Anda di halaman 1dari 98

PanduanInventarisasi

LahanBasahASIAVersi 1.0
(Indonesia)
Copyright 2003, Wetlands International
PUBLIKASI INI MERUPAKAN TERJEMAHAN DARI BUKU ASLI:
Finlayson CM, Begg GW, Howes J, Tagi K &Lowry J. 2002. A Manual for An Inventory of Asian
Wetlands: Version 1.0. Wetlands International Global Series 10, Kuala Lumpur, Malaysia.
Finlayson CM(Max.Finlayson@ea.gov.au), Begg GW(George.Begg@ea.gov.au) &Lowry J
(John.Lowry@ea.gov.au), National Centre for Tropical Wetland Research, c/o Environmental
Research Institute of the Supervising Scientist, GPO Box 461, Darwin, NT, 0801, Australia.
Howes J (johnhowes@pd.jaring.my) &Davies J (jondavies@pd.jaring.my), Wetlands
International-Asia Regional Programme Office, 3A39, Block A, Kelana Centre Point, Jalan
SS7/19, 47301 Petaling Jaya, Selangor, Malaysia
Tagi K (Ktagi@aol.com), Wetlands International - Japan, 402 Axes Nishishinjuku, 8-5-3
Nishishinjuku Shinjuku-Ku, Tokyo 160-0023, Japan.
a
c
a
b
m
e
m

t
a
m
a
l
e
s
Panduan Inventarisasi
Lahan Basah ASIA
Versi 1.0 (Indonesia)
CMFinlayson, G WBegg, J Howes, J Davies, K Tagi dan J Lowry
national
centre
for
tropical
wetland
research
Ministry of the Environment, Japan
Asian Wetland Inventory
NDS A L T E
Indonesia Programme
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia i ii ii
Panduan Inventarisasi
Lahan Basah ASIA
Versi 1.0 (Indonesia)
CM Finlayson, GW Begg, J Howes, J Davies, K Tagi dan J Lowry
Edisi isi diterjemahkan dan diproduksi atas dukungan dana dari ASEAN Regional CENTRE
for Biodiversity Conservation (ARCBC), kerjasama antara the Association of South East
Asian Nations (ASEAN) dan The European Union (EU)
Translation and production of this edition was funded by the ASEAN Regional CENTRE
for Biodiversity Conservation (ARCBC), a joint cooperation between the Association of
South East Asian Nations (ASEAN) and the European Union (EU).
Indonesia Programme
September, 2003
ii ii ii ii ii Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Panduan Inventarisasi
Lahan Basah ASIA Versi 1.0 (Indonesia)
Copyright 2003, Wetlands International
Publikasi ini dapat disalin kembali baik keseluruhan atau sebagian dalam berbagai bentuk
kepentingan pendidikan atau non-profit, tanpa ijin tertentu dari pemegang hak cipta, dengan
syarat sumbernya harus disebutkan. Wetlands International akan sangat menghargai jika
menerima salinan tersebut yang menggunakan publikasi ini sebagai sumbernya.
Publikasi ini tidak digunakan untuk diperjualbelikan atau tujuan tertentu yang bersifat komersial
tanpa seijin dari Wetlands International.
ISBN: 90 5882 981 2
Publikasi ini merupakan terjemahan dari buku asli:
Finlayson CM, Begg GW, Howes J, Tagi K & Lowry J. 2002. A Manual for An Inventory of Asian
Wetlands: Version 1.0. Wetlands International Global Series 10, Kuala Lumpur, Malaysia.
Finlayson CM (Max.Finlayson@ea.gov.au), Begg GW (George.Begg@ea.gov.au) & Lowry J
(John.Lowry@ea.gov.au), National Centre for Tropical Wetland Research, c/o Environmental
Research Institute of the Supervising Scientist, GPO Box 461, Darwin, NT, 0801, Australia
Howes J (johnhowes@pd.jaring.my) & Davies J (jondavies@pd.jaring.my), Wetlands International-
Asia Regional Programme Office, 3A39, Block A, Kelana Centre Point, Jalan SS7/19, 47301
Petaling Jaya, Selangor, Malaysia
Tagi K (Ktagi@aol.com), Wetlands International - Japan, 402 Axes Nishishinjuku, 8-5-3
Nishishinjuku Shinjuku-Ku, Tokyo 160-0023, Japan
Foto cover:
Cover depan: Foto udara Sungai Mekong, Kamboja Utara (T. Mundkur)
Anak dengan tangkapan ikannya (J. Davies)
Cover belakang: Nelayan di areal hutan mangrove, Indramayu (Wetlands International - IP)
Ilustrasi: Ben Bayliss
Publikasi ini dapat diperoleh di:
Wetlands International - Asia Regional Programme Office
3A39, Block A, Kelana Centre Point, Jalan SS7/19
47301, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia
Tel: +603 7804 6770
Fax: +603 7804 6772
Email: wiap@wiap.nasionet.net
www.wetlands.org
Perhatian:
Seluruh pendapat dan pernyataan yang disajikan dalam publikasi ini tidaklah selalu
mencerminkan pendapat dan kebijakan Wetlands International, tetapi disesuaikan pada
status hukum disetiap negara, wilayah teritorial, atau disesuaikan pada perbatasan wilayah.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia iii iii iii iii iii
P r a k a t a
S
aya sangat senang melihat program The Asian Wetlands Inventory (AWI)
mengalami kemajuan yang pesat, terutama dengan adanya pembuatan buku
panduan ini yang dapat melengkapi tahap awal perkembangan AWI.
Inventarisasi lahan basah adalah salah satu faktor utama dalam konvensi dengan pihak-
pihak yang mengadakan perjanjian. Hingga kini, pihak-pihak tersebut menyiapkan
inventarisasi secara ilmiah di tempatnya masing-masing. Namun pada pelaksanaan konvensi
dalam bentuk yang sistematis dan efektif masih ada kekurangan dan masih terbatasnya
pemahaman tentang luas dan status sumber-sumber lahan basah di muka bumi ini.
Untuk itu AWI melahirkan resolusi VII.20 dalam menentukan skala prioritas inventarisasi
lahan basah yang diambil dalam Ramsar COP terbaru di tahun 1999, terutama paragraf
1.5 yang menyatakan permintaan-permintaan secara teknis dan ilmiah dari kelompok
peninjau, bekerja sama dengan Wetlands International, The Ramsar Bureau dan organisasi-
organisasi lain yang terkait meninjau kembali dan mengembangkan bentuk-bentuk yang
telah ada dalam inventarisasi lahan basah dan mengelola data termasuk penggunaan
remote sensing dan low cost serta pengguna sistem-sistem informasi geografis, juga untuk
menyampaikan penemuan-penemuan mereka pada pertemuan ke-8 dengan pihak-pihak
yang mengadakan perjanjian dalam rangka mengembangkan standar umum internasional.
Sesuai dengan permintaan COP Ramsar, program AWI ini telah dikembangkan secara
lengkap dan disesuaikan dengan kebutuhan konvensi dan perkembangannya, serta telah
membantu pembentukan diskusi yang berkelanjutan dan isu-isu yang diangkat pada
Forthcoming COP pada bulan November 2002, semoga saja pengajuan kerangka kerja
Ramsar dari inventarisasi lahan basah ini disetujui.
Saya yakin buku panduan AWI ini adalah sebagai alat untuk mengembangkan protokol
inventarisasi yang telah dibakukan dan dapat memberikan informasi dalam melakukan
pengkajian, evaluasi dan pengawasan lahan basah di Asia, dan akan membuktikan kalau
ini benar-benar berguna untuk para pembuat kebijakan lahan basah dan para praktisi di
daerah dan di mana saja.
iv iv iv iv iv Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Program AWI ini telah disahkan oleh Standing Committee Ramsar dan telah menerima
dukungan yang kuat dan perhatian dari negara-negara di Asia. Saya sangat berharap
dengan adanya buku panduan ini akan lebih mendorong negara-negara untuk menjalankan
inventarisasi lahan basah secara nasional dengan menggunakan protokol yang telah
dibakukan, hal ini penting sekali untuk melakukan perbandingan dan kecenderungan yang
terjadi dalam studi ini.
Saya juga bahagia AWI memberikan dukungan secara langsung mengenai konsep dan
petunjuk yang berisi draft kerangka kerja Ramsar untuk diperimbangkan oleh Ramsar
COP8 pada Bulan November 2002. dalam hal ini AWI harus sanggup memberikan
kepemimpinan dalam kerangka kerja Ramsar, yang tidak menyatakan secara langsung
kalau pendekatan-pendekatan lain tidak harus timbul secara bersamaan.
Cirri-ciri utama AWI adalah mempunyai potensi yang jelas untuk megembangkan kapasitas
kelembagaaan di negara-negara dengan harapan bisa menjalankan pekerjaan lahan basah
secara serius dengan memberikan inter alia di tempat tersebut sebagai alat-alat yang
bermanfaat.
Selain itu, AWI juga sedang membuat kontribusi pada konvensi di tingkat global karena
di dalamnya terdapat alat yang bisa digunakan secara umum. Walaupun tidak ada judul
program di dalamnya yang mengkhususkan untuk Asia, namun dapat disajikan sebagai
dasar dalam pendekatan-pendekatan inventarisasi lain, yang telah disesuaikan dengan
syarat-syarat nasional atau daerah.
Buku panduan AWI adalah sebagai pelopor buku panduan yang lebih khusus membahas
mengenai teknis untuk mengumpulkan informasi pada bidang data spesifik misalnya
penggambaran kimia air, tanah, populasi burung air dan sebagainya. Saya berterima
kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan buku panduan ini dan
mengharapkan perkembangan komponen-komponen tambahan pada program yang sangat
penting ini.
Delmar Blasco
Sekretaris Umu
Konvensi Wetlands (Ramsar Iran, 1971)
Juni 2002
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia v vv vv
I
nformasi yang dapat dipercaya dalam mengelola sumber daya alam merupakan dasar
dari semua keputusan mengenai konservasi dan perkembangan yang telah dibuat.
Pada tahun 1999, Wetlands International melakukan peninjauan secara global tentang
inventarisasi lahan basah atas nama konvensi wetlands (Ramsar, Iran, 1971). Peninjauan
ini menunjukan dasar inventarisasi yang ada tidak mencukupi. terbatasnya standarisasi,
pendekatan secara sistematis pada inventarisasi lahan basah, bertentangan dengan wilayah
Asia yang telah mengkaji luas, penekanan, dan tingkat degradasi lahan basah di Asia.
Mengetahui akan kebutuhan penting ini, pihak-pihak yang mengadakan perjanjian dari
Konvensi Ramsar mengajak partisipasi pemerintah untuk bekerja sama dengan Wetlands
International dalam meninjau dan mengembangkan lebih jauh bentuk-bentuk inventarisasi
lahan basah.
Menanggapi hal ini, program AWI telah diresmikan oleh Wetlands International pada tahun
1999 dengan mendapat dukungan awal dari Menteri Lingkungan Hidup Jepang dan
pengesahannya dilakukan oleh Standing Committee dari konvensi Ramsar. Dua tahun
kemudian, sumber-sumbernya juga disediakan oleh AEON Foundation, dana dari Jepang
untuk lingkungan hidup secara global dan Menteri Luar Negeri Belanda.
AWI memberikan alat yang efektif untuk mengumpulkan informasi mengenai pengaturan
sumber-sumber alam yang diperoleh dari atau bergantung pada lahan basah. Lebih jauh,
AWI memberikan kerangka kerja untuk menentukan habitat-habitat secara individu dan
wilayah-wilayah dalam dan luar, juga untuk menentukan batas-batas yuridis. Pendekatan
AWI baru-baru ini memberikan kerangka kerja dalam pengembangan protokol inventarisasi
lahan basah dari Konvensi Ramsar.
Wetlands International bekerja sama dengan NCTWR dan WIMSC bertanggung jawab atas
pengembangan awal dari proyek ini. Tim ahli dari internasional maupun nasional berada
di bawah kepepimpinan Dr. Max Finlayson, termasuk Dr. George Begg, Dr. Jon Davies,
Mr. John Howes, Mr. John Lawry dan Mr. Koji Tagi juga telah bertanggung jawab atas
pengembangan buku panduan ini dalam dua dua tahun terakhir. Kami bangga atas usaha
mereka dan kerja kerasnya.
Pada bulan April 2002 kerja sama dengan Menteri Lingkungan Hidup Kambodia, diadakan
lokakarya wilayah yang mewakili pemerintah, organisasi internasional dan ahli-ahli teknis
untuk meninjau kembali program AWI ini. Pertemuan ini sangat penting untuk menetapkan
dasar dalam menyelesaikan metodologi dan buku panduan ini.
Buku panduan ini adalah produk dan alat pertama dalam inventarisasi lahan basah di
Asia. Hal ini benar-benar akan merubah pihak lain yang ingin mengembangkan inventarisasi
untuk tujuan-tujuan yang berbeda atau memperbaharui detail pada setiap level. Alat-alat
tambahan akan dikembangkan untuk membantu mengumpulkan data-data spesifik yang
dibutuhkan. Biaya dari produksi buku panduan ini telah didanai oleh Menteri Luar Negeri
Belanda dan kami berterim kasih atas dukungannya.
vi vi vi vi vi Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Kami juga menghargai minat yang kuat dan dukungan yang berkelanjutan dari Ramsar
Beaurea, Mr. Delmar Blasco, sekertaris umum, yang dengan senang hati telah memberikan
sepatah kata untuk publikasi panduan ini dan Dr. Bick Davidson, Deputi Sekretaris umum
yang memberikan saran dan petunjuk teknis.
Wetlands International berusaha keras mengembangkan konservasi dan penggunaan lahan
basah di seluruh dunia secara berkelanjutan. Empat tahun ke depan Wetlands International
akan memfokuskan empat program wilayah tematis, mencakup inventarisasi lahan basah,
konservasi spesies, penggunaan kebijakan dan pengembangan kapasitas (http:/
www.wetlands.org.aboutWI/strategy.htm). Dengan adanya perkembangan alat-alat dan
pengadaan latihan yang didasarkan pada ketrampilan, kami berharap bisa memberikan
saran dan penyajian untuk pemerintah-pemerintah di daerah, konvensi-konvensi dan pihak-
pihak lain untuk mengembangkan dan menyediakan informasi yang lengkap berdasarkan
konservasi lahan basah.
Program AWI telah didukung dan disahkan oleh sejumlah pemerintah dan partner-partner
lain di daerah lebih dari setahun yang lalu. Kami berharap bisa mengembangkan minat
dan dukungan ini untuk memperbanyak kumpulan infomasi yang berkualitas tinggi mengenai
lahan basah yang tersedia secara luas. Hal ini dapat meningkatkan pengelolaan dan kebijakan
lahan basah untuk melindungi keanekaragaman hayati dan untuk meningkatkan kualitas
hidup manusia.
Mudah-mudahan panduan praktis ini dapat berguna dan bermanfaat bagi anda semua.
Kami mengharapkan saran dan kritik untuk memperbaharui informasi yang disampaikan
dalam buku panduan ini sehingga bisa melaksanakan program AWI di daerah-daerah.
Dr. Taej Mundkur
Regional Programme Director (Asia)
Wetlands International
June 2002
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia vii vii vii vii vii
Kata Pengantar
M
ekanisme dalam mengembangkan database inventarisasi lahan basah secara
lengkap untuk Asia telah dikerjakan di bawah bantuan Wetland Inventory dan
Monitoring Specialist Group (WIMSG) yang merupakan bagian dari organisasi
internasional non-pemerintah. Lembaga ini menangani program perencanaan konservasi
secara lengkap, termasuk memberikan pengkajian dan pengawasan pada berbagai lahan
basah di seluruh Asia.
Tujuan dari mekanisme ini adalah untuk menetapkan status lahan basah di Asia pada
abad 21 dan mengembangkan database Inventarisasi Lahan Basah Asia (Asian Wetland
Inventory (AWI)).
Mekanisme ini telah disahkan oleh Standing Committee dari konvensi lahan basah (Ramsar
Convention) yang baru-baru ini telah membantu dalam menganalisa inventarisasi lahan
basah secara global. Dari analisa tersebut ditemukan banyak informasi menarik tentang
inventarisasi lahan basah, termasuk diantaranya di Asia. Buku Panduan untuk inventarisasi
lahan basah ini telah di sahkan dalam pertemuan ke tujuh pada konferensi pertemuan
lembaga-lembaga yang berkaitan dengan lahan basah di Costa Rica, yang diselenggarakan
pada bulan Mei 1999 (http://www.ramsar.org/keycriteria.htm). Buku Panduan Asian Wetland
Inventory (AWI) ini dikembangkan dengan menggunakan strategi dan pendekatan secara
hirarki dalam mengumpulkan dan mengatur data inti lahan basah.
Sistem panduan ini bersifat fleksibel dan terus ditinjau sehingga bila diperlukan dapat
segera direvisi sesuai dengan pengalaman dalam menangani inventarisasi lahan basah
di Asia (version 1.0). untuk lebih lanjut, panduan ini tidak dimaksudkan untuk mengganti
teks-teks secara detail yang dapat menggambarkan cara-cara mengumpulkan informasi
tertentu yang tercantum dalam inventarisasi. Pembaca disarankan agar mengacu pada
buku-buku teknis khusus. Namun, diberikan keleluasaan para pembaca di Asia dalam
inventarisasi lahan basah ini, untuk memberikan saran dan tanggapan dalam bentuk laporan-
laporan atau dokumen untuk melengkapi metoda buku panduan ini.
Dr. CM Finlayson
Direktur, National Centre For Tropical Wetland Research
Presiden, Wetland International
viii viii viii viii viii Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Ucapan Terima Kasih
K
ami ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada kementrian lingkungan hidup
Jepang yang memberikan bantuan dana awal yang dibutuhkan oleh AWI. Proyek
ini juga berjalan atas bantuan dana dari kementrian luar negeri Belanda (DGIS)
dengan the conservation and Wise Use of Wetlands Global Programme yang di kelola
oleh Wetlands International (2001-2002), The Japan Fund for Global Environment (JFGE)
(2001-2002) dan the AEON Foundation (2001-2002). Kami juga sangat berterima kasih
pada The Environmental Research Institute of The Supervising Scientist (Lingkungan hidup
Australia) atas dukungan penyediaan berbagai fasilitas secara berkesinambungan.
Kami berterima kasih pada Tim Manajemen AWI, Dr Douglas Taylor, Ms Kaori Matsui dan
Mr Matt Wheeler, atas perannya dalam menjamin dana yang dibutuhkan oleh proyek ini,
begitu juga terhadap Ms Robin Shaap, Dr Arthur Mitchel, Mr Scot Frazier dan Dr, taej
Mundkur (dari Wetlands International) atas dukungan dan sarannya. Secara khusus kamipun
mengucapkan terima kasih pada Mr Alvin Lopez atas kerja kerasnya dalam mengkoordinasi
komponen dana dari DGSI untuk program AWI.
Ucapan terima kasih yang mendalam juga kami tujukan pada berbagai kalangan yang
telah menyumbangkan tenaga dan waktunya dalam mempersiapkan buku panduan ini.
Khususnya buat Mr Ben Bayliss (Environmental Research Institute of The Supervising
Scientist), yang telah berperan baik dalam mengatur tata letak buku panduan ini. Kami
juga berterimakasih pada sejumlah orang yang telah membaca dan memberikan tanggapan
pada versi buku panduan sebelumnya. Dengan segala hormat ucapan terima kasih juga
kami tujukan pada Mr Gordon Claridge, Dr John Mackinnon (wakil direktur EU, ASEAN
Regional Centre For Biodiversity Conservation), MR Mam Kosal (Wetland International
Kantor Lower Mekong), Mr Robson Ivan (WI Kantor Wilayah Selatan Asia), Mr Reza
Lubis (WI Kantor Indonesia) dan Mr Koji Shiguchi (Divisi Perlindungan Cagar Alam, Kantor
Konservasi alam, Kementrian Lingkungan Hidup, Jepang). Juga atas bantuan dan dukungan
dari semua orang yang terlibat, khususnya para ahli lahan basah yang diikutsertakan
secara khusus dalam menangani konsep akhir dari buku panduan ini (Dr Luis Costa, Dr
Chris Gordon dan Mr Sigid hariyadi).
Kamipun berterima kasih pada para pendukung utama yang telah melaksanakan lokakarya
di Jepang (Mr Kojiro Mori, Menteri Lingkungan Hidup, Jepang) dan Dr Yoshiki Yamagata
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia ix ix ix ix ix
(National Institute of Environmental Studies) dan di Kamboja (perwakilan dari pemerintahan
Kamboja, Cina, Lao P.D.R, Malaysia, Philipina, Thailand dan Vietnam), begitu juga pejabat-
pejabat pemerintahan jepang (Mr H Chiba, Mr H Eguchi, Mr K Kokubu, Dr M Komoda, Mr
A Takamatsu dan Mr T Toru). Gambaran program hasil lokakarya ini ditangani oleh Ms
Robin Schaap, yang kemudian diajukan untuk mendapatkan dukungan bagi terselenggaranya
Komite ke 24 di bulan Desember 1999.
Sebagai penutup, ucapan terima kasih kami tujukan kepada Wetlands International atas
dukungannya pada Wetland Inventory & Monitoring Specialist Group dan kantor Ramsar
Convention, atas visi jangka panjangnya dalam meningkatkan pengembangan kegiatan
hasil inventarisasi lahan basah. Tanggung jawab ini ditangani khusus oleh Dr Michael
Moser, Dr Nicholas Davidson dan Dr Bill Phillips. Ms Khadijah Ahmad dan Ms Flora George
dari Wetlands International juga perlu diberikan penghargaan atas upayanya dalam
menangani masalah administrasi dan keuangan demi perkembangan buku panduan ini.
x xx xx Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Ringkasan Eksekutif
P
anduan Asian Wetland Inventory (AWI) ini bertujuan untuk mengembangkan protokol
inventarisasi yang telah dibakukan ini secara lengkap sehingga dapat memberikan
informasi dalam pengkajian, evaluasi dan pengawasan lahan basah di Asia.
Protokol AWI ini dibuat berdasarkan protokol-protokol inventarisasi sebelumnya yang telah
berhasil dikembangkan dan dipergunakan di seluruh dunia. Protokol ini juga dibuat
berdasarkan pada berbagai rekomendasi dengan memperhatikan inventarisasi lahan basah
secara umum yang dipimpin oleh Wetlands International atas nama Ramsar Convention
Bureu serta beberapa dukungan pada ketentuan-ketentuan yang digunakan dalam kerangka
kerja dari Ramsar Convention untuk melakukan inventarisasi lahan basah. Sejak berdirinya
AWI tahun 1999 (dengan mendapat bantuan dana dari kementrian lingkungan hidup, Jepang)
AWI kemudian dikembangkan menjadi suatu konservasi alam dan pengembangan program
secara regional. Beberapa hasil penting yang telah dicapai oleh AWI antara lain :
Meningkatkan kesadaran akan pentingnya lahan basah serta membangun kesadaran
kelembagaan pemerintah nasional yang relevan di Asia akan perlunya inventarsiasi
yang dibakukan.
Dengan adanya System Informasi Geografis (GIS) yang dinamis dan telah dibakukan
ini bertujuan untuk dapat menggabungkan database sehingga bisa memberikan
informasi/data inti mengenai lahan basah di Asia serta sebagai acuan dalam
perencanaan upaya-upaya perlindungan alam baik ditingkat pemerintah, konvensi
Internasional, lembaga swadaya masyarakat maupun di tempat lainnya.
Memperluas jaringan kerja mengenai tehnik-tehnik dan ketrampilan-ketrampilan untuk
mengumpulkan data yang telah terlatih dalam pelaksanaan AWI di tingkat nasional
atau daerah.
Mengembangkan program inventarisasi nasional dan database di semua negara-
negara yang ikut berpartisipasi.
Mengembangkan program pelatihan jaringan kerja di tingkat daerah dalam melakukan
inventarisasi lahan basah.
Adanya program pengawasan untuk melakukan revisi dalam memperbaharui informasi
mengenai inventarisasi lahan basah di tingkat daerah.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia xi xi xi xi xi
Berdasarkan cakupan geografisnya, negara-negara yang termasuk dalam kelompok Asia
adalah negara-negara yang telah tercantum dalam buku Directory of Asian Wetlands termasuk
didalamnya negara-negara yang terletak di Asia Tengah, Rusia bagian timur dimana terdapat
pegunungan Ural dan sebagian negara-negara teritorial yang wilayah geografisnya saling
berbatasan.
