Anda di halaman 1dari 143

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN
KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2008 

Nomor : 41a/HP/XIV/04/09
Tanggal : 30 April 2009
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI.................................................................................................................. 1 
SISTEMATIKA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN
KEUANGAN KEJAKSAAN RI TAHUN 2008 ........................................................... 2 
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN.................... 3 
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN ..................................................................... 5 
1.  Dasar Hukum Pemeriksaan................................................................................ 5 
2.  Tujuan Pemeriksaan........................................................................................... 5 
3.  Sasaran Pemeriksaan.......................................................................................... 5 
4.  Standar Pemeriksaan .......................................................................................... 5 
5.  Metode Pemeriksaan .......................................................................................... 6 
6.  Jangka Waktu Pemeriksaan ............................................................................... 6 
7.  Obyek Pemeriksaan ........................................................................................... 6 
8.  Batasan Pemeriksaan ......................................................................................... 6 
LAPORAN KEUANGAN KEJAKSAAN RI TAHUN 2008

BPK-RI LHP Opini - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 1 dari 7


SISTEMATIKA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
ATAS LAPORAN KEUANGAN KEJAKSAAN RI
TAHUN 2008

Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2008 terdiri dari 3 (tiga)
laporan sebagai berikut:
1. Laporan I: Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan.
Laporan I berisi: (a) Hasil pemeriksaan yang memuat opini BPK atas kewajaran
Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2008; (b) Laporan Keuangan Kejaksaan RI
Tahun 2008, dan; (c) Gambaran umum pemeriksaan yang berisi dasar hukum
pemeriksaan, tujuan pemeriksaan, sasaran pemeriksaan, standar pemeriksaan,
metode pemeriksaan, waktu pemeriksaan, obyek pemeriksaan, dan batasan
pemeriksaan.
2. Laporan II: Laporan Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern.
Laporan II berisi: (a) Resume Hasil Pemeriksaan; (b) Tindak lanjut temuan
pemeriksaan SPI Tahun 2004, 2005, 2006 dan 2007; dan (c) Temuan pemeriksaan
SPI Tahun 2008.
3. Laporan III: Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan terhadap Peraturan
Perundang-undangan.
Laporan III berisi: (a) Resume Hasil Pemeriksaan; (b) Tindak Lanjut
Temuan Pemeriksaan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan Tahun
2005, 2006, dan 2007, dan; (c) Temuan Pemeriksaan Kepatuhan terhadap
Peraturan Perundang-undangan Tahun 2008.

BPK-RI LHP Opini - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 2 dari 7


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN


Berdasarkan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
dan undang-undang terkait lainnya, Kejaksaan Republik Indonesia melalui Surat Jaksa
Agung Muda Pembinaan Nomor B-415/C/C.5/02/2009 tanggal 27 Februari 2009 telah
menyampaikan Laporan Keuangan Kejaksaan Republik Indonesia Tahun 2008 kepada
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diperiksa. Laporan keuangan tersebut terdiri dari
Neraca per 31 Desember 2008 dan 2007, Laporan Realisasi Anggaran untuk Periode
Tahun 2008, serta Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan Keuangan tersebut merupakan
tanggung jawab Jaksa Agung Republik Indonesia.
Sebagaimana diungkapkan dalam Neraca Kejaksaan Republik Indonesia Per 31 Desember
Tahun 2008, saldo Aset Lain-lain berupa Uang Pengganti adalah sebesar
Rp7.709.390.588.719,55. Pencatatan dan pelaporan Uang Pengganti tersebut tidak
memadai karena belum adanya prosedur yang memadai dan dibakukan oleh Kejaksaan
Agung yang dapat menjamin akurasi data dalam pelaporan uang pengganti dalam LK
Kejaksaan. Hal ini dibuktikan dengan Laporan Uang Pengganti belum terintegrasi dengan
SAI dan saldo yang disajikan oleh Kejaksaan RI dhi. Jampidsus sebesar
Rp7.709.390.588.719,55 tidak dapat dijelaskan oleh Kejaksaan RI dari wilayah (Kejati)
atau satker (Kejari) mana saldo tersebut berasal, karena saldo tersebut dihasilkan dari
penjumlahan manual secara global atas laporan yang dikirimkan oleh Kejati. BPK tidak
dapat menerapkan prosedur lain untuk memperoleh keyakinan memadai terhadap
kewajaran penilaian dan pengungkapan Uang Pengganti tersebut.
Sebagaimana diungkapkan dalam Neraca Kejaksaan Republik Indonesia Per 31 Desember
Tahun 2008, saldo Aset Tetap adalah sebesar Rp4.153.583.449.725,00. Pencatatan dan
pelaporan akun Aset Tetap dalam Neraca Kejaksaan RI tidak memadai karena pencatatan
Aset Tetap tidak dihasilkan dari SIMAK-BMN melainkan disusun secara manual dan tidak
didukung oleh dokumen dan Arsip Data Komputer (ADK). Disamping itu, hasil
inventarisasi dan revaluasi dari DJKN belum dijadikan sebagai saldo awal Aset Tetap
tahun 2008 dan belum dilakukan rekonsiliasi laporan BMN baik secara intern antara
UAKPB dengan UAKPA maupun dengan DJKN/KPKNL. BPK tidak dapat menerapkan
prosedur lain untuk memperoleh keyakinan memadai terhadap kewajaran angka pada
Akun Aset Tetap.
Sebagaimana diungkapkan dalam Neraca Kejaksaan Republik Indonesia Per 31 Desember
Tahun 2008, saldo akun Persediaan adalah sebesar Rp11.177.306.450,45 yang terdiri dari
Persediaan Non Barang Rampasan sebesar Rp1.571.592.118,00 (meliputi alat
perlengkapan pegawai, bahan konsumsi, bahan untuk pemeliharaan, materai dan bahan
baku) dan Persediaan Barang Rampasan sebesar Rp9.605.714.332,45. Pencatatan dan
pelaporan akun Persediaan dalam Neraca Kejaksaan RI tidak memadai karena belum

BPK-RI LHP Opini - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 3 dari 7


semua Kejati/Kejari/Cabjari melakukan inventarisasi fisik Persediaan secara periodik serta
belum mencatat dan melaporkan Persediaan. Hal ini dibuktikan dengan Persediaan Non
Barang Rampasan minimal sebesar Rp70.130.700,00 dan Persediaan Barang Rampasan
minimal senilai Rp43.357.277.270,00 dan 2.045.158,57 satuan barang belum dicatat dalam
Laporan Keuangan per tanggal 31 Desember 2008. Disamping itu, belum ada mekanisme
pencatatan barang rampasan dalam Sistem Akuntansi Instansi (SAI) dhi. SIMAK BMN.
BPK tidak dapat menerapkan prosedur lain untuk memperoleh keyakinan memadai
terhadap kewajaran angka pada akun Persediaan.
Sebagaimana diungkapkan dalam Neraca Kejaksaan Republik Indonesia per 31 Desember
Tahun 2008, saldo Kas di Bendahara Pengeluaran sebesar Rp7.259.286.816,00. Jumlah di
atas merupakan saldo kas/bank dari penerimaan uang persediaan yang belum
dipertanggungjawabkan secara definitif kepada Kas Negara pada tanggal neraca.
Pencatatan dan pelaporan akun Kas di Bendahara Pengeluaran dalam Neraca Kejaksaan RI
tidak memadai yang dibuktikan dengan adanya saldo akun Kas di Bendahara Pengeluaran
tahun 2005, 2006, 2007, dan 2008 yang belum dicatat penyelesaiannya, dan saldo akun
Kas di Bendahara Pengeluaran yang bernilai negatif. BPK tidak dapat menerapkan
prosedur lain untuk memperoleh keyakinan memadai terhadap kewajaran angka pada akun
Kas di Bendahara Pengeluaran.
Sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Realisasi Anggaran Kejaksaan Republik
Indonesia Per 31 Desember Tahun 2008, saldo Pendapatan adalah sebesar
Rp168.234.795.077,00. Pencatatan dan pelaporan akun Pendapatan dalam Laporan
Realisasi Anggaran Kejaksaan RI tidak memadai yang dibuktikan dengan belum
sepenuhnya dilakukan rekonsiliasi untuk menelusuri perbedaan data pendapatan antara
Kejaksaan RI dan Departemen Keuangan. BPK tidak dapat menerapkan prosedur lain
untuk memperoleh keyakinan memadai terhadap kewajaran angka pada akun Pendapatan.
Karena permasalahan yang diuraikan dalam Paragraf 02 sampai dengan Paragraf 06 dan
BPK tidak dapat melakukan prosedur lain, lingkup pemeriksaan BPK tidak cukup
memungkinkan untuk menyatakan pendapat, dan BPK tidak menyatakan pendapat atas
Laporan Keuangan Kejaksaan Republik Indonesia Tahun 2008.
Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan
keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan
kepatuhan terhadap ketentuan perundangan-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas
Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundangan-
undangan disajikan dalam Laporan Nomor 41b/HP/XIV/04/09 dan Nomor
41c/HP/XIV/04/09 Tanggal 30 April 2009, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
laporan ini.

Jakarta, 30 April 2009


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Wakil Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Roes Nelly, Ak.


Register Negara No. D-24.608

BPK-RI LHP Opini - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 4 dari 7


GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN

1. Dasar Hukum Pemeriksaan


a. Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
b. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
c. UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara;
d. UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan;
e. Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP) BPK TA 2009.
2. Tujuan Pemeriksaan
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI bertujuan untuk memberikan
opini atas kewajaran Laporan Keuangan Kejaksaan RI dan sebagai dukungan
pemberian opini atas BA 69 dengan memperhatikan:
a. Kesesuaian Laporan Keuangan Kejaksaan RI yang diperiksa dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP);
b. Kecukupan pengungkapan informasi keuangan dalam laporan keuangan sesuai
dengan pengungkapan yang seharusnya dibuat seperti disebutkan SAP;
c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan terkait dengan pelaporan
keuangan; dan
d. Efektivitas Sistem Pengendalian Intern (SPI).
3. Sasaran Pemeriksaan
Pemeriksaan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga dan Laporan
Keuangan BA 69 Tahun 2008 meliputi pengujian atas saldo atas akun-akun yang ada
di neraca dan transaksi-transaksi pada Laporan Realisasi Anggaran. Sasaran
pemeriksaan atas LK Kejaksaan RI dan BA 69 yang diterima Kejaksaan RI meliputi:
a. Pemantauan tindak lanjut Hasil Pemeriksaan atas LK Kejaksaan RI Tahun 2007,
2006, 2005, dan 2004;
b. Penilaian kepatuhan atas ketentuan perundang-undangan terkait dengan
pengelolaan pendapatan, belanja, pembiayaan, kas dan bank, investasi, aset tetap
dan utang;
c. Penilaian efektivitas pengendalian intern atas pengelolaan rekonsiliasi
pendapatan dan belanja, rekening, piutang, aset tetap, dan utang; dan
d. Pengujian substantif atas transaksi-transaksi TA 2008 atas pendapatan, belanja,
dan pembiayaan.
4. Standar Pemeriksaan
Peraturan BPK Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
(SPKN).

BPK-RI LHP Opini - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 5 dari 7


5. Metode Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan dengan pendekatan risiko, yang dirancang untuk menemukan
kesalahan dan penyimpangan informasi atas laporan keuangan dengan menelaah
operasional instansi. Pemeriksaan dimulai dengan melakukan penelaahan kegiatan
operasi guna menentukan area resiko penting yang seharusnya menjadi fokus
pemeriksaan untuk meyakinkan pencatatan dan pengungkapan yang memadai dalam
laporan keuangan.
Dalam menganalisis dan menguji proses akuntansi dan pelaporan instansi, BPK telah
melakukan prosedur-prosedur di bawah ini:
a. Memahami dan menguji sistem akuntansi dan pelaporan yang dipakai dan
diterapkan oleh instansi saat ini apakah telah mengikuti sistem akuntansi yang
telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
b. Menganalisis penerapan proses akuntansi dan pelaporan instansi, termasuk
efektivitas pengendalian intern yang digunakan untuk mengurangi resiko salah
saji dan kesalahan yang disengaja.
c. Menelaah kecukupan pengendalian intern yang berhubungan dengan sistem
akuntansi dan pelaporan.
d. Menelaah keakuratan, kelengkapan, keberadaan, penilaian, pisah batas,
kepemilikan, penyajian dan pengungkapan laporan keuangan yang dihasilkan
oleh sistem akuntansi dan pelaporan.
Pemeriksaan ini juga mencakup pengujian pengendalian, prosedur analitis, dan
pengujian substantif untuk menilai efektivitas pengendalian oleh instansi dan
kewajaran penyajian laporan keuangan instansi.
Selain itu, BPK juga melakukan pemantauan tindak lanjut yang telah dilaksanakan
Kejaksaan RI atas permasalahan yang ditemukan pada pemeriksaan Laporan
Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2004, 2005, 2006 dan 2007.
6. Jangka Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan dilaksanakan dimulai tanggal 12 Februari 2009 dan berakhir pada
tanggal 08 April 2009.
7. Obyek Pemeriksaan
a. Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2008 dan kekayaan negara lainnya yang
termasuk dalam Keuangan Negara sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Undang-
undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
b. Laporan Keuangan BA 69 (Belanja Lain-lain) yang diterima Kejaksaan RI pada
TA 2008.
8. Batasan Pemeriksaan
Semua informasi yang disajikan dalam laporan keuangan merupakan tanggung jawab
manajemen. Oleh karena itu, BPK tidak bertanggung jawab terhadap salah
interpretasi dan kemungkinan pengaruh atas informasi yang tidak diberikan baik yang
sengaja maupun tidak disengaja oleh manajemen.

BPK-RI LHP Opini - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 6 dari 7


Pemeriksaan BPK meliputi prosedur-prosedur yang dirancang untuk memberikan
keyakinan yang memadai dalam mendeteksi adanya kesalahan dan salah saji yang
berpengaruh material terhadap laporan keuangan. Pemeriksaan BPK tidak ditujukan
untuk menemukan kesalahan atau penyimpangan. Walaupun demikian, jika dari hasil
pemeriksaan ditemukan penyimpangan, akan diungkapkan.
Dalam melaksanakan pemeriksaan, BPK juga menyadari kemungkinan adanya
perbuatan-perbuatan melanggar hukum yang terjadi. Namun pemeriksaan BPK tidak
memberikan jaminan bahwa semua tindakan melanggar hukum akan terdeteksi dan
hanya memberikan jaminan yang wajar bahwa tindakan melanggar hukum yang
berpengaruh secara langsung dan material terhadap angka-angka dalam laporan
keuangan akan terdeteksi. BPK akan menginformasikan bila ada perbuatan-perbuatan
melanggar hukum atau kesalahan/penyimpangan material yang ditemukan selama
pemeriksaan.
Dalam melaksanakan pengujian kepatuhan atas peraturan perundang-undangan, kami
hanya menguji kepatuhan instansi atas peraturan perundang-undangan yang terkait
langsung dengan penyusunan laporan keuangan. Hal ini tidak menutup kemungkinan
bahwa masih terdapat ketidakpatuhan pada peraturan yang tidak teridentifikasi.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

BPK-RI LHP Opini - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 7 dari 7


LAPORAN KEUANGAN (ASERSI FINAL)
KEJAKSAAN RI TAHUN 2008

Jl. Sultan Hasanuddin No. 1 Kebayoran Baru


JAKARTA SELATAN
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

UNTUK TAHUN ANGGARAN YANG BERAKHIR


31 DESEMBER 2008

Halaman 1 dari 26
LAPORAN REALISASI ANGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2008
(DALAM RUPIAH)
KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA : 006 KEJAKSAAN RI
2008
No. URAIAN Ref. %
REALISASI DI ATAS
ANGGARAN REALISASI REALISASI
(BAWAH) ANGGARAN
ANGGARAN
1 2 3 4 5 6 7
A PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH
A.1 PENERIMAAN DALAM NEGERI 11.171.051.225,00 168.234.795.077,00 157.063.743.852,00 1.505,99
A.1.a Penerimaan Perpajakan 0,00 0,00 0,00 -
A.1.b Penerimaan Negara Bukan Pajak 11.171.051.225,00 168.234.795.077,00 157.063.743.852,00 1.505,99
A.2 HIBAH - - -
JUMLAH PENDAPATAN DAN HIBAH 11.171.051.225,00 168.234.795.077,00 157.063.743.852,00 1.505,99
B BELANJA
B.1 Rupiah Murni 1.840.712.038.000,00 1.621.986.753.684,00 (218.725.284.316,00) 88,12
Belanja Pegawai 929.333.528.000,00 831.214.603.608,00 (98.118.924.392,00) 89,44
Belanja Barang 559.322.351.000,00 455.777.565.118,00 (103.544.785.882,00) 81,49
Belanja Modal 352.056.159.000,00 334.994.584.958,00 (17.061.574.042,00) 95,15
Pembayaran Bunga Utang - - - -
Subsidi - - - -
Hibah - - - -
Bantuan Sosial - - - -
Belanja lain-lain - - - -
B.2 Pinjaman Luar Negeri -
Belanja Pegawai - - - -
Belanja Barang - - - -
Belanja Modal - - - -
Pembayaran Bunga Utang - - - -
Subsidi - - - -
Hibah - - - -
Bantuan Sosial - - - -
Belanja lain-lain - - - -
B.3 Hibah - - - -

Halaman 2 dari 26
LAPORAN REALISASI ANGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2008
(DALAM RUPIAH)
KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA : 006 KEJAKSAAN RI
2008
No. URAIAN Ref. %
REALISASI DI ATAS
ANGGARAN REALISASI REALISASI
(BAWAH) ANGGARAN
ANGGARAN
1 2 3 4 5 6 7
B.3 Hibah - - - -
Belanja Pegawai - - - -
Belanja Barang - - - -
Belanja Modal - - - -
Pembayaran Bunga Utang - - - -
Subsidi - - - -
Hibah - - - -
Bantuan Sosial - - - -
Belanja lain-lain - - - -
JUMLAH BELANJA 1.840.712.038.000,00 1.621.986.753.684,00 (218.725.284.316,00) 88,12
C PEMBIAYAAN
C.1 PEMBIAYAAN DALAM NEGERI (NETO)
C.1.a Perbankan Dalam Negeri
C.1.b Non Perbankan Dalam Negeri (Neto)
C.2 PEMBIAYAAN LUAR NEGERI
C.2.a Penarikan Pinjaman Luar Negeri
Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar
C.2.b Negeri
JUMLAH PEMBIAYAAN (C.1 + C.2)

Halaman 3 dari 26
NERACA

KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PER 31 DESEMBER 2008

Halaman 4 dari 26
NERACA
TINGKAT KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA
PER 31 DESEMBER 2008 DAN 2007
(DALAM RUPIAH)
KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA : 006 KEJAKSAAN RI
JUMLAH Kenaikan (Penurunan)
NAMA PERKIRAAN Ref.
2008 2007 Jumlah %
1 2 3 4 5 6
ASET
ASET LANCAR
Kas di Bendahara Pengeluaran 7.259.286.816,00 6.407.595.073,00 851.691.743,00 13,29
Kas di Bendahara Penerimaan - - -
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi
Tuntutan Ganti Rugi
Piutang Lainnya
Persediaan 11.177.306.450,45 941.681.919,00 10.235.624.531,45 1.086,95
JUMLAH ASET LANCAR 18.436.593.266,45 7.349.276.992,00 11.087.316.274,45 150,86
ASET TETAP
Tanah 717.759.328.950,00 135.696.809.583,00 582.062.519.367,00 428,94
Peralatan dan Mesin 1.481.819.071.511,00 501.695.202.902,00 980.123.868.609,00 195,36
Gedung dan Bangunan 1.250.082.764.274,00 328.096.366.984,00 921.986.397.290,00 281,01
Jalan, Irigasi dan Jaringan 9.497.577.231,00 3.796.678.894,00 5.700.898.337,00 150,15
Aset Tetap Lainnya 629.723.795.623,00 11.138.204.342,00 618.585.591.281,00 5.553,73
Kontruksi Dalam Pengerjaan 64.700.912.136,00 234.400.032.733,00 (169.699.120.597,00) (72,40)
JUMLAH ASET TETAP 4.153.583.449.725,00 1.214.823.295.438,00 2.938.760.154.287,00 241,91
ASET LAINNYA
Tagihan Tuntutan Perbendaharaan 74.712.027,00 37.488.627,00 37.223.400,00 99,29
Tuntutan Ganti Rugi 91.000.000,00 92.200.000,00 (1.200.000,00) (1,30)
Aset Lain-lain 7.709.390.588.719,55 7.597.289.491.528,88 112.101.097.190,67 1,48
JUMLAH ASET LAINNYA 7.709.556.300.746,55 7.597.419.180.155,88 112.137.120.590,67 1,48
JUMLAH ASET 11.881.576.343.738,00 8.819.591.752.585,88 3.061.984.591.152,12 34,72
KEWAJIBAN
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
Uang Muka dari KPPN 7.259.286.816,00 6.407.595.073,00 851.691.743,00 13,29
Pendapatan Yang Ditangguhkan
JUMLAH KEWAJIBAN JK PENDEK 7.259.286.816,00 6.407.595.073,00 851.691.743,00 13,29
JUMLAH KEWAJIBAN 7.259.286.816,00 6.407.595.073,00 851.691.743,00 13,29
EKUITAS DANA
EKUITAS DANA LANCAR
Cadangan Piutang - - -
Cadangan Persediaan 11.177.306.450,45 941.681.919,00 10.235.624.531,45 1.086,95
JUMLAH EKUITAS DANA LANCAR 11.177.306.450,45 941.681.919,00 10.235.624.531,45 1.086,95
EKUITAS DANA INVESTASI
Diinvestasikan Dalam Aset Tetap 4.153.583.449.725,00 1.214.823.295.438,00 2.938.760.154.287,00 241,91
Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya 7.709.556.300.746,55 7.597.419.180.155,88 112.137.120.590,67 1,48
JUMLAH EKUITAS DANA INVESTASI 11.863.139.750.471,55 8.812.242.475.593,88 3.050.897.274.877,67 34,62
JUMLAH EKUITAS DANA 11.874.317.056.922,00 8.813.184.157.512,88 3.061.132.899.409,12 34,73
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 11.881.576.343.738,00 8.819.591.752.585,88 3.061.984.591.152,12 34,72

Halaman 5 dari 26
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

TAHUN 2008

Halaman 6 dari 26
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN ASERSI FINAL

A. PENJELASAN UMUM
Dasar Hukum A.1. DASAR HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan
dan Kinerja Instansi Pemerintah.
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 tentang
Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
6. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Pemerintah Pusat.
7. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER 51/PB/ tahun
2008 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian
Negara/Lembaga.

A.2. KEBIJAKAN TEKNIS KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

Rencana RENCANA STRATEGIS KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA


Strategis
Pendapatan PENDAPATAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA
Realisasi Pedapatan Tahun 2008 Rp168.234.795.077,00 mengalami
peningkatan jika dibandingkan dengan Tahun 2007 Rp118.498.822.363,00 yaitu
sebesar Rp49.735.972.714,00.
Belanja BELANJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA
Realisasi belanja Tahun 2008 Rp1.621.986.753.684,00, anggaran ini 88,12
persen jika dibandingkan anggaran yang sebesar Rp1.840.712.038.000,00.

A.3. PENDEKATAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2008 merupakan laporan yang


mencakup seluruh aspek keuangan yang dikelola oleh entitas pelaporan
Kejaksaan RI termasuk di dalamnya jenjang struktural di bawah Kejaksaan RI
seperti eselon I, kantor wilayah, serta satuan kerja yang bertanggung jawab atas
otorisasi kredit anggaran yang diberikan kepadanya. Laporan Keuangan
Kejaksaan RI disusun berdasarkan penggabungan data/laporan keuangan satuan
kerja Kejaksaan RI
Kejaksaan RI Tahun 2008 ini memperoleh anggaran yang berasal dari
APBN sebesar Rp1.840.712.038.000,00 meliputi:
• Satuan kerja pusat/KP sebesar Rp437.842.358.000,00
• Satuan kerja daerah/KD sebesar Rp1.402.869.680.000,00
Jumlah satuan kerja di lingkup Kejaksaan RI adalah 498 satker. Dari
jumlah tersebut satker yang menyampaikan laporan keuangan dan

Halaman 7 dari 26
dikonsolidasikan sejumlah 498 satker (100 %), sedangkan yang tidak
menyampaikan laporan keuangan sejumlah 0 satker (0 %). Rincian satuan kerja
tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel I
Rekapitulasi Jumlah Satker Menurut Eselon 1
Jumlah Jenis Kewenangan
Kode Jumlah
No Uraian KP KD DK TP
Eselon I Satker
M TM M TM M TM M TM

1 01 Jaksa Agung 5 - 493


Muda
Pembinaan

Jumlah 5 - 493

Keterangan:
M = Menyampaikan LK
TM = Tidak menyampaikan LK
Selain memperoleh dana dari DIPA BA 06, juga mengelola dana yang
berasal BA 069 (Belanja Lain-lain) sebesar Rp9.062.406.000,00.
Laporan Keuangan dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Instansi (SAI),
yang terdiri dari Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Informasi
Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN).
SAI dirancang untuk menghasilkan Laporan Keuangan Kementerian
Negara/Lembaga (LKKL) yang terdiri dari:
1. Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran disusun berdasarkan penggabungan Laporan
Realisasi Anggaran seluruh entitas akuntansi yang berada di bawah
Kejaksaan RI. Laporan Realisasi APBN terdiri dari Pendapatan Negara dan
Hibah dan Belanja.
2. Neraca
Neraca disusun berdasarkan penggabungan neraca entitas akuntansi yang
berada di bawah Kejaksaan RI dan disusun melalui SAI.
3. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi tentang pendekatan
penyusunan laporan keuangan, penjelasan atau daftar terinci atau analisis
atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan
Neraca dalam rangka pengungkapan yang memadai.
Data BMN yang disajikan dalam neraca ini belum seluruhnya diproses
melalui SIMAK-BMN.
Jumlah satuan kerja di lingkup Kejaksaan RI adalah 498 satker. Dari
jumlah tersebut satker yang telah menyampaikan laporan barang dan
dikonsolidasikan sejumlah 409 satker (82%), sedangkan yang tidak
menyampaikan laporan barang sejumlah 89 satker (18%). Rincian satuan kerja
tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

Halaman 8 dari 26
Tabel 2
Rekapitulasi Jumlah Satker Menurut Eselon 1
Jumlah Jenis Kewenangan
Kode Jumlah
No Uraian KP KD DK TP
Eselon I Satker
M TM M TM M TM M TM

1 00601 JAMBIN 3 406


2
3
4
5

Jumlah

Keterangan:
M = Menyampaikan Laporan Barang
TM = Tidak menyampaikan Laporan Barang

Kebijakan A.4. KEBIJAKAN AKUNTANSI


Akuntansi

Laporan Realisasi Anggaran disusun menggunakan basis kas yaitu basis


akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat
kas atau setara kas diterima pada Kas Umum Negara (KUN) atau dikeluarkan
dari KUN.
Penyajian aset, kewajiban, dan ekuitas dana dalam Neraca diakui
berdasarkan basis akrual, yaitu pada saat diperolehnya hak atas aset dan
timbulnya kewajiban tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima
atau dikeluarkan dari KUN.
Penyusunan dan penyajian LK Tahun 2008 telah mengacu pada Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang telah ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Dalam penyusunan LKKL telah diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan
keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan.
Prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dalam penyusunan LK Kejaksaan RI
adalah :
Pendapatan (1) Pendapatan
Pendapatan adalah semua penerimaan KUN yang menambah ekuitas dana
lancar dalam periode tahun yang bersangkutan yang menjadi hak
pemerintah pusat dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah pusat.
Pendapatan diakui pada saat kas diterima pada KUN. Akuntansi pendapatan
dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan
penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran). Pendapatan disajikan sesuai dengan
jenis pendapatan.
Belanja (2) Belanja
Belanja adalah semua pengeluaran KUN yang mengurangi ekuitas dana
lancar dalam periode tahun yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh pemerintah pusat. Belanja diakui pada saat

Halaman 9 dari 26
terjadi pengeluaran kas dari KUN. Khusus pengeluaran melalui bendahara
pengeluaran, pengakuan belanja terjadi pada saat pertanggungjawaban atas
pengeluaran tersebut disahkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara (KPPN). Belanja disajikan di muka (face) laporan keuangan
menurut klasifikasi ekonomi/jenis belanja, sedangkan di Catatan atas
Laporan Keuangan, belanja disajikan menurut klasifikasi organisasi dan
fungsi.
Aset (3) Aset
Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh
pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat
ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik
oleh pemerintah maupun oleh masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan
uang, termasuk sumber daya non-keuangan yang diperlukan untuk
penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang
dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Dalam pengertian aset ini tidak
termasuk sumber daya alam seperti hutan, kekayaan di dasar laut, dan
kandungan pertambangan. Aset diakui pada saat diterima atau pada saat hak
kepemilikan berpindah.
Aset diklasifikasikan menjadi Aset Lancar, Investasi, Aset Tetap, dan Aset
Lainnya.
Aset Lancar a. Aset Lancar
Aset Lancar mencakup kas dan setara kas yang diharapkan segera untuk
direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua
belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Aset lancar ini terdiri dari kas,
piutang, dan persediaan.
Kas disajikan di neraca dengan menggunakan nilai nominal. Kas dalam
bentuk valuta asing disajikan di neraca dengan menggunakan kurs
tengah BI pada tanggal neraca.
Piutang dinyatakan dalam neraca menurut nilai yang timbul berdasarkan
hak yang telah dikeluarkan surat keputusan penagihannya.
Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) dan Tuntutan Ganti Rugi (TGR)
yang akan jatuh tempo 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca
disajikan sebagai bagian lancar TPA/TGR.
Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan
yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah,
dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan
dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
Persediaan dicatat di neraca berdasarkan:
- harga pembelian terakhir, apabila diperoleh dengan pembelian,
- harga standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri,
- harga wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh
dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan.

Investasi b. Investasi **)


Investasi adalah aset yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat

**)
jika terdapat transaksi investasi pada kementerian negara/lembaga yang bersangkutan

Halaman 10 dari 26
ekonomik seperti bunga, dividen dan royalti, atau manfaat sosial
sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka
pelayanan kepada masyarakat.
Investasi pemerintah diklasifikasikan kedalam investasi jangka pendek
dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek adalah investasi
yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki dalam
kurun waktu setahun atau kurang. Investasi jangka panjang adalah
investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki selama lebih dari setahun.
Investasi jangka panjang dibagi menurut sifat penanaman investasinya,
yaitu non permanen dan permanen.
(i) Investasi Non Permanen
Investasi non permanen adalah investasi jangka panjang yang tidak
termasuk dalam investasi permanen dan dimaksudkan untuk
dimiliki secara tidak berkelanjutan. Investasi non permanen sifatnya
bukan penyertaan modal saham melainkan berupa pinjaman jangka
panjang yang dimaksudkan untuk pembiayaan investasi perusahaan
negara/ daerah, pemerintah daerah, dan pihak ketiga lainnya.
Investasi Non Permanen meliputi:
ƒ Seluruh dana pemerintah yang bersumber dari dana pinjaman
luar negeri yang diteruspinjamkan melalui Subsidiary Loan
Agreement (SLA) dan dana dalam negeri dalam bentuk
Rekening Dana Investasi (RDI) dan Rekening Pembangunan
Daerah (RPD) yang dipinjamkan kepada BUMN/BUMD dan
Pemda.
ƒ Seluruh dana pemerintah yang diberikan dalam bentuk Pinjaman
Dana Bergulir kepada pengusaha kecil, anggota koperasi,
anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), nasabah
Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP), nasabah Usaha
Simpan Pinjam/Tempat Simpan Pinjam (USP/TSP) atau
nasabah BPR.
(ii) Investasi Permanen
Investasi Permanen adalah investasi jangka panjang yang
dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan. Investasi
permanen dimaksudkan untuk mendapatkan dividen atau
menanamkan pengaruh yang signifikan dalam jangka panjang.
Investasi permanen meliputi seluruh Penyertaan Modal Negara
(PMN) pada perusahaan negara, lembaga internasional, dan badan
usaha lainnya yang bukan milik negara. PMN pada badan usaha
atau badan hukum lainnya yang sama dengan atau lebih dari 51
persen disebut sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/Badan
Hukum Milik Negara (BHMN). PMN pada badan usaha atau badan
hukum lainnya yang kurang dari 51 persen (minoritas) disebut
sebagai Non BUMN.
PMN dapat berupa surat berharga (saham) pada suatu perseroan
terbatas dan non surat berharga, yaitu kepemilikan modal bukan
dalam bentuk saham pada perusahaan yang bukan perseroan.
Penilaian investasi jangka panjang diprioritaskan menggunakan metode
ekuitas. Jika suatu investasi bisa dipastikan tidak akan diperoleh
kembali atau terdapat bukti bahwa investasi hendak dilepas, maka
digunakan metode nilai bersih yang direalisasikan. Investasi dalam

Halaman 11 dari 26
bentuk pinjaman jangka panjang kepada pihak ketiga dan non earning
asset atau hanya sebagai bentuk partisipasi dalam suatu organisasi,
seperti penyertaan pada lembaga-lembaga keuangan internasional,
menggunakan metode biaya.
Investasi dalam mata uang asing dicatat berdasarkan kurs tengah BI
pada tanggal transaksi. Pada setiap tanggal neraca, pos investasi dalam
mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan
menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca.
Aset Tetap c. Aset Tetap
Aset tetap mencakup seluruh aset yang dimanfaatkan oleh pemerintah
maupun untuk kepentingan publik yang mempunyai masa manfaat lebih
dari satu tahun. Aset tetap dilaporkan pada neraca kementerian
negara/lembaga per 31 Desember 2008 berdasarkan harga perolehan.
Pengakuan aset tetap yang perolehannya sejak tanggal 1 Januari 2002
didasarkan pada nilai satuan minimum kapitalisasi, yaitu:
(a.) Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin dan peralatan
olah raga yang nilainya sama dengan atau lebih dari
Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah), dan
(b.) Pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang nilainya sama
dengan atau lebih dari Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
(c.) Pengeluaran yang tidak tercakup dalam batasan nilai minimum
kapitalisasi tersebut di atas, diperlakukan sebagai biaya kecuali
pengeluaran untuk tanah, jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap
lainnya berupa koleksi perpustakaan dan barang bercorak
kesenian.
Aset Lainnya d. Aset Lainnya
Aset Lainnya adalah aset pemerintah selain aset lancar, investasi jangka
panjang, dan aset tetap. Termasuk dalam Aset Lainnya adalah Tagihan
Penjualan Angsuran (TPA), Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang
jatuh tempo lebih dari satu tahun, Kemitraan dengan Pihak Ketiga,
Dana yang Dibatasi Penggunaannya, Aset Tak Berwujud, dan Aset
Lain-lain.
TPA menggambarkan jumlah yang dapat diterima dari penjualan aset
pemerintah secara angsuran kepada pegawai pemerintah yang dinilai
sebesar nilai nominal dari kontrak/berita acara penjualan aset yang
bersangkutan setelah dikurangi dengan angsuran yang telah dibayar
oleh pegawai ke kas negara atau daftar saldo tagihan penjualan
angsuran.
TGR merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap bendahara/
pegawai negeri bukan bendahara dengan tujuan untuk menuntut
penggantian atas suatu kerugian yang diderita oleh negara sebagai
akibat langsung ataupun tidak langsung dari suatu perbuatan yang
melanggar hukum yang dilakukan oleh bendahara/pegawai tersebut atau
kelalaian dalam pelaksanaan tugasnya.
TPA dan TGR yang akan jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan
setelah tanggal neraca disajikan sebagai aset lainnya.
Kemitraan dengan pihak ketiga merupakan perjanjian antara dua pihak
atau lebih yang mempunyai komitmen untuk melaksanakan kegiatan
yang dikendalikan bersama dengan menggunakan aset dan/atau hak

Halaman 12 dari 26
usaha yang dimiliki.
Dana yang Dibatasi Penggunaannya merupakan kas atau dana yang
alokasinya hanya akan dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan tertentu
seperti kas besi perwakilan RI di luar negeri, rekening dana reboisasi,
dan dana moratorium Nias dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Aset Tak Berwujud merupakan aset yang dapat diidentifikasi dan tidak
mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam
menghasilkan barang atau jasa atau digunakan untuk tujuan lainnya
termasuk hak atas kekayaan intelektual. Aset Tak Berwujud meliputi
software komputer; lisensi dan franchise; hak cipta (copyright), paten,
goodwill, dan hak lainnya, hasil kajian/penelitian yang memberikan
manfaat jangka panjang.
Aset Lain-lain merupakan aset lainnya yang tidak dapat dikategorikan
ke dalam TPA, Tagihan TGR, Kemitraan dengan Pihak Ketiga, maupun
Dana yang Dibatasi Penggunaannya. Aset lain-lain dapat berupa aset
tetap pemerintah yang dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah.
Di samping itu, piutang macet kementerian negara/lembaga yang
dialihkan penagihannya kepada Departemen Keuangan cq. Ditjen
Kekayaan Negara juga termasuk dalam kelompok Aset Lain-lain.

Kewajiban (4) Kewajiban


Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi
pemerintah. Dalam konteks pemerintahan, kewajiban muncul antara lain
karena penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat, lembaga
keuangan, entitas pemerintahan lain, atau lembaga internasional. Kewajiban
pemerintah juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada
pemerintah. Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai
konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau peraturan perundang-
undangan.
Kewajiban pemerintah diklasifikasikan kedalam kewajiban jangka pendek
dan kewajiban jangka panjang.
a. Kewajiban Jangka Pendek
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika
diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan
setelah tanggal pelaporan.
Kewajiban jangka pendek meliputi Utang Kepada Pihak Ketiga, Utang
Perhitungan Fihak Ketiga (PFK), Bagian Lancar Utang Jangka Panjang,
Utang Bunga (accrued interest) dan Utang Jangka Pendek Lainnya.
b. Kewajiban Jangka Panjang
Kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika
diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari dua
belas bulan setelah tanggal pelaporan. Kewajiban dicatat sebesar nilai
nominal, yaitu sebesar nilai kewajiban pemerintah pada saat pertama
kali transaksi berlangsung.
Aliran ekonomi sesudahnya seperti transaksi pembayaran, perubahan
penilaian karena perubahan kurs mata uang asing, dan perubahan
lainnya selain perubahan nilai pasar, diperhitungkan dengan

Halaman 13 dari 26
menyesuaikan nilai tercatat kewajiban tersebut.

(5) Ekuitas Dana


Ekuitas Dana
Ekuitas dana merupakan kekayaan bersih pemerintah, yaitu selisih antara
aset dan utang pemerintah. Ekuitas dana diklasifikasikan Ekuitas Dana
Lancar dan Ekuitas Dana Investasi. Ekuitas Dana Lancar merupakan selisih
antara aset lancar dan utang jangka pendek. Ekuitas Dana Investasi
mencerminkan selisih antara aset tidak lancar dan kewajiban jangka
panjang.

B. PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN

B.1. PENJELASAN UMUM LAPORAN REALISASI ANGGARAN

Menjelaskan realisasi anggaran pada TA 2008 dengan menyebutkan jumlah


rupiah realisasi dan persentase dari anggarannya, yang terdiri dari:
1. Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah
a. Penerimaan Perpajakan (khusus Departemen Keuangan)
b. Penerimaan Negara Bukan Pajak
c. Penerimaan Hibah

2. Realisasi Belanja Negara


a. Belanja Rupiah Murni
b. Belanja Pinjaman Luar Negeri
c. Belanja Rupiah Pendamping
d. Belanja Hibah
e. Belanja PNBP
f. Belanja BLU

-Penrimaan hibah Rp - Rp - #DIV/0!


2 Realisasi Belanja Negara Rp 1.840.712.038.000 Rp 1.621.986.753.684 88,12%
- Belanja Rupiah Murni Rp 1.840.712.038.000 Rp 1.621.986.753.684 88,12%
- Belanja Pinjaman LN Rp - Rp - #DIV/0!
- Belanja Rupiah Pendamping Rp - Rp - #DIV/0!
- Belanja Hibah Rp - Rp - #DIV/0!
- Belanja PNBP Rp - Rp - #DIV/0!
- Belanja BLU Rp - Rp - #DIV/0!

