Anda di halaman 1dari 12

Penemuan Pertama Minyak dan Gas Bumi di Indonesia

Salah satu daya tarik negara-negara sahabat melirik Indonesia tak lain karena negara ini
memiliki sumber daya alam yang beraneka ragam, terutama hasil tambang seperti
batubara, minyak dan gasbumi. Namun, walau cadangannya tidak melimpah, ketiga komoditas
tersebut selalu menjadi incaran.Tak hanya sebagai energi untuk menghidupkan roda
perekonomian agar pertumbuhan suatu negara bisa lebih baik tapi itu dapat menjadi alasan
strategis untuk menjalin kerjasama antar negara.
Berdasarkan teori, minyak bumi terbentuk dari proses pelapukan jasad renik (mikroorganisme)
yang terkubur di bawah tanah sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Dimana dua ratus juta yang lalu
bumi lebih panas dibandingkan sekarang. Laut yang didiami jasad renik berkulit keras sangat
banyak jumlahnya jika jasad renik itu mati, kemudian membusuk sehingga jumlahnya makin
lama makin menumpuk, kemudian tertutup oleh sedimen, endapan dari sungai, atau batuan-
batuan yang berasal dari pergeseran bumi. Di sini kemudian terjadi pembusukan oleh bakteri
anaerob, dan akibat pada tekanan tinggi sedimen, maka setelah berjuta-juta tahun terbentuklah
minyak bumi dan gas alam tersebut. Karena proses pembentukan minyak bumi memerlukan
waktu yang lama, maka minyak bumi digunakan pada sumber daya alam yang tidak dapat
diperbaharui(anrenewable).


Bumi terbentuk sekitar 5 milyar tahun yang lalu dan merupakan bagian dari proses terjadinya
alam semesta. Beginilah keadaan permukaan bumi 600 juta tahun yang lalu ketika mulai ada
bentuk bentuk kehidupan berupa binatang dan tumbuh tumbuhan bersel tunggal



Pada masa mesozoikum (200 juta) tahun yang lalu Reptilia raksasa seperti Dinosaurus mulai
terdapat di permukaan bumi pada masa paleoson ( 69 juta tahun yang lalu ) menyusul seperti
Badak Raksasa, Ikan Paus dan Gajah Raksasa berkembang dengan pesat.



Pada masa Pleistosan. Manusia purba menyusul sebagai penghuni Permukaan bumi dengan
menggunakan perkakas berburu yang Primitive dan menghuni gua gua dan gubuk gubuk
sederhana Dalam cara hidup demikian , hanya yang terkuat akan mampu
Bertahan
Pada zaman sebelum masehi peradaban manusia mulai Berkembang.
Piramida Piramida , benteng benteng serta perumahan mulai Dibangun Minyak bumi yang
merembes ke permukaan tanah di gunakan untuk penerangan sebagai obat dan juga sebagai
penolak bala



Setelah Kolonel Drake menemukan minyak untuk pertama kalinya di Pennsylvania,USA. Pada
tahun 1859 , seluruh dunia dilanda demam pencarian minyak




