Anda di halaman 1dari 51

FARMAKOTERAPI PENYAKIT PARKINSON

I. Subjective
Nama pasien : Ny. TMN
No. Rekam Medik: 286xxx
Umur/TTL : 68 th
BB : -
TB : -
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Purbalingga
Status Jaminan : Umum
Tanggal MRS : 24 Juli 2013
Riwayat MRS : Batuk lebih dari 1 bulan, dada terasa sesak, tangan kiri tremor
(Parkinson).
Diagnosa : CAP, TB Paru, Parkinson
Tanggal KRS : 27 Mei 2013

a. Parkinson
Penyakit Parkinson adalah penyakit gangguan syaraf kronis dan progresif yang
ditandai dengan gemetar, kekakuan, berkurangnya kecepatan gerak dan ekspresi wajah
kosong seperti topeng.
ETIOLOGI
Penyebab yang berhasil teridentifikasi sebagian besar adalah penerimaan
antagonis dopamine. Selain itu ada beberapa obat-obatan, misalnya fenotiazin,
benzamid, metildopa, reserpine, metoklopramid, SSRI, Amiodaron, diltiazem, asam
valproate yang memicu kejadian Parkinson. Keracunan logam berat dan gas karbon
monoksida juga dapat meningkatkan morbiditas (Zullies, 2009).
PATOFISIOLOGI
Parkinson merupakan penyakit degenerasi sel yang ditandai dengan hilangnya
neuron dopaminergic yang terpigmentasi di pars compacta substansia nigra di otak dan
ketidakseimbangan sirkuit motor ekstrapiramidal (pengatur gerakan di otak). Pada orang
normal dopamine berkurang sebanyak 5 % per decade, sedangkan pada penderita
Parkinson pengurangan dopamine mencapai 45% selama decade pertama setelah
diagnosis. Gejala Parkinson baru muncul ketika dopamine di striatal sudah berkurang
hingga 80% (Zullies, 2009).
Degenerasi saraf dopamine pada nigrostriatal menyebabkan peningkatan aktivitas
kolinergik striatal sehingga menimbulkan efek tremor. Dr. Lewy (1912) menemukan
bahwa pada penyakit Parkinson terdapat Lewy bodies, yaitu eosinophil yang terkurung di
substansia nigra. Lewy bodies inilah tanda utama penderita Parkinson (Zullies, 2009).
b. CAP (Community Acquired Pneumonia)
ETIOLOGI
Pneumonia disebabkan invasi pada paru-paru disebabkan oleh mikrooorganisme.
Penyebab paling sering pneumonia adalah virus dan bakteri, sedangkan fungi dan parasit
jarang. (Fransisca, 2000).
i. Virus
Virus menyerang dan merusak sel untuk berkembang biak.Biasanya virus masuk
kedalam paru-paru bersamaan droplet udara yang terhirup melalui mulut dan
hidung.setelah masuk virus menyerang jalan nafas dan alveoli. Invasi ini sering
menunjukan kematian sel, sebagian virus langsung mematikan sel atau melalui suatu tipe
penghancur sel yang disebut apoptosis.Ketika sistem imun merespon terhadap infeksi
virus,dapat terjadi kerusakan paru.Sel darah putih,sebagian besar limfosit, akan
mengaktivasi sejenis sitokin yang membuat cairan masuk ke dalam alveoli.Kumpulan
dari sel yang rusak dan cairan dalam alveoli mempengaruhi pengangkutan oksigen ke
dalam aliran darah. Sebagai tambahan dari proses kerusakan paru,banyak virus merusak
organ lain dan kemudian menyebabkan fungsi organ lain terganggu.Virus juga dapat
membuat tubuh rentan terhadap infeksi bakteri, untuk alasan ini, pneumonia karena
bakteri sering merupakan komplikasi dari pneumonia yang disebabkan oleh virus.
Pneumonia virus biasanya disebabkan oleh virus seperti vitus influensa,virus syccytial
respiratory(RSV),adenovirus dan metapneumovirus.Virus herpes simpleks jarang
menyebabkan pneumonia kecuali pada bayi baru lahir. Orang dengan masalah pada
sistem imun juga berresiko terhadap pneumonia yang disebabkan oleh
cytomegalovirus(CMV).
ii. Bakteri
Bakteri secara khusus memasuki paru-paru ketika droplet yang berada di udara
dihirup,tetapi mereka juga dapat mencapai paru-paru melalui aliran darah ketika ada
infeksi pada bagian lain dari tubuh.Banyak bakteri hidup pada bagian atas dari saluran
pernapasan atas seperti hidung,mulut,dan sinus dan dapat dengan mudah dihirup menuju
alveoli.Setelah memasuki alveoli,bakteri mungkin menginvasi ruangan diantara sel dan
diantara alveoli melalui rongga penghubung.Invasi ini memacu sistem imun untuk
mengirim neutrophil yang adalah tipe dari pertahanan sel darah putih,menuju
paru.Neutrophil menelan dan membunuh organisme yang berlawanan dan mereka juga
melepaskan cytokin,menyebabkan aktivasi umum dari sistem imun.Hal ini menyebabkan
demam,menggigil,dan mual umumnya pada pneumoni yang disebabkan bakteri dan
jamur.Neutrophil,bakteri,dan cairan dari sekeliling pembuluh darah mengisi alveoli dan
mengganggu transportasi oksigen. Bakteri sering berjalan dari paru yang terinfeksi
menuju aliran darah menyebabkan penyakit yang serius atau bahkan fatal seperti septik
syok dengan tekanan darah rendah dan kerusakan pada bagian-bagian tubuh seperti
otak,ginjal,dan jantung.Bakteri juga dapat berjalan menuju area antara paru-paru dan
dinding dada(cavitas pleura) menyebabkan komplikasi yang dinamakan empyema.
Penyebab paling umum dari pneumoni yang disebabkan bakteri adalah Streptococcus
pneumoniae,bakteri gram negatif dan bakteri atipikal.Penggunaan istilah Gram positif
dan Gram negatif merujuk pada warna bakteri(ungu atau merah) ketika diwarnai
menggunakan proses yang dinamakan pewarnaan Gram.Istilah atipikal digunakan
karena bakteri atipikal umumnya mempengaruhi orang yang lebih sehat,menyebabkan
pneumoni yang kurang hebat dan berespon pada antibiotik yang berbeda dari bakteri
yang lain.
Tipe dari bakteri gram positif yang menyebabkan pneumonia pada hidung atau mulut
dari banyak orang sehat. Streptococcus pneumoniae, sering disebutpneumococcus
adalah bakteri penyebab paling umum dari pneumoni pada segala usia kecuali pada
neonatus.Gram positif penting lain penyebab dari pneumonia adalah Staphylococcus
aureus.Bakteri Gram negatif penyebab pneumonia lebih jarang daripada bakteri gram
negatif.Beberapa dari bakteri gram negatif yang menyebabkan pneumoni termasuk
Haemophilus influenzae,Klebsiella pneumoniae,Escherichia coli,Pseudomonas
aeruginosa,dan Moraxella catarrhalis.Bakteri ini sering hidup pada perut atau intestinal
dan mungkin memasuki paru-paru jika muntahan terhirup.Bakteri atipikal yang
menyebabkan pneumonia termasuk Chlamydophila pneumoniae,Mycoplasma
pneumoniae,dan Legionella pneumophila.
iii. Fungi
Pneumonia yang disebabkan jamur tidak umum,tetapi hal ini mungkin terjadi
pada individu dengan masalah sistem imun yang disebabkan AIDS,obat-obatan
imunosupresif atau masalah kesehatan lain.patofisiologi dari pneumonia yang disebabkan
oleh jamur mirip dengan pneumonia yang disebabkan bakteri,Pneumonia yang
disebabkan jamur paling sering disebabkan oleh Histoplasma capsulatum,Cryptococcus
neoformans,Pneumocystis jiroveci dan Coccidioides immitis.Histoplasmosis paling sering
ditemukan pada lembah sungai Missisipi,dan Coccidiomycosis paling sering ditemukan
pada Amerika Serikat bagian barat daya.
iv. Parasit
Beberapa varietas dari parasit dapat mempengaruhi paru-paru.Parasit ini secara
khas memasuki tubuh melalui kulit atau dengan ditelan.Setelah memasuki tubuh,mereka
berjalan menuju paru-paru,biasanya melalui darah.Terdapat seperti pada pneumonia tipe
lain, kombinasi dari destruksi seluler dan respon imun yang menyebabkan ganguan
transportasi oksigen.Salah satu tipe dari sel darah putih,eosinofil berespon dengan
dahsyat terhadap infeksi parasit.Eosinofil pada paru-paru dapat menyebabkan pneumonia
eosinofilik yang menyebabkan komplikasi yang mendasari pneumonia yang disebabkan
parasit.Parasit paling umum yang dapat menyebabkan pneumonia adalah Toxoplasma
gondii,Strongioides stercoralis dan Ascariasis.
PATOFISIOLOGI
Terdapat dua kategori pneumonia, yaitu:
a. Community acquired pneumonia(CAP)
CAP adalah pneumonia infeksius pada seseorang yang tidak menjalani rawat inap di
rumah sakit baru-baru ini.CAP adalah tipe pneumonia yang paling sering.Penyebab
paling sering dari CAP berbeda tergantung usia seseorang,tetapi mereka termasuk
Streptococcus pneumoniae,virus,bakteri atipikal dan Haemophilus influenzae.Di atas
semuanya itu , Streptococcus pneumoniae adalah penyebab paling umum dari CAP
seluruh dunia.Bakteri gram negatif menyebabkab CAP pada populasi beresiko
tertentu.CAP adalah penyebab paling umum keempat kematian di United Kingdom dan
keenam di AS .Suatu istilah yang ketinggalan jaman,walking pneumonia telah digunakan
untuk mendeskripsikan tipe dari Community acquired pneumonia yang lebih tidak
ganas(karena itu fakta bahwa pasien dapat terus berjalan daripada membutuhkan
perawatan rumah sakit). Walking pneumonia biasanya disebabkan oleh virus atau bakteri
atipikal (Fransisca, 2000).
b. Hospital acquired pneumonia
Hospital acquired pneumonia,juga disebut pneumonia nosokomial adalah pneumonia
yang disebabkan selama perawatan di rumah sakit atau sesudahnya karena penyakit lain
atau prosedur.Penyebabnya,mikrobiologi,perawatan dan prognosis berbeda dari
community acquired pneumonia.Hampir 5% dari pasien yang diakui pada rumah sakit
untuk penyebab yang lain sesudahnya berkembang menjadi pneumonia.Pasien rawat inap
mungkin mempunyai banyak faktor resiko untuk pneumonia,termasuk ventilasi
mekanis,malnutrisi berkepanjangan,penyakit dasar jantung dan paru-paru,penurunan
jumlah asam lambung dan gangguan imun.Sebagai tambahan,mikroorganisme seseorang
yang terekspos di suatu rumah sakit berbeda dengan yang dirumah. Mikroorganisme di
suatu rumah sakit mungkin termasuk bakteri resisten seperti MRSA, Pseudomonas,
Enterobacter, dan Serratia. Karena individu dengan Hospital acquired pneumonia
biasanya memiliki penyakit yang mendasari dan terekspos dengan bakteri yang lebih
berbahaya,cenderung lebih mematikan daripada Community acquired
pneumonia.Ventilator associated pneumonia(VAP) adalah bagian dari hospital acquired
pneumonia.VAP adalah pneumonia yang timbul setelah minimal 48 jam sesudah inkubasi
dan ventilasi mekanis (Fransisca, 2000).
Tipe lain dari pneumonia (Fransisca, 2000)
Severe acute respiratory syndrome (SARS)
SARS adalah pneumonia yang sangat menular dan mematikan yang pertama kali
muncul pada tahun2002 setelah kejadian luar biasa di Cina.SARS disebabkan oleh SARS
coronavirus,sebelumnya patogen yang tidak diketahui.Kasus baru dari SARS tidak
terlihat lagi sejak bulan juni 2003.
Bronchiolitis obliterans organizing pneumonia (BOOP)
BOOP disebabkan oleh inflamasi dari jalan napas kecil dari paru-paru.Juga
dikenal sebagai cryptogenic organizing pneumonitis(COP).
Pneumonia eosinofilik
Pneumonia eosinofilik adalah invasi kedalam paru oleh eosinofil,sejenis partikel
sel darah putih .Pneumonia eosinofilik sering muncul sebagai respon terhadap infeksi
parasit atau setelah terekspos oleh tipe faktor lingkungan tertentu.
Chemical pneumonia
Chemical pneumonia(biasanya disebut chemical pneumonitis)biasanya
disebabkan toxin kimia seperti pestisida,yang mungkin memasuki tubuh melalui inhalasi
atau melalui konta dengan kulit.Manakala bahan toxinnya adalah minyak, pneumonia
disebut lipoid pneumonia.
Aspiration pneumonia
Aspiration pneumonia (atau aspiration pneumonitis) disebabkan oleh aspirasi oral
atau bahan dari lambung,entah ketika makan atau setelah muntah.Hasilnya inflamasi pada
paru bukan merupakan infeksi tetapi dapat menjadi infeksi karena bahan yang teraspirasi
mungkin mengandung bakteri anaerobic atau penyebab lain dari pneumonia.Aspirasi
adalah penyebab kematian di rumah sakit dan pada pasien rawat jalan,karena mereka
sering tidak dapat melindungi jalan napas mereka dan mungkin mempunyai pertahanan
lain yang menghalangi.

