Anda di halaman 1dari 99

ANALIS ISU-ISU

SEKTOR ESDM
Kajian
1
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa kami telah menyelesaikan Laporan Akhir Analisis Isu-Isu Sektor
ESDM. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari tupoksi dan
respon Pusdatin ESDM dalam mencermati berbagai perkembangan
isu-isu strategis terkait sektor ESDM baik di lingkup nasional maupun
global.

Seiring dengan pertambahan populasi dan pertumbuhan
perekonomian nasional, konsumsi energi di Indonesia dalam satu
dasawarsa terus meningkat sekitar 7-8% per tahun. Kemudian,
Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam rangka
mendukung pembangunan melalui sektor energi, yang tentu akan
berdampak pada manajemen energi secara keseluruhan. Hal ini
dilakukan sebagai upaya meningkatkan kehandalan penyediaan
energi untuk menopang akselerasi perekonomian dan mewujudkan
kesejahteraan masyarakat.

Lebih lanjut, Kementerian ESDM dalam rangka menjalankan salah
satu kewajibannya dalam pengelolaan energi dan mineral nasional
tentu menghadapi berbagai kendala dan tantangan yang perlu disikapi
dengan tepat dan komprehensif. Untuk itu, melalui kegiatan Analisis
Isu-Isu Sektor ESDM diharapkan dapat memberikan antisipasi
dan rekomendasi kepada pimpinan Kementerian ESDM dalam
penyusunan strategi kebijakan untuk penyelesaian permasalahan di
sektor ESDM saat ini dan masa mendatang.
Penyusun
2
KATA PENGANTAR
BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. KEBIJAKAN SEKTOR ESDM DAN PROYEKSI EKONOMI
INDONESIA 2013
2.1. Kebijakan Subsidi Listrik
2.1.1 Landasan Hukum
2.1.2 Tarif Tenaga Listrik Pt Pln (Persero)
2.1.3 Faktor-Faktor Berpengaruh Terhadap Subsidi Listrik
2.1.4 Upaya Penurunan Biaya Pokok Penyediaan
Tenaga Listrik
2.1.5 Penyesuaian Tarif Tenaga Listrik (TTL) 2013
2.1.6 Kesimpulan
2.2. Kebijakan Subsidi Bbm
2.2.1. Landasan Hukum
2.2.2. Latar Belakang
2.2.3. Metoda Perhitungan Subsidi Bbm
2.2.4. Outlook Subsidi Bbm Tahun 2013
2.2.5. Kesimpulan
2.2.6. Rekomendasi
2.3. Kebijakan Ekspor Mineral Dan Batubara
2.3.1. Latar Belakang
2.3.2. Kondisi Saat Ini
2.3.3. Kebijakan Ekspor Batubara
2.3.4. Arah Kebijakan Tahun 2013
2.3.5. Permasalahan Sektor Pertambangan
Dan Upaya Penyelesaian
2.3.6. Kesimpulan Dan Rekomendasi
2.4. Perkembangan Dan Outlook Ekonomi Indonesia
Dan Implikasinya Pada Kebijakan Energi Nasional
2.4.1. Latar Belakang
2.4.2. Perkembangan Terkini Perekonomian
2.4.3. Dampak Kebijakan Energi Pada
Perekonomian
2.4.4. Implikasi Kebijakan
2.4.5. Kesimpulan Dan Rekomendasi
01
04
10
10
10
12
14
19
19
20
21
21
22
25
28
34
35
36
36
38
42
44
45
46
48
48
49
50
51
54
3
56
56
58
61
61
62
62
63
64
65
67
67
67
69
71
72
74
80
83
86
88
BAB III. MENCARI TEROBOSAN INVESTASI PANAS BUMI
INDONESIA
3.1 Pendahuluan
3.2 Potensi Panas Bumi Indonesia
3.3 Kendala Dan Upaya Penyelesaian
3.3.1 Tumpang Tindih Lahan
3.3.2 Peraturan Perundang Undangan
3.3.3 Negosiasi Kontrak
3.4 Kebijakan Pemerintah Untuk Meningkatkan
Pengembangan Panas Bumi
3.5 Peluang Investasi
3.6 Kesimpulan Dan Rekomendasi
BAB IV. MANFAAT CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
(CSR) PERUSAHAAN TAMBANG TERHADAP
MASYARAKAT SEKITAR
4.1 Pendahuluan
4.1.1. Latar Belakang
4.1.2. Defnisi
4.1.3. Sejarah Singkat CSR
4.2 Cakupan CSR
4.3 Peran Pertambangan Mineral Dan Batubara
4.4 Rumusan Permasalahan
4.5 Pembahasan
4.6 Kesimpulan Dan Rekomendasi
BAB V. PENUTUP
4
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam satu dasawarsa terakhir, konsumsi energi Indonesia
menunjukkan peningkatan rata-rata 7-8% per tahun seiring dengan
pertambahan populasi dan pertumbuhan ekonomi yang terus
membaik. Kondisi ini menuntut ketersediaan energi yang baik untuk
mendukung aktiftas perekonomian dan dinamika sosial masyarakat.
Namun demikian, terdapat berbagai tantangan dan kendala untuk
memenuhi kebutuhan energi tersebut diantaranya produksi minyak
bumi yang cenderung menurun sementara akselerasi pengembangan
energi baru terbarukan (EBT) yang diharapkan dapat menjadi tulang
punggung baru energi nasional masih belum maksimal.
Berdasarkan data dari Handbook of Energy and Economics Indonesia
(Pusdatin, 2011), produksi minyak bumi Indonesia mengalami trend
penurunan dimana pada tahun 2000 tingkat produksi mencapai 1,4
juta barel per hari (bph), namun di tahun 2010 tingkat produksi hanya
sekitar 940 ribu bph. Di saat bersamaan, tingkat konsumsi BBM
nasional terus meningkat dari 960 ribu bph di tahun 2010 menjadi
1,151 juta bph di tahun 2010 sehingga di tahun 2004, Indonesia telah
menjadi net importir minyak disebabkan tingkat produksi minyak
nasional tidak dapat mencukupi kebutuhan domestik.
Walaupun diperkirakan pada tahun 2015, produksi minyak bumi
nasional akan kembali mencapai angka 1 juta bph, namun pertumbuhan
kebutuhan BBM nasional juga terus meningkat melampaui kondisi
yang ada saat ini. Hal ini tentu akan menyebabkan volume impor
minyak mentah maupun BBM terus membesar sehingga dapat
menimbulkan ancaman terhadap ketahanan energi karena di saat
bersamaan kemampuan produksi kilang BBM nasional juga belum
dapat ditingkatkan dari level sekarang yang mencapai 1,157 juta bph.
Di sektor ketenagalistrikan, dengan pertumbuhan permintaan tenaga
listrik yang mencapai sekitar 8-9% per tahun tentu harus diimbangi
dengan pasokan tenaga listrik yang handal. Sampai dengan tahun
2011, kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia mencapai
39.900 MW yang terdiri dari pembangkit PLN sebesar 30.529 MW dan
sisanya merupakan pembangkit IPP (Independent Power Producer)
5
sebesar 7.667 MW serta pembangkit PPU (Private Power Utility)
sebesar 1.704 MW dan rasio elektrifkasi mencapai 72,95% (Ditjen
Ketenagalistrikan, 2012).
Dengan kondisi tersebut, semua upaya untuk mewujudkan
ketahanan energi harus menjadi agenda prioritas bagi Indonesia,
dimana bukan hanya pasokan energi fosil yang harus ditingkatkan
kualitas dan kuantitasnya namun juga energi baru terbarukan yang
sumber dayanya cukup melimpah dan beragam di seluruh Indonesia
diantaranya tenaga air (dengan potensi 75 GW), panas bumi 29 GW,
tenaga surya, tenaga angin dan biofuel.
Pentingnya mewujudkan ketahanan energi ini disebabkan dinamika
sektor energi global di tahun 2012 dan tahun-tahun mendatang
nantinya tidak hanya dipengaruhi oleh faktor supply, demand, dan
harga namun juga faktor lainnya seperti isu geopolitik dan stabilitas
kawasan dimana terletak sumber-sumber energi dunia seperti di
kawasan Timur Tengah dan Laut China Selatan. Berikut, isu-isu yang
diperkirakan akan memengaruhi trend sektor energi mendatang:

Pertama, energi fosil masih tetap menjadi primadona dalam konsumsi
energi di masa mendatang. Saat ini, Asia menjadi konsumen minyak
yang mengalami kenaikan permintaan terbesar dan pada 2020
diperkirakan Asia juga akan menjadi konsumen gas terbesar di dunia.
Seiring dengan fakta ini, justru cadangan minyak dunia khususnya, di
Asia terus mengalami penurunan dalam 20 tahun terakhir ini.

Kedua, negara-negara berkembang di Asia, termasuk raksasa
Cina dan India, kini sedang memasuki fase most energy-intensive.
Tingginya demand terhadap kebutuhan energi akan menstimulasi
mereka untuk menggunakan energi alternatif yang lebih efsien. Di
samping itu, dalam rangka menjaga pasokan energi di negaranya,
Cina kini juga banyak berburu sumber-sumber energi di negara lain
yang memiliki sumber-sumber energi besar, termasuk Indonesia
dengan batubaranya.
Ketiga, pada 2015, pertumbuhan produksi minyak dan gas diperkirakan
tidak akan match dengan pertumbuhan demand-nya. Sementara
itu, pertumbuhan produksi batu bara diperkirakan juga akan mulai
dibatasi karena isu lingkungan. Akibatnya, sumber energi alternatif
6
seperti biofuel diperkirakan akan menjadi bagian yang signifkan
dalam energy mix policy masing-masing negara.
Keempat, meskipun energi fosil saat ini dan dalam jangka menengah
masih akan mempertahankan share-nya dalam energy mix dan
merespon demand, isu emisi CO2 akan menjadi tantangan serius bagi
industri migas global. Tuntutan perubahan iklim akan berkembang
lebih serius dan ini tentunya akan direspon industri manufaktur untuk
melakukan perubahan dalam desain industrinya. Industri otomotif,
misalnya, diperkirakan akan semakin mengurangi produksi kendaraan
berbasis BBM fosil dan akan lebih banyak memproduksi kendaraan
berbasis BBM non-fosil.

Kelima, keadaan ekonomi di Zona Eropa dan Amerika masih
menunjukkan ketidakpastian setelah selama 2012 kedua kawasan
ini diterpa berbagai permasalahan ekonomi politik yang cukup kritis
seperti resiko gagal bayar negara anggota Uni Eropa yang mendorong
beberapa negara mengancam keluar dari keanggotaan Uni Eropa dan
krisis jurang fskal (fscall cliff) di Amerika Serikat pasca kemenangan
Barack Obama untuk menjabat presiden untuk keduakalinya.

Untuk itu, kegiatan Analisis Isu-Isu Sektor ESDM merupakan salah
satu kegiatan yang perlu dilakukan oleh Pusdatin sebagai unit yang
memiliki tugas untuk melakukan kajian energi dan mineral. Kegiatan
ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi dan strategi alternatif
bagi pimpinan KESDM dalam menghadapi berbagai permasalahan
dan isu-isu aktual strategis sektor ESDM yang terjadi saat ini dan
masa mendatang. Adapun analisis isu-isu strategis sektor ESDM
yang dibahas pada kegiatan ini adalah Kebijakan Sektor ESDM dan
Proyeksi Ekonomi Indonesia 2013, Mencari Terobosan Investasi
Panas Bumi Indonesia, dan Manfaat Corporate Social Responsibility
(CSR) Perusahaan Tambang Terhadap Masyarakat Sekitar.
Kebijakan Sektor ESDM Dan Proyeksi Ekonomi Indonesia 2013
Dalam perekonomian nasional, sektor energi dan sumber daya
mineral (ESDM) memegang peran yang sangat strategis. Di satu sisi,
sektor ESDM merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap
penerimaan negara, namun di sisi lain sektor ESDM dalam tugasnya
menjamin ketersediaan energi juga mengakibatkan konsekuensi
subsidi dalam alokasi anggaran negara yaitu dalam bentuk subsidi
BBM dan listrik.
7
Pada tahun 2011 kontribusi sektor ESDM mencapai Rp 352 triliun dari
total penerimaan nasional Rp 1.199 triliun atau sekitar sekitar 29,4%.
Sementara subsidi energi yang meliputi subsidi BBM dan listrik
mencapai total Rp 255,6 triliun. Hal ini tentunya sangat disayangkan,
mengingat hampir 72,6% penerimaan sektor ESDM digunakan hanya
untuk memberikan subsidi BBM dan listrik. Akan lebih baik tentunya
jika sebagian besar penerimaan dari sektor ESDM digunakan untuk
meningkatkan kehandalan infrastruktur energi sehingga akses
mayarakat terhadap energi dapat lebih ditingkatkan.