Tujuan utama dari AWI adalah untuk menggambarkan dan memetakan sumber daya lahan
basah di Asia, mengingat akan banyaknya habitat-habitat lahan basah yang terletak mulai
dari wilayah pasang surut sampai bagian hulu lembah-lembah sungai utama, dan menyimpan
informasi ini dalam format Sistem Informasi Geografi (GIS). Melalui GIS ini akan disajikan
skala yang berbeda beserta rinciannya tergantung pada kepentingan dalam melakukan
inventarisasi secara eksplisit dan ukuran serta seberapa pentingnya nilai lahan basah
tersebut. Pada dua level pertama akan menyajikan segi kontekstual dasar bagi
penginventarisasian dan menetapkan kerangka kerja yang selanjutnya dilengkapi dengan
inventarisasi lahan basah dan pengkajiannya. Pada tingkat ketiga akan disajikan informasi
atribut-atribut data utama lahan basah yang kompleks dan lokasi-lokasi yang luas, dan
pada tingkat ke-empat akan disajikan informasi lebih lanjut pada suatu lokasi atau pada
tingkat habitat.
xii xii xii xii xii Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Daftar Isi
Prakata ............................................................................................................................................. iii
Kata Pengantar ................................................................................................................................. vii
Ucapan Terima Kasih ....................................................................................................................... viii
Ringkasan Eksekutif ............................................................................................................................ x
1. Pendahuluan ............................................................................................................................. 1
2. Tujuan...................................................................................................................................... 4
2.1 Cakupan Geografis.................................................................................................. 4
3. Metoda .................................................................................................................................... 5
3.1 Definisi Lahan Basah.......................................................................................... 5
3.2 Klasifikasi Lahan Basah ..................................................................................... 6
3.3 Pemetaan Lahan Basah ..................................................................................... 7
3.4 Gambaran Tentang Lahan Basah ................................................................... 10
4. Pengelolaan Informasi ............................................................................................................ 12
5. Pengumpulan Data Utama ........................................................................................................ 11
5.1 Data Level 1 : Lembah Sungai Utama, Daerah Pesisir dan
Kepulauan ............................................................................................................ 11
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia xiii xiii xiii xiii xiii
5.1.1 Nama dan kode lembah sungai utama, daerah pesisir atau
kepulauan ............................................................................................. 14
5.1.2 Geologi ................................................................................................... 14
5.1.3 Iklim........................................................................................................ 15
5.1.4 Wilayah Ekologi .................................................................................... 15
5.1.5 Vegetasi ................................................................................................. 15
5.1.6 Area dan Tipe Lahan Basah ............................................................. 15
5.1.7 Potensi dan Manfaat Lahan Basah .................................................. 16
5.1.8 Penanganan Permasalahan dan Ancaman..................................... 16
5.1.9 Lembar Data Penyelesaian ............................................................... 17
5.2 Data Level 2 Sub - Lembah-Lembah Sungai dan Sub Wilayah
Pesisir .................................................................................................................. 18
5.2.1 Nama dan Kode Sub Lembah atau Sub Daerah .................. 18
5.2.2 Lokasi Geografis ................................................................................. 18
5.2.3 Karakteristik Alam ............................................................................... 19
5.2.4 Ciri-Ciri Fisik ........................................................................................ 19
5.2.5 Vegetasi ................................................................................................ 20
5.2.6 Potensi dan Manfaat Lahan Basah ................................................. 20
5.2.7 Penaganan Permasalahan dan Ancaman ....................................... 21
5.2.8 Hukum Perbatasan Wilayah .............................................................. 22
5.2.9 Lembar Data Penyelesaian ............................................................... 23
5.3 Data Level 3 : Kompleks Lahan Basah....................................................... 23
5.3.1 Nama dan Kode kompleks lahan Basah......................................... 23
5.3.2 Lokasi Geografis ................................................................................. 24
5.3.3 Karakteristik Iklim ................................................................................ 24
5.3.4 Karakteristik Ekologi ........................................................................... 24
5.3.5 Populasi Demografis ........................................................................... 27
5.3.6 Penggunaan Lahan dan Air .............................................................. 28
5.3.7 Batas Wilayah ...................................................................................... 28
5.3.8 Penanganan isu-isu dan Ancaman-Ancaman................................. 29
5.3.9 Penyelesaian Lembar Data ............................................................... 30
xiv xiv xiv xiv xiv Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
5.4 Data Level 4 : Habitat Lahan Basah ........................................................... 31
5.4.1 Nama dan kode habitat lahan basah.............................................. 31
5.4.2 Lokasi geografi .................................................................................... 31
5.4.3 Karakteristik iklim ................................................................................ 31
5.4.4 Karakteristik ekologis ......................................................................... 32
5.4.5 Pengelompokkan habitat .................................................................... 46
5.4.6 Potensi dan manfaat lahan basah................................................... 47
5.4.7 Penggunaan lahan dan air ............................................................... 48
5.4.8 Penanganan permasalahan dan ancaman-ancaman.................... 48
5.4.9 Program-program monitoring dan penanganan ............................. 48
5.4.10 Lembar data penyelesaian ................................................................ 48
Daftar Pustaka ................................................................................................................................ 49
Daftar Lampiran
Lampiran A Resolusi-resolusi dari Konferensi San Jose .............................................. 55
Lampiran B Pengklasifikasian jenis-jenis lahan basah berdasarkan Ramsar ........... 59
Lampiran C Pemberian Nama dan Kode untuk Lembah Sungai Besar dan
Kepulauan-Kepulauan di Asia....................................................................... 61
Lampiran D Lembar Data Level 1 Lembah-Lembah Sungai Besar Daerah
Daerah Pesisir Pantai dan Kepulauan ....................................................... 63
Lampiran E Lembar Data Level 2 Sub-Lembah Sungai dan Sub- Daerah
Pesisir Pantai .................................................................................................. 65
Lampiran F Lembar Data Level 3 Kompleks-Kompleks Lahan Basah ................... 67
Lampiran G Lembar Data Level 4 Habitat Lahan Basah .......................................... 71
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia xv xv xv xv xv
Daftar Tabel
Tabel 1. Pengelompokan berbagai Potensi dan manfaat daerah lahan basah..... 16
Tabel 2. Pendorong utama penanganan permasalahan dan ancaman................... 17
Tabel 3. Area permukaan lahan basah ......................................................................... 19
Tabel 4. Pengelompokan berbagai fungsi dan manfaat lahan basah ..................... 21
Tabel 5. Perkiraan faktor pendorong terhadap penanganan permasalahan
dan ancaman...................................................................................................... 22
Tabel 6. Tingkat pengikisan sepanjang pesisir pantai dan kompleks lahan
basah ................................................................................................................... 25
Tabel 7. Pengelompokan daerah pesisir pantai berdasarkan jangkauan
pasang surut air ................................................................................................ 25
Tabel 8. Tingkat pengaruh penampungan air buangan terhadap kualitas air ...... 26
Tabel 9. Kategori kepadatan penduduk ........................................................................ 28
Tabel 10. Klasifikasi penggunaan lahan dan air ........................................................... 29
Tabel 11. Penanganan permasalahan dan ancaman terhadap keragaman
lahan basah........................................................................................................ 30
Tabel 12. Pengelompokkan struktur tanah yang membentuk lahan basah .............. 32
Tabel 13. Pengelompokkan struktur tanah yang membentuk lahan basah
di wilayah pesisir pantai ................................................................................... 33
Tabel 14. Ketentuan untuk menetapkan luas daerah lahan basah ........................... 34
Tabel 15. Pengelompokkan tekstur lapisan tanah......................................................... 36
Tabel 16. Pengelompokkan daerah yang tidak tergenang air pasang dan
dapat di jadikan lahan basah ......................................................................... 37
Tabel 17. Pengelompokkan karakteristik arus panas berdasarkan perbedaan
jenis pencampurannya ...................................................................................... 38
Tabel 18. Pengelompokkan kadar garam........................................................................ 38
xvi xvi xvi xvi xvi Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Tabel 19. Pengelompokkan kadar asam berdasarkan satuan PH.............................. 39
Tabel 20. Pengelompokan transparansi yang diukur dengan secchi disc................ 40
Tabel 21. Kaitan umum mengenai produktifitas lahan basah untuk
memperkirakan konsentrasi total kandungan fosfor di dalamnya ............ 40
Tabel 22. Contoh format berdasarkan pengelompokan kumpulan vegetasi ............. 41
Tabel 23. Contoh format pengelompokan spesies vegetasi ........................................ 42
Tabel 24. Contoh format dokumen pengumpulan spesies vegetasi dari suatu
konservasi yang signifikan ............................................................................... 43
Tabel 25. Contoh format dokumen pengumpulan species binatang dari suatu
konservasi yang signifikan ............................................................................... 44
Tabel 26. Contoh format tabulasi data populasi yang berlimpah (a) dan
informasi tentang populasi perkembangbiakan (b) ..................................... 45
Tabel 27. Contoh format daftar binatang taxa yang penting, digabungkan
dengan setiap habitat utama disertai dengan penyediaan petunjuk
informasinya........................................................................................................ 45
Tabel 28. Ringkasan daftar standar lahan basah yang penting untuk dunia
berdasarkan Ramsar Convention ................................................................... 46
Tabel 29. Pengelompokkan 13 kategori dasar dari lahan basah yang dibentuk
oleh kombinasi bentuk dan sifat hydroperiod .............................................. 47
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 1 11 11
Pendahuluan
S
ecara garis besar buku panduan inventarisasi lahan basah ini bertujuan untuk
menyediakan alat bantu yang efektif dalam mengumpulkan informasi untuk
mengelola sumber daya alam yang berasal dari lahan basah. Mekanisme ini
menggunakan strategi dan pendekatan hirarkis dalam mengumpulkan informasi mengenai
lahan basah, sementara itu dalam proses pengumpulan, penyimpanan, dan penyebaran
datanya menggunakan tekhnologi terbaru. Untuk penyusunan buku A Directory of Asian
Wetlands yang menyediakan ringkasan informasi mengenai status, ancaman, keanekaragaman
hayati yang penting dari 947 tempat lahan basah di 24 negara Asia (scott & Poole 1989:
Scott 1989) dibuat berdasarkan pada inventarisasi yang sebagian besar dibuat pada
pertengahan akhir tahun 1980-an). Namun,dengan adanya persamaan-persamaan dalam
inventarisasi yang disalurkan pada tempat-tempat lain di dunia ini menunjukan bahwa analisa
ini tidak lengkap dan pada saat ini sudah ketinggalan jaman sehingga perlu untuk direvisi
(Watkins dan Parish 1999: Finalyson et. al. 1999).
Adanya kekurangan dalam inventarisasi lahan basah seperti yang diuraikan dalam beberapa
International fora ( Finlayson & Davidson 2001, Finlayson et al 1999,2001) telah menghasilkan
sebuah dokumen resmi yang disahkan oleh Ramsar Convention untuk Wetlands di Costa
Rica, pada bulan Mei 1999 (http://ramsar.org/cop7_doc_19.4_e.htm). Dokumen ini berhasil
melahirkan suatu resolusi yang mendorong berkembangnya suatu pendekatan sistematis
dan standarisasi bagi inventarisasi lahan basah yang berdasarkan pada keputusan awal
dari pihak-pihak yang mengadakan perjanjian terhadap konvensi untuk mengembangkan
inventarisasi lahan basah nasional sebagai rencana kerja nasional dalam pengelolaan
lahan basah. karena begitu pentingnya menjalankan inventarisasi lahan basah yang tersusun
secara baik, maka terbentuklah lokakarya Wetlands International yang diadakan di Dakar,
Senegal, bulan November 1998 ( Finlayson et al 2001). Lokakarya ini menghasilkan beberapa
rekomendasi dan protokol awal dalam merencanakan inventarisasi lahan basah secara
garis besar (Finlayson 2001). Beberapa rekomendasi dalam lokakarya ini tercantum dalam
latar belakang dokumen resmi untuk kepentingan pertemuan Ramsar Convention di Costa
Rica. Pertemuan ini menghasilkan suatu draft kerangka kerja perencanaan inventarisasi
lahan basah atas nama konvensi; kerangka kerja tersebut akan di bahas secara khusus
pada konferensi pertemuan yang akan di laksanakan mendatang bagi pihak-pihak yang
mengadakan perjanjian dalam konvensi ini. (Valencia, Spanyol, November 2002).
Finlayson (1996) membedakan antara inventarisai lahan basah dengan yang tertera pada
buku petunjuk mengenai lahan basah, sebagai berikut:
1 11 11
2 22 22 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Sebuah buku petunjuk dan inventarisasi, biasanya digunakan untuk menyusun jenis
informasi yang sama, namun yang pertama hanya terbatas pada informasi terkini &
pembahasannya tidak secara luas. Umumnya suatu inventarisasi mencakup langkah-
langkah penelitian untuk mendapatkan informasi lanjutan, dan dengan demikian dapat
menyajikan suatu ulasan yang lebih luas.
Kemudian Finlayson (1996) menambahkan lebih lanjut
Dalam kenyataannya, syarat-syarat yang sering digunakan tidak dapat diubah, dan
oleh sebab itu batasannya menjadi lebih menonjolkan sisi keilmuannya & tidak dapat
diganggu gugat pada pembahasan selanjutnya mengenai invetarisasi lahan basah
secara luas.
Dalam konteks ini, kitapun menyadari bahwa inventarisasi lahan basah dapat memberikan
suatu dasar dalam mengumpulkan ilmu pengetahuan yang bisa diandalkan serta memberikan
informasi yang bisa dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan mengenai konservasi
& kegunaan lahan basah secara bijaksana (Dugan 1990, Finlayson 1996). Inventarisasi
lahan basah juga dapat membantu pemerintah mengidentifikasi lahan-lahan basah untuk
kepentingan nasional maupun internasional & memprioritaskan konservasi alam &
pengembangannya bersamaan dengan pengelolaan sumber-sumber kekayaan alam,
khususnya air, perikanan dan/ atau perhutanan. Ramsar Convention telah mengembangkan
inventarisasi lahan basah untuk tujuan :
Pengidentifikasian fungsi & nilai-nilai lahan basah, termasuk masalah ekologis, sosial
& nilai-nilai budaya.
Mengembangkan suatu ukuran dasar, fungsi serta nilai bagi lahan basah apabila
mengalami perubahan di kemudian hari.
Pengidentifikasian keberadaan lahan basah, untuk kepentingan konservasi
Penyediaan peralatan untuk perencanaan & pengaturan, yang keduanya berlaku untuk
kepentingan praktis dan/atau politik ; serta
Memberikan suatu perbandingan antara pemerintah yang melaksanakan suatu prosedur
penanganan tertentu terhadap lahan-lahan basah itu sendiri dengan pengelola khusus
(yang bersifat lokal, nasional maupun internasional) dengan tingkat kesulitan yang berbeda.
Pihak-pihak yang menjalankan perjanjian Ramsar, telah terdorong untuk melaksanakan
inventarisasi lahan basah secara lebih baik dan efisien serta menetapkan dan mempertahankan
inventarisasi nasional dan pengidentifikasian semua lahan basah yang memenuhi kriteria
untuk kepentingan dunia internasional (http://www.ramsar.org/key_criteria.htm). Selanjutnya,
penginventarisasian lahan basah dapat memberikan informasi untuk mendukung berbagai
program nasional dan memenuhi keperluan laporan berbagai risalah internasional, seperti
konvensi keanekaragaman hayati, perpindahan spesies, desertifikasi, peninggalan alam &
perubahan iklim. Pada saat yang bersamaan, strategi regional, seperti strategi konservasi
perpindahan burung air di wilayah Asia-Pasifik (http://www.wetlands.org/ iwc/awc/
waterbirdstrategy/default.htm) sangatlan bergantung pada informasi yang bisa di akses
melalui sistem inventarisasi, untuk perencanaan dan prioritas penanganannya serta tindakan
pengawasannya.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 3 33 33
Lebih lanjut lagi, dengan terbentuknya suatu konsensus yang luas & berkembang bagi
kepentingan lahan-lahan basah tersebut yang juga merupakan suatu ekosistem yang benar-
benar penting, serta dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi lingkungan kehidupan
sosial dan perekonomian baik secara lokal maupun global. Maka, suatu inventarisasi harus
dapat menyediakan informasi bagi berbagai kepentingan serta melibatkan peran serta yang
berbeda bagi para stakeholder (organisasi yang terkait). Sangatlah penting untuk diingat,
bahwa suatu inventarisasi itu menyediakan informasi yang lengkap bagi kepentingan tertentu,
dalam suatu bentuk yang siap dipergunakan oleh para stakeholder. Agar hal ini berhasil,
para stakeholder dan pengguna informasi ini disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu
sebelum melakukan pengembangan dan pelaksanaan inventarisasi ini. Maka sangatlah
ditekankan bahwa cara serta kegunaan suatu inventarisasi yang dapat mengakses kebutuhan
informasi, haruslah di sepakati terlebih dahulu sebelum pengumpulan data dimulai.
Dari beberapa alasan yang saling berkaitan sebagaimana disebutkan di atas, berguna
untuk membentuk suatu inventarisasi yang baik seperti digambarkan dalam forum diskusi
yang diadakan oleh Wetlands International dalam lokakaryanya di Senegal (Finlayson 2001,
Finlayson & Davidson 2001).
Berdasarkan pada analisis sebelumnya, khususnya yang telah didiskusikan dalam lokakarya
Senegal, dasar dari mekanisme tersebut berada dalam Inventory of Asian wetlands, tergambar
dalam buku panduan ini. bagian terpenting dari hal-hal tersebut di atas dibuat secara
hirarkis dan peta dasar yang dijabarkan dalam empat tingkatan secara rinci.
Detail tiap tingkatan dihubungkan dengan skala pemetaan yang didalamnya memuat format
standar dari Geographis Information System (GIS) dengan perangkat data inti yang maximun.
Mekanisme tersebut diatas juga mengacu pada bermacam-macam rekomendasi yang dibuat
pada tinjauan sumber-sumber lahan basah yang kemudian disalurkan melalui Ramsar
Convention ( http://www.ramsar.org/key_res-vii.20e.thm ) dan dapat dilihat pada Lampiran
A. Satu hal penting dalam pendekatan ini adalah untuk pengadopsian tindakan sistem
multi-scalar (hirarkis) guna memungkinkannya data utama mengenai lahan-lahan basah
yang dikumpulkan pada skala yang berbeda untuk kepentingan yang berbeda pula. Namun
didalamnya memuat suatu gabungan sistem pengaturan data untuk mendukung penggunaan
informasi yang maksimum.
4 44 44 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Tujuan
B
erdasarkan pada penjelasan sebelumnya, inventarisasi lahan basah oleh AWI,
bertujuan untuk mengembangkan suatu standarisasi dan penyeragaman metodologi
yang dapat dipergunakan secara regional maupun global untuk kepentingan:
Pengembangan standarisasi pengumpulan data lapangan;
Penyediaan sumber data/informasi tentang lahan basah di Asia untuk pemerintah
nasional maupun untuk mendukung konvensi internasional dan berbagai risalah tentang
lahan basah, perubahan iklim, keanekaragaman hayati, perpindahan spesies dan
desertifikasi, serta pelaksanaannya yang dilakukan oleh pihak pemerintah;
Penganalisaan untuk jangka panjang tentang kecenderungan lahan basah di Asia
dan sumber-sumber kekayaan alamnya;
Adanya kemungkinan untuk merevisi secara teratur, serta memperbaharui informasi
penting tentang lahan basah di lingkungan nasional maupun internasional di seluruh
Asia; dan
Penyebaran berbagai analisa yang terkumpul untuk perluasan kepentingan yang
dapat dipergunakan untuk mendukung pengembangan serta konservasi sumber-sumber
lahan basah.
Maksud dibuatnya buku panduan ini adalah untuk menuntun penyusunan inventarisasi lahan
basah yang dilakukan secara bertahap dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut di atas.
2.1 Cakupan Geografis
Sasaran AWI adalah negara-negara/daerah-daerah teritorial termasuk negara-negara Asia
seperti yang tertera dalam Directory of Asian wetlands, dan negara-negara yang termasuk
dalam wilayah Asia Tengah, Rusia Timur di daerah pegunungan Ural serta daerah-daerah
lainnya yang secara regional geografisnya saling berdekatan.
2 22 22
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 5 55 55
Metoda
C
iri-ciri utama dalam pendekatan yang dilakukan oleh AWI adalah menghasilkan
peta-peta, mengumpulkan data, dan menganalisa kategori data yang standar dengan
menggunakan kerangka kerja hirarki dan dalam bentuk skala. Kerangka kerja ini
menghubungkan skala pemetaan dan detail dari setiap level yang diketahui.
3.1 Definisi Lahan Basah
Lahan basah di Asia terdiri dari bermacam-macam jenis, seperti habitat alami dan buatan
(Scott 1989; Watkins & Parish 1999) termasuk:
Daerah inter-tidal dan muara, seperti danau, pesisir, batu karang yang berada di
daerah terbuka, endapan lumpur dan pasir, danau air asin (di daerah yang bertemperatur
rendah) dan hutan bakau (di daerah tropis dan sub-tropis);
Sungai dan rawa yang terbentuk dari genangan banjir, anak sungai dan danau;
Danau air tawar dan hamparan ilalang baik yang bersifat temporer maupun permanen
Hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar, serta
Gambut dan lumpur
Sedikit sekali jenis lahan basah yang termasuk dalam jenis musiman, seperti danau air
asin dan/atau yang mengandung alkalin. Di Asia juga memiliki lahan basah buatan, seperti
sawah yang bersifat musiman, ladang garam, kolam aquakultur dan waduk.
Dari contoh tersebut di atas, dapat terlihat bahwa betapa sulitnya dalam mendefinisikan lahan
basah. Hal ini telah berlangsung sejak lama (Finlayson & Van der Valk 1995), yang sebagian
terkait dengan masalah penjelasan habitatnya yang sering kali dianggap sebagai ecotones
antara habitat air dan darat. Satu hal yang sangat penting tentang lahan basah, bahwa
lahan basah sudah diterima dan mendapat pengakuan dunia berkat Ramsar Convention.
Meskipun demikian, ketika ditegaskan oleh Finlayson (1999) saat mengembangkan protokol
untuk inventarisasi lahan basah di Australia, definisi tentang lahan basah ini cenderung meluas,
seperti lahan basah di pesisir pantai dan laut, mengingat keduanya berada dalam perairan
dalam dan terjadi karena adanya penggenangan air secara musiman dan sporadis. Namun
pencantuman daerah laut telah menimbulkan banyak perdebatan.
3 33 33
6 66 66 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Catatan, situasi ini tidak pernah ada dalam definisi yang dihasilkan dan disetujui oleh Ramsar
sebagai dasar dari inventarisasi ini.
Maka :
Lahan basah adalah wilayah-wilayah rawa, daratan rendah, gambut atau air, baik
alami atau buatan, permanen atau temporer, dengan air tenang atau mengalir, tawar,
payau atau asin, termasuk area laut dengan kedalaman air yang tidak melebihi 6
meter pada saat air surut.
Artikel 2.1 dari Ramsar Convention menetapkan tentang lahan basah, yaitu :
Daerah pesisir pantai dan riparian yang berbatasan dengan lahan basah dapat dimasukkan
dalam inventarisasi, begitu pula pulau-pulau atau daerah laut yang memiliki kedalaman
lebih dari 6 meter pada saat air surut.
Definisi tersebut di atas untuk mendukung kepentingan resmi pihak nasional dan internasional
berkaitan dengan Ramsar Convention, namun secara cukup luas juga membantu
penganalisaan lahan basah yang dalam melakukan inventarisasi menggunakan definisi yang
lebih sempit.
3.2 Klasifikasi Lahan Basah
Tipologi habitat dan ekosistem lahan basah yang didasarkan pada ketentuan Ramsar (lampiran
B) sangat bermanfaat dan sudah digunakan secara luas, tipologi habitat dan ekosistem
lahan basah tersebut didasarkan pada penggabungan antara vegetasi, tanah, penggenangan
air dan ciri-ciri bentuk tanah yang tidak selalu sama dan agak membingungkan (Semeniuk
dan semeniuk 1995, 1997). Analisa dan review terbaru mengenai klasifikasi lahan basah
telah menggarisbawahi kepentingan untuk mengatasi ketidakstabilan dalam klasifikasi ini.
Disimpulkan oleh Finlayson dan Davidson (1990) bahwa klasifikasi yang stabil dan baik
adalah didasarkan pada bentuk tanah dan airnya kedua cir-ciri dasar tersebut menentukan
keberadaan setiap tipe lahan basah, tanpa menitik beratkan pada faktor iklim, jenis tanah,
tumbuhan atau asal usulnya.
Beberapa klasifikasi lahan basah telah dikembangkan di USA (Brinson 1993) dan Australia
(Semeniuk dan Semeniuk 1995) yang diusulkan untuk dimasukkan kedalam kategori standarisasi
sistem inventarisasi nasional Australia (Finlayson 1999). AWI bertujuan untuk memanfaatkan
berbagai pendekatan yang lebih stabil dan modern, seperti yang akan diuraikan dibawah ini.
Dengan demikian, AWI membantu pengklasifikasian yang didasarkan pada 5 kelengkapan
bentuk tanah, serta 4 karakteristik hidrologis yang menghasilkan 13 kategori lahan basah
(Tabel 29). Kesemuanya merupakan kategori yang bersifat eksklusif satu sama lain dan
memberikan dasar yang stabil dalam mengidentifikasi lahan basah. Hal ini akan memudahkan
adanya suatu pendekatan skala klasifikasi inventarisasi lahan basah tanpa terjebak pada
permulaannya, sebagai contoh, keberadaan utama suatu tumbuhan yang tidak dipengaruhi
oleh iklim dan bentuk tanah. Pendekatan ini menghasilkan kesamaan lahan basah yang
meliputi keadaan iklim, geomorfis, tanah, dan tumbuhan berdasarkan pada alasan karakteristik
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 7 77 77
bentuk tanah dan air, baik yang bersifat dominan dan/atau umum untuk semua lahan
basah, tanpa memperhatikan lingkungannya. Pengklasifikasian dapat diuraikan secara luas,
dengan menambahkan penggambaran tentang kadar garam, tumbuhan yang menutupinya,
bentuk dan ukuran, sebagaimana digambarkan dibawah.
