Anda di halaman 1dari 20

Bahan Materi Debat

1. WAWASAN KEBANGSAAN dan NASIONALISME


PENERAPAN EMPAT PILAR BERBANGSA DAN BERNEGARA
UNTUK MEWUJUDKAN WAWASAN KEBANGSAAN DAN NASIONALISME
DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MASIH MENGHADAPI TANTANGAN

PENDAHULUAN : Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan
mempertahankankedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan
mewujudkansatu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negaraatau
gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warganegara,etnis,
budaya, keagamaan dan ideologi. Kategori tersebut lazimnya berkaitan
dankebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebahagian atau semuaele
men tersebut.
NASIONALISME merupakan suatu bentuk ideologi, demikian pendapat James
G. Kellas (1998: 4). Sebagai suatu ideologi,
nasionalisme membangunkesadaran rakyat sebagai suatu bangsa serta memberi se
perangkat sikap dan program tindakan. Tingkah laku seorang nasionalis didasarkan
pada perasaanmenjadi bagian dari suatu komunitas bangsa.
Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul sebagai jawaban ataskolonialisme.
Pengalaman penderitaan bersama sebagai kaum terjajah
melahirkansemangat solidaritas sebagai satu komunitas yang mesti bangkit dan hidu
pmenjadi bangsa merdeka. Semangat tersebut oleh para pejuang kemerdekaandihid
upi tidak hanya dalam batas waktu tertentu, tetapi terus-menerus hingga kinidan
masa mendatang.Pada masa sekarang ini satu hal yang perlu dibenahi oleh bangsa
Indonesiaadalah mentalitas warga masyarakatnya. Sikap mental yang kuat dan
konsistenserta mampu mengeksplorasi diri adalah salah satu bentuk konkrit yang
dibutuhkan bangsa Indonesia pada saat ini. Saat ini memang bangsa
Indonesiasedang mengalami massa-masa keterpurukanya dalam dunia
intetrnasional. Krisismultidimensi yang di barengi dengan krisis ekonomi yang
berkepanjanganlahyang menyebabkan kegoncangan dan keterpurukan mental
Indonesia.

PRO : Kebangsaan terbentuk dari kata bangsa yang dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai kesatuan orang-orang yang
bersamaan asal keturunan, adat, bahasa dan sejarahnya, serta
berpemerintahan sendiri. Sedangkan kebangsaan diartikan sebagai ciri-
ciri yang menandai golongan bangsa.
Banyak kalangan mulai mempersoalkan mengapa sekarang ini
paham kelompok atau golongan, sikap individualistik dan wawasan sempit
lainnya semakin mengkristal dalam kehidupan masyarakat. Kenyataan ini
mendorong mencuatnya kembali pembahasan mengenai pentingnya
revitalisasi wawasan kebangsaan. Nilai-nilai moral banyak dilanggar,
kerukunan dirusak, dan kedamaian dicabik-cabik. Perkelahian antar etnis
makin besar, pertarungan antar golongan makin keras, permusuhan antar
agama makin meletup, pertikaian antar elite makin mengembang. Bahkan
tawuran antar siswa makin menjadi-jadi. Itu semua melambangkan makin
lemahnya manusia Indonesia sekarang dalam mengaplikasi nilai-nilai
kebangsaan.
Samuel Hutingthon pernah berkomentar pada akhir abad ke-20, bahwa
Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi paling besar untuk
hancur, setelah Yugoslavia dan Uni Soviet akhir abad ke-20 ini.
Persoalan bangsa yang akhir-akhir ini mengemuka, bahkan menjadi
semacam hantu adalah fenomena yang mengarah pada disintegrasi
bangsa. Lepasnya Timor-Timur dari Negara Kesatuan republik Indonesai
(NKRI) dan peristiwa separatis di Irian Jaya dan Aceh yang menginginkan
Papua Merdeka dan Aceh Merdeka, merupakan contoh nyata adanya
kecenderungan di atas. Di sinilah perlunya rasa nasionalisme dan
wawasan kebangsaan dimiliki oleh generasi muda, yang pada akhirnya
diharapkan dapat mengatasi kemajemukan yang ada. Mencermati
fenomena yang terjadi tersebut, perlu kiranya ada suatu upaya untuk
menggali kembali rasa Nasionalisme dan wawasan kebangsaan. Salah
satu upaya untuk menggali rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan
dapat dilakukan dengan memahami gagasan, konsep, dan pandangan
yang disampaikan oleh para pemikir pada masa lalu.
Konsep kebangsaan tidak semata-mata mengacu pada adanya
keragaman kultural. Kebangsaan adalah suatu konsep politik, yang
perwujudannya hanya bisa diraih lewat upaya-upaya politik pula. Dan
upaya politik paling penting adalah menciptakan keadilan sosial, tegasnya
keberpihakan pada mereka yang lemah. Hanya dengan kebangsaan yang
menjamin hak politik warga negara untuk menentukan dirinya sesuai
dengan kulturalnya, maka masing-masing kelompok etnis dan budaya yang
tergabung di dalamnya akan terjamin menghayati identitasnya.
Dengan paham kebangsaan sebagai salah satu asas negara, maka
orang Islam, orang Kristen, orang Jawa, orang Batak, orang keturunan
Tionghoa, semuanya memiliki perasaan atau kehendak yang sama
sebagai satu bangsa Indonesia. Rasa kebangsaan dengan demikian
mampu menjadi wahana titik temu (common denominator) keberagaman
latar belakang warga negara Indonesia. Dengan kebangsaan, maka
kemajemukan bukan menjadi kutukan yang menyeret kita ke dalam
perpecahan, tapi justru menjadi faktor yang memperkaya kesatuan atau
rasa memiliki(sense of belonging) kita sebagai warga negara Indonesia.
Dengan kata lain: kemajemukan justru menjadi anugerah.
Dengan paham kebangsaanlah kita bisa merasakan semangat
semua buat semua. Dengan paham kebangsaan, kita menjadi memiliki
kesetaraan di depan hukum dan pemerintahan (equality before the
law) tanpa harus mengalami diskriminasi lantaran perbedaan latar
belakang primordial atau ikatan sempit seperti suku, agama, ras, atau
kedaerahan. Di sini kebangsaan bukan sesuatu yang menegasikan
keberagaman kita sebagai bangsa, namun justru mengayomi
keserbamajemukan itu ke dalam wadah yang satu: yakni bangsa
Indonesia.
Rasa kebangsanaan adalah kesadaran berbangsa, yakni rasa yang
lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari
kebudayaan, sejarah, dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta
kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Dinamisasi
rasa kebangsaan ini dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang
menjadi wawasan kebangsaan, yakni pikiran-pikiran yang bersifat nasional
dimana suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional
yang jelas. Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan itu, timbul semangat
kebangsaan atau semangat patriotisme. Rasa kebangsaan bukan
monopoli suatu bangsa, tetapi ia merupakan perekat yang mempersatukan
dan memberi dasar keberadaan (raison dentre) bangsa-bangsa di
dunia. Dengan demikian rasa kebangsaan bukanlah sesuatu yang unik
yang hanya ada dalam diri bangsa kita karena hal yang sama juga dialami
bangsa-bangsa lain.
Wawasan kebangsaan mengandung pula tuntutan suatu bangsa
untuk mewujudkan jati diri, serta mengembangkan perilaku sebagai bangsa
yang meyakini nilai-nilai budayanya, yang lahir dan tumbuh sebagai
penjelmaan kepribadiannya.
Peran kita pelajar dan pemuda sebagai penerus bangsa dalam
menanggulangi kondisi negara saat ini. Sebagai seorang warga Negara
Indonesia, kita diharuskan untuk menjaga nama baik republik kita ini.
Selain itu, kita juga harus mengharumkan nama republik Indonesia ke mata
dunia.
Oleh karena itu, jika di kemudian hari kita menjadi orang yang
berguna bagi rakyat, maka janganlah pernah kita melakukan tindakan yang
merugikan orang lain, seperti tindakan korupsi. Dan jika di kemudian hari
kita menjadi seorang pemimpin maka jangan lah menyianyiakan
kepercayaan orang lain terhadap kita. Dengan kata lain pelajar dan
pemuda memiliki peran kunci dalam kemajuan Negara Indonesia ini,
sehingga dapat di katakan majunya suatu Negara ditentukan dari kualitas
pemuda Negara tersebut.