Halaman 14 dari 26
B.2. PENJELASAN PER POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN

Realisasi B.2.1. Pendapatan Negara dan Hibah


Pendapatan
Negara dan
Hibah Contoh Komposisi realisasi Pendapatan Negara dan Hibah (dalam persentase) TA 2008
dapat dilihat pada Grafik dibawah ini:

Realisasi Pendapatan per Jenis Penerimaan

153.582.753.971
153.275.588.463
152.968.422.955
152.661.257.447
151.432.595.415
152.354.091.939
152.046.926.431
151.739.760.923
151.125.429.907
150.818.264.400
150.511.098.892
150.203.933.384
149.896.767.876
149.589.602.368
149.282.436.860
148.975.271.352
148.668.105.844
148.360.940.336
148.053.774.828
147.746.609.320
147.439.443.812
147.132.278.304
146.825.112.796
146.517.947.288
146.210.781.780
145.903.616.272
145.596.450.765
145.289.285.257
144.982.119.749
144.674.954.241
144.367.788.733
144.060.623.225
143.753.457.717
143.446.292.209
143.139.126.701
142.831.961.193
142.524.795.685
142.217.630.177
141.910.464.669
141.603.299.161
141.296.133.653
140.988.968.145
140.681.802.637
140.374.637.129
140.067.471.622
139.760.306.114
139.453.140.606
139.145.975.098
138.838.809.590
138.531.644.082
138.224.478.574
137.917.313.066
137.610.147.558
137.302.982.050
136.995.816.542
136.688.651.034
136.381.485.526
136.074.320.018
135.767.154.510
135.459.989.002
135.152.823.494
134.845.657.987
134.538.492.479
134.231.326.971
133.924.161.463
133.616.995.955
133.309.830.447
133.002.664.939
132.695.499.431
132.388.333.923
132.081.168.415
131.774.002.907
131.466.837.399
131.159.671.891
130.852.506.383
130.545.340.875
130.238.175.367
129.931.009.859
129.623.844.352
129.316.678.844
129.009.513.336
128.702.347.828
128.395.182.320
128.088.016.812
127.780.851.304
127.473.685.796
127.166.520.288
126.859.354.780
126.552.189.272
126.245.023.764
125.937.858.256
125.630.692.748
125.323.527.240
125.016.361.732
124.709.196.224
124.402.030.717
124.094.865.209
123.787.699.701
123.480.534.193
123.173.368.685
122.866.203.177
122.559.037.669
122.251.872.161
121.944.706.653
121.637.541.145
121.330.375.637
121.023.210.129
120.716.044.621
120.408.879.113
120.101.713.605
119.794.548.097
119.487.382.589
119.180.217.081
118.873.051.574
118.565.886.066
118.258.720.558
117.951.555.050
117.644.389.542
117.337.224.034
117.030.058.526
116.722.893.018
116.415.727.510
116.108.562.002
115.801.396.494
115.494.230.986
115.187.065.478
114.879.899.970
114.572.734.462
114.265.568.954
113.958.403.446
Rupiahh

113.651.237.939
113.344.072.431
113.036.906.923
112.729.741.415
112.422.575.907
112.115.410.399
111.808.244.891
111.501.079.383
111.193.913.875
110.886.748.367
110.579.582.859
110.272.417.351
109.965.251.843
109.658.086.335
109.350.920.827
109.043.755.319
108.736.589.811
108.429.424.304
108.122.258.796
107.815.093.288
107.507.927.780
107.200.762.272
106.893.596.764
106.586.431.256
106.279.265.748
105.972.100.240
105.664.934.732
105.357.769.224
105.050.603.716
104.743.438.208
104.436.272.700
104.129.107.192
103.821.941.684
Juta

103.514.776.176
103.207.610.669
102.900.445.161
102.593.279.653
102.286.114.145
101.978.948.637
101.671.783.129
101.364.617.621
101.057.452.113
100.750.286.605
100.443.121.097
100.135.955.589
99.828.790.081
99.521.624.573
99.214.459.065
98.907.293.557
98.600.128.049
98.292.962.541
97.985.797.033
97.678.631.526
97.371.466.018
97.064.300.510
96.757.135.002
96.449.969.494
96.142.803.986
95.835.638.478
95.528.472.970
95.221.307.462
94.914.141.954
94.606.976.446
94.299.810.938
93.992.645.430
93.685.479.922
93.378.314.414
93.071.148.906
92.763.983.398
92.456.817.891
92.149.652.383
91.842.486.875
91.535.321.367
91.228.155.859
90.920.990.351
90.613.824.843
90.306.659.335
89.999.493.827
89.692.328.319
89.385.162.811
89.077.997.303
88.770.831.795
88.463.666.287
88.156.500.779
87.849.335.271
87.542.169.763
87.235.004.256
86.927.838.748
86.620.673.240
86.313.507.732
86.006.342.224
85.699.176.716
85.392.011.208
85.084.845.700
84.777.680.192
84.470.514.684
84.163.349.176
83.856.183.668
83.549.018.160
83.241.852.652
82.934.687.144
82.627.521.636
82.320.356.128
82.013.190.621
81.706.025.113
81.398.859.605
81.091.694.097
80.784.528.589
80.477.363.081
80.170.197.573
79.863.032.065
79.555.866.557
79.248.701.049
78.941.535.541
78.634.370.033
78.327.204.525
78.020.039.017
77.712.873.509
77.405.708.001
77.098.542.493
76.791.376.986
76.484.211.478
76.177.045.970
75.869.880.462
75.562.714.954
75.255.549.446
74.948.383.938
74.641.218.430
74.334.052.922
74.026.887.414
73.719.721.906
73.412.556.398
73.105.390.890
72.798.225.382
72.491.059.874
72.183.894.366
71.876.728.858
71.569.563.350
71.262.397.843
70.955.232.335
70.648.066.827
70.340.901.319
70.033.735.811
69.726.570.303
69.419.404.795
69.112.239.287
68.805.073.779
68.497.908.271
68.190.742.763
67.883.577.255
67.576.411.747
67.269.246.239
66.962.080.731
66.654.915.223
66.347.749.715
66.040.584.208
65.733.418.700
65.426.253.192
65.119.087.684
64.811.922.176
64.504.756.668
64.197.591.160
63.890.425.652
63.583.260.144
63.276.094.636
62.968.929.128
62.661.763.620
62.354.598.112
62.047.432.604
61.740.267.096
61.433.101.588
61.125.936.080
60.818.770.573
60.511.605.065
60.204.439.557
59.897.274.049
59.590.108.541
59.282.943.033
58.975.777.525
58.668.612.017
58.361.446.509
58.054.281.001
57.747.115.493
57.439.949.985
57.132.784.477
56.825.618.969
56.518.453.461
56.211.287.953
55.904.122.445
55.596.956.938
55.289.791.430
54.982.625.922
54.675.460.414
54.368.294.906
54.061.129.398
53.753.963.890
53.446.798.382
53.139.632.874
52.832.467.366
52.525.301.858
52.218.136.350
51.910.970.842
51.603.805.334
51.296.639.826
50.989.474.318
50.682.308.810
50.375.143.302
50.067.977.795
49.760.812.287
49.453.646.779
49.146.481.271
48.839.315.763
48.532.150.255
48.224.984.747
47.917.819.239
47.610.653.731
47.303.488.223
46.996.322.715
46.689.157.207
46.381.991.699
46.074.826.191
45.767.660.683
45.460.495.175
45.153.329.667
44.846.164.160
44.538.998.652
44.231.833.144
43.924.667.636
43.617.502.128
43.310.336.620
43.003.171.112
42.696.005.604
42.388.840.096
42.081.674.588
41.774.509.080
41.467.343.572
41.160.178.064
40.853.012.556
40.545.847.048
40.238.681.540
39.931.516.032
39.624.350.525
39.317.185.017
39.010.019.509
38.702.854.001
38.395.688.493
38.088.522.985
37.781.357.477
37.474.191.969
37.167.026.461
36.859.860.953
36.552.695.445
36.245.529.937
35.938.364.429
35.631.198.921
35.324.033.413
35.016.867.905
34.709.702.397
34.402.536.890
34.095.371.382
33.788.205.874
33.481.040.366
33.173.874.858
32.866.709.350
32.559.543.842
32.252.378.334
31.945.212.826
31.638.047.318
31.330.881.810
31.023.716.302
30.716.550.794
30.409.385.286
30.102.219.778
29.795.054.270
29.487.888.762
29.180.723.254
28.873.557.747
28.566.392.239
28.259.226.731
27.952.061.223
27.644.895.715
27.337.730.207
27.030.564.699
26.723.399.191
26.416.233.683
26.109.068.175
25.801.902.667
25.494.737.159
25.187.571.651
24.880.406.143
24.573.240.635
24.266.075.127
23.958.909.619
23.651.744.112
23.344.578.604
23.037.413.096
22.730.247.588
22.423.082.080
22.115.916.572
21.808.751.064
21.501.585.556
21.194.420.048
20.887.254.540
20.580.089.032
20.272.923.524
19.965.758.016
19.658.592.508
19.351.427.000
19.044.261.492
18.737.095.984
18.429.930.477
18.122.764.969
17.815.599.461
17.508.433.953
17.201.268.445
16.894.102.937
16.586.937.429
16.279.771.921
15.972.606.413
15.665.440.905
15.358.275.397
15.051.109.889
14.743.944.381
14.436.778.873
14.129.613.365
13.822.447.857
13.515.282.349
13.208.116.842
12.900.951.334
12.593.785.826
12.286.620.318
11.979.454.810
11.672.289.302
11.365.123.794
11.057.958.286
10.750.792.778
10.443.627.270
10.136.461.762
9.829.296.254
9.522.130.746
9.214.965.238
8.907.799.730
8.600.634.222
8.293.468.714
7.986.303.206
7.679.137.699
7.371.972.191
7.064.806.683
6.757.641.175
6.450.475.667
6.143.310.159
5.836.144.651
5.528.979.143
5.221.813.635
4.914.648.127
4.607.482.619
4.300.317.111
3.993.151.603
3.685.986.095
3.378.820.587
3.071.655.079
2.764.489.571
2.457.324.064
2.150.158.556
1.842.993.048
1.535.827.540
1.228.662.032
921.496.524
614.331.016
307.165.508
0
Pendapatan

2007
Pendapatan

Pendapatan
2008
Hibah

PNBP

Pajak
2008
2007

Grafik: Komposisi Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2008

Realisasi PNBP B.2.1.2. Penerimaan Negara Bukan Pajak

Pendapatan Negara Bukan Pajak Tahun 2008 sebesar Rp168.234.795.077,00 dan untuk
Tahun 2007 sebesar Rp118.498.822.363,00.

B.2.2. Belanja Negara


Realisasi Belanja
Negara
Realisasi Belanja terdiri dari (i) Belanja Rupiah Murni dan (ii) Belanja Pinjaman Luar
Negeri (iii) Belanja Hibah (iv) Rupiah Murni Pendamping (v) Penerimaan Negara
Bukan Pajak (vi) Badan Layanan Umum.

Halaman 15 dari 26
Komposisi alokasi Belanja juga dapat disajikan seperti grafik di bawah ini:

1.616.000.000.000
1.612.000.000.000
1.608.000.000.000
1.604.000.000.000
1.600.000.000.000
1.596.000.000.000
1.592.000.000.000
1.588.000.000.000
1.584.000.000.000
1.580.000.000.000
1.576.000.000.000
1.572.000.000.000
1.556.000.000.000
1.568.000.000.000
1.564.000.000.000
1.560.000.000.000
1.552.000.000.000
1.548.000.000.000
1.544.000.000.000
1.540.000.000.000
1.536.000.000.000
1.532.000.000.000
1.528.000.000.000
1.524.000.000.000
1.508.000.000.000
1.520.000.000.000
1.516.000.000.000
1.512.000.000.000
1.504.000.000.000
1.500.000.000.000
1.496.000.000.000
1.492.000.000.000
1.488.000.000.000
1.484.000.000.000
1.480.000.000.000
1.476.000.000.000
1.472.000.000.000
1.468.000.000.000
1.464.000.000.000
1.460.000.000.000
1.456.000.000.000
1.452.000.000.000
1.448.000.000.000
1.444.000.000.000
1.440.000.000.000
1.436.000.000.000
1.432.000.000.000
1.428.000.000.000
1.424.000.000.000
1.420.000.000.000
1.416.000.000.000
1.412.000.000.000
1.408.000.000.000
1.404.000.000.000
1.400.000.000.000
1.396.000.000.000
1.392.000.000.000
1.388.000.000.000
1.384.000.000.000
1.380.000.000.000
1.376.000.000.000
1.372.000.000.000
1.368.000.000.000
1.364.000.000.000
1.360.000.000.000
1.356.000.000.000
1.352.000.000.000
1.348.000.000.000
1.344.000.000.000
1.340.000.000.000
1.336.000.000.000
1.332.000.000.000
1.328.000.000.000
1.324.000.000.000
1.320.000.000.000
1.316.000.000.000
1.312.000.000.000
1.308.000.000.000
1.304.000.000.000
1.300.000.000.000
1.296.000.000.000
1.292.000.000.000
1.288.000.000.000
1.284.000.000.000
1.280.000.000.000
1.276.000.000.000
1.272.000.000.000
1.268.000.000.000
1.264.000.000.000
1.260.000.000.000
1.256.000.000.000
1.252.000.000.000
1.248.000.000.000
1.244.000.000.000
1.240.000.000.000
1.236.000.000.000
1.232.000.000.000
1.228.000.000.000
1.224.000.000.000
1.220.000.000.000
1.216.000.000.000
1.212.000.000.000
1.208.000.000.000
1.204.000.000.000
1.200.000.000.000
1.196.000.000.000
1.192.000.000.000
1.188.000.000.000
1.184.000.000.000
1.180.000.000.000
1.176.000.000.000
1.172.000.000.000
1.168.000.000.000
1.164.000.000.000
1.160.000.000.000
1.156.000.000.000
1.152.000.000.000
1.148.000.000.000
1.144.000.000.000
1.140.000.000.000
1.136.000.000.000
1.132.000.000.000
1.128.000.000.000
1.124.000.000.000
1.120.000.000.000
1.116.000.000.000
1.112.000.000.000
1.108.000.000.000
1.104.000.000.000
1.100.000.000.000
1.096.000.000.000
1.092.000.000.000
1.088.000.000.000
1.084.000.000.000
1.080.000.000.000
1.076.000.000.000
1.072.000.000.000
1.068.000.000.000
1.064.000.000.000
1.060.000.000.000
1.056.000.000.000
1.052.000.000.000
1.048.000.000.000
1.044.000.000.000
1.040.000.000.000
1.036.000.000.000
1.032.000.000.000
1.028.000.000.000
1.024.000.000.000
1.020.000.000.000
1.016.000.000.000
1.012.000.000.000
1.008.000.000.000
1.004.000.000.000
1.000.000.000.000
996.000.000.000
992.000.000.000
988.000.000.000
984.000.000.000
980.000.000.000
976.000.000.000
972.000.000.000
968.000.000.000
964.000.000.000
960.000.000.000
956.000.000.000
952.000.000.000
948.000.000.000
944.000.000.000
940.000.000.000
936.000.000.000
932.000.000.000
928.000.000.000
924.000.000.000
920.000.000.000
916.000.000.000
912.000.000.000
908.000.000.000
904.000.000.000
900.000.000.000
896.000.000.000
892.000.000.000
888.000.000.000
884.000.000.000
880.000.000.000
876.000.000.000
872.000.000.000
868.000.000.000
864.000.000.000
860.000.000.000
856.000.000.000
852.000.000.000
848.000.000.000
844.000.000.000
840.000.000.000
836.000.000.000
832.000.000.000
828.000.000.000
824.000.000.000
820.000.000.000
816.000.000.000
812.000.000.000
808.000.000.000
804.000.000.000
800.000.000.000
796.000.000.000
792.000.000.000
788.000.000.000
784.000.000.000
772.000.000.000
768.000.000.000
780.000.000.000
776.000.000.000
764.000.000.000
760.000.000.000
756.000.000.000
752.000.000.000
748.000.000.000
744.000.000.000
740.000.000.000
736.000.000.000
732.000.000.000
728.000.000.000
724.000.000.000
720.000.000.000
716.000.000.000
712.000.000.000
708.000.000.000
704.000.000.000
700.000.000.000
696.000.000.000
692.000.000.000
688.000.000.000
684.000.000.000
680.000.000.000
676.000.000.000
672.000.000.000
668.000.000.000
664.000.000.000
660.000.000.000
656.000.000.000
652.000.000.000
648.000.000.000
644.000.000.000
640.000.000.000
636.000.000.000
632.000.000.000
628.000.000.000
624.000.000.000
620.000.000.000
616.000.000.000
612.000.000.000
608.000.000.000
604.000.000.000
600.000.000.000
596.000.000.000
592.000.000.000
588.000.000.000
584.000.000.000
580.000.000.000
576.000.000.000
572.000.000.000
568.000.000.000
564.000.000.000
560.000.000.000
556.000.000.000
552.000.000.000
548.000.000.000
544.000.000.000
540.000.000.000
536.000.000.000
532.000.000.000
528.000.000.000
524.000.000.000
520.000.000.000
516.000.000.000
512.000.000.000
508.000.000.000
504.000.000.000
500.000.000.000
496.000.000.000
492.000.000.000
488.000.000.000
484.000.000.000
480.000.000.000
476.000.000.000
472.000.000.000
468.000.000.000
464.000.000.000
460.000.000.000
456.000.000.000
452.000.000.000
448.000.000.000
444.000.000.000
440.000.000.000
436.000.000.000
432.000.000.000
428.000.000.000
424.000.000.000
420.000.000.000
416.000.000.000
412.000.000.000
408.000.000.000
404.000.000.000
400.000.000.000
396.000.000.000
392.000.000.000
388.000.000.000
384.000.000.000
380.000.000.000
376.000.000.000
372.000.000.000
368.000.000.000
364.000.000.000
360.000.000.000
356.000.000.000
352.000.000.000
348.000.000.000
344.000.000.000
340.000.000.000
336.000.000.000
332.000.000.000
328.000.000.000
324.000.000.000
320.000.000.000
316.000.000.000
312.000.000.000
308.000.000.000
304.000.000.000
300.000.000.000
296.000.000.000
292.000.000.000
288.000.000.000
284.000.000.000
280.000.000.000
276.000.000.000
272.000.000.000
268.000.000.000
264.000.000.000
260.000.000.000
256.000.000.000
252.000.000.000
248.000.000.000
244.000.000.000
240.000.000.000
236.000.000.000
232.000.000.000
228.000.000.000
224.000.000.000
220.000.000.000
216.000.000.000
212.000.000.000
208.000.000.000
204.000.000.000
200.000.000.000
196.000.000.000
192.000.000.000
188.000.000.000
184.000.000.000
180.000.000.000
176.000.000.000
172.000.000.000
168.000.000.000
164.000.000.000
160.000.000.000
156.000.000.000
152.000.000.000
148.000.000.000
144.000.000.000
140.000.000.000
136.000.000.000
132.000.000.000
128.000.000.000
124.000.000.000
120.000.000.000
116.000.000.000
112.000.000.000
108.000.000.000
104.000.000.000
100.000.000.000
96.000.000.000
92.000.000.000
88.000.000.000
84.000.000.000
80.000.000.000
76.000.000.000
72.000.000.000
68.000.000.000
64.000.000.000
60.000.000.000
56.000.000.000
52.000.000.000
48.000.000.000
44.000.000.000
40.000.000.000
36.000.000.000
32.000.000.000
28.000.000.000
24.000.000.000
20.000.000.000
16.000.000.000
12.000.000.000
8.000.000.000
4.000.000.000
0

Belanja Rupiah

Belanja Pinjaman

Belanja R upiah
T ah un

Belanja Hibah
Tahun

Pendamping
2007
T ahun 2008

Murni
2008

LN
T ahun 2007

Grafik : Komposisi Alokasi Belanja TA 2008

Realisasi B.2.2.1. Belanja


Belanja.

Komposisi realisasi Belanja Pemerintah Pusat menurut jenis belanja dapat disajikan
seperti Grafik di bawah ini:

Belanja
Pemerintah
Pusat menurut
Jenis Belanja Bantuan Sosial
0,00%

Belanja Modal
13,71%

Belanja Pegawai
Belanja Barang 51,23%
28,09%

Grafik: Komposisi Realisasi Belanja Pemerintah Pusat menurut Jenis Belanja TA


2008

Halaman 16 dari 26
Belanja Pegawai Belanja Pegawai

Rincian realisasi Belanja Pegawai adalah sebagai berikut:

Uraian 31-Des-08 31-Des-07 % naik/(turun)

Belanja Gaji dan Tunjangan PNS Rp 700.315.014.353,00 Rp 587.397.963.076,00 11,92%


Belanja Gaji dan Tunjangan TNI/Polri Rp - Rp - -

Belanja Gaji dan Tunjangan Pejabat Negara Rp - Rp -


-
Belanja Pegawai Perjan Rp - Rp - -
Belanja Gaji Dokter PTT Rp - Rp - -
Belanja Honorarium Rp 128.403.347.055,00 Rp 15.689.622.800,00 81,84%
Belanja Lembur Rp 2.496.242.200,00 Rp 2.446.984.100,00 10,20%
Belanja Vakasi Rp - Rp - -
Belanja Tunjangan Khusus dan Belanja
Rp - Rp -
Pegawai Transito -
Belanja Pensiun dan Uang Tunggu Rp - Rp - -
Belanja Asuransi Kesehatan Rp - Rp - -
Belanja Tunjangan Kesehatan Veteran Rp - Rp - -
Total Rp 831.214.603.608,00 Rp 605.534.569.976,00 13,73%

Belanja Barang Belanja Barang


Rincian realisasi Belanja Barang adalah sebagai berikut:

Uraian 31-Des-08 31-Des-07 % naik/(turun)


Belanja Barang Operasional Rp 107.993.809.646,00 Rp 316.033.596.881,00 3,42%

Belanja Barang Non Operasional Rp 166.320.648.369,00 Rp 7.364.164.366,00 225,85%

Belanja Jasa Rp 46.514.068.452,00 Rp 28.778.893.637,00 16,16%


Belanja Pemeliharaan Rp 64.893.462.675,00 Rp 55.893.268.054,00 11,61%
Belanja Perjalanan Rp 70.055.575.976,00 Rp 42.840.907.852,00 16,35%
Jumlah Rp 455.777.565.118,00 Rp 450.910.830.790,00 10,11%

Belanja Modal Belanja Modal


Rincian realisasi Belanja Modal adalah sebagai berikut:

Uraian 31-Des-08 31-Des-07 % naik/(turun)


Belanja Modal Tanah Rp - Rp 10.278.969.039,00 0,00%

Belanja Modal Peralatan dan Mesin Rp 162.614.626.738,00 Rp 215.988.053.660,00 7,53%

Belanja Modal Gedung dan


Rp 166.371.985.716,00 Rp 283.209.148.437,00 5,87%
Bangunan
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan
Rp 1.271.924.400,00 Rp 366.593.400,00 34,70%
Jaringan
Belanja Modal Fisik Lainnya Rp 2.668.171.109,00 Rp 24.837.332.161,00 1,07%
Jumlah Rp 332.926.707.963,00 Rp 534.680.096.697,00 6,23%

Halaman 17 dari 26
Catatan Penting B.3. CATATAN PENTING LAINNYA
Lainnya

Contoh :
• Memberikan penjelasan apabila ada pemotongan anggaran atau keterlambatan
penerimaan dokumen revisi.yang berdampak pada pelaksanaan dan atau
pelaporan.
• Mencantumkan dan menjelaskan realisasi pendapatan hibah yang belum
dicantumkan dalam DIPA baik berupa uang maupun barang, nomor rekening serta
perlakuan terhadap sisa anggaran maupun jasa giro yang menampung dana hibah
tersebut.

Halaman 18 dari 26
C. PENJELASAN ATAS POS- POS NERACA

C.1. PENJELASAN UMUM NERACA

Menjelaskan Posisi Neraca secara umum untuk aset, kewajiban dan Ekuitas Dana
per 31 Desember 2008.

Komposisi Neraca per 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut :

Kenaikan/
Uraian 31-Des-08 31-Des-07
(penurunan)
Aset Rp 11.881.576.343.738,00 Rp 8.819.591.752.585,88 Rp -
Kewajiban Rp 7.259.286.816,00 Rp 6.407.595.073,00 Rp -
Ekuitas Dana Rp 11.874.317.056.922,00 Rp 8.813.184.157.512,88 Rp -

Jumlah Aset per 31 Desember 2008 sebesar Rp11.881.576.343.738,00 terdiri dari


Aset Lancar sebesar Rp18.436.593.266,00 dan Aset Tetap sebesar
Rp4.153.583.449.725,00 Aset Lainnya sebesar Rp7.709.556.300.747,00 Jumlah
Kewajiban per 31 Desember 2008 sebesar Rp7.259.286.816,00 merupakan
kewajiban jangka pendek sebesar Rp7.259.286.816,00.

Jumlah ekuitas dana per 31 Desember 2008 sebesar Rp11.874.317.056.922,00


terdiri dari ekuitas dana lancar sebesar Rp11.177.306.450,00 dan ekuitas dana
investasi sebesar Rp11.863.139.750.472,00.

Grafik komposisi neraca dapat disajikan seperti contoh dibawah ini

Grafik. Komposisi Neraca

14,000,000,000,000
11,881,576,3 11,874,317,0
43,738 56,922
12,000,000,000,000

10,000,000,000,000 8,819,591,75 8,813,184,15


2,586 7,512
)
n
a
8,000,000,000,000
ta 2008
u
j
m 2007
6,000,000,000,000
la
a
d
(
4,000,000,000,000

2,000,000,000,000
6,4 07,595,07
7,259,286 ,81
6 3
0
Aset Kewajiban Ekuitas Dana

Halaman 19 dari 26
C.2. Penjelasan Per Pos Neraca

C.2.1. Aset Lancar

Kas di C.2.1.1. Kas di Bendahara Pengeluaran


Bendahara
Pengeluaran dan
Kas di
Bendahara Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2008 sebesar
Penerima Rp4.427.388.704,00 Rincian saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per-eselon
I adalah sebagai berikut :

Kode Uraian Eselon I 31-Des-08 31-Des-07


00601 JAMBIN Rp 7.259.286.816,00 Rp 6.407.595.073,00
Rp - Rp -
Rp - Rp -
Rp - Rp -
Rp - Rp -
Rp - Rp -
Total Rp 7.259.286.816,00 Rp 6.407.595.073,00

C.2.1.2 Kas di Bendahara Penerimaan

Besarnya Saldo Kas di Bendahara Penerimaan per 31 Desember 2008 Rp0,00 Rincian
saldo Kas di Bendahara Penerimaan per-eselon I adalah sebagai berikut :

Kode Uraian Eselon I 31-Des-08 31-Des-07


00601 JAMBIN Rp - Rp -
Rp - Rp -
Rp - Rp -
Rp - Rp -
Rp - Rp -
Rp - Rp -
Total Rp - Rp -

C.2.1.6 Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Perbendaharaan (TP) dan Tagihan


BL TGR Tuntutan Ganti Rugi (TGR)
Rp165.712.027,00
Nilai Tagihan Tututan Perbendaharaan (TP) per 31 Desember 2008 sebesar
Rp74.712.027,00 dan Nilai Tagihan Tuntutan Ganti Rugi per 31 Desember
2008 sebesar Rp91.000.000,00.

Persediaan C.2.1.8 Persediaan


Rp11.177.306.450,00
Nilai persediaan per 31 Desember 2008 sebesar Rp11.177.306.450,00 terdiri
dari laporan persediaan dari Aplikasi sebesar Rp0,00 dan manual sebesar
Rp0,00.
Ada barang persediaan yang laporannya dicatat secara manual, dikarenakan
kode barang persediaan tersebut belum terdapat pada aplikasi persediaan (PMK
97).

Halaman 20 dari 26
Aset Tetap C.2.2. Aset Tetap
Rp4.148.800.151.225

Laporan Keuangan Per 31 Desember 2007 dengan Saldo Awal 1 Januari 2008 tidak
sama sehingga terjadi perbedaan saldo awal. Koreksi Saldo Awal disebabkan karena :
1. Dalam tahun 2007 sebagian satker masih manual, dan data yang dikirim hanya
berupa data tahun berjalan
2. Terdapat Satker yang sebelumnya tidak melaporkan Laporan BMN dan baru
melaporkannya pada semester 1 tahun 2008.
Dalam tabel aset tetap terdapat uraian Akun Tidak Ada sebesar
Rp1.216.701.500,00, hal ini disebabkan karena ada proses konversi dari sistem
SABMN ke SIMAK-BMN tidak berhasil diterapkan oleh beberapa Satker.

Posisi aset tetap dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Kenaikan /
No. Uraian 31-Des-08 31-Des-07
(penurunan)

1 Tanah Rp 717.759.328.950,00 Rp 135.696.809.583,00 18,91%


2 Peralatan dan Mesin Rp 1.481.819.071.511,00 Rp 501.695.202.902,00 33,86%
3 Gedung dan Bangunan Rp 1.250.082.764.274,00 Rp 328.096.366.984,00 26,25%
4 Jalan dan Jembatan Rp 5.107.687.618,00 Rp 6.070.833,00 0,12%
5 Irigasi dan Jaringan Rp 4.389.889.613,00 Rp 3.790.608.061,00 86,35%
6 Aset Tetap Lainnya Rp 629.723.795.623,00 Rp 11.138.204.342,00 1,77%
7 KDP Rp 64.700.912.136,00 Rp 234.400.032.733,00 362,28%
8 Akun Tidak Ada Rp 1.216.701.500,00 Rp - 0,00%
Jumlah Rp 4.148.800.151.225,00 Rp 1.214.823.295.438,00 29%

C.2.2.1 Tanah

31 Desember 2008 31 Desember 2007 Kenaikan / (penurunan)

Rp717.759.328.950,00 Rp135.696.809.583,00 18,91%

Saldo Tanah per 31 Desember 2008 sebesar Rp717.759.328.950,00. Jumlah


tersebut terdiri dari saldo awal 13.742.918 m2/Rp440.570.262.531,00 mutasi
tambah 384.670 m2/Rp280.550.306.519,00 mutasi kurang 89.104 m2/
Rp3.361.240.100,00.

Mutasi tambah tanah tersebut meliputi:

- Penambahan Saldo awal Rp 25.408.690.604,00


- Pembelian Rp 20.000.000,00
- Transfer masuk Rp 5.680.000.000,00
- Hibah masuk Rp 960.000.000,00
- Penyelesaian Pembangunan Rp 175.685.000,00
- Pengembangan Nilai aset Rp 36.000.000,00
- Koreksi Tim penertiban aset Rp 79.905.829.292,00
- Koreksi Pencatatan Rp 168.364.101.623,00

Halaman 21 dari 26
Mutasi kurang tanah tersebut meliputi:

- Penghapusan Rp 40.000.000,00
- Reklasifikasi keluar Rp 239.837.600,00
- Koreksi Nilai/Kuantitas Rp 3.070.480.000,00
- Koreksi pencatatan Rp 10.922.500,00

C.2.2.2 Peralatan dan Mesin

Posisi Perbandingan Peralatan dan Mesin

Kenaikan /
31-Des-08 31-Des-07 (penurunan)
Rp 1.481.819.071.511,00 Rp 501.695.202.902,00 33,86%
Penjelasan ada di CR-BMN

C.2.2.3 Gedung dan Bangunan

Kenaikan /
31-Des-08 31-Des-07 (penurunan)
Rp 1.250.082.764.274,00 Rp 328.096.366.984,00 26,25%

Saldo Gedung dan Bangunan per 31 Desember 2008 sebesar


Rp1.256.629.008.256,00. Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 6.449 unit/
Rp1.010.664.421.869,00 mutasi tambah 449 unit/Rp259.771.259.880,00
mutasi kurang 61 unit/Rp13.806.673.493,00.

Mutasi tambah Gedung dan Bangunan tersebut meliputi:

Intrakomptabel Ekstrakomptabel
- Penambahan saldo awal Rp 129.142.533.428,00 Rp 22.496.550,00
- Pembelian Rp 180.924.000,00 Rp 1.528.246,00
- Penyelesaian Pembangunan Rp 7.234.313.650,00 Rp 29.571.150,00
- Hibah masuk Rp 15.000.000,00 Rp 0,00
- Transfer masuk Rp 2.313.706.059,00 Rp 0,00
- Reklasifikasi Masuk Rp 354.546.284,00 Rp 0,00
- Pengembangan Nilai aset Rp 16.982.026.137,00 Rp 0,00
- Koreksi Nilai/Kuantitas Rp 0,00 Rp 3.688.095.464,00
- Koreksi Nilai tim penertiban Rp 32.277.763.375,00 Rp 295.804.000,00
aset
- Koreksi pencatatan Rp 64.842.789.837,00 Rp 0,00

Mutasi kurang Gedung dan Bangunan tersebut meliputi:


Intrakomptabel Ekstrakomptabel

- Penghapusan Rp 108.956.200,00 Rp 0,00


- Pengurangan aset Rp 1.779.096.000,00 Rp 0,00
- Reklasifikasi keluar Rp 141.098.684,00 Rp 0,00
- Koreksi pencatatan Rp 8.066.982.607,00 Rp 3.709.360.002,00
- Koreksi pencatatan Rp Rp
0,00 1.180.000,00
nilai/kuantitas

Halaman 22 dari 26
C.2.2.4 Jalan dan Jembatan

Kenaikan /
31-Des-08 31-Des-07 (penurunan)
Rp 5.107.687.618,00 Rp 6.070.833,00 0,12%

Saldo per 31 Desember 2008 sebesar Rp5.107.687.618,00. Jumlah tersebut


terdiri dari saldo awal 230 unit/ Rp1.397.166.118,00 mutasi tambah 4197
unit/ Rp3.770.521.500,00 mutasi kurang 870 unit/Rp60.000.000,00.

Mutasi tambah tersebut meliputi:

Intrakomptabel Ekstrakomptabel
- Penambahan saldo awal Rp 3.016.539.500,00 Rp 0,00
- Pembelian Rp 39.230.000,00 Rp 0,00
- Penyelesaian Pembangunan Rp 714.752.000,00 Rp 0,00

Mutasi kurang tersebut meliputi:

Intrakomptabel Ekstrakomptabel
- Reklasifikasi Keluar Rp 60.000.000,00 Rp 0,00

C.2.2.5 Irigasi dan Jaringan

Kenaikan /
31-Des-08 31-Des-07
(penurunan)
Rp 4.389.889.613 Rp 3.790.608.061 86,35%

Saldo per 31 Desember 2008 sebesar Rp4.389.889.613,00 Jumlah


tersebut terdiri dari saldo awal 205 unit/ Rp2.311.491.513,00 mutasi
tambah 8 unit/ Rp2.078.398.100,00 mutasi kurang 0 unit/

Mutasi tambah tersebut meliputi:

Intrakomptabel Ekstrakomptabel
- Penambahan saldo awal Rp 1.784.991.100,00 Rp. 0,00
- Pembelian Rp 293.407.000,00 Rp 0,00

Saldo pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja


Kejaksaan Agung RI per 31 Desember 2008 sebesar Rp977.899.000,00
Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 69 unit/ Rp723.395.000,00 mutasi
tambah 101 unit/ Rp254.504.000,00 mutasi kurang 0 unit/

Mutasi tambah tersebut meliputi:

Intrakomptabel Ekstrakomptabel
- Penambahan saldo awal Rp 23.300.000,00 Rp 0,00
- Pembelian Rp 227.454.000,00 Rp 0,00
- Transfer masuk Rp 3.750.000,00 Rp 0,00

Halaman 23 dari 26
C.2.2.6 Aset Tetap Lainnya

Kenaikan /
31-Des-08 31-Des-07 (penurunan)
Rp 623.723.795.623,00 Rp 11.138.204.342,00 1,79%

Saldo Aset Tetap Lainnya per 31 Desember 2008 sebesar


Rp629.733.009.908,00. Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal 137.191
buah/Rp627.719.143.943,00 mutasi tambah 2.236 buah
/Rp2.236.181.680,00 mutasi kurang 22 buah/ Rp222.315.715,00.

Mutasi tambah Aset Tetap Lainnya tersebut meliputi:

Intrakomptabel Ekstrakomptabel
- Penambahan saldo awal Rp 490.198.496,00 Rp 812.000,00
- Pembelian Rp 1.648.677.383,00 Rp 0,00
- Transfer masuk Rp 43.857.087,00 Rp 0,00
- Koreksi pencatatan Rp 52.636.714,00 Rp 0,00

Mutasi kurang Aset Tetap Lainnya tersebut meliputi:

Intrakomptabel Ekstrakomptabel
- Reklasifikasi keluar Rp 101.700.000,00 Rp 0,00
- Koreksi Nilai Tim penertiban aset Rp 150.000,00 Rp 0,00
- Koreksi pencatatan nilai Rp 23.816.286,00 Rp 12.715,00
- Penghapusan Rp 44.000.000,00 Rp 0,00
- Koreksi pencatatan Rp 52.636.714,00 Rp 0,00

C.2.2.7 Konstruksi Dalam Pengerjaan

Kenaikan /
31-Des-08 31-Des-07 (penurunan)
Rp64.700.912.136,00 Rp234.400.032.733,00 362,28%

Disamping aset tetap yang tertuang dalam Laporan BMN pada tanggal 31
Desember 2008 juga menguasai sejumlah aset tetap berbentuk Konstruksi
Dalam Pengerjaan senilai Rp64.700.912.136,00 berupa gedung dan bangunan
dengan rincian sebagai berikut:

Saldo awal Rp 0,00


Penambahan Rp 72.169.895.836,00
KDP yang menjadi aset definitif Rp 7.468.983.700,00
Saldo per 31 Desember 2008 Rp 64.700.912.136,00

Aset Lainnya C.2.3. Aset Lainnya

C.2.3.2 Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi


Tuntutan Perbendaharaan sebesar Rp74.712.027,00 dan Tuntutan Ganti Rugi
sebesar Rp91.000.000,00.

Halaman 24 dari 26
C.2.3.5 Aset Lain-lain
Aset lain-lain yang tercata dalam Neraca Kejaksaan R.I. adalah data Uang
Pengganti senilai Rp7.994.393.897.139,00. Untuk data selengkapnya dapat
dilihat dalam lampiran.

Kewajiban C.2.4. Kewajiban Jangka Pendek

C.2.4.1 Uang Muka dari KPPN


Uang Muka Dari KPPN per 31 Desember 2008 sebesar Rp7.259.286.816,00.

C.2.4.2 Pendapatan Yang Ditangguhkan


Pendapatan yang Ditangguhkan per 31 Desember 2008 sebesar Rp0,00.

Ekuitas Dana C.2.5. Ekuitas Dana Lancar


Lancar

C.2.5.1 Cadangan Piutang


Cadangan Piutang per 31 Desember 2008 sebesar Rp0,00.

C.2.5.2 Cadangan Persediaan


Cadangan Persediaan per 31 Desember 2008 sebesar Rp11.177.306.450,00.

Ekuitas Dana C.2.6. Ekuitas Dana Diinvestasikan


Diinvestasikan
C.2.6.1 Diinvestasikan Dalam Aset Tetap
Diinvestasikan dalam Aset tetap per 31 Desember 2008 sebesar
Rp4.153.583.449.725,00.

C.2.6.2 Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya


Diinvestasikan dalam Aset lainnya per 31 Desember 2008 sebesar
Rp7.709.556.300.747,00.

Catatan Penting C.3 CATATAN PENTING LAINNYA


Lainnya
<Menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan neraca, misal Rekening-
rekening yang dikelola Kementerian Negara, Aset-aset yang bermasalah,
Neraca BLU apakah sudah diintegrasikan dengan neraca kementerian
negara/lembaga, Aset Eks Cina, Aset Bersejarah, Hambatan/kendala dalam
penyusunan Laporan Keuangan baik yang disebabkan masalah internal maupun
eksrternal, transaksi-transaksi yang belum /tidak dapat diinput dan hal-hal lain
yang berhubungan dengan Kementerian Negara/Lembaga>.

Halaman 25 dari 26
Pengungkapan D. PENGUNGKAPAN PENTING LAINNYA
Penting Lainnya

D.1. TEMUAN DAN TINDAK LANJUT TEMUAN BPK

Daftar temuan dan tindak lanjutnya dilampirkan sebagaimana format terlampir

D.2 REKENING PEMERINTAH

A. Rekening yang dimiliki Kejaksan R.I sebanyak 628 rekening dengan jumlah
saldo Rp128.836.120.072,34 (Seratus dua puluh delapan milyar delapan ratus
tiga puluh enam juta seratus duapuluh ribu tujuh puluh dua rupiah koma tiga
puluh empat sen) dan US $ 13,457,516.78 ( tiga belas juta empat ratus lima
puluh tujuh ribu lima ratus enam belas dollar koma tujuh puluh delapan sen )
dengan rincian sebagai berikut :
1. Rekening Pengeluaran yang terdiri dari 542 rekening dengan jumlah
saldo Rp98.307.856,79 (sembilan puluh delapan juta tiga ratus tujuh ribu
delapan ratus lima puluh enam rupiah koma tujuh puluh sembilan sen).
2. Rekening Penerimaan yang terdiri dari 15 rekening dengan jumlah saldo
Rp0,00 (nol rupiah).
3. Rekening Lainnya yang terdiri dari 71 rekening dengan jumlah saldo
Rp128.737.812.215,55 (seratus dua puluh delapan milyar tujuh ratus tiga
puluh tujuh juta delapan ratus duabelas ribu dua ratus limabelas rupiah
koma lima puluh lima sen) dan US $ 13,457,516.78 (tiga belas juta
empat ratus lima puluh tujuh ribu lima ratus enam belas dollar koma
tujuh puluh delapan sen).

B. Rekening nomor 2020307 pada Bank BPD Aceh-Pusat belum diungkapkan


dalam Catatan Atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2008 karena
bukan merupakan rekening milik Kejaksaan Negeri Jantho tetapi merupakan
rekening titipan tumpangan milik BPD Aceh Cabang Jantho yang di
dalamnya terdapat uang titipan barang bukti perkara korupsi yang belum
incracht sebesar Rp474.037.500,00 yang tidak berbunga dan tidak dikenai
biaya administrasi sesuai dengan surat dari Bank BPD Aceh Nomor :
137/CJ.09/IV/2009 tanggal 16 April 2009.

D.3 PENGUNGKAPAN LAIN-LAIN

D.3.1. Barang Rampasan


Barang rampasan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan
sudah ada nilai taksiran harga senilai Rp9.605.714.332,45.
Barang rampasan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap namun
belum mempunyai nilai taksiran harga (data terlampir)

D.3.2. Dana Bantuan dari American Embassy


Pengunaan Dana Bantuan American Embassy Jakarta, Departement of
Justice (DOJ) Office of Overseas Proseculturial Developmen Assistance
and Training (OPDAT) kepada Kejaksaan Agung RI pada tanggal 8 Juni
2006 sebesar Rp1.397.094.000,00 (satu milyar tiga ratus sembilan puluh
tujuh juta sembilan puluh empat ribu rupiah) untuk biaya perbaikan
ruang kerja satuan tugas Tindak Pidana Terorisme dan Tindak Pidana
Lintas Negara telah direalisasikan sesuai dengan nomor SPM terlampir

Halaman 26 dari 26
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


SISTEM PENGENDALIAN INTERN
ATAS LAPORAN KEUANGAN
KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2008

Nomor : 41b/HP/XIV/04/09
Tanggal : 30 April 2009
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI.................................................................................................................. 1
RESUME LAPORAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN ......................... 2
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN
INTERN......................................................................................................................... 4
A. TINDAK LANJUT TEMUAN PEMERIKSAAN SPI TAHUN 2004, 2005, 2006
DAN 2007 .................................................................................................................. 4

B. TEMUAN PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL TAHUN


2008 .......................................................................................................................... 4
1. Pencatatan dan Pelaporan Pendapatan di Lingkungan Kejaksaan RI
Belum Memadai................................................................................................ 4
2. Sisa Jasa Giro Sebesar Rp25.400.024,00 Belum Disetorkan ke Kas
Negara dan Belum Diungkapkan Dalam Catatan atas Laporan
Keuangan (CaLK)............................................................................................. 4
3. Pencatatan dan Pelaporan Akun Kas di Bendahara Pengeluaran
Belum Memadai................................................................................................ 4
4. Pengelolaan dan Pelaporan Barang Rampasan di Lingkungan
Kejaksaan RI Belum Memadai ......................................................................... 4
5. Pencatatan dan Pelaporan Persediaan Dalam Laporan Keuangan
Kejaksaan RI Belum Memadai ......................................................................... 4
6. Pencatatan dan Pelaporan Tilang di Lingkungan Kejaksaan RI
Belum Memadai................................................................................................ 4
7. Pencatatan dan Pelaporan Aset Tetap Kejaksaan RI Belum Memadai............. 4
8. Pengelolaan dan Pelaporan Uang Pengganti Tidak Didukung oleh
Sistem Pengendalian Intern yang Memadai...................................................... 4
9. Pemungutan Sewa Rumah Dinas Dalam Pengelolaan Kejaksaan
Agung RI TA 2008 Belum Intensif dan Sebagian Besar Rumah
Dinas Dihuni oleh Pihak yang Tidak Berhak.................................................... 4
10. Kejaksaan Agung Sebagai UAKPA, Kejati DKI Jakarta Sebagai
UAPPA-W dan UAKPA Serta Lima Kejari di Lingkungan Kejati
DKI Jakarta Sebagai UAKPA Belum Menyampaikan Hardcopy
Laporan Keuangan yang Disertai Pernyataan Tanggung Jawab....................... 4
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 1 dari 61


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME LAPORAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

Berdasarkan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


dan undang-undang terkait lainnya, Kejaksaan Republik Indonesia (RI) melalui Surat
Jaksa Agung Muda Pembinaan Nomor B-415/C/C.5/02/2009 tanggal 27 Februari 2009
telah menyampaikan Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2008 kepada Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diperiksa. Laporan keuangan tersebut terdiri dari
Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember 2008 dan 2007, Laporan Realisasi Anggaran
untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, dan Catatan atas Laporan
Keuangan. BPK telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Kejaksaan RI Tahun 2008 Nomor 41a/HP/XIV/04/09 tanggal 30 April 2009.
Sesuai Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), dalam pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Kejaksaan RI tersebut diatas, BPK mempertimbangkan sistem pengendalian
intern Kejaksaan RI untuk menentukan prosedur pemeriksaan dengan tujuan untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan dan tidak ditujukan untuk menyatakan
pendapat atas sistem pengendalian intern.
BPK menemukan masalah tertentu berkaitan dengan sistem pengendalian intern dan
operasinya yang merupakan kondisi yang dapat dilaporkan berdasarkan SPKN. Pokok-
pokok temuan kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan
Kejaksaan RI yang ditemukan BPK RI adalah sebagai berikut:
1. Pencatatan dan Pelaporan Pendapatan di Lingkungan Kejaksaan RI Belum Memadai.
2. Sisa Jasa Giro Sebesar Rp25.400.024,00 Belum Disetorkan ke Kas Negara dan
Belum Diungkapkan Dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
3. Pencatatan dan Pelaporan Akun Kas di Bendahara Pengeluaran Belum Memadai.
4. Pengelolaan dan Pelaporan Barang Rampasan di Lingkungan Kejaksaan RI Belum
Memadai.
5. Pencatatan dan Pelaporan Persediaan Dalam Laporan Keuangan Kejaksaan RI
Belum Memadai.
6. Pencatatan dan Pelaporan Tilang di Lingkungan Kejaksaan RI Belum Memadai.
7. Pencatatan dan Pelaporan Aset Tetap Kejaksaan RI Belum Memadai.
8. Pengelolaan dan Pelaporan Uang Pengganti Tidak Didukung oleh Sistem
Pengendalian Intern yang Memadai.
9. Pemungutan Sewa Rumah Dinas Dalam Pengelolaan Kejaksaan Agung RI TA 2008
Belum Intensif dan Sebagian Besar Rumah Dinas Dihuni oleh Pihak yang Tidak
Berhak.
10. Kejaksaan Agung Sebagai UAKPA, Kejati DKI Jakarta Sebagai UAPPA-W dan
UAKPA Serta Lima Kejari di Lingkungan Kejati DKI Jakarta Sebagai UAKPA

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 2 dari 61


Belum Menyampaikan Hardcopy Laporan Keuangan yang disertai Pernyataan
Tanggung Jawab.
Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK merekomendasikan kepada Jaksa
Agung agar menginstruksikan Jaksa Agung Muda Pembinaan/Jaksa Agung Muda Tindak
Pidana Umum/Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus/Jaksa Agung Muda Perdata dan
Tata Usaha Negara/Jaksa Agung Muda Pengawasan supaya:
1. Melakukan koordinasi dengan Departemen Keuangan terkait kelemahan sistem dan
prosedur yang terkait dengan Modul Penerimaan Negara.
2. Memberikan sosialisasi kepada satker di daerah agar jasa giro pada rekening
bendahara pengeluaran segera disetor ke kas negara dan dilaporkan dalam LK
masing-masing satker, sedangkan apabila belum disetorkan ke kas negara agar
diungkapkan dalam CaLK.
3. Memerintahkan Kepala Biro Keuangan untuk menginventarisir jumlah
pengembaliam uang persediaan yang dilakukan oleh bendahara pengeluaran seluruh
satker di lingkungan Kejaksaan RI pada awal tahun 2009. Selanjutnya mengoreksi
saldo akun kas di bendahara pengeluaran posisi 31 Desember 2008 dan
menyampaikan hasil inventarisasi tersebut ke BPK dilampiri dengan bukti-bukti
pendukungnya antara lain rekening koran dan bukti setor (SSBP).
4. Membuat juklak/juknis mengenai pencatatan barang rampasan dalam Sistem
Akuntansi Instansi (SAI) dhi SIMAK BMN.
5. Melakukan koordinasi dengan DJKN terkait belum tersedianya tabel referensi
persediaan barang rampasan dalam aplikasi SIMAK BMN.
6. Melakukan koordinasi dengan Departemen Hukum dan HAM (Depkumham) terkait
penyimpanan barang rampasan di Rupbasan.
7. Memberikan sosialisasi kepada seluruh bendahara barang dan petugas input SAI
tentang pencatatan persediaan dan inventarisasi fisik terhadap persediaan yang harus
dilakukan setiap akhir tahun.
8. Membuat Surat Kesepakatan Bersama (SKB) lanjutan antara Kejaksaan Agung,
Mahkamah Agung, Polri, dan BRI untuk menyelesaikan permasalahan uang titipan
pembayaran denda dan biaya tilang yang mengendap di kantor-kantor cabang BRI
agar segera disetorkan ke Kas Negara.
9. Melakukan rekonsiliasi rutin dan periodik antara Belanja Modal yang
diselenggarakan oleh Kaur/Biro Keuangan dengan data Aset Tetap yang
diselenggarakan oleh Kaur/Biro Perlengkapan.
10. Berkoordinasi dengan DJKN untuk memasukkan hasil inventarisasi dan revaluasi
didalam aplikasi SIMAK-BMN.
11. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan tentang pegawai negeri kepada JAM
Pidsus, Direktur UHEKSI, Kajati, dan Kajari yang lalai dalam menyusun SPI yang
memadai atas pengelolaan tagihan uang pengganti di lingkungannya.
12. Melakukan percepatan pengembangan Standar Operasional dan Prosedur (SOP) dan
Sistem Informasi yang memadai dalam pengelolaan tagihan uang pengganti.
13. Meningkatkan koordinasi dengan Departemen Keuangan untuk menyusun pedoman
pencatatan transaksi uang pengganti.
14. Menagih pembayaran sewa rumah dinas tahun 2008 kepada para penghuni yang
belum melunasi kewajibannya dengan jumlah sebesar Rp90.462.096,00 dan
menyetorkan ke Kas Negara. Selanjutnya bukti setor disampaikan kepada BPK-RI.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 3 dari 61


Permasalahan dan rekomendasi perbaikan secara rinci dapat dilihat dalam laporan ini.