Pengklasifikasian lahan basah tertentu dapat diperoleh dari informasi yang dimuat dalam
kumpulan data selama melakukan inventarisasi dan, khususnya informasi tentang bentuk
tanah dan air tersebut di atas, berdasarkan pada klasifikasi hidrogeomorfis. Penting untuk
diingat bahwa pengkategorian lahan basah berdasarkan tipologi yang ditetapkan oleh Ramsar,
tidaklah semudah seperti yang diambil dari data pusat yang tertera dalam lembar data
yang merefleksikan adanya ketidakstabilan dalam melakukan klasifikasi. Ditambah pula
bahwa data pusat yang dikumpulkan dalam lembaran data dapat dipergunakan untuk
membantu atau memperoleh klasifikasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu.
3.3 Pemetaan Lahan Basah
Tujuan utama AWI memetakan lahan basah adalah untuk menyajikan peta dan pemetaan
sumber-sumber lahan basah di Asia, dengan mengambil habitat-habitat lahan basah di
sepanjang wilayah intertidal sampai masuk kedalam, dan menampilkan informasi tersebut
melalui pemetaan dengan GIS. Dengan demikian akan menghasilkan jenis skala peta yang
berbeda-beda serta jumlah rinciannya akan tergantung pada kepentingan inventarisasi dan
ukuran lahan basah itu sendiri.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dikemukakanlah suatu hirarki pemetaan empat skala
seperti berikut :
1. 1 : 500.000 1 : 1000 000 skala peta untuk lembah-lembah sungai besar, wilayah
pesisir pantai atau kepulauan,
2. 1 : 250.000 1 500.000 skala peta untuk sub-lembah sungai dan sub-wilayah pesisir
pantai,
3. 1 : 100.000 1 250.000 skala peta untuk komplek-kompleks lahan basah,
4. 1 : 10.000 1 : 50 000 skala peta untuk habitat lahan basah.
Lembah sungai, wilayah pesisir pantai dan pulau besar sebaiknya digunakan untuk penentuan
regionalisasi geografis di Asia, karena hal tersebut tidak hanya melintasi batas politik akan
tetapi memiliki perbedaan topografi dan hidrologi. Daerah pesisir pantai dapat terdiri dari
beberapa sungai kecil dan lembah sungai utama yang mengalir diantara benua seperti
barisan pegunungan yang terbentang pendek dan paralel dari pantai. Sebuah sub-daerah
pesisir pantai dapat terdiri dari satu lembah sungai kecil yang kemudian diasosiasikandalam
lahan basah pantai.
Keempat skala di atas dikembangkan kedalam sistem hirarki, hal tersebut akan memberikan
perbedaan informasi dalam pengelolaan lahan basah. Adanya hubungan inter-link data lapangan
pada setiap skala, sangat membantu untuk pengumpulan inventarisasi baik dari atas ke
bawah maupun dari bawah ke atas, tergantung pada kepentingan inventarisasi itu sendiri.
Informasi dari setiap skala dapat menghasilkan kebutuhan laporan yang berbeda pula.
8 88 88 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Gambar 1: Empat level bentang daratan (multi-scale) yang dikembangkan AWI.
Detail level yang berbeda dengan skala penempatan dalam satu hirarki dari
keseluruhan lembah sungai / catchment level (1) ke level habitat (4).
Sumber : Level 1 diadaptasi dari WRI (2001 a) dan WRI (2001 b), level 2 dan 3 dari ESRI (1993), level
4 dari USGS, 2001.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 9 99 99
Lembah sungai utama, daerah pesisir pantai dan kepulauan di Asia (seperti terlihat sebagian
di Gambar 2) dibuat berdasarkan pada hasil pemetaan dan akan disertai dengan teks
penjelasan seperti, ciri-ciri utama, faktor geologis, iklim dan vegetasi. Peta ini akan dimuat
dalam sistem informasi geografi (SIG) dan informasi pada setiap bagian ini dapat diperlihatkan
baik pada skala kepulauan maupun lembah sungai.
Gambar 2: Peta skematis lembah sungai utama dan kepulauan di Asia, menunjukan
bermacam kode dan daerah lembah sungai utama maupun daerah pesisir pantai
yang masih perlu ditetapkan (daerah yang berwarna gelap), nama dan kode dapat
dilihat pada Lampiran C.
(Sumber : diadaptasi dari WRI 2001 a)
Keberadaan lembah sungai menentukan konteks geografis untuk penggambaran dan pemetaan
daerah lahan basah pada masing-masing lembah itu sendiri. Dalam hal ini, daerah-daerah
pada setiap lembah sungai yang memiliki kesamaan struktur tanah dan air yang ditentukan
oleh ciri-ciri topografi suatu lahan, hidrologi serta iklimnya, curah hujan, akan digambarkan
dan ditunjukkan pada peta (skala (1:250 000 1:1000 000). Peta regional dapat menunjukan
gambaran umum dan pemetaan ( skala (1:100 000 1:250 000) kompleks-kompleks lahan
basah yang memiliki persamaan-persamaan sub-catchment, yang mana kesamaan-kesamaan
daerah ini selanjutnya dapat dipisah menjadi habitat tersendiri berdasarkan pada penjelasan
ciri-ciri topografisnya secara detail (skala (1:10 000 1:50 000)
10 10 10 10 10 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Pendekatan secara hirarki dengan skala pemetaan dapat memberikan perkembangan yang
cukup logis, dengan demikian diharapkan penggambaran skala dan pemetaan habitat
dikerjakan secara berurutan, karena terbatasnya detail analisis yang ditunjukkan oleh perwakilan
lembaga nasional, baik mengenai spesifikasi lokasi pusat (site-base) dengan pengaturan
regional & prioritas konservasi. Sebagai contoh, analisa berbagai sumber air atau hutan
pada tingkat propinsi atau nasional, atau pengkajian dampak-dampak perubahan secara
global di tingkat nasional atau tingkat propinsi. Dengan demikian, pendekatan secara hirarki
ini mengikuti pengkajian strategis akan kebutuhan-kebutuhan informasi dalam menghubungkan
skala-skala ruang. Lebih lanjut hal ini memberikan kerangka kerja sebagai pertimbangan
tersendiri bagi habitat lahan basah & lokasinya baik didalam maupun diluar jangkauan
jalur hukum perbatasan wilayah.
3.4 Gambaran Tentang Lahan Basah
Tujuan AWI selanjutnya adalah untuk menggambarkan keberadaan sumber lahan basah dengan
menggunakan data pusat. Sejak informasi lahan basah di Asia dikumpulkan sepanjang tahun
1980-an melalui buku panduan inventarisasi lahan basah Asian Wetland directory (Scott
1989:Scott&Poole1989), tidak ditemukan adanya pembaharuan sampai pada dekade terakhir
ini (Watkins&Parish 1999). Informasi yang terkandung dalam inventarisasi dan sumber-sumber
lain yang diidentifikasi oleh Spiers (1999) Watkins dan Parish (1999) diperkirakan sesuai
dengan kebutuhan pada setiap langkah pengumpulan informasi yang dilakukan oleh AWI.
Pada permulaan analisa (level 1) mencakup sebuah gambaran umum, dengan mengggunakan
situasi global dan peta regional Asia, yang didasarkan pada regionalisasi geografis pada
lembah-lembah sungai utama, daerah pesisir pantai dan kepulauan utama, meliputi suatu
gambaran ciri-ciri geologis, iklim dan ekologis pada tiap daerah, berdasarkan pada informasi
yang ada. Pembagian regional didasarkan pada pemetaan dan disajikan pada sistem informasi
geografis (SIG/GIS). Pembagian sub-lembah pada setiap lembah sungai utama, sub-daerah
pada daerah pesisir pantai dan kepulauan kecil lepas pantai (level 2) digambarkan berdasarkan
pada kesamaan karakteristik dasar, seperti iklim, geologis, hidrologis dan vegetasi. Setiap
sub-lembah dan sub-daerah pantai, selanjutnya dapat menjadi sub-cabang dari beberapa
kompleks lahan (level 3) yang berisi kesamaan karakteristik serta nilai-nilai ekologis secara
luas. Pengumpulan pulau-pulau kecil lepas pantai menjadi sub-cabang yang sama berdasarkan
pada ciri-ciri geografis pulau-pulau itu sendiri, atau kedalam kelompok pulau-pulau kecil.
Pengumpulan data berikutnya difokuskan untuk menggambarkan karakteristik habitat lahan
basah (level 4) yang diuraikan pada level 3. Penggambaran tersebut harus dilakukan
oleh orang yang memiliki ketrampilan yang sesuai dan memiliki kemudahan dalam mengakses
berbagai sumber data pada institusi dan perwakilan-perwakilan yang relevan untuk
mengidentifikasi sumber-sumber informasi. Penggunaan semua informasi perlu dikaji dan
digunakan sebagai dasar dalam menentukan luas dari analisa lebih lanjut termasuk untuk
pengumpulan data dan pekerjaan teknis. Secara umum gambaran yang diambil dalam
setiap tingkatan adalah sebagai berikut :
level 1 : Penelaahan dengan menggunakan informasi yang ada untuk menggambarkan
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 11 11 11 11 11
tiap lembah sungai utama, daerah pesisir dan pulau utama.
level 2 : Penelaahan dengan menggunakan informasi yang ada untuk mengidentifikasi
dan menggambarkan daerah sub-lembah, sub-wilayah pesisir dan sekumpulan kepulauan
kecil lepas pantai;
level 3 : Kegiatan yang bersifat teknis dan analisa untuk mengidentifikasi dan
menerangkan setiap kompleks lahan basah pada setiap sub-lembah sungai, sub-
daerah pesisir dan sekumpulan kepulauan kecil lepas pantai;
level 4 : Penjelasan secara rinci pekerjaan teknis dan analisa untuk menggambarkan
setiap habitat didalam kompleks lahan basah.
Lembaran data dan database yang berada di komputer (lihat bab 4) untuk setiap level
secara hirarki, telah dikembangkan. Lembaran data yang menunjukkan keberadaan data
inti setiap level dianggap penting untuk penjabaran dan penggambaran lahan basah, serta
dapat menyediakan format yang standar dalam proses pencatatan dan penyajian informasi.
Buku panduan ini tidak menguraikan berbagai metode untuk pengumpulan data secara
spesifik, untuk selanjutnya diperlukan buku panduan yang secara khusus memberikan
rekomendasi untuk berbagai metode, sebagai contoh, untuk menggambarkan suatu garis
batas suatu lahan basah atau mengkaji potensi serta perbaikan lahan basah. Untuk
pengembangan buku panduan berikutnya diharapkan bisa lebih lengkap.
12 12 12 12 12 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Pengelolaan Informasi
P
enekanan yang dititikberatkan pada penggunaan sekumpulan data spasial, beberapa
database dan teknologi GIS (http://ramsar.org/cop7_doc_19.4_e.htm) menunjukan
bahwa pengelolaan informasi adalah komponen yang sangat penting dalam proses
Invetarisasi lahan basah di Asia (Asean Wetlands Inventory (AWI)). Pada proses inventarisasi
lahan basah di Asia diberikan panduan untuk memasukan data-data melalui lembar data
yang telah dibakukan.
Pada saat mengambil, menganalisa dan mengelola informasi, dibutuhkan suatu analisia dan
pengelolaan terhadap informasi itu sendiri yang disusun pada setiap level, dimana sistem
pengelolaan informasi terdiri dari tiga kesatuan, namun beberapa unsur yang berbeda telah
dikembangkan, seperti :
1. Interaktifitas antara pemakai (user) dan database yang menyimpan informasi aktual
inventarisasi pada setiap level seperti yang ditunjukan dalam metodologi AWI;
2. Perangkat lunak (software) dan data-data GIS, terdiri dari data-data spasial untuk
inventarisasi lahan basah se Asia.
3. Metadatabase, menjelaskan data-data yang di-inventarisasi. Merekam berbagai item
sesuai kerangka kerja yang dikembangkan untuk metadatabase inventarisasi lahan
basah berdasarkan Ramsar.
Inti dari sistem inventarisasi AWI adalah sebuah database yang terkomputerisasi dengan
bantuan antarmuka (interface) untuk mengisi metadabase dan melakukan qury, dan GIS
yang mampu memberikan berbagai informasi. Hal ini dapat membantu dalam mengelola
data primer/merekam/mencari komponen-komponen project-nya. Sistem ini dirancang dengan
mengacu pada database MedWet (Tomas-Vivas et al.1996, Costa et al.2000) yang mempunyai
beberapa perbedaan yanng cukup signifikan, antara lain:
Penambahan kemampuan query untuk memenuhi keperluan yang bersifat umum,
Kemampuan untuk meng-import data dari berbagai format dan sumber lainnya,
Kemampuan untuk meng-eksport data,
Sejalan dengan metodologi AWI, data disusun dan disimpan kedalam bentuk hirarki,
dan ditegaskan oleh skala ruang dan tingkat/luas.
Database AWI versi pertama dikembangkan dalam format MS ACCESS 97. Selama proses
pemasukan data pemakai (user) dibantu dengan menu yang interaktif. Versi database
yang ada saat ini dan yang akan datang dapat mempermudah proses pengelolaan database
4 44 44
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 13 13 13 13 13
populasi dengan menggunakan beragam Tabel/skema yang lengkap, dan memberikan
keleluasaan bagi pemakai dalam memilih bagaimana untuk menjumlah beragam bagian
database. Pada saat yang sama pemakai juga dapat memberikan penjelasan khusus pada
suatu bidang tertentu berupa free-text. Database versi selanjutnya akan di-release sebagai
suatu sistem yang berdiri sendiri tanpa memerlukan Access atau paket database lainnya
yang diinstal pada komputer. Versi database yang ada saat ini tidak mendukung penggabungan
dengan perangkat lunak (software) GIS, pada versi berikutnya akan dikembangkan lagi
sehingga dapat mendukung perangkat lunak (software) GIS, seperti ArcView.
Pada tahap pengembangan sistem pengelolaan informasi, database ini akan dikembangkan
dan dikelola dengan menggunakan bahasa Inggris. Untuk selanjutnya diharapkan dapat
mendukung pengembangan kedalam multi-bahasa sebagai contoh, dengan menggunakan
Microsoft MultiLanguage Pack (untuk Access). Fleksibelitas tersebut memberikan kemudahan
dalam perubahan bahasa pada database. Walaupun database versi awal ini dikembangkan
dalam format Access 97, tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan pada versi Access
berikutnya, tergantung pada kebutuhan dan rating dalam program-program ini.
Pada database pengelolaan AWI memuat berbagai bidang yang direkomendasikan. Berbagai
bidang dan protokol yang digunakan dalam pengembangan sistem pengelolaan informasi
disesuaikan dengan standar database internasional. Kerangka kerja database AWI sangat
memungkinkan untuk dikembangkan keadalam database sub-regional atau nasional, yang
dikembangkan pada sistem dua bahasa dan tetap dapat bersatu dengan database yang
digunakan oleh pemakai lain yang menggunakan pendekatan AWI.
Penambahan data kedalam database secara terus-menerus akan menambah kapasitas
dokumen/pencatatan metadata, kutipan dan query, dan menambah kapasitas hubungan
data-data dengan software GIS yang menyimpan dan mencatat informasi GIS. Selama
pemasukan (entry) dan pengelolaan inventarisasi data bisa dipertanggung jawabkan, baik
oleh organisasi maupun perwakilan nasional, Wetlands International dapat memberikan bantuan
untuk keperluan sistem informasi dengan cara berkonsultasi dengan partner organisasi
serta berbagai perwakilan yang bersangkutan.
Lembaran data AWI seperti yang tertera pada lampiran D-G menunjukan jenis dan format
informasi yang dihasilkan dan dicatat pada setiap level telah ditentukan oleh AWI. Lembaran
data tersebut tersedia dalam format database (Microsoft Access 97). Informasi dari lembaran
data ini akan digunakan untuk data-data GIS selanjutnya. Pada versi database yang ada
saat ini, output yang berdasarkan pada peta disimpan dalam GIS dan pada database versi
berikutnya akan memungkinkan penyimpanan output didalam database itu sendiri.
Pada saat ini, situs http://www.wetlands.org/awi/ berfungsi sebagai media komunikasi, seperti
sarana pemberitaan dan diskusi yang dikelola oleh Wetlands International. Hal ini menunjukan
bahwa sistem informasi pengelolaan AWI pada waktu yang akan datang dapat dimanfaatkan
melalui internet, dengan mengizinkan para web browser melihat informasi yang ada, serta
diarahkan ke berbagai sumber data project inventarisasi. Di masa yang akan datang website
AWI ini berharap dapat menyediakan data-data GIS untuk level 1 dan 2, guna membantu
para user dalam menginventarisasi lahan basah pada level tersebut. Inventarisasi pada
level 3 dan 4 diharapkan dapat dilakukan oleh perwakilan nasional dan/atau organisasi
tersendiri dan hanya akan dapat diperoleh melalui situs AWI dengan izin dari perwakilan
serta organisasi yang bersangkutan.
14 14 14 14 14 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Pengumpulan Data Utama
5.1 Data Level 1 : Lembah Sungai Utama, Daerah Pesisir Dan Kepulauan
D
ata lapangan yang direkomendasikan untuk inventarisasi pada level satu ini (lihat
gambar 1) akan digambarkan seperti pada uraian di bawah, untuk format Tabel
dapat dilihat pada lampiran D. Tabel-Tabel tersebut akan disertakan untuk melengkapi
data atau informasi basemap - GIS (skala 1:500000 1:1000000) untuk setiap lembah
sungai, daerah pesisir atau kepulauan dalam penyusunan invetarisasi lahan basah.
Informasi mengenai lembah sungai, daerah pesisir pantai dan kepulauan di Asia, dapat diperoleh
dari berbagai sumber, seperti database Land Oceans Interactions in the Coastal Zone (LOICZ)
pada situs http://www./nioz.nl/loicz, dan World Resources Institute (WRI) pada situs http://
www.wri.org/wri/watersheds/watershed.html. Beragam peta dapat di-download dari situs tesebut,
disertai dengan profil setiap lembah sungai, termasuk informasi mengenai: wilayah lembah,
kepadatan penduduk; jumlah total jenis ikan, spesies ikan yang selalu berada pada daerah
tertentu (endemis), ancaman terhadap jenis ikan tertentu, dan spesies burung endemis; jumlah
lokasi (site) Ramsar, wilayah yang dilindungi, lahan basah dan jenis habitat atau tipe-tipe
vegetasinya; hilang/berkurangnya hutan primer; sejumlah waduk-waduk besar.
5.1.1 Nama dan kode lembah sungai utama, daerah pesisir atau kepulauan
Untuk keperluan dalam pengidentifikasian, sebaiknya setiap lembah sungai, daerah pesisir
atau kepulauan diberi nama dan kode yang unik. Untuk pemberian nama dan kode ini
bisa diambil dari Tabel nama dan kode yang telah direkomendasikan (lihat lampiran C),
pada situs database LOICZ (http://www.nioz.nl/loicz) atau ditentukan sendiri. Satu hal penting
dalam memberikan nama dan kode untuk setiap lembah sungai sebaiknya menggunakan
nama dan kode yang merefleksikan nama sungai utama yang mengaliri areanya.
5.1.2 Geologi
Gambaran umum zona geologi utama dari lembah sungai, daerah pesisir dan kepulauan di
Asia tersedia pada situs interaktiv Cornell University (http://atlas.geo.cornell.edu/ima.html),
pada situs tersebut pemakai diperbolehkan untuk men-download peta dalam format gambar.
Situs tersebut memiliki catatan metadata yang lengkap untuk kumpulan data (datasets)
geologis wilayah Asia-Pasifik.
5 55 55
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 15 15 15 15 15
5.1.3 Iklim
Lembah-lembah sungai utama, daerah pesisir dan kepulauan di Asia dapat dibagi kedalam
satu atau beberapa kelompok iklim dengan menggunakan klasifikasi iklim Koeppen. Penjelasan
tiap zona iklim (curah hujan perbulan dan data teperatur) lembah-lembah sungai besar
dan kepulauan tersedia pada situs United Nations Food and Agricultureral Organisation
(FAO).
http://www.fao.org/waicent/faoinfo/sustdev/EIdirectc/climate/EIsp0002.htm.
5.1.4 Wilayah Ekologi
Pembagian wilayah biogeografis secara umum yang dikembangkan oleh World Wildlife Fund
for Nature (WWF) dapat digunakan untuk menggambarkan lembah-lembah sungai besar,
daerah-daerah pesisir, dan kepulauan. Setiap unit biogeografis atau wilayah ekologis dalam
sistem WWF merupakan unit daratan atau perairan yang luas yang memiliki sekumpulan
komunitas alami yang berbeda, disertai dengan keberadaan spesies mayoritas yang dinamis
dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan itu sendiri. Peta-peta wilayah ekologis (khususnya
wilayah-wilayah Paleartic dan Indo-Malay) dapat di-donload dari situs WWF (http://www.wwfus.org/
ecoregions/index.htm). Setiap wilayah ekologis mengandung informasi detail tentang lokasinya,
iklim, geografis, keadan vegetasi umum, biodiversity khusus (termasuk spesies endemik)
status dan ancaman-ancaman yang tersedia secara online.
5.1.5 Vegetasi
Data-data yang dapat digunakan untuk menerangkan wilayah-wilayah geografi vegetasi
dapat diperoleh dari database United Nations Evironmet Program Global Resource Information
(UNEP GRID). Database tersebut menyertakan dua sumber informasi: the Global Vegetation
Map yang produksi oleh Murai et.al. (1990) dan satunya diproduksi oleh Matthews (1983).
Untuk lebih detail, kedua informasi tersebut dapat diakses melalui situs UNEP-GRID ( http:/
/www.grid.unep.ch/data/)
5.1.6 Area dan Tipe Lahan Basah
Catatlah luas daerah lahan basah (dalam km
2
) dan proporsi areanya (dalam %) untuk
setiap lembah sungai utama, daerah pesisir, dan kepulauan. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan tekhnik remote sensing yang dapat dikembangkan untuk memetakan penyebaran
lahan basah baik pada skala regional maupun global. Data-data untuk area dan tipe
lahan basah ini sudah diberikan oleh Matthews dan Fung (1987) yang dapat diakses pada
website UNEP-GRID (http://www.grid.unep.ch/data/). Data-data tersebut dapat
dipertanggungjawabkan sebagai sumber informasi umum pada lahan basah yang melimpah.
Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan , karenan adanya ketidaksamaan tentang
definisi lahan basah dan adanya hal-hal yang menyangkut keadaan, seperti perbedaan
wilayah, perkiraan secara umum tentang luas dan tipe lahan basah pada suatu wilayah,
16 16 16 16 16 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
seperti asia tentunya sangat berbeda. Sumber-sumber informasi lainnya dapat diperoleh
pada Digital Chart of the World yang dibuat oleh US Defense Mapping Agency (Danko
1992), dan bisa dibeli di kantor Environmental Systems Research Institute Ltd. (ESRI) terdekat
atau penyedia perangkat lunak (software) setempat.
Sumber informasi lain tentang luas lahan basah dapat diperoleh di website peta ecoregion
WWF untuk Asia (http://www.wwfus.org/ecoregions/index.htm.) dan website WRI maps of primary
river basins (http://www.wri.org/wri/watersheds/ watersheds.html). Proyek e-atlas sumber-sumber
air dan lahan basah yang akan segera dikembangkan oleh UNEP-GRID (http://www.grid.unep.ch/
activities/ sustainable/wateratlas/index.html) dapat dijadikan sebagai informasi tambahan.
5.1.7 Potensi dan Manfaat Lahan Basah
Terangkan potensi dan manfaat yang dapat diberikan oleh suatu daerah lahan basah dengan
menggunakan informasi yang telah dikembangkan oleh Millenium Ecosystem Assessment
(MA) (http://www.millenniumassessment.org) sebagai panduannya (lihat Tabel 1). Potensi
dan manfaat utama lahan basah mungkin akan berbeda-beda, hal tersebut tergantung
pada wilayah yang akan dikembangkan, tidak dikembangkan atau sedang dikembangkan.
Informasi ini dapat digunakan dalam analisa-analisa yang akan datang untuk menerangkan
tingkat degradasi lahan basah dan hilangnya potensi serta manfaat lahan basah pada
skala lokal, regional dan global (Mitsch dan Gosselink 1986).
Tabel 1. Pengelompokan macam-macam potensi dan manfaat yang diberikan lahan basah
(sumber : kelompok kerja Millenium Ecosystem Assesment, http://
www.milleniumassessment.org/en/workgroups/index.html)
Potensi dan Manfaat
Air tawar
Makanan, serabut dan bahan bakar
Produksi biologis lain
Regulasi biologis lain
Perputaran bahan gizi dan kesuburan tanah
Regulasi atmosfir dan iklim
Kontrol Kesehatan manusia
Proses pembuangan dan detoxifikasi
Perlindungan terhadap banjir, badai dan erosi
Perbaikan kultural dan fasilitas
5.1.8 Penanganan Permasalahan dan Ancaman
Gunakan informasi yang diperoleh pada peta wilayah ekologis WWF untuk Asia (http://
www.wwfus.org/ecoregions/indexs.htm.) dan konsep kerangka kerja dari Millenium Ecosystem
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 17 17 17 17 17
Assessment (MA) (http://www.millenniumassessment.org), untuk mengidentifikasi sebab-sebab
utama hilang dan menurunnya suatu daerah lahan basah di suatu wilayah. Identifikasi beragam
ancaman atau tekanan yang mengkhawatirkan bisa mengacu pada pendorong utama dalam
kerangka kerja MA dan dianggap sebagai suatu kekuatan utama yang mempengaruhi satu
atau lebih dari yang dinamakan proximate drivers seperti yang tergambar dalam level 2
(Tabel 5).