PRO 2 : Rasa kebangsaan merupakan kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara yang tumbuh secara alamiah karena adanya kesamaan budaya, sejarah
dan aspirasi perjuangan. Kualitas rasa kebangsaan sangat dipengaruhi oleh faktor
internal, seperti mental dan intelektual kebangsaan dan faktor eksternal seperti
politik dan budaya.
Mental kebangsaan memuat nilai-nilai manusiawi yaitu peduli terhadap masa
depan bangsa dan mencintai generasi penerus bangsa. Setiap anak bangsa harus
bertanggungjawab terhadap masa depan bangsanya. Intelektual kebangsaan
menghadirkan kreasi untuk memikirkan dan menemukan solusi terbaik bagi
permasalahan bangsa untuk mengatasi ketidakpastian dan selalu berpikir jernih
serta berfikir pembaharuan yang berorientasi pada nasionalisme.
Rasa kebangsaan sangat erat kaitannya dengan sikap anak bangsa terhadap
tanah airnya yang dipandang sebagai tumpah darahnya, sebagai identitas
kebangsaannya dan sebagai representasi negara bangsanya. Kesamaan budaya,
sejarah dan aspirasi perjuangan seperti disebutkan di atas telah menempatkan
bangsa Indonesia secara alami sebagai komunitas budaya, komunitas sejarah dan
komunitas aspirasi perjuangan yang sama dan dihayati sebagai suatu kepastian
bersama. Pengelolaan nilai-nilai dan ikatan bersama perlu dilakukan secara
berkesinambungan agar paham multikultural nationalism tidak tergeser oleh paham
multinaturalism yang menjurus ke pemecahbelahan persatuan dan kesatuan
Indonesia.
Rasionalisasi rasa kebangsaan akan melahirkan paham kebangsaan, berupa
pemikiran-pemikiran rasional tentang hakikat dan cita-cita kehidupan serta
perjuangan yang menjadi ciri khas suatu bangsa. Paham kebangsaan yang
termanifestasikan dalam Sumpah Pemuda 1928, dipercaya sebagai faktor utama
yang mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada, dan kemerdekaan sebagai
wujud perkembangan kesadaran bangsa hanya akan dapat dicapai apabila ada
persatuan yang kuat.
Selain persatuan, keanekaragaman bangsa Indonesia merupakan substansi
utama paham kebangsaan. Persatuan Indonesia tidak menghapus keanekaragaman
dan bukan menciptakan keseragaman, melainkan melestarikan dan
mengembangkan kebhinekaan. Paham kebangsaan adalah paham yang menentang
primordialisme, sentralisme dan ketidakadilan sosial. Hal utama yang secara
sungguh-sungguh harus direalisasikan dari paham kebangsaan adalah prinsip
penegakan hukum, bahwa semua warga negara sama dihadapan hukum.
Menyatunya rasa kebangsaan dan paham kebangsaan Indonesia akan
menumbuhkan semangat kebangsaan, yang merupakan tekad sejati untuk membela
dan rela berkorban bagi kepentingan bangsa dan negaranya. Semangat
kebangsaan akan mendorong keberhasilan dalam mempersatukan segala macam
perbedaan, tetapi menjadi rapuh bila terjadi pergeseran sudut pandang dalam
berbagai aspek akibat perkembangan lingkungan strategis sehingga melonggarkan
ikatan-ikatan dan nilai-nilai kebersamaan yang sudah dibangun selama ini.
Selain itu, menipisnya semangat kebangsaan dapat pula disebabkan oleh
kesalahan pengelolaan negara sehingga mengakibatkan munculnya tuntutan
merdeka, timbulnya rasa ketidakadilan, penyelesaian masalah bangsa yang refresif
di luar koridor hukum dan kepentingan nasional, ketidakterbukaan dan
ketidakjujuran, yang semua itu bermuara kepada tindakan yang menyimpang dari
amanat rakyat.
Dewasa ini ikatan-ikatan dan nilai-nilai kebangsaan Indonesia cenderung
mengendur, karena demokrasi diartikan sebagai The Right of Self Determination
atau bebas menentukan nasib sendiri, sehingga bermuatan perilaku, sikap,
idealisme dan kepentingan fragmental di luar koridor kepentingan nasional. Situasi
seperti itu menyebabkan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang
memanipulasi logika demokrasi demi kepentingannya. Hal ini harus dicermati
sekaligus diwaspadai agar tidak semakin meluas seperti yang terjadi di Aceh,
Papua, Ambon dan Poso maupun berbagai bentuk pengkhianatan di masa lalu,
seperti G 30 S/PKI yang apabila dibiarkan berlarut-larut akan meruntuhkan wawasan
kebangsaan kita.
Beberapa contoh lainnya yang secara tidak sadar sering kita ucapkan dalam
kehidupan sehari-hari antara lain adalah tentang penyebutan istilah Jawa-Luar
Jawa, Indonesia Bagian Timur-Barat, Pribumi dan non-pribumi.