Dengan semakin baiknya infrastruktur energi, kekurangan gas untuk
kebutuhan sektor industri, kelangkaan pasokan BBM, dan keterbatasan
pasokan listrik akan teratasi. Kondisi ini dapat mendorong tumbuhnya
minat investasi sehingga dapat memperluas lapangan kerja,
memperbesar pendapatan negara, mengurangi penduduk miskin yang
pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sehingga ke depan sektor ESDM tidak lagi berkontribusi sebagai
sumber penerimaaan negara semata namun dapat memberikan nilai
tambah terhadap perekonomian nasional.
Di saat bersamaan, berbagai kebijakan di sektor ESDM seperti
kebijakan subsidi harga BBM dan Tarif Tenaga Listrik (TTL), kebijakan
penghematan energi, dan pembatasan ekspor bahan mentah
komoditas mineral serta rencana pembatasan ekspor batubara
diharapkan dilakukan secara jelas dan komprehensif sehingga
dampak terhadap perekonomian dapat lebih terukur. Oleh karena itu
pusdatin melakukan analisis dalam rangka meningkatkan koordinasi
dan sinkroniasi kebijakan di sektor energi dan sektor ekonomi
khususnya monter dan fskal, dengan masukan dari beberapa
narasumber dari Ditjen Ketenagalistrikan, Ditjen Minerba, BP Migas,
dan Bank Indonesia.

Mencari Terobosan Investasi Panas Bumi Indonesia
Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia yaitu
sekitar 29.000 MW yang terdiri dari total sumber daya (spekulatif dan
hypothetical) sebesar 13.195 MW dan cadangan sebesar 16.020
MW, yang terdiri dari cadangan terduga (possible) sebesar 12.909
MW, cadangan mungkin (possible) sebesar 823 MW, dan cadangan
terbukti (proven) sebesar 2.288 MW. Namun dengan potensi sebesar
8
itu, pemanfaatannya masih kecil, yaitu kapasitas terpasang PLTP
sebesar 1.226 MW (Ditjen EBTKE, 2012).

Dalam rangka pengembangan panas bumi, Pemerintah sudah
menetapkan roadmap Pengembangan Panas Bumi yang diatur dalam
Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi
Nasional (KEN). Sebagai implementasi Perpres tentang KEN ini,
Pemerintah telah mencanangkan Program Percepatan Pembangunan
Pembangkit Listrik 10.000 MW Tahap II yang ditegaskan di dalam
Perpres No. 4 Tahun 2010 dimana kontribusi PLTP sampai tahun
2014 diharapkan dapat mencapai 4.925 MW.

Namun demikian, dalam implementasinya di lapangan realisasi
Program Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 MW
Tahap II, khususnya untuk PLTP masih sangat kecil. Oleh karena
itu, Pusdatin ESDM bersama para narasumber dan pakar ekonomi
energi melakukan analisis untuk mengetahui serta mencari solusi
dan terobosan dalam peningkatan realisasi investasi panas bumi di
indonesia.
Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan Tambang
Terhadap Masyarakat Sekitar. Sebagai sumber penerimaan negara,
sektor ESDM setiap tiap tahun memberikan kontribusi sekitar 30%
terhadap penerimaan nasional. Pada tahun 2011, penerimaan sektor
ESDM mencapai Rp 387,97 triliun atau sekitar 29% terhadap perkiraan
penerimaan nasional sebesar Rp 1.199 triliun. Penerimaan sektor
ESDM tersebut 109% dari APBN-P 2011 sebesar Rp 324 triliun, dan
122% dari penerimaan tahun 2010 sebesar Rp. 288,84 triiliun.

Dari jumlah tersebut, kontribusi sektor pertambangan mencapai Rp
77,3 triliun terhadap total penerimaan negara. Namun, data ini tidak
berbanding lurus dengan kondisi pendapatan di daerah karena masih
terdapat ketimpangan tingkat pendapatan atau kemiskinan di daerah-
daerah penghasil mineral tambang. Hal ini tentu menjadi bahan diskusi
tentang kontribusi sektor pertambangan terhadap pembangunan di
daerah.
Berdasarkan kondisi tersebut, Pusdatin ESDM melakukan analisis
dengan mengundang beberapa pakar ekonomi, sosial dan
pertambangan dalam rangka menggali pengembangan manfaat dari
9
pendapatan mineral dan batubara dan sejauh mana dampak dimensi
industri pertambangan terhadap pengentasan kemiskinan di daerah-
daerah tambang. Selain itu, itu untuk mengidentifkasi berbagai
penyebab mengapa pelaksanaan CSR kurang memberikan manfaat
maksimal terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat di sekitar
pertambangan dan bagaimana program CSR akan dijalankan di masa
mendatang.
10
BAB II

KEBIJAKAN SEKTOR ESDM DAN PROYEKSI EKONOMI
INDONESIA TAHUN 2013
Sektor ESDM memiliki peranan penting dalam pembangunan dan
perekonomian nasional yaitu sebagai penjamin sumber pasokan
(energi dan minerba) yang didukung oleh harga energi yang terjangkau
dan kemampuan meningkatkan nilai tambah.
Sektor ESDM akan berpengaruh terhadap pembangunan nasional
dan perekonomian nasional baik melalui indikator fskal, moneter
dan sektor riil. Dari sisi fskal, sektor ESDM berkontribusi terhadap
penerimaan negara (revenue) tapi di sisi lain menimbulkan
konsekuensi subsidi energi dalam upaya menerapkan kebijakan
harga energi yang terjangkau bagi masyarakat. Dari moneter,
komoditas ESDM yang bersifat adminestered price akan berperan
terhadap besaran/dinamika infasi nasional. Sedangkan dari sektor
riil, secara timbal balik, sektor ESDM berperan terhadap tumbuhnya
investasi dan di saat bersamaan juga membutuhkan investasi untuk
berkembang.
Pada tahun 2011 kontribusi sektor ESDM mencapai Rp 352 triliun dari
total penerimaan nasional Rp 1.199 triliun atau sekitar sekitar 29,4%.
Sementara subsidi energi yang meliputi subsidi BBM dan listrik
mencapai total Rp 255,6 triliun. Hal ini tentunya sangat disayangkan,
mengingat hampir 72,6% penerimaan sektor ESDM digunakan hanya
untuk memberikan subsidi BBM dan listrik.
2.1 KEBIJAKAN SUBSIDI LISTRIK
2.1.1. Landasan Hukum
Sebagaimana kita ketahui bahwa landasan hukum dalam
pemberian subsidi adalah berpijak dari Peraturan Perundangan yang
berlaku, antara lain adalah sebagai berikut:
UU No. 30/2007 tentang Energi: Sesuai ketentuan Pasal 7
(1) Harga energi ditetapkan berdasarkan nilai keekonomian
berkeadilan dan (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah
menyediakan dana subsidi untuk masyarakat tidak mampu;
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan
11
Pasal 4 ayat (3) huruf a : Untuk penyediaan tenaga listrik,
Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan dana untuk:
kelompok masyarakat tidak mampu.
Pasal 34 ayat (1) Pemerintah sesuai dengan kewenangannya
menetapkan tarif tenaga listrik untuk konsumen dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.
Penjelasan pasal 66 ayat 1 (mengenai Kewajiban Pelayanan
Umum/KPU):
Meskipun BUMN didirikan dengan maksud dan tujuan untuk
mengejar keuntungan, tidak tertutup kemungkinan untuk hal-hal yang
mendesak, BUMN diberikan penugasan khusus oleh Pemerintah.
Apabila penugasan tersebut menurut kajian secara fnansial tidak
fsibel, Pemerintah harus memberikan kompensasi atas semua biaya
yang telah dikeluarkan oleh BUMN tersebut termasuk margin yang
diharapkan.
Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan
Usaha Penyediaan Tenaga listrik
Pasal 41 ayat 2 :
Dalam menetapkan tarif tenaga listrik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota, harus
memperhatikan:
- keseimbangan kepentingan nasional, daerah, konsumen, dan
pelaku usaha penyediaan tenaga listrik;
- kepentingan dan kemampuan masyarakat;
- kaidah industri dan niaga yang sehat;
- biaya pokok penyediaan tenaga listrik;
- efsiensi pengusahaan;
- skala pengusahaan dan interkoneksi sistem; dan
- tersedianya sumber dana untuk investasi.
Pasal 41 ayat (4) :
Untuk mendapatkan penetapan tarif tenaga listrik untuk
konsumen, pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik
mengajukan permohonan tertulis kepada: Menteri; Gubernur; atau
Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya.
Peraturan Presiden RI Nomor 8 Tahun 2011 tentang Tarif Tenaga
Listrik PT PLN.
Permenkeu Nomor: 111/PMK.02/2007 tentang Tatacara
Penyediaan Anggaran, Penghitungan, Pembayaran dan
Pertanggungjawaban Subsidi Listrik.
12
2.1.2. Tarif Tenaga Listrik PT PLN (Persero)
Dalam rangka mempertahankan kelangsungan pengusahaan
penyediaan tenaga listrik dan peningkatan mutu pelayanan kepada
konsumen, maka perlu dilakukan penyesuaian tarif tenaga listrik
yang disediakan oleh PT Pembangkit Listrik Negara (Persero),
dimana Besaran Tarif Tenaga Listrik (TTL) tahun 2011 mengacu pada
Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2011, sedangkan pada tahun
2013 pemerintah menyesuaikan harga Tarif Tenaga Listrik, sesuai
dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 30 Tahun 2012 tentang Tarif
Tenaga Listrik yang disediakan oleh PT PLN (Persero). Dimana pada
tahun 2013 mengalami total kenaikan sebesar 15%, dengan dilakukan
penyesuian per Triwulan sekali (untuk golongan rumah tangga 450 VA
dan 900 VA tidak mengalami kenaikan).
Formula Perhitungan Subsidi Listrik, sesuai dengan PMK 111/2007:
Subsidi = - (Tarif BPP (1 + m)) x V
Dimana:
Tarif = Tarif Tenaga Listrik (TTL) rata-rata (Rp/kWh)
(ada tidaknya kenaikan tarif, termasuk besaran serta waktu
pemberlakuannya, akan diusulkan dalam Nota Keuangan)
BPP = Biaya Pokok Penyediaan rata-rata (Rp/kWh)
m = Margin usaha (%)
V = Volume penjualan tenaga listrik (kWh)
Kementerian ESDM selaku regulator menjaga agar penyediaan
tenaga listrik dilakukan secara efsien dan menjaga keseimbangan
kepentingan penyedia listrik (PLN) dan konsumen.
Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik pada dasarnya sama
dengan Tarif Tenaga Listrik (TTL) yang dibayar oleh konsumen, namun
saat ini TTL masih dibawah BPP. Oleh karena itu, maka Pemerintah
melakukan evaluasi Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik
PLN, dengan berprinsip pada Allowable Cost, dan memaksimalkan
efsiensi melalui diversifkasi energi primer dan penurunan losses.
Dalam rangka subsidi listrik diprioritaskan bagi konsumen tidak
mampu (450 s.d 1.300 VA), tarif lainnya ditetapkan sesuai BPP dan
13
keekonomian secara bertahap. Subsidi diperlukan apabila tingkat TTL
dibawah nilai semestinya (biaya pokok penyediaan + margin).
Dari data tabel di atas dapat terlihat bahwa subsidi listrik tahun
2011 sebesar Rp 93,18 Triliun atau naik sekitar sekitar 60,37% jika
dibandingkan besarnya subsidi listrik tahun 2010 yang sebesar Rp
58,10 Triliun.