c. TB Paru
ETIOLOGI
Penyebabnya adalah kuman mycobacterium tuberculosa. Sejenis kuman yang
berbentuk batang denagn ukuran panjang 1-4 /mm dan tebal 0,3-0,6 /mm. sebagian besar
kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat kuman lebih tahan
terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun
dalam keadaan dingin (dapat bertahan-tahan dalam lemari es).
Port deentri kuman microbakterium tuberculosis adalah saluran pernapasan,
saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi
melalui udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman
basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi terdiri dari
satu sampai tiga gumpalan. Basil yang lebih besar cenderung tertahan disaluran hidung
dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang
alveolus biasanya dibagian bawah lobus atau paru-paru atau dibagian atas lobus bawah
atau paru-paru atau dibagian bawah atas lobus bawah. Basil tuberkel ini membangkitkan
reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan
memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari
pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami
konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh
denagn sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat juga berjalan
terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar
melalui getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih
panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitolit yang dikelilingi leh fosit.
Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 1 sampai 10 hari.
PATOFISIOLOGI
Penyakit ini berawal dari masuknya bakteri Mycobacterium tuberculosis melalui
saluran nafas .Karena ukurannya yang sangat kecil, kuman TB dalam percik renik
(droplet nuclei) yang terhirup, dapat mencapai alveolus. Masuknya kuman TB ini
akan segera diatasi oleh mekanisme imunologis non spesifik. Makrofag alveolus akan
menfagosit kuman TB dan biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar kuman
TB. Akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan
kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam
makrofag yang terus berkembang biak, akhirnya akan membentuk koloni di tempat
tersebut. Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer
GOHN.
Dari focus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar
limfe regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi focus
primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis)
dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika focus primer terletak di
lobus paru bawah atau tengah, kelenjar limfe yang akan terlibat adalah kelenjar limfe
parahilus, sedangkan jika focus primer terletak di apeks paru, yang akan terlibat
adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks primer merupakan gabungan antara focus
primer, kelenjar limfe regional yang membesar (limfadenitis) dan saluran limfe
yang meradang (limfangitis).
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya
kompleks primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini berbeda
dengan pengertian masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang diperlukan
sejak masuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB
biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12
minggu. Dalam masa inkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga mencapai jumlah
yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler.
Selama berminggu-minggu awal proses infeksi, terjadi pertumbuhan
logaritmik kuman TB sehingga jaringan tubuh yang awalnya belum tersensitisasi
terhadap tuberculin, mengalami perkembangan sensitivitas. Pada saat terbentuknya
kompleks primer inilah, infeksi TB primer dinyatakan telah terjadi. Hal tersebut
ditandai oleh terbentuknya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, yaitu
timbulnya respons positif terhadap uji tuberculin
Bila imunitas seluler telah terbentuk, kuman TB baru yang masuk ke dalam
alveoli akan segera dimusnahkan.Setelah imunitas seluler terbentuk, focus primer di
jaringan paru biasanya mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis
atau kalsifikasi setelah mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar
limfe regional juga akan mengalami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi
penyembuhannya biasanya tidak sesempurna focus primer di jaringan paru. Kuman
TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini.


II. Objective
a. Data Pemeriksaan Tanda-tanda Vital
Parameter
TTV
Tanggal Nilai
Normal
Satuan Keterangan
19 20 21 22
TD 130/70 130/70 120/80 120/80 120/80 mmHg Normal
N 88 80 80 80 60-100 x/mnt Normal
RR 20 20 20 20 16-20 x/mnt Normal
Suhu 36,5 36,5 36 36 37 C Normal

b. Data LABORATORIUM
Pemeriksaan Satuan Tanggal Nilai Normal Keterangan
24/07
Kalium mEq/L 4 3,5 - 5 Normal
Klorida mEq/L 99 95-108 Normal
Natrium Eq/L 139 135-
145
Normal
Hb g/dl 14 12-15,2 Normal
Leukosit /ul 16590 5000- 10000

Naik
Hematokrit % 43 37-46 Normal
Eritrosit 10
6
/ul 4,8 4,2-5,6.10
6
Normal
Trombosit /ul 369000 15-45.10
3
Normal
Ureum Mg/dl 81,5 24,4 Naik
Kreatinin Mg/dl 0,86 0,5-1,5 Normal
GDS Mg/dl 93 <200 Normal
MCV Mg/dl 134 200 Normal
MCHC Mg/dl 51 150-190 Normal
MCH Mg/dl 32,5 >65 Normal




Penjelasan :
a. Leukosit meningkat
Leuosit meningkat dapat mengindikasikan adanya penyakit Tuberkulosis paru pada
pasien.
b. Ureum darah meningkat
Peningkatan kadar ureum karena kemungkinan penggunaan obat golongan levodopa.
c. Batuk
Terjadi karena adanya iritasi pada bronkhus. Batuk yang terjadi pada pasien disebabkan
karena adanya penyakit tuberkulosis paru pada pasien. Pada penderita tuberkulosis paru
apabila sudah terpapar agent penyebabnya batuk berdahak lebih dari dua minggu. Batuk ini
terjadi untuk membuang atau mengeluarkan produksi radang yang dimulai dari batuk kering
sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum). Batuk yang terjadi pada penderita
mengandung basil tuberkulosis (Arifin,1990).

d. Dada sesak
Dada terasa sesak disebabkan karena adanya penyakit tuberkulosis paru pada pasien yang
sudah terpapar agent yang dapat menyebabkan dada terasa sakit atau nyeri, terasa sesak pada
waktu bernafas (Arifin,1990).

e. Tangan kiri tremor
Pada sistem saraf, akan terjadi aksi system saraf perifer yang lebih cepat. Mekanisme
kontraksi otot perifer umumnya dikontrol lewat serebelum dan ganglion basalis. Oleh karena
itu, pada otot yang ada di ekstremitas terjadi kontraksi berlebih saat ada kegiatan yang akan
mengakibatkan tremor. Tremor ini bebeda dengan tremor pada pasien Parkinson, oleh karena,
pada pasien Parkinson tremor akan meningkat pada keadaan istirahat (Marks, 2000).
Tremor saat istirahat Rest tremor merupakan gejala tersering dan mudah dikenali pada
penyakit Parkinson. Tremor bersifat unilateral, dengan frekuensi antara 4 sampai 6 Hz, dan
hampir selalu terdapat di extremitas distal. Tremor pada tangan digambarkan sebagai gerakan
supinasi-pronasi (pill-rolling) yang menyebar dari satu tangan ke tangan yang lain.
Karakteristik resting tremor adalah, tremor akan menghilang ketika penderita melakukan
gerakan, juga selama tidur. Beberapa pasien mengatakan adanya internal tremor yang tidak
dikaitkan dengan tremor yang terlihat (Nutt John G, Wooten G. Frederick, 2005).

f. Apeks jantung bergerak ke laterokaudal
Gambaran jantung : CTR > 50%, apeks jantung bergeser ke laterocaudal, jantung tampak
membesar, klasifikasi arcus costae menempel pada clavicula. Pada pulmo corakan vaskuler
kasar. Maknanya bronkopneumonia dd pneumonia, kardiomegali dengan LVH, tumor
metastase ke paru, suspek kardiomegali,tak tampak infiltrat pada paru. Laterocaudal : apex
cordis tertanam dalam diafragma dengan syarat CTR >50% atau <1cm LVH.

g. Corakan vaskular meningkat,tampak bercak paru kanan
Tampak bercak eksudat menyebar di basal paru kanan mengindikasikan adanya
bronkopneumonia pada paru bagian kanan.

