Anda di halaman 1dari 27

SIKLUS PRODUKSI DAN PERSEDIAAN

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi
Dosen Pembina:
Dr. Nono Supriatna, M.Si
Arvian Triantoro, S.Pd., M.Si


Oleh:
Derini Yuliasari (1200035)
Erlita Marcelia (1200517)
Anies Purniati (1203500)
Rifina Ridayanti (1203501)
Siska Depiantili (1203504)
Indria Fitri Afiayana (1203753)
Rinna Muliawati Sunjaya (1204102)
Dewi Lestari (1206664)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2014

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah Yang MahaEsa, karena berkat rahmat
dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Sistem Informasi Akuntansi yang
berjudulSiklus Produksi dan Persediaan yang berupa makalah tertulis, yang diajukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi.
Dalam menyelesaikan makalah ini, tim penulis telah banyak mendapat bantuan dan
masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu ,dalam kesempatan ini tim penulis ingin
menyampaikan terima kasih.
Saran serta kritik yang membangun tentang makalah ini penulis harapkan, untuk
memperbaiki kualitas dari isi makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami
sebagai penulis khususnya, dan para pembaca umumnya.


Bandung,Mei 2014


Penulis



ii

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i
DAFTAR ISI .............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................ 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 2
2.1 Pengertian Proses Produksi .............................................................................................. 2
2.2 Pengertian Persediaan ...................................................................................................... 2
BAB III PEMBAHASAN .......................................................................................................... 4
3.1 Siklus Produksi ................................................................................................................. 4
3.2 Jenis-Jenis Proses Produksi .............................................................................................. 4
3.3 Dokumen Proses Produksi ............................................................................................... 5
3.4 Pihak-pihak yang terlibat dalam siklus produksi ............................................................. 7
3.5 Siklus persediaan ............................................................................................................ 10
3.6 Jenis-Jenis Persediaan .................................................................................................... 10
3.7 Dokumen yang digunakan .............................................................................................. 11
3.8 Prosedur Siklus Produksi Dan Persediaan ..................................................................... 11
3.9 Sistem Pengendalian Intern Siklus Persediaan............................................................... 22
BAB IV PENUTUP ................................................................................................................. 23
4.1 Kesimpulan..................................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 24


1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya persediaan berupa bahan baku merupakan faktor utama yang
menunjang kelancaran sistem produksi dalam suatu perusahaan. Baik dalam perusahan besar
maupun perusahaan kecil. Bila perusahaan menggunakan bahan baku yang kualitasnya buruk
maka kemungkinan besar output yang di hasilkan juga buruk. Namun bahan baku yg
memiliki kualitan baik, belum tentu output yang dihasilkan akan baik. Karena bahan baku
mengalami dulu sebuah proses yang dinamakan proses produksi, baru akan menghasilkan
output. Jadi, bahan baku yang memiliki kualitas baik atau buruk akan mengalami suatu sistem
produksi yang nantinya akan mempengaruhi output atau hasil produksi tersebut yang kita
kenal dengan barang jadi. Maka perusahaan harus memperhatikan kualitas dari bahan baku
beserta proses produksinya.
Selain itu, kesalahan dalam mengendalikan persediaan akan merugikan perusahaan.
Kesalahan menentukan besarnya inventasi dalam mengontrol bahan baku yang terlalu besar
bila dibandingkan dengan kebutuhan perusahaan, maka akan menyebabkan beban yang
ditanggung perusahaan semakin bertambah. Karna akan banyak mengeluarkan biaya,
misalnya biaya pemeliharaan bahan baku serta biaya penyusutan pada barang tersebut jika
ada, dan kualitas yang tidak bias dipertahankan, sehingga mengurangi keuntungan
perusahaan. Begitu pun sebaliknya, jika besarnya investasi dalam mengontrol bahanbaku
terlalu kecil, maka akan menyebabkan kemacetan pada system produksi dalam perusahaan,
sehingga perusahaan mengalami kerugian. Maka pengendalian bahan baku dalam system
produksi itu perlu.










