Anda di halaman 1dari 14

SKENARIO 1

MATA DIOBATI MENJADI BUTA




1. MALPRAKTEK

Definisi
Malpraktik atau malpractice berasal dari kata mal yang berarti buruk dan
practiceyang berarti suatu tindakan atau praktik, dengan demikian malpraktek adalah
suatu tindakanmedis buruk yang dilakukan dokter/tenaga kesehatan
dalam hubungannya dengan pasien.
Malparaktik adalah setiap kesalahan profesional yang diperbuat oleh
dokter/tenagakesehatan pada waktu melakukan pekerjaan profesionalnya, tidak
memeriksa, tidak menilai,tidak berbuat atau meninggalkan hal-hal yang diperiksa,
dinilai, diperbuat atau dilakukanoleh dokter pada umumnya didalam situasi dan kondisi
yang sama.

Menurut Hoekema, 1981 malpraktik adalah setiap kesalahan yang diperbuat oleh
dokter karena melakukan pekerjaan kedokteran dibawah standar yang sebenarnya
secara rata-rata dan masuk akal, dapat dilakukan oleh setiap dokter dalam situasi atau
tempat yang sama,dan masih banyak lagi definisi tentang malparaktik yang telah
dipublikasikan.Kelalaian medik.

Jenis-Jenis Malpraktek
Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu malfeasance, misfeasance dan
nonfeasance:
Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hokum atau tidak
tepat/layak (unlawful atau improper), misalnya melakukan
tindakan medis tanpaindikasi yang memadai.
Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi
dilaksanakandengan tidak tepat (improper performance), yaitu misalnya
melakukan tindakan medisdengan menyalahi prosedur
Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban
baginya. Bentuk-bentuk kelalaian di atas sejalan dengan bentuk-bentuk error
(mistakes, slips and lapses), namun pada kelalaian harus memenuhi keempat
unsur kelalaian dalam hukum khususnya adanya kerugian, sedangkan error
tidak selalu mengakibatkan kerugian.

Demikian pula adanya latent error yang tidak secara langsung menimbulkan dampak
buruk .Suatu perbuatan atau sikap dokter atau dokter gigi dianggap lalai apabila
memenuhi empat unsur di bawah ini, yaitu:
Duty atau kewajiban dokter dan dokter gigi untuk melakukan sesuatu
tindakan atauuntuk tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap pasien
tertentu pada situasi dan kondisi yang tertentu.
Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban tersebut.
Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai
kerugian akibat dari layanan kesehatan/kedokteran yang diberikan oleh
pemberi layanan.
Direct causal relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. Dalam hal ini
harus terdapat hubungan sebab akibat antara penyimpangan kewajiban
dengan kerugian yang setidaknya merupakan proximate cause.

Berpijak pada hakekat malpraktek adalan praktik yang buruk atau tidak sesuai dengan
standar profesi yang telah ditetepkan, maka ada bermacam-macam malpraktek yang
dapat dipiah dengan mendasarkan pada ketentuan hukum yang dilanggar, walaupun
kadang kala sebutan malpraktek secara langsung bisa mencakup dua atau lebih jenis
malpraktek. Secara garis besar malprakltek dibagi dalam dua golongan besar yaitu mal
praktik medik (medical malpractice) yang biasanya juga meliputi malpraktik etik
(etichal malpractice) dan malpraktek yuridik (yuridical malpractice). Sedangkan
malpraktik yurudik dibagi menjadi tiga yaitu malpraktik perdata (civil malpractice),
malpraktik pidana (criminal malpractice) dan malpraktek administrasi Negara
(administrative malpractice).

Malpraktik Medik (medical malpractice)
John.D.Blum merumuskan: Medical malpractice is a form of professional negligence in
whice miserable injury occurs to a plaintiff patient as the direct result of an act or
omission by defendant practitioner. (malpraktik medik merupakan bentuk kelalaian
professional yang menyebabkan terjadinya luka berat pada pasien / penggugat sebagai
akibat langsung dari perbuatan ataupun pembiaran oleh dokter/terguguat).
Sedangkan rumusan yang berlaku di dunia kedokteran adalah Professional misconduct
or lack of ordinary skill in the performance of professional act, a practitioner is liable for
demage or injuries caused by malpractice. (Malpraktek adalah perbuatan yang tidak
benar dari suatu profesi atau kurangnya kemampuan dasar dalam melaksanakan
pekerjaan. Seorang dokter bertanggung jawab atas terjadinya kerugian atau luka yang
disebabkan karena malpraktik), sedangkan junus hanafiah merumuskan malpraktik
medik adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat keterampilan
dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang
yang terluka menurut lingkungan yang sama.