Ini semua merupakan hal-hal yang justru kontra produktif dan dapat
memecah belah bangsa serta menghambat pembangunan wawasan kebangsaan
Indonesia yang kuat.
Oleh karenanya perlu terus dilakukan upaya-upaya untuk membangun
wawasan kebangsaan Indonesia pada diri setiap anak bangsa yang bercirikan :
Pertama, adanya rasa ikatan yang kokoh kuat dalam satu kesatuan dan
kebersamaan di antara sesama anggota masyarakat, tanpa membedakan suku,
agama, ras maupun golongan.
Kedua, saling membantu antara sesama komponen bangsa demi mencapai tujuan
dan cita-cita bersama.
Ketiga, tidak membangun primordialisme dan eksklusifme, karena hanya akan
merusak persatuan.
Keempat, membangun kebersamaan dengan semboyan bahwa suka duka anggota
masyarakat adalah suka duka seluruh bangsa dan negara.
Kelima, mampu mengembangkan sikap untuk berfikir dan berprilaku positif
dimanapun berada, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Keenam, senantiasa berfikir jauh ke depan, membuat gagasan untuk kemajuan
bangsa dan negaranya menuju kemandirian dan kesetaraan dengan bangsa-bangsa
lain.
Dengan melekatnya keenam ciri itu pada setiap anak bangsa maka perspektif
integrasi nasional dapat lahir dan tumbuh menjadikan bangsa dan Negara Kesa-tuan
Republik Indonesia yang maju dan kuat, karena :
Pertama, Bangsa yang bersatu atau terintegrasi dapat melaksanakan rencana
pembangunannya dengan lancar, memiliki daya tahan dan kemampuan dalam
menghadapi setiap bentuk ancaman. Melalui integrasi nasional bangsa Indonesia
yang sedang membangun akan mampu menetralisir semua kecenderungan negatif
yang timbul sebagai dampak dari proses pembangunan itu sendiri.
Kedua, dengan integritas nasional, dimungkinkan akan dilakukan tindakan
penyusunan, pengerahan dan pendayagunaan segala sumber daya secara lebih
terarah sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Hal ini sangat relevan
dengan kondisi geografis, demografis dan sosial budaya kita. Daerah yang
penduduknya padat tetapi sumber daya alamnya kurang dan daerah yang kaya
sumber daya alam namun penduduknya jarang, kedua jenis daerah ini sama-sama
dalam keadaan sejahtera dan rentan terhadap kerawan-an. Melalui integrasi
nasional, kita dapat mengelola alokasi sumber daya dan menentukan skala prioritas
dengan sebaik-baiknya.
Ketiga, integrasi nasional menjamin keterpaduan dan kesejahteraan, sekaligus
menghilangkan kecurigaan satu sama lain, sehingga semua perhatian dapat lebih
terkosentrasi kepada upaya pembangunan nasional. Melalui integrasi nasional akan
semakin mantap rasa persatuan dan semakin subur iklim saling percaya, sebab
kepentingan perorangan atau golongan akan terakomodasi secara proporsional
dalam pembangunan keseluruhan bangsa.
Keempat, berkat integrasi nasional, maka perhatian terhadap aspek keamanan
masyarakat akan sejalan dengan aspek kesejahteraan, karena kedua hal tersebut
bersifat interdependensi dan berkorelasi secara integral. Hal itu merupakan basic
need and interest secara kolektif maupun perorangan. Oleh karena itu, adalah keliru
bila kita menganggap kesejahteraan bersifat produktif dan keamanan bersifat kontra
produktif. Itulah sebabnya dalam pembangunan nasional yang integratif, pendekatan
keamanan dan kesejahteraan selalu dilaksanakan secara
simultan, serasi, selaras dan proporsional.
Kelima, dengan integrasi nasional yang kokoh, kita dapat mengendalikan perubahan
dan pembaharuan dalam berbagai aspek, tanpa konflik dan guncangan yang berarti.
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, berbagai macam agama dari Sabang
sampai Merauke. Bangsa ini bukan bangsa rezim, bangsa orde atau bangsa yang
hanya satu suku saja.
Kita harus meyakini bahwa Pancasila merupakan wadah pemersatu bangsa
Indonesia yang rumusannya telah digali dari leluhur khususnya dari masa kerajaan
Majapahit yang terkenal seperti Bhineka Tunggal Ika dan Tanhana Dharma
Mangrwa yang bermakna berbeda-beda tetapi satu dan kebenaran yang mendua.
Seharusnya menjadi kesepakatan kita bersama bahwa keberagaman yang dimiliki
dalam wadah NKRI harus dijaga dan menjadi kekayaan yang tidak ternilai harganya.
Untuk mencegah terjadinya eskalasi konflik di masa mendatang, kiranya langkah
berikut perlu untuk dipertimbangkan:

