Anda di halaman 1dari 2

PEREKONOMIAN INDONESIA SEJAK MERDEKA HINGGA KINI

(Rania Hendradwiputri X IPA 2)



Seperti yang kita bisa lihat dengan mata kita, perekonomian Indonesia tidak lepas dari
kesenjangan ekonomi antar masyarakat atas dengan masyarakat bawah. Budaya korupsi antar
pejabat-pejabat pemerintah pun turut merugikan perekonomian Indonesia. Sejak Indonesia
merdeka, Indonesia tidak pernah lepas dari krisis ekonomi. Berikut ini adalah penjelasannya.
Dalam pasca kemerdekaan (1945-1950), keadaan ekonomi keuangan Indonesia amat
buruk. Hal tersebut disebabkan karena:
a. Inflasi yang sangat tinggi, disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang
secara tidak terkendali.
b. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup
pintu perdagangan luar negeri RI.
c. Kas negara kosong.
d. Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan.
Dalam masa Demokrasi Liberal (1950-1957), perekonomian diserahkan pada pasar
sesuai teori-teori mazhab klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Padahal
pengusaha pribumi masih lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi,
terutama pengusaha Cina. Pada akhirnya, sistem ini hanya memperburuk kondisi
perekonomian Indonesia yang baru merdeka.
Dalam masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967), Indonesia menjalankan sistem
demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme
(segalanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada
kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik,dan ekonomi (mengikuti Mazhab
Sosialisme). Akan tetapi, kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini
belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia. Buktinya, devaluasi yang dilakukan
pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Tindakan
pemerintah untuk menekan angka inflasi ini justru meningkatkan angka inflasi.
Pada masa Orde Baru, pemerintah menjalankan kebijakan yang tidak mengalami
perubahan terlalu signifikan selama 32 tahun. Pemerintah jarang sekali melakukan
perubahan-perubahan kebijakan, terutama dalam hal anggaran negara. APBN pada masa
pemerintahan Orde Baru sangat bergantung pada pinjaman luar negeri. Padahal seharusnya
pinjaman-pinjaman tersebut adalah utang yang harus dikembalikan, dan merupakan beban
pengeluaran di masa yang akan datang. Selain itu, pinjaman luar negeri yang banyak akan
menimbulkan resiko kebocoran, korupsi, dan penyalahgunaan. Dan lebih parahnya lagi,
ketergantungan tersebut akan menyebabkan negara menjadi malas untuk berusaha
meningkatkan penerimaan dalam negeri.
Pada masa Reformasi, pemerintahan presiden B. J. Habibie yang mengawali masa
Reformasi belum melakukan perubahan yang cukup tajam dalam bidang ekonomi. Pada masa
kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti
untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi
yang diwariskan Orde Baru harus dihadapi, terutama masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme). Akibatnya, kedudukannya digantikan oleh presiden Megawati. Di masa
Megawati Soekarnoputri, direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Tetapi, belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi hingga kini. Walaupun
sudah dibongkar dan dipublikasikan dimana-mana, para koruptor tetap saja membantah telah
melakukan korupsi.
Dan kini, di masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, terdapat kebijakan
kontroversial yaitu menaikkan harga BBM. Kebijakan kontroversial pertama itu
menimbulkan kebijakan kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi
rakyat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya
menimbulkan berbagai masalah sosial. Budaya korupsi yang menjalar di kalangan pejabat-
pejabat pun sulit dihilangkan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masyarakat menengah ke atas telah
memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup tinggi, namun
kenyataannya pertumbuhan ekonomi tersebut tidak merata terhadap seluruh masyarakat.
Masih banyak masyarakat Indonesia yang harus menelan ludah, berjuang menghadapi krisis
ekonomi yang tiada habisnya. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat yang sulit
untuk disembuhkan akibat praktik-pratik pemerintahan yang manipulatif dan tidak terkontrol.
Akankah pemerintah Indonesia mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan memberikan
mereka kehidupan yang sejahtera? Semua kembali kepada kejujuran mereka yang menguras
habis keuangan negara, namun tak pernah melihat orang-orang yang berada di bawah mereka.