Malpraktik Etik (ethical malpractice)
Malpraktik etik adalah tindakan dokter yang bertentangan dengan etika kedokteran,
sebagaimana yang diatur dalam kode etik kedokteran Indonesia yang merupakan
seperangkat standar etika, prinsip, aturan, norma yang berlaku untuk dokter.

Malpraktik Yuridis (juridical malpractice)
Malpraktik yuridik adalah pelanggaran ataupun kelalaian dalam pelaksanaan profesi
kedokteran yang melanggar ketentuan hukum positif yang berlaku.
Malpraktik Yuridik meliputi:
Malpraktik perdata (civil malpractice)
Malpraktik perdata terjadi jika dokter tidak melakukan kewajiban (ingkar
janji) yaitu tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah
disepakati. Tindakan dokter yang dapat dikatagorikan sebagai malpraktik
perdata antara lain :
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan
b. Melakukan apa yang disepakati dilakukan tapi tidak sempurna
c. Melakukan apa yang disepakati tetapi terlambat
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatan tidak seharusnya dilakukan
Malpraktik Pidana (criminal malpractice)
Malpraktik pidana terjadi, jika perbuatan yang dilakukan maupun tidak
dilakukan memenuhi rumusan undang-undang hukum pidana. Perbuatan
tersebut dapat berupa perbuatan positif (melakukan sesuatu) maupun
negative (tidak melakukan sesuatu) yang merupakan perbuatan tercela
(actus reus), dilakukan dengan sikap batin yang slah (mens rea) berupa
kesengajaan atau kelalauian. Contoh malpraktik pidana dengan sengaja
adalah :
a. Melakukan aborsi tanpa tindakan medik
b. Mengungkapkan rahasia kedi\okteran dengan sengaja
c. Tidak memberikan pertolongan kepada seseorang yang dalam keadaan
darurat
d. Membuat surat keterangan dokter yang isinya tidak benar
e. Membuat visum et repertum tidak benar
f. Memberikan keterangan yang tidak benar di pengadilan dalan kapasitasnya
sebagai ahli

Contoh malpraktik pidana karena kelalaian:
a. Kurang hati-hati sehingga menyebabkan gunting tertinggal diperut
b. Kurang hati-hati sehingga menyebabkan pasien luka berat atau meninggal
c. Malpraktik Administrasi Negara (administrative malpractice)

Malpraktik administrasi terjadi jika dokter menjalankan profesinya tidak
mengindahkan ketentuan-ketentuan hukum administrasi Negara. Misalnya:
a. Menjalankan praktik kedokteran tanpa ijin
b. Menjalankan praktik kedokteran tidak sesuai dengan kewenangannya
c. Melakukan praktik kedokteran dengan ijin yang sudah kadalwarsa.
d. Tidak membuat rekam medik.

Aspek Hukum dan Sanksi
1. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
2. Pasal 359 360 KUHP Pidana
Pasal 359 KUHP
Barang siapa karena kesalahan (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan
paling lama satu tahun
Pasal 360 KUHP
(1) Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-
luka bert, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan
paling lama satu tahun
(2) Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka
sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjadikan pekerjaan
jabatan atau pencarian selama waktu tertemtu, diancam dengan pidana penjara
paling lama Sembilan bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah.
3. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran




Pencegahan

Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan
Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga medis karena
adanya malpraktek diharapkan tenaga dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak
hati-hati, yakni:
Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya,
karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan
perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis).
Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.
Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala
kebutuhannya.
Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat
sekitarnya.



Upaya menghadapi tuntutan hukum
Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan sehingga
perawat menghadapi tuntutan hukum, maka tenaga kesehatan seharusnyalah bersifat
pasif dan pasien atau keluarganyalah yang aktif membuktikan kelalaian tenaga
kesehatan.

Apabila tuduhan kepada kesehatan merupakan criminal malpractice, maka tenaga
kesehatan dapat melakukan :
Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/ menyangkal
bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada
doktrin-doktrin yang ada, misalnya perawat mengajukan bukti bahwa yang
terjadi bukan disengaja, akan tetapi merupakan risiko medik (risk of
treatment), atau mengajukan alasan bahwa dirinya tidak mempunyai sikap
batin (men rea) sebagaimana disyaratkan dalam perumusan delik yang
dituduhkan.
Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan atau
menunjuk pada doktrin-doktrin hukum, yakni dengan menyangkal tuntutan
dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau melakukan
pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung jawaban, dengan
mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah pengaruh daya paksa.

