Anda di halaman 1dari 21

5

BAB II
STUDI PUSTAKA
2.1 Kaison Bor
Kaison bor dibedakan menurut material pembentuknya, yaitu:
1. Kaison beton (Gambar 2.3.a);
2. Kaison beton terselubung pipa baja atau pipa beton (Gambar 2.3.b);
3. Kaison beton dilengkapi dengan inti baja dalam pipa baja (Gambar 2.3.c).
Untuk beban bangunan yang tidak begitu besar, umumnya dipakai kaison beton.







Gambar 2.1. Kaison Bor; Gambar 2.2. Kaison
Pondasi kaison bor, bila dasarnya tidak bertumpu pada lapisan batu, bagian dasarnya
dapat diperbesar untuk mereduksi tekanan pada tanah di bawah dasar kaison. Bentuk
pembesaran umumnya dibuat menyerupai lonceng dengan kemiringan sisi 1H : 2V (Gambar
2.1). Kemiringan ini diperlukan agar tanah setelah dibentuk tidak longsor. Penggalian tanah
berbentuk lonceng sangat sulit untuk tanah dasar yang berupa tanah granuler murni.



6
Keuntungan pemakaian pondasi kaison bor, antara lain:
1. Pembangunannya tidak menyebabkan getaran dan penggembungan tanah, seperti pada
pemancangan pondasi tiang;
2. Penggalian tidak mengganggu tanah di sekitarnya;
3. Biaya pelaksanaan umumnya relatif rendah, berhubung alat yang dipakai adalah alat
ringan;
4. Kondisi-kondisi tanah atau batu pada dasar sumuran sering dapat diperiksa dan diuji
secara fisik;
5. Alat gali tidak banyak menimbulkan suara.
Disebabkan oleh pembuatan biaya pondasi yang relatif murah, pondasi kaison telah
banyak dipakai untuk mendukung bangunan-bangunan gedung, jembatan, pilar jembatan
layang, dsb.










Gambar 2.3. Macam-macam kaison bor (Teng, 1962)


7
2.1.1 Struktur Kaison Bor
Bergantung pada kondisi pembebanan dan kondisi tanah, kaison bor dapat diberi
tulangan di seluruh bagian atau bagian atasnya saja. Untuk beban yang tidak sangat besar,
bagian tubuh kaison dapat dibuat dari beton tak bertulang. Namun, sedikit tulangan masih
dibutuhkan untuk bagian atas untuk menahan gaya horizontal yang berasal dari beban angin
dan beban momen. Beban momen ini mungkin berasal dari beban kolom yang tidak sentris.
Selain itu, momen lentur dapat pula terjadi, selama periode pelaksanaan akibat gangguan alat
pelaksanaan.
Bagian yang berbentuk lonceng dan bagian tubuh kaison bor umumnya dibuat monolit
(padat) (Gambar 2.1). Pengecoran beton kaison dihentikan pada beberapa cm di bawah ujung
atasnya. Blok penutup kaison yang dapat berbentuk bulat atau persegi, merupakan bagian atas
yang tersisa yang kemudian dicor dan dibuat lebih besar dari bagian tubuh. Diameter blok
penutup kaison (cap) dibuat lebih besar 15-20 cm dari bagian tubuh, yaitu untuk
memungkinkan peletakan angker kolom. Kadang-kadang blok penutup dicor dengan beton
yang berkualitas lebih tinggi daripada bagian tubuh untuk memberikan dukungan dasar kolom
yang tinggi.
Meskipun kaison bor hanya dirancang untuk mendukung beban aksial, tulangan-
tulangan masih dibutuhkan untuk menghubungkan bagian tubuh dan bagian blok penutup
kepala kaison, supaya kedua bagian tersebut terikat dengan baik (Gambar 2.3). Bila pada
sambungan antara tubuh dan penutup kaison harus menutup momen yang besar, maka bagian
ini harus dirancang dengan seksama.
2.1.2 Kapasitas Dukung
Kapasitas dukung pondasi kaison adalah jumlah dari tahanan gesek dinding dan
tahanan dasar, sama seperti pondasi tiang. Pondasi kaison mendukung beban vertikal dengan
mengandalkan:
1. Tahanan gesek dinding;


