Anda di halaman 1dari 11

REAKSI WIDAL

Oleh :
Nama : Kasriati Heruningsih
NIM : B1J0111
R!m"!ngan : III
Kel!m#!$ : %
Asisten : Anggraeni Arum Sari
LA&ORAN &RAK'IK(M IM(NOLO)I
KEMEN'ERIAN &ENDIDIKAN DAN KEB(DA*AAN
(NI+ERSI'AS JENDERAL SOEDIRMAN
,AK(L'AS BIOLO)I
&(RWOKER'O
-01.
I/ &ENDAH(L(AN
A/ Latar Bela$ang
Salmonella enterica serotype typhi adalah bakteri yang
menyebabakan terjadinya demam thypoid. Demam typhoid merupakan
penyebab utama morbiditas dan mortalitas di daerah padat penduduk,
sanitasi buruk dan angka urbanisasi yang tinggi. Dengan tersedianya air
bersih dan sistem pembuangan kotoran yang bagus maka dapat
menurunkan insiden demam typhoid disuatu daerah (Wardana et al.,
2012).
Hingga saat ini insiden tertinggi penyakit ini terjadi di negara
berkembang, yang umumnya memiliki kondisi sanitasi buruk. Angka
insiden demam typhoid di ekong Delta, !ietnam 1"#$100.000 penduduk
per tahun dan di %e& Delhi, 'ndia "#0$100.000 penduduk per tahun pada
tahun 1""(. Diperkirakan terjadi 1) juta kasus baru demam typhoid di
seluruh dunia setiap tahunnya dengan angka mortalitas men*apai )00.000
ji&a.1 +ur,ei Departemen -esehatan .epublik 'ndonesia pada tahun 1""0
sebesar ",2 dan pada tahun 1""/ terjadi peningkatan 0rekuensi menjadi
11,/ per 10.000 penduduk per tahun (Wardana et al., 2012).
2emeriksaan serologi yang masih dikerjakan pada pasien yang
dira&at dengan demam typhoid di .umah +akit adalah tes Widal. %ilai
diagnostik tes Widal adalah melihat adanya kenaikan titer antibodi yang
bermakna dalam darah terhadap antigen 3 (somatik) dan4atau antigen H
(flagellar) Salmonella enterica serotype typhi pada 2 kali pengambilan
spesimen serum dengan inter,al &aktu 1051/ hari. 6api dalam
pelaksanaan di lapangan, ternyata praktis pengambilan spesimen serum
untuk pemeriksaan tes Widal hanya menggunakan spesimen serum
tunggal. -enaikan titer agglutinin yang tinggi pada spesimen tunggal,
tidak dapat membedakan apakah in0eksi tersebut merupakan in0eksi baru
atau lama, serta kenaikan titer aglutinin terutama aglutinin H tidak
mempunyai arti diagnostik yang penting untuk demam typhoid pada
penderita de&asa di daerah endemis. Dengan alasan ini, maka pada daerah
endemis tidak dianjurkan pemeriksaan antibodi H terhadap Salmonella
enterica serotype typhi, *ukup pemeriksaan titer antibodi 3 terhadap
Salmonella enterica serotype typhi (Wardana et al., 2012).
B/ 'in0auan &usta$a
6ekhnik pemeriksaan uji &idal dapat dilakukan dengan dua
metode yaitu uji hapusan4 pelun*uran (slide test) dan uji tabung (tube test).
2erbedaannya, uji tabung membutuhkan &aktu inkubasi semalam karena
membutuhkan teknik yang lebih rumit dan uji &idal pelun*uran hanya
membutuhkan &aktu inkubasi 1 menit saja yang biasanya digunakan
dalam prosedur penapisan. 7mumnya sekarang lebih banyak digunakan uji
&idal pelun*uran. +ensiti,itas dan spesi0itas tes ini amat dipengaruhi oleh
jenis antigen yang digunakan (Wardhani, 2001).
enurut beberapa peneliti uji &idal yang menggunakan antigen
yang dibuat dari jenis strain kuman asal daerah endemis (lokal)
memberikan sensiti,itas dan spesi0itas yang lebih tinggi daripada bila
dipakai antigen yang berasal dari strain kuman asal luar daerah enddemis
(import). Walaupun begitu, menurut suatu penelitian yang mengukur
kemampuan 7ji 6abung Widal menggunakan antigen import dan antigen
lo*al, terdapat korelasi yang bermakna antara antigen lo*al dengan antigen
+.typhi 3 dan H import, sehingga bisa dipertimbangkan antigen import
untuk dipakai di laboratorium yang tidak dapat memproduksi antigen
sendiri untuk membantu menegakkan diagnosis demam ti0oid (+oenarjo,
1"#").
