Anda di halaman 1dari 129

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN
KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2008

Nomor : 38a/HP/XIV/4/2009
Tanggal : 30 April 2009
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI..................................................................................................... i
SISTEMATIKA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN
KEUANGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN
ii
2008 ...................................................................................................................
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN ....... 1
LAPORAN KEUANGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK
INDONESIA TAHUN 2008
1 NERACA
2 LAPORAN REALISASI ANGGARAN
3 CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN......................................................... 4

BPK LHP – LK Polri Tahun 2008 i


SISTEMATIKA
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS
LAPORAN KEUANGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2008

Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia Tahun 2008
terdiri dari 3 (tiga) laporan sebagai berikut:
1. Laporan I: Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Laporan I berisi (a) Hasil Pemeriksaan yang memuat opini BPK-RI atas kewajaran Laporan
Keuangan Kepolisian Negara RI Tahun 2008, (b) Gambaran umum pemeriksaan yang berisi
dasar hukum pemeriksaan, tujuan pemeriksaan, sasaran pemeriksaan, standar pemeriksaan,
metode pemeriksaan, waktu pemeriksaan, obyek pemeriksaan, dan batasan pemeriksaan,
dan (c) Laporan Keuangan Kepolisian Negara RI Tahun 2008
2. Laporan II: Laporan Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern
Laporan II berisi (a) Resume hasil pemeriksaan, dalam pencatatan dan pelaporan keuangan
instansi, (b) Tindak lanjut temuan pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern (SPI) Tahun
2005,2006, dan 2007 (c) Temuan pemeriksaan SPI Tahun 2008.
3. Laporan III: Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-
Undangan
Laporan III berisi (a) Resume hasil pemeriksaan, (b) Tindak lanjut temuan pemeriksaan
kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan Tahun 2005, 2006, dan 2007 (c)
Temuan pemeriksaan kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan Tahun 2008.

BPK LHP – LK Polri Tahun 2008 ii


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

01 Berdasarkan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
Undang-Undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah menerbitkan Surat
Tugas No.07/ST/III-XIV.2/02/2009 tanggal 6 Februari 2009 untuk memeriksa. Laporan
Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia.tahun 2008. Laporan Keuangan tersebut
terdiri dari Neraca per 31 Desember 2008 dan 2007, Laporan Realisasi Anggaran untuk
Periode Tahun 2008, serta Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan Keuangan tersebut
merupakan tanggung jawab Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.
02 Sebagaimana dijelaskan dalam Catatan C.2.2 atas Laporan Keuangan Polri Tahun 2008, Polri
melaporkan saldo aset tetap per 31 Desember 2008 sebesar Rp69.880 milyar atau 98.86%
dari nilai total aset. Saldo aset tetap yang disajikan dalam Neraca tersebut disusun secara
manual berdasarkan rekapitulasi laporan Biro Logistik (Rolog) Polda dan Staf Deputi
Logistik (Sdelog) Polri karena Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN) belum
sepenuhnya berjalan. Beberapa permasalahan terkait dengan pencatatan dan pelaporan aset
tetap antara lain: (1) Inventarisasi dan revaluasi aset tetap belum sepenuhnya dilaksanakan,
dimana dari total 31 Polda baru 14 Polda (45,16%) yang telah melaksanakan inventarisasi
bersama DJKN Departemen Keuangan dengan nilai koreksi sebesar Rp1,78 trilyun,
sedangkan untuk Satker Mabes dari total 50 satker, baru 33 satker (66%) yang telah
melaksanakan inventarisasi dengan nilai koreksi sebesar Rp102 milyar, (2) Hasil
inventarisasi aset tetap oleh DJKN Depkeu belum dimanfaatkan dalam penyusunan Laporan
BMN dan Neraca Polri, sehingga masih banyak aset Polri yang belum dilaporkan/belum
disajikan dengan akurat di Neraca per 31 Desember 2008, (3) Rekonsiliasi antara UAKPA
dengan UAKPB belum berjalan dengan optimal, sehingga masih ditemukan adanya
perbedaan nilai aset tetap yang dilaporkan di Neraca Satker dengan Laporan BMN satker
yang sulit ditelusuri, (4) Perbedaan nilai antara saldo aset tetap neraca UAPPA-W (Polda)
dengan gabungan Neraca UAKPA (satker), (5) Polri tidak memiliki prosedur/mekanisme
pengendalian khusus untuk pencatatan kapitalisasi nilai pemeliharaan aset tetap pada
SIMAK-BMN.
Karena berbagai kelemahan sistem pengendalian intern tersebut BPK RI tidak dapat
menerapkan prosedur pemeriksaan lainnya untuk memperoleh keyakinan yang memadai atas
kewajaran penyajian aset tetap.
03 Sebagaimana dijelaskan dalam Catatan C.2.1.4 atas Laporan Keuangan Polri Tahun 2008,
Polri melaporkan saldo persediaan per 31 Desember 2008 sebesar Rp775 milyar atau 1,10%
dari nilai total aset. Persediaan tersebut terdiri atas persediaan peralatan/bahan habis pakai

BPK LHP – LK Polri Tahun 2008 1


berupa material SIM, STNK, STCK, BPKB, plat TNKB, amunisi, dan obat-obatan. Nilai
Persediaan yang disajikan dalam Neraca tersebut didasarkan pada kompilasi laporan manual
Biro Logistik (Rolog) Polda dan Staf Deputi Logistik (Sdelog) Polri. Hasil pemeriksaan uji
petik terhadap satker-satker pada jajaran Mabes Polri dan Polda menunjukkan beberapa
permasalahan antara lain: (1) Belum seluruh satker melaporkan nilai persediaan yang dimiliki
secara lengkap, (2) Hampir seluruh satker di jajaran Polri tidak melakukan pencatatan
persediaan secara memadai, antara lain ditunjukkan dengan tidak adanya buku persediaan,
kartu stock barang, (3) Laporan Persediaan pada akhir tahun 2008 disusun tanpa didahului
dengan stock opname (perhitungan fisik persediaan) per 31 Desember 2008 yang dituangkan
dalam Laporan/Berita Acara Hasil Stock Opname Persediaan, (4) Nilai persediaan obat-
obatan dan alkes habis pakai tidak valid karena sebagian persediaan obat belum dilaporkan
(hanya diukur kuantumnya tanpa disertai dengan nilai rupiahnya), belum mencakup
persediaan obat-obatan dan alkes habis pakai yang dikelola oleh Apotik Rumah Sakit serta
poliklinik-poliklinik yang ada di Polres, dan belum mencakup persediaan berupa bahan baku
obat dan obat hasil produksi yang belum didistribusikan, (5) Persediaan materiil SSB hasil
pengadaan tahun 2008 yang belum didistribusikan ke satwil-satwil tidak dicatat ke dalam
Laporan persediaan, (6) Penilaian persediaan Kaporlap tidak didasarkan harga perolehan
barang yang terakhir (FIFO) melainkan didasarkan pada harga perolehan saat barang
persediaan tersebut masuk (historical cost).
Karena berbagai kelemahan sistem pengendalian intern tersebut BPK RI tidak dapat
menerapkan prosedur pemeriksaan lainnya untuk memperoleh keyakinan yang memadai atas
kewajaran penyajian persediaan.
04 Selain melaksanakan penatausahaan BMN, Polri juga mengelola barang bukti yang terkait
dengan fungsi penegakan hukum. Pengujian atas mekanisme pengelolaan barang bukti
menunjukkan bahwa sistem pengendalian intern pengelolaan barang bukti di lingkungan
Polri belum memadai. Hal ini ditandai dengan: (1) Belum seluruh satuan reserse dan kriminal
di jajaran Polri melakukan penatausahaan/pencatatan atas barang bukti yang diperoleh/disita
dalam suatu proses penyidikan, (2) Tidak adanya petugas khusus yang ditunjuk untuk
menyimpan barang bukti serta tidak adanya ruangan khusus untuk menyimpan barang bukti,
(3) Daftar barang bukti yang ada di Bareskrim Polri tidak mencakup data-data mengenai
barang bukti yang ada di Ditreskrim Polda-Polda dan Satreskrim Polres-Polres, (4)
Keterangan mengenai barang-barang bukti yang dikelola di jajaran Polri belum diungkapkan
dalam Catatan atas Laporan Keuangan Polri Tahun 2008. Pengelolaan barang bukti
merupakan bagian dari keuangan negara sehingga dapat berdampak timbulnya potensi
kewajiban bagi negara jika terdapat penyimpangan dalam tata kelolanya.
05 Sebagaimana dijelaskan dalam catatan D.2 atas Laporan Keuangan Polri Tahun 2008, selain
mengelola dana APBN, Polri juga mengelola dana Non APBN yang tersimpan dalam
beberapa rekening dengan saldo per 31 Desember 2008 senilai Rp223,031 milyar. Saldo
tersebut merupakan kompilasi dari laporan dana non APBN yang dikelola Pusku dan Bidku
Polda-Polda. Penilaian SPI pencatatan dan pelaporan dana-dana tersebut di Pusku
menunjukkan bahwa Pusku tidak melakukan verifikasi atas kebenaran penerimaan dan
penggunaan dana-dana dan tidak memiliki mekanisme untuk menguji kelengkapan laporan
dari sattama kewilayahan (Polda).
Karena kelemahan sistem pengendalian intern tersebut BPK RI tidak dapat menerapkan

BPK LHP – LK Polri Tahun 2008 2


prosedur pemeriksaan lainnya untuk memperoleh keyakinan yang memadai atas kewajaran
penyajian dana non APBN.
06 Karena permasalahan yang diuraikan dalam paragraf 02 sampai dengan 05 dan BPK tidak
dapat melakukan prosedur lain, lingkup pemeriksaan BPK tidak cukup memungkinkan untuk
menyatakan pendapat, dan BPK tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan Polri.
07 Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap ketentuan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem
Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-undangan
disajikan dalam Laporan 38b/HP/XIV/04/08 tanggal 30 April 2009 dan Nomor
38c/HP/XIV/04/08 tanggal 30 April 2009, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
laporan ini.

BPK LHP – LK Polri Tahun 2008 3


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN KEUANGAN
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2008

BPK LHP – LK Polri Tahun 2008 4


LAPORAN KEUANGAN (AUDITED)

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

TAHUN 2008
1. LAPORAN REALISASI ANGGARAN

LAPORAN REALISASI ANGGARAN


KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PER 31 DESEMBER 2008
(dalam rupiah)
REALISASI
DIATAS % REAL.
URAIAN Ref Anggaran Realisasi
(DIBAWAH) ANGG.
ANGGARAN
1 2 3 4 5 6

A. PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH B.1.1

A.1 PENERIMAAN DALAM NEGERI 1,525,322,457,000 1,723,093,118,476 197,770,661,476 112.97%

A.1.a Penerimaan Negara Bukan Pajak B.1.1 1,525,322,457,000 1,723,093,118,476 197,770,661,476 112.97%
JUMLAH PENDAPATAN DAN HIBAH 1,525,322,457,000 1,723,093,118,476 197,770,661,476 112.97%
(A.1+A.2)

B. BELANJA
BELANJA NEGARA (B.1.1 + B.1.2 +
B.1 B.1.2
B.1.3)
B.1.a Belanja Pegawai 107.69%
14,192,538,531,000 15,283,370,025,717 1,090,831,494,717
B.1.b Belanja Barang 93.30%
5,325,223,111,000 4,968,523,092,083 (356,700,018,917)
B.1.c Belanja Modal 50.25%
1,687,703,365,000 848,066,674,393 (839,636,690,607)

JUMLAH BELANJA (B.1.a + B.1.b +


99.50%
B.1.c) 21,205,465,007,000 21,099,959,792,193 (105,505,214,807)
 

 
2. NERACA

NERACA
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PER 31 DESEMBER 2008
(dalam rupiah)
JUMLAH Kenaikan (Penurunan)
NAMA PERKIRAAN Ref.
2008 (audited) 2007 (audited) Jumlah %
1 2 3 4 5
C.2
ASET
ASET LANCAR C.2.1
Kas di Bendahara Pengeluaran C.2.1.1 6,447,790,456 78,512,750,048 (72,064,959,592) (91.79)
Kas di Bendahara Penerimaan C.2.1.2 22,498,919,402 38,181,921,707 (15,683,002,305) (41.07)
Piutang Bukan Pajak C.2.1.3 4,122,882,330 - 4,122,882,330 -
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi C.2.1.3 62,046,772 45,594,238 16,452,534 36.08
Persediaan C.2.1.4 764,035,950,048 437,011,904,156 327,024,045,892 74.83
JUMLAH ASET LANCAR 797,167,589,008 553,752,170,149 243,415,418,859 43.96

ASET TETAP C.2.2


Tanah C.2.2.1 28,799,914,598,816 32,199,237,635,374 (3,399,323,036,558) (10.56)
Peralatan dan Mesin C.2.2.2 14,081,896,117,347 35,833,523,963,308 (21,751,627,845,961) (60.70)
Gedung dan Bangunan C.2.2.3 27,056,999,583,200 20,505,985,440,302 6,551,014,142,898 31.95
Jalan, Irigasi dan Jaringan C.2.2.4 334,191,997,153 235,694,286,476 98,497,710,677 41.79
Aset Tetap Lainnya C.2.2.5 62,912,998,138 40,288,214,935 22,624,783,203 56.16
Konstruksi Dalam Pengerjaan C.2.2.6 477,907,955,886 117,639,225,000 360,268,730,886 306.25
JUMLAH ASET TETAP 70,813,823,250,540 88,932,368,765,395 (18,118,545,514,855) (20.37)

ASET LAINNYA C.2.3


Tagihan Tuntutan Perbendaharaan / C.2.3.1
247,670,720 215,276,488 32,394,232 15.05
Tuntutan Ganti Rugi
Aset Lain-lain C.2.3.1 3,521,493,000 - 3,521,493,000 -
JUMLAH ASET LAINNYA 3,769,163,720 215,276,488 3,553,887,232 1,650.85
JUMLAH ASET 71,614,760,003,268 89,486,336,212,032 (17,871,576,208,764) (19.97)

KEWAJIBAN
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK C.2.4
Utang kepada pihak ketiga C.2.4.1 208,577,944,182 16,557,102,589 192,020,841,593 1,159.75
Uang Muka dari KPPN C.2.4.2 6,447,790,456 78,512,750,048 (72,064,959,592) (91.79)
Pendapatan yang Ditangguhkan C.2.4.3 22,498,919,402 38,181,921,707 (15,683,002,305) (41.07)
JUMLAH KEWAJIBAN
237,524,654,040 133,251,774,344 104,272,879,696 78.25
JANGKA PENDEK
JUMLAH KEWAJIBAN 237,524,654,040 133,251,774,344 104,272,879,696 78.25
JUMLAH Kenaikan (Penurunan)
NAMA PERKIRAAN Ref.
2008 (audited) 2007 (audited) Jumlah %
1 2 3 4 5

EKUITAS DANA
EKUITAS DANA LANCAR C.2.5
Cadangan Piutang C.2.5.1 4,184,929,102 45,594,238 4,139,334,864 9,078.64
Cadangan Persediaan C.2.5.2 764,035,950,048 437,011,904,156 327,024,045,892 74.83
Dana yang harus disediakan untuk C.2.5.3
(208,577,944,182) (16,557,102,589) (192,020,841,593) 1,159.75
pembayaran Utang Jk Pendek
JUMLAH EKUITAS
559,642,934,968 420,500,395,805 139,142,539,163 33.09
DANA LANCAR

EKUITAS DANA INVESTASI C.2.6


Diinvestasikan Dalam Aset Tetap C.2.6.1 70,813,823,250,540 88,932,368,765,395 (18,118,545,514,855) (20.37)
Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya C.2.6.2 3,769,163,720 215,276,488 3,553,887,232 1,650.85
JUMLAH EKUITAS DANA
70,817,592,414,260 88,932,584,041,883 (18,114,991,627,623) (20.37)
INVESTASI
JUMLAH EKUITAS DANA 71,377,235,349,228 89,353,084,437,688 (17,975,849,088,460) (20.12)
JUMLAH KEWAJIBAN
71,614,760,003,268 89,486,336,212,032 (17,871,576,208,764) (19.97)
DAN EKUITAS DANA

3. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) menguraikan dasar hukum, metodologi penyusunan
Laporan Keuangan, dan kebijakan akuntansi yang diterapkan. Selain itu, dalam CaLK
dikemukakan penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan yang memadai.
Dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran, pendapatan, dan belanja diakui berdasarkan basis
kas, yaitu pada saat kas diterima atau dikeluarkan oleh dan dari Kas Umum Negara (KUN).
Sementara itu, dalam penyajian Neraca, aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui berdasarkan
basis akrual, yaitu pada saat diperolehnya hak atas aset dan timbulnya kewajiban tanpa
memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dikeluarkan oleh dan
dari KUN.
Dalam CaLK ini diungkapkan pula kejadian penting setelah tanggal pelaporan keuangan serta
informasi tambahan yang diperlukan.

A. Penjelasan Umum

A.1. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;


2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan
Kinerja Instansi Pemerintah;
6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 Tentang Pedoman
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
7. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK.05/2007
tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat;
8. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER 51 /PB/ tahun 2008
tentang penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga.

A.2. Kebijakan Teknis Polri

Pendapatan Polri
Pendapatan adalah semua penerimaan kas negara yang menambah ekuitas dana lancar
dalam periode tahun yang bersangkutan yang menjadi hak Pemerintah dan tidak perlu
dibayar kembali oleh Pemerintah.
Pendapatan diakui pada saat kas diterima oleh kas negara. Akuntansi pendapatan
dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan
tidak mencatat jumlah nettonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

TABEL 1
PERBANDINGAN PENDAPATAN TA 2008 DAN TA 2007

KO D E P EN D A P A T A N P EN D A P A T A N KE N A IKA N /
UR A IA N %
M AP T A 2 008 ( a udit e d) T A 2 007 ( audit ed) ( P E N UR UN A N )

4 23 P N B P LA IN N YA 1,723,0 93,118,47 6 1,4 81,07 9,42 2,38 5 24 2,013 ,696 ,091 16.34 %
4 231 P end.P e njua lan & Sewa 12,70 7,02 0,35 5 11,79 0,93 0,88 9 916 ,089,466 7.77 %
4 232 P end.Ja sa 1,7 05,39 7,36 9,90 4 1,4 62,47 4,52 2,62 7 242 ,922 ,847 ,277 16.61%
4 233 P end.B unga 26 1,86 3 5,48 2,65 2 ( 5 ,2 2 0 ,7 8 9 ) - 9 5.22 %
4 234 P end.Ke jaksa an & P eradila n 12,25 1,40 0 - 12 ,251,400 0.00 %
4 237 P end.Iuran & D enda 8 32,07 7,15 0 1,3 06,33 1,43 7 (474 ,254 ,287) - 3 6.30 %
4 239 P end.La in- lain 4,144,13 7,80 4 5,5 02,15 4,78 0 ( 1,358 ,016 ,976) - 2 4.68 %

Belanja Polri
Sumber pendanaan untuk pelaksanaan program dan kegiatan Polri seluruhnya dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada TA. 2008 memperoleh
dukungan anggaran sebesar Rp.21.205.465.007.000,00 dan Realisasi Belanja Sebesar
Rp. 21.109.366.560.069,- terdiri dari :
- Alokasi dalam DIPA BA 060 / RM sebesar Rp19.217.070.894.000,00
- Alokasi dalam DIPA BA 60 / KE sebesar Rp1.062.550.274.000,00
- Alokasi dalam DIPA BA 60/RM Pendamping sebesar Rp200.000.000.000,00
- Alokasi dalam DIPA BA 60 / PNBP sebesar Rp725.843.839.000,00
- Realisasi BA 60 / RM sebesar Rp19.966.344.285.148,00
- Realisasi BA 60 / KE sebesar Rp319.557.224.189,00
- Realisasi BA 60 / RM Pendamping sebesar Rp114.650.804.763,00
- Realisasi BA 60 / PNBP sebesar Rp708.814.245.969,00.
TABEL 2
DIPA TA 2008 PER JENIS BELANJA

URAIAN JUMLAH
BEL PEGAWAI 14,192,538,531,000
BEL BARANG 5,325,223,111,000
BEL MODAL 1,687,703,365,000
JUMLAH 21,205,465,007,000

TABEL 3
REALISASI TA 2008 PER JENIS BELANJA

URAIAN JUM LAH


BEL PEGAWAI 15,286,466,379,521
BEL BARANG 4,974,833,506,155
BEL M ODAL 848,066,674,393
JUM LAH 21,109,366,560,069

Tabel 4
RINCIAN ANGGARAN DAN REALISASI
BELANJA PER PROGRAM

ANGGARAN REALISASI
KODE URAIAN % SISA ANGGARAN
REVISI BELANJA
1 2 3 4 5 6
01 RUPIAH MURNI
51 BEL PEGAWAI 14,095,040,183,000 15,202,781,953,367 107.86 (1,107,741,770,367)
52 BEL BARANG 4,708,580,320,000 4,360,315,179,290 92.60 348,265,140,710
53 BEL MODAL 413,450,391,000 403,247,152,491 97.53 10,203,238,509
JUMLAH PROG 01 19,217,070,894,000 19,966,344,285,148 103.90 (749,273,391,148)
02 PINJAMAN LN
53 BEL MODAL 1,062,550,274,000 319,557,224,189 30.07 742,993,049,811
JUMLAH PROG 02 1,062,550,274,000 319,557,224,189 30.07 742,993,049,811
04 RM PENDAMPING
53 BEL MODAL 200,000,000,000 114,650,804,763 57.33 85,349,195,237
JUMLAH PROG 04 200,000,000,000 114,650,804,763 57.33 85,349,195,237
05 PNBP
51 BEL PEGAWAI 97,498,348,000 83,684,426,154 85.83 13,813,921,846
52 BEL BARANG 616,642,791,000 614,518,326,865 99.66 2,124,464,135
53 BEL MODAL 11,702,700,000 10,611,492,950 90.68 1,091,207,050
JUMLAH PROG 05 725,843,839,000 708,814,245,969 97.65 17,029,593,031
JUMLAH BELANJA 21,205,465,007,000 21,109,366,560,069 99.55 96,098,446,931
TABEL 5
DAFTAR DIPA PER PROGRAM TA 2008
PER JENIS BELANJA SUMBER DANA

PROGRAM   BEL PEG BEL BARANG BEL MODAL

PENERAPAN KEPEM ERINTAHAN YANG BAIK 14,157,982,277,000 1,010,873,043,000 -


PENGEM BANGAN SDM KEPOLISIAN 34,556,254,000 289,655,550,000 -
PENGEM B.SARANA DAN PRASARANA KEPOL. - 101,389,784,000 1,687,703,365,000
PENGEM B.STRATEGI KAM TIB - 64,694,827,000 -
PEM BERDAYAAN POTENSI KEAM ANAN - 154,517,277,000 -
PEM ELIHARAAN KAM TIBM AS - 3,151,825,115,000
LIDIK SIDIK TINDAK PIDANA - 524,657,963,000 -
KERJASAM A KEAM ANAN DAN KETERTIBAN - 27,609,552,000 -
JUMLAH 14,192,538,531,000 5,325,223,111,000 1,687,703,365,000

TABEL 6
REALISASI PER PROGRAM TA 2008
PER JENIS BELANJA SUMBER DANA
 
PROGRAM BEL PEG BEL BARANG BEL MODAL

PENERAPAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK 15,282,111,899,478 3,946,732,440,598 412,920,363,491


PENGEMBANGAN SDM KEPOLISIAN 4,354,480,043 30,496,466,895 -
PENGEMB.SARANA DAN PRASARANA KEPOL. - 12,814,979,653 435,146,310,902
PENGEMB.STRATEGI KAMTIB - 14,157,690,750 -
PEMBERDAYAAN POTENSI KEAMANAN - 53,676,726,150 -
PEMELIHARAAN KAMTIBMAS - 762,596,299,417 -
LIDIK SIDIK TINDAK PIDANA - 152,471,755,492 -
KERJASAMA KEAMANAN DAN KETERTIBAN - 1,887,147,200 -
JUMLAH 15,286,466,379,521 4,974,833,506,155 848,066,674,393

Pengembalian Belanja
Pengembalian belanja (penerimaan kembali belanja) atas belanja yang terjadi pada
tahun anggaran berjalan dibukukan sebagai kontra pos belanja pada periode pelaporan.
Sedangkan pengembalian belanja atas belanja yang terjadi pada tahun anggaran yang
lalu dibukukan sebagai pendapatan lain-lain.

TABEL 7
RINCIAN REALISASI PENGEMBALIAN BELANJA PER JENIS BELANJA

KODE
URAIAN JUMLAH
BELANJA
51 BEL PEGAWAI 3,096,353,804
52 BEL. BARANG 6,310,414,072
53 BEL. MODAL -
JUMLAH 9,406,767,876
A.3. Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan Keuangan Polri Tahun 2008 merupakan laporan yang mencakup seluruh aspek
keuangan yang dikelola oleh Polri, termasuk di dalamnya jenjang struktural di bawah
Polri seperti kantor wilayah dan satuan kerja yang bertanggung jawab atas otorisasi
kredit anggaran yang diberikan kepadanya. Laporan Keuangan Polri disusun
berdasarkan kompilasi data/laporan keuangan satuan kerja Polri.
Untuk tahun 2008, satuan kerja yang dicakup dalam Laporan Keuangan Polri meliputi
2 Bidku Mabes Polri dan 31 Bidku Polda.
Jumlah satuan kerja di lingkup Polri adalah 1.052 satker. Dari jumlah tersebut satker
yang menyampaikan laporan keuangan sejumlah 1.052 satker (100 %).

TABEL 8
REKAPITULASI JUMLAH SATKER

NO. POLDA JUMLAH SATKER

1 2 3
1 KUMABES I 27
2 KUMABES II 23
3 NAD 38
4 SUMUT 46
5 SUMBAR 36
6 RIAU 28
7 BENGKULU 25
8 JAMBI 27
9 SUMSEL 33
10 LAMPUNG 27
11 METROJAYA 33
12 JABAR 47
13 JATENG 65
14 DIY 23
15 JATIM 69
16 BALI 30
17 NTT 33
18 NTB 26
19 KALBAR 29
20 KALSEL 30
21 KALTENG 31
22 KALTIM 30
23 SULSEL 53
24 SULTRA 27
25 SULTENG 27
26 SULUT 26
27 MALUKU 25
28 PAPUA 42
29 BABEL 20
30 BANTEN 18
31 GORONTALO 18
32 MALUT 21
33 KEPRI 19
JUMLAH 1,052
Laporan Keuangan dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Instansi (SAI), yang terdiri
dari Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Informasi Manajemen dan
Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN). Sistem Akuntansi Instansi dirancang
untuk menghasilkan LK yang terdiri dari:
1. Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran disusun berdasarkan kompilasi Laporan Realisasi
Anggaran seluruh entitas akuntansi yang berada di bawah Polri Laporan Realisasi
APBN terdiri dari Pendapatan Negara dan Hibah dan Belanja.
2. Neraca
Neraca disusun berdasarkan kompilasi neraca entitas akuntansi yang berada di
bawah Polri dan disusun melalui SAI.
3. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi tentang pendekatan
penyusunan laporan keuangan, penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai
suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca dalam
rangka pengungkapan yang memadai.

Data BMN yang disajikan dalam neraca ini belum seluruhnya diproses melalui
SIMAK-BMN. Jumlah satuan kerja di lingkup Polri adalah 1.052 satker terdiri dari 986
satker mantap dan 66 satker pengembangan. Dari 1.052 satker, yang telah
melaksanakan inventarisasi aset Barang Milik Negara sejumlah 562 satker dan sisanya
sebanyak 490 satker sedang dalam proses pelaksanaan inventarisasi. Rincian satuan
kerja tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 9
Rekapitulasi Jumlah Satuan Kerja
PELAKSANAAN INVENTARISASI
NO POLDA JUMLAH SATKER
SUDAH DLM PROSES
1 2 3 4 5
1 NAD 38 8 30
2 SUMUT 42 4 38
3 SUMBAR 36 36 0
4 RIAU 28 7 21
5 BENGKULU 24 24 0
6 JAMBI 26 26 0
7 SUMSEL 32 11 21
8 LAMPUNG 26 0 26
9 BABEL 8 8 0
10 KEPRI 11 11 0
11 METRO JAYA 33 7 26
12 JABAR 47 28 19
13 JATENG 62 41 21
14 DIY 22 14 8
15 JATIM 69 51 18
16 BANTEN 27 27 0
17 BALI 30 13 17
18 NTB 26 26 0
19 NTT 32 12 20
20 KALBAR 29 28 1
21 KALTENG 30 30 0
22 KALSEL 29 13 16
23 KALTIM 29 25 4
24 SULUT 26 26 0
25 SULTENG 26 0 26
26 SULSEL 52 13 39
27 SULTRA 26 26 0
28 GORONTALO 6 0 6
29 MALUKU 24 17 7
30 MALUT 9 0 9
31 PAPUA 34 0 34
32 KU MABES I 26 18 8
33 KU MABES II 21 12 9
Satker Persiapan 66 0 66
JUMLAH 1,052 562 490
A.4. Kebijakan Akuntansi
Laporan Realisasi Anggaran disusun menggunakan basis kas yaitu basis akuntansi yang
mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas
diterima pada Kas Umum Negara (KUN) atau dikeluarkan dari KUN.
Penyajian aset, kewajiban, dan ekuitas dana dalam Neraca diakui berdasarkan basis
akrual, yaitu pada saat diperolehnya hak atas aset dan timbulnya kewajiban tanpa
memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dikeluarkan dari KUN.
Penyusunan dan penyajian LK Tahun 2008 telah mengacu pada Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP) yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24
Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Dengan demikian, dalam
penyusunan LK telah diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di
lingkungan pemerintahan.
Prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dalam penyusunan LK Polri adalah:
(1) Pendapatan
Pendapatan adalah semua penerimaan KUN yang menambah ekuitas dana lancer
dalam periode tahun yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah pusat dan
tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah pusat. Pendapatan diakui pada saat kas
diterima pada KUN. Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas bruto,
yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya
(setelah dikompensasikan dengan pengeluaran). Pendapatan disajikan sesuai
dengan jenis pendapatan.
(2) Belanja
Belanja adalah semua pengeluaran KUN yang mengurangi ekuitas dana lancar
dalam periode tahun yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya
kembali oleh pemerintah pusat. Belanja diakui pada saat terjadi pengeluaran kas
dari KUN. Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran, pengakuan belanja
terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). Belanja disajikan di muka
(face) laporan keuangan menurut klasifikasi ekonomi/jenis belanja, sedangkan di
Catatan atas Laporan Keuangan, belanja disajikan menurut klasifikasi organisasi
dan fungsi.

(3) Aset
Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah
sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau
sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun
oleh masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non-
keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan
sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Dalam
pengertian aset ini tidak termasuk sumber daya alam seperti hutan, kekayaan di
dasar laut, dan kandungan pertambangan. Aset diakui pada saat diterima atau pada
saat hak kepemilikan berpindah. Aset diklasifikasikan menjadi Aset Lancar,
Investasi, Aset Tetap, dan Aset Lainnya.
a. Aset Lancar
Aset Lancar mencakup kas dan setara kas yang diharapkan segera untuk
direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 bulan sejak
tanggal pelaporan. Aset lancar ini terdiri dari kas, piutang, dan persediaan.
Kas disajikan di neraca dengan menggunakan nilai nominal. Kas dalam bentuk
valuta asing disajikan di neraca dengan menggunakan kurs tengah BI pada
tanggal neraca.
Piutang dinyatakan dalam neraca menurut nilai yang timbul berdasarkan hak
yang telah dikeluarkan surat keputusan penagihannya.
Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang
dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang-
barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka
pelayanan kepada masyarakat.
Persediaan dicatat di neraca berdasarkan:
- harga pembelian terakhir, apabila diperoleh dengan pembelian,
- harga standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri,
- harga wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh dengan cara
lainnya seperti donasi/rampasan.
b. Aset Tetap
Aset tetap mencakup seluruh aset yang dimanfaatkan oleh pemerintah maupun
untuk kepentingan publik yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Aset tetap dilaporkan berdasarkan neraca kementerian negara/lembaga per 31
Desember 2008 pada harga perolehan.
Pengakuan aset tetap yang perolehannya sejak tanggal 1 Januari 2002
didasarkan pada nilai satuan minimum kapitalisasi, yaitu:
(1). Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin dan peralatan olah raga
yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu
rupiah), dan
(2). Pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang nilainya sama dengan atau
lebih dari Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Pengeluaran yang tidak
tercakup dalam batasan nilai minimum kapitalisasi tersebut di atas,
diperlakukan sebagai biaya kecuali pengeluaran untuk tanah,
jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap lainnya berupa koleksi perpustakaan
dan barang bercorak kesenian.
Menurut PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap, aset tetap disajikan
berdasarkan biaya perolehan aset tetap dikurangi akumulasi penyusutan
(depresiasi). Namun, dalam LK Tahun 2008, seluruh aset tetap yang dikelola
belum disusutkan/didepresiasi. Hal ini disebabkan antara lain belum
dilakukannya inventarisasi dan penilaian kembali (revaluasi) atas aset tetap
tersebut.
c. Aset Lainnya
Aset Lainnya adalah aset pemerintah selain aset lancar, investasi jangka
panjang, dan aset tetap. Termasuk dalam Aset Lainnya adalah Tagihan
Penjualan Angsuran (TPA), Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang jatuh
tempo lebih dari satu tahun, Kemitraan dengan Pihak Ketiga, Dana yang
Dibatasi Penggunaannya, Aset Tak Berwujud, dan Aset Lain-lain. TPA
menggambarkan jumlah yang dapat diterima dari penjualan aset pemerintah
secara angsuran kepada pegawai pemerintah yang dinilai sebesar nilai nominal
dari kontrak/berita acara penjualan aset yang bersangkutan setelah dikurangi
dengan angsuran yang telah dibayar oleh pegawai ke kas negara atau daftar
saldo tagihan penjualan angsuran.
TGR merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap bendahara/ pegawai
negeri bukan bendahara dengan tujuan untuk menuntut penggantian atas suatu
kerugian yang diderita oleh negara sebagai akibat langsung ataupun tidak
langsung dari suatu perbuatan yang melanggar hukum yang dilakukan oleh
bendahara/pegawai tersebut atau kelalaian dalam pelaksanaan tugasnya.
TPA dan TGR yang akan jatuh tempo 12 (dua belas) bulan setelah tanggal
neraca disajikan sebagai aset lancar. Kemitraan dengan pihak ketiga
merupakan perjanjian antara dua pihak atau lebih yang mempunyai komitmen
untuk melaksanakan kegiatan yang dikendalikan bersama dengan
menggunakan aset dan/atau hak usaha yang dimiliki.
Dana yang Dibatasi Penggunaannya merupakan kas atau dana yang alokasinya
hanya akan dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan tertentu seperti kas besi
perwakilan RI di luar negeri, rekening dana reboisasi, dan dana moratorium
Nias dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Aset Tak Berwujud merupakan aset nonkeuangan yang dapat diidentifikasi dan
tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam
menghasilkan barang atau jasa atau digunakan untuk tujuan lainnya termasuk
hak atas kekayaan intelektual. Aset Tak Berwujud meliputi software komputer;
lisensi dan franchise; hak cipta (copyright), paten, goodwill, dan hak lainnya;
hak jasa dan operasi Aset Tak Berwujud dalam pengembangan. Aset Lain-lain
merupakan aset lainnya yang tidak dapat dikategorikan ke dalam TPA, Tagihan
TGR, Kemitraan dengan Pihak Ketiga, maupun Dana yang Dibatasi
Penggunaannya.
Aset lain-lain dapat berupa aset tetap pemerintah yang dihentikan dari
penggunaan aktif pemerintah, dikelola pihak lain seperti aset pemerintah eks
BPPN yang dialihkan kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (PT PPA) dan
Tim Koordinasi, dan aset pemerintah yang digunakan oleh Kontraktor Kontrak
Kerja sama (KKKS) BP MIGAS. Di samping itu, piutang macet kementerian
negara/lembaga yang dialihkan penagihannya kepada Departemen Keuangan
juga termasuk dalam kelompok Aset Lain-lain.