8
2. Tahanan dukung ujung bila tanah dasar berupa pasir padat, pasir berkerikil atau batu,
atau;
3. Kombinasi dari keduanya.
Oleh pertimbangan kemanan, banyak perancang telah mengabaikan pengaruh tahanan
gesek dinding dalam hitungan kapasitas dukung. Untuk menghitung kapasitas dukung
ultimate pondasi kaison dengan Df > 5B, Terzaghi menyarankan persamaan:

dengan
Qu = kapasitas dukung ultimate (kN)
Ab = luas penampang kaison (m
2
)
As = luas selimut (m
2
)
B = lebar atau diameter pondasi (m)
qu = 1,3 c Nc + Po Nq + 0,3 B N (kN / m
2
)
fs = faktor gesek satuan antara tanah dan dinding (kN/m
2
)
a. Kaison bor pada tanah lempung
Kapasitas ultimate pondasi kaison yang terletak pada tanah lempung dapat ditentukan
dengan cara yang sama seperti menghitung pondasi dangkal. Pada cara ini tahanan gesek
dinding diabaikan. Karena itu, hasil hitungan akan memberikan nilai kapasitas dukung yang
sangat hati-hati.
Kapasitas dukung ultimate netto untuk pondasi pada tanah lempung (Skempton,
1951):
qu = c Nc (Persamaan 1)


9
dengan
c = kohesi tanah. Nilai faktor kapasitas dukung Nc bergantung pada Df/B. Nilai-nilai
hubungan antara Nc dan Df/B ditunjukkan dalam Tabel 1 (Df = kedalaman pondasi).
Tabel 1 Hubungan antara Nc dan Df/B (Skempton, 1951)


Cara yang lain, yaitu kapasitas dukung pondasi dilakukan dengan memperhatikan
tahanan ujung dan tahanan gesek dinding. Kapasitas dukung pondasi kaison dihitung dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut (Cooke dan Withaker, 1966):
Qs + Qb = Q + Ws + Wb (Persamaan 2)
dengan
Qs = As ad c = tahanan adhesi dinding tiang (kN)
c = kohesi tanah rata-rata di sekitar pondasi kaison (kN/m
2
)
ad = faktor adhesi (nilainya diantara 0,35-0,45)
Qb = Ab (cb Nc + Df) = tahanan dukung ujung tiang (kN)
cb = kohesi tanah di bawah dasar pondasi kaison (kN/m
2
)
Df = kedalaman pondasi kaison (m)
Ab = luas dasar pondasi kaison (m
2
)
Q = beban ultimate pada pondasi kaison (kN)
Ws = berat tubuh kaison (kN)
Wb = berat ujung kaison (bila ada pembesaran ujung) (kN)


10
Nilai ad c maksimum adalah 1kg/cm
2
= 107 kN/m
2

Karena tekanan netto pondasi merupakan fungsi dari berat total sendiri, maka lebih
menguntungkan jika bagian dalam pondasi kaison dibuat berlubang.
Pengamatan Withaker dan Cooke (1966), dan Berezantzev dkk. (1961), menunjukkan
bahwa tahanan dukung maksimum merupakan fungsi dari penurunan (S). Tahanan dukung
ujung maksimum akan bekerja pada gerakan turun tiang sebesar nilai-nilai S/B (S =
penurunan, B = diameter pondasi) seperti yang terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Gerakan tiang yang dibutuhkan agar tahanan ujung/gesek maksimum (Withaker dan
Cooke, 1966; Berezantzev dkk. 1961)





Pengamatan di lapangan, khusunya pada pondasi tiang, menunjukkan bahwa tahanan
gesek bertambah ke suatu nilai maksimum bila S/B kira-kira 0,05. Tahanan gesek ini
kemudian berkurang bila S/B bertambah, sampai ke suatu nilai konstan sebesar
Dalam perancangan pondasi tiang Skempton mengusulkan ad = 0,45.
b. Kaison bor pada tanah pasir
Kapasitas dukung ultimate pondasi kaison agak lebih besar dari pondasi dangkal pada
kepadatan tanah pasir yang sama. Hal ini karena pengaruh beban terbagi rata tanah di atas
dasar pondasi tak dapat diabaikan. Akan tetapi, bila tanah di sekitarnya mudah mampat,
kenaikan kapasitas dukung kemungkinan sangat kecil. Untuk tanah pondasi yang dipengaruhi
oleh gerusan, pengaruh beban terbagi rata akibat tanah di atas dasar pondasi lebih baik