Tidak semua daerah kekuasaan masing-masing negara memiliki cadangan minyak dan gas bumi
(migas). Hal inilah yang mendorong Belanda menjajah Indonesia hingga ratusan tahun karena
tidak mau ketinggalan dengan Amerika Serikat (AS) yang mulai beralih dari kayu bakar ke
minyak. sejak penemuan energi fosil tersebut oleh Kolonel Drake pada 1859 di Titusville,
Pennsylvania. Selang 12 tahun kemudian, usaha Belanda mencari minyak berhasil juga
menyusul penemuan oleh Jan Reering yang kemudian mulai melakukan pengeboran di lereng
Gunung Ciremai, Cibodas, Jawa Barat.
Pengeboran yang dilakukan Reering pun menggunakan model yang sama seperti di
Pennsylvania, yaitu menggunakan tenaga lembu. Walaupun 4 sumur telah digali, ternyata tidak
mendapatkan hasil yang komersial. Namun demikian, di tempat itu banyak terdapat oil
seepages (rengkahan tanah yang mengandung minyak). Maka, dilakukanlah ekplorasi
(pencarian) di sekitar oil seepages yang merupakan petunjuk ke arah ditemukannya sumur
minyak dangkal sehingga dapat dilakukan pengeboran dengan menggunakan peralatan yang
sederhana.
Mengetahui sumber energi ini lebih mudah diangkut dibandingkan batubara, 12 tahun kemudian
setelah usaha Reering, yaitu 1883, seorang inspektur perkebunan di daerah Langkat, Sumatera
Utara, Aeliko Jana Zijlker meneruskan langkah pencarian cairan hitam yang berbau khas itu.
Dengan modal yang didatangkan dari negeri Belanda, Zijlker membentuk sebuah perusahaan
yang berlokasi tak jauh dari ditemukannya minyak, dikenal dengan Telaga Tunggal. Seperti yang
dialami Reering, pengeboran pertamanya tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.


Namun pengeboran kedua pada 1885 berhasil memberikan nilai komersial. Karena berhasil,
mulai bermunculanlah peminat untuk mencari minyak secara besar-besaran di berbagai tempat
yang diperkirakan banyak terdapat oil seepages, seperti Surabaya, Jambi, Aceh Timur,
Palembang dan Kalimantan Timur.



Keberhasilan memperoleh minyak menciptakan usaha kegiatan produksi,
pengolahan/pengilangan, serta pemasarannya. Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu
membentuk perusahaan minyak Royal Dutch Company (NV. Koninklijke Nederlansche Mij. Tot
Exploitatie van Petroleum Bronnen in Nederlandsch Indie).

Gas Bumi
Fisik minyak mudah dikenali dengan jelas, berbeda dengan gas bumi. Pada dasarnya, saat
ditemukannya sumur minyak, secara tidak langsung terdapat gas di dalamnya. Karena tidak
berwujud dan komposisinya tidak sebanyak minyak, gas bumi yang berasal dari sumur tersebut
umumnya dimanfaatkan sebagai energi untuk berbagai kegiatan di sekitar wilayah
lapangan produksi minyak itu sendiri (own use). Pada waktu itu, kebutuhan akan gas bumi belum
terlalu banyak sehingga nilai keekonomiannya tidak mampu memberikan keuntungan.
Selain itu, untuk alasan keamanan karena mudah terbakar, gas yang terperangkap dari
pengeboran dan proses pengilangan minyak dibakar melalui cerobong (vent sack) atau dibuang
ke atmosfer. Tetapi, kegiatan pembakaran gas tersebut menimbulkan pencemaran lingkungan,
dan secara tidak langsung juga membuang potensi sumber daya alam lain yang potensial sebagai
energi selain minyak.
Komponen gas bumi terpenting adalah metana, propan, butana, pentana dan heksana. Jenisnya
pun ada 2, yaitu associated gas (gas bumi yang terdapat bersama-sama minyak di
dalam reservoir/sumur dengan jumlah tidak banyak), dan non-associated gas (gas bumi yang di
dalam reservoir, tapi tidak mengandung minyak dalam jumlah yang berarti).
Kandungan minyak dan gas bumi di setiap lapangan migas berbeda-beda karena komposisi
hidrokarbon dan berat yang tidak sejenis. Sumur produksi dapat menghasilkan fluida yang
mengandung campuran minyak, gas dan air. Fluida yang dihasilkan dari beberapa sumur akan
dikumpulkan ke pusat pengolahan di suatu stasiun pengumpul (gathering station) untuk
memisahkan produk minyak, gas bumi dan komponen lainnya yang dapat diolah menjadi produk
petrokimia.
Peningkatan pemanfaatan gas bumi, selain own use, baru dimulai saat harga minyak melambung
tinggi karena terjadi perang Timur Tengah pada 1973. Padahal sebelum perang terjadi, harga
minyak hanya seharga US$1.67 per barel. Ketika perang terjadi, harga meroket menjadi
US$11.70 per barel, sebagai akibat tindakan boikot negara-negara penghasil minyak yang
tergabung dalam Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang sedang
berkonflik dengan Israel.
Semenjak itu, harga seakan menjadi permainan. Mulai 1979, harga minyak telah mencapai
US$15.65 per barel, melonjak lagi menjadi US$29.50 per barel (1980), dan terus melonjak ke
US$35 per barel (1981-1982). Walaupun tingginya harga minyak bisa menjadi sumber
pendapatan bagi Indonesia, secara teori ekonomi tidaklah demikian. Semakin tinggi harga, tidak
ada yang mau membeli minyak.
Akhirnya, negara yang biasa beli minyak mulai mencari energi alternatif, yaitu gas. Melihat ada
peluang permintaan, Indonesia mulai memproduksi liquefied natural gas (LNG) dan liquefied
petroleum gas (LPG). Produksi disesuaikan dengan jumlah kebutuhan, baik untuk dalam negeri
maupun tujuan ekspor. Sebelumnya, gas bumi yang dihasilkan dibakar percuma dan banyak
sumur gas bumi ditutup karena harganya sangat murah.
Indonesia pada saat itu pun dikenal sebagai negara eksportir gas terbesar karena kebutuhan untuk
dalam negeri dianggap mencukupi sehingga kelebihannya dapat dijual untuk kepentingan
pemasukan negara dan menambah cadangan devisa.

