Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angguan pendengaran akibat bising ( noise induced hearing loss / NIHL) adalah tuli
akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan
biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Tuli akibat bising merupakan jenis
ketulian sensorineural yang paling sering dijumpai setelah presbikusis.
Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Bising yang intensitasnya
85 desibel ( dB ) atau lebih dapat menyebabkan kerusakan reseptor pendengaran Corti pada
telinga dalam. Sifat ketuliannya adalah tuli saraf koklea dan biasanya terjadi pada kedua
telinga.
Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara
lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekwensi tinggi, lebih lama terpapar bising,
kepekaan individu dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian.
Bising industri sudah lama merupakan masalah yang sampai sekarang belum bisa
ditanggulangi secara baik sehingga dapat menjadi ancaman serius bagi pendengaran para
pekerja, karena dapat menyebabkan kehilangan pendengaran yang sifatnya permanen.
Sedangkan bagi pihak industri, bising dapat menyebabkan kerugian ekonomi karena biaya
ganti rugi.
Oleh karena itu untuk mencegahnya diperlukan pengawasan terhadap pabrik dan
pemeriksaan terhadap pendengaran para pekerja secara berkala

B. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami definisi tuli akibat bising.
2. Mengetahui dan memahami etiologi tuli akibat bising.
3. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis tuli akibat bising.
4. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan tuli akibat bising.
5. Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik akibat bising.



2

C. Manfaat
Dalam proses belajar mengajar, Role playing merupakan salah satu metode belajar
komunikatif yang berorientasi pada pembelajar.



















3

BAB II
ISI
A. Skenario
Nada-nada indah..
Seorang pria berumur 25 tahun datang ke RS bakti husada dengan eluhan sulit
mendengar sejak 1 bulan ini setelah di lakukan pengkajian pasien memilikikebiasan suka
mendengarkan music terlalu keras. Sehingga mengakibatkan kerusakan pada indra
pendengaranya. Saat ini pasien mendapatkan asuhan keperawatan dan pengobatan untuk
mengatasi keluhannya.
B. Daftar pemain
1. Anas Ikhwani : 12031003
2. Dola ulti sari : 12031009
3. Ega Nurfadila : 12031012
4. Tri Ardhani Mandela : 12031044
5. Wulan khairini : 12031053
6. Ferina oetami muslim : 12031018
7. Vivi Anggriani : 12031047
8. Inayati Ulfa : 12031021
9. Wella Heriyanti : 12031050
10. Esti lestari : 12031015
11. Arde Sadri N. : 12031006
C. Rencana kegiatan
No Kegiatan Waktu
1 Orientasi:
Narrator membacakan
scenario(sesuai dengan judul
yang telah diambil), dean
mengenalkan para pemain
dalam role play.
5 menit
2 Tahap kerja: 20-30 menit
4

Setiap pemain berperan sesuai
dengan yan telah dibacakan
dan sesuai dengan scenario
yang telah diterapkan.
3 Tahap terminasi:
Narrator menutup kegiatan
role play dan menyampaikan
kesimpulan.
5menit

D. Dialog
(di rumah anas main HP sambil dengerin music )
Esti : nas, sarapan lagi nak (memngil terus 3X). karena anas tak juga menjawa esty
mendatangi anas dan memukul bahunya.
Anas : ehhh, ia ma
Esti : kamu sarapan lagi kan nanti kuliah ngk sempat sarapan. Kamu mama pangil gk
nyaut juga. telinga tu jangan di tutup handfree trus. Pekak nanti.
Anas : ha ia anas kuliah pagi ma
Esty : hemmm ia sarapan nak.
Anas : ia kayak biasa ma bawa motor kuliah.
Esty : mama bilang kmu sarapan lagi, kok gk nyambung kamu nas. (mama anas pun
benggong melihat jawaban anak nya yang mulai gk nyambung).

(di kampus di kelas 1D)
mAndela : nas nnati main futsal yok???
Anas : bawa motor brow, kaya biasaa lu pakai nanya.
Mandela : futsal brow , lu apa coba jawabnya ?
Anas : hemmm kayak biasa lah brow (tapuk miring juga lu) motor merah gue
apa lagi.
Mandela : tau lah nas, males gue .. lu becanda mulu. Lu ikut ngk main futsal ?
Anas : eh nanti main futsal yok.. kelas sore kan kosong ?
Mandela : ia, pekak nanti maen futsal dari tadi gue bilang itu !!! hendeh
5