Berbicara mengenai pembelaan, ada baiknya perawat menggunakan jasa penasehat
hukum, sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan kepadanya.

Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana perawat digugat
membayar ganti rugi sejumlah uang, yang dilakukan adalah mementahkan dalil-dalil
penggugat, karena dalam peradilan perdata, pihak yang mendalilkan harus
membuktikan di pengadilan, dengan perkataan lain pasien atau pengacaranya harus
membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa tergugat (perawat) bertanggung jawab
atas derita (damage) yang dialami penggugat.

Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah, utamanya tidak
diketemukannya fakta yang dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur), apalagi untuk
membuktikan adanya tindakan menterlantarkan kewajiban (dereliction of duty) dan
adanya hubungan langsung antara menterlantarkan kewajiban dengan adanya rusaknya
kesehatan (damage), sedangkan yang harus membuktikan adalah orang-orang awam
dibidang kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan tenaga perawatan.


2. INFORMED CONSENT

Definisi
Informed Consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh pasien
atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai
tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.Persetujuan yang
ditanda tangani oleh pasien atau keluarga terdekatnya tersebut, tidak membebaskan
dokter dari tuntutan jika dokter melakukan kelalaian. Tindakan medis yangdilakukan
tanpa persetujuan pasien atau keluarga terdekatnya, dapat digolongkan sebagai
tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351.
Informasi/keterangan yang wajib diberikan sebelum suatu tindakan kedokteran
dilaksanakan adalah:
Diagnosa yang telah ditegakkan.
Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan.
Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut.
Resiko resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan
kedokteran tersebut.
Konsekwensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif
cara pengobatan yang lain.
Kadangkala biaya yang menyangkut tindakan kedokteran tersebut.

BENTUK INFORMED CONSENT
Implied Constructive Consent (Keadaan Biasa)
Tindakan yang biasa dilakukan, telah diketahui, telah dimengerti oleh
masyarakat umum, sehingga tidak perlu lagi dibuat tertulis. Misalnya
pengambilan darah untuk laboratorium, suntikan, atau hecting luka terbuka.
Implied Emergency Consent (Keadaan Gawat Darurat)
Bila pasien dalam kondiri gawat darurat sedangkan dokter perlu melakukan
tindakan segera untuk menyelematkan nyawa pasien sementara pasien dan
keluarganya tidak bisa membuat persetujuan segera. Seperti kasus sesak
nafas, henti nafas, henti jantung.
Expressed Consent (Bisa Lisan/Tertulis Bersifat Khusus)
Persetujuan yang dinyatakan baik lisan ataupun tertulis, bila yang akan
dilakukan melebihi prosedur pemeriksaan atau tindakan biasa. Misalnya
pemeriksaan vaginal, pencabutan kuku, tindakan pembedahan/operasi,
ataupun pengobatan/tindakan invasive.

Tujuan
Tujuan dari informed consent adalah agar pasien mendapat informasi yang cukup untuk
dapat mengambil keputusan atas terapi yang akan dilaksanakan. Informed consent juga
berarti mengambil keputusan bersama. Hak pasien untuk menentukan nasibnya dapat
terpenuhi dengan sempurna apabila pasien telah menerima semua informasi yang ia
perlukan sehingga ia dapat mengambil keputusan yang tepat. Kekecualian dapat dibuat
apabila informasi yang diberikan dapat menyebabkan guncangan psikis pada pasien.

Dokter harus menyadari bahwa informed consent memiliki dasar moral dan etik yang
kuat. Menurut American College of Physicians Ethics Manual, pasien harus mendapat
informasi dan mengerti tentang kondisinya sebelum mengambil keputusan. Berbeda
dengan teori terdahulu yang memandang tidak adanya informed consent menurut
hukum penganiayaan, kini hal ini dianggap sebagai kelalaian. Informasi yang diberikan
harus lengkap, tidak hanya berupa jawaban atas pertanyaan pasien.