1/ 'u0uan
1. engetahui adanya in0eksi Salmonella typhii dengan menggunakan
reaksi &idal.
20 89
(serum4antibodi)
/0 89 antigen S.
typhii
Diamati
: aglutinasi (tidak
lanjut)
Aglutinasi (endapan
seperti pasir)
10 89
(serum4antibodi)
: aglutinasi (tidak
lanjut)
10 89
(serum4antibodi)
Aglutinasi
Diamati
Aglutinasi (endapan
seperti pasir)
: aglutinasi
II/ MA'ERI DAN ME'ODE
A/ Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah mikroskop, mikropipet
ukuran 20 89, 10 89 dan 1 89, yellow tip dan object glass.
;ahan yang digunakan dalam praktikum adalah serum penderita
typus, serum normal dan antigen Salmonella typhii tipe mure<
B/ Met!2e
=ara kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut $
/0 89 antigen S.
typhii
Diamati
/0 89 antigen S.
typhii
III/ HASIL DAN &EMBAHASAN
A/ Hasil


B/ &em"ahasan
;erdasarkan hasil praktikum kelompok tiga menggunakan serum
darah dengan pengen*eran 14#0 diperoleh hasil positi0 termasuk dalam
kategori in0eksi ringan. enurut Widodo (200"), jika hasilnya positi0 akan
terjadi adanya endapan pasir, sedangkan jika hasilnya negati0 maka tetap
jernih. Adanya aglutinasi menandakan bah&a penderita positi0 pernah
terin0eksi Salmonella typhii. enurut 2ang (1""2), tingkat in0eksi dapat
dikategorikan sebagai berikut$
)am"ar %/1/ Hasil 'iter 1340
5negati67
)am"ar %/-/ Hasil 'iter 1340 #!siti6
5ter0a2i aglutinasi7
)am"ar %/%/ Hasil 'iter 13180
#!siti6 5ter0a2i aglutinasi7
)am"ar %/./ Hasil 'iter 13%-0
#!siti6 5ter0a2i aglutinasi7
1. 2ada serum 20 >l, titer Ab ? 14#0 @ in0eksi ringan
2. 2ada serum 10 >l, titer Ab ? 141)0 @ in0eksi sedang
A. 2ada serum 1 >l, titer Ab ? 14A20 @ in0eksi berat
6es Widal merupakan tes aglutinasi yang digunakan dalam
diagnosis serologi penyakit demam typhoid atau demam enterik. 6es Widal
mengukur le,el aglutinasi antibodi terhadap antigen 3 (somatik) dan antigen
H (flagellar). 9e,el tersebut diukur dengan menggunakan dilusi ganda
serum pada tabung tes. ;iasanya, antibodi 3 terlihat pada hari ke )5# dan
antibodi H terlihat pada hari ke 10512 setelah mun*ulnya gejala penyakit
demam typhoid (Wardana et al., 2012).
7ji reaksi Widal menggunakan suspensi bakteri S. typhii dan S.
paratyphi dengan perlakuan antigen H dan 3. Antigen ini dikerjakan untuk
mendeteksi antibody yang sesuai pada serum pasien yang diduga menderita
demam typhoid. Antibodi 'g somatik 3 menunjukksn a&al dan
merepresentasikan respon serologi a&al pada penderita demam thypoid
akut, dimana antibodi 'gB 0lagela H biasanya berkembang lebih lambat
tetapi tetap memanjang. +almonella sering bersi0at pathogen untuk manusia
atau he&an jika masuk ke dalam tubuh melalui mulut. ;akteri ni ditularkan
dari he&an atau produk he&an kepada manusia, dan menyebabkan enteris,
in0eksi sistemik dan demam enteri*. +almonella merupakan bakteri Bram (5)
batang, tidak berkapsul dan bergerak dengan 0lagel peritri*h (+oemarno,
2000).
2rinsip uji &idal adalah memeriksa reaksi antara antibodi
agglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengen*eran
berbeda5beda terhadap antigen 3 (somati*) dan antigen H (0lagel) yang
ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi.
2engen*eran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan
titer antibodi dalam serum. 7ji Widal dipengaruhi oleh beberapa 0aktor,
antara lain pernah mendapat ,aksinasi, reaksi silang dengan spesies lain,
reaksi anamnestik, dan adanya 0aktor rheumatoid ( Ca&et, 1"")).
2emeriksaan Widal ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi (di
dalam darah) terhadap antigen kuman Salmonella typhi. Adapun struktur
antigen +almonella yaitu antigen H atau antigen 0lagel, antigen ini
mengandung beberapa unsur imunologik, dalam satu spesies +almonella
antigen 0lagel dapat ditemukan dalam 0ase 1 dan 2, ini dinamakan ,ariasi
0ase antibodi terdapat antigen H terutama 'g=. Dan, antigen 3 atau antigen
somatik, dengan serum yang mengandung antigen 3, antigen ini
mengadakan aglutinasi dengan lambat membentuk gumpalan berpasir,
antigen terdapat antigen 3 terutama 'g , anti somatik 3 adalah
lipopolisakarida (D&ijoseputro, 1"#").
+almonella dan jenis5jenis lainnya dalam 0amily Dnteroba*teria*eae
mempunyai beberapa jenis antigen, yaitu antigen 3 (somatik), H (Elagella),
- (-apsul) dan !i (!irulen) (!olk and Wheeler, 1""#). Antigen di dalam
reaksi aglutinasi dapat berupa sel atau partikel, misalnya partikel lateks yang
permukaannya telah diresapi antigen yang dapat larut, ditambahkannya
antibodi yang homolog akan menyebabkan terjadinya aglutinasi atau
penggumpalan, sehingga menghasilkan agregat kasat mata sel5sel itu, reaksi
aglutinasi juga digunakan di dalam penggolongan dan penentuan tipe darah
manusia (2el*Far and .eid, 1"1#).
2enyakit ti0us yang berat menyebabkan komplikasi pendarahan,
kebo*oran usus, in0eksi selaput, renjatan bronkopnemonia dan kelainan di
otak. 6erdapat gejala penyakit ti0us segera di lakukan pemeriksaan
laboratorium untuk menegakkan diagnosa penyakit ti0us, koma.
-eterlambatan diagnose dapat menyebabkan komplikasi yang berakibat
0atal, sampai pada kematian. 6anda5tanda dan gejala 2A (2aratyphoid 0e,er
A) menunjukan tidak spesi0itas, jenis penyakit ini sulit untuk didiagnosa
se*ara akurat. eskipun diagnosis de0initi0e tetapi, dapat dibuat isolasi +2A
(sero,ar 2aratyphi A (+2A), dari spesimen klinis seperti darah, sumsum
tulang, urin atau tinja atau dengan menunjukan meningkatnya titer 3
(somati*), H (0lagelata), dan A (0lagella), ditandai dengan aglutinasi
antibodi dalam sampel serum yang berpasangan (+hukun et al., 2011).
Salmonella typhi merupakan bakteri gram negati0 berbentuk
batang, bersi0at 0akultati0 aerob. Salmonella typhi dapat hidup tahan lama
dalam air, tanah atau bahan makanan. ;akteri ini memiliki antigen 3" dan
312 92+, antigen protein 0lagelar Hd dan antigen kapsular !i. Salmonella
typhim atau paratyphi dalam dosis yang in0ekti0 (G101) masuk kedalam
saluran pen*ernaan dari seorang penderita yang tidak mempunyai daya
tahan terhadap kuman tersebut, maka kuman ini akan menembus sel5sel
epitel usus dan masuk ke dalam kelenjar5kelenjar limpa dari mesentrium.
-uman5kuman ini akan berkembang biak, kemudian melalui du*tus
thora*i*us akan masuk ke aliran darah untuk selanjutnya menyebar ke
organ5organ seperti hati, kandung empedu, limpa, ginjal dan sum5sum
tulang. Dalam organ5organ ini kuman5kuman tersebut akan berkembang
biak lagi dan menimbulkan keradangan. 2roses ini akan berlangsung selama
(510 hari. +elanjutnya kuman5kuman tersebut akan menyebar ke dalam
aliran darah dan menimbulkan bakteremia untuk kedua kalinya (Handojo,
1"#2).
Dalam stadium bakteremi kedua ini, +almonella typhi akan
melepaskan endotoksinnya yang di duga sebagai penyebab dari timbulnya
gejala5gejala klinik demam typhoid. 6ubuh berusaha untuk menetralkan
e0ek dari endotoksin ini (Ag 3) dengan menggunakan jalur alternati0 dari
system komplemen. +almonella typhi, amat sukar untuk di 0agositosis oleh
sel5sel makro0ag karena terlindung oleh kapsulnya (Ag !i). ;aru setelah
kuman5kuman ini agak lama berada dalam peredaran darah (kira5kira 1
minggu), sel5sel 0agosit atau makro0ag berhasil mem0agositosis kuman5
kuman tersebut. 7ntuk ini penderita harus mengerahkan semua sel5sel
makro0ag yang terdapat dalam jaringan .D+ seperti hati dan limpa.
+ehingga seringkali sampai menimbulkan pembengkakan dari organ5organ
tersebut di atas (Handojo, 1"#2).
+ebagai hasil dari 0agositosis ini maka umumnya pada akhir
minggu kedua, dapat dikatakan sudah tidak di temukan +almonella typhi
lagi dalam darah dan pembentukan antibody (Aglutinin 3 kemudian di susul
oleh H dan !i) mulai terjadi lebih akti0. ;ila kemudian oleh karena
pengobatan penderita sembuh, maka kadar Ab dalam darah akan di
pertahankan selama beberapa bulan, untuk selanjutnya menurun se*ara
perlahan. ;iasanya aglutinin 3 menghilang terlebih dahulu yang diikuti oleh
agglutinin H dan !i (Handojo, 1"#2).
I+/ KESIM&(LAN DAN SARAN
A/ Kesim#ulan
-esimpulan yang didapat dari praktikum kali ini adalah $
1. 6es Widal merupakan tes aglutinasi yang digunakan dalam diagnosis
serologi penyakit demam typhoid atau demam enterik.
2. +erum darah dengan pengen*eran 14#0 diperoleh hasil positi0, menandakan
bah&a penderita positi0 pernah terin0eksi Salmonella typhii.
B/ Saran
7ntuk praktikum selanjutnya bisa lebih tertib dan penjelasan lebih jelas lagi.
DA,'AR RE,ERENSI
D&ijoseputro. 1"#". Dasar5dasar ikrobiologi, Djambatan. alang.
Handojo, 'ndro. 1"#2. +erologi -linik. +urabaya $ Eakultas -edokteran. 7%A'..
Ca&etF, Drnest. 1""). ikrobiologi -edokteran. Cakarta $ DB=.
2ang, 6. 1""2 6yphoid Ee,er $ A =ontinuing 2roblem. +trategies 0or the "0Hs.
+ingapore $ World +*ienti0i*$152.
2el*Far and .eid. 1"1#. Dasar5Dasar ikrobiologi. Cakarta $ 7' 2ress.
+hukun, W. Iian, W. =onjia, =. Deshen, +. and Jianhua, W. 2011. !alue o0 a
single serum &idal agglutination test in diagnosis o0 paratyphoid 0e,er A.
'nternational .esear*h Cournal o0 ;io*hemistry and ;ioin0ormati*s ('++%5
22105""/1) !ol. 1(#) pp. 20"521/.
+oemarno. 2000. 'solasi dan 'denti0ikasi ;akteri -linis. Kogyakarta$ Akademi
Analis kesehatan Kogyakarta Departemen -esehatan .epublik 'ndonesia.
+oenarjo. 1"#". Dasar5dasar 'muno ;ioreproduksi pada He&an. Eakultas
2eternakan 7nsoed, 2ur&okerto. Cakarta.
!olk, W.A. and and Wheeler, . 6. 1""#. ;asi* i*obiology, (th Ddition.
Harper ==ollins 2ublisher 'n*, %e& Kork.
Wardana, '. . 6. %., Hera&ati, +. dan Kasa, '. W. 2. +. 2012. Diagnosis Demam
Thypoid dengan 2emeriksaan Widal. Eakultas -edokteran 7ni,ersitas
7dayana.
Wardhani. 2001. -emampuan 7ji 6abung Widal enggunakan Antigen 'mport
dan Antigen 9okal. 'ndonesian Cournal o0 =lini*al 2athology and edi*al
9aboratory, 12 (1) $ A15A(.
Widodo, D. 200". Demam ti0oid. Cilid '''. Ddisi ke51. Cakarta $ 'nterna 2ublishing.