2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Proses Produksi
Proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya
sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk memperoleh
suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan barang
atau jasa (Assauri, 1995).
Menurut Soedarsono yang dimaksud fungsi produksi itu adalah hubungan teknis yang
menghubungkan faktor produksi dengan hasil produksi (Soedarsono, 1982 : 21)
http://www.kampus-info.com/2012/05/pengertian-produksi-menurut-para-ahli.html
Pengertian produksi menurut Magfuri adalah mengubah barang agar mempunyai
kegunaan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Jadi produksi merupakan segala kegiatan
untuk menciptakan atau menambah guna atas suatu benda yang ditunjukkan untuk
memuaskan orang lain melalui pertukaran (Magfuri, 1987 : 72). http://www.kampus-
info.com/2012/05/pengertian-produksi-menurut-para-ahli.html
Kami dapat mengambil kesimpulan bahwa proses produksi merupakan kegiatan untuk
menghasilkan barang atau jasa yang mempunyai nilai manfaat untuk memenuhi kebutuhan
manusia.
2.2 Pengertian Persediaan
Pengertian Inventory Menurut Koher, Eric L.A adalah bahan baku dan penolong,
barang jadi dan barang dalam produksi dana barang-barang yang tersedia, yang dimiliki
dalam perjalanan dalam tempat penyimpanan atau konsinyasikan kepada pihak lain pada
akhir periode.
Pengertian Inventory Menurut Ristono (2009) adalah suatu teknik untuk
manajemen material yang berkaitan dengan persediaan.
Pengertian Inventory Menurut Lalu Sumayang (2003) adalah simpanan material
yang berupa bahan mentah, barang dalam proses dan barang jadi.
Pengertian Inventory Menurut Hani Handoko (2000) adalah suatuistilah umum
yang menunjukan segala sesuatu atau sumber daya-sumber daya organisasi yang disimpan
dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan.
(http://www.ilmumu.com/pengetahuan/pengertian-persediaan-inventory/)

3

Persediaan (inventory) merupakan barang yang dijual dalam aktivitas operasi normal
perusahaan, dengan pengecualian organisasi jasa tertentu, persediaan merupakan aset inti dan
pending dalam perusahaan.Persediaan harus diperhatikan karena merupakan komponen utama
dari aset operasi dan langsung memengaruhi perhitungan laba.
Pengertian persediaan menurut PSAK 14 adalah aktiva yang tersedia untuk dijual
dalam kegiatan usaha normal; dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau dalam
bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau
pemberian jasa.
Dari pengertian diatas dapat kami simpulkan bahwa persediaan adalah barang-barang
yang sudah melalui proses produksi yang siap untuk dijual atau dipasarkan.



4

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Siklus Produksi
Siklus produksi adalah rangkaian aktivitas bisnis dan operasi pemrosesan data terkait
yang terus terjadi yang berkaitan dengan pembuatan produk.
3 Fungsi SIA dalam Siklus Produksi :
1. Menjelaskan aktivitas siklus produksi serta membahas data mengenai pengumpulan dan
proses biaya aktivitasnya.
2. Membahas tujuan pengendalian utama dalam siklus produksi serta mampu mendesain
dalam hal mencapai tujuan
3. Mampu secara efektif dan efisien dalam menyimpan serta mengatur informasi yang
dibutuhkan dalam membuat keputusan.
3.2 Jenis-Jenis Proses Produksi
Jenis-jenis proses produksi ada berbagai macam bila ditinjau dari berbagai segi.
Proses produksi dilihat dari wujudnya terbagi menjadi proses kimiawi, proses perubahan
bentuk, proses assembling, proses transportasi dan proses penciptaan jasa-jasa adminstrasi
(Ahyari, 2002). Proses produksi dilihat dari arus atau flow bahan mentah sampai menjadi
produk akhir, terbagi menjadi dua yaitu proses produksi terus-menerus (Continousprocesses)
dan proses produksi terputus-putus (I ntermettent processes).
Perusahaan menggunakan proses produksi terus-menerus apabila di dalam perusahaan
terdapat urutan-urutan yang pasti sejak dari bahan mentah sampai proses produksi akhir.
Proses produksi terputus-putus apabila tidak terdapat urutan atau pola yang pasti dari bahan
baku sampai dengan menjadi produk akhir atau urutan selalu berubah (Ahyari, 2002).
Penentuan tipe produksi didasarkan pada faktor-faktor seperti: (1) volume atau jumlah
produk yang akan dihasilkan, (2) kualitas produk yang diisyaratkan, (3) peralatan yang
tersedia untuk melaksanakan proses. Berdasarkan pertimbangan cermat mengenai faktor-
faktor tersebut ditetapkan tipe proses produksi yang paling cocok untuk setiap situasi
produksi. Macam tipe proses produksi dari berbagai industri dapat dibedakan sebagai berikut
(Yamit, 2002):