Kenaikan subsidi ini dikarenakan adanya kenaikan terhadap BPP,
dimana pada tahun 2010 sebesar Rp 1.008/kWH, naik menjadi
Rp 1.251/kWH pada tahun 2011. Kenaikan BPP ini dikarenakan
meningkatnya penjualan listrik pada tahun 2011, seiring dengan
meningkatnya permintaan terhadap listrik nasional.

Komponen-komponen yang mempengaruhi BPP tenaga listrik pada
tahun 2011, sesuai dengan PMK Nomor 111/PMK.02/2007 adalah
sebagai berikut:
Pembelian tenaga listrik termasuk juga didalamnya sewa
pembangkit.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

11

Tebel 2.1 Perkembangan subsidi Listrik dan kebijakan
Sumber : Ditjen Ketenagalistrikan, 2012

Dari data tabel di atas dapat terlihat bahwa subsidi listrik tahun 2011 sebesar
Rp 93,18 Triliun atau naik sekitar sekitar 60,37% jika dibandingkan besarnya
subsidi listrik tahun 2010 yang sebesar Rp 58,10 Triliun.
Kenaikan subsidi ini dikarenakan adanya kenaikan terhadap BPP, dimana
pada tahun 2010 sebesar Rp 1.008/kWH, naik menjadi Rp 1.251/kWH pada
tahun 2011. Kenaikan BPP ini dikarenakan meningkatnya penjualan listrik
pada tahun 2011, seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap listrik
nasional.
Komponen-komponen yang mempengaruhi BPP tenaga listrik pada tahun
2011, sesuai dengan PMK Nomor 111/PMK.02/2007 adalah sebagai berikut:
Pembelian tenaga listrik termasuk juga didalamnya sewa pembangkit.
Tahun
Alokasi Subsidi
(Triliun Rp)
Realisasi
Subsidi
(Triliun Rp)
Kebijakan Subsidi
2000 3,93 3,93 Defisit Arus Kas
2001 4,62 4,30
Konsumen Terarah,
Khusus pelanggan s.d.
450 VA dan pemakaian
60 kWh
2002 4,10 4,10
2003 3,76 3,36
2004 3,31 3,31
2005 12,51 10,64
Konsumen Diperluas,
TDL rata-rata lebih
rendah dari BPP
2006 31,2 33,90
2007 29,4 37,48
2008 62,50 78,58
2009 47,55 53,72
2010 55,10 58,10
2011 65,56 93,18
14
Biaya terhadap pengadaan bahan bakar, yang terdiri dari bbm,
gas alam, panas bumi, batubara, minyak pelumas, serta adanya
biaya retribusi air permukaan.
Adanya biaya pemeliharaan, yang terdiri dari material, dan jasa
borongan.
Biaya kepegawaian
Biaya administrasi
Adanya penyusutan aktiva tetap operasional.
Adanya bunga dan keuangan yang digunakan untuk penyediaan
tenaga listrik.

2.1.3. Faktor-Faktor Berpengaruh Terhadap Subsidi Listrik
Faktor yang mempengaruhi Subsidi Listrik secara garis besar
dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor, yaitu adanya faktor BPP+Margin dan
Pendapatan. Faktor BPP dipengaruhi oleh dua faktor dominan, yaitu
besarnya biaya penyediaan energi primer dan komposisi energy mix
pada pembangkitan.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

12

Biaya terhadap pengadaan bahan bakar, yang terdiri dari bbm, gas alam,
panas bumi, batubara, minyak pelumas, serta adanya biaya retribusi air
permukaan.
Adanya biaya pemeliharaan, yang terdiri dari material, dan jasa borongan.
Biaya kepegawaian
Biaya administrasi
Adanya penyusutan aktiva tetap operasional.
Adanya bunga dan keuangan yang digunakan untuk penyediaan tenaga
listrik.

Sumber : Ditjen Ketenagalistrikan, 2012
Gambar 2.1 Faktor-faktor Berpengaruh Terhadap Subsidi Listrik
(selain kurs dan ICP)

2.1.3. Faktor-Faktor Berpengaruh Terhadap Subsidi Listrik
Faktor yang mempengaruhi Subsidi Listrik secara garis besar
dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor, yaitu adanya faktor BPP+Margin dan
Pendapatan. Faktor BPP dipengaruhi oleh dua faktor dominan, yaitu besarnya
biaya penyediaan energi primer dan komposisi energy mix pada
pembangkitan.
15
Besarnya biaya energi primer dipengaruhi oleh harga gas, harga
batubara dan harga bbm, sedangkan komposisi dari energi mix
pembangkit ditentukan oleh keadaan infrastruktur dan pasokan gas,
juga dengan COD PLTU batubara.
Pendapatan dari perusahaan juga mempengaruhi besarnya subsidi,
dimana pendapatan ini akan dipengaruhi dari besarnya penjualan
listrik dan tarif tenaga listrik. Dimana penjualan listrik didapatkan dari
produksi listrik dari semua pembangkit dengan mempertimbangkan
losses yang terjadi.

Dari gambar di atas dapat terlihat bahwa tahun 2012 share prosentase
untuk bbm pada pembangkit listrik mengalami penurunan, dimana
pada tahun 2011 sebesar 22,95% menurun menjadi 13,83% pada
tahun 2012, dan ditargetkan akan menurun lagi pada tahun 2013,
yaitu sebesar 9,70%.
Selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan energi primer pada
pembangkit listrik, PT PLN mengembangkan pembangkit dengan
EBT antara lain energi air, biodiesel, panas bumi, serta energi lainnya.
Disamping itu PT PLN juga mengembangkan pembangkit gas bumi
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

13

Besarnya biaya energi primer dipengararuhi oleh harga gas, harga batubara
dan harga bbm, sedangkan komposisi dari energi mix pembangkit ditentukan
oleh keadaan infrastruktur dan pasokan gas, juga dengan COD PLTU
batubara.
Pendapatan dari perusahaan juga mempengaruhi besarnya subsidi, dimana
pendapatan ini akan dipengaruhi dari besarnya penjualan listrik dan tarif
tenaga listrik. Dimana penjualan listrik didapatkan dari produksi listrik dari
semua pembangkit dengan mempertimbangkan losses yang terjadi.

Sumber : Ditjen Ketenagalistrikan, 2012
Gambar 2.2 Perkembangan Dan Target Energy Mix Tahun 2008 2013
Dari gambar di atas dapat terlihat bahwa tahun 2012 share prosentase untuk
bbm pada pembangkit listrik mengalami penurunan, dimana pada tahun 2011
sebesar 22,95% menurun menjadi 13,83% pada tahun 2012, dan ditargetkan
akan menurun lagi pada tahun 2013, yaitu sebesar 9,70%.
Selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan energi primer pada pembangkit listrik,
PT PLN mengembangkan pembangkit dengan EBT antara lain energi air,
biodiesel, panas bumi, serta energi lainnya. Disamping itu PT PLN juga
mengembangkan pembangkit gas bumi serta adanya pembangkit listrik
16
serta adanya pembangkit listrik tenaga batubara. Dimana pada tahun
2013 pembangkit listrik PT PLN didominasi oleh pembangkit batubara,
yaitu sebesar 56,66%.

Dari gambar di atas terlihat bahwa, harga batubara dari tahun ketahun
mengalami kenaikan harga, dimana pada tahun 2011 harga sebesar
US$ 4,54 per MSCF mengalami kenaikan menjadi US$ 6,12 per
MSCF pada tahun 2012, dan US$ 7,96 per MSCF pada tahun 2013.
Sedangkan untuk harga batubara pada tahun 2013 konstan jika
dibandingkan tahun 2012, yaitu sebesar Rp 792/kg. Dan untuk harga
bbm pada tahun 2013 diprediksikan mengalami sedikit penurunan
harga, yaitu Rp 8233/liter, sedangkan pada tahun 2012 sebesar Rp
8336/liter.
Apabila hanya dilihat dari harga diatas, khususnya batubara dan bbm,
tentunya yang harganya cenderung konstan, kemungkinan tidak akan
mempengaruhi dari pada BPP, namun apabila dilihat dari volumenya
dan nilai tukar rupiah terhadap US$ serta harga ICP, maka harga
tersebut juga akan mempengaruhi dari BPP.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

14

tenaga batubara. Dimana pada tahun 2013 pembangkit listrik PT PLN
didominasi oleh pembangkit batubara, yaitu sebesar 56,66%.

Sumber : Ditjen Ketenagalistrikan, 2012
Gambar 2.3 Harga Rata-rata Gas, BBM, Dan Batubara Untuk Pembangkit
PLN Tahun 2005 - 2013

Dari gambar di atas terlihat bahwa, harga batubara dari tahun ketahun
mengalami kenaikan harga, dimana pada tahun 2011 harga sebesar US$ 4,54
per MSCF mengalami kenaikan menjadi US$ 6,12 per MSCF pada tahun
2012, dan US$ 7,96 per MSCF pada tahun 2013.
Sedangkan untuk harga batubara pada tahun 2013 konstan jika dibandingkan
tahun 2012, yaitu sebesar Rp 792/kg. Dan untuk harga bbm pada tahun 2013
diprediksikan mengalami sedikit penurunan harga, yaitu Rp 8233/liter,
sedangkan pada tahun 2012 sebesar Rp 8336/liter.
Apabila hanya dilihat dari harga diatas, khususnya batubara dan bbm,
tentunya yang harganya cenderung konstan, kemungkinan tidak akan
mempengaruhi dari pada BPP, namun apabila dilihat dari volumenya dan nilai
17
Dari gambar roadmap di atas, terlihat bahwa PT PLN berupaya
melakukan efsiensi terhadap kehilangan/losses ataupun susut
jaringan, dari tahun ke tahun akan mengalami penurunan, untuk
tahun 2013 penurunan susut jaringan yang ditargetkan dalam APBN
2013 sebesar 8,50%.
Beberapa upaya PT PLN dalam rangka efsiensi terkait susut jaringan
antara lain:
Memperbanyak trafo distribusi sisipan baru;
Mengurangi transfer energi dengan mempercepat COD
pembangkit baru;
Penggunaan trafo distribusi low-losses;
Meningkatkan penertiban pemakaian listrik, termasuk Penerangan
Jalan Umum dan pemakaian listrik billboard ilegal;
Mendorong penggunaan listrik prabayar.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

15

tukar rupiah terhadap US$ serta harga ICP, maka harga tersebut juga akan
mempengaruhi dari BPP.

Sumber : Ditjen Ketenagalistrikan, 2012
Gambar 2.4 Roadmap Dan Realisasi Penurunan Susut Jaringan

Dari gambar roadmap di atas, terlihat bahwa PT PLN berupaya melakukan
efisiensi terhadap kehilangan/losses ataupun susut jaringan, dari tahun ke
tahun akan mengalami penurunan, untuk tahun 2013 penurunan susut
jaringan yang ditargetkan dalam APBN 2013 sebesar 8,50%.
Beberapa upaya PT PLN dalam rangka efisiensi terkait susut jaringan antara
lain:
Memperbanyak trafo distribusi sisipan baru;
Mengurangi transfer energi dengan mempercepat COD pembangkit baru;
Penggunaan trafo distribusi low-losses;
Meningkatkan penertiban pemakaian listrik, termasuk Penerangan Jalan
Umum dan pemakaian listrik billboard ilegal;
Mendorong penggunaan listrik prabayar.