Jakarta, 30 April 2009


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Wakil Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Roes Nelly, Ak.


Register Negara No. D-24.608

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 4 dari 61


LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

A. Tindak Lanjut Temuan Pemeriksaan SPI Tahun 2004, 2005, 2006 dan 2007
Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI tahun 2004
mengungkapkan adanya temuan pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
sebanyak empat temuan dan telah ditindaklanjuti sebanyak dua temuan, sisanya
dipantau karena masih dalam proses. Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Kejaksaan RI tahun 2005 mengungkapkan adanya temuan pemeriksaan Sistem
Pengendalian Intern (SPI) sebanyak sembilan temuan dan telah ditindaklanjuti
sebanyak dua temuan, enam temuan masih dipantau karena masih dalam proses,
sedangkan satu temuan belum ditindaklanjuti. Hasil pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Kejaksaan RI tahun 2006 mengungkapkan adanya temuan pemeriksaan
Sistem Pengendalian Intern (SPI) sebanyak sepuluh temuan dan telah ditindaklanjuti
sebanyak empat temuan, empat temuan masih dipantau karena masih dalam proses,
sedangkan dua temuan belum ditindaklanjuti. Hasil pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Kejaksaan RI tahun 2007 mengungkapkan adanya temuan pemeriksaan
Sistem Pengendalian Intern (SPI) sebanyak delapan temuan, seluruhnya belum
ditindaklanjuti. Adapun rincian hasil pemantauan atas tindak lanjut dituangkan dalam
Lampiran 1.

B. Temuan Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Internal Tahun 2008


1. Pencatatan dan Pelaporan Pendapatan di Lingkungan Kejaksaan RI Belum
Memadai
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam LRA Kejaksaan RI Tahun
2008 sebesar Rp168.234.795.077,00. PNBP Kejaksaan RI antara lain berasal dari
hasil penjualan (pelelangan) barang rampasan, denda tilang, biaya perkara, denda
dan uang pengganti yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Atas
penerimaan negara yang diterimanya, Bendahara Khusus Penerimaan (BKP)
setiap satker di lingkungan Kejaksaan RI akan melakukan penyetoran ke Kas
Negara melalui bank persepsi dengan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak
(SSBP). SSBP yang telah divalidasi oleh bank persepsi merupakan dokumen
sumber pencatatan dalam Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang digunakan untuk
menghasilkan laporan keuangan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan atas dokumen sumber pencatatan pendapatan,
laporan pendapatan dan hasil wawancara dengan petugas SAI pada Kejati NAD,
Kejati Jawa Barat, Kejati DI Yogyakarta, Kejati Sulawesi Utara, Kejati DKI
Jakarta, Kejari Banda Aceh, Kejari Jantho, Kejari Sigli, Kejari Kuala Simpang,
Kejari Bandung, Kejari Bale Bandung, Kejari Garut, Kejari Kuningan, Kejari
Sumber, Kejari Cirebon, Kejari Indramayu, Kejari Purwakarta, Kejari Bekasi,
Kejari Cikarang, Kejari Yogyakarta, Kejari Sleman, Kejari Bantul, Kejari Wates,
Kejari Wonosari, Kejari Manado, Kejari Amurang, Kejari Bitung, Kejari
Tondano, Kejari Tomohon, Kejari Jakarta Pusat, Kejari Jakarta Barat, Kejari
Jakarta Utara, Kejari Jakarta Timur dan Kejari Jakarta Selatan diketahui hal-hal
sebagai berikut:

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 5 dari 61


a. Belum sepenuhnya dilakukan rekonsiliasi untuk Pendapatan antara Kejaksaan
RI dan Departemen Keuangan. Hal ini terjadi karena masih terdapat
kelemahan dalam Modul Penerimaan Negara (MPN) yang dapat menerima
setoran pajak/bukan pajak di setiap bank persepsi yang telah ditunjuk
walaupun tanpa keterangan siapa yang melakukan penyetoran. Jika dalam
lampiran SSBP yang dikirimkan oleh bank persepsi kepada KPPN tidak
lengkap informasi tentang Satker maupun Kode Satker yang melakukan
penyetoran, maka KPPN tidak akan bisa melakukan input dalam Sistem
Akuntansi Umum (SAU) yang mengakibatkan laporan pendapatan yang
dihasilkan oleh aplikasi SAU tidak bisa dijadikan dasar untuk rekonsiliasi
dengan laporan yang dihasilkan dari aplikasi SAI. Selain itu, rekonsiliasi
pendapatan tidak bisa dilakukan apabila penyetoran pendapatan dilakukan
pada bank persepsi yang bukan merupakan pasangan dari KPPN yang menjadi
mitra satker/Kejaksaan Negeri. Rekonsiliasi realisasi pendapatan antara Kejari
dengan KPPN belum dilakukan secara cermat. Apabila terdapat selisih antara
realisasi pendapatan yang dicatat di Kejari dengan yang dicatat di KPPN
biasanya tidak segera dicari penyebabnya dan tidak segera diselesaikan karena
KPPN lebih memperhatikan perbedaan yang terjadi pada realisasi anggaran
belanja.
b. Keterlambatan penyampaian laporan berjenjang dari tingkat UAKPA ke
UAPPA-W ke UAPA yang akan mengkompilasi dan menyusun laporan
keuangan Kejaksaan RI. Hal ini antara lain disebabkan tidak adanya sangsi
atau teguran yang diberikan apabila laporan realisasi anggaran pendapatan
terlambat atau tidak disampaikan kepada Kejaksaan Tinggi maupun
Kejaksaan Agung RI. KPPN juga tidak pernah menegur apabila Satker/Kejari
tidak membuat laporan realiasi anggaran pendapatan dan tidak melakukan
rekonsiliasi laporan realisasi pendapatan. Sehingga petugas SAI hanya
berkonsentrasi untuk menyelesaikan laporan realisasi belanja.
c. Bagian Pendapatan dan Perbendaharaan (Pathara) Biro Keuangan setiap bulan
juga menyusun Laporan Pendapatan Kejaksaan Agung RI. Laporan ini
merupakan hasil kompilasi laporan bulanan pendapatan yang dikirimkan oleh
Kejari/Kejati dengan dilampiri oleh SSBP. Namun laporan yang dihasilkan
juga tidak dapat diyakini keakuratannya karena memiliki beberapa kelemahan
sebagai berikut:
1) Dasar penginputan adalah SSBP foto copy yang kadang-kadang tidak
jelas dibaca sehingga rawan akan kesalahan input.
2) Pengiriman laporan dari Kejari/Kejati berupa hard copy melalui pos
sehingga sering terjadi keterlambatan.
3) Kejari mengirimkan laporan bulanan hasil dinas Kejaksaan/laporan
bulanan PNBP kepada Kejati dan Kejati merangkumnya untuk
dikirimkan ke Kejaksaan Agung dhi. Bagian Pathara. Tetapi karena tidak
ada sanksi terhadap Kejati dan Kejari jika terlambat/tidak mengirim
laporan ini kepada Bagian Pathara maka bagian Pathara hanya
merangkum laporan bulanan hasil dinas Kejaksaan/laporan bulanan
PNBP dari Kejati dan Kejati yang mengirimkan saja.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 6 dari 61


4) Pencatatan didasarkan pada saat SSBP diterima, bukan tanggal
penyetoran, sehingga sering terjadi kesalahan periode pengakuan
pendapatan.

Hasil perbandingan antara jumlah pendapatan yang dihasilkan oleh SAI di


Bagian Verifikasi dan Pembukuan dan yang dilaporkan oleh Bagian Pathara
untuk TA 2008 menunjukkan adanya perbedaan saldo yang signifikan yaitu
sebesar Rp57.824.405.911,00. Tabel perbandingan per Mata Anggaran
Penerimaan (MAP) antara dua laporan tersebut adalah sebagai berikut:
PENCATATAN MENURUT
MAP Nama MAP SELISIH
SAI PATHARA
423114 Pendapatan Penjualan Hasil Sitaan/ 62.423.071.492 37.991.291.185 24.431.780.307
Rampasan dan Harta Peninggalan
423117 Pendapatan Penjualan Dokumen- 43.418.650 3.042.750 40.375.900
dokumen Pelelangan
423119 Pendapatan Penjualan Lainnya 25.116.000 - 25.116.000
423121 Pendapatan Penjualan Rumah, Gedung, 38.494.070 1.169.100 37.324.970
Bangunan, dan Tanah
423122 Pendapatan Penjualan Kendaraan 14.078.500 9.202.000 4.876.500
Bermotor
423129 Pendapatan Penjualan Aset Lainnya 260.994.200 107.208.100 153.786.100
yang Berlebih/ Rusak/Dihapuskan
423141 Pendapatan Sewa Rumah Dinas/Rumah 873.059.125 526.800.113 346.259.012
Negeri
423142 Pendapatan Sewa Gedung, Bangunan, 250.000 - 250.000
dan Gudang
423149 Pendapatan Sewa Benda-benda Tak 26.400.000 1.679.344 24.720.656
Bergerak Lainnya
423221 Pendapatan Jasa Lembaga Keuangan 313.492.314 80.989.068 232.503.246
(Jasa Giro)
423291 Pendapatan Jasa Lainnya 14.650.227 14.650.227
423319 Pendapatan Bunga Lainnya 301.330 301.330
423414 Pendapatan Hasil Denda/Tilang dan 79.998.759.076 54.144.418.294 25.854.340.782
sebagainya
423415 Pendapatan Ongkos perkara 2.220.176.656 1.404.063.381 816.113.275

423419 Pendapatan Kejaksaan dan Peradilan 2.941.821.689 1.087.348.015 1.854.473.674


Lainnya
423611 Pendapatan Uang Sitaan Hasil Korupsi 4.266.957.643 1.727.304.300 2.539.653.343
yang Telah Ditetapkan Pengadilan
423614 Penerimaan Uang pengganti tindak 13.777.139.526 12.890.601.944 886.537.582
pidana korupsi yang telah ditetapkan di
pengadilan
423752 Pendapatan Denda Keterlambatan 116.415.848 21.534.023 94.881.825
Penyelesaian Pekerjaan Pemerintah
423911 Penerimaan Kembali Pegawai Pusat 251.486.576 195.454.753 56.031.823
TAYL

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 7 dari 61


PENCATATAN MENURUT
MAP Nama MAP SELISIH
SAI PATHARA
423913 Penerimaan Kembali Belanja Lainnya 191.306.195 56.278.561 135.027.634
RM TAYL
423922 Pendapatan Pelunasan Ganti Rugi atas 149.065.056 139.592.236 9.472.820
Kerugian yang Diderita Oleh Negara
(Masuk TP/TGR) Bendahara
423991 Penerimaan Kembali Persekot/ Uang 64.377.226 9.042.399 55.334.827
Muka Gaji
423999 Pendapatan Anggaran Lain-lain 223.963.678 13.369.600 210.594.078
JUMLAH 168.234.795.077 110.410.389.166 57.824.405.911

Dari tabel tersebut terlihat bahwa terjadi perbedaan pelaporan saldo untuk
setiap MAP. Memperhatikan kelemahan dan permasalahan yang ditemukan
diatas, maka tim BPK RI tidak dapat meyakini kewajaran penyajian saldo
pendapatan pada Kejaksaan RI.
d. Penggunaan beberapa Kode Mata Anggaran Penerimaan (MAP) pada Kejati
NAD, Kejari Jantho, dan Kejari Jakarta Selatan masih berdasarkan Bagan
Perkiraan Standar (BPS), padahal Kode MAP tersebut sudah mengalami
perubahan dan menjadi Kode MAP instansi lain. Seharusnya penentuan Kode
MAP Kejaksaan RI berdasarkan kepada Bagan Akun Standar (BAS).

Kode Saldo
No Satker Nama MAP
MAP 31-12-2008
1. Kejari 423215 Pendapatan Sensor/Karantina, Pengawasan/ 50.000
Jantho Pemeriksaan
2. Kejati NAD 423215 Pendapatan Sensor/Karantina, Pengawasan/ 450.000
(Wilayah) Pemeriksaan
423413 Pendapatan Uang Meja (Leges) dan Upah 86.800
Pada Panitera Badan Pengadilan (Peradilan)
3. Kejari 423411 Pendapatan Legalisasi Tanda Tangan 80.000
Jakarta
Selatan 423412 Pendapatan Pengesahan Surat Dibawah 1.744.000
Tangan
423413 Pendapatan Uang Meja (Leges) dan Upah 5.500
Pada Panitera Badan Pengadilan (Peradilan)
Jumlah 2.416.300

e. Pendapatan yang mempergunakan mata uang asing selain rupiah (IDR) tidak
bisa diinput dalam aplikasi SAI. Hal ini ditemukan pada Kejari Jakarta
Selatan yang menerima pembayaran uang pengganti sebesar US$
18.000.000,00 dan sudah disetorkan ke kas negara melalui aplikasi transfer
Bank Mandiri dengan nomor validasi 10100-1010063-1010004-112 tanggal 5
September 2008.
f. Terdapat perbedaan pencatatan realisasi pendapatan antara Kejaksaan Negeri,
Kejaksaan Tinggi, dan Kejaksaan Agung. Pemeriksaan dilakukan dengan
membandingkan realisasi pendapatan yang terdapat dalam Laporan SAI
Kejari dengan realisasi pendapatan yang ada pada sistem SAI Kejari yang ada

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 8 dari 61


pada tingkat Wilayah/Kejati dan dengan realisasi pendapatan yang ada pada
sistem SAI Kejari yang ada pada tingkat Pusat/Kejagung pada tanggal 31
Desember 2008. Hasil pemeriksaan terhadap sampel pada Kejati, Kejari dan
Kejagung seperti tersebut diatas menunjukkan bahwa terjadi perbedaan angka
realisasi anggaran pendapatan antara Kejari, Kejati, dan Kejagung seperti
terlihat pada tabel berikut ini:
Saldo 31 Desember 2008
Selisih Kejari Selisih Kejari
No Kejari Saldo Kejari Saldo Kejari
Saldo Kejari dgn Kejati dgn Kejagung
di Kejati di Kejagung

1 2 3 4 5 6=3-4 7=3-5
1 Bale 400.580.595 380.960.728 611.111.300 19.619.867 (210.530.705)
Bandung

2 Kuningan 100.651.410 100.213.910 149.183.020 437.500 (48.531.610)

3 Banda 305.969.352 304.492.552 424.915.702 1.476.800 (118.946.350)


Aceh

4 Cikarang 413.800.000 315.821.500 824.670.000 97.978.500 (410.870.000)

5 Jantho 124.680.272 363.914.792 138.017.772 (239.234.520) (13.337.500)

6 Bandung 1.266.656.578 1.267.044.103 2.362.488.215 (387.525) (1.095.831.637)

7 Jakarta 2.736.572.600 2.684.239.600 4.736.669.200 52.333.000 (2.000.096.600)


Timur

8 Jakarta 1.196.885.704 761.398.192 1.650.886.254 435.487.512 (454.000.550)


Barat

g. Terdapat perbedaan pencatatan antara laporan realisasi anggaran pendapatan


yang dicatat dalam SAI dengan laporan bulanan hasil dinas kejaksaan yang
dikelola oleh bendahara penerima, keduanya menggunakan dokumen sumber
yang sama (SSBP) dan potongan SPM/SP2D.
Saldo Lapbul Hasil
No Satker Saldo SAI Selisih
Dinas Kejaksaan
1. Kejari Jakarta Selatan 2.950.172.360 3.589.470.860 (639.298.500)
USD18.000.000 (USD18.000.000)
2. Kejari Jakarta Barat 1.196.885.704 2.362.612.596 (1.165.726.892)
3. Kejari Jakarta Utara 3.357.855.167 3.587.471.906 (229.616.739)
*)
4. Kejari Jakarta Pusat 20.638.380 12.840.372.133 (12.819.733.753)
5. Kejari Jantho 124.680.272 117.486.080 7.194.192
6. Kejari Sigli 46.976.754 46.743.500 233.254
7. Kejari Kuala Simpang 391.907.428 682.860.000 (290.952.572)
8. Kejati NAD (Satker) 44.295.424 14.322.016 29.973.408
9. Kejari Banda Aceh 305.969.352 459.574.850 (153.605.498)
10. Kejari Bekasi 2.434.881.582 2.436.953.682 (2.072.100)
11. Kejari Indramayu 271.832.100 270.986.155 845.945

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 9 dari 61


Saldo Lapbul Hasil
No Satker Saldo SAI Selisih
Dinas Kejaksaan
12. Kejari Bandung 1.263.122.978 1.265.967.578 (2.844.600)
13. Kejari Cirebon 1.715.419.700 1.714.820.800 598.900
14. Kejari Purwakarta 525.033.337 524.976.548 56.789
15. Kejari Bale Bandung 210.875.705 488.696.495 (277.820.790)
16. Kejari Kuningan 100.651.410 105.212.080 (4.560.670)
17. Kejagung RI 143.197.238 43.175.915 100.021.323
(SAKPA)
18. Kejagung RI (SAPA) 153.631.303.971 110.410.389.166 43.220.914.805
*)
Keterangan : Angka diperoleh dari LRA Pendapatan Kejari Jakarta Pusat yang ada di Kejati DKI
Jakarta.

h. Terdapat PNBP yang sudah disetor ke kas negara, namun belum diinput
dalam SAI, yaitu:
No Satker Uraian Jumlah (Rp)

1 Kejati Jabar Setoran rumah dinas satker 773.275


Kejati Jabar

Pengembalian Pembayaran 440.000


Tunjangan Kompensasi Tenaga
Kerja Sandi dari Gaji ke-13
satker Kejati Jabar

2 Kejari Bale Bandung Setoran Denda Verstek 3.090.000

Denda Tipiring 685.000

Denda Biasa 2.100.000

Setoran Biaya Perkara 177.500

3 Kejari Kuningan Setoran Denda Tilang 3.217.500

Biaya Perkara 169.500

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 Tentang
Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat pada Bagian
Kedua tentang Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara menetapkan
antara lain :
1) KPPN melakukan rekonsiliasi Laporan Realisasi Anggaran dengan
seluruh satuan kerja di wilayah kerjanya.
2) Kanwil Ditjen PBN melakukan rekonsiliasi Laporan Realisasi Anggaran
dengan UAPPA-W di wilayah kerjanya.
3) Ditjen Perbendaharaan c.q. Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
(Dit. APK) melakukan rekonsiliasi data dengan UAPA.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 10 dari 61


b. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 171/PMK.05/2007
tanggal 27 Desember 2007 Tentang Sistem Akuntansi Dan Pelaporan
Keuangan Pemerintah Pusat pasal 1 nomor urut 44 antara lain menyebutkan
bahwa yang dimaksud dengan rekonsiliasi adalah proses pencocokan data
transaksi keuangan yang diproses dengan beberapa sistem/subsistem yang
berbeda berdasarkan dokumen sumber yang sama.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan – Kerangka Konseptual menetapkan bahwa basis akuntansi
untuk pengakuan Pendapatan adalah basis kas. Hal ini berarti pendapatan
diakui atau dicatat pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum
Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan.
d. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK.05/2007
tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat:
1) Pasal 20 Ayat 8 menyatakan UAKPA menyampaikan LRA dan Neraca
beserta ADK setiap bulan kepada UAPPA-W/UAPPA-E1.
2) Pasal 21:
a) Ayat 1 menyatakan UAPPA-W melakukan proses penggabungan
laporan keuangan yang berasal dari UAKPA di wilayah kerjanya
termasuk Laporan Realisasi Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan
yang digunakan oleh Kementerian Negara/Lembaga.
b) Ayat 5 menyatakan UAPPA-W wajib menyampaikan Laporan
Realisasi Anggaran dan Neraca tingkat UAPPA-W beserta ADK
kepada UAPPA-E1 setiap bulan.
3) Pasal 22:
a) Ayat 1 menyatakan UAPPA-E1 melakukan proses penggabungan
laporan keuangan UAPPA-W yang berada di wilayah kerjanya
termasuk laporan keuangan UAPPA-W Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan, laporan keuangan UAKPA yang langsung berada
dibawah UAPPA-E1, dan Laporan Realisasi Anggaran Pembiayaan
dan Perhitungan yang digunakan oleh Kementerian
Negara/Lembaga.
b) Ayat 2 menyatakan UAPPA-E1 menyusun laporan keuangan tingkat
UAPPA-E1 berdasarkan hasil penggabungan laporan keuangan
sebagaimana dimaksud pada ayat 1.
c) Ayat 6 menyatakan UAPPA-E1 menyampaikan LRA dan Neraca
tingkat UAPPA-E1 beserta ADK kepada UAPA setiap bulan.
4) Pasal 23:
a) Ayat 1 menyatakan UAPA melakukan proses penggabungan laporan
keuangan UAPPA-E1 termasuk laporan Keuangan Dana
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan serta Laporan Realisasi
Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan yang digunakan oleh
Kementerian Negara/Lembaga.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 11 dari 61


b) Ayat 2 menyatakan UAPA menyusun laporan keuangan tingkat
UAPA berdasarkan hasil penggabungan laporan keuangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Hal tersebut mengakibatkan kewajaran penyajian saldo realisasi Penerimaan
Negara Bukan Pajak Kejaksaan RI TA 2008 sebesar Rp168.234.795.077,00 tidak
dapat diyakini.
Hal tersebut disebabkan:
a. Masih lemahnya komitmen dan pengawasan para kepala satuan kerja selaku
kepala entitas akuntansi untuk memastikan keakuratan laporan keuangan dhi.
LRA sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan APBN di lingkungan masing-
masing.
b. Kelemahan sistem dan prosedur yang terkait dengan Modul Penerimaan
Negara yang dibuat oleh Departemen Keuangan.
c. Kuantitas dan kualitas SDM yang terkait dengan fungsi pencatatan dan
pelaporan pendapatan masih belum memadai.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menjelaskan bahwa Bagian
Verifikasi dan Pembukuan bersama dengan Bagian Pendapatan dan
Perbendaharaan akan melakukan sosialisasi tentang pelaporan keuangan kepada
seluruh satuan kerja di setiap Kejaksaan Tinggi.
BPK-RI menyarankan agar Jaksa Agung menginstruksikan Jaksa Agung
Muda Pembinaan:
a. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan tentang pegawai negeri kepada
para kepala satuan kerja yang kurang memiliki komitmen dalam memastikan
keakuratan laporan keuangan dhi. LRA.
b. Melakukan koordinasi dengan Departemen Keuangan terkait kelemahan
sistem dan prosedur yang terkait dengan Modul Penerimaan Negara.
c. Melakukan perekrutan SDM bidang akuntansi dan melaksanakan pelatihan
pencatatan serta pelaporan pendapatan bagi pegawai terkait.

2. Sisa Jasa Giro Sebesar Rp25.400.024,00 Belum Disetorkan ke Kas Negara


dan Belum Diungkapkan Dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
Dalam kegiatan pengelolaan keuangan negara, bendahara pengeluaran setiap
satuan kerja menggunakan jasa perbankan berupa rekening giro pada bank
persepsi sebagai sarana dalam menyimpan uang persediaan yang diperoleh dari
Kuasa Bendahara Umum Negara (BUN) dhi. Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara (KPPN) setempat sebelum digunakan untuk kegiatan belanja. Atas
penggunaan jasa perbankan tersebut pemilik rekening dibebankan biaya-biaya
sesuai ketentuan perbankan dan juga memperoleh jasa perbankan berupa jasa giro
dengan perhitungan tertentu sesuai ketentuan bank persepsi yang bersangkutan.
Terhadap saldo jasa giro yang masih terdapat dalam rekening tersebut bendahara
seharusnya menyetorkan ke kas negara sebagai Pendapatan Jasa Lembaga
Keuangan (Jasa Giro) dengan Mata Anggaran Penerimaan 423221.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 12 dari 61


Kejaksaan RI melaporkan Pendapatan Jasa Lembaga Keuangan (Jasa Giro)
selama tahun 2008 dalam Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Negara dan
Hibah sebesar Rp313.492.314,00.
Hasil pemeriksaan uji petik atas Pendapatan Jasa Lembaga Keuangan (Jasa
Giro) pada Kejati DKI Jakarta, Kejati NAD, Kejati DI Yogyakarta, Kejati Jawa
Barat, Kejati Sulawesi Utara, dan Instansi Pusat Kejaksaan Agung RI
menunjukkan hal-hal sebagai sebagai berikut:
a. Terdapat Jasa Giro TA 2008 dari rekening yang dikelola oleh Bendahara
Pengeluaran pada Kejati DKI Jakarta, Kejari Jakarta Timur, Kejari Sleman
dan Pusdiklat Kejaksaan RI yang disetor pada bulan Januari 2009 dan tidak
diungkapkan dalam CaLK sebesar Rp4.568.754,00.
b. Terdapat saldo jasa giro pada rekening Bendahara Pengeluaran pada akhir
tahun 2008 pada Kejati Manado, Kejati DKI Jakarta, Kejari Yogyakarta,
Kejari Wates, Kejari Manado, Kejari Bitung, Kejari Amurang, Kejari Garut,
Kejari Indramayu, Kejari Kuala Simpang, dan Komisi Kejaksaan yang belum
disetor ke kas negara dan belum diungkapkan dalam CALK sebesar
Rp20.790.146,00.
Rincian Pendapatan Jasa Lembaga Keuangan (Jasa Giro) sebesar
Rp25.400.024,00 yang telah dan belum disetor sampai dengan saat pemeriksaan
tim BPK RI berakhir pada tanggal 8 April 2009, yaitu:
I. Terlambat Disetor
Tanggal Saldo Jasa
No Satker Keterangan
Setor Giro
Disetor Awal Januari sehingga tidak
1 Kejati DKI Jakarta 10-Jan-09 587.770,00 dilaporkan dalam SAI TA 2008
Disetor Awal Januari sehingga tidak
2 Kejari Jakarta Timur 06-Jan-09 121.436,00 dilaporkan dalam SAI TA 2008
Disetor Awal Januari sehingga tidak
3 Kejari Jakarta Timur 06-Jan-09 520.718,00 dilaporkan dalam SAI TA 2008
Disetor Awal Januari sehingga tidak
4 Kejari Sleman 21-Jan-09 1.884,00 dilaporkan dalam SAI TA 2008
Disetor Awal Januari sehingga tidak
5 Pusdiklat Kejaksaan 3.336.946,00 dilaporkan dalam SAI TA 2008
Total Terlambat Disetor 4.568.754,00

II. Belum Disetor


Tanggal Saldo Jasa
No Satker Keterangan
Setor Giro
Saldo Rekening Bendahara
1 Kejari Garut 5.486.000,00 Pengeluaran
Saldo Rekening Bendahara
2 Kejari Indramayu 9.907.000,00 Pengeluaran
Saldo Rekening Bendahara
3 Kejari Kuala Simpang 108.012,00 Pengeluaran
4 Kejari Yogyakarta 5.930,00 Belum disetor ke Kas Negara
5 Kejari Wates 43.729,00 Belum disetor ke Kas Negara
6 Kejati Manado 1.295.647,00 Belum disetor ke Kas Negara
7 Kejari Bitung 40.119,00 Belum disetor ke Kas Negara
8 Kejari Amurang 9.549,00 Belum disetor ke Kas Negara
9 Kejari Menado 51.514,00 Belum disetor ke Kas Negara
10 Kejati DKI Jakarta 587.770,00 Belum disetor ke Kas Negara

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 13 dari 61


II. Belum Disetor
Tanggal Saldo Jasa
No Satker Keterangan
Setor Giro
Saldo Rekening Bendahara
11 Komisi Kejaksaan 3.296.000,00 Pengeluaran
Total Belum Disetor 20.831.270,00

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 Tanggal 28
Juni 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara:
1) Pasal 7 ayat (1) menyatakan bahwa pendapatan negara pada
departemen/lembaga wajib disetor sepenuhnya dan pada waktunya ke
rekening Kas Negara.
2) Pasal 20:
a) Ayat (1) Orang atau badan yang melakukan pemungutan atau
penerimaan uang negara wajib menyetor seluruh penerimaan dalam
waktu 1 (satu) hari kerja setelah penerimaannya ke rekening Kas
Negara pada bank pemerintah, atau lembaga lain yang ditetapkan
oleh Menteri Keuangan.
b) Ayat (2) Bendaharawan penerima/penyetor berkala wajib
menyetor/melimpahkan seluruh penerimaan negara yang telah
dipungutnya ke rekening Kas Negara sekurang-kurangnya sekali
seminggu.
b. Lampiran VI Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun
2005 tanggal 13 Juni 2005, Standar Akuntansi Pemerintahan Pernyataan No.
04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) menyebutkan bahwa
CaLK menyajikan informasi tentang penjelasan pos-pos laporan keuangan
dalam rangka pengungkapan yang memadai, antara lain, pada butir (6)
menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang
wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.
Hal tersebut mengakibatkan akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan
jasa giro di Kejaksaan RI masih belum memadai.
Hal tersebut disebabkan:
a. Para petugas SAI dan Bendahara Penerima pada Kejaksaan Negeri tidak
cermat dalam melaporkan dan menyetorkan realisasi Pendapatan Jasa
Lembaga Keuangan (Jasa Giro) tahun 2008 yang menjadi tanggung
jawabnya.
b. Kurangnya koordinasi antara Bendahara Pengeluaran selaku pemilik
rekening dalam menginformasikan pendapatan jasa giro yang diterimanya
kepada bendahara penerima yang berwenang untuk menyetorkan pendapatan
yang diterima oleh suatu satker.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menjelaskan akan memberikan
petunjuk kepada Kejati agar setiap adanya jasa giro yang diterima segera disetor

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 14 dari 61


ke kas negara berdasarkan Keputusan Presiden Nomor: 42 Tahun 2002 tanggal
28 Juni 2002. Selanjutnya bukti setornya diserahkan kepada petugas SAI untuk
dilaporkan ke dalam laporan keuangan sesuai dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor: 171/PMK.05/2007 tanggal 27 Desember 2007 tentang Sistem
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.
BPK-RI menyarankan agar Jaksa Agung menginstruksikan Jaksa Agung
Muda Pembinaan memberikan sosialisasi kepada satker di daerah agar jasa giro
pada rekening bendahara pengeluaran segera disetor ke kas negara dan
dilaporkan dalam LK masing-masing satker, sedangkan apabila belum disetorkan
ke kas negara agar diungkapkan dalam CaLK.

3. Pencatatan dan Pelaporan Akun Kas di Bendahara Pengeluaran Belum


Memadai
Akun Kas di Bendahara Pengeluaran merupakan akun yang digunakan untuk
mencatat saldo awal dan mutasi Uang Persediaan (UP) yang dikelola oleh satker.
UP merupakan uang muka yang diserahkan oleh KPPN kepada Kuasa Pengguna
Anggaran dalam rangka pelaksanaan anggaran. Mekanisme UP menggunakan
sistem imprest fund (dana tetap), dimana jumlah dana UP di Bendahara
Pengeluaran Kuasa Pengguna Anggaran akan tetap jumlahnya sepanjang tahun
anggaran, dan pada akhir tahun anggaran sisa UP harus disetor kembali ke
KPPN.
Perubahan atau mutasi saldo akun ini diakibatkan oleh adanya penyediaan
atau tambahan UP (mutasi tambah) dan adanya pengembalian atau setoran UP
(mutasi kurang). Jurnal standar yang digunakan untuk mencatat saldo awal dan
mutasi akun UP adalah sebagai berikut:
a. Jurnal untuk membukukan saldo awal Kas di Bendahara Pengeluaran
Dr. 111611 Kas di Bendahara Pengeluaran xxxx
Cr. 212311 Uang Muka dari KPPN xxxx
b. Jurnal standar penyediaan UP atau tambahan UP
Dr. Kas di Bendahara Pengeluaran xxxx
Cr. Uang Muka dari KPPN xxxx
c. Jurnal standar pengembalian/setoran UP
Dr. Uang Muka dari KPPN xxxx
Cr. Kas di Bendahara Pengeluaran xxxx
Saldo normal untuk akun Kas di Bendahara Pengeluaran pada saat terjadi
penambahan dicatat di debet sebesar penambahannya yaitu dengan diterbitkannya
SP2D Dana Uang Persediaan (DUP) sebagai uang persediaan awal atau SP2D
Tambahan Uang Persediaan (TUP) jika ada penambahan UP (MAK 825111).
Sebaliknya, ketika terjadi pengurangan, akun ini dikredit sebesar
pengurangannya, yaitu jika UP telah dibelanjakan, namun sudah tidak perlu
diganti dan kemudian dipertanggunjawabkan dengan SP2D Nihil (MAP 815111).

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 15 dari 61


Selain itu, pengurangan dapat dilakukan dengan penyetoran sisa UP pada tahun
berjalan (MAP 815111) atau pada awal tahun berikutnya sebagai pendapatan
pengembalian belanja tahun anggaran yang lalu (MAP 815114). Dengan sistem
imprest fund, setiap belanja yang dilakukan menggunakan UP dengan
pertanggungjawaban SP2D Ganti Uang Persediaan (GU) tidak akan
mempengaruhi akun Kas di Bendahara Pengeluaran.
Akun Kas di Bendahara Pengeluaran disajikan di Neraca sebagai bagian dari
pos Aset Lancar. Penyeimbang akun Kas di Bendahara Pengeluaran adalah akun
Uang Muka dari KPPN yang disajikan di Neraca sebagai bagian dari pos
Kewajiban Jangka Pendek.
Saldo akun Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2008 yang
tertera pada Neraca Kejaksaan RI senilai Rp7.259.286.816,00. Saldo ini
merupakan akumulasi saldo UP yang ada di 498 satker (UAKPA) Kejaksaan RI
di seluruh Indonesia, termasuk satker Instansi Pusat. Berdasarkan arsip data
komputer (ADK) diketahui terdapat duplikasi 16 satker karena tercatat dalam 2
Kejati, 4 satker salah melakukan input kode wilayah, dan 1 satker lainnya belum
teridentifikasi.
Hasil pemeriksaan atas saldo dan mutasi transaksi akun Kas di Bendahara
Pengeluaran dari aplikasi SAI di tingkat UAPA Kejaksaan Agung RI TA 2008
menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran akhir tahun 2008 merupakan akumulasi
saldo akhir tahun 2005 sebesar Rp4.203.173.461,00, tahun 2006 sebesar
Rp5.156.349.903,00, dan tahun 2007 sebesar negatif Rp2.951.928.291,00,
serta saldo akhir tahun 2008 sendiri sebesar Rp851.691.743,00. Hal tersebut
menunjukkan bahwa Kas di Bendahara Pengeluaran tahun 2005, tahun 2006,
dan tahun 2007 belum nihil.
Seharusnya sisa uang persediaan telah disetor kembali ke KPPN pada akhir
tahun sebagai penerimaan pengembalian uang persediaan dana rupiah (MAP
815111) dan jika tidak dilakukan dapat disetor pada awal tahun berikutnya
sebagai penerimaan pengembalian uang persediaan tahun anggaran yang lalu
(MAP 815114). Jika sisa uang persediaan tidak disetor akan menghambat
pencairan uang persediaan tahun berjalan dari Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara (KPPN), sehingga dapat dikatakan bahwa
sebenarnya Kas di Bendahara Pengeluaran akhir tahun 2005, 2006, dan 2007
sudah nihil, namun belum dicatat sebagai penyetoran sisa kas di bendahara
pengeluaran dalam aplikasi SAI.
Apabila jurnal standar untuk UP seperti diuraikan diatas dikerjakan dan
memperhatikan sistem imprest fund (dana tetap) yang diberlakukan dalam
pengelolaan UP maka seharusnya akun UP tidak mungkin bersaldo negatif.
Saldo akun UP negatif dapat terjadi karena:
1) Kelalaian petugas akuntansi untuk transfer data tahun yang lalu segera
setelah melakukan instalasi ulang aplikasi SAKPA di awal tahun dapat
menyebabkan saldo negatif apabila terdapat pengurangan kas di

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 16 dari 61


bendahara pengeluaran dengan pengembalian saldo UP dilakukan setelah
lewat tahun anggaran.
2) Bendahara pengeluaran melakukan penyetoran kembali uang persediaan
melalui SSBP yang jumlahnya lebih besar dari sisa uang persediaan pada
akhir periode.
b. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut atas arsip data komputer (ADK) kas di
Bendahara Pengeluaran, diketahui bahwa untuk tahun 2008 Kejaksaan RI
memperoleh uang persediaan sebesar Rp70.059.624.713,00 dengan rincian
berasal dari dokumen sumber SP2D DUP sebesar Rp69.713.215.956,00 dan
pencatatan diluar prosedur normal yaitu dengan jurnal penyesuaian neraca
sebesar Rp346.408.757,00.
Atas UP tersebut telah dipertanggungjawabkan dengan SP2D Nihil sebesar
Rp66.449.839.853,00. Namun pencatatan atas pertanggungjawaban SP2D
Nihil tersebut tidak semua menggunakan MAP 815111 karena sebesar
Rp180.434.481,00 pertanggungjawaban SP2D Nihil dicatat dengan MAP
815114 (Penerimaan Pengembalian Uang Persediaan Tahun Anggaran yang
Lalu).
Berdasarkan ADK Kas di Bendahara Pengeluaran diketahui pula pada tahun
2008 Kejaksaan RI mengembalikan sisa UP yang tidak terpakai sebesar
Rp2.758.093.117,00 dengan rincian MAP 815111 sebesar
Rp2.385.679.333,00 dan MAP 815114 sebesar Rp372.413.784,00.
Dengan kondisi penyelesaian SP2D Nihil yang salah MAP, maka Tim
Pemeriksa juga tidak meyakini apakah setoran sisa dengan MAP 815111
memang merupakan sisa UP tahun berjalan dan MAP 815114 memang
digunakan untuk menyetorkan sisa UP tahun anggaran yang lalu.
c. Terdapat perbedaan saldo kas di Bendahara Pengeluaran antara pelaporan
tingkat Kementerian/Lembaga pada Kejaksaan Agung (SAPA) dengan
kondisi riil di satker yang diuji petik. Atas perbedaan ini pihak Kejaksaan
Agung belum bisa menjelaskan secara pasti, karena hanya melakukan
kompilasi ADK dari daerah. Perbandingan pencatatan saldo kas bendahara
pengeluaran Per 31 Desember 2008 antara Kejaksaan Agung RI (SAPA) dan
Satker dirinci sebagai berikut:
(dalam rupiah)
No. Satuan Kerja Kondisi Satker Pelaporan SAPA Selisih
I. INSTANSI PUSAT
1 Kejaksaan Agung - (2.947.066.837) 2.947.066.837
2 Pusdiklat - 17.434.875 (17.434.875)
3 Komisi Kejaksaan 581.096 22.090.395 (21.509.299)
Total 581.096 (2.907.541.567) 2.908.122.663
II. KEJATI DKI JAKARTA
1 Jakarta Pusat - 13.648.488 (13.648.488)
2 Jakarta Selatan - 140.636.500 (140.636.500)
3 Jakarta Barat - - -
4 Jakarta Timur - 1.794.000 (1.794.000)
5 Jakarta Utara - 770.000 (770.000)

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 17 dari 61


(dalam rupiah)
No. Satuan Kerja Kondisi Satker Pelaporan SAPA Selisih
6 Kejati DKI 72.315 8.694.582 (8.622.267)
Total 72.315 165.543.570 (165.471.255)
III. KEJATI JAWA BARAT
1 Bandung - - -
2 Bale Bandung - - -
3 Garut - (8.418.793) 8.418.793
4 Kuningan - 16.283 (16.283)
5 Indramayu - - -
6 Cirebon - (29.000) 29.000
7 Sumber - 1.200.000 (1.200.000)
8 Purwakarta - - -
9 Bekasi - - -
10 Cikarang - - -
11 Kejati JABAR - 16.884.258 (16.884.258)
Total - 9.652.748 (9.652.748)
IV. KEJATI NAD
1 Banda Aceh - 4.845.744 (4.845.744)
2 Jantho - 18.581.320 (18.581.320)
3 Sigli - 211 (211)
4 Kuala Simpang - 4.753.000 (4.753.000)
5 Kejati NAD - 163.319.606 (163.319.606)
Total - 191.499.881 (191.499.881)
V. KEJATI DIY
1 Yogyakarta - 60.245.688 (60.245.688)
2 Sleman - - -
3 Bantul - 17.000.030 (17.000.030)
4 Wonosari - - -
5 Wates - - -
6 Kejati DIY - 22.853.550 (22.853.550)
Total - 100.099.268 (100.099.268)
VI. KEJATI SULUT
1 Manado - 22.421.429 (22.421.429)
2 Bitung - 30.705.845 (30.705.845)
3 Tondano - - -
4 Tomohon 10.000.000 (443.937) 10.443.937
5 Amurang - 12.500.000 (12.500.000)
6 Kejati SULUT - 210.093.650 (210.093.650)
Total 10.000.000 275.276.987 (265.276.987)

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 18 dari 61


Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintah (PSAP) no. 1 tentang Penyajian Laporan menetapkan antara lain
bahwa pengukuran kas adalah sebesar nilai nominal. Oleh karena itu, saldo
kas di Bendahara Pengeluaran tanggal 31 Desember 2008 harus sesuai
dengan nominal kas yang ada pada tanggal tersebut.
b. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-47/PB/2008 tanggal
30 Oktober 2008 tentang langkah-langkah dalam menghadapi akhir tahun
anggaran 2008 Pasal 8 menyatakan Sisa dana UP tahun anggaran berkenaan
yang masih berada pada Kas bendahara (baik tunai maupun yang masih ada
dalam rekening bank/pos) oleh Bendahara Pengeluaran yang bersangkutan
harus disetorkan kembali ke Kas Negara pada Bank Persepsi/Pos Persepsi
paling lambat 2 (dua) hari kerja sebelum akhir tahun anggaran.
c. Dengan sistem imprest fund, saldo akun Kas di Bendahara Pengeluaran
seharusnya tidak negatif.
Hal tersebut mengakibatkan Saldo akun Kas di Bendahara Pengeluaran pada
Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember 2008 sebesar Rp7.259.286.816,00 tidak
dapat diyakini kewajarannya.
Hal tersebut disebabkan:
a. Masih lemahnya komitmen kepala satuan kerja selaku kepala entitas
akuntansi terhadap kewajaran penyajian laporan keuangannya dhi. akun Kas
di Bendahara Pengeluaran.
b. Petugas akuntansi di tingkat UAKPA belum sepenuhnya memahami langkah-
langkah pada saat instalasi ulang aplikasi di awal tahun terutama yang
berkaitan dengan input saldo awal akun-akun neraca.
c. Tidak berjalannya prosedur verifikasi untuk menjamin semua informasi
keuangan yang ditampilkan telah benar baik dari segi mata anggaran dan
sesuai dengan peruntukannya.
Atas permasalahan tersebut, Kejaksaan RI telah memberikan petunjuk
kepada Kejati agar dalam menyusun laporan keuangan lebih berhati-hati/teliti
sehingga hal-hal yang mengakibatkan kesalahan pada pembuatan pelaporan saldo
kas di bendahara pengeluaran pada laporan keuangan tidak terulang lagi pada
masa mendatang.
BPK RI menyarankan agar Jaksa Agung menginstruksikan Jaksa Agung
Muda Pembinaan untuk:
a. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan tentang pegawai negeri kepada
para Kajati untuk lebih meningkatkan keakuratan dan ketepatan penyajian
laporan keuangan dhi. kas di bendaharawan pengeluaran.
b. Memerintahkan Kepala Biro Keuangan untuk menginventarisir jumlah
pengembalian uang persediaan yang dilakukan oleh bendahara pengeluaran
seluruh satker di lingkungan Kejaksaan RI pada awal tahun 2009.
Selanjutnya mengoreksi saldo akun kas di bendahara pengeluaran posisi 31

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 19 dari 61


Desember 2008 dan menyampaikan hasil inventarisasi tersebut ke BPK
dilampiri dengan bukti-bukti pendukungnya antara lain rekening koran dan
bukti setor (SSBP).
c. Memerintahkan Kepala Biro Keuangan untuk melaksanakan sosialisasi
kepada seluruh bendahara pengeluaran dan petugas SAI mengenai langkah-
langkah yang perlu dilakukan bendahara menjelang akhir tahun anggaran.

