Anda di halaman 1dari 7

Axel Alexander A.

/8-3/03
Analisis Cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar
Mandi




Sumber gambar: cinta-buku.blogspot.com
Tema : Keadilan buruk dalam kehidupan dalam sebuah desa
Dikarenakan oleh ibu-ibu yang ingin mengusir seorang warga dari desa bernama Zus yang tidak
bersalah. Ia ingin diusir para ibu-ibu karena hanya kebiasaanya menyanyi di kamar mandi yang
membuat suami-suami dan lekaki di desa tersebut memikirkan hal yang macam-macam. Hal
inilah tidak adil karena hanya memenuhi keinginan para ibu-ibu dalam desa tersebut dan tidak
memikirkan perasaan dan kondisi Bu Zus dalam ketidakadilan dalam bermain hakim sendiri dan
juga tidak menambahkan fakta bahwa semua hal tersebut dikarenakan oleh para lelaki yang
mempunyai imajinasi yang bermacam-macam dan hanya menyalahkan Bu Zus seperti yang
tertera dalam cerita pendek ini. Hal ini dapat dilihat saat Pak RT menawar keputusan para ibu-
ibu untuk mengusir Bu Zus pada kutipan pada naskah drama Dilarang Menyanyi di Kamar
Mandi (2005:ADEGAN 2) :
PAK RT : lho, lho, lho, sabar dulu. Semuanya harus dibicarakan baik-baik.
Dengan musyawarah, dengan Mufakat, jangan main hakim sendiri. Dia kan tidak
membuat kesalahan apa-apa? Dia hanya menyanyi di kamar mandi. Yang salah adalah
imajinasi suami ibu-ibu sendiri, kenapa harus membayangkan adegan-adegan erotis?
Walaupun sebelum itu Pak RT telah bicara dengan Bu Zus mengenai bernyanyi di kamar mandi
dan ia telah setuju untuk berhenti bernyanyi di kamar mandi. Tetapi para ibu-ibu masih tidak
puas karena para lelaki yang sudah terbiasa terbayang oleh imaginasi mereka saat Bu Zus mandi
dan dapat membayangkan suara Bu Zus ketika bernyanyi walaupun ia tidak bernyanyi di kamar
mandi dan pada titik ini sepenuhnya adalah kesalahan para lelaki yang terus membayangkan hal
yang bermacam-macam seperti yang tertera pada naskah drama Dilarang Menyanyi di Kamar
Mandi (2005:ADEGAN 6) :
HANSI P : Betul Pak, tapi menurut laporan ibu-ibu pada saya, setiap kali
mendengar bunyi jebar-jebur dari kamar mandi itu, para suami membayangkan
suaranya yang serak-serak basah. Dan karena membayangkan suaranya yang serak-
serak basah yang sexy, lagi-lagi meraka membayangkan pergumulan di ranjang dengan
wanita itu Pak. Akibatnya, kehidupan seksual warga kampung sepanjang gang ini
masih belum harmonis. Para ibu mengeluh suami-suami mereka masih dingin, pak!
Dan karena keputusan oleh semua ibu-ibu tersebut, maka, Pak RT tidak punya pilihan lain selain
mengusir Bu Zus dari desa tersebut setelah semua usaha Pak RT untuk mengubah keputusan para
ibu-ibu untuk mengusir Bu Zus.
Alur : Campuran
Cerpen ini menceritakan mengenai kehidupan dalam sebuah desa yang mempunyai
permasalahan yaitu para suami-suami dan lelaki pada desa tersebut mebayangkan hal yang
macam-macam saat mereka mendengar seorang warga bernama Bu Zus mandi. Bu Zus ingin
diusir oleh ibu-ibu desa tersebut hanya karena bernyanyi di kamar mandi meskipun Pak RT
sudah melakukan semampunya untuk membela keberadaan Bu Zus dalam desa tersebut tetapi
akhirnya Bu Zus diusir karena mayoritas suara. Tetapi hal tersebut tidak menyeselesaikan
masalah dalam desa tersebut karena imaginasi para lelaki terhadap Bu Zus yang tidak bisa
hilang.
Dari cerpen ini dapat diketahui bahwa alur dari cerpen ini adalah alur campuran yang dapat
dilihat dari adegan1 yang menceritakan bagian cerpen pada bagian yang lebih dalam saat para
lelaki dan Pak RT serta Pak Hansip sedang menguping Bu Zus mandi seperti yang tercantum
dalam cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (2005:ADEGAN 1):
Satu menit segera lewat. Terdengar derit pintu kamar mandi. Serentak orang-
orang yang mengiringi pak rt mengarahkan telinganya ke lobang angin, seperti
mengarahkan antena parabola ke amerika seraya mengacungkan telunjuk di depan
mulut. Pak RT melihat wajah-wajah yang bergairah, bagaikan siap dan tak sabar
lagi mengikuti permainan yang seolah-olah paling mengasyikkan di dunia. Lantas
segalanya jadi begitu hening. Bunyi pintu yang ditutup terdengar jelas. Begitu pula
bunyi resluiting itu, bunyi gesekan kain-kain busana itu, dendang- dendang kecil itu,
yang jelas suara wanita. Lantas byar-byur-byar-byur. Wanita itu rupa-ruapnya mandi
dengan dahsyat sekali. Bunyi gayung menghajar bak mandi mantab dan penuh
semangat. Namun yang dinanti-natikan pak rt bukan itu. Bukan pula bunyi gesekan
sabun ke tubuh yang basah, yang sangat terbuka untuk ditafsirkan sebebas-bebasnya.
Yang ditunggu pak RT adalah suara wanita itu. Dan memang dendang kecil itu
segera menjadi nyanyian yang mungkin tidak teralu merdu tapi ternyata
merangsang khayalan menggairahkan. Suara wanita itu serak-serak basah, entah apa
pula yang dibayangkan orang-orang dibalik tembok dengan suara yang serak-serak
basah itu. Wajah mereka seperti orang lupa dengan keadaan sekelilingnya. Agaknya
nyanyian wanita itu telah menciptakan sebuah dunia di kepala mereka dan mereka
sungguh-sungguh senang berada disana.
Adegan ini dijalankan secara singkat untuk menarika perhatian pembaca atau penonton dan
langsung maju menuju adegan 2. Adegan imi menceritakan mengenai usulan para ibu-ibu untuk
mengusir Bu Zus seperti yang dikatakan para ibu-ibu dalam cerpen tersebut : Kami ibu-ibu
sepanjang gang ini sudah sepakat, dia harus diusir dan juga pendapat para ibu-ibu dan Pak RT
serta Hansip tersebut mengenai suara nyanyian Bu Zus yang diangap oleh seluruh kaum lelaki
pada desa tersebut sangat dahsyat dan sexy sekali setelah mendengarnya: Suaranya sexy sekali!
Saya bilang Sexy sekali, bukan hanya sexy.