11
diabaikan. Karena itu, untuk keamanan, dalam perancangan pondasi kaison sering digunakan
persamaan-persamaan kapasitas dukung ultimate untuk pondasi dangkal.
Untuk pondasi kaison pada tanah berpasir, Berezantzev (1965) mengusulkan
persamaan kapasitas dukung ijin untuk nilai maksimum S/B = 0,2, sebagai berikut:
qa = B (Bk) (Persamaan 3)
dengan

Nilai-nilai Bk untuk beberapa nilai Df/B dalam bentuk grafik ditunjukkan dalam Gambar
2.4. Untuk nilai-nilai S/B yang lain dapat dilakukan interpolasi.
Tahanan gesek dinding kaison pada tanah granuler dapat dihitung seperti cara yang
sama seperti pondasi tiang, yaitu:
(Persamaan 4)
dengan
As = luas selimut kaison (m
2
)
Kd = koefisien tekanan tanah lateral
= d = sudut gesek antara tanah dan dinding kaison (derajat)
po = tekanan vertikal efektif rata-rata di sepanjang tiang (kN/m
2
)





12








Gambar 2.4. Koefisien Bk untuk S/B = 0,2 (Berezantzev, 1965)
Perhatikan bahwa:
1. Untuk dinding kaison yang sangat kasar, maka = (sudut gesek dalam tanah).
2. Nilai Kd dapat diambil sama dengan koefisien tekanan tanah lateral saat diam (Ko)
(Teng, 1962).
3. Apabila tanah di atas dasar pondasi mudah tergerus, dalam hitungan kapasitas pondasi,
tekanan tanah di atas dasar pondasi dan tahanan gesek dinding (Qs) sebaiknya diabaikan.
Pondasi kaison dapat diletakkan pada tanah dasar pasir padat pada kedalaman yang
agak dalam, bila tanah permukaan merupakan tanah lunak yang mudah mampat. Pemilihan
pondasi kaison tergantung dari pertimbangan ekonomis dan kondisi tertentu yang
dipengaruhi oleh pertimbangan cara pelaksanaan. Sebagai contoh, untuk mencapai tanah
yang kuat mendukung beban, pondasi harus menembus lapisan tanah organik atau lapisan
tanah jelek lainnya.




13
2.1.3 Penurunan
a. Kaison bor pada tanah lempung
Penurunan pondasi kaison pada tanah lempung diestimasi dengan cara yang sama
seperti pada pondasi tiang atau pondasi dangkal.
Penurunan pondasi kaison pada tanah lempung lunak, pada pembebanan normal
kemungkinan akan besar, walaupun pada beban netto yang kecil. Karena itu pemakaian
pondasi kaison tidak ekonomis lagi bila dasar pondasi terletak pada tanah lunak. Kecuali jika
dasar kaison terletak pada tanah lempung kaku atau keras. Bahkan pada lempung yang agak
kaku, penurunan pondasi kaison mungkin bertambah besar dengan berjalannya waktu.
Hitungan penurunan konsolidasi yang didasarkan pada pengujian konsolidasi akan
menghasilkan penurunan yang terlalu besar oleh pengaruh yang ada kaitannya dengan
kompresibilitas tanah lempung overconsolidated (Peck, dkk. 1953).
b. Kaison bor pada tanah pasir
Pada intensitas beban yang sama, penurunan pondasi kaison lebih kecil daripada
penurunan pondasi dangkal, oleh pengaruh berat material di sekitar pondasi. Akan tetapi,
walaupun dipengaruhi oleh penambahan tekanan keliling (confining pressure) karena letak
dasarnya yang dalam, reduksi penurunannya ternyata tidak begitu besar. Hal ini, karena pada
penggalian lubang kaison, kepadatan tanah dasar terganggu.
Terzaghi dan Peck (1948) menyatakan bahwa penurunan pondasi kaison (sumuran)
adalah kira-kira setengah dari penurunan pondasi dangkal pada ukuran, kerapatan relatif, dan
beban pondasi yang sama.
2.1.4 Tahanan Gesek Dinding Kaison
Pondasi kaison bor yang panjang dan berdiameter relatif kecil yang terletak dalam
tanah kaku atau padat kapasitas dukungnya akan banyak ditentukan dari tahanan gesek
dinding kaison dengan tanah di sekitarnya. Dalam kasus demikian, hitungan kapasitas dukung
pondasi harus dilakukan dengan memperhatikan tahanan gesek dinding kaison. Gesekan