4. Pengelolaan dan Pelaporan Barang Rampasan di Lingkungan Kejaksaan


RI Belum Memadai
Salah satu tugas dan wewenang Kejaksaan RI dalam bidang pidana adalah
melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan terkait barang bukti yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap (incracht), yaitu dirampas untuk negara,
dirampas untuk dimusnahkan, atau dikembalikan kepada yang berhak (pemilik
sah). Sesuai ketentuan intern Kejaksaan RI, barang bukti yang dirampas Negara
segera dialihkan pengelolaannya dari seksi Pidana Umum (Pidum) atau seksi
Pidana Khusus (Pidsus) kepada Sub Bagian Pembinaan (Subbag Bin) untuk
diselesaikan. Barang bukti yang dirampas untuk dimusnahkan segera
dimusnahkan dengan menghadirkan saksi terkait dan dilengkapi Berita Acara
Pemusnahan Barang Rampasan yang ditandatangani pihak Kejaksaan RI dan
saksi-saksi, sedangkan untuk barang bukti yang dikembalikan kepada pemilik
yang sah segera dikembalikan dengan dilengkapi Berita Acara Pengembalian.
Barang bukti yang dirampas untuk negara, harus segera disetor ke kas negara
(jika dalam bentuk uang) atau jika dalam bentuk barang dilelang melalui Kantor
Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dan hasil lelang segera
disetorkan ke kas negara atas nama penerimaan Kejaksaan RI. Sebelum
dilakukan pelelangan dilakukan penaksiran nilai wajar dari barang rampasan oleh
pihak berwenang untuk menentukan nilai limit dalam pelelangan.
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas pengelolaan barang rampasan pada
Kejaksaan Agung, Kejati NAD, Kejati Jawa Barat, Kejati DKI Jakarta, Kejati DI
Yogyakarta, dan Kejati Sulawesi Utara menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Berdasarkan ketentuan, barang rampasan disimpan dalam Rumah
Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) dan tangggung jawab atas
barang-barang tersebut ada pada pejabat yang berwenang sesuai dengan
tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan. Pada prakteknya di Kejari
Yogyakarta, Sleman, Wonosari, Bantul, Wates, Manado, Tondano, Bitung,
Tomohon, Amurang, Indramayu, Garut, Bandung, Bale Bandung,
Purwakarta, Cirebon, Sumber, Bekasi, Cikarang, Kuningan, Kuala Simpang,
Sigli, Banda Aceh, dan Jantho sebagian besar barang rampasan masih
disimpan di kantor kejaksaan negeri.
b. Berdasarkan ketentuan, jaksa sebagai eksekutor menguasakan proses
pelelangan barang rampasan kepada kantor lelang negara. Pada prakteknya
proses persiapan pelelangan dilakukan pihak kejaksaan negeri mulai dari
pembentukan panitia pelelangan, permintaan penilaian kondisi barang serta
penilaian harga dari instansi yang berwenang, sampai dengan permohonan

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 20 dari 61


pelelangan kepada kantor lelang. Hal ini mengakibatkan sebagian besar
barang rampasan terlambat dilelang karena kejaksaan negeri tidak memiliki
anggaran pelelangan barang rampasan dan instansi yang berwenang lambat
dalam memberikan taksiran kondisi barang dan taksiran harga wajar. Hal ini
terjadi pada Kejari Yogyakarta, Sleman, Wonosari, Bantul, Wates, Manado,
Tondano, Bitung, Tomohon, Amurang, Indramayu, Garut, Bandung, Bale
Bandung, Purwakarta, Cirebon, Sumber, Bekasi, Cikarang, Kuningan, Kuala
Simpang, Sigli, Banda Aceh, dan Jantho. Khusus pada kejaksaan negeri di
lingkungan Kejati DKI Jakarta, instansi yang berwenang tidak mau
memberikan taksiran kondisi barang dan taksiran harga wajar, sehingga harus
mempergunakan jasa appraisal swasta.
c. Tidak dilaksanakan stock opname pada Kejari Jakarta Pusat, Jakarta Selatan,
Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Yogyakarta, Sleman, Wonosari,
Bantul, Wates, Manado, Tondano, Bitung, Tomohon, Amurang, Indramayu,
Garut, Bandung, Bale Bandung, Purwakarta, Cirebon, Sumber, Bekasi,
Cikarang, Kuningan, Kuala Simpang, Sigli, Banda Aceh, dan Jantho secara
memadai untuk meyakini kondisi barang rampasan di akhir tahun.
Hasil Pemeriksaan atas pencatatan dan pelaporan barang rampasan di tingkat
pusat Kejaksaan RI yang dilakukan oleh Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan
(JAMBIN) dhi. Bagian Pendapatan dan Perbendaharaan (Pathara) serta Bagian
Verifikasi dan Pembukuan menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Berdasarkan rekapitulasi penerimaan laporan barang rampasan dari Kejati
seluruh Indonesia per Desember 2008, diketahui bahwa dari 32 Kejati, baru
27 Kejati yang menyerahkan laporan barang rampasan kepada Bagian
Pathara, sedangkan 5 Kejati belum menyerahkan laporan barang rampasan,
yaitu Kejati Banten, Kejati Maluku, Kejati Sulawesi Barat, Kejati Sulawesi
Tengah, dan Kejati Sumatera Selatan.
b. Berdasarkan laporan barang rampasan pada 27 Kejati, diketahui baru 24
Kejati yang telah memberikan taksiran harga barang rampasan, sedangkan 3
Kejati yaitu Kejati Jawa Tengah, Kejati Kalimantan Barat, dan Kejati Maluku
Utara belum memberikan taksiran harga. Jumlah taksiran harga barang
rampasan pada 24 Kejati adalah sebesar Rp52.962.991.602,45, sedangkan
barang rampasan pada 27 Kejati yang belum memiliki taksiran harga
sebanyak 2.045.158,57 satuan barang, yaitu:
No Nama Barang Jumlah Barang Satuan
1 Kayu 947.418,07 m3
2 Kayu 100,50 Ton
3 Kayu 215.286,00 Batang
4 BBM 305.406,00 Liter
5 Tanah 22,00 Rante
6 Tanah 161.403,00 m2
7 Rotan 4.050,00 Kg
8 Rotan 3.300,00 Batang
9 Mobil 310,00 Unit
10 Sepeda Motor 241,00 Unit
11 Kapal Motor 125,00 Unit

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 21 dari 61


No Nama Barang Jumlah Barang Satuan
12 Gula Pasir 174.430,00 Kg
13 Pupuk 196.770,00 Kg
14 Alat Elektronik 33.515,00 Unit
15 Tanah dan Bangunan 2.245,00 m2
16 Bangunan 22,00 Unit
17 Mesin 189,00 Unit
18 STNK 5,00 Lembar
19 Perahu 51,00 Unit
20 Senjata Api 2,00 Unit
21 Sarang Burung Walet 5,00 Kg
22 Pasir Timah 195,00 Karung
23 Arang 18,00 Ton
24 Becak 5,00 Unit
25 Sertifikat 45,00 Unit
Total 2.045.158,57

c. Pencatatan persediaan barang rampasan dalam Neraca Kejaksaan RI per 31


Desember 2008 oleh UAPA Kejaksaan Agung RI masih dilakukan secara
manual dan tanpa mempergunakan aplikasi SAI serta baru mencakup barang
rampasan pada 11 (sebelas) kejati dengan jumlah sebesar
Rp9.605.714.332,45. Sisanya, barang rampasan pada 13 kejati lainnya yang
sudah diberikan taksiran harga sebesar Rp43.357.277.270,00 belum tercatat
dalam Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember 2008 dengan rincian sebagai
berikut:
No Nama Kejati Barang Rampasan Nilai Taksiran (Rp)
1 Bali Sepeda Motor 700.000,00
Solar 4.400.000,00
Handphone 125.000,00
2 Bangka Belitung Kapal Motor 48.750.000,00
Rumah 5.670.000,00
3 DI Yogyakarta Sepeda Motor 4.800.000,00
Kayu 353.760,00
Tanah + Bangunan 75.000.000,00
Tanah 449.450.000,00
4 DKI Jakarta Kapal 1.213.585.000,00
Handphone 660.000.000,00
Tanah + Bangunan 22.259.610.000,00
Mobil 33.500.000,00
Sepeda Motor 3.500.000,00
Televisi 1.000.000,00
VCD Player 125.000,00
Mini Compo 550.000,00
Tanah 14.481.230.000,00
5 Gorontalo Chain Saw 800.000,00
Kayu 4.168.390,00
6 Jawa Timur Filling Cabinet 100.000,00
Kapal Motor 182.000.000,00
Kayu 114.600.440,00

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 22 dari 61


No Nama Kejati Barang Rampasan Nilai Taksiran (Rp)
Pupuk Urea 8.058.000,00
Mobil 10.810.800,00
7 Kep Riau Tanah 100.000.000,00
Kayu 50.000.000,00
8 NAD Kayu 75.000.000,00
Kapal Motor 240.000.000,00
9 Papua Tanah 504.077.000,00
10 Sulawesi Selatan Kayu 1.650.000,00
Tanah 96.487.000,00
Faximile 200.000,00
Handphone 1.675.000,00
Kalkulator 55.000,00
Uang 150.000,00
Polis Asuransi Jiwa 100.000.000,00
Mobil 50.000.000,00
Sepeda Motor 4.500.000,00
Bilyet Giro 1.002.000.000,00
Peralatan Pemancar 1.200.000,00
11 Sulawesi Tenggara Kayu 19.000.000,00
12 Sulawesi Utara Tanah + Rumah 335.839.500,00
Tanah 387.801.000,00
Televisi 100.000,00
Radio Tape 25.000,00
Kursi 100.000,00
Mobil 1.837.500,00
13 Sumatera Utara Kapal Motor 600.000.000,00
Mobil + Kayu 158.450.000,00
Kayu 50.000.000,00
Tanah + Rumah 14.063.880,00
Kapal 180.000,00
JUMLAH 43.357.277.270,00

d. Berdasarkan perbandingan jumlah barang rampasan pada Kejari Jakarta


Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur,
Yogyakarta, Sleman, Wonosari, Bantul, Wates, Manado, Tondano, Bitung,
Tomohon, Amurang, Indramayu, Garut, Bandung, Bale Bandung,
Purwakarta, Cirebon, Sumber, Bekasi, Cikarang, Kuningan, Kuala Simpang,
Sigli, Banda Aceh, dan Jantho dengan laporan barang rampasan pada Bagian
Pathara, diketahui barang rampasan sebesar minimal Rp99.945.760,00 belum
dilaporkan kepada Bagian Pathara, dengan rincian sebagai berikut:
No Kejati Kejari Barang rampasan Nilai (Rp)
1 Sulawesi Utara Tondano Kayu rimba campuran 5 meter kubik -
Amurang Kayu Lingga 1 meter kubik -
600 liter solar -
Bitung 200 liter solar -
2 DKI Jakarta Jakarta Utara Tanah dan Bangunan atas perkara -
Bambang Kasto

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 23 dari 61


No Kejati Kejari Barang rampasan Nilai (Rp)
Sepeda motor Jialing Nopol B-3091-
Jakarta Timur EN -
Sepeda motor Honda Revo No.Pol.
B-5212-TPM -
Minyak tanah sebanyak 200 liter. -
Truk tangki PT Anugrah Cipta
Bersama Nopol. B 9898 ST -
Truk tangki PT Anugrah Cipta
Bersama Nopol. F 8526 AG -
Truk tangki PT Anugrah Cipta
Bersama Nopol. F 8164 AL -
80.000 liter solar dicampur minyak
tanah (oplosan) -
3 Jawa Barat Indramayu 3 bidang tanah -
Bandung BBM 225 liter -
Purwakarta BBM 140 liter -
4 NAD Kuala Simpang 1 unit Kendaraan Roda 4 42.750.000,00
13 unit Kendaraan Roda 2 6.750.000,00
30,2 meter kubik Kayu 20.445.760,00
2 unit Kendaraan Roda 2 -
44 batang Kayu -
Sigli 3,5 ton kayu -
Banda Aceh 2 unit Kendaraan Roda 2 -
Jantho Kendaraan Roda 4 30.000.000,00
Total 99.945.760,00

e. Berdasarkan pemeriksaan terhadap SAPA Kejaksaan Agung RI, ternyata


sembilan kejari telah melakukan pencatatan barang rampasan ke dalam akun
persediaan dengan mempergunakan jurnal penyesuaian neraca (402) senilai
Rp3.539.136.211,00 dengan rincian sebagai berikut:
Kode
No Kejari Akun Nama Akun Rp
1 Kejaksaan Negeri Samarinda 115192 Persediaan Barang Hasil Sitaan 931.088.060,00
2 Kejaksaan Negeri Bontang 115192 Persediaan Barang Hasil Sitaan 866.220.728,00
3 Kejaksaan Negeri Blitar 115192 Persediaan Barang Hasil Sitaan 1.417.309.000,00
4 Kejaksaan Negeri Tulungagung 115192 Persediaan Barang Hasil Sitaan 20.500.000,00
5 Kejaksaan Negeri Kendari 115192 Persediaan Barang Hasil Sitaan 14.324.903,00
6 Kejaksaan Negeri Kolaka 115192 Persediaan Barang Hasil Sitaan 6.800.000,00
7 Kejaksaan Negeri Raha 115192 Persediaan Barang Hasil Sitaan 195.889.560,00
8 Kejaksaan Negeri Belawan 115192 Persediaan Barang Hasil Sitaan 33.000.000,00
9 Kejaksaan Negeri Lubuk Pakam 115192 Persediaan Barang Hasil Sitaan 54.003.960,00
Total 3.539.136.211,00
Nilai persediaan tersebut oleh Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA)
Kejaksaan Agung RI tidak dikompilasikan dalam Neraca Kejaksaan RI per
31 Desember 2008.
f. Penelitian atas Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) Kejaksaan RI tahun
2008 juga menunjukkan bahwa pengungkapan yang ada kurang informatif
antara lain karena kondisi barang rampasan yang tidak laku dilelang serta

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 24 dari 61


barang rampasan yang sudah tidak memiliki manfaat ekonomis (rusak) belum
diungkapkan dalam CALK.
g. Berdasarkan hasil konfirmasi dengan bagian Pathara Kejaksaan Agung RI,
data persediaan barang rampasan pada Kejaksaan RI belum dilaporkan
kepada DJKN, sehingga prosedur rekonsiliasi persediaan barang rampasan
tidak bisa dilakukan.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. UU No.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana:
1) Pasal 44 ayat (1) menyatakan Benda sitaan disimpan dalam Rumah
Penyimpanan Benda Sitaan Negara.
2) Pasal 273 ayat (3) menyatakan jika putusan pengadilan juga menetapkan
bahwa barang bukti dirampas untuk negara, selain pengecualian
sebagaimana tersebut pada Pasal 46, jaksa menguasakan benda tersebut
kepada kantor lelang negara dan dalam waktu tiga bulan untuk dijual
lelang, yang hasilnya dimasukkan ke kas negara untuk dan atas nama
jaksa.
3) Pasal 273 ayat (4) menyatakan jangka waktu sebagaimana tersebut pada
ayat (3) dapat diperpanjang untuk paling lama satu bulan.
b. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK.05/2007
tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat:
1) Pasal 20 Ayat 8 menyatakan UAKPA menyampaikan LRA dan Neraca
beserta ADK setiap bulan kepada UAPPA-W/UAPPA-E1.
2) Pasal 21:
a) Ayat 1 menyatakan UAPPA-W melakukan proses penggabungan
laporan keuangan yang berasal dari UAKPA di wilayah kerjanya
termasuk Laporan Realisasi Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan
yang digunakan oleh Kementerian Negara/Lembaga.
b) Ayat 5 menyatakan UAPPA-W wajib menyampaikan Laporan
Realisasi Anggaran dan Neraca tingkat UAPPA-W beserta ADK
kepada UAPPA-E1 setiap bulan.
3) Pasal 22:
a) Ayat 1 menyatakan UAPPA-E1 melakukan proses penggabungan
laporan keuangan UAPPA-W yang berada di wilayah kerjanya
termasuk laporan keuangan UAPPA-W Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan, laporan keuangan UAKPA yang langsung berada
dibawah UAPPA-E1, dan Laporan Realisasi Anggaran Pembiayaan
dan Perhitungan yang digunakan oleh Kementerian
Negara/Lembaga.
b) Ayat 2 menyatakan UAPPA-E1 menyusun laporan keuangan tingkat
UAPPA-E1 berdasarkan hasil penggabungan laporan keuangan
sebagaimana dimaksud pada ayat 1.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 25 dari 61


c) Ayat 6 menyatakan UAPPA-E1 menyampaikan LRA dan Neraca
tingkat UAPPA-E1 beserta ADK kepada UAPA setiap bulan.
4) Pasal 23:
a) Ayat 1 menyatakan UAPA melakukan proses penggabungan laporan
keuangan UAPPA-E1 termasuk laporan Keuangan Dana
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan serta Laporan Realisasi
Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan yang digunakan oleh
Kementerian Negara/Lembaga.
b) Ayat 2 menyatakan UAPA menyusun laporan keuangan tingkat
UAPA berdasarkan hasil penggabungan laporan keuangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
c. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan:
1) Lampiran II - Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan
a) paragraf 78 menyatakan bahwa Pengakuan dalam akuntansi
diwujudkan dalam pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos laporan
keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait.
b) Paragraf 79 menyatakan bahwa kriteria minimum yang perlu
dipenuhi oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk diakui yaitu:
(1) Terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan
dengan kejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar
dari atau masuk ke dalam entitas pelaporan yang bersangkutan.
(2) Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya
yang dapat diukur atau dapat diestimasi dengan andal.
(3) Paragraf 82 menyatakan bahwa apabila pengukuran berdasarkan
biaya dan estimasi yang layak tidak mungkin dilakukan, maka
pengakuan transaksi demikian cukup diungkapkan pada Catatan
atas Laporan Keuangan.
2) Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) No. 01 – Penyajian
Laporan Keuangan paragraf 48 menetapkan bahwa suatu aset
diklasifikasikan sebagai aset lancar antara lain jika diharapkan segera
untuk direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12
(dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan.
3) PSAP No.4 – Catatan Atas Laporan Keuangan menyebutkan antara lain
bahwa Catatan atas Laporan Keuangan harus menyajikan informasi yang
diharuskan dan dianjurkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan lainnya serta pengungkapan-pengungkapan lain yang
diperlukan untuk penyajian wajar atas laporan keuangan, seperti
kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lain. Pengungkapan
informasi dalam Catatan atas Laporan Keuangan harus dapat
memberikan informasi lain yang belum disajikan dalam bagian lain
laporan keuangan.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 26 dari 61


4) PSAP No. 05 – Persediaan paragraf 5 mendefinisikan Persediaan sebagai
aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan
untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang-barang
yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka
pelayanan kepada masyarakat.
5) PSAP No. 05 – Persediaan paragraf 18 menetapkan bahwa Persediaan
disajikan sebesar nilai wajar apabila diperoleh dengan cara lainnya
seperti donasi atau rampasan.
Hal tersebut mengakibatkan:
a. Saldo akun persediaan yang berbentuk barang rampasan sebesar
Rp9.605.714.332,45 dalam Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember 2008 tidak
dapat diyakini kewajarannya.
b. Potensi/resiko penyimpangan dalam pengelolaan barang rampasan berupa
kehilangan, pinjam pakai, dan penurunan kondisi/nilai yang dapat merugikan
Negara berupa hilangnya potensi penerimaan negara dari penjualan barang
rampasan.
Hal tersebut disebabkan:
a. Komitmen kepala satuan kerja sebagai kepala entitas akuntansi atas
pengamanan barang rampasan dan keakuratan pelaporan keuangan yang
masih lemah.
b. Jumlah dan kemampuan SDM yang terkait dengan fungsi pengelolaan dan
pelaporan di tingkat satker belum memadai untuk mendukung terwujudnya
Sistem Pengendalian Intern yang baik terkait dengan penyusunan laporan
keuangan dan pengamanan aset.
c. Belum adanya juklak/juknis dari Kejaksaan Agung RI mengenai pencatatan
barang rampasan dalam Sistem Akuntansi Instansi (SAI) dhi SIMAK BMN.
d. Aplikasi SIMAK BMN yang dikembangkan oleh Departemen Keuangan
belum sepenuhnya dapat mengakomodir kebutuhan masing-masing
kementerian/lembaga dhi. Kejaksaan RI terkait pencatatan barang rampasan
yaitu belum tersedianya tabel referensi persediaan barang rampasan.
e. Infrastruktur pendukung untuk tempat penyimpanan barang rampasan berupa
Rupbasan belum ada dan memadai di seluruh satker Kejaksaan RI.
f. Koordinasi antara Kejaksaan RI dan Departemen Hukum dan HAM
(Depkumham) terkait penyimpanan barang rampasan di Rupbasan masih
belum intensif.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan Agung RI akan melakukan koordinasi
dengan DJKN untuk melakukan inventarisasi dan penilaian barang rampasan,
serta perbaikan sistem pengelolaan dan pelaporan barang rampasan.
BPK RI menyarankan agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung Muda
Pembinaan:

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 27 dari 61


a) Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan tentang pegawai negeri kepada
para kepala satuan kerja yang kurang memiliki komitmen dalam pengamanan
barang rampasan dan perbaikan pelaporan keuangan.
b) Melakukan perekrutan SDM bidang akuntansi dan melaksanakan pelatihan
pengelolaan dan pelaporan keuangan serta pengamanan aset.
c) Membuat juklak/juknis mengenai pencatatan barang rampasan dalam Sistem
Akuntansi Instansi (SAI) dhi. SIMAK BMN.
d) Melakukan koordinasi dengan DJKN terkait belum tersedianya tabel referensi
persediaan barang rampasan dalam aplikasi SIMAK BMN.
e) Memperbaiki infrastruktur pendukung untuk tempat penyimpanan barang
rampasan di seluruh satker Kejaksaan RI.
f) Melakukan koordinasi dengan Departemen Hukum dan HAM (Depkumham)
terkait penyimpanan barang rampasan di Rupbasan.

5. Pencatatan dan Pelaporan Persediaan Dalam Laporan Keuangan Kejaksaan


RI Belum Memadai
Persediaan merupakan jenis aset dalam bentuk barang atau perlengkapan
(supplies) pada tanggal neraca, yang diperoleh dengan maksud untuk mendukung
kegiatan operasional pemerintah dan barang-barang yang dimaksudkan untuk
dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
Berdasarkan Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI per 31 Desember 2008
(unaudited), saldo akun Persediaan adalah sebesar Rp11.177.306.450,45 yang
terdiri dari barang rampasan sebesar Rp9.605.714.332,45 dan non barang
rampasan sebesar Rp1.571.592.118,00 (meliputi alat perlengkapan pegawai,
bahan konsumsi, bahan untuk pemeliharaan, materai dan bahan baku).
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas pengelolaan dan pelaporan akun
persediaan pada Kejati Jawa Barat, Kejati NAD, Kejati DIY, Kejati DKI, Kejati
Sulawesi Utara, Pusdiklat Kejaksaan, Sekretariat Komisi Kejaksaan dan
menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Pemahaman terhadap akun persediaan oleh bendahara barang belum
memadai, karena dari hasil wawancara dengan para bendahara barang di
Kejati Jawa Barat, Kejati NAD, Kejati DIY, Kejati DKI, Kejati Sulawesi
Utara, Pusdiklat Kejaksaan, Sekretariat Komisi Kejaksaan diketahui bahwa
mereka menganggap bahwa yang dimaksudkan dengan persediaan hanya
berupa Alat Tulis Kantor (ATK).
b. Pencatatan dan pengelolaan akun persediaan belum dilaksanakan sesuai
ketentuan seperti terlihat pada tabel berikut :
No. Satuan Kerja Keterangan
1. Kejati Jawa Barat, Kejari Bandung, Kejari Tidak melakukan inventarisasi fisik,
Bale Endah, Kejari Garut, Kejari Kuningan, tidak mengerjakan buku persediaan
Kejari Indramayu, Kejari Cirebon, Kejari (hanya Kejati Jabar saja yang
Sumber, Kejari Purwakarta, Kejari Cikarang membuat) dan tidak melakukan
dan Kejari Bekasi. pencatatan ke dalam aplikasi SAI

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 28 dari 61


2. Kejati NAD, Kejari Banda Aceh, Kejari Tidak melakukan inventarisasi fisik,
Jantho, Kejari Sigli, dan Kuala Simpang tidak mengerjakan buku persediaan
(hanya Kejati NAD saja yang
membuat) dan tidak melakukan
pencatatan ke dalam aplikasi SAI
3. Kejati serta Kejari dilingkungan Kejati DIY Tidak melakukan inventarisasi fisik,
tidak mengerjakan buku persediaan
dan tidak melakukan pencatatan ke
dalam aplikasi SAI
4. Kejati Sulut, Kejari Bitung, Kejari Tondano, Tidak melakukan inventarisasi fisik,
Kejari Amurang, Kejari Tomohon, dan tidak mengerjakan buku persediaan
Kejari Manado dan tidak melakukan pencatatan ke
dalam aplikasi SAI
5. Kejati serta Kejari dilingkungan Kejati DKI Tidak melakukan inventarisasi fisik,
tidak mengerjakan buku persediaan
(hanya Kejati DKI saja tetapi tidak
sesuai dengan Kepja) dan tidak
melakukan pencatatan ke dalam
aplikasi SAI
6. Pusdiklat Kejaksaan Tidak melakukan inventarisasi fisik,
tidak mengerjakan buku persediaan
dan tidak melakukan pencatatan ke
dalam aplikasi SAI
7. Sekretariat Komisi Kejaksaan Tidak melakukan inventarisasi fisik,
tidak mengerjakan buku persediaan
dan tidak melakukan pencatatan ke
dalam aplikasi SAI

c. Aset persediaan per 31 Desember 2008 yang dihasilkan dari aplikasi SAPA
Kejaksaan Agung RI menunjukkan adanya saldo minus sebesar
Rp28.188.750,00 dengan rincian seperti pada tabel berikut:
No. Nama Satker Nilai (Rp)
1. KN Liwa 150.000,00
2. KN Indramayu 1.532.750,00
3. KN Bale Bandung (250.000,00)
4. KN Jepara (150.000,00)
5. KN Nunukan 5000,00
6. KN Maumere (31.715.000,00)
7. KN Subang 2.238.500,00
Jumlah (28.188.750,00)

Sedangkan saldo akun persediaan di dalam Neraca Kejaksaan Agung RI per


31 Desember 2008 (unaudited) adalah sebesar Rp1.571.592.118,00.
Berdasarkan kesimpulan Tim, hal ini terjadi karena data yang digunakan
dalam Neraca masih menggunakan data manual.
Saldo persediaan tersebut merupakan saldo persediaan dari 1 (satu) satker
yaitu Biro Perlengkapan Kejaksaan Agung yang diperoleh berdasarkan hasil
inventarisasi fisik persediaan pada akhir tahun.
1) perlengkapan pegawai .......................................Rp 1.514.851.565,00

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 29 dari 61


2) bahan konsumsi ................................................Rp 51.242.053,00
3) bahan untuk pemeliharaan ................................Rp 3.178.500,00
4) materai ...............................................................Rp 2.250.000,00
5) bahan baku ........................................................Rp 70.000,00
Jumlah.....................................................................Rp 1.571.592.118,00
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 498 satker lain di lingkungan
Kejagung RI belum tercatat nilai persediaan akhir tahunnya pada Neraca
Kejagung RI per 31 Desember 2008.
d. Hasil pemeriksaan fisik atas persediaan barang non rampasan secara uji petik
pada 8 satker di lingkungan Kejati Jawa Barat, Kejati NAD dan Kejati DKI
yang dilakukan oleh bendahara barang dan Tim BPK diketahui adanya saldo
persediaan per 31 Desember 2008 yang belum dicatat dalam Neraca
Kejaksaan RI minimal sebesar Rp70.130.700,00, dengan rincian seperti pada
tabel berikut:
No. Keterangan Jumlah (Rp)
1. Kejati Jawa Barat 8.926.450,00
2. Kejati NAD 10.138.375,00
3. Kejari Kuningan 1.160.000,00
4. Kejari Purwakarta 1.111.000,00
5. Kejari Bandung 40.315.000,00
6. Kejari Bekasi 5.234.500,00
7. Kejari Cikarang 1.556.000,00
8. Kejari Jakarta Barat 1.689.375,00
Jumlah 70.130.700,00

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 3 ayat
(1) menyatakan bahwa Keuangan Negara dikelola secara tertib taat pada
peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan
bertanggungjawab dan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
b. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan, PSAP No. 05 – Persediaan:
1) paragraf 5 mendefinisikan persediaan sebagai aset lancar dalam bentuk
barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan
perasional pemerintah, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk
dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
2) paragraf 15 menyatakan bahwa persediaan diakui pada saat diterima atau
hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah
3) paragraf 16 menyatakan bahwa pada akhir periode akuntansi, persediaan
dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 30 dari 61


Hal tersebut mengakibatkan saldo akun persediaan non barang rampasan
yang disajikan dalam Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember 2008 sebesar
Rp1.571.592.118,00 belum menggambarkan keseluruhan persediaan yang ada di
Kejaksaan RI dan belum dapat diyakini kewajarannya.
Hal tersebut disebabkan:
a. Komitmen kepala satker selaku kepala entitas akuntansi atas keakuratan
pelaporan keuangan dhi. pelaporan persediaan non barang rampasan masih
kurang.
b. Sosialisasi oleh Bagian Verifikasi dan Pembukuan Biro Keuangan Kejaksaan
RI kepada para petugas SAI di satker-satker daerah mengenai SIMAK BMN
dhi. Pencatatan dan Pelaporan Persediaan masih kurang.
c. Bendahara barang kurang memahami ketentuan-ketentuan dalam Standar
Akuntansi Pemerintahan terkait persediaan.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menjelaskan bahwa aplikasi
persediaan belum diterapkan dan satuan kerja belum memahami tata cara
penggunaan aplikasi tersebut.
BPK-RI menyarankan agar Jaksa Agung menginstruksikan Jaksa Agung
Muda Pembinaan untuk :
a. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan tentang pegawai negeri kepada
kepala satuan kerja dhi. para Kajari dan Asbin Kejati di lingkungan
Kejaksaan RI agar melaporkan persediaan barang non rampasan dalam
neraca masing-masing setiap tahun secara akurat, tepat waktu dan sesuai
SAP.
b. Memberikan sosialisasi kepada seluruh bendahara barang dan petugas input
SAI tentang pencatatan persediaan dan inventarisasi fisik terhadap persediaan
yang harus dilakukan setiap akhir tahun.

6. Pencatatan dan Pelaporan Tilang di Lingkungan Kejaksaan RI Belum


Memadai
Penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas jalan dilakukan dengan
pemberian surat tilang. Surat tilang merupakan alat utama yang digunakan dalam
penindakan terhadap pelanggaran lalu lintas jalan tertentu sebagaimana tercantum
dalam penjelasan pasal 211 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang
Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang berdasarkan kajian, apabila tidak dilakukan
tindakan kepolisian secara terencana dan konsisten akan dapat menimbulkan
kecelakaan, kemacetan, kerusakan prasarana dan sarana jalan, ketidaktertiban,
polusi dan kejahatan.
Pemeriksaan atas dokumen penyetoran PNBP yang dikelola oleh Bendahara
Khusus Penerima, Rekap denda tilang yang sudah berkekuatan hukum tetap
(incracht) tetapi belum dibayar oleh pelanggar yang dibuat oleh petugas tilang
dan rekening koran BRI yang memuat saldo Giro I, Giro II dan Giro III
pertanggal 31 Desember 2008 di 29 Kejari (Kejari Jakarta Pusat, Jakarta Selatan,

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 31 dari 61


Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Yogyakarta, Sleman, Wonosari,
Bantul, Wates, Manado, Tondano, Bitung, Tomohon, Amurang, Indramayu,
Garut, Bandung, Bale Bandung, Purwakarta, Cirebon, Sumber, Bekasi, Cikarang,
Kuningan, Kuala Simpang, Sigli, Banda Aceh, dan Jantho), serta saldo Giro I, II
dan III pada BRI yang diperoleh dari Bagian Pidana Umum di Kejagung RI yang
dijadikan sampel pemeriksaan Laporan keuangan TA 2008 di lingkungan
Kejaksaan Agung RI menunjukkan hal-hal sebagai berikut :
a. Denda tilang yang diputus oleh pengadilan secara verstek
Denda tilang yang diputus oleh pengadilan secara verstek adalah putusan
denda tilang yang diberikan kepada pelanggar apabila pelanggar tidak
menunjuk wakil dan tidak hadir pada waktu sidang pengadilan tilang tanpa
alasan yang sah.
Berdasarkan data yang diperoleh dari petugas tilang di masing-masing Kejari
seperti tersebut diatas diketahui bahwa terdapat sejumlah putusan pengadilan
berupa denda tilang dan ongkos perkara tilang, dan barang bukti berupa surat
tilang dan SIM/STNK milik pelanggar lalu lintas yang masih disimpan oleh
panitera di masing-masing pengadilan negeri karena belum diambil oleh
pelanggar yang bersangkutan. Dokumen ini setiap minggu selalu bertambah
karena setiap minggu selalu dilaksanakan sidang perkara tilang dan selalu ada
putusan sidang yang dilakukan secara verstek. Hasil pemeriksaan yang
dilaksanakan pada 29 Kejari yang dijadikan sampel pemeriksaan diketahui
bahwa besarnya putusan sidang tilang yang dilakukan secara verstek untuk
TA 2008 adalah senilai Rp1.270.923.200,00 dengan rincian sbb:
No. Kejati No. Kejari Jumlah (Rp)
I. DKI Jakarta 1 Kejari Jakarta Selatan 120.078.000,00
2 Kejari Jakarta Barat 179.968.000,00
3 Kejari Jakarta Utara 55.554.500,00
4 Kejari Jakarta Timur 102.376.000,00
II. Jawa Barat 1 Kejari Bekasi 144.713.500,00
2 Kejari Bandung 119.942.000,00
3 Kejari Cirebon 6.047.500,00
4 Kejari Kuningan 4.601.000,00
5 Kejari Purwakarta 53.144.000,00
6 Kejari Cikarang 186.600.000,00
III. NAD 1 Kejari Sigli 1.457.000,00
2 Kejari Banda Aceh 23.990.500,00
3 Kejari Kuala Simpang 73.937.000,00
IV. Sulawesi Utara 1 Kejari Manado 14.889.000,00
2 Kejari Amurang 8.249.500,00
3 Kejari Tondano 84.268.500,00
V. DIY 1 Kejari Sleman 8.841.000,00
2 Kejari Bantul 3.895.000,00

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 32 dari 61


No. Kejati No. Kejari Jumlah (Rp)
3 Kejari Wonosari 6.881.700,00
4 Kejari Yogyakarta 8.729.000,00
5 Kejari Wates 7.206.000,00
Jumlah 1.215.368.700,00

Dengan adanya putusan pengadilan yang dilakukan secara verstek ini maka
negara telah mempunyai hak tagih berdasarkan keputusan pengadilan dan
jumlahnya telah tetap. Selanjutnya besarnya denda tilang yang telah diputus
secara verstek ini harus diakui dan dicatat dalam laporan keuangan di
masing-masing kejaksaan negeri sebagai aset dhi. piutang bukan pajak. Hasil
pemeriksaan secara sampel terhadap 29 Kejari seperti tersebut diatas
menunjukkan putusan denda tilang yang diputus secara verstek hanya
dikelola oleh petugas tilang dimasing-masing Kejari dan masing-masing
belum diakui dan dilaporkan dalam Laporan Keuangan Kejaksaan RI tahun
2008
b. Rekening Giro I dan Giro III
Pelanggar lalu lintas diberikan 3 (tiga) opsi dalam penyelesaian perkara tilang
yaitu:
1) Pelanggar setuju menunjuk wakil yang disediakan penyidik untuk
menghadiri sidang dan bersedia menitipkan sejumlah uang sesuai tabel
kepada Giro I Bank Rakyat Indonesia (BRI);
2) Pelanggar setuju menitipkan uang di Giro I BRI tetapi menyatakan ingin
menghadiri sidang;
3) Pelanggar menolak menitipkan uang di Giro I BRI dan ingin menghadiri
sendiri sidang pengadilan.
Rekening Giro I, II, dan III hanya digunakan apabila pelanggar lalu lintas
memilih opsi 1 yaitu menitipkan uang di BRI (dan tidak menghadiri
persidangan). Rekening Giro I BRI merupakan suatu rekening yang dibuka
oleh pihak Kejaksaan Negeri untuk menampung sementara uang titipan
pembayaran denda tilang dan biaya perkara sampai keluarnya keputusan
pengadilan. Setelah adanya keputusan pengadilan, status uang titipan tersebut
berubah menjadi uang denda dan biaya perkara yang harus dipindahkan ke
Rekening Giro II untuk selanjutnya disetorkan ke Kas Negara. Sisa uang
titipan dan biaya perkara di Giro I setelah dikurangkan dengan penyetoran ke
Kas Negara kemudian dipindahkan ke Rekening Giro III dan merupakan hak
pelanggar lalu lintas. Kejaksaan selanjutnya meminta kepada BRI agar
kelebihan tersebut segera dikembalikan kepada pelanggar dan tembusannya
disampaikan kepada Kejaksaan.
Hasil pemeriksaan atas pengelolaan Giro I, II, dan III pada Kejaksaan Agung
RI, Kejati DKI Jakarta, Kejati DI Yogyakarta, Kejati NAD, Kejati Jawa Barat
dan Kejati Sulawesi Utara menunjukkan hal-hal sebagai berikut :

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 33 dari 61


a. Dari pemeriksaan secara uji petik atas Rekening Koran Giro I dan Giro III
yang ada pada Kejati DKI Jakarta, Kejati DI Yogyakarta, Kejati NAD, Kejati
Jawa Barat dan Kejati Sulawesi Utara, diketahui bahwa terdapat saldo
Rekening Giro I sebesar Rp470.572.147,00 dan Rekening Giro III sebesar
Rp13.079.001,00, rincian terlihat pada Lampiran 2.
Semua satker tersebut belum mengungkapkan uang titipan denda tilang dan
biaya perkara pada Giro I BRI serta sisa uang titipan denda tilang dan biaya
perkara pada Giro III BRI dalam laporan keuangan masing-masing dhi.
dalam CALK per tanggal 31 Desember 2008.
b. Data yang diperoleh dari staf Jampidum Kejaksaan Agung RI menunjukkan
bahwa saldo rekening per 31 Januari 2009 pada BRI di seluruh Indonesia
untuk Rekening Giro I sebesar Rp7.946.970.058,96, Rekening Giro II sebesar
Rp709.909.983,00, dan Rekening Giro III sebesar Rp385.313.806,00, dengan
rincian terlihat pada Lampiran 3, 4, dan 5.
Seharusnya saldo pada Giro II dan III per 31 Desember 2008 adalah Nihil
(Rp0,00) karena saldo pada Giro II seharusnya semua sudah disetor ke kas
negara dan saldo pada Giro III seharusnya semua sudah dikembalikan kepada
pelanggar yang jumlah titipannya ke BRI lebih besar dari jumlah denda tilang
putusan pengadilan. Saldo yang ada Rekening Giro II seperti tersebut diatas
menunjukkan bahwa BRI terlambat menyetorkan denda dan ongkos perkara
tilang yang sudah incracht ke Kas Negara. Pemeriksaan lebih lanjut pada
Laporan SAI pada tingkat Kejagung RI menunjukkan bahwa saldo Giro I dan
III seperti tersebut diatas tidak dilaporkan dalam laporan Keuangan dhi.
CALK Kejaksaan RI Tahun 2008. Sedangkan terhadap saldo Giro II yang
sudah menjadi hak negara namun belum disetorkan ke kas negara oleh BRI
pada tanggal 31 Desember 2008 belum dicatat sebagai Piutang PNBP oleh
Kejaksaan RI dalam Neraca per 31 Desember 2008.
Jumlah uang titipan denda tilang dan biaya perkara pada Giro I BRI dan sisa
uang titipan denda tilang dan biaya perkara pada Giro III BRI harus diungkap
dalam CALK per 31 Desember 2008. Dalam hal ini kejaksaan berfungsi
sebagai eksekutor dimana uang titipan denda tilang dan biaya perkara
dipungut dan berada dalam pengelolaan Kejagung dan nantinya ada
kemungkinan ada aliran masuk pendapatan ke kas negara sebagai penerimaan
negara bukan pajak yang diakui sebagai penerimaan hasil dinas instansi
Kejaksaan RI.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. UU No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara :
1) Pasal 1(6) menjelaskan bahwa Piutang Negara adalah jumlah uang yang
wajib dibayar kepada Pemerintah Pusat dan/atau hak Pemerintah Pusat
yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat
lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau
akibat lainnya yang sah.
2) Pasal 34 (1) menjelaskan bahwa Setiap pejabat yang diberi kuasa untuk
mengelola pendapatan, belanja, dan kekayaan negara/daerah wajib

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 34 dari 61


mengusahakan agar setiap piutang negara/daerah diselesaikan seluruhnya
dan tepat waktu.
3) Pasal 34 (2) menjelaskan bahwa Piutang negara/daerah yang tidak dapat
diselesaikan seluruhnya dan tepat waktu, diselesaikan menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
b. Keppres No. 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan Dan Belanja Negara Pasal 8 (1) menyatakan antara lain
Departemen/lembaga wajib:
1) mengadakan intensifikasi pemungutan pendapatan negara yang menjadi
wewenang dan tanggung jawabnya.
2) mengintensifkan penagihan dan pemungutan piutang negara.
c. Peraturan Pemerintah (PP) No. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan – Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan paragraf 79
menetapkan bahwa kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu
kejadian atau peristiwa untuk diakui yaitu:
1) Terdapat kemungkinan besar bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan
dengan kejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau
masuk ke dalam entitas pelaporan yang bersangkutan.
2) Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat
diukur atau dapat diestimasi dengan andal.
Hal tersebut mengakibatkan Laporan Keuangan Kejaksaan RI TA 2008
belum menyajikan secara lengkap informasi transaksi tilang yang ada di
Kejaksaan RI.
Hal tersebut disebabkan:
a. Petugas akuntansi pada UAPA, UAPPA-W, serta UAKPA kurang memahami
ketentuan pencatatan dan pelaporan transaksi tilang dhi. tilang verstek, uang
titipan tilang pada Giro I, II, dan III.
b. Petugas Pidum pada kejari di lingkungan Kejaksaan RI tidak cermat dalam
melakukan tupoksinya berkaitan dengan penanganan tilang, kurang
berkoordinasi dengan Bank BRI terkait dengan rekening penampungan Giro I
dan Giro III, dan tidak memberikan informasi kepada petugas akuntansi pada
tingkat UAPA, UAPPA-W, serta UAKPA terkait dengan transaksi tilang.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menjelaskan bahwa penyelesaian
tilang yang diputus verstek sulit karena alamat yang diberikan pelanggar tidak
jelas dan telah dilakukan koordinasi dengan BRI, kepolisian, serta pengadilan
untuk mengalihkan titipan denda tilang pada Giro I ke kas negara.
BPK-RI menyarankan agar Jaksa Agung menginstruksikan Jaksa Agung
Muda Tindak Pidana Umum:
a. Membuat Surat Kesepakatan Bersama (SKB) lanjutan antara Kejaksaan
Agung, Mahkamah Agung, Polri, dan BRI untuk menyelesaikan
permasalahan uang titipan pembayaran denda dan biaya tilang yang

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 35 dari 61


mengendap di kantor-kantor cabang BRI agar segera disetorkan ke Kas
Negara.
b. Melakukan inventarisasi jumlah denda tilang dan biaya perkara yang diputus
secara verstek yang sampai saat ini belum dibayar di seluruh
Kejati/Kejari/Cabjari.
c. Melakukan sosialisasi kepada seluruh petugas SAI di lingkungan Kejaksaan
RI tentang pencatatan dan pelaporan piutang denda tilang dalam aplikasi SAI
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

7. Pencatatan dan Pelaporan Aset Tetap Kejaksaan RI Belum Memadai


Dalam Neraca unaudit per 31 Desember 2008, Kejaksaan RI melaporkan
nilai aset tetap sebesar Rp4.153.583.449.725,00 yang terdiri dari :
Kelompok Aset Tetap Saldo (Rp)
Tanah 717.759.328.950,00
Peralatan dan Mesin 1.481.819.071.511,00
Gedung dan Bangunan 1.250.082.764.274,00
Jalan, Irigasi dan Jaringan 9.497.577.231,00
Aset Tetap Lainnya 629.723.795.623,00
Konstruksi Dalam Pengerjaan 64.700.912.136,00
Jumlah 4.153.583.449.725,00

Nilai aset tetap tersebut merupakan konsolidasi nilai aset tetap dari neraca 498
satuan kerja di lingkungan Kejaksaan RI seluruh Indonesia.
Berdasarkan hasil uji petik pada satuan kerja di lingkungan Kejaksaan
Agung, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nanggroe Aceh Darusalam (NAD), Kejati
Jawa Barat, Kejati Sulawesi Utara dan Kejati Yogyakarta diketahui hal-hal
berikut :
a. Kejati NAD
1) Kejati Banda Aceh
Terdapat pengadaan buku perpustakaaan yang belum dilaporkan senilai
Rp7.613.000,00 dan kendaraan roda empat sebanyak 2 unit senilai
Rp31.815.000,00 yang telah dilelang namun belum dihapuskan dari
pencatatan/laporan barang kuasa pengguna.
2) Kejari Jantho
Terdapat mutasi tambah pada peralatan dan mesin sebesar
Rp9.084.409,00 yang belum dicatat.
3) Kejari Sigli
Terdapat aset rusak berat hasil inventarisasi dan penilaian DJKN senilai
Rp30.955.512,00 yang belum direklasifikasi menjadi aset lain-lain.
4) Kejari Banda Aceh

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 36 dari 61


Hasil inventarisasi DJKN/KPKNL belum dijadikan koreksi Laporan
Barang Kuasa Pengguna Tahunan.
Dari 5 (lima) Satker yang diuji petik yaitu Kejari Banda Aceh, Kejari Jantho,
Kejari Sigli, Kejari Kuala Simpang dan Kejati NAD diketahui bahwa saldo
awal yang dilaporkan dalam LBMN per 31 Desember 2008 belum
menggunakan hasil inventarisasi dan penilaian dari DJKN/KPKNL. Dari 23
satuan kerja (Kejati, Kejari dan Cabjari) di wilayah Kejaksaan Tinggi
Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pada saat dilaksanakan pemeriksaan telah
selesai dilakukan inventarisasi dan penilaian oleh DJKN/KPKNL NAD.
Berdasarkan penjelasan petugas SIMAK-BMN Kejati Banda Aceh yang
melakukan penggabungan laporan barang kuasa pengguna wilayah diketahui
bahwa laporan yang dibuat hanya berdasarkan laporan dari kejari di
lingkungan Kejati NAD sebagai bahan penyusunan neraca tingkat wilayah
dan belum menggunakan hasil inventarisasi dan penilaian yang dilaksanakan
atas kerja sama antara satuan kerja dengan DJKN/KPKNL.
Nilai aset tetap Kejati Banda Aceh sebagai UAPPB-W yang dilaporkan ke
Kejaksaan Agung adalah senilai Rp65.927.249.090,00 yang mencakup
seluruh kejari di NAD, sedangkan berdasarkan hasil inventarisasi dan
penilaian oleh DJKN/KPKNL pada 23 satker di lingkungan Kejati NAD
untuk saldo akhir per 31 Desember 2007 sebesar Rp115.665.933.662,41
sehingga terdapat selisih kurang pelaporan sebesar Rp49.738.684.572,41 (
Rp115.665.933.662,00 – Rp65.927.249,00 ).
b. Kejati Jawa Barat
1) Kejati Jawa Barat
a) Terdapat tanah yang digunakan untuk rumah dinas seluas 1.973 m²
yang belum didukung Sertifikat (Tanda Bukti Hak) dan masih dalam
proses pengurusan di BPN.
b) Terdapat Konstruksi dalam Pengerjaan (KDP) senilai
Rp2.823.070.000,00 yang sudah menjadi gedung dan bangunan
namun masih tercatat dalam KDP.
c) Terdapat pengadaan buku perpustakaan senilai Rp23.700.000,00
belum dicatat dalam LBMN.
Nilai saldo per 31 Desember 2007 hasil inventarisasi dan penilaian
DJKN/KPKNL untuk 24 satker di Kejati Jawa Barat sebesar
Rp282.556.538.320,00. Neraca Kejati Jawa Barat sebagai UAPPB-W
saldo per 31 Desember 2008 sebesar Rp221.159.256.958,00. Dari data
tersebut diketahui bahwa terjadi selisih kurang mencatat untuk saldo per
31 Desember 2008 minimal sebesar Rp61.397.281.362,00
(Rp282.556.538.320,00 – Rp221.159.256.958,00)
2) Kejari Kuningan
a) Kejari Kuningan belum melakukan koreksi sebesar
Rp226.838.600,00 pada aset tetap lainnya yang sebenarnya telah
dikoreksi oleh DJKN.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 37 dari 61


b) Terdapat penambahan 1 (satu) unit kendaraan tahanan yang berasal
dari Kejagung yang belum dicatat dalam LBMN senilai
Rp109.657.000,00.
3) Kejari Purwakarta
a) Kejari Purwakarta belum melakukan koreksi atas saldo awal
berdasarkan hasil inventarisasi dan penilaian dari DJKN/KPKNL.
b) Pengadaan buku perpustakaan belum dicatat dalam LBMN senilai
Rp11.999.750,00
c) Terdapat kelebihan pencatatan tanah seluas 1.785 m² dibandingkan
dengan luas menurut sertipikat.
4) Kejari Cikarang
a) Terdapat pencatatan tanah yang bukan milik Kejari Cikarang senilai
Rp154.800.000,00 dan terdapat aset berupa gedung dan bangunan
yang belum dicatat senilai Rp1.303.942.800,00.
b) Satu unit mobil tahanan milik Pemerintah Kabupaten Bekasi senilai
Rp315.916.200,00 dicatat sebagai aset milik Kejari Cikarang.
c) Hasil inventarisasi dan penilaian dari DJKN/KPKNL sebesar
Rp3.084.474.231,00 belum dicatat sebagai saldo awal aset tetap.
5) Kejari Garut
a) Hasil inventarisasi dan penilaian dari DJKN/KPKNL sebesar
Rp4.890.486.000,00 belum dicatat sebagai saldo awal aset tetap.
b) Pengadaan buku untuk perpustakaan senilai Rp12.000.000,00 belum
dicatat dalam LBMN.
6) Kejari Bale Bandung
Terdapat pengadaan buku untuk perpustakaan senilai Rp11.988.000,00
belum dicatat dalam LBMN.
7) Kejari Bandung
a) Terdapat kendaraan milik Pemerintah Kota Bandung yang dicatat
dalam LBMN senilai Rp95.000.000,00.
b) Terdapat barang rusak berat senilai Rp48.351.000,00 yang belum
diusulkan untuk dihapuskan dan belum direklasifikasi ke dalam aset
lain lain.
8) Kejari Bekasi
a) Barang yang sudah tidak ditemukan pada saat inventarisasi dan
penilaian oleh DJKN/KPKNL namun masih dilaporkan dalam
LBMN senilai Rp44.599.875,00.
b) Terdapat barang rusak berat yang belum diusulkan untuk dihapuskan
dan belum direklasifikasi senilai Rp85.265.475,00.
9) Kejari Cirebon

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 38 dari 61


a) Hasil inventarisasi dan penilaian dari DJKN/KPKNL sebesar
Rp14.791.865.996,00 belum dikoreksi.
b) Terdapat pengadaan peralatan kantor tahun 2008 belum dicatat dalam
LBMN senilai Rp12.000.000,00.
c) Terdapat kendaraan sebanyak 1 unit yang dipinjam dari Kejati
Bandung masih dicatat dalam LBMN senilai Rp136.000.000,00.
10) Kejari Indramayu
Hasil inventarisasi dan penilaian dari DJKN/KPKNL sebesar
Rp6.044.540.100,00 belum dikoreksi.
11) Kejari Sumber
Hasil inventarisasi dan penilaian dari DJKN/KPKNL sebesar
Rp4.299.694.760,00 belum dikoreksi.
c. Kejati Sulawesi Utara
1) Kejati Sulut
a) Terdapat pengadaan buku perpustakaan sebesar Rp46.900.000,00
belum dikapitalisasi sebagai Aset Tetap Lainnya.
b) Peralatan komputer saldo 1 Januari 2008 masuk ke akun Aset Tetap
Lainnya seharusnya direklasifikasi ke akun Peralatan dan Mesin
sebesar Rp339.500.000,00.
c) Terdapat perbedaan luas tanah antara jumlah dalam sertifikat (12.082
m2 tidak diketahui besaran nilainya) dengan laporan dalam SIMAK
BMN (25.130 m2 senilai Rp3.296.677.799,00).
d) Dropping dari Kejaksaan Agung RI untuk pengadaan tahun 2008
berupa UPS sebanyak 5 unit senilai Rp26.326.713,00 belum
dikapitalisasi sebagai aset tetap (BA. No. XXVIII-01-
Baserah/XII/2008 tgl. Feb-09 ).
e) Kurang tercatat dalam akun Irigasi sebesar Rp41.400.000,00 (terdiri
dari biaya konsultan perencana sebesar Rp25.000.000,00 dan biaya
konsultan pengawas sebesar Rp16.400.000,00).
2) Kejari Tomohon
a) Terdapat pengadaan buku perpustakaan sebesar Rp10.000.000,00
belum dikapitalisasi sebagai Aset Tetap Lainnya.
b) Peralatan komputer saldo 1 Januari 2008 masuk ke akun Aset Tetap
Lainnya seharusnya direklasifikasi ke akun Peralatan dan Mesin
sebesar Rp72.000.000,00.
c) Terdapat perbedaan kuantitas tanah antara jumlah sertifikat (2.080m2
tidak diketahui besaran nilainya) dengan laporan dalam Simak BMN
(11.040 m2 senilai Rp202.000.000,00).
d) Dropping dari Kejaksaan Agung RI untuk pengadaan tahun 2008
berupa UPS sebanyak 2 unit senilai Rp10.860.685,00 belum

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 39 dari 61


dikapitalisasi sebagai aset tetap (BA.No. XXVIII-01-
Baserah/XII/2008 tgl. 6/1-2009).
e) Pengadaan kendaraan tahanan sebanyak 1 unit hasil Dropping dari
Kejaksaan Agung RI tahun 2007 kurang tercatat sebesar
Rp47.771.000,00.
f) Hasil Inventarisasi BMN oleh DJKN untuk akun tanah belum dinilai
dengan harga wajar.
3) Kejari Tondano
a) Peralatan Komputer saldo 1 Januari 2008 dan pengadaan Tahun 2008
masuk ke akun Aset Tetap Lainnya seharusnya direklasifikasi ke
akun Peralatan dan Mesin sebesar Rp47.645.000,00.
b) Terdapat perbedaan kuantitas tanah antara jumlah sertifikat (4.819
m2 tidak diketahui besaran nilainya) dengan laporan dalam SIMAK
BMN (5.617 m2 senilai Rp139.394.000,00).
c) Dropping dari pusat untuk pengadaan tahun 2008 berupa UPS
sebanyak 2 unit senilai Rp10.860.685,00 belum dikapitalisasi sebagai
asset tetap (BA.No.XXVIII-01-Baserah/XII/2008 tgl. 5/1-2009).
d) Hasil Inventarisasi BMN oleh DJKN untuk akun tanah belum dinilai
dengan harga wajar.
4) Kejari Bitung
a) Terdapat pengadaan buku perpustakaan sebesar Rp10.000.000,00
belum dikapitalisasi sebagai Aset Tetap Lainnya.
b) Peralatan komputer saldo 1 Januari 2008 masuk ke akun Aset Tetap
Lainnya seharusnya direklasifikasi ke akun Peralatan dan Mesin
sebesar Rp5.500.000,00.
c) Terdapat perbedaan kuantitas tanah antara jumlah sertifikat (5.457m2
tidak diketahu besaran nilainya) dengan laporan dalam SIMAK BMN
(4.658 m2 senilai Rp165.900.000,00).
d) Dropping dari Kejaksaan Agung RI untuk pengadaan tahun 2008
berupa UPS sebanyak 2 unit dan tidak diketahui besaran nilainya dan
belum dikapitalisasi sebagai aset tetap (BA.No. XXVIII-01-
Baserah/XII/2008 tgl. 30/12-08)
5) Kejari Amurang
a) Terdapat pengadaan buku perpustakaan sebesar Rp10.000.000,00
belum dikapitalisasi sebagai Aset Tetap Lainnya.
b) Peralatan komputer saldo 1 Januari 2008 masuk ke akun Aset Tetap
Lainnya seharusnya direklasifikasi ke akun Peralatan dan Mesin
sebesar Rp54.580.000,00.
c) Pertambahan nilai tanah seluas 10.000 m2 senilai Rp50.000.000,00
dari hasil hibah pemda setempat belum bisa dimasukkan dalam

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 40 dari 61


pencatatan aset Kejari karena belum ada sertifikat dan BA Hibah,
dan belum diungkapkan di CALK
d) Dropping dari pusat untuk pengadaan tahun 2008 berupa UPS
sebanyak 2 unit senilai Rp10.860.685,00 belum dikapitalisasi sebagai
aset tetap (BA. No.XXVIII-01-Baserah/XII/2008 tgl.5/1-2009).
e) Hasil Inventarisasi BMN oleh DJKN untuk akun tanah belum dinilai
dengan harga wajar.
6) Kejari Manado
a) Peralatan komputer saldo 1 Januari 2008 masuk ke akun Aset
Tetap Lainnya seharusnya direklasifikasi ke akun Peralatan dan
Mesin sebesar Rp20.393.700,00.
b) Dropping dari Kejaksaan Agung RI untuk pengadaan tahun 2008
berupa UPS sebanyak 3 unit senilai Rp15.796.028,00 dan belum
dikapitalisasi sebagai aset tetap (BA.XXVIII-01-Baserah/XII/2008
tgl.30/12-08 ).
d. Kejati Daerah Istimewa Yogyakarta
1) Kejati DIY
a) Hasil Inventarisasi BMN oleh DJKN untuk akun tanah belum dinilai
dengan harga wajar.
b) Dropping dari Kejaksaan Agung RI untuk pengadaan tahun 2008
berupa UPS sebanayak 5 unit senilai Rp25.501.713 belum
dikapitalisasi sebagai aset tetap (BA. No. XXVIII-01-
Baserah/XII/2008 tgl. 30/12-2008).
2) Kejari Bantul
a) Hasil Inventarisasi BMN oleh DJKN untuk akun tanah belum dinilai
dengan harga yang wajar.
b) Dropping dari Kejaksaan Agung RI pengadaan tahun 2008 berupa
UPS sebanyak 2 unit senilai Rp10.365.685,00 belum dikapitalisasi
sebagai aset tetap (BA. No. XXVIII-01-Baserah/XII/2008 tgl. 30/12-
2008).
c) Pengadaan buku perpustakaan sebesar Rp3.000.000,00 belum
dikapitalisasi sebagai Aset Tetap Lainnya.
3) Kejari Wonosari
a) Terdapat pengadaan barang inventaris kantor Tahun 2008 kurang
tercatat dalam laporan SIMAK-BMN sebesar Rp161.190.822,00.
b) Dropping dari Kejaksaan Agung RI untuk pengadaan tahun 2008
berupa UPS sebanyak 2 unit senilai Rp10.420.685,00 belum
dikapitalisasi sebagai aset tetap (BA. 30/12-2008).
c) Hasil Inventarisasi BMN oleh DJKN untuk akun tanah belum dinilai
dengan harga wajar.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 41 dari 61


4) Kejari Sleman
a) Hasil inventarisasi BMN oleh DJKN untuk akun tanah belum dinilai
dengan harga yang wajar.
b) Dropping dari Kejaksaan Agung RI berupa satu unit kendaraan
tahanan senilai Rp280.757.000,00 belum dikapitalisasi.
c) Dropping dari Kejaksaan Agung RI untuk pengadaan tahun 2008
berupa UPS sebanyak 3 unit senilai Rp15.548.528,00 belum
dikapitalisasi sebagai aset tetap (BA.No. XXVIII-01-
Baserah/XII/2008 tgl. 30/12-2008).
d) Pengadaan buku perpustakaan sebesar Rp3.000.000,00 belum
dikapitalisasi sebagai Aset Tetap Lainnya.
5) Kejari Wates
a) Terdapat pengadaan buku perpustakaan sebesar Rp3.000.000,00
belum dikapitalisasi sebagai Aset Tetap Lainnya.
b) Hasil Inventarisasi BMN oleh DJKN untuk akun tanah belum dinilai
dengan harga wajar.
6) Kejari Yogyakarta
a) Dropping dari Kejaksaan Agung RI untuk pengadaan tahun 2008
berupa UPS senilai Rp15.301.028,00 sebanyak 3 unit belum
dikapitalisasi sebagai aset tetap (BA. No.XXVIII-01-
Baserah/XII/2008 tgl. 30/12-2008).
b) Hasil pengadaan Dropping dari Kejaksaan Agung RI berupa satu unit
kendaraan tahanan senilai Rp280.757.000,00 belum dikapitalisasi.
c) Pengadaan buku perpustakaan sebesar Rp3.000.000,00 belum
dikapitalisasi sebagai Aset Tetap Lainnya.
d) Belanja modal pekerjaan fisik pembangunan gedung kantor senilai
Rp2.372.094.750,00 belum dikapitalisasi sebagai aset tetap.
e) Belanja barang peralatan mesin senilai Rp155.293.000,00 belum
dikapitalisasi sebagai aset tetap.
e. Satker Kejaksaan Agung
1) Inventarisasi dan penilaian yang dilakukan DJKN bersama tim Kejaksaan
Agung belum diperoleh hasilnya oleh Tim BPK sampai dengan saat
pemeriksaan berakhir pada 8 April 2009.
2) Nilai aset tanah di Kejaksaan Agung yang dilaporkan dalam Neraca
Kejaksaan Agung per 31 Desember 2008 sebesar Rp97.840.000,00
sedangkan luas tanah yang dimiliki di Jl. Ragunan/Harsono RM, Jl.
Hasannudin dan Lebakbulus berdasarkan sertifikat mencapai 139.263 m².
3) Terdapat belanja modal tahun 2008 yang belum di-input kedalam aplikasi
SIMAK BMN berupa peralatan dan mesin senilai Rp40.222.557.020,00

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 42 dari 61


dan gedung dan bangunan senilai Rp110.235.545.637,00 sehingga belum
tercatat di Neraca Kejagung per 31 Desember 2008.
Penambahan tersebut antara laian berupa pekerjaan-pekerjaan gedung
dan bangunan senilai Rp14.659.494.899,00, dengan rincian sebagai
berikut:
No. Uraian Pekerjaan Nilai Pekerjaan (Rp)

1 Rehab gedung untuk satgas di Ceger Rp 9.530.167.700,00

2 Rekondisi lift gedung perpustakaan Rp 1.010.000.000,00.

3 Rehab gedung Pengawasan Rp 1.272.779.000,00.

4 Perluasan gedung Pidsus Rp 1.092.753.200,00.

5 Rehab ruang kerja Kabid Hubmednas & Rp 194.412.000,00.


Press Room

6 Pemasangan expantion joint gedung utama Rp 572.473.000,00.

7 Rehab kamar kecil lt. 1 s.d lt. 6 Rp 194.100.000,00.

8 Rehab ruang Dir Sospol dan Kasubdit Rp 141.731.000,00.


Pakem

9 Rehab rumah dinas Jampidsus Rp 398.079.000,00.

10 Rehab Sekretariat Komisi Kejaksaan Rp 252.999.999,00.

Jumlah Rp 14.659.494.899,00

4) Laporan Barang Pembantu Kuasa Pengguna Tahunan (LBPKPT)


UAPKPB per 31 Desember 2008 mencatat nilai Peralatan dan Mesin
sebesar Rp79.039.837.518,00, nilai tersebut belum termasuk nilai
kendaraan dinas roda empat sebanyak 168 unit senilai
Rp17.770.300.000,00 dan roda dua sebanyak 179 unit minimal senilai
Rp1.184.800.000,00. Nilai Peralatan dan Mesin pada Laporan Posisi
Barang milik Negara di Neraca per 31 Desember 2008 sebesar
Rp35.695.924.858,00 namun nilai Laporan Neraca tersebut tidak
didukung rincian. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa nilai laporan
tersebut tidak dapat diyakini kebenarannya.
5) Terdapat pengadaan aset tahun 2007 dan 2008 oleh Biro Perencanaan
yang langsung didistribusikan ke kuasa pengguna barang berupa laptop,
kendaraan tahanan, UPS, meubelair, mesin penghancur kertas tanpa
berkoordinasi dengan Biro Perlengkapan maupun Biro Umum sebagai
unit yang memiliki tupoksi melakukan inventarisasi dan distribusi di
Kejaksaan Agung. Hal ini menyulitkan dalam pencatatan untuk bahan
pembuatan Laporan Barang Pembantu Kuasa Pengguna Tahunan
(LBPKPT) dengan menggunakan aplikasi SIMAK-BMN. Hal ini
menimbulkan resiko terhadap pengamanan aset karena tidak adanya
pencatatan dan pemberian nomor inventarisasi pada setiap aset tersebut.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 43 dari 61


6) Laptop yang dikirimkan ke Kejari-Kejari untuk digunakan oleh para
jaksa baru lulusan tahun 2008 sebanyak 450 unit senilai
Rp9.409.034.000,00 dan Laptop sebanyak 50 unit senilai
Rp950.950.000,00 yang dikirimkan ke Kejati-Kejati telah dicatat dalam
LBPKPT UAPKPB 5016.000 Jaksa Agung Muda Pembinaan, namun
dalam surat Kepala Biro Perencanaan No. B-006/C.2/Cr.2/01/2008
tanggal 8 Januari 2009 perihal Distribusi Laptop yang ditujukan kepada
Kepala Kejati Sumatera Selatan yang tembusannya disampaikan kepada
Kepala Kejati seluruh Indonesia dinyatakan bahwa laptop yang dibagikan
kepada jaksa baru lulus tahun 2008 untuk dicatat dalam Daftar Inventaris
Kejari tersebut. Surat ini menimbulkan potensi terjadi dua kali pencatatan
untuk satu jenis aset, apabila Kejaksaan Agung belum mengeluarkan dari
LBPKPT sementara satker penerima telah mencatat sebagai tambahan
aset tetap.
f. Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) yang dilaporkan dalam Neraca
Kejaksaan RI tahun 2008 belum memasukkan seluruh nilai KDP yang ada
pada seluruh satker di lingkungan Kejaksaan RI. Nilai konsolidasi dari neraca
satuan kerja yang mengirimkan laporan ke Kejaksaan Agung baru sebesar
Rp64.700.912.136,00.
Dari data pendukung berupa Neraca Satuan Kerja yang yaang diperoleh Tim
BPK tanggal 13 Maret 2009 menunjukkan saldo KDP sebesar
Rp65.503.087.136,00 yang berasal dari satker-satker berikut:
No. Nama Satker Nilai KDP (Rp)
1. KN. Lewoleba 150.727.200,00
2. KN. Curup 249.610.650,00
3. KN. Manna 43.066.189,00
4. KN. Bintuhan 22.000.000,00
5. KT. Kepulauan Riau 9.018.128.592,00
6. KT. Jawa Timur dan SKPA 55.363.068.950,00
7. KN. Lhoksukon 656.485.555,00
Jumlah 65.503.087.136,00

Sementara itu masih terdapat satker di lingkungan Kejaksaan RI yang belum


melaporkan KDP yaitu :
1) Kejari Kuala Simpang sebesar Rp2.619.092.000,00.
2) Kejaksaan Agung sebesar Rp5.839.869.000,00.
g. Satuan kerja di lingkungan Kejaksaan RI belum seluruhnya mengirimkan
Laporan Barang Kuasa Pengguna ke Kejaksaan Agung.
Satuan kerja di lingkungan Kejaksaan RI seluruh Indonesia sebanyak 498
unit yang terdiri dari Kejaksaan Tinggi, Kejaksaan Negeri dan Cabang
Kejaksaan Negeri serta Perwakilan Kejaksaan Agung RI di Hongkong dan
Bangkok.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 44 dari 61


Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan oleh Bagian Analisa dan
Kebutuhan diketahui bahwa dalam tahun anggaran yang berakhir pada
tanggal 31 Desember 2008 dari seluruh satker yang ada tersebut sebanyak
133 satuan kerja pada 17 Kejaksaan Tinggi (Kejati) belum mengirimkan
laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran maupun Tahunan kepada Unit
Akuntansi Pengguna Barang (UAPB) Kejaksaan RI yang akan melakukan
konsolidasi laporan untuk mendapatkan saldo aset tetap Kejaksaan RI tahun
2008.
Rincian satker yang belum/tidak mengirimkan laporan adalah sebagai
berikut:
No. Nama Wilayah Satker Satker yang tidak
mengirim
1. Kejati DKI Jakarta 6 6
2. Kejati Jawa Timur 36 13
3. Kejati NAD 23 7
4. Kejati Sumatera Utara 36 16
5. Kejati Sumatera Barat 22 8
6. Kejati Riau 13 7
7. Kejati Kepulauan Riau 8 2
8. Kejati Jambi 13 8
9. Kejati Sumatera Selatan 15 1
10. Kejati Lampung 15 5
11. Kejati Sulawesi Tengah 23 13
12. Kejati Sulawesi Selatan 32 1
13. Kejati Sulawesi Barat 4 1
14. Kejati Maluku 13 13
15. Kejati Nusa Tenggara Timur 19 8
16. Kejati Papua 11 11
17. Kejati Maluku Utara 9 9
18. Kejati Bangka Belitung 7 4
Jumlah 290 133

Hal ini menyulitkan pihak UAPA Kejaksaan RI untuk melaporkan secara


lengkap jumlah dan saldo aset tetap yang berada dalam penguasaan/
pengelolaan Kejaksaan RI.
Kondisi seperti tersebut di atas telah terjadi sejak tahun 2007 dan hasil review
dari Inspektorat Keuangan, Perlengkapan dan Proyek Pembangunan sebagai
satuan pengawasan intern tertanggal 17 Februari 2009 antara lain menyatakan
bahwa saldo aktiva tetap yang disajikan tidak dapat diyakini keandalannya
karena:
a. Terdapat perbedaan saldo awal per 1 Januari 2008 untuk data BMN hasil
olahan aplikasi SIMAK BMN antara pembukuan Departemen Keuangan
dengan data laporan BMN Kejaksaan Agung RI, yang disebabkan oleh
terdapatnya satker yang sebelumnya tidak melaporkan Laporan BMN
Semester I dan baru melaporkan Semester II.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 45 dari 61


b. Belum dilakukannya rekonsiliasi rutin dan periodik antara Belanja Modal
yang diselenggarakan oleh Kaur/Biro Keuangan dengan data Aset Tetap yang
diselenggarakan oleh Kaur/Biro Perlengkapan.
c. Adanya Unit Akuntansi Pengguna Barang Wilayah (UAPBW) Kejati
yang tidak menyampaikan laporan sebanyak 4 UAPBW serta nilai Aset Lain-
Lain belum mencakup saldo denda dan biaya perkara.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Undang Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara Pasal 44
menyatakan Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang wajib
mengelola dan menatausahakan barang milik negara/daerah yang berada
dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.
b. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK.05/2007
tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat, Bab I
Ketentuan Umum Bagian Kesatu Pengertian antara lain menyatakan :
1) Pasal 1:
a) Angka 12. Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang
Milik Negara, yang selanjutnya disingkat SIMAK-BMN, adalah
subsistem dari SAI yang merupakan serangkaian prosedur yang
saling berhubungan untuk mengolah dokumen sumber dalam rangka
menghasilkan informasi untuk penyusunan neraca dan laporan BMN
serta laporan manajerial lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.
b) Angka 14. Sistem Pengendalian Intern adalah suatu proses yang
dipengaruhi oleh manajemen yang diciptakan untuk memberikan
keyakinan yang memadai dalam pencapaian efektivitas, efisiensi,
ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan
keandalan penyajian laporan keuangan pemerintah.
2) Pasal 18 – Sistem Akuntansi Instansi (SAI) menetapkan antara lain
bahwa:
a) Setiap Kementerian Negara/Lembaga wajib menyelenggarakan SAI
untuk menghasilkan laporan keuangan termasuk Bagian Anggaran
Pembiayaan dan Perhitungan.
b) SAI terdiri dari SAK, SIMAK-BMN, SA-BAPP.
c) Untuk melaksanakan SAI sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Kementerian Negara/Lembaga wajib membentuk Unit Akuntansi
yang terdiri dari UAPA/B, UAPPB-E1,UAPPB-W dan UAKPB.
3) Pasal 36:
a) ayat 1 menetapkan bahwa UAPPB-W menyusun Daftar Barang
Pembantu Pengguna Wilayah (DBPP-W), Laporan Barang Pembantu
Pengguna Wilayah Semesteran (LBPP-WS), Laporan Barang
Pembantu Pengguna-Wilayah Tahunan (LBPP-WT), dan
daftar/laporan manajerial lainnya tingkat wilayah berdasarkan hasil
penggabungan Laporan BMN seluruh UAKPB di wilayah kerjanya.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 46 dari 61


b) ayat 5 menetapkan dalam rangka meyakini keandalan Laporan BMN
dan laporan keuangan tingkat wilayah, UAPPB-W melakukan
rekonsiliasi internal dengan UAPPA-W.
4) Pasal 37:
(1) ayat 1 menetapkan bahwa UAPPB-E1 menyusun Daftar Barang
Pembantu Pengguna Eselon I DBPP-E1), Laporan Barang
Pembantu Pengguna Eselon I Semesteran (LBPP-E1S), Laporan
Barang Pembantu Pengguna Eselon I Tahunan (LBPP-E1T), dan
daftar/laporan manajerial lainnya tingkat Eselon I berdasarkan
hasil penggabungan Laporan BMN seluruh UAPPB-W di
wilayah kerjanya, termasuk UAPPB-W Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan serta UAKPB yang langsung berada dibawahnya.
(2) ayat 3 dalam rangka menyakini keandalan laporan BMN dan
Laporan Keuangan tingkat Eselon I, UAPPB-E1 melakukan
rekonsiliasi internal dengan UAPPA-E1.
c. Lampiran III – SAI menyebutkan antara lain bahwa:
1) Unit-unit akuntansi instansi melaksanakan fungsi akuntansi dan
pelaporan keuangan atas pelaksanaan anggaran sesuai dengan tingkat
organisasinya.
2) Data akuntansi dan laporan keuangan secara berkala disampaikan kepada
unit akuntansi di atasnya. Data akuntansi dan laporan keuangan dimaksud
dihasilkan oleh SAK dan SABMN yang dikompilasi.
3) UAKPA melakukan pemprosesan data mulai dari menerima dan
memverifikasi dokumen sumber dan ADK BMN, perekaman dokumen
sumber, baik penerimaan maupun pengeluaran APBN. Kemudian
melakukan proses posting untuk menghasilkan Laporan Realisasi
Anggaran (LRA) dan Neraca.
Hal tersebut mengakibatkan Saldo aset tetap dalam Neraca Kejaksaan RI
tahun 2008 belum menyajikan secara lengkap nilai aset tetap yang dimiliki oleh
Kejaksaan RI dan sulit diyakini kewajarannya
Hal tersebut disebabkan:
a. Pelaksana/petugas SIMAK-BMN belum sepenuhnya memahami proses
pelaporan dan penggunaan sistem informasi manajemen akuntansi barang
milik negara sebagai aplikasi pelaporan aset/barang milik negara.
b. Belum dilakukannya rekonsiliasi laporan BMN baik secara intern antara
UAKPB dengan UAKPA maupun dengan DJKN/KPKNL.
c. Koordinasi antara unit kerja yang mengadakan aset dengan yang melakukan
pencatatan dan pelaporan tidak ada.
d. Komitmen kepala satuan kerja selaku kepala entitas akuntansi terhadap
keakuratan pelaporan aset yang menjadi tanggung jawabnya masih rendah.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menjelaskan:

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 47 dari 61


a. Sebagian satker belum memperoleh hasil inventarisasi dan penilaian aset
tetap dari DJKN, dan diharapkan hasil inventarisasi dilaporkan dalam
Laporan Semester I tahun 2009.
b. Pengadaan barang tahun 2008 yang belum dilaporkan di satker 005016 akan
segera dicatat dan dilaporkan dalam Laporan Semester I tahun 2009.
c. Di tingkat Kejaksaan Agung RI, aset tetap yang belum dilaporkan menunggu
hasil inventarisasi dan penilaian dari DJKN.
d. Pengadaan laptop tahun 2008 untuk jaksa baru senilai Rp9.409.034.000,00
akan ditransfer keluar, sehingga dalam Laporan Semester I tidak akan terjadi
dua kali pencatatan.
BPK-RI menyarankan agar Jaksa Agung memerintahkan Jaksa Agung Muda
Bidang Pembinaan:
a. Melakukan rekonsiliasi rutin dan periodik antara Belanja Modal yang
diselenggarakan oleh Kaur/Biro Keuangan dengan data Aset Tetap yang
diselenggarakan oleh Kaur/Biro Perlengkapan.
b. Berkoordinasi dengan DJKN untuk memasukkan hasil inventarisasi dan
revaluasi didalam aplikasi SIMAK-BMN.
c. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan tentang pegawai negeri kepada
Kepala Satuan Kerja di lingkungan Kejaksaan Agung RI yang belum
membuat laporan BMN secara akurat dan menyampaikan secara tepat waktu.
d. Menegur Pejabat Pembuat Komitmen di lingkungan Kejaksaan Agung RI
yang tidak melaporkan pengadaan yang dilakukannya kepada Biro
Perlengkapan untuk kepentingan inventarisasi BMN.

8. Pengelolaan dan Pelaporan Uang Pengganti Tidak Didukung oleh Sistem


Pengendalian Intern yang Memadai
Dalam perkara tindak pidana korupsi, pengadilan selain menetapkan
hukuman badan dan denda, juga menetapkan hukuman tambahan membayar uang
pengganti kerugian negara yang ditimbulkan sebagai akibat perbuatan melawan
hukum yang dilakukan oleh terpidana. Mekanisme eksekusi hukuman badan,
denda, dan uang pengganti, adalah sebagai berikut:
a. Setelah adanya putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap (incracht),
Jaksa Penuntut Umum (JPU) segera mengeksekusi berdasarkan putusan
tersebut.
b. Eksekusi yang dilakukan JPU diawali dengan pelaksanaan hukuman badan
(penjara) dan kemudian dilanjutkan dengan penagihan atas denda perkara
korupsi dan uang pengganti kepada terpidana.
c. Hukuman denda yang harus dibayar oleh terpidana memiliki klausul dengan
mengganti dengan hukuman badan (subsidair), sehingga eksekusi terhadap
denda lebih merupakan pilihan terpidana untuk membayar atau menggantinya

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 48 dari 61


dengan hukuman badan apabila yang bersangkutan tidak mampu untuk
membayar.
d. Sedangkan hukuman uang pengganti memiliki beberapa syarat khusus karena
terdapat perlakuan yang berbeda terkait perubahan Undang-Undang (UU)
Nomor 3 Tahun 1971 dengan UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
e. Terhadap perkara yang diputus berdasarkan UU Nomor 3 Tahun 1971 satu-
satunya cara penyelesaiannya adalah dengan membayarnya. Jika terpidana
tidak mau membayar dan dari hasil pengamatan JPU masih memiliki harta
yang dapat disita dapat dilakukan tuntutan perdata untuk memulihkan
kerugian negara, namun jika terpidana memang tidak mampu membayar bisa
diajukan penghapusan uang pengganti.
f. Berdasarkan UU No. 31 Tahun 1999 pasal 18 ayat (2), langkah pertama yang
harus dilakukan oleh JPU dalam mengeksekusi pembayaran uang pengganti
adalah melakukan penagihan kepada terpidana. Jika terpidana tidak
membayar uang pengganti paling lama dalam waktu 1 bulan setelah putusan
pengadilan berkekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh
JPU dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Selanjutnya ayat
(3) menetapkan bahwa dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda
yang mencukupi untuk membayar maka dipidana dengan Pidana Penjara
yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya
sesuai dengan ketentuan dalam UU ini dan lamanya pidana tersebut sudah
ditentukan dalam putusan pengadilan.
g. Pembayaran oleh terpidana atas uang pengganti yang dibebankan kepadanya
akan mengurangi tagihan uang pengganti sebesar pembayaran yang
dilakukan, namun khusus perkara yang diputus berdasarkan UU Nomor 31
Tahun 1999 jika terpidana mengganti beban tagihan uang pengganti dengan
menjalani pidana penjara, uang pengganti baru dinyatakan selesai apabila
terpidana juga telah selesai menjalani pidana subsidair tersebut.
Tagihan uang pengganti pada Kejaksaan RI dicatat sebagai Aset Lain-Lain
dalam Neraca (Unaudited) per 31 Desember 2008 sebesar
Rp7.709.390.588.719,55.
Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern (SPI) terkait pengelolaan dan
pelaporan uang pengganti di Kejaksaan RI menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Ukuran dari organisasi Kejaksaan RI yang besar, berkisar pada 498 satuan
kerja (satker) di seluruh wilayah Indonesia membutuhkan pengawasan yang
lebih untuk memastikan akurasi data uang pengganti yang disajikan dalam
LK Kejaksaan RI.
b. Komunikasi di Kejaksaan yang masih menggunakan surat (manual) melalui
jasa kiriman dan sistem informasi yang pengolahannya masih manual
menimbulkan potensi ketidakakuratan dan kelambatan penyampaian laporan
akibat kesalahan manusia (human error) dalam menginput data.
c. Pengadministrasian yang kurang tertib atas data-data lama mengakibatkan
sulitnya melakukan penelusuran (tracing) atas data uang pengganti yang

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 49 dari 61


berasal dari perkara lama untuk menjamin kelengkapan pelaporan, antara lain
dengan adanya register putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
(RP-12) dan putusan lama terkait adanya pidana tambahan uang pengganti
yang tidak diketahui keberadaannya.
d. Koordinasi yang masih lemah dalam hal diseminasi informasi antara bagian-
bagian yang terlibat dalam pengelolaan uang pengganti mulai dari turunnya
putusan incracht yang menimbulkan tagihan, pelunasan oleh terpidana,
sampai kepada pencatatan mutasi tagihan dan pelaporan dalam Laporan
Keuangan. Pelaksanaan eksekusi dilaksanakan oleh Unit Pidsus sedangkan
pencatatan dan pelaporan merupakan tugas dari Bagian Pembukuan dan
Verifikasi.
e. Belum adanya prosedur yang memadai dan dibakukan oleh Kejaksaan Agung
yang dapat menjamin akurasi data dalam pelaporan uang pengganti dalam
LK Kejaksaan. Hal ini terlihat dengan kondisi sebagai berikut:
1) Laporan uang pengganti belum terintegrasi dengan SAI, dan baru laporan
manual kepada tingkat diatasnya dan kemudian dari Jampidsus
menyerahkan laporan uang pengganti kepada Jambin sebagai unit
pelaporan untuk mencantumkan dalam LK Kejaksaan.
2) Laporan uang pengganti dan perkembangan tidak dilaporkan secara
periodik namun bersifat insidental sesuai dengan ada atau tidaknya
permintaan data dari Kejaksaan Agung.
3) Uang pengganti yang diganti dengan subsidair belum diatur secara baku
dan jelas bagaimana dan kapan uang pengganti akan dianggap lunas dan
dihapus dari pembukuan.
4) Uang pengganti dengan tingkat ketertagihan yang rendah dan berlarut-
larut tanpa penyelesaian tidak diklasifikasikan secara khusus serta belum
dibuat petunjuk baku yang memadai yang dapat dijadikan pedoman oleh
setiap unit akuntansi dan pelaporan dalam mengelola uang pengganti
yang telah bertahun-tahun tidak tertagih.
f. Belum dilakukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang memadai dalam
struktur organisasi Kejaksaan RI untuk mengurangi risiko penyimpangan
(fraud). Unit yang bertanggung jawab dalam pengelolaan uang pengganti
dilakukan oleh subseksi penuntutan pada seksi pidsus masing-masing Kejari
yang melaksanakan kegiatan penuntutan, upaya hukum, eksekusi
(penagihan), dan pelaporan pelaksanaan eksekusi uang pengganti sekaligus.
Pemeriksaan lebih lanjut atas saldo uang pengganti pada Jampidsus
Kejaksaan Agung RI, Kejati DKI Jakarta, Kejati Jawa Barat, Kejati DI
Yogyakarta, Kejati Nanggroe Aceh Darussalam, dan Kejati Sulut menunjukkan
hal-hal sebagai berikut:
a. Saldo yang disajikan oleh Kejaksaan Agung RI dhi. Jampidsus sebesar
Rp7.709.390.588.719,55 sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 8
April 2009 tidak dapat dijelaskan oleh Kejaksaan RI dari wilayah (Kejati)
atau satker (Kejari) mana saldo tersebut berasal, karena saldo tersebut

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 50 dari 61


dihasilkan dari penjumlahan manual secara global atas laporan yang
dikirimkan oleh Kejati.
b. Pernah dilakukan verifikasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP) terhadap uang pengganti yang dikelola Kejaksaan,
namun dengan sistem pengendalian intern yang masih lemah mengakibatkan
hasil verifikasi tidak dipergunakan dengan optimal untuk mendukung
pelaporan uang pengganti yang akurat.
c. Belum adanya petunjuk pencatatan transaksi uang pengganti dalam Sistem
Akuntansi Instansi (SAI) dari Departemen Keuangan.
d. Belum adanya konsolidasi yang optimal antara Unit Tindak Pidana Khusus
(Pidsus) sebagai unit yang mengeksekusi dan melaporkan uang pengganti
dan Unit Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) sebagai unit yang
melakukan eksekusi perdata bila Pidsus tidak mampu menyelesaikan
penagihan, dengan Unit Pembinaan yang berperan dalam pelaporan keuangan
Kejaksaan RI dhi. pelaporan uang pengganti. Disamping itu, uang pengganti
yang telah dilimpahkan dari Pidsus ke Datun masih dilaporkan oleh Pidsus,
dan pada akhirnya laporan Datun tidak dipergunakan sebagai salah satu alat
rekonsiliasi uang pengganti dalam LK Kejaksaan RI.
e. Pemantauan yang kurang memadai atas pengelolaan uang pengganti terutama
dalam pelaporan, karena unit diatas unit yang melaporkan hanya bersifat
kompilasi data namun kurang dilakukan verifikasi atas akurasi data yang
mutakhir.
Seksi Pidsus di masing-masing Kejari membuat laporan uang pengganti
secara insidental dengan adanya permintaan data dari Kejaksaan Agung atau
Kejaksaan Tinggi. Laporan uang pengganti dikirimkan ke Kejaksaan Tinggi
untuk dilakukan kompilasi data seluruh Kejari di wilayahnya. Setelah itu,
laporan uang pengganti dikirimkan ke Kejaksaan Agung dhi. Jampidsus
untuk dikompilasi juga dari seluruh Kejati. Mekanisme tersebut tidak disertai
pengujian terhadap data yang disajikan oleh satker ataupun Kejati, karena
Kejati ataupun Jampidsus hanya berperan sebagai kompilator.
f. Penagihan atas uang pengganti tidak optimal, hal ini terlihat dari uji petik
atas saldo uang pengganti pada Kejati DKI Jakarta (Kejari Jakarta Pusat,
Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara), Kejati Jawa
Barat (Kejari Bandung, Bale Bandung, Garut, Kuningan, Indramayu,
Cirebon, Sumber, Purwakarta, Cikarang, Bekasi), Kejati Nanggroe Aceh
Darussalam (Kejari Banda Aceh, Jantho, Sigli, Kuala Simpang), Kejati
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) (Kejari Yogyakarta, Sleman, Bantul,
Wonosari, Wates), dan Kejati Sulawesi Utara (Kejari Manado, Bitung,
Tondano, Tomohon, Amurang) memiliki umur yang relatif sudah cukup lama
(99,59% telah berumur lebih dari 1 (satu) tahun), dengan rincian sebagai
berikut:

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 51 dari 61


Umur Uang Pengganti Saldo Uang Pengganti (Rp) Persentase
► ≤ 1 th 45.971.916.817,50 0,41%
► 1 th < X ≤ 5 th 2.511.495.620.372,19 22,17%
► 5 th < X ≤ 10 th 7.353.708.208.494,39 64,92%
► > 10 th 1.416.679.657.885,24 12,51%
Jumlah 11.327.855.403.569,32 100,00%
g. Penagihan uang pengganti yang memiliki hukuman subsidair juga
menunjukkan kurangnya upaya penagihan dan sita eksekusi atas harta
terpidana, hal ini terjadi karena JPU mengalami banyak kendala dalam
kegiatan eksekusi antara lain berupa biaya dan personil yang tidak memadai.
Sehingga sebagian langsung menjalani subsidair tanpa upaya sita eksekusi
atas harta yang dimiliki terpidana. Disamping itu, penyelesaian uang
pengganti yang dijalani dengan subsidair tidak dapat diketahui secara baik
perkembangannya dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) tentang kapan
terpidana mulai dan selesai menjalani hukuman subsidair. Sehingga satker
tidak dapat segera mengetahui kapan harus menghapusbukukan uang
pengganti tersebut.
h. Berdasarkan uji petik atas pengelolaan uang pengganti pada Kejati DKI
Jakarta, Jawa Barat, NAD, DIY, dan Sulawesi Utara, diketahui terdapat
perbedaan data antara tingkat satker dan wilayah serta Kejaksaan Agung RI
terkait uang pengganti yang belum tertagih, dengan rincian sebagai berikut:
(dalam jutaan rupiah)
Pencatatan Kejati Kondisi di Kejari Selisih
No. Kejari
Pidsus Datun Pidsus Datun Pidsus Datun
I. KEJATI DKI JAKARTA
1 Jakarta Pusat 3.543.985,33 1.366.678,03 3.831.733,55 3.459.050,75 (287.748,22) (2.092.372,72)
2 Jakarta Selatan 3.414.824,17 0,00 2.586.393,34 49,81 828.430,83 (49,81)
3 Jakarta Barat 1.298.543,91 600,00 1.384.826,36 600,00 (86.282,44) 0,00
4 Jakarta Timur 50,00 5.392,08 0,00 7.241,48 50,00 (1.849,40)
5 Jakarta Utara 3.898,82 0,00 6.088,96 8.002,20 (2.190,14) (8.002,20)
Total 8.261.302,23 1.372.670,11 7.809.042,21 3.474.944,24 452.260,03 (2.102.274,13)
II. KEJATI JAWA BARAT
1 Bandung 24.707,69 13.257,02 12.951,90 13.257,02 11.755,79 0,00
2 Bale Bandung 6.814,09 0,00 2.180,02 619,62 4.634,07 (619,62)
3 Garut 2.194,69 5.936,94 0,00 2.024,45 2.194,69 3.912,49
4 Kuningan 1.583,49 1.705,38 30,39 1.578,34 1.553,10 127,05
5 Indramayu 0,00 0,00 0,00 752,91 0,00 (752,91)
6 Cirebon 106,53 150,57 0,00 0,00 106,53 150,57
7 Sumber 933,02 754,88 9,06 798,23 923,96 (43,35)
8 Purwakarta 761,39 700,39 58,12 700,57 703,27 (0,18)
9 Bekasi 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
10 Cikarang 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 37.100,90 22.505,18 15.229,49 19.731,14 21.871,41 2.774,05

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 52 dari 61


(dalam jutaan rupiah)
Pencatatan Kejati Kondisi di Kejari Selisih
No. Kejari
Pidsus Datun Pidsus Datun Pidsus Datun
III. KEJATI NAD
1 Banda Aceh 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
2 Jantho 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
3 Sigli 46,66 0,00 225,67 0,00 (179,01) 0,00
4 Kuala Simpang 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 46,66 0,00 225,67 0,00 (179,01) 0,00
IV. KEJATI DIY
1 Yogyakarta 0,00 1.686,21 0,00 1.686,21 0,00 0,00
2 Sleman 0,00 95,80 220,00 210,80 (220,00) (115,00)
3 Bantul 0,00 383,96 0,00 382,07 0,00 1,89
4 Wonosari 0,00 133,55 8,42 133,55 (8,42) 0,00
5 Wates 0,00 142,63 437,73 192,63 (437,73) (50,00)
Total 0,00 2.442,15 666,15 2.605,26 (666,15) (163,11)
V. KEJATI SULUT
1 Manado 0,00 233,68 0,00 0,00 0,00 233,68
2 Bitung 0,00 5.399,35 0,00 5.399,35 0,00 0,00
3 Tondano 0,00 11,89 0,00 11,89 0,00 0,00
4 Tomohon 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
5 Amurang 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 0,00 5.644,92 0,00 5.411,24 0,00 233,68
Grand Total 8.298.449,79 1.403.262,36 7.825.163,52 3.502.691,88 473.286,28 (2.099.429,51)
Kurs Tengah BI per 31 Desember 2008 1US$ = Rp10.950,00

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah pada Penjelasan Umum Pasal 2 ayat
1 menyebutkan bahwa untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang
efektif, efisien, transparan, dan akuntabel, menteri/pimpinan lembaga,
gubernur, dan bupati/ walikota wajib melakukan pengendalian atas
penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.
b. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 tentang
Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pasal 8 ayat
1 butir (b) menyatakan bahwa Departemen/lembaga wajib mengintensifkan
penagihan dan pemungutan piutang negara.
c. Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor Kep-115/J.A/10/1999
tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan Republik Indonesia
Tanggal 20 Oktober 1999:
1) Pasal 256 menetapkan bahwa Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus
(JAM Pidsus) mempunyai tugas dan wewenang melakukan penyelidikan,
penyidikan, pemeriksaan tambahan, penutupan, pelaksanaan penetapan
hakim dan putusan pengadilan, pengawasan terhadap pelaksaan putusan
lepas bersyarat dan tindakan hukum lain mengenai tindak pidana

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 53 dari 61


ekonomi, tindak pidana korupsi dan tindak pidana khusus lainya
berdasarkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan yang
ditetapkan oleh Jaksa Agung.
2) Pasal 257 menetapkan dalam melaksanakan tugas dan wewenang
sebagaimana dimaksud dalam pasal 256, Jaksa Agung Muda Tindak
Pidana Khusus menyelenggarakan fungsi, antara lain, perencanaan,
pelaksanaan, pemeriksaan tambahan penuntutan, eksekusi atau
melaksanakan penetapan hukum, dan putusan pengadilan, pengawasan
terhadap pelaksaan keputusan lepas bersyarat dan tindakan hukum lain
serta pengadministrasiannya.
3) Pasal 560 menetapkan bahwa Asisten Tindak Pidana Khusus (As Pidsus)
menyelenggarakan fungsi antara lain penghimpunan laporan dari
Kejaksaan Negeri, pengadministrasian, penelitian, dan pengolahan serta
penyiapan laporan kepada pimpinan.
4) Pasal 575 menetapkan bahwa Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara
(As Datun) menyelenggarakan fungsi antara lain pelaksanaan dan
pengendalian gugatan uang pengganti atas putusan pengadilan, gugatan
ganti kerugian untuk menyelamatkan kekayaan negara terhadap
perbuatan yang merugikan keuangan negara.
5) Pasal 643 menetapkan bahwa Seksi Tindak Pidana Khusus (Sie Pidsus)
menyelenggarakan fungsi antara lain pelaksanaan penetapan hakim dan
putusan pengadilan, pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan lepas
bersyarat dan tindakan hukum lain dalam perkara tindak pidana khusus
serta pengadministrasiannya.
d. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK.05/2007
tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat Bagian
III – SAK menyebutkan antara lain bahwa:
1) Unit-unit akuntansi instansi melaksanakan fungsi akuntansi dan
pelaporan keuangan atas pelaksanaan anggaran sesuai dengan tingkat
organisasinya.
2) Data akuntansi dan laporan keuangan secara berkala disampaikan kepada
unit akuntansi di atasnya. Data akuntansi dan laporan keuangan
dimaksud dihasilkan oleh sistem akuntansi keuangan (SAK) dan sistem
informasi manajemen dan akuntansi barang milik negara (SIMAK-BMN)
yang dikompilasi.
Kelemahan SPI dan permasalahan tersebut di atas mengakibatkan saldo
tagihan uang pengganti sebesar Rp7.709.390.588.719,55 dalam Neraca
Kejaksaan RI per tanggal 31 Desember 2008 tidak dapat dinilai kewajarannya.
Hal tersebut disebabkan:
a. Komitmen pimpinan satker terhadap pentingnya pengendalian intern untuk
menjamin keakuratan pengelolaan dan pelaporan uang pengganti yang
menjadi tanggung jawabnya masih rendah.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 54 dari 61


b. Struktur organisasi, prosedur pelaporan, dan sistem informasi uang pengganti
yang ada pada Kejaksaan RI tidak mendukung adanya data pengelolaan uang
yang akurat dan tepat waktu.
c. Standar prosedur baku berupa petunjuk teknis maupun petunjuk pelakanaan
atas pengelolaan, terutama pelaporan, uang pengganti pada Kejaksaan RI
belum ada.
d. Koordinasi dengan Departemen Keuangan dalam pengelolaan tagihan uang
pengganti masih belum memadai.
e. Pengawasan Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) terkait
pengelolaan dan pelaporan uang pengganti masih belum memadai.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menjelaskan:
a. Direktorat Uheksi JAM Pidsus telah bekerjasama dengan BPKP untuk
melakukan penataan pengelolaan dan pelaporan uang pengganti yang berasal
dari kejaksaan negeri seluruh Indonesia.
b. Sasaran penataan pengelolaan dan pelaporan uang pengganti adalah Kejati
DKI Jakarta, karena jumlahnya 90% dari keseluruhan uang pengganti yang
belum ditagih.
c. Untuk jangka pendek sampai menengah pada tahun 2009 diprioritaskan
penyelesaian penagihan uang pengganti dari 4 perkara korupsi, yaitu perkara
Edy Tansil, Dicky Iskandardinata, Bank Harapan Santosa, dan Bank Surya.
BPK RI menyarankan agar Jaksa Agung:
a. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan tentang pegawai negeri kepada
JAM Pidsus, Direktur UHEKSI, Kajati, dan Kajari yang lalai dalam
menyusun SPI yang memadai atas pengelolaan tagihan uang pengganti di
lingkungannya.
b. Melakukan percepatan pengembangan Standard Operasional Procedures
(SOP) dan Sistem Informasi yang memadai dalam pengelolaan tagihan uang
pengganti.
c. Meningkatkan koordinasi dengan Departemen Keuangan untuk menyusun
pedoman pencatatan transaksi uang pengganti.
d. Memerintahkan JAM Pengawasan untuk meningkatkan pengawasan terhadap
proses pembenahan pengelolaan uang pengganti di Kejaksaan RI.

9. Pemungutan Sewa Rumah Dinas Dalam Pengelolaan Kejaksaan Agung RI


TA 2008 Belum Intensif dan Sebagian Besar Rumah Dinas Dihuni oleh
Pihak yang Tidak Berhak
Kejaksaan Agung (Kejagung) RI memiliki rumah dinas sebanyak 211 unit di
Lebak Bulus yang terdiri dari 7 (tujuh) rumah dinas jabatan eselon I, 37 unit tipe
B, 45 unit tipe C dan 122 unit tipe D. Dari seluruh rumah dinas tersebut hanya
sebanyak 16 (enambelas) unit yang dihuni oleh pejabat/pegawai Kejaksaan yaitu
7 (tujuh) unit rumah jabatan eselon I, 1 (satu) unit rumah dinas tipe C, dan 8

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 55 dari 61


(delapan) rumah dinas tipe D. Sisanya sebanyak 195 unit dihuni oleh pihak yang
tidak berhak atau tidak sesuai dengan Surat Ijin Penghunian (SIP) seperti para
pensiunan dan pihak keluarga almarhum pensiunan.
Jumlah Rumah Penghuni
Type
Tersedia Dihuni Peg Aktif Pejabat Kel. Alm Pensiunan
1. A 7 7 7 - -
2. B 37 37 - 3 34
3. C 45 45 1 - 7 37
4. D 122 122 8 - 10 104
Jumlah 211 211 9 7 20 175
Persentase 4,261% 3,31% 9,47% 82,93%

Berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor KEP-


018/ J.A/2/1978 tentang Penggunaan Perumahan Jabatan Kejaksaan Agung RI di
Kompleks Lebak Bulus, Kebayoran Baru, Jakarta ditetapkan bahwa:
a. Rumah Dinas Kejaksaan di Kompleks Lebak Bulus adalah Rumah Jabatan
yang diperuntukkan bagi Pejabat-pejabat di lingkungan Kejaksaan Agung RI.
Rumah Dinas Type A disediakan khusus bagi Pejabat Eselon I, Rumah Dinas
Type B disediakan khusus bagi Pejabat Eselon II, dan Rumah Dinas Type C
disediakan khusus bagi Pejabat Eselon III.
b. Penghuni rumah dinas wajib keluar dari rumah dinas yang dihuninya
selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah yang bersangkutan tidak lagi
menduduki Jabatan Eselon I, II, dan III di lingkungan Kejaksaan Agung, atau
apabila dicabut haknya untuk menghuni rumah dinas.
Namun dalam Surat Edaran Jaksa Agung Nomor: SE-01/C/Cpl/03/2003
tanggal 25 Maret 2003 tentang Penyesuaian Sewa Rumah Negara di
Lingkungan Kejaksaan RI menyebutkan bahwa bagi penghuni yang telah
pensiun, pelaksanaan pemungutan sewa rumah negara agar disetor ke
Rekening Kas Negara oleh masing-masing wajib bayar dan ditatausahakan
oleh KPPN sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Hal ini
menjadi bertentangan karena menurut keputusan Jaksa Agung RI Tahun 1978
diatas, para pejabat/pegawai yang sudah tidak aktif tidak berhak lagi
menghuni rumah dinas.
c. Selama ini pemungutan sewa rumah dinas kepada para penghuni dilakukan
melalui dua mekanisme, berdasarkan Surat Edaran Jaksa Agung Nomor: SE-
01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret 2003 yaitu:
1) Bagi penghuni yang masih aktif sebagai pejabat/pegawai langsung
dipotong melalui SPM Gaji setiap bulannya.
2) Bagi para pensiunan yang masih menghuni rumah dinas setiap bulan
langsung menyetorkan sewa rumah dinas ke Kas Negara melalui bank
persepsi dengan membuat Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP).
Selanjutnya SSBP tersebut disampaikan kepada Bendahara Khusus
Penerimaan untuk dilaporkan sebagai salah satu PNBP Kejaksaan RI.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 56 dari 61


Tarif sewa Rumah Negara Kejaksaan berdasarkan SE Plh. Jaksa Agung
Muda Pembinaan No. SE-01/C/Cpl/03/2003 tanggal 25 Maret 2003 untuk setiap
bulan adalah sebagai berikut :
a. Tipe B sebesar Rp68.428,00
b. Tipe C sebesar Rp39.916,00
c. Tipe D sebesar Rp28.512,00
Berdasarkan data dari Bendahara Khusus Penerima Kejagung RI diketahui
bahwa dari seluruh penghuni rumah dinas tersebut hanya ada 6 (enam) penghuni
( pensiunan dan kel. Almarhum) yang membayar biaya sewa rumah dinas selama
tahun 2008 dengan nilai sebesar Rp2.463.412,00. Dengan demikian sebanyak 189
penghuni pensiunan dan keluarga almarhum tidak membayar sewa selama tahun
2008, dengan rincian:
No. Type Kel.Almarhum Pensiunan
1 B 3 32
2 C 7 34
3 D 10 103
Jumlah 20 169
Dengan menggunakan tarif diatas, potensi penerimaan Kejaksaan Agung RI
tahun 2008 dari sewa rumah dinas sebanyak 198 unit adalah sebesar
Rp90.462.096,00 dengan rincian perhitungan sebagai berikut:
No. Type Jumlah Dihuni Tarif Bulan* Potensi (Rp)
1 2 3 4 5 =(3X4X5)
1. B 37 68.428 12 30.382.032,00
2. C 44 39.916 12 21.075.648,00
3. D 114 28.512 12 39.004.416,00
Total 90.462.096,00
*) Jumlah bulan penghunian dalam Tahun 2008

Hal tersebut tidak sesuai dengan :


a. PP. No. 40 tahun 1994 tentang Rumah Negara Pasal 1 ayat (6) menetapkan
bahwa Rumah Negara Gol. II adalah Rumah Negara yang mempunyai
hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari satu instansi dan hanya
disediakan untuk didiami oleh pegawai negeri dan apabila telah berhenti atau
pensiun dikembalikan kepada negara.
b. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 Tentang
Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Pasal 8
ayat (1) menyatakan antara lain bahwa Departemen/Lembaga wajib
mengintensifkan pemungutan sewa penggunaan barang-barang milik negara.
Hal tersebut mengakibatkan Penerimaan negara bukan pajak yang berasal
dari sewa rumah dinas tahun 2008 kurang sebesar Rp87.998.684,00
(Rp90.462.096,00 – Rp2.463.412,00).

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 57 dari 61


Hal tersebut disebabkan:
a. Kelemahan dalam mekanisme pemungutan sewa rumah dinas Kejaksaan,
khusus untuk para pensiunan dimana pembayaran ke Kas Negara diserahkan
sepenuhnya kepada kesadaran para pensiunan. Di sisi lain, tidak ada pegawai
di lingkungan Kejaksaan RI yang ditugaskan khusus untuk memastikan
bahwa para pensiunan dan keluarga almarhum pensiunan tersebut telah
melaksanakan kewajibannya.
b. Bagian Rumah Tangga tidak melaksanakan ketentuan tentang Rumah Negara
untuk para pegawai yang telah pensiun.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI akan segera membuat surat kepada
penghuni komplek Kejaksaan Agung RI di Lebak Bulus melalui Ketua RT/RW
masing-masing agar yang masih aktif dapat menyampaikan bukti pembayaran
sewa rumah dan kepada penghuni yang sudah pensiun diharapkan dapat segera
menyerahkan rumah yang dihuni kepada Kejaksaan Agung RI.
BPK-RI menyarankan agar Jaksa Agung menginstruksikan Jaksa Agung
Muda Pembinaan :
a. Menagih pembayaran sewa rumah dinas tahun 2008 kepada para penghuni
yang belum melunasi kewajibannya dengan jumlah sebesar Rp90.462.096,00
dan menyetorkan ke Kas Negara. Selanjutnya bukti setor disampaikan kepada
BPK-RI.
b. Menunjuk pejabat/pegawai yang bertugas untuk memonitor ketaatan
pembayaran sewa rumah dinas oleh para penghuni (pensiunan dan keluarga
almarhum).
c. Menginstruksikan Bagian Rumah Tangga untuk melaksanakan ketentuan
tentang Rumah Negara bagi para pensiunan dan keluarga almarhum yang
masih menempati rumah dinas Kejaksaan Agung RI.

10. Kejaksaan Agung Sebagai UAKPA, Kejati DKI Jakarta Sebagai UAPPA-W
dan UAKPA Serta Lima Kejari di Lingkungan Kejati DKI Jakarta Sebagai
UAKPA Belum Menyampaikan Hardcopy Laporan Keuangan yang Disertai
Pernyataan Tanggung Jawab
Setiap Kementerian Negara atau Lembaga wajib menyelenggarakan Sistem
Akuntansi Instansi (SAI) untuk menghasilkan laporan keuangan. SAI terdiri dari
Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Akuntansi Barang Milik Negara
(SABMN). Untuk melaksanakan SAK tersebut Kementerian Negara atau
Lembaga membentuk Unit Akuntansi secara berjenjang yang terdiri dari:
a. Unit Akuntansi Pengguna (UAPA) pada tingkat Kementerian/Lembaga,
b. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran – Eselon 1 (UAPPA-E1),
c. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah – (UAPPA-W), dan
d. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) pada tingkat satker.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 58 dari 61


Penyusunan Sistem Akuntansi Keuangan Kejaksaan Agung dilakukan secara
berjenjang oleh Unit Akuntansi paling rendah sampai dengan unit akuntansi
paling tinggi, sebagai berikut:
a. UAKPA atau tingkat satker (paling rendah) dilakukan oleh beberapa
Kejaksaan Negeri (Kejari) atau Cabang Kejaksaan Negeri (Cabjari) di
wilayah Kejaksaan Tinggi;
b. UAPPA-W atau tingkat wilayah dilakukan oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati).
UAPPA-W bertugas melakukan penggabungan laporan keuangan yang
berasal dari UAKPA di wilayah kerjanya termasuk laporan realisasi anggara
Pembiayaan dan perhitungan yang digunakan oleh Kementrian
Negara/Lembaga dari seluruh kejaksaan negeri.
c. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon I, yang selanjutnya
disingkat UAPPA-E1, adalah UAI yang melakukan kegiatan penggabungan
laporan, baik keuangan maupun barang seluruh UAPPA-W yang berada di
wilayah kerjanya serta UAKPA yang langsung berada di bawahnya.
d. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran, yang selanjutnya singkat UAPA, adalah
UAI pada tingkat Kementerian Negara/Lembaga (Pengguna Anggaran) yang
melakukan kegiatan penggabungan laporan, baik keuangan maupun barang
seluruh UAPPA-E1 yang berada di bawahnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan pada Kejaksaan Agung, Sekretariat Komisi
Kejaksaan, Pusdiklat Kejaksaan, Kejati dan Kejari diwilayah Kejati DKI
diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Pada Tingkat Unit Eselon I (UAPPA-E1)
Kompilasi laporan Sistem Akuntansi Keuangan untuk Eselon I (UAPPA-E1)
di lingkungan Kejaksaan Agung dilakukan oleh Jaksa Agung Muda
Pembinaan. Karena hanya ada 1 laporan UAPPA-E1 maka laporan ini
sekaligus berfungsi pula sebagai UAPA atau menggambarkan Laporan
Keuangan tingkat Kementerian/ Lembaga (Kejaksaan RI).
Laporan UAPPA-E1 tersebut merupakan hasil penggabungan laporan
Keuangan yang terdiri dari:
1) Enam eselon I terdiri dari Jaksa Agung Muda (JAM) Pengawasan, JAM
Pidana Khusus, JAM Pidana Umum, JAM Perdata dan Tata Usaha
Negara, JAM Intelejen, serta JAM pembinaan.
2) Tiga puluh dua Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran-Wilayah
(UAPPA-W) atau laporan keuangan dari seluruh Kejaksaan Tinggi.
3) Dua perwakilan luar negeri (Bangkok dan Hongkong).
4) Satu unit akuntansi Pusdiklat Kejaksaan.
Selain sebagai UAPPA-E1, Kejaksaan Agung juga merupakan UAKPA yang
terdiri dari:
1) Kejaksaan Agung
2) Sekretariat Komisi Kejaksaan

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 59 dari 61


3) Pusdiklat Kejaksaan
4) Perwakilan Bangkok
5) Perwakilan Hongkong
Hasil pemeriksaan atas penerapan Sistem Akuntansi Keuangan pada tingkat
Kejaksaan Agung sebagai UAKPA menunjukkan bahwa sampai dengan
berakhirnya pemeriksaan Tim BPK RI pada tanggal 8 April 2009 hanya
Sekretariat Komisi Kejaksaan dan Pusdiklat Kejaksaan yang menyampaikan
hardcopy laporan keuangan tahunan beserta catatan atas laporan keuangan
yang disertai pernyataan tanggung jawab.
b. Pada tingkat Wilayah (UAPPA-W)
Kompilasi laporan Sistem Akuntansi Keuangan untuk Wilayah (UAPPA-W)
di lingkungan Kejati DKI dilakukan oleh Asisten Pembinaan. Karena hanya
ada 1 laporan UAPPA-W maka laporan ini sekaligus berfungsi pula sebagai
UAKPA atau menggambarkan Laporan Keuangan tingkat Kejati DKI.
Laporan UAPPA-W tersebut merupakan hasil penggabungan laporan
Keuangan yang terdiri dari lima Kejari di lingkungan Kejati DKI.
Hasil pemeriksaan atas penerapan Sistem Akuntansi Keuangan pada tingkat
wilayah atau UAPPA - W pada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menunjukkan
bahwa seluruh satker/unit akuntansi kuasa pengguna anggaran di lingkungan
wilayah atau Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta (UAKPA) belum menyampaikan
hardcopy laporan keuangan semesteran dan tahunan beserta catatan atas
laporan keuangan yang disertai pernyataan tanggung jawab.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal
55 antara lain menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan bentuk
pertanggungjawaban atas pengelolaan APBN yang diselenggarakan
berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan akuntansi
keuangan telah diselenggarakan sesuai standar akuntansi pemerintahan.
b. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tanggal 27 Desember
2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat,
pasal 20 ayat (1) dan (9) menyatakan:
1) Setiap UAKPA wajib memroses dokumen sumber untuk menghasilkan
laporan keuangan berupa LRA, Neraca, dan Catatan atas Laporan
Keuangan Satuan Kerja.
2) Penyampaian laporan keuangan semester dan tahunan disertai dengan
Catatan atas Laporan Keuangan.
Hal tersebut mengakibatkan akuntabilitas dan transparansi pelaksanaan
APBN pada satker Kejaksaan Agung, Kejati DKI Jakarta, dan lima Kejari di
lingkungan Kejati DKI Jakarta masih belum memadai.

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 60 dari 61


Hal tersebut disebabkan:
a. Komitmen pimpinan satker selaku pimpinan entitas akuntansi mengenai arti
penting Laporan Keuangan sebagai akuntabilitas pelaksanaan APBN dan
kinerja instansi masih rendah.
b. Petugas SAI kurang memahami proses penyusunan laporan keuangan
tahunan yang menjadi kewajibannya.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI telah memberikan petunjuk kepada
satker Kejaksaan Agung RI dan satker yang ada di wilayah hukum Kejaksaan
Tinggi supaya pada setiap Semester I dan II (Tahunan) laporan keuangan yang
dikirim ke Kejaksaan Agung RI selain berbentuk softcopy juga hardcopy.
BPK RI menyarankan Jaksa Agung agar menginstruksikan Jaksa Agung
Muda Pembinaan:
a. Melakukan sosialisasi tentang laporan keuangan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku kepada pihak-pihak terkait.
b. Memerintahkan Kajati terkait meningkatkan pengawasan dan memberikan
teguran atas kegiatan jajarannya yang tidak sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

BPK-RI LHP SPI - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 61 dari 61


Lampiran 1

I. PEMANTAUAN TINDAK LANJUT ATAS HASIL PEMERIKSAAN LK KEJAKSAAN RI TAHUN 2007

Temuan Berulang *) Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK Nilai Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut *)
Temuan 2006 2005 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
Neraca Kejaksaan RI Agar Jaksa Agung menginstruksikan Biro Keuangan telah melakukan koordinasi
1.
Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk dengan Biro Perlengkapan melalui surat Nomor

Per Tanggal 31
Desember 2007 memastikan koordinasi antara Biro B-270/C.5/Cu.2/08/2008 tanggal 29 Agustus
Tidak Dapat Diyakini Keuangan dan Biro Perlengkapan dalam 2008 tentang Penerapan Sistem Akuntansi
Kewajarannya. hal pencatatan dan pelaporan akun-akun Instansi Pengguna Anggaran dan surat Nomor B-
dalam Neraca berjalan dengan baik. 184/C.5/Cu.2/06/2008 tanggal 9 Juni 2008
tentang Kunjungan Tim SAI Kejagung RI untuk
melakukan pembenahan yang meliputi:
1. Penentuan saldo awal Neraca dalam
menyusun Laporan Keuangan harus
memperhatikan saldo akhir Neraca tahun
sebelumnya;
2. Rekonsiliasi data antara laporan realisasi
belanja modal dalam SAK dengan jumlah
asset yang dilaporkan dalam laporan BMN;
3. Penggabungan data dari aplikasi SABMN ke
aplikasi SAK mulai dari tingkat satker
Cabjari, Kejari, Kejati dan Kejagung;
4. Memberikan petunjuk kepada satker.
Pencatatan dan Agar Jaksa Agung menginstruksikan Biro Keuangan telah memberikan petunjuk
2.
Pelaporan Jaksa Agung Muda Pembinaan agar kepada daerah agar melakukan rekonsiliasi

Penerimaan Negara memerintahkan Biro Keuangan secara periodik sesuai surat Nomor B-
Bukan Pajak (PNBP) melakukan: 270/C.5/Cu.2/08/2008 tanggal 29 Agustus 2008
Belum Memadai. tentang Penerapan Sistem Akuntansi Instansi
a) Rekonsiliasi penerimaan dengan Pengguna Anggaran.
Departemen Keuangan,
meningkatkan kuantitas dan
kualitas SDM yang terkait dengan
fungsi pencatatan dan pelaporan
penerimaan, dan
b) Sosialisasi kepada seluruh BKP
dan pelaksana SAI tentang
penggunaan MAP untuk

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 1


Lampiran 1

Temuan Berulang *) Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK Nilai Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut *)
Temuan 2006 2005 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
penyetoran uang pengganti sesuai
dengan Surat Edaran Direktorat
Jenderal Perbendaharaan Nomor
SE-25/ PB/2007 tanggal 30 Juli
2007.

3.
Pencatatan dan Agar Jaksa Agung menginstruksikan • Telah memberikan petunjuk kepada satker di √
Pelaporan Kas Belum Jaksa Agung Muda Pembinaan daerah tentang pengelolaan maupun
Memadai. memberikan sosialisasi kepada satker di pelaporan Kas di Bendahara Pengeluaran
daerah tentang pengelolaan dan melalui surat Nomor : B-
pelaporan kas di dalam Sistem Akuntansi 257/C.5/Cu.2/08/2008 tanggal 20
Instansi. Agustus 2008 tentang penyetoran sisa uang
persediaan.
• Telah melakukan konfirmasi dengan satker
yang bersangkutan untuk saldo Kas di
bendahara Penerimaan dan satker yang
bersangkutan menyatakan bahwa Kas di
Bendahara Penerima telah disetor ke Kas
Negara serta telah memperbaiki saldo Kas di
Bendahara Penerima.
Pencatatan dan Agar Jaksa Agung menginstruksikan Telah melaporkan persediaan dalam Neraca
4.
Pelaporan Persediaan Jaksa Agung Muda Pembinaan supaya Kejaksaan RI dalam Laporan Keuangan

Belum Memadai. memerintahkan Kejati/Kejari/Cabjari Semester I Tahun 2008 dan memberikan
untuk mencatat persediaan dalam Sistem petunjuk berdasarkan Surat Nomor : B-
Akuntansi Instansi (SAI) serta melakukan 184/C.5/Cu.2/06/2008 tanggal 09 Juni 2008
inventarisasi fisik persediaan. tentang Kunjungan Tim SAI Kejagung RI.

5.
Pengelolaan Barang
√ Agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung • Untuk pencatatan dan pelaporan barang √
Rampasan di Muda Pembinaan: rampasan, hasil lelang telah diberikan
Lingkungan petunjuk ke daerah dan telah dilaporkan
Kejaksaan RI Belum • Memerintahkan Kejati/Kejari/Cabjari dalam Neraca dan CALK Kejaksaan RI
Memadai. segera memberikan harga taksiran dalam Laporan Keuangan Semester I Tahun
barang rampasan, dan mencatat serta 2008 dan memberikan petunjuk berdasarkan
melaporkannya dalam Neraca. Surat Nomor : B-184/C.5/Cu.2/06/2008
• Melakukan koordinasi dengan tanggal 09 Juni 2008 tentang Kunjungan Tim
instansi terkait penegakan hukum SAI Kejagung RI.
untuk menyempurnakan mekanisme • Telah diberikan petunjuk mengenai

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 2


Lampiran 1

Temuan Berulang *) Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK Nilai Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut *)
Temuan 2006 2005 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
penanganan barang sitaan, barang penertiban dan pelaporan rekening milik
bukti, dan barang rampasan; dinas Kejaksaan dan memberikan petunjuk
• Memberikan teguran tertulis kepada berdasarkan Surat Nomor : B-
Kejaksaan Negeri yang belum 184/C.5/Cu.2/06/2008 tanggal 09 Juni 2008
melakukan pelaporan hasil lelang tentang Kunjungan Tim SAI Kejagung RI.
sesuai dengan ketentuan yang
berlaku;
• Melakukan pemutakhiran data
rekening yang dikelola setiap satker
dengan cara menginventarisasi
kembali rekening yang dimiliki setiap
satker, sehingga diperoleh keyakinan
bahwa seluruh rekening yang
dikelola satker telah dilaporkan;
• Memerintahkan setiap satker yang
membuka rekening baru terkait
kegiatan operasional dan tugas pokok
dan fungsi Kejaksaan RI segera
melaporkan kepada Tim Penertiban
Rekening di Kejaksaan Agung RI
serta memintakan izin kepada pihak
yang berwenang.
Pencatatan dan Agar Jaksa Agung memerintahkan Jaksa Telah dibuat format untuk melaporkan data uang
6.
Pelaporan Denda
√ √ √ Agung Muda Bidang Pembinaan untuk pengganti dan denda secara berjenjang dari

Perkara Korupsi dan membuat mekanisme penyampaian Cabjari / Kejari / Kejati dan Kejagung dan
Piutang Uang dokumen sumber denda perkara korupsi memberikan petunjuk berdasarkan Surat Nomor :
Pengganti Kurang dan piutang uang pengganti kepada B-184/C.5/Cu.2/06/2008 tanggal 09 Juni 2008
Memadai. petugas akuntansi dan berkoordinasi tentang Kunjungan Tim SAI Kejagung RI.
dengan Departemen Keuangan untuk
menyempurnakan aplikasi Sistem
Akuntansi Instansi terkait dengan
pembukuan dan pelaporan denda perkara
korupsi dan piutang uang pengganti.
Pencatatan dan Agar Jaksa Agung menginstruksikan Telah dibentuk Tim untuk menangani uang
7.
Pelaporan Uang
√ √ Jaksa Agung Muda Tindak Pidana titipan pembayaran denda dan biaya tilang yang

Titipan Denda Tilang Umum untuk melakukan koordinasi mengendap di kantor-kantor Cabang BRI (Giro
dan Biaya Perkara dengan Mahkamah Agung, Polri, dan I, Giro II dan Giro III).

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 3


Lampiran 1

Temuan Berulang *) Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK Nilai Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut *)
Temuan 2006 2005 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
Pada Giro I BRI dan BRI untuk menyelesaikan permasalahan
Giro III BRI Kurang uang titipan pembayaran denda dan biaya
Memadai. tilang yang mengendap di kantor-kantor
cabang BRI agar dapat segera
dilimpahkan dan disetorkan ke Kas
Negara.
Pencatatan dan Agar Jaksa Agung memerintahkan Jaksa
8.
Pelaporan Piutang Agung Muda Bidang Pidana Umum

Denda Tilang dan untuk melakukan inventarisasi jumlah
Biaya Perkara dari denda tilang dan biaya perkara yang
Putusan Verstek diputus secara verstek yang sampai saat
Belum Memadai. ini belum dibayar di seluruh
Kejati/Kejari/Cabjari dan melakukan
koordinasi dengan pihak Kepolisian, dan
Pengadilan Negeri terkait dengan proses
pengadilan pelanggaran lalu lintas yang
diputus secara verstek.
*)
Beri tanda √ untuk kolom yang sesuai

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 4


Lampiran 1

II. PEMANTAUAN TINDAK LANJUT ATAS HASIL PEMERIKSAAN LK KEJAKSAAN RI TAHUN 2006

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Temuan Berulang **) Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut **)
2005 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
1.
Struktur Organisasi dan Agar Jaksa Agung membuat Juknis • Nota Dinas Jam Was kepada Karo Keuangan √
Penunjukan Pejabat/Petugas penentuan struktur organisasi yang sesuai dan Karo Perlengkapan Nomor : ND-
SAK Mulai dari Tingkat dengan Peraturan Dirjen Perbendaharaan 242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16
UAKPA di tingkat Satker No. 24/PB/2006 dan penunjukan November 2007 perihal Laporan hasil
Sampai Dengan UAPA di pejabat/petugas di setiap jenjang pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan
tingkat akuntansi mengikuti ketentuan dari Kejaksaan Agung RI tahun 2006.
Kementerian/Lembaga pada Ditjen Perbendaharaan yang telah ada. • Surat Karo Keuangan kepada Kejati seluruh
Kejaksaan Agung Belum Indonesia Nomor: B-321/C.5/Cu.2/10/2008
Sesuai Dengan Peraturan tgl 23 Okt 2008 tentang Struktur Organisasi
Dirjen Perbendaharaan No. Sistem Akuntansi Keuangan dan sudah
24/PB/2006 dan Belum dibuat uraian tugas serta tanggung jawabnya.
Dibuat Uraian Tugas serta
Tanggungjawabnya
Penerapan Sistem Akuntansi Agar Jaksa Agung melakukan Nota Dinas Jam Was kepada Karo Keuangan
2.
Pengguna Anggaran pada perhitungan ulang untuk saldo awal dan Karo Perlengkapan Nomor : ND-

Kejaksaan Agung Belum Laporan Keuangan tahun 2006. 242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16 November
Memadai. 2007 perihal Laporan hasil pemeriksaan BPK RI
atas Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI
tahun 2006.
Pelaksanaan Rekonsiliasi Agar Jaksa Agung menetapkan sanksi Nota Dinas Jam Was kepada Karo Keuangan
3.
LRA Tidak Optimal
√ yang tegas bagi satker/unit akuntansi dan Karo Perlengkapan Nomor : ND-

yang tidak melaksanakan rekonsiliasi 242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16 November
dengan Ditjen PBN sesuai dengan 2007 perihal Laporan hasil pemeriksaan BPK RI
Peraturan Menteri Keuangan atas Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI
No.59/PMK.06/2005 tanggal 20 Juli tahun 2006.
2005 tentang Sistem Akuntansi dan
Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.
Penyetoran Sisa Uang Agar segera dilakukan koreksi atas saldo Nota Dinas Jam Was kepada Karo Keuangan
4.
Persediaan oleh Beberapa sisa uang persediaan dalam neraca sesuai dan Karo Perlengkapan Nomor : ND-

Bendahara Pengeluaran di bukti yang ada, menetapkan SK yang 242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16 November
lingkungan Kejaksaan mengatur pelatihan dan penempatan 2007 perihal Laporan hasil pemeriksaan BPK RI
Agung RI Terlambat. pegawai yang mampu menerapkan sistem atas Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI
anggaran secara memadai, serta tahun 2006.
menetapkan sanksi yang tegas bagi

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 5


Lampiran 1

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Temuan Berulang **) Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut **)
2005 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
satker/ unit akuntansi yang mengabaikan
pelaporan dan pengiriman data akuntansi.
Struktur Organisasi, Uraian Agar Jaksa Agung membuat Juknis Nota Dinas Jam Was kepada Karo Keuangan dan
5.
Tugas dan Penunjukan penentuan struktur organisasi yang sesuai Karo Perlengkapan Nomor : ND-

Pejabat/Petugas SABMN dengan Peraturan Dirjen Perbendaharaan 242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16 November
Mulai dari Tingkat UAKPB, No. 24/PB/2006 dan penunjukan pejabat/ 2007 perihal Laporan hasil pemeriksaan BPK RI
UAPPB-W, UAPPB-E1 dan petugas di setiap jenjang akuntansi atas Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI
UAPB di Kejaksaan Agung mengikuti ketentuan yang telah ada. tahun 2006.
RI Belum Sesuai
PERMENKEU No.
59/PMK.06/2005

Penerapan Sistem Akuntansi Agar Jaksa Agung menetapkan SK yang Nota Dinas Jam Was kepada Karo Keuangan
6.
dan Pelaporan Barang Milik
√ mengatur pelatihan dan penempatan dan Karo Perlengkapan Nomor : ND-

Negara di Lingkungan pegawai yang mampu menerapkan sistem 242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16 November
Kejaksaan Agung Belum akuntansi BMN secara memadai serta 2007 perihal Laporan hasil pemeriksaan BPK RI
Memadai. menetapkan sanksi yang tegas bagi atas Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI
satker/ unit akuntansi yang mengabaikan tahun 2006.
pelaporan dan pengiriman sistem
akuntansi BMN ke unit akuntansi yang
lebih tinggi.
Konstruksi Dalam Agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung Nota Dinas Jam Was kepada Karo Keuangan
7.
Pengerjaan Senilai
Rp8.356.972.636,00
Muda Pembinaan memerintahkan kepada dan Karo Perlengkapan Nomor : ND-

Rp8.356.972.636 Belum unit akuntansi yang telah selesai 242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16 November
Tercatat dalam Neraca proyeknya untuk segera membuat berita 2007 perihal Laporan hasil pemeriksaan BPK RI
Kejaksaan Agung 2006 acara serah terima pekerjaan dan segera atas Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI
dilakukan koreksi atas saldo Kontruksi tahun 2006.
Dalam Pengerjaan dalam neraca sesuai
Berita Acara Serah Terima Pekerjaan
yang ada.
Beberapa Barang Inventaris Agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung Nota Dinas Jam Was kepada Karo Keuangan
8. √
Tidak Dicantumkan Harga Muda Pembinaan memerintahkan kepada dan Karo Perlengkapan Nomor : ND-
Perolehannya. unit akuntansi terkait untuk melakukan 242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16 November
koordinasi dengan bagian perencanaan 2007 perihal Laporan hasil pemeriksaan BPK RI
yang melakukan droping barang, atau atas Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI
mencari referensi harga pasar untuk tahun 2006.
barang sejenis agar barang inventaris

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 6


Lampiran 1

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Temuan Berulang **) Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut **)
2005 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
dapat dicantumkan harga perolehannya
serta melakukan koreksi atas nilai
barang-barang inventaris yang telah
ditemukan harga perolehannya dalam
SABMN maupun dalam Neraca.
Terdapat Barang-Barang Agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung Nota Dinas Jam Was kepada Karo Keuangan
9. √
Rusak Berat di Kejaksaan Muda Pembinaan memerintahkan kepada dan Karo Perlengkapan Nomor : ND-
Agung RI Belum unit akuntansi terkait untuk membentuk 242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16 November
Dihapuskan dan Belum tim penelitian barang rusak berat dan 2007 perihal Laporan hasil pemeriksaan BPK RI
Direklasifikasikan ke Aset membuat usulan penghapusan secara atas Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI
Lain-Lain. berjenjang dari unit paling rendah sampai tahun 2006.
tingkat pusat serta melakukan
reklasifikasi barang-barang rusak berat
dari akun Aset ke akun Aset lain-lain.
Terdapat Perbedaan Nilai Agar Jaksa Agung memberikan sanksi Nota Dinas Jam Was kepada Karo Keuangan
10.
Aset Tetap Menurut
Rp2.920.284.702,00 √ bagi satker yang tidak melaksanakan dan Karo Perlengkapan Nomor : ND-

Perhitungan Manual dan sistem aplikasi barang dan aplikasi 242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16 November
Sistem Aplikasi UAPB anggaran, membuat Juknis tentang 2007 perihal Laporan hasil pemeriksaan BPK RI
Sebesar Rp2.920.284.702 rekonsiliasi antara sistem aplikasi barang atas Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI
dengan sistem aplikasi anggaran, serta tahun 2006.
melakukan koreksi atas selisih aplikasi
bersangkutan.
*)
Diisi dengan permasalahan yang diungkapkan di LHP atas LKKL Tahn 2006 tapi tidak dilaporkan dalam LHP 2007
**)
Beri tanda √ untuk kolom yang tepat

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 7


Lampiran 1

III. PEMANTAUAN TINDAK LANJUT ATAS HASIL PEMERIKSAAN LK KEJAKSAAN RI TAHUN 2005

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Berulang Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Tindak Lanjut **)
Temuan Tahun Sesuai Belum Belum
2004 Sesuai/ Ditindak-
(Y/T) Selesai lanjuti
1.
Pelaksanaan kegiatan Agar Jaksa Agung Muda Pembinaan • Nota Dinas Jam Bin kepada Karo Keuangan √
verifikasi dan rekonsiliasi (JAMBIN) memerintahkan Kepala Biro dan Karo Perlengkapan Nomor : ND-
LRA Kejaksaan Agung RI Keuangan cq. Kepala Bagian Pembukuan 084/C/03/2007 tanggal 14 Maret 2007 agar
tingkat UAKPA dan dan Verifikasi untuk: melaksanakan melaksanakan kegiatan verifikasi dan
UAPPA-W belum kegiatan verifikasi dan rekonsiliasi secara rekonsiliasi secara optimal sehingga apabila
dilakukan setiap semester. optimal, melakukan monitoring dan terjadi perbedaan dapat segera diperbaiki, agar
meneliti sejak dini atas dokumen sumber, melakukan monitoring dan meneliti sejak dini
serta memberikan teguran dan sanksi yang laporan yang dikirim dari UAKPA dan
tegas kepada UAKPA dan UAPPA-W yang UAPPA-W dan agar memberikan teguran
belum melakukan pengiriman secara teratur. kepada UAPPA-W dan UAKPA yang belum
mengirimkan laporan keuangan secara teratur,
dan apabila masih belum mengirim laporan
keuangan supaya diberikan sanksi yang tegas.
• Surat Jam Bin kepada Kajati seluruh Indonesia
Nomor : B-897/C/10/2006 tgl 4 Oktober 2006
tentang laporan pelaksanaan rekonsiliasi
realisasi anggaran antara Kejaksaan Agung
dengan Direktorat Informasi dan Akuntansi
(DIA).
• Surat Jam Bin kepada Kajati Lampung,
Sumbar, Bengkulu, dan Riau Nomor : B-
633/C/05/2007 tgl. 11 Mei 2007 tentang
teguran agar mengirim LRA secara teratur.
Bagi yang belum mengirim laporan agar
diberikan sanksi yang lebih tegas.