III. Assesment
Diagnosa pasien : CAP, TB Paru, Parkinson
Problem medik pasien : batuk lebih dari 1 bulan, dada terasa sesak, tangan kiri tremor
(Parkinson).
a. Terapi yang telah diberikan
Obat Dosis Frequensi Tanggal
Ceftriaxone 2x1 gram 24 25 26 27
Azythromycin 1x500 mg
OBH syr 3x1 C
IVFD D5% 20 tpm
Levazide 2x1 tab
THP 3x2 mg 1 tab
Ambroxol 3x1 tab
Kombipak

b. Terapi yang disarankan
Obat Dosis Frequensi Tanggal
Ceftriaxone 1 gram 2xsehari 24 25 26 27
Azythromycin 250 mg 2xsehari
IVFD D5% 20 tpm
Sinemet CR
(Carbidopa/Levodopa)
1 tab (25/100
mg)
3xsehari
Ambroxol 1 tab (30 mg) 3xsehari
OAT-FDC Jumlah tablet
tergantung
BB
1xsehari

c. Drug Related Problems
Tanggal Subjektif Objektif DRP
24-27 Riwayat
OBH syr
DRP : Duplikasi Terapi.
OBH syrup merupakan agen ekspektoran dan
Ambroxol merupakan agen mukokinetik dan
sekretolitik. Keduanya diberikan untuk mengatasi
batuk berdahak yang dialami pasien.
Ambroxol memiliki fungsi sebagai pengencer
dan pengeluaran secret sedangkan OBH syrup
hanya sebagai pengeluaran secret.
OBH syrup memiliki kontraindikasi pada
penderita dengan gangguan fungsi hati yang
berat, gangguan jantung, tekanan darah tinggi
atau yang mempunyai potensi tekanan darah
tinggi atau stroke, seperti pada penderita usia
lanjut (geriatri).
Pasien geriatri (elderly) merupakan pasien
dengan karakteristik khusus karena terjadinya
penurunan massa dan fungsi sel, jaringan, serta
organ. Geriatri juga telah mengalami perubahan
dalam hal farmakokinetik dan farmakodinamik
obat. Perubahan farmakokinetik yang terjadi
karena adanya penurunan kemampuan absorbsi
yang disebabkan oleh perubahan dari saluran
gastrointestinal, perubahan distribusi terkait
dengan penurunan cardiac output dan ikatan
protein-obat, perubahan metabolisme karena
penurunan fungsi hati dan atau ginjal, serta
penurunan laju ekskresi karena terjadinya
penurunan fungsi ginjal.
Sehingga OBH syrup kurang efektif atau kurang
aman untuk pasien usia lanjut.
Sehingga yang dipilih dalam terapi adalah
Ambroxol.
27 Riwayat
THP
DRP: Wrong Drug and Adverse Drug
Reaction
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa
hidroklorida trihexyphenidyl tidak memiliki
kemampuan yang spesifik untuk mengontrol
gejala utama penyakit Parkinson pada pasien yang
menerima pengobatan dengan levodopa (William,
1974). THP juga memiliki efek samping yang
relative besar, selain itu THP juga berhubungan
dengan terjadinya kejadian symptom orabuccal
dysknesia (Olanow et.al., 1993).
27 Riwayat
Levazide
DRP: Adverse Drug Reaction
Levodopa dapat menimbulkan efek samping
seperti : nausea, vomiting, aritmia kardiak, dan
hipotensi postural. Sehingga perlu ditambahkan
suatu inhibitor dekarboksilase dopamin yaitu
Carbidopa, dimaksudkan untuk meningkatkan
efektivitas levodopa di dalam otak dan untuk
mengurangi efek levodopa yang tidak diinginkan
di luar otak.
27 Riwayat
Kombipak
DRP:
Kombipak merupakan OAT dalam bentuk tablet
terpisah, yang terdiri dari 4 tablet (Rifampisin,
INH, Pirazinamid, Etambutol) yang diminum
dalam 1 hari selama 6 bulan. Sehingga dapat
menurunkan kepatuhan pasien dalam meminum
obat, mengingat pasien sudah berusia lanjut (68
tahun). Sedangkan OAT-FDC (Fixed Dose
Combination) adalah tablet yang berisi kombinasi
dari 4 jenis obat anti TBC. FDC dapat
mengurangi kesalahan penulisan resep, jumlah
obat yang ditelan jauh lebih sedikit, sehingga
pemberian obat jauh lebih sederhana dan
meningkatkan kepatuhan pasien (Anonim, 2004).


IV. Plan
a. Tujuan Terapi
Mengatasi keluhan yang dirasakan pasien.
Meminimalkan kecacatan dan efek samping.
Mengobati infeksi dan mencegah komplikasi.
Mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.
Mencegah kekambuhan dan kematian.
Meningkatkan kualitas hidup pasien.
Meningkatkan kepatuhan pasien dalam minum obat.
Mencegah rantai penularan TB.
Mengatasi DRP yang terjadi pada pasien.
Memberikan terapi farmakologis pada pasien disertai KIE.

b. Terapi Farmakologis
1. Sinemet CR
Golongan/Kelas Terapi
Antiparkinson
Nama Generik
Levodopa dan Carbidopa
Nama Dagang
Sinemet
Bentuk Sediaan
Tablet sustained release (Sinemet CR)
Carbidopa 25 mg dan levodopa 100 mg.
Mekanisme kerja
Parkinson adalah gejala yang ditandai dengan kurangnya dopamin striatal. Leodopa
bersirkulasi dalam tubuh menuju sawar darah otak, saat menembus untuk diubah oleh enzim
stratial menjadi dopamin. Levodopa adalah merupakan prekursor dopamin dan digunakan
untuk pengobatan parkinson. Obat ini dengan mudahnya dapat memasuki sawar darah otak
dimana obat ini dirubah menjadi dopamine. Levodopa aktif terhadap hipokinesia dan
kekakuan, tremor, dan gejala-gejala lain dari Parkinson. Levodopa oral 95 % akan mengalami
dekarboksilasi perifer. Untuk mencapai kadar efektif dibutuhkan dosis besar yang disertai
efek samping perifer.Karbidopa (penghambat dopa dekarboksilase) dalam dosis terapi tidak
melintasi sawar darah otak. Dengan mencegah metabolisme levodopa ekstraserebral, jumlah
dopamine yang terbentuk dalam otak meningkat. Biasanya perbandingan kombinasi levodopa
karbidopa = 10 : 1. Kombinasi ini meningkatkan masa paruh dan kadar plasma levodopa,
pada penggunaan kombinasi dosis levodopa dapat diturunkan sampai 75 % sehingga efek
samping perifer menurun.
Indikasi
Antiparkinson, agonis dopamin.
Kontra Indikasi
Gangguan endokrin, ginjal, hati, jantung yang berat. Psikosis dan psikoneurosis berat. Pasien
< 25 thn. Hamil, kombinasi dengan MAOI kecuali selegiline.
Efek Samping
a. Efek perifer : anoreksia, nausea dan muntah karena stimulasi pusat muntah. Takikardi dan
ekstrasistole ventrikular disebabkan oleh gangguan dopamin pada jantung. Hipertensi juga
dapat terjadi. Kerja adrenergik pada iris menyebabkan midriasis, diskrasia darah dan reaksi
test Coombs positif. Ludah dan urin berwarna agak coklat karena pigmen melanin yang
dihasilkan dari oksidasi ketokalamin.
b. Efek SSP : Halusinasi visual dan pendengaran dan gerakan dibawah pengaruh kehendak
yang abnormal dapat terjadi (diskinesia). Efek SSP ini berlawanan dengan gejala parkinson
dan memperlihatkan aktivitas dopamin berlebihan pada ganglia basalis. Levodopa juga
dapat menyebabkan perubahan pikiran, depresi dan ansietas.
Interaksi
Interaksi Obat
1. Interaksi Obat dengan obat lain
Interaksi levodopa dengan obat anti-hipersensitif (seperti methyldopa atau guanethidine)
yang digunakan secara bersamaan dapat menyebabkan terjadinya hipotensi. Resiko kardiak
arithmia pada pasien selama diinduksi dengan anestesi umum akan meningkat pada
pengguna levopoda. Penggunaan bersama dengan MAOIs akan menyebabkan reaksi
hipersensitif dan penggunaan bersamaan dengan selegilin atau kokain meningkatkan resiko
reaksi/ efek yang tidak diinginkan. Apabila Levodopa digunakan tunggal bersamaan
dengan obat Librium dan Valium maka efek terapi menjadi antagonis dopamin
(Eisenhauer, 1998).
2. Interaksi Obat dengan makanan
Makanan dan suplemen (multi vitamin), pyridoxine (Vitamin B6) akan meningkatkan
metabolisme dari levodopa ektraserebral sedangkan pada penggunaan inhibitor
dekarboksilasi (carbidopa) maka pyridoxine tidak akan mengurangi efek terapi dari
levodopa (Katzung, 2002 dan Eisenhauer, 1998).
3. Interaksi Obat dengan tes laboratorium
Konsumsi levodopa dapat menggangu hasil tes urin dari glukosa atau keton. Hasil tes
Coombs dan hasil tes pada metode kolorimeri dapat salah karena adanya indikasi
peningkatan level asam urat (Eisenhauer, 1998).
Dosis
Sinemet merupakan preparat dopa yang terdiri dari carbidopa dan levodopa dengan proporsi
(1:10 atau 1:4). Awal pengobatan digunakan dosis kecil, Sinemet 25/100 (carbidopa 25 mg,
levodopa 100 mg) tiga kali sehari, dosis dapat divariasi sesuai dengn respon pasien dan tujuan
menghindari efek samping. Obat dikonsumsi 30-60 menit sebelum makan.
(Katzung, 2002)
ALASAN :







(National Institute for Health and
Clinical Excellence, 2006)
Obat Aturan Pemakaian Keterangan
Levodopa
(dikombinasikan
dengan karbidopa)
Merupakan pengobatan utama untuk
parkinson. Diberikan bersama karbidopa
untuk meningkatkan efektivitasnya &
mengurangi efek sampingnya
Mulai dengan dosis rendah, yg selanjutnya
ditingkatkan sampai efek terbesar
diperoleh
Setelah beberapa tahun
digunakan, efektivitasnya
bisa berkurang