5

1. Proses Produksi Terus Menerus
Proses produksi terus-menerus adalah proses produksi barang atas dasar aliran produk dari
satu operasi ke operasi berikutnya tanpa penumpukan disuatu titik dalam proses. Pada
umumnya industri yang cocok dengan tipe ini adalah yang memiliki karakteristik
yaitu output direncanakan dalam jumlah besar, variasi atau jenis produk yang dihasilkan
rendah dan produk bersifat standar.
2. Proses Produksi Terputus Putus
Produk diproses dalam kumpulan produk bukan atas dasar aliran terus-menerus dalam proses
produk ini. Perusahaan yang menggunakan tipe ini biasanya terdapat sekumpulan atau lebih
komponen yang akan diproses atau menunggu untuk diproses, sehingga lebih banyak
memerlukan persediaan barang dalam proses.
3. Proses Produksi Campuran
Proses produksi ini merupakan penggabungan dari proses produksi terus-menerus dan
terputus-putus. Penggabungan ini digunakan berdasarkan kenyataan bahwa setiap perusahaan
berusaha untuk memanfaatkan kapasitas secara penuh.

3.3 Dokumen Proses Produksi
Untuk mengendalikan proses produksi diperlukan dokumen bagi penguraian dan
spesifikasi produk. Dokumen yang dimaksudkan adalah yang meliputi:
1. Programproduksi ( PP )
Suatu rencana jangka-panjang yang biasanya untuk pengembangan dan pengenalan
produk produk baru.
2. Rencana produksi ( RP )
Perencanaan yang biasanya bagi produk khusus, dimana dalam perencanaan tersebut
akan dikendalikan produksi untuk periode waktu jangka-menengah.
3. Jadwal produksi ( JP )
Suatu perluasan rencana produksi untuk mengendalikan produksi dari produk produk
dan komponen komponennya.
4. Perintah kerja (PK )
Suatu kewenangan dari departemen produksi untuk melaksanakan suatu tugas khusus,
dalam arti apa yang akan dikerjakan dan kapan suatu pekerjaan dilakukan.

6

5. Laporan penyelesaian ( LP )
Pengawas produksi melaporkan penyelesaian suatu perintah kerja. Laporan ini
dapatdigabungkan dengan perintah kerja.
6. Catatan persediaan ( CP )
Suatu catatan yang memuat tentang jumlah persediaan produk, suku cadang, komponen,
dan sebagainya. Persediaan tersebut dapat berupa barang yang disimpan atau yang masih
dalam proses.
7. Deskripsi/uraian produk ( UP )
Keterangan fisik atau karakteristik suatu darang yang disesuaikan dengan suatu daftar
uraian barang yang standar.
8. Gambar Produk ( GP )
Menggambarkan defenisi dari seluruh produk dan bagian bagiannya yang digunakan
dalam pembuatan atau perakitan produk.
9. Spesifikasi produk ( SP )
Keterangan mengenai kemampuan dan kondisi suatu suatu produk sesuai dengan
fungsinya. Juga diterangkan percobaan apa yang digunakan dalam menentukan dapat
diterimanya suatu produk.
10. Deskripsi proses ( DP )
Keterangan dari rincian proses yang digunakan dalam membuat produk dan bagian
bagian komponennya.
11. Taksiran biaya ( TB )
Suatu bentuk taksiran biaya produksi berdasarkan suatu jadwal tertentu, yang dapat
dijadikan sebagai informasi untuk diajukan dalam penetapan atau perencanaan anggaran
belanja.
12. Standar pekerjaan (STP)
Waktu standar yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu dalam keadaan
normal.
13. Laporan penerimaan ( LP )
Pengakuan resmi penerimaan bahan bahan sesuai dengan deskripsi dan kualitas yang
ditetapkan dalam perintah pembelian. Laporan ini tidak mencatat atau mengadakan
pengakuan dapat diterimanya kualitas bahan.
14. Laporan pemeriksaan penerimaan ( LPP )
Keterangan dari hasil pemeriksaan barang yang diterima setelah barang tersebut diuji
sesuai dengan spesifikasinya.