18
Ratio elektrifkasi nasional pada tahun 2011 sebesar 72,95%,
sedangkan pada tahun 2012 mengalami kenaikan menjadi 75, 30%.
Untuk tahun 2013, rasio elektrifkasi nasional ditargetkan sebesar 77,
65%, dan ini akan terus ditingkatkan menjadi 80% pada tahun 2014.
Dalam rangka mewujudkan target rasio elektrifkasi tersebut, maka
Pemerintah dan PT PLN (Persero) merencanakan penambahan
kapasitas pembangkit dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga
listrik dan untuk mendukung program MP3EI. Berdasarkan RUPTL
PLN 2011-2020, pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik diproyeksikan
sekitar 8.46% pertahun dan kapasitas pembangkit sebesar 55.795
MW hingga tahun 2020 atau rata-rata 5.580 MW pertahun. Dan
dalam implementasinya pemerintah sudah melaksanakan Fast
Track Program (FTP) 10.000 MW tahap I dan FTP 10.000 II. Dimana
pada FTP I pembangkit listriknya masih bertumpu pada pembangkit
batubara, sedangkan pada FTP II sudah mencantumkan pembangkit
energi baru dan terbarukan.
Dengan adanya penambahan kapasitas pembangkit listrik tersebut,
maka kebutuhan energi primernya juga akan bertambah, dan dengan
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

16


Sumber : Ditjen Ketenagalistrikan, 2012
Gambar 2.5 Target Ratio Elektrifikasi 2012
Ratio elektrifkasi nasional pada tahun 2011 sebesar 72,95%, sedangkan pada
tahun 2012 mengalami kenaikan menjadi 75, 30%. Untuk tahun 2013, rasio
elektrifkasi nasional ditargetkan sebesar 77, 65%, dan ini akan terus
ditingkatkan menjadi 80% pada tahun 2014.
Dalam rangka mewujudkan target rasio elektrifikasi tersebut, maka
Pemerintah dan PT PLN (Persero) merencanakan penambahan kapasitas
pembangkit dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga listrik dan untuk
mendukung program MP3EI. Berdasarkan RUPTL PLN 2011-2020,
pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik diproyeksikan sekitar 8.46% pertahun
dan kapasitas pembangkit sebesar 55.795 MW hingga tahun 2020 atau rata-
rata 5.580 MW pertahun. Dan dalam implementasinya pemerintah sudah
melaksanakan Fast Track Program (FTP) 10.000 MW tahap I dan FTP 10.000
II. Dimana pada FTP I pembangkit listriknya masih bertumpu pada pembangkit
batubara, sedangkan pada FTP II sudah mencantumkan pembangkit energi
baru dan terbarukan.
19
adanya penambahan kebutuhan energi primer tersebut, maka BPP
juga akan ikut mengalami kenaikan.
2.1.4. Upaya Penurunan BPP Tenaga Listrik
Dalam rangka mengurangi beban subsidi listrik yang terus
meningkat, Pemerintah dan PT PLN (Persero) berupaya menurunkan
BPP tenaga listrik, antara lain melalui:
Program diversifkasi energi pembangkit BBM ke non BBM;
Program penurunan susut jaringan (losses);
Optimalisasi penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar gas
dan batubara;
Meningkatkan peran energi baru terbarukan dalam pembangkitan
tenaga listrik.
2.1.5. Penyesuaian Tarif Tenaga Listrik 2013
Subsidi listrik dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan,
dimana dalam APBN-P 2012 subsidi listrik mencapai Rp 64,97
Triliun, dan diperkirakan apabila tidak ada penyesuaian harga listrik,
maka diperkirakan pada tahun 2013 subsidi listrik bisa mencapai Rp
93,52Triliun.
Dalam rangka mengurangi beban subsidi listrik pada APBN Tahun
2013, maka pemerintah akan melakukan penyesuaian tarif tenaga
listrik secara bertahap triwulanan rata-rata 4,3% yang diberlakukan
mulai Januari 2013. Namun untuk golongan pelanggan rumah tangga
450 VA dan 900 VA tidak mengalami kenaikan.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

18

Tabel 2.2 Skenario Penyesuian TTL Tahun 2013
Uraian
Skenario Penyesuaian TTL 2013
TTL
Tetap
TTL naik triwulanan mulai Januari
%
rata-rata
naik
triwulanan
TTL
Jan- Mar
TTL
Apr - Jun
TTL
Jul - Sept
TTL
Okt -
Des
Penjualan (TWh) 182.28 182.28
TTL rata-rata
(Rp/kWh)
729 4.3% 762 798 828 857
Subsidi (Triliun Rp.) 93.52 78.63
Sumber : Ditjen Ketenagalistrikan, 2012

2.1.6. Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan:
Dari data dan penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan untuk
subsidi listrik tahun 2013, adalah sebagai berikut:
1. Penyesuaian tarif tenaga listrik tahun 2013 sangat diperlukan agar
pendistribusian subsidi listrik lebih tepat sasaran; dana penghematan
subsidi listrik dapat dipakai untuk membangun infrastruktur;
2. Kebutuhan dana untuk pembangunan jaringan dan pembangkit guna
meningkatkan Rasio Elektrifikasi (dari realisasi 2011 sebesar 72,95%
dengan target sebesar 77,65% pada tahun 2013) dan untuk mendukung
pertumbuhan ekonomi 6,8% pada tahun 2013;
3. Dengan pertumbuhan penjualan listrik sebesar 9%, susut jaringan 8,5%,
dan margin 7%, maka dibutuhkan dana pengadaan listrik sebesar Rp.
226,91 triliun;
4. Dengan kenaikan TTL sebesar 15% pada tahun 2013, dibutuhkan
subsidi tahun berjalan sebesar Rp. 78,63 triliun. Apabila tidak dinaikkan
diperlukan Rp. 93,52 triliun, artinya mendapat penghematan anggaran
sebesar Rp. 14,89 triliun;
20
2.1.6. Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan:
Dari data dan penjelasan di atas, maka dapat ditarik
kesimpulan untuk subsidi listrik tahun 2013, adalah sebagai berikut:
1. Penyesuaian tarif tenaga listrik tahun 2013 sangat diperlukan
agar pendistribusian subsidi listrik lebih tepat sasaran; dana
penghematan subsidi listrik dapat dipakai untuk membangun
infrastruktur;
2. Kebutuhan dana untuk pembangunan jaringan dan pembangkit
guna meningkatkan Rasio Elektrifkasi (dari realisasi 2011 sebesar
72,95% dengan target sebesar 77,65% pada tahun 2013) dan
untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 6,8% pada tahun 2013;
3. Dengan pertumbuhan penjualan listrik sebesar 9%, susut jaringan
8,5%, dan margin 7%, maka dibutuhkan dana pengadaan listrik
sebesar Rp. 226,91 triliun;
4. Dengan kenaikan TTL sebesar 15% pada tahun 2013, dibutuhkan
subsidi tahun berjalan sebesar Rp. 78,63 triliun. Apabila
tidak dinaikkan diperlukan Rp. 93,52 triliun, artinya mendapat
penghematan anggaran sebesar Rp. 14,89 triliun;
5. Penerima subsidi terbesar adalah dua golongan; yaitu R1/450
VA dan R1/900 VA (total: 39.180.800 pelanggan) yang mencapai
53,1% (Rp. 41,76 triliun) dari kebutuhan subsidi listrik tahun 2013.
6. Upaya-upaya yang dilakukan untuk menekan BPP, yaitu
Optimalisasi energi primer untuk pembangkit yaitu dengan
meningkatkan pemanfaatan batubara dan gas bumi. Setiap
peningkatan 1% penggunaan batubara pada bauran energi
untuk menggantikan minyak diperkirakan dapat menghemat
subsidi listrik sebesar Rp. 2,3 T. Dalam hal pemanfaatan gas,
setiap peningkatan 1% pada bauran energi diperkirakan dapat
menghemat subsidi sebesar Rp.2,1 T; Pembangunan FSRU
antara lain di Teluk Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur dan
Jawa Tengah; Program peningkatan efsiensi melalui penurunan
susut jaringan (losses).
21
Rekomendasi:
1. Permasalahan utama yaitu energi mix pada pembangkit lisrik,
dimana komposisi BBM masih cukup tinggi sehingga hal ini
menjadi tantangan PT PLN untuk dapat mengurangi seefsien
mungkin, karena biaya BBM merupakan komponen terbesar
dalam struktur BPP listrik. Oleh karena itu, diharapkan PT PLN
agar berkomitmen untuk merealisasikan project FTP I dan FTP II
sesuai dengan jadwal.
2. PT PLN agar mengoptimalisasi keandalan dan efsiensi
pembangkit, transmisi, dan distribusi.
3. PT PLN diharapkan agar mengembangkan pembangkit listrik
energi baru dan terbarukan, sesuai dengan potensi daerah
setempat dalam rangka meningkatkan ratio elektrifkasi.
4. Dalam rangka penyediaan tenaga listrik, diharapkan agar
menggunakan komponen lokal, untuk mendukung pertumbuhan
industri ketenagalistrikan dalam negeri.
2.2. KEBIJAKAN SUBSIDI BBM
2.2.1. Landasan Hukum
Sebagaimana kita ketahui bahwa landasan hukum dalam
pemberian subsidi adalah berpijak dari Peraturan Perundangan yang
berlaku, antara lain adalah sebagai berikut:
UU No. 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Pasal 8 (2)
Pemerintah wajib menjamin ketersediaan dan kelancaran
pendistribusian BBM yang merupakan komoditas vital dan
menguasai hajat hidup orang banyak di seluruh wilayah NKRI
PP No. 36/2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Migas, Pasal 4c,
Menteri menjamin ketersediaan dan kelancaran pendistribusian
BBM di seluruh wilayah NKRI;
UU No. 30 Tahun 2007 Tentang Energi Pada Pasal 7 AYAT 2 :
Pemerintah & Pemerintah Daerah menyediakan dana subsidi
untuk kelompok masyarakat tidak mampu.
Peraturan Presiden RI 45/2009 jo Perpres 71/2005 tentang
Penyediaan Dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak
Tertentu, yang mengharuskan Pemerintah mensubsidi selisih
harga jual dan harga patokan;
Peraturan Presiden RI No. 15/2012 tentang Harga Jual Eceran
22
dan Konsumen Pengguna Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu,
yang mengatur harga jual eceran untuk BBM untuk konsumen
tertentu.
Peraturan Presiden RI No. 104/2007 tentang Penyediaan,
Pendistribusian dan Penetapan Harga LPG Tabung 3Kg;
Peraturan Presiden RI No. 64/2012 tentang Penyediaan,
Pendistribusian, & Penetapan Harga BBG untuk Transportasi
Jalan;
Peraturan Menteri ESDM No. 12/2012 tentang Pengendalian
Penggunaan Bahan Bakar Minyak.
2.2.2. Latar Belakang
Realisasi pemakaian bbm bersubsidi tahun 2011 mengalami lonjakan
volume (over kuota) dari volume bbm bersubsidi yang telah ditetapkan
dalam APBN 2011 sebesar 38,59 juta KL, namun dalam perjalanan
waktu kemudian mengalami lonjakan lagi sehingga masuk dalam
APBN-P 2011 sebesar 40,79 juta KL. Dan pada akhirnya sampai akhir
tahun 2011, realisasi bbm bersubsidi mencapai 41,79 juta KL.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

21

Peraturan Menteri ESDM No. 12/2012 tentang Pengendalian Penggunaan
Bahan Bakar Minyak.
2.2.2. Latar Belakang
Realisasi pemakaian bbm bersubsidi tahun 2011 mengalami lonjakan
volume (over kuota) dari volume bbm bersubsidi yang telah ditetapkan dalam
APBN 2011 sebesar 38,59 juta KL, namun dalam perjalanan waktu kemudian
mengalami lonjakan lagi sehingga masuk dalam APBN-P 2011 sebesar 40,79
juta KL. Dan pada akhirnya sampai akhir tahun 2011, realisasi bbm bersubsidi
mencapai 41,79 juta KL.
Tabel 2.3 Realisasi Volume BBM Bersubsidi Tahun 2011
(juta KL)

Sumber: Ditjen Migas, 2012

Beberapa penyebab utama adanya over kuota ini adalah sebagai berikut:
Program pengaturan BBM bersubsidi tahun 2011 hanya secara persuasif
sehingga belum dapat mengendalikan volume sesuai rencana semula
Realisasi Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2011 lebih tinggi (dari 6,4%
menjadi 6,5%) (sumber : Kementerian Keuangan)
Peningkatan penjualan mobil di penghujung tahun 2011 mencapai 900
ribu (estimasi 850 ribu unit/tahun) (sumber : Gaikindo).
Tingginya disparitas harga BBM bersubsidi dan BBM non subsidi sehingga
terjadi migrasi konsumen dari BBM Non Subsidi ke BBM Bersubsidi.
23
Beberapa penyebab utama adanya over kuota ini adalah sebagai
berikut:
Program pengaturan BBM bersubsidi tahun 2011 hanya secara
persuasif sehingga belum dapat mengendalikan volume sesuai
rencana semula
Realisasi Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2011 lebih tinggi (dari
6,4% menjadi 6,5%) (sumber : Kementerian Keuangan)
Peningkatan penjualan mobil di penghujung tahun 2011 mencapai
900 ribu (estimasi 850 ribu unit/tahun) (sumber : Gaikindo).
Tingginya disparitas harga BBM bersubsidi dan BBM non subsidi
sehingga terjadi migrasi konsumen dari BBM Non Subsidi ke BBM
Bersubsidi.