(4) Kewajiban
Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya
mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah. Dalam konteks
pemerintahan, kewajiban muncul antara lain karena penggunaan sumber
pembiayaan pinjaman dari masyarakat, lembaga keuangan, entitas pemerintahan
lain, atau lembaga internasional. Kewajiban pemerintah juga terjadi karena
perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah. Setiap kewajiban dapat
dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau
peraturan perundang-undangan.
Kewajiban pemerintah diklasifikasikan kedalam kewajiban jangka pendek dan
kewajiban jangka panjang.
a. Kewajiban Jangka Pendek
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika
diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan
setelah tanggal pelaporan.
Kewajiban jangka pendek meliputi Utang Kepada Pihak Ketiga, Utang
Perhitungan Fihak Ketiga (PFK), Bagian Lancar Utang Jangka Panjang, Utang
Bunga (accrued interest) dan Utang Jangka Pendek Lainnya.

b. Kewajiban Jangka Panjang


Kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika diharapkan
untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari dua belas bulan setelah
tanggal pelaporan.
Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal, yaitu sebesar nilai kewajiban
pemerintah pada saat pertama kali transaksi berlangsung. Aliran ekonomi
sesudahnya seperti transaksi pembayaran, perubahan penilaian karena
perubahan kurs mata uang asing, dan perubahan lainnya selain perubahan nilai
pasar, diperhitungkan dengan menyesuaikan nilai tercatat kewajiban tersebut.

(5) Ekuitas Dana


Ekuitas dana merupakan kekayaan bersih pemerintah, yaitu selisih antara aset dan
utang pemerintah. Ekuitas dana diklasifikasikan Ekuitas Dana Lancar dan Ekuitas
Dana Investasi. Ekuitas Dana Lancar merupakan selisih antara aset lancar dan
utang jangka pendek. Ekuitas Dana Investasi mencerminkan selisih antara aset
tidak lancar dan kewajiban jangka panjang.

B. Penjelasan Atas Pos-Pos Laporan Realisasi Anggaran

B.1. Penjelasan Umum Laporan Realisasi APBN

Pada Tahun Anggaran 2008 Polri menerima anggaran/revisi anggaran sebesar


Rp21.205.465.007.000,00 yang direalisasikan sampai dengan 31 Desember 2008 sebesar
Rp21.109.366.560.096,00 (99,55 %) sehingga terdapat sisa anggaran yang tidak terserap
sebesar Rp96.098.440.691,00.

Tabel 10
Daftar Laporan Realisasi Anggaran

ANGGARAN REALISASI
KODE URAIAN %
REVISI BELANJA
1 2 3 4 5
01 RUPIAH M URNI
51 BEL PEGAWAI 14,095,040,183,000 15,202,781,953,367 107.86
52 BEL BARANG 4,708,580,320,000 4,360,315,179,290 92.60
53 BEL M ODAL 413,450,391,000 403,247,152,491 97.53
JUM LAH PROG 01 19,217,070,894,000 19,966,344,285,148 103.90
02 PINJAM AN LN
53 BEL M ODAL 1,062,550,274,000 319,557,224,189 30.07
JUM LAH PROG 02 1,062,550,274,000 319,557,224,189 30.07
04 RM PENDAM PING
53 BEL M ODAL 200,000,000,000 114,650,804,763 57.33
JUM LAH PROG 04 200,000,000,000 114,650,804,763 57.33
05 PNBP
51 BEL PEGAWAI 97,498,348,000 83,684,426,154 85.83
52 BEL BARANG 616,642,791,000 614,518,326,865 99.66
53 BEL M ODAL 11,702,700,000 10,611,492,950 90.68
JUM LAH PROG 05 725,843,839,000 708,814,245,969 97.65
JUM LAH BELANJA 21,205,465,007,000 21,109,366,560,069 99.55

B.1.1. Pendapatan Negara dan Hibah


Pendapatan Negara Polri hanya terdiri dari PNBP Lainnya yang pada TA. 2008 terealisasi
sebesar Rp. 1.723.079.483.530,00 meningkat sebesar Rp.242.000.061.145,00 atau 16,34 %
dari realisasi TA. 2007 yang hanya sebesar Rp1.481.079.422.385,00.
B.1.1.1. Penerimaan Negara Bukan Pajak Lainnya

Penerimaan Negara Bukan Pajak Lainnya memberikan kontribusi bagi pendapatan negara.
Realisasi PNBP Lainnya dari penerimaan penjualan, sewa, jasa, bunga, kejaksaan dan
peradilan, iuran dan denda, serta lain-lain pada TA. 2008 sebesar Rp1.723.079.483.530,00
atau 112,96 % dari anggarannya. Sedangkan bila dibandingkan dengan PNBP yang dicapai
TA.2007 sebesar Rp1.481.079.422.385,00 mengalami kenaikan sebesar
Rp242.000.061.145,00 atau 16,34 %.

TABEL 11
PERBANDINGAN PENDAPATAN TA 2008 DAN 2007
KOD PENDAPATAN PENDAPATAN KENAIKAN /
MAP URAIAN TA 2008 (audited) TA 2007 (audited) (PENURUNAN) %
423 PNBP LAINNYA 1,723,093,118,476 1,481,079,422,385 242,013,696,091 16.34%

4231 Pend.Penjualan & Sewa 12,707,020,355 11,790,930,889 916,089,466 7.77%


4232 Pend.Jasa 1,705,397,369,904 1,462,474,522,627 242,922,847,277 16.61%
4233 Pend.Bunga 261,863 5,482,652 (5,220,789) -95.22%
4234 Pend.Kejaksaan & Peradilan 12,251,400 - 12,251,400 0.00%
4237 Pend.Iuran & Denda 832,077,150 1,306,331,437 (474,254,287) -36.30%
4239 Pend.Lain-lain 4,144,137,804 5,502,154,780 (1,358,016,976) -24.68%

B.1.2. Belanja Negara

Sumber pendanaan untuk pelaksanaan program dan kegiatan Polri seluruhnya berasal dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada Tahun anggaran 2008 memperoleh
dukungan anggaran sebesar Rp21.205.465.007.000,00 dan Realisasi Belanja Sebesar
Rp21.109.366.560.069,00 terdiri dari:
- Alokasi dalam DIPA BA 060 / RM sebesar Rp. 19.217.070.894.000,00.
- Alokasi dalam DIPA BA 60 / KE sebesar Rp. 1.062.550.274.000,00.
- Alokasi dalam DIPA BA 60 / RM Pendamping sebesar Rp. 200.000.000.000,00.
- Alokasi dalam DIPA BA 60 / PNBP sebesar Rp. 725.843.839.000,00.
- Realisasi BA 60 / RM sebesar Rp. 19.966.344.285.148,00.
- Realisasi BA 60 / KE sebesar Rp. 319.557.224.189,00.
- Realisasi BA 60 / RM Pendamping sebesar Rp. 114.650.804.763,00.
- Realisasi BA 60 / PNBP sebesar Rp. 708.814.245.969,00.
Realisasi Belanja terdiri dari (i) Belanja Rupiah Murni, (ii) Belanja Pinjaman Luar Negeri,
(iii) Belanja Rupiah Murni Pendamping dan (iv) Belanja PNBP.
TABEL 12
DAFTAR PERBANDINGAN DIPA DAN REALISASI TA 2008 DAN TA 2007
PER JENIS BELANJA DAN SUMBER DANA

ANGGARAN REALISASI
KODE URAIAN % SISA ANGGARAN
REVISI BELANJA
1 2 3 4 5 6
01 RUPIAH M URNI
51 BEL PEGAWAI 14,095,040,183,000 15,202,781,953,367 107.86 (1,107,741,770,367)
52 BEL BARANG 4,708,580,320,000 4,360,315,179,290 92.60 348,265,140,710
53 BEL M ODAL 413,450,391,000 403,247,152,491 97.53 10,203,238,509
JUM LAH PROG 01 19,217,070,894,000 19,966,344,285,148 103.90 (749,273,391,148)
02 PINJAM AN LN
53 BEL M ODAL 1,062,550,274,000 319,557,224,189 30.07 742,993,049,811
JUM LAH PROG 02 1,062,550,274,000 319,557,224,189 30.07 742,993,049,811
04 RM PENDAM PING
53 BEL M ODAL 200,000,000,000 114,650,804,763 57.33 85,349,195,237
JUM LAH PROG 04 200,000,000,000 114,650,804,763 57.33 85,349,195,237
05 PNBP
51 BEL PEGAWAI 97,498,348,000 83,684,426,154 85.83 13,813,921,846
52 BEL BARANG 616,642,791,000 614,518,326,865 99.66 2,124,464,135
53 BEL M ODAL 11,702,700,000 10,611,492,950 90.68 1,091,207,050
JUM LAH PROG 05 725,843,839,000 708,814,245,969 97.65 17,029,593,031
JUM LAH BELANJA 21,205,465,007,000 21,109,366,560,069 99.55 96,098,446,931

Belanja Pegawai
Rincian realisasi Belanja Pegawai adalah sebagai berikut :

Tabel 13
Perbandingan Belanja Pegawai TA 2008 dan TA 2007
Uraian 30 Des 2008 (audited) 31 Des 2007 (audited) %
Belanja Gaji dan Tunjangan PNS Rp 658,977,432,384 Rp 525,405,437,627 25.42%
Belanja Gaji dan Tunj.TNI/Polri Rp 14,485,587,485,484 Rp 11,087,739,846,373 30.65%
Belanja Honorarium Rp 122,817,229,549 Rp 113,203,258,000 8.49%
Belanja Lembur Rp 11,231,216,066 Rp 13,096,709,000 -14.24%
Belanja Vakasi Rp 4,756,662,234 Rp 3,764,604,000 26.35%
Jumlah Rp 15,283,370,025,717 Rp 11,743,209,855,000 30.15%

Tabel 14
Daya Serap Anggaran Belanja Pegawai TA 2008
Uraian DIPA REALISASI % SISA
Belanja Gaji dan Tunjangan PNS Rp 647,164,308,000 Rp 658,977,432,384 Rp (11,813,124,384)
101.83%
Belanja Gaji dan Tunj.TNI/Polri Rp 13,385,812,992,000 Rp 14,485,587,485,484 108.22% Rp (1,099,774,493,484)
Belanja Honorarium Rp 141,898,780,000 Rp 122,817,229,549 86.55% Rp 19,081,550,451
Belanja Lembur Rp 12,710,796,000 Rp 11,231,216,066 88.36% Rp 1,479,579,934
Belanja Vakasi Rp 4,951,655,000 Rp 4,756,662,234 96.06% Rp 194,992,766
Jumlah Rp 14,192,538,531,000 Rp 15,283,370,025,717 107.69% Rp (1,111,587,617,868)

Belanja Barang
Rincian realisasi Belanja Barang adalah sebagai berikut :

Tabel 15
Perbandingan Belanja Barang TA 2008 dan TA 2007
Uraian 30 Des 2008 (audited) 31 Des 2007 (audited) % Naik/(Turun)
Belanja Barang Operasional Rp 3,483,433,843,232 Rp 4,309,707,320,799 -19.17%
Belanja Barang Non Rp 802,229,503,499 Rp - 0.00%
Operasional
Belanja Jasa Rp 351,131,956,239 Rp 364,739,137,525 -3.73%
Belanja Pemeliharaan Rp 212,119,857,954 Rp 219,655,988,533 -3.43%
Belanja Perjalanan DN Rp 110,368,814,034 Rp 110,840,835,422 -0.43%
Belanja Perjalanan LN Rp 9,239,117,125 Rp - 0.00%
Jumlah Rp 4,968,523,092,083 Rp 5,004,943,282,279 -0.73%

Tabel 16
Daya Serap Anggaran Belanja Barang TA 2008
Uraian DIPA REALISASI SISA %
Belanja Barang Operasional Rp 3,620,684,663,000 Rp 3,483,433,843,232 Rp 137,250,819,768 96.21%
Belanja Barang Non Operasional Rp 819,080,752,000 Rp 802,229,503,499 Rp 16,851,248,501 97.94%
Belanja Jasa Rp 536,006,170,000 Rp 351,131,956,239 Rp 184,874,213,761 65.51%
Belanja Pemeliharaan Rp 220,014,236,000 Rp 212,119,857,954 Rp 7,894,378,046 96.41%
Belanja Perjalanan DN Rp 119,806,468,000 Rp 110,368,814,034 Rp 9,437,653,966 92.12%
Belanja Perjalanan LN Rp 9,630,822,000 Rp 9,239,117,125 Rp 391,704,875 95.93%

Jumlah Rp 5,325,223,111,000 Rp 4,968,523,092,083 Rp 356,700,018,917 93.30%

Belanja Modal
Rincian realisasi Belanja Modal adalah sebagai berikut :

Tabel 17
Perbandingan Belanja Modal TA 2008 dan TA 2007
Uraian 30 Des 2008 (audited) 31 Des 2007 (audited) % Naik/(Turun)

Belanja Modal Tanah Rp - Rp 3,352,300,000 -100.00%

Belanja Modal Peralatan dan Mesin Rp 843,723,914,543 Rp 2,668,606,634,000 -68.38%

Belanja Modal Gedung dan Bangunan Rp 4,342,759,850 Rp 733,018,848,000 -99.41%

Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan Rp - Rp 14,209,765,000 -100.00%

Belanja Modal Fisik Lainnya Rp - Rp 11,164,858,000 -100.00%

Jumlah Rp 848,066,674,393 Rp 3,430,352,405,000 -75.28%

C. Penjelasan Atas Pos-Pos Neraca

C.1. Penjelasan Umum Neraca

Komposisi Neraca per 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut :

TABEL 18
PERBANDINGAN NERACA TA 2008 DAN 2007
% Kenaikan/
Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
(penurunan)
Aset Rp 71,614,760,003,268 Rp 89,486,336,212,032 (19.97)

Kewajiban Rp 237,524,654,040 Rp 133,251,774,344 78.25

Ekuitas Dana Rp 71,377,235,349,228 Rp 89,353,084,437,688 (20.12)

Jumlah Aset per 31 Desember 2008 sebesar Rp71.614.760.003.268,00.


terdiri dari:
Aset Lancar sebesar Rp. 797.167.589.008,00
Aset Tetap sebesar Rp. 70.813.823.250.540,00
Aset Lainnya sebesar Rp. 3.769.163.720,00

Jumlah Kewajiban per 31 Desember 2008 sebesar Rp237.524.654.040,00


merupakan kewajiban jangka pendek.

Jumlah ekuitas dana per 31 Desember 2008 sebesar Rp71.377.235.349.228,00


terdiri dari:
Ekuitas dana lancar sebesar Rp. 559.652.934.968,00
Ekuitas dana investasi sebesar Rp. 70.817.592.414.260,00

Jumlah Kewajiban + ekuitas Dana sebesar Rp. 71.614.760.003.268,00.


TABEL 19
Perbandingan Neraca TA 2008 dan 2007

Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007 Kenaikan/ (penurunan)

Aset Rp 71,614,760,003,268 Rp 70,684,693,968,205 Rp 930,066,035,063


Kewajiban Rp 237,524,654,040 Rp 50,542,784,040 Rp 186,981,870,000
Ekuitas Dana Rp 71,377,235,349,228 Rp 70,634,151,184,165 Rp 743,084,165,063

TABEL 20
NERACA TA 2008 dan 2007
JUMLAH Kenaikan (Penurunan)
NAMA PERKIRAAN
2008 (audited) 2008 (unaudited) Jumlah
1 2 3 4
ASET
ASET LANCAR
Kas di Bendahara Pengeluaran 6,447,790,456 6,447,790,456 -
Kas di Bendahara Penerimaan 22,498,919,402 22,498,919,402 -
Piutang Bukan Pajak 4,122,882,330 - 4,122,882,330
Bagian Lancar TGR 62,046,772 62,046,772 -
Persediaan 764,035,950,048 775,266,365,544 (11,230,415,496)
JUMLAH ASET LANCAR 797,167,589,008 804,275,122,174 (7,107,533,166)
ASET TETAP
Tanah 28,799,914,598,816 28,654,013,368,316 145,901,230,500
Peralatan dan Mesin 14,081,896,117,347 13,681,762,408,003 400,133,709,344
Gedung dan Bangunan 27,056,999,583,200 27,017,658,646,200 39,340,937,000
Jalan, Irigasi dan Jaringan 334,191,997,153 334,191,997,153 -
Aset Tetap Lainnya 62,912,998,138 67,862,221,638 (4,949,223,500)
Konstruksi Dalam Pengerjaan 477,907,955,886 124,682,534,001 353,225,421,885
JUMLAH ASET TETAP 70,813,823,250,540 69,880,171,175,311 933,652,075,229
ASET LAINNYA
TGR 247,670,720 247,670,720 -
Aset Lain-lain 3,521,493,000 - 3,521,493,000
JUMLAH ASET LAINNYA 3,769,163,720 247,670,720 3,521,493,000
JUMLAH ASET 71,614,760,003,268 70,684,693,968,205 930,066,035,063

KEWAJIBAN
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
Utang kepada pihak ketiga 208,577,944,182 21,596,074,182 186,981,870,000
Uang Muka dari KPPN 6,447,790,456 6,447,790,456 -
Pendapatan yang Ditangguhkan 22,498,919,402 22,498,919,402 -
JML KEWAJIBAN JK PENDEK 237,524,654,040 50,542,784,040 186,981,870,000
JUMLAH KEWAJIBAN 237,524,654,040 50,542,784,040 186,981,870,000

EKUITAS DANA
EKUITAS DANA LANCAR
Cadangan Piutang 4,184,929,102 62,046,772 4,122,882,330
Cadangan Persediaan 764,035,950,048 775,266,365,544 (11,230,415,496)
Dana yhd utk Utang Jk Pendek (208,577,944,182) (21,596,074,182) (186,981,870,000)
JML EK DANA LANCAR 559,642,934,968 753,732,338,134 (194,089,403,166)
EKUITAS DANA INVESTASI
Diinvestasikan Dlm Aset Tetap 70,813,823,250,540 69,880,171,175,311 933,652,075,229
Diinvestasikan Dlm Aset Lainnya 3,769,163,720 247,670,720 3,521,493,000
JML EK DANA INVESTASI 70,817,592,414,260 69,880,418,846,031 937,173,568,229
JUMLAH EKUITAS DANA 71,377,235,349,228 70,634,151,184,165 743,084,165,063
JML KEWAJIBAN & EKUITAS DANA 71,614,760,003,268 70,684,693,968,205 930,066,035,063

C.2. PENJELASAN PER POS NERACA


C.2.1. Aset Lancar

C.2.1.1. Kas di Bendahara Pengeluaran

Kas di Bendahara Pengeluaran merupakan kas yang dikuasai, dikelola, dan di


bawah tanggung jawab Bendahara Pengeluaran yang berasal dari sisa UP yang
belum dipertanggungjawabkan atau disetorkan kembali ke Kas Negara per
tanggal neraca. Kas di Bendahara Pengeluaran mencakup seluruh saldo
rekening bendahara pengeluaran, uang logam, uang kertas, dan lain-lain kas
(termasuk bukti pengeluaran yang belum dipertanggungjawabkan) yang
sumbernya berasal dari dana kas kecil (UP) yang belum
dipertanggungjawabkan atau belum disetor kembali ke Kas Negara per tanggal
neraca.
Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2008 sebesar Rp.
6.447.790.456,00. Rincian saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per satuan
kerja adalah sebagai berikut :

Tabel 21
Perbandingan Kas Bendahara Pengeluaran TA 2008 dan 2007

NO. Satuan Utama TA. 2008 TA. 2007 % naik / ( turun )


1 2 3 4 5
1 KUMABES I - 76,600,000 (100.00)
2 KUMABES II - 5,801,928,600 (100.00)
3 NAD 64,407,258 16,455,950 291.39
4 SUMUT 92,500,000 32,085,851 188.29
5 SUMBAR 187,752,994 109,541,394 71.40
6 RIAU 65,762,461 34,735,860 89.32
7 BENGKULU 210,436,695 49,748,095 323.00
8 JAMBI 174,035,950 18,011,589 866.24
9 SUMSEL 16,618,500 12,572,400 32.18
10 LAMPUNG 11,163,200 5,196,791,400 (99.79)
11 METROJAYA 108,389,499 60,405,009,767 (99.82)
12 JABAR 20,493,850 65,924,690 (68.91)
13 JATENG 23,495,985 55,032,947 (57.31)
14 DIY 50 50,748,890 (100.00)
15 JATIM 303,531,450 489,344,915 (37.97)
16 BALI 20,536,500 6,089,300 237.26
17 NTT 145,513,937 168,967,776 (13.88)
18 NTB - 2,250,082,800 (100.00)
19 KALBAR 274,137,783 100,209,517 173.56
20 KALSEL 12,142,000 - 0.00
21 KALTENG 43,433,250 618,863,395 (92.98)
22 KALTIM 225,415,900 200 112707850.00
23 SULSEL 153,537,638 125,366,160 22.47
24 SULTRA 62,855,000 1,804,900 3382.46
25 SULTENG 370,529,150 730,292,281 (49.26)
26 SULUT 3,511,213,268 1,182,499,805 196.93
27 MALUKU - 27,650 (100.00)
28 PAPUA 4,306,100 17,963,400 (76.03)
29 BABEL 153,382,642 325,262,125 (52.84)
30 BANTEN 24,011,006 - 0.00
31 GORONTALO 2,130,640 1,980,000 7.61
32 MALUT 163,523,250 47,170,506 246.66
33 KEPRI 2,534,500 91,062,894 (97.22)
34 GARBIA PUSKU - 411,778,023 (100.00)
JUMLAH 6,447,790,456 78,493,953,080 (91.79)
C.2.1.2. Kas di Bendahara Penerimaan
Kas di Bendahara Penerimaan mencakup seluruh kas, baik itu saldo rekening
di bank maupun saldo uang tunai, yang berada di bawah tanggung jawab
bendahara penerimaan yang sumbernya berasal dari pelaksanaan tugas
pemerintahan (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Saldo kas ini mencerminkan
saldo yang berasal dari pungutan yang sudah diterima oleh bendahara
penerimaan selaku wajib pungut yang belum disetorkan ke kas negara.
Besarnya Saldo Kas di Bendahara Penerimaan per 31 Desember 2008
Rp22.498.919.402,00.

Tabel 22
Perbandingan Kas Bendahara Penerimaan TA 2008 dan 2007
No. Satuan Utama TA. 2008 TA. 2007 % naik / ( turun )
1 KUMABES I 522,864 76,600,000 (99.32)
2 KUMABES II 987,916 5,801,928,600 (99.98)
3 NAD 52,948,440 16,455,950 221.76
4 SUMUT 167,150,966 32,085,851 420.95
5 SUMBAR 383,253,211 109,541,394 249.87
6 RIAU 298,706,706 34,735,860 759.94
7 BENGKULU 46,797,884 49,748,095 (5.93)
8 JAMBI 106,078,447 18,011,589 488.95
9 SUMSEL 123,008,999 12,572,400 878.41
10 LAMPUNG 20,644,225 5,196,791,400 (99.60)
11 METROJAYA - 60,405,009,767 (100.00)
12 JABAR 558,536 65,924,690 (99.15)
13 JATENG 693,025,201 55,032,947 1159.29
14 DIY 881,222 50,748,890 (98.26)
15 JATIM 3,323,240,218 489,344,915 579.12
16 BALI 443,870,528 6,089,300 7189.35
17 NTT 49,492,073 168,967,776 (70.71)
18 NTB 23,040,000 2,250,082,800 (98.98)
19 KALBAR - 100,209,517 (100.00)
20 KALSEL 342,380,000 - 0.00
21 KALTENG 52,548,221 618,863,395 (91.51)
22 KALTIM 25,137,361 200 12568580.50
23 SULSEL 190,140,371 125,366,160 51.67
24 SULTRA 780,218 1,804,900 (56.77)
25 SULTENG 164,273,577 730,292,281 (77.51)
26 SULUT 28,416,242 1,182,499,805 (97.60)
27 MALUKU 241,647 27,650 773.95
28 PAPUA 174,521,180 17,963,400 871.54
29 BABEL 766,069 325,262,125 (99.76)
30 BANTEN 162,499 - 0.00
31 GORONTALO - 1,980,000 (100.00)
32 MALUT 14,571,081 47,170,506 (69.11)
33 KEPRI 1,690,000 91,062,894 (98.14)
34 GARBIA PUSKU 15,769,083,500 411,778,023 3729.51
JUMLAH 22,498,919,402 78,493,953,080 (71.34)

C.2.1.3. Piutang Bukan Pajak


Piutang Bukan Pajak sebesar Rp. 4.122.882.330,- yang terdapat pada Satker
Sdelog Polri merupakan denda keterlambatan penyerahan kapal patroli polisi
sesuai dengan Skep Delog Kapolri No. Pol. : Skep/7/I/2008 tanggal 22 Januari
2008 tentang Denda Keterlambatan. Denda tersebut disetor tanggal 9 Februari
2009 (Skep dan SSBP terlampir).

C.2.1.3. Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR)


Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) per 31 Desember 2008
sebesar Rp62.046.772,00

C.2.1.4. Persediaan

Perbandingan Nilai persedian per 31 Desember 2008 sebesar


Rp764.035.950.048,00 terdiri dari:

Tabel 23
Rincian Persediaan TA 2008 per Polda
NO. POLDA TA. 2008 (unaudited) PENAM BAHAN PENGURANGAN TA. 2008 (audited)

1 KUM ABES I 379,692,046,985 61,286,768,834 81,476,069,908 359,502,745,911


2 KUM ABES II 27,478,108,934 - - 27,478,108,934
3 NAD 16,925,405,681 - - 16,925,405,681
4 SUM UT 13,822,770,467 - - 13,822,770,467
5 SUM BAR 5,096,594,902 6,052,880,778 - 11,149,475,680
6 RIAU 16,225,744,515 - - 16,225,744,515
7 SUM SEL 18,005,465,455 - - 18,005,465,455
8 BENGKULU 5,589,418,283 - - 5,589,418,283
9 JAM BI 2,089,754,294 2,899,088,800 - 4,988,843,094
10 LAM PUNG 7,657,382,034 - - 7,657,382,034
11 M ETROJAYA 30,580,741,735 - - 30,580,741,735
12 JABAR 28,296,647,386 6,916,000 - 28,303,563,386
13 JATENG 34,548,161,685 - - 34,548,161,685
14 DIY 10,016,884,296 - - 10,016,884,296
15 JATIM 41,821,745,614 - - 41,821,745,614
16 KALBAR 2,639,461,308 - - 2,639,461,308
17 KALSEL 7,023,495,274 - - 7,023,495,274
18 KALTENG 5,189,491,187 - - 5,189,491,187
19 KALTIM 24,313,979,873 - - 24,313,979,873
20 BALI 11,799,017,048 - - 11,799,017,048
21 NTB 6,048,836,087 - - 6,048,836,087
22 NTT 7,743,461,313 - - 7,743,461,313
23 SULSEL 23,927,982,550 - - 23,927,982,550
24 SULTENG 4,205,837,551 - - 4,205,837,551
25 SULTRA 5,556,453,016 - - 5,556,453,016
26 SULUT 10,611,958,431 - - 10,611,958,431
27 M ALUKU 2,870,155,924 - - 2,870,155,924
28 PAPUA 9,006,317,620 - - 9,006,317,620
29 M ALUT 2,726,960,077 - - 2,726,960,077
30 BABEL 2,613,900,213 - - 2,613,900,213
31 GORONTALO 2,769,295,498 - - 2,769,295,498
32 BANTEN 4,138,763,241 - - 4,138,763,241
33 KEPRI 4,234,127,067 - - 4,234,127,067
JUM LAH 775,266,365,544 70,245,654,412 81,476,069,908 764,035,950,048
C.2.2. Aset Tetap

Posisi aset tetap dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 24
Posisi Aset Tetap per 31 Desember 2008

NO. POLDA TA. 2008 (unaudited) KOREKS I AUDIT TA. 2008 (audited)

1 2 3 4 5
1 KUM ABES I 16,572,399,953,409 747,879,860,963 17,320,279,814,372
2 KUM ABES II 16,889,153,950,475 329,427,456 16,889,483,377,931
3 NAD 3,318,487,905,985 - 3,318,487,905,985
4 SUM UT 1,672,606,708,426 - 1,672,606,708,426
5 SUM BAR 4,152,742,597,272 178,495,842,810 4,331,238,440,082
6 RIAU 736,819,871,110 - 736,819,871,110
7 SUM SEL 1,133,076,759,539 - 1,133,076,759,539
8 BENGKULU 304,163,473,396 - 304,163,473,396
9 JAMBI 498,333,011,429 6,946,944,000 505,279,955,429
10 LAM PUNG 279,356,292,018 - 279,356,292,018
11 METROJAYA 3,535,185,402,908 - 3,535,185,402,908
12 JABAR 2,424,993,185,054 - 2,424,993,185,054
13 JATENG 2,061,968,595,184 - 2,061,968,595,184
14 DIY 431,790,138,654 - 431,790,138,654
15 JATIM 5,842,270,652,782 - 5,842,270,652,782
16 KALBAR 429,135,642,792 - 429,135,642,792
17 KALSEL 571,692,858,089 - 571,692,858,089
18 KALTENG 321,661,618,465 - 321,661,618,465
19 KALTIM 1,018,998,548,192 - 1,018,998,548,192
20 BALI 524,407,459,726 - 524,407,459,726
21 NTB 510,420,297,802 - 510,420,297,802
22 NTT 532,488,548,788 - 532,488,548,788
23 SULSEL 1,309,867,432,559 - 1,309,867,432,559
24 SULTENG 346,905,698,972 - 346,905,698,972
25 SULTRA 349,537,523,186 - 349,537,523,186
26 SULUT 620,553,990,999 - 620,553,990,999
27 MALUKU 885,955,422,198 - 885,955,422,198
28 PAPUA 810,793,079,935 - 810,793,079,935
29 MALUT 426,778,334,960 - 426,778,334,960
30 BABEL 213,990,036,809 - 213,990,036,809
31 GORONTALO 232,744,747,070 - 232,744,747,070
32 BANTEN 595,441,096,054 - 595,441,096,054
33 KEPRI 325,450,341,074 - 325,450,341,074
JUMLAH 69,880,171,175,311 933,652,075,229 70,813,823,250,540
Tabel 25
Perbandingan Aset Tetap per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007

SELISIH KENAIKAN/ % NAIK /


NO. URAIAN 31 DES 2008 (audited) 31 DES 2007 (audited)
PENURUNAN (TURUN)
1 TANAH Rp 28,799,914,598,816 Rp 32,199,237,635,374 Rp 3,399,323,036,558 111.80
2 PERALATAN & MESIN Rp 14,081,896,117,347 Rp 35,833,523,963,308 Rp 21,751,627,845,961 254.47
3 GEDUNG & BANGUNAN Rp 27,056,999,583,200 Rp 20,505,985,440,302 Rp (6,551,014,142,898) 75.79
JALAN, JEMBATAN,
4 IRIGASI & JARINGAN Rp 334,191,997,153 Rp 235,694,286,476 Rp (98,497,710,677) 70.53
5 ASET TETAP LAINNYA Rp 62,912,998,138 Rp 40,288,214,935 Rp (22,624,783,203) 64.04
6 KDP Rp 477,907,955,886 Rp 117,639,225,000 Rp (360,268,730,886) 24.62
JUMLAH Rp 70,813,823,250,540 Rp 88,932,368,765,395 Rp 18,118,545,514,855 125.59

Mutasi/perubahan Aset Tetap sebesar Rp.933.652.075.229,00 tersebut adalah


sbb:

Saldo Awal Rp 69,880,171,175,311


Penambahan :
Koreksi Nilai Rp 859,438,223,265
Reklasifikasi Masuk Rp 81,476,069,908
Rp 940,914,293,173
Pengurangan
Koreksi Nilai Rp 3,559,299,944
Reklasifikasi Keluar Rp 3,702,918,000
Rp 7,262,217,944
Jumlah 70,813,823,250,540

Tabel 26
Perolehan Aset Tetap TA 2008

JENIS ASET
NO PEROLEHAN
TANAH LATSIN GEDUNG KDP
1 2 3 4 5 8
1 KOREKSI NILAI 146,836,580,500 320,701,137,380 40,938,437,000 353,225,421,885
2 REKLASIFIKASI MASUK - 84,161,939,908
JUMLAH 146,836,580,500 404,863,077,288 40,938,437,000 353,225,421,885

Tabel 27
Pengurangan Aset Tetap TA 2008

JENIS ASET
NO PEROLEHAN
TANAH LATSIN GEDUNG ASET LAIN-LAIN
1 2 3 4 5 6
1 KOREKSI NILAI 935,350,000 1,026,449,944 1,597,500,000 2,263,353,500
2 REKLASIFIKASI KELUAR - 3,369,293,000 - 2,685,870,000
JUMLAH 935,350,000 4,395,742,944 1,597,500,000 4,949,223,500
C.2.2.1 Tanah

Posisi Perbandingan Aset Tanah

31 DES 2008 (audited) 31 DES 2007 (audited) Kenaikan / (penurunan)


Rp28,799,914,598,816 Rp32,199,237,635,374 (Rp3,399,323,036,558)

Tabel 28
Koreksi Audit Atas Aset Tanah

NO. POLDA 31 DES 2008 (unaudited) KOREKSI AUDIT 31 DES 2008 (audited)
1 NAD 2,622,938,049,033 - 2,622,938,049,033
2 SUMUT 874,126,551,896 - 874,126,551,896
3 SUMBAR 874,203,914,600 146,336,230,500 1,020,540,145,100
4 RIAU 387,014,457,405 - 387,014,457,405
6 BENGKULU 74,276,022,500 - 74,276,022,500
7 JAMBI 79,028,841,835 (435,000,000) 78,593,841,835
5 SUMSEL 680,893,007,960 - 680,893,007,960
8 LAMPUNG 60,756,885,910 - 60,756,885,910
9 METRO JAYA 2,203,057,415,256 - 2,203,057,415,256
10 JABAR 849,843,667,575 - 849,843,667,575
11 JATENG 1,299,548,508,370 - 1,299,548,508,370
12 DIY 126,997,158,852 - 126,997,158,852
13 JATIM 1,293,884,736,324 - 1,293,884,736,324
18 BALI 128,852,581,235 - 128,852,581,235
19 NTB 164,664,525,126 - 164,664,525,126
20 NTT 81,179,417,301 - 81,179,417,301
14 KALBAR 153,657,230,164 - 153,657,230,164
15 KALSEL 254,623,047,415 - 254,623,047,415
16 KALTENG 71,104,360,849 - 71,104,360,849
17 KALTIM 694,205,006,642 - 694,205,006,642
21 SULSEL 251,485,010,269 - 251,485,010,269
23 SULTRA 106,897,819,560 - 106,897,819,560
22 SULTENG 29,963,354,000 - 29,963,354,000
24 SULUT 301,432,853,225 - 301,432,853,225
25 MALUKU 606,824,798,438 - 606,824,798,438
26 PAPUA 261,821,939,873 - 261,821,939,873
28 BABEL 57,520,531,446 - 57,520,531,446
30 BANTEN 288,671,000,000 - 288,671,000,000
29 GORONTALO 20,245,110,250 - 20,245,110,250
27 MALUT 123,183,000,000 - 123,183,000,000
31 KEPRI 120,495,380,000 - 120,495,380,000
32 BIDKU I 11,190,312,143,600 - 11,190,312,143,600
33 BIDKU II 2,320,305,041,407 - 2,320,305,041,407
JUMLAH 28,654,013,368,316 145,901,230,500 28,799,914,598,816
Mutasi/perubahan kenaikan nilai Tanah adalah sbb:

Saldo Awal (2008 unaudited) Rp 28,654,013,368,316


Penambahan :
Koreksi Nilai Rp 146,836,580,500
Rp 146,836,580,500
Pengurangan
Koreksi Nilai Rp 935,350,000
Rp 935,350,000
Saldo Akhir (2008 audited) 28,799,914,598,816

C.2.2.2 Peralatan dan Mesin

Posisi Perbandingan Peralatan dan Mesin

31 DES 2008 31 DES 2007 Kenaikan / (penurunan)


Rp14,081,896,117,347 Rp5,833,523,963,308 Rp8,248,372,154,039

Tabel 29
Koreksi audit atas aset Peralatan dan Mesin

NO. POLDA 31 DES 2008 (unaudited) KOREKSI AUDIT 31 DES 2008 (audited)
1 NAD 485,856,101,280 - 485,856,101,280
2 SUMUT 383,848,890,565 - 383,848,890,565
3 SUMBAR 1,074,539,842,968 102,881,310 1,074,642,724,278
4 RIAU 145,246,025,845 - 145,246,025,845
6 BENGKULU 88,008,201,668 - 88,008,201,668
7 JAMBI 106,967,226,748 1,286,138,000 108,253,364,748
5 SUMSEL 236,132,902,423 - 236,132,902,423
8 LAMPUNG 109,640,239,429 - 109,640,239,429
9 METRO JAYA 543,507,417,171 - 543,507,417,171
10 JABAR 401,904,789,824 - 401,904,789,824
11 JATENG 512,579,284,144 - 512,579,284,144
12 DIY 164,215,691,631 - 164,215,691,631
13 JATIM 2,276,840,674,174 - 2,276,840,674,174
18 BALI 207,245,937,223 - 207,245,937,223
19 NTB 197,273,105,808 - 197,273,105,808
20 NTT 241,520,729,278 - 241,520,729,278
14 KALBAR 176,391,918,005 - 176,391,918,005
15 KALSEL 167,658,852,485 - 167,658,852,485
16 KALTENG 122,053,692,096 - 122,053,692,096
17 KALTIM 146,348,634,154 - 146,348,634,154
21 SULSEL 302,907,326,700 - 302,907,326,700
23 SULTRA 125,185,199,570 - 125,185,199,570
22 SULTENG 153,415,075,957 - 153,415,075,957
24 SULUT 186,173,467,674 - 186,173,467,674
25 MALUKU 127,875,312,598 - 127,875,312,598
26 PAPUA 219,903,615,072 - 219,903,615,072
28 BABEL 61,161,152,870 - 61,161,152,870
30 BANTEN 89,240,908,854 - 89,240,908,854
29 GORONTALO 55,439,830,181 - 55,439,830,181
27 MALUT 90,976,521,960 - 90,976,521,960
31 KEPRI 77,031,607,070 - 77,031,607,070
32 BIDKU I 3,548,108,099,117 397,198,646,578 3,945,306,745,695
33 BIDKU II 856,564,133,461 1,546,043,456 858,110,176,917
JUMLAH 13,681,762,408,003 400,133,709,344 14,081,896,117,347
Mutasi/perubahan Peralatan dan Mesin sebesar Rp400.133.709.344,00
tersebut adalah sbb:

Saldo Awal (2008 unaudited) 13,681,762,408,003


Penambahan :
Koreksi Nilai Rp 320,701,137,380
Reklasifikasi Masuk Rp 84,161,939,908
Rp 404,863,077,288
Pengurangan
Koreksi Nilai Rp 1,026,449,944
Reklasifikasi keluar Rp 3,702,918,000
Rp 4,729,367,944
Saldo Akhir (2008 audited) 14,081,896,117,347

Penambahan peralatan dan mesin tidak sama dengan belanja modal, hal ini
disebabkan terdapatnya penambahan dan pengurangan peralatan dan mesin
yang tidak dipengaruhi oleh belanja. (Rincian terlampir).