7

15. Laporan pemeriksaan dalam proses ( LPdP )
Keterangan dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap produk yang masih dalam
proses pembuatan.
16. Laporan pemeriksaan akhir ( LPA )
Keterangan hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap barang jadi sebelum peyerahan
barang.
17. Daftar permintaan barang ( DPB )
Permintaan dari pengendalian produksi untuk dapat membeli membeli barang barang
tertentu sesuai dengan jadwal yang diberikan.
18. Berita acara penerimaan barang ( BAPB )
Pengakuan resmi penerimaan komponen komponen/bahan bahan sesuai dengan
deskripsi dan kualitas yang ditetapkan dalam perintah pembelian.
19. Bukti pengeluaran barang ( BPB )
Keterangan jumlah barang yang dikirim sesuai dengan perintah penjualan termasuk
tanggal dan kepada siapa dikirimkan.
3.4 Pihak-pihak yang terlibat dalam siklus produksi
Pembagian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing di bagian produksi:
1. Manajer Pabrik (Factory Manager)
Manajer pabrik bertugas dan bertanggung jawab dalam mengatur dan mengawasi
kegiatan yang berhubungan dengan produksi dan mengambil tindakan untuk kelancaran
jalannya proses produksi. Selain itu manajer pabrik memiliki tugas dan tanggung jawab:
1. Merencanakan, mengkoordinasi, mengarahkan dan mengendalikan
kegiatan manufacturing yang meliputi PPIC, produksi, teknik purchasing dan
gudang untuk memperlancar proses pencapaian sasaran perusahaan baik jangka
pendek maupun jangka panjang.
2. Meningkatkan usaha dalam bidang peningkatan mutu produk, produktifitas kerja dan
pengendalian biaya operasional secara kontinu.
3. Mengatur dan mengendalikan proses manufacturing sesuai dengan standar yang
ditentukan.
2. Supervisor Produksi (Production Supervisor)
Supervisor produksi bertugas menyempurnakan organisasi, prosedur dan sistem kerja
guna pencapaian dalam semua aspek.Menyediakan kebutuhan sarana dan fasilitas kerja
sesuai dengan persyaratan.

8

3. Manajer Teknik (Manager Technical)
Bertugas merencanakan, mengkoordinasi dan mengendalikan kegiatan teknik sehingga
dapat menjamin kelancaran operasional mesin produksi dan sarana penunjang.Membuat
perencanaan kerja yang diselaraskan dengan tujuan manajemen khususnya dalam
kegiatan yang menyangkut teknik.Menjaga pelaksanaan perawatan dan perbaikan mesin.
4. Manajer Gudang (Warehouse Manager)
Manajer gudang bertugas merencanakan dan mengendalikan kegiatan pergudangan,
sehingga tercapai tujuan utamanya, diantaranya keamanan, keakurasian jumlah dan
kebutuhan barang yang dikelola, dengan melaksanakan sistem dan prosedur yang telah
ditetapkan manajemen. Menerapkan prosedur kerja, termasuk syarat-syarat, keselamatan
dan kesehatan kerja (K3) untuk menjaga dan memelihara semua aset perusahaan berupa
aset tetap atau aset tidak tetap.Menjaga kelancaran dan pelaksanaan semua kegiatan arus
transaksi barang melalui penentuan tata letak gudang serta penunjang tenaga pelaksana,
agar tercapai pemanfaatan fasilitas dan optimalisasi tenaga kerja.
5. Supervisor PPIC
Supervisor ini bertugas merencanakan jadwal produksi dan mengendalikan pengadaan
bahan baku (Raw Material)/RM dan barang jadi (Finish Good)/FG. Merencanakan
kedatangan RM untuk menunjang kelancaran proses produksi sesuai jadwal yang telah
dibuat. Membuat jadwal produksi berdasarkan Confirmed Weekly Order (CWO) yang
diterima.Memantau tingkat persediaan dari gudang RM maupun FG sehingga standard
dan persediaan penyangga tetap terjaga.
6. Manajer Pengembangan dan Pengawasan Mutu Produk (Branch Process
Development and Quality Manager)
Manajer PDQC bertugas dan bertanggung jawab dalam memeriksa bahan baku, bahan
tambahan, produk jadi, dan bahan pengemas. Mengawasi analisa kualitas produksi,
bertanggung jawab atas kelengkapan laboratorium untuk analisa dan pengembangan
produk. Selain itu BPDQC bertugas dan bertanggung jawab:
1. Mengendalikan semua kegiatan departemen PDQC dalam aspek proses pengendalian
mutu untuk menjamin kelangsungan aktifitas perusahaan.
2. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan GLP dan Kalibrasi di laboratorium serta
GNP dan HACCP diproses produksi.
3. Mengendalikan semua kegiatan pengendalian mutu pada proses awal pengawasan
mutu dan hasil pengawasan serta pengembangan produk.