Manfaat
Informed Consent bermanfaat untuk :
Melindungi pasien terhadap segala tindakan medik yang dilakukan tanpa
sepengetahuan pasien. Misalnya tindakan medik yang tidak perlu atau tanpa
indikasi, penggunaan alat canggih dengan biaya tinggi dsbnya.
Memberikan perlindungan hukum bagi dokter terhadap akibat yang tidak
terduga dan bersifat negatif. Misalnya terhadap resiko pengobatan yang tidak
dapat dihindari walaupun dokter telah bertindak seteliti mungkin.

Dengan adanya informed consent maka hak autonomy perorangan di kembangkan,
pasien dan subjek dilindungi, mencegah terjadinya penipuan atau paksaan, merangsang
profesi medis untuk mengadakan introspeksi, mengajukan keputusan-keputusan yang
rasional dan melibatkan masyarakat dalam memajukan prinsip autonomy sebagai suatu
nilai sosial serta mengadakan pengawasan dalam penelitian biomedik.

Persetujuan
Bentuk persetujuan atau penolakan
Rumah sakit memiliki tugas untuk menjamin bahwa informed consent sudah didapat.
Istilah untuk kelalaian rumah sakit tersebut yaitu fraudulent concealment. Pasien
yang akan menjalani operasi mendapat penjelasan dari seorang dokter bedah namun
dioperasi oleh dokter lain dapat saja menuntut malpraktik dokter yang tidak
mengoperasi karena kurangnya informed consent dan dapat menuntut dokter yang
mengoperasi untuk kelanjutannya.
Bentuk persetujuan tidaklah penting namun dapat membantu dalam persidangan
bahwa persetujuan diperoleh. Persetujuan tersebut harus berdasarkan semua elemen
dari informed consent yang benar yaitu pengetahuan, sukarela dan kompetensi.
Beberapa rumah sakit dan dokter telah mengembangkan bentuk persetujuan yang
merangkum semua informasi dan juga rekaman permanen, biasanya dalam rekam
medis pasien. Format tersebut bervariasi sesuai dengan terapi dan tindakan yang akan
diberikan. Saksi tidak dibutuhkan, namun saksi merupakan bukti bahwa telah dilakukan
informed consent. Informed consent sebaiknya dibuat dengan dokumentasi naratif yang
akurat oleh dokter yang bersangkutan.

Otoritas untuk memberikan persetujuan
Seorang dewasa dianggap kompeten dan oleh karena itu harus mengetahui terapi yang
direncanakan. Orang dewasa yang tidak kompeten karena penyakit fisik atau kejiwaan
dan tidak mampu mengerti tentu saja tidak dapat memberikan informed consent yang
sah. Sebagai akibatnya, persetujuan diperoleh dari orang lain yang memiliki otoritas
atas nama pasien. Ketika pengadilan telah memutuskan bahwa pasien inkompeten, wali
pasien yang ditunjuk pengadilan harus mengambil otoritas terhadap pasien.
Persetujuan pengganti ini menimbulkan beberapa masalah. Otoritas seseorang
terhadap persetujuan pengobatan bagi pasien inkompeten termasuk hak untuk
menolak perawatan tersebut. Pengadilan telah membatasi hak penolakan ini untuk
kasus dengan alasan yang tidak rasional. Pada kasus tersebut, pihak dokter atau rumah
sakit dapat memperlakukan kasus sebagai keadaan gawat darurat dan memohon pada
pengadilan untuk melakukan perawatan yang diperlukan. Jika tidak cukup waktu untuk
memohon pada pengadilan, dokter dapat berkonsultasi dengan satu atau beberapa
sejawatnya.
Jika keluarga dekat pasien tidak setuju dengan perawatan yang direncanakan atau jika
pasien, meskipun inkompeten, mengambil posisi berlawanan dengan keinginan
keluarga, maka dokter perlu berhati-hati. Terdapat beberapa indikasi dimana
pengadilan akan mempertimbangkan keinginan pasien, meskipun pasien tidak mampu
untuk memberikan persetujuan yang sah. Pada kebanyakan kasus, terapi sebaiknya
segera dilakukan;
jika keluarga dekat setuju,
jika memang secara medis perlu penatalaksanaan segera,
jika tidak ada dilarang undang-undang.
Cara terbaik untuk menghindari risiko hukum dari persetujuan pengganti bagi pasien
dewasa inkompeten adalah dengan membawa masalah ini ke pengadilan.

