gusse memperkirakan butuh waktu beberapa bulan untuk menyelesaikannya.
Jamur putih sejenis lainnya juga diketahui memiliki kemampuan menguraikan plastik
jenis polystyrene atau polutan seperti polychlorinated biphenyl (PCB). Mereka mengeluarkan
enzimnya dan memangsa apapun di sekitarnya, kata Gusse.


b. Keranjang Ajaib Takakura
Oct 29, 07
Dewasa ini pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang
sakti Takakura. Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik
untuk skala rumah tangga. Yang menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang
praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini
disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik
sangat baik.
Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga.
Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah
organik tersebut ke dalammengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan
keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga.
Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji
TAKAKURA dari Jepang. Mr. Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari
sistim pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekerja
mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang memakan sampah organik
tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam pelaksanaan penelitiannya, Mr.
Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa
percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering.
Jenis bakteri yang dikembang-biakkan oleh Takakura inilah yang kemudian dijadikan starter
kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang
disebut Takakura Home Method yang dilingkungan masyarakat lebih dikenal dengan nama
keranjang sakti Takakura.
Selain Sistim Takakura Home Method, Mr. Takakura juga menemukan bentuk-bentuk
lain ada yang berbentuk Takakura Susun Method, atau modifikasi yang berbentuk tas atau
kontainer. Penelitian lain yang dilakukan Takakura adalah pengolahan sampah pasar menjadi
kompos. Akan tetapi Takakura Home Method adalah sistim pengomposan yang paling dikenal
dan disukai masyarakat karena kepraktisannya.
Mr. Takakura, melakukan penelitian di Surabaya sebagai bagian dari kerjasama antara
Kota Surabaya dan Kota Kitakyushu di Jepang. Kerjasama antar kedua kota difokuskan pada
pengelolaan lingkungan hidup. Kota Kitakyushu terkenal sebagai kota yang sangat berhasil
dalam pengelolaan lingkungan hidup. Keberhasilan kota Kitakyushu sudah diakui secara
internasional. Karena keberhasilan kota Kitakyushu itulah kota Surabaya melakukan kerjasama
pengelolaan lingkungan hidup. Bentuk kerjasama berupa pemberian bantuan teknis kepada
kota Surabaya.
Bantuan teknis yang diberikan Pemerintah Jepang adalah dengan menugaskan sejumlah
tenaga ahli untuk melakukan penelitian tentang pengolahan sampah yang paling sesuai dengan
kondisi Surabaya. Mr. Takakura adalah salah satu ahli yang ditugaskan itu. Sehari-harinya Mr.
Takakura bekerja di perusahaan JPec, anak perusahaan dari J-Power Group. Suatu perusahaan
yang sesungguhnya bergerak di bidang pengelolaan energi. Mr. Takakura adalah expert yang
mengkhususkan diri dalam riset mencari energi alternatif.
Kerjasama Kitakyushu-Surabaya untuk mengelola sampah dimulai dari tahun 2001
sampai 2006. Takakura menjadi peneliti kompos selama kerjasama tersebut sekaligus sebagai
ahli pemberdayaan masyarakat. Selama itu Takakura dan timnya secara berkala datang ke
Surabaya untuk melakukan penelitian dan melaksanakan hasil penelitian itu. Kadang-kadang
Takakura datang ke Surabaya sampai enam kali dalam setahun. Selama penelitian kompos
biasanya bisa mencapai 3 minggu ia harus mengamati perkembangan bakteri kompos. Yang
unik dari Mr. Takakura adalah bahwa selama ia berada di Surabaya ia senantiasa memakai baju
batik. Sumbangsih Mr. Takakura terhadap upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat di
Surabaya sangatlah besar. Keberhasilan itu malah diapresiasi oleh lembaga internasional IGES
(Institut for Global Environment and Strategy). Pada bulan Februari 2007, IGES mensponsori
studi banding 10 kota dari 10 negara untuk melihat pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis
masyarakat di Surabaya. Kota-kota itu ingin mencontoh sistem pengomposan yang
dikembangkan oleh Surabaya dengan bantuan Takakura Composting System.