Parkinson disease merupakan suatu gangguan yang disebabkan oleh kematian
sekelompok sel-sel otak yang bekerja bersama neurotransmitter dopamin. Penyakit ini ada
hubungannya dengan penurunan aktivitas inhibitor neuron dopaminergik dalam substansi
nigra dan korpus stratum yaitu bagian dari sistem ganglia basalis otak yang berfungsi untuk
mengatur gerakan. Banyak gejala Parkinson memperlihatkan ketidakseimbangan antara
neuron eksitatif kolinergik dan neuron inhibitory dopaminergik yang menurun. Sasaran terapi
penyakit parkinson yaitu neuron dopaminergik. Tujuannya adalah untuk mengembalikan
dopamin dalam ganglia basalis dan melawan efek eksitasi neuron kolinergik, sehingga terjadi
kembali keseimbangan yang baik antara dopamin/asetilkolin (Anonim, 2006).
Levodopa adalah prekusor metabolik dopamin. Obat ini mengembalikan kadar dopamin
dalam substansia nigra yang atrofik pada penyakit parkinson. Pada awal penyakit, jumlah
neuron dopaminergik dalam substansia nigra (biasanya 20% dari normal) yang tersisa, cukup
untuk konversi levodopa ke dopamin. Dengan demikian, pada pasien baru respon terapi
terhadap levodopa konsisten dan pasien jarang mengeluh bahwa efek obat mengecil. Namun,
semakin lama jumlah neuron dan sel-sel yang mampu mengambil levodopa yang diberikan
semakin berkurang, semakin sedikit pula yang mampu mengubahnya menjadi dopamin untuk
disimpan atau dikeluarkan lebih lanjut. Akibatnya terjadi fluktuasi dalam pengendalian
motorik. Efek levodopa dalam SSP dapat diperkuat oleh pemberian bersama carbidopa, suatu
inhibitor dekarboksilase dopamin yang tidak menembus sawar otak darah. Penambahan
Carbidopa dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas levodopa di dalam otak dan untuk
mengurangi efek levodopa yang tidak diinginkan di luar otak. Di dalam otak, levodopa
dirubah menjadi dopamin. Obat ini mengurangi tremor dan kekakuan otot dan memperbaiki
gerakan. Penderita Parkinson ringan bisa kembali menjalani aktivitasnya secara normal dan
penderita yang sebelumnya terbaring di tempat tidur menjadi kembali mandiri. Carbidopa
mengurangi metabolisme levodopa dalam saluran pencernaan dan jaringan perifer sehingga
dapat meningkatkan ketersediaan levodopa di SSP. Carbidopa menurunkan dosis levodopa
yang diperlukan sampai 4-5 kali dan menurunkan efek samping dopamin yang terbentuk di
perifer. Kesembuhan dengan levodopa hanya bersifat simtomatik dan berlangsung selama
obat berada dalam tubuh (Anonim, 2006).
Levodopa merupakan terapi PD yang paling efektif; namun dengan dampak lanjut
fluktuasi motorik pada hampir sebagian besar penderita. Secara umum, preparat Levodopa
merupakan pilihan pertama dan satu-satunya untuk penderita usia tua. Levodopa diberikan
bersamaan dengan peripherally acting DDC inhibitor (carbidopa) untuk mengurangi efek
samping seperti : nausea, vomiting, aritmia kardiak, dan hipotensi postural (Eisenhauer,
1998).
Levodopa bersama dengan carbidopa merupakan regimen yang efektif dan poten,
digunakan untuk pengobatan penyakit Parkinson. Tidak kurang dari 2/3 pasien Parkinson
dengan pengobatan levodopa-carbidopa menurunkan morbiditas penyakit dalam tahun
pertama pengobatan. Dalam tahun ke-3 sampai ke-5 responnya menurun.
OBAT DALAM USUS HALUS CEPAT DIABSORBSI (JIKA TIDAK BERISI MAKANAN). LEVODO
PA MEMPUNYAI WAKTU PARUH YANG SANGAT PENDEK (1-2 JAM) SEHINGGA
KONSENTRASI PLASMA BERUBAH-UBAH. DENGAN DEMIKIAN, TERJADI PULA TURUN-
NAIKNYA RESPONS MOTORIK (FENOMENA ON-OFF), YANG MENYEBABKAN PASIEN
TIBA-TIBA KEHILANGAN MOBILITAS NORMAL DAN MENGALAMI TREMOR, KRAM, DAN
TIDAK DAPAT BERGERAK. DIET YANG KAYA PROTEIN MENGGANGGU TRANSPORT
LEVODOPA KE DALAM SSP. ASAM AMINO BERMOLEKUL TINGGI DAN NETRAL (MISALNYA,
LEUSIN DAN ISOLEUSIN) BERSAING DENGANLEVODOPA DENGAN BAIK DALAM ABSORBSI
DI USUS ATAU MELEWATI SAWAR OTAK DARAH. KARENA ITU, LEVODOPA HARUS
DIMINUM DALAM LAMBUNG KOSONG, 45 MENIT SEBELUM MAKAN. PENGHENTIAN OBAT
HARUS BERTAHAP (Eisenhauer, 1998).
Pemberian bentuk sustained release (lepas lambat) pada terapi Levodopa/Carbidopa
terlihat bahwa kadar dopamin dalam tubuh pasien lebih stabil. Dengan alasan tersebut maka
sebaiknya pemberian kombinasi karbidopa/levodopa diberikan dalam bentuk sediaan lepas
lambat (Miyasaki, et al., 2002).
2. Ceftiakson
Mekanisme Kerja Obat:
Ceftriaxone merupakan golongan sefalosporin. Ceftriaxone mempunyai spektrum luas
dan waktu paruh eliminasi 8 jam. Ceftriaxone efektif terhadap mikroorganisme gram positif
dan gram negatif. Ceftriaxone juga sangat stabil terhadap enzim beta laktamase yang
dihasilkan oleh bakteri. Ceftriaxone bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri,
dengan cakupan lebih luas terhadap bakteri Gram negatif.
Indikasi:
Pengobatan infeksi saluran pernapasan bawah, kulit dan struktur kulit, tulang dan sendi,
saluran kemih; pengobatan penyakit radang panggul, infeksi intra-abdominal, gonore,
meningitis dan dan septicaemia karena mikroorganisme rentan; profilaksis pra
operasi.septicaemia karena mikroorganisme rentan; profilaksis pra operasi.
Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap cephalosporin dan penicillin (sebagai reaksi alergi silang).
Dosis:
Dewasa: PO 1-2 g / hari atau dalam dosis terbagi tiap 12 jam (maksimum 4 g / hari).
Efek samping:
GI: Mual; muntah; diare; kolitis, termasuk kolitis pseudomembran. GU: Disfungsi ginjal;
piuria; disuria; nefritis interstitial reversibel; hematuria; nefropati toksik, gips kemih. HEMA:
Eosinofilia; neutropenia; limfositosis; leukositosis; trombositopenia; fungsi trombosit
menurun; anemia; anemia aplastik; perdarahan. HEPA: Disfungsi hati; ikterus; hasil tes fungsi
hati yang abnormal. Lainnya: Hipersensitivitas, termasuk sindrom Stevens-Johnson, eritema
multiforme, , arthralgia, demam); flebitis, tromboflebitis dan nyeri di tempat suntikan.
Gangguan GI, reaksi kulit, hematologi, sakit kepala, pusing, reaksi anafilaktik, nyeri di tempat
suntik (IM), flebitis (IV). Reversibel.
Interaksi Obat:
Aminoglikosida: Peningkatan risiko nefrotoksisitas. Inkompatibilitas : obat antimikroba
lainnya.
Peringatan dan perhatian:
Kehamilan: Kategori B. Laktasi: diekskresikan dalam ASI. Anak-anak: Cephalosporins dapat
terakumulasi pada neonatus. Hipersensitivitas: Reaksi berkisar dari ringan sampai
mengancam nyawa. Mengelola obat dengan hati-hati pada pasien yang sensitif terhadap
penisilin karena kemungkinan reaktivitas silang. Kolitis pseudomembran: Harus
dipertimbangkan pada pasien yang diare berkembang. Superinfeksi: Dapat menghasilkan
pertumbuhan over-bakteri atau jamur mikro-organisme nonsusceptible.
(Tatro, 2003)
ALASAN:
Pada kondisi klinik komorbiditas, pneumonia ringan, onset < 5 hari, risiko rendah dapat diberi
terapi dengan golongan sefalosporin yaitu ceftriakson. Mekanisme kerja golongan
sefalosporin sama seperti -laktam lain yaitu berikatan dengan penicilin protein binding
(PBP) yang terletak di dalam maupun permukaan membran sel sehingga dinding sel bakteri
tidak terbentuk yang berdampak pada kematian bakteri (Abramowicz Mark, 2002).
Menurut guideline terapi untuk pasien ini karena memiliki Presence of comorbidities yaitu
TB Paru dan Parkinson maka disarankan menggunkan antibiotik golongan sefalosporin yang
dikombinasikan dengan golongan makrolida. Selain itu penggunaan antibiotik ceftriaxone
juga efektif untuk terapi infeksi S. pneumonia (Mandel et.al., 2007).