9

4. Mengatur dan merencanakan kerja, kebutuhan kerja tenaga kerja, alat bantu dan
fasilitas kerja selama masih dalam batas-batas standar baku yang diselaraskan
dengan rencana manajemen
5. Menilai/mengevaluasi kerja staff departemen PDQC.
7. Supervisor Pengawasan Mutu Proses (Quality Control Process Spv)
Supervisor pengawasan mutu proses bertugas membantu BPDQC dalam hal sistem
pengendalian mutu proses produksi. Memantau & mengendalikan kualitas proses produksi
dan produk jadi, sesuai standar mutu yang ditetapkan. Memantau pekerjaan QC Process
Spv & bagian administrasi.Melakuaka perbaikan mutu dan costperalatan untuk kebutuhan
analisis.
8. Supervisor Pengawasan Mutu Bahan Baku/Produk Jadi (Quality control Raw
Material/Finished Good Spv)
Supervisor pengawasan mutu bahan baku/produk jadi bertugas membantu BPDQC dalam
hal pengendalian mutu RM & FG serta pengembangan proses produksi. Melakukan
pengawasan secara langsung terhadap proses Incoming Quality Control (IQC), Outgoing
Quality Control (OQC) yang meliputi koordinasi QC Field RM & FG serta pelaksanaan
penerbitan hasil analisa IQC dan OQC sehingga aktivitas kerja bisa berjalan lancar.
Melakukan koordinasi tugas IQ RM & FG, OQC RM & FG serta mengembangkan proses.
Menjaga kelancaran tugas penerimaan RM/FG dan OQC RM/FG.Mengawasi pelaksaan
GMP HACCP dan SOP pada pergudangan.Mewakili BPDQC jika tidak ada.Memantau,
mengevaluasi standar mutu yang telah ditetapkan.


10


3.5 Siklus persediaan
Siklus persediaan adalah rangkaian aktivitas bisnis yang berkaitan dengan
pengendalian persediaan produk suatu perusahaan.
Metode Penilaian Persediaan
1. Metode FIFO (First in First Out)
Barang (bahan baku) yang pertama kali masuk merupakan barang (bahan baku) yang
pertama kali diproses.
2. Metode LIFO (Last in First Out)
Barang (bahan baku) yang masuk terakhir merupakan barang (bahan baku) yang pertama
kali diproses.

3.6 Jenis-Jenis Persediaan
1. Persediaan Bahan Mentah (Raw Materials), yaitu persediaan barang-barang berwujud
mentah. Persediaan ini dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari
para Supplier atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi
selanjutnya.
2. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased paris), yaitu persediaan barang-
barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana
secara langsung dapat dirakit menjadi produk.
3. Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang yang
merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah
menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
4. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan barang-barang yang
diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang
jadi.
5. Persediaan barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai
diproses atau diolah dalam bentuk produk dan siap untuk dijual atau dikirim kepada
pelanggan.


11

3.7 Dokumen yang digunakan
Menurut Richardus E. Indrajit dan Richardus Djokopranoto (2005, 193-194) dokumen ataubukti yang
diperlukan untuk sistem informasi akuntansi persediaan antara lain:
1. Penerimaan barang
2. Pengeluaran barang
3. Pengembalian barang
4. Pengiriman barang
5. Penghapusan barang
6. Pemindahan ke akun lain
7. Pemindahan antar gudang
8. Pengajuan klaim

3.8 Prosedur Siklus Produksi Dan Persediaan
Dalam Pembahasan ini Siklus Produksi dan Persediaan terdiri atas :
1. Prosedur pencatatan barang/produk jadi
2. Prosedur pencatatan harga pokok produk jadi yang dijual
3. Prosedur pencatatan harga pokok persediaan
4. Prosedur permintaan dan pengeluaran barang gudang

Prosedur Pencatatan Barang/Produk Jadi:
Bagian produksi membuat Bukti Pengiriman Barang Jadi rangkap 3. Lembar 1
dikirimkan bersama barang ke Bagian Gudang. Lembar 2 dikirimkan ke Bagian Akuntansi.
Lembar 3 disimpan sebagai arsip.
Bagian Akuntansi menerima Bukti Pengiriman lembar 2 dari Bagian Produksi,
kemudian di arsip untuk dijadikan bukti bahwa Bagian Produksi telah menyelesaikan produk
jadi dan sudah melakukan pengiriman ke Bagian Akuntansi
Bagian gudang menerima barang jadi dan Bukti Pengiriman Barang Jadi lembar 1 dari
Bagian Produksi. Berdasarkan Bukti Pengiriman tersebut, Bagian Gudang mengisi Kartu
Gudang yang menyatakan bahwa bagian gudang menerima barang jadi sejumlah unit barang
jadi yang telah ditransfer oleh bagian produksi.
Setelah mengisi kartu gudang, Bagian Gudang meminta tanda tangan (untuk
mengetahui produk jadi yang masuk ke Bagian Gudang) ke Bagian Akuntansi.