Kemampuan memberi perijinan
Perijinan harus diberikan oleh pasien yang secara fisik dan psikis mampu memahami
informasi yang diberikan oleh dokter selama komunikasi dan mampu membuat
keputusan terkait dengan terapi yang akan diberikan. Pasien yang menolak diagnosis
atau tatalaksana tidak menggambarkan kemampuan psikis yang kurang. Paksaan tidak
boleh digunakan dalam usaha persuasif. Pasien seperti itu membutuhkan wali biasanya
dari keluarga terdekat atau yang ditunjuk pengadilan untuk memberikan persetujuan
pengganti.
Jika tidak ada wali yang ditunjuk pengadilan, pihak ketiga dapat diberi kuasa untuk
bertindak atas nama pokok-pokok kekuasaan tertulis dari pengacara. Jika tidak ada wali
bagi pasien inkompeten yang sebelumnya telah ditunjuk oleh pengadilan, keputusan
dokter untuk memperoleh informed consent diagnosis dan tatalaksana kasus bukan
kegawatdaruratan dari keluarga atau dari pihak yang ditunjuk pengadilan tergantung
kebijakan rumah sakit. Pada keadaan dimana terdapat perbedaan pendapat diantara
anggota keluarga terhadap perawatan pasien atau keluarga yang tidak dekat secara
emosional atau bertempat tinggal jauh, maka dianjurkan menggunakan laporan legal
dan formal untuk menentukan siapa yang dapat memberikan perijinan bagi pasien
inkompeten.
Pihak Yang Berhak Menyatakan Persetujuan:
1. Pasien sendiri (bila telah berumur 21 tahun atau telah menikah)
2. Bagi pasien di bawah umur 21 tahun diberikan oleh mereka menurut hak
sebagai berikut: (1) Ayah/ibu kandung, (2) Saudara-saudara kandung.
3. Bagi yang di bawah umur 21 tahun dan tidak mempunyai orang tua atau orang
tuanya berhalangan hadir diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai
berikut: (l) Ayah/ibu adopsi, (2) Saudara-saudara kandung, (3) Induk semang.
4. Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, diberikan oleh mereka menurut
urutan hak sebagai berikut: (1) Ayah/ibu kandung, (2) Wali yang sah, (3)
Saudara-saudara kandung.
5. Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampuan (curatelle), diberikan
menurut urutan hak sebagai berikut: (1) Wali, (2) Curator.
6. Bagi pasien dewasa yang telah menikah/orang tua, diberikan oleh mereka
menurut urutan hak sebagai berikut: a. Suami/istri, b. Ayah/ibu kandung, c.
Anak-anak kandung, d. Saudara-saudara kandung.

Wali: yang menurut hukum menggantikan orang lain yang belum dewasa untuk
mewakilinya dalam melakukan perbuatan hukum atau yang menurut hukum
menggantikan kedudukan orang tua. Induk semang : orang yang berkewajiban untuk
mengawasi serta ikut bertanggung jawab terhadap pribadi orang lain seperti pimpinan
asrama dari anak perantauan atau kepala rumah tangga dari seorang pembantu rumah
tangga yang belum dewasa.



Isi
Dalam Permenkes No. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik dinyatakan
bahwa dokter harus menyampaikan informasi atau penjelasan kepada pasien /
keluarga diminta atau tidak diminta, jadi informasi harus disampaikan.
Mengenai apa yang disampaikan, tentulah segala sesuatu yang berkaitan dengan
penyakit pasien. Tindakan apa yang dilakukan, tentunya prosedur tindakan yang akan
dijalani pasien baik diagnostic maupun terapi dan lain-lain sehingga pasien atau
keluarga dapat memahaminya. Ini mencangkup bentuk, tujuan, resiko, manfaat dari
terapi yang akan dilaksanakan dan alternative terapi.
Secara umum dapat dikatakan bahwa semua tindakan medis yang akan dilakukan
terhadap pasien yang harus diinformasikan sebelumnya, namun izin yang harus
diberikan oleh pasien dapat berbagai macam bentuknya, baik yang dinyatakan ataupun
tidak. Yang paling untuk diketahui adalah bagaimana izin tersebut harus dituangkan
dalam bentuk tertulis, sehingga akan memudahkan pembuktiannya kelak bila timbul
perselisihan.
Secara garis besar dalam melakukan tindakan medis pada pasien, dokter harus
menjelaskan beberapa hal, yaitu:
Garis besar seluk beluk penyakit yang diderita dan prosedur perawatan /
pengobatan yang akan diberikan / diterapkan.
Resiko yang dihadapi, misalnya komplikasi yang diduga akan timbul.
Prospek / prognosis keberhasilan ataupun kegagalan.
Alternative metode perawatan / pengobatan.
Hal-hal yang dapat terjadi bila pasien menolak untuk memberikan
persetujuan.
Prosedur perawatan / pengobatan yang akan dilakukan merupakan suatu
percobaan atau menyimpang dari kebiasaan, bila hal itu yang akan dilakukan
Dokter juga perlu menyampaikan (meskipun hanya sekilas), mengenai cara
kerja dan pengalamannya dalam melakukan tindakan medis tersebut.