C.2.2.3 Gedung dan Bangunan

Posisi Perbandingan Gedung dan Bangunan

31 DES 2008 (audited) 31 DES 2007 (audited) Kenaikan / (penurunan)


Rp27,056,999,583,200 Rp20,505,985,440,302 Rp6,551,014,142,898

Tabel 30
Koreksi audit atas aset Gedung dan Bangunan

NO. POLDA 31 DES 2008 (unaudited) KOREKSI AUDIT 31 DES 2008 (audited)
1 NAD 203,369,819,668 - 203,369,819,668
2 SUMUT 404,748,470,965 - 404,748,470,965
3 SUMBAR 2,198,505,826,704 32,056,731,000 2,230,562,557,704
4 RIAU 202,045,874,860 - 202,045,874,860
6 BENGKULU 140,467,473,632 - 140,467,473,632
7 JAMBI 310,992,649,846 7,284,206,000 318,276,855,846
5 SUMSEL 210,063,993,969 - 210,063,993,969
8 LAMPUNG 107,900,516,679 - 107,900,516,679
9 METRO JAYA 657,268,797,480 - 657,268,797,480
10 JABAR 1,131,877,088,075 - 1,131,877,088,075
NO. POLDA 31 DES 2008 (unaudited) KOREKSI AUDIT 31 DES 2008 (audited)
11 JATENG 244,580,412,370 - 244,580,412,370
12 DIY 137,651,577,271 - 137,651,577,271
13 JATIM 2,259,432,668,874 - 2,259,432,668,874
18 BALI 185,668,260,642 - 185,668,260,642
19 NTB 143,493,285,516 - 143,493,285,516
20 NTT 200,266,438,181 - 200,266,438,181
14 KALBAR 95,923,458,483 - 95,923,458,483
15 KALSEL 147,412,031,064 - 147,412,031,064
16 KALTENG 126,837,924,609 - 126,837,924,609
17 KALTIM 175,685,686,396 - 175,685,686,396
21 SULSEL 746,427,588,144 - 746,427,588,144
23 SULTRA 115,405,845,555 - 115,405,845,555
22 SULTENG 162,672,773,556 - 162,672,773,556
24 SULUT 131,685,930,100 - 131,685,930,100
25 MALUKU 148,795,745,702 - 148,795,745,702
26 PAPUA 324,511,503,288 - 324,511,503,288
28 BABEL 95,087,504,493 - 95,087,504,493
30 BANTEN 206,144,847,200 - 206,144,847,200
29 GORONTALO 156,975,306,639 - 156,975,306,639
27 MALUT 212,280,813,000 - 212,280,813,000
31 KEPRI 101,016,142,004 - 101,016,142,004
32 BIDKU I 1,743,810,767,049 - 1,743,810,767,049
33 BIDKU II 13,588,651,624,186 - 13,588,651,624,186
JUMLAH 27,017,658,646,200 39,340,937,000 27,056,999,583,200

Mutasi/perubahan Gedung dan Bangunan sebesar Rp39.340.937.000,00


tersebut adalah sbb:

Saldo Awal (2008 unaudited) 27,017,658,646,200


Penambahan :
Koreksi Nilai Rp 40,938,437,000
Rp 40,938,437,000
Pengurangan
Koreksi Nilai Rp 1,597,500,000
Rp 1,597,500,000
Saldo Akhir (2008 audited) 27,056,999,583,200

C.2.2.4 Jalan, Jembatan, Irigasi dan Jaringan

Posisi Perbandingan Jalan, Jembatan, Irigasi dan Jaringan

31 DES 2008 31 DES 2007 Kenaikan / (penurunan)


Rp334,191,997,153 Rp5,833,523,963,308 (Rp5,499,331,966,155)
Tabel 31
aset Gedung dan Bangunan TA 2008

NO. POLDA 31 DES 2008 (audited)


1 NAD 4,128,200,000
2 SUMUT 1,048,955,000
3 SUMBAR 2,662,295,000
4 RIAU 651,635,000
6 BENGKULU 1,000,804,596
7 JAMBI 49,200,000
5 SUMSEL 4,506,214,598
8 LAMPUNG 313,450,000
9 METRO JAYA 11,747,317,000
10 JABAR 39,424,652,227
11 JATENG 1,190,100,000
12 DIY 2,755,440,900
13 JATIM 5,817,407,375
18 BALI 524,198,100
19 N T B 3,623,557,352
20 N T T 9,138,125,578
14 KALBAR 2,508,421,900
15 KALSEL 1,260,844,000
16 KALTENG 1,294,193,411
17 KALTIM 771,240,000
21 SULSEL 7,404,512,112
23 SULTRA 877,468,501
22 SULTENG 367,000,000
24 SULUT 504,500,000
25 MALUKU 1,161,500,000
26 PAPUA 3,197,151,702
28 BABEL 82,828,000
30 BANTEN 11,030,500,000
29 GORONTALO -
27 MALUT 338,000,000
31 KEPRI 25,980,542,000
32 BIDKU I 80,140,272,753
33 BIDKU II 108,691,470,048
JUMLAH 334,191,997,153

C.2.2.5 Aset Tetap Lainnya

Posisi Perbandingan Aset Tetap Lainnya

31 DES 2008 31 DES 2007 Kenaikan / (penurunan)


Rp62,912,998,138 Rp40,288,214,935 Rp22,624,783,203
Tabel 32
Koreksi audit atas Aset Tetap Lainnya

NO. POLDA 31 DES 2008 (unaudited) KOREKSI AUDIT 31 DES 2008 (audited)
1 NAD 2,145,736,004 - 2,145,736,004
2 SUMUT 1,843,060,000 - 1,843,060,000
3 SUMBAR 2,830,718,000 - 2,830,718,000
4 RIAU 1,861,878,000 - 1,861,878,000
6 BENGKULU 410,971,000 - 410,971,000
7 JAMBI 1,295,093,000 (1,188,400,000) 106,693,000
5 SUMSEL 1,480,640,589 - 1,480,640,589
8 LAMPUNG 745,200,000 - 745,200,000
9 METRO JAYA 1,962,702,000 - 1,962,702,000
10 JABAR 1,942,987,353 - 1,942,987,353
11 JATENG 4,070,290,300 - 4,070,290,300
12 DIY 170,270,000 - 170,270,000
13 JATIM 6,295,166,035 - 6,295,166,035
18 BALI 2,116,482,526 - 2,116,482,526
19 NTB 1,365,824,000 - 1,365,824,000
20 NTT 383,838,450 - 383,838,450
14 KALBAR 654,614,240 - 654,614,240
15 KALSEL 738,083,125 - 738,083,125
16 KALTENG 371,447,500 - 371,447,500
17 KALTIM 1,987,981,000 - 1,987,981,000
21 SULSEL 1,642,995,334 - 1,642,995,334
23 SULTRA 1,171,190,000 - 1,171,190,000
22 SULTENG 487,495,459 - 487,495,459
24 SULUT 757,240,000 - 757,240,000
25 MALUKU 1,298,065,460 - 1,298,065,460
26 PAPUA 1,358,870,000 - 1,358,870,000
28 BABEL 138,020,000.00 - 138,020,000.00
30 BANTEN 353,840,000 - 353,840,000
29 GORONTALO 84,500,000 - 84,500,000
27 MALUT - - -
31 KEPRI 926,670,000 - 926,670,000
32 BIDKU I 10,028,670,890 (2,544,207,500) 7,484,463,390
33 BIDKU II 14,941,681,373 (1,216,616,000) 13,725,065,373
JUMLAH 67,862,221,638 (4,949,223,500) 62,912,998,138

Mutasi/perubahan Gedung dan Bangunan sebesar Rp4.949.223.500,00


tersebut adalah sbb:

Saldo Awal (2008 unaudited) 67,862,221,638


Pengurangan
Koreksi Nilai Rp 4,949,223,500
Rp 4,949,223,500
Saldo Akhir (2008 audited) 62,912,998,138
C.2.2.6 Konstruksi Dalam Pengerjaan

Posisi Perbandingan Konstruksi Dalam Pengerjaan

31 DES 2008 31 DES 2007 Kenaikan / (penurunan)


Rp477,907,955,886 Rp117,639,225,000 Rp360,268,730,886

Tabel 32
Koreksi audit atas Konstruksi Dalam Pengerjaan

NO. POLDA 31 DES 2008 (unaudited) KOREKSI AUDIT 31 DES 2008 (audited)
1 NAD 50,000,000 - 50,000,000
2 SUMUT 6,990,780,000 - 6,990,780,000
3 METRO JAYA 117,641,754,001 - 117,641,754,001
4 BIDKU I - 353,225,421,885 353,225,421,885
JUMLAH 124,682,534,001 353,225,421,885 477,907,955,886

Mutasi/perubahan Konstruksi Dalam Pengerjaan sebesar


Rp353.225.421.885,00 tersebut adalah sbb:

Saldo Awal (2008 unaudited) 124,682,534,001


Penambahan :
Koreksi Nilai Rp 353,225,421,885
Rp 353,225,421,885
Saldo Akhir (2008 audited) 477,907,955,886

C.2.3. Aset Lainnya

C.2.3.1 Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi

Posisi Perbandingan Tuntutan Ganti Rugi

31 DES 2008 31 DES 2007 Kenaikan / (penurunan)


Rp247,670,720 Rp215,276,488 Rp32,394,232
C.2.3.2 Aset Lain-Lain

Aset Lain-lain merupakan penambahan dari :

salah catat /reklasifikasi nilai sebesar Rp. 795.762.000,00

kurang catat /koreksi sebesar Rp. 2.725.731.000,00

C.2.4. Kewajiban Jangka Pendek

Kewajiban jangka pendek TA 2008 sebesar Rp50.542.734.040,00 terdiri dari


Utang kepada Pihak Ketiga, Uang Muka dari KPPN dan Pendapatan yang
Ditangguhkan.

Posisi Perbandingan Kewajiban Jangka Pendek

31 DES 2008 31 DES 2007 Kenaikan / (penurunan)

Rp237,524,654,040 Rp215,276,488 Rp237,309,377,552

C.2.4.1 Utang Kepada Pihak Ketiga

Utang pada pihak ketiga merupakan kewajiban jangka pendek pada pihak ketiga.
Utang pada pihak ketiga saat ini adalah Utang Belanja Pegawai, Belanja Barang,
Belanja Modal.

Utang pada pihak ketiga per 31 Desember 2008 sebesar Rp.208.577.944.182,00


terdiri dari :

Utang Belanja Pegawai sebesar Rp. 290.120.760,00

Utang Belanja Barang sebesar Rp. 206.352.190.802,00

Terdiri dari :

- Utang Pembuatan Material SSB Rp186.697.813.500,00


(Satker Ditlantas Babinkam Polri / Ku Mabes I)

- Utang Pembelian Tanah Rp. 177.200.000,00


(Polda Jabar)
- Utang Wattah Rp. 8.956.704.050,00
- Utang Telepon Rp. 4.546.964.779,00
- Utang Listrik Rp. 4.288.198.378,00
- Utang Gas/ Air Rp. 1.685.310.095,00

Hutang Belanja Modal sebesar Rp. 1.935.632.620,00


C.2.4.2 Uang Muka dari KPPN

Uang muka KPPN merupakan akun penyeimbang dari akun Kas di Bendahara
Pengeluaran. Sebagian besar nilai rupiah pada akun ini merepresentasikan
jumlah belanja pegawai (gaji) bulan Januari 2009 yang telah diterima oleh
Bendahara Pengeluaran dari KPPN pada tanggal 31 Desember 2008 dan telah
dibayarkan kepada Personel Polri pada tanggal 5 Januari 2009.

Uang Muka dari KPPN TA 2008 Rp. 6.447.790.456,00

Uang Muka dari KPPN TA 2007 Rp. 78.512.750.048,00

C.2.4.3 Pendapatan Yang Ditangguhkan

Pendapatan yang ditangguhkan merupakan akun penyeimbang dari akun Kas di


Bendahara Penerimaan. Nilai Rupiah pada akun ini merepresentasikan Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP) dari SSB yang sudah dipungut dari masyarakat pada
tanggal 28, 28, 30 dan 31 Desember 2008 tetapi belum disetor ke kas negara pada
tanggal pelaporan karena Bank persepsi tidak menerima setoran sejak tanggal 27
Desember 2008. Pendapatan tersebut telah disetorkan ke kas negara pada bulan
Januari 2009 sebagaimana bukti SSBP dan R/C terlampir.

Pendapatan yang ditangguhkan TA 2008 Rp. 22.498.919.402,00


Pendapatan yang ditangguhkan TA 2007 Rp. 38.181.921.707,00

C.2.5. Ekuitas Dana Lancar

Ekuitas dana lancar TA 2008 sebesar Rp. 559.642.934.968,00 terdiri dari Cadangan
Piutang, Cadangan Persediaan dan Dana yang harus disediakan untuk pembayaran
Utang Jangka Pendek.

C.2.5.1 Cadangan Piutang

Cadangan Piutang merupakan akun penyeimbang dari akun Bagian Lancar TGR.

Cadangan Piutang TA 2008 Rp. 4.184.929.102,00


Cadangan Piutang TA 2007 Rp. 45.594.238,00
C.2.5.2 Cadangan Persediaan

Cadangan Persediaan merupakan akun penyeimbang dari akun Persediaan

Cadangan Persediaan TA 2008 Rp. 764.035.950.048,00


Cadangan Persediaan TA 2007 Rp. 437.011.904.156,00

C.2.5.3 Dana yang harus disediakan untuk Pembayaran Hutang jk pendek

Dana yang disediakan untuk pembayaran hutang jangka pendek adalah akun
penyeimbang hutang jangka pendek.

TA 2008 (minus) Rp. 208.577.944.182,00


TA 2007 (minus) Rp. 16.557.102.589,00

C.2.6 Ekuitas Dana Investasi

Ekuitas dana investasi TA 2008 sebesar Rp. 70.817.592.414.260,00 terdiri dari Dana
diinvestasikan dalam Aset Tetap dan Dana diinvestasikan dalam Aset Lainnya.

C.2.6.1 Dana Diinvestasikan Dalam Aset Tetap

Dana diinvestasikan dalam aset tetap adalah akun penyeimbang aset tetap.

TA 2008 Rp. 70.813.823.250.540,00

TA 2007 Rp. 88.932.368.765.395,00

C.2.6.2 Dana Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya

Dana diinvestasikan dalam aset lainnya adalah akun penyeimbang aset lainnya.

TA 2008 Rp. 3.769.163.720,00

TA 2007 Rp. 215.276.488,00


D. Pengungkapan Penting Lainnya

D.1. Rekening Pemerintah

Dalam rangka penertiban rekening atas nama pejabat/rekening di lingkungan Polri, maka
disosialisasikan kepada seluruh Kasatker dan Bendahara Pengeluaran serta Bendahara
Penerimaan di lingkungan Polri tentang :
- Peraturan Menteri keuangan RI nomor 56/PMK.05/2007 tanggal 26 Juni 2007 tentang
Pengenaan sanksi dalam rangka pengelolaan dan penertiban rekening pada kementerian
pada Kementerian Negara/ Lembaga/Kantor/Satuan Kerja.
- Peraturan Menteri Keuangan RI nomor 57/PMK.05/2007 tanggal 13 Juni 2007 tentang
Pengelolaan Rekening Milik Kementerian Negara/ Lembaga/Kantor/Satuan Kerja.
- Peraturan Menteri Keuangan RI nomor 58/PMK.05/2007 tanggal 13 Juni 2007 tentang
Penertiban Rekening Pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga.
- Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor 35/PB/2007 tanggal 27 Juni 2007
tentang Petunjuk Kementerian Negara/Lembaga/ Kantor/Satuan Kerja.
- Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor 36/PB/2007 tanggal 27 Juni 2007
tentang Tindak lanjut atas Penertiban Rekening Pemerintah pada Kementerian
Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja.
Dalam rangka memenuhi surat Menteri Keuangan nomor S-713/MK/2008 tanggal 16
Desember 2008 tentang investigasi terhadap rekening Kementerian Negara/Lembaga oleh
Inspektorat Jenderal di Kementerian/Lembaga (yang diklarifikasikan oleh TPTP sebagai
penyimpangan ringan), maka Polri telah membentuk Tim penyelesaian yang terpadu dari
Itwasum Polri dan Pusku Polri untuk segera melaksanakan melaksanakan penertiban dengan
mengambil langkah :
- Inventarisasi rekening.
- Pengisian questioner dan permintaan dokumen.
- Melaksanakan pendalaman untuk memperoleh penjelasan yang akurat.
Hasil investigasi akan disampaikan kepada Tim Penertiban Rekening Pemerintah (TPRP)
disajikan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2008.

D.2. Dana Non APBN

Pelaporan seluruh sisa dana non APBN yang ada pada rekening atas nama Kapusku dan
Kabidku sebagai berikut :
Tabel 33

Rekening Lain-Lain Polda

NO JENIS SALDO AWAL PENERIMAAN PENGELUARAN SALDO

1 DANA SAMSAT 8,818,781,676.66 42,321,391,470.80 42,282,383,841.50 9,270,337,807.59


2 TSP 212,812,160.78 7,365,839,318.51 7,233,663,605.79 648,090,786.50
3 DSP 3,198,526,167.62 2,033,064,438.50 1,221,202,033.95 4,010,388,572.17
4 CATUR SAKTI 3,055,702,279.36 6,757,887,436.44 6,012,440,927.38 2,305,883,412.31
5 RUMKIT 778,773,710.28 102,303,790,953.56 93,734,152,333.28 9,381,841,365.56
6 PON - 13,193,673,293.77 13,159,240,720.00 34,432,573.77
7 HIBAH - 26,154,854,453.00 4,998,551,052.00 21,156,303,401.00
8 PILKADA - 334,844,561,848.00 328,660,618,570.00 5,869,623,978.00
9 PEMDA 31,831,394.00 41,041,557,362.00 40,089,009,386.00 984,379,370.00
10 SAMSAT LANTAS 81,819.00 1,837,417,847.21 1,823,840,848.00 13,658,818.21
11 DPK 68,016,862,658.06 375,080,397,727.28 309,483,168,591.57 94,499,870,888.38
12 MESJID 1,391,221.69 14,212,804.28 15,603,000.00 1,025.97
13 KPR BTN 14,599,618.34 5,729,585.49 11,639,000.00 8,690,203.83
14 ABB - 163,306,990.00 163,303,750.00 3,240.00
15 MAJALAH - 922,028,069.00 922,028,069.00 -
16 MAPAN 73,463,581.00 2,927,911.00 372,000.00 76,019,492.00
17 LAHAN PARKIR - 156,316,790.00 156,316,790.00 -
18 SEWA GEDUNG - 59,945,180.00 59,945,180.00 -
19 AKDA - - - -
20 PUSKU 57,695,084,185.91 32,590,466,360.50 16,555,611,426.84 73,729,939,119.57
21 PENAMPUNGAN - 3,143,520,212.20 - -

22 LAIN-LAIN - - - -
a. Penggantian uang Pagar - 412,474,400.00 20,293,720.00 392,180,680.00
b. Korem /Premanisme - 193,000,000.00 193,000,000.00 -
c. Babinkam /Premenisme - 364,490,000.00 364,490,000.00 -
d. Deops - 19,848,082,040.00 19,197,962,280.00 650,119,760.00
f. dll - - - -
JU M L A H 141,897,910,472.70 1,010,810,936,491.54 886,358,837,125.31 223,031,764,494.86

Untuk dana Pilkada Pemda telah disetorkan kembali ke Pemda, sedangkan untuk dana
Deops sisanya telah disetorkan kembali ke kas negara.

D.3. Pengembalian Belanja


Adanya kekurangan pencatatan pada kas bendahara pengeluaran sebesar
Rp1.034.433.664,00 dan sisa dana tersebut telah disetor ke kas negara setelah tanggal
pelaporan.
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN

1. Dasar Hukum Pemeriksaan


a. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Pasal 30;
b. Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Pasal 55;
c. Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara, Pasal 2;
d. Undang-Undang No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan, Pasal
1.

2. Tujuan Pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan laporan keuangan Polri adalah pemberian opini atas kewajaran
laporan keuangan Polri dengan memperhatikan:
a. Kesesuaian Laporan Keuangan yang diperiksa dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP);
b. Kecukupan pengungkapan informasi keuangan dalam Laporan Keuangan sesuai
dengan pengungkapan yang seharusnya dibuat seperti disebutkan dalam SAP;
c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan terkait dengan pelaporan
keuangan dan
d. Efektivitas Sistem Pengendalian Intern (SPI).

3. Sasaran Pemeriksaan
Untuk mencapai tujuan pemeriksaan di atas, pemeriksaan atas laporan keuangan Polri
menilai asersi pemerintah yang meliputi keberadaan dan keterjadian, kelengkapan,
penilaian, hak dan kewajiban dan pengungkapan. Pengujian asersi tersebut dilakukan
dengan memperhatikan:
a. Tindak lanjut hasil pemeriksaan sebelumnya; termasuk rekening atas nama
instansi/pejabat.
b. Rekonsiliasi realisasi APBN antara Polri dengan Departemen Keuangan/KPPN.
c. Penganggaran dan realisasi belanja modal dan pencatatan aset tetapnya;
d. Pelaporan dan pengelolaan aset tetap;
e. Sistem Pengendalian Intern;
f. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

4. Standar Pemeriksaan
Standar Pemeriksaan adalah Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) Tahun
2006

5. Metode Pemeriksaan
Metodologi pemeriksaan atas Laporan Keuangan Polri TA. 2008 meliputi persiapan,
pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan. Persiapan meliputi kegiatan
pemahaman tujuan dan harapan penugasan, pemantauan tindak lanjut, penyusunan
kebutuhan pemeriksa, pemahaman entitas, penilaian resiko, penetapan materialitas

BPK LHP – LK Polri Tahun 2008 4


dan metode uji petik, pelaksanaan prosedur analitis awal, serta penyusunan program
pemeriksaan terinci dan program kerja perorangan.
Pelaksanaan pemeriksaan meliputi pelaksanaan pengujian analitis terinci, pengujian
pengendalian, pengujian substantif atas transaksi dan saldo, penyelesaian penugasan,
penyusunan ikhtisar koreksi, penyusunan konsep temuan pemeriksaan, pembahasan
konsep temuan pemeriksaan dengan pejabat entitas yang diperiksa, perolehan
tanggapan resmi dan tertulis dari pejabat entitas yang diperiksa, penyampaian temuan
pemeriksaan.
Pemeriksaan juga dilaksanakan secara interim terhadap Laporan Keuangan Polri
Semester I Tahun Anggaran 2008.
Pelaporan hasil pemeriksaan meliputi penyusunan konsep laporan hasil pemeriksaan,
penyampaian dan pembahasan konsep tersebut kepada pejabat entitas yang diperiksa,
dan penyusunan dan penyampaian laporan hasil pemeriksaan.
Laporan Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan Polri Tahun 2008 juga mencakup
hasil pemeriksaan interim atas Laporan Keuangan Polri Tahun 2008.

6. Waktu Pemeriksaan
Jangka waktu pemeriksaan yaitu 45 hari mulai tanggal 13 Februari 2009 sampai
dengan 16 April 2009. Sedangkan jangka waktu pemeriksaan interim yaitu 25 hari
mulai tanggal 9 Desember 2008 sampai dengan 2 Januari 2008.

7. Objek Pemeriksaan
Laporan Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) Tahun 2008.

8. Batasan Pemeriksaan
Mengingat lingkup wilayah Polri yang cukup luas dengan jumlah satuan yang cukup
besar dan tersebar ke seluruh wilayah Indonesia, maka pemeriksaan dalam rangka
pengujian substantif akan dilakukan secara uji petik (sampling) terhadap beberapa
satuan.
Pemilihan satuan yang akan dipilih sebagai sample didasarkan atas:
1) Jumlah anggaran belanja masing-masing satuan sebagaimana dilaporkan dalam
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Tahun 2008.
2) Jumlah aset masing-masing satuan sebagaimana dilaporkan dalam Neraca Polri
Tahun 2008.
3) Frekuensi pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan satker
Sample yang dipilih diharapkan dapat mewakili minimal 30% dari total anggaran
belanja Polri TA 2008, minimal 60% dari total aset Polri Tahun 2008 dan 21% dari
total satker Polri tahun 2008.
Dengan memperhatikan faktor-faktor di atas, maka satuan-satuan yang dipilih untuk
diperiksa adalah sebagai berikut:

BPK LHP – LK Polri Tahun 2008 5


1) Mabes Polri
2) Polda Jabar
3) Polda Jambi
4) Polda Sumbar
5) Polda Sulut
6) Polda Gorontalo
7) Polda Bangka Belitung

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

BPK LHP – LK Polri Tahun 2008 6


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


SISTEM PENGENDALIAN INTERN

ATAS LAPORAN KEUANGAN


KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2008

Nomor : 38b /HP/XIV/4/2009


Tanggal : 30 April 2009
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI.................................................................................................................................. i
RESUME LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN ........................................................ii
HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN .................................... 1
A. Tindak Lanjut Temuan Pemeriksaan SPI Tahun 2005, 2006 dan 2007 .................................. 1
B. Temuan Pemeriksaan SPI Tahun 2008.................................................................................... 1
1. Sistem Pengendalian Intern Atas Pencatatan Dan Pelaporan Aset Tetap Pada 1
Neraca Polri Per 31 Desember 2008 Belum Memadai ……………................
2. Pengamanan Aset Tanah Polri Melalui Pensertifikatan Belum Berjalan 9
Secara Optimal ..............................................................................
3. Sistem Pengendalian Intern Atas Pencatatan dan Pelaporan Persediaan Di 15
Neraca Polri Per 31 Desember 2008 Belum Memadai...

4. Pengelolaan Barang Bukti di Lingkungan Polri Belum Transparan dan 18


Akuntabel ........................................................................................................
5. Sistem Pengendalian Intern Pengelolaan Organisasi dan Keuangan 23
Sekretariat Kompolnas Belum Memadai …………………….........................

Lampiran .....................................................................................................................

BPK-RI LHP SPI- LK POLRI Tahun 2008 Halaman i


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN

Berdasarkan Pasal 6 Undang-undang No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksaan


Keuangan dan Pasal 30 Undang-Udang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,
Presiden menyampaikan rancangan undang-undang tentang pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN kepada DPR berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh
Badan Pemeriksa Keuangan, selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran
berakhir. Laporan Keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi
APBN, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri
dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Untuk selanjutnya
laporan keuangan dimaksud disebut dengan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP).
Dalam penyusunan LKPP tersebut, berdasarkan Pasal 55 ayat 2 Undang-Undang Nomor
1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia (Kapolri) telah menyusun dan menyampaikan Laporan Keuangan Kepolisian
Negara Republik Indonesia (Polri) Tahun 2008 dan 2007 yang meliputi Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan Keuangan Polri tersebut
merupakan tanggungjawab Kapolri. Tanggungjawab BPK adalah pada pernyataan
pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan BPK.
Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan
bebas dari salah saji material, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
mengharuskan BPK melaksanakan pengujian atas efektifitas pengendalian intern dan
kepatuhan Laporan Keuangan Polri terhadap peraturan perundang-undangan. Kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan dan efektifitas pengendalian intern merupakan
tanggungjawab Kapolri. Namun, tujuan pemeriksaan BPK atas laporan keuangan adalah
tidak untuk menyatakan pendapat atas keseluruhan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan dan efektifitas pengendalian intern tersebut. Oleh karena itu, BPK
tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu.
Sistem pengendalian intern Polri terkait dengan laporan keuangan merupakan suatu
proses yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai atas keandalan laporan
keuangan yang disampaikan kepada Presiden dan Menteri Keuangan sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan. Sistem Pengendalian Intern tersebut meliputi berbagai
kebijakan dan prosedur yang menyediakan keyakinan yang memadai bahwa laporan
tersebut telah sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan terkait dengan: (1) catatan

BPK-RI LHP SPI- LK POLRI Tahun 2008 Halaman ii


laporan keuangan; (2) penerimaan dan pengeluaran telah sesuai dengan otorisasi yang
diberikan; (3) keamanan aset yang berdampak material pada laporan keuangan.
Kelemahan Sistem Pengendalian Intern atas Laporan Keuangan Polri yang ditemukan
BPK adalah sebagai berikut:
1. Sistem pengendalian intern atas pencatatan dan pelaporan aset tetap pada Neraca
Polri per 31 Desember 2008 belum memadai
2. Pengamanan aset tanah Polri melalui pensertifikatan belum berjalan secara optimal
3. Sistem pengendalian intern atas pencatatan dan pelaporan persediaan di Neraca Polri
per 31 Desember 2008 belum memadai
4. Pengelolaan barang bukti di lingkungan Polri belum transparan dan akuntabel
5. Sistem pengendalian intern pengelolaan organisasi dan keuangan Sekretariat
Kompolnas belum memadai

Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK menyarankan Kapolri agar:


1. Memerintahkan Deputi Kapolri Bidang Logistik untuk membuat mekanisme
rekonsiliasi antara fungsi logistik dengan keuangan di setiap jenjang pelaporan dari
tingkat Polres, Polda, hingga Mabes Polri, dan membuat standar format Laporan
Hasil Rekonsiliasi Aset Tetap yang berlaku di jajaran Polri serta meningkatkan sarana
dan prasarana untuk mendukung kelancaran inventarisasi dan revaluasi aset di jajaran
Polri
2. Memerintahkan Deputi Kapolri Bidang Logistik untuk menginventarisasi aset tanah
yang masih dalam proses pengurusan sertifikat maupun yang belum di jajaran Polri
dan menyusun perkiraan perhitungan anggaran untuk pensertifikatan tanah serta
meningkatkan koordinasi dengan Sde Renbang Polri terkait dengan dukungan
anggaran pensertifikatan tanah pada anggaran tahun 2010,
3. Memerintahkan Deputi Kapolri Bidang Logistik untuk membuat ketentuan mengenai
mekanisme pelaporan persediaan secara berjenjang dari tingkat Polsek, Polres, Polda
sampai dengan Mabes Polri dan menetapkan prosedur dan mekanisme stock opname,
4. Membentuk tim teknis terkait dengan usulan Kabareskrim mengenai revisi struktur
organisasi Bareskrim dan fungsi reskrim kewilayahan yang menangani barang bukti
dan tahanan serta memerintahkan Kabareskrim untuk membuat mekanisme pelaporan
atas pengelolaan barang bukti mulai dari tingkat Polsek sampai dengan Mabes Polri,
5. Berkoordinasi dengan Ketua Kompolnas dengan membentuk tim teknis untuk
mengkaji ulang Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2005 tentang Komisi
Kepolisian Nasional dan Peraturan Kapolri Nomor 13 Tahun 2007 Tentang
Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kompolnas sebagai upaya untuk merevitalisasi
organisasi, tugas dan fungsi Sekretariat Kompolnas menjadi unit organisasi eselon
satu yang berada dan menyatu dengan struktur organisasi Kompolnas.

Atas pemeriksaan tersebut, selain Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern, BPK RI telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan atas Laporan

BPK-RI LHP SPI- LK POLRI Tahun 2008 Halaman iii


Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia tahun 2008 yang memuat opini Tidak
Memberikan Pendapat dengan nomor 38a/HP/XIV/04/08 tanggal 30 April 2009 dan dan
Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dengan nomor
38c/HP/XIV/04/08 tanggal 30 April 2009.