DAFTAR PUSTAKA

Tim penulis, 2006. Kimia 1 SMA dan MA, Jakarta; ESIS

Website :
Google.com
Curahanilmu.blogspot.com
id.wikipedia.com
museum-migas.go.id
pdfdatabase.com
anakciremai.blogspot.com
yahoo.com
Microsoft Clip Organizer
http://migasreview.com

Sumber Tempat :
Museum Minyak dan Gas Bumi Graha Widya Patra Gawitra, TMII
http://hikarusholihahblog.blogspot.com/2013/03/penemuan-pertama-minyak-dan-gas-bumi.html

Museum Minyak dan Gas Bumi GRAHA WIDYA PATRA Taman Mini Indonesia Indah
(TMII) berada di anjungan TMII, bersebelahan dengan Museum Listrik. Museum ini lebih dekat
diakses dengan melalui Pintu Masuk 4 TMII.


Museum ini dibangun dalam rangka memperingati 100 tahun Usaha Pertambangan Minyak dan
Gas Bumi Indonesia. Gagasan dan rancangan induknya direstui oleh Presiden Republik
Indonesia pada upacara pembukaan Konvensi Indonesian Petroleum Association ke-XIV, pada
tanggal 8 Oktober 1985 dan dibuka setelah diresmikan pada tanggal 20 April 1989.


Dewasa ini bangunan yang ada, terdiri darii gedung utama menyerupai anjungan minyak lepas
pantai, dan dua buah gedung berbentuk tanki timbun minyak bumi. Pada gedung utama terdapat
teater minyak yang memutar film-film tentang perminyakan. Ruang Peran yang memamerkan
peranan minyak dan gas bumi dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia dan Ruang
Sejarah menggambarkan perkembangan perminyakan di tanah air.