Wella : nas, nas lu becanda mulu ya
Mandela : becandanyya jelek
(Dosen masuk )
Vivi : asalamualaikum, selamat pagi ?
Mahasisawa : pagi bu,
Vivi : kita mulai kuliah pakar nya
(dosen pun menerangkan materi pelajaran hingga usai )
Vivi : anas ada pertanyan ?
Anas masih melamun
Vivi : anas ada pertanyaan ?(3x)
Wella : sutttsuttt nas lue di Tanya ibu tu
anas masih melamun

Wella : woiii nas lu ditanya ibu tu (nepuk bahu)
Anas : (kaget) ia apa ?
Vivi : anas ada pertanyaan ? ibu lihat kamu melamun saja. Dari tadi kamu
melamun.
Anas : hanya tersenyum karna tidak tau apa yang dosen nya ucapkan.

(pulang kampus anas menemui caca sahabat kecil nya yang terlahir sbg tuna wicara )
Anas : ca, aku rasa ada yang aneh dengan pendengaran ku
Ega : kenapa ? (isarat )
Anas : belakngan pendengaran terganggu ca ?
Ega : apa kamu sakit ? (isarat )
Anas : ngak ca, mukin karnaku kecapean ?
Ega : nanti malam kita nonton konser ya ? (ca ingin mengetahui pendengaran
shbtnya separah apa? (isarat )
Anas : oke cha,

(mereka pergi melihat konser anas sulit untuk mendengarkan lagu)

6

Ega : kenapa ? (isarat )
Anas : terdiaam , tidak ca (anas memengang telinga)
Ega : apa kamu dapat mendengar? (isarat )
Anas : tidak , (anas mengelengakn kepala).

Anas mencerita apa yang ia rasakan kepada mama papa nya, dan orang tua nya
membawa ke RS dan dokter mengatakan anas harus di operasi implan koklea, operasi
pencakokan di singapur .

Anas : ca, aku akan pergi !
Ega : kemana ? (isarat )
Anas : aku harus di operasi implan koklea,di singapur.. kalau operasi ini tidak
berhasil aku takut aku akan tuli seumur hidup
Ega : kamu pasti sembuh! Kamu jangan takut , tuhan menyangii mu. (isarat )
Anas : ia aku pasti sembuh.

Anas dan keluarga pun pergi ke singapur dan mendapat kan perawatan di sana. Setelah
pencakokan koklea berhasil anas kembali ke Indonesia.
(di peran kan dokter dan perawat ).








7

BAB III
PEMBAHASAN
A. Definisi
Gangguan pendengaran akibat bising adalah gangguan pendengaran yang disebabkan
akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan
biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja.
Gangguan pendengaran akibat bising bersifat sebagai tuli sensorineural koklea dan
umumnya terjadi pada kedua telinga. Bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Secara
audiologik bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekuensi. Bising
dengan intensitas berlebih dapat merusak organ-organ pendengaran.

B. Etiologi
Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpajan bising, antara
lain menjadi tuli akibat terpajan bising, antara lain intensitas bising yang lebih tinggi,
berfrekuensi tinggi, lebih lama terpapar bising, mendapat pengobatan yang bersifat racun
terhadap telinga (obat ototoksik) seperti streptomisin, kanamisin, garamisin (golongan
aminoglikosida), kina, asetosal, dan lain-lain.

C. Manifestasi Klinis
Kurang pendengaran disertai tinitus (berdenging di telinga) atau tidak. Pada keadaan
berat dapat disertai keluhan sukar menagkap percakapan dengan kekerasan biasa dan bila
sudah lebih berat percakapan yang keras pun susah dimengerti.
Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi
adaptasi, peningkatan ambang dengar sementara (temporary treshold shift) dan peningkatan
ambang dengar menetap ( permanent treshold shift).
1. Reaksi adaptasi adalah respon kelelahan akibat rangsangan oleh bunyi dengan intensitas
70 dB SPL (sound pressure level) atau kurang. Keadaan ini merupakan fenomena
fisiologis pada saraf telinga yang terpajan bising.
8

2. Ambang dengar sementara, merupakan keadaan terdapatnya peningkatan ambang dengar
akibat pajanan bising dengan intensitas yang cukup tinggi. Pemulihan dapat terjadi dalam
satuan hari.
3. Peningkatan ambang dengar menetap, merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan
ambang dengar menetap akibat pajanan bising dengan intensitas sangat tinggi
berlangsung singkat (eksplosif) atau berlangsung lama yang menyebabkan kerusakan
pada berbagai struktur koklea, antara lain kerusakan organ corti, sel-sel rambut, stria
vaskularis dll.
Pengaruh bising pada pekerja, secara umum dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Pengaruh auditorial berupa tuli akibat bising dan umumnya terjadi dalam lingkungan
kerja dengan tignkat kebisingan yang tinggi.
2. Pengaruh non auditorial dapat bermacam macam misalny gangguan komunikasi,
gelisah, rasa tidak nyaman, gangguan tidur, peningkatan tekanan darah dan lain
sebagainya.