Informasi/keterangan yang wajib diberikan sebelum suatu tindakan kedokteran
dilaksanakan adalah:
o Diagnosa yang telah ditegakkan.
o Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan.
o Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut.
o Resiko resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan
kedokteran tersebut.
o Konsekwensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif
cara pengobatan yang lain.
o Kadangkala biaya yang menyangkut tindakan kedokteran tersebut.

Resiko resiko yang harus diinformasikan kepada pasien yang dimintakan persetujuan
tindakan kedokteran :
Resiko yang melekat pada tindakan kedokteran tersebut.
Resiko yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya.

Pengecualian terhadap keharusan pemberian informasi sebelum dimintakan
persetujuan tindakan kedokteran adalah:
Dalam keadaan gawat darurat (emergency), dimana dokter harus segera
bertindak untuk menyelamatkan jiwa.
Keadaan emosi pasien yang sangat labil sehingga ia tidak bisa menghadapi
situasi dirinya.Ini tercantum dalam PerMenKes no
290/Menkes/Per/III/2008.

KETENTUAN INFORMED CONSENT
Ketentuan persetujuan tidakan medik berdasarkan SK Dirjen Pelayanan Medik
No.HR.00.06.3.5.1866 Tanggal 21 April 1999, diantaranya :
1. Persetujuan atau penolakan tindakan medik harus dalam kebijakan dan
prosedur (SOP) dan ditetapkan tertulis oleh pimpinan RS.
2. Memperoleh informasi dan pengelolaan, kewajiban dokter
3. Informed Consent dianggap benar :
Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan untuk tindakan medis
yang dinyatakan secara spesifik.
Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan tanpa paksaan
(valuentery)
Persetujuan dan penolakan tindakan medis diberikan oleh seseorang
(pasien) yang sehat mental dan memang berhak memberikan dari segi
hukum
Setelah diberikan cukup (adekuat) informasi dan penjelasan yang diperlukan
4. Isi informasi dan penjelasan yang harus diberikan :
Tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis yang ada dilakukan
(purhate of medical procedure)
Tentang tata cara tindakan medis yang akan dilakukan (consenpleated
medical procedure)
Tentang risiko
Tentang risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
Tentang alternatif tindakan medis lain yang tersedia dan risiko risikonya
(alternative medical procedure and risk)
Tentang prognosis penyakit, bila tindakan dilakukan
Diagnosis
5. Kewajiban memberi informasi dan penjelasan
Dokter yang melakukan tindakan medis tanggung jawab
Berhalangan diwakilkan kepada dokter lain, dengan diketahui dokter yang
bersangkutan
6. Cara menyampaikan informasi
Lisan
Tulisan
7. Pihak yang menyatakan persetujuan
Pasien sendiri, umur 21 tahun lebih atau telah menikah
Bagi pasien kurang 21 tahun dengan urutan hak :
Ayah/ibu kandung
Saudara saudara kandung
Bagi pasien kurang 21 tahun tidak punya orang tua/berhalangan, urutan hak
:
Ayah/ibu adopsi
Saudara-saudara kandung
Induk semang
Bagi pasien dengan gangguan mental, urutan hak :
Ayah/ibu kandung
Wali yang sah
Saudara-saudara kandung
Bagi pasien dewasa dibawah pengampuan (curatelle) :
Wali
Kurator
Bagi pasien dewasa telah menikah/orangtua
Suami/istri
Ayah/ibu kandung
Anak-anak kandung
Saudara-saudara kandung
8. Cara menyatakan persetujuan
Tertulis; mutlak pada tindakan medis resiko tinggi
Lisan; tindakan tidak beresiko
9. Jenis tindakan medis yang perlu informed consent disusun oleh komite medik
ditetapkan pimpinan RS.
10. Tidak diperlukan bagi pasien gawat darurat yang tidak didampingi oleh keluarga
pasien.
11. Format isian informed consent persetujuan atau penolakan
Diketahui dan ditandatangani oleh kedua orang saksi, perawat bertindak
sebagai salah satu saksi
Materai tidak diperlukan
Formulir asli harus dismpan dalam berkas rekam medis pasien
Formulir harus ditandatangan 24 jam sebelum tindakan medis dilakukan
Dokter harus ikut membubuhkan tanda tangan sebagai bukti telah diberikan
informasi
Bagi pasien/keluarga buta huruf membubuhkan cap jempol ibu jari tangan
kanannya
12. Jika pasien menolak tandatangan surat penolakan maka harus ada catatan pada
rekam medisnya.