Akuntansi barang milik Agar Jaksa Agung melakukan perubahan Nota Dinas Jam Bin Karo Perlengkapan Nomor :
2.
negara pada satker-satker terhadap aturan intern agar sinkron dengan ND-086/C/03/2007 tanggal 14 Maret 2007 akan

di lingkungan Kejaksaan Peraturan Menteri Keuangan yang melakukan perubahan/ perbaikan terhadap
Agung RI belum berjalan berkenaan dengan Sistem Akuntansi Barang peraturan intern yang disinkronkan dengan
secara optimal. Milik Negara, segera menunjuk petugas peraturan Menteri Keuangan yang berkenaan
akuntansi BMN, serta memberikan teguran dengan SABMN.
kepada pejabat dan petugas pengelola BMN

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 8


Lampiran 1

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Berulang Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Tindak Lanjut **)
Temuan Tahun Sesuai Belum Belum
2004 Sesuai/ Ditindak-
(Y/T) Selesai lanjuti
yang belum optimal dalam melaksanakan
tugasnya.
3.
Sistem Akuntansi Instansi Agar dibuat aturan intern mengenai • Nota Dinas Jam Bin kepada Jam Pidum, Jam √
di Kejaksaan Agung RI mekanisme pemberian dokumen uang Pidsus, dan Jam Datun Nomor : ND-
belum mengakomodasi pengganti, TGR, uang titipan denda tilang 082/C/03/2007 tanggal 14 Maret 2007 agar
pencatatan piutang uang di BRI dan barang rampasan ke petugas dibuatkan peraturan intern yang mengatur
pengganti, Piutang akuntansi untuk di input ke dalam aplikasi masalah administrasi penanganan uang
Tuntutan sistem akuntansi instansi. Dokumen pengganti, tuntutan ganti rugi, uang titipan
Perbendaharaan/Tuntutan tersebut dalam bentuk bukti memorial denda tilang di BRI dan barang rampasan yang
Ganti Rugi (TP/TGR) dengan dilampiri copy petikan putusan dari akan dilaporkan ke dalam aplikasi Sistem
dalam akun neraca, uang Seksi Pidsus untuk uang pengganti; copy Akuntansi Instansi (SAI) dan masing-masing
titipan denda tilang di BRI putusan TGR untuk piutang TGR, print out dilampiri surat tanda bukti/dokumen.
dan barang rampasan rekning Giro I untuk titipan denda tilang di • Telah diadakan pertemuan antara Jam Pidsus,
yang belum di lelang BRI dan copy petikan putusan pengadilan Jam Datun, Dirjen Perbendaharaan Depkeu dan
dalam catatan laporan dari Seksi Pidum/Pidsus untuk barang BPK RI pada hari Selasa tanggal 17 April 2007
keuangan. rampasan. di ruang Rapat Jam Bin membahas masalah
Uang Pengganti.
Penatausahaan dan Agar Jaksa Agung RI melalui Jaksa Kepala Nota Dinas Jam Bin kepada Jam Pidum dan Jam
4.
pencatatan barang bukti Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Lam- Pidsus Nomor : ND-081/C/03/2007 tgl 14 Maret

pada buku register barang pung, Bengkulu dan Pekanbaru memerin- 2007 tentang belum tertibnya penata-usahaan
bukti (RB-2) tidak tertib. tahkan para Kajari untuk meningkatkan barang bukti atas perkara Tindak Pidana Umum
tertib administrasi dan menegur para jaksa dan Tindak Pidana Khusus pada Kejati Lampung,
supaya segera meminta salinan putusan Sumbar, Bengkulu, dan Riau.
pengadilan apabila proses hukum telah
mempunyai kekuatan hukum tetap dan
diteruskan kepada atasan langsung masing-
masing untuk proses eksekusi, Jaksa Agung
RI melalui JAMBIN memerintahkan para
Kajari di lingkungan Kejati Tinggi
Sumatera Barat, Lampung, Bengkulu dan
Pekanbaru meningkatkan upaya
pemberdayaan tenaga administrasi dalam
pekerjaan administrasi barang bukti dan
perkara.
5.
Uang titipan denda tilang
Rp458,06 Juta
Agar Jaksa Agung melakukan koordinasi • Nota Dinas Jam Bin kepada Jam Pidum Nomor √
dan biaya perkara yang dengan Mahkamah Agung, Polri dan BRI : ND-088/C/03/2007 tanggal 14 Maret 2007
mengendap pada Bank untuk menyelesaikan permasalahan uang

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 9


Lampiran 1

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Berulang Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Tindak Lanjut **)
Temuan Tahun Sesuai Belum Belum
2004 Sesuai/ Ditindak-
(Y/T) Selesai lanjuti
Rakyat Indonesia (BRI) titipan pembayaran denda dan biaya tilang tentang belum dipindah-kannya rekening giro
untuk wilayah Kejati yang mengendap di kantor-kantor cabang pengumpul I ke rekening Kejaksaan.
Lampung, Sumbar, BRI serta memerintahkan Kepala Kejaksaan • Surat Jam Pidum kepada Kajati Lampung,
Bengkulu dan Pekanbaru Tinggi Lampung, Sumatera Barat, Riau, Sumbar dan Bengkulu Nomor : B-344-
sebesar Rp458,06 Juta Bengkulu dan Pekanbaru melakukan 347/E/Euh/04/2007 tgl 20 April 2007 tentang
belum dilimpahkan ke Kas koordinasi dengan Kanwil BRI masing- Petunjuk agar Kajari/JPU segera melaksanakan
Negara sebagai masing supaya saldo giro I yang masih eksekusi uang titipan denda tilang yang ada
penerimaan negara. mengendap di berbagai Kantor Cabang BRI pada rekening giro I BRI dan melaporkan
dapat segera dilimpahkan dan disetorkan ke pelaksanaannya serta kendalanya sehingga uang
kas negara. denda tilang tersebut sampai saat ini belum
dieksekusi/dipindahkan ke rekening atas nama
Kejaksaan (rekening giro II).
• Surat Jam Bin kepada Kajati Lampung,
Sumbar, Bengkulu dan Riau Nomor : B-
633/C/05/2007 tgl 11 Mei 2007 agar Kejari
Lampung, Sumbar, Bengkulu dan Riau
melakukan koordinasi dengan Kanwil Bank
BRI setempat agar saldo Giro I yang masih
mengendap di berbagai kantor cabang BRI
segera dilimpahkan dan disetor ke Kas Negara.
Penetapan nilai saldo awal Agar Jaksa Agung c.q JAM Pembinaan Nota Dinas Jam Bin kepada Karo Perlengkapan
6.
pada akun neraca belum memerintahkan Kejati beserta jajarannya di Nomor : ND-086/C/03/ 2007 tanggal 14 Maret

dilakukan dengan cara seluruh Indonesia untuk melakukan opname 2007 akan melakukan opname fisik barang
opname fisik barang fisik barang invetaris secara serempak inventaris dan hasilnya dibuat Laporan Opname
inventaris. kemudian hasilnya dibuat Laporan Opname Fisik Barang Inventaris dan diinput ke dalam
Fisik Barang Invetaris dan diinput ke dalam aplikasi Sistem Barang Milik Negara sebagai saldo
aplikasi sistem akuntansi barang milik awal.
negara sebagai saldo awal.
Perlakuan barang bukti Agar Jaksa Agung RI memerintahkan Nota Dinas Jam Bin kepada Jam Pidum dan Jam
7.
tidak sesuai ketentuan. Kepala Kejaksaan Tinggi dan seluruh Pidsus Nomor : ND-081/C/03/2007 tanggal 14

jajarannya di seluruh Indonesia untuk Maret 2007 agar Kajati seluruh Indonesia untuk
melaksanakan pengelolaan barang bukti melaksanakan ketentuan pengelolaan barang bukti
sesuai ketentuan, serta tindak lanjut atas baik perkara Pidum maupun perkara Pidsus.
permasalahan tersebut oleh JAM
Pengawasan.
Terdapat aset kejaksaan Agar Kejaksaan Agung dan Kejati Nota Dinas Jam Bin kepada Jam Was Nomor : ND-
8.
yang digunakan oleh Lampung selaku UPB segera menarik aset 083/C/03/2007 tanggal 14 Maret 2007 akan

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 10


Lampiran 1

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Berulang Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Tindak Lanjut **)
Temuan Tahun Sesuai Belum Belum
2004 Sesuai/ Ditindak-
(Y/T) Selesai lanjuti
pihak ketiga. yang berada di pihak ketiga. menarik 1 buah kendaraan Mitsubishi Colt L-300
dari pihak ketiga dan beberapa meja yang dikuasai
oleh pegawai Kejari Painan, akan disampaikan
kepada Jam Was untuk penanganan selanjutnya.
9.
Terdapat Kesalahan
Rp1.485,45 juta.
Agar Jaksa Agung RI menginstruksikan • Nota Dinas Jam Bin kepada Karo Keuangan √
pengklasifikasian pos JAM Pembinaan memberikan teguran dan Karo Perlengkapan Nomor: ND-
mata anggaran penerimaan secara berjenjang kepada pejabat dan 084/C/03/2007 tanggal 14 Maret 2007 agar
atas Laporan Realisasi petugas penyusun LRA dan melakukan diberikan teguran secara berjenjang kepada
Anggaran Kejaksaan koreksi atas kesalahan tersebut. pejabat dan petugas penyusun LRA untuk
Agung RI TA 2005 melaksanakan tugas secara optimal dan
sebesar Rp1.485,45 juta. pengawasan melekat atasan langsung lebih
ditingkatkan.
• Surat Jam Bin kepada Kajati Lampung,
Sumbar, Bengkulu, dan Riau Nomor : B-
633/C/05/2007 tgl. 11 Mei 2007 agar Kajati
Lampung, Sumbar, Bengkulu, dan Riau
mengingatkan Asbin supaya menegur Kajari,
Kacabjari, Kasubag Keuangan dan Operator
Sistem Akuntansi Keuangan agar dalam
membuat laporan keuangan lebih teliti dan
lebih ditingkatkan pengawasannya, sehingga
kesalahan serupa tidak terulang lagi pada masa
mendatang.
*)
Diisi dengan permasalahan yang diungkapkan di LHP atas LKKL Tahn 2005 tapi tidak dilaporkan dalam LHP 2006 maupun 2007
**)
Beri tanda √ untuk kolom yang sesuai

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 11


Lampiran 1

IV. PEMANTAUAN TINDAK LANJUT ATAS HASIL PEMERIKSAAN LK KEJAKSAAN RI TAHUN 2004

Hasil Pemantauan
No. Temuan BPK*) Nilai Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Tindak Lanjut **)
Temuan Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
1.
Kebijakan penggunaan rumah dinas Agar Jaksa Agung RI mengeluarkan peraturan yang • Surat Edaran Jaksa Agung RI No: SE- √
belum dilaksanakan secara konsisten tegas tentang penghunian rumah dinas. 05/A/JA/11/2004 tanggal 8 November 2004, dan
oleh Biro Perlengkapan sehingga tanah yang kosong telah dibuat Rumah Dinas JAM
terdapat 149 unit rumah DATUN.
dinas/jabatan Kejaksaan Agung RI • Sudah diterbitkan SIP Rumah Dinas Lebak Bulus.
yang masih ditempati oleh pihak • Surat Karo Keuangan kepada Sekretaris
yang tidak berhak dan terdapat tanah Kementerian Negara Perumahan Rakyat Nomor :
kosong yang belum dimanfaatkan B-79/C.3/Cum.3/5/2007 tgl 15 Mei 2007 tentang
untuk rumah jabatan. laporan pembangunan rumah dinas Lebak Bulus
jabatan tipe A 2 unit dan tipe B 1 unit.
Terdapat 284 bidang tanah yang Agar Kejaksaan Agung RI segera Surat Karo Perlengkapan kepada Kajati seluruh
2.
belum diusulkan pembuatan menginventarisasi ulang seluruh aset tanah dan Indonesia Nomor : B-82/C.6/Cpl/ 12/2005 tgl. 8

sertifikat dan 34 bidang tanah yang bangunan di seluruh Indonesia dan lebih aktif Desember 2005 tentang permintaan data tanah dan
telah diusulkan sejak tahun 1996/ dalam pengurusan sertifikat tanah. bangunan kantor Kejaksaan Tahun 2005
1997 namun belum selesai.
3.
Terdapat aset tetap sebanyak 40.291 Agar Jaksa Agung RI melakukan penelusuran atas • Surat Karo Perlengkapan kepada Kajati Banten, √
unit/buah belum dilengkapi nilai dokumen pembelian dan apabila tidak ditemukan, Yogyakarta, DKI Jakarta, Riau, Kaltim, NTB,
perolehannya. agar melakukan penaksiran nilai perolehannya. Jabar, Sumut, Sulut, Kalbar Nomor : B-02-
12/C.6/Cpl.1/01/2007 tgl. 15 Jan 2007 tentang
permintaan harga perolehan ke Kejati seluruh
Indonesia.
• Surat Kajati Banten kepada Karo Perlengkapan
Nomor : B-0291/O.6/ Cpl.1/02/2007 tgl. 15
Pebruari 2007 tentang permintaan harga perolehan
• Surat Kajati Yogyakarta kepada Karo
Perlengkapan Nomor : B-399/O.4/ Cpl.2/02/2007
tgl. 28 Pebruari 2007 tentang permintaan harga
perolehan
• Surat Kajati Jawa Barat kepada Karo
Perlengkapan Nomor : B-380/O.2/ Cpl.1/01/2007
tgl. 6 Januari 2007 tentang permintaan harga
perolehan.

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 12


Lampiran 1

Hasil Pemantauan
No. Temuan BPK*) Nilai Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Tindak Lanjut **)
Temuan Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
4.
Kuantitas dan kualitas SDM yang Agar Kejaksaan Agung RI mengupayakan • Surat Jam Bin kepada Kajati seluruh Indonesia √
terkait dengan fungsi pencatatan dan perekrutan dengan latar belakang pendidikan Nomor : ND-0882/C.5/Cu.2/ X/2005 tgl. 26
pelaporan belum memadai untuk akuntansi untuk mendukung pelaksanaan fungsi Oktober 2005 perihal Petunjuk sehubungan
mendukung terwujudnya sistem pencatatan dan pembukuan pada bagian dengan Temuan Pemeriksaan atas LRA Kejaksaan
pengendalian intern yang baik. pembukuan dan verifikasi. TA 2005 oleh BPK RI.
Tindak lanjut telah dilaksanakan • Surat Jam Bin kepada Karo Keuangan Nomor :
yaitu dengan melakukan perekrutan ND-356/C/Cu.2/10/2005 tgl. 26 Oktober 2005
pegawai dan pelatihan, namun perihal Penyampaian Petunjuk sehubungan
belum mencukupi, karena masih dengan Temuan atas Hasil Pemeriksaan Laporan
banyak petugas yang melakukan Realisasi Anggaran Kejaksaan Agung RI TA 2004
tugas rangkap antara lain sebagai oleh BPK RI.
bendahara pengeluaran merangkap • Surat Jam Bin kepada Kejati seluruh Indonesia
pula sebagai petugas entry data Nomor
komputer.
*)
Diisi dengan permasalahan yang diungkapkan di LHP atas LKKL Tahn 2005 tapi tidak dilaporkan dalam LHP 2005, 2006 maupun 2007
**)
Beri tanda √ untuk kolom yang sesuai

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 13


Lampiran 2

Rekening Koran Giro I & III Hasil Uji Petik pada Kejati DKI Jakarta, NAD, DIY, Jawa Barat, Sulawesi Utara

Saldo (Rp)
No Satker BRI Giro I Giro III
Nomor Jumlah Nomor Jumlah

1 Kejari Jakarta Pusat BRI Cabang Hayam Wuruk 00000332-01000008-30-6 1.151.500,00


BRI Cabang Veteran 00000329-01-000532-30-0 6.193.000,00
BRI Cabang Gunung Sahari 00000345-01-000020-30-3 8.793.350,00
BRI Cabang Kramat 00000335-01-000463-30-4 9.909.829,00
BRI Cabang Cut Mutiah 12.720.400,00
2 Kejari Jakarta Barat BRI Cabang Slipi 0000019-01-000523-30-4 26.217.171,00
BRI Cabang Jakarta Kota 00000019-01-000038-30-1 12.787.900,00
3 Kejari Jakarta Utara BRI Cabang Tanjung Priok 0000186-01-000420-30-9 17.636.300,00 -
4 Kejari Banda Aceh BRI Cabang Banda Aceh 0000037-01-00090-30-3 11.996.100,00
5 Kejari Bekasi BRI Cabang Bekasi 00000139-01-000794-30-7 42.426.821,00
6 Kejari Sigli BRI Cabang Sigli 00000087-01-000120-30-3 2.581.817,00 00000087-01-000067-30-1 81.000,00
7 Kejari Indramayu BRI Cabang Indramayu 144.116.857,00 73.300,00
8 Kejari Sumber BRI Cabang Sumber Cirebon 00000107-01-000112-30-4 180.304,00
9 Kejari Bandung BRI Cabang Bandung A.H. Nasution 00000354-01-000006-30-8 1.930.000,00
BRI Cabang Bandung Dewi Sartika 00000286-01-000220-30-9 9.375.500,00
BRI Cabang Bandung Asia Afrika 00000005-01-000009-30-1 4.948.000,00
BRI Cabang Bandung Asia Afrika 00000005-01-001000-30-0 136.801,00
BRI Cabang Bandung Naripan 00000337-01-000024-30-2 5.882.600,00
10 Kejari Manado BRI Cabang Manado 00000054-01-000295-30-1 60.318.176,00
11 Kejari Sleman BRI Cabang Sleman 00000247-01-000045-30-3 9.814.000,00
12 Kejari Bantul BRI Cabang Bantul 00000236-01-000012-30-3 32.556.000,00
13 Kejari Wonosari BRI Cabang Wonosari 00000153-01-000031-30-3 1.936.300,00
BRI Cabang Wonosari 00000153-01-000116-30-7 528.600,00
14 Kejari Yogyakarta BRI Cabang Yogyakarta Katamso 00000245-01-00005-30-5 29.043.013,00
BRI Cabang Yogyakarta Cik Ditiro 00000029-01-000002-30-1 28.786.509,00
15 Kejari Wates BRI Cabang Wates 00000152-01-000026-30-4 1.530.000,00
Jumlah 470.572.147,00 13.079.001,00

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 1


Lampiran 3

Saldo Giro I Menurut Jampidum


No Satker Nomor Rekening Saldo (Rp)
1 Sijunjung-12 27101000111303 58.802.700,00
2 Sijunjung-14 27101000299305 14.726.535,00
3 Bangko-1 27501000406306 56.743.050,00
4 Kefamenanu-1 27601000021304 701.500,00
5 Soe-1 27701000344308 21.395.500,00
6 Limboto-1 27901000174303 355.500,00
7 Sidoarjo-12 86010000002307 221.288.300,00
8 Sidoarjo-1 86010000005305 265.420.219,00
9 Sigli-1 8701000120303 2.581.817,00
10 Singaraja-1 8801000226307 2.695.000,00
11 Blitar-1 9010000003301 18.587.692,00
12 Solok-1 9101000108300 1.098.100,00
13 Sumbawa Besar-1 9301000061302 23.538.800,00
14 Sby Kaliasin-1 9601000169306 118.827.400,00
15 Tanjungkarang-1 9801000105300 41.708.400,00
16 Tarutung-1 9901000022302 23.847.055,00
17 Tarutung-12 9901000024304 474.000,00
18 Soa-siu 2800100006303 8.666.550,00
19 Indramayu-1 2801000270308 41.407.067,00
20 Pangkalan Bun-1 28201000001301 193.247.300,00
21 Tb Tinggi-1 28301000021305 69.278.250,00
22 Bandung Ds-1 28601000220309 9.635.500,00
23 Yogya Cik Ditiro-1 2901000002301 22.416.509,00
24 Banjarmasin-1 301000048307 48.017.203,00
25 Cikampek-1 30201000059308 6.166.900,00
26 Sintang-1 30401000204309 2.948.600,00
27 Putussibau-1 30501000051302 9.600.000,00
28 Jayapura-1 30701000475300 131.845.000,00
29 Biak-1 30801000034302 355.000,00
30 Serui-1 30901000030302 169.046.288,00
31 Kandangan-11 31010000013303 41.347.750,00
32 Kandangan-12 3101000015305 18.137.500,00
33 Wamena-1 31101000193305 3.959.565,00
34 Balige-1 31401000031301 413
35 Kebumen-1 3201000127300 10.084.314,00
36 Pariaman 32101000094300 16.500,00
37 sanggau-1 32201000078308 1.899.500,00
38 Sungai Liat-1 32401000001309 23.905.000,00
39 Sby Tj Perak-1 32801000006305 242.965.246,00
40 Jkt Veteran-1 32901000532300 6.897.100,00
41 Jkt Fatmawati-1 33001000056301 6.084.900,00
42 Jkt Fatmawati-12 33001000471307 35.317.822,00
43 Jkt Hayam Wuruk-1 33201000008306 1.292.100,00

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 1


Lampiran 3

No Satker Nomor Rekening Saldo (Rp)


44 Bontang-1 33301000028300 10.825.190,00
45 Jkt Kramat 33501000463304 11.147.429,00
46 Bandung Nrpn-1 33701000024302 6.733.600,00
47 Otista-1 34001000428307 116.725.605,00
48 Jkt Warungbuncit-1 34101000340309 31.308.643,00
49 Jkt Gn Sahari-1 34501000020303 9.404.550,00
50 Manokwari-1 35301000044302 185.510.200,00
51 Kotamobagu-1 3601000073303 31.847.000,00
52 Jkt Pd Indah-1 36201000205305 831.900,00
53 Kupang-1 3901000351305 12.485.734,00
54 Lahat-1 4001000213300 31.700.000,00
55 Lamongan-1 4101000006309 378.000,00
56 Tembilahan-1 17501000033309 26.114.506,00
57 Gunung Sitoli-1 17601000028308 102.707.909,00
58 Kuala Kapuas-1 18001000067301 128.746.133,00
59 Jkt Tnh Abang-1 1801000419307 1.169.900,00
60 Cibadak-1 18101000001309 88.162.537,00
61 Tarakan-1 18301000041307 35.885.000,00
62 Palopo-1 18701000002309 26.621.200,00
63 Bengkalis 18901000692990 248.000,00
64 Jkt Kota-1 1901000006302 638.237.750,00
65 Kendari-1 19201000369306 750.000,00
66 Langsa 4201000018300 40.467.000,00
67 Lhokseumawe-1 4301000074300 39.626.934,00
68 Lumajang-1 4401000015300 224.000,00
69 Madiun-1 4501000066305 680.100,00
70 Madiun-12 4501000067301 5.766.100,00
71 Majalengka-1 4601000292308 15.466.324,00
72 Magelang-1 4801000257306 5.377.700,00
73 Makassar A. Yani-1 5001000026308 14.649.350,00
74 Mataram-1 5201000151305 427.500,00
75 Medan-PH1 5301000018307 97.810.923,60
76 Menado-1 5401000295301 119.201.276,00
77 Mojokerto-1 5501000144300 9.886.300,00
78 Jkt Kebayoran Baru 19301000526300 8.934.600,00
79 Sidikalang-1 19401000020308 6.335.191,00
80 Sidikalang-12 19401000044302 51.209.900,00
81 Mempawah-1 20701000039300 60.000,00
82 Ketapang-11 20801000007307 12.888.500,00
83 Ketapang-12 20801000017302 10.700.000,00
84 Sby Pahlawan-1 21101000048308 688.234.474,36
85 Tanah Grogot-1 21401000001308 123.996.750,00
86 Mamuju-1 21801000190307 503
87 Pangkep-1 22301000093304 18.785.900,00

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 2


Lampiran 3

No Satker Nomor Rekening Saldo (Rp)


88 Sungguminasa-1 22501000047301 146.317.030,00
89 Tahuna-12 22601000058306 1.554.000,00
90 Toli-toli-13 22701000217302 27.335.000,00
91 Rantau Prapat-1 22801000012308 22.379.200,00
92 Rantau Prapat 12 22801000014300 216.400,00
93 Jkt Cut Mutiah-1 23001000003300 13.058.900,00
94 Padang Panjang-1 23101000291305 3.938.000,00
95 Makale-11 23201000049304 9.903.354,00
96 Waikabubak-1 23501000423306 25.049.950,00
97 Bantul-1 23601000012303 46.346.000,00
98 Tondano-1 23701000105304 94.350.500,00
99 Ende-1 2401000036300 4.109.200,00
100 Amlapura-1 24101000040309 30.000,00
101 Martapura-1 24201000082305 39.404.400,00
102 Martapura-12 24201000314304 8.880.600,00
103 Palangkaraya-11 24301000448301 192.857.658,00
104 Palangkaraya-12 24301000451304 795.081.004,00
105 Yogya Katamso-1 24501000005305 27.093.013,00
106 Larantuka-1 24601000006305 4.515.500,00
107 Sleman-1 24701000045303 7.714.000,00
108 Payakumbuh-1 25601000067304 42.918.396,00
109 Benteng Selayar-1 25701000134309 16.264.800,00
110 Polewali-1 25901000271997 12.601.000,00
111 Gresik-1 2601000097304 861.001,00
112 Tasikmalaya-1 10001000059304 13.341.260,00
113 Cianjur-1 10501000089309 263.600,00
114 Cilacap-1 10601000318304 16.613.300,00
115 Curup-12 10801000330304 102.141.534,00
116 Tuban-1 10901000006307 22.423.500,00
117 Tulungagung-1 11001000139301 11.755.100,00
118 P Siantar-11 11301000232305 202.359.100,00
119 P Siantar-12 11301000235303 17.320.100,00
120 Semapura-1 11401000027306 22.431.000,00
121 Jkt Krekot-1 26101000021301 51.200,00
122 Kotacane-1 26301000015308 4.077.000,00
123 Tapaktuan-1 26401000040307 18.754.700,00
124 Blangpidie-1 26501000011302 2.853.500,00
125 Lubuk Pakam-1 26601000241309 15.520.700,00
126 Atambua-1 26701000015304 72.158.500,00
127 Atambua-12 26701000073302 36.742.000,00
128 Bangkinang-1 26801000078306 9.112.575,00
129 Gorontalo-1 2701000196306 15.200,00
130 Karawang-1 11601000346300 11.332.229,00
131 Sungai Penuh-1 11701000010301 24.729.200,00

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 3


Lampiran 3

No Satker Nomor Rekening Saldo (Rp)


132 Maumere-1 11901000095309 8.823.500,00
133 Tangerang-1 12001000970302 180.545.510,00
134 Bogor-11 1201000124306 290.000,00
135 Bogor-12 1201000125302 8.661.000,00
136 Bogor-13 1201000126308 2.490.000,00
137 Bogor-15 1201001129309 3.317.500,00
138 Jkt Jatinegara-1 12201000019308 131.055.538,00
139 Jkt Jatinegara-12 12201000616304 27.713.700,00
140 Subang-1 12301000131308 26.987.500,00
141 Negara-1 12501000011302 3.471.700,00
142 Kotabaru-1 12701000268305 56.827.250,00
143 Muara Enim-1 12801000142309 23.463.500,00
144 Lubuk Linggau-1 12901000120301 53.802.800,00
145 Kuningan-1 13301000418305 4.375.000,00
146 Gombong-1 13401000002302 4.245.600,00
147 P Sidempuan 13501000097301 11.089.500,00
148 Kutoarjo-1 13601000002300 269.500,00
149 Pagar Alam-1 13801000086302 32.958.777,00
150 Bekasi-12 13901000794307 43.256.921,00
151 Bekasi-11 13901001089307 17.411.200,00
152 Sragen-1 14001000035302 62.435.000,00
153 Barabai 14301000044303 7.548.345,00
154 Kabanjahe-1 14401000178300 50.008.650,00
155 Takengon-1 14501000011308 10.500.500,00
156 Sampang-1 14801001301300 2.951.500,00
157 Manna-11 15001000505300 355.700,00
158 Bukittinggi-1 1501000008308 61.702.110,00
159 Ajibarang-1 15101000001300 827.400,00
160 Wates-1 15201000026304 1.530.000,00
161 Wonosari-1 15301000116307 468.600,00
162 Batang-1 15601000003302 2.708.200,00
163 Wonogiri-1 15801000007304 889.100,00
164 Jatibarang-1 16501000015308 17.873.900,00
165 Bitung-1 16801000021301 60.837.200,00
166 Denpasar-1 1701000281302 4.195.897,00
167 selat Panjang-1 17101000030305 2.678.600,00
168 Sby Rajawali 17201000036305 126.029.600,00
Jumlah 7.946.970.058,96

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 4


Lampiran 4

Saldo Giro II Menurut Jampidum

No Satker Nomor Rekening Nilai


1 Majalengka-2 4601000001309 89.313.981,00
2 Magelang-2 4801000258302 316.500,00
3 Makassar A Yani-2 5001000022304 162.100,00
4 Medan PH-2 5301000016305 10.436.300,00
5 Manado-2 5401000166308 600,00
6 P Rivai-2 5901000336301 29.917.900,00
7 Pekalongan-2 6801000075302 408.350,00
8 Banyuwangi-2 701000018308 1.083.000,00
9 Semarang Mura-2 8301000017300 43.129.500,00
10 Batusangkar-2 16901000135308 11.999.400,00
11 Palopo-2 18701000005307 1.748.000,00
12 Jkt Kota-2 1901000523304 34.821.471,00
13 Sby Pahlawan-2 21101000036301 10.820,00
14 Pangkep-2 22301000090306 1.000,00
15 Sungguminasa-2 22501000019308 1.228,00
16 Waikabubak-2 23501000425308 9.560.800,00
17 Sby Kaliasin-2 9601000051309 115.000,00
18 Tanjung-2 24901000246305 29.500,00
19 Jeneponto-2 25201000168308 6.229.163,00
20 Soa Siu-3 28001000010302 625.700,00
21 Indramayu-2 2801000162301 101.749.190,00
22 Pangkalan Bun-2 28201000002307 3.520.000,00
23 Tb Tinggi -2 28301000029303 62.684.000,00
24 Kebumen-2 3201000006300 6.165.000,00
25 Jkt Fatmawati-2 33001000057307 15.500,00
26 Jkt Pasarminggu 33901000360308 3.558.300,00
27 Jkt Gt Subroto-2 35901000241306 250.327.936,00
28 Watampone-2 11101000216301 8.715.897,00
29 Bengkulu-2 11501000174301 22.900.200,00
30 Sungai Penuh-2 11701000067308 703.500,00
31 Negara-2 12501000014300 1.929.597,00
32 Kotabaru-2 12701000272304 745.350,00
33 Muara Enim-2 12801000143305 783.500,00
34 Metro-2 13001000172305 807.500,00
35 Lhokseumawe-2 4301000042303 507.000,00
36 Kota Bumi-2 15501000022302 3.819.000,00
37 Jatibarang-2 16501000064307 1.068.200,00
Jumlah 709.909.983,00

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 1


Lampiran 5

Saldo Giro III Menurut Jampidum

No Satker Nomor Rekening Nilai


1 Larantuka-3 24601000007301 10.091.200,00
2 Tanjung-3 24901000247301 2.639.500,00
3 Benteng Selayar-3 25701000136301 95.200,00
4 Kotacane-3 26301000017300 11.813.120,00
5 Atambua-3 26701000004303 7.695.000,00
6 Bangkinang-3 26801000117304 467.500,00
7 Lubuk Sikaping-3 26901000318302 274.300,00
8 Soe-3 27701000342306 7.997.000,00
9 Indramayu-3 2801000007307 73.300,00
10 Pangkalan Bun-3 28201000003303 4.095.500,00
11 Banjarmasin-3 301000197300 992.000,00
12 Sintang-3 30401000049301 124.500,00
13 Putussibau-3 30501000010306 86.100,00
14 Balige-3 3140100003601 200
15 Muara Bulian-3 31501000253305 141.547.556,00
16 Sby Tj Perak-3 3280100007301 180.000,00
17 Medan Ismu-3 33601000013307 38.000,00
18 Otista-3 34001000076304 467.750,00
19 Lhokseumawe-3 4301000043309 1.700.500,00
20 Madiun-31 4501000041305 3.241.250,00
21 Madiun-32 4501000043307 1.235.250,00
22 Majalengka-3 4601000072300 25.904.420,00
23 Magelang-3 4801000260309 152.200,00
24 Pangkalpinang-3 6301000010302 54.400,00
25 Banyuwangi-3 701000034304 186.100,00
26 Pontianak-3 7101000105306 7.278.619,00
27 Tegal-3 10101000030304 940.100,00
28 Semapura-3 11401000034303 4.678.300,00
29 Kotabaru-3 12701000274306 11.751.000,00
30 Purworejo-3 7801000018303 30.900,00
31 Baturaja-3 801000162305 84.000,00
32 Sigli-3 8701000067301 81.000,00
33 Blitar-3 901000004307 458.700,00
34 Sumbawa Besar-3 9301000062308 404.900,00
35 Tarutung-3 9901000026306 855.850,00
36 Muara Enim-3 12801000053306 779.800,00
37 Barabai-3 14301000027301 3.138.600,00
38 Kabanjahe-3 14401000180307 319.600,00
39 Bukittinggi-3 1501000082302 26.400,00
40 Kota bumi-3 15501000023308 82.000,00
41 Demak-3 1601000006300 561.000,00
42 Bitung-3 16801000023303 3.764.950,00

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 1


Lampiran 5

No Satker Nomor Rekening Nilai


43 Denpasar-3 1701000224300 413.665,00
44 Gunung Sitoli-3 17601000009304 1.664.100,00
45 Kuala Kapuas-3 18001000098302 16.100,00
46 Palopo-3 18701000226301 11.177.700,00
47 Jkt Kota-3 1901000035301 12.787.900,00
48 Sidikalang-3 19401000036309 8.658.600,00
49 Tanjung Redep-3 21301000006304 28.582.370,00
50 Pangkep-3 22301000092308 50.900,00
51 Sungguminasa-3 22501000029303 297.100,00
52 Toli-toli-3 22701000053300 7.528.500,00
53 Rantau Prapat-3 22801000017308 11.673.700,00
54 Jombang-3 2301000011306 7.819.821,00
55 Martapura-3 24201000073306 38.200.785,00
56 Martapura III 24201000316306 55.000,00
Jumlah 385.313.806,00

BPK RI LHP SPI atas LK Kejaksaan RI Tahun 2008 & 2007 2


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


KEPATUHAN TERHADAP
PERATURAN PERUNDANGAN-UNDANGAN
ATAS LAPORAN KEUANGAN
KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2008

Nomor : 41c/HP/XIV/04/09
Tanggal : 30 April 2009
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI................................................................................................................1 
RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN ....................................................................................2 
HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN............................................................2 
A.  PEMANTAUAN ATAS TEMUAN KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN TAHUN 2007, 2006 DAN 2005....................................2 
B.  TEMUAN PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN TAHUN 2008 ..............................................................2 
1.  Pelaksanaan Kontrak Pengadaan Laptop di Kejaksaan Agung RI
Tahun 2008 Tidak Sesuai Ketentuan dan Terjadi Indikasi Kerugian
Negara Senilai Rp1.317.340.500,00 .............................................................2 
2.  Terdapat Selisih Kurang 4.154 Unit Barang Rampasan Berupa
Handphone Sebesar Minimal Rp116.931.664,00 antara Jumlah
Menurut Putusan Pengadilan dengan Hasil Perhitungan Appraisal
pada Kejari Jakarta Utara..............................................................................2 
3.  Penyelesaian Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi
(TP/TGR) pada Kejaksaan RI Tidak Berjalan Secara Efektif ......................2 
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 1 dari 19


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP


PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Berdasarkan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


dan undang-undang terkait lainnya, Kejaksaan Republik Indonesia (RI) melalui Surat
Jaksa Agung Muda Pembinaan Nomor B-415/C/C.5/02/2009 tanggal 27 Februari 2009
telah menyampaikan Laporan Keuangan Kejaksaan RI Tahun 2008 kepada Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diperiksa. Laporan keuangan tersebut terdiri dari
Neraca Kejaksaan RI per 31 Desember 2008 dan 2007, Laporan Realisasi Anggaran
untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, dan Catatan atas Laporan
Keuangan. BPK telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Kejaksaan RI Tahun 2008 Nomor 41a/HP/XIV/04/09 tanggal 30 April 2009.
Sebagai bagian pemerolehan keyakinan yang memadai tentang apakah laporan keuangan
bebas dari salah saji material, sesuai dengan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
(SPKN), BPK RI melakukan pengujian kepatuhan Kejaksaan RI terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatuhan yang berpengaruh
langsung dan material terhadap penyajian laporan keuangan. Namun, pemeriksaan yang
dilakukan BPK atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI tidak dirancang khusus untuk
menyatakan pendapat atas kepatuhan terhadap keseluruhan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Oleh karena itu, BPK tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu.
BPK menemukan adanya ketidakpatuhan dalam pengujian kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan pada Kejaksaan RI. Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan, indikasi kecurangan serta ketidakpatutan yang ditemukan
BPK adalah sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Kontrak Pengadaan Laptop di Kejaksaan Agung RI Tahun 2008 Tidak
Sesuai Ketentuan dan Terjadi Indikasi Kerugian Negara Senilai Rp1.317.340.500,00.
2. Terdapat Selisih Kurang 4.154 Unit Barang Rampasan Berupa Handphone Sebesar
Minimal Rp116.931.664,00 antara Jumlah Menurut Putusan Pengadilan dengan
Hasil Perhitungan Appraisal pada Kejari Jakarta Utara.
3. Penyelesaian Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR) pada
Kejaksaan RI Tidak Berjalan Secara Efektif.
Sehubungan dengan temuan tersebut, BPK merekomendasikan kepada Jaksa Agung agar
menginstruksikan:
1. Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk melakukan pemeriksaan terhadap Pejabat
Pembuat Komitmen dan Panitia Pengadaan Laptop untuk mengetahui adanya unsur

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 2 dari 19


tindak pidana korupsi dalam pengadaan ini yang merugikan keuangan negara serta
menginformasikan hasilnya kepada BPK-RI.
2. Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk menonaktifkan seluruh anggota Panitia
Pengadaan laptop dari tugas pengadaan di Biro Perencanaan sampai dengan
keluarnya laporan hasil pemeriksaan Jamwas.
3. Jaksa Agung Muda Pengawasan melakukan pemeriksaan kepada JPU terkait
perbedaan jumlah barang rampasan handphone pada Kejari Jakarta Utara dan
menginformasikan hasil pemeriksaan kepada BPK-RI.
4. Memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan tentang pegawai negeri kepada TPKN
sehingga dapat meningkatkan koordinasi dalam pengelolaan TP/TGR dengan baik.
Permasalahan dan rekomendasi perbaikan secara rinci dapat dilihat dalam laporan ini.

Jakarta, 30 April 2009


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Wakil Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Roes Nelly, Ak.


Register Negara No. D-24.608

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 3 dari 19


HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. Pemantauan atas Temuan Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-


Undangan Tahun 2007, 2006 dan 2005
Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI tahun 2005
mengungkapkan adanya temuan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan
sebanyak tiga temuan yang masih dipantau lebih lanjut. Hasil pemeriksaan atas
Laporan Keuangan Kejaksaan RI tahun 2006 mengungkapkan adanya temuan
Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan sebanyak tiga temuan yang
masih dipantau lebih lanjut. Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kejaksaan RI
tahun 2007 mengungkapkan adanya temuan Kepatuhan terhadap Peraturan
Perundang-undangan sebanyak tiga temuan, seluruhnya belum ditindaklanjuti.
Adapun rincian hasil pemantauan atas tindak lanjut dituangkan dalam lampiran.

B. Temuan Pemeriksaan atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-


Undangan Tahun 2008
1. Pelaksanaan Kontrak Pengadaan Laptop di Kejaksaan Agung RI Tahun
2008 Tidak Sesuai Ketentuan dan Terjadi Indikasi Kerugian Negara Senilai
Rp1.317.340.500,00
Dalam rangka memenuhi dan mendukung pelaksanaan tugas penegakan
hukum maka diperlukan peralatan yang memadai, antara lain dengan memenuhi
kebutuhan laptop dengan spesifikasi teknis yang dapat menunjang kegiatan
sesuai dengan tugas dan fungsi personil dilingkungan Kejaksaan RI. Perangkat
laptop tersebut harus berkualitas baik dan spesifikasi teknis yang sesuai dengan
kebutuhan teknologi terakhir, bergaransi dan mempunyai jaminan purna jual.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, telah tersedia anggaran dalam DIPA
Kejaksaan Agung RI tahun 2008 sebesar Rp10.125.000.000,00. Untuk
merealisasikan kegiatan tersebut Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Program
Peningkatan Kinerja Lembaga Peradilan dan Lembaga Penegak Hukum lainnya
telah menetapkan Panitia Pelelangan Umum Pengadaan laptop Kejaksaan Agung
RI Tahun 2008. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) untuk pengadaan 450 unit laptop
tersebut telah disusun oleh panitia pengadaan dan ditetapkan sebesar
Rp10.080.675.000,00 atau Rp22.401.500,00/unit dengan nilai tukar (kurs)
1US$=Rp9.200,00. Dengan rincian perhitungan HPS seperti pada table berikut:

No Jenis Barang Harga US$ Quantity Harga Satuan Total

I Laptop 2,214 450 20.365.000 9.164.250.000

II PPN 10% 916.425.000

Total 10.080.675.000

Harga/unit 22.401.500

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 4 dari 19


Setelah melalui proses evaluasi administrasi dan teknis, panitia pengadaan
mengusulkan sebagai calon pemenang I adalah PT. Universal System (PT US)
dengan laptop merk Dell type Latitude 630 c, yang selanjutnya ditetapkan sebagai
pemenang pelelangan.
Pelaksanaan pekerjaan dituangkan dalam perjanjian/kontrak Nomor. SP-
08/PKLPH/09/2008 tanggal 18 September 2008 dengan nilai pekerjaan sebesar
Rp9.332.034.000,00 dan jangka waktu penyelesaian pekerjaan sampai dengan
penyerahan di Kejagung RI selama 60 (enam puluh) hari kalender dimulai pada
tanggal 18 September 2008 sampai dengan tanggal 16 Nopember 2008. Pekerjaan
tersebut telah selesai dan telah dilakukan pemeriksaan terhadap spesifikasi barang
sesuai dengan Berita Acara Penerimaan dan Pemeriksaan Barang Nomor: BA-
04/PKLPH-LAPTOP/11/2008 Tanggal 5 Nopember 2008. Dengan demikian
pengadaan laptop sebanyak 450 unit telah selesai dan telah diserahterimakan
kepada Kejaksaan Agung di Jakarta 11 (sebelas) hari sebelum batas waktu
penyelesaian pekerjaan dan telah dibayar lunas sesuai dengan haknya.
Hasil pemeriksaan atas Berita Acara Evaluasi/Penelitian Harga dan Teknis
serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan proses pelelangan menunjukkan
bahwa dari 6 (enam) penawaran yang masuk dan telah memenuhi syarat
administrasi dan dinyatakan lengkap, terdapat 2 (dua) perusahaan yang
mengajukan harga penawaran lebih rendah dari pemenang lelang. Salah satu
perusahaan tersebut adalah PT Scientek Computindo (PT SC) yang mengajukan
penawaran dengan merek berbeda dengan harga Rp8.014.693.500,00 atau lebih
rendah sebesar Rp1.317.340.500,00 dari harga pemenang lelang (PT US). Namun
dalam pelaksanaan evaluasi yang menggunakan sistim gugur, panitia pengadaan
menyatakan bahwa PT SC gugur karena tidak memenuhi persyaratan teknis seperti
yang dipersyaratkan dalam RKS yang tercantum dalam kontrak yang disusun oleh
panitia pengadaan. sebagai berikut:
a. Floopy Drive - 1.44 MB Modular
b. I/O Ports - Serial
c. User Security - Integrated smart card reader & integrated TPM 1.2
d. Battery Waranty - 1 year
e. Logo On Bios - Kejagung RI
f. Memiliki fasilitas tombol on/off atau lampu indikator untuk mendeteksi
adanya sinyal wi-fi tanpa menghidupkan laptop terlebih dahulu.
g. Memiliki lampu indikator battery yang dapat menunjukkan berapa persen
kapasitas energy battery yang masih tersedia dan berapa persen sisa umur
pakai battery pada laptop dalam keadaan off (tidak difungsikan).
Hasil konfirmasi kepada PT SC dan penelitian atas dokumen penawaran
yang diajukan oleh PT SC menunjukkan bahwa alasan yang digunakan oleh
panitia pengadaan untuk menggugurkan PT SC adalah tidak sesuai dengan
kenyataan. Laptop yang ditawarkan oleh PT SC memenuhi 6 (enam) komponen
diatas, kecuali untuk spesifikasi nomor 7 yaitu indikator battery untuk mengetahui
kapasitas battery dan sisa pakai battery pada laptop keadaan off. Berdasarkan

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 5 dari 19


penjelasan PT SC, hal ini memang telah disepakati dalam acara rapat pemberian
penjelasan (aanwijzing) bahwa untuk spesifikasi teknis nomor tujuh akan
dibatalkan, namun kesepakatan ini tidak dituangkan dalam Berita Acara
Pemberian Penjelasan oleh panitia lelang.
Pemeriksaan lebih lanjut terhadap Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang
dikeluarkan oleh panitia lelang untuk pengadaan 450 unit laptop menunjukkan
bahwa penyusunan HPS tidak dilakukan dengan cermat dan berdasarkan data yang
dapat dipertanggung-jawabkan, karena hanya didasarkan pada informasi dari
internet. Menurut ketua panitia lelang, kertas kerja berupa hasil pengecekan harga
melalui internet tidak ada karena tidak di print out sebagai data pendukung untuk
membuat HPS, sehingga tim BPK RI tidak dapat menilai kewajaran HPS yang
ditetapkan oleh panitia apakah telah mencerminkan harga yang menguntungkan
bagi negara.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam keputusan panitia
pengadaan untuk menggugurkan penawaran dari PT SC dengan alasan yang
ternyata tidak tepat telah mengakibatkan negara harus membayar pengadaan
Laptop sebanyak 450 unit pada Kejaksaan Agung RI lebih tinggi sebesar
Rp1.317.340.500,00 seperti terlihat dalam perincian dibawah ini:
Penawaran Harga PT. Universal System
(Pemenang Lelang)

No Jenis Barang Merk Quantity Harga Satuan Total

A Laptop Dell Type Latitude 450 18.852.594 8.483.667.300

630 C

II PPN 10% 848.366.730

Total 9.332.034.030

Pembulatan 9.332.034.000

Harga/unit 20.737.850

Penawaran Harga PT. Scientek Computindo


(Dinyatakan Tidak Lulus Evaluasi Teknis)
No Jenis Barang Merk Quantity Harga Satuan Total

A Laptop Lenovo, Thinkpad 450 16.191.300 7.286.085.000

SL-400

II PPN 10% 728.608.500

Total 8.014.693.500

Harga/unit 17.810.430

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 6 dari 19


Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Keppres 42 Tahun 2002 Pasal 12 ayat (1) menyatakan pelaksanaan anggaran
belanja negara didasarkan atas prinsip-prinsip, hemat, tidak mewah, efisien
dan sesuai kebutuhan teknis yang dipersyaratkan.
b. Keppres RI Nomor 80 Tahun 2003 sebagaimana terakhir dirubah dengan
Perpres Nomor 8 Tahun 2006 Perubahan ke empat Tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah:
1) Pasal 3 menyatakan pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsip-
prinsip, antara lain, butir (c) terbuka dan bersaing, berarti pengadaan
barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi
persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara
penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu
berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan.
2) Pasal 5 menyatakan Pejabat Pembuat Komitmen, penyedia barang/jasa, dan
para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus
mematuhi etika sebagai berikut :
a) Butir (f) menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan
kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa.
b) Butir (g) menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang
dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan atau
pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara.
3) Pasal 13 Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri Ayat (1) menetapkan bahwa
Pejabat Pembuat Komitmen wajib memiliki Harga Perkiraan Sendiri (HPS)
yang dikalkulasikan secara keahlian dan berdasarkan data yang dapat
dipertanggungjawabkan.
4) Pasal 16 Prinsip Penetapan Sistim Pengadaan pada butir (d) Dilarang
menetapkan kriteria dan persyaratan pengadaan yang diskriminatif dan
tidak obyektif.
5) Lampiran I Bab I tentang Evaluasi Penawaran untuk Pengadaan
Barang/Jasa Pemborong/Jasa Lainnya pada butir (b) Berdasarkan hasil
evaluasi harga, panitia/pejabat pengadaan membuat daftar urutan
penawaran yang dimulai dari urutan harga penawaran terendah dan
mengusulkan penawaran terendah sebagai calon pemenang.
Hal tersebut mengakibatkan dalam pelaksanaan pengadaan laptop Kejaksaan
Agung RI Tahun 2008 terjadi indikasi kerugian negara sebesar
Rp1.317.340.500,00.
Hal tersebut disebabkan:
a. Adanya unsur kesengajaan panitia pengadaan dalam menyusun spesifikasi
barang mengarah kepada suatu rekanan/merk tertentu.
b. Panitia pengadaan tidak cermat dalam menyusun HPS.