D. Pemeriksaan
Anamnesis pernah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam jangka
waktu yang cukup lama biasanya lima tahun atau lebih. Pada pemeriksaan otoskopik tidak
ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan audiologi, tes penala didapatkan hasil tes rinne
positif, webber lateralisasi ke telinga pendengaran yang lebih baik dan schwabach
memendek. Kesan jenis ketulianya tuli sensorineural.
Pemeriksaan lain seperti pemeriksaan audiologi khusus yaitu tes SISI (short
increment sensitivity index), ABLB (alternate binaural loudness balance), audimetry
bekessy, audiometri tutur (speech audiometry), hasil menunjukkan ada fenomena rekrutmen
(recruitment) yang patognomonik untuk tuli sensorineural koklea.
Rekrutmen adalah suatu fenomena pada tuli sensorineural koklea, dimana telinga
yang tuli menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan intensitas bunyi yang kecil pada frekuensi
tertentu setelah terlampaui ambang dengarnya.
Orang yang menderita tuli sensorineural koklea sangat terganggu oleh bising latar
belakang (background noise), sehingga bila orang tersebut berkomunikasi di tempat yang
9

ramai akan mendapat kesulitan mendengar dan mengerti pembicaraan. Keadaan ini disebut
sebagai cocktail party deafness.

E. Penatalaksanaan
Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari
lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung
telinga terhadap bising, seperti sumbat telinga (earplug), tutup telinga (ear muff) dan
pelindung kepala (helmet).
Tuli akbat bising merupakan tuli sensorineural koklea yang bersifat menetap
(irreversibel), bila gangguan pendengaran sudah mengganggu komunikasi dapat dicoba
dengan pemasangan alat bantu dengar (ABD/Hearing Aid). Apabila dengan bantuan ABD
masih susah untuk berkomunikasi maka diperlukan psikoterapi agar dapat menerima
keadaanya. Latihan pendengaran (auditory training) agar dapat menggunakan sisa
pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip reading),
mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Selain itu
oleh karena pasien mendengar suaranya sendiri sangat lemahl, rehabilitasi suara juga
diperlukan agar dapat mengendalikan volume, tinggi rendah dan irama percakapan.
Pada pasien yang telah mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan
pemasangan implan koklea.












10

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akhirnya diharapkan pada seluruh pihak yang terkait untuk bersama-sama
menanggulangi masalah kebisingan terutama dampaknya pada masyarakat umum dan
pekerja. Bagi mereka yang seringkali terpapar pada lingkungan kerja yang bising supaya
lebih mematuhi norma-norma kesehatan kerja terutama yang berhubungan dengan masalah
kebisingan. Hindari tempat-tempat dengan tingkat kebisingan tinggi dimanapun dan
kapanpun bila memungkinkan. Dengan demikian akan terhindar dari resiko bahaya noise-
induced hearing loss atau gangguan kesehatan akibat terpapar kebisingan yang lain.
Demikian makalah ini disusun sebagai bahan pedoman dalam penatalaksanaan
kebisingan di tempat kerja dan upaya perlindungan pendengaran tenaga kerja, sehingga
tercipta masyarakat pekerja yang produktif dengan derajat kesehatan yang tinggi.












11

DAFTAR PUSTAKA
Abdilah F. 2004 Penatalaksanaan Satu Kasus Tuli Mendadak Unilateral dengan Sindrom Anti
Phospholipid. Jakarta. Bagian THT FK-UI RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo.
Bashiruddin J, Soetirto I. Tuli mendadak. In: Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala dan leher. Ed 6. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.
Ganong, W.F. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Istiqamah, Indriana. N. 2004. Asuhan Keperawatan KLien Gangguan Mata. Jakarta : EGC.
Long, Barbara C, 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung : YIAPK Padjajaran.
Mansjoer, ASrif, dkk, 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.
Smletzer, Suzanne. C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner& Suddrath.
Jakarta : EGC
Soetirto, Indro. 2002. Telinga-hidung-tenggorokan-kepala leher. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Sulistya A Budi. 2002. Patofisiologi dan Penatalaksanaan Tuli Mendadak Pada Kasus
Hiperkoagulasi. Jakarta. Bagian THT FK-UI RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo.