Anda di halaman 1dari 16

Cintailah Orang Tua Kita

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan


anak lelaki
yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu
setiap hari.Ia
senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon,
memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.
Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.
Demikian pula pohon
apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus
berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap
harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya
tampak sedih."Ayo
ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon
apel itu. "Aku
bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak
lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang...
tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau
bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak
lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di
pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang
lagi. Pohon apel itu

kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel
sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main dengan ku
lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah
untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah.
Tapi kau boleh menebang
semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon
apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa
bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel
merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi
deganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku
sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan
berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya
kapal, tapi kau boleh memotong batang
tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau
mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak
lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang
diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang
menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun
kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak
memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak
memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku
juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata
pohon apel."Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-
benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku
berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua
dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku
tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat
lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah
tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah
berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan
tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon
apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air
matanya. Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan
ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan
hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk
memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat
kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan
orang tua kita. Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan,
yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua
kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas
seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
Success is not the key of happiness. Happiness is the key of
success.

Demi Semangkuk Nasi Putih (The True of Story)

Ada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya
seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat
saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi, dengan sifat
yang segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut. Tolong sajikan saya
semangkuk nasi putih. Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik
rumah makan.
Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya
meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan
semangkuk penuh nasi putih untuknya.
Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan sangat
perlahan bahkan setengah berbisik : Sudikah ibu menyiram sedikit kuah sayur di atas nasi
saya.
Bapak pemilik Warung makan itu menjawab perlahan sambil tersenyum : Ambil saja apa
yang engkau suka dan tak perlu membayar
Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir: kuah sayur gratis. Lalu memesan semangkuk
lagi nasi putih. Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak
lagi nasinya. Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.
Tetapi pemuda itu menjawab, Bukan itu bu, maksud saya akan membawa pulang, besok
akan membawa ke sekolah sebagai bekal makan siang saya!
Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan terdiam ber urai air mata, seraya
berfikir.pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota, demi menuntut ilmu datang ke
kota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.
Berpikir sampai di situ pemilik Bapak pemilik warung makan tsb lalu menaruh sepotong
daging dan sebutir telur disembunyikan di bawah nasi, kemudian membungkus nasi
tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada
pemuda ini.
Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya
dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di bawah nasi? Suaminya
kemudian membisik kepadanya: Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk di nasinya dia
tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung
lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi
putih, mana ada gizi untuk bersekolah.
Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya.
Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku? Sepasang suami istri muda ini
merasa gembira dapat membantu orang lain.
Terima kasih, saya sudah selesai makan. Pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia
mengambil bungkusan nasinya, dia membalikkan badan melihat dengan pandangan mata
berterima kasih kepada mereka.
Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat! katanya sambil melambaikan
tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-
segan untuk datang lagi.
Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini
singgah ke rumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan
semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari. Sudah
pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap
hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.
Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan
sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata
pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan di luar negeri yang perlu
biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.
Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek dan kelihatannya
seperti direktur dari kantor bonafid tsb menyapa Apa kabar? Saya adalah wakil
direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian
membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya,
kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian ke sana, keuntungannya akan dibagi
2 dengan perusahaan.
Siapakah direktur diperusahaan kamu?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak
ingat mengenal seorang yang begitu mulia! sepasang suami istri ini berkata dengan
terheran??
Marilah, Saya akan antar anda bertemu dengannya
Akhirnya, pemuda yang dulu sering memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah
bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan
bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur sekaligus pengusaha terkenal yang
sukses untuk kerajaan bisnisnya saat ini.
Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika
mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan
menjadi sesukses sekarang.
Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya.
Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam penuh
hormat seperti anak kepada orangtuanya, pemuda yg telah sukses tsb berkata kepada
mereka: Bersemangat ya pak, Bu! Di kemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian,
sampai bertemu besok!
Pembaca Yg Budiman, pelajaran berharga yg dapat kita petik dari kisah nyata ini adalah :
Keikhlasan, Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah
suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan dalam kehidupan. Karna kelak kita
tidak akan pernah tau nasib seseorang, untuk itu JANGAN PERNAH MEREMEHKAN orang
lain yg ada disekelilingmu, terlepas dari siapapun orang itukarna Roda kehidupan akan
terus berputar, saat ini mungkin anda berada diatas, suatu saat mungkin anda berada
dibawah..
Ayo mulai .. jangan sungkan & ragu untuk berbuat baik hari ini kepada
siapapun..Segala sesuatu yg anda Tanam hari ini, kemudian hari Anda yang akan
menuainya..Segala Sesuatu???? Ya Benar, terlepas itu SESUATU yg Hitam atau yg Putih

