Anda di halaman 1dari 3

Pergerakkan Mahasiswa + Biophiracy

LATAR BELAKANG
Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, sesuai dengan
konteks jamannya, haruslah memberikan kesimpulan apakah gerakan
tersebut, dalam orientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan
bersandar pada problem-problem dan kebutuhan struktural rakyat Indonesia.
Orientasi dan tindakan politik cermin daripada bagaimana mahasiswa
Indonesia memahami masyarakatnya, menentukan pemihakan pada rakyatnya
serta kecakapan merealisasinilai-nilai tujuan ideologinya. Gerakan
mahasiswa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh:
1) Perang-perang heroik dan patriotik didalam dan diluar negri; gerakan
petani pada abad 19 dan buruh diawal tahun 1920-an didalam dan diluar
negeri; pemberontakan-pemberontakan terhadapkolonialisme-imperialisme
Belanda; munculnya kekuatan partai-partai politik di tahun 20-an,
2) Penyebaran ideologi liberal, nasionalisme, komunisme, sosial-demokrat,
dan islam,
3) Kondisi ekonomi politik

1945
Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional
yang ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi, dan akibat
pengaruh sikap penguasa Belanda yang menjadi Liberal, muncul kebutuhan
baru untuk menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis
massa yang luas. Kelompok Studi Indonesia berubah menjadi Partai Bangsa
Indonesia (PBI), sedangkan Kelompok Studi Umum menjadi Perserikatan
Nasional Indonesia (PNI).
Secara umum kondisi pendidikan maupun kehidupan politik pada
zaman pemerintahan Jepang jauh lebih represif dibandingkan dengan
kolonial Belanda, antara lain dengan melakukan pelarangan terhadap segala
kegiatan yang berbau politik; dan hal ini ditindak lanjuti dengan
membubarkan segala organisasi pelajar dan mahasiswa, termasuk partai
politik, serta insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang
mengakibatkan mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.
Praktis, akibat kondisi yang vacuum tersebut, maka mahasiswa
kebanyakan akhirnya memilih untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan
berkumpul dan berdiskusi, bersama para pemuda lainnya terutama di asrama-
asrama. Tiga asrama yang terkenal dalam sejarah, berperan besar dalam
melahirkan sejumlah tokoh, adalah Asrama Menteng Raya, Asrama Cikini,
dan Asrama Kebon Sirih. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya menjadi cikal
bakal generasi 1945, yang menentukan kehidupan bangsa.
Salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus
gerakan kelompok bawah tanah yang antara lain dipimpin olehChairul
Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno
dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini
dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok.


Pasca Reformasi

Masa Habibie
Pasca reformasi, praktis gerakan mahasiswa mulai menemukan
polanya masing-masing. Gerakan mahasiswa yang tadinya sejalan dalam
menurunkan Soeharto kini mulai berguguran dan terpecah ke dalam dua
kelompok pada periode Habibie yaitu gerakan mahasiswa yang mendukung
Habibie dan gerakan mahasiswa yang tidak mendukung Habibie. Dengan
dorongan tuntutan reformasi rezim Habibie, pada bulan November diadakan
Sidang istimewa. Sepanjang Sidang Istimewa, mahasiswa melakukan
demonstrasi. Demonstrasi tersebut tidak dilakukan oleh mahasiswa sendiri
tetapi terhitung hingga ratusan ribu rakyat menolak Sidang Istimewa.
Puncaknya pada Sidang Istimewa terakhir terjadi tragedi Semanggi di mana
18 orang meninggal dunia, yang diantaranya tujuh mahasiswa. 253 orang
terluka sedang yang terluka oleh tembakan senjata api
Empat bulan sejak peristiwa Semanggi I, gerakan mahasiswa
mengalami penurunan dalam kuantitas peserta demonstrasi yang sangat
drastik. Dalam menghadapi Pemilu 1999, gerakan mahasiswa kembali
terpecah dalan tiga sikap. Pertama, mendukung pelaksanaan pemilu. Kedua,
gerakan mahasiswa yang mendukung pemilu dengan syarat. Ketiga, gerakan
mahasiswa yang tetap meneruskan isu-isu utama sebelumnya antara lain:
pengadilan Soeharto beserta kroni-kroninya, penghapusan KKN, pencabutan
Dwi Fungsi ABRI, dan pembentukan pemerintahan transisi.