14
antara tanah kohesif dan dinding kaison tidak dapat melampaui kohesif tanah (c). Kohesif
tersebut dapat diambil sama dengan setengah dari kuat geser tekan bebas (qu). Pada tanah
lempung kaku dan lempung keras, ikatan antara tanah dan dinding sering kurang dari
kohesinya.
Jika kaison terletak pada tanah granuler, tahanan gesek dindingnya dapat dihitung
dengan menggunakan Persamaan 2.4.
2.1.5 Gaya Momen
Kaison bor sering dipengaruhi oleh sejumlah momen lentur yang berasal dari bagian
bawah kolom. Momen tersebut mungkin timbul sebagai akibat beban angin atau pemasangan
kaison yang tidak tepat pada sumbunya.
2.1.6 Gaya Horizontal
Kaison bor dapat menahan gaya horizontal seperti halnya pondasi tiang. Umumnya
untuk kaison yang terletak dalam tanah dengan kepadatan atau kekakuan sedang, gaya
horizontal yang kurang dari 0,75 ton tidak memerlukan penanganan khusus dalam hitungan
(Teng, 1962). Jika tanah di sekitar kaison sangat lunak atau jika gaya horizontalnya sangat
besar, maka lebih ekonomis jika gaya tersebut dilimpahkan ke bagian bawah bangunan yang
lain, seperti ruang bawah tanah.
2.1.7 Pemeriksaan pada Pekerjaan Pelaksanaan
Setelah pemasangan kaison bor mencapai tanah dasar yang direncanakan, kecuali
harus diperiksa keseluruhan lubang, juga harus diadakan pemeriksaan tanah dasar. Yaitu,
diperiksa mengenai kemungkinan adanya material tanah hasil galian yang tertumpuk di dasar
lubang. Ketika dilakukan pengecoran beton, disamping kualitas beton harus diuji, volume
beton yang masuk juga harus diperiksa. Hal ini untuk mengontrol kesempurnaan hasil
pengecoran. Pengecoran yang tidak baik akan mengakibatkan keropos-keropos pada tubuh
kaison maupun penyempitan luas penampangnya, yang dapat berakibat menurunnya kapasitas


15
dukung kaison. Pada kondisi demikian, penurunan mungkin terjadi saat pembangunan
struktur atas sedang berlangsung.
2.1.8 Perencanaan Kaison Bor
Pondasi kaison dapat dirancang menurut langkah-langkah sebagai berikut:
1. Hitung beban total yang harus didukung pondasi di kepala kaison. Berat sendiri kaison
umumnya tidak diperhitungkan.
2. Tentukan elevasi muka air tanah.
3. Sket profil tanah atau sket yang menggambarkan lapisan tanah di lokasi bangunan.
4. Pilihlah lapisan pendukung yang diperkirakan kuat, lalu hitung kapasitas dukung kaison.
5. Hitung penurunan yang terjadi untuk beban rencana yang diperhitungkan.
6. Hitung dimensi-dimensi tulangan pada badan dan blok penutup kepala kaison.
7. Cek terhadap momen lentur dan eksentrisitas.
8. Cek terhadap pengaruh gaya horizontal.
9. Cek terhadap gaya angkat oleh air. Kaison harus diberi tulangan untuk menahan gaya
tarik dalam tubuhnya.
2.2 Kaison
Macam-macam kaison dapat dibagi menurut cara pembuatannya, yaitu:
1. Kaison terbuka (open kaison)
2. Kaison pneumatik (pneumatic kaison)
3. Kaison apung (floating kaison)
Pekerjaan pembuatan kaison memerlukan banyak alat-alat berat. Dalam tiap-tiap
pelaksanaan sering ditemui masalah-masalah umum dan yang tidak biasa dilakukan. Berikut
ini akan dipelajari cara pelaksanaan pekerjaan pembuatan kaison yang sering dilakukan.