Kamu, Tulang Rusukku!

Untuk renungan bersama
Kisah yang penuh iktibar, semoga kita dapat mengambil pengajaran daripadanya.
WANITA: Menurut kamu, saya ini siapa?
LELAKI: (Berfikir sejenak, lalu menatap WANITA dengan pasti)
Kamu, tulang rusukku! Kerana Allah melihat bahawa Adam kesepian. Saat Adam sedang
lena tidur, Allah mengambil rusuk Adam dan menciptakan Hawa. Semua LELAKI mencari
tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan
sakit di hatinya.
Setelah menikah, pasangan itu mengalami masa yang indah dan manis untuk sementara.
Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan
kelelahan hidup yang ada. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang
kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai
bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas.
Pada suatu hari pada akhir sebuah pertengkaran WANITA lari keluar rumah. Saat tiba di
seberang jalan, dia berteriak Kamu tidak cinta saya lagi!!!. LELAKI sangat membenci
ketidakdewasaan WANITA dan secara spontan juga berteriak Saya menyesali pernikahan
ini! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!!!
Tiba-tiba WANITA terdiam, dan berdiri kaku untuk beberapa saat. LELAKI menyesali akan
apa yang sudah dia katakan, tetapi seperti air yang telah tertumpah tidak mungkin untuk
diambil kembali. Dengan berlinang air mata, WANITA kembali ke rumah dan mengambil
barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. Kalau saya bukan tulang rusukmu, biarkan
saya pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing .
Lima tahun berlalu.
LELAKI masih belum menikah, tetapi berusaha mencari kabar akan kehidupan WANITA.
WANITA pernah ke luar negeri tetapi sudah kembali. Dia pernah menikah dengan seorang
asing dan bercerai. LELAKI agak kecewa jika mengetahui WANITA tidak menunggu,
sepertinya. Dan di tengah malam yang sunyi, dia meminum kopinya dan merasakan sakit di
hatinya. Tetapi LELAKI tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan WANITA.
Suatu hari, mereka akhirnya bertemu kembali. Di airport, tempat di mana banyak terjadi
pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas.
LELAKI: Apa kabar?
WANITA: Baik Kamu sudah menemui tulang rusukmu yang hilang?
LELAKI: Belum.
WANITA: Saya akan terbang ke New York dengan penerbangan berikut. Saya akan kembali
2 minggu lagi. Telepon saya kalau kamu ada waktu. Kamu tahu nombor telepon saya kan ?
Tidak ada yang berubah.
WANITA tersenyum manis, berlalu mengucapkan Selamat tinggal..
Satu minggu kemudian, LELAKI menerima kabar WANITA adalah salah seorang korban
Menara WTC. Malam itu, sekali lagi, LELAKI meneguk kopinya dan kembali merasakan
sakit dihatinya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena WANITA, tulang
rusuknya sendiri yang telah dengan bodohnya dia patahkan.
Kita melampiaskan 99% kemarahan walau kepada orang yang paling kita cintai. Dan
akibatnya adalah penyesalan. Seringkali penyesalan itu datang di kemudiannya, akibatnya
setelah kita menyadari kesalahan kita, semua sudah terlambat Karena itu, jagalah dan
sayangilah orang yang dicintai dengan sepenuh hati
Sebelum mengucapkan sesuatu berfikirlah dahulu,apakah kata-kata yang kau ucapkan
akan menyakiti orang yang dicintai? Kira merasakan akan menyakitinya, sebaiknya jangan
pernah dikatakan. Karena semakin besar risiko untuk kehilangan orang yang dicintai. Jadi
berpikirlah, apakah kata-kata yang akan diucapkan sebanding dengan akibat yang akan
diterima??
Tak perlu mencari teman secantik BALQIS,
Jika diri tak seindah SULAIMAN,
Mengapa mengharap teman setampan YUSUF,
Jika kasih tak setulus ZULAIKHA,
Tak perlu diri menjadi seteguh IBRAHIM,
Jika tak sekuat SARAH,
Mengapa didamba teman hidup seistimewa KHADIJAH,
Jika diri tak se sempurna RASULULLAH S.A.W