12

Bagian Akuntansi menerima Kartu Gudang untuk ditanda tangani sebagai bukti
penerimaan barang jadi.Setelah itu mengirimkan Kartu gudang yang telah ditanda tangani ke
Bagian Gudang.
Berdasarkan kartu gudang yang telah ditanda tangani, Bagian Gudang membuat Surat
Penerimaan Barang Jadi (SPBJ) rangkap 3. Lembar pertama dikirimkan ke Bagian Akuntansi,
lembar 2 dikirimkan ke Bagian Produksi dan lembar 3 disimpan sebagai arsip.
Bagian Akuntansi menerima SPBJ lembar 1 dari Bagian Gudang.Berdasarkan SPBJ
lembar 1 tersebut, Bagian Akuntansi mengisi Kartu persediaan yang digunakan untuk
mengetahui persediaan barang jadi yang telah masuk.
Setelah mengisi Kartu Persediaan, Bagian Akuntansi mencatat di Jurnal tentang
persediaan barang jadi yang masuk.Setelah itu, memposting ke buku besar, dan dibuatkan
neraca saldo dan neraca lajur, jurnal penyesuaian dan Laporan Keuangan.Berdasarkan
Laporan Keuangan tersebut, Bagian Akuntansi membuat Laporan Penerimaan Barang Jadi
(LPBJ) yang dikirimkan ke Manajer.
Bagian Produksi menerima SPBJ lembar 2 dari Bagian Gudang.Berdasarkan SPBJ
lembar 2, Bagian Produksi membuat Laporan Penyelesaian Barang Jadi yang dikirimkan ke
Manajer.


13

Flowchart dari pencatatan barang/produk jadi:



14







15

Prosedur Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi Yang Dijual:
Bagian produksi membuat surat permintaan bahan baku rangkap 2, lembar 1 diberikan
kepada bagian gudang sedangkan lembar ke 2 disimpan sebagai arsip.
Bagian gudang menerima surat permintaan barang baku lalu mempersiapkan bahan
baku yang diminta, membuat surat pengiriman barang rangkap 2. Lembar 1 disimpan sebagai
arsip sedangkan lembar ke 2 dikirim ke bagian produksi beserta bahan baku.
Bagian produksi menerima surat pengiriman dan barang, lalu melakukan produksi.
Setelah itu membuat laporan bahan baku, tenaga kerja dan biaya tambahan rangkap 2.
Lembar 1 disimpan sebagai arsip, lembar ke 2 dikirim ke bagian akuntansi.
Bagian akuntansi menerima laporan bahan baku, tenaga kerja dan biaya tambahan.
Berdasarkan laoran tersebut bagian akuntansi menghitung biaya bahan baku, biaya tenaga
kerja dan biaya tambahan. Lalu membuat laporan harga pokok produksi rangkap 2.Lembar 1
disimpan sebagai arsip.Lembar ke 2 dikirim ke manajer.
Bagian manajer menerima laporan harga pokok produksi, berdasarkan laporan harga
pokok produksi bagian manajer menentukan margin laba lalu membuat laporan harga
penjualan barang.




16

Flowchart dari pencatatan harga pokok produk jadi yang dijual :