Jakarta, 30 April 2009


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA,
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Hery Subowo, SE.Ak., MPM, CIA, CFE


Akuntan, Register Negara No.D-17.698

BPK-RI LHP SPI- LK POLRI Tahun 2008 Halaman iv


HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN
A. Tindak Lanjut Temuan Pemeriksaan SPI Tahun 2005, 2006 dan 2007

Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia


tahun 2005 mengungkapkan sebanyak 8 (delapan) temuan pemeriksaan SPI. Hasil
pemeriksaan atas tindak lanjut diketahui bahwa sebanyak 2 (dua) temuan telah
ditindaklanjuti
Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia
tahun 2006 mengungkapkan sebanyak 9 (sembilan temuan) temuan pemeriksaan
SPI. Hasil pemeriksaan atas tindak lanjut diketahui bahwa sebanyak 6 (enam) temuan
telah ditindaklanjuti.
Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia
tahun 2007 mengungkapkan sebanyak 8 (delapan) temuan pemeriksaan SPI. Hasil
pemeriksaan atas tindak lanjut diketahui bahwa sebanyak 5 (lima) temuan telah
ditindaklanjuti.
Rincian tindak lanjut Hasil Pemeriksaan SPI dapat dilihat pada Lampiran 1.

B. Temuan Pemeriksaan SPI Tahun 2008


1. Sistem Pengendalian Intern Atas Pencatatan Dan Pelaporan Aset Tetap
Pada Neraca Polri Per 31 Desember 2008 Belum Memadai
Dalam Neraca Polri per 31 Desember 2008 yang disampaikan kepada
Departemen Keuangan antara lain dilaporkan nilai aset tetap sebesar
Rp69.880.171.175.311,00 dengan rincian sebagai berikut:
a. Tanah : Rp28.654.013.368.316,00
b. Gedung dan Bangunan : Rp27.017.658.646.200,00
c. Peralatan dan Mesin : Rp13.681.762.408.003,00
d. Jalan,Jembatan,Irigasi & Jaringan : Rp 334.191.997.153,00
e. Aset Tetap Lainnya : Rp 67.862.221.638,00
f. Konstruksi Dalam Pengerjaan : Rp 124.682.534.001,00

Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bahwa data aset tersebut berasal dari
Staf Deputi Logistik (Sdelog) Polri melalui proses berikut :
a. Delog Kapolri melalui surat No. Pol. B/3310/XII/2008/Sdelog tanggal 31
Desember 2008 perihal Pelaporan hasil inventarisasi BMN dan laporan aset
kekayaan BMN Semester II Tahun 2008 kepada satker Mabes Polri dan
Polda dengan melampirkan form yang berisi posisi aset per 31 Desember
2008, mutasi tambah kurang dan saldo akhir per 31 Desember 2008 untuk
masing-masing jenis aset.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 1 dari 29


b. Seluruh satker Mabes Polri dan Polda (Rolog Polda) telah mengisi form
tersebut dan mengirimkannya kepada Bagian Infolog Biro Jianstra Sdelog
Polri;
c. Data tersebut selanjutnya dievaluasi ketepatan pengklasifikasiannya dan
dikompilasi oleh Bagian Infolog Biro Jianstra Sdelog Polri. Evaluasi
dilakukan tanpa memperhatikan kewajaran penilaian dan status terkini dari
aset-aset yang dilaporkan;
d. Hasil kompilasi tersebut kemudian disampaikan kepada Pusku Polri sebagai
dasar pencantuman data Aset Polri pada Neraca Polri Tahun 2008.

Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut secara uji petik pada Satker Mabes Polri
dan Polda Jabar, Polda Jambi dan Polda Sumbar diketahui beberapa hal sebagai
berikut:
a. Dari monitoring Bagian Infolog Rojianstra Sdelog Polri diketahui bahwa
belum seluruh satker di jajaran Polri dilakukan proses Inventarisasi aset
tetapnya oleh Tim DJKN sampai dengan akhir tahun 2008. Perbandingan
satker-satker yang sudah dilakukan inventarisasi aset tetap dengan yang
belum dilakukan inventarisasi aset tetap adalah sebagai berikut:

No. Satker Jumlah Satker Satker yg Satker dalam Prosentase


sudah proses di
Menurut (%)
Inventarisasi Inventarisasi
DIPA
1 Kewilayahan (Polda) 911 255 656 28%
2 Mabes Polri 50 33 17 66%
Jumlah 961 288 673 30%

Dari penjelasan bagian Infolog Rojianstra diketahui hasil inventarisasi nilai


aset yang dilaksanakan oleh Tim DJKN Departemen Keuangan untuk di
tingkat Polda (wilayah) dan Mabes Polri belum jadikan dasar dalam
menyusun laporan nilai aset dalam SABMN.
Dari hasil pemeriksaan pada Poda Jabar diketahui bahwa hasil inventarisasi
dan revaluasi Aset Tetap oleh DJKN juga masih terdapat beberapa
kelemahan, sebagai berikut:
1) Terdapat beberapa Satker yang belum mendapatkan hasil Inventarisasi
dan Revaluasi Aset dari DJKN sehingga belum dapat menggunakan hasil
Inventarisasi dan Revaluasi Aset oleh DJKN tersebut dalam penyusunan
SIMAK BMN dan Neraca.
2) Hasil pemeriksaan secara uji petik pada beberapa Satker di lingkungan
Polda Jawa Barat diketahui bahwa terdapat beberapa Satker yang tidak

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 2 dari 29


menggunakan nilai Aset Tetap hasil inventarisasi DJKN dalam
penyusunan Laporan BMN tingkat UAKPB. Selain itu, dapat diketahui
pula bahwa seluruh Satker di lingkungan Polda Jawa Barat tidak
menggunakan nilai Aset Tetap hasil revaluasi DJKN dalam penyusunan
Laporan BMN tingkat UAKPB.
3) Penilaian DJKN atas barang-barang dengan jenis yang sama dengan
tahun perolehan yang sama tidak konsisten. Barang dengan jenis dan
tahun perolehan yang sama pada Satker yang berbeda dinilai tidak
konsisten (tidak sama nilainya) oleh DJKN.
4) Terdapat barang-barang inventaris yang dianggap tidak ada/hilang oleh
Tim Inventarisasi dan Revaluasi dari DJKN karena Satker tidak dapat
menunjukkan data-data pendukung kepemilikannya.
Dari hasil pemeriksaan pada Polda Jambi diketahui bahwa hasil inventarisasi
yang dilakukan DJKN tidak dapat dimanfaatkan secara optimal dalam
membantu penyusunan Neraca per 31 Desember 2008. Hal tersebut antara
lain disebabkan karena:
1) Adanya kemungkinan bahwa hasil inventariasi BMN oleh DJKN tersebut
tidak akurat dikarenakan proses inventarisasi hanya dilakukan dengan
menggunakan metode sampling, sehingga tidak setiap BMN yang
dilaporkan dalam Laporan BMN benar-benar dihitung dan dicek
keberadaannya.
2) Laporan hasil inventarisasi BMN tersebut baru disampaikan kepada
satker terkait pada setelah Laporan BMN semester II Tahun 2008 dan
Neraca per 31 Desember 2008 selesai disusun, yaitu pada bulan Februari
2009.
b. Belum dilakukan validasi data aset tanah dan bangunan yang dilaporkan
dalam neraca Polda dengan data yang berada pada Biro Faskon Sdelog
sebagai pembina fungsi aset tanah dan bangunan. Biro Faskon sebagai
pembina fungsi aset tanah dan bangunan mempunyai data tanah dan
bangunan dan melaporkan secara lebih detail mengenai luas, status dan lokasi
tanah dan bangunan per Polda meskipun belum mencantumkan nilai aset.
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas Laporan Keuangan Polda diketahui
bahwa data luas tanah dan bangunan berdasarkan laporan neraca Rolog Polda
ternyata berbeda dengan data luas tanah dan bangunan yang ada pada Bagian
Inventarisasi Biro Faskon Sdelog Polri, antara lain:

No. Satker Data luas tanah Data luas tanah Selisih


Menurut neraca Biro Faskon Delog
1 Polda Sumut 3.615.093 m2 1.674.494 m2 1.940.599 m2
2 Polda Jabar 1.400.000 m2 2.652.892 m2 1.252.892 m2
3 Polda Sultra 2.082.548 m2 722.591 m2 1.359.957 m2

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 3 dari 29


c. Pada satker Mabes Polri belum dilakukan rekonsiliasi antara UAKPA dengan
UAKPB sehingga masih terdapat perbedaan nilai aset tetap yang dilaporkan
pada Laporan Keuangan satker dan aset tetap pada Laporan SABMN.
d. Pada UAPB-W (Polda) , tidak pernah dilakukan rekonsiliasi antara Subbag
Infolog dengan Bagian Peralatan (Pal), Bagian Bekal Umum (Bekum), dan
Bagian Fasilitas Konstruksi (Faskon) yang bertugas untuk melakukan
pembinaan dalam hal pelaporan dan inventarisasi Aset/BMN Polri. Tidak
adanya mekanisme rekonsiliasi tersebut menyebabkan jumlah aset tetap yang
dilaporkan oleh masing-masing Bag berbeda dengan jumlah yang dilaporkan
oleh Subbag Infolog. Penyebab sulitnya dilakukan rekonsiliasi antara lain
dikarenakan data aset yang dilaporkan oleh masing-masing Bag hanya berupa
jumlah kuantum tanpa disertai dengan nilai aset yang dinyatakan dalam
satuan rupiah.
Hasil prosedur analitis dan pemeriksaan substantif atas saldo perkiraan-
perkiraan Aset Tetap pada Neraca Polda Jabar per 31 Desember 2008 dengan
membandingkan enam data saldo Aset Tetap yaitu:
1) Saldo Aset Tetap pada Neraca UAPPA-W,
2) Saldo Aset Tetap hasil kompilasi Neraca UAKPA,
3) Saldo Aset Tetap Laporan BMN UAPPB-W,
4) Saldo Aset Tetap hasil kompilasi Laporan BMN UAKPB,
5) Saldo Aset Tetap Polda Sulut pada Catatan atas Laporan Keuangan
UAPA,
6) Saldo Aset Tetap dari rincian Laporan BMN UAPB.
diketahui bahwa masih terdapat perbedaan Saldo Aset Tetap dari keenam
data tersebut di atas, sebagai berikut:
Neraca Lampiran BMN
Rincian Rincian
Akun Kompilasi Kompilasi
UAPPA-W UAPA UAPPB-W UAPB
UAKPA UAKPB
Tanah 849.843,66 849.843,66 849.843,66 849.843,66 849.843,66
Peralatan & Mesin 401.731,39 401.731,39 401.904,78 401.904,78 401.904,78
Gedung & Bangunan 1.131.877,08 1.131.877,08 2.424.993,18 1.131.877,08 1.131.877,08 1.131.877,08
Jalan, Irigasi & Jaringan 39.424,65 39.424,65 39.424,65 39.151,15 39.424,65
Aset Tetap Lainnya 1.872,83 1.872,83 1.942,98 2.211,48 1.942,98
Diinvestasikan Dlm Aset
2.424.749,63 2.424.749,63 2.424.993,18 2.453.289,83 2.453.284,83 2.424.993,18
Tetap

Pada UAPAW Polda Jambi diketahui bahwa Neraca Polda Jambi per 31
Desember 2008 bukan sepenuhnya merupakan hasil kompilasi dari Neraca-
neraca yang disusun dan dan dilaporkan secara berjenjang oleh satker-satker
yang berada di jajaran Polda Jambi. Hal tersebut antara lain ditunjukkan
dengan adanya perbedaan nilai saldo akun-akun Neraca yang disajikan di
Neraca Polda Jambi per 31 Desember 2008 dengan hasil kompilasi dari 27
Neraca satker per 31 Desember 2008 yang ada di jajaran Polda Jambi sebagai
berikut:

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 4 dari 29


Saldo menurut Saldo menurut kompilasi
Nama Perkiraaan Selisih
Neraca UAPPA-W Neraca UAKPA

Kas di Bendahara Pengeluaran 174.035.950 174.047.999 (12.049)


Kas di Bendahara Penerimaan 106.078.447 126.764.550 (20.686.103)
Persediaan 2.089.754.294 2.069.104.294 20.650.000
Tanah 79.028.841.835 79.028.841.835 -
Peralatan dan Mesin 106.967.226.748 106.967.226.748 -
Gedung dan Bangunan 310.992.649.846 311.010.649.846 (18.000.000)
Jalan, Irigasi dan Jaringan 49.200.000 49.200.000 -
Aset Tetap Lainnya 1.295.093.000 1.277.093.000 18.000.000

Pada UAPAW Polda Sumbar diketahui bahwa Neraca Polda Sumatera Barat
per 31 Desember 2008 bukan sepenuhnya merupakan hasil kompilasi dari
Neraca-neraca yang disusun dan dan dilaporkan secara berjenjang oleh
satker-satker yang berada di jajaran Polda Sumatera Barat.
Hal tersebut antara lain ditunjukkan dengan adanya perbedaan nilai saldo aset
tetap yang disajikan di Neraca Polda Sumatera Barat (UAPA-W) per 31
Desember 2008 dengan hasil kompilasi dari 36 Neraca satker (UAKPA) per
31 Desember 2008 yang ada di jajaran Polda Sumatera Barat sebagai berikut:

No. Nama Perkiraan Kompilasi Satker Neraca UAPPA-W Selisih

1 Tanah 874.203.914.600 874.203.914.600 -


2 Peralatan dan Mesin 1.078.607.232.393 1.074.539.842.968 4.067.389.425
3 Gedung dan Bangunan 2.193.840.349.704 2.198.505.826.704 (4.665.477.000)
4 Jalan, Irigasi dan Jaringan 2.662.295.000 2.662.295.000 -
5 Konstruksi dalam Pengerjaan - - -
6 Aset Tetap Lainnya 2.792.018.000 2.830.718.000 (38.700.000)
JUMLAH 4.152.105.809.697 4.152.742.597.272 (636.787.575)

e. Seluruh satker di jajaran Polda Sumbar telah menggunakan program aplikasi


SABMN dalam menatausahakan BMN yang ada di jajarannya, namun dalam
pelaksanaannya masih dijumpai adanya kelemahan-kelemahan yang
menyebabkan implementasi SABMN belum sepenuhnya dapat berjalan
dengan optimal, antara lain sebagai berikut:
1) Kualitas SDM (Operator SABMN) yang kurang memadai dikarenakan
kurangnya sosialisasi dan pelatihan megenai SABMN sehingga apabila
ditemukan permasalahan dalam aplikasi SABMN tersebut banyak satker
yang tidak dapat menyelesaikannya.
2) Keterbatasan jumlah personil pada suatu satker yang menyebabkan
personil yang ditugaskan untuk menangani SABMN seringkali juga
harus mengerjakan pekerjaan/tugas rutin lainnya.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 5 dari 29


3) Masih sering dijumpainya permasalahan berupa error/kesalahan yang
diakibatkan oleh kelemahan sistem sehingga kerap kali output berupa
laporan BMN yang dihasilkan dari sistem tersebut tidak sesuai dengan
data yang diinput oleh Operator.
4) Para pelaksana (operator) SABMN kerap mengalami kesulitan dalam
melaporkan nilai aset yang diperoleh dari hasil pengadaan yang
dilakukan secara terpusat dikarenakan Surat Perintah Pengeluaran
Material (SPPM) yang disampaikan kepada satker-satker di wilayah
hanya mencantumkan kuantum (jumlah unit) barang yang dikirim tanpa
disertai dengan nilainya.
5) Kesulitan yang dialami Operator dalam mengelompokkan aset ke dalam
kelompok barang yang tepat dikarenakan kodifikasi barang yang
disediakan oleh aplikasi SABMN belum mengakomodir seluruh jenis
aset yang dimilki/dikuasai Polri terutama untuk alat-alat khusus
kepolisian.
6) Belum seluruh satker di jajaran Polda Sumbar didukung dengan fasilitas
komputer yang memadai untuk mengoperasikan program aplikasi
SABMN, baik dari sisi jumlah maupun spesifikasi teknis komputernya.
7) Minimnya dukungan anggaran dalam pelaksanaan kegiatan SABMN baik
dukungan anggaran untuk pemenuhan sarana dan fasilitas yang
dibutuhkan dalam pengoperasian SABMN maupun dukungan anggaran
untuk insentif bagi para operator/pelaksana penatausahaan BMN agar
para personil/petugas tersebut lebih termotivasi untuk bekerja dengan
lebih optimal.
f. Prosedur untuk meyakinkan kelengkapan pencatatan aset tetap belum
berjalan optimal karena dari hasil pemeriksaan secara uji petik di Satker di
jajaran Polri diketahui terdapat beberapa hasil pengadaan Tahun 2008 dan
beberapa peralatan pengadaan tahun sebelumnya yang belum dicatat dan
dilaporkan dalam Laporan Neraca BMN dan terdapat pembangunan gedung
yang belum selesai tetapi belum dilaporkan dalam Laporan Neraca Aset
sebagai akun Konstruksi Dalam Pengerjaan
g. Polri tidak memiliki prosedur/mekanisme pengendalian khusus untuk
pencatatan kapitalisasi nilai pemeliharaan Aset Tetap. Dengan demikian nilai
pemeliharaan Aset Tetap tidak pernah dikapitalisasi ke dalam Nilai Aset tetap
pada SIMAK-BMN.
h. Masih terdapat kelemahan dalam penilaian aset tetap:
1) Penilaian aset tanah dan bangunan yang tidak didukung data NJOP (nilai
aset Denma mabes Polri berupa tanah Rp10.490.934.000.000 dan
bangunan sebesar Rp1.441.080.389.000 belum didasarkan dari nilai
NJOP dan hasil konfirmasi bahwa nilai perolehan tersebut hasil survai
namun laporan hasil survei belum didapat oleh Tim termasuk aset tanah
Sespim Polri dan Secapa Polri.)
2) Terdapat penilaian aset yang tidak sesuai dengan nilai perolehannya.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 6 dari 29


3) masih terdapat kesalahan input nilai aset tetap dalam aplikasi SABMN
(penilaian Gedung dan Bangunan pda satker Dirtpoludara berdasarkan
harga peroleh per unit bukan harga per m2 dengan taksiran harga per unit
Rp1.500.000,00).
i. Terdapat prosedur penghapusan aset yang tidak sesuai ketentuan (pada
beberapa Satker Mabes Polri diketahui terdapat beberapa kendaraan R4, R6
dan R2 yang masih dalam proses dan belum ada Skep Penghapusan ternyata
kendaraan tersebut sudah tidak dilaporkan dalam Laporan SABMN, selain itu
kendaraan yang telah dihapuskan sesuai Skep masih tercatat dalam Laporan
SABMN pada satker yang bersangkutan)
j. Masih terdapat kesalahan klasifikasi aset tetap berupa peralatan dan mesin ke
perkiraan aset tetap lainnya dan sebaliknya. Dan masih terdapat aset yang
rusak tetapi belum direklasifikasi ke aset lainnya,

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. PP No. 24 tahun 2006 tentang Standar Akuntansi Pemerintah, Pernyataan
Standar Akuntansi Pemerintah No. 07 tentang Aset Tetap:
1) Paragraf 29. Biaya perolehan suatu aset tetap terdiri dari harga belinya
atau konstruksinya, termasuk bea impor dan setiap biaya yang dapat
diatribusikan secara langsung dalam membawa aset tersebut ke kondisi
yang membuat aset tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang
dimaksudkan.
2) Paragraf 31. Tanah diakui pertama kali sebesar biaya perolehan. Biaya
perolehan mencakup harga pembelian atau biaya pembebasan tanah,
biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak, biaya
pematangan, pengukuran, penimbunan, dan biaya lainnya yang
dikeluarkan sampai tanah tersebut siap pakai. Nilai tanah juga meliputi
nilai bangunan tua yang terletak pada tanah yang dibeli tersebut jika
bangunan tua tersebut dimaksudkan untuk dimusnahkan.
3) Paragraf 32. Biaya perolehan peralatan dan mesin menggambarkan
jumlah pengeluaran yang telah dilakukan untuk memperoleh peralatan
dan mesin tersebut sampai siap pakai. Biaya ini antara lain meliputi
harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya instalasi, serta biaya
langsung lainnya untuk memperoleh dan mempersiapkan sampai
peralatan dan mesin tersebut siap digunakan.
4) Paragraf 33. Biaya perolehan gedung dan bangunan menggambarkan
seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh gedung dan
bangunan sampai siap pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga
pembelian atau biaya konstruksi, termasuk biaya pengurusan IMB,
notaris, dan pajak.
b. Keputusan Menteri Keuangan No. 01/KM.12/2001 tentang pedoman
Kapitalisasi barang kekayaan milik negara dalam sistem akuntansi
pemerintah, pasal 3 menyatakan bahwa pengeluaran yang dikapitalisasikan

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 7 dari 29


dilakukan terhadap pengadaan tanah, pembelian peralatan dan mesin sampai
siap pakai, pembuatan peralatan, mesin dan bangunan, pembangunan
gedung dan bangunan, pembangunan jalan/irigasi/jaringan, pembelian Aset
Tetap lainnya sampai siap pakai, dan pembangunan/pembuatan Aset Tetap
lainnya.
Kondisi tersebut mengakibatkan jumlah dan nilai aset tetap yang disajikan dalan
Neraca Polri per 31 Desember 2008 tidak akurat dan tidak dapat diyakini
kewajarannya.
Hal tersebut disebabkan karena:
a. Kuantitas dan kualitas SDM yang menangani inventarisasi aset Polri belum
memadai;
b. Koordinasi antara satker terkait dengan pelaksanaan inventarisasi aset Polri
belum berjalan dengan optimal.
c. Pengawasan dan pengendalian atas aset yang dikelola di jajaran Polri masih
lemah.
Atas temuan SPI tersebut, pihak Polri menanggapi:
a. Mabes Polri
1) Untuk aset yang belum dilakukan rekonsiliasi akan dilaksanakan
rekonsiliasi ulang berdasarkan hasil inventarisasi dari DJKN Depkeu dan
akan dimuat dalam laporan Semester I TA 2009.
2) Secara sistem akuntansi yang berlaku belum bisa menampung atau
memperlakukan biaya pemeliharaan sebagai pengeluaran kapitalisasi atau
menambah harga perolehan aset.
b. Polda Jambi
1) Menerima hasil temuan dan akan ditindaklanjuti dengan melakukan
pengecekan dari tingkat UAKPA sehingga akan mendapatkan Necara
Polda Jambi secara akurat yaitu nilai neraca seluruh UAKPA sama dengan
nilai neraca tingkat UAPPAW.
2) Akan diadakan koreksi ulang atau perbaikan data aset sesuai dengan hasil
Inventarisasi DJKN.
c. Polda Jabar
1) Terkait hasil inventarisasi dan revaluasi di beberapa satker jajaran Polda
Jabar akan segera dilakukan koordinasi dengan pihak DJKN.
2) Bidku dan Biro Logistik akan menggalakkan seluruh satker di jajararan
Polda Jabar untuk menggunakan hasil inventarisasi da revaluasi aset Polda
Jabar oleh DJKN dalam penyusunan laporan keuangan Polda Jabar tahun
mendatang.
3) Biro logistik akan melaksanakan rekonsiliasi antara SIMAK BMN Subbag
Infolog dengan laporan manual aset tetap dari bagian Faskon, bagian PAL,
dan bagian Benkum Biro Logistik sehingga terjadi persesuaian data.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 8 dari 29


d. Polda Sumbar
Bidku dalam menyusun neraca Polda Sumbar per 31 Desember 2008 selalu
melaksanakan koordinasi dengan Biro Logistik selaku pengemban fungsi
logistik di lingkungan Polda dan dengan BPKP wilayah sumbar.

BPK-RI menyarankan Kapolri agar memerintahkan Deputi Kapolri Bidang


Logistik untuk:
a. Melakukan rekonsiliasi dan koreksi aset tetap antara fungsi logistik dengan
fungsi keuangan secara berjenjang mulai dari tingkat Polres, Polda hingga
Mabes Polri berdasarkan hasil inventarisasi dan revaluasi dari DJKN Depkeu.
b. Membuat mekanisme rekonsiliasi yang antara fungsi logistik dengan
keuangan di setiap jenjang pelaporan dari tingkat Polres, Polda, hingga
Mabes Polri, dan membuat standar format Laporan Hasil Rekonsiliasi Aset
Tetap yang berlaku di jajaran Polri.
c. Meningkatkan koordinasi dengan jajaran DJKN wilayah dan pusat dalam
upaya percepatan inventarisasi dan revaluasi aset tetap di jajaran Polri.
d. Meningkatkan sarana dan prasarana untuk mendukung kelancaran
inventarisasi dan revaluasi di jajaran Polri, termasuk meningkatkan kualitas
SDM logistik yang menangani inventarisasi aset untuk memperoleh
pemahaman yang sama atas mekanisme pelaporan aset.

2. Pengamanan Aset Tanah Polri Melalui Pensertifikatan Belum Berjalan


Secara Optimal
Berdasarkan laporan data Barang Tidak Bergerak (BTB) Polri untuk semester II
TA. 2008 yang dilaporkan oleh Delog Kapolri sebagai pelaksana UAPB kepada
Kapolri selaku UAPB diketahui bahwa rekapitulasi data tanah Polri di tingkat
kewilayahan (Polda) maupun di tingkat Mabes seluruhnya seluas 170.871.201
m2 / 8.040 Persil, dari jumlah tersebut yang sudah bersertifikat seluas 28.380.595
m2 / 2.214 Persil atau 16,60%, dengan rincian:
a. Tingkat Polda : Luas 21.736.033 m2 / 2.089 Persil
b. Tingkat Mabes : Luas 6.644.563 m2 / 125 Persil
Sedangkan tanah seluas 142.490.606 m2 / 5.826 Persil adalah tanah yang telah
dikuasai Polri namun belum bersertifikat dan tanah dengan status pinjam pakai
dengan rincian:
a. Tingkat Polda:
1) Belum sertifikat : Luas 140.041.397 m2 / 5.516 Persil.
2) Pinjam Pakai : Luas 1.055.622 m2 / 286 Persil.
b. Tingkat Mabes:
1) Belum sertifikat : Luas 1.294.395 m2 / 24 Persil.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 9 dari 29


2) Tanah yang belum bersertifikat seluas 141.335.792 m2 (140.041.397
m2 + 1.294.395 m2) perolehannya berasal dari:
(a) Hibah seuas 26.685.803 m2 / 766 Persil
(b) Pembelian/swadaya seluas 1.595.953 m2 / 241 Persil
(c) Lain-lain seluas 113.054.036 m2 / 4.533 Persil
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengamanan aset tanah Polri melalui
pensertifikatan belum berjalan dengan optimal.
Selain itu dari hasil pemeriksaan diketahui pula bahwa:
a. Terdapat beberapa sertifikat yang asli tanah milik Polri yang tidak ditemukan
di Biro Logistik Polda Jabar maupun Subbag Logistik Satwil dan dinyatakan
hilang, sebagai berikut:
1) Sertifikat nomor SK/146/DIT/PHT/HP/1978 untuk tanah seluas 20.208
m² yang berlokasi di Jl. Panunggal Blok Bojong Kel/Kec. Cipedes, Kota
Tasikmalaya dan digunakan untuk asrama/rumah dinas anggota Polres
Kota Tasikmalaya (Aspol Bojong).
2) Sertifikat nomor No. Sertifikat I/1975 untuk tanah seluas 10.145 m² yang
berlokasi di Jl. Raya Kedaung Halang Bogor Utara Kota dan digunakan
untuk Mapolresta Bogor.
b. Tanah seluas 47.274 m2 yang berada di jajaran Polda Jabar bermasalah,
sebagai berikut:
1) Tanah seluas 2.920 m2 yang digunakan oleh Mapolwil Purwakarta sejak
tahun 1950 ternyata telah bersertifikat atas nama orang lain (R. Saleh
Adikusumah, Sertifikat Hak Milik No. 174 dan No. 810 tahun 1986).
Hasil pengecekan pihak Biro Logistik Polda Jabar ke BPN diketahui
bahwa Sertifikat Hak Milik tersebut memang tercatat atas nama yang
bersangkutan. Pihak pemilik Sertifikat meminta agar tanah yang
digunakan oleh Mapolwil Purwakarta tersebut dikembalikan atau dibeli
oleh Polri.
2) Tanah dan bangunan seluas 2.789 m2 yang digunakan oleh Rumah Dinas
Kapolwil Purwakarta ternyata telah bersertifikat atas nama orang lain
(Al-Hilaby, Sertifikat No. 215, Surat Ukur No. 211 Tahun 1903). Pihak
pemilik Sertifikat meminta penyelesaian uang sewa tanah dan bangunan
dari tahun 1982 s.d. sekarang.
3) Tanah kosong di dalam Aspol Tegalsari Polres Purwakarta seluas 11.890
m2 yang telah dikuasai sejak tahun 1950.
4) Total keseluruhan dari Aspol Tegalsari Polres Purwakarta tersebut adalah
60.600 m2 dan telah disertifikatkan atas nama Polri seluas 44.545 m2,
sedangkan sisanya seluas 16.055 m2 belum disertifikatkan. Dari sisa
tanah seluas 16.055 m2 yang belum disertifikatkan tersebut terdapat tanah
kosong seluas 11.890 m2 yang digugat kepemilikannya oleh pihak yang
mengaku sebagai ahli waris atas tanah tersebut yaitu Rd. Siti Roedjimah
dengan bukti girik No. 521 Persil 69 D.II dan akta PPAT Camat

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 10 dari 29


Kecamatan Purwakarta pada tahun 1930. Pihak Polda Jabar dan BPN
Purwakarta sepakat bahwa BPN akan membuat Surat Pemberitahuan
kepada pihak penggugat untuk membuktikan bukti kepemilikannya.
Apabila pihak penggugat tidak dapat membuktikan kepemilikannya maka
tanah tersebut akan disertifikatkan atas nama Polri, mengingat sebagian
tanah seluas 44.545 m2 telah bersertifikat atas nama Polri. Sampai dengan
berakhirnya pemeriksaan belum ada perkembangan terbaru atas
penyelesaian gugatan maupun penyelesaian proses pensertifikatan tanah
tersebut.
5) Tanah seluas 1.480 m2 yang digunakan Mapolsek Soreang dan dikuasai
sejak tahun 1951 digugat oleh pihak yang mengaku sebagai ahli waris
atas tanah tersebut yaitu Satjadibrata dengan bukti eks Eigendom
Perponding No. 31. Pihak penggugat meminta ganti rugi kepada Polri.
Berdasarkan keterangan BPN Kabupaten Bandung, tanah dan bangunan
Polsek Soreang merupakan tanah eks hak barat yang telah diajukan
Sertifikat Hak Pakai atas nama Polri, namun karena nomor
perpondingnya belum ditemukan maka akan diumumkan di media massa
dengan batas waktu 30 hari. Kepada masyarakat yang mengaku pemilik
akan diminta menunjukkan bukti kepemilikan, apabila sampai batas
waktu yang telah ditentukan tidak ada masyarakat yang mengaku sebagai
pemilik atau yang mengaku sebagai pemilik tidak dapat menunjukkan
bukti kepemilikan maka permohonan sertifikat atas nama Polri akan
diproses. Sampai dengan berakhirnya pemeriksaan belum ada
perkembangan terbaru atas penyelesaian gugatan maupun penyelesaian
proses pensertifikatan tanah tersebut.
6) Tanah seluas 1.884 m² yang digunakan untuk Aspolwil Cirebon dan
dikuasai sejak tahun 1951 digugat oleh pihak yang mengaku sebagai
pemilik atas tanah tersebut yaitu H. A. Yani/Uci Arusi dengan bukti
Sertifikat Hak Milik No. 1970 dan 1971 tahun 1981. Pihak penggugat
meminta agar tanah dan bangunan dikembalikan.
Tanah Aspolwil Cirebon tersebut merupakan tanah dan bangunan
peninggalan Belanda yang masa Eigendomnya telah habis, tanah tersebut
seharusnya menjadi tanah yang langsung dikuasai oleh Negara, namun
oleh Kepala Desa setempat telah diperjualbelikan kepada pemohon,
selanjutnya BPN berdasarkan Akta Jual Beli tersebut menerbitkan
Sertifikat Hak Milik No. 1970 dan 1971.
Terdapat persyaratan administrasi yang tidak dipenuhi dalam proses jual
beli maupun penerbitan sertifikat tanah tersebut, mengingat pada saat
pengukuran dan dalam persyaratan administrasi berupa pernyataan tidak
keberatan Polri yang menguasai tanah tersebut tidak dilibatkan.
7) Tanah seluas 2.800 m² yang eks Mapolsek Kertasmaya yang telah
dikuasai sejak tahun 1949 digugat oleh pihak yang mengaku sebagai
pemilik atas tanah tersebut yaitu Ny. Rodiah dengan bukti Girik L.564
Persil 6.a.II. Pihak penggugat meminta agar tanah dan bangunan
dikembalikan.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 11 dari 29


8) Tanah seluas 1.242 m² yang digunakan untuk Aspolwil Cirebon dan
dikuasai sejak tahun 1942 digugat oleh pihak yang mengaku sebagai
pemilik atas tanah tersebut yaitu Yayasan Pendidikan Kristen dengan
bukti HGB No. 246/247 tahun 1989. Pihak penggugat meminta agar
tanah dan bangunan dikembalikan.
Proses hukum dalam menyelesaikan sengketa atas tanah ini telah
dilakukan sampai ke tingkat Kasasi dan Polri mengalami kekalahan,
sehingga tanah dan bangunan tersebut sulit dipertahankan.
9) Tanah dan bangunan seluas 3.629 m² yang digunakan untuk Mapolres
Sumedang.
Tanah dan bangunan tersebut merupakan peninggalan hak barat yang
sejak tahun 1948 digunakan bersama-sama dengan PT. Pos dan Giro.
Pada tahun 1957 PT. Pos dan Giro pidah dan menempati gedung baru,
seluruh gedung kemudian digunakan oleh Polri dengan catatan bekas
gedung yang digunakan PT. Pos dan Giro dipinjamkan kepada Polri
melalui perjanjian pinjam pakai yang ditandatangani oleh Kepala Polisi
Kab. Sumedang saat itu (Inspektur Satu Sugeng).
PT. Pos dan Giro meminta kembali tanah dan bangunan tersebut karena
PT. Pos dan Giro masih merasa berhak atas tanah dan bangunan tersebut
mengingat Polri menggunakan seluruh bangunan melalui pinjam pakai,
namun demikian PT. Pos dan Giro tidak mempunyai bukti yuridis yang
menguatkan kepemilikannya.
10) Tanah seluas 2.048 m² yang digunakan untuk Aspolres Bogor (Aspol
Panaragan) dan dikuasai sejak tahun 1958 telah disertifikatkan secara
sepihak oleh 13 orang Purnawirawan Polri.
11) Tanah dan bangunan seluas 3.953 m² yang digunakan untuk Aspolres
Kuningan (Aspol Flora) digugat oleh pihak yang mengaku sebagai
pemilik atas tanah tersebut dengan bukti HGB No. 59/Kuningan yang
telah habis masa berlakunya sejak tahun 1980. Pihak penggugat meminta
agar tanah dan bangunan dikembalikan.
12) Tanah seluas 700 m² yang berlokasi di Jl. Bojong Koneng, Cibeunying,
Cimenyan, Bandung yang digunakan untuk Mapolsek Cimenyan. Tanah
tersebut telah telah memiliki Sertifikat Hak Pakai atas nama Polri Nomor
1/Cibeunying tanggal 29 Juni 1992 seluas 700 m². Atas tanah tersebut
juga terbit Sertifikat Hak Milik No. 3839/Cibeunying atas nama Dr. Ir.
Iwan Inrawan Wiratmadja tanggal 6 Agustus 2002 seluas 2.985 m².
Sengketa duplikasi sertifikat ini masih dalam proses sidang di Pengadilan
Negeri Bale Bandung.
13) Tanah seluas 1.964 m² eks Rumah Dinas Wakapolda Jabar dan dikuasai
sejak tahun 1958. qPada tahun 2005 Polri telah mengusulkan
pensertifikatan tanah tersebut ke BPN, namun sertifikat atas tanah
tersebut tidak dapat diterbitkan karena di atas tanah tersebut telah terbit

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 12 dari 29


Sertifikat Hak Milik atas nama orang lain (Syech Abdul Hadi Bin
Mubuarak).
14) Tanah seluas 238 m² yang digunakan untuk Rumah Dinas Wakapolres
Sukabumi saat ini dihuni oleh keluarga Alm. Letkol Purn. M. Sutisna dan
telah bersertifikat Hak Milik atas nama Achmad Mauludin. Tanah
tersebut tercatat dalam daftar inventaris BMN Polresta Sukabumi.
15) Tanah seluas 1.171 m² yang digunakan untuk Mapolsek Cisarua diminta
dikembalikan oleh ahli waris dengan bukti kepemilikan berupa Sertifikat
Hak Milik No. 240 tahun 1960 seluas 673 m², Sertifikat Hak Milik No.
245 tahun 1960 seluas 407 m² dan Sertifikat Hak Milik No. 17 tahun
1960 seluas 1.352 m² atas nama Adi Dharma Sumanggala.
16) Tanah dan bangunan seluas 7.138 m² di Jl. Karapitan No. 116 Bandung
yang telah bersertifikat Hak Pakai No. 3 atas nama Departemen
Pertahanan dan Keamanan/Angkatan Bersenjata Republik Indonesia c.q.
Kepolisian Republik Indonesia Kepolisian Daerah Jawa Barat tanggal 25
April 1997. Di atas tanah tersebut berdiri Universitas Langlangbuana
yang dikelola oleh BP-PTS Langlangbuana.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


a. Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok
Agraria (UUPA) Bab II Bagian II perihal Pendaftaran tanah pasal 19 ayat (2)
yang menyatakan bahwa pendaftaran tersebut dalam ayat (1) ini meliputi:
1) Pengukuran, perpetaan, dan pembukuan tanah;
2) Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut;
3) Pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat
pembuktian yang kuat.
b. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara pasal
49 ayat (1) ditetapkan bahwa barang milik negara/daerah yang berupa tanah
yang dikuasai Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah harus disertifikatkan atas
nama Pemerintah Republik Indonesia/Pemerintah Daerah yang bersangkutan.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tanggal 8 Juli 1997 tentang
Pendaftaran Tanah pasal 3 yang menyatakan bahwa pendaftaran tanah
bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum
kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah, dan hak-hak
lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai
pemegang hak yang bersangkutan.