Meja Kayu

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula
menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orang tua ini begitu rapuh, dan
sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.
Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini
sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun,
membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.
Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini.
Kita harus lakukan sesuatu, ujar sang suami. Aku sudah bosan membereskan semuanya
untuk pak tua ini. Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut
ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya
menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan
mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari
sudut ruangan. Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun,
kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan
mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. Kamu sedang membuat apa?. Anaknya
menjawab, Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar
nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan. Anak itu
tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orang tuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu
berkata-kata lagi. Lalu, air mata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada
kata-kata yang terucap, kedua orang tua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja
makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah
atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
Temen2, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga
mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang
kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain
dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orang tua
yang bijak, akan selalu menyadari, setiap bangunan jiwa yang disusun, adalah pondasi
yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita,
untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik
pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
Mencintai Tanpa Syarat

Dengan Belajar dari pengalaman Bp. Suyatno, membuat kita terhenyak sebentar.. apa itu
cinta tanpa syarat ? Bagaimana ia berkorban dan bahagia dalam pengorbanannya ?
Sungguh luar biasa cinta yang beliau berikan kepada istrinya.
Semoga kisah ini dapat menjadikan renungan buat kita semua..a
Berikut kisahnya :
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah
mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya
yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan
anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun,
menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang
lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat
istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV
supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu
melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari
rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya
dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani
istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah
cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini
dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan
sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa
tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil
menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga
masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan
hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata Pak kami ingin sekali merawat ibu
semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari
bibir bapak. . ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu .
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya sudah yg keempat kalinya kami
mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak
menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat
bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiksecara bergantian.
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.Anak2ku
Jikalau perkawinan & hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan
menikah.. .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari
cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yg selalu
kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai
dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.
Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan
ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan
kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.
Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh
dipelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk
menjadi nara sumber dan mereka pun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa
mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah
meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun
tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.
Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak
mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.
Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat dia pun
dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,
dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..
Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian
bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya.
sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit







Untuk Papa

Ini bukan note buatan saya, saya copy ini dari temen tapi kalian harus bacaaaa ini dan
renungin ama kalian khususnya buat anak cewe, selamat baca
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja
diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang
bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya..

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau
berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu
menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu
Kemudian Mama bilang : Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh
sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama
menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang
manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak
dengan berkata :
Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja.
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas
dan mengatakan: Tidak boleh!.
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama.
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam
batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk
menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia. :)
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar
rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan
hati yang sangat khawatir
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa
memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau
Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena
memikirkan masa depanmu nanti
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan
keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa.
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-
hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk
pundakmu berkata Jaga dirimu baik-baik ya sayang.
Papa melakukan itu semua agar kamu KUATkuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang
pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-
temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak
bisa memberikan yang kamu inginkan
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : Tidak. Tidak bisa!
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan Iya sayang, nanti Papa belikan
untukmu.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat putri kecilnya yang tidak manja
berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk
mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu..
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya.
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di
anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia.
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung
sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa.
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan
baik.
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.
Bahagiakanlah ia bersama suaminya
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali
datang untuk menjenguk
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya.
Papa telah menyelesaikan tugasnya.
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa KAMU BISA dalam segala
hal..

menggandeng.


membantu memahami sesuatu.


membuatmu tertawa.


mengajari luasnya dunia..


selalu mengutamakanmu.


menyanyangimu.

Beri Nilai