Memantapkan kembali nilai-nilai wawasan kebangsaan, terutama melalui jalur
pendidikan. Karena pada dasarnya pendidikan bisa memainkan tiga fungsi
sekaligus. Dalam jangka pendek memainkan fungsi instruksionalisasi, jangka
menengah memainkan fungsi ekonomasi, dan jangka panjang memainkan fungsi
kulturalisasi.
Segenap pihak perlu membangun kesepakatan atau konsensus lokal dalam rangka
mengantisipasi munculnya konflik dan gejolak, terutama bagi daerah yang potensial
konflik. Konsensus lokal itu tidak hanya melibatkan elemen pemerintahan, tetapi
juga tokoh-tokoh LSM, ormas, pers dan akademisi setempat. Melalui kesepakatan
lokal itu diharapkan dapat dihasilkan, misalnya kode etik kehidupan bermasyarakat,
kode etik kampanye, komitmen rule of law dan seterusnya.
Mengevaluasi kembali berbagai kebijakan yang cenderung mempertajam konflik
dalam masyarakat. Konflik tidak saja disebabkan semata-mata faktor masyarakat
yang multi etnis, namun juga berbagai kebijakan nasional justru telah mendorong
munculnya konflik, seperti kebijakan pemanfaatan sumber daya air, eksplorasi hutan
lindung dan tentang pemerintahan daerah, terutama yang berkaitan dengan Pilkada
Langsung sangat berpeluang munculnya konflik dalam kehidupan masyarakat.
Perlu kembali digalakkan komunitas atau forum-forum warga dengan perspektif
baru melalui pendekatan partisipasi dan kebutuhan lokalitas, di mana sejak
reformasi dan era otonomi daerah forum-forum warga semakin menghilang, seperti
kelompencapir, posyandu, UDKP, dan sebagainya. Forum ini sebaiknya didesain
bukan hanya sekedar diskusi malinkan juga menjadi wadah untuk mencairkan
perbedaan dalam masyarakat, sebagai early warning bila ada kejadian yang extra-
ordinary.
KONTRA : Kini nasionalisme menghadapi tantangan besar dari pusaran peradaban
baru bernama globalisasi. Nasionalisme sebagai basic drive serta elan vital
darisebuah bangsa bernama Indonesia sedang diuji fleksibilitasnya, dalam
artikemampuan untuk berubah sehingga selalu akurat dalam menjawab
tantanganzaman. Fleksibilitas tidaklah mengurangi jiwa nasionalisme, justru
sebaliknya,fleksibilitas menunjukkan begitu dalamnya nasionalisme mengakar
sehinggadalam waktu bersamaan dia tetap hidup dan terus-menerus
bermetamorfosis.Pusaran ekonomi global menendang nasionalisme jauh ke
pinggiran.
Nasionalisme menjadi tidak relevan lagi. Di masa lalu modal terkait erat
denganrakyat. Dia memiliki tanggung jawab sosial untuk menghidupi seluruh
anggotakomunitas (bangsa). Namun kini, privatisasi terus-menerus menyeret
modalmenjauh dari dimensi sosial atau komunitasnya. Demi keuntungan yang
sebesar- besarnya modal dengan cepat berlari (capital flight) ke (negara) mana pun
yangdisukainya.Apakah negara hancur lebur karena krisis ekonomi atau rakyat
matikelaparan, tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab para pemilik
modal.Banyaknya perusahaan yang melarikan modalnya ke negara lain pada saat
krisisekonomi di pertengahan 1997 dan tahun-tahun sesudahnya memberi
gambarankonkret atas persoalan tersebut.
Kenyataan demikian memunculkan persoalan,apakah nasionalisme masih relevan
dalam pusaran ekonomi global saat ini, sebabmodal fmansial melepaskan diri dari
keterikatannya dengan nation-state, sehingga bangsa sebagai komunitas solidaritas
menjadi Utopia.Globalisasi sebagai proses de-teritorialisasi tidak hanya
menimbulkan persoalan di bidang ekonomi, tetapi juga kebudayaan. Kebudayaan
kerapdikaitkan dengan teritori tertentu. Ruang membentuk identitas budaya. Ini
berartinasionalisme Indonesia pun dibangun oleh kebudayaan Indonesia yang
beradadalam batas-batas geografis tertentu. Itu pemahaman kebudayaan di masa
lalu.
Globalisasi sebagai proses de-teritorialisasi telah mengubah semua itu.Kebudayaan
tidak lagi terkungkung dalam teritori tertentu. Kini tidak sedikit anak-anak muda Kota
Kembang yang lebih terampil break dance daripada jaipongan; atau lebih mahir
bermain band, daripada menabuh gamelan. Kita juga bisa menyaksikan orang barat
yang menjadi dalang dan piawai memetik kecapi.Kita bisa menyaksikan ibu-ibu yang
setia berkebaya serta bapak-bapak yang bersarung atau berpeci, pada waktu
bersamaan begitu menikmati fast food bermerek global.
Kebudayaan telah melepaskan diri dari keterikatannya padanation-state. Kenyataan
ini menghadapkan nasionalisme dengan persoalan,manakah kebudayaan yang akan
menjadi media berurat-akarnya nasionalisme?Bersamaan dengan proses de-
teritorialisasi dan mengglobalnyakebudayaan terjadi gerak sebaliknya berupa
pencarian identitas lokal yangsemakin intensif.Proses mengglobal dan melokal
janganlah dipandang sebagai penyakitatau kelainan dalam budaya masyarakat
tetapi mesti diterima sebagai keutamaanhidup manusia; semakin mengglobal
semakin rindu akan identitas lokalnya. Gerak paradoks tersebut tampak jelas dalam
bangkit dan menguatnya gerakan-gerakanetnis serta agama. Nation-state
menghadapi ancaman dari berbagai gerakan partikular sehingga memicu domestic
conflicts yang dapat membawa padaruntuhnya nation-state seperti yang dialami oleh
bekas negara Uni Soviet.
Pada titik ini nasionalisme pun dipertanyakan eksistensi dan
relevansinya.Globalisasi bidang politik mendatangkan persoalan serupa atas
nasionalisme. Globalisasi telah meredksi pentingnya lingkup politik dari nation-state
yang merupakan basis bagi pembangunan sosial-politik. Peran nation-statemenjadi
subordinat karena diambilalih oleh lembaga-lembaga ekonomitransnasional. Jika
eksistensi nation-state terpinggirkan, halnya sama dengannasionalisme,
nasionalisme menjadi ideologi yang kedaluarsa.
Dari perspektif ekonomi, budaya, dan politik global tampak bahwanasionalisme
menghadapi tantangan yang sangat besar di tengah pusaranglobalisasi saat ini.
Apakah ini berarti nation-state tidak relevan lagi, yang berartitidak relevan pula
membicarakan nasionalisme? Fakta menunjukkan bahwahingga saat ini
kewarganegaraan modern dengan berbagai hak sosial, politik, dansipilnya tidaklah
melampaui batas-batas nasional. Meski kini berkembang berbagai komunitas
transnasional, Uni Eropa misalnya, namun seseorang yanghendak menjadi anggota
terlebih dahulu mesti memperoleh kewarganegaraan darisalah satu negara
anggotanya. hii berarti di tengah arus globalisasi, peran nation-state serta
nasionalisme tetap relevan dan signifikan.
Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai
nasionalisme

1. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan
demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika
pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat
tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme
terhadap negara menjadi meningkat.

2. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan
kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut
akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan
nasional bangsa.

3. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti
etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk
meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan
mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.

Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai
nasionalisme

1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat
membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan
berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi
akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang

2. Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam
negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza
Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk
dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita
terhadap bangsa Indonesia.

3. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri
sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat
yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan
miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut
dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat
mengganggu kehidupan nasional bangsa.

5. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku
sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli
dengan kehidupan bangsa.

Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap
nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa
nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi
mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri
dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara
kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai
di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak
anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan
persatuan dan kesatuan bangsa.

Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda

Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan
muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh
globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian
diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang
muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.

Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis
yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan
yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara
berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak
ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih
suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak
remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang
sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.

Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan
dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi
santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita
memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian.
Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak
semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada
lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat
menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan
handphone.

Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun
dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi
menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati
mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan
kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.

Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut?
Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan
muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada
rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat.
Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika
penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?

Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak
daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk
mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme.

Dampak Globalisasi terhadap Kehidupan Bangsa Indonesia

Dari aspek ideologi, Pancasila yang merupakan way of life bangsa Indonesia saat
ini menghadapi tantangan serius, bukan saja orang enggan bicara tentang
Pancasila, tetapi justru nilai-nilai yang terkandung didalamnya nyaris tidak lagi
dihayati dan diamalkan. Mungkin hal ini adalah akibat dan sikap traumatis dari
pengalaman masa lalu, atau dapat pula karena terlahir generasi baru yang telah
menganggap bahwa Pancasila sudah tidak bermakna lagi.
Distorsi pemahaman dan implementasi yang terjadi saat ini, dapat kita amati
fenomenanya antara lain :

Terjadinya kemerosotan (dekadensi) moral, watak, mental dan perilaku/ etika hidup
bermasyarakat dan berbangsa terutama pada generasi muda.

Gaya hidup yang Hedonistik, materialistik konsumtif dan cenderung melahirkan
sifat ketamakan atau keserakahan, serta mengarah pada sifat dan sikap
individualistik.

Timbulnya gejala politik yang berorientasi kepada kekuatan, kekuasaan dan
kekerasan, sehingga hukum sulit ditegakkan.

Persepsi yang dangkal, wawasan yang sempit, beda pendapat yang berujung
bermusuhan, anti terhadap kritik serta sulit menerima perubahan yang pada
akhirnya cenderung anarkhis.

Birokrasi pemerintahan terlihat semakin arogan berlebihan, cenderung KKN dan
sukar menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat. Pemberan-tasan korupsi yang
berakar pada birokrasi ini yang terasakan amat sulit karena telah membudaya.

Perkembangan sistem politik di Indonesia menunjukkan tatanan yang makin
amburadul, walaupun orang berkilah karena dianggap masih masa transisi,
sehingga apapun yang terjadi di tengah masyarakat ini dianggap pula wajar. Tetapi
sebenarnya sistem politik kita cenderung mengarah kepada ketidak serasian dan
perpecahan bangsa. Pengertian kedaulatan di tangan rakyat makin disalah artikan,
sehingga tumbuh menjamurnya berbagai partai politik yang pernah tercatat hingga
lebih dari 100 partai akan menyulitkan untuk melaksanakan Pemilu. Kepemimpinan
nasional yang kurang berwibawa dalam menghadapi masalah-masalah besar,
ditambah pula kondisi birokrasi pemerintahan yang penuh dengan korupsi, kolusi
dan nepotisme, menjadikan keberadaan pemerintah menghadapi cercaan
masyarakat. Dinilai tidak mampu mengendalikan mekanisme kerja jajarannya dan
mungkin pada gilirannya nanti bisa menjadi lumpuh. Budaya politik yang
melahirkan primordialisme sempit dan khususnya bagi partai yang berkuasa hanya
berorientasi pada kekuasaan dan pemaksaan kehendak, maka mereka tidak pernah
lagi memikirkan nasib rakyat secara keseluruhan. Selama lima tahun berkuasa
dapat diamati bahwa kemakmuran dan kesejahteraan hanya ada pada partai yang
berkuasa itu, sambil terus mengupayakan agar bagaimana dapat memenangkan
Pemilu berikutnya dan merebut kekuasaan lagi.
Pada aspek ekonomi, boleh disoroti bahwa selama era reformasi ini apakah
pemerintah telah mampu meletakkan dasar-dasar dan landasan pembangunan
ekonomi yang kuat ? Dengan masih dirasakan terjadinya fluktuasi moneter, tidak
adanya tambahan investasi, kecilnya minat asing untuk menanamkan modal di
Indonesia dan belum bangkitnya sektor riil, akan semakin mempersempit peluang
kerja, meluasnya gejala PHK, tidak tertampungnya angkatan kerja baru dan lengkap
sudah kemiskinan, pengangguran dan kebodohan menimpa rakyat kita.