Setelah dua adegan tersebut mulai adegan 3. Adegan 3 menceritakan permasalahan pada adegan
1 kembali tetapi lebih rinci dan lebih jelas sehingga penonton atau pembaca dapat lebih mengerti
jalan ceritanya setelah awalan yang meninggalkan para pembaca atau penonton kebingungan dan
ingin melihat lebih lanjut jalan ceritanya.
Pada adegan 4 dan adegan 5 diceritakan mengenai Pak RT berbicara dengan Bu Zus untuk
berhenti bernyanyi di kamar mandi karena tidak disukai oleh seluruh ibu-ibu dalam desa
tersebut. Pada adegan 6, karena masalah dalam desa belum terselesaikan walaupun Bu Zus tidak
benyanyi dalam kamar mandi lagi dan akhirnya para ibu-ibu memutuskan untuk mengusir Bu
Zus dari desa tersebut dan akhirnya Pak RT berbicara dengan Bu Zus yang memutuskan untuk
meninggalkan desa tersebut. Hal ini dapat diketahui saat pak RT menjelaskan apa yang terjadi
setelah Bu Zus diusir: Maka hilanglah bunyi jebar-jebur pada jam yang sudah bisa dipastikan
itu. Ibu-ibu yang sepanjang hari cuma mengenakan daster merasa puas, duri dalam daging
telah pergi. Selama ini alangkah tersiksanya mereka, karena ulah suami mereka yang
menjadi dingin, gara-gara

Pada adegan terakhir yaitu adegan 7, para suami dan lelaki tidak bisa menghilangkan ingatan
mengenai Bu Zus yang didapat dari perkantaan salah satu suami kepada istrinya: Kalau dia
menyanyi suaranya sexy sekali. Mulut wanita itu hebat sekali, bibirnya merah dan basah. Setiap
kali mendengar bunyi sabun menggosok kulit aku tidak bisa tidak membayangkan tubuh yang
begitu penuh dan berisi. Seandainya tubuh itu ku peluk dan kubanting ke tempat tidur.
Seandainya ..
Hal ini yang membuat mengusir Bu Zus tidak merubah apa-apa dan menyebabkan keributan
dalam desa tersebut dan akhirnya Pak RT memustuskan untuk membangun fitness center untuk
mempererat hubungan antara suami dan isteri supaya dapat melupakan semua mengenai Bu Zus.
Amanat : Sebelum menyalahkan orang lain kita harus melihat diri kita sendiri dan
menyeselesaikan masalah dengan main hakim sendiri dan kekerasan tidak akan menyeselesaikan
masalah, tetapi harus dilakukan dengan adil dan bermusyawarah dan mufakat. Seperti yang
dikatakan oleh pak RT pada adegan ke dua:
lho, lho, lho, sabar dulu. Semuanya harus dibicarakan baik-baik. Dengan
musyawarah, dengan Mufakat, jangan main hakim sendiri. Dia kan tidak membuat
kesalahan apa-apa? Dia hanya menyanyi di kamar mandi. Yang salah adalah imajinasi
suami ibu-ibu sendiri, kenapa harus membayangkan adegan-adegan erotis? Banyak
penyanyi Jazz suaranya serak-serak basah, tidak menimbulkan masalah. Padahal lagu-
lagunya tersebar ke seluruh dunia.