3. Azitromisin
Mekanisme Kerja Obat :
Azithromycin merupakan antibiotik golongan macrolide yang diberikan secara oral.
Mekanisme kerja dari azithromycin adalah dengan berikatan pada ribosom subunit 50 S
sehingga mengganggu sintesis protein bakteri. Bioavailabilitas azithromycin adalah
37%. Azithromycin terutama diekskresikan melalui feses dalam bentuk utuh dan sebagian
kecil melalui urin. Waktu paruh eliminasi plasma adalah 2-4 hari.
Indikasi:
Azithromycin diindikasikan pada infeksi ringan sampai sedang yang disebabkan
mikroorganisme yang sensitif terhadap azithromycin yaitu pengobatan community-acquired
pneumonia (CAP), infeksi saluran pernapasan, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK),
Mycobacterium avium complex, penyakit radang panggul, kulit dan struktur kulit, dan
penyakit menular seksual yang disebabkan oleh organisme yang rentan.
Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap azitromisin, eritromisin, atau untuk setiap antibiotik macrolide.
Dosis:
Community-Acquired Pneumonia
Adults and children 16 yr and older: PO 0,5-1 g / hari sebagai dosis tunggal.
Efek samping:
Kardiovaskular: Palpitasi; nyeri dada. SSP: Pusing; sakit kepala; vertigo; mengantuk;
kelelahan. Dermatologic: Ruam; photosensitivity. GI: Diare; mual; muntah; sakit perut;
dispepsia; perut kembung; melena. GU: Vaginitis; monilia; nefritis. Hati: ikterus Cholestatic.
Lainnya: Angioedema; anafilaksis.
Interaksi Obat:
HMG-CoA reductase inhibitors (eg, lovastatin): Peningkatan risiko miopati dan
rhabdomyolysis.
Tacrolimus: Peningkatan kadar tacrolimus plasma dengan peningkatan risiko toksisitas.
Warfarin: Efek antikoagulan dapat ditingkatkan, meningkatkan risiko perdarahan.
Peringatan dan perhatian:
Kehamilan: Kategori B. Laktasi: Belum ditentukan. Efek Jantung: kejadian kardiovaskular
yang serius telah terjadi dengan antibiotik makrolida lainnya, terutama bila diberikan
bersamaan dengan antihistamin tertentu (misalnya, terfenadine). Gonorrhea / Syphilis: tidak
efektif untuk pengobatan infeksi ini. Hepatic / gangguan fungsi ginjal: Gunakan hati-hati.
Pneumonia: Hanya efektif untuk CAP ringan. Kolitis pseudomembran: Mungkin faktor
pada pasien yang mengalami diare.
(Tatro, 2003)
ALASAN:
Pilihan antibiotika yang disarankan pada pasien dewasa adalah golongan makrolid. Golongan
makrolida yang dapat dipilih salah satunya adalah azitromisin. Azitromisin ditoleransi dengan
baik, efektif dan hanya diminum satu kali sehari selama 5 hari, memberikan keuntungan bagi
pasien dan meningkatkan kepatuhan pasien. Azitromisin memiliki aktivitas yang lebih poten
terhadap Gram negatif, volume distribusi yang lebih luas serta waktu paruh yang lebih
panjang (Abramowicz Mark, 2002).
Kombinasi terapi antibiotik mencapai hasil yang lebih baik dibandingkan dengan monoterapi,
dan harus diberikan pada pasien dengan CAP. Terapi kombinasi empiris awal sefalosporin
dengan macrolida untuk pasien dengan CAP pada pasien rawat inap terbukti mengurangi
mortalitas dan mengurangi waktu perawatan dirumah sakit dibandingkan terapi dengan
sefalosporin saja. Kombinasi dua antibiotik makrolida dan sefalosporin terbukti memberi
manfaat yang lebih pada pasien CAP yang dirawat di rumah sakit (Caballero and Rello,
2011).

4. Ambroxol
Komposisi:
Tiap tablet mengandung ambroksol hidroklorida 30 mg.
Kemasan:
Ambroxol 30 mg tablet, kotak 10 strip @ 10 tablet.
Mekanisme Kerja Obat :
Ambroxol yang berefek mukokinetik dan sekretolitik, dapat mengeluarkan lendir yang kental
dan lengket dari saluran pernafasan dan mengurangi staknasi cairan sekresi. Pengeluaran
lendir dipermudah sehingga melegakan pernafasan. Sekresi lendir menjadi normal kembali
selama pengobatan dengan Ambroxol. Baik batuk maupun volume dahak dapat berkurang
secara bermakna. Dengan demikian cairan sekresi yang berupa selaput pada permukaan
mukosa saluran pernafasan dapat melaksanakan fungsi proteksi secara normal kembali.
Mekanisme kerja obat ambroxol adalah dengan menstimulasi sel serous dari tonsil pada
mukous membran saluran bronchus, sehingga meningkatkan sekresi mukous didalamnya dan
merubah kekentalan komponen serous dan mukous dari sputum menjadi lebih encer dengan
menurunkan viskositasnya. Hal ini menginduksi aktivasi sistem surfaktan dengan bertindak
langsung pada pneumocyte tipe II dari alveolus dan sel clara di bagian saluran udara kecil
serta menstimulasi motilitas siliari. Dari hasil aksi tersebut meningkatkan aliran mukous dan
transport oleh mucous siliari clearance. Peningkatan sekresi cairan dan mukous siliari
clearance inilah yang menyebabkan pengeluaran dahak dan memudahkannya keluar
bersamaan batuk. Efek ini telah dibuktikan dalam kultur sel dan in vivo pada berbagai spesies.
Indikasi:
Penyakit saluran napas akut dan kronis yang disertai sekresi bronkial yang abnormal,
khususnya pada eksaserbasi dan bronkitis kronis, bronkitis asmatik, asma bronkial.
Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap ambroxol.
Dosis:
Dewasa : 3 kali sehari 1 tablet. Diminum sesudah makan.
Efek samping:
Ambroxol umumnya mempunyai toleransi yang baik. Efek samping ringan pada saluran
pencernaan pernah dilaporkan walaupun jarang. Reaksi alergi jarang terjadi, beberapa pasien
yang alergi tersebut juga menunjukkan reaksi alergi terhadap preparat lain.
Interaksi Obat:
Kombinasi ambroxol dengan obat-obatan lain dimungkinkan, terutama yang berhubungan
dengan sediaan yang digunakan sebagai obat standar untuk sindroma bronkitis (glikosida
jantung, kortikosterida, bronkapasmolitik, diuretik dan antibiotik).
Peringatan dan perhatian:
Pada studi preklinis tidak menunjukkan adanya efek yang mengkhawatirkan, akan tetapi
keamanan pemakaian pada wanita hamil/menyusui belum diketahui dengan pasti. Meskipun
demikian, seperti halnya dengan penggunaan obat-obat lain, pemakaian pada kehamilan
trimester I harus hati-hati.
Cara Penyimpanan:
Simpan pada suhu kamar (di bawah suku 30 derajat Celcius) dan tempat kering, terlindung
dari cahaya.
(Kimbria, 2009)
ALASAN:
Ambroxol merupakan agen mukokinetik dan sekretolitik sedangkan OBH syrup merupakan
agen ekspektoran. Ambroxol dapat mengencerkan dan mengeluarkan sekret sedangkan OBH
syrup hanya dapat mengeluarkan sekret. Selain itu, OBH syrup memiliki kontraindikasi pada
penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat, gangguan jantung, tekanan darah tinggi
atau yang mempunyai potensi tekanan darah tinggi atau stroke, seperti pada penderita usia
lanjut (geriatri). Sehingga dipilihlah Ambroxol sebagai terapi untuk mengatasi batuk pada
pasien.
Ambroxol yang berefek mukokinetik dan sekretolitik, dapat mengeluarkan lendir yang kental
dan lengket dari saluran pernafasan dan mengurangi staknasi cairan sekresi. Pengeluaran
lendir dipermudah sehingga melegakan pernafasan. Sekresi lendir menjadi normal kembali
selama pengobatan dengan Ambroxol.

5. Obat Anti Tuberkulosis (OAT-FDC)
Obat anti tuberkulosis fixed-dose combination atau disingkat dengan OAT FDC (sering
disebut FDC saja) adalah tablet yang berisi kombinasi beberapa jenis obat anti TBC dengan
dosis tetap. Obat FDC untuk dewasa :
Tablet yang mengandung 4 macam obat dikenal sebagai tablet 4FDC. Setiap tablet
mengandung:
- 75 mg Isoniasid (INH)
- 150 mg Rifampisin
- 400 mg Pirazinamid
- 275 mg Etambutol.
Tablet ini digunakan untuk pengobatan setiap hari dalam tahap intensif. Jumlah tablet yang
digunakan disesuaikan dengan berat badan penderita.
Tablet yang mengandung 2 macam obat dikenal sebagai tablet 2FDC. Setiap tablet
mengandung:
- 150 mg Isoniasid (INH).
- 150 mg Rifampisin
Tablet ini digunakan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu dalam tahap lanjutan.
Jumlah tablet yang digunakan disesuaikan dengan berat badan penderita.