Aspek Hukum dan Sanksi
1. Pasal 1320 KUHPerdata syarat syahnya persetujuan
o Sepakat mereka yang mengikatkan diri
o Kecakapan untuk berbuat suatu perikatan
o Suatu hal tertentu
o Suatu sebab yang halal
2. Pasal 1321 tiada sepakat yang syah apabila sepakat itu diberikan karena
kehilafan atau diperlukan dengan paksaan atau penipuan
3. KUHPidana pasal 351
o Penganiayaan dihukum dengan hukum penjara selama-lamanya dua
tahun delapan bulan.
o Menjadikan luka berat hukum selama-lamanya 5 tahun (KUHP 20)
o Membuat orang mati hukum selam-lamanya 7 tahun (KUHP 338)
4. UU No. 23/1992 tentang kesehatan pasal 53
o Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya
o Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk
mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien
o Hak pasien antara lain ; hak informasi, hak untuk memberikan
persetujuan, hak atas rahasia kedokteran dan hak atas pendapat kedua
(second opinion).
5. UU No. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 45 ayat (1), (2), (3), (4), (5,)
(6)
Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh
dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan
6. Permenkes No. 585/1989 tentang persetujuan tindakan medis
Dokter melakukan tindakan medis tanpa informed consent dari pasien atau
keluarganya saksi administratif berupa pencabutan surat ijin prakteknya.

3. MALPRAKTEK MENURUT ISLAM

Jika melakukan malpkraktek harus bertanggungjawab
Ulama sekaligus dokter terkenal di zamannya, Ibnu Qayyim Al-
Jauziyah rahimahullahu berkata,


Maka wajib mengganti rugi [bertanggung jawab] bagi dokter yang bodoh jika
melakukan praktek kedokteran dan tidak mengetahui/mempelajari ilmu kedokteran
sebelumnya [Thibbun Nabawi hal. 88, Al-Maktab Ats-Tsaqafi, Koiro]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi rahimahullahu berkata,


.

Tidak boleh bagi seseorang melakukan suatu praktek pekerjaan dimana ia tidak
mumpuni dalam hal tersebut. Demikian juga dengan praktek kedokteran dan lainnya.
Barangsiapa lancang melanggar maka ia berdosa. Dan apa yang ditimbulkan dari
perbuatannya berupa hilangnya nyawa dan kerusakan anggota tubuh atau sejenisnya,
maka ia harus bertanggung jawab. [Bahjah Qulubil Abrar hal. 155, Dar Kutub Al-
Ilmiyah, Beirut, cet-ke-1, 1423 H]

Al-khathabi rahimahullahu berkata


Saya tidak mengetahui adanya perselisihan dalam pengobatan apabila seseorang
melakukan kesalahan, sehingga menimbulkan mudharat pada pasien, maka ia harus
menanggung ganti rugi. Orang yang melakukan praktek [kedokteran] yang tidak
mengetahui ilmu dan terapannya, maka ia adalah orang yang melampui batas. Apabila
terjadi kerusakan akibat perbuatannya, maka ia harus bertanggung jawab dengan
mennganti diyat. [ [Thibbun Nabawi hal. 88, Al-Maktab Ats-Tsaqafi, Koiro]

Musibah tanpa malpraktek dan malpraktek tanpa musibah
Kedua istilah ini dikenal dalam kedokteran modern. Musibah tanpa malpraktek
misalnya,
Pasien meninggal dalam suatu operasi, walaupun dokter sudah melakukan segala cara
yang harus dilakukan sesuai dengan ilmu yang dipelajari dan pengalaman yang
diperoleh [Terhindar dari Malpraktek hal. 2, dr. Bahar sp.B onk, Kawan Pustaka, 2005]

Maka hal ini juga sudah ditegaskan dalam Islam, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-
Sadirahimahullahu berkata,


.