Gedung tanki timbun migas sebelah kanan digunakan untuk memamerkan kegiatan-kegiatan
eksplorasi, eksploitasi dan produksi, sedangkan tanki timbun sebelah kiri direncanakan untuk
memamerkan kegiatan-kegiatan pengolahan migas, pengangkutan dan dampak lingkungan. Di
luar gedung, dipamerkan benda-benda peragaan asli yang pernah dipakai oleh perusahaan-
perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi pada waktu lampau. *** [050712]
http://kekunaan.blogspot.com/2012/07/museum-minyak-dan-gas-bumi-graha-widya.html

Museum Minyak dan Gas Bumi



Museum Minyak dan Gas Bumi Graha Widya Patra (Gawitra) terletak di bagian
timur Taman Mini Indonesia Indah berdekatan dengan Taman Burung dan Museum Listrik dan
Energi Baru. Pembangunan Museum Migas menandai peringatan 100 tahun industri minyak dan
gas bumi Indonesia, merupakan sumbangan masyarakat perminyakan Indonesia demi
melestarikan dan mewariskan nilai-nilai juang kepada generasi penerus untuk peningkatan ilmu
dan teknologi.
Gedung utama berbentuk anjungan lepas pantai dengan dua bangunan pendukung berbentuk
gilig menyerupai tangki minyak, disebut Anjungan Eksplorasi dan Anjungan Pengolahan. Ruang
pamer terdapat di gedung utama dan di anjungan eksplorasi. Pameran di gedung utama mengenai
sejarah industri perminyakan. Di ruang ini terdapat Teater Minyak yang memutar film pendek
dan multislide mengenai asal-mula serta hasil pengolahan minyak dan gas bumi di Indonesia.
Selain itu terdapat ruang untuk pameran berbagai benda dan bahan mengenai minyak dan gas
bumi yang ada di sekitar kita.

Anjungan eksplorasi mengetengahkan eksplorasi minyak dan gas bumi, termasuk peragaan
sejarah terjadinya cekungan minyak dan gas bumi serta penerapan teknologi pada masa yang
lalu, sekarang, dan yang akan datang.
Di luar gedung dipamerkan peralatan pengeboran minyak dan peragaan benda-benda eksplorasi
berupa menara bor tahun 1930-an, berbagai pompa angguk, sebuah truk logging tua, pompa
bensin engkol, dan sebuah kilang minyak tua.Museum ini sangat tepat dijadikan sebagai tempat
rekreasi dan menimba ilmu.
Museum Minyak dan Gas Bumi adalah museum yang dibangun untuk menandai peringatan 100
tahun industry minyak dan gas bumi Indonesia. Gagasan pendiriannya lahir ketika pembukaan
upacara Konvensi Tahunan Indonesia Petroleum Association ke-14 pada tanggal 8 Oktober
1985. pembangunan fisiknya dilakukan pada tahun 1987. Akhirnya, berkat usaha dan sumbangan
masyarakat perminyakan Indonesia demi melestarikan dan mewariskan nilai-nilai juang kepada
generasi penerus untuk meningkatkan ilmu dan teknologi, museum ini resmi dibuka pada tanggal
20 April 1989 oleh Presiden Soeharto.
Gedung utama berbentuk anjungan lepas pantai yang berada di atas danau buatan seluas 11.000
m
2
, menjadi ciri khas pencarian minyak dan gas bumi, disebut anjungan Eksplorasi. Dua
bangunan pendukung berbentuk bundar (gilig), menyerupai tangki penyimpanan minyak yang
mengapit gedung utama, disebut anjungan pengolahan. Ruang pameran terdapat di gedung utama
dan anjungan eksplorasi guna mengutarakan seluk-beluk mengenai minyak dan gas bumi.
Pameran di gedung utama mengenai sejarah gedung perminyakan. Di dalam ruangan ini, terdapat
teater minyak yang memutar film pendek dan multislide mengenai asal mula serta hasil
pengolahan minyak dan gas bumi di Indonesia. Film-film yang ditayangkan memberikan
gambaran yang mudah bagi pengunjung untuk memahami industry minyak dan gas bumi. Selain
itu, terdapat ruang untuk pameran berbagai bendadan bahan mengenai minyak dan gas bumi
yang ada di sekitar kita. Di sini, pengunjung akan diajak unutk memahami sejauh mana
ketergantungan manusia terhadap minyak dan gas bumi, baik sebagai sumber energy primer
spserti bahan bakar maupun produk lain. Pada bagian bawah terdapat ruang sejarah yang
menampilkan sejarah perkembangan geologi bum, bagaimana perkembangan masa berates juta
tahun yang lalu sampai kemungkinan dampak pemanfaatan minyak dan gas bumi. Di sudut
lainnya, terdapat pohon minyak, menggambarkan berbagai produk yang dihasilkan dari
pengolahan minyak bumi dalam bentuk sebatang pohon. Penempatan produk pada pohon diatur
dari atas ke bawah sesuai dengan hasil- fraksi-fraksi minyak bumi yang di dapat pada proses
distilasi dan prosen-proses selanjutnya.
Anjungan eksplorasi mengetengahkan eksplorasi minyak dan gas bumi, termasuk peragaan
sejarah terjadinya cekungan minyak dan gas bumi. Selanjutnya, pengetahuan penerapan
teknologi disajikan melalui pameran peralatan canggih yang mendukung proses pencarian dan
pengolahan gas bumi.
Di luar gedung dipamerkan juga peralatan pengeboran minyak dan peragaan benda-
bendaeksplorasi serupa menara bor tahun 1930-an, berbagai pompa angguk, sebuah truk logging
tua, pompa bensin engkol, dan sebuah kilang minyak tua.
Museum juga adilengkapi fasilitas perpustakaan, Plaza penerima, dan ruang auditorium yang
berfungsi sebagai tempat seminar lengkap dengan perangkat multi media yang dapat disewa oleh
masyarakat umum untuk berbagai keperluan.