Merk : RIMSTAR 4-FDC

Pabrik:
Sandoz
Harga:
Rp 220.688,00
Kandungan:
Rifampisin 150 mg, INH 75 mg, Pirazinamid 400 mg, Etambutol 275 mg.
Indikasi:
Penanganan tuberkulosa dan infeksi mikobakterial opportunis tertentu.
Mekanisme Kerja:
Diantara semua obat anti tuberkulosis, Isoniazid (INH) memiliki efek bakterisidal pada
mikobakteria yang tumbuh cepat selama awal masa pengobatan. Rifampisin merupakan satu-
satunya obat anti tuberkulosis yang dapat mengeliminasi basil semi-dormant yang
menunjukkan gejolak-gejolak metabolisme selama beberapa jam (Bakterisid).. Pemberian
Rifampisin bersamaan dengan INH akan lebih menjamin tercapainya mula kerja yang cepat.
Pirazinamid bekerja hanya pada pH 5,5 atau kurang dan efektif dalam mengeliminasi basil
yang berkembang lambat pada lingkungan intra maupun ekstra seluler yang bersuasana asam
(Bakterisid). Rifampisin dan pirazinamid merupakan antituberkulosis yang memiliki efek
sterilisasi. Dengan demikian ketiga obat tersebut memiliki cara kerja yang saling melengkapi
dan pemberian secara bersamaan setiap hari selama 2 bulan pengobatan memungkinkan untuk
mengurangi masa pengobatan menjadi 6 bulan. Etambutol adalah suatu kemoterapeutik oral
yang efektif terhadap mikroorganisme dari jenis Mycobacterium termasuk M.tuberculosis.
Etambutol merupakan tuberkulostatik dengan mekanisme kerja menghambat sintesis RNA
(Bakteriostatik) (Istiantoro, 2008).
Kontra Indikasi:
Hipersensitifitas, riwayat hepatitis yang diinduksi oleh obat, penyakit hati akut, neuritis
periferal atau optikal, disfungsi ginjal, epilepsi, alkoholisme kronis.
Perhatian:
1. Gangguan fungsi ginjal atau hati, diabetes melitus, alkoholisme kronis, pasien yang
kekurangan gizi, riwayat gout, pasien dengan gangguan kejang, porfiria akut, lanjut usia.
2. Hamil, menyusui.
3. Lakukan hitung darah dan tes fungsi hati secara berkala.
4. Hindari memakai lensa kontak saat menggunakan obat ini, karena dapat juga melunturkan
soft-contact lence secara permanen.
5. Anak-anak berusia kurang dari 8 tahun atau pasien yang tidak mampu untuk
mengkomunikasikan gangguan penglihatan.
6. Periksa kemampuan penglihatan sebelum memulai pengobatan dan monitor selama
pengobatan.
7. Diharuskan menelan OAT secara teratur sesuai jadwal terutama pada fase awal
pengobatan.
8. Pasien harus diberitahu agar tidak menghentikan pengobatan selama jangka waktu
pengobatan. Penghentian pengobatan yang mengandung Rifampisin dapat mengakibatkan
terjadinya resiko imunologis yang kadang-kadang cukup serius. Bila penghentian
pengobatan tidak dapat dihindarkan, resiko ini mungkin dapat dikurangi dengan
memberikan Rifampisin, INH dan Pirazinamid secara terpisah.
Interaksi Obat:
Kontrasepsi oral atau terapi pengganti hormon, antikoagulan, antasida, Simetidin, analgetik
opioid, Disulfiram, antidepresan, sedatif, obat gout, kortikosteroid, Kloramfenikol,
Ketokonazol, Dapson, Metadon, Teofilin, Siklosporin A, Azatioprin, diuretika, obat-obat
neurotoksis.
Efek Samping:
Rifampisin : cairan tubuh menjadi berwarna kemerah-merahan, asimtomatik meningkat pada
enzim hati, peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan asam urat, hemolisa, hematuria,
nefritis intestinal, insufisiensi ginjal, rasa tidak nyaman pada lambung-usus, efek pada
susunan saraf pusat, perubahan hematologikal, ruam kulit, efek endokrin.
Isoniazid : gangguan fungsi hati, hepatitis, gangguan lambung-usus, neuropati periferal,
pusing, sakit kepala bila kena cahaya, perubahan hematologikal, reaksi alergi.
Pirazinamida : peningkatan sementara transaminase serum, hepatotoksisitas, hepatomegali,
sakit kuning, hiperurisemia, nefritis intestinal, disuria, gangguan lambung-usus, perubahan
hematologikal, reaksi alergi.
Etambutol : kebingungan/kekacauan, disorientasi, sakit kepala, gangguan penglihatan, sakit
kuning, disfungsi hati yang bersifat sementara, gangguan lambung-usus, perubahan
hematologikal, efek alergi, gout akut (jarang).
Indeks Keamanan Pada Wanita Hamil C:
Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal
atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada
wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial
memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin.
Kemasan:
Tablet salut gula 30 butir.
Dosis:
Berat badan 71 kg atau lebih : 5 tablet/hari.
Berat badan 55-70 kg : 4 tablet/hari.
Berat badan 38-54 kg : 3 tablet/hari.
Berat badan 30-37 kg : 2 tablet/hari.
Diberikan sekali sehari selama 56 hari atau selama 2 bulan.
Penyajian:
Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah makan)
(Anonim, 2007)

ALASAN :

(Anonim, 2007)
Obat anti tuberkulosis KDT (Kombinasi Dosis Tetap atau yang biasa dikenal dengan FDC
(Fixed Dose Combination ) adalah tablet yang berisi kombinasi beberapa jenis obat anti TBC,
disediakan dengan dosis yang disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas
obat dan mengurangi efek samping. Kemajuan bidang farmakologi telah memungkinkan
untuk membuat tablet kombinasi yang terdiri dari beberapa macam obat anti TBC tanpa
mengganggu bio-availability obat tersebut. Namun demikian, seperti pada obat tunggal, untuk
menjamin kualitas obat, pemantauan mutu dari FDC harus tetap dilaksanakan secara berkala.
Keuntungan yang lain dalam penggunaan KDT ini adalah mencegah penggunaan OAT secara
monoterapi, sehingga mencegah terjadinya resistensi obat dan mengurangi kesalahan
penulisan resep karena jenis OAT sudah dalam satu kombinasi tetap. Jumlah obat yang
ditelan jauh lebih sedikit, sehingga pemberian obat jauh lebih sederhana dan meningkatkan
kepatuhan pasien. Dari aspek manajemen logistik, OAT-FDC akan lebih mudah
pengelolaannya dan lebih murah pembiayaannya (Anonim, 2004).

6. IVFD D 5%
Komposisi:
Larutan Infus 5% x 1Liter x 12
Kemasan:
Ambroxol 30 mg tablet, kotak 10 strip @ 10 tablet.
Mekanisme Kerja Obat :
Dextrose adalah monosakarida dijadikan sebagai sumber energi bagi tubuh. Dextrose juga
berperanan pada berbagai tempat metabolisme protein dan lemak. Dextrose disimpan di
dalam tubuh sebagai lemak dan di otot dan hati sebagai glikogen. Jika diperlukan untuk
meningkatkan kadar glukosa secara cepat, maka glikogen segera akan melepaskan glukosa.
Jika suplai glukosa tidak mencukupi maka tubuh akan memobilisasi cadangan lemak untuk
melepaskan atau menghasilkan energi. Dextrose juga mempunyai fungsi berpasangan dengan
protein (protein sparing). Pada keadaan kekurangan glukosa, energi dapat dihasilkan dari
oksidasi fraksi-fraksi asam amino yang terdeaminasi. Dextrose juga dapat menjadi sumber
asam glukoronat, hyaluronat dan kondroitin sulfat dan dapat dikonversi menjadi pentose yang
digunakan dalam pembentukan asam inti (asam nukleat). Dextrose dimetabolisme menjadi
karbondioksida dan air yang bermanfaat untuk hidrasi tubuh.
Indikasi:
Sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi selama dan
sesudah operasi. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang (kadar kreatinin
kurang dari 25 mg/100ml).
Kontra Indikasi:
Hiperglikemia, koma diabetikum, pemberian bersama produk darah; anuria, perdarahan
intraspinal & intrakranial, delirium dehidrasi (dehydrated delirium tremens).
Dosis:
i.v : 0,5-0,8 g/kg/jam / 1 Ampul 3 ml sehari.
Efek samping:
Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat menyebabkan iritasi pada pembuluh darah
dan tromboflebitis.
Hiperglikemia dan glukosuria dapat terjadi pada pemberian dengan kecepatan lebih dari 0,5
g/kg/jam. Ada juga yang menyebutkan diatas 0,8 g/kg/jam. Penggunaan jangka lama dapat
menimbulkan gangguan keseimbangan cairan dan asam basa serta pengenceran konsentrasi
elektrolit, yang dapat menimbulkan udem, hipokalemia, hipomagnesia dan hipofosfatemia.
Dapat juga terjadi defisiensi vitamin B kompleks.
Interaksi Obat:
Cairan parenteral, khususnya yang mengandung ion natrium, harus digunakan dengan hati-
hati pada pasien yang sedang menggunakan kortikosteroid atau kortikotropin.
Peringatan dan perhatian:
(1)Larutan dextrose digunakan terutama untuk menggantikan cairan yang hilang dan dapat
diberikan sendiri hanya jika tidak terjadi kehilangan elektrolit secara bermakna; pemberian
larutan dextrose jangka lama tanpa elektrolit dapat menimbulkan hiponatraemia dan gangguan
elektrolit. Oleh karena itu pada terapi jangka panjang harus dilakukan pemantauan terjadinya
gangguan keseimbangan cairan, konsentrasi elektrolit dan keseimbangan asam basa.
Pemberian secara intravena dapat menimbulkan overload cairan disertai gangguan
(pengenceran) elektrolit serum dan dapat juga trjadi edema perifer dan paru.Kebutuhan cairan
rata-rata pada orang dewasa sehat berkisar antara 1.5 sampai 2.5 liter perhari dan hal ini
diperlukan untuk menyeimbangkan kehilangan cairan yang tidak dapat dihindari melalui kulit
dan paru-paru dan untuk keperluan ekskresi melalui urin. Kehilangan cairan (dehidrasi)
cenderung terjadi ketika cairan yang dikeluarkan tidak sesuai (lebih banyak) dibandingkan
asupan (intake), yang dapat menimbulkan koma atau disfagia (dysphagia) atau pada usia
lanjut atau mereka yang apatis yang tidak mau minum cukup air atas inisiatif mereka sendiri.
(2)Larutan dextrose harus digunakan dengan hati-hati pada pasien diabetes atau diketahui
intoleran karbohidrat. Pemberian infus secra cepat atau insufisiensi metabolik dapat
menimbulkan hiperglikemia dan glikosuria. Glukosa darah dan urin harus dipantau secara
reguler.
Cara Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk, kering, dan terlindung dari sinar matahari.
(Elizabeth, 2001)
ALASAN:
Umumnya, gejala penyakit parkinson adalah pergerakannya sangat lambat dan terkadang
ceroboh, tangan (jari-jari) atau lengan bergetar pada posisi diam atau santai. Penderita
penyakit parkinson ini merasakan tegang atau sakit, kekakuan pada otot, lengan dan tubuh
hingga sulit untuk bergerak dan kekurangan tenaga. Sehingga diperlukan pemberian infus
dekstrosa untuk menambah kalori. Dekstrosa dengan mudah dimetabolisme dan dapat
meningkatkan kadar glukosa darah. Dekstrosa dapat menurunkan atau mengurangi protein
tubuh dan kehilangan nitrogen, meningkatkan pembentukan glikogen dan mengurangi atau
mencegah ketosis jika diberikan dosis yang cukup. Dekstrosa dimetabolisme menjadi CO2
dan air, maka larutan dekstrosa dan air dapat mengganti cairan tubuh yang hilang (Elizabeth,
2001).