16
2.2.1 Kaison Terbuka
Kaison terbuka merupakan kaison yang pada bagian atas dan bawahnya terbuka
selama pelaksanaan. Kaison ini, bila digunakan pada area yang tergenang air, pelaksanaannya
adalah dengan membenamkan dan menggali tanah di bagian dasarnya (Gambar 2.5). Kaison
dibenamkan dengan memanfaatkan beratnya sendiri, bersama- sama dengan penggalian tanah.
Ketika pembenaman kaison mencapai tanah keras yang diinginkan, dasar kaison ditutup
dengan beton dengan tebal antara 1,5 sampai 5 m. Pada kaison terbuka, penutupan dilakukan
di bawah muka air (jika tanah dipengaruhi air). Jika tanah dasar sangat keras, penggalian
dilakukan dengan cara peledakkan (blasting).
Pada penggalian tanah untuk kaison terbuka yang umumnya dilakukan dengan cara
pengerukan, volume tanah yang tergali akan selalu melebihi volume kaison yang terpasang.
Hal ini, disebabkan oleh dinding galian tanah yang bergerak ke dalam galian.
Keuntungan kaison terbuka:
1. Dapat mencapai kedalaman yang besar;
2. Biaya pembuatan relative rendah.
Kerugian kaison terbuka:
1. Dasar kaison tidak dapat diperiksa dan dibersihkan;
2. Kualitas beton penutup dasar yang dicor dalam air tidak bagus;
3. Penggalian pada tanah yang berbatu sangat sulit.


17

Gambar 2.5. Kaison terbuka
2.2.2 Kaison Pneumatik
Kaison pneumatik (pneumatic kaison), merupakan kaison tertutup. Penggalian tanah
dilakukan dengan mengalirkan udara bertekanan ke dalam ruang kerja untuk penggalian.
Dengan cara ini penggalian dan pengecoran beton ke dalam sumuran dilakukan dalam kondisi
kering.
Bentuk tubuh kaison pneumatik hampir sama seperti kaison terbuka, bedanya hanya
pada bagian ruang kerja di bawah. Penggalian dilakukan pada ruang kerja yang diberi tekanan
udara yang sama dengan tekanan air tanah untuk mencegah aliran air masuk ke ruang kerja
Gambar 2.6. Pintu udara, kecuali dipakai untuk jalan keluar-masuk pekerja juga untuk
mengeluarkan tanah galian. Untuk kaison yang besar dapat dipakai 2 pintu udara, yang
pertama untuk galian sedang yang kedua untuk keluar-masuk pekerja. Ruang kerja diisi
dengan beton pada waktu dasar kaison telah mencapai kedalaman yang dikehendaki.
Keuntungan kaison pneumatik:
1. Pelaksanaan dalam kondisi kering;
2. Karena pengecoran beton dalam keadaan kering, kualitas beton dapat seperti yang
diharapkan;
3. Batu-batuan besar dapat dibongkar pada waktu penggalian untuk membenamkan kaison.


18
Kerugian kaison pneumatik:
1. Penggalian dengan tekanan udara membuat biaya pelaksanaan tinggi;
2. Kedalaman penetrasi di bawah air terbatas sampai kedalaman 40 m.
2.2.3 Kaison Apung
Kaison apung merupakan kaison yang tertutup pada dasarnya. Kaison tipe ini dibuat
dari beton bertulang yang dicetak di daratan dan peletakannya dilakukan dengan
mengapungkan kaison tersebut setelah beton mengeras Gambar 2.7. Pembenaman kaison ke
dalam air atau tanah terendam air, dengan cara mengisikan pasir, kerikil, beton, atau air ke
dalamnya. Permukaan air harus diperhitungkan selalu berada pada beberapa meter di bawah
puncak kaison untuk mencegah air masuk ke dalamnya. Stabilitas pengapungan dapat
dirancang menurut prinsip-prinsip hidrolika.
Keuntungan kaison apung:
1. Biaya pelaksanaan rendah;
2. Dapat digunakan bila pembuatan tipe kaison yang lain tidak memungkinkan.
Kerugian kaison apung:
1. Tanah dasar harus digali atau ditimbun sampai elevasi yang diinginkan;
2. Tipe ini hanya cocok bila tanah pondasi berada di dekat permukaan tanah. Penggalian
tanah yang terlalu dalam mahal, karena tanah jenuh cenderung longsor ke dalam lubang
galian;
3. Tanah pendukung sering tidak padat.