Tabel 2. Pendorong utama dari managemen pokok permasalahan dan sejumlah ancaman
(Sumber : Konseptual kerangka kerja MA, www. Milleniumassessment.org)
Pendorong Utama Contoh
Demografis Pertumbuhan populasi dan struktur demografis: jarak penyebaran populasi
Ekonomi Kebijakan perdagangan dan globalisasi : struktur dan pertumbuhan ekonomi; pola
konsumsi; distribusi pemasukan dan kekayaan; agrikultur, kebijakan kehutanan dan
perikanan.
Sosio-Politik Tindakan bersama/pemerintah; demokrasi; penempatan keseimbangan; sikap terhadap
perbedaan gender; keterlibatan dalam konflik/perang.
Teknologi Inovasi pertanian; teknologi informasi, kecepatan perubahan teknis; akses menuju
informasi/undang-undang hak intelektual.
Biofisika Iklim, kedalaman laut
Sebagai catatan bahwa perbedaan antara pokok permasalahan dan bermacam-macam
ancaman telah di tetapkan oleh Ntiamo Baidu et al (2001) :
Pokok permasalahan yang dihadapi oleh suatu lahan basah yang paling mendasar
adalah faktor sosial-ekonomi dan/atau politik (contohnya: urbanisasi, tekanan tingkatan
populasi penduduk, sektor struktural) yang dapat menuntun ke arah perubahan yang
bersifat merugikan pada karakter ekologis dari lahan basah itu sendiri.
Yang dikatakan ancaman bagi suatu lahan basah adalah faktor alamiah yang bersifat
spesifik atau yang disebabkan oleh manusia (contohnya: tanah longsor, letusan gunung
berapi, polusi air, pengendapan lumpur, perluasan lahan pertanian, over-exploitasi/
sehingga dapat mengakibatkan suatu kerugian pada karakter ekologis lahan basah
atau bahkan menyebabkan hilangnya karakter ekologis tersebut.
5.1.9 Lembar Data Penyelesaian
Nama dan alamat penyusun/pengisi : sertakan nama dan alamat penyusun seperti
yang diperlihatkan pada Tabel (lihat lampiran D).
Lembar Tanggal penyelesaian/perubahan : sertakan tanggal penyelesaian/ perubahan
lembar data (misalnya, 02 October 2001).
18 18 18 18 18 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
5.2 Data Level 2 Sub - Lembah-lembah Sungai Dan Sub Wilayah Pesisir
Pengumpulan data level-2 difokuskan pada sub-sub lembah sungai dan sub-sub daerah
pesisir (gambar 1) yang telah ditetapkan pada level-1. Dalam beberapa kasus, sekelompok
pulau kecil lepas pantai dapat disertakan pada level-2, tergantung pada luas area yang
diperhatikan, satu atau lebih sub-sub lembah sungai utama atau kepulauan dapat dianggap
sebagai satu kesatuan.
Lembar data level-2 (Lampiran E) sebaiknya disertakan pada basmapp-GIS (perkiraan skala
1 : 250.000 1.500.000) sub lembah atau sub wilayah pesisir dalam penyususnan
inventarisasi lahan basah.
Data-data beberapa wilayah lahan basah dapat diperoleh dari World Resources Institute
(WRI) melalui situs (www.igc.org/wri/watersheds/index). Situs ini menyediakan informasi
tentang luas sublembah pada sebuah lembah sungai utama (contoh : seperti dalam kasus
Amur, Lena atau Ob) atau dari sebuah pulau utama (contoh : dalam kasus di Borneo
(Kalimantan) atau New Gulnea). Dalam beberapa kasus ada hal-hal yang harus didefinisikan
secara manual seperti, batas DAS setiap sub-lembah dan menentukan ada atau tidaknya
perbedaan suatu daerah lahan basah, apakah membutuhkan subdivisi lebih lanjut, atau
apakah perlu pengelompokan sub lembah secara bersamaan. Dalam membuat keputusan
tersebut, dibutuhkan suatu akses pemetaan topografi atau suatu digital elevation model
(DEM) dari suatu lembah sungai utama.
5.2.1 Nama dan Kode Sub Lembah atau Sub Daerah
Setiap sublembah atau daerah pesisir sebaiknya diidentifikasi dengan nama tersendiri
(menggunakan nama sungai besar yang mengaliri daerah bersangkutan) dan kode tersendiri
(contoh : menurut urutan angka). Gunakan kode awal untuk menunjukan nama lembah
sungai atau pulau utama (level-1, bagian 5.1.1) dimana sublembah atau daerah pesisir
berada.
5.2.2 Lokasi Geografis
Lokasi sublembah atau subdaerah pesisir ditetapkan dengan menggunakan standar koordinat
geografis. Dengan peta yang sesuai, titik koordinat dapat ditentukan dengan cara mengambil
garis lintang paling luar dari bagian utara dan selatan serta garis bujur paling luar dari
bagian timur dan barat pada suatu daerah tertentu. Sebaiknya sertakan pula identifikasi
pusat geometris (centroid) dari sub-lembah atau sub-daerah pesisir. Penentuan centroid
ini dapat diperoleh melalui pemetaan dengan GIS yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi
lokasi suatu daerah dengan cepat.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 19 19 19 19 19
5.2.3 Karakteristik Alam
Gunakan sub-sub kelas dari metode pengklasifikasian Koeppen sebagai dasar untuk
menggambarkan penyebaran curah hujan serta suhu di daerah sub-lembah sungai atau
sub-daerah pesisir, catat pula nama tempat resmi pencatat/perekamnya. Informasi karakteristik
alam (seperti jarak dan jumlah hujan rata-rata pertahun, temperatur udara) sebaiknya diperoleh
dari pelayanan pencatatan yang resmi. Informasi rata-rata temperatur udara dan perkiraannya
dapat diperoleh pada database LOICZ coastal topology (http://www.nioz.nl/loicz).
5.2.4 Ciri-Ciri Fisik
ii) Tipe daerah
Berikut adalah pembagian daerah yang terpenting;
Sub-lembah (atau sekumpulan sub-lembah) dari lembah sungai atau pulau utama
Sub-daerah pesisir,atau
Sekumpulan pulau-pulau kecil lepas pantai
ii) Jarak ketinggian dari permukaan laut
Jarak ketinggian suatu daerah didefinisikan dengan memberikan data ketinggian minimum
dan maksimum di atas (atau dibawah) ketinggian lokal (dapat diperoleh dari pelaksanaan
survey lahan nasional). Data-data ini dicatat dalam satuan meter (m) dan biasanya diperoleh
dari peta topogeografis dan atau penyelenggaraan informasi lahan nasional dan regional.
iii) Area dan tipe lahan basah
Dengan menggunakan Tabel 3 sebagai panduan, catat luas spasial lahan basah (dalam
satuan Km
2
) dan hitung pula proporsi area lahan basahnya (dalam %). Gunakan peta-
peta pada situs WWF (http://www.wwfus.org/ecoregions/index.htm) dan World Resources
Institute (http://www.wri.org/wri/watersheds/watersheds.html) atau dengan mencari pengganti
data dalam bentuk peta-peta topografis, peta tanah atau peta unit kapabilitas lahan yang
biasanya dimiliki oleh organisasi pemerintah dan agen-agen pembantu lainnya. Perhitungan
area dapat diperoleh dengan bantuan planimeter, dari jaringan yang diletakan di atas peta
pada skala yang tepat, atau dengan cara elektronis dengan bantuan GIS.
Tabel 3. Area permukaan lahan basah
Kategori Luas (%)
Sangat luas > 75
Luas 50 75
Sedang 25 50
Kecil <26
20 20 20 20 20 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Pada kasus lahan basah yang diasumsikan sebagai sebuah bentuk linier (ciri-ciri aliran
seperti yang terdapat pada sungai dan alirannya) catat panjang komulatif saluran (dalam
satuam Km), jika memungkinkan buat perbedaan diantara luas aliran-aliran yang layak
untuk diperhatikan (perbandingan ukuran setiap sungai pada daerah tertentu). Sungai-
sungai kecil yang tidak memiliki anak sungai disebut aliran tingkat pertama, saat ada
dua aliran tingkat pertama bersatu maka terbentuklah aliran tingkat kedua, dan ketika
dua aliran tingkat kedua bersatu maka terbentuklah aliran urutan ketiga, dan begitulah
seterusnya.
i v) Karakteristik geologis
gambarkan secara spesifik untuk daerah geologis atau ciri-ciri dari suatu daerah, dalam
pencatatan informasi tersebut sebaiknya diperdetail oleh sub-sub informasi yang ditunjukan
pada lembar data level-1.
v) Kedudukan air
Dengan adanya referensi yang diterbitkan atau berbagai sumber seperti yang diberikan
oleh database LOICZ tentang tipologi pesisir (http://www.nioz.nl/loicz) ketersediaan data
tentang rata-rata aliran air yang mengalir pertahunnya dan air yang masuk permusimnya
cukup terpenuhi. Untuk sub-daerah pesisir dan kepulauan, database LOICZ dapat
digunakan untuk menggali informasi tentang ketinggian pasang surut dan pengaliran
air sungai.
5.2.5 Vegetasi
Gambarkan zona vegetasi utama atau ciri-ciri khusus suatu daerah secara lebih detail
daripada informasi yang disajikan pada level-1. Sumber-sumber data dapat diperoleh dari
internet (UNEP-GRID), peta vegetasi atau peta-peta area vegetasi lokal, dan berbagai
keterangan dari organisasi-organisasi yang berkompeten seperti Space Application Center
(di India) dan sumber-sumber lainnya. (databse LOICZ tentang tipologi pesisir)
5.2.6 Potensi dan Manfaat Lahan Basah
Untuk mempertingi nilai lahan basah yang diedintifikasi pada level-1 (Tabel 1) terangkan
potensi dan manfaat yang diberikan oleh suatu lahan basah dengan menggunakan
informasi yang ditunjukan pada Tabel 4 sebagai panduan. Apabila memungkinkan, buatkan
daftar potensi dan manfaat penting pada suatu daerah (jika diperlukan gunakan metode
hearsay), susun apa saja perbedaan potensi dan manfaat dari suatu daerah dengan
daerah lainnya.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 21 21 21 21 21
Tabel 4. Pengelompokan berbagai potensi dan manfaat daerah lahan basah.
Potensi dan Manfaat Contoh
Air tawar Tempat penyimpanan air, regulasi aliran arus, pengisian air tanah,
bantuan musim kemarau
Makanan, serabut, bahan bakar Beras, alang-alang, tanah subur
Produksi biologis lain CaC03 dari batu karang, pertukaran margasatwa, sumber-sumber
yang dapat dipanen (kolam ikan/udang, ternak yang makan rumput,
kayu)
Regulasi biologis Penyangga rantai makanan, penyerbukan, kontrol terhadap berbagai
gangguan
Perputaran bahan gizi dan Hasil pertanian
kesuburan tanah
Regulasi atmosfir dan iklim Regulasi perputaran karbon secara global
Kontrol kesehatan manusia Perbaikan kualitas air
Proses pembuangan dan Dentrifikasi, pembersihan bakteri patagon dan asimilasi pembuangan
detoxifikasi
Perlindungan terhadap banjir, Pengurangan banjir dan kontrol erosi (garis pantai dan asimilasi
badai dan erosi tepian pantai/sungai)
Perbaikan kultural dan fasilitas Warisan budaya, hiburan, ekoturisme dan pendidikan, angkutan air
5.2.7 Penaganan Permasalahan dan Ancaman
Perluaslah informasi penanganan permasalahan dan berbagai ancaman yang telah di-
identifikasi pada level-1 (Tabel 2) dengan mengidentifikasi alasan-alasan yang lebih spesifik
atas perubahan dan hilangnya suatu daerah lahan basah pada suatu daerah yang ditetapkan.
Ancaman-ancaman yang harus diperhatikan memrujuk pada perkiraan faktor pendorong
pada kerangka kerja MA (Tabel 5) dan dianggap sebagai faktor utama yang berpengaruh
langsung untuk manfaat ekosistem.
22 22 22 22 22 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Tabel 5. Perkiraan faktor pendorong penanganan masalah dan ancaman
Pendorong utama Faktor pendorong Contoh
Geofisikal Perubahan iklim Erosi garis pantai, naiknya suhu permukaan air
laut, pencampuran air garam.
Desertifikasi Pengeringan bagian dalam lahan basah yang
sebelumnya digunakan sebagai wilayah
penyimpanan air.
Masuknya beragam Serbuan tanaman dan binatang yang dinyatakan
spesies dan invansi biotik sebagai rumput liar, hama pengganggu atau kutu.
Ekonomi Penggalian sumber alam Pertambangan, perikanan, penebangan kayu,
pemulihan ladang garam, pasir, kerikil dan
pengambilan kerang.
Teknologi Industrialisasi dan urbanisasi Penebangan hutan bakau, pengeringan rawa,
pengembangan perumahan tepi laut, pengerukan.
Polusi Polusi air dan udara, hujan asam, berbagai
pelepasan, beragam racun, penggunaan
pestisida.
Sistem pembuangan Penanganan tumbuhan ganggang laut,
penjagaan, tempat pembuangan kotoran yang
berasal dari tanah garapan.
Demografi Penggunaan tanah dan air Pemetakan lahan, perubahan permukaan,
perairan
Sistem produksi pertanian Irigasi, pemupukan, degradasi tanah, penanaman
padi
Sosio politik Adanya penyakit dan Penyebaran malaria, schistosomiasis, cacing
obat penangkal hati, onchocersiasis, penggunaan pestisida.
5.2.8 Hukum Perbatasan Wilayah
Setiap sub-lembah sungai atau sub daerah pesisir sebaiknya digambarkan sesuai dengan
peraturan perbatasan nasional dan lokal. Kode negara seperti yang tertera pada International
Organisation (ISO) (www.iso.org) sebaiknya digunakan untuk menunjukan hukum perbatasan
wilayah nasional, nama setiap propinsi, kabupaten serta kota administrasi.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 23 23 23 23 23
5.2.9 Lembar Data Penyelesaian
Nama dan alamat penyusun/pengisi : sertakan nama dan alamat penyusun seperti
yang diperlihatkan pada Tabel (lihat lampiran D).
Lembar Tanggal penyelesaian/perubahan : sertakan tanggal penyelesaian/ perubahan
lembar data (misalnya, 02 October 2001).
5.3 Data Level 3 : Cakupan Lahan Basah
Pengumpulan data pada level-3 difokuskan untuk mendefiniskan dan menggambarkan cakupan
lahan basah pada suatu sub-lembah atau sub-daerah pesisir yang telah didefinisikan pada
level-2.
Semakin besar suatu lembah sungai, akan semakin banyak pula jumlah sub-lembahnya
(atau sub-catcments). Cakupan lahan basah dapat terbentuk dari gabungan beberapa
sub-catcments (gambar 1), area lahan basah tersendiri atau gabungan beberapa area
lahan basah yang memiliki ciri-ciri tersendiri dan memiliki hubungan hidrologi karena berada
pada sub-catchment yang sama. Batas perairan diantara cakupan lahan basah tersebut
sangat berguna untuk membedakan sub-catchment yang berada didalamnya. Lembar data
pada level-3 ini (lampiran F) sebaiknya disertai pemetaan-GIS (skala 1 : 100.000 1 :
250.000).
Setiap lembah sungai maupun daerah pesisir dapat dibentuk menjadi beberapa cakupan
lahan basah. Perlu diketahui bahwa lembah sungai maupun daerah pesisir menunjukan
adanya beberapa perbedaan mendasar dan membutuhkan data lapangan maupun bidang
data yang berbeda pula.
Banyak sekali data yang dibutuhkan pada level ini, disarankan agar dalam pengumpulan
data tersebut didasarkan pada skala prioritas dan dilakukan bersama-sama antara berbagai
kelompok dengan pihak wetlands programme. Suatu daerah lahan basah dapat terdiri
dari beberapa cakupan lahan basah, oleh karena itu dalam pengumpulan data sebaiknya
dilakukan dengan efisien karena setiap cakupan lahan basah akan membutuhkan pengumpulan
data yang sama.
5.3.1 Nama dan Kode Cakupan Lahan Basah
Dengan mengikuti prosedur pada level-1 dan level-2, setiap cakupan lahan basah di-identifikasi
dengan menggunakan nama dan kode yang unik. Penambahan kode (menggunakan tingkat
desimal) dapat digunakan untuk menentukan kode utama selanjutnya pada level-3. Nama
dan kode dapat diperoleh dari peta setempat dengan mengadopsi nama sungai utama
yang mengairi kompleks tersebut. Jika tidak ada gunakan nama propinsi, kabupaten atau
unit administratif lainnya dimana lokasi kompleks tersebut berada.
24 24 24 24 24 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
5.3.2 Lokasi Geografis
Ukuran dan lokasi suatu cakupan lahan basah memiliki peran yang sangat penting dalam
pencatatan lokasi geografis. Titik koordinat sisi terluar kiri atas dan kanan bawah suatu
cakupan lahan basah sebaiknya dicatat untuk mewakili lokasi geografis.
Gunakan sistem koordinat Universal Transverse Marcator (UTM) sebagai contoh 211396E
8489624N. Dengan sistem koordinat tersebut dapat mempertinggi akurasi penentuan batas
suatu kompleks lahan basah dan dapat membantu dalam perhitungan jarak dan luasnya.
5.3.3 Karakteristik Iklim
Informasi karakteristik iklim yang perlu dicatat meliputi : penentuan lokasi (nama, garis
lintang dan garis bujur, dan ketinggian), rata-rata curah hujan, tinggi suhu (termasuk suhu
rata-rata), kelembaban relatif (jam 9 pagi dan jam 3 pagi), udara pada umumnya dan
penguapan (pan kelas A)
5.3.4 Karakteristik Ekologi
Karakter ekologis adalah sejumlah komponen biologis, fisik dan kimia dari suatu ekosistem
lahan basah, serta interaksinya dalam memelihara lahan basah berikut potensi-potensinya,
fungsi-fungsinya dan juga atribut-atributnya.
Berdasarkan hal tersebut karakter ekologis cakupan lahan basah sebaiknya dikelompokan
berdasarkan pada tiga penjelasan utama yaitu ciri fisik, psiko-kimia dan biologis.
i). Ciri-ciri fisik
Jarak garis lintang
Pencatatan jarak garis lintang suatu cakupan lahan basah dapat didefinisikan dengan
menentukan tingkat ketianggian minimum dan maksimum di atas atau di bawah kedalaman
laut (m). Biasanya informasi ini dapat diperoleh dari peta topografi, orthofotografi atau
hasil survey nasional dan regional dari lembaga pemetaan. Untuk cakupan-cakupan lahan
basah yang berlokasi di daerah pesisir dapat menggunakan informasi yang terdapat pada
database tipologi pesisir dari LOICZ (http://www.nioz.nl.LOICZ)
Spasial (spatial)
Penentuan luas spasial suatu kompleks lahan basah (Km
2
).
Pergerakan sedimen, arus dan gelombang di daerah pesisir
Cakupan lahan basah yang berada dalam di sub-daerah pesisir memiliki empat faktor penting
(arus, pasang, angin dan gelombang) yang sangat berpengaruh terhadap pergerakan sedimen
pada area tersebut (contoh : timbunan sedimen laut disekitar pelabuhan. Oleh sebab itu
catatlah setiap informasi penyebaran dari keempat faktor-faktor tersebut. Informasi tentang
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 25 25 25 25 25
arah dominan suatu gelombang dan arah angin dapat diperoleh dari lembaga yang berwenang
di sekitar pelabuhan setempat, Departemen transportasi atau dapat pula diperoleh dari
database tipologi pesisir dari LOICZ (http://www.nioz.nl.LOICZ)
Keadaan Erosi (pengikisan)
Untuk menerangkan kerentanan cakupan-cakupan lahan basah di daerah pesisir terhadap
pengikisan (gelombang, angin, badai, atau yang disebabkan oleh arus) dapat menggunakan
pengelompokan yang disarankan oleh Heydorn dan Tinley (1980) seperti yang terlihat pada
Tabel 6.
Tabel 6. Tingkat pengikisan deretan pesisir pantai dan cakupan-cakupan lahan basah.
Status Erosional Definisi/contoh
Pengikisan Suatu area dimana gerakan air laut mengikis bagian daratan, sebagai contoh batu-
batuan karang, bukit-bukit pasir, atau pantai.
Pengendapan Area dimana struktur daratan utama menjadi mengendap. Contohnya : pantai, lumpur
tanah, dataran-intertidal dan terjadinya sedimen secara aktif.
Stabil Area dimana terjadi keseimbangan pada struktur daratan utama, antara erosi dan
penimbunan.
Jenis-jenis tanah
Terangkan jenis-jenis tanah dominan yang berada pada suatu cakupan dengan menggunakan
klasifikasi standar pada suatu area. Peta tanah digital sedunia milik FAO (http://www.FAO.org/
ag/guides/subject/p.htm) dan databse tipologi pesisir LOICZ (http://www.nioz.nl/LOICZ) bisa
digunakan sebagai sumber informasi tambahan.
Kedudukan air
Untuk cakupan lahan basah yang berada di daerah pesisir, tingkat pasang surut air laut
sebaiknya dicatat berdasarkan data pasang surut air laut setempat. Dari data-data tersebut
daerah pesisir dapat diklasifikasikan kedalam sektor-sektor yang terjangkau pasang surut
baik kecil, sedang, atau luas (Tabel 7)
Tabel 7. Pengelompokan daerah pesisir pantai berdasarkan jangkauan pasang surut air
Kategori Jangkauan air pasang
Micro tidal < 2 m
Meso tidal 2 4 m
Macro-tidal > 4 m
26 26 26 26 26 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Untuk cakupan lahan basah yang berada di daratan, jelaskan aliran rata-rata tiap tahunnya
yang dihasilkan oleh catcment-nya. Jika tidak tersedia dinding pengontrol aliran air, gunakan
skala perkiraan untuk mengestimasi aliran air, untuk melakukan hal tersebut diperlukan
waktu dan keahlian tersendiri. Catat panjang komulatif sungai utama dan sungai yang
mengaliri kompleks (Km). Buatkan daftar perbedaan diantara sungai-sungai yang menjadi
fokus perhatian.
Air Tanah
Peranan air tanah pada hidrologi lahan basah, menunjukan adanya hubungan yang sangat
penting antara hidrologi lahan basah dan jumlah cakupan lahan basah yang berada pada
lokasi dimana keluarnya air tanah, oleh sebab itu cari dan catat setiap informasi tentang
hidrologi pada suatu area lahan basah. Beberapa data pada umumnya dapat ditemukan
pada laporan-laporan tentang geologis (lithology dan stratigrafi) daerah yang bersangkutan
termasuk didalamnya tentang informasi sistem aquifer seperti berikut; aliran air kecil di bawah
tanah, pusat aliran sungai yang mengairi suatu daerah, mata air dan daerah rembesan air.
ii). Ciri-ciri psiko-kimia
Kualitas Air
Apabila data kualitas air tersedia, berikan keterangan yang jelas tentang kebersihan sungai
disertai dengan referensi yang spesifik dan berikan beberapa penekanan pada tingkat
bahan gizi atau tingkat racun (selama arus rendah), permukaan sedimen (selama waktu
arus tinggi), kadar keasaman, dan kadar garam. Data-data tersebut dapat diperoleh dari
laporan-laporan yang ada dan melalui wawancara dengan masyarakat setempat atau kantor
kementrian (industri, pertanian, pertambangan) yang berwenang tentang perairan. Apabila
memungkinkan sertakan sumber-sumber yang memberikan nutrient (contohnya : pupuk
penyubur atau padang rumput, saluran pembuangan), bahan-bahan beracun (pertambangan,
dampak perindustrian dan sedimentasi (lahan panen, hasil irigasi air).
Buatkan kategori pemasukan sedimen seperti tingkat pemasukan yang masih dapat diabaikan,
tingkat pertengahan, tingkat tertinggi pada lokasi adanya penampungan air buangan yang
dapat mengkontaminasi aliran air sungai. Cobalah untuk mengestimasi proporsi air buangan
terhadap aliran sungai dengan berpedoman pada Tabel 8. Biasanya penampungan yang
memenuhi standar jarang sekali dijumpai di negara-negara berkembang. Apabila data-
data yang tersedia tidak cukup sebaiknya dijelaskan.
Tabel 8. Tingkat pengaruh penampungan air buangan terhadap kualitas air
(menurut Kotze et.al. 1994)
Pemasukan air buangan (%) Pemenuhan standar penampungan
< 5 Rendah
5 20 Sedang
> 20 Tinggi
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 27 27 27 27 27
iii). Ciri-ciri biologis
Ciri-ciri biologis pada suatu cakupan lahan basah sebaiknya digambarkan dengan menggunakan
petunjuk yang sudah umum sehingga dapat memberikan keterangan yang lebih luas tentang
daerah penting keanekaragaman hayati. Yang dimaksud dengan petunjuk umum meliputi
hamparan vegetasi, jenis vegetasi dominan, dan unsur-unsur biologis penting bagi lahan
basah dan spesies-spesies penting lainnya. (endemis atau spesies flora dan fauna langka).
Keadaan biologis cakupan lahan basah
Gunakan laporan-laporan atau peta-peta yang tersedia, terangkan tentang penutupan vegetasi
di dalam kompleks lahan basah, dengan cara memperkirakan perbandingan relatif tipe
vegetasi dominan yang tumbuh pada suatu lahan. Terangkan kecenderungan-kecenderungan
terakhir dalam hal status atau kondisi vegetasi (dengan referensi spesifik) dan populasi
fauna. Sebutkan pula jika ada data yang tidak sesuai.