Hal ini dapat dilihat dari hasil dari cerpen tersebut dari sikap para ibu-ibu yang menuduh Bu Zus
karena suaminya tergila-gila oleh suara saat Bu Zus menyanyi di kamar mandi yang karena salah
suaminya memikirkan hal yang bermacam-macam mengenai nyanyian Bu Zus. Kemudian
walaupun Bu Zus telah berhenti bernyanyi dan juga bahkan diusir, permasalahan dalam desa
tersebut belum terselesaikan. Ini menunjukan bahwa kita harus adil dan bermusyawarah serta
mufakat dalam menyeselesaikan masalah Dan juga harus melihat diri sendiri dan jangan hanya
menuduh orang lain.
Latar :
Tempat- Bedasarkan cerita pendek ini, dapat disimpulkan bahwa latar tempat dari cerpen ini
adalah di sebuah desa/kampung yang tidak tercantum namanya dalam teks cerita. Bukti :
I BU : Bapak boleh tidak percaya, tapi suara itu telah merugikan warga di
kampung ini Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (2005:ADEGAN 1):
HANSIP : Lho, ya jelas tahu dong Pak. Saya kan petugas keamanan di sini. Jadi
saya bertanggung jawab atas semua aktivitas warga kampung ini. Termasuk mandi.
Heeee... Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (2005:ADEGAN 2):
Menunjukan bahwa latar tempat yang lain adalah dekat rumah ibu Saleha:
I BU-I BU: Masak gara-gara nyanyian seorang wanita yang indekost di tempat
ibu Saleha, kehidupan seksual warga masyarakat harus terganggu? Sampai kapan semua
ini berlangsung? Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (2005:ADEGAN 2):
Waktu- Bedasarkan cerita pendek ini, dapat disimpulkan bahwa latar waktu dari cerpen adalah
sore hari karena waktu mandi adalah pagi dan sore dan menunjukan sore hari karena lelaki desa
yang sudah selesai bekerja (karena pagi hari harus bekerja) dan mempunyai waktu luang
menguping Bu Zus.
Suasana- Suasana dalam cerita ini adalah marah karena ibu-ibu yang ingin mengusir Bu Zus
kemudian, bergairah saat para lelaki menguping saat ibu Zus sedang mandi. Tenang saat pak RT
membicarakan mengenai rencana pengusiran kepada Bu Zus dan juga panik saat para suami
memikirkan Bu Zus yang sedang mandi.
Penokohan : Dalam cerita pendek ini, tokoh-tokoh utamanya adalah:
Ibu-ibu- Egois, karena hanya memikirkan apa yang mereka mau. Tidak bijak, karena ingin
mengusir Bu Zus yang tidak bersalah tanpa melihat sudut pandang yang lain. Pemarah, marah
dan berdemo kepada pak RT mengenai permasalahan dengan Bu Zus dengan tidak sabar. Seperti
yang dikatakan para ibu-ibu pada adegan ke 2: Kami ibu-ibu sepanjang gang ini sudah sepakat,
dia harus diusir! (Antagonis)
Pak RT- Bijak, memustuskan tindakan dengan sudut pandang semua yang terlibat. Penyabar,
sabar mendengar usulan yang tidak bijaksana dan keluhan para ibu-ibu. Baik dan pengertian,
membela hak Bu Zus dan juga melakukan hal yang terbaik untuk tidak menyakiti perasaan orang
lain. Adil, saat ia smpat menolak untuk mengusir Bu Zus. (Tritagonis)
Zus- Penyabar, sabar dalam menangani ancaman-ancaman dan tuduhan dari para ibu-ibu yang
diberitahukan pak RT dan rela untuk meninggalkan desa. Baik, baik dalam menghadapi
kenyataan dalam desanya. (Protagonis)
Tokoh tambahan :
Hansip- Mempunyai pikiran yang buruk, karena juga sangat terpengaruh dengan nyanyian Bu
Zus. Setia, selalu membantu pak RT dalam menangani masalah. Tetapi ia juga menegaskan
bahwa nyanyian Bu ZUs membawa imaginasi yang bermacam-macam kepada para lelaki.
(Tritagonis)
Lelaki kampung- Berpikiran buruk, karena nyanyian Bu Zus yang membuat mereka berimaginasi
yang bermacam-macam. (Tritagonis)

Gaya :
Gaya bahasa- Bedasarkan cerita pendek ini, cerpen ini mempunyai gaya bahasa yaitu non formal.
Karena dalam cerpen ini mengandung kata-kata yang tidak sopan sepert yang dikatakan para ibu-
ibu: Pak RT ini bagaimana sih? Makanya jangan terlalu sibuk mengurusi kampung.
Sesekali nonton BF kek, untuk selingan supaya tahu dunia luar. ataupun juga: Suaranya sexy
sekali! Saya bilang Sexy sekali, bukan hanya sexy. Dengan kata lain gaya bahasa dalam cerpen
ini adalah gaya bahasa dalam percakapan sehari-hari dalam sebuah desa yang tidak merupakan
gaya bahasa formal.
Bahasa dalam cerpen ini adalah bahasa Indonesia.
Sudut Pandang: Sudut pandang dari cerpen ini adalah penutur kisahnya karena dalam cerpen ini
mengandung narrator yang menceritakan jalan ceritanya.