17

Prosedur Dari Pencatatan Harga Pokok Persediaan Yang Dibeli:
Bagian Gudang yang biasanya membutuhkan barang, membuat SPP (Surat
Permintaan Pembelian) rangkap 2.Lembar 1 dikirim ke Bagian Pembelian, dan lembar 2
disimpan oleh Bagian Gudang sebagai arsip.
Bagian Pembelian menerima SPP lembar 1 dari Bagian Gudang.Berdasarkan SPP
lembar 1, maka Bagian Pembelian membuat SPPH.
SPPH tersebut dikirimkan ke Bagian Supplier.Dan Supplier membuat SPH.SPH
tersebut dikirimkan ke Bagian Pembelian. Berdasarkan SPH tersebut, Bagian Pembelian
membuat SDP (Surat Daftar Pembelian) dikirim ke Manager untuk mendapat persetujuan.
Jika Manager menyetujui SDP tersebut, maka SDP yang telah disetujui dikirimkan
kembali ke Bagian Pembelian. Jika tidak, maka kembali ketransaksi awal.
Berdasarkan SDP yang sudah disetujui, Bagian Pembelian membuat SOP (Surat Order
Pembelian) rangkap 4.Lembar ke-1 dikirim kepada Supplier.Lembar ke-2 dikirim ke Bagian
Keuangan.Lembar ke-3 dikirim ke Bagian Gudang dan lembar ke-4 disimpan sebagai arsip.
Supplier menerima SOP lembar ke-1 dari Bagian Pembelian.Kemudian Supplier
membuat faktur rangkap 2.Lembar ke-1 dikirim beserta barang pesanan ke Bagian
Pembelian.Lembar ke-2 disimpan sebagai arsip.
Bagian Pembelian menerima faktur beserta barang pesanan dari Supplier.Kemudian,
faktur dan barang dikirim ke Bagian Gudang.
Bagian Gudang menerima barang dan mencatat barang masuk berdasarkan SOP
lembar ke-3 dan membuat LPB (Laporan Penerimaan Barang) rangkap 3.Lembar ke-1
dikirimkan ke Bagian Pembelian.Lembar ke-2 dan faktur dikirim ke Bagian Keuangan.Dan
lembar ke-3 disimpan sebagai arsip.
Bagian Keuangan menerima SOP lembar ke-2, Faktur serta LPB lembar ke-2 dari
Bagian Gudang.
Berdasarkan SOP lembar ke-2, Faktur dari Bagian Pembelian serta LPB lembar ke-2,
Bagian Keuangan membuat Laporan Pembelian LP rangkap 2.
LembarpertamadiserahkankeManagerdanlembarkeduadisimpansebagaiarsip.
Berdasarkan laporan pembelian kredit bagian keuangan membuat laporan harga pokok
persediaan rangkap 2.Lembar pertama dikirim ke manager, lembar ke 2 disimpan sebagai
arsip.



18

Flowchart dari pencatatan harga pokok persediaan:


19




20

Prosedur Permintaan Dan Pengeluaran Barang Gudang:
Bagian Produksi membuat surat permintaan bahan baku sesuai kebutuhan rangkap 2.
Lembar pertama dikirim ke Bagian Gudang dan lembar kedua disimpan sebagai arsip.
Bagian Gudang menerima surat permintaan bahan baku dari bagian produksi.
Berdasarkan Surat Permintaan Bahan Baku, Bagian Gudang membuat Surat
Pengiriman Bahan Baku rangkap 2. Lembar 1 dikirim ke Bagian Produksi beserta bahan baku
yang diminta dan lembar kedua disimpan sebagai arsip.
Berdasarkan Surat Pengiriman Bahan Baku, Bagian Gudang membuat bukti
permintaan dan pengeluaran bahan baku gudang rangkap 2. Lembar pertama dikirim ke
Bagian Akuntansi dan lembar kedua disimpan sebagai arsip.
Berdasarkan bukti permintaan dan pengeluaran bahan baku, Bagian Gudang membuat
laporan persediaan bahan baku rangkap 2. Lembar pertama dikirim ke Bagian Akuntansi,
lembar kedua disimpan sebagai arsip.
Bagian Produksi menerima Surat Pengiriman Bahan Baku beserta bahan baku dari
Bagian Gudang.
Bagian Produksi memproduksi bahan baku menjadi barang jadi, kemudian mengirim
barang jadi ke Bagian Gudang.
Berdasarkan barang jadi, Bagian Gudang membuat laporan barang jadi rangkap
2.Lembar 1 dikirim ke Bagian Akuntansi dan lembar kedua disimpan sebagai arsip.
Berdasarkan laporan persediaan bahan baku, bukti permintaan dan pengeluaran bahan
baku gudang dan laporan barang jadi, Bagian Akuntansi membuat laporan permintaan dan
pengeluaran barang gudang rangkap 2. Lembar pertama dikirim ke Manajer dan lembar 2
disimpan sebagai arsip.