Macam-macam spesies dan unsur-unsur spesies penting
Gunakan informasi yang ada pada situs WWF (http://www.wcn.org/redlist/ 2000/indext.html)
dan IUCN (http://wwwiucn.org/2000/index.html) untuk mengkaji keberadaan spesies-spesies
biologis yang penting pada cakupan lahan basah. Buatlan daftar semua tumbuhan dan
spesies-spesies hewan langka yang memiliki ketergantungan pada lahan basah, dan tentukan
status dan habitat keberadaaanya. sebagai tambahan, jika cakupan lahan basah mendukung
keberadaan populasi dari spesies-spesies yang terancam sebesar 1%, juga harus disebutkan.
Database keanekaragaman hayati (biodiversity) lainnya yang memuat informasi tentang
status spesies-spesies yang terancam dapat dilihat pada 2000 IUCN Red List of threatened
Species termasuk untuk ikan (http://www.fishbone.org/search) dan tumbuh-tumbuhan (pada
database UNEP-WCMC Threatened Plant). Untuk menentukan spesies tingkat nasional
dapat dilihat pada sumber-sumber data lain termasuk National Red Data Books (jika ada)
dan ahli-ahli setempat.
Habitat
Untuk mempersiapkan atau pemberlakuan level-4 pada prosedur AWI, buatlah daftar habitat
yang ada pada suatu cakupan lahan basah, gunakan klasifikasi Ramsar sebagai panduan
dan tetapkan daerah setiap habitat dalam satuan hektar (ha).
Jika sistem pengklasifikasian habitat yang digunakan berbeda dengan klasifikasi dengan
Ramsar, penentuan bibliografis secara detail dan tanggal harap dicantumkan. Jika tidak
terdapat klasifikasi yang dibutuhkan, kelompokkanlah kumpulan vegetasi yang sejenis
sebagaimana diketahui hal ini bisa mendukung spesies fauna yang sejenis juga.
5.3.5 Populasi Demografis
Dengan bantuan data statistik pemerintah (data sensus), jelaskan karakteristik penduduk
yang berada di sekitar cakupan lahan basah dan catatlah sebagai data populasi dan demografis
secara resmi seperti pada pendataan di wilayah-wilayah pada umumnya, data kepadatan
28 28 28 28 28 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
penduduk dapat diperoleh dengan cara mengetahui jumlah desa-desa/kota-kota kecil/kota-
kota besar pada suatu wilayah yang penduduknya lebih besar dari jumlah sebenarnya
(teori ini dikembangkan oleh hecker et al 1996 dengan inventarisasi MedWet dimana kota-
kota kecil dengan jumlah populasinya <1000; 1000 10.000; 10.000 100.000; > 100.000)
atau dengan mengetahui jumlah penduduk per-km
2
(Tabel 9). Informasi kepadatan penduduk
untuk cakupan lahan basah di daerah pesisir pantai gunakan database tipologi pesisir
LOICZ (http://www.nioz.nl/loicz).
Jika memungkinkan, jelaskan jumlah penduduk (populasi, struktur, jumlah musim yang ada,
kecenderungan-kecenderungan yang terjadi dalam jangka panjang), dan aktivitas umum
masyarakat (pertanian, peternakan, dll) yang hidup di dalam wilayah lahan basah tersebut.
Tabel 9. Kategori kepadatan penduduk (dengan menggunakan jumlah penduduk
per-km
2
)
Kepadatan penduduk Penduduk per-km
2
Sangat padat > 500
Padat 200 500
Sedang 100 200
Rendah 20 100
Jarang 1 20
Tidak berpenduduk < 1
5.3.6 Penggunaan Lahan dan Air
Jelaskan, dan jika memungkinkan petakan kebiasan yang dilakukan penduduk setempat
dalam mengelola lahan basah. Beberapa kategori yang ditunjukan dalam Tabel 10 dapat
digunakan sebagai panduan. Terangkan pula apakah kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk
tersebut dilakukan untuk kepentingan orang banyak atau komersial, apakah menggunakan
teknik tradisional atau modern.
5.3.7 Batas Wilayah
Jelaskan pengaturan batas wilayah disekitar cakupan lahan basah dan jika diperlukan,
wilayah tersebut diatur oleh satu atau batas wilayah lain secara proporsional. Kategori
batas wilayah ini meliputi: hak/wewenang yang bersifat lokal, nasional dan propinsi, kepemilikan
pribadi, dan perangkat-perangkat hukum lainnya yang berlaku (seperti, perundang-undangan
dan atau kebijakan).
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 29 29 29 29 29
Tabel 10. Klasifikasi penggunaan lahan dan air
Penggunaan lahan air Contoh
Ladang hasil panen Tebu, biji-bijian
Tanah pengembalaan Ternak, kambing, kuda, unta
Peternakan yang hasilnya dapat ditingkatkan Padang rumput untuk ternak sapi penghasil susu
Hortikultura Sayue-mayur, pisang, bunga
Urban Infrastruktur (jalan, rel kereta)
Perkampungan Area perumahan
Konstruksi Pemotongan alang-alang, danau-danau mangrove
Perikanan Persediaan bibit, kerang, ikan bersirip
Aquakultur Kerang, udang, ikan
Kehutanan Kayu, kayu bakar kecil, ampas kayu
Bahan bakar Gambut, kayu/arang
Perburuan Invertebrata, kodok, reptil, burung, mamalia
Persedian air Tangki penyimpanan, pengisian, penyaluran air tanah
Transportasi Kapal tongkang, fery, rumah perahu, pelabuhan
Industri bahan baku Mineral, gambut, minyak, gas, pasir, kerikil atau penyulingan
garam
Energi Tenaga hidro-elektrik, pertanian gambut
Konservasi Warisan budaya atau kekayaan alam
Rekreasi Aktif (klub golf) atau pasif (pengamatan burung)
5.3.8 Penanganan isu-isu dan Ancaman-Ancaman
Gunakan Tabel 5 sebagai panduan untuk setiap cakupan lahan basah, kemudian jelaskan
penanganan isu-isu terutama menghadapi komunitas setempat sebagai pengguna sistem
ini (Tabel 11) (contoh; penangkapan ikan yang berlebihan, perburuan ilegal, berkurangnya
hasil produksi agrikultur atau perikanan), ancaman manusia terhadap penggunaan lahan
secara terus menerus sehingga tidak terkontrol lagi (contoh; penggunaan herbida/pestisida
disekitar ladang penghasil panen, eutrofikasi, penggunaan sistem persediaan air untuk
mengairi kompleks dengan melalui hulu sungai). Jelaskan rencana (jika ada) yang akan
dilakukan oleh pihak pemerintah. Catat jumlah orang yang telah diwawancarai, berikut
nama dan statusnya.
30 30 30 30 30 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Jelaskan resiko pemanfaatan cakupan lahan basah yang berlebihan terhadap kesehatan
manusia, jenis penyakit yang ditimbulkan oleh organisme (misalnya; nyamuk, cacing pita,
keong) dan jumlah prosentase (dalam %) penduduk yang terjangkit penyakit tersebut.
Apabila cakupan lahan basah menjadi subyek ancaman yang bersifat alamiah (contoh:
perubahan cuaca, pasang surut air, gelombang badai, erosi), jelaskam alasannya dan berapa
luas habitat yang hilang atau terkena degradasi akibat kejadian tersebut.
Tabel 11. Penanganan isu-isu dan ancaman-ancaman terhadap cakupan lahan basah.
Faktor pendorong Contoh penanganan isu-isu dan ancaman
Perubahan iklim Banjir pada area pemukiman, jalan-jalan dan sarana infrastruktur, erosi/
endapan lumpur, kadar garam pada tempat persediaan air.
Desertifikasi Irigasi, reklamasi, pengalihan laju air dan pembuangan air dari lahan basah.
Pengenalan spesies dan Invasi spesies asing dan lingkungan rerumputan, kutu dan hama.
invasi biotik
Industrialisasi dan urbanisasi Erosi/mengontrol erosi, banjir/mengontrol banjir, jarak antara tanaman dan
api, sedimentasi, infrastruktur/perumahan, penggalian tambang/pengerukan
pasir, gangguan dari perburuan, aktivitas hiburan, pembukaan lahan
pertanian.
Polusi Perluasan dari keberadaan dan pengembangan berbagai industri baru
tanpa regulasi yang memadai dan kontrol perencanaan.
Sistem pembuangan kotoran Kotoran padat, endapan lumpur, kontaminasi feacal, sisa pertambangan,
pestisida, pupuk dan kadar garam.
Penggunaan lahan dan air Kurangnya tingkat kesadaran komunitas umum dan dan pembuat kebijakan
terhadap nilai-nilai lahan basah, rendahnya tingkat partisifasi komunitas
dalam hal konservasi alam.
Sistem produksi pertanian Kepemilikan serta akses pada lahan dan sumber, hak-hak tradisional dan
sikap pendatang.
Timbulnya penyakit dan Peningkatan populasi penduduk dan adanya tekanan kemiskinan; ekspansi
obat penangkalnya diperkotaan dan pedesaan, devisa pemerintah yang buruk, kurangnya
tenaga terlatih, konflik dengan pihak lain, sistem perundang-undangan yang
lemah atau tidak adanya dukungan politik.
5.3.9 Penyelesaian Lembar Data
Nama dan alamat penyusun/pengisi : sertakan nama dan alamat penyusun seperti
yang diperlihatkan pada Tabel (lihat lampiran D).
Lembar Tanggal penyelesaian/perubahan : sertakan tanggal penyelesaian/ perubahan
lembar data (misalnya, 02 October 2001).
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 31 31 31 31 31
5.4 Data Level 4 : Habitat Lahan Basah
Pengumpulan data pada level-4 difokuskan untuk mendefinisikan dan menggambarkan habitat-
habitat lahan basah (gambar 1) pada setiap cakupan lahan basah yang telah ditetapkan
pada level-3. Meskipun habitat-habitat tersebut berada pada cakupan yang sama belum
tentu memiliki karakteristik yang sama. Sebagai contoh setiap habitat lahan basah belum
tentu memiliki kesamaan keadan air atau kesamaan karakteristik ekologi. Akan tetapi habitat-
habitat tersebut mungkin memiliki potensi dan perbaikan yang sama, atau membutuhkan
bentuk penanganan yang sama.
Lembar data level-4 (lampiran G) sebaiknya disertai dengan pemetaan yang berdasarkan
pada Sistem Informasi Geografi (SIG/GIS) dengan skala yang sesuai. (contoh : 1 : 10.000
1 : 50.000 tergantung pada luas habitat yang diperhatikan). Pengumpulan data-data
habitat harus dilaksanakan dengan efisien karena informasi yang sama diperlukan untuk
setiap habitat pada kompleks lahan basah atau daerah tertentu. Oleh sebab itu diperlukan
adanya validasi lapangan, analisa pada peta-peta yang ada, dan butuh referensi yang
banyak. Data level-4 ini akan menjadi lembar data utama bagi para pngelola habitat
lahan basah atau perorangan.
5.4.1 Nama dan kode habitat lahan basah
Tentukan nama dan kode untuk setiap habitat, untuk pemberian nama habitat dapat diperoleh
dari komunitas setempat atau menurut referensi yang ada. Jika tidak ada nama habitat
lahan basah, gambaran seperti pemberi sifat (qualifier) atau tipologi yang ditetapkan pada
Ramsar Convetion (lampiran B) dapat digunakan bersamaan dengan pengklasifikasian lahan
basah seperti yang ditunjukan pada Tabel 29.
5.4.2 Lokasi geografi
Lokasi geografis sangat penting untuk mendefinisikan luas suatu habitat lahan basah dengan
akurat. Paling sedikit koordinat yang dicatat diwakili oleh ujung bagian kiri-atas dan kanan
bawah. Serangkaian titik koordinat yang membentuk habitat lahan basah dapat dicatat
untuk menentukan lokasi geografisnya.
Gunakan sistem proyeksi koordinat Universal Transverse Mercator (UTM). Sistem koordinat
UTM memiliki kemampuan yang lebih akurat pada saat melakukan perhitungan luas wilayah.
Operator yang bertanggungjawab memasukan data sebaiknya menyertakan sistem koordinat
yang dipakai, misalnya proyeksi WGS 1984 UTM .
5.4.3 Karakteristik iklim
Lokasi pencatatan disekitar stasiun pencatat meteorologi (nama stasiun, garis lintang dan
garis bujur, ketinggian, periode pencatatan) menggambarkan rata-rata dan jangkauan curah
hujan, catat bulan-bulan terbasah dan terkering; tingkat suhu perbulan, catat bulan terpanas
32 32 32 32 32 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
dan terdingin, tingkat relativitas kelembaban (pukul 9 pagi dan pukul 3 malam) serta bulan
yang paling lembab dan tidak lembab; jangkauan penguapan pertahun (klas A pan); angin
yang biasa bertiup dan kapan kedudukan angin berubah.
5.4.4 Karakteristik ekologis
i) Ciri-ciri fisik
Keadaan geomorfis
Terangkan struktur tanah dari suatu habitat dengan menggunakan syarat-syarat yang diberikan
pada Tabel 12. Secara umum terdapat 5 jenis tipe tanah yang dapat menentukan terjadinya
lahan basah, dan masing-masing jenis tersebut merupakan integradational., Keadaan
geomorfis sangat penting untuk menerangkan struktur tanah dimana habitat tersebut berada
(Semeniuk dan Semeniuk 1995).
Tabel 12. Pengelompokkan struktur tanah yang membentuk lahan basah
(diadaptasi dari Semeniuk dan Semeniuk 1995)
Struktur tanah Definisi
Lembah Lembah merupakan daerah cekung yang membentuk
lembah lembah pada suatu lahan tanpa adanya aliran
air keluar, bisa dangkal atau dalam dan memiliki dasar
yang rata atau cekung. Biasanya lembah-lembah ini
memiliki garis tepi yang jelas
Saluran Saluran, berkenaan dengan alur aliran air, bisa dangkal
atau dalam dan memiliki garis tepi yang jelas
Dataran Daerah datar memiliki lereng kurang dari 1 %. Sedikit
relief atau bahkan tidak memiliki relief dan memiliki
garis tepi yang luas. Tanah datar dapat ditoreh oleh
saluran sehingga memberikan ketinggian yang
dinamakan saluran datar
Lereng Lereng merupakan area dengan tingkat kecuraman
lebih dari 1 % yang dapat berbentuk cekung atau
ceuruk.
Bukit dataran tinggi Perbukitan/dataran tinggi, umumnya memiliki area yang
cekung dan terdapat di puncak gunung, perbukitan
atau macam-macam area yang berada pada suatu
ketinggian.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 33 33 33 33 33
Habitat lahan basah yang berada pada daerah pesisir pantai, struktur tanahnya lebih kompleks
dan pengelompokkannya tidak semudah lahan basah di daratan. Syarat-syarat yang diberikan
pada Tabel 13 (menurut Heydorn dan Tinley 1980) dapat digunakan untuk sementara.
Tabel 13. Pengelompokkan struktur tanah yang membentuk lahan basah di daerah pesisir
pantai (diadaptasi dari Heydorn dan Tinley 1980)
Struktur tanah Definisi
Terbentang rendah Perairan pesisir teluk yang luas, bagian pantai yang berpasir, rawa air asin,
danau, hutan bakau, delta, laguna dan muara, seringkali diasosiasikan dengan
daerah-daerah yang selat benuanya besar.
Curam/bergunung-gunung Pantai-pantai curam berbatu, teluk yang dalam dan melekuk ke dalam, batu
karang laut, batu koral pantai, kerap diasosiasikan dengan daerah-daerah
yang memiliki selat benua yang sempit.
Jangkauan ketinggian
Pencatatan ketinggian suatu habitat (dalam satuan meter dari Above Height Datum (AHD))
dilakukan dengan menentukan batas minimum dan maksimum baik di atas maupun di bawah
kedalaman laut. Informasi ini biasanya berada pada peta-peta topografis, ortopografi dan
atau survey tanah nasional serta regional.
34 34 34 34 34 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Spasial/keruangan (spatial)
Definisikan luas daerah habitat dengan menggunakan skala yang ditunjukan pada Tabel
14. Sebagai tambahan dapat, data keruang berikut dapat dijadikan sebagai acuan :
Area permukaan ukur area permukaan dengan menggunakan sebuah planimeter,
jaringan diletakan di atas peta dengan skala yang sesuai; atau gunakan aplikasi GIS
dan catat luas area dalam satuan hektar. Tetapkan indikasi luas daerah lahan basah
yang mungkin akan mengalami perubaha dari satu musim ke musim lainnya. Setelah
terjadi banjir, peta genangan air dapat dijadikan sebagai sumber informasi tentang
variasi luas lahan basah, foto udara dapat digunakan sebagai referensi yang sangat
bermanfaat.
Panjang ukur panjang maksimum suatu habitat lahan basah dalam satuan kilo meter.
Lebar ukur lebar maksimum dan lebar rata-rata suatu habitat lahan basah dalam
satuan meter atau kilometer. Lebar rata-rata dapat dicatat menjadi lima segmen
yang gambarkan tegak lurus dengan arus.
Tabel 14. Ketentuan untuk menetapkan luas area lahan basah
(diadaptasi dari Semeniuk 1995)
Klasifikasi Susunan referensi untuk semua Susunan referensi untuk suatu saluran
kategori kecuali saluran (lebar-panjang)
Sangat besar > 10 x 10 km > beberapa km lebarnya, ratusam km
panjangnya
Besar 1000 x 1000 m 10 x 10 km Beberapa ratus m lebarnya , beberap puluh km
panjangnya
Sedang 500 x 500 m 1000 x 1000 m Lebarnya ratusan m, dengan panjang ribuan m
Kecil 100 x 100 m 500 x 500 m Lebar puluhan m, dengan panjang ratusan m
Sangat kecil > 100 x 100 m Beberapa m lebarnya, puluhan m panjangnya
Morpologi lembah
Bathymetry
Catat setiap informasi tentang kedalaman lembah (misal : kedalaman maksimum dan lokasi
ditemukannya kedalaman rata-rata). Jika tidak ada data yang tersedia sebaiknya diperoleh
dengan cara pengukuran dengan menggunakan alat pendeteksi kedalamam yang bisa berbunyi
atau dengan memancang seutas tali tegak lurus yang dibagi dalam satuan meter.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 35 35 35 35 35
Stabilitas teluk kecil
Catat informasi lebar dan posisi estuary amouth tersebut, catat apakah estuary amouth
tersebut terbuka secara permanen atau periodik. Melalui bantuan foto udara dapat diperoleh
informasi terjadinya banjir, atau pasang surut air di daerah delta (contoh, ambang sungai
dalam dan luar) pada suatu daerah muara, tanda-tanda perubahan pasang surut pada
sistem yang terkonsentrasi dapat terlihat dengan jelas. Apabila muara tersebut tertutup
secara normal (contohnya seperti pada kasus laguna) berikan informasi tentang tinggi dan
lebar ambang sungai tersebut, kemudian tanyakan pada penduduk setempat apakah pernah
terjadi pemutusan ambang sungai buatan atau tidak.
Arus, gelombang dan gerakan sedimen pada daerah pesisir pantai
Catat informasi arah gelombang yang dominan pada tempat tertentu dan arah relatif tiupan
arah angin yang umum terhadap garis pantai. Foto udara dapat menggambarkan posisi
dan bentuk teluk kecil, beting dan daerah tanjung berpasir (daerah pengangkutan pasir
pantai0 pada daerah yang bersangkutan.
Status pengikisan
Terangkan kerentanan suatu habitat terhadap pengikisan (erosi) (yang disebabkan oleh
gelombang, angin, atau arus) dengan menggunakan klasifikasi yang ditunjukan pada Tabel
1 (level 3).
Jenis-jenis tanah
Dengan menggunakan peta tanah yang ada dan atau laporan-laporan, terangkan jenis-
jenis tanah yang dominan pada setiap habitat. Sertakan pula sistem pengklasifikasian
tanah yang digunakn, dan tanggal pengumpulan data tersebut (jika diketahui). Skema
pengklasifikasian tanah milik FAO (Purnel et al. 1984) adalah salah satu sistem yang paling
umum digunakan untuk penamaan tanah secara konsisten dan direkomendasikan pula untuk
daerah-daerah yang menyediakan keterangan cukup memadai tentang keterangan umum
keadaan lapisan tanah, dan telah teruji dengan baik di lapangan.
Apabila tersedia data hasil penginderaan jauh, hal ini dapat digunakan sebagai sumber
informasi tentang kadar kejenuhan tanah pada suatu habitat.
Sedimen bawah/substrat
Cari dan catat informasi tentang sifat dasar sedimen-sedimen yang berada pada dasar lahan
basah. Sedimen yang dimaksud mencakup partikel-partikel organik dan mineral dalam berbagai
ukuran dan komposisi. Apabila tidak tersedia data, melalui visualisasi yang sederhana atau
metoda pengklasifikasian jaringan subtrata di dalam danau dapat digunakan, pencatatan
sampel-sampel utama mungkin diperlukan ketika kedalaman air lebih dari 1.5 m (Tabel 15).
Kedudukan air
Pada habitat lahan basah di daerah pesisir pantai, jangkauan pasang surut air laut sebaiknya
dicatat dengan menggunakan grafik pasang surut air laut yang tersedia dilokasi tersebut,
sehingga diperoleh informasi pada tingkat maksimum dan minimum variasi pasang surut.
Untuk habitat lahan basah yang terletak di daratan, terangkan kedudukan air dengan
menggunakan satu atau lebih dari empat persyaratan seperti yang tertera pada Tabel 16.
36 36 36 36 36 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Kedudukan air dapat dijelaskan lebih lanjut melalui penyediaan informasi; menurut musim
dan kedalaman pertahun (inter manual) (maksimum, minimum dan rata-rata), pola aliran
masuk dan keluar dari lahan basah, periode banjir dan area yang digenangi banjir. Sumber
masuknya air sebaiknya dicatat (misalnya : laut, sungai air tanah, mata air, curah hujan,
hujan buatan) catat pula apakah air yang masuk dan keluar tersebut bersifat permanen,
musiman, hujan yang turun sebentar-sebentar atau periodik, episodik atau yang lainnya.
Air tanah
Jika tersedia, catat informasi kedalaman pada Tabel air dan vareasi musim pada Tabel
kedalaman air di sekitar habitat lahan basah.
Tabel 15. Klasifikasi tekstur lapisan bawah (diadaptasi dari Begg 1984)
% tanah liat %pasir
Bebatuan Kasar atau berpasir, menunjukan n/a n/a
adanya bebatuan kecil dan kerikil
Pasir kasar Mudah dihancurkan, tiap butiran pasir n/a 80
mudah dilihat dan diraba. Pecahan kulit
kkerang merupakan hal yang biasa terlihat
Pasir halus Mudah dipadatkan, bersih, mudah 10 90
dihancurkan dan setiap butiran pasirnya
susah untuk dipisahkan
Lumpur pasir Material berpasir terlihat dikotori lumpur. 20 80
Pasir berlumpur Material berlumpur dengan kuantitas yang 50 50
sama antara pasir dan lumpur
Endapan/lumpur Material endapan atau berlumpur, hilang 70 30
saat keadaan lembab
Endapan tanah lempung Pasir hampir tidak jelas terlihat, biasanya 90 10
berwarna abu-abu
Tanah liat Tidak mengandung oasir. Materialnya kaku 100 n/a
dan kuat, berminyak saat lembab, berwarna
abu-abu biru keabu-abuan dan sangat padat
Gambut Secara organis mengandung subtrata yang n/a n/a
mengandung sisa-sisa tanaman yang membusuk.
Sperti bunga karang/spon pada saat basah
lumpur Hitam legam, secara organis mengandung n/a n/a
kotoranyang berbentuk endapan lumpur,
umumnya berbau senyawa hidrogen sulfida
Catatan: n/a : tidak dapat digunakan
Kategori tekstur Tekstur/penampakan umum
Presentasi komponen
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 37 37 37 37 37
Tabel 16. Klasifikasi kedudukan air pada habitat lahan basah yang tidak terkena air pasang
(diadaptasi dari semeniuk dan semeniuk 1995)
Kedudukan air Definisi
Penggenangan permanen Sebuah area dimana permukaan tanah ditutupi oleh air (kecuali pada
tahun-tahun yang mengalami kekeringan)
Penggenangan musiman Area dimana permukaan tanah dibanjiri air secara semi permanen,
saat permukaan air menyusut, permukaan air dibawah tanah naik
atau mendekati permukaan.
Penggenangan/banjir yang terjadi Suatu area dimana permukaan tanahnya dibanjiri air secara temporer.
sewaktu-waktu Permukaan air berada pada periode singkat selama tahun tertentu.
Benar-benar penuh pada musim- Suatu area yang permukaan tanahnya penuh dengan air pada periode
musim tertentu yang lama, tetapi air yang berada sampai pada permukaan jarang
sekali muncul
Catatan:
Penggenangan adalah tanah yang ditutupi oleh air, pada situasi ini tanah berada di bawah permukaan (waterlooged).