Kecenderungan akselerasi perekonomian global yang bebas menembus batas
negara, melalui banjirnya produk, jasa, dana dan informasi ke berbagai pelosok
dunia, menjadikan Indonesia hanya sebagai sasaran dan arena pemasaran.
Sementara produk dalam negeri mengalami kelesuan sulit menembus pasar di luar
negeri. Produk-produk luar negeri dengan kualitas yang baik dan harga yang relatif
murah, terus masuk dengan dilandasi komitmen free trade. Kondisi ekonomi yang
melanda Indonesia saat ini juga disebabkan oleh iklim politik, penegakan hukum,
dan keamanan yang tidak menunjang. Stabilitas nasional selalu terganggu,
keamanan usaha tidak terlindungi, akibatnya produktivitas anjlok.

Pada bagian lain, terutama aspek sosial budaya dipicu oleh kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, terutama pada bidang komunikasi, transportasi dan
informasi telah merubah paradigma sosial begitu cepat, khususnya aspek budaya.
Meluasnya masyarakat majemuk yang sangat heterogen, baik dari segi suku,
agama, adat istiadat, kebiasaan dan perilakunya. Walaupun ada segi positifnya,
namun tidak sedikit akibat negatif yang ditimbulkan. Kecenderungan pelanggaran
hak asasi manusia, sulitnya orang mencari keadilan, kriminalitas yang berkadar
tinggi, serta kebringasan sosial yang seringkali sulit dikendalikan semua itu
menunjukkan bahwa kita belum mampu mengendalikan perobahan tersebut.
Perobahan sosial berikutnya bahwa pluralitas tidak terfocus hanya pada aspek
SARA, tetapi dimasa yang akan datang kemajemukan itu ditandai dengan adanya
sinergi dari peran, fungsi dan profesionalisme individu atau kelompok. Sehingga
kontribusi profesi individu/kelompok itulah yang akan mendapat tempat dimanapun
mereka berprestasi.

Pembangunan pendidikan di semua strata/level belum menghasilkan lulusan yang
optimal baik dari segi penguasaan ilmu dan keterampilan maupun budi pekerti
mereka. Polemik yang berkembang sekarang adalah soal anggaran pembangunan
pendidikan yang terlalu kecil. Minimnya sarana, prasarana dan degradasi kualitas
tenaga pengajar. Belum lagi perobahan kurikulum dan tentang kesejahteraan guru
atau dosen.

Di bidang keamanan, masih sangat memprihatinkan. Sebagai limbah dari berbagai
permasalahan hidup, maka derajat kriminalitas sekarang ini sangat menakutkan,
mengganggu ketentraman dan kenyamanan hidup bermasyarakat. Kasus-kasus
kriminal yang berkembang saat ini justru sudah tidak lagi memperhatikan hak asasi
manusia dan naluri kemanusiaan. Kejahatan yang dilakukan oleh manusia sudah
tidak seuai dengan harkat kemanusiaan itu sendiri.

Esensi Nasionalisme Indonesia yang harus Dipertahankan

Sesungguhnya nilai-nilai nasionalisme (faham tentang kebangsaan) itu bersumber
dari sosio-kultural bangsa dan bumi Indonesia. Sekalipun akan mengalami interaksi
dengan dunia luar dalam era globalisasi, tetapi hakekatnya tidak boleh berubah.
Seperti halnya nilai-nilai Pancasila sebagai esensi pertama, secara intrinsik tidak
akan berubah, apalagi hal itu memiliki nilai-nilai mendasar dan sebagai way of life
bangsa Indonesia, serta sebagai dasar Negara Republik Indonesia akan tetap dapat
dipertahankan. Sekalipun saat ini mengalami pasang surut dan mungkin sedikit
memudar sifatnya tentu sementara.
Esensi kedua adalah UUD 45 sebagai sumber dari segala sumber hukum di
Indonesia, akan tetap menjadi kaidah utama. Kita sadari dan di implementasi-kan
bahwa untuk menata negara dan masyarakat diperlukan berbagai undang-undang
dan peraturan yang tentunya harus bersumber pada Undang-Undang Dasar ini.
Faham kebangsaan kita menyadari dengan sepenuhnya, bahwa semua tata
kehidupan bangsa, harus telah tertuang dan teratur didalam pasal-pasal Undang-
Undang Dasar tersebut. Hal ini sekaligus merupakan komitmen kita bersama dalam
mendirikan Negara Republik Indonesia.

Esensi ketiga adalah Rasa cinta tanah air dan rela berkorban. Sebagai bangsa yang
merdeka karena perjuangan melawan penjajah dan telah mengorbankan jiwa raga
beribu-ribu pahlawan bangsa, maka rasa kebangsaan kita harus dilandasi oleh tekad
dan semangat terus berupaya mencintai tanah air Indonesia dengan segala isi yang
terkandung didalamnya sepanjang masa. Karena hanya dengan rasa cinta tanah air,
bangsa ini akan tetap utuh dan akan rela berkorban pula bagi kejayaan bangsa dan
Negaranya. Sekalipun hujan emas di negeri orang tentu tidak seindah hidup di
negeri sendiri, walaupun serba menghadapi kesulitan dan kemiskinan.

Esensi keempat adalah rasa persatuan dan kesatuan bangsa didalam wadah
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini yang sekarang terkoyak-koyak dan
nyaris menghadapi disintegrasi. Pengaruh globalisasi sangat besar, eforia-reformasi,
telah membuat bangsa Indonesia hampir-hampir kehilangan arah dan tujuan. Ide
sparatisme dan upaya-upaya memisahkan diri dari NKRI oleh beberapa daerah,
adalah contoh nyata yang perlu kita cegah. Kalau ide tersebut dibiarkan berkembang
maka Negara Kesatuan Republik Indonesia mengalami ancaman yang serius.
Sudah tentu hal tersebut mengingkari akar nilai-nilai persatuan dan kesatuan, yang
telah dirintis oleh para pendahulu Republik ini.