Hal tersebut mengakibatkan penguasaan Polri atas hak kepemilikan aset tanah
seluas 141.335.792 m2 tersebut di atas menjadi lemah.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 13 dari 29


Hal tersebut disebabkan karena upaya untuk melakukan pengalihan hak milik
tanah belum ada dan alokasi anggaran untuk biaya pensertifikatan tanah tidak
tersedia dalam DIPA.
Atas temuan SPI, pihak Polri menanggapi:
a. Mabes Polri
Telah dibuat arahan dengan ST Kapolri No. ST/252/II/2009 tanggal 27
Februari 2009 kepada para Kasatker tingkat Mabes Polri dan para Kapolda
untuk:
a. Melaksanakan pendataan tanah yang dikuasai/dimiliki Polri secara
cermat dan akurat khususnya terhadap tanah yang belum bersertifikat.
b. Melakukan koordinasi dengan BPN setempat.
c. Terhadap tanah kosong yang memiliki tingkat kerawaan cukup tinggi
agar dipasang papan nama peringatan bahwa tanah/bangunan milik Polri.
b. Polda Sumbar
Belum dilaksanakan pensertifikatan tanah dikarenakan ketidak jelasan hak
dan dukungan biaya. Rencana tindak lanjut menggunakan biaya
pensertifikatan dalam DIPA 2010.
c. Polda Jambi
Masih banyak tanah Polda Jambi yang belum bersertifikat dikarenakan
keterbatasan anggaran pensertifikatan tanah dan akan diusulkan biaya
pensertifikatan ke Biro Renbang Polda jambi untuk dimasukan dalam
RKAKL satker yang bersangkutan.
d. Polda Jabar
Biro Logistik dan biro renbang akan merencanakan melalui rancangan renja
tahun 2010 untuk penyiapan anggaran pensertifikatan tanah Polda Jabar dan
jajarannya yang belum memilik sertifikat dan untuk sertifikat yang hilang
akan dilakukan penelusuran serta mengusuhakan terbitnya sertifikat duplikat
apabila sertifikat asli tidak ditemukan.

BPK-RI menyarankan agar Kapolri memerintahkan Deputi Kapolri Bidang


Logistik untuk:
a. Menginventarisasi aset tanah yang masih dalam proses pengurusan sertifikat
maupun yang belum di jajaran Polri dan menyusun perkiraan perhitungan
anggaran untuk pensertifikatan tanah.
b. Meningkatkan koordinasi dengan Sde Renbang Polri terkait dengan
dukungan anggaran pensertifikatan tanah pada anggaran tahun 2010.
c. Melakukan pendataan atas sertifikat tanah yang hilang dan menjalin
kerjasama dengan BPN terkait untuk segera menerbitkan sertifikat pengganti
apabila sertifikat sebelumnya tidak ditemukan, serta melakukan pemeriksaan

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 14 dari 29


untuk meyakinkan apakah ada unsur kesengajaan atau kelalaian atas
hilangnya sejumlah sertifikat tanah.

3. Sistem Pengendalian Intern Atas Pencatatan dan Pelaporan Persediaan Di


Neraca Polri Per 31 Desember 2008 Belum Memadai
Salah satu komponen dari aset lancar yang disajikan di Neraca Polri per 31
Desember 2008 adalah Akun Persediaan. Persediaan merupakan aset lancar
dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung
kegiatan operasional pemerintah, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk
dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
Neraca Polri per 31 Desember 2008 menyajikan perkiraan/akun persediaan
dengan saldo sebesar Rp Rp775.266.365.544,00. Persediaan tersebut terdiri atas
persediaan peralatan/bahan habis pakai berupa material SIM, STNK, STCK,
BPKB, plat TNKB, amunisi, dan obat-obatan yang sampai dengan tanggal 31
Desember 2008 belum terpakai dan masih disimpan di gudang/tempat
penyimpanan yang ada di satker-satker di jajaran Polri.
Hasil uji pengendalian dan substantif atas pencatatan dan pelaporan akun
persediaan di Neraca Polri per 31 Desember 2008 pada satker-satker di jajaran
Mabes Polri, Polda Jabar, Polda Jambi dan Polda Sumatera Barat diketahui
bahwa:
a. Hampir seluruh satker di jajaran Polri tidak melakukan pencatatan persediaan
secara memadai, antara lain ditunjukkan dengan tidak adanya buku
persediaan, kartu stock barang.
b. Laporan Persediaan pada akhir tahun 2008 disusun tanpa didahului dengan
stock opname (perhitungan fisik persediaan) per 31 Desember 2008 yang
dituangkan dalam Laporan/Berita Acara Hasil Stock Opname Persediaan.
c. Hasil pemeriksaan atas laporan persediaan yang telah dibuat oleh beberapa
satker menunjukkan pula bahwa sebagian satker hanya melaporkan
persediaan dalam satuan kuantum tanpa disertai dengan nilai rupiahnya.
d. Berdasarkan hasil cek fisik gudang pada beberapa satker Mabes Polri masih
ditemukan adanya barang-barang hasil pengadaan tahun 2008 yang belum
didistribusikan ke satwil-satwil tetapi barang-barang tersebut tidak dicatat ke
dalam Laporan persediaan.
e. Penilaian persediaan tidak didasarkan harga perolehan barang yang terakhir
melainkan didasarkan pada harga perolehan saat barang persediaan tersebut
masuk.
f. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat penyajian nilai persediaan
yang tidak akurat, dikarenakan sejumlah persediaan tidak dinilai berdasarkan
harga per unit barang, melainkan berdasarkan harga per kelompok barang.
g. Laporan persediaan obat-obatan dan alkes habis pakai pada satker
Biddokes/Rumkit Bhayangkara Polda hanya memuat persediaan yang berada
di gudang penyimpanan obat Biddokes/Rumah Sakit Bhayangkara Polda dan

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 15 dari 29


belum mencakup persediaan obat-obatan dan alkes habis pakai yang dikelola
oleh Apotik Rumah Sakit serta poliklinik-poliklinik yang ada di Polres.
h. Nilai Persediaan yang dilaporkan oleh Satker Pusdokkes Polri belum
mencakup persediaan berupa bahan baku obat, embalage dan obat hasil
produksi yang belum didistribusikan ke Bidmatfaskes yang ada di Gudang
Bidfipol Pusdokkes Polri.
i. Nilai persediaan yang dilaporkan di Neraca Polri per 31 Desember 2008
tidak akurat dikarenakan terdapat kesalahan dalam pengklasifikasian barang
ke dalam akun-akun Neraca Polri. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa
terdapat sejumlah barang yang seharusnya dicatat ke dalam akun peralatan
dan mesin namun dicatat ke dalam akun persediaan, dan sebaliknya terdapat
sejumlah amunisi yang seharusnya dikategorikan sebagai Persediaan namun
dicatat ke dalam akun peralatan dan mesin.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


a. PP No. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, pernyataan
No. 5 tentang Akuntansi Persediaan paragraf 16 disebutkan bahwa pada akhir
periode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik.
b. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. 40/PB/2006 tentang Pedoman
Akuntansi Persediaan BAB II, paragraf 2 menyatakan bahwa …’Persediaan
dicatat dalam Buku Persediaan (dalam bentuk kartu) untuk setiap jenis
barang. Berdasarkan saldo per jenis persediaan pada Buku Persediaan
disusun Laporan Persediaan. Laporan Persediaan disusun menurut
Subkelompok Barang dan dilaporkan setiap semester. Laporan Persediaan
dibuat didasarkan pada saldo pada akhir periode pelaporan berdasarkan hasil
opname fisik. Laporan Persediaan dari UAKPB dikirimkan ke UAPPB-W’.

Hal tersebut mengakibatkan informasi mengenai posisi (nilai) aset persediaan


yang disajikan dalam Neraca Polda Sumbar per 31 Desember 2008 tidak akurat
dan tidak dapat dinilai kewajarannya.

Hal tersebut disebabkan karena:


a. Lemahnya sistem pengendalian intern atas pengelolaan aset persediaan di
lingkungan Polri.
b. SDM/personil yang menangani pengeloaan persedian belum sepenuhnya
memahami ketentuan mengenai pencatatan dan pelaporan Persediaan dalam
laporan keuangan.
c. Koordinasi antar unit-unit organisasi yang bertanggung jawab atas pelaporan
aset dalam laporan keuangan Polri belum berjalan dengan baik.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 16 dari 29


Atas temuan SPI, pihak Polri menanggapi:
a. Mabes Polri
a. Temuan BPK akan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan stock opname,
tapi pada akhir tahun 2008 diakui Berita Acara belum dibuat. Sedangkan
untuk hasil pengadaan persediaan tahun 2008 yang belum dimasukkan
dalam persediaan karena pada saat pengecekan fisik tidak berada di
gudang, termasuk SSB yang belum disalurkan per 31 Desember 2008,
namun sudah di salurkan ke wilayah-wilayah bulan Januari Februari
2009.
b. Untuk mengetahui persediaan barang di gudang harus dilakukan
rekapitulasi data berdasarkan buku pemasukan dan penerimaan barang.
c. Akan dilakukan evaluasi ulang atas nilai persediaan termasuk
memasukan persediaan milik Subsatker Pusdokkes Polri.
b. Polda Jambi
Menerima hasil temuan dan akan menindaklanjuti serta akan melakukan
pengecekan terhadap data persediaan, dan kedepannya masing-masing sub
bag log akan berkoordinasi dengan Biro logistik untuk memberikan data yang
akurat dan selanjutnya disajikan dalam neraca tingkat Polda.
c. Polda Jabar
Akan dilakukan perbaikan penatausahaan bekal kesehatan digudang dengan
melakukan stock opname.
d. Polda Sumbar
Terkait penyajian persediaan per 31 Desember 2008, Bidku telah melakukan
koordinasi dengan Biro Logistik, Ditlantas, dan Biddokes sebagai bahan
perbandingan dalam menyusun Laporan Keuangan Polda Sumbar.

BPK-RI menyarankan agar Kapolri memerintahkan Deputi Kapolri Bidang


Logistik untuk:
a. Melakukan rekonsiliasi dan koreksi persediaan antara fungsi logistik dengan
fungsi keuangan secara berjenjang mulai dari tingkat Polres, Polda hingga
Mabes Polri berdasarkan hasil stock opname yang dibuat oleh unit pengelola
persediaan (seperti dokkes/rumkit/klinik untuk persediaan obat dan alkes,
lantas untuk persediaan blanko SSB dst).
b. Membuat ketentuan mengenai mekanisme pelaporan persediaan secara
berjenjang dari tingkat Polsek, Polres, Polda sampai dengan Mabes Polri,
sehingga diperoleh angka yang wajar pada akhir tahun.
c. Membuat prosedur dan mekanisme stock opname dan memberikan sanksi
yang tegas secara berjenjang kepada Kasatker dan petugas pengelola
persediaan apabila tidak melaksanakan stock opname.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 17 dari 29


d. Meningkatkan sarana dan prasarana untuk mendukung kelancaran
inventarisasi persediaan di jajaran Polri, termasuk meningkatkan kualitas
SDM petugas gudang untuk memperoleh pemahaman yang sama atas
mekanisme pelaporan persediaan.

4. Pengelolaan Barang Bukti di Lingkungan Polri Belum Transparan dan


Akuntabel
Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) selain mengelola BMN yang
menjadi aset/kekayaan Polri juga melakukan pengelolaan atas barang bukti.
Barang bukti tersebut merupakan benda sitaan yaitu suatu barang atau benda
yang akibat dari perkara baik perkara perdata maupun pidana yang disita oleh
aparat penegak hukum sesuai UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana Bab I Pasal 7 ayat (1) huruf d. Penyitaan dilakukan pada tahap penyidikan
dan benda sitaan tersebut diserahkan oleh pihak penyidik kepada Kejaksaan
setelah berkas dinyatakan lengkap (P21) sesuai Pasal 139 Undang-undang
tersebut.
Barang bukti yang ada di lingkungan Polri dapat berupa uang maupun barang
seperti surat berharga, kendaraan bermotor, alat berat, obat-obatan terlarang dan
lain sebagainya.
Hasil review atas pengelolaan barang bukti yang dilakukan oleh Badan Reserse
dan Kriminal (Bareskrim) Polri diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Barang bukti yang diperoleh dari hasil penyitaan dalam suatu proses
penyidikan diadministrasikan dalam Buku Register No. 13 yang di dalamnya
memuat keterangan mengenai jenis dan jumlah barang bukti, tanggal
penerimaan barang bukti, nama tersangka dan pemilik barang bukti, tanggal
dan pihak-pihak yang menerima penitipan/penyimpanan barang bukti, serta
tanggal dan pihak-pihak yang melakukan penyerahan barang bukti.
b. Selama menunggu kelengkapan berkas-berkas penyidikan suatu perkara
untuk dapat dilimpahkan kepada kejaksaan (P.21) maka barang bukti tersebut
oleh Penyidik yang bersangkutan dapat dititipkan ke Rumah Penyimpanan
Barang Sitaan (Rupbasan) dengan membuat Berita Acara
Penitipan/Penyerahan barang bukti, atau dapat pula disimpan di Kantor
Kepolisian.
b. Apabila barang bukti tersebut dititipkan kepada Rupbasan, maka tanggung
jawab fisik atas barang bukti tesebut dilimpahkan dari Penyidik (Polri)
kepada Rupbasan, sedangkan apabila barang bukti tersebut disimpan di
Kantor Kepolisian, maka tanggung jawab fisik atas barang bukti tersebut
berada di tangan personil/anggota Polri yang menyimpan barang bukti
tesebut.
c. Bareskrim Polri tidak memiliki ruangan yang khusus disediakan untuk
menyimpan barang bukti. Selain itu juga tidak ada personil/anggota Polri
yang ditetapkan secara resmi sebagai petugas yang bertanggung jawab untuk

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 18 dari 29


menyimpan barang bukti yang statusnya masih dalam proses penyidikan atau
belum dilimpahkan ke Kejaksaan (P.21).
d. Barang bukti yang disita oleh Bareskrim Polri menjadi tanggung jawab
masing-masing Penyidik yang menangani kasus terkait dan pada umumnya
tidak disimpan secara khusus di suatu ruang penyimpanan, melainkan
disimpan di ruangan kerja bersama dengan barang-barang kantor lainnya
setelah sebelumnya dibungkus atau diikat menurut jenisnya masing-masing
dan diberi label. Sedangkan untuk barang bukti yang jumlahnya banyak
sehingga tidak memungkinkan untuk dipindahkan dari lokasinya semula,
maka barang bukti tersebut tetap disimpan di lokasinya semula dan diikat
satu sama lain dan diberi cap/stempel sehingga apabila ada perubahan
(berkurang jumlahnya) akan mudah diketahui oleh petugas. Khusus untuk
barang bukti berupa uang, maka penyimpanan barang bukti dilakukan dengan
cara memblokir rekening tempat disimpannya uang yang menjadi barang
bukti, atau apabila berupa uang tunai maka dititipkan kepada Bendahara
Satker untuk disimpan di Brankas. Dalam hal barang bukti mudah
rusak/busuk, misalnya barang bukti berupa kayu, ikan, dsb, maka barang
bukti tersebut dilelang, dan hasil lelang disimpan untuk pengganti barang
bukti.
e. Daftar barang bukti yang ada di Bareskrim Polri tidak mencakup data-data
mengenai barang bukti yang ada di Ditreskrim Polda-Polda dan Satreskrim
Polres-polres, melainkan hanya memuat informasi tentang kumpulan daftar
barang bukti yang disimpan oleh masing-masing Direktorat yang berada di
jajaran Bareskrim Polri.

Hasil review atas pengelolaan barang bukti yang dilakukan oleh fungsi Reskrim
di jajaran Polda Jabar, Polda Jambi, Polda Sumatera Barat, Polda Babel, Polda
Gorontalo dan Polda Sulut diketahui beberapa hal sebagai berikut:
a. Penerimaan barang bukti belum seluruhnya tercatat dalam Buku Register
Serse B-13. Pada saat barang bukti tersebut dikeluarkan/ diserahkan, tidak
ada pencatatan pengeluarannya pada Buku Register Serse B-13. Sehingga
tidak dapat diketahui secara pasti barang bukti apa saja yang dikelola dan
masih ada di Polda pada tanggal tertentu.
b. Belum seluruh satker memiliki tempat/ruangan khusus untuk penyimpanan
barang bukti. Untuk satker yang sudah memiliki tempat/ruangan khusus
untuk penyimpanan barang bukti, pada umumnya tempat/ruangan tersebut
juga belum memadai.
Berikut ini adalah hasil pemeriksaan pada satu sattamawil (Polda Jabar) atas
penyimpanan barang bukti :
Tempat Penyimpanan
No Satker
Barang Bukti
1 Ditreskrim Ada namun belum memadai
2 Ditresnarkoba Di ruang Dir Resnarkoba
3 Satreskrim Polwiltabes Bandung Ada namun belum memadai
4 Satresnarkoba Polwiltabes Bandung Digabung dengan Satreskrim

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 19 dari 29


Tempat Penyimpanan
No Satker
Barang Bukti
5 Satreskrim Polresta Bandung Barat Ada namun belum memadai
6 Satreskrim Polresta Bandung Tengah Ada namun belum memadai
7 Satreskrim Polresta Bandung Timur Ada namun belum memadai
8 Subbag Reskrim Polwil Priangan Tidak ada
9 Satreskrim Polres Garut Tidak ada
10 Satreskrim Polres Sumedang Ada namun belum memadai
11 Satreskrim Polresta Cimahi Ada namun belum memadai
12 Satresnarkoba Polresta Cimahi Di ruang Kasat Resnarkoba
13 Satreskrim Polres Bandung Ada namun belum memadai
14 Subbag Reskrim Polwil Purwakarta Ada namun belum memadai
15 Satreskrim Polres Purwakarta Ada namun belum memadai
16 Satresnarkoba Polres Purwakarta Menggunakan Lemari/Loker
17 Satreskrim Polres Subang Ada namun belum memadai
18 Satreskrim Polres Karawang Ada namun belum memadai
19 Satresnarkoba Polres Karawang Menggunakan Lemari/Loker
20 Subbag Reskrim Polwil Bogor Ada namun belum memadai
21 Satreskrim Polres Bogor Ada namun belum memadai
22 Satresnarkoba Polres Bogor Ada namun belum memadai
23 Satreskrim Polresta Bogor Ada namun belum memadai
24 Satresnarkoba Polresta Bogor Ada namun belum memadai
25 Satreskrim Polres Sukabumi Tidak ada
26 Satresnarkoba Polres Sukabumi Tidak ada
27 Subbag Reskrim Polwil Cirebon Tidak ada
28 Satreskrim Polresta Cirebon Tidak ada
29 Satreskrim Polres Cirebon Tidak ada
30 Satresnarkoba Polres Cirebon Menggunakan Brankas
31 Satreskrim Polres Kuningan Tidak ada

Sedangkan untuk barang bukti yang tidak memungkinkan untuk dipindahkan


dari lokasinya semula (TKP) dan karena ketiadaan biaya angkut, maka
barang bukti tersebut tetap disimpan di TKP.
c. Belum seluruh satker di jajaran Polda Jabar menunjuk petugas khusus untuk
pengelolaan barang bukti, sebagai berikut:
d. Hasil pemeriksaan lebih lanjut diketahui terdapat Barang Bukti berupa
Ranmor baik R2 maupun R4 yang digunakan untuk mendukung kegiatan
operasional (di Polda Jabar dan Polda Sumatera Barat), namun demikian
Polda membuat pencatatan/pembukuan tersendiri untuk pengendalian
penggunaan Barang Bukti berupa Ranmor di jajarannya.
e. Ditreskrim dan Ditresnarkoba Polda sebagai pembina fungsi reserse dan
kriminal di tingkat Polda, tidak memiliki database mengenai jumlah, jenis
maupun keberadaan barang bukti dan barang temuan di Polwiltabes/Polwil/
Polresta/Polres jajaran Polda Jabar. Polres dan Polresta juga tidak memiliki
database mengenai jumlah, jenis maupun keberadaan barang bukti dan
barang temuan di Unit Reskrim Polsek/Polsekta. Ketiadaan data tersebut
menyebabkan Polda juga tidak memberikan laporan kepada Bareskrim Polri
tentang barang bukti dan barang temuan penyidikan di jajaran Polda.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 20 dari 29


Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Polri Tahun 2008 menunjukkan
bahwa informasi mengenai pengelolaan barang bukti (jenis, jumlah dan nilai
barang bukti) yang dikuasai Polri (Bareskrim Polri, Ditreskrim Polda-polda dan
Satreskrim Polres-polres) belum diungkap dalam Catatan Laporan Keuangan
Polri Tahun 2008, sehingga belum menunjukkan adanya transparansi dan
akuntabilitas dalam pengelolaan barang bukti.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara pada
Pasal 1 angka 1 dan Pasal 2 huruf h menyatakan bahwa yang dimaksud
dengan Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang
dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun
berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut yang antara lain meliputi kekayaan
pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan
tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum.
b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2005 Tanggal 13
juni 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, Pernyataan No. 4
Tentang Catatan Atas Laporan Keuangan pada Paragraf 13 huruf (f)
disebutkan bahwa Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi
tentang penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan
yang memadai, antara lain berupa informasi tambahan yang diperlukan untuk
penyajian yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan
keuangan.
c. Naskah Sementara Pedoman Penyidikan Tindak Pidana (Lampiran Skep
Kabareskrim No. Pol.: SKEP/82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15
Desember 2006 Bab III tentang Pelaksanaan Penyidikan, antara lain
menyatakan bahwa:
Point C: Persiapan
Di setiap kesatuan Polri ditunjuk petugas yang melakukan pengawasan
terhadap barang-barang yang disita/barang bukti.
Point D: Pelaksanaan Penyitaan
1) Membuat daftar benda-benda yang disita secara terperinci tentang jumlah
atau berat menurut jenis masing-masing.
2) Benda yang telah disita harus dicatat dalam Buku Register Barang Bukti.
3) Barang Bukti harus disimpan:
a) Di tempat penyimpanan barang bukti pada Kantor Kepolisian
setempat (sebelum adanya Rupbasan).
b) Di Rupbasan, apabila sudah ada Rupbasan.
c) Di tempat penitipan barang pada Bank Pemerintah.
d) Di tempat semula ketika benda disita.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 21 dari 29


4) Penyerahan barang bukti kepada Pejabat Rupbasan dilaksanakan dengan
surat pengantar yang dilampiri daftar barang bukti yang diserahkan dan
dibuat Berita Acara Penyerahan Barang Bukti.
5) Penyimpanan barang bukti di kantor Kepolisian dilakukan oleh petugas
yang khusus ditunjuk untuk itu. Untuk setiap penyerahan barang bukti
dari Penyidik/Penyidik pembantu yang melakukan pemeriksaan atau dari
petugas yang memberikan Surat Tanda Penerimaan. Barang harus
disimpan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab.
6) Sebelum adanya Rupbasan, pertanggungjawaban fisik atas barang bukti
ada pada petugas penyimpanan barang bukti. Untuk keamanan barang
bukti siapapun dilarang memakai barang bukti.
7) Setelah ada Rupbasan, pertanggungjawaban fisik ada pada pejabat
Rupbasan, sedangkan tanggung jawab yuridis ada pada pejabat yang
berwenang sesuai dengan tingkat pemeriksaan dalam rangka proses
peradilan pidana.

Hal tersebut mengakibatkan:


a. Barang bukti yang menjadi tanggung jawab Bareskrim Polri rawan untuk
hilang atau disalahgunakan.
b. Monitoring/pemantauan atas jumlah barang bukti yang dikelola di jajaran
Polri sulit dilakukan.

Hal tersebut disebabkan karena:


a. Polri belum memiliki tempat/ruang khusus untuk menyimpan barang bukti
yang menjadi tanggung jawabnya dan belum memanfaatkan adanya
Rupbasan sebagai tempat penyimpanan barang bukti.
b. Kurangnya pengawasan Satuan Pusat atas pengelolaan barang bukti yang ada
di Satuan-satuan Wilayah.

Atas temuan SPI tersebut, pihak Polri menanggapi:


a. Fasilitas penyimpanan barang bukti yang dimiliki Kepolisian sangat terbatas,
Bareskrim Polri telah mengajukan usulan pembangunan rumah
penyimpaan/gudang barang bukti sampai ke tingkat Polres kepada pimpinan
Polri, namun belum turun sampai saat ini.
b. Belum ada mekanisme pelaporan barang bukti secara berjenjang dari Polres,
Polda, sampai Mabes Polri, untuk itu Bareskrim Polri telah mengusulkan
pimpinan Polri untuk merevisi struktur organisasi khususnya fungsi reskrim
dari mulai tingkat Mabes Polri sampai dengan ujung tombak terdepan
(polsek) agar dibentuk kembali unit organisasi yang khusus mengelola
masalah tahanan dan barang bukti, sehingga penanganannya akan lebih
fokus, termasuk mekanisme sistem pelaporannya.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 22 dari 29


c. Tidak adanya pejabat yang ditunjuk untuk bertanggung jawab secara fisik
atas pengelolaan barang bukti, dengan terbentuknya unit organisasi yang
menangani tahanan dan barang bukti, maka akan jelas bagi personil yang
mengawakinya bertanggung jawab tentang pengelolaan barang bukti dan
tahanan. Dalam hal ini Bareskrim telah melaksanakan pelatihan penanganan
barang bukti pada tanggal 2 s.d. 5 Desember 2008 sebanyak 40 0rang yang
terdiri personil bareskrim dan jajarannya, sehingga kedepan personel tersebut
yang mengawaki unit organisasi tersebut.

BPK-RI menyarankan Kapolri agar:


a. Menginstruksikan Kabareskrim dan Deputi Kapolri Bidang Renbang
berkoordinasi dengan Bappenas dan Departemen Keuangan terkait dengan
pembangunan rumah/ruangan tempat penyimpanan barang bukti.
b. Membentuk tim teknis terkait dengan usulan Kabareskrim mengenai revisi
struktur organisasi Bareskrim dan fungsi reskrim kewilayahan yang
menangani barang bukti dan tahanan.
c. Memerintahkan Kabareskrim untuk membuat mekanisme pelaporan atas
pengelolaan barang bukti mulai dari tingkat Polsek sampai dengan Mabes
Polri.

5. Sistem Pengendalian Intern Pengelolaan Organisasi dan Keuangan


Sekretariat Kompolnas Belum Memadai

Komisi Kepolisian Nasional adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen


(LPND) yang dibentuk berdasarkan Undang-undang nomor 2 tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun
2005 tentang Komisi Kepolisian Nasional. Pembentukan Kompolnas dilakukan
sesuai amanat Ketetapan MPR RI No. VII/MPR/2000 yang menghendaki adanya
lembaga pengawasan fungsional yang mengawasi kinerja Kepolisian sehingga
kemandirian dan profesionalisme Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat
terjamin. Kompolnas memiliki 9 (sembilan) Anggota yang meliputi 3 (tiga) orang
dari unsur Pemerintah, 3 (tiga) orang pakar kepolisian dan 3 (tiga) orang tokoh
masyarakat; merupakan lembaga yang kapabel dan diharapkan menjadi
kepanjangan tangan Presiden dalam mengawasi Kinerja Polri.
Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) bertugas membantu Presiden dalam
menetapkan arah kebijakan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan
memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan
pemberhentian Kapolri. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, Kompolnas
berwenang untuk: a) mengumpulkan dan menganalisis data sebagai bahan
pemberian saran kepada Presiden yang berkaitan dengan anggaran Polri,
pengembangan sumber daya manusia Polri, dan pengembangan sarana dan
prasarana Polri; b) memberikan saran dan pertimbangan lain kepada Presiden
dalam upaya mewujudkan Polri yang profesional dan mandiri; dan c). menerima

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 23 dari 29


saran dan keluhan dari masyarakat mengenai kinerja kepolisian dan
menyampaikannya kepada Presiden.
Dalam kewenangan yang dimiliki tersebut, Kompolnas tidak saja berperan
sebagai lembaga pengawas eksternal guna meredam berbagai kekhawatiran atas
lemahnya kontrol terhadap kelembagaan Polri, melainkan pula sebagai institusi
yang diharapkan mampu merumuskan berbagai kepentingan strategis atas
eksistensi Polri selaku pemelihara Kamtibmas, penegak hukum, serta pelindung,
pengayom dan pelayan masyarakat. Pada sisi yang kedua ini Kompolnas,
diharapkan dapat memberikan masukan yang akurat dan komprehensif kepada
Presiden mengenai berbagai kendala yang dihadapi Polri, baik terkait dengan
profesionalisme dan kemandirian Polri (seperti keterbatasan anggaran, sumber
daya manusia, sarana dan prasarana) maupun yang berkenaan dengan saran dan
keluhan masyarakat mengenai kinerja kepolisian.
Dengan beban tugas serta wewenang Kompolnas yang sedemikian besar, baik
aspek pengawasan kinerja dan profesionalisme Polri maupun tanggung jawab
moral Kompolnas yang diharapkan dapat menjadi mata hati masyarakat terhadap
Polri sekaligus menjadi mata hati Polri bagi masyarakat, maka diperlukan adanya
suatu unit kerja, dalam hal ini Sekretariat Kompolnas, yang mampu memberikan
dukungan bagi terselenggaranya tugas dan wewenang Kompolnas secara lebih
optimal.
Penilaian terhadap Sistem Pengendalian Intern (SPI) atas pengelolaan organisasi
dan keuangan Sekretariat Kompolnas mencakup analisis secara terbatas terhadap
unsur pengendalian intern yang ditetapkan dan dilaksanakan dalam pengelolaan
keuangan dan organisasi menunjukkan kondisi sebagai berikut:
a. Organisasi Sekretariat Kompolnas Belum Sepenuhnya Dirancang
Sebagai Satuan Kerja Yang Independen
Sekretariat Kompolnas dibentuk berdasarkan Pasal 34 Peraturan Kompolnas
Nomor 1 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kompolnas dan
Peraturan Kapolri Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Organisasi dan Tata Kerja
Sekretariat Kompolnas. Berdasarkan ketentuan tersebut, Sekretariat
Kompolnas bertugas membantu pelaksanaan tugas Kompolnas di bidang
kesekratariatan serta menyusun rencana kerja dan anggaran Kompolnas.
Sekretariat Kompolnas adalah unit kerja yang berada di Lingkungan Markas
Besar Kepolisian Negara, karena Kepala Sekretariat Kompolnas diangkat dan
diberhentikan oleh Kapolri, namun dalam pelaksanaan tugasnya Kepala
Sekretariat Kompolnas bertanggung jawab secara fungsional kepada
Kompolnas.
Organisasi Sekretariat Kompolnas saat ini dipandang belum sepenuhnya
dirancang dalam mendukung tugas dan wewenang yang seharusnya dimiliki
sebagai unit pendukung dari pelaksanaan tugas dan kewenangan yang
dimiliki Kompolnas. Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kompolnas yang
ada saat ini lebih menitikberatkan pada tugas-tugas kesekretariatan serta
penyusunan program kerja dan anggaran Kompolnas, sehingga unit kerja