Benar-benar penuh berarti tanah yang dipenuhi oleh air, tetapi air tersebut tidak membanjiri permukaan tanah.
ii) Ciri-ciri psiko-kimia
Cirri-ciri berikut ini menjelaskan kualitas air pada habitat lahan basah dan jika diketahui,
diukur dengan menggunakan teknik standar sebagaimana yang diberikan dalam standar
methods for the wxamination of water and wastewater (Clesceri at al 1998) dan naskah
umum mengenai limnologi seperti yang sarankan oleh Moss (1980) Wetzel dan Likesn (1991)
dan Wetzel (2001)
Permukaan air
Temperatur
Jelaskan jangkauan temperatur air pertahunnya pada wilayah yang dibanjiri air dan juga
tingkat rata-rata suhu pertahun di daerah tersebut. Catat secara detail dalam alat perekam/
pencatat mengenai pengukuran kedalaman dan waktunya. Jika data tersedia, keterangan
tersebut dicatat tiap musim atau tiap bulan dalam setahun sehingga bisa didapatkan nilai
suhu rata-rata pertahunnya. Jika ada data yang tidak mencukupi/lengkap sebaiknya
disebutkan. Bila memungkinkan kelompokanlah susunan air menurut karakteristik arus
panas (thermal) seperti yang terlihat pada Tabel 17.
38 38 38 38 38 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Tabel 17. Kategori karakteristik arus panas berdasarkan perbedaan jenis pencampurannya
(diadaptasi dari Bayly dan Williams 1981)
Kategori Definisi
Amictic Tidak pernah tercampur (tetap ditutup es secara permanen)
Oligomictic Jarang tercampur (tetap hangat di kedalaman berapapun)
Monomictic Tercampur setahun sekali
Dimictic Tercampur dua tahun sekali
Polymictic Dalam setahun seringkali tercampur
Kadar Garam
Sediakan tingkat rata-rata kadar garam pertahun dari bagian wilayah yang terkena banjir,
jelaskanlah alat perekam yang digunakan, pengukuran kedalaman dan waktu. Jika data
yang tersedia dapat dicatat setiap musim atau setiap bulan dalam setahun sehingga diperoleh
nilai rata-rata pertahunnya. Jika ada data yang tidak mencukupi/lengkap harus disebutkan.
Bila memungkinkan kelompakanlah susunan air menurut karakteristik salinitas) seperti
yang terlihat pada tabel 18.
Tabel 18. Klasifikasi kadar garam
Penggolongan Kadar garam (g.L 1)
Air tawar < 0,5
Air payau 0,5 18.0
Semi asin 18.0 30.0
Berkadar garam 30.0 40.0
Berkadar garam tinggi 40.0 - 100
Berkadar garam sangat tinggi > 100
Habitat-habitat lahan basah yang memiliki kadar garam yang berubah-ubah berdasarkan
musim, dikategorikan dengan cara menghitung status kadar garam yang ada disepanjang
tahun. Sebagai contoh lahan basah yang berasal dari tingkat air tawar selama sepanjang
tahun. Untuk air payau selama musim kering yang pendek dapat digolongkan sebagai air
tawar. Pada tahap selanjutnya kadar garam dapat digambarkan sebagai sesuatu yang
konstan (kadar garam tetap dalam satu tingkat salinitas) atau fluktuatif (kadar garam yang
berubah-ubah sepanjang tahun). Pada kasus data yang tidak tersedia mengenai kadar
garam, pengukuran daya konduksi dapat digunakan untuk menghitung kadar garam dengan
memakai faktor konversi.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 39 39 39 39 39
pH (Konsentrasi ion hydrogen)
Tetapkanlah kadar pH pertahunnya pada bagian penting area yang dibanjiri air. Catatlah
secara detil dari alat perekam mengenai pengukuran kedalaman serta waktunya. Jika data
tersedia, keterangan ini dapat dicatat tiap musim atau tiap bulan dalam setahunnya. Sehingga
bisa didapat nilai rata-rata pertahunnya. Jika data yang tersedia tidak mencukupi, harus
diuraikan dengan jelas. Bila memungkinkan kelompokkanlah susunan air dengan menggunakan
skala seperti yang terlihat dalam Tabel 19, dengan uraian singkat bisa diketahui bahwa
kadar pH 6.6 7.5 disebut netral angka yang lebih rendah dari itu menjadi lebih asam
dan angka yang lebih tinggi menjadi alkaline.
Transparansi
Tetapkanlah keadaan transparansi air pertahunnya seperti yang dicatat pada diameter secci
dengan kedalaman 20-30 cm, pada bagian penting area yang dibanjiri air. Catatlah secara
detail alat perekam serta pengukuran kedalaman dan waktunya. Jika data tersedia, keterangan
ini dapat dicatat tiap musim atau tiap bulan dalam setahunnya, sehingga bisa diketahui
nilai rata-rata pertahunnya. Jika data yang tersedia tidak mencukupi, harus diuraikan dengan
jelas. Bila menungkinkan pengelompokkan susunan air menurut kategori tarnsparansi seperti
yang dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 19. Klasifikasi kadar asam berdasarkan satuan pH
Penggolongan Tingkatan (pH)
Amat sangat asam 1.0 2.9
Sangat asam 3.0 3.9
Asam 4.0 4.9
Tidak asam 5.0 - 6.5
Netral 6.6 7.5
Tidak mengandung alkaline 7.6 8.5
Alkalin 8.6 9.9
Mengandung banyak alkalin 10.0 11.5
Sangat banyak mengandung alkalin 11.5+
40 40 40 40 40 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Tabel 20. Pengelompokkan transparansi yang diukur dengan secchi disc
(diadaptasi dari informsi yang ditetapkan menurut Moss 1980)
Kategori Kedalaman dengan SEcchi disc (m)
Tidak tembus cahaya < 0.05
Sangat keruh 0.05 0.25
Keruh 0.25 2.50
Jernih 2.5 25.0
Sangat jernih >25
Supaya istilah warna tidak tertukar dengan istilah transparansi sebaiknya dicatat dalam
kategori tidak tembus cahaya yang dapat dibagi menjadi:
Air hitam yang berwarna seperti teh menandakan adanya noda/zat warna karena
gambut yang berada di dalam catchment.
Air yang kehijauan menandakan suatu produktifitas yang relatif tinggi.
Coklat yang keruh menandakan adanya konsentrasi yang tinggi dari penundaan
pembentukan zat-zat padat.
Bahan-bahan gizi
Berikan cakupan pertahun konsentrasi hydrogen (nitrat dan total nitrogen) dan fosfor (ortho
phospat dan total fosfor) pada area penting yang dibanjiri air. Catat dengan detail pada
stasiun pencatat pengukuran kedalaman dan waktunya. Jika datanya tersedia hala-hal
tersebut di atas dapat dicatat untuk kepentingan tiap-tiap musim atau tiap bulannya dalam
setahun menurut kategorisasi yang terlihat dalam Tabel 21. Jika data yang tersedia tidak
mencukupi hal tersebut di atas sebaiknya diuraikan dengan jelas.
Tabel 21. Kaitan umum mengenai produktifitas lahan basah untuk memperkirakan konsentrasi
total kandungan fosfor di dalamnya (dari Wetzel 2001)
Kategori P total (u gm/l)
Ultra - oligotropik < 5
Oligotropik 5 - 10
Meso - Eutropik 10 - 30
Eutropik 30 - 100
Hyper - eutropik >100
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 41 41 41 41 41
Suatu perangkat uji coba juga dapat digunakan untuk menentukan status tropic suatu lahan
basah. Dalam kasus lahan basah yang mengandung unsur fosfor, pengujian didasarkan
pada uji coba klasik dari colorimetric molybdenum biru untuk mengetahui koordinat terlemah
unsur fosfat atau yang lebih dikenal sebagai orthophosphate atau filterable reactive phosphorus
(FRP). Gunakan spectrophotometer, sebagai suatu perbandingan warna sederhana yang
dibuat menggunakan disc.
Air tanah
Jika tersedia data, berikan informasi mengenai komposisi kimiawi di dalam air tanah pada
kantong air dangkal yang tidak dibatasi untuk area umum.
iii). Ciri-ciri biologis
Tumbuh-tumbuhan
Kelompok dominan
Dengan menggunakan Tabel 22 sebagai pedoman, daftar tumbuhan yang ada, gunakan
pengklasifikasian yang digunakan selama mempelajari keberadaan vegetasi pada suatu
tempat dan jika memungkinkan klasifiasikan tumbuhan pada tingkat regional/negara yang
stabil missal apakah badan air didominasi oleh macrophyte atau phytoplankton.
Tabel 22. Contoh format berdasarkan pengelompokkan kumpulan vegetasi (contoh di dapat
dari tasek bera, Malaysa)
Kumpulan tumbuhan Total area dalam Total area dalam Keadaan fisik/hidrografik
lahan basah % yang ditanami
Hutan danau air tawar 4100 67 Digenangi tanah mineral secara
musiman pada beberapa area gambut
Rawa pandanus lepironia 2050 32 Pinggiran area perairan terbuka
jarang mengalami kekeringan
(Perairan terbuka) 100
Total: 6250
Spesies Dominan
Berikan daftar spesies (seperti dijelaskan pada tabel 23) yang menunjukan strategi
pertumbuhan (tiap tahun, bertahun-tahun, geophytic tahunan) bentuk pertumbuhan (spesies
tanah atau air) dan struktur jenis (rerumputan, tumbuh-tumbhuan jamu, semak-semak, pakis,
palem, pepohonan). Untuk spesies air (tumbuhan yang memiliki bagian-bagian vegetatif
yang secara permanent atau musiman tergenang air) tunjukan bagaimana pohon-pohon
tersebut mumcul memiliki dedaunan yang mengembang, mengambang di atas air, akarnya
berada di bawah permukaan air atau mengambang bebas di bawah permukaan air.
42 42 42 42 42 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Sebaiknya diperhatikan juga bahwa Specht (1981), Walker dan Hopkins (1984) mendefinisikan
sebuah pohon adalah suatu tanaman kayu dengan sebuah batang yang menancap di tanah
pada kedalaman 2m; semak adalah tanaman yang tumbuh bertahun-tahun dan memiliki
banyak batang yang muncul dari kedalaman 2 m di bawah tanah, rerumputan merupakan
tanaman herbaceous yang masuk dalam keluarga poaceaea; sedges adalah tanaman,
bentuknya berumbai-umbai dan berasal dari family cyperaceae atau restionceae; forbs
merupakan juga tanaman herbaceous yang bukan rerumputan atau sedges dan isltialh
aquatic mengndung arti tanaman hebaceouos yang hanya tinggal di dalam air.
Tabel 23. Contoh format pengelompokkan spesies vegetasi (menunjukan strategi
pertumbuhan, bentuk dan strukutr jenis secara detail menurut Finlayson et al
1989) catatan: spesies yang berada di Asia tidak perlu di data.
Nama dan spesies umum Strategi pertumbuhan Bentuk pertumbuhan
Eleocharis Sphacelata cyperus Bertahun-tahun Sedge yang muncul di air
plattystylis fimbristylis denudata
Eleocharis Indica Geophitic tahunan Sedge yang muncul di air
Myriophyllum dicoccum Bertahun-tahun Tumbuhan bumbu yang
Dysophyllia stellata limnophila daunnya mengmbang di air
gratioloides
Oryza meridionalis Tiap tahun Rerumputan yang tumbuh di air
Sesbania cannabina Tiap tahun Semak-semak yang tumbuh di air
Melaleuca cajuputi Bertahun-tahun Pohon yang tumbuh di tanah/air
Spesies asing dan lingkungan rumput liar
Daftarlah spesies asing dan lingkungan spesies rumput liar yang menunjukan bermacam-
macam spesies dan juga mememberikan penilaian terhadap rumput-rumput yang menutupi
tipe wilayah dalam satuan hektar (ha) atau presentase (%).
Spesies dan kelompok penting untuk perlindungan/konservasi
Gunakanlah Tabel 24 sebagai acuan dari spesies vegetasi atau kelompoknya sesuai dengan
statusnya (terancam, rentan, jarang, mengncam) tingkatannya dengan perundang-undangan
yang dapat dipakai untuk setiap tingkatan yang sewaktu kelompok tersebut mengalami
kesamaan dapat dicatat secara berbeda dalam survey berikutnya.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 43 43 43 43 43
Tabel 24. Contoh format untuk pencatatan spesies vegetasi dan pengelompokkan konservasi
signifikan (contoh berasal dari tasek Bera, Malasya)
Taxon Taxonomic Group Distribusi Status Tingkat
Cryptocoryne purpurea Araceae Endemik di Tasek Bera Tidak di tetapkan
UNEP-WCMC Threatened Plants Database : (http://www.wcmc.org.uk.spesiea/
plants.by.taxon.htm). Situs tersebut merupakan sumber referensi yang bermanfaat di dalamnya
berisi informsi tentang status spesies vegetasi dari konservasi penting seluruh dunia.
Vegetasi penutupan lahan
Dengan mengggunakan tehnik foto udara atau peta yang meliputi keseluruhan habitat.
Biasanya diperoleh dari kantor perencanaan tata ruang kota setempat yang berwenang
dan atau departemen pertanian atau dinas kehutanan. Jelaskan vegetasi yang menutupi
lahan dengan memperhitungkan proporsi relatif dari keadaan tersebut dan keadaan perairan
terbuka dengan menggunakan pengelompokkan yang dikemukakan oleh Semeniuk dan
Semeniuk (1995). Pengelompokkan tersebut diperlihatkan dalam gambar 3 di bawah ini.
Perlu di ingat bahwa perubahan alamiah terhadap vegetasi yang menutupi lahan dapat
mengganggu proses pengelompokkan terhadap tingkat penutupan. Jika luas areal lahan
yang ditutupi tumbuhan lebih besar dari 90% maka penutupan lahan tersebut dapat dianggap
sempurna.
Gambar 3: Pengelompokkan tumbuhan yang menutupi lahan
(menurut Semeniuk et al 1990)
44 44 44 44 44 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Fauna
Spesies dominan dan pengelompokkannya
Dengan pengamatan yang bertujuan untuk memberikan sebuah data kekayaan spesies
dan keanekaragaman setiap kelompok taxonomi utama yang ada (invertabrata, Vertebrata
mamalia, burung, ikan dan sebagainya). Berikan sebuah dafatar spesies binatang dengan
lokasinya (termasuk spesies kutu dan hama). Buatlah referensi yang spesifik tentang beragam
spesies yang mungkin dapat berkurang atau bertambah setiap saat.
Spesies penting untuk perlindungan alam
Gunakan Tabel 25 sebagai panduan, urutkan spesies penting untuk perlindungan alam
(spesies yang terancam terlebih dahulu, diikuti oleh spesies yang rentan dan langka) termasuk
yang tercantum dalam perundang-undangan nasional atau negara sebagai spesies yang
terancam atau berpindah-pindah dan sebagainya.
Seperti yang telah dilakukan pada spesies penting untuk perlindungan alam pada level 3,
gunakan 2000 IUCN Red List of Treathened Species (http://www.iucn.org/redlist/2000/index.html)
untuk menentukan kepentingan secara internasional dan membantu kehidupan spesies
yang terancam dari habitatnya. Untuk spesies ikan dapat digunakan (http://
www.fishbone.org.search). Untuk keperluan penetapan spesies nasional yang penting dan
terancam dari habitatnya, informasinya dapat diperoleh dari sumber data setempat termasuk
nasional Red Data Books (jika ada) dan para ahli setempat.
Tabel 25. Contoh format pengumpulan spesies dan kumpulan binatang yang penting untuk
perlindungan alam (contoh diambil dari Tasek Bera, Malaysa)
Taxon Taxonomic group Distribusi Status Tingkat
Scleropages Pisces Asia Tenggara Terancam Global (IUCN 2000)
formasus Osteoglossideae
Balantiochellos Pisces Asia Tenggara Terancam Global (IUCN 2000)
melanopterus Cyprinidae
Populasi
Apabila terdapat banyak data, tabulasikan rat-rata dan perkiraan maksimum jumlah populasi
yang ada sebagaimana yang dapat dilihat pada tabel 26 a. Jelaskan tentang fauna yang
ada (spesies utama, konsentrasi terbesar dan sebagainya). Berikan keterangan-keterangan
untuk perkembangbiakkan populasi (tabulasi data terdapat dalam tabel 26 b). Perpindahan
populasi (missal burung, ikan) dan periode utama perpindahan dalam lahan basah. Apabila
terdapat data, jelaskan dengan seksama mengenai populasi spesies pada lahan basah yang
mungkin dapat berkurang atau bertambah sepanjang waktu. Jika terdapat banyak data,
jelaskan suatu indikasi mengenai keberadaan spesies yang dikhawatirkan (missal A= berlimpah,
C= biasa, U= tidak biasa, R=jarang) dan juga statusnya (seperti B=perkembangbiakkan, W=
memasui musim dingain, R=kediaman, V=dari suatu tempet ke tempat lain.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 45 45 45 45 45
Tabel 26. Contoh format tabulasi data untuk populasi yang berlimpah (a) dan informasi
perkembangbiakkan populasinya (b)
(a)
Spesies Status Jumlah rata-rata Jumlah maksium Data sensus
(bulan/tahun)
(b)
Spesies Jumlah catatan akan perkembangbiakan
Invasi spesies asing dan kutu/hama
Urutkan danjelaskan masuknya spesies asing dan hama pada tiap habitat untuk
mengindikasikan spesies apa saja yang sudah masuk.
Habitat
Dengan menggunakan skema pengklasifikasian habitat (lampiran B) tabulasikan habita-
habitat yang ada pada lahan basah tersebut, dan seperti yang bisa dilihat pada Tabel 27.
Buatlah daftar kelompok penting keberadaan fauna pada tiap habitat. Satu hal penting
yang harus diperhatikan adalah mengenai habitat yang harus benar-benar dipertimbangkan
keberadaannya untuk perkembangbiakaan fauna setempat atau untuk keberadaan spesies
penting dan sebagi indikasi apakah habitat-habitat tersebut mengalami kenaikan atau
penurunan kualitas jumlahnya setiap waktu. Jelaskan karaktristik fauna tiap habitat dengan
menggunakan data kekayaan spesies sehingga diperoleh indikasi seberapa pentingnya
habitat tersebut untuk pemeliharaan keanekaragaman hayati.
Tabel 27. Contoh format untuk mengurutkan binatang taxa yang penting, digabungkan
dengan setiap habitat utama bersama dengan penyediaan petunjuk informasinya.
Jenis habitat Binatang taxa penting Informasi yang diproleh
Perairan terbuka September 1992, Desember 1996 sangat terbatas
beragam survey (50=) telah dilakukan selama periode
1965-sekarang
Pinggiran aliran Burung air Beragam survey (50=) telah dilakukan selama
sungai dan ilalang periode 1965 - sekarang
Terusan sungai Ikan Agustus 1994
46 46 46 46 46 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Unsur bilogis penting untuk suatu habitat
Gunakan kriteria dalam mengidentifikasi lahan basah yang memiliki kepentingan internasional
seperti yang telah ditetapkan oleh konvensi Ramsar (http//www.ramsar.org/keycreiteria.htm)
untuk menjelaskan pentingnya unsur biologis pada suatu habitat. Konvensi Ramsar telah
memberikan delapan kriteria untuk menilai pentingnya suatu habitat lahan basah dengan
penekanan yang spesifik pada keberadaan burung dan ikan (Tabel 28).
Tabel 28. Ringkasan daftar criteria lahan basah yang memiliki kepentingan Internasional
berdasarkan Konvensi Ramsar
Kriteria Penjelasan
1 Ditemukannya perwakilan, keanehan atau contoh keunikan tipe lahan basah atau mendekati
alami dam lingkungan biegeografis yang tepat.
2 Mendukung spesies yang mudah diserang, terancam, hamper punah atau yang terancam
komunita ekologis
3 Mendukung populasi spesies tanaman dan atau binatang penting untk memelihara
keanekaragaman hayati pada suatu wilayah beigeografis secara khusus
4 Menyokong spesies tanaman dan atau binatang yang berada pada tingkat kritis dalam
perkembangbiakkannya, atau mencari tempat yang memberikan perlindungan selama
kondisinya tidak sesuai
5 Secara regular menyokong 20.000 atau lebih burung air
6 Secara regular menyokong sebanyak 1% bagi satu spesies tersendiri atau subspecies
dari burung air
7 Mendukung proporsi yang signifikan dari sub spesies ikan, atau tingkat perkembangannya.
Populasi dan atau intraksi spesies yang mewakili manfaat dan atau nilai lahan basah
dan oleh kerannya memerikan andil dalam keanekaragaman hayati secara global.
8 Merupakan sumber makanan penting untuk ikan, tempat memijah, pembiakan dan atau
jalur migrasi di mana ikan berukmpul baik didaalam lahan basah itu sendri ataupun disekitarnya.
Gunakan waterfowl Population Estimates (http//:www.wetlands.org/IWC/W PEZtochtm) untuk
menetapkan perkiraan jumlah populasi burung air yang memenuhi kritria internasional yang
penting bagi suatu tempat.
5.4.5 Pengelompokkan habitat
Buku panduan AWI menitikberatkan pada pengumpulan data yang sangat diperlukan dalam
berbagai hal, seperti untuk mengklasifikasikan habitat lahan basah. Para pengguna buku
panduan ini berhak meggunakan sistem perngklasifikasian apapun yang mereka kehendaki.
Namun sangat direkomendasikan agar pada tahap awal setiap lokasi haruslah diklasifikasi
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 47 47 47 47 47
dengan menggunakan istilah yang ditetapkan dalam Tabel 29, digabungkan dengan jenis
struktur tanah (Tabel 12) berikut tatanan airnya (Tabel 16). Jika diperlukan kandungan senyawa
kimiawi di dalam air (seperti kadar garam), beragam matrial alamiah (seperti pasir, lumpur,
tanah liat) dan tumbuhan seperti pengaturannya struktur dan penanamannya) dapat digunakan
pada tahap selanjutnya untuk menambah arti unit-unit primer dalam suatu lahan basah.
Tabel 29. Pengelompokkan 13 kategori dasar lahan basah yang diperoleh dengan
menggabungkan sifat-sifat struktur tanah hydroperioede
(menurut Semeniuk dan Semeniuk 1995)
Hydroperiode/struktur tanah
Lembah sungai yang tergenangi air secara permanent
Lembah sungai yang tergenangi air secara musiman
Lembah sungai yang tergenangi air secara sebentar-sebentar
Lembah sungai yang berisi air secara dengan penuh secara musiman
Terusan sungai yang tergenangi air secara secara permanent
Terusan yang tergenangi air secara musiman
Terusan yang tergenangi air secara secara sebentar-sebentar
Terusan yang berisi air dengan penuh secara musiman
Lahan datar sungai yang tergenangi air secara permanent
Lahan datar sungai yang tergenangi air secara musiman
Lahan datar sungai yang berisi air dengan penuh secara musiman
Lereng yang berisi air dengan penuh secara musiman
Dataran tinggi yang brisi air dengan penuh secara musiman
Teknik dasar yang dikemukakan pada sistem pengklasifikasian tersebut di atas sudah diterima
secara luas. Tehnik dasar tersebut memberikan serangkaian unit pemetaan yang berguna
dan berbagai hal penting mengenai penanganan atas sumber-sumber kekayaan alam, agar
terciptanya suatu penghematan terhadap tiap jenis lahan tertentu (Semeniuk dan Semeniuk
1995). Pengklasifikasian dimaksudkan untuk memperoleh kerangka kerja yang bersifat non-
genetik yang menjadi dasar bagi kerja selanjutnya dan cukup untuk mencatat factor-faktor
penentu yang kerap berubah seperti perbedaan iklim di sepanjang wilayah geografis Asia.
5.4.6 Potensi dan manfaat lahan basah
Jelaskan potensi dan manfaat (good and service) lahan basah dengan menggunakan informasi
yang terdapat pada Tabel 4 sebagai petunjuk, penambahan secara detil akan lokasi yang
spesifik mungkin tidak kelihatan pada level-level sebelumnya. Terangkan potensi dan manfaat
yang diperoleh dari habitat serta hasil-hasil yang diuraikan secara langsung oleh lahan basah
seperti mata air sebagai pelayanan nyata yang tidak sedikit pada nilai-nilai social atau kebudayaaan.
48 48 48 48 48 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
5.4.7 Penggunaan lahan dan air
Jelaskan dan jika memungkinkan petakan habitat mana saja yang digunakan oleh penduduk
setempat, catatlah beberapa hal seperti hasil yang didapat dari lahan penghasil panen
atau perikanan, apakah lahan basah itu digunakan secara musiman atau sepanjang tahun:
luas area yang diolah dan ditanami; jenis alat yang digunakan untuk memancing, apakah
terdapat konflik-kinflik sosial; ekonomi dan politik (seperti perubahan terhadap lahan pertanian,
kontruksi bendungan (dam) dll).
Jelaskan lahan atau air suatu habitat yang dibuat untuk digunakan oleh komunitas setempat
dengan berdasarkan pada penyaringa/perluasan penyusunan data terdahulu seperti yang
terlihat pada pencatatan level-3 (Tabel 10), apakah hal-hal tersebut dilakukan untuk
emnyambung hidup komunitas local atau untuk kepentingan komersial dan apakah
menggunakan teknik-teknik moder atau tradisional.
5.4.8 Penanganan permasalahan dan ancaman-ancaman
Jelaskan penanganan permasalahan pokok untuk setiap habitat yang dihadapi oleh komunitas
setempat sebagai pengguna suatu habitat, berdasarkan pada suatu penyaringan penyusunan
data terdahulu seperti pada level-3 (Tabel 11). Garisbawahi hal-hal manajemen praktis/rencana-
rencana (jika ada) yang ditetapkan oleh perwakilan-perwakilan yang bekerja di wilayah tersebut
dan catatlah nama orang yang diwawancarai beserta nama dan statusnya. Begitu juga halnya
dengan pemanfaatan lahan basah yang dapat menimbulkan resiko terhadap kesehatan manusia.