Esensi kelima tentang wawasan kebangsaan yang bersumber dari wawasan
Nusantara dan Ketahanan Nasional hendaknya terus dapat melekat pada hati dan
dihayati sepenuhnya oleh warga Negara Indonesia, sehingga tertanam pola pikir,
pola sikap dan pola tindak yang sarwa Nusantara, merangkul semua kepentingan
dan mengarahkan pada cita-cita dan tujuan pembangunan Nasional.
Yang terakhir adalah disiplin nasional. Bangsa yang ingin maju dan mandiri harus
memiliki disiplin nasional yang tinggi. Nasionalisme berakar pula pada budaya
disiplin bangsa tersebut. Justru antara disiplin nasional dan nasionalisme,
merupakan dua sisi mata uang yang saling berpengaruh. Makna dan esensi disiplin
nasional akan terlihat pada disiplin para penyelenggara Negara, tertib dan lancarnya
pelayanan masyarakat, serta dalam berbagai kehidupan sehari-hari.

Memupuk Nasionalisme di tengah-tengah Gelombang Pengaruh Globalisasi

Upaya memupuk nasionalisme agar tidak rentan, mudah pudar dan bahkan terkikis
habis dari dada bangsa Indonesia tentu perlu keseriusan dan optimisme. Ada
sasanti di beberapa lembaga pendidikan yang mungkin pernah kita dengar atau
dilihat, bahwa dalam rangka kaderisasi calon-calon pemimpin bangsa, hendaknya
terus dimantapkan dwi warnapurwa cendekia wusana. Secara sepintas inti
maksudnya adalah untuk menciptakan kader-kader pemimpin bangsa ini, agar
memiliki rasa dan jiwa nasionalisme yang tinggi dan serta berpikir cerdas dan
patriotik. Merah putih lebih dulu, baru kecakapan intelektualitas dan
kecendikiawanan yang tinggi untuk melengkapinya. Tidak kita inginkan dimasa
datang banyak pemimpin kita cakap dan cerdas tetapi tidak memiliki jiwa kejuangan
atau mentalnya lemah. Walaupun pengaruh globalisasi mendera dan melarutkan
apa saja yang ada dimuka bumi ini, tentu tidak boleh larut dan tersapu semua nilai-
nilai nasionalisme dan patriotisme tersebut. Oleh sebab itu yang perlu dipupuk pada
dasarnya adalah jati diri Bangsa Indonesia. Beberapa esensi jatidiri antara lain :

a. Bangsa Indonesia Sebagai Bangsa Pejuang dan Anti Penjajah.

Sebagaimana tercatat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, telah menjadi
pelajaran dan melegitimasi citra Bangsa Indonesia, dimata dunia, bahwa Bangsa
Indonesia akan tetap dikenal sebagai bangsa yang anti penjajah dan rela berkorban
bagi kejayaan bangsanya. Semangat ini dipupuk terus dengan penerusan
implementasi nilai-nilai, melalui wahana pendidikan di berbagai strata bagi generasi
penerus bangsa dan menanamkan sikap anti penjajah bagi generasi muda, karena
di pundak merekalah masa depan bangsa ini akan kita wariskan.

b. Bangsa Indonesia Cinta damai dan Lebih Cinta Kemerdekaan.

Dengan politik luar negeri yang bebas dan aktif, senantiasa terus menggalang
persatuan dunia menuju pada tata kehidupan dunia yang lebih damai dan sejahtera.
Itulah jati diri Bangsa Indonesia sebagai lambang Nasionalisme dan sekaligus
Internasionalisme sebagai bangsa yang aktif dan turut serta untuk menciptakan
perdamaian dunia yang abadi. Di dalam situasi seperti sekarang ini dimana dunia
sedang terancam perang di berbagai belahan benua, maka di pandang perlu
Indonesia tampil dan memelopori usaha-usaha perdamaian melalui berbagai forum
Internasional bersama-sama bangsa lain yang sejalan.

c. Sebagai Bangsa Indonesia yang Berbudaya Luhur ramah dan bersahabat.

Keluhuran budaya Indonesia terletak pada karakter dan citra bangsa yang ramah
dan bersahabat. Karena kita anti penjajah dan cinta perdamaian, maka memupuk
pesahabatan antar bangsa menjadi motivasi dan langkah-langkah kongkrit untuk
merealisasikan cita-cita perdamaian. Budaya demikian itu terus di pupuk, di
kembangkan dan dipromosikan ke semua bangsa di dunia ini, agar keberadaan
Indonesia dan perannya dapat mengangkat derajat dan martabat bangsa Indonesia.
Budaya Nasional yang merupakan akumulasi dari puncak-puncak budaya daerah,
hendaknya terus dapat dipelihara dan dijaga kelestariannya. Hanya bangsa yang
bisa mempertahankan jati diri dan budaya Nasionalnya yang akan bisa menjadi
bangsa yang besar.

d. Kesetaraan dan Kemandirian Perlu Dipupuk Terus Untuk Mengejar Ketinggalan.

Martabat Bangsa Indonesia adalah ingin setara/sejajar dengan bangsa-bangsa lain,
oleh karena itu upaya untuk mengejar kemajuan dan kemandirian adalah suatu
tekad dan semangat yang tidak boleh terputus sekalipun menghadapi berbagai
kendala. Persaingan antar bangsa akan semakin terlihat pada persaingan kualitas
sumber daya manusianya dan bukan saja pada sumber daya alamnya.

Selain hal-hal normatif dan mendasar yang masih menuntut aktualisasi dan
representasi tersebut, terdapat juga komitmen dan tekad baru yang kini tampak
sebagai trend dan fenomena cemerlang untuk memelihara nasionalisme.

Pertama, keunggulan kompetitif sumber daya manusia (SDM). Sebenarnya tidak
kurang bibit unggul dan kader potensial dari putra-putri Indonesia yang kelak
diharapkan dapat menjadi patriot-patriot pembangunan dan mampu membawa
Indonesia ke pintu gerbang kegemilangan dan kejayaan. Berbagai sekolah unggulan
dan lulusan pendidikan di dalam maupun di luar negeri terbukti cukup apresiatif dan
bahkan telah mampu menjuarai berbagai olympiade sains dan teknologi. Putra-putri
seperti inilah yang bisa membagi kebanggaan. Tidak sedikit manager muda
berbakat pada lembaga pemerintah ataupun swasta dengan menampilkan
kepiawaian manajemen. Hal ini tentu dapat memberikan semangat kepada generasi
baru yang akan datang lebih dapat memacu diri untuk berprestasi dan bangga akan
teman-teman sebangsanya.