c. Briket Sampah
Bila mencermati informasi dari para pakar peneliti sumber daya alam. Mereka
menyatakan, kandungan sumber minyak bumi di wilayah Indonesia diprediksikan hanya
mampu untuk mencukupi kebutuhan minyak dalam negeri sampai tahun 2010.
Jadi, sudah selayaknya semua pihak memikirkan alternatif bahan bakar lain yang tidak
hanya mengandalkan bahan dasar minyak.
Berdasarkan percobaan yang penulis terapkan pada siswa-siswa kelas VII SMP Negeri
3 Rancaekek, Bandung, ternyata diperoleh beberapa informasi mengenai keunggulan briket
sampah dibandingkan penggunaan bahan bakar minyak tanah atau kayu.
Pertama, cara pembuatan briket sampah ini relatif mudah, murah dan tidak memakan waktu
lama. Cara pembuatannya mudah, karena yang diperlukan hanya sampah organik yang mudah
ditemukan di sekitar kita. Bahan dasarnya dapat berupa, kayu-kayu sisa, daun-daun kering,
makanan sisa, kertas.
Bahan-bahan tersebut, pertama-tama dibakar sampai menjadi bentuk arang berwarna
hitam pekat. Agar tidak sampai menjadi abu, pada saat bara api merata ke seluruh bagian
bahan, segera disiram air secukupnya.
Langkah selanjutnya, arang tersebut ditumbuk dengan menggunakan alat penumbuk,
martil, batu, atau alat-alat berat lainnya sampai menjadi halus. Saat menumbuk ditambahkan
daun-daun tanaman segar yang memiliki sifat lunak dan cukup kandungan air. Daun-daunan ini
dapat diambil dari sisa-sisa sampah pasar atau sayuran yang sudah terbuang, contohnya bayam,
kangkung, sawi, daun pepaya atau jenis-jenis sayuran lain. Hal tersebut sekaligus dapat
menjadi solusi pengurangan penumpukan sampah yang banyak kita jumpai di pasar-pasar.
Persentase komposisi bahan pembuatan briket organik adalah 80% sampah organik kering dan
20% campuran daun segar. Jadi bila ingin mencoba membuatnya, seandainya sampah organik
yang digunakan seberat 800 gram, maka daun segar yang ditambahkan sebanyak 200 gram.
Atau kelipatan dari jumlah tersebut.
Setelah kedua bahan tersebut tercampur rata, kemudian adonan dicetak dengan ukuran
dan bentuk menurut selera pembuatnya. Briket yang telah dibuat selanjutnya dijemur di bawah
sinar matahari sampai kering.
Proses pengeringan bergantung kondisi cuaca. Pengeringan hanya memakan waktu
sehari bila matahari bersinar penuh. Sedangkan tanda-tanda briket sudah kering atau belum
mudah ditebak dengan cara meletakkan dan mengangkatnya di telapak tangan. Briket kering
terasa lebih ringan dan jelaga di permukaan tidak terlalu mengotori permukaan telapak tangan.
Sejumlah kelebihan penggunaan briket sampah organik adalah rasa dan aroma masakan. Dari
percobaan hasil pengolahan masakan yang menggunakan kompor minyak tanah dan tungku
briket sampah, diperoleh cita rasa berbeda. Nasi terasa lebih pulen dan masakan lain lebih legit.
Kelebihan briket kedua adalah daya panas yang dihasilkan dari pembakaran briket sampah tak
kalah dibandingkan dengan bahan bakar minyak. Hasil percobaan penulis, untuk memanaskan
1 liter air hanya memerlukan sekitar 300 gram briket dalam waktu kurang lebih 12 menit
(dengan catatan bara api sudah merata).
Di samping itu, briket sampah memiliki kemampuan penyebaran bara api yang baik,
tak mudah padam, dan tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk pengipasan. Tanpa
dikipasi pun briket sampah organik mudah menyala dengan stabil.