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 7 dari 19


Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menjelaskan:
a. Bahwa di dalam menyusun spesifikasi tersebut tidak ada secara kaku panitia
harus menentukan batasan-batasan pasti, akan tetapi menggunakan standar
minimal dan maksimal sehingga diharapkan siapapun yang diputuskan sebagai
pemenang lelang oleh Pembuat Komitmen maka akan mendapatkan kualitas
barang yang baik serta jaminan garansi yang baik pula;
b. Bahwa evaluasi teknis yang dilakukan oleh Panitia, dilaksanakan berdasarkan
pada Keppres No. 80 Tahun 2003 Pasal 19 angka (2) dimana di dalam system
evaluasi teknis panitia menggunakan system gugur, yang artinya apabila
syarat-syarat teknis tidak terpenuhi maka perusahaan yang tidak memenuhi
syarat teknis tersebut dinyatakan gugur dan terhadap pengumuman Panitia atas
pemenang lelang, para peserta lelang termasuk PT. SC tidak pernah
menggunakan haknya untuk menyanggah, oleh sebab itu maka Panitia
menganggap proses lelang ini telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
c. Bahwa tidak tepat jika membandingkan harga produk laptop merk dell dan
merk Lenovo karena masing-masing mempunyai kualitas dan harga yang
bervariasi antara merk dan type, sehingga tidak wajar kalau selisih harga
penawaran antara merk berbeda dapat dijadikan alasan sebagai indikasi
merugikan Keuangan Negara;
d. Tindakan Panitia di dalam menyusun HPS, sudah melakukan survey terhadap
harga pasar melalui internet dan juga meminta harga langsung kepada
principal merk dell tanggal 1 Juli 2008 dan sudah dijawab melalui surat
tanggal 3 Juli 2008 sehingga diharapkan dengan spesifikasi tersebut akan
didapatkan harga yang sepadan antara spesifikasi dan harga perkiraan sendiri
dan di dalam pengumpulan harga melalui internet dan meminta harga
langsung ke principal tidak dilarang di dalam Keppres 80 tahun 2003 beserta
perubahan-perubahannya;
e. Sebagai informasi tambahan dapat disampaikan, bahwa pada saat
penandatanganan kontrak tejadi fluktuasi harga dolar yang semula 1 US $
Rp9.200,00 menjadi 1 US $ Rp12.000,00 tetapi dalam pelaksanaannya tidak
terjadi perubahan nilai kontrak (eskalasi harga), dan tidak terjadi penambahan
terhadap kualitas (spek teknis) maupun volume barang sehingga tetap
mengacu pada apa yang sudah diperjanjikan dalam kontrak.
BPK-RI menyarankan agar Jaksa Agung melalui:
a. Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk melakukan pemeriksaan terhadap
Pejabat Pembuat Komitmen dan Panitia Pengadaan Laptop untuk mengetahui
adanya unsur tindak pidana korupsi dalam pengadaan ini yang merugikan
keuangan negara serta menginformasikan hasilnya kepada BPK-RI.
b. Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk menonaktifkan seluruh anggota Panitia
Pengadaan laptop dari tugas pengadaan di Biro Perencanaan sampai dengan
keluarnya laporan hasil pemeriksaan Jamwas.

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 8 dari 19


2. Terdapat Selisih Kurang 4.154 Unit Barang Rampasan Berupa Handphone
Sebesar Minimal Rp116.931.664,00 antara Jumlah Menurut Putusan
Pengadilan dengan Hasil Perhitungan Appraisal pada Kejari Jakarta Utara
Berdasarkan Surat Perintah Penyitaan Nomor: SPP-31/WBC.04/BD.03/2006
tanggal 21 Juli 2006 dan Surat Tanda Penerimaan Barang Bukti Nomor: STP-
BB.31/WBC.04/BD.03/2006 tanggal 24 Juli 2006, Kantor Wilayah (Kanwil) IV
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) telah melakukan penyitaan barang
bukti atas nama tersangka Noor Johan Noeh dan Saiful S. yang diduga melakukan
tindak pidana pemalsuan dokumen pabean berupa 62 karton berisi handphone dan
aksesoris sebanyak 32.648 unit eks. Kontainer No. INBU-3190290/20 dengan
perincian:
a) HP tanpa kardus : 24.082 unit
b) HP beserta kardus : 2.179 unit
c) Kardus (tanpa HP) : 2.753 unit
d) Baterai : 3.384 unit
e) Keypad : 200 unit
f) Casing : 50 unit +/(-)
Jumlah : 32.648 unit
Barang bukti tersebut beserta tersangka dan berkas perkara telah
dilimpahkan kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara untuk dilakukan
prosedur penuntutan pada tanggal 13 September 2006.
Berdasarkan Hasil Rekapitulasi Penghitungan Barang Bukti dan Berita Acara
Penelitian dan Penerimaan Barang Bukti (BA-18), barang bukti tersebut telah
sesuai jumlah dan jenisnya dengan jumlah dan jenis yang disita oleh Kanwil IV
DJBC dan dititipkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Gudang Pluit Karang
Karya Blok B Utara Nomor 7-11, Pluit, Penjaringan-Jakarta Utara berdasarkan
Berita Acara Penitipan Barang Bukti tanggal 2 Januari 2007.
Setelah melewati proses persidangan pada Pengadilan Negeri Jakarta Utara,
majelis hakim berdasar Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor:
1761/Pid/B/2006/PN.JKT.UT tanggal 18 Desember 2006 memutuskan bahwa
barang bukti berupa handphone dan aksesoris sebanyak 32.648 unit tersebut
dirampas untuk Negara.
Sebelum melakukan pelelangan, Kejari Jakarta Utara menunjuk PT Bahana
Kareza Appraisal dan PT Sucofindo Appraisal Utama untuk melakukan penelitian
dan penilaian harga lelang barang rampasan tersebut. Perhitungan dua appraisal
tersebut menunjukkan jumlah keseluruhan barang rampasan handphone dan
aksesorisnya sebanyak 32.959 unit, sehingga terdapat selisih lebih 311 unit dari
putusan pengadilan (32.959 unit - 32.648 unit) yaitu:
PT.Bahana PT.Sucofindo Selisih Put.
Putusan
No Jenis Barang Kareza Appraisal Pengadilan
Pengadilan
Appraisal Utama dgn Appraisal

1 Handphone (Curah) 24.082 20.305 20.305 3.777


2 Handphone Set (Lengkap) 2.179 1.923 1.923 256
3 Kardus Handphone (Kosong) 2.753 2.777 2.777 (24)

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 9 dari 19


PT.Bahana PT.Sucofindo Selisih Put.
Putusan
No Jenis Barang Kareza Appraisal Pengadilan
Pengadilan
Appraisal Utama dgn Appraisal

4 Battery Handphone 3.384 3.850 3.850 (466)


5 Cassing Handphone 50 119 119 (69)
6 Keypad Handphone 200 261 261 (61)
7 Replika Handphone - 3.582 3.582 (3.582)
Handphone Set Berisi
8 - 142 142 (142)
Replika (Dummy)
Total 32.648 32.959 32.959 (311)

Karena adanya hasil perhitungan selisih lebih, kemudian Kejari Jakarta Utara
memutuskan untuk melakukan perhitungan ulang terhadap selisih barang
rampasan tersebut dengan menunjuk PT Bahana Kareza Appraisal dan PT Mitra
Panutan Apresindo. Perhitungan dua appraisal tersebut menunjukkan jumlah
keseluruhan barang rampasan handphone dan aksesorisnya sebanyak 32.648 unit,
yaitu:
PT.Bahana PT.Mitra Selisih Put
Putusan
No Jenis Barang Kareza Panutan Pengadilan
Pengadilan
Appraisal Apresindo dgn Appraisal

1 Handphone (Curah) 24.082 20.204 20.204 3.878


2 Handphone Set (Lengkap) 2.179 1.903 1.903 276
3 Kardus Handphone (Kosong) 2.753 2.777 2.777 -24
4 Battery Handphone 3.384 3.750 3.750 -366
5 Cassing Handphone 50 119 119 -69
6 Keypad Handphone 200 261 261 -61
7 Replika Handphone - 3.492 3.492 -3.492

8 Handphone Set Berisi - 142 142 -142


Replika (Dummy)
Total 32.648 32.648 32.648 0

Dari tabel diatas diketahui bahwa walaupun jumlah barang rampasan


berdasarkan perhitungan appraisal sama dengan jumlah menurut putusan
pengadilan, tetapi sebanyak 4.154 unit handphone (3.878 handphone curah + 276
handphone set lengkap) sebesar minimal Rp116.931.664,00 tidak diketemukan
dan digantikan dengan 3.634 unit replika handphone/dummy (3.492 replika
handphone/dummy + 142 handphone set berisi replika/dummy).
Nilai Total Nilai
Putusan
No Nama Barang Appraisal Selisih Likuidasi per Likuidasi
Pengadilan
Unit (Rp)* (Rp)

1 HP tanpa kardus 24.082 20.204 3.878 26.840 104.085.520


2 HP Set dengan kardus 2.179 1.903 276 46.544 12.846.144
Total 26.261 22.107 4.154 73.384 116.931.664
*Nilai likuidasi berdasarkan PT Bahana Kareza Appraisal

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 10 dari 19


Kejari Jakarta Utara sendiri telah melakukan pelelangan terhadap barang
rampasan tersebut melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
(KPKNL), walaupun ditemukan adanya perbedaan antara putusan pengadilan
dengan penilaian appraisal. Hasil bersih lelang barang rampasan tersebut senilai
Rp658.845.000,00 sebagaimana tercantum dalam Salinan Risalah Lelang
Nomor:14/2009 tanggal 26 Februari 2009, dan telah disetor ke kas negara pada
tanggal 4 Maret 2009 berdasarkan SSBP dengan No.NTPN 0202 0110 0203 1415.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana Pasal 44 ayat (2)
menyatakan bahwa penyimpanan benda sitaan dilaksanakan dengan sebaik-
baiknya dan tanggung jawab atasnya ada pada pejabat yang berwenang sesuai
tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan dan benda tersebut dilarang untuk
dipergunakan oleh siapapun juga.
b. Lampiran Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor:
KEP112/JA/10/1989 tentang Mekanisme Penerimaan, Penyimpanan dan
Penataan Barang Bukti Bab I Penerimaan Barang Bukti:
1) Setiap penyerahan barang bukti/temuan secara fisik oleh penyidik kepada
Kejaksaan diterima oleh:
a) Kejaksaan Tinggi oleh Kasi Penuntutan Tindak Pidana Umum/Kasi
Penuntutan Tindak Pidana Khusus.
b) Kejaksaan Negeri oleh Kasi Tindak Pidana Umum/Kasi Tindak Pidana
Khusus.
c) Cabang Kejaksaan Negeri oleh Kasubsi Tindak Pidana.
2) Barang bukti yang akan diterima oleh Petugas tersebut pada butir 1 wajib
terlebih dahulu secara fisik dicocokkan dengan daftar yang terdapat dalam
berkas perkara dengan disaksikan oleh tersangka, terdakwa dan penyidik.
Selain wajib mencocokkan barang bukti dengan daftar barang, juga
meneliti jumlah satuan, berat, kadar nilai barang bukti serta sifatnya Hasil
penelitian dituangkan dalam Berita Acara Penelitian Barang Bukti (B-1),
dan ditanda tangani bersama oleh yang menyerahkan, yang meneliti, dan
menerima.
3) Setelah ditunjuk Jaksa Penuntut Umum (Pemegang PK-5A) ia wajib
meneliti kembali fisik barang bukti seperti tersebut dalam daftar barang
bukti dengan disaksikan oleh Petugas Barang Bukti Penerima Barang
Bukti. Hasil penelitian agar dituangkan dalam Berita Acara Penelitian
Barang Bukti (B-1) dan ditanda tangani oleh Jaksa Penuntut Umum dan
Petugas Penerima Barang Bukti.
c. Surat Edaran (SE) Jaksa Agung Muda Pengawasan No. B-045/H/Hkp/
08/1999 tanggal 18 Agustus 1999 tentang pemantauan berkala terhadap
barang bukti sitaan dititipkan kepada pemilik/pihak ketiga, yang menyebutkan
para Kepala Kejaksaan Negeri disarankan melakukan pemantauan secara
berkala terhadap barang bukti sitaan yang dititipkan kepada pemilik/pihak
ketiga dengan maksud agar:

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 11 dari 19


1) Barang bukti tersebut pada waktunya dapat dihadirkan kedepan sidang
pengadilan dalam keadaan baik, sehingga tidak mengganggu proses
persidangan.
2) Mencegah agar barang bukti tidak dijual, ditukar, digadaikan, hilang,
terbakar, tidak dirubah bentuk dan warnanya, dan lain-lain sebelum
perkaranya selesai (in kracht van gewijzde).
3) Agar barang bukti tidak disalahgunakan oleh orang/pihak yang dititipi
atau oleh orang yang tidak berhak/berwenang.
d. Seharusnya jumlah dan jenis barang dhi. handphone tidak berubah sejak
penyitaan, penyidikan, penuntutan, putusan pengadilan yang incracht sampai
dengan saat eksekusi/pelelangan.
Hal tersebut mengakibatkan potensi jumlah penerimaan negara yang berasal
dari pelelangan barang rampasan berkurang sebesar minimal Rp116.931.664,00.
Hal tersebut disebabkan JPU yang menangani perkara tersebut lalai
melakukan pengamanan terhadap barang rampasan yang menjadi tanggung
jawabnya.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menjelaskan:
a. Terjadinya selisih jumlah barang rampasan karena perhitungan yang dilakukan
petugas barang bukti/JPU pada Kejaksaan Negeri Jakarta Utara bersama
dengan penyidik Bea dan Cukai dilakukan secara global tanpa dirinci jenis,
tipe, dan replika handphone barang bukti. Sedangkan perhitungan yang
dilakukan oleh appraisal dilakukan secara rinci dengan cara memilah-milah
jenis, keadaan, atau bentuk antara lain: handphone tanpa kardus, handphone
beserta kardus, kardus handphone, baterai, casing dan replika. JPU yang
menangani tidak mengurangi dan atau menggantikan handphone curah
maupun handphone set dengan replika handphone dummy maupun aksesoris
lainnya.
b. Barang rampasan tersebut sudah cukup lama disimpan dan dititipkan pada
Gudang Pluit Karang Karya Blok B Utara Nomor 7-11 Pluit Penjaringan
Jakarta Utara, sehingga agar nilai ekonomisnya tidak semakin menurun dan
tidak membebani biaya sewa gudang yang ditanggung oleh kejaksaan serta
tidak berlarut-larutnya penyelesaian maka Kejari Jakarta Utara melakukan
pelelangan terhadap barang rampasan berupa handphone dan aksesorisnya
tersebut melalui kantor lelang Negara.
BPK-RI menyarankan agar Jaksa Agung melalui Jaksa Agung Muda
Pengawasan melakukan pemeriksaan kepada JPU terkait perbedaan jumlah barang
rampasan handphone pada Kejari Jakarta Utara dan menginformasikan hasil
pemeriksaan kepada BPK-RI. Supaya kasus tersebut tidak berulang dimasa
mendatang.

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 12 dari 19


3. Penyelesaian Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR)
pada Kejaksaan RI Tidak Berjalan Secara Efektif
Untuk mengoptimalkan pengamanan kekayaan negara di lingkungan
Kejaksaan Republik Indonesia, setiap perbuatan melanggar hukum, kesalahan,
kelalaian atau kealpaan yang menimbulkan kerugian negara harus diganti dan
ditagih agar kerugian negara dapat dipulihkan. Usaha untuk mendapatkan
penggantian dan atau mempercepat proses pengembalian kerugian negara
dilakukan melalui proses Tuntutan Perbendaharaan atau Tuntutan Ganti Rugi.
Tuntutan perbendaharaan merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap
bendahara dengan tujuan untuk menuntut penggantian atas suatu kerugian yang
diderita oleh negara sebagai akibat langsung ataupun tidak langsung dari suatu
perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh bendahara tersebut atau
kelalaian dalam pelaksanaan tugas kewajibannya.
Tuntutan ganti rugi merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap
pegawai negeri bukan bendahara dengan tujuan untuk menuntut penggantian atas
suatu kerugian yang diderita oleh negara sebagai akibat langsung ataupun tidak
langsung dari suatu perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh pegawai
tersebut atau kelalaian dalam pelaksanaan tugas kewajibannya.
Dalam melaksanakan proses penyelesaian kerugian negara, Kejaksaan
Agung telah membentuk Tim Penyelesaian Kerugian Negara (TPKN) melalui
Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi di Lingkungan Kejaksaan RI
dengan Surat Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : KEP-
695/A/JA/12/2002 tanggal 17 Desember 2002.
Menurut KEPJA Nomor: KEP-481/A/JA/09/2002 tanggal 6 September 2002
menyebutkan bahwa fungsi Tim adalah sebagai berikut:
a. Mengumpulkan, menatausahakan, menganalisa dan mengevaluasi kasus
TP/TGR yang diterima.
b. Memberikan pendapat dan saran kepada Jaksa Agung dalam menyelesaikan
kasus kerugian negara termasuk penerbitan keputusan pembebanan, banding,
pembebasan, penghapusan, hukuman disiplin, melimpahkan kepada Badan
Peradilan atau Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN).
c. Membentuk Tim Ad-Hock untuk membantu penyelesaian kerugian negara di
Kejaksaan RI di daerah.
d. Mengkoordinasikan pelaksanaan eksekusi TP dan atau TGR.
e. Atas nama Jaksa Agung menyampaikan laporan perkembangan penyelesaian
kasus kerugian negara kepada BPK-RI dan instansi terkait lainnya.
Sebagai pedoman penyelesaian terhadap TP/TGR, Kejaksaan Agung telah
menyusun Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor KEP-
481/A/J.A/09/2002 tanggal 6 September 2002 tentang Tata Cara Penyelesaian
Kerugian Negara Melalui Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi di
Lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia. Proses penyelesaian TP/TGR, antara
lain diatur sebagai berikut:

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 13 dari 19


a. Informasi kerugian negara yang diperoleh kepala satker harus dilaporkan
paling lambat 7 (tujuh) hari sejak informasi tersebut diketahui, dengan rincian
sebagai berikut:
1) Apabila diduga adanya kerugian negara, pelaporan ditujukan kepada
Jaksa Agung u.p. Ketua TPKN.
2) Apabila dugaan adanya kerugian negara telah memiliki kepastian,
pelaporan ditujukan kepada Jaksa Agung u.p. Ketua TPKN dan
tembusannya kepada Ketua BPK RI.
3) Apabila dugaan adanya kerugian negara menyangkut adanya peristiwa
pencurian atau perampokan (pidana), pelaporan juga dilakukan kepada
Kepolisian setempat untuk dimintakan pemeriksaan di Tempat Kejadian
Perkara (TKP), Berita Acara Pemeriksaan TKP dijadikan lampiran dalam
pelaporan yang ditujukan kepada Jaksa Agung u.p. Ketua TPKN.
b. Penetapan besarnya kerugian negara terkait Tuntutan Perbendaharaan
dilakukan oleh BPK RI sedangkan untuk Tuntutan Ganti Rugi dilakukan oleh
TPKN dengan memperhatikan:
1) Penetapan besarnya jumlah kerugian negara akibat hilangnya uang
adalah sebesar nilai uang yang hilang.
2) Penetapan besarnya jumlah kerugian negara akibat barang yang rusak
adalah sebesar biaya perbaikan kerusakan barang tersebut.
3) Penetapan jumlah kerugian negara sebagai akibat hilangnya barang
adalah sebagai berikut:
a) Untuk barang yang tidak diketahui harga standarnya, penetapan
besarnya kerugian berdasarkan harga pasar (umum) setempat pada
saat barang itu hilang tanpa penyusutan.
b) Untuk barang yang sudah ditetapkan harga standarnya, penetapan
besarnya kerugian sebesar harga standar terakhir tanpa penyusutan.
c. Jika dalam proses pemeriksaan pendahuluan terbukti adanya unsur kelalaian
pelaku dan diketahui nilai kerugian negara yang pasti serta adanya pengakuan
dan pernyataan tanggung jawab dari pelaku, maka pengembalian kerugian
negara dapat dilakukan dengan cara damai dengan segera atau secara diangsur
oleh pelaku.
d. Namun jika proses penyelesaian kerugian negara tidak bisa dilaksanakan
dengan cara damai maka dilakukan proses TP/TGR, yaitu setelah terbitnya SK
Pembebanan oleh BPK atas TP dan SK Pembebanan Ganti Rugi oleh TPKN
segera dilakukan eksekusi oleh Jaksa Agung dhi. TPKN dengan mekanisme
sebagai berikut:
1) Eksekusi terhadap pembayaran (angsuran)
Eksekusi terhadap pembayaran angsuran dilakukan oleh bendaharawan
gaji dengan mekanisme sebagai berikut:

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 14 dari 19


a) Memotong gaji/penghasilan lain dan selanjutnya menyetorkannya ke
kas negara.
b) Menerima setoran tunai lainnya sebagai angsuran ganti rugi.
c) Membukukan sesuai administrasi keuangan yang berlaku.
d) Melaporkan perkembangan angsuran kerugian negara kepada Kepala
Satker dan diteruskan kepada Jaksa Agung cq. TPKN.
e) Apabila pelaku memasuki masa pensiun atau dipindahtugaskan maka
bendaharawan gaji segera memindahkan sisa kerugian negara kepada
PT Taspen/Instansi terkait dengan mencantumkan sisa kerugian
negara dalam Surat Keterangan Penghentian Pembayaran (SKPP).
f) Apabila penagihannya mengalami kemacetan, maka penagihan
selanjutnya dapat dilimpahkan kepada Kantor Pelayanan Piutang
Lelang Negara (KP2LN).
2) Eksekusi terhadap barang jaminan
Eksekusi atas barang jaminan dilakukan dengan tata cara sebagai berikut:
a) Ketua TPKN memerintahkan kepada Kepala Satker untuk segera
menerbitkan Surat Perintah Tim Eksekusi SK Pembebanan.
b) Tim Eksekusi yang terdiri dari pejabat dari unsur-unsur satuan kerja
terkait mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:
(1) Melakukan penelitian dan penaksiran kembali harga barang yang
akan dilelang.
(2) Melakukan kegiatan lelang dengan bekerjasama dengan Kantor
Lelang setempat.
(3) Menyerahkan hasil lelang kepada Bendaharawan
Gaji/Bendaharawan yang ditunjuk untuk selanjutnya disetor ke
kas negara.
(4) Melaporkan daftar perhitungan hasil pelelangan kepada Ketua
TPKN dengan disertai bukti bukti.
e. TP/TGR dianggap selesai/dapat dihapuskan dari catatan Kejaksaan RI apabila:
1) Pembayaran ganti rugi telah lunas.
2) Penagihan telah dilimpahkan kepada pihak lain.
3) Pelaku dalam kondisi tidak mampu.
4) Tuntutan telah kadaluwarsa.
Berdasarkan hasil wawancara dengan anggota TPKN dhi. Kabag.
Pendapatan dan Perbendaharaan pada Jaksa Agung Muda Pembinaan dan
Bendahara Penerima di Kejaksaan Agung terkait TP/TGR diketahui bahwa TPKN
Kejaksaan Agung bertugas membantu tugas Jaksa Agung dalam upaya
menyelesaikan kasus-kasus kerugian negara dari perbuatan melanggar hukum
melalui proses penuntutan yang susunan keanggotaannya terdiri dari Pejabat

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 15 dari 19


Eselon I dan II. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, TPKN tersebut tidak berjalan
sebagaimana mestinya dan tidak pernah melakukan sidang atau rapat sejak yang
bersangkutan menjabat sebagai Kepala Bagian Pendapatan dan Perbendaharaan
pada Jaksa Agung Muda Pembinaan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan atas dokumen terkait TP/TGR menunjukkan
hal-hal sebagai berikut:
a. Dokumen yang diperoleh oleh Tim BPK RI adalah daftar rekapitulasi tagihan
Tuntutan Ganti Rugi yang telah tercatat di Kejaksaan Agung posisi sampai
dengan Desember 2008. Sampai saat pemeriksaan berakhir pada tanggal 8
April 2009, Tim BPK RI tidak memperoleh dokumen pendukung yang
diantaranya berupa Surat Keterangan Penetapan Tuntutan Ganti Rugi, Surat
Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM), dan dokumen lain yang terkait
dengan penetapan Tuntutan Ganti Rugi tersebut. Hal ini menyulitkan Tim
BPK RI untuk melakukan penelusuran. Rincian tagihan Tuntutan Ganti Rugi
Kejaksaan Agung s/d Desember 2008 yaitu:
Nilai
Uraian Angsuran Sisa
No Penanggung Jawab Kerugian Status
Th. Kejadian (Rp) (Rp)
(Rp)
1. RS Haryanto Terdapat kehilangan 4.700.000 4.600.000 100.000 Dalam proses
Yuana Wira TU kendaraan dinas angsuran
NIP.230015558 Honda GL Max th.
Staf Set JamBin 1996
Tahun 1998
2. Hardjito Terdapat kehilangan 6.800.000 3.150.000 3.650.000 Dalam proses
NIP.230024032 kendaraan dinas angsuran/
Staf Bag. Honda Cup NF 100 ybs.pindah
Sunproglapnil th. 1999 (KN. Slawi)
Set Jambin Tahun 2001
3. Ivone Pangau, MM Terdapat kehilangan 34.000.000 0 34.000.000 Belum
Kabag Pemantauan kendaraan dinas dilakukan
dan Penilaian Toyota Kijang th. penagihan
Biro Perencanaan 1992
pada Jambin Tahun 2002
4. Putu Sutedja Terdapat kehilangan 51.000.000 0 51.000.000 Belum
Sekretaris Jaksa kendaraan dinas dilakukan
Agung Muda Pidana Toyota Kijang th. penagihan
Umum 1998
Tahun 2001
5. Suwarta Terdapat kehilangan 6.800.000 4.550.000 2.250.000 Dalam proses
NIP.230026379 kendaraan dinas angsuran
Tata Usaha pada Honda Astrea Supra
Sub Bag Umum th. 1999
Pengawasan Tahun 2000

Jumlah 103.300.000 12.300.000 91.000.000

b. Tidak ada Tim Ad-Hoc yang dibentuk untuk pengelolaan atau penyelesaian
Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi di daerah-daerah baik di
tingkat Kejaksaan Tinggi maupun Kejaksaan Negeri berdasarkan uji petik di
Kejati DKI Jakarta (Kejari Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur,
Jakarta Barat, dan Jakarta Utara), Kejati Jawa Barat (Kejari Bandung, Bale
Bandung, Garut, Kuningan, Indramayu, Cirebon, Sumber, Purwakarta,
Cikarang, Bekasi), Kejati Nanggroe Aceh Darussalam (Kejari Banda Aceh,
Jantho, Sigli, Kuala Simpang), Kejati Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
(Kejari Yogyakarta, Sleman, Bantul, Wonosari, Wates), dan Kejati Sulawesi
Utara (Kejari Manado, Bitung, Tondano, Tomohon, Amurang).

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 16 dari 19


c. Saldo Tagihan TP/TGR yang disajikan dalam Neraca Kejaksaan RI tahun
2008 (unaudited) adalah sebesar Rp165.712.027,00 yang terdiri dari:
1) TGR ...................................... Rp 91.000.000,00
2) TP ......................................... Rp 74.712.027,00 +/(-)
Jumlah ...................................... Rp 165.712.027,00
Saldo tagihan TGR sebesar Rp91.000.000,00 berasal dari 5 (lima) kasus
berupa kehilangan kendaraan dinas baik roda empat maupun roda dua
(seperti tabel di atas).
Sedangkan saldo Tagihan Tuntutan Perbendaharaan sebesar Rp74.712.027,00
yang terdiri dari dua kasus, yaitu senilai Rp37.488.627,00 atas nama
Lodewijk berupa ketekoran kas pada Proyek Prasarana Fisik di Kejati NTT
sejak tahun 2006 tapi belum ada penyelesaiannya sampai tanggal Neraca 31
Desember 2008 dan senilai Rp37.223.400,00 atas nama Jhony Awondatu
sebagai Bendahara Penerima pada Kejaksaan Negeri Bitung, Sulawesi Utara
sejak tahun 2008, tapi belum disertai dengan Surat Keputusan tentang
Penyelesaian Tuntutan Ganti Rugi, SK dari BPK, dan Surat Keterangan
Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM). Pencatatan hanya berdasarkan Surat
Keputusan penjatuhan hukuman disiplin tingkat berat berupa penurunan
pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun
sesuai dengan Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : KEP-VI-
023/C/05/2008 dan surat pernyataan atas nama Jhony Awondatu bahwa yang
bersangkutan bersedia mengembalikan uang tersebut sejumlah
Rp37.088.400,00 secara cicil melalui pemotongan gaji setiap bulan sebesar
Rp500.000,00.
d. TPKN tidak menjalankan tugasnya dalam pengelolaan TP/TGR dengan baik,
sehingga pemulihan kerugian negara kurang optimal dan masih terdapat
kerugian negara yang belum dilunasi.
1) Analisa terhadap tingkat ketertagihan untuk penyelesaian TGR/TP di
Kejaksaan RI menunjukkan bahwa selama tahun 2008 untuk TGR hanya
mencapai sebesar Rp1.200.000,00 (1,30%) dari saldo awal 2008 sebesar
Rp92.200.000,00. Sedangkan untuk TP di Kejaksaan RI selama tahun
2008 belum pernah ada pembayaran.
2) Berdasarkan umur TP/TGR diketahui bahwa sebagian besar (77,54%)
Tagihan TP/TGR telah berumur lebih dari setahun dan bagian lancarnya
hanya 22,46%. Tabel aging dan pemisahan TP untuk aset lancar dan aset
lainnya:
Aging/Umur Piutang TP
No Jenis TP/TGR Jumlah
< 1 tahun > 1 tahun

1. TP 37.223.400,00 37.488.627,00 74.712.027,00

2. TGR 0 91.000.000.00 91.000.000,00

Jumlah 37.223.400 128.488.627,00 165.712.027,00

Persentase 22,46% 77,54% 100,00%

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 17 dari 19


3) Disamping itu, terdapat satu kasus TGR atas nama Sdr. Syahriel Ismail,
SH., yaitu kehilangan kendaraan dinas Kejaksaan Tinggi Sumatera
Selatan sejak tahun 2004 dengan Nomor Polisi BG-2342-LZ yang sampai
saat pemeriksaan BPK berakhir pada tanggal 8 April 2009 belum ada
surat ketetapannya sehingga belum dilaporkan dalam LK Kejaksaan RI
tahun 2008. Saat ini status masih dalam proses pengajuan laporan dari
Jaksa Agung Muda Pengawasan kepada Jaksa Agung Republik Indonesia
sejak tanggal 24 Juli 2008.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Bab XI tentang Penyelesaian
Kerugian Negara/ Daerah Pasal 59 menyebutkan bahwa :
1) Setiap kerugian negara/daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar
hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
2) Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang
karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang
dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan negara,
wajib mengganti kerugian tersebut.
3) Setiap pimpinan kementerian negara/lembaga/kepala satuan kerja
perangkat daerah dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi, setelah
mengetahui bahwa dalam kementerian negara/lembaga/satuan kerja
perangkat daerah yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan
dari pihak mana pun.
b) Keppres No. 42 Tahun 2002 Tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan Dan Belanja Negara Pasal 8 (1) menyatakan antara lain
Departemen/lembaga wajib :
a. mengadakan intensifikasi pemungutan pendapatan negara yang menjadi
wewenang dan tanggung jawabnya.
b. mengintensifkan penagihan dan pemungutan piutang negara.
c. melakukan penuntutan dan pemungutan denda yang telah diperjanjikan.
c) Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia No. KEP-481/A/J.A/09/2002
tentang Tata Cara Penyelesaian Kerugian Negara melalui Tuntutan
Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi di Lingkungan Kejaksaan Republik
Indonesia Bab II Pengorganisasian Penyelesaian Kerugian Negara
menyebutkan bahwa untuk meningkatkan ketertiban dan kelancaran
penyelesaian kerugian negara diperlukan pengorganisasian yang tertib.
Pengorganisasian dilakukan dengan menentukan berkas yang harus ada pada
setiap kasus kerugian negara, diadministrasikan secara sistematis, tertib, dan
kronologis. Menetapkan Kepala Satuan Organisasi yang akan menangani
penyelesaian kerugian negara dengan menetapkan tugas, fungsi dari masing-
masing satuan terkait, serta pengaturan koordinasi dan mekanisme
penyelesaiannya.

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 18 dari 19


Hal tersebut mengakibatkan penyelesaian TP/TGR pada Kejaksaan RI tidak
berjalan secara efektif.
Hal tersebut disebabkan kurangnya koordinasi dalam TPKN sendiri maupun
dengan satker di daerah terkait dalam pengelolaan TP/TGR.
Atas permasalahan tersebut Kejaksaan RI menjelaskan bahwa TPKN belum
terlaksana secara optimal karena belum tersusunnya prosedur dan mekanisme
kerja serta petunjuk teknis pada tingkat pelaksana bagaimana cara penyelesaian
TP/TGR. Kejaksaan RI akan membentuk tim kerja yang membantu TPKN baik di
Kejaksaan Agung maupun di Kejaksaan Tinggi serta membuat juklak/juknis
sehingga TP/TGR bisa diselesaikan.
BPK RI menyarankan Jaksa Agung agar:
a. Memberikan sanksi sesuai ketentuan tentang pegawai negeri kepada TPKN
sehingga dapat meningkatkan koordinasi dalam pengelolaan TP/TGR dengan
baik.
b. Meningkatkan intensifkasi penerimaan TP/TGR.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

BPK-RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 Halaman 19 dari 19


Lampiran 1

I. PEMANTAUAN TINDAK LANJUT ATAS HASIL PEMERIKSAAN LK KEJAKSAAN RI TAHUN 2007

Temuan Berulang *) Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK Nilai Temuan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut *)
2006 2005 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
Pemungutan Sewa Rumah Agar Jaksa Agung menginstruksikan Akan diberikan petunjuk kepada
1.
Dinas Dalam Pengelolaan Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk penghuni rumah dinas Kejaksaan RI

Kejaksaan Agung RI TA menertibkan pengelolaan rumah dinas untuk menunjukkan dan
2007 Belum Intensif dan Kejaksaan RI termasuk dari sewa menyerahkan bukti setor sewa
Sebagian Besar Rumah rumah dinas tersebut. rumah dinas yang telah dibayar ke
Dinas Dihuni oleh Pihak Kas Negara kepada bendahara
yang Tidak Berhak. khusus penerimaan.
Pengelolaan Aset yang Agar Jaksa Agung menginstruksikan -
2.
Berasal Dari Eks-Tim Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk

Tastipikor Tidak Tertib. segera menarik aset dari eks Tim
Tastipikor dan mencatat serta
melaporkannnya sebagai aset tetap.
Terdapat Kelebihan Agar Jaksa Agung melalui Jaksa -
3.
Pembayaran Dalam
Rp250.790.025,00.
Agung Muda Pembinaan:

Pekerjaan Pembangunan/ • Memberikan teguran kepada
Rehabilitasi Gedung di panitia pengadaan Biro Umum
Lingkungan Kejagung RI yang lalai dalam menjalankan
Sebesar tugasnya.
Rp250.790.025,00. • Segera menarik kelebihan
pembayaran sebesar
Rp250.790.025,00 kepada rekanan
dan menyetorkan ke kas negara.
*)
Beri tanda √ untuk kolom yang sesuai

BPK RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 1


Lampiran 1

II. PEMANTAUAN TINDAK LANJUT ATAS HASIL PEMERIKSAAN LK KEJAKSAAN RI TAHUN 2006

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Temuan Berulang **) Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut **)
2005 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
Uang Titipan Denda Tilang dan Agar Jaksa Agung melakukan Nota Dinas Jam Was kepada Karo
1.
Biaya Perkara yang
Rp508.909.482,00
koordinasi dengan Mahkamah Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor

Mengendap pada Bank Rakyat Agung, Polri dan BRI untuk : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007 tanggal 16
Indonesia (BRI) untuk Wilayah menyelesaikan permasalahan uang November 2007 perihal Laporan hasil
Kejati Sumatera Selatan dan titipan pembayaran denda dan biaya pemeriksaan BPK RI atas Laporan
Kejati Jambi per 31 Desember tilang yang mengendap di kantor- Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun
2006 Sebesar kantor cabang BRI dan 2006.
Rp508.909.482,00 Belum memerintahkan Kepala Kejaksaan
Dilimpahkan ke Kas Negara Tinggi Sumatera Selatan dan Jambi
Sebagai Penerimaan Negara untuk melakukan koordinasi dengan
Kanwil BRI masing-masing supaya
saldo giro I yang masih mengendap di
berbagai Kantor Cabang BRI dapat
segera dilimpahkan dan disetorkan ke
kas negara.
Dana Bantuan Tunai dari Agar Jaksa Agung memerintahkan Nota Dinas Jam Was kepada Karo
2.
American Embassy Jakarta,
Rp1.397.094.000,00
Kepala Biro Keuangan untuk Keuangan dan Karo Perlengkapan

Department of Justice, Office memasukkan Dana Bantuan Tunai Nomor : ND-242/H.3/Hkp.2/11/2007
of Overseas Proseculturial dari American Embassy Jakarta ke tanggal 16 November 2007 perihal
Assistance and Training dalam Catatan Atas Laporan Laporan hasil pemeriksaan BPK RI atas
kepada Kejaksaan Agung RI Keuangan Tahun 2006 dan untuk Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI
untuk Keperluan Satuan Tugas pengadaan barang inventarisnya tahun 2006.
Tindak Pidana Terorisme dan dicantumkan ke dalam neraca Tahun
Tindak Pidana Lintas Negara 2007.
Sebesar Rp1.397.094.000,00
Belum Dilaporkan Dalam
Laporan Keuangan Kejaksaan
Agung Tahun 2006
Tuntutan Ganti Rugi atas Agar Jaksa Agung memerintahkan Nota Dinas Jam Was kepada Karo
3.
Kendaraan Dinas Kejati Jaksa Agung Muda Pengawasan Keuangan dan Karo Perlengkapan Nomor

Sumatera Selatan No. BG 2342 untuk segera menerbitkan keputusan : ND-242/H.3/ Hkp.2/11/2007 tanggal 16
LZ yang Hilang Sejak Tahun TGR kepada yang bersangkutan dan November 2007 perihal Laporan hasil
2004 Belum Dilaksanakan melakukan koordinasi dengan Biro pemeriksaan BPK RI atas Laporan
Keuangan untuk dilakukan Keuangan Kejaksaan Agung RI tahun

BPK RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 2


Lampiran 1

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Temuan Berulang **) Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut **)
2005 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
pemotongan gaji atau alternatif 2006.
pembayaran lainnya sesuai ketentuan.
*)
Diisi dengan permasalahan yang diungkapkan di LHP atas LKKL Tahn 2006 tapi tidak dilaporkan dalam LHP 2007
**)
Beri tanda √ untuk kolom yang tepat

BPK RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 3


Lampiran 1

III. PEMANTAUAN TINDAK LANJUT ATAS HASIL PEMERIKSAAN LK KEJAKSAAN RI TAHUN 2005

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Temuan Berulang Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut **)
Tahun 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
(Y/T) Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
Terdapat aset kejaksaan Jaksa Agung segera Nota Dinas Jam Bin kepada Karo
1.
tanpa didukung bukti- menginventarisir ulang seluruh aset Perlengkapan dan Karo Keuangan

bukti kepemilikan yang tanah, bangunan dan kendaraan Nomor : ND-080/C/03/2007 tgl 14
sah. diseluruh Indonesia dan lebih aktif Maret 2007 perihal ditemukan aset
dalam pengurusan sertifikat tanah, pada Kejati Lampung, Sumbar,
IMB dan surat-surat kendaraan Bengkulu, dan Riau berupa
bermotor berupa BPKB dan STNK. sebidang tanah, bangunan, dan
kendaraan tidak mempunyai/tidak
didukung adanya bukti-bukti
kepemilikan yang sah.
Terdapat perlakuan atas Agar Jaksa Agung RI melalui Nota Dinas Jam Bin kepada Jam
2.
barang rampasan yang Kajati Pekanbaru, Lampung dan Was Nomor : ND-083/C/03/2007

tidak sesuai ketentuan Sumatera Barat memerintahkan para tgl 14 Maret 2007 tentang adanya
Kajari untuk melakukan langkah- keterlambatan pelimpahan barang
langkah: menginventarisir barang rampasan dari seksi Pidum/Pidsus
rampasan yang rusak dan tidak ada ke bagian Pembinaan untuk
peminatnya dan mengajukan usulan dilelang, adanya keterlambatan
penghapusannya ke Menteri penyelesaian proses pelelangan
Keuangan melalui Kejaksaan Agung barang rampasan oleh bagian
RI sesuai ketentuan yang berlaku; Pembinaan dan penjualan barang
meningkatkan koordinasi dengan rampasan tanpa melalui proses
instansi terkait untuk mempercepat lelang.
proses taksasi harga barang
rampasan; segera melaksanakan
lelang terhadap barang rampasan
yang putusan pengadilannya telah
mempunyai kekuatan hukum tetap;
meningkatkan pengawasan dan
berko-ordinasi dengan Pengadilan
Tinggi dan Pengadilan Negeri untuk
mempercepat penyampaian salinan
putusan Pengadilan kepada pihak
Kejaksaan.

BPK RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 4


Lampiran 1

Temuan Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK*) Nilai Temuan Berulang Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Tindak Lanjut **)
Tahun 2004 Diperiksa Sesuai Belum Belum
(Y/T) Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
3.
Uang dari barang Agar Jaksa Agung melalui Kajati • Nota Dinas Jam Bin kepada Jam √
rampasan yang sudah Lampung, Sumatera Barat, Pidum dan Jam Was Nomor :
mempunyai kekuatan Bengkulu dan Pekanbaru ND-087/C/03/2007 tanggal 14
hukum tetap, memerintahkan masing-masing Maret 2007 tentang uang yang
penyetorannya melampaui Kajari melakukan pengawasan atas dirampas untuk negara
batas waktu yang telah pelaksanaan putusan pengadilan, berdasarkan putusan PN
ditentukan dan memerintahkan JAMWAS terlambat disetor kepada BKP
menindaklanjuti temuan BPK; dan ada juga yang sudah
ditangan BKP tetapi belum
disetor ke Kas Negara.
• Surat Jam Pidum kepada Kajati
Bengkulu, Lampung, Sumbar
dan Riau Nomor : B-388-
391/E/Euh/04/2007 tgl 30 April
2007 tentang petunjuk agar
Kajati/JPU mempe-domani surat
Jam Pidum Nomor : B-235/
E/3/1994 tgl 4 Maret 1994 poin
sub 5.2.3 dan melaporkan
pelaksanaannya serta kendalanya
sehingga barang bukti uang yang
dirampas untuk negara tersebut
terlambat disetorkan ke BKP
maupun BKP yang belum
menyetorkan ke Kas Negara.
*)
Diisi dengan permasalahan yang diungkapkan di LHP atas LKKL Tahun 2005 tapi tidak dilaporkan dalam LHP 2006 maupun 2007
**)
Beri tanda √ untuk kolom yang sesuai

BPK RI LHP Kepatuhan - LK Kejaksaan RI Tahun 2008 5