Dari tahun ke tahun besar subsidi cenderung mengalami kenaikan,
dimana pada tahun 2009 subsidi BBM/BBN dan LPG sebesar Rp 45
triliun, tahun 2010 menjadi Rp 82,3 triliun, dan tahun 2011 sebesar
168,2 triliun.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

22



Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.6 Perkembangan subsidi
Dari tahun ke tahun besar subsidi cenderung mengalami kenaikan, dimana
pada tahun 2009 subsidi BBM/BBN dan LPG sebesar Rp 45 triliun, tahun
2010 menjadi Rp 82,3 triliun, dan tahun 2011 sebesar 168,2 triliun.

Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.7 Persentase Kelompok Rumah Tangga Penerima Subsidi
Dari gambar di atas ini dapat dilihat bahwa sebesar 25% kelompok rumah
tangga dengan penghasilan (pengeluaran) per bulan tertinggi justru yang
24
Dari gambar di atas ini dapat dilihat bahwa sebesar 25% kelompok
rumah tangga dengan penghasilan (pengeluaran) per bulan tertinggi
justru yang menerima alokasi subsidi yaitu sebesar 77%. Sementara
kelompok 25% kelompok rumah tangga dengan penghasilan
(pengeluaran) per bulan terendah hanya menerima subsidi sekitar
15%. Oleh Karena itu telah terjadi ketimpangan dan ketidakadilan
yang telah berlangsung bertahun tahun dalam pengalokasian sasaran
penerima subsidi BBM, atau dengan kata lain, pengalokasian bbm
besrsubsidi selama ini kurang tepat sasaran.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

22



Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.6 Perkembangan subsidi
Dari tahun ke tahun besar subsidi cenderung mengalami kenaikan, dimana
pada tahun 2009 subsidi BBM/BBN dan LPG sebesar Rp 45 triliun, tahun
2010 menjadi Rp 82,3 triliun, dan tahun 2011 sebesar 168,2 triliun.

Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.7 Persentase Kelompok Rumah Tangga Penerima Subsidi
Dari gambar di atas ini dapat dilihat bahwa sebesar 25% kelompok rumah
tangga dengan penghasilan (pengeluaran) per bulan tertinggi justru yang
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

23

menerima alokasi subsidi yaitu sebesar 77%. Sementara kelompok 25%
kelompok rumah tangga dengan penghasilan (pengeluaran) per bulan
terendah hanya menerima subsidi sekitar 15%. Oleh Karena itu telah terjadi
ketimpangan dan ketidakadilan yang telah berlangsung bertahun tahun dalam
pengalokasian sasaran penerima subsidi BBM, atau dengan kata lain,
pengalokasian bbm besrsubsidi selama ini kurang tepat sasaran.


Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.8 Konsumsi Premium Tahun 2011
Premium merupakan jenis BBM yang menyerap subsidi terbanyak yaitu
sebesar 60% (23,1 juta KL) dari total perkiraan realisasi BBM Bersubsidi tahun
2010 sebesar 38,38 juta KL. Berdasarkan sektor pengguna BBM bersubsidi,
sektor transportasi (darat) menggunakan 89% (32,49 juta KL) dari perkiraan
realisasi BBM bersubsidi 2010 sebanyak 38,38 juta KL.
Konsumsi premium pada sektor transportasi (darat) didominasi oleh mobil
pribadi sebesar 53% (13,3 juta KL) dari total konsumsi premium untuk
transportasi darat. Dari sisi kewilayahan, Jawa-Bali mengkonsumsi 59% kuota
premium nasional, dimana sebesar 30%nya dikonsumsi di Jabodetabek
(sama dengan 18% konsumsi premium nasional).
25
Premium merupakan jenis BBM yang menyerap subsidi terbanyak
yaitu sebesar 60% (23,1 juta KL) dari total perkiraan realisasi BBM
Bersubsidi tahun 2010 sebesar 38,38 juta KL. Berdasarkan sektor
pengguna BBM bersubsidi, sektor transportasi (darat) menggunakan
89% (32,49 juta KL) dari perkiraan realisasi BBM bersubsidi 2010
sebanyak 38,38 juta KL.

Konsumsi premium pada sektor transportasi (darat) didominasi
oleh mobil pribadi sebesar 53% (13,3 juta KL) dari total konsumsi
premium untuk transportasi darat. Dari sisi kewilayahan, Jawa-
Bali mengkonsumsi 59% kuota premium nasional, dimana sebesar
30%nya dikonsumsi di Jabodetabek (sama dengan 18% konsumsi
premium nasional).
2.2.3. Metoda Perhitungan Subsidi BBM
Lembaga Penilaian Harga Minyak untuk kawasan Asia
terutama di Singapore adalah Platts dan Argus Media. Dua lembaga
tersebut memiliki metode yang berbeda dalam hal penilaian harga
minyak di Singapura. Metode yang berbeda membuat penilaian harga
minyak di Singapore yang diterbitkan 2 lembaga tersebut juga akan
berbeda. Penilaian harga Platts (MOPS) berdasarkan transaksi yang
terjadi di sistem window Platts. Di mana seller dan buyer memasukkan
volume untuk jenis minyak yang sesuai spesifkasi Platts dan harga
bid/offer. Sedangkan Argus Media menggunakan metode survei,
testing, dan analisis untuk menentukan penilaian harga minyak.
Platts merupakan salah satu divisi dari The McGraw-Hill Companies
(NYSE-MHP), sebuah perusahaan penyediaan informasi global dan
sister to such market-leading brands as Standard & Poors, J.D. Power
& Associates, Aviation Week, and McGraw-Hill Construction. Sejak
tahun 1953, Platts menyediakan informasi tentang metal, perkapalan,
pasar yang berkaitan dengan energi seperti minyak, batubara, listrik,
tenaga nuklir, petrokimia, energi terbarukan dan emisi.


Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

24

2.2.3. Metoda Perhitungan Subsidi BBM
Lembaga Penilaian Harga Minyak untuk kawasan Asia terutama di
Singapore adalah Platts dan Argus Media. Dua lembaga tersebut memiliki
metode yang berbeda dalam hal penilaian harga minyak di Singapura. Metode
yang berbeda membuat penilaian harga minyak di Singapore yang diterbitkan
2 lembaga tersebut juga akan berbeda. Penilaian harga Platts (MOPS)
berdasarkan transaksi yang terjadi di sistem window Platts. Di mana seller dan
buyer memasukkan volume untuk jenis minyak yang sesuai spesifikasi Platts
dan harga bid/offer. Sedangkan Argus Media menggunakan metode survei,
testing, dan analisis untuk menentukan penilaian harga minyak.
Platts merupakan salah satu divisi dari The McGraw-Hill Companies (NYSE-
MHP), sebuah perusahaan penyediaan informasi global dan sister to such
market-leading brands as Standard & Poors, J.D. Power & Associates,
Aviation Week, and McGraw-Hill Construction. Sejak tahun 1953, Platts
menyediakan informasi tentang metal, perkapalan, pasar yang berkaitan
dengan energi seperti minyak, batubara, listrik, tenaga nuklir, petrokimia,
energi terbarukan dan emisi.
SUBSIDI BBM = Volume
BBM
x [Harga PatokanHarga Jual Eceran

(tidak
termasuk pajak)]



26
Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.9 Formula Perhitungan Subsidi BBM
*) Catatan:
Pajak terdiri dari: Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB)
PBBKB hanya untuk Premium dan Solar

Harga Patokan dihitung setiap bulan berdasarkan MOPS rata-rata
pada periode satu bulan sebelumnya ditambah biaya distribusi dan
margin (Perpres No. 71 Tahun 2005, pasal 1 (6));
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

24

2.2.3. Metoda Perhitungan Subsidi BBM
Lembaga Penilaian Harga Minyak untuk kawasan Asia terutama di
Singapore adalah Platts dan Argus Media. Dua lembaga tersebut memiliki
metode yang berbeda dalam hal penilaian harga minyak di Singapura. Metode
yang berbeda membuat penilaian harga minyak di Singapore yang diterbitkan
2 lembaga tersebut juga akan berbeda. Penilaian harga Platts (MOPS)
berdasarkan transaksi yang terjadi di sistem window Platts. Di mana seller dan
buyer memasukkan volume untuk jenis minyak yang sesuai spesifikasi Platts
dan harga bid/offer. Sedangkan Argus Media menggunakan metode survei,
testing, dan analisis untuk menentukan penilaian harga minyak.
Platts merupakan salah satu divisi dari The McGraw-Hill Companies (NYSE-
MHP), sebuah perusahaan penyediaan informasi global dan sister to such
market-leading brands as Standard & Poors, J.D. Power & Associates,
Aviation Week, and McGraw-Hill Construction. Sejak tahun 1953, Platts
menyediakan informasi tentang metal, perkapalan, pasar yang berkaitan
dengan energi seperti minyak, batubara, listrik, tenaga nuklir, petrokimia,
energi terbarukan dan emisi.
SUBSIDI BBM = Volume
BBM
x [Harga PatokanHarga Jual Eceran

(tidak
termasuk pajak)]



Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

25

Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.9 Formula Perhitungan Subsidi BBM
*) Catatan:
Pajak terdiri dari: Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bahan
Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB)
PBBKB hanya untuk Premium dan Solar


Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.10 Flow Harga Patokan BBM
Harga Patokan dihitung setiap bulan berdasarkan MOPS rata-rata pada
periode satu bulan sebelumnya ditambah biaya distribusi dan margin (Perpres
No. 71 Tahun 2005, pasal 1 (6));

Harga Patokan = MOPS + ALPHA
a. MOPS (Mean of Platts Singapore) adalah Indeks Pasar Produk Minyak
yang merupakan HargaTransaksi Jual Beli di Pasar Singapura yang
dipublikasikan secara harian;
b. Alpha ditentukan oleh Pemerintah atas persetujuan DPR.
Perhitungan alpha untuk RAPBN-P 2012 sama dengan APBN 2012 dengan
menggunakan formula sebagai berikut :
27
Harga Patokan = MOPS + ALPHA
a. MOPS (Mean of Platts Singapore) adalah Indeks Pasar Produk
Minyak yang merupakan HargaTransaksi Jual Beli di Pasar
Singapura yang dipublikasikan secara harian;
b. Alpha ditentukan oleh Pemerintah atas persetujuan DPR.
Perhitungan alpha untuk RAPBN-P 2012 sama dengan APBN 2012
dengan menggunakan formula sebagai berikut :
Alpha = a MOPS + b,

Dimana:
a. biaya distribusi yang terkait dengan MOPS, biaya angkut (bahan
bakar) tanker, truk, dan losses (dinilai dalam prosentase terhadap
MOPS, dalam US$/barel)
b. biaya tetap seperti biaya operasi dan perawatan depo, fee
penjualan ke SPBU dan Margin Badan Usaha pelaksana PSO
(dalam rupiah/liter)
Harga eceran adalah harga yang sama dengan harga patokan apabila
tidak ada subsidi. Dengan adanya subsidi, harga eceran selalu
dibawah harga patokan
Angka alpha diperoleh dari penjumlahan biaya transportasi BBM
dari Kilang/penyediaan sampai dengan penyalur/custody transfer
ditambah dengan angka margin;
Biaya yang diperhitungkan antara lain :
Freight Cost (Darat, Laut atau Udara);
Insurance;
Working Capital;
Depreciation;
Storage and Handling Cost;
Losses;
Marketing Cost;
Wholesale Margin;
Retail Margin.
MOPS (Mean of Platts Singapore), adalah rata-rata dari harga rendah
28
dan tinggi yang dipublikasikan oleh Platts Singapore dari setiap jenis
BBM sebagai harga indeks pasar BBM yang berada di Singapura
(FOB Singapura) yang mencerminkan transaksi jual beli produk
minyak. MOPS (Mean of Platts Singapore) adalah Indeks Pasar
Produk Minyak yang merupakan HargaTransaksi Jual Beli di Pasar
Singapura yang dipublikasikan secara harian;
Sampai dengan akhir 2005, MOPS digunakan sebagai referensi
penetapan harga jual BBM. Mulai 1 Januari 2006, MOPS digunakan
sebagai reference penetapan harga patokan dengan pertimbangan
sebagai border price refference yang most likely memasok BBM ke
Indonesia