19












Gambar 2.6. Kaison pneumatik

Gambar 2.7. Pondasi kaison apung penempatan pada posisi akhir



20
2.2.4 Perancangan Kaison
Perancangan pondasi kaison umumnya harus dilakukan dengan mempertimbangkan
cara kerja pelaksanaan dan kondisi lapangan. Selama periode pelaksanaan, perubahan-
perubahan sering harus dilakukan untuk menyesuaikan hasil rancangan dengan kondisi
lapangan.
2.2.4.1 Kapasitas Dukung
Dasar kaison umumnya diusahakan agar bertumpu pada lapisan pasir padat, lempung
keras atau lapisan batu, dan harus tidak ditumpu oleh lapisan lunak atau batuan lapuk.
Hitungan kapasitas pondasi kaison dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti hitungan
kapasitas dukung kaison bor. Pada hitungan, tahanan gesek dinding sering diabaikan.
2.2.4.2 Gesekan Dinding
Jika memungkinkan, kaison sebaiknya dirancang mempunyai berat yang cukup untuk
menanggulangi gesek permukaan yang timbul selama pemasangan. Karena itu, evaluasi
gesekan dinding kaison dengan tanah di sekitarnya perlu diperhitungkan dengan cermat.
Nilai gesekan dinding bervariasi pada tiap-tiap jenis tanah. Umumnya, untuk
mereduksi gesekan dinding dilakukan pelumasan dinding kaison, yaitu dengan
menyemprotkan air ke dalam lubang di dalam sela-sela antara tanah dan dinding kaison.
Pengalaman menunjukkan usaha mengurangi gesekan dinding dengan cara memperbesar
diameter dasar kaison tidak memberikan hasil yang memuaskan. Gesekan dinding total
bergantung pada banyak faktor, termasuk bentuk dasar pondasi kaison, diameter, dan cara
penggalian lubangnya. Dalam perhitungan, Teng (1962) menyarankan agar menggunakan
faktor gesek dinding dari Terzaghi dan Peck (1948) dalam Tabel 3.





21
Tabel 3. Faktor gesekan dinding (fs) untuk berbagai jenis tanah (Terzaghi, 1943)

Untuk mempermudah pemasangan kaison, maka sebaiknya tahanan geser dinding
harus sama dengan berat kaison. Karena itu, jika kaison berbentuk silinder, maka:
(Persamaan 5)
Faktor gesekan dinding:
(Persamaan 6)
dengan
fs = faktor gesekan dinding (kN/m
2
)
beton = berat volume beton (kN/m
3
)
D = diameter luar kaison (m)
d = diameter dalam kaison (m)
H = kedalaman penetrasi (m)
1.3.4.3 Pembebanan
Kaison harus menahan beban-beban yang bersifat permanen dan sementara.



22
a. Beban permanen
Beban permanen adalah beban vertikal dan lateral maksimum yang bekerja pada kaison
setelah pembebanan sampai di tempatnya. Beban permanen meliputi:
I. Beban vertikal termasuk beban bangunan atas, berat kaison dikurangi gaya ke atas oleh
air. Gaya tekanan air ke atas ditentukan berdasar muka air terendah. Beban vertikal total
dianggap didukung sepenuhnya oleh tahanan tanah dasar kaison, untuk kaison dengan
kedalaman yang dangkal, walaupun sebenarnya sebagian dari beban akan didukung oleh
tahanan gesek dindingnya. Pada kaison yang dalam, perancangan umumnya dilakukan
dengan menganggap bahwa setengah dari tahanan gesek dinding akan aktif mendukung
beban. Gaya gesek dinding harus dihitung berdasar kondisi kritis, yaitu dengan
mempertimbangkan kedalaman kritis kaison pada waktu tanah tergerus dan kedudukan
muka air tanah terletak pada dasar kaison. Perlu diingat bahwa tekanan air akan
mereduksi tekanan vertikal.
II. Beban lateral, termasuk beban angin pada struktur atas, beban kendaraan di atas
jembatan, gaya benturan gelombang, dsb. Pada daerah yang dipengaruhi gempa bumi,
beban angin digantikan beban gempa (Teng, 1962).
III. Gaya-gaya lateral termasuk tekanan-tekanan tanah dan air. Tekanan tanah umumnya
diambil dalam kondisi aktif. Kombinasi tekanan air dan tanah diperhitungkan pada
kondisi dimana tekanan mencapai maksimum.
b. Beban sementara
Kaison banyak dipengaruhi gaya-gaya yang timbul pada periode pelaksanaan, yang
umumnya bersifat sementara. Beban-beban sementara dapat terjadi oleh hal-hal sebagai
berikut:
1. Kaison tergantung di dekat ujung atas. Dengan demikian bagian bawah dipengaruhi oleh
tarikan. Kaison harus kuat menahan berat bagian bawahnya.
2. Kaison didukung hanya pada kedua bagian ujung-ujungnya saja.
3. Kaison dipengaruhi oleh gaya tekanan tanah yang tidak seimbang.
4. Kaison dapat jatuh secara tiba-tiba pada waktu pembebanan.