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 24 dari 29


Sekretariat Kompolnas yang ada saat ini dipandang belum dapat sepenuhnya
mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang Kompolnas.
Embanan tugas Sekretariat Kompolnas dipandang tidak memadai dan tidak
memenuhi harapan selaku unit kerja yang dapat membantu tugas dan
wewenang Kompolnas, yang dalam aspek pelaksanaannya dihadapkan
dengan berbagai kompleksitas yang memerlukan dukungan profesional dari
Sekretariat Kompolnas.
Organisasi Sekretariat Kompolnas perlu dikembangkan lebih lanjut dengan
merujuk kepada kebutuhan untuk mendukung tugas dan wewenang
Kompolnas, yaitu :
1) Tugas untuk membantu Presiden dalam menetapkan arah dan kebijakan
Polri.
2) Tugas untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam
pengangkatan dan pemberhentian Kapolri.
3) Wewenang untuk mengumpulkan dan menganalisis data sebagai bahan
penyusunan dan pemberian saran kepada Presiden berkaitan dengan
anggaran Polri, pengembangan SDM Polri serta pengembangan sarana
dan prasarana Polri.
4) Wewenang untuk memberikan saran dan pertimbangan lain kepada
Presiden dalam upaya mewujudkan Polri yang profesional dan mandiri.
5) Wewenang untuk menerima saran dan keluhan dari masyarakat mengenai
kinerja Kepolisian dan menyampaikannya kepada Presiden.
Dengan merujuk kepada rumusan tugas dan wewenang Kompolnas tersebut
dan hasil wawancara dengan Sekretariat Kompolnas, maka tugas yang
seharusnya dipikul oleh Sekretariat Kompolnas meliputi:
1) Tugas untuk mengumpulkan data, melakukan analisa dan kajian data
yang menyangkut kondisi pengalokasian anggaran untuk Polri, sistem
penganggaran, tata kelola, penggunaan serta permasalahan terkait dengan
kecukupan anggaran.
2) Tugas untuk mengumpulkan serta melakukan analisa dan kajian data
yang menyangkut kondisi SDM Polri, disposisi kekuatan pada berbagai
satuan fungsi maupun satuan-satuan kewilayahan sampai ketingkat
Polsek, rencana penambahan kekuatan dalam rangka kecukupan SDM,
sistem dan penyelenggaraan pendidikan Polri, sistem dan pengelolaan
pembinaan karier anggota Polri serta penempatan jabatan-jabatan
strategis di lingkungan Polri.
3) Tugas untuk mengumpulkan serta melakukan analisa dan kajian data
yang menyangkut kondisi Sarana dan Prasarana Polri, dislokasi materiil
dan fasilitas, penetapan standar kebutuhan satuan-satuan fungsi maupun
kewilayahan Polri yang terutama diorientasikan kepada kebutuhan
pelaksanaan tugas pokok Polri, tata cara inventarisasi materiil serta
disposalabilitasnya.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 25 dari 29


4) Tugas untuk melakukan kajian strategis dalam rangka penyusunan
kebijakan umum yang terkait dengan penyelenggaraan operasional Polri
baik dibidang represif yustisial maupun preventif pada satuan-satuan
fungsi maupun kewilayahan Polri, ketersediaan sistem dan berbagai
kendala operasional serta ketersediaan dukungan operasional bagi
kelancaran penyelenggaraan operasional Polri.
5) Tugas untuk menghimpun data terkait dengan profile dan kinerja Kapolri
dan calon Kapolri.
6) Tugas untuk menghimpun data yang terkait dengan saran dan keluhan
masyarakat atas kinerja Polri untuk dianalisa, diklasifikasi dan
diklarifikasi serta monitoring perkembangana lanjut serta penyampaian
hasilnya kepada masyarakat pelapor dan kepada Presiden.
7) Tugas-tugas pembinaan personel, penatausahaan materiil dan fasilitas
Kompolnas, penyiapan program kerja dan anggaran, pengelolaan
keuangan satuan kerja, kesekretariatan dan tata urusan dalam serta
kegiatan pelayanan lainnya dalam lingkup Kompolnas.
8) Tugas-tugas kehumasan yang diperlukan oleh Kompolnas, diharapkan
dapat memperkuat one gate information system, yang akan meminimasi
terjadinya misinformasi dan miskomunikasi, sekaligus mampu mencegah
kontra produktifnya pelaksanaan tugas dan kewenangan Kompolnas.
Dari gambaran kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa Organisasi
Sekretariat Kompolnas belum sepenuhnya dirancang sebagai unit kerja yang
siap dan mampu memberikan dukungan bagi pelaksanaan tugas dan
wewenang Kompolnas, karena::
1) Adanya Peraturan Kapolri yang membatasi peranan Sekretariat
Kompolnas. Sekretariat Kompolnas diposisikan sebagai satuan kerja
yang hanya bertugas membantu pelaksanaan tugas Kompolnas di bidang
kesekretariatan dan penyusunan rencana kerja dan anggaran Kompolnas.
Penjabaran tugas saat ini dipandang belum memadai dalam mendukung
tugas dan wewenang Kompolnas sebagaimana yang diatur oleh UU,
sehingga OTK Sekretariat Kompolnas perlu ditata kembali dengan
memperluas peran serta beban tanggung jawab Sekretariat Kompolnas
sehingga diharapkan dapat menunjang upaya penguatan Kompolnas
menjadi lembaga yang mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan
kinerja Kepolisian Negara Republik Indonesia.
2) Sekretariat Kompolnas adalah unit kerja Mabes Polri, sehingga
Sekretariat Kompolnas tidak dapat secara leluasa dalam melaksanakan
tugasnya. Kepala Sekretariat Kompolnas diangkat dan diberhentikan oleh
Kapolri, sehingga Kepala dan Staf Sekretariat Kompolnas dapat sewaktu-
waktu dimutasi ke satuan kerja lain.
3) Dalam hal pembinaan SDM, Kompolnas tidak mempunyai peranan
secara langsung dalam melakukan pembinaan SDM Sekretariat
Kompolnas. Sehingga tidak ada jaminan bahwa Sekretariat Kompolnas

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 26 dari 29


akan menjadi unit kerja yang benar-benar profesional dalam mendukung
kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang Kompolnas.
4) Keperluan akan adanya penataan unit kerja Sekretariat Kompolnas,
adalah guna memenuhi harapan itu, yaitu ketersediaan unit kerja yang
dapat memenuhi kebutuhan dukungan, utamanya bagi segenap aspek
tugas dan wewenang Kompolnas serta bagi urusan kesekretariatan dan
urusan perencanaan program lainnya.
5) Pemisahan secara tegas struktur Sekretariat Kompolnas untuk lepas dari
organisasi Polri, menjadi unit kerja yang menyatu pada organisasi
Kompolnas mutlak diperlukan. Hal itu dimaksudkan agar Sekretariat
Kompolnas dapat menjadi satuan kerja yang dapat memberikan
kontribusi bagi upaya penguatan peran Komisi Kepolisian Nasional.
6) Untuk memperkuat eksistensi Kompolnas dengan dukungan penuh dari
Sekretariat Kompolnas, maka mutlak diperlukan penempatan Sekretariat
Kompolnas sebagai unit eselon I, sehingga akan membuka peluang bagi
dimungkinkannya penempatan beberapa jabatan eselon II sebagai
pelaksana staf yang mengemban fungsi utama staf dari Sekretariat
Kompolnas dalam mendukung pelaksanaan tugas dan kewenangan
Kompolnas.

b. Pengelolaan Keuangan Kompolnas Tidak Independen


Untuk menunjang pelaksanaan program dan kegiatan Kompolnas,
Pemerintah pada tahun 2008 telah mealokasikan anggaran sebesar
Rp10.703.433.000,00 dengan realisasi belanja sebesar Rp9.210.573.678,00
atau sebesar 86%.
Hasil pemeriksaan atas pengelolaan keuangan Kompolnas diketahui hal-hal
sebagai berikut:
1) Tanah dan Gedung Kantor Kompolnas (di Jl. Trunojoyo No. 3
Kebayoran Baru Jakarta) adalah aset milik Polri yang dipinjampakaikan
kepada Kompolnas. Gedung kantor yang digunakan ini cukup
representative karena memiliki ruang kerja dan aula yang memadai serta
berada di daerah yang relative terjangkau karena berada dilingkungan
Mabes Polri. Dengan alasan untuk digunakan oleh Mabes Polri, pada
tanggal 13 April 2009 Kantor Kompolnas dipindah ke Komplek
Perkantoran PTIK di Jalan Tirtayasa Nomor 6 Jakarta Selatan.
Kepindahan gedung kantor ini menghambat kinerja Anggota Kompolnas
dalam melaksanakan tugasnya karena pada saat ditempati, gedung baru
tersebut belum memiliki jaringan internet dan faksimili. Selain itu, posisi
gedung yang ditempati Kompolnas itu berada di depan TK Bayangkari,
persis di belakang Masjid PTIK dan tempatnya tidak mudah dijangkau.
Posisi gedung seperti ini tidak representative digunakan oleh Kompolnas
sebagai lembaga pengawas kinerja Polri. Melihat kondisi seperti ini,
Pemerintah perlu menyiapkan dan merelokasi Gedung Kantor yang dapat

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 27 dari 29


dimiliki Kompolnas (gedung aset Kompolnas), sehingga Kompolnas
dapat melaksanakan tugasnya dengan optimal.
2) Anggaran Kompolnas tahun 2008 dialokasikan dalam Bagian Anggaran
(BA) 60 yang notabene anggaran milik Polri. Karena masuk dalam BA
60, maka Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Kompolnas adalah
Wakapolri, sehingga pertanggungjawaban dan Laporan Keuangan
Kompolnas merupakan bagian dari Laporan Keuangan Polri. Hal ini
berdampak pada sistem penganggaran Kompolnas yang menyatu dengan
sistem penganggaran Polri, sehingga segala hal yang menyangkut
perencanaan, pengelolaan, penggunaan, serta pelaporan anggaran dan
keuangan Kompolnas akan mengacu pada ketentuan dan norma
penganggaran Polri. Ini jelas mengganggu kinerja dan independensi
Kompolnas sebagai lembaga pengawas Polri karena anggaran dan
keuangannya diatur oleh Polri.
3) Selama ini dukungan sarana dan prasana Sekretariat Kompolnas, seperti
gedung, kendaraan dinas dan bahan bakar minyak, Sekretariat
Kompolnas masih harus melakukan koordinasi dan meminta bantuan
kepada Mabes Polri dhi. Melalui Denma Mabes Polri.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


a. Ketetapan MPR RI No. VII/MPR/2000 yang menghendaki adanya lembaga
pengawasan fungsional yang mengawasi kinerja Kepolisian.
b. Undang-undang nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia
c. Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2005 tentang Komisi Kepolisian
Nasional.
d. Peraturan Kompolnas Nomor 1 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kompolnas.
e. Peraturan Kapolri Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Organisasi dan Tata Kerja
Sekretariat Kompolnas.

Hal tersebut mengakibatkan:


a. Kinerja Kompolnas selaku pengawas eksternal Polri tidak dapat independen.
b. Dengan keterbatasan anggaran, sumber daya manusia, dan sarana prasarana
Kompolnas maka kinerja Kompolnas selaku lembaga yang diharapkan dapat
merumuskan kepentingan strategis atas eksistensi Polri selaku pemelihara
kamtibnas dan memberi masukan yang akurat kepada Presiden atas kendala
Polri, menjadi tidak optimal

Hal tersebut disebabkan:


a. Anggaran Kompolnas masih menginduk dengan anggaran Polri.
b. Sekretariat Kompolnas sebagai unit pendukung operasionalisasi Kompolnas,
adalah satuan kerja Mabes Polri.
c. Sarana dan prasana Kompolnas masih meminjam dari Polri selaku obyek
yang diawasi.

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 28 dari 29


d. Sumber daya manusia masih sangat terbatas dan masih menyatu dalam
manajemen personalia Polri.
Atas temuan SPI tersebut, Kepala Sekretariat Kompolnas memberikan tanggapan
sebagai berikut:
a. Terkait dengan anggaran Kompolnas yang menginduk dengan Polri diakui
hal ini konsekuensi logis status Sekretariat Kompolnas yang merupakan
bagian dari organisasi Mabes Polri yaitu sebagai unsur pelaksana staf khusus,
sehingga segala hal yang menyangkut perencanaan, pengelolaan, penggunaan
dan pelaporan anggaran harus mengikuti dan tunduk pada norma peranggaran
Polri. Hal ini menimbulkan beragam kendala antara lain tidak semua kegiatan
Kompolnas dapat diusulkan dalam anggaran Polri karena tidak sesuai dengan
Norma Indeks Polri.
b. Diakui bahwa sebagian besar sarana dan prasarana Kompolnas adalah
pinjaman dari Mabes Polri. Hal ini disebabkan dalam Program anggaran Polri
tidak dapat dialokasikan pembangunan gedung perkantoran atau pengadaan
sarana mobilitas diluar kebutuhan operasional Polri.
c. Sependapat dengan temuan BPK bahwa tugas dan kewenangan Kompolnas
sangat luas dan komplek, namun embanan tugas Sekretariat Kompolnas
hanya sebatas melaksanakan tugas kesekretariatan dan menyusun rencana
program dan anggaran. Sehingga perlu dilakukan revisi dan tindak lanjut atas
Peraturan Kapolri No. 13 Tahun 2007.

BPK-RI menyarankan agar:


a. Kapolri berkoordinasi dengan Ketua Kompolnas dengan membentuk tim
teknis untuk mengkaji ulang Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2005
tentang Komisi Kepolisian Nasional dan Peraturan Kapolri Nomor 13 Tahun
2007 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kompolnas sebagai
upaya untuk merevitalisasi organisasi, tugas dan fungsi Sekretariat
Kompolnas menjadi unit organisasi eselon satu yang berada dan menyatu
dengan struktur organisasi Kompolnas.
b. Ketua Kompolnas berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengupayakan
pembentukan Bagian Anggaran Kompolnas yang mandiri dan terpisah dari
Bagian Anggaran Polri, sebagai upaya untuk meningkatkan kemandirian
Kompolnas.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

BPK-RI LHP SPI – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 29 dari 29


Lampiran 1
LAPORAN TINDAK LANJUT HASIL PEMERIKSAAN
LAPORAN KEUANGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2004, 2005, 2006 DAN 2007

Status Tindak Lanjut


Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
Sistem
Pengendalian
Intern (SPI)
A. LK 2007
1 06b/S/III- Sistem Pencatatan dan Pelaporan atas BPK RI menyarankan agar Kapolri X
XIV.2/04/2008 Aset Tetap/Barang Milik Negara Di melaksanakan Sistem Pencatatan dan
30 April 2008 Lingkungan Polri Belum Memadai Pelaporan Aset Tetap secara lebih
memadai antara lain dengan melakukan
inventarisasi, penilaian kembali,
rekonsiliasi antar bagian/satker terkait dan
melaksanakan SABMN secara lebih baik,
serta menyusun rencana aksi (action
plan) atas pelaksanaan perbaikan sistem
tersebut.
2 Sistem Pencatatan dan Pelaporan atas BPK RI menyarankan agar Kapolri X
Persediaan di Lingkungan Polri Belum menginstruksikan kepada seluruh jajaran
Memadai Polri untuk mencatat seluruh persediaan
ke dalam pos Persediaan dalam Neraca
Satker sesuai ketentuan terkait.
3 Pengelolaan Barang Bukti di Lingkungan BPK RI menyarankan agar Kapolri X
Polri Belum Transparan dan Akuntabel mengembangkan Sistem Informasi
Pengelolaan Barang Bukti di Jajaran Polri
dan menginstruksikan kepada seluruh
jajaran Polri untuk mengelola dan
mengadministrasikan seluruh barang

Halaman 1 dari 10
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
bukti sesuai ketentuan terkait.
4 Penetapan MAK Dalam DIPA/RKA-KL BPK RI menyarankan agar Kapolri X
dan Realisasi Anggaran Belanja Pada menginstruksikan kepada seluruh jajaran
Beberapa Satker di Lingkungan Polri Polri supaya dalam
Tidak Sesuai Dengan Klasifikasi Mata perencanaan/penyusunan dan pelaksanaan
Anggaran DIPA/RKA-KL selalu memperhatikan
dan mematuhi ketentuan terkait.
5 Hutang Kepada Pihak Ketiga Dalam BPK RI menyarankan agar Kapolri X
Neraca Polri Per 31 Desember 2007 melakukan koreksi atas data hutang yang
Belum Disajikan Secara Akurat tercantum dalam Neraca Polri Tahun
2007
6 Pencatatan dan Pelaporan Atas Hibah di BPK RI menyarankan agar Kapolri X
Lingkungan Polri Belum Akurat, membuat kebijakan tertulis mengenai
Transparan dan Akuntabel mekanisme pencatatan dan pelaporan
hibah yang diterima Polri, baik dalam
bentuk uang maupun barang.
7 PNBP Non Fungsional Tidak Dilaporkan BPK RI menyarankan agar Kapolri X
Dalam Laporan Realisasi Anggaran melakukan koreksi atas data pendapatan
(LRA) Pendapatan Dan Hibah Polri dalam Laporan Realisasi Anggaran
Tahun 2007 Laporan Keuangan Polri Tahun 2007
8 Pengelolaan Anggaran Non APBN Dana BPK RI menyarankan agar Kapolri X
SAMSAT TA 2007 Belum Akuntabel dan memerintahkan Kapolda Sumut dan
Transparan Kapolda Sultra untuk meningkatkan
pengendalian atas penerimaan dan
penggunaan dana samsat di
lingkungannya antara lain dengan
membuat perencanaan secara memadai
dan melakukan pengawasan lebih optimal
atas penerimaan dana samsat dari
Pemprov

Halaman 2 dari 10
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
B. LK 2006
1 61h/S/XI-XI.1/ Sistem Akuntansi Barang Milik Negara BPK RI menyarankan agar Kapolri dapat X
4/2007 (SABMN) Di Lingkungan Polri Belum melaksanakan SABMN secara lebih baik
18 April 2007 Berjalan Secara Memadai antara lain melalui perbaikan kebijakan
SDM, optimalisasi pemenuhan perangkat
hardware/software dan intensifikasi
pelaksanaan sosialisasi SABMN
khususnya kepada para pelaksana
2 Data Aset Tetap Berupa Tanah, Gedung, BPK RI menyarankan agar Kapolri
Bangunan Dan Peralatan Mesin Dalam berupaya melaksanakan perbaikan di
Neraca Polri Tahun 2006 Belum Akurat bidang inventaris dan pelaporan aset
Dan Belum Menggambarkan Keadaan melalui :
Yang Sesungguhnya a. Pembentukan tim aset yang antara X
lain bertugas untuk melakukan
inventarisasi seluruh aset di
lingkungan Polri termasuk penilaian
atas aset-aset tersebut.
b. Menginstruksikan seluruh satuan di
jajaran Polri untuk dapat melakukan X
inventarisasi dan pelaporan secara
lebih akurat; dan
c. Menyusun petunjuk teknis penilaian
dan kodifikasi aset di lingkungan
Polri X
3 Pengamanan Aset Tanah Polri Melalui BPK RI menyarakan agar Kapolri dapat X
Pensertifikatan Belum Berjalan Secara memaksimalkan pensertifikatan tanah
Optimal milik Polri melalui optimalisasi
pelaksanaan anggaran pensertifikatan
tanah yang telah tersedia dan pengajuan
anggaran untuk sisa tanah yang belum
terdukung anggaran pensertifikatannya

Halaman 3 dari 10
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
4 Neraca Polri Per 31 Desember 2006 BPK RI menyarankan agar Kapusku Polri X
Belum Menyajikan Informasi Secara melakukan verifikasi atas data hutang
Akurat kewajiban Polri berupa Hutang TLGA dan Wattah untuk mengetahui
Kepada Pihak Ketiga jumlah hutang yang sebenarnya dan
mencantumkan data tersebut dalam LK
Polri revisi
5 Sistem Pengendalian Intern Atas BPK RI menyarankan Kapolri agar :
Pengelolaan Hutang Biaya Perawatan a. Menyusun piranti lunak mekanisme
Tahanan (Wattah) Di Lingkungan pencatatan dan pengakuan hutang X
Kepolisian Negara Republik Indonesia wattah
Belum Memadai b. Menginstruksikan kepada seluruh
jajaran Polri untuk meningkatkan X
pengawasan dan pengendalian atas
pengelolaan hutang wattah di
satuannya
6 Informasi Mengenai Dana-Dana Non BPK RI menyarankan agar Kapolri X
APBN Belum Sepenuhnya Diungkapkan menginstruksikan kepada seluruh jajaran
Dalam Catatan Atas Laporan Keuangan Polri untuk melaporkan ke dalam CALK
Polri Tahun 2006 pada Laporan Keuangan seluruh dana-
dana Non APBN yang diterima

7 Persediaan Materiil SSB Satpas/Samsat BPK RI menyarankan agar Kapolri X


Di Jajaran Polda Jatim Dan Polda Sulsel menginstruksikan kepada seluruh jajaran
Belum Dicatat Dalam Neraca Masing- Polri untuk mencatat persediaan SSB ke
Masing Satker Dan Neraca Polda Per 31 dalam pos Persediaan dalam Neraca
Desember 2006 Satker sesuai ketentuan terkait
8 Ketidaktepatan Penetapan Mak Dalam BPK RI menyarankan agar Kapolri X
DIPA/RKA-KL Dan Realisasi Anggaran menginstruksikan kepada seluruh jajaran
Belanja Tidak Sesuai Dengan Klasifikasi Polri agar dalam menyusun perencanaan
Mata Anggaran anggaran khususnya dalam

Halaman 4 dari 10
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
mengelompokkan belanja untuk
memperhatikan ketentuan terkait

9 Pertanggungjawaban keuangan belanja BPK RI menyarankan agar Kapolri X


barang atas beberapa kegiatan di memberikan teguran kepada para
lingkungan Polda Metro Jaya, Polda Jabar Kasatker yang mempertanggungjawabkan
dan Polda Jatim tidak sesuai dengan penggunaan anggaran secara proforma
penggunaan sebenarnya dan meminta pertanggungjawaban
penggunaan dana yang sebenarnya.

C. LK 2005
1. 72c/S/III- Penyusunan Laporan Keuangan Polri Menyarankan agar Kapolri:
XI.1/6/2006 Tahun 2005 belum sepenuhnya dilakukan 1. Memerintahkan Derenbang Kapolri √
sesuai dengan sistem akuntansi untuk mengalokasikan anggaran
pemerintah pusat kegiatan sosialisasi dan pelatihan SAI
serta kegiatan tutup buku penyusunan
Laporan Keuangan Polri pada DIPA
revisi Pusku Polri TA. 2006 dan
DIPA Pusku Polri TA. 2007 secara
memadai.
2. Memerintahkan Kapusku √
mengadakan sosialisasi dan pelatihan
SAI secara lebih intensif kepada para
pelaksana akuntansi di setiap unit
akuntansi pada TA. 2006 dan TA.
2007.
3. Memerintahkan De SDM Kapolri dan √
Ka Lemdiklat Polri untuk
memasukkan mata pelajaran tentang
keuangan negara pada lembaga-

Halaman 5 dari 10
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
lembaga pendidikan di jajaran Polri.
4. Menertibkan pelaksanaan √
penyusunan Laporan Keuangan di
jajaran Polri sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.

2. SABMN belum berjalan sebagaimana Menyarankan agar Kapolri


mestinya memerintahkan:
1. Derenbang Kapolri untuk √
mengalokasikan anggaran kegiatan
sosialisasi dan pelatihan SABMN
pada DIPA Revisi TA. 2006 dan
DIPA TA. 2007 secara memadai.
2. Delog Kapolri untuk √
mengimplementasikan SABMN pada
TA. 2007, mengadakan sosialisasi
dan pelatihan SABMN secara intensif
kepada para pelaksana akuntansi dan
logistik di jajaran Polri pada TA.
2006 dan 2007, serta melaksanakan
inventarisasi dan penilaian aset Polri
sesuai dengan ketentuan.

3. Kewajiban jangka pendek berupa Utang Menyarankan agar Kapolri melaporkan √


Listrik, Telepon, Gas dan Air TA. 2005 kewajiban Polri berupa utang biaya
senilai Rp98.955,14 juta belum langganan jasa listrik, telepon, gas dan air
dilaporkan dalam Neraca Polri per 31 sebesar Rp98.955,14 juta dalam Laporan
Desember 2005 keuangan Polri Tahun 2005.

4. Pengungkapan dalam CALK Polri Tahun Menyarankan agar Kapolri √


2005 belum memadai memerintahkan Kapusku dan Delog
Kapolri senantiasa mengungkapkan hal-

Halaman 6 dari 10
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
hal yang secara material dapat
mempengaruhi isi Laporan Keuangan
Polri dalam menyusun Laporan
Keuangan Polri.

5. Pelaksanaan pekerjaan repowering dan Menyarankan agar Kapolri


replatting 3 unit kapal dan pengadaan memerintahkan Delog Kapolri untuk:
senpi glock TA. 2004 Sdelog Polri 1. Menegur dengan keras rekanan agar √
berlarut-larut dan belum diungkap dalam segera menyelesaikan pekerjaan.
Laporan Keuangan Polri per 31 Desember 2. Mempertimbangkan PT. Aneka Bina √
2005 Makmur beserta pemiliknya sebagai
rekanan Polri.
3. Menjatuhkan sanksi denda √
keterlambatan kepada rekanan sesuai
dengan kontrak yang disepakati.

6. Status aset hasil pengadaan dari dana Non Menyarankan agar Kapolri:
APBN belum jelas dan belum diungkap 1. Membuat ketentuan internal tentang √
dalam Laporan Keuangan hibah aset sebagai penjabaran dari
PP 24 tahun 2005 tentang SAP.
2. Memerintahkan Delog Kapolri agar √
mengadakan sosialisasi dan pelatihan
terkait pelaksanaan SABMN.

7. Pengawasan dan pelaksanaan atas Menyarankan agar Kapolri


ketentuan dalam kontrak belum memerintahkan Kasatker untuk:
sepenuhnya dijalankan 1. Menarik denda dari rekanan yang √
terlambat melaksanakan pekerjaan
dan menyetorkan ke Kas Negara.
2. Meningkatkan pengawasan dan √
pengendalian atas proses pelaksanaan
pengadaan barang dan jasa.

Halaman 7 dari 10
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti

8. Realisasi anggaran belanja tidak sesuai Menyarankan agar Kapolri:


dengan klasifikasi mata anggaran 1. Menegur Derenbang Kapolri untuk √
senantiasa memperhatikan ketentuan
tentang klasifikasi mata anggaran
dalam penyusunan dokumen
anggaran (RKA-KL) dan otorisasi
anggaran satker di lingkungan Polri.
2. Memerintahkan kasatker mentaati
ketentuan tentang klasifikasi √
anggaran belanja dalam pengajuan
usulan anggaran dan pelaksanaan
anggaran belanja.
D. LK 2004 04/XI/9/2005
1. Pengendalian intern dalam pelaksanaan Menyarankan agar Kapolri
sistem akuntansi dan laporan keuangan memerintahkan Kapusku Polri untuk:
Polri belum memadai 1. Menertibkan pelaksanaan sistem √
akuntansi di jajaran Polri sesuai
dengan prosedur yang diatur dalam
ketentuan yang ditetapkan.
2. Mengadakan sosialisasi dan √
pelatihan SAI lebih intensif kepada
para pelaksana akuntansi di setiap
unit akuntansi
2. SABMN belum berjalan sebagaimana Menyarankan agar Kapolri
mestinya memerintahkan Delog Kapolri untuk:
1. Mengadakan sosialisasi SABMN ke √
seluruh satker di jajaran Polri
2. Menertibkan kembali pelaksanaan √
SABMN sesuai dengan ketentuan
yang ditetapkan

Halaman 8 dari 10
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti

3. Pengungkapan penjelasan dalam CALK Menyarankan agar Kapolri √


Polri Tahun 2004 belum memadai memerintahkan Kapusku Polri untuk
segera menyempurnakan dan
mengungkapkan informasi tambahan
yang perlu disajikan dalam CALK.

4. Sebagian besar aset tanah yang dikuasai Menyarankan agar Kapolri meningkatkan √
Polri belum didukung bukti kepemilikan upaya pensertifikatan atas tanah-tanah
sertifikat tanah yang dikuasai Polri antara lain dengan
menambah anggaran untuk kegiatan
pensertifikatan tanah

5. Proses penyusunan Neraca Polri Tahun Menyarankan agar Kapolri:


2004 dilakukan secara terpusat dan 1. Memerintahkan Kapusku untuk √
belum sesuai dengan ketentuan segera memperbaiki sistem
penyusunan Neraca dan
pelaksanaannya di setiap tingkat unit
akuntansi sesuai dengan ketentuan.
2. Memerintahkan Delog Kapolri untuk √
melakukan inventarisasi dan
revaluasi terhadap seluruh aset tetap
dan persediaan yang dimiliki
/dikuasai di seluruh satker jajaran
dengan nilai wajar sebaga data
neraca awal Polri tahun 2004.

6. Proses pembatalan ruislag mako Menyarankan agar Kapolri membatalkan √


Lemdiklat, Selapa, dan Sepolwan lambat kebijakan untuk meruislag Mako
Lemdiklat, Selapa, dan Sepolwan.

Halaman 9 dari 10
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
7. Pelaksanaan tindak lanjut proses Menyarankan agar Kapolri √
penghapusan persediaan bekal BMP di memerintahkan Delog Kapolri dan Dir
Ditpolair senilai Rp3.117.930.617,00 Polair Babinkam Polri untuk segera
belum optimal menyelesaikan proses penghapusan BMP
Ditpolair.

Halaman 10 dari 10
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


KEPATUHAN TERHADAP KETENTUAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

ATAS LAPORAN KEUANGAN


KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2008

Nomor : 38c/HP/XIV/4/2009
Tanggal : 30 April 2009
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI .................................................................................................................................. i

RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-


UNDANGAN ............................................................................................................................. ...... ii

HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-


UNDANGAN ................................................................................................................................. 1

A. Tindak Lanjut Temuan Pemeriksaan Kepatuhan Terhadap Peraturan perundang-undangan


Tahun 2005, 2006 dan 2007........................................................................................................ 1

B. Temuan Pemeriksaan Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan Tahun 2008


1. Pengelolaan Dana Non APBN di Lingkungan Polri Tidak Transparan dan Sebesar
Rp897.716.060.301,00 Tidak Terungkap Secara Memadai Dalam CALK Polri Tahun
1
2008 …………………………………………………………………….........................
2. Terjadi Kesalahan Pembebanan Belanja Pemeliharaan (MAK 523xxx) Ke Belanja Non
Operasional Lainnya (MAK 521xxx) Sebesar
7
Rp12.310.975.000,00........................................................................................................
3. Penerimaan Negara Atas Sanksi Denda Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan sebesar
Rp176.122.994,00 Belum Dipungut dan Disetor ke Kas Negara Per 31 Desember
2008................................................................................................................................... 8
4. Pengembalian Belanja Kegiatan Operasi Tahun 2008 yang Melewati Tahun Anggaran
Sebesar Rp1.034.433.664,00 Belum Diungkap Dalam CALK Polri Tahun
10
2008..................................................................................................................................
5. Terdapat Potensi Kerugian Negara atas Pelaksanaan Kegiatan tahun 2008 Di Beberapa 13
Satker Polri sebesar Rp285.000.000,00............................................................................
6. Terdapat Persediaan Satker Denma Mabes Polri yang Sudah Tidak Terpakai sebesar 16
Rp4.013.830.000,00..........................................................................................................

7. Realisasi Anggaran Untuk Kegiatan Operasional di Beberapa Polda Belum Dapat


Dipertanggungjawabkan sebesar Rp1.855.508.000,00..................................................... 17

8. Realisasi Penyaluran Belanja BMP Pada Beberapa Satker Belum


Dipertanggungjawabkan.................................................................................................... 19

Lampiran...........................................................................................................................

BPK-RI LHP Kepatuhan- LK POLRI Tahun 2008 Halaman i


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP


PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Berdasarkan Pasal 6 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan
dan Pasal 30 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Presiden
menyampaikan rancangan undang-undang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepada
DPR berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, selambat-
lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan keuangan dimaksud setidak-
tidaknya meliputi Laporan Realisasi APBN, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan
Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Untuk
selanjutnya laporan keuangan dimaksud disebut dengan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP).
Dalam penyusunan LKPP tersebut, berdasarkan Pasal 55 ayat 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2004 tentang Perbendaharaan Negara, Kapolri selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang
menyusun dan menyampaikan laporan keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang
meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan
Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia tersebut merupakan tanggung jawab pejabat
Kepolisian Negara Republik Indonesia. Tanggung jawab BPK RI adalah pada pernyataan pendapat
atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan BPK RI.
Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari
salah saji material, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mengharuskan BPK RI
melaksanakan pengujian atas kepatuhan Kepolisian Negara Republik Indonesia terhadap kontrak,
pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan serta kepatuhan Kepolisian Negara Republik
Indonesia terhadap pengendalian intern. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan
pengendalian intern merupakan tanggung jawab pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Namun, tujuan pemeriksaan BPK RI atas laporan keuangan adalah tidak untuk menyatakan
pendapat atas keseluruhan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian
intern tersebut. Oleh karena itu, BPK RI tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu.
Selain itu, SPKN juga mengharuskan BPK RI untuk melaporkan kepada pihak berwenang yang
terkait apabila dalam melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan ditemukan ketidakpatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan.
BPK RI menemukan ketidakpatuhan kepada ketentuan peraturan perundang-undangan, kecurangan
serta ketidakpatutan yang material sebagai berikut:
1. Pengelolaan Dana Non APBN di Lingkungan Polri tidak transparan dan sebesar
Rp897.716.060.301,00 tidak terungkap secara memadai dalam CALK Polri Tahun 2008.

BPK-RI LHP Kepatuhan- LK POLRI Tahun 2008 Halaman ii


2. Terjadi kesalahan pembebanan Belanja Pemeliharaan (MAK 523xxx) ke Belanja Non
Operasional Lainnya (MAK 521xxx) sebesar Rp12.310.975.000,00.
3. Penerimaan Negara atas sanksi denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan sebesar
Rp176.122.994,00 belum dipungut dan disetor ke Kas Negara per 31 Desember 2008.
4. Pengembalian belanja kegiatan operasi Tahun 2008 yang melewati tahun anggaran sebesar
Rp1.034.433.664,00 belum diungkap dalam CALK Polri Tahun 2008.
5. Terdapat potensi kerugian negara atas pelaksanaan kegiatan Tahun 2008 di beberapa satker
Polri sebesar Rp285.000.000,00.
6. Terdapat persediaan satker Denma Mabes Polri yang sudah tidak terpakai sebesar
Rp4.013.830.000,00.
7. Realisasi anggaran untuk kegiatan operasional di beberapa Polda belum dapat
dipertanggungjawabkan sebesar Rp1.855.508.000,00
8. Realisasi penyaluran belanja BMP pada beberapa satker belum dipertanggungjawabkan

Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK-RI menyarankan kepada Kapolri agar


memerintahkan:
1. Kapusku Polri berkoordinasi dengan Departemen Keuangan untuk membuat kebijakan atas
pengelolaan dana-dana non APBN dan menetapkan format laporan pengungkapan atas
pengelolaan dana non APBN dalam laporan keuangan serta menginstruksi kepada seluruh
jajaran Polri agar melaporkan seluruh penerimaan dan penggunaan dana-dana non APBN dalam
laporan keuangan.
2. Pejabat perencanaan pada Ditlantas Polri untuk menyusun kegiatan dalam MAK, Sub Kegiatan,
Kegiatan, dana Program sesuai dengan subtansi atau realisasi kegiatan.
3. Memerintahkan Direktur Telematika dan Kalemdiklat Polri untuk segera menarik sanksi denda
keterlambatan dan segera menyetor ke Kas Negara serta bukti setor disampaikan ke BPK RI.
4. Kababinkam Polri dan Dir Poludara untuk mengungkapkan sisa dana kegiatan TA 2008 yang
baru disetor ke Kas Negara setelah melewati TA, untuk diungkap dalam Catatan Atas Laporan
Keuangan Kasatker, dan secara berjenjang dimasukkan dalam Calk Polri Tahun 2008.
5. Kapolda Sumbar dan Kapolda Jabar untuk segera melakukan penyelidikan secara intensif dan
melaporkan hasil perkembangan penyelidikan kepada BPK RI.
6. Kaden Mabes Polri untuk segera mendistribusikan kaporlap tersebut dan melaporkan hasilnya
kepada BPK RI.
7. Kapolda mempertanggungjawabkan belanja kegiatan operasional di jajaran Polda Sulawesi
Utara, Polda Bangka Belitung dan Polda Gorontalo.
8. Mempertanggungjawabkan realisasi belanja BBM di jajaran Polda Sulawesi Utara, Polda
Bangka Belitung dan Polda Gorontalo.