2.2.4. Outlook Subsidi BBM Tahun 2013
Besaran subsidi BBM selain dipengaruhi oleh besaran volume
konsumsi BBM bersubsidi juga dipengaruhi oleh harga minyak bumi
dan nilai tukar rupiah.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

27

HargaTransaksi Jual Beli di Pasar Singapura yang dipublikasikan secara
harian;
Sampai dengan akhir 2005, MOPS digunakan sebagai referensi penetapan
harga jual BBM. Mulai 1 Januari 2006, MOPS digunakan sebagai reference
penetapan harga patokan dengan pertimbangan sebagai border price
refference yang most likely memasok BBM ke Indonesia
Tabel 2.3 Biaya Distribusi dan Margin


2.2.4. Outlook Subsidi BBM Tahun 2013
Besaran subsidi BBM selain dipengaruhi oleh besaran volume
konsumsi BBM bersubsidi juga dipengaruhi oleh harga minyak bumi dan nilai
tukar rupiah.
29
Trend ICP tahun 2012 (s.d 18 Desember 2012) mengalami
peningkatan yang cukup tinggi pada bulan Maret 2012 dengan rata-
rata ICP bulan Maret 2012 sebesar US$128,14/barel dan penurunan
terendah pada bulan Juni 2012 dengan rata-rata ICP bulan Juni 2012
sebesar US$99,08/barel, kemudian bulan-bulan selanjutnya berada
pada kisaran US$102 US$111/barel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga minyak antara lain: kondisi
geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Afrika yang tidak stabil dan
menimbulkan kekhawatiran akan terhambatnya pasokan minyak,
kekhawatiran pasar terhadap prospek penyelesaian krisis hutang
Yunani dan atas ancaman resesi ekonomi global salah satunya resesi
ekonomi di AS akibat fscal cliff.

Harga BBM tahun 2012 tidak dinaikkan, karena sesuai APBN-P
2012 harga ICP 6 bulan kebelakang selama tahun 2012 tidak pernah
melebihi 15% dari asumsi APBN-P sebesar US$ 105/barel atau
sebesar US$ 120,75/barel.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

28


Sumber: Laporan esdm 2012 dan rencana 2013, KESDM
Gambar 2.11 Perkembangan Harga Minyak Indonesia Dan Minyak
Utama Dunia
Trend ICP tahun 2012 (s.d 18 Desember 2012) mengalami peningkatan yang
cukup tinggi pada bulan Maret 2012 dengan rata-rata ICP bulan Maret 2012
sebesar US$128.14/barel dan penurunan terendah pada bulan Juni 2012
dengan rata-rata ICP bulan Juni 2012 sebesar US$99.08/barel, kemudian
bulan-bulan selanjutnya berada pada kisaran US$102 US$111/barel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga minyak antara lain: kondisi geopolitik
di kawasan Timur Tengah dan Afrika yang tidak stabil dan menimbulkan
kekhawatiran akan terhambatnya pasokan minyak, kekhawatiran pasar
terhadap prospek penyelesaian krisis hutang Yunani dan atas ancaman resesi
ekonomi global salah satunya resesi ekonomi di AS akibat fiscal cliff.
Harga BBM tahun 2012 tidak dinaikkan, karena sesuai APBN-P 2012 harga
ICP 6 bulan kebelakang selama tahun 2012 tidak pernah melebihi 15% dari
asumsi APBN-P sebesar US$ 105/barel atau sebesar US$ 120,75/barel.

30
Keterangan:
1. Short Term Energy Outlook, 7 Agustus 2012
2. Hasil pooling Reuters 29 Agustus 2012
3. CGES: Center For Global Energy Studies, Monthly Oil Report
volume 21 issue 8, 20 Agustus 2012
Harga minyak dunia cenderung mengalami peningkatan di triwulan
I Tahun 2012, sebagai akibat dari memburuknya situasi geopolitik di
Timur Tengah, serta belum pulihnya krisis hutang dan fnansial Eropa
dan Amerika namun cenderung turun di awal triwulan II Tahun 2012
sebagai akibat mulai meredanya ketegangan di Timur Tengah dan
membaiknya perkonomian Amerika .

Prediksi harga minyak dunia pada 2013 berdasarkan berbagai sumber
(Reuters, DOE & OPEC) berkisar antara US$ 80 140/barel. (status
mei 2012)
Berdasarkan perkembangan realisasi ICP dan harga minyak dunia,
prediksi harga minyak dunia tahun 2013 dari berbagai sumber, serta
masih tingginya ketidakpastian faktor-faktor yang mempengaruhi
harga minyak, seperti pertumbuhan ekonomi dan kondisi geopolitik
di kawasan penghasil minyak maka ICP untuk RAPBN 2013, yang
diusulkan pada kisaran US$ 100 - 120/barel dan disetujui dalam
APBN 2013 sebesar US$ 100/ barrel.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

29


Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.12 Proyeksi Harga Minyak Mentah Indonesia 2013
Keterangan:
1. Short Term Energy Outlook, 7 Agustus 2012
2. Hasil pooling Reuters 29 Agustus 2012
3. CGES: Center For Global Energy Studies, Monthly Oil Report volume 21
issue 8, 20 Agustus 2012

Harga minyak dunia cenderung mengalami peningkatan di triwulan I Tahun
2012, sebagai akibat dari memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah,
serta belum pulihnya krisis hutang dan finansial Eropa dan Amerika namun
cenderung turun di awal triwulan II Tahun 2012 sebagai akibat mulai
meredanya ketegangan di Timur Tengah dan membaiknya perkonomian
Amerika .
Prediksi harga minyak dunia pada 2013 berdasarkan berbagai sumber
(Reuters, DOE & OPEC) berkisar antara US$ 80 140/barel. (status mei
2012)
Berdasarkan perkembangan realisasi ICP dan harga minyak dunia, prediksi
harga minyak dunia tahun 2013 dari berbagai sumber, serta masih tingginya
ketidakpastian faktor-faktor yang mempengaruhi harga minyak, seperti
pertumbuhan ekonomi dan kondisi geopolitik di kawasan penghasil minyak
31

Gambar 2.13 Prosuksi Migas Nasional
Berbagai langkah-langkah strategis dalam upaya peningkatan produksi
migas dilakukan melalui penerapan Inpres No. 2 Tahun 2012 tentang
Peningkatan Produksi Minyak Bumi Nasional, intensifkasi penerapan
Pedoman Kebijakan Peningkatan Produksi Migas (re. Permen ESDM
No 6/2010), mengoptimalkan Tim Pengawasan Peningkatan Produksi
Migas dan Tim Monitoring Fasilitas Produksi yang antara lain untuk
mengurangi gangguan produksi.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

30

maka ICP untuk RAPBN 2013, yang diusulkan pada kisaran US$ 100 -
120/barel dan disetujui dalam APBN 2013 sebesar US$ 100/ barrel.


Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.13 Produksi Migas Nasional


Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.14 Prognosa Produksi/Lifting Minyak Bumi 2013
Berbagai langkah-langkah strategis dalam upaya peningkatan produksi
migas dilakukan melalui penerapan Inpres No. 2 Tahun 2012 tentang
Peningkatan Produksi Minyak Bumi Nasional, intensifikasi penerapan
Pedoman Kebijakan Peningkatan Produksi Migas (re. Permen ESDM No
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

30

maka ICP untuk RAPBN 2013, yang diusulkan pada kisaran US$ 100 -
120/barel dan disetujui dalam APBN 2013 sebesar US$ 100/ barrel.


Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.13 Produksi Migas Nasional


Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.14 Prognosa Produksi/Lifting Minyak Bumi 2013
Berbagai langkah-langkah strategis dalam upaya peningkatan produksi
migas dilakukan melalui penerapan Inpres No. 2 Tahun 2012 tentang
Peningkatan Produksi Minyak Bumi Nasional, intensifikasi penerapan
Pedoman Kebijakan Peningkatan Produksi Migas (re. Permen ESDM No
32
Berdasarkan perkembangan produksi 2011, dan upaya peningkatan
produksi, serta perkiraan adanya tambahan produksi dari
pengembangan lapangan baru, maka prognosa lifting minyak bumi
dan kondensat pada RAPBN 2013 diusulkan sebesar 890 - 930 ribu
Barel Oil Per Day (BOPD), sedangkan disetujui dalam APBN 2013
sebesar 900.000 barrel/hari.

Berbagai langkah-langkah strategis dalam upaya peningkatan
produksi gas bumi antara lain melalui intensifkasi penerapan
Pedoman Kebijakan Peningkatan Produksi Migas (re. Permen ESDM
No 6/2010), mengoptimalkan Tim Pengawasan Peningkatan Produksi
Migas dan Tim Monitoring Fasilitas Produksi yang antara lain untuk
mengurangi gangguan produksi.
Berdasarkan perkembangan produksi gas di tahun 2012 dan upaya
peningkatan produksi, serta perkiraan adanya tambahan produksi
dari pengembangan lapangan baru, maka prognosa lifting gas bumi
pada APBN 2013 disetujui sebesar 1.360 Ribu BOEPD.


Berdasarkan perkembangan produksi migas di tahun 2012, dan upaya
peningkatan produksi, serta perkiraan adanya tambahan produksi dari
pengembangan lapangan baru, maka prognosa produksi/lifting migas
pada APBN 2013 disetujui sebesar 2.260 Ribu BOEPD.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

31

6/2010), mengoptimalkan Tim Pengawasan Peningkatan Produksi Migas dan
Tim Monitoring Fasilitas Produksi yang antara lain untuk mengurangi
gangguan produksi.
Berdasarkan perkembangan produksi 2011, dan upaya peningkatan
produksi, serta perkiraan adanya tambahan produksi dari pengembangan
lapangan baru, maka prognosa lifting minyak bumi dan kondensat pada
RAPBN 2013 diusulkan sebesar 890 - 930 ribu BOPD, sedangkan disetujui
dalam APBN 2013 sebesar 900.000 barrel/hari.


Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.15 Prognosa Lifting Gas Bumi 2013
Berbagai langkah-langkah strategis dalam upaya peningkatan produksi gas
bumi antara lain melalui intensifikasi penerapan Pedoman Kebijakan
Peningkatan Produksi Migas (re. Permen ESDM No 6/2010),
mengoptimalkan Tim Pengawasan Peningkatan Produksi Migas dan Tim
Monitoring Fasilitas Produksi yang antara lain untuk mengurangi gangguan
produksi.
Berdasarkan perkembangan produksi gas di tahun 2012 dan upaya
peningkatan produksi, serta perkiraan adanya tambahan produksi dari
pengembangan lapangan baru, maka prognosa lifting gas bumi pada APBN
2013 disetujui sebesar 1.360 Ribu BOEPD.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

32


Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.16 Prognosa Lifting Migas 2013
Berdasarkan perkembangan produksi migas di tahun 2012, dan upaya
peningkatan produksi, serta perkiraan adanya tambahan produksi dari
pengembangan lapangan baru, maka prognosa produksi/lifting migas pada
APBN 2013 disetujui sebesar 2.260 Ribu BOEPD.
Tabel 2.4 Volume BBM Bersubsidi