Kedua, Pluralitas yang menghasilkan sinergisme. Kemajemukan bangsa Indonesia
yang kian hari kian terbentuk secara alami dan menuju pada sikap inklusif dari
berbagai suku agama, ras dan golongan, akan terus berkembang pesat dan bahkan
tak mungkin dihambat. Kecenderungan masa kini dan dimasa yang akan datang
integrasi bangsa Indonesia tidak lagi terfocus pada faktor suku, agama, ras dan
golongan tersebut, tetapi lebih mengarah pada integrasi dan sinergi yang lebih maju,
yakni berkaitan dengan peran, fungsi dan profesi orang per orang maupun dalam
hubungan kelompok. Dimasa yang akan datang orang tidak lagi bertanya kamu dari
mana, suku apa, dan agamanya apa ? tetapi lebih banyak pada pertanyaan kamu
memiliki kemampuan dan skill apa atau keahlian dan profesi apa, yang bisa di ajak
bekerja sama untuk menghasilkan suatu karya. Disini akan tersirat sikap dan sifat-
sifat saling memberi dan saling menerima segala macam perbedaan yang pada
muaranya akan dapat melahirkan rasa bangga dan nasionalisme yang luas.

Ketiga, semangat tidak kenal menyerah dan tahan uji. Ada berbagai ungkapan dan
perasaan sebagian besar bangsa Indonesia yang tetap tahan uji dan cukup
membanggakan. Berbagai musibah bencana dan malapetaka terus datang silih
berganti, seperti yang kita rasakan datangnya tsunami, tanah longsor, bencana
banjir, flu burung, demam berdarah, busung lapar dan lain sebagainya namun tetap
membuat kita tawakal dan berusaha untuk mengatasi secara bergotong royong baik
antara Pemerintah dan lembaga resmi/tidak resmi maupun solidaritas antar
masyarakat sendiri.

Begitu pula tatkala menghadapi ancaman negara lain dalam bentuk pelanggaran
perbatasan, penyerobotan pulau, bahkan penghinaan oleh kelompok bangsa
tertentu, ternyata kita tahan uji dan bahkan mampu membangkitkan semangat
Nasionalisme yang tinggi untuk menghadapi semuanya.

Keempat, semangat demokrasi menjadi pilihan bersama. Era demokratisasi, sudah
membangkitkan tekad dan semangat baru bagi bangsa Indonesia untuk menata
kembali kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih bermartabat. Negara
demokrasi sebagai pilihan tepat karena dari sinilah akan lahir bingkai-bingkai sehat,
dimana orang-orang bersepakat dan bersama-sama dalam menentukan pilihan
bersama. Dengan demikian tata kehidupan berdemokrasi inilah yang akan menjadi
semangat baru dan semangat bersama generasi penerus bangsa Indonesia yang
sekaligus akan menjadi semangat nasionalisme yang kental dalam era yang baru.

Kelima, semangat desentralisasi dan otonomi daerah. Kebijakan Pemerintah dalam
upaya desentralisasi kekuasaan kepada daerah-daerah dan memberikan otonomi
yang luas kepada tiap-tiap daerah, akan melahirkan semangat kebebasan dan
semangat kemandirian untuk membangun daerahnya masing-masing. Ada kompetisi
didalamnya, tetapi juga tuntutan kreativitas di masing-masing daerah untuk lebih
maju dan semakin dapat mensejahterakan masyarakatnya.

Disentralisasi tidak boleh mengarah pada federalisme apalagi memecah belah
integrasi Nasional. Otonomi daerah juga tidak boleh mengarah kepada disintegrasi
bangsa. Oleh karena itu rambu-rambu untuk tetap dapat menjaga utuhnya NKRI
harus difahami bersama dan didasari oleh semangat demokrasi, integralistik dan
wawasan kebangsaan Indonesia yang lebih mendalam.

Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme

Langkah-langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai-
nilai nasionalisme antara lain yaitu :

1. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai
produk dalam negeri.

2. Menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.

3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.

4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti
sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.

5. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial
budaya bangsa.

Dengan adanya langkah-langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis
pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa.
Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.

Globalisasi sebagai fenomena kontemporer mustahil akan meniadakan pluralisme
kebudayaan dan peradaban. Sebaliknya, dalam perwujudan yang ekstrem,
globalisasi justru akan menjadi pembangkit nasionalisme yang timbul karena
kesadaran sebagai salah satu elemen budaya yang khas. Dalam hubungan ini akan
berlaku hukum "serangan balik", yaitu bahwa tarikan ke arah globalisasi yang
ekstrem akan menimbulkan gerak balik ke arah berlawanan, berupa reaksi
penentangan yang cenderung menggejala sebagai akibat dominasi pengaruh
budaya asing terhadap budaya lokal.

Sebagai kesimpulan secara umum bahwa Nasionalisme bangsa Indonesia belum
memudar, sekalipun saat ini didera oleh pengaruh globalisasi dan liberalisasi serta
proses demokratisasi. Tantangan baru ini harus dihadapi dengan serius dan
optimisme, bilamana tidak di pupuk kembali dan tidak mendapat dorongan semangat
baru oleh para pemimpin bangsa ini, maka tidak mustahil faham tentang
kebangsaan ini akan tersapu oleh peradaban baru yang sangat bertentangan
dengan nilai-nilai luhur sosio-kultural bangsa kita.
Hanya tekad dan semangat yang disertai usaha yang serius melalui wahana
pendidikan akan dapat diharapkan mampu melestarikan semangat nasionalisme.
Tidak salah kiranya bahwa perhatian para pemimpin, tokoh masyarakat, serta
seluruh komponen kekuatan bangsa untuk bersama-sama membenahi sistem
pendidikan nasional, agar mampu menghasilkan lulusan/hasil didik sebagai generasi
penerus bangsa yang dapat membawa kemajuan dan kejayaan di era Indonesia
baru. Pada sisi lain sosialisasi nilai-nilai Intrinsik nasionalisme melalui berbagai
lembaga dan masyarakat harus terus diupayakan. Karena generasi bangsa ini terus
diperbarui oleh generasi baru yang menuntut pemahaman yang hakiki.