Permasalahan dan saran perbaikan secara rinci dapat dilihat dalam laporan ini.
Atas pemeriksaan tersebut, selain Laporan Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan Terhadap Peraturan
Perundang-undangan, BPK RI telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan atas
Kepolisian Negara Republik Indonesia Tahun 2008 yang memuat opini Tidak Memberikan

BPK-RI LHP Kepatuhan- LK POLRI Tahun 2008 Halaman iii


Pendapat dengan nomor 38a/HP/XIV/04/08 tanggal 30 April 2009 dan dan Laporan Hasil
Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dengan nomor 38b/HP/XIV/04/08 tanggal 30 April
2009.
Jakarta, 30 April 2009
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Hery Subowo, SE, Ak., MPM, CIA, CFE


Akuntan, Register Negara No.D-17.698

BPK-RI LHP Kepatuhan- LK POLRI Tahun 2008 Halaman iv


HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN
A. Tindak Lanjut Temuan Pemeriksaan Kepatuhan Terhadap Peraturan
Perundang-undangan Tahun 2005, 2006 dan 2007
Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia
tahun 2005 mengungkapkan sebanyak 13 (tiga belas) temuan pemeriksaan kepatuhan.
Hasil pemeriksaan atas tindak lanjut diketahui bahwa sebanyak 3 (tiga) temuan telah
ditindaklanjuti.
Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia
tahun 2006 mengungkapkan sebanyak 8 (delapan) temuan pemeriksaan kepatuhan.
Hasil pemeriksaan atas tindak lanjut diketahui bahwa sebanyak 1 (satu) temuan telah
ditindaklanjuti.
Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia
tahun 2007 mengungkapkan sebanyak 8 (delapan) temuan pemeriksaan kepatuhan.
Hasil pemeriksaan atas tindak lanjut diketahui bahwa sebanyak 2 (dua) temuan telah
ditindaklanjuti.
Rincian tindak lanjut Hasil Pemeriksaan kepatuhan dapat dilihat pada Lampiran 1.

B. Temuan Pemeriksaan Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan


Tahun 2008
1. Pengelolaan Dana Non APBN di Lingkungan Polri Tidak Transparan dan
Sebesar Rp897.716.060.301,00 Tidak Terungkap Secara Memadai Dalam
CALK Polri Tahun 2008
Dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) Polri Tahun 2008 pada bagian
pengungkapan informasi penting lainnya, diketahui bahwa Polri selama tahun
2008 mengelola rekening dana-dana Non APBN senilai Rp222.714.899.909,00
dengan rincian sebagai berikut:
No. Nama Rekening Nilai (Rp)

1 SAMSAT 39.050.053.200

2 DSP 5.714.343.433

3 PON 34.432.574

4 DEOPS 91.040.266

5 Pam Pilkada 5.718.510.211

6 Rumkit 2.233.301.211

7 PAJAK 1.301.677

8 Kontinjensi 2.244.112.870

9 Pemda 168.976.950

10 DPK 91.709.555.565

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 1 dari 21


No. Nama Rekening Nilai (Rp)

11 TWP 30.592.386.681

12 Catur Sakti 1.845.446.852

13 Jasa Raharja 3.019.293.885

14 Tabungan Mapan 31.242.305

15 Masjid 1.026

16 Penampungan 4.182.191.268

17 Sewa Lahan 1.500.000

18 Bidku 2.438.732.216

19 Operasi Ketupat 59.399

20 Hibah 21.156.303.401

21 Pihak Ketiga 392.180.680

22 AKDA 2.301.709

23 Papua 12.087.632.530

Jumlah 222.714.899.909

Nilai tersebut merupakan saldo per 31 Desember 2008 dari seluruh dana
yang dikelola di luar mekanisme APBN oleh satker/satwil di seluruh
jajaran Polri.
Hasil pemeriksaan atas pencatatan, pelaporan dan pertanggungjawaban dana-
dana tersebut diketahui bahwa pada tahun 2008 terdapat pengelolaan dana-dana
non APBN minimal sebesar Rp897.716.060.301,00 dan informasi lainnya yang
tidak diungkapkan secara memadai di dalam Catatan atas Laporan Keuangan
Polri TA 2008.
Pengungkapan secara memadai setidaknya memuat informasi mengenai
perolehan dana, besaran penerimaan dan pengeluaran dana tersebut, bank dan
rekening tempat penyimpanan dana tersebut dan otorisasi atas pengeluaran dana
tersebut. Berikut ini adalah informasi mengenai dana-dana Non APBN dimaksud:
a. Dana Samsat
Dana Samsat adalah dana yang diberikan oleh Pemerintah Daerah Propinsi
kepada Polri sebagai insentif (upah pungut) dari hasil kerja sama antara Polri
dan Pemerintah Daerah Propinsi atas penerimaan yang berasal dari
pendaftaran kendaraan bermotor, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Biaya
Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan Sumbangan Wajib Dana
Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ).
Berdasarkan laporan penerimaan dan penggunaan Dana SAMSAT yang
dikelola oleh Pusku Polri diketahui bahwa pada tahun 2008 Pusku Polri
mengelola dana SAMSAT sebagai berikut:

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 2 dari 21


Penerimaan : Rp116.351.410.932,00
Penggunaan : Rp56.200.986.051,00
Rekening Penyimpanan: Bank Mandiri No Rek 102.00.9951510-5.
Penggunaan dana Samsat tersebut dilakukan di luar mekanisme APBN
dengan berpedoman kepada Surat Keputusan Kapolri No. Pol.:
SKEP/1047/XI/2004 tanggak 3 November 2004 tentang Petunjuk
Administrasi Pengelolaan Dana Samsat di Lingkungan Polri yang kemudian
diatur kembali dalam Peraturan Kapolri No. Pol.: 8 Tahun 2007 tanggal 12
April 2007 tentang Pengelolaan Dana Sistem Administrasi Manunggal di
Bawah Satu Atap di Lingkungan Polri.
Dana Samsat yang diterima dari Pemda Propinsi melalui Dir Lantas Polda
digunakan untuk mendukung kegiatan yang mendesak yang anggarannya
belum dialokasikan dalam DIPA Tahun Anggaran berjalan sesuai dengan
kebijakan Pimpinan.

b. Dana Pam Pilkada dan Operasi Kepolisian dari APBD/Pemda/Pihak


Lain
Pada tahun 2008, selain mendapatkan dukungan dari APBN untuk
melaksanakan operasi kepolisian, Polri juga memperoleh bantuan dari Pemda
untuk melaksanakan kegiatan Pengamanan Pilkada dengan rincian sebagai
berikut:
Penerimaan : Rp298.066.493.804,00
Penggunaan : Rp291.623.880.555,00
Penerimaan dana dukungan Pam Pilkada tersebut tidak dilaporkan dan dicatat
di LRA sebagai pendapatan hibah, melainkan digunakan langsung untuk
membiayai kegiatan operasi pengamanan yang dilakukan.
Selain itu dari Catatan atas Laporan Keuangan Polda Jabar TA 2008
diketahui bahwa masih terdapat informasi mengenai pengelolaan dana-dana
non APBN pemda minimal sebesar Rp63.693.675.844,00, dengan perincian
sebagai berikut:
1) Dana Operasi Ketupat yang diterima Polda Jawa Barat dari Pemerintah
Provinsi Jawa Barat sebesar Rp2.500.000.000,00.
2) Dana Operasi Lilin yang diterima Polda Jawa Barat dari Pemerintah
Provinsi Jawa Barat sebesar Rp1.000.000.000,00.
3) Dana Operasi Hutan Lestari TA 2008 yang diterima Polda Jawa Barat
dari Perum Perhutani Unit III Jawa Barat sebesar Rp895.050.500,00.
4) Dana Pengamanan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi
Jawa Barat Tahun 2008 yang diterima Polda Jawa Barat dari Pemerintah
Provinsi Jawa Barat sebesar Rp27.732.147.244,00 melalui rekening BPD
Jabar Banten No. 27-0003-877825-101 atas nama Kabidku dan dana
yang diterima Satker Kewilayahan dari Pemerintah Daerah untuk

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 3 dari 21


mendukung kegiatan operasional dan kegiatan pengamanan sebesar
Rp31.566.478.100,00. Dari jumlah dana pengamanan dari Pemda II
tersebut yang diterima melalui rekening non APBN satker di jajaran
Polda Jabar berjumlah Rp24.353.511.061,00 sedangkan sisanya
berjumlah Rp7.212.967.039,00 diterima secara tunai.

c. Dana DPK
DPK merupakan dana yang dihimpun dari iuran kesehatan personil Polri dan
PNS Polri dan langsung dipotong gaji oleh masing-masing Bendaharawan
Satuan dan dikelola secara terpusat di Pusku Polri. Penggunaan dana DPK
dilakukan dengan cara penerbitan Surat Keputusan Otorisasi Kapolri
(SKOK). Hasil pemeriksaan pada Pusku Polri diketahui bahwa pada tahun
2008 terdapat pengelolaan dana DPK sebagai berikut:
Penerimaan: Rp385.665.454.630,00
Penggunaan: Rp309.483.168.591,00
Rekening Penyimpanan: Bank Mandiri No Rek 122.00.8500276-7

d. Dana Pelayanan Kesehatan Masyarakat umum (Yankesmasum)


Dana Yankesmasum Rumah Sakit Bhayangkara merupakan penerimaan yang
diperoleh Rumah Sakit Bhayangkara Polri atas pemberian jasa pelayanan
kesehatan kepada masyarakat umum. Hasil uji petik di Rumah Sakit Polpus
Sukanto Polri dan RS di Polda Jambi dan Sumbar, informasi penerimaan dan
penggunaan belum diungkap dalam CALK, informasi tersebut meliputi:
1) RS Polpus Sukanto Polri
a) Jumlah penerimaan Yanmasum RS Polpus Sukanto selama tahun
2008 sebesar Rp33.310.709.816,14.
b) Jumlah pengeluaran dana Yanmasum RS Polpus Sukanto selama
tahun 2008 sebesar Rp32.516.097.541,00.
c) Saldo dana Yanmasum RS Polpus Sukanto per 31 Desember 2008
sebesar Rp1.326.902.021,36 ( Rp33.310.709.816,14 -
Rp32.516.097.541,00 + saldo awal tahun Rp532.289.746.22).
d) Saldo tagihan kepada pihak ketiga (asuransi) per 31 Desember 2008
sebesar Rp1.619.963.388,00.
e) Saldo hutang kepada pihak ketiga per 31 Desember 2008 sebesar
Rp330.844.048,00.
f) Terdapat dua rekening dana Yankesmasum yaitu rekening Bank BRI
No Rek 051001000149308 dengan saldo rekening per 31 Desember
2008 sebesar Rp155.421.495,00 dan rekening Bank Mandliri No rek
006-00-9170549-5 dengan saldo per 31 Desember 2008 sebesar
Rp768.959.617,77

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 4 dari 21


2) RS Bhayangkari Polda Jambi
Saldo kas sebesar Rp41.633.476,00 per 31 Desember 2008 yang terdiri
atas saldo tunai di Bendahara sebesar Rp4.719.942,00 dan saldo kas di
Bank sebesar Rp36.913.534,00. disimpan di rekening Bank …. No.
0069881386 atas nama RS. Tk IV Polda Jambi.
3) RS Bhayangkari Polda Sumbar
Pada tanggal 31 Desember 2008 terdapat saldo kas sebesar
Rp33.429.035,00 yang diperoleh dari saldo awal tahun 2008 sebesar
Rp13.748.945,00 ditambah dengan penerimaan rumah sakit selama tahun
2008 sebesar Rp628.315.275,00 dikurangi dengan pengeluaran untuk
biaya operasional selama tahun 2008 sebesar Rp608.635.185,00. Sisa
Saldo sebesar Rp33.429.035,00 tersebut disimpan oleh Bendahara
Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumbar di rekening BRI dengan No.
Rekening: 0058-01-017132-50-8 atas nama Bendaharawan Rumkit.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat beberapa kelemahan dalam


pengelolaan dana-dana Non APBN tersebut, antara lain sebagai berikut:
a. Legal Standing belum jelas;
b. Pengendalian lemah;
c. Tidak ada verifikasi di Pusku mengenai penerimaan dan penggunaan dana-
dana Non APBN;
d. Tidak ada mekanisme untuk menguji kelengkapan pencatatan dan pelaporan
seluruh informasi mengenai dana-dana Non APBN tersebut.
e. Penggunaan dana Non APBN dilakukan untuk membiayai kegiatan yang
tidak ada kaitannya dengan kegiatan perolehan dana Non APBN tersebut.
f. Informasi mengenai pengelolaan dana Non APBN tersebut tidak
diungkapkan secara memadai dalam Laporan Keuangan (minimal CaLK).

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Stándar Akuntansi
Pemerintahan Pernyataan No.04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan:
1) Paragraf 7: Setiap entitas pelaporan keuangan diharuskan untuk
menyajikan Catatan atas Laporan Keuangan sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari laporan keuangan untuk tujuan umum.
2) Paragraf 12: Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau
daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Termasuk
pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah penyajian informasi
yang diharuskan dan dianjurkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 5 dari 21


diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan, seperti
kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lainnya.
3) Paragraf 13: Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi
tentang penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka
pengungkapan yang memadai, antara lain:
(a) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi
makro, pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD,
berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian
target;
(b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun
pelaporan;
(c) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan
dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas
transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya;
(d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar
Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka
laporan keuangan;
(e) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang
timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan
dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas;
(f) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian
yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan
keuangan.
b. Keppres No. 42 Tahun 2002 tentang pelaksanaan APBN
1) pasal 2 menyatakan bahwa APBN meliputi semua penerimaan negara
yang berasal dari penerimaan perpajakan, penerimaan bukan pajak serta
penerimaan hibah dari dalam dan luar negeri selama tahun anggaran yang
bersangkutan.
2) Pasal 10 ayat (2): Pimpinan dan atau pejabat
departemen/lembaga/pemerintah daerah tidak diperkenakan melakukan
tindakan yang mengakibarkan pengeluaran atas beban anggaran belanja
negara, jika dana untuk membiayai tindakan tersebut tidak tersedia atau
tidak cukup tersedia dalam anggaran belanja negara.
3) Pasal 10 ayat (3): Pimpinan dan atau pejabat departemen
/lembaga/pemerintah daerah tidak diperkenakan melakukan pengeluaran
atas beban anggaran belanja negara untuk tujuan lain dari yang
ditetapkan dalam anggaran belanja negara.
4) Pasal 10 ayat (4): Dalam menyediaan anggaran belanja negara
diutamakan untuk menyediaan belanja operasional dan pemeliharaan atas
barang milik negara.

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 6 dari 21


Hal tersebut mengakibatkan pengelolaan dana-dana Non APBN di lingkungan
Polri menjadi tidak transparan dan akuntabel.

Hal tersebut disebabkan karena para Kasatker/personil di jajaran Polri belum


sepenuhnya memahami dan melaksanakan ketentuan mengenai penyusunan
Laporan Keuangan dan pengelolaan keuangan negara.

Atas temuan tersebut, pihak Polri menanggapi bahwa hasil temuan dimaksud
telah ditindaklanjuti oleh Pusku Polri dengan merevisi LRA Polri TA 2008 dan
selanjutmnya akan segera ditindaklanjuti pada satker terkait.

BPK-RI menyarankan agar Kapolri memerintahkan Kapusku Polri untuk:


a. Berkoordinasi dengan Departemen Keuangan untuk membuat kebijakan atas
pengelolaan dana-dana non APBN agar menjadi lebih transparan dan
akuntabel.
b. Menetapkan format laporan pengungkapan atas pengelolaan dana non APBN
dalam laporan keuangan dan menginstruksi kepada seluruh jajaran Polri agar
melaporkan seluruh penerimaan dan penggunaan dana-dana non APBN
dalam laporan keuangan.

2. Terjadi Kesalahan Pembebanan Belanja Pemeliharaan (MAK 523xxx) Ke


Belanja Non Operasional Lainnya (MAK 521xxx) Sebesar
Rp12.310.975.000,00
Laporan Keuangan satker Ditlantas Polri tahun 2008 melaporkan realisasi
anggaran sebesar Rp640.216.502.508,00, yang terdiri dari:
Realisasi belanja pegawai Rp 19.832.166.861,00
Realisasi belanja barang Rp 609.979.435.647,00
Realisasi belanja modal Rp 10.404.900.000,00
Dari realisasi belanja barang tersebut di atas, merupakan realisasi belanja yang
sumber pembiayaannya dari PNBP. Dalam catatan laporan keuangan Ditlantas
Polri dijelaskan bahwa Realisasi belanja barang sebesar Rp606.368.645.680,00
merupakan realisasi belanja barang non operasional lainnya (MAK 521219).
Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa dari realisasi belanja tersebut, terdapat
realisasi belanja yang sebenarnya digunakan untuk kegiatan pemeliharaan, yaitu:
a. Pemeliharaan dan perawatan jaringan satpas SP2D No827615J sebesar
Rp9.188.500.000,00
b. Pemeliharan dan perawatan driving simulator SP2D No830139J sebesar
Rp1.134.720.000,00

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 7 dari 21


c. Pemeliharaan dan perawatan GPS Tracking PJR Ditlantas Polri TA 2008
SP2D No814997J sebesar Rp1.987.755.000,00

Hal tersebut tidak sesuai dengan PSAP No 2 Tentang Laporan Realisasi


Anggaran, Paragraf 34 menyebutkan Belanja diklasifikasikan menurut klasifikasi
ekonomi (jenis belanja), organisasi, dan fungsi. Paragraf 35 menyebutkan
Klasifikasi ekonomi adalah pengelompokan belanja yang didasarkan pada jenis
belanja untuk melaksanakan suatu aktivitas. Klasifikasi ekonomi untuk
pemerintah pusat yaitu belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, bunga,
subsidi, hibah, bantuan sosial, dan belanja lain-lain. Klasifikasi ekonomi untuk
pemerintah daerah meliputi terdiri dari belanja pegawai, belanja barang , belanja
modal, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, dan belanja tak terduga.

Hal tersebut mengakibatkan Laporan Realisasi Anggaran/Catatan atas Laporan


Keuangan Ditlantas tahun 2008 belum menyajikan informasi yang akurat.

Hal tersebut disebabkan ketidakcermatan Subbagren dan Sderenbang dalam


pembebanan MAP/MAK pada saat penyusunan DIPA/RKKL.

Atas temuan kepatuhan tersebut, pihak Polri menanggapi bahwa realisasi Belanja
Non Operasional lainnya telah sesuai dengan realisasi anggaran DIPA/RKAKL
tahun 2008, baik masing-masing program, kegiatan, sub kegiatan, maupun MAK.

BPK-RI menyarankan agar Kapolri memerintahkan pejabat perencanaan pada


Ditlantas Polri untuk menyusun kegiatan dalam MAK, Sub Kegiatan, Kegiatan,
dana Program sesuai dengan subtansi atau realisasi kegiatan.

3. Penerimaan Negara Atas Sanksi Denda Keterlambatan Penyelesaian


Pekerjaan sebesar Rp176.122.994,00 Belum Dipungut dan Disetor ke Kas
Negara Per 31 Desember 2008
Selama tahun 2008 beberapa satker di lingkungan Polri melaksanakan kegiatan
pengadaan barang yang bersumber dari anggaran Rutin Belanja Barang.
Berdasarkan dokumen pertanggungjawaban keuangan pekerjaan tersebut telah
selesai dibayar dan diterima sesuai dengan bukti Berita Acara Penerimaan
Barang. Berdasarkan pemeriksaan secara uji petik atas dokumen
pertanggungjawaban keuangan dan hasil intervew dengan pihak pelaksana
diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Lemdiklat
Pengadaan Cetak Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Bintara Polri di
Lapangan dengan Kontrak Nomor B-/221/SPPB/VII/2008/Lemdiklat tanggal
14 Juli 2008 sebesar Rp289.976.400,00 dengan pelaksana pekerjaan CV Mus
Karya. Jangka waktu penyerahan pekerjaan adalah 60 hari kalender terhitung
mulai tanggal Surat Perintah Mulai Kerja atau sampai dengan tanggal 2
September 2008.

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 8 dari 21


Dari hasil pemeriksaan atas dokumen Surat Perintah Pengeluaran Materiil
(SPPM) diketahui terdapat keterlambatan pendistribusian Buku Pedoman
Pelaksanaan Tugas Bintara Polri di Lapangan yaitu:
No Titik Bekal Jumlah buku Tgl diterima
(set)

1 SPN Jambi 327 25 Nov 2008

2 SPN Kupang 194 26 Nov 2008

3 SPN Singaraja 102 26 Nov 2008

4 SPN Cisarua 369 26 Nov 2008

5 SPN Pekan Baru 306 25 Nov 2008

6 SPN Padang Besi 294 26 Nov 2008

Atas keterlambatan penyerahan/pendistribusian Buku Pedoman Pelaksanaan


Tugas di lapangan tersebut pihak rekanan belum dikenakan denda
keterlambatan sebesar Rp24,647,994.00.

b. Divisi Telematika Polri


Pekerjaan pengadaan Alkom Radio PAM Capres dan Cawapres Pemilu
Tahun 2009 dengan Kontrak Nomor B-SPJB/13/X/ 2008/Divtel tanggal 10
Oktober 2008 sebesar Rp3.029.500.000,00 dengan pelaksana pekerjaan PT.
Silfarona Perdana. Jangka waktu penyerahan pekerjaan adalah 45 hari
kalender terhitung mulai tanggal Surat Perintah Mulai Kerja atau sampai
dengan tanggal 24 November 2008.
Hasil Cek Fisik Tim Pemeriksa BPK-RI pada gudang Harkan Divisi
Telematika di Cipinang pada tanggal 24 Februari 2008 menunjukkan masih
terdapat Radio Mobile Motorola XTL 1500 hasil pengadaan tahun 2008
sebanyak 3 unit masih berada di gudang (belum diinstall).
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa penyelesaian pekerjaan pengadaan
Alkom Radio PAM Capres dan Cawapres Pemilu Tahun 2009 mengalami
keterlambatan selama 72 hari kalender (tanggal 24 November 2008 sampai
dengan tanggal 4 Februari 2009). Atas keterlambatan tersebut pihak Divisi
Telematika belum mengenakan sanksi denda keterlambatan atas penyelesaian
pekerjaan sebesar denda maksimum 5% yaitu sebesar Rp151.475.000,00.

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Pasal 12 ayat (2) Keppres No. 42 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan APBN
dijelaskan bahwa belanja atas beban anggaran belanja negara dilakukan
berdasarkan atas hak dan bukti-bukti yang sah untuk memperoleh
pembayaran.

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 9 dari 21


b. Pasal 3 ayat (3) Kontrak/78/IX/Robekum/2008/SDelog tanggal 12
September 2008 menyatakan Keterlambatanpenyelesaian pekerjaan karena
kelalaian Pihak Kedua, diberikan sanksi finansial berupa denda sebesar 1
o/oo (satu perseribu) dari harga kontrak untuk setiap hari keterlambatan.

Hal tersebut mengakibatkan penerimaan negara atas sanksi denda keterlambatan


penyelesaian pekerjaan sebesar Rp176.122.994,00 belum dipungut dan disetor ke
Kas Negara per 31 Desember 2008.

Hal tersebut disebabkan Pejabat Pembuat Komitmen tidak sungguh-sungguh


melaksanakan beberapa kesepakatan yang telah diatur dalam kontrak, hal ini
terbukti belum dikenakan sanksi denda keterlambatan.

Atas temuan kepatuhan tersebut, pihak Polri menanggapi:


a. Pengadaan alkom capres/cawapres sesuai dengan kontrak No. Pol.:B-
SPJB/13/X/2008/Divtel tanggal 10 Oktober 2008 sebesar
Rp3.029.500.000,00 yang dilaksanakan oleh PT Silfarona Perdana, pada
tanggal 24 Februari 2009 alkom memang belum diinstalasi secara
keseluruhan. Hal tersebut diatas disebabkan pada akhir masa penyerahan
pekerjaan, mobil operasional capres/cawapres belum ditentukan sehingga
tidak memungkinkan untuk dilaksanakan instalasi alkom.
b. Atas keterlambatan pekerjaan cetak buku pedoman senilai Rp24.647.994,00
oleh CV Muskarya, dikarenakan keterlambatan koreksi contoh hasil cetakan
oleh pihak Lemdiklat Polri, sehingga keterlambatan tersebut bukan kesalahan
pihak rekanan dan tidak dikenakan sanksi denda.

BPK-RI menyarankan agar Kapolri memerintahkan Direktur Telematika dan


Kalemdiklat Polri untuk segera menarik sanksi denda keterlambatan dan segera
menyetor ke Kas Negara serta bukti setor disampaikan ke BPK RI.

4. Pengembalian Belanja Kegiatan Operasi Tahun 2008 yang Melewati Tahun


Anggaran Sebesar Rp1.034.433.664,00 Belum Diungkap Dalam CALK Polri
Tahun 2008
Dalam Laporan Keuangan Babinkam dan Bareskrim Polri Tahun 2008 diketahui
saldo akun kas di Bendahara pengeluaran sebesar nihil. Dari hasil pemeriksaan
secara uji petik atas bukti pertanggungjawaban keuangan dan hasil intervew
dengan pihak pelaksana diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Babinkam Polri
Pada TA 2008 Satker Babinkam Polri telah memperoleh dukungan dana
operasi yaitu operasi Puri agung dan Ketupat, dengan perincian sebagai
berikut:

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 10 dari 21


1) Operasi Kontinjensi pam ops Puri Agung
Telah direalisasikan Anggaran Operasi Kontinjensi (Pam Ops Puri Agung
2008) sebesar Rp1.989.845.000,00 melalui SPM berikut:
• SP2D No 894228I Rp 40.000.000,00
• SP2D No 919396I Rp1.031.662.458,00
• SP2D No 829694J Rp 918.182.542,00
Dana tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan sebagai berikut:
• Disalurkan ke wilayah PAM kenaikan harga BBM Rp40.000.000,00
• Disalurkan ke Ditlantas Rp356.970.540,00
• Kegiatan jaldis supervisi ke wilayah Rp17.900.000,00
• Disalurkan ke Polda Metro Jaya Rp367.955.000,00
• Disalurkan ke Polwiltabes Bandung Rp364.490.000,00
• Disalurkan ke Polwiltabes Surabaya Rp364.490.000,00
• Disalurkan ke Polwiltabes Semarang Rp364.490.000,00
• Jaldis supervisi Rp60.050.000,00
Atas realisasi belanja Anggaran Operasi Kontinjensi (Pam Ops Puri
Agung 2008) terdapat pengembalian belanja yang disetor ke kas Negara
tanggal 12 Januari 2009 sebesar Rp22.020.000,00 dan tanggal 14 Januari
2009 sebesar Rp31.479.460,00.
Atas dana yang disetorkan pada bulan Januari 2009 sebesar
Rp53.499.460,00 (Rp22.020.000,00 + Rp31.479.460,00) tersebut belum
diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan Babinkam Polri per
31 Desember 2008.
2) Operasi Ketupat
Pada tanggal 18 Desember 2008 Babinkam menerima dana yang berasal
dari SKO untuk Dukgar Operasi Kontinjensi Polri (Ops Ketupat) Tahun
2008 sebesar Rp372.572.000,00.
Dari dana tersebut sebagian dikembalikan ke kas Negara yaitu:
• Tanggal 24 Desember 2008 sebesar Rp 59.721.936,00
• Tanggal 11 Februari 2009 sebesar Rp 4.800.000,00
• Tanggal 7 Januari 2009 sebesar Rp238.082.704,00
Sehingga jumlah anggaran Operasi Kontinjensi yang dikembalikan ke kas
Negara setelah tanggal 31 Desember 2008 sebesar Rp242.882.704,00
(Rp4.800.000,00 + Rp238.082.704,00).
b. Dit Poludara Babinkam Polri
Pengadaan BBM Avtur dan pelumas pesawat untuk kegiatan Operasi Jaring
dan Operasi Dian dilaksanakan berdasarkan kontrak No.Pol:

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 11 dari 21


SPJB/84/AI/RTN/XII/2008 tanggal 4 Desember 2008 dengan nilai sebesar
Rp824.220.000,00, sampai dengan akhir tahun masih terdapat sisa dana BBM
yang belum terserap sebesar Rp738.051.500,00 dan baru bulan Maret disetor
ke Kas negara.

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. PSAP No 1. Paragraf 38 menyebutkan Neraca menggambarkan posisi
keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas
dana pada tanggal tertentu.
b. Buletin Teknis No.01 tentang Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Pusat
menyebutkaan Kas di Bendahara Pengeluaran merupakan kas yang dikuasai,
dikelola, dan di bawah tanggung jawab Bendahara Pengeluaran yang berasal
dari sisa UYHD/UP yang belum dipertanggungjawabkan atau disetorkan
kembali ke Kas Negara per tanggal neraca. Kas di Bendahara Pengeluaran
mencakup seluruh saldo rekening bendahara pengeluaran, uang logam, uang
kertas, dan lain-lain kas (termasuk bukti pengeluaran yang belum
dipertanggungjawabkan) yang sumbernya berasal dari dana kas kecil
(UYHD/UP) yang belum dipertanggungjawabkan atau belum disetor kembali
ke Kas Negara per tanggal neraca. Apabila terdapat bukti-bukti pengeluaran
yang belum dipertanggungjawabkan, maka hal ini harus diungkapkan dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.

Hal tersebut mengakibatkan pengembalian belanja kegiatan operasi Polri yang


melewati tahun anggaran sebesar Rp1.034.433.664,00 belum diungkap dalam
CALK Polri Tahun 2008.

Hal tersebut disebabkan:


a. Kurangnya pemahaman petugas dan pejabat dalam penyusunan Laporan
Keuangan.
b. Lemahnya Kasatker dalam melakukan pengendalian dan pengawasan
kegiatan.

Atas temuan kepatuhan tersebut, pihak Polri menanggapi:


a. Sampai dengan bulan Desember 2008, operasi premanisme masih berjalan,
sehingga belum dapat diketahui sisa anggaran, setelah bulan Januari terdapat
sisa anggaran sebesar Rp53.499.460,00 dan sudah disetor ke Kas Negara.
b. Sisa dana operasi Ketupat baru diterima dari Ditlantas Polri dan Densus 88
setelah bulan Desember dan baru disetor ke Kas Negara pada bulan Januari
2009 sebesar Rp242.882.704,00.
c. Atas sisa dana BBM sebesar Rp738.051.500,00 akan segera disetor ke Kas
Negara.

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 12 dari 21


BPK-RI menyarankan agar Kapolri memerintahkan masing-masing Kasatker
yaitu Kababinkam Polri dan Dir Poludara untuk mengungkapkan sisa dana
kegiatan TA 2008 yang baru disetor ke Kas Negara setelah melewati TA, untuk
diungkap dalam Catatan Atas Laporan Keuangan Kasatker, dan secara berjenjang
dimasukkan dalam Calk Polri Tahun 2008.

5. Terdapat Potensi Kerugian Negara atas Pelaksanaan Kegiatan tahun 2008


Di Beberapa Satker Polri sebesar Rp285.000.000,00
Penelaahan atas bukti dokumen pertanggungjawaban dan hasil interview dengan
pihak pelaksana selama tahun 2008, diketahui terdapat beberapa kegiatan yang
berpotensi menimbulkan kerugian negara yaitu:
a. Ditreskrim Polda Sumber
Berdasarkan laporan Barang Milik Negara (BMN) tahun 2008 diketahui
bahwa satker Dit Reskrim Polda Sumbar antara lain memiliki aset berupa
mobil sedan Ford Laser No.Pol.: 1001-III senilai Rp35.000.000,00. Dari hasil
pemeriksaan atas keberadaan aset-aset yang dicatat dalam Laporan BMN
satker Ditreskrim tahun 2008 diketahui bahwa aset berupa mobil Sedan Ford
Laser tersebut tidak ditemukan/tidak diketahui dimana keberadaannya. Harga
perolehan kendaraan tersebut sebesar Rp35.000.000,00. Sampai berakhirnya
pemeriksaan belum diajukan penetapan tuntutan ganti rugi.

b. Polwil Purwakarta
Terdapat penyalahgunaan dana hibah dari Pemda Kabupaten Purwakarta
sebesar Rp250.000.000,00. Proses hibah berdasarkan surat Perjanjian
Belanja Hibah antara Pemerintah Kabupaten Purwakarta dengan Polwil
Purwakarta Nomor 180/07A/HUK/2008, No. Pol. B/660/V/2008 tanggal 27
Mei 2008. Penelaahan lebih lanjut diketahui kondisi sebagai berikut:
1) Berdasarkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) yang dikeluarkan
oleh Sekretariat Daerah Kabupaten Purwakarta nomor 551/BII.1.5/2008
tanggal 18 Juni 2008 diketahui dana bantuan hibah tersebut diterimakan
secara langsung ke rekening rekening BRI Cabang Purwakarta nomor
0075.01.013192.50.0 atas nama Syamsul Bahri.
2) Kapolwil Purwakarta kemudian memberikan kuasa kepada Bensatker
Polwil Purwakarta untuk menerima/mencairkan dana hibah sebesar
Rp250.000.000,00 dari Pemerintah Kabupaten Purwakarta tersebut
melalui rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Purwakarta
nomor 0075.01.013192.50.0 atas nama Syamsul Bahri (Bensatker Polwil
Purwakarta).
3) Setelah dana hibah tersebut diterima, Kapolwil Purwakarta membentuk
panitia pengadaan barang dan jasa sesuai dengan Surat Perintah Kapolwil
Purwakarta No. Pol. Sprin/0466/VIII/2008 tanggal 9 Agustus 2008 dan

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 13 dari 21


Surat Keputusan Kapolwil Purwakarta No. Pol. Skep/18/VIII/2008
tanggal 9 Agustus 2008.
4) Hasil pemeriksaan lebih lanjut atas buku rekening BRI Cabang
Purwakarta nomor 0075.01.013192.50.0 atas nama Syamsul Bahri
diketahui bahwa rekening tersebut adalah rekening pribadi milik Syamsul
Bahri yang digunakan untuk menerima gaji setiap bulannya.
Hasil penelusuran atas transaksi-transaksi yang ada di buku rekening
tersebut diketahui bahwa Syamsul Bahri telah melakukan penarikan tunai
sebanyak 11 kali sehingga pada tanggal 16 September 2009 saldo pada
rekening tersebut nihil.
5) Hasil konfirmasi lebih lanjut kepada pihak Polwil Purwakarta diketahui
bahwa sampai dengan berakhirnya pemeriksaan oleh Tim BPK RI pada
Polwil Purwakarta tanggal 11 Maret 2009 kendaraan dinas roda dua dan
roda empat tersebut di atas belum diadakan.
6) Penyalahgunaan dana hibah Pemerintah Kabupaten Purwakarta sebesar
Rp250.000.000,00 oleh Bensatker Polwil Purwakarta tersebut sampai
dengan berakhirnya pemeriksaan oleh Tim BPK RI pada Polwil
Purwakarta tanggal 11 Maret 2009 sedang dalam proses penyidikan oleh
Subbag Reskrim Polwil Purwakarta.