Sumber: Ditjen Migas, 2012

Proyeksi Volume BBM bersubsidi tahun 2013, diperkirakan sekitar 45,0
48,0 juta KL dengan memperhatikan tingkat keberhasilan dari program
penghematan BBM bersubsidi tahun 2012 dan kelanjutannya. Volume BBM
bersubsidi tahun 2013 dapat dikendalikan menjadi 45 juta KL apabila
program penghematan BBM tahun 2012 tetap diimplementasikan dan
adanya penyesuaian harga jual BBM.
Volume BBM bersubsidi tahun 2013 dapat mencapai 48 juta KL apabila
program penghematan belum sesuai yang diharapkan dan penyesuaian
harga BBM tidak dapat dilaksanakan di tahun 2013. Proyeksi tersebut adalah
pertumbuhan dari hasil penghematan tahun 2012 yang diperkirakan menjadi
33
Proyeksi Volume BBM bersubsidi tahun 2013, diperkirakan sekitar
45,0 48,0 juta KL dengan memperhatikan tingkat keberhasilan dari
program penghematan BBM bersubsidi tahun 2012 dan kelanjutannya.
Volume BBM bersubsidi tahun 2013 dapat dikendalikan menjadi
45 juta KL apabila program penghematan BBM tahun 2012 tetap
diimplementasikan dan adanya penyesuaian harga jual BBM.
Volume BBM bersubsidi tahun 2013 dapat mencapai 48 juta KL
apabila program penghematan belum sesuai yang diharapkan dan
penyesuaian harga BBM tidak dapat dilaksanakan di tahun 2013.
Proyeksi tersebut adalah pertumbuhan dari hasil penghematan tahun
2012 yang diperkirakan menjadi 44 juta KL dengan pertumbuhan
9%. Dalam kesepakatan antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan
Rakyat telah disepakati dalam APBN 2013 volume subsidi BBM dan
BBN sebesar 46,01 Juta KL, volume subsidi LPG 3 kg sebesar 3,86
Juta Mton.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

32


Sumber: Ditjen Migas, 2012
Gambar 2.16 Prognosa Lifting Migas 2013
Berdasarkan perkembangan produksi migas di tahun 2012, dan upaya
peningkatan produksi, serta perkiraan adanya tambahan produksi dari
pengembangan lapangan baru, maka prognosa produksi/lifting migas pada
APBN 2013 disetujui sebesar 2.260 Ribu BOEPD.
Tabel 2.4 Volume BBM Bersubsidi

Sumber: Ditjen Migas, 2012

Proyeksi Volume BBM bersubsidi tahun 2013, diperkirakan sekitar 45,0
48,0 juta KL dengan memperhatikan tingkat keberhasilan dari program
penghematan BBM bersubsidi tahun 2012 dan kelanjutannya. Volume BBM
bersubsidi tahun 2013 dapat dikendalikan menjadi 45 juta KL apabila
program penghematan BBM tahun 2012 tetap diimplementasikan dan
adanya penyesuaian harga jual BBM.
Volume BBM bersubsidi tahun 2013 dapat mencapai 48 juta KL apabila
program penghematan belum sesuai yang diharapkan dan penyesuaian
harga BBM tidak dapat dilaksanakan di tahun 2013. Proyeksi tersebut adalah
pertumbuhan dari hasil penghematan tahun 2012 yang diperkirakan menjadi
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

33

44 juta KL dengan pertumbuhan 9%. Dalam kesepakatan antara Pemerintah
dan Dewan Perwakilan Rakyat telah disepakati dalam APBN 2013 volume
subsidi BBM dan BBN sebesar 46,01 Juta KL, volume subsidi LPG 3 kg
sebesar 3,86 Juta Mton.
Tabel 2.5 Subsidi BBN
SATUAN
2012 2013
APBN-P
REALISASI
sd 31 Ags
2012
1)

Outlook
KESEPAKATAN
KOMISI VII
2)

NOTA
KEUANGAN
a. Biodiesel (BBN) Rp./liter 3.000
2.585
3)

2.600 3.000 3.000
b. Bioethanol (BBN) Rp./liter 3.500

3.500 3.500
c. LGV Rp./liter 1.500

1.500 1.500
d. BBM (Alpha) Rp./liter
641,94
4)

662,93 658,03 628,38
669,64
5)

642,64
6)

Sumber: Ditjen Migas, 2012
Catatan:


Perbandingan harga BBN, terhadap harga BBM fosil cenderung mengalami
penurunan, namun harga penyediaannya masih diatas harga BBM fosil,
untuk itu pada APBN 2013 disetujui tambahan subsidi BBN sebesar Rp.
3.000/liter untuk biodiesel dan Rp. 3.500/liter untuk bioethanol.
Sejalan dengan perkembangan program konversi Minyak tanah ke LPG 3 kg
dan perkembangan pemakaian dari pengguna LPG 3 kg untuk isi ulang/refill
LPG 3 kg tahun 2013 diproyeksikan sebesar 3,86 4,29 juta Metrik Ton, dan
yang disetujui dalam APBN 2013 sebesar 3,86 Juta Mton.
Program konversi tahun 2013 direncanakan dilaksanakan untuk
Kabupaten/Kota yang belum terkonversi di Provinsi yang sudah terkonversi
dan penyisiran rumah tangga yang belum mendapatkan paket konversi.
34
Catatan :

Perbandingan harga BBN, terhadap harga BBM fosil cenderung
mengalami penurunan, namun harga penyediaannya masih diatas
harga BBM fosil, untuk itu pada APBN 2013 disetujui tambahan
subsidi BBN sebesar Rp. 3.000/liter untuk biodiesel dan Rp. 3.500/
liter untuk bioethanol.
Sejalan dengan perkembangan program konversi minyak tanah ke
LPG 3 kg dan perkembangan pemakaian dari pengguna LPG 3 kg
untuk isi ulang/refll LPG 3 kg tahun 2013 diproyeksikan sebesar 3,86
4,29 juta Metrik Ton, dan yang disetujui dalam APBN 2013 sebesar
3,86 Juta Mton.
Program konversi tahun 2013 direncanakan dilaksanakan untuk
Kabupaten/Kota yang belum terkonversi di Provinsi yang sudah
terkonversi dan penyisiran rumah tangga yang belum mendapatkan
paket konversi.
2.2.5. Kesimpulan
Dari data dan penjelasan di atas, maka dapat ditarik
kesimpulan, sebagai berikut:
1. Subsidi BBM, BBN, dan LPG tahun 2013 (Kurs Rp. 9.224,36/
US$) :
- Volume subsidi BBM dan BBN pada tahun 2013 sesua dengan
nota keuangan sebesar 46,01Juta KL.
- Volume LPG 3 Kg sebesar 3,86 Juta MTon
- Subsidi Biodiesel (BBN) sebesar Rp 3.000/ liter
- Subsidi Bioethanol (BBN) sebesar Rp 3.500/ liter
- Subsidi untuk LGV sebesar Rp 1.500/ liter
- BBM (Alpha) sebesar Rp 642,64/ liter (Alpha BBM dengan
asumsi ICP: US$ 100/bbl, Kurs Rp. 9.300/US$)
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

33

44 juta KL dengan pertumbuhan 9%. Dalam kesepakatan antara Pemerintah
dan Dewan Perwakilan Rakyat telah disepakati dalam APBN 2013 volume
subsidi BBM dan BBN sebesar 46,01 Juta KL, volume subsidi LPG 3 kg
sebesar 3,86 Juta Mton.
Tabel 2.5 Subsidi BBN
SATUAN
2012 2013
APBN-P
REALISASI
sd 31 Ags
2012
1)

Outlook
KESEPAKATAN
KOMISI VII
2)

NOTA
KEUANGAN
a. Biodiesel (BBN) Rp./liter 3.000
2.585
3)

2.600 3.000 3.000
b. Bioethanol (BBN) Rp./liter 3.500

3.500 3.500
c. LGV Rp./liter 1.500

1.500 1.500
d. BBM (Alpha) Rp./liter
641,94
4)

662,93 658,03 628,38
669,64
5)

642,64
6)

Sumber: Ditjen Migas, 2012
Catatan:


Perbandingan harga BBN, terhadap harga BBM fosil cenderung mengalami
penurunan, namun harga penyediaannya masih diatas harga BBM fosil,
untuk itu pada APBN 2013 disetujui tambahan subsidi BBN sebesar Rp.
3.000/liter untuk biodiesel dan Rp. 3.500/liter untuk bioethanol.
Sejalan dengan perkembangan program konversi Minyak tanah ke LPG 3 kg
dan perkembangan pemakaian dari pengguna LPG 3 kg untuk isi ulang/refill
LPG 3 kg tahun 2013 diproyeksikan sebesar 3,86 4,29 juta Metrik Ton, dan
yang disetujui dalam APBN 2013 sebesar 3,86 Juta Mton.
Program konversi tahun 2013 direncanakan dilaksanakan untuk
Kabupaten/Kota yang belum terkonversi di Provinsi yang sudah terkonversi
dan penyisiran rumah tangga yang belum mendapatkan paket konversi.
35
2. Sebesar 25% kelompok rumah tangga dengan penghasilan
(pengeluaran) per bulan tertinggi justru yang menerima alokasi
subsidi yaitu sebesar 77%. Sementara kelompok 25% kelompok
rumah tangga dengan penghasilan (pengeluaran) per bulan
terendah hanya menerima subsidi sekitar 15%.
3. Penyebab terjadinya over kuota yang berlangsung hampir setiap
tahunnya adalah sebagai berikut:
Meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
Program pengaturan BBM bersubsidi yang telah direncanakan
tidak dapat dilaksanakan secara penuh
Terjadinya peningkatan penjualan mobil & motor .
Tingginya disparitas harga BBM bersubsidi dan BBM non
subsidi sehingga terjadi migrasi konsumen dari BBM Non
Subsidi ke BBM Bersubsidi.
4. Upaya pemerintah dalam rangka mengurangi konsumsi BBM
bersubsidi :
Pengalihan Subsidi Harga ke Subsidi Langsung dan Bantuan
Sosial melalui penguatan program-program penanggulangan
kemiskinan.
Pengurangan Volume (Q ) BBM tertentu, dengan cara :
- Pengurangan pemakaian Bahan Bakar Minyak Tertentu
- Diversifkasi energi
- Penerapan Sistem Distribusi Tertutup untuk pengguna tertentu
- Insentif dan Disinsentif Fiskal
Pemilihan Harga Patokan BBM yang tepat
- Menekan biaya distribusi BBM
- Menghitung harga keekonomian penyediaan BBM
- Penetapan Harga Jual BBM tertentu sesuai daya beli
pengguna tertentu
2.2.6. Rekomendasi
1. Semakin tingginya beban APBN untuk subsidi bbm yang
ditanggung oleh pemerintah, dimana tahun 2013 hampir
mencapai Rp. 300 Triliun, maka perlunya penyesuaian harga
BBM, agar APBN lebih sehat dan dananya dapat dialokasikan ke
infrastruktur.
2. Perlunya sosialisasi yang lebih intens kepada masyarakat tentang
36
hemat energi, khususnya energi fosil.
3. Perlunya kebijakan pemerintah yang dapat menurunkan tingkat
penjualan kendaraan bermotor, sebagai contoh kebijakan uang
muka (DP) untuk kredit kendaraan bermotor, dan bunga bank.
4. Perlunya diversifkasi BBM dengan bahan bakar lainnya, BBG
maupun BBN untuk kendaraan bermotor.
5. Perlunya perbaikan moda transportasi massa dengan bahan
bakar gas yang lebih aman dan nyaman, agar dapat mengalihkan
pemakaian kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
2.3. KEBIJAKAN EKSPOR MINERAL DAN BATUBARA
2.3.1. Latar Belakang
Mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum
pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan
yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup
orang banyak, karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara
untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional
dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara
berkeadilan.
Dalam pengelolaan kekayaan alam, sering terjadi perbedaan
kepentingan dan perlu adanya jaminan kepastian hukum dalam
pelaksanaan kegiatan pertambangan sektor Mineral dan Batubara
sesuai dengan Undang-undang Penataan Ruang dan Undang-
undang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.17 Peran Subsektor Mineral Dan Batubara Dalam Pembangunan
Sesuai ketentuan dalam Undang-undang No 4 Tahun 2009 tentang
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