Kelebihan ketiga adalah volume asap yang dikeluarkan briket sampah tidak sebanyak
yang dihasilkan kayu atau minyak tanah. Dan yang lebih utama, kandungan karbon dioksida
dan karbon monoksida sebagai hasil sampingan pembakaran tidak sedahsyat kayu atau bahan
bakar minyak tanah.Berkurangnya asap yang diproduksi disebabkan karbon dioksida, karbon
monoksida, dan kandungan air yang tersimpan dalam bahan briket telah direduksi pada saat
proses pembakaran pertama (arang).
Kelebihan keempat adalah peralatan tungku yang digunakan untuk keperluan bahan
bakar briket relatif lebih murah dan lebih mudah dalam perawatannya. Jenis tungku yang
digunakan terbuat dari tanah liat yang dibentuk sedemikian rupa. Jenis tungku ini sudah
dikenal sejak lama dalam masyarakat tradisional Indonesia. Dari segi aroma, briket sampah
tidak jauh berbeda dengan bau khas arang yang dibakar. Bahkan masyarakat daerah tertentu,
seperti masyarakat pedesaan lebih menyukai menggunakan bahan bakar nonminyak dengan
alasan perbedaan rasa dan aroma.***



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Meskipun tergolong masalah klasik, sampah pada masa sekarang sudah menjadi
masalah global. Dibeberapa tempat seperti Bantargebang pada waktu yang lalu sempat terjadi
insiden berkaitan masalah sampah. diluar negeri, penanganan sampah juga masih menjadi
masalah disamping pencemaran udara. Namun keunggulan mereka dibanding kita adalah lebih
tertib dalam menyikapi peraturan pemerintah, tidak seperti kita yang menjadikan banyak aturan
pemerintah tidak berfungsi.
Sementara para civitas akademika di PT maupun sekolah bukannya ikut memikirkan
cara penanganan sampah ditempat kita, sebagian besar malah menjadi masyarakat sampah.
karena kalau hanya mengandalkan para petugas kebersihan, sampah akan tetap banyak jika kita
tidak ikut membantu. tugas kita tidak selesai dengan hanya membuang sampah ditempatnya.
akan lebih baik jika bisa menyumbangkan ide tentang pengurai sampah. sehingga civitas
akademika juga punya nilai dimasyarakat dan bukan menjadi klub eksklusif. sudah saatnya
Banjarmasin mempunyai alat pengurai sampah sendiri dan bukan hanya mencetak sampahnya
saja.
Untuk berubah kearah sesuatu yang lebih baik tidak semudah berbicara, diperlukan
adanya tekad yang kuat dan kemauan yang mantap untuk melakukan perubahan. Selain itu juga
diperlukan tim-tim yang tangguh untuk mengajak masyarakat kita melangkah kearah yang
lebih ramah lingkungan. Dengan cara yang halus sesuai psikologi urang Banjar yang terbuka
dengan sesuatu yang baru dan dengan perencanaan yang tepat, perubahan yang diinginkan
insya Allah bisa diraih, and youll never know till you have tried.
3.2 Saran-saran
Pembinaan secara budaya lebih cantik daripada denda.
Ada baiknya kita selaku civitas akademica mau ikut peduli dengan masalah sampah
dilingkungan, terlebih dapat memikirkan upaya penanggulangan sampah yang efektif.
Hendaknya SMKN 4 Banjarmasin mengadakan festival alat pengurai sampah kategori
pelajar, mahasiswa dan umum seKal-Sel sebagai partisipasi kepedulian terhadap
lingkungan.


Daftar pustaka
www.intisari.co.id
www.walhi.co.id
Artikel : Banjarmasin : Kota seribu sungai, seribu masalah
Buku Petunjuk Teritorial untuk daerah Kalimatan Selatan. Banjarmasin : Ass-Terr Laksus
Kopkamtib daerah Kalimantan Selatan. 1971
Prof. Dr. Ir. Zoeraini, Djamal Irwan, M.Si. 1997. Prinsip-Prinsip Ekologi dan Organisasi
Ekosistem, Komunitas dan Lingkungan. Jakarta : Bumi Aksara
Emil, Salim. 1993. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Jakarta : LP3ES
kelompokdiskusi.multiply.com/journal/item/376
www.mail-archive.com/info@rw14.web.id/msg01018.html