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah
1) Pasal 32 ayat (1): Pengelola barang, pengguna barang dan/atau kuasa
pengguna barang wajib melakukan pengamanan barang milik
negara/daerah yang berada dalam penguasaannya.
2) Pasal 52 ayat (2): Penjualan barang milik negara/daerah selain tanah
dan/atau bangunan dilaksanakan oleh pengguna barang setelah
mendapat persetujuan pengelola barang untuk barang milik negara.
b. Undang –Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
1) Pasal 59 ayat (2): Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau
pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau
melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung
merugikan keuangan negara, wajib mengganti kerugian tersebut.
2) Pasal 59 ayat (3): Setiap pimpinan kementerian negara/lembaga/kepala
satuan kerja perangkat daerah dapat segera melakukan tuntutan ganti
rugi, setelah mengetahui bahwa dalam kementerian
negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan terjadi
kerugian akibat perbuatan dari pihak mana pun.
3) Pasal 60 ayat (2): Segera setelah kerugian negara tersebut diketahui,
kepada bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain
yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 14 dari 21


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) segera dimintakan surat
pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut
menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian negara
dimaksud.
4) Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Stándar Akuntansi
Pemerintahan Pernyataan No.04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan
Paragraf 12: Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau
daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Termasuk
pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah penyajian informasi
yang diharuskan dan dianjurkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang
diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan, seperti
kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lainnya..

Hal tersebut mengakibatkan penerimaan negara atas pengembalian aset hilang


dan dana hibah belum dipungut dan disetor ke Kas Negara sebesar
Rp285.000.000,00.

Hal tersebut disebabkan:


a. Lemahnya pengendalian dan pengawasan Kasatker atas pengelolaan aset dan
penggunaan dana hibah.
b. Kurangnya pemahaman para personil mengenai ketentuan penyusunan
Laporan Keuangan.

Atas temuan kepatuhan tersebut, pihak Polri menyatakan bahwa:


a. Proses tuntutan ganti rugi (TGR) telah disampaikan kepada Kabid Propam
sesuai dengan nota dinas No. Pol.:B/ND-103/III/2009 tanggl 20 Maret 2009
tentang tindak lanjut temuan wasrik BPK.
b. Terkait dengan penyalahgunaan dana hibah sebesar Rp250.000.000,00
sedang dilaksanakan proses penyelidikan oleh Polwil Purwakarta, apabila
yang bersangkutan terbukti bersalah akan dikenakan tuntutan ganti rugi.

BPK-RI menyarankan agar Kapolri memerintahkan Kapolda Sumbar dan


Kapolda Jabar untuk segera menindaklanjuti temuan BPK RI dengan melakukan
penyelidikan secara intens dan melaporkan hasil perkembangan penyelidikan
kepada BPK RI.

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 15 dari 21


6. Terdapat Persediaan Satker Denma Mabes Polri yang Sudah Tidak
Terpakai sebesar Rp4.013.830.000,00
Pada Laporan Keuangan Satker Denma Mabes Polri Tahun 2008 dilaporkan
posisi persediaan adalah sebesar Rp4.029.050.000,00. Barang Persediaan pada
satker Denma Mabes Polri tersebut terdiri dari:
No Nama Materiil Satuan Jumlah Harga

1 Sepatu Dishar Pria Pasang 11.243 1.686.450.000

2 Sepatu Halbooth Polwan Pasang 130 26.000.000

3 Monogram Polri Buah 7.581 227.430,00

4 Ikat Pinggang Logo rTiNrata Utas 8.223 411.150.000

5 PDH Polri Pria Stel 4600 460.000.000

6 PDH Sus TwoTone Pria stel 258 51.600.000

7 PDH Sus Two Tone Polwan Stel 485 169.750.000

8 Kaos KakiDishar Pria Pasang 3.228 80.700.000

9 PDHPNS Pria Stel 3;968 595.200.000

10 PDH Polwan Stel 373 111.900.000

11 Sepatu saru tali Polwan pasang 24 3.600.000

12 Tshirt W/Coklat Potong 2.284 57.100.000

13 PDH PNS Wanita Stel 143 21.450.000

14 Baju Hamil PNS Stel 237 35.550.000

15 T-Kewenangan Besar Buah 719 35.950.000

16 T-Kewenangan Kecil Buah 545 27.250.000

17 Ikat Pinggang Korpri Utas 255 12.750.000

4.013.830.000

Dari hasil pemeriksaan diketahui barang persediaan Denma Mabes Polri berupa
PDH dan kelengkapannya merupakan hasil pengadaan SDelog Polri yang
didropping ke Denma untuk didistribusikan ke satwil-satwil. Persediaan senilai
Rp4.013.830.000,00 merupakan sisa pengadaan PDH dan kelengkapan tahun
2005 yang sampai dengan tahun 2008 belum didistribusikan ke satwil-satwil dan
sudah tidak sesuai lagi dengan peraturan polri mengenai PDH Polri yang berlaku
saat ini.

Hal tersebut tidak sesuai dengan Keppres No.42 Tahun 2002 Pasal 12 ayat (1)
menyatakan pelaksanaan anggaran belanja negara didasarkan atas prinsip-prinsip:
a. hemat, tidak mewah, efisien dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang
disyaratkan.

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 16 dari 21


b. efektif, terarah dan terkendali sesuai dengan rencana, program/kegiatan serta
fungsi setiap departemen/lembaga/pemerintah daerah.

Hal tersebut mengakibatkan pengadaan PDH dan kelengkapan senilai


Rp4.013.830.000 menjadi tidak efektif.

Hal tersebut disebabkan Satker Sdelog Polri pada saat mengadakan PDH dan
kelengkapan tidak memperhatikan kebutuhan riil.

Atas temuan kepatuhan tersebut, pihak Polri menyatakan bahwa kaporlap


dimaksud, akan didistribusikan kepada anggota di jajaran Mabes Polri sesuai
dengan Telegram Kapolri No. Pol.:ST/05/III/2009 tanggal 17 Maret 2009 tentang
tidak adanya dukungan anggaran untuk pengadaan kaporlap baik Polri maupun
PNS termasuk Dikbang tahun 2009.

BPK-RI menyarankan agar Kapolri memerintahkan Kadenmabes Polri untuk


segera mendistribusikan kaporlap tersebut dan melaporkan hasilnya kepada BPK
RI.

7. Realisasi Anggaran Untuk Kegiatan Operasional di Beberapa Polda Belum


Dapat Dipertanggungjawabkan sebesar Rp1.855.508.000,00
Berdasarkan hasil pemeriksaan Interim Laporan Keuangan Polri pada beberapa
Polda diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Polda Sulawesi Utara
Pencairan anggaran untuk kegiatan Binamitra di jajaran Polda Sulawesi Utara
dilakukan dengan mekanisme uang persediaan. Secara pertanggungjawaban
keuangan (perwabku) diketahui bahwa anggaran kegiatan Binamitra terdiri
dari uang saku sebesar Rp5.000,00 uang dana satuan sebesar Rp1.500,00 dan
uang sarana kontak sebesar Rp2.500,00 masing-masing perorang perhari.
Uang saku merupakan hak dari personil pelaksana kegiatan Binamitra yang
merupakan tambahan penghasilan. Dana satuan dan sarana kontak bukanlah
hak dari personil yang dapat digunakan sebagai tambahan penghasilan. Dana
satuan merupakan dana kegiatan binamitra Poltabes Manado yang dapat
digunakan untuk biaya rapat, konsumsi, atk dan sebagainya. Sarana kontak
merupakan dana kegiatan yang diperuntukkan sebagai alat atau wadah
komunikasi dengan masyarakat yang dapat berupa konsumsi kegiatan
bersama, biaya pulsa telepon, souvenir ataupun bantuan untuk masyarakat.
Bukti perwabku menunjukkan bahwa setiap personil babinkamtibmas telah
menerima uang saku, dana satuan dan sarana kontak untuk setiap kegiatan
Binamitra. Hasil pemeriksaan diketahui bahwa pencairan anggaran kegiatan
Binamitra di Polda Sulawesi Utara belum dipertanggungjawabkan yaitu:

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 17 dari 21


• Poltabes Manada sebesar Rp113.292.000,00
• Polres Minahasa Selatan sebesar Rp66.196.000,00
• Polres Minahasa sebesar Rp149.360.000,00

b. Polda Bangka Belitung


Hasil pemeriksaan atas bukti-bukti penggunaan dana kegiatan Operasi dan
kegiatan Binamitra Kepolisian pada dokumen pertanggungjawaban keuangan
di jajaran Polda Bangka Belitung diketahui bahwa terdapat realisasi anggaran
untuk Kegiatan tersebut yang tidak jelas pertanggungjawaban keuangannya,
sebagai berikut:
• Kegiatan Operasi Biro Operasi sebesar Rp967.557.500,00
• Kegiatan Binamitra Polres Bangka sebesar Rp168.472.000,00
• Kegiatan Binamitra Polresta Pangkal Pinang sebesar Rp89.316.000,00
• Dukungan Operasional Polsek Polres Bangka Tengah sebesar
Rp45.000.000,00.

c. Polda Gorontalo
Hasil pemeriksaan atas bukti-bukti penggunaan dana kegiatan Diskresi,
Turjawali dan kegiatan Serpas Kepolisian pada dokumen
pertanggungjawaban keuangan di jajaran Polda Gorontalo diketahui bahwa
terdapat realisasi anggaran untuk Kegiatan tersebut yang tidak jelas
pertanggungjawaban keuangannya, sebagai berikut:
• Kegiatan Diskresi Polres Bone Bolango sebesar Rp110.490.000,00
• Kegiatan Diskresi Polres Limboto sebesar Rp46.900.000,00
• Kegiatan Turjawali Satbrimob sebesar Rp42.524.500,00
• Kegiatan Serpas Biro Personalia sebesar Rp56.400.000,00

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Keppres No. 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN :
Pasal 12 antara lain menetapkan bahwa :
1) Pelaksanaan anggaran belanja negara didasarkan atas prinsip hemat, tidak
mewah, efisien dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang disyaratkan,
serta fungsi departemen/lembaga.
2) Belanja atas beban anggaran belanja negara dilakukan berdasarkan atas
hak dan bukti-bukti yang sah untuk memperoleh pembayaran.
b. Undang-undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendahaaan Negara yaitu :

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 18 dari 21


1) Pasal 1 (22) Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan uang, surat
berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat
perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.
2) Pasal 54 (2) menetapkan bahwa Kuasa pengguna anggaran
bertanggungjawab secara formal dan material kepada Pengguna
Anggaran atas pelaksanaan kegiatan yang berada dalam penguasaannya.
3) Pasal 62 (1) Pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap bendahara
ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan.

Hal tersebut mengakibatkan adanya peluang penyimpangan anggaran negara atas


belanja kegiatan operasional Polda sebesar Rp1.855.508.000,00.

Hal tersebut disebabkan


a. Pemahaman pelaksana dalam mempertanggungjawabkan belanja kegiatan
operasional Polda belum optimal.
b. Lemahnya sistem pengendalian internal atas penggunaan anggaran belanja
barang oleh Kasatker dan Itwasda Polda.

Atas temuan, pihak Kepolisian Daerah menanggapi bahwa:


a. Kelemahan pertanggungjawabkan keuangan atas kegiatan operasional Polda
karena kurang pemahaman dari pelaksana dan untuk ke depan kami akan
tingkatkan ketertiban pertanggungjawaban keuangan.
b. Akan mempertanggungjawabkan realisasi belanja kegaitan operasional Polda
tersebut.

BPK menyarankan Kapolri agar menginstruksikan Kapolda supaya:


a. Mempertanggungjawabkan belanja kegiatan operasional di jajaran Polda
Sulawesi Utara, Polda Bangka Belitung dan Polda Gorontalo.
b. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan keuangan
negara.

8. Realisasi Penyaluran Belanja BMP Pada Beberapa Satker Belum


Dipertanggungjawabkan
Berdasarkan hasil pemeriksaan Interim Laporan Keuangan Polri Tahun 2008
diketahui beberapa Polda telah merealisasikan sebagian Belanja Barangnya untuk
pembelian bekal berupa Bahan Bakar Minyak dan Pelumas (BMP).
Dari hasil pemeriksaan atas pengelolaan BMP pada beberapa satker di jajaran
Polda Sulawesi Utara, Polda Gorontalo dan Polda Babel diketahui bahwa satker-
satker tersebut tidak mempunyai SPBP maupun tangki timbun sebagai tempat

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 19 dari 21


penyimpanan dukungan BMP sehingga jatah BMP dijual kepada pihak ketiga dan
hasil penjualannya tetap didistribusikan kepada satuan atau personil pemakai
alut/ranmor untuk menunjang kegiatan rutin dan operasional kepolisian untuk
mendukung kelancaran kegiatan rutin dan operasional kepolisian.
Kasubbag Log pada masing-masing satker hanya membuat pertanggungjawaban
penyaluran dana hasil penjualan BMP tersebut kepada personil sesuai rendis
penyaluran bekal BMP tersebut. Tetapi personil yang menerima dana hasil
penjualan BMP tersebut tidak membuat pertanggungjawaban atas penggunaan
dana yang diterimanya untuk membeli BMP.
Rincian jumlah dana pengelolaan BMP yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
adalah sebagai berikut:
a. Poltabes Manado senilai Rp133.815.000,00
b. Polresta PK Pinang senilai Rp292.275.000,00
c. Polres Bangka Tengah sebanyak 16.000 liter MT88/Premium dan sebanyak
10.500 liter HSD/Solar
d. Polres Gorontalo senilai Rp113.476.500,00

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/1408/X/2000 tanggal 31 Oktober
2000 mengenai Naskah Sementara tentang Petunjuk Administrasi Tata Cara
Pengelolaan Bahan Bakar Minyak dan Pelumas (BMP) di lingkungan Polri.
b. Keputusan Kapolri No. Pol.: Kep/11/XII/2000 tanggal 29 Desember 2000
mengenai Pedoman Pelaksanaan Keppres No. 18 Tahun 2000 di lingkungan
Polri Bab V pasal 46 dinyatakan bahwa Kasattama/Kasatker wajib
menyelenggarakan pembukuan atas uang yang dikelolanya dan
menyelenggarakan penatausahaan barang yang dikuasainya, serta membuat
laporan pertanggungjawaban mengenai pengelolaan uang dan barang yang
dikuasainya secara berjenjang kepada Kapolri

Hal tersebut mengakibatkan terbuka peluang terjadinya penyalahgunaan dana


hasil pengelolaan BMP pada beberapa satker yang belum
dipertanggungjawabkan.

Hal tersebut disebabkan


a. Satker tidak memiliki tempat penyimpanan BMP (SPBP);
b. Kasatker dan Kasubbag Log belum sepenuhnya memahami bagaimana
membuat pertanggungjawaban pengelolaan dana hasil penjualan BMP.
c. Lemahnya Pengawasan dan Pengendalian dari Kasatker dalam hal
pengelolaan BMP.

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 20 dari 21


Atas temuan tersebut, pihak Kepolisian Daerah menanggapi bahwa:
a. Kelemahan pertanggungjawabkan keuangan atas pengelolaan BBM Polda
karena tidak adanya tempat penyimpanan BMP (SPBP);
b. Akan mempertanggungjawabkan realisasi belanja penyaluran BBM pada
Polda tersebut.

BPK menyarankan Kapolri agar menginstruksikan Kapolda supaya:


a. Mempertanggungjawabkan realisasi belanja BBM di jajaran Polda Sulawesi
Utara, Polda Bangka Belitung dan Polda Gorontalo.
b. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BBM.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

BPK-RI LHP Kepatuhan – LK POLRI Tahun 2008 Halaman 21 dari 21


Lampiran 2
LAPORAN TINDAK LANJUT HASIL PEMERIKSAAN
LAPORAN KEUANGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2004, 2005, 2006 DAN 2007

Status Tindak Lanjut


Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
Kepatuhan
A. LK 2007
1 06c/S/III- Penyelesaian Beberapa Kontrak BPK RI menyarankan agar Kapolri X
XIV.2/04/2008 Pengadaan Barang/Jasa Terlambat dan memerintahkan Kapusku Polri, Kapolda
30 April 2008 Rekanan Belum Dikenakan Denda Banten, Kapolda DIY, Kapolda Sumbar,
Sebesar Rp852.596.944,90 Kapolda Kalsel, Kapolda Sulteng dan
Kapolda Sultra untuk segera menarik
denda keterlambatan dari rekanan terkait
dan menyetorkannya ke kas negara.

2 Terdapat Kelebihan Pembayaran Sebesar BPK RI menyarankan agar Kapolri X


Rp2.602.391.805,17 dalam Realisasi memerintahkan Kapolda Banten, Kapolda
Anggaran Belanja Barang dan Modal DIY, Kapolda Sumut, Kapolda Sumbar,
Tahun 2007 Kapolda Kaltim, Kapolda Kalsel, Kapolda
Sulteng dan Kapolda Sultra untuk segera
mempertanggungjawabkan kelebihan
bayar sebesar Rp2.602.391.805,17 dengan
menyetorkannya ke kas negara..

3 Pertanggungjawaban Keuangan atas BPK RI menyarankan agar Kapolri X


Pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa pada menegur Delog Kapolri dan
Sdelog Polri Senilai Rp20.114.214.767,00 memerintahkan untuk segera
Formalitas menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang
belum diselesaikan dan memberikan

Halaman 1 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
sanksi tegas kepada para rekanan.

4 Pertanggungjawaban Keuangan Beberapa BPK RI menyarankan agar Kapolri X


Satker Mabes Polri, Polda Sumatera memerintahkan Deops Kapolri, Kadiv.
Utara, Polda Sumatera Barat, Polda Humas Mabes Polri, Kalemdiklat Polri,
Sumatera Selatan, Polda Kalimantan Kapolda Sumut, Kapolda Sumbar,
Timur, Polda Kalimantan Selatan, Polda Kapolda Sumsel, Kapolda Kaltim,
Sulawesi Tenggara dan Polda Sulawesi Kapolda Kalsel, Kapolda Sulteng dan
Tengah minimal senilai Kapolda Sultra untuk memberikan
Rp15.994.713.049,00 Tidak Tertib teguran tertulis kepada para pejabat dan
petugas terkait atas ketidaktertiban dalam
pelaksanaan anggaran.

5 BPK RI menyarankan agar Kapolri


Terdapat potongan tunai bulanan atas X
memerintahkan Kapolda Sumsel dan
belanja pegawai anggota Polri dan PNS di
Kapolda Sultra untuk menghentikan
Jajaran Polda Sumsel dan Polda Sultra
tidak sesuai ketentuan potongan-potongan gaji pegawai yang
tidak sesuai dengan ketentuan.
6 Penyetoran PNBP di Beberapa Polda BPK RI menyarankan agar Kapolri X
belum Sepenuhnya Sesuai dengan memerintahkan Kapolda Banten, Kapolda
Ketentuan Sumbar dan Kapolda Sumut untuk
memberikan teguran tertulis kepada para
pejabat terkait atas keterlambatan
penyetoran PNBP.

7 Pengelolaan Aset Tetap/Barang Milik BPK RI menyarankan agar Kapolri :


Negara (BMN) di Lingkungan Polri a. Membuat ketentuan tentang X
Belum Sesuai dengan Ketentuan pengelolaan aset sebagai penjabaran
PP No. 6 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan BMN dan

Halaman 2 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
menginstruksikan seluruh jajarannya
untuk melaksanakan pengelolaan BMN
sesuai ketentuan tersebut.
b. Memerintahkan jajarannya untuk X
mengupayakan pensertifikatan atas aset
tanah yang saat ini dikuasai Polri.

c. Memerintahkan Kapolda terkait untuk X


segera menyetorkan ke Kas Negara
atas hasil penjualan aset -aset milik
Polri
B. LK 2006
1. 61i/S/XI-XI.1/ Pemanfaatan aset Polri oleh pihak ketiga BPK menyarankan agar Kapolri:
4/2007 belum memberikan kontribusi penerimaan a. Membuat ketentuan internal tentang X
18 April 2007 bagi penerimaan negara pemanfaatan aset milik polri sebagai
penjabaran Keputusan Menteri
Keuangan Nomor: 470/KMK.01/1994
tanggal 20 September 1994 tentang
Tata Cara Penghapusan dan
Pemanfaatan Barang Milik/Kekayaan
Negara dan Surat Edaran Menteri
Keuangan RI No.:S-3985/A/2001
tanggal 11 Oktober 2001 Perihal
Pemanfaatan Barang Milik/Kekayaan
Negara dengan cara sewa.
b. Memerintahkan kepada para Kapolda X
agar dalam membuat perjanjian
kerjasama pemanfaatan aset senantiasa
memperhatikan kepentingan bagi
negara

Halaman 3 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti

2. Pelaksanaan penghapusan aset pada BPK RI menyarankan agar Kapolri


beberapa satker belum dilaporkan dan memerintahkan Delog Kapolri untuk:
terdapat hasil penjualan aset yang a. membuat teguran tertulis kepada para X
dihapuskan sebesar Rp41.642.500,00 Kasatker dan Ketua Penghapusan
belum disetor ke kas negara Barang Milik Negara yang lalai
menyampaikan Laporan Hasil
Pelaksanaan Penghapusan dan
memperingatkan agar dimasa
mendatang membuat dan
menyampaikan laporan pelaksanaan
penghapusan sesuai dengan
ketentuan;
b. Memperingatkan Ketua Penghapusan X
Barang Milik Negara untuk segera
menarik dan menyetor ke Kas Negara
uang hasil penjual aset penghapusan
3. Terdapat pertanggungjawaban keuangan BPK RI menyarankan agar Kapolri
pada beberapa satker jajaran Polri sebesar memerintahkan:
Rp862.410.000,00 tidak dapat diyakini a. Deops Kapolri, Kapolda Jabar, X
kebenarannya Kapolda Jatim dan Ka Sespim untuk
menegur secara tertulis kepada
Kasatker atas pelaksanaan/penarikan
anggaran yang tidak memperhatikan
kebutuhan sebenarnya.
b. Irwasum untuk memproses/meneliti X
lebih lanjut permasalahan tersebut,
apabila terbukti terjadi penyimpangan
keuangan negara agar yang
bersangkutan dikenakan sanksi sesuai

Halaman 4 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
dengan ketentuan.
c. Deops Kapolri, Kapolda Jawa Barat, X
Kapolda Jawa Timur, Ka Sespim dan
Irwasum untuk meningkatkan
pengawasan dan pengendalian atas
pelaksanaan anggaran
4. Terdapat penggunaan dana yang belum BPK RI menyarankan agar Kapolri:
jelas pertanggungjawabannya sebesar a. Memerintahkan Kapolda Metro Jaya,
Rp3.028.478.000,00 Kapolda Jawa Barat, dan Kapolda X
Jawa Tengah untuk memberi teguran
tertulis kepada Kasatker yang tidak
mentaati ketentuan pengelolaan
keuangan negara.
b. Memerintahkan Irwasum X
memproses/meneliti lebih lanjut
permasalahan tersebut, apabila
terbukti terjadi penyimpangan
penggunaan keuangan negara, agar
yang bersangkutan dikenakan sanksi
sesuai dengan ketentuan.
c. Meningkatkan pengawasan dan X
pengendalian atas pengelolaan
keuangan negara
5. Terdapat kelebihan pembayaran pekerjaan BPK RI menyarankan agar Kapolri:
yang berindikasi kerugian negara sebesar a. Memerintahkan Derenbang Kapolri,
Rp4.349.083.678,00 Ka Sespim, Kapolda Metro Jaya, X
Kapolda Jawa Barat, dan Kapolda
Jawa Tengah, Kapolda Jawa Timur,
Kapolda Sulsel untuk memberi
teguran tertulis kepada Kasatker yang

Halaman 5 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
tidak mentaati ketentuan pengelolaan
keuangan negara.
b. Memerintahkan Irwasum X
memproses/meneliti lebih lanjut
permasalahan tersebut, apabila
terbukti terjadi penyimpangan
penggunaan keuangan negara agar
yang bersangkutan dikenakan sanksi
sesuai dengan ketentuan dan menarik
kembali serta menyetorkan ke Kas
Negara, bukti setor dilampirkan ke
BPK-RI.
c. Meningkatkan pengawasan dan X
pengendalian atas pengelolaan
keuangan negara
6. Terdapat kelebihan perhitungan nilai BPK RI menyarankan agar Kapolri:
kontrak pengadaan barang yang a. Memerintahkan Ka Bareskrim, Ka X
berindikasi merugikan negara sebesar Sespim, dan Kapolda Jawa Timur
Rp2.687.132.260,68 untuk memberi teguran tertulis
kepada Panitia Lelang yang tidak
mentaati ketentuan pengelolaan
keuangan negara.
b. Memerintahkan Ka Bareskrim, Ka X
Sespim, dan Kapolda Jawa Timur
untuk menarik kelebihan pembayaran
akibat kelebihan perhitungan nilai
kontrak dan menyetor ke Kas Negara
c. Meningkatkan pengawasan dan X
pengendalian atas pelaksanaan
pengadaan barang dan pemborongan

Halaman 6 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
pekerjaan
7. Keterlambatan penyerahan hasil BPK RI menyarankan agar Kapolri:
pekerjaan yang belum dikenakan sanksi a. Memerintahkan Deops Kapolri dan X
denda sebesar Rp490.033.145,20 Gubernur PTIK untuk menarik sanksi
denda keterlambatan kepada:
1). CV. Gani & Son sebesar
Rp166.594.250,00;
2). PT. Lingga Fidam Indonesia
sebesar Rp43.100.000,00;
3). CV.Mitra Samawa Perkasa
sebesar Rp36,968,845.20;
4). CV.Mitra Samawa Perkasa sebesar
Rp243,370,050.00;
dan menyetor ke Kas Negara, bukti
setor disampaikan ke BPK-RI.
b. Meningkatkan pengawasan dan X
pengendalian atas pelaksanaan
pengadaan barang dan pemborongan
pekerjaan
8. Dukungan dan pendistribusian BBM BPK RI menyarankan Kapolri agar :
secara natura kepada satuan pemakai yang a. Meninjau kembali mekanisme X
tidak memiliki SPBP cenderung pendistribusian BMP terhadap satkai
merugikan negara dan terdapat III yang tidak memilki SPBP dan
penggunaan BBM yang tidak jelas mempertimbangkan untuk memenuhi
pertanggungjawabannya kebutuhan BMP dalam bentuk
uang/anggaran yang melekat pada
DIPA masing-masing satker.
b. Memerintahkan para Kapolda untuk X
menginstruksikan pengelola BMP di
jajarannya menyelenggarakan

Halaman 7 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
administrasi dan pertanggungjawaban
penggunaan uang hasil penjualan
BMP sesuai dengan penatausahaan
Keuangan Negara.
C. LK 2005
1. 72c/S/III- Pengamanan aset tanah Polri melalui Menyarankan agar Kapolri:
XI.1/6/2006 pensertifikatan belum berjalan dengan 1. Menjadikan pensertifikatan tanah √
optimal sebagai kegiatan prioritas pada TA.
2007 dengan penetapan target
tertentu tanah Polri tersertifikat.
2. Memerintahkan Derenbang dan
Delog Kapolri menghitung biaya √
yang diperlukan sekaligus
menganggarkan dalam DIPA TA.
2007 kegiatan pensertifikatan tanah
tersebut.
2. Terdapat sebagian aset tanah Mabes Polri Menyarankan agar Kapolri:
beralih hak kepemilikannya dan 1. Menginventarisasi aset-aset tanah
dipinjampakaikan ke Yayasan Brata Polri yang dimanfaatkan oleh pihak √
Bhakti Polri Ketiga dan menyampaikan hasilnya
kepada BPK-RI.
2. Meneliti tanah Polri yang sudah
bersertifikat atas nama Yayasan Brata √
Bhakti Polri dan menyampaikan
hasilnya kepada BPK-RI.
3. Meninjau kembali perjanjian pinjam
pakai aset tanah Polri yang √
dipinjampakaikan oleh pihak ketiga
termasuk Yayasan Brata Bhakti Polri.
3. Realiasi pembayaran anggaran belanja Menyarankan Kapolri menegur Dirlantas √

Halaman 8 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
barang untuk kegiatan safari polantas Polri untuk senantiasa mentaati ketentuan
sebesar Rp1.517,14 juta dan pengadaan dalam pertanggungjawaban keuangan dan
peralatan khusus lalu lintas sebesar selanjutnya meminta Dit Lantas Polri
Rp9.667,30 juta pada Dit Lantas mengungkapkan hal-hal yang secara
Babinkam Polri mendahului penyelesaian material dapat mempengaruhi pembaca
pekerjaan. dalam menyusun Laporan Keuangan.
4. Pembayaran biaya operasional intelejensi Menyarankan agar Kapolri √
kontinjensi dalam rangka Operasi memerintahkan Kabaintelkam
Peusijuk di wilayah NAD Baintelkam mempertanggungjawabkan kelebihan
Mabes Polri sebesar Rp541,22 juta pembayaran sebesar Rp541,22 juta dan
dilakukan kepada orang yang tidak menyetorkan ke kas negara.
berhak.
5. Hasil penjualan penghapusan ranmor TA. Menyarankan agar Kapolri
2004 dan 2005 belum seluruhnya diterima memerintahkan:
dan disetorkan ke kas negara 1. Delog Kapolri dan para Kasatker
untuk memperingatkan para personil √
yang membeli ranmor dinas yang
dihapuskan untuk segera membayar
kekurangan pembayaran dan
Bensatker segera menyetorkan ke kas
negara.
2. Kapolda Kalsel untuk menegur √
panitia penghapusan ranmor dinas
atas keterlambatan penyetoran hasil
penghapusan.
6. PNBP yang berasal dari penerbitan Menyarankan agar Kapusku Polri √
STNK, SIM, BPKB, STCK, TNKB, melaporkan kas penerimaan PNBP yang
Klipeng, dan Ijin Senpi sebesar masih ada di rekening Pusku Polri per 31
Rp17.444,22 juta terlambat disetorkan ke Desember 2005 dalam Neraca Polri per
kas negara 31 Desember 2005.

Halaman 9 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti

7. PNBP dari pelayanan klinik pengemudi Menyarankan agar Kapolri √


pada Poltabes Banjarmasin kurang memerintahkan Kapolda Kalsel untuk
dipungut dan belum disetorkan ke kas menegur Kapoltabes Banjarmasin dan
negara Petugas Satpas Poltabes Banjarmasin atas
ketidakpatuhan terhadap ketentuan
pembuatan SIM dan
pemungutan/penyetoran PNBP, dan
selanjutnya menyetorkan ke Kas Negara
dana klipeng sebesar Rp2.9 juta.

8. Penyetoran PNBP dari penerbitan BPKB Menyarankan agar Kapolri √


pada Polda Kalsel belum tertib memerintahkan Dirlantas Polri dan para
Kapolda untuk menertibkan penyetoran
PNBP dari penerbitan BPKB. Dalam
penentuan mekanisme penyetoran PNBP
agar senantiasa mengikuti ketentuan yang
berlaku.

9. Terdapat pembiayaan Tim Tastipikor Menyarankan agar Kapolri:


Bareskrim Polri sebesar Rp300,00 juta 1. Menegur Derenbang Kapolri atas
yang tidak ada dasar hukumnya ketidakhematan dalam membuat √
otorisasi anggaran kepada Bareskrim
untuk kegiatan Tim Tastipikor yang
telah didukung oleh anggaran
Kejaksaan Agung.
2. Memerintahkan Kabareskrim untuk
menarik kelebihan pembayaran √
sebesar Rp300,00 juta dan
menyetorkan ke Kas Negara.

Halaman 10 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti

10. Pengadaan alsus intel sebesar Menyarankan agar Kapolri:


Rp42.000,00 juta tidak sesuai dengan 1. Menegur Kabaintelkam untuk √
ketentuan senantiasa mengikuti ketentuan yang
berlaku dalam proses pengadaan
barang/jasa di lingkungannya.

2. Memerintahkan Irwasum Polri √


meneliti lebih lanjut indikasi
ketidakberesan dalam pengadaan
alsus di Baintelkam Polri.
11. Realisasi anggaran beberapa pekerjaan di Menyarankan agar Kapolri:
jajaran Polri tidak sesuai dengan kondisi 1. Melaporkan kesulitan di lapangan
sebenarnya di mana terdapat pencairan kepada menteri keuangan terkait √
anggaran minimal senilai Rp330.728,80 dengan alokasi APBN (ABT) dan
juta menggunakan pertanggungjawaban PNBP Polri yang diturunkan di akhir
formalitas tahun anggaran.
2. Berkonsultasi dengan menteri
keuangan dalam rangka membuat
payung hukum terhadap dana-dana √
yang harus diserap di akhir tahun
anggaran. Sebelum adanya payung
hukum, agar Kapolri tidak menyerap
alokasi dana yang persetujuannya
mendekati akhir tahun anggaran.
3. Menegur para Kasatker yang
mempertanggungjawabkan keuangan
tidak sesuai dengan ketentuan.
4. Senantiasa meningkatkan √
pengendalian atas pengelolaan

Halaman 11 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
keuangan negara dan tuntutan akan
kebenaran material sebagaimana √
kebenaran formal.
12. Terdapat pencairan anggaran pada Menyarankan agar Kapolri:
beberapa satker di jajaran Polri 1. Melaporkan kesulitan di lapangan √
menggunakan pertanggungjawaban kepada menteri keuangan terkait
formalitas minimal senilai Rp65.361,56 dengan alokasi APBN (ABT) dan
juta PNBP Polri yang diturunkan di akhir
tahun anggaran.
2. Berkonsultasi dengan menteri
keuangan dalam rangka membuat √
payung hukum terhadap dana-dana
yang harus diserap di akhir tahun
anggaran. Sebelum adanya payung
hukum, agar Kapolri tidak menyerap
alokasi dana yang persetujuannya
mendekati akhir tahun anggaran.
3. Menegur para Kasatker yang √
mempertanggungjawabkan keuangan
tidak sesuai dengan ketentuan.
4. Memerintahkan para Kasatker untuk √
mempertanggungjawabkan
penggunaan senyatanya.
5. Mempertimbangkan kembali sistem √
dukungan angaran penyidikan
melalui sistem indeksasi yang kurang
sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
6. Senantiasa meningkatkan
pengendalian atas pengelolaan √
keuangan negara dan tuntutan akan

Halaman 12 dari 13
Status Tindak Lanjut
Nomor & Belum Dipantau Selesai
No. Temuan Pemeriksaan Rekomendasi
Tanggal LHP ditindak-
lanjuti
kebenaran material sebagaimana
kebenaran formal.
13. Pelaksanaan kegiatan Operasi Kepolisian Menyarankan Kapolri agar √
dan pertanggungjawaban keuangan yang memerintahkan Kapolda Kalsel menegur
dilakukan oleh Biro Operasi dan Satuan Kepala Biro Operasi dan Kasat Brimob
Brimob Polda Kalsel tidak tertib. Polda Kalsel untuk
mempertanggungjawabkan keuangan
sesuai dengan ketentuan. Selanjutnya
agar Kepala Biro Operasi dan Kasat
Brimob Polda Kalsel
mempertanggungjawabkan penggunaan
senyatanya dana operasi dimaksud,
apabila terbukti tidak dapat
mempertanggungjawabkan agar Kepala
Biro Operasi dan Kasat Brimob Polda
Kalsel dijatuhi sanksi sesuai dengan
ketentuan yang berlaku termasuk
pengembalian uang operasi ke Kas
Negara.
D. LK 2004
1. 04/XI/9/2005 Penghapusan gedung kantor dan fasilitas Menyarankan agar Kapolri menegur √
pendidikan serta rumah dinas para Pati Gubernur PTIK atas proses penghapusan
PTIK Polri belum sepenuhnya bangunan gedung kantor, fasilitas
berpedoman kepada ketentuan tata cara pendidikan, dan rumdin di lingkungan
penghapusan dan pemanfaatan barang PTIK yang tidak sesuai dengan ketentuan
milik negara dan keterlambatan penyetoran hasil
lelang penghapusan.

Halaman 13 dari 13