c. Terapi Non Farmakologis
Olahraga teratur mempromosikan perasaan fisik dan mental kesejahteraan, itu sangat
berharga karena sifat kronis penyakit Parkinson ( PD ) dan keterbatasan motorik progresif
terkait. Latihan tidak akan memperlambat perkembangan akinesia , rigiditas , atau
gangguan gaya berjalan , tetapi dapat mencegah atau mengurangi beberapa efek ortopedi
sekunder kekakuan dan tertekuk postur seperti bahu , pinggul , dan nyeri punggung , dan
juga dapat meningkatkan fungsi dalam beberapa tugas motorik.
Peregangan dan latihan penguatan untuk meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan harus
ditekankan . Penguatan otot-otot ekstensor dapat membantu menangkal postur tertekuk
dari PD . Jalan cepat , berenang , dan latihan aerobik air sangat berguna . Rujukan ke
seorang terapis atau latihan kelompok fisik mungkin menjadi cara yang baik untuk
mendapatkan pasien dimulai pada kegiatan tersebut .
Parameter praktek dari American Academy of Neurology ( AAN ) yang diterbitkan pada
tahun 2006 menyimpulkan bahwa berbagai modalitas terapi fisik mungkin efektif dalam
meningkatkan hasil fungsional untuk pasien dengan PD .
Modalitas ini meliputi :
rehabilitasi Multi disiplin dengan komponen terapi standar fisik dan pekerjaan
Pelatihan Treadmill dengan dukungan berat badan
Pelatihan Balance dan intensitas tinggi latihan ketahanan
Latihan cued dengan visual ( mirror ) , pendengaran ( metronom ) , dan umpan balik
taktil
terapi musik aktif
The AAN review menemukan bahwa besarnya perbaikan fungsional yang diamati dengan
intervensi tersebut kecil dan tidak berkelanjutan setelah terapi dihentikan. Namun
demikian , banyak pasien mendapatkan kepercayaan diri yang abadi dan rasa kontrol atas
salah satu aspek dari penyakit , terutama jika mereka tidak pernah terlibat dalam aktivitas
fisik di masa lalu .
1. Stimulasi Otak. Menanamkan alat stimulasi Otak dapat membantu mengendalikan
goncangan dan menggigil disebabkan oleh Penyakit parkinson. Stimulator otak terdiri
dari suatu unit yang ditanamkan pada dinding yang memancarkan rangsangan
gerakan elektris melalui suatu kawat ke electroda kecil menempatkan suatu struktur
jauh di dalam otak. Struktur ini, inti subthalamic, mengendalikan aspek fungsi motor.

Terapi Non Farmakologi TBC :
Sering berjemur dibawah sinar matahari pagi (pukul 6-8 pagi). karena sinar
matahari dapat membunuh bakteri penyakit TBC, bakteri bereaksi terhadap sinar
matahari yang dalam waktu 10 menit bakteri ini dapat mati.
Memperbanyak istirahat (bedrest).
Diet sehat, dianjurkan mengkonsumsi banyak lemak dan vitamin A untuk
membentuk jaringan lemak baru dan meningkatkan sistem imun.
Menjaga sanitasi/kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal.
Menjaga sirkulasi udara di dalam rumah agar selalu berganti dengan udara yang
baru.
Berolahraga, seperti jalan santai di pagi hari.
(Depkes RI,2007).
Konsultasi, Informasi dan Edukasi Pasien (KIE)
i. KIE untuk tenaga kesehatan yang merawat pasien
Menginformasikan penggunaan terapi obat yang tepat kepada pasien
Membantu pasien untuk melakukan latihan meggerakan tubuh
Pengecekan fungsi paru pada pasien dengan foto torax
Perlu pengecekan sputum
ii. KIE untuk keluarga
Memberikan motivasi untuk melaksanakan pola hidup sehat
Tidak menggunakan alat makan dan minum yang sama dengan penderita.
Memberi informasi mengenai tata cara minum obat dan frekuensinya
Nama Obat Jadwal
minum
Jumlah Manfaat Hal yang perlu
diperhatikan
Ceftriaxone Di minum
tiap 12 jam
2xsehar
i
Sebagai
antibiotic
spectrum luas
Kehamilan:
Kategori B.
Laktasi:
diekskresikan
dalam ASI. Anak-
anak:
Cephalosporins
dapat
terakumulasi pada
neonatus.
Hipersensitivitas:
Reaksi berkisar
dari ringan
sampai
mengancam
nyawa.
Mengelola obat
dengan hati-hati
pada pasien yang
sensitif terhadap
penisilin karena
kemungkinan
reaktivitas silang.
Kolitis
pseudomembran:
Harus
dipertimbangkan
pada pasien yang
diare
berkembang.
Superinfeksi:
Dapat
menghasilkan
pertumbuhan
over-bakteri atau
jamur mikro-
organisme
nonsusceptible
Azythromycin 2xsehar
i
pengobatan
community-
acquired
pneumonia
(CAP)
Kehamilan,efek
jantung,
IVFD D5% i.v : 0,5-
0,8
g/kg/ja
m / 1
Ampul
3 ml
sehari.

20 tpm Sebagai
cairan
resusitasi
pada terapi
intravena
serta untuk
keperluan
hidrasi
Pemberian larutan
dextrose jangka
lama tanpa
elektrolit dapat
menimbulkan
hiponatraemia
dan gangguan
elektrolit. Oleh
karena itu pada
terapi jangka
panjang harus
dilakukan
pemantauan.
Sinemet CR
(Carbidopa/Levodopa
)
30-60
menit
sebelum
3xsehar
i
Mengatasi
Parkinson
dengan
Penderita
Gangguan
endokrin, ginjal,
makan meningkatka
n jumlah
dopamine
hati, jantung yang
berat. Psikosis
dan psikoneurosis
berat. Pasien < 25
thn. Hamil,
kombinasi dengan
MAOI kecuali
selegiline.

Ambroxol Di minum
sesudah
makan
3xsehar
i
Ambroxol
yang berefek
mukokinetik
dan
sekretolitik,
dapat
mengeluarka
n lendir yang
kental dan
lengket dari
saluran
pernafasan
dan
mengurangi
staknasi
cairan
sekresi.
Pengeluaran
lendir
dipermudah
sehingga
melegakan
pernafasan
Pada studi
preklinis tidak
menunjukkan
adanya efek yang
mengkhawatirkan
, akan tetapi
keamanan
pemakaian pada
wanita
hamil/menyusui
belum diketahui
dengan pasti.
Meskipun
demikian, seperti
halnya dengan
penggunaan obat-
obat lain,
pemakaian pada
kehamilan
trimester I harus
hati-hati.

OAT-FDC Sesudah
makan
1xsehar
i
Penanganan
tuberkulosa
dan infeksi
mikobakterial
opportunis
tertentu.
Gangguan fungsi
ginjal atau hati,
diabetes melitus,
alkoholisme
kronis, pasien
yang kekurangan
gizi, riwayat
gout, pasien
dengan gangguan
kejang, porfiria
akut, lanjut usia.
Hamil, menyusui

iii. KIE untuk pasien mengatasi Parkinson
Memberikan kesadaran minum obat
Perubahan gaya hidup, nutrisi, dan olahraga secara teratur
Hindari stress
Tidak melakukan aktivitas berlebihan

KIE untuk pasien mengatasi TBC
Memberikan informasi tentang obat baik mengenai nama obat, dosis, aturan pakai
dan cara penggunaan obat.
Memberikan informasi, instruksi, dan peringatan kepada pasien Tentang efek
terapi dan efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan.
Memberikan edukasi kepada pasien bahwa obat TBC harus di minum sampai
selesai sesuai dengan kategori penyakit atau sesuai petunjuk dokter/petugas
kesehatan lainnya dan diupayakan agar tidak lupa. Bila lupa satu hari, jangan
meminum dua kali pada hari berikutnya.
Memberikan edukasi kepada pasien bahwa obat harus di minum setiap hari atau
sesuai dengan dosis, namun jika lupa segera minum obat jika waktunya dekat ke
waktu minum obat seharusnya. Tetapi jika lewat waktu minum obat sudah jauh,
dan dekat ke waktu berikutnya, maka minum obat sesuaikan saja dengan
waktu/dosis berikutnya.

Monitoring
1. Monitoring terhadap hasil pemeriksaan sputum atau pemeriksaan BTA.
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru dengan BTA positif,
hasil pemeriksaan sputumnya masih menunjukkan BTA positif maka diberikan
obat sisipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan.
Jika pemeriksaan BTA setelah melaksanakan fase intensif menunjukkan hasil
BTA (-) maka pengobatan dilanjutkan selama 5 bulan (fase lanjutan).
2. Monitoring fungsi paru
Melakukan foto thoraks untuk mengetahui apakah masih ada infiltrat dan kavitas di
lobus paru.
3. Monitoring pengobatan
OBAT MONITORING TARGET
KEBERHASILA
N
KEBERHASILA
N
ESO
Sinemet
CR
Antiparkinson,
agonis
dopamin.

Efek perifer :
anoreksia, nausea dan
muntah karena
stimulasi pusat
muntah. Takikardi
dan ekstrasistole
ventrikular
disebabkan oleh
gangguan dopamin
pada jantung.
Hipertensi juga dapat
terjadi. Kerja
adrenergik pada iris
menyebabkan
midriasis, diskrasia
darah dan reaksi test
Coombs positif.
Ludah dan urin
berwarna agak coklat
karena pigmen
melanin yang
dihasilkan dari
oksidasi ketokalamin.
Efek SSP : Halusinasi
visual dan
pendengaran dan
gerakan dibawah
pengaruh kehendak
yang abnormal dapat
terjadi (diskinesia).
Efek SSP ini
berlawanan dengan
gejala parkinson dan
memperlihatkan
aktivitas dopamin
berlebihan pada
ganglia basalis.
Mengatasi gejala
Parkinson dengan
cara meningkatkan
jumlah dopamine
Levodopa juga dapat
menyebabkan
perubahan pikiran,
depresi dan ansietas.
Ceftriakson Efektif terhadap
mikroorganisme
gram positif dan
gram negatif.
Ceftriaxone
juga sangat
stabil terhadap
enzim beta
laktamase yang
dihasilkan oleh
bakteri.
Ceftriaxone
bekerja dengan
menghambat
sintesis dinding
sel bakteri,
dengan cakupan
lebih luas
terhadap bakteri
Gram negatif.

GI: Mual; muntah;
diare; kolitis,
termasuk kolitis
pseudomembran
GU: Disfungsi ginjal;
piuria; disuria; nefritis
interstitial reversibel;
hematuria; nefropati
toksik, gips kemih.
HEMA: Eosinofilia;
neutropenia;
limfositosis;
leukositosis;
trombositopenia;
fungsi trombosit
menurun; anemia;
anemia aplastik;
perdarahan. HEPA:
Disfungsi hati;
ikterus; hasil tes
fungsi hati yang
abnormal.
Lainnya:
Hipersensitivitas,
termasuk sindrom
Stevens-Johnson,
eritema multiforme, ,
arthralgia, demam);
flebitis, tromboflebitis
dan nyeri di tempat
suntikan.