Jenis penyakit yang dibawa oleh organisme hidup di dalam lahan basah dan peristiwa terjadinya
suatu penyakit dalam populasi manusia sebaikanya dijelaskan dengan rinci.
5.4.9 Program-program monitoring dan penanganan
Berikanlah detil rencana penanganan dan program-progam monitoring yang ada bagi habitat
yang bersangkutan. Termasuk nama-nama perwakilan pemerintah, LSM-LSM atau kelompok
lain yang terlibat dan petunjuk laporan singkat mengenai program-program aktif (nama
proyek, sasaran, kerangka waktu, aplikasi penanganan lahan basah dan orang lain atau
organisasi yang bertanggung jawab.
5.4.10 Lembar data penyelesaian
Nama dan alamat penyusunan : nama dan alamat penyusunan sebaiknya dicantumkam
seperti yang tertera di dalam lembar data (lampiran C).
Tanggal lembar data telah selesai/diperbaharui: pencantuman tanggal penyelesaian
lembar data sebaiknya dicantumkan pula (contoh 02 Oktober 2001)
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 49 49 49 49 49
Daftar Pustaka
Bayly, lAB & Williams, WD (1981). Inland waters and their ecology. Longman, Cheshire Pty
Ltd, Melbourne. 1-314.
Begg, G W(1984). The comparative ecology of Natals smaller estuaries. Natal Town and
Regional Planning Report, 62. Pietermaritzburg, South Africa: 1-182.
Brinson, MM (1993). A hydrogeomorphic classification for wetlands. Wetland research
programme technical report WRP-DE-4. US Army Engineer Waterways Experiment Station,
Vicksburg, USA.
Clesceri, LS, Greenberg, AE & Eaton, AD (eds.) (1998). Standard methods for the examination
of water and wastewater. American Public Health Association, Washington.
Costa, LT, Farinha, JC, Hecker, N & Tomas-Vives, P (1996). Mediterranean Wetland Inventory.
Reference Manual. MedWet Publication, ICN/Wetlands International.
Costa, LT, Barbosa, A ~Perennou, C (2000). The MedWet Database 2000. Users manual.
ICNfTour du Valat.Danko DM. 1992. Global data: The Digital Chart of the World. GeoInfo
Systems 1 (1): 29-36.
Dugan, PJ (ed) (1990). Wetland conservation: a review of current issues and required
action. IUCN, Gland, Switzerland.
Finlayson, CM, Bailey, BJ & Cowie, ill (1989). Macrophyte vegetation of the Magela Creek
floodplain, Alligator Rivers Region, Northern Territory. Research report 5, Supervising
Scientist for the Alligator Rivers Region, AGPS, Canberra.
Finlayson, CM & van der Valk, AG (1995). Classification and inventory of the worlds wetlands:
a summary. In Classification and Inventory of the Worlds Wetlands, (eds.CM Finlayson
& AG van der Valk) Advances in Vegetation Science 16, Kluwer Academic Press,
Dordrecht, The Netherlands: 185-192.
Finlayson, CM (1996). Information required for wetland management in the South Pacific.
In Wetland conservation in the Pacific Islands Region. (ed. Jaensch R) Proceedings
of the regional workshop on wetland protection and sustainable use in Oceania, Port
Moresby, Papua New Guinea, June 1994. Wetl~ds International- Asia/Pacific, Canberra:
185-201.
50 50 50 50 50 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Finlayson, CM (1999). Protocols for an Australian national wetland inventory. In Techniques
for enhanced wetland inventory and monitoring. (eds. CM Finlayson & AG Spiers)
Supervising Scientist Report 147, Canberra: 119-145.
Finlayson, CM & Davidson,.. NC (1999). Summary report. In Global review of wetland resources
and priorities for wetland inventory (eds. CM Finlayson & AG Spiers). Supervising
Scientist Report 144, Supervising Scientist Group, Environment Australia, Canberra:
1-13.
Finlayson, CM, Davidson, NC, Spiers, AG & Stevenson, NJ (1999). Global wetland inventory
-status and priorities. Marine and Freshwater Research 50: 717-727.
Finlayson, CM (2001). Considerations for undertaking a wetland inventory. In Wetland inventory,
assesssment and monitoring: practical techniques and identification of major issues
(eds. Finlayson CM, Davidson NC & Stevenson NJ). Supervising Scientist Report 161,
Supervising Scientist, Darwin, Australia: 11-22.
Finlayson, CM & Davidson, NC (2001). Wetland inventory, assessment and monitoring:
practical techniques and identification of major issues. Introduction and review of
past recommendations. In Wetland inventory, assesssment and monitoring: practical
techniques and identification of major issues (eds. Finlayson CM, Davidson NC &
Stevenson NJ). Supervising Scientist Report 161, Supervising Scientist, Darwin, Australia:
1-10.
Finlayson, CM, Davidson, NC & Stevenson, NJ (eds). 2001. Wetland inventory, assesssment
and monitoring: practical techniques and identification of major issues. Supervising
Scientist Report 161, Supervising Scientist, Darwin, Australia: 1-10.
Hayes, MO (1977). Morphology of sand accumulation in estu~es : an introduction to the
symposium. In: Estuarine research (Vol 2): geology and engineering (ed. Cronin LE).
Academic Press, New York: 1-587.
Hecker, N, Costa, LT, Farinha, JC & Tomas-Vives, P (1996). Mediterranean wetland inventory:
data recording. Volume II. Wetlands International, Slimbridge, UK & Instituto da
Conservaca0 da Natura, Lisboa, Portugal: 1-99.
Heydorn, AEF and Tinley, KL (1980). Estuaries of the Cape (Part 1) Synopsis of the Cape
Coast,. natural features, dynamics and utilisation. CSIR Research Report 380.
Kotze, DC, Breen, CM & Klug, JR (1994). Wetland-use. A wetland management decision
support system for the KwaZulu/Natal midlands. Water Research Commission report
No. 501/2/94.
Matthews, E (1983). Global vegetation and land use: new high resolution data bases for
climate studies. Journal of Climate and Applied Meteorology, 22: 474-487.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 51 51 51 51 51
Matthews, E and Fung, I (1987). Methane emission from natural wetlands: global distribution,
area and environmental characteristics of sources. Global Biochemical Cycles 1 (1):
61-86.
Mitsch, WJ and Gosselink, JG (1986). Wetlands. Van Nostrand Reinhold Company Inc.,
New York.
Moss, N(1980). Ecology of Freshwaters. Blackwell Scientific PUblications, Oxford. Murai, S,
Honda, Y, Asakura, K & Goto, S (1990). An Analysis of Global Environment by Satellite
Remote Sensing. Institute of Industrial Science, University of Tokyo.
Ntiamoa-Baidu, Y, Finlayson, CM & Gordon, C (2001). A participatory approach to develop
a monitoring programme for Ghanas coastal wetlands. Unpublished report to Ghana
Coastal Wetlands Managem.ent Project (CWMP), Ghana Wildlife Department, Accra,
Ghana.
PUrnell, MF, Nachtergaele, FO, Spaargaren, OC & Hebel, A (1994). A practical topsoil
classification -FAO proposal. In: Transactions 15th World Congress of Soil Science
(ed. BJD Etchevers). Instituto Nacional de Estadistica, Geografia e Informatica, Mexico.
Scott, DA (comp) (1989). A Directory of Asian Wetlands. IUCN, Gland, Switzerland, and
Cambridge, United Kingdom.
Scott, D and Poole, C (1989). A Status Overview of Asian Wetlands. A WB Publication No.
53, Kuala Lumpur, Malaysia.
Semeniuk, CA (1987). Wetlands of the Darling system -a geomorphic approach to habitat
classification. Journal of the Royal Society of Western Australia 69 (3):95- 112.
Semeniuk, CA, Semeniuk, V, Cresswell, ill & Marchant, NG (1990). Wetlands of the Darling
system, Southwestern Australia: a descriptive classification using vegetation and form.
Journal of the Royal Society of Western Australia 72 (4): 109-121.
Semeniuk, CA and Semeniuk, V (1995). A geomorphic approach to global classification for
inland wetlands. Vegetatio 118: 103-124. Kluwer Academic Publishers, Belgium.
Semeniuk, V and Semeniuk, CA (1997). A geomorphic approach to global classification for
natural wetlands and rationalization of the system used by the Ramsar Convention -
a discussion. Wetlands Ecology and Management 5: 145- 158.
Specht, R L (1981). Projective foliage cover and standing biomass. In: Vegetation classification
in Australia (eds. Gillison AN & Anderson DJ): 10-21, CSIRO, Canberra.
Spiers, AG (1999). Review of international/continental wetland resources. In Global review
of wetland resources and priorities for inventory (eds. CM Finlayson & AG Spiers).
Supervising Scientist Report 144, Canberra: 63-104.
52 52 52 52 52 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Tomas-Vives, P, Frazier, S, Suyatno, N, Hecker, N, Farinha, JC, Costa, LT, and Silva, EP
(1996). MedWet Database MWD, version 1. Users Manual. MedWet Publication, ICN/
W etlands International.
Walker, J and Hopkins, MJ (1984). Vegetation. In Australian Soil and Land Survey Field
Handbook (eds. McDonald RC, Isbell RS, Speight JG, Walker J & Hopkins NJ). Inkata
Press, Melbourne.
Watkins, D and Parish, F (1999). Review of wetland inventory information in Oceania. In
Global review of wetland resources and priorities for inventory (eds CM Finlayson &
AG Spiers). Supervising Scientist Report 144, Canberra: 201-244.
Wetzel, RG (2001). Limnology -lake and river ecosystems (3rd edition). Academic Press,
San Diego California.
Wetzel, RG and Likens, GE (1991). Limnological Analyses (2nd edition). Springer Verlag,
New York.
Wood, A, Stedman-Edwards, P & Mang J (eds) (2000). The root causes of biodiversity loss.
Earthscan Publications Ltd., London: 1-399.
World Resources Institute. (2001a). Water resources and freshwater ecosystems, Watersheds:
Asia Profiles, www.wri.org/watersheds/ww-asia.htmi.
World Resources Institute. (2001b). Water resources and freshwater ecosystems, Watersheds:
Asia Profiles, Mekong Watershed. www.wri.org/watersheds/ww- asia.html. [VVG4 V
6B 8. pdt]
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 53 53 53 53 53
L A M P I R A N - L A M P I R A N
54 54 54 54 54 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 55 55 55 55 55
LAMPIRAN A
Resolusi-resolusi dari Konferensi San Jose
Resolusi VII.20 untuk Inventarisasi Lahan Basah
People and Wetlands: Pertemuan7
th
The Vital Link konferensi pihak-pihak yang mengadakan
perjanjian pada lonvensi lahan basah (Ramsar, Iran, 1971), San Jose, Coasta Rica, 10-18
Mei 1999.
Prioritas-prioritas dalam melakukan inventarisasi lahan basah
1. MENGINGAT rekomendasi 1.5 pihak-pihak yang mengadakan perjanjian sebagaimana
disebutkan di atas dalam mempersiapkan inventarisasi lahan basah sebagai bantuan
formulasi dan implementasi dari kebijakan lahan basah nasional juga untuk membantu
meningkatkan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana di wilayah mereka.
2. MENGINGAT rekomendasi 4.6. Resolusi 5.3 dan VI.12 dan tindakan 6.1.2. dalam
perencanaan strategis 1997-2002 yang dikenal dengan inventarisasi nasional yang
bernilai ilmiah untuk mengidentifikasi wilayah yang sesuai untuk dicantumkan dalam
list of Wetands of Internatinoal Importance (Daftar Ramsar) menurut kebijakan konvensi:
3. MENGETAHUI akan tindakan 6.1.3. dari perencanaan strategis tahun 1997-2002 yang
memperbolehkan Ramsar Bureau dan sejumlah mitra kerja dari organisasi internasional
untuk menggunakan informasi dari buku petunjuk inventarisasi lahan di tingkat regional,
melakukan inventarisasi lahan basah secara ilmiah di tingkat nasional dan melakukan
inventarisasi melalui sumber-sumber lainnya, untuk memulai pengembangan sumber-
sumber lahan basah yang dihitung secara global, sebagai informasi dasar dalam
menentukan kecenderungan yang terjadi dalam konservasi lahan basah atau hilangnya
lahan basah.
4. MENCATAT laporan dengan judul Global review of wetland resources and priorities
for wetland inventory dan sejumlah rekomendasinya sebagaimana yang disiapkan dan
disampaikan oleh Wetlands International untuk Technical Session dari konferensi ini
dalam menindaklanjuti tindakan 6.1.3 dari perencanaan strategis tahun 1997-2002.
5. MENGHARGAI dukungan dana yang disediakan untuk persiapan laporan yang disebutkan
di atas untuk pemerintah Belanda, Norwegia dan Inggris.
56 56 56 56 56 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
6. MENCATAT DENGAN MEMPERHATIKAN penemuan-penemuan yang dilaporkan Wetlands
International berdasarkan informasi yang dikumpulkan dalam batasan-batasan tertentu
dari proyek ini, beberapa negara, jika ada yang memiliki inventarisasi nasional secara
lengkap melalui sumber-sumber lahan basahnya, dan untuk itu tidak mungkin untuk
menetapkan suatu garis dasar atas sumber-sumber lahan basah secara lengkap.
7. MEMPERKENALKAN berbagai skala prioritas inventarisasi lahan basah dikemudian
hari baik dalam hal tipe dan daerahnya, sebagaimana yang diidentifikasikan dalam
laporan dan disahkan oleh Konferensi Internasional ke-II lahan basah dan
pengembangannya (Dakar, Senegal, November, 1998)
8. MENIMBANG bahwa konferensi ini juga telah mengangkat Guideline for developing
and implementing National Wetlands Policies (Resolusi VII.6). Wetlands Risk Assesment
Framework (Resolusi VII.10), strategis Framewrok and Guidelines for the future
development of the list of wetlands of International Importance (Resolusi VV.11) dan
resolusi V11,17 akan Restoration as an element of national planning for wetland
conservation and wise use yang kesemuanya dicatat menurut resolusi-resolusi dan
rekomendasi-rekomendasi sebelumnya berkenaan dengan paragraph 1 dan 2 diatas
akan sangat baik jika dibantu dalam penyediaan inventarisasi nasional secara ilmiah.
9. MEMPERHATIKAN penemunan-penemuan yang diberikan dalam laporan yang disiapkan
oleh World Conservation Monitoring Centre dan dituangkan dalam COP7 Technical
Session IV yang diberi judul Shared wetlands and river basins of the world . dan
10. MENCATAT ruang lingkup yang dikemukakan Millenium Assessment of the Worlds
Ecosystems yang pada saat ini dalam pengembangan yang bertujuan menghantarkan
informasi terkait yang bernilai untuk pengaplikasian konvensi ini.
Konferensi-konferensi dari Pihak-pihak yang Mengadakan Penjanjian
11. MENDORONG semua pihak yang mengadakan perjanjian untuk melengkapi inventarisasi
sumber-sumber lahan nasional mereka secara lengkap, jika memungkinkan melakukan
restorasi pada lahan basah yang potensial dan lahan basah yang mengalami kerugian
(resoulsi VII.17), memberikan skala prioritas dalam tiga tahun kedepan untuk melakukan
kompilasi inventarisasi nasional secara lengkap, untuk berbagai tindakan yang saling
berhubungan seperti pengembangan kebijakan dan penunjukan wilayah Ramsar agar
dapat dilaksanakan dengan tepat berdasarkan informasi yang benar.
12. SELANJUTNYA MENDORONG pihak-pihak yang mengadakan perjanjian dalam melakukan
ikegiatan inventarisasi untuk menetapkan ketentuan-ketentuan agar bisa mengupayakan
skala prioritas tipe-tipe lahan basah yang teridentifikasi sebagai hal-hal yang paling
beresiko dan informasinya paling sedikit seperti dalam laporan yang berjudul Global
review of wetland resources and priorities for wetland inventory
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 57 57 57 57 57
13. MEMINTA pihak-pihak yang mengadakan perjanjian untuk menetapkan ketentuan-
ketentuan dalam kegiatan inventarisasi untuk mengangkat protokol yang telah dibakukan
dan sesuai untuk penanganan dan pengumpulan data seperti yang ditetapkan oleh
Mediterrranean Wetlands Initiative (Medwet) dengan menggunakan standarisasi biaya
yang rendah serta pengguna yang baik dari metode GIS.
14. MENGUSULKAN pihak-pihak yang mengadakan perjanjian agar masalah pembagian
lahan basah atau lembah sungai dalam mengumpulkan informasi inventarisasi manajemen
yang terkait harus dikerjakan secara bersamaan sebagaimana tercantum dalam
Guidelines for international cooperation under the Ramsar Convention (Resolusi VII.19)
15. MEMINTA para ahli dan Technical Review Panel dalam kerjasamanya dengan Wetlands
International, Ramsar Bureau dan organisasi-organisasi lainnya untuk meninjau kembali
dan mengembangkan model-model inventarisasi lahan basah lebih lanjut dan juga
penanganan data termasuk penggunaan remote sensing dan biaya yang rendah serta
pengguna GIS dan melaporkan penemuan-penemuan mereka pada pertemuan ke-8
bagi pihak-pihak yang mengadakan perjanjian dengan tujuan untuk meningkatkan
standar yang sama secara internasional.
16. MENGIJINKAN pihak-pihak yang mengadakan perjanjian untuk meninjau kembali rencana-
rencana yang mereka miliki pada wilayah masing-masing untuk menempatkan dan
memelihara inventarisasi lahan basah yang ada dan mencoba untuk mengembangkan
pusat penyimpanan data atau memastikan bahwa akses menuju sumber informasi
tersebut bisa diperoleh para pembuat keputusan, para stakeholder dan pihak-pihak
lainnya dan memungkinkan informasi tersebut didapat melalui format situs global atau
CD-ROM;
17. MENGUSULKAN pihak-pihak yang mengadakan perjanjian dan organisasi-organisasi-
organisasi yang terkait dan organisasi penyandang dana agar memberikan sumber-
sumber penghasilannya untuk hal-hal yang berkenaan dengan Wetlands International
dengan melengkapi dan membuat dokumen yang sesuai dengan protokol yang dibakukan
untuk mengumpulkan dan menangani data seperti pengkajian yang lengkap pada
informasi inventarisasi lahan basah, untuk mengembangkan bermacam-macam prosedur
untuk memperbaharui informasi yang dibutuhkan secara regular yang dapat digunakan
melalui format-format situs global atau CD-ROM
18. LEBIH JAUH MENGIJINKAN donator-donatur yang bersifat bilateral dan multirateral
untuk menentukan skala prioritas pada bantuan proyek-proyek inventarisasi lahan
basah yang dianjurkan untuk negara-negara berkembang dan negara-negara yang
tengah mengamali masa peralihan ekonomi, sebagaimana disebutkan di atas.
19. MEMINTA panitia tetap agar memberikan perhatian khusus pada proyek-proyek
inventarisasi lahan basah dalam mempertimbangkan secara tepat proyek yang diajukan
pada Ramsar Small Grants Fund.
58 58 58 58 58 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 59 59 59 59 59
LAMPIRAN B
Pengklasifikasian jenis-jenis lahan basah berdasarkan
Ramsar
(Sumber Ramsar Convention Bureaur: http//www/ramsar.org/key ris types/htm)
Lahan-lahan basah di pesisir pantai
A. laut dangkal permanen: kedalamanya kurang dari enam meter pada saat air surut termasuk
teluk laut dan selat.
B. Tanaman air laut yang terkena subtidal : termasuk tanaman kelp, rumput laut padang
rumput yang berada di dasar laut tropis.
C. Batu batu karang
D. Pantai berbatu; termasuk kepulauan lepas pantai yang berbatu; karang terjal
E. Pantai berpasir; termasuk pasir bars;spits dan kepulauan berpasir juga system bukit pasir
dan bukit pasir yang mudah hancur serta lembab.
F. Perairan estuaria; perairan muara yang bersifat permanen dan system kerja muara delta.
G. Lumpur intertidal; pasir atau dataran rendah berpasir.
H. Rawa intertidal; termasuk rawa asin, padang rumput diperairan asin, wilayah yang terkena
asin, rawa air asin yang ditinggikan; termasuk payau yang terkena asin, rawa asin yang
ditinggikan temasuk payau yang mengalami pasang surut naik serta rawa air tawar.
I. Lahan basah pasang surut; termasuk rawa hutan bakau, rawa-rawa nipah dan hutan
rawa air tawa.
J. Pantai payau; dari payau asin paling sedikit memiliki jalur penghubung menuju laut yang
relatif sempit.
K. Laguna air tawar yang berada di pesisir pantai; termasuk delta dari laguna air tawar.
Zk(a) Karts dan system-sistem hidrologis di bawah tanah; lautan/pesisir
Lahan basah di daerah pedalaman
L. Delta daratan permanen
M. Sungai permanen, anak sungai permanent termasuk air terjun.
N. Sungai, anak sungai musiman
O. Danau air tawar permanen (lebih dari 8 ha); termasuk danau oxbow yang luas.
P. Danau air tawar musiman (lebih dari 8ha); termasuk danau yang timbul akibat banjir.
60 60 60 60 60 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Q. Danau asin. Payau permanen
R. Danau asin/payau musiman
Sp. Rawa herba air asin/payau permanent
Ss. Rawa herba air asin/payau musiman
Tp. Rawa herba/kolam air tawar permanent; kolam-kolam (di bawah 8 ha) rawa-rawa dan payau-
payau yang menempati tanah inorganic, dengan munculnya tumbuhan yang dipenuhi air
selama musim pertumbuhannya.
Ts. Rawa-rawa air tawar dan menempati tanah inorganic; termasuk payau-payau, lubang-lubang
di jalan, padang rumput yang digenangi air secara musiman, rawa-rawa sedge.
U. Lahan gambut bukan hutan; termasuk semak belukar atau tanah terbuka berlumpur, rawa-
rawa,
Va. Lahan basah alpine; termasuk padang rumput di pegunungan tinggi, air yang bersifat sementara
berasal dari salju yang mencair.
Vt. Lahan basah tundra; termasuk kolam-kolam tundra. Air yang bersifat sementra karena berasal
dari salju yang mencair.
W. Lahan basah yang didominasi semak berlukar rawa-rawa yang dipenuhi semak berlukar,
belukar alder yang tumbuh di atas tanah inorganic
Xf. Lahan basah air tawar yang didominasi oleh pepohonan; termasuk hutan rawa tawar, hutan-
hutan yang digenangi air secara musiman, rawa-rawa yang ditumbuhi pohon-pohon dan
tumbuhan di atas tanah organic.
Xp. Lahan gambut berhutan; hutan-hutan rawa gambut
Y. Mata air tawar; oasis
Zg. Lahan-lahan basah geothermal
Zk(b) karat dan sistem-sistem hidrologi lainnya yang berada di bawah tanah, daerah pedalaman.
Lahan-lahan basah buatan
1. Kolam-kolam aquator; (seperti kolam udang/ikan)
2. Kolam-kolam dialiri air; termasuk kolam-kolam pertanian, kolam-kolam bibit, tangki-tangki
air (umumnya di bawah 8ha)
3. Lahan yang dialiri air; termasuk saluran irigasi dan persawahan
4. Lahan pertanian yang tergenang banjir (termasuk yang dikelola secara intensif atau
padang rumput)
5. Lokasi ekspoiltasi garam; ladang garam, semua yang berhubungan dengan garam dan
sebagainya.
6. Area penampungan air; waduk air/pembatas air buatan yang berada di sepanjang sungai/
bendungan air (umumnya lebih dari 8 ha)
7. Penggalian; penggalian batu bara/tanah lempung; lubang-lubang sementara, kolam
pertambangan.
8. Lahan pengolahan limbah; tempat pembuangan kotoran, kolam pengendapan dan
sebagainya.
9. Kanal dan saluran drainase, parit.
Zk(c) Karst dan system-sistem hidrologis lainnya yang berada di bawah tanah, adalah buatan.
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 61 61 61 61 61
LAMPIRAN C
Pemberian Nama dan Kode untuk Lembah Sungai Besar
dan Kepulauan-Kepulauan di Asia
Pemberian nama dan kode yang digunakan untuk lembah sungai besar, daerah pesisir
pantai serta kepulauan di Asia sebaiknya dibaca sambil melihat gambar 2. Bilamana diketahui,
ukuran dan kepadatan populasi lembah, daerah pesisir atau kepulauan juga diberikan.
Nama-nama pulau besar ditunjukan dengan huruf miring. Kode-kode untuk daerah pesisir
juga perlu ditambahkan.