36

5. Perlunya perbaikan moda transportasi massa dengan bahan bakar gas
yang lebih aman dan nyaman, agar dapat mengalihkan pemakaian
kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
2.3. KEBIJAKAN EKSPOR MINERAL DAN BATUBARA
2.3.1. Latar Belakang
Mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum
pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan yang
mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak,
karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara untuk memberi nilai
tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.
Dalam pengelolaan kekayaan alam, sering terjadi perbedaan kepentingan dan
perlu adanya jaminan kepastian hukum dalam pelaksanaan kegiatan
pertambangan sektor Mineral dan Batubara sesuai dengan Undang-undang
Penataan Ruang dan Undang-undang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.17 Peran Subsektor Mineral Dan Batubara Dalam
Pembangunan
37
Pertambangan Mineral dan Batubara, wajib dilakukan peningkatan
nilai tambah mineral dan batubara melalui pengolahan dan pemurnian
di dalam negeri.
Adanya kemungkinan ekspor batubara dari Indonesia yang tidak
tercatat pada data ekspor di Indonesia, serta adanya kemungkinan
perbedaan data ekspor batubara yang tercatat di luar negeri
dibandingkan dengan data yang tercatat di Indonesia
Industri pertambangan mineral dan batubara ditujukan untuk
mendukung kebijakan pemerintah Four Track Strategies yaitu: Pro
Poor, Pro Job, Pro Growth dan Pro Environment sehingga terwujud
pengelolaan pertambangan mineral dan batubara yang bermanfaat,
berkeadilan dan keberpihakan bagi kesejahteraan masyarakat.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.18 Penguasaan Mineral Dan Batubara
Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33, maka bumi, air
dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai kepemilikannya
oleh Negara, Bangsa Indonesia (mineral right). Sedangkan dalam
rangka menyelenggarakan penguasaan pertambangan tersebut
(mining right) dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi,
maupun Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangan
dan tugas yang telah ditetapkan oleh undang-undang. Sedangkan
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

37


Sesuai ketentuan dalam Undang-undang No 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara, wajib dilakukan peningkatan nilai
tambah mineral dan batubara melalui pengolahan dan pemurnian di dalam
negeri.
Adanya kemungkinan ekspor batubara dari Indonesia yang tidak tercatat pada
data ekspor di Indonesia, serta adanya kemungkinan perbedaan data ekspor
batubara yang tercatat di luar negeri dibandingkan dengan data yang tercatat
di Indonesia
Industri pertambangan mineral dan batubara ditujukan untuk mendukung
kebijakan pemerintah Four Track Strategies yaitu: Pro Poor, Pro Job, Pro
Growth dan Pro Environment) sehingga terwujud pengelolaan pertambangan
mineral dan batubara yang bermanfaat, berkeadilan dan keberpihakan bagi
kesejahteraan masyarakat.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.18 Penguasaan Mineral Dan Batubara
38
dalam rangka pengusahaannya diserahkan kepada pelaku usaha
(economic right), yaitu BUMN/BUMD, Badan usaha lainnya, Koperasi,
dan perorangan.
2.3.2. Kondisi Saat Ini
Berikut ini adalah peta sebaran sumber daya dan cadangan
mineral yang tersebar hampir diseluruh kepulauan di Indonesia.
Komoditi tembaga hampir sebesar 9.000 juta ton ore , emas 11.000
juta ton ore, perak sebesar 7500 juta ton ore, nikel sebesar 3.000 juta
ton ore.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.19 Peta Sumberdaya Dan Cadangan Mineral
Disamping itu terdapat pula komoditas lainnya, antara lain pasir besi,
besi lateritic, besi primer, besi sedimen, mangan, perak, zinc, timah
dan lead.
Batubara memiliki total sumberdaya sebesar 161,34 Miliar Ton
(termasuk 41 Miliar Ton SD baubara tambang dalam) dan cadangan
totalnya sebesar 28,17 Miliar Ton, yang tersebar di Pulau Sumatera,
Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, dan di Papua.
Cadangan batubara Indonesia berdasarkan kalori adalah untuk
cadangan barubara dengan kalori rendah (< 5000kal/gr) sebesar
10.000,02 Juta Ton, Kalori sedang (5000-6000 kal/gr) sebesar
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

38

Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33, maka bumi, air dan
kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai kepemilikannya oleh Negara,
Bangsa Indonesia (mineral right). Sedangkan dalam rangka
menyelenggarakan penguasaan pertambangan tersebut (mining right)
dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah
Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangan dan tugas yang telah ditetapkan
oleh undang-undang. Sedangkan dalam rangka pengusahaannya diserahkan
kepada pelaku usaha (economic right), yaitu BUMN/BUMD, Badan usaha
lainnya, Koperasi, dan perorangan.

2.3.2. Kondisi Saat Ini
Berikut ini adalah peta sebaran sumber daya dan cadangan mineral
yang tersebar hampir diseluruh kepulauan di Indonesia. Komoditi tembaga
hampir sebesar 9.000 juta ton ore , emas 11.000 juta ton ore, perak sebesar
7500 juta ton ore, nikel sebesar 3.000 juta ton ore.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.19 Peta Sumberdaya Dan Cadangan Mineral

Disamping itu terdapat pula komoditas lainnya, antara lain pasir besi, besi
lateritic, besi primer, besi sedimen, mangan, perak, zinc, timah dan lead.
39
16.128,80 Juta Ton, cadangan kalori tinggi (6.000-7100 kal/gr)
sebesar 1.655 Juta Ton, dan cadangan kalori sanat tinggi (> 7100)
sebesar 231,57 Juta Ton.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.20 Potensi Batubara Indonesia
Negara-negara tujuan ekspor batubara dari Indonesia adalah Negara
India, Malaysia, Thailand, China, Hongkong, Thaiwan, Philiphina,
Korea, Jepang.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.21 Ekspor Batubara, Nikel, Tembaga Indonesia
Negara tujuan ekspor nikel dari Indonesia, adalah Negara-negara di
eropa dan USA, Taiwan, Korea, Jepang dan Australia. Sedangkan
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

39

Batubara memiliki total sumberdaya sebesar 161,34 Miliar Ton (termasuk 41
Miliar Ton SD baubara tambang dalam) dan cadangan totalnya sebesar 28,17
Miliar Ton, yang tersebar di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa,
Pulau Sulawesi, dan di Papua.
Cadangan batubara Indonesia berdasarkan kalori adalah untuk cadangan
barubara dengan kalori rendah (< 5000kal/gr) sebesar 10.000,02 Juta Ton,
Kalori sedang (5000-6000 kal/gr) sebesar 16.128,80 Juta Ton, cadangan
kalori tinggi (6.000-7100 kal/gr) sebesar 1.655 Juta Ton, dan cadangan kalori
sanat tinggi (> 7100) sebesar 231,57 Juta Ton.
.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.20 Potensi Batubara Indonesia

Negara-negara tujuan ekspor batubara dari dari Indonesia adalah Negara
India, Malaysia, Thailand, China, Hongkong, Thaiwan, Philiphina, Korea,
Jepang.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

40


Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.21 Ekspor Batubara, Nikel, Tembaga Indonesia
Negara tujuan ekspor nikel dari Indonesia, adalah Negara-negara di eropa
dan USA, Taiwan, Korea, Jepang dan Australia. Sedangkan untuk ekspor
tembaga dengan Negara tujuan India, Korea, Jepang, Cina, Philipina dan
Negara eropa dan USA.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.22 Produksi, Ekspor dan Penjualan Domestik Batubara
(2007-2011)

40
untuk ekspor tembaga dengan Negara tujuan India, Korea, Jepang,
Cina, Philipina dan Negara eropa dan USA.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.22 Produksi, Ekspor dan Penjualan Domestik Batubara (2007-2011)
Dari gambar di atas bahwa, produksi batubara nasional dari tahun ke
tahun selalu mengalami kenaikan, dimana pada tahun 2011 produksi
batubara nasional mencapai 353 Juta Ton, naik sekitar 78 Juta Ton
jika dibandingkan produksi batubara pada tahun 2010 yang sebesar
275 Juta Ton.
Untuk konsumsi domestik batubara juga mengalami kenaikan, dimana
pada tahun 2010 konsumsi dalam negeri sebesar 67 Juta Ton, naik
sekitar 13 Juta Ton, menjadi 80 Juta Ton pada Tahun 2010.
Demikian juga untuk batubara komoditas ekspor juga selalu mengalami
kenaikan dari tahun 2007 sampai tahun 2011 terjadi kenaikan sebesar
110 Juta Ton, dimana kenaikan paling tinggi terjadi pada tahun 2010
ke tahun 2011, yaitu terjadi kenaikan sebesar 65 Juta Ton, dari 208
Juta Ton pada 2010 menjadi 273 Juta Ton pada tahun 2011.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

40


Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.21 Ekspor Batubara, Nikel, Tembaga Indonesia
Negara tujuan ekspor nikel dari Indonesia, adalah Negara-negara di eropa
dan USA, Taiwan, Korea, Jepang dan Australia. Sedangkan untuk ekspor
tembaga dengan Negara tujuan India, Korea, Jepang, Cina, Philipina dan
Negara eropa dan USA.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.22 Produksi, Ekspor dan Penjualan Domestik Batubara
(2007-2011)

41
Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.23 Ekspor Mineral Indonesia (2008-2011)
Dari gambar di atas dapat ilihat bahwa ekspor komoditi pertambangan
semenjak tahun 2008-2011 mencatat kenaikan yang cukup tinggi.
Ekspor bijih nikel pada tahun 2011 mengalami kenaikan sekitar 8 kali
lipat jika dibandingkan dengan ekspor pada tahun 2008.
Ekspor bijih besi pada tahun 2011 mengalami kenaikan sekitar 7 kali
lipat jika dibandingkan ekspor biji besi pada tahun 2008. Unuk ekspor
bijih tembaga pada tahun 2011 mengalami kenaikan 11 kali lipat,
jika dibandingkan ekspor pada tahun 2008. Sedangkan ekspor bijih
bauksit mengalami kenaikan sekitar 5 kali lipat pada tahun 2011 jika
dibandingkan tahun 2008.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.24 Investasi Subsektor Mineral dan Batubara (2007-2011)
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

41

Dari gambar di atas bahwa, produksi batubara nasional dari tahun ke tahun
selalu mengalami kenaikan, dimana pada tahun 2011 produksi batubara
nasional mencapai 353 Juta Ton, naik sekitar 78 Juta Ton jika dibandingkan
produksi batubara pada tahun 2010 yang sebesar 275 Juta Ton.
Untuk konsumsi domestik batubara juga mengalami kenaikan, dimana pada
tahun 2010 konsumsi dalam negeri sebesar 67 Juta Ton, naik sekitar 13 Juta
Ton, menjadi 80 Juta Ton pada Tahun 2010.
Demikian juga untuk batubara komoditas ekspor juga selalu mengalami
kenaikan dari tahun 2007 sampai tahun 2011 terjadi kenaikan sebesar 110
Juta Ton, dimana kenaikan paling tinggi terjadi pada tahun 2010 ke tahun
2011, yaitu terjadi kenaikan sebesar 65 Juta Ton, dari 208 Juta Ton pada
2010 menjadi 273 Juta Ton pada tahun 2011.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.23 Ekspor Mineral Indonesia (2008-2011)

Dari gambar di atas dapat ilihat bahwa ekspor komoditi pertambangan
semenjak tahun 2008-2011 mencatat kenaikan yang cukup tinggi. Ekspor bijih
nikel pada tahun 2011 mengalami kenaikan sekitar 8 kali lipat jika
dibandingkan dengan ekspor pada tahun 2008.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

42

Ekspor bijih besi pada tahun 2011 mengalami kenaikan sekitar 7 kali lipat jika
dibandingkan ekspor biji besi pada tahun 2008. Unuk ekspor bijih tembaga
pada tahun 2011 mengalami kenaikan 11 kali lipat, jika dibandingkan ekspor
pada tahun 2008. Sedangkan ekspor bijih bauksit mengalami kenaikan sekitar
5 kali lipat pada tahun 2011 jika dibandingkan tahun 2008.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.24 Investasi Subsektor Mineral dan Batubara (2007-2011)

Total investasi subsektor mineral dan batubara selama tahun 2007 sampai
tahun 2011 mengalami kenaikan sekitar 25%. Dimana investasi pada tahun
2011 hampir mencapai 3500 Juta USD yang sebelumnya pada tahun 2007
masih sekitar 600 juta USD. Share investasi terbesar pada KK, IUJP, PKP2B
dan IUP BUMN.
2.3.3. Kebijakan Ekspor Batubara
Dalam rangka mengoptimalkan penerimaan Negara dari sektor
pertambangan dan batubara, maka pemerintah perlu melaksanakan
pengawasan pelaksanaan ekspor batubara, dimana sampai saat ini masih
terjadi perbedaan besarnya volume ekspor tersebut, khususnya ekspor
batubara antara kementeriaan energi dan sumber daya mineral dengan pihak
42
Total investasi subsektor mineral dan batubara selama