Mengatasi TB paru
Azitromisi
n
azithromycin adala
h antibiotic yang
berikatan pada
ribosom subunit 50
S sehingga
mengganggu
sintesis protein
bakteri.
Kardiovaskular:
Palpitasi; nyeri dada.
SSP: Pusing; sakit
kepala; vertigo;
mengantuk; kelelahan.
Dermatologic: Ruam;
photosensitivity.
GI: Diare; mual;
muntah; sakit perut;
dispepsia; perut
Pengobatan
community-
acquired
pneumonia (CAP),
infeksi saluran
pernapasan,
penyakit paru
obstruktif kronik
(PPOK),
kembung; melena.
GU: Vaginitis;
monilia; nefritis. Hati:
ikterus Cholestatic.
Lainnya:
Angioedema;
anafilaksis.

Ambroxol Efek mukolitik dan
sekretolitik
Ambroxol umumnya
mempunyai toleransi yang
baik.
Mengatasi
Penyakit salura
n napas akut
dan kronis yang
disertai sekresi
bronkial yang
abnormal

Obat anti
tuberkolosi
s (OAT-
FDC)
Obat anti
tuberkolosis
Rifampisin : cairan
tubuh menjadi
berwarna kemerah-
merahan, asimtomatik
meningkat pada enzim
hati, peningkatan
nitrogen urea darah
(BUN) dan asam urat,
hemolisa, hematuria,
nefritis intestinal,
insufisiensi ginjal, rasa
tidak nyaman pada
lambung-usus, efek
pada susunan saraf
pusat, perubahan
hematologikal, ruam
kulit, efek endokrin.
Isoniazid : gangguan
fungsi hati, hepatitis,
gangguan lambung-
usus, neuropati
periferal, pusing, sakit
kepala bila kena
cahaya, perubahan
hematologikal, reaksi
alergi.
Pirazinamida :
peningkatan sementara
transaminase serum,
hepatotoksisitas,
Penanganan
tuberkulosa dan
infeksi
mikobakterial
opportunis
tertentu.
hepatomegali, sakit
kuning, hiperurisemia,
nefritis intestinal,
disuria, gangguan
lambung-usus,
perubahan
hematologikal, reaksi
alergi.
Etambutol :
kebingungan/kekacaua
n, disorientasi, sakit
kepala, gangguan
penglihatan, sakit
kuning, disfungsi hati
yang bersifat
sementara, gangguan
lambung-usus,
perubahan
hematologikal, efek
alergi, gout akut
(jarang).

IVFD D
5%
sumber energi bagi
tubuh
Injeksi glukosa
hipertonik dengan pH
rendah dapat
menyebabkan iritasi
pada pembuluh darah
dan tromboflebitis.
Hiperglikemia dan
glukosuria dapat terjadi
pada pemberian dengan
kecepatan lebih dari
0,5 g/kg/jam. Ada juga
yang menyebutkan
diatas 0,8 g/kg/jam.
Penggunaan jangka
lama dapat
menimbulkan
gangguan
keseimbangan cairan
dan asam basa serta
pengenceran
konsentrasi elektrolit,
yang dapat
menimbulkan udem,
hipokalemia,
Sebagai cairan
resusitasi pada
terapi intravena
serta untuk
keperluan
hidrasi selama
dan sesudah
operasi.
Diberikan pada
keadaan
oliguria ringan
sampai sedang
(kadar kreatinin
kurang dari 25
mg/100ml).

hipomagnesia dan
hipofosfatemia. Dapat
juga terjadi defisiensi
vitamin B kompleks.



Algoritma Parkinson






















(Lisak, et al., 2009)
Algoritma CAP

(Lutfiyya, et al., 2006)






Algoritma TB

(Centers for Disease Control and Prevention, 2007)



REVIEW
1. Kombinasi Levodopa dan Carbidopa pada Penyakit Parkinson
Diagnosis and Initial Management of Parkinsons Disease
John G. Nutt, M.D., and G. Frederick Wooten, M.D.
N Engl J Med 2005;353:1021-7
Copyright 2005 Massachusetts Medical Society



A YEAR'S COMPARISON OF TREATMENT OF PATIENTS WITH PARKINSON'S
DISEASE WITH LEVODOPA COMBINED WITH CARBIDOPA VERSUS
TREATMENT WITH LEVODOPA ALONE
C.D. Marsden , J.D. Parkes , J.E. Rees
The Lancet, Volume 302, Issue 7844, Pages 1459 - 1462, 29 December 1973
Next Article>
doi:10.1016/S0140-6736(73)92729-3Cite or Link Using DOI



Orobuccal Dyskinesia Associated With Trihexyphenidyl
Therapy in a Patient With Parkinsons Disease
Robert A. Hauser and C. W. Olanow
Movement Disorders
Vol. 8, No. 4, 1993, pp. 512-514,
1993 Movement Disorder Society





















2. Antibiotik untuk Penyakit CAP
Ceftriaxone merupakan antibiotik sefalosporin generasi 3 yang akan menghasilkan efek lebih
efektif apabila dikombinasikan dengan golongan makrolida.








Pasien dengan penyakit Parkinson diterapi dengan hidroklorida trihexyphenidyl ditambah
levodopa atau plasebo ditambah levodopa selama enam sampai delapan bulan. Memburuknya
penyakit Parkinson diikuti penarikan terapi sebelumnya pada awal penelitian. Kedua
kelompok telah pulih rata-rata pada lima minggu, dan telah ada perbaikan. Tidak ada
perbedaan yang dicatat antara kelompok dalam hal dosis levodopa yang diperlukan untuk
mempertahankan fungsi optimal, sejauh mana respon yang menguntungkan, dan timbulnya
efek samping. Peneliti percaya bahwa hidroklorida trihexyphenidyl adalah tidak memiliki
kemampuan yang spesifik untuk mengontrol gejala utama penyakit Parkinson pada pasien
yang menerima pengobatan dengan levodopa.



3. Ambroxol untuk Penyakit TB Paru















4. Penggunaan OAT-FDC untuk Penyakit TB Paru










Judul :
PENILAIAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU KOMBINASI
DOSIS TETAP DI SURAKARTA
Pengarang : Hasto Nugroho
Pembimbing : Suradi; Eddy Surjanto
Fakultas : FK-UI
Program Studi : Pulmonologi dan Ilmu kedokteran Respirasi
Tahun : 2005






DAFTAR PUSTAKA
Abramowicz Mark, 2002, Handbook of Antimicrobial Therapy.16th ed, The Medical Letter, New
York.
Anonim, 2004, Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OAT-
FDC) Untuk Pengobatan Tuberkulosis di Unit Pelayanan Kesehatan, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim, 2006, British National Formulary, edisi 52, British Medical Association, Royal
Pharmaceutical Society of Great Britain, London.
Anonim, 2007, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2 cetakan Pertama
2007, Depatemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Arifin, N. 1990. Diagnostik Tuberkulosis Paru dan Penanggulangannya, Universitas Indonesia,
Jakarta.
Caballero and Rello, 2011, Combination Antibiotic Therapy For Community Acquired
Pneumonia, A Springer Open Journal, Annals of Intensive Care, 1:48.
Centers for Disease Control and Prevention, 2007, Trends is Tuberculosis Incidence-United
Statet, MMWR Morbidity and Mortality Weekly Report Vol 57(11):281-285.
Eisenhauer, L.A.,1998, Clinical Pharmacology and Nursing Management, 5 th edition, hal 298-
300, Lippincott, New York.
Elizabeth J. Corwin, 2001, Buku Saku Patofisiologi, EGC, Jakarta.
Fransisca, 2000, Pneumonia, Fakultas Kedokteran Wijaya Kusuma, Surabaya.
Istiantoro, Y. H., Setiabudy R., 2008, Tuberkulostatik dan leprostatik, Dalam: Gunawan SG,
Setiabudy R, Nafrialdi, Elysabeth, Farmakologi dan terapi Edisi 5, Departemen
Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Katzung, B. I., 2002, Farmakologi dasar dan klinik, buku 2, edisi 8, Salemba Medika, Jakarta.
Kimbria, G., 2009, Stability Study Of Ambroxol Hydrochlorid Sustained Release Pellets Coated
With Acrylic Polymer, Journal of Pharma and Science, 36-43.
Lisak, Robert P, et al., 2009, Treatment Algorithm for Parkinsons Disease, International
Neurology: A Clinical Approach, Blackwell Publishing Ltd. ISBN: 978-1-405-15738-4.
Lutfiyya Nawal, Eric Henley, and Linda F. Chang, 2006, Diagnosis and Treatment of
Community-Acquired Pneumonia, Am Fam Physician Vol.73(3):442-50.
Mandell et.al., Infectious Diseases Society of America/American Thoracic Society Consensus
Guidelines on the Management of Community-Acquired Pneumonia in Adults, 2007,
IDSA/ATS Guidelines for CAP in Adults, DOI: 10.1086/511159.
Marks, D. B., 2000, Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis, Penerbit buku
kedokteran EGC, Jakarta.
Miyasaki JM, Martin W, Suchowersky O, Weiner WJ, Lang AE., 2002, Practice parameter:
initiation of treatment for Parkinsons disease: an evidence based review: report of the
Quality Standards Subcommittee of the American Academy of Neurology, Neurology
58:11-7.
National Institute for Health and Clinical Excellence, 2006, Parkinsons Disease: Diagnosis And
Management In Primary And Secondary Care, MidCity Place, High Holborn, London.
Nutt John G, Wooten G. Frederick. Diagnosis and Initial Management of Parkinsons Disease.
The New England Journal of Medicine, 2005;353:1021-7.
Olanow et.al., 1993, Orobuccal Dyskinesia Associated With Trihexyphenidyl Therapy in a
Patient With Parkinsons Disease, Movement Disorder Society Vol. 8, No. 4, pp. 512-514.
Retno Asti Werdhani,2012, Patofisiologi, Diagnosis, Dan Klafisikasi Tuberkulosis, Departemen
Ilmu Kedokteran Komunitas Okupasi dan Keluarga ,FKUI , Jakarta
Tatro, 2003., A to Z Drug Fact, Fact and Comparisons, San Fransisco.
William et, al., 1974, A Controlled Study Comparing Trihexyphenidyl Hydrochloride Plus
Levodopa With Placebo Plus Levodopa In Patients With Parkinson's Disease, The Official
Journal of the American Academy of Neurology.
Zullies, Ikawati, 2009, Lectures Note: Penyakit Parkinson, www. staff.ugm.ac.id, diakses pada
tanggal 2 Mei 2014.