Museum Minyak dan Gas

Museum minyak dan gas yang lebih dikenal sebagai Museum Migas terletak di kawasan Taman
Mini Indonesia Indah ( TMII ) Jalan Raya Taman Mini, Jakarta. Museum Migas atau yang sering
disebut sebagai ( Gawitra ) Graha Widya Patra mempunyai arti graha adalah rumah, widya
adalah ilmu, dan patra adalah minyak.
Kami melakukan survey pada hari jumat tanggal 11 Januari 2013. Saat kami tiba di museum
migas tidak banyak pengunjung tetapi hanya kami pengunjung yang ada. Kami mewawancarai
dan ditemani Bapak Wijaya serta diberi penjelasan mengenai museum migas. Pada pintu utama
terbuat dari bahan kaca.

Aktivitas didalam museum migas adalah mengelilingi berbagai macam benda yang berhubungan
dengan migas, hasil bumi, diorama dan juga terdapat Mini Teater tempat untuk pemutaran film
mengenai migas.
Mini Teater terletak di Lantai dasar gedung utama. Dimana teater mini ini memutar film animasi
dokumenter mengenai minyak dan gas bumi.

Berbagai jenis minyak bumi dan produk-produk kilang unit pengolahan iv Cilacap.

Setelah selesai mengelilingi museum migas maka pengunjung akan diantarkan pada sattu
ruangan yang disebut sebagai Ruang Renungan dimana kita diajak untuk merenungi bagaimana
cara memelihara serta memakai minyak dan gas bumi secara bertanggung jawab. Apabila tidak
menghemat energy minyak dan gas bumi yang terbentuk secara ratusan bahkan jutaan tahun
maka akan terjadi kerusakan lingkungan.

Ruang peran yang terletak di lantai dasar gedung utama berisi peragaan-peragaan dalam ruang
ini menggambarkan betapa pentingnya peran Migas sebagai sumber energi, penghasil BBM dan
non-BBM serta produk-produk petrokimia. Sebatang pohon minyak secara simbolis
menampilkan pada cabang-cabangnya berbagai jenis produk yang dihasilkan melalui proses
pengolahan Migas.

Sebatang pohon minyak secara simbolis menampilkan pada cabang-cabangnya berbagai jenis
produk yang dihasilkan melalui proses pengolahan Migas.