Dokter yang mahir, jika melakukan [praktek kedokteran] dan tidak melakukan
kesalahan, kemudian terjadi dalam prakteknya kerusakan/bahaya. Maka ia tidak harus
mengganti rugi. Karena ia mendapat izin dari pasien atau wali pasien. Dan segala
kerusakan yang timbul dalam perbuatan yang mendapat izin, maka tidak harus
mengganti rugi. [Bahjah Qulubil Abrar hal. 156, Dar Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, cet-ke-1,
1423 H]

Maksud mendapat izin yaitu ada ridha dari pasien bahwa ia mau diobati oleh dokter,
atau ia meminta dokter untuk melakukan pengobatan padanya. Hal ini diperkuat
dengan kaidah fiqhiyah.
,
Apa-apa [kerusakan] yang timbul dari sesuatu yang mendapat izin, maka tidak harus
mengganti rugi, dan kebalikannya [Al-Qawaaidul Ushuul Jaamiah hal. 21, Darul
Wathan, Riyadh, cet. Ke-2, 1422 H]

Malpraktek tanpa musibah misalnya, pasien diperiksa dengan berbagai alat canggih
berbiaya mahal. Walaupun tidak diperlukan. Maka hal ini juga dilarang dalam Islam,
karena sebaiknya kita memperlakukan seseorang sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,


Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman sehingga ia mencintai saudaranya
seperti mencintai dirinya sendiri.[HR. Bukhari-Muslim]

Rincian malpraktek
Bahkan kesalahan dan ganti rugi dengan rinci dijelaskan oleh ulama Islam. Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah rahimahullahu merincinya ada lima pembagian:

1. Dokter yang mahir, melakukan praktek sesuai standar dan tidak melakukan
kecerobohan
Kemudian terjadi efek yang kurang baik bagi pasien, maka ia tidak harus bertanggung
jawab dengan mengganti.
Kami [penulis] beri contoh kasus disaat ini, misalnya pasien mendapat obat dari dokter,
kemudian dokter sudah bertanya apakah ia mempunyai alergi dengan obat tertentu,
maka pasien menjawab tidak tahu, kemudia dokter menjelaskan bisa jadi terjadi alergi.
Kemudian pasien memilih menggunakan obat tersebut. Kemudian terjadi alergi berupa
gatal-gatal pada pasien tersebut. Maka dokter tidak wajib mengganti kerugian.
Alasannya lainnya juga karena kita tidak tahu apakah ia alergi obat apa tidak, karena
ketahuan hanya jika sudah dicoba mengkonsumsi.

2. Dokter yang bodoh dan melakukan praktek kedokteran
Kemudian terjadi bahaya bagi pasien, maka dokter wajib bertanggung jawab atau ganti
rugi berupa diyat.
Kami [penulis] beri contoh kasus disaat ini, misalnya mahasiswa kedokteran yang
masih belajar [co-aas] melakukan praktek kemudian terjadi kesalahan yang merugikan
pasien maka ia wajib bertaggung jawab.

3. dokter yang mahir, mendapatkan izin, kemudian melakukan kecerobohan.
Maka ia wajib bertanggung jawab, akan tetapi ada perselisihan dalam penggantian
diyat, bisa jadi dari harta dokter ataupun dari baitul mal [kas negara].
Kami [penulis] beri contoh kasus disaat ini, misalnya dokter bedah ketika membedah,
pisau bedah tertinggal diperut pasien, kemudian perut pasien rusak, maka dokter bedah
wajib bertanggung jawab.

4. dokter yang mahir, berijtihad memberikan suatu resep obat, kemudian ia salah dalam
ijtihadnya
Maka ia wajib bertanggung jawab dan ada dua pendapat tentang harta pengganti, bisa
dari baitul mal [kas negara] atau harta keluarganya.

5. dokter yang mahir, melakukan pengobatan kepada anak kecil atau orang gila tanpa
izinya teta[i mendapat izin walinya
Kemudian terjadi kerusakan/bahaya bagi pasien maka ganti rugi dirinci, jika ia
melakukan kecorobohan, maka ia wajib mengganti jika tidak maka tidak perlu
mengganti.
[lihat Thibbun Nabawi hal. 88-90, Al-Maktab Ats-Tsaqafi, Koiro]