23
2.2.5 Beton Penutup Dasar
Ketika kaison telah dibenamkan sampai mencapai lapisan pendukungnya, beton
dicorkan untuk menutup dasar kaison. Penutup ini merupakan dasar dari kaison. Untuk kaison
terbuka, pengecoran beton penutup dilakukan sampai beberapa puluh sentimeter dari ujung
bawahnya. Sedang pada kaison pneumatik, pengecoran beton penutup dilakukan sampai
menutup ruang kerja.
Selama periode pelaksanaan, penutup beton berfungsi untuk mencegah masuknya air
pada waktu pengecoran beton di atasnya.
2.2.6 Tepi Pemotong
Kaki kaison, kecuali pada kaison persegi yang akan dibenamkan dalam air, umumnya
dibentuk meruncing untuk memudahkan pembenaman. Bagian meruncing ini disebut tepi
pemotong (cutting edge). Untuk itu, ujung bawah kaison dipasang pelat-pelat baja seperti
yang terlihat pada Gambar 8. Pada gambar ini diperlihatkan pula saluran penyemprot air
yang digunakan pada waktu pekerjaan pembenaman kaison.

Gambar 2.8. Tepi pemotong pada ujung bawah kaison (Bowles, 1977)
2.2.7 Penyemprotan
Dalam pemasangan kaison, untuk mempermudah pembenaman, dinding luar kaison
kadang-kadang dilapisi dengan lapisan pelumas atau sistem penyemprot digunakan. Pipa-pipa


24
penyemprot berdiameter 3,5-5,0 cm dipasang miring tepat di atas bagian pemotong bawah
Gambar 2.8. Penyemprot dipasang sedemikian rupa agar pembenaman selalu vertikal.
2.2.8 Penyimpangan Posisi Kaison
Kaison sangat jarang terbenam pada kondisi yang benar-benar lurus atau pada posisi
sebenarnya. Biasanya penyimpangan yang tidak begitu besar masih ditoleransikan. Untuk
kaison dalam, lokasi nyata mungkin bisa meleset sampai beberapa puluh sentimeter. Hal yang
perlu dijaga adalah agar pada waktu pembenaman, kaison benar-benar pada posisi vertikal.
2.3 Pemakaian Pondasi Kaison
Kaison dipakai sebagai pondasi bangunan yang besar, bila cara pemotongan terbuka tidak
dapat dipakai, akibat adanya air yang naik, atau endapan pada dasar pondasi dan lainnya, di
samping itu bila daya dukung (vertikal atau mendatar) tidak mencukupi dalam pondasi tiang,
atau bila penurunan atau getaran memegang peranan dalam penilaian pemakaiannya.


25


Kaison
Bangunan
Pondasi
Pondasi Jembatan (Pilar, Kepala Jembatar)
Pondasi Pintu (Pondasi Pilar)
Tambatan
Pondasi Bangunan
Pondasi Mesin
Bangunan di
Bawah Tanah
Basement Bangunan
Jalan Penyebrangan
Jalan Kereta Api Bawah Tanah
Sumur Tambang
Lubang Pelindung (Terowongan yg
Ditanam)
Bangunan
Tembok
Dinding Dermaga Kaison
Konstruksi Dinding Kaison
Tembok Panggung, Tembok Pangkalan