(Sumber data WRI, The Times Atlas of the world; PNG Resources information systems
(ANU), situs Lonely planet; situs MSN; Wood at al 2000; K Tagi prs. Comm)
Nama sungai/kepulauan besar Kode Ukuran (km2) Kepadatan penduduk
(per km2)
Amuir Am 1 929 981 35
Amur daya AD 534 764 33
Borneo BO 745 561 n/r
Brahmaputra BM 651334 174
Chiang Jiang (Yangtze) CJ 1 772 155 224
Chao Phrya CP 178 754 118
Don Do 458 703 48
Dnieper Dn 531 817 67
Eats Timor ET 153 870 5
Ganges Ga 1 016 104 375
Godavari Gd 319 808 195
Hainan Hn 34 000 50
Halmahera Ha n/r n/r
Hokaido Hk 78 073 72
Hong (red) Ho 170 977 180
Honshu Hs 227 414 757
Huang He Hs 954 065 162
Indigirka Id 274 818 <1
Indus In 1 081 733 145
62 62 62 62 62 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Nama sungai/kepulauan besar Kode Ukuran (km2) Kepadatan penduduk
(per km2)
Irrawaddy Ir 431 674 80
Java Ja 132 188 907
Kolyma Ko 679 908 <1
Krishna Ks 226 026 248
Kura Araks KA 205 040 72
Kuril kepulauan Ku 15 590 n/r
Kyushu Ky 36 728 361
Luzon dan Mindoro (philipine) Lm 114 935 202
Ob Irtish OI 2 972 497 9
Ozero (danau) Balkash OB 512 101 11
Mekong Me 805 627 78
Mindanao Md 97 630 202*
Mahanadi Mh 145 818 192*
Narmada Nm 96 260 192
Neva Ne 204 467 35
New Britain Nb 35 862 11
New Guinea NG 824 931 8
North Duina ND 357 052 5
Sakhalin Sa 76 400 n/r
Salween Sw 271 866 76
Seram Se 17 100 n/r
Sri lanka Sl 65 610 n/r
Sulawesi (celebos) Sw 189 216 75
Sumatera Su 473 606 n/r
Syr Darya SD 782 669 26
Tai wan Tw 35 873 627
Tapti Tp 74 260 233
Tari m Ta 1 152 447 10
Tigris dan Euprates TE 765 280 58
Ural Ur 224 280 13
Visayas-kepulauan Vs 65 004 202*
Volga Vo 1 410 994 42
Yalu Jiang Yj 48 328 117
Yenisey OzeroBykal YB 2 554 482 2
(danau Baikal)
Xi Jiang (mutiara) XJ 409 458 210
n/r = no record (tidak ada catatannya) *= rata-rata nasional untuk Philipina (wood et al 2000)
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 63 63 63 63 63
LAMPIRAN D
Lembar Data Level 1 Lembah-Lembah Sungai Besar
Daerah-Daerah Pesisir dan Kepulauan
1. Nama dan kode lembah sungai besar, wilayah pesisir atau pulau besar
Nama:
Kode :
2. Geologi:
Nama zona (zona-zona) geologgis
Deskripsi tentang geologi:
Sumber informasi :
3. Iklim
Nama/kode penggolongan iklim (klasifikasi koeppen)
Deskripsi tentang iklim :
Sumber informasi :
4. Ekoregional
Nama ekoregional :
Deskripsi tentang ekoregional :
Sumber informasi :
5. Vegetasi
Nama zona (daerah-daerah) vegetasi :
Deskripsi tentang vegetasi:
6. Wilayah dan jenis lahan basah
Daftar jenis lahan basah
Deskripsi tentang wilayah dan jenis lahan basah
Sumber informasi :
64 64 64 64 64 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
7. Jenis dan manfaat lahan basah
Buatlah daftar jenis dan manfaat lahan basah:
Deskripsi tentang potensi manfaat lahan basah:
Sumber informasi :
8. Penanganan isu-isu dan ancaman-ancaman
Deskripsi tentang penanganan isu-isu dan ancaman-ancaman :
Sumber informasi :
9. Lembar data penyelesaian
Nama dan alamat penyususn :
Nama keluarga (family name)
Nama lain:
Judul (ms/nona), Mrs. (nyonya), Mr. (tuan), Dr array Prof.
Institusi/perwakilan.organisasi :
Alamat pos (nama jalan dan nomor, kota besar/kota kecil, Negara, kode pos) :
Nomor Telepon (kode Negara, kode wilayah, nomor) :
Nomor fax :
Alamat email :
Tanggal penyelesaian lembar data/diperbaharui :
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 65 65 65 65 65
LAMPIRAN E
Lembar Data Level 2 Sub-Lembah Sungai dan
Sub- Daerah Pesisir
1. Nama dan kode sub lembah atau sub wilayah pesisir
Nama :
Kode :
2. Lokasi geografis
Titik koordinat geografis :
Garis lintang pada titik paling utara dan selatan:
Garis bujur pada titik paling timur dan barat:
Titik pusat :
Tanggal dan sumber informasi :
3. Karakteristik-karakteristik iklim
Nama sub kelas iklim (pengklasifikasian Koeppen) :
Rata-rata dan jangkauan (mm) hujan pertahun:
Rata-rata dan jangkauan (0C) suhu udara
Lokasi dan nama resmi tempat pencatatan :
Deskripsi tentang iklim :
Tanggal dan sumber informasi :
4. Ciri-ciri fisik
4.1. Tipe wilayah : (sub lembah, wilayah pesisir pantai, sekumpulan kepulauan lepas
pantai)
4.2. Jangkauan ketinggian (dari permukaan laut)Lmaks/min dalam MAHD)
penjabaran tentang tinggi jangkauan, sumber informasi
4.3. Jenis dan area lahan basah ; (pengelompokkan ukuran, area dalam Km2,
proporsi wilayah (%) panjang dalam km; urutan aliran) penjabaran tentang tipe
dan area lahan basah, sumber informasi
66 66 66 66 66 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
4.4. Karakteristik-karakteristik geologis: daftar ciri-ciri geologis, penjabaran tentang
geologi, sumber informasi
4.5. Sistem air
Rata-rata aliran air pertahun (m3 x 106)
Jangkauan air pasang (jika dapat diaplikasi):
Deskripsi tentang tentang ilmu air:
Sumber informasi :
5. Vegetasi
Daftar jenis-jenis vegetasi :
Deskripsi tentang vegetasi:
Sumber informasi:
6. Potensi dan manfaat lahan basah:
Kategorikan potensi dan manfaat lahan basah serta kepentingan relatifnya:
Deskripsi tentang potensi dan manfaat lahan basah:
Sumber informasi:
7. Penanganan isu-isu dan ancaman-ancaman:
Kategorikan penyebab-penyebabnya dan kepentingan relatifnya:
Deskripsi tentang penyebab-penyebabnya:
Sumber informasi:
8. Batas Wilayah
Nasional atau lokal:
Kepemilikan (umum atau pribadi)
Deskripsi:
Sumber informasi:
9. Lembar data penyelesian
Nama dan alamat penyusun:
Tanggal penyelesaian lembar data:
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 67 67 67 67 67
LAMPIRAN F
Lembar Data Level 3 Cakupan-Cakupan Lahan Basah
1. Nama dan kode cakupan lahan basah
Nama :
Kode:
2. Lokasi geografis
garis lintang: pada titik paling utara dan selatan
garis bujur: pada titik paling timur dan barat
titik pusat:
proyeksi:
Tanggal dan sumber informasi:
3. Kakarteristik-karaktersitik iklim
Nama resmi dan lokasi tempat pencatatan (nama, garis lintang dan garis bujur serta
ketinggian dari permukaan air/bumi)
periode pencatatan (tahun)
jangkauan dan rata-rata curah hujan pertahun (mm)
jangkauan maks-min suhu (
0
C) perbulan:
jangkauan kelembabab relatif ( 9 pagi 3 malam)
jangkauan penguapan pertahun (mm) berdasarkan class A pan:
angin yang berhembus:
Deskripsi:
Sumber informasi :
68 68 68 68 68 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
4. Karakteristik-karakteristik ekologis
4.1. Cirri-ciri fisik
4.1.1 Jangkauan ketinggian
maks min (dalam satuan m menurut AHD)
Deskripsi:
Sumber informasi:
4.1.2 Spasial/ruang
wilayah (dalam satuam Km2)
Deskripsi:
Sumber informasi:
4.1.3 Pergerakan aliran, gelombang dan sedimen
sistem gelombang:
sistem angin:
arah arus di daerah pesisir:
posisi dan bentuk teluk kecil, tebing (dilepas pantasi) dan daerah
tanjung berpasir:
Deskripsi:
Sumber informasi:
4.1.4 Status pengikisan (erosi)
Status (mengikis, mengalami pertambahan atau stabil)
4.1.5 Tipe tanah
Daftar kategori tanah:
Deskripsi:
Sumber informasi:
4.1.6 Sistem air
untuk sistem pesisir pantai, jangkauan air pasang (air pasang
micro, meso-macro)
untuk sistem pedalaman : rata-rata aliran pertahun (cumecs);
panjang sungai dan aliran; perbedaan urutan aliran
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 69 69 69 69 69
Deskripsi:
Sumber informasi:
4.1.7 Air tanah
maks min dari kedalaman permukaan air di bawah tanah
sumber-sumber masuknya air (artesian, aquifers)
Deskripsi:
Sumber informasi:
4.2 Ciri-ciri pisika kimia
4.2.1. Kualitas air
tingkat kontaminasi (dapat diabaikan; harus ditindaklanjuti, tinggi)
Penjelasan secara luas: (sumber-sumber bahan bergizi, kadar asam
atau kadar garam dan dampak dari pembuangan air kotor)
Sumber informasi:
tingkat sedimentasi (dapat diabaikan, harus ditindaklanjuti, diberi
perhatian penuh, tinggi)
Deskripsi: (sumber-sumber sedimen)
Sumber informasi:
4.3 Ciri-ciri biologis
4.3.1 Kondisi biologis
Penjelasan secara luas: proporsi relatif dari tumbuhan yang tertutup
(%); kecenderungan yang timbul dalam status/kondisi tumbuhan,
kecenderungan yang timbul dalam populasi hewan:
Sumber informasi:
4.3.2 Bermacam-macam spesies dan gabungan unsur-unsur biologis
yang penting
Perkiraan unsur bilogis yang penting (dengan data WWF dan IUCN)
Deskripsi:
Sumber informasi:
70 70 70 70 70 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
4.3.3 Tipe habitat
Daftar jenis habitat
Deskripsi:
Sumber informasi/pengklasifikasian habitat:
5. Populasi demografis
Jumlah penduduk (kepadatan populasi)
Aktifitas utama:
Penjelasan secara luas tentang ciri-ciri populasi dan aktifitasnya di dalam cakupan
lahan:
Sumber informasi:
6. Kegunaan lahan dan air
Daftar kegunaan lahan dan air:
Deskripsi tentang manfaat utama dari lahan dan air:
Sumber informasi:
7. Batas Wilayah
Deskripsi tentang batas wilayah dan kepemilikan kompleks tanah:
Sumber informasi:
8. Penanganan isu-isu dan ancaman-ancaman
Daftar penanganan isu-isu dan ancaman-ancaman
Deskripsi tentang isu-isu dan ancaman-ancaman
Sumber informasi:
9. Lembar data penyelesaian
Nama dan alamat penyusun:
Tanggal penyelesaian lembar data:
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 71 71 71 71 71
LAMPIRAN G
Lembar Data Level 4 Habitat Lahan Basah
1. Nama dan kode habitat lahan basah
Nama :
Kode :
2. Lokasi geografi
Garis lintang : pada titik paling utara dan selatan:
Garis bujur : pada titik paling timur dan barat:
Titik pusat :
Proyeksi :
Sumber informasi :
3. Karakteristik-karakteristik iklim
Nama dan lokasi kantor tempat pencatatan :
Periode pencatatan :
Rata-rata dan jarak curah hujan pertahun (mm) :
Jarak maksimal-minimal temperatur per bulan (
o
C) :
Jarak kelembaban relatif (9 am and 3 pm) :
Jarak penguapan rata-rata ClassA pan (mm) :
Angin yang berhembus:
Sumber informasi:
4. Karakteristik ekologi
4.1 Gambaran fisik
4.1.1 Mengatur geomorfic
mengatur kepulaun : (lembah;saluran;datar, lereng; atau dataran tinggi)
mengatur pesisir pantai : (curam; tinggi)
72 72 72 72 72 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Deskripsi :
Sumber informasi :
4.1.2 Ketinggian
Masimum-minimum (m di atas AHD) :
Deskripsi :
Sumber informasi :
4..1.3 Spasial
Area (ha/km
2
) :
Ukuran kelas : (sangat kecil; kecil; sedang; luas; sangat luas)
Panjang (m/km) :
Lebar (m/km) :
Deskripsi :
Sumber informasi :
4.1.4 Morphologi lembah
Batimetri : (Jarak dan rata-rata kedalaman air)
Deskripsi :
Sumber informasi :
Stabilitas inlet : (kondisi gerbang, posisi dan lebar, data-data
pasang surut delta; tinggi dan lebar daerah pasir.... )
Deskripsi :
Sumber informasi :
4.1.5 Pergerakan gelombang dan sedimen : ( sistem gelombang; sistem
angin;arah daerah pesisir; posisi dan bentuk inlet, tebing dan daerah
tanjung berpasir)
Deskripsi :
Sumber informasi :
Status erosi : (mengikis, menimbun, tetap/tidak berubah)
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 73 73 73 73 73
4.1.6 Tipe tanah
Daftar tipe tanah :
Deskripsi :
Sumber informasi :
4.1.7 Sedimen/subtrata bawah
Kelas subtrat : (bebatuan, pasir kasar, pasir tajam, pasir berlumpur,
lumpur berpasir, endapan, tanah liat endapan, tanah liat, gambut, lumpur)
Deskripsi :
Sumber informasi :
4.1.8 Sistem perairan
Untuk sistem pesisir pantai : jarak antara mata air dan air pasang-
perbani.
Untuk sistem kepulauan : Periode air (dibanjiri secara permanen,
musiman, sebentar-sebentar, penuh berisi secara musiman)
Sumber-sumber masuknya air : (aliran air, melalui darat, curah hujan,
air tanah)
Sumber-sumber keluarnya air : (permanen, musiman, sebentar-sebentar:
episodik /tidak sama sekali)
Deskripsi :
Sumber informasi :
4.1.9 Air bawah tanah
Kedalaman maksimal-minimal permukaan air bawah tanah :
Sumber-sumber masuknya air :
Deskripsi:
Sumber informasi:
4.2 Ciri-ciri psiko-kimia
4.2.1 Permukaan air
Suhu
Jarak antara suhu rata-rata dan suhu permukaan air pertahunnya: (
0
C)
Tempat pencatatan, kedalaman dan waktu pengukuran:
Klasifikasi temal: (amictic;oligomictic;monomictic;dimictic;polymictic)
Deskripsi:
Sumber informasi:
74 74 74 74 74 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Kadar garam
Jarak min-max pada musim tertentu:
Klasifikasi kadar garam: (tawar; sedikit asin; agak asin; sangat asin;
sangat sangat asin)
Tempat pencatatan, kedalaman dan waktu pengukuran:
Deskripsi:
Sumber informasi:
PH
Jarak pertahunnya:
Tempat pencatatan:, kedalaman dan waktu pengukuran:
Klasifikasi PH: (sangat asam; asam; sedikit asam; netral; sedikit
mengandung alkalin; mengandung alkalin; sangat mengandung alkalin)
Deskripsi:
Sumber informasi:
Transparansi
Tempat pencatatan, kedalaman dan waktu pengukuran:
Klasifikasi transparansi: ( tidak tembus cahaya, sangat gelap; gelap;
jelas; sangat jelas)
Deskripsi:
Sumber informasi:
Nutrisi
Jarak N pertahunnya (total N dan nitrat): (u gm/I)
Jarak P pertahunnya (total P dan orto-P); (u gm/I)
Tempat pencatatan:, kedalaman dan waktu pengukuran:
Klasifikasi status nutrisi: (unltra-oligotropik; oligotropik; mesoeutropik;
eutropik;hipertropik)
Deskripsi:
Sumber informasi:
4.2.2 Air tanah
Deskripsi mengenai komposisi kimiawi:
Sumber informasi:
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 75 75 75 75 75
4.3 Ciri-Ciri Biologis
4.3.1 Vegetasi
Kelompok dominan
Daftar kelompok vegetasi besar :
Deskripsi kelompok vegetasi besar : (luas wilayah (ha), proporsi dari
area lahan basah (%), keadaan fisik/hidologis, bagian yang menetap)
Sumber informasi :
Spesies dominan
Daftar spesies : (cara pertumbuhannya, bentuk pertumbuhannya dan
jenis strukturnya)
Deskripsi ciri-ciri utama :
Sumber informasi :
Invansi spesies lain dan lingkungan rumput liar
Daftar spesies lain dan lingkungan rumput liar :
Deskripsi :
Sumber informasi :
Spesies dan kelompok yang penting untuk perlindungan
alam
Daftar spesies dan pengelompokkan yang penting (dengan mencantumkan
informasi status, level, dan penerapan perundang-undangannya)
Deskripsi :
Sumber informasi
Vegetasi penutup
Proporsi relatif jumlah vegetasi penutup (sekeliling area, berblok-blok
atau menyeluruh) (%) :
Deskripsi :
Sumber informasi :
76 76 76 76 76 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
4.3.2 Fauna
Spesies dan kelompok fauna dominan
Daftar spesies dan kelompok fauna dominan :
Deskripsi tentang ciri-ciri utama :
Sumber informasi :
Spesies penting untuk konservasi
Daftar spesies penting dan pengelompokkannya : (berikut status apakah
spesies tersebut termasuk kategori terancam, rentan atau jarang)
Deskripsi:
Populasi
Bualtah daftar populasi data:
Deskripsi: (spesies penting, populasi perkembangbiakan, periode-periode
penting pada waktu melakukan migrasi)
Sumber informasi:
Invasi hama dan spesies asing lainnya
Buatlah daftar hama dan spesies asing lainnya:
Deskripsi:
Sumber informasi:
4.3.3 Habitat
Buatlah daftar habitat-habitat yang penting: (taxa utama digabungkan
dengan setiap habitat, sediakanlah informasi mengenai ini)
Deskripsi:
Sumber informasi:
4.3.4 Unsur biologis suatu habitat
Pengkajian dari unsur biologis suatu habitat yang menggunakan kriteria
menurut Ramsar:
Deskripsi:
Sumber informasi:
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 77 77 77 77 77
5. Klasifikasi habitat
Tipe lahan basah: (lembah sungai yang tergenangi air baik secara permanen, musiman
atau sementara; saluran yang tergenangi air baik secara permanen, musiman atau
sementara; saluran yang dipenuhi dengan air secara musiman; dataran yang tergenangi
air secara permanen atau musiman: dataran yang dipenuhi dengan air secara musiman,
lereng atau tebing)
Deskripsi:
Sumber informasi:
6. Keanekaragaman barang dan jasa di lahan basah
Buatlah daftar barang dan jasa yang terdapat di lahan basah ;
Deskripsi:
Sumber informasi:
7. Pemanfaatan tanah dan air
Buatlah daftar habitat yang dihubungkan dengan pemanfaatan tanah dan air;
Deskripsi;
Sumber infomasi;
8. Penanganan isu-isu dan ancaman-ancaman
Buatlah daftar isu-isu dan ancaman-ancaman;
Deskripsi:
Sumber informasi:
9. Program-progam pengawasan dan pengelolaan
Program-program pengawasan:
Deskripsi:
Sumber informasi:
10. Lembar data penyelesaian
nama dan alamat penyusun:
lembar data yang diselesaikan/diperbaharui
78 78 78 78 78 Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia
Panduan Inventarisasi Lahan Basah Asia 79 79 79 79 79
Wetlands International
Wetlands international adalah suatu organisasi di bidang konservasi lahan basah yang mempunyai
kantor di 16 negara dan mempunyai pengalaman di bidang konservasi lahan basah selama lebih
dari 40 tahun. Misi wetlands international adalah memelihara dan mempertahankan lahan basah,
termasuk keanekaragaman hayatinya untuk generasi mendatang melalui penelitian, pertukaran
informasi dan kegiatan konservasi secara global.
Aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh Wetlands International adalah menitik beratkan pada peningkatan
kesadaran melalui publikasi-publikasi, seperti internet www.wetlands.org dan media lainnya. Sasaran
utamanya adalah para pembuat kebijakan dan pembuat keputusan pada khususnya, dalam rangka
membantu pengembangan kebijakan, pengembangan kapasitas dan pelatihan.
Sebagaimana diketahui, Berjuta-juta orang sangat bergantung pada kelangsungan hidup lahan basah
dan saat ini orang masih tidak memperdulikan keberadaannya terutama di daerah yang mengalami
penipisan lahan secara global, hal ini menggugah perhatian orang untuk menyediakan informasi
yang bersifat ilmiah tentang lahan basah sebanyak mungkin. Informasi ilmiah ini tidak hanya
menyajikan suatu dasar untuk mengembangkan kebijakan di tingkat nasional maupun internasional
tapi juga memberikan informasi tehnis secara detail yang dapat digunakan di tingkat masyarakat,
dan bertujuan untuk mendukung aktifitas-aktifitas konservasi seperti restorasi lahan basah. Selain
itu, informasi ini tidak hanya dapat memberikan informasi yang berharga, tetapi juga membantu
para praktisi untuk memberikan program-program pelatihan dan membantu dalam melaksanakan
dan mengelola proyek-proyek yang sedang dikembangkan. Hal-hal tersebut di atas hanya bisa
dikerjakan melalui kerjasama dengan organisasi-organisasi lain.
National Center for Tropical Wetlands Research (NCTWR)
The National Center for Tropical Wetlands Research (NCTWR) bertempat di Darwin, Australia
bagian Timur. Organisasi ini didirikan oleh pemerintah Australia yang bertujuan untuk mengabungkan
program pelatihan dan penelitian yang berhubungan dengan lahan basah tropis.
Organisasi-organisasi yang bergabung dengan NCTRW adalah sebagai berikut:
environmental Research Institute of the Supervising Scientist
James Cook University
Northern Territory University, dan
Western Australia University
Misi dari NCTWR adalah untuk meningkatkan pemanfataan lahan basah tropis secara bijaksana.
Hal ini dicapai melalui program-program pelatihan dan penelitian secara luas dan efektif dengan
semua stakeholder.
Informasi yang bisa dihubungi:
National Center for Tropical Wetlands Research (NCTWR), dengan alamat Environmental Research
Institue of the Supervising Scientist, GPO Box 461, Darwin, NT, 0801, Australia www.nctwr.org.au
http://www.wetlands.org/awi/
ISBN: 90 5882 981 2
M i s i :
Memelihara dan
mempertahankan lahan basah,
termasuk sumberdaya dan
keanekaragaman hayatinya
untuk generasi mendatang
melalui penelitian, pertukaran
informasi, dan kegiatan
konservasi secara global.
NDS A L T E
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
3A39, Block A, Kelana Centre Point
47301 Petaling Jaya, Selangor Jl. A. Yani No. 53 Bogor 16161 C/- NCTWR, PO Box 461
Malaysia Jawa Barat - INDONESIA Darwin
Tel: +60-3-7804-6770 Tel: +62-251-312189 NT 0801 Australia
Fax: +60-3-7804-6772 Fax: +62-251-325755 Tel: +61-8-8920-1100
Email: alvin@wiap.nasionet.net Email: admin@wetlands.or.id Fax: +61-8-8920-1199
Email: max.finlayson@ea.gov.au
Wetlands International Wetlands International Wetland Inventory &
Indonesia Programme Monitoring Specialist Group
Protokol inventarisasi lahan basah yang dibakukan ini telah dikembangkan melalui The Asian Wetlands
Inventory (AWI) dan bertujuan untuk memberikan sumber-sumber informasi dalam melakukan
pengkajian dan pemantauan lahan basah. Pembuatan AWI ini mengacu pada protokol inventarisasi
sebelumnya yang telah berhasil dikembangkan. Selain itu, AWI juga telah memberikan dukungan dalam
pengembangan protokol inventarisasi lahan basah yang diajukan oleh Ramsar. Adapun hasil-hasil yang
akan dicapai melalui program ini adalah sebagai berikut:
r Meningkatkan kesadaran akan pentingnya lahan basah serta membangun kesadaran kelembagaan
pemerintah nasional yang relevan di Asia akan perlunya inventarisasi yang dibakukan.
r Dengan adanya System Informasi Geografis (GIS) yang dinamis dan telah dibakukan ini bertujuan
untuk dapat menggabungkan database sehingga bisa memberikan informasi/data inti mengenai
lahan basah di Asia serta menjadi acuan dalam perencanaan upaya-upaya perlindungan alam baik
ditingkat pemerintah, konvensi-konvensi internasional, lembaga-lembaga non-pemerintah dan
lainnya.
r Memperluas jaringan kerja mengenai tehnik-tehnik dan ketrampilan mengumpulkan data dalam
pelaksanaan AWI di tingkat nasional atau daerah.
r Mengembangkan program inventarisasi nasional dan database di semua negara-negara yang ikut
berpartisipasi.
r Mengembangkan program pelatihan jaringan kerja di tingkat daerah dalam melakukan inventarisasi
lahan basah.
r Adanya program pengawasan untuk melakukan revisi dalam memperbaharui informasi mengenai
inventarisasi lahan basah di tingkat daerah.
Edisi isi diterjemahkan dan diproduksi atas dukungan dana dari ASEAN Regional CENTRE
for Biodiversity Conservation (ARCBC), kerjasama antara the Association of South East Asian Nations
(ASEAN) dan The European Union (EU)
Translation and production of this edition was funded by the ASEAN Regional CENTRE
for Biodiversity Conservation (ARCBC), a joint cooperation between the Association of
South East Asian Nations (ASEAN) and the European Union (EU).
www.arcbc.org
Seluruh pendapat dan pernyataan yang disajikan dalam publikasi ini adalah semata-mata pendapat
dan pernyataan dari penulis dan penyadur, dan tidak selalu mencerminkan pendapat
serta kebijakan dari ARCBC, ASEAN maupun EU.
The views expressed herein are those of the authors and contributors and do not necessarily reflect
the views of ARCBC, the ASEAN or the EU.