21

Flowchart permintaan dan pengeluaran barang gudang:



22

3.9 Sistem Pengendalian Intern Siklus Persediaan
Ada berbagai macam sistem pengendalian intern pada persediaannya yang dilakukan
oleh perusahaan, bisa saja sistem tersebut berbeda sesuai dengan bentuk perusahaan itu
sendiri, kami mengambil satu contoh perusahaan beserta sistem pengendalian internnya, yang
kami ambil adalah PT. Sidomuncul Tbk,.
PT. Sidomuncul, bergerak di bidang industri rumah tangga, untuk mengendalikan
persediaan berupa bahan baku simplisia atau tanaman yaitu dengan selalu melakukan
pengecekan setiap 2 jam sekali oleh Qontrol Unit apakah benar, bersih dan kadar airnya 10%,
ruangan harus tetap bersih, suhu dan kelembabannya harus stabil. Metode persediaan yang
digunakan di perusahaan ini adalah FIFO. Perusahaan dalam mengendalikan persediaan
bahan baku yang ada maka selalu dilakukan penyetokan, sehingga tidak menunggu bahan
tersebut habis baru dibeli barangnya, ini dikarenakan bahan baku tersebut tidak selalu didapat
setiap saat terutama bil bahan tersebut langka, sehingga ketika musim panen sudah tiba
perusahaan langsung memborong semua bahan dan disimpan digudang untuk persediaan ke
depannya. Persediaan yang diterima oleh perusahaan juga di cek dulu sebelum masuk gudang
apakah sudah benar barang yang diminta adalah itu, apabila benar maka akan langsung
diterima dan masuk gudang atau jika tidak sesuai maka akan dikembalikan atau diterima
dengan syarat.







23

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Proses produksi merupakan kegiatan untuk menghasilkan barang atau jasa yang
mempunyai nilai manfaat untuk memenuhi kebutuhan manusia.Jenis-jenis proses produksi
ada berbagai macam bila ditinjau dari berbagai segi. Proses produksi dilihat dari wujudnya
terbagi menjadi proses kimiawi, proses perubahan bentuk, proses assembling, proses
transportasi dan proses penciptaan jasa-jasa adminstrasi. Untuk mengendalikan proses
produksi diperlukan dokumen bagi penguraian dan spesifikasi produk,
yaituprogramproduksi, rencana produksi, jadwal produksi, perintah kerja, laporan
penyelesaian, catatan persediaan, deskripsi/uraian produk, gambar produk, spesifikasi produk,
deskripsi proses, taksiran biaya, standar pekerjaan, laporan penerimaan, laporan pemeriksaan
penerimaan, laporan pemeriksaan dalam proses, laporan pemeriksaan akhir, daftar
permintaan barang, berita acara penerimaan barang, dan bukti pengeluaran barang. Adapun
pihak-pihak yang terlibat dalam system produksi yaitu, Manajer Pabrik (Factory Manager),
Supervisor Produksi (Production Supervisor), Manajer Teknik (Manager Technical), Manajer
Gudang (Warehouse Manager), Supervisor PPIC, Manajer Pengembangan dan Pengawasan
Mutu Produk (Branch Process Development and Quality Manager), Supervisor Pengawasan
Mutu Proses (Quality Control Process Spv) dan Supervisor Pengawasan Mutu Bahan
Baku/Produk Jadi (Quality control Raw Material/Finished Good Spv).
Persediaan adalah barang-barang yang sudah melalui proses produksi yang siap untuk
dijual atau dipasarkan. Persediaan terdiri dari beberapa jenis, diantaranya persediaan bahan
mentah (raw materials), persediaan komponen-komponen rakitan (purchased paris),
persediaan barang dalam proses (work in process), persediaan bahan pembantu atau penolong
(supplies), dan persediaan barang jadi (finished goods). Dokumen atau bukti yang diperlukan
untuk sistem informasi akuntansi persediaan antara lain, penerimaan barang, pengeluaran
barang, pengembalian barang, pengiriman barang, penghapusan barang, pemindahan ke akun
lain, pemindahan antar gudang, dan pengajuan klaim.


24

DAFTAR PUSTAKA

Tersedia online http://esterlyan92.blogspot.com/2012/04/siklus-produksi-dan-
persediaan.html[02 Mei 2014 pukul 10.21]
Tersedia online http://www.kampus-info.com/2012/05/pengertian-produksi-menurut-para-
ahli.html [02 Mei 2014 pukul 10.33]
Tersedia online http://www.ilmumu.com/pengetahuan/pengertian-persediaan-inventory/ [02
Mei 2014 pukul 10.45]
Tersedia online http://blog.umy.ac.id/kantongajaib/2013/01/16/laporan-kkl-pt-sido-muncul-
di-semarang/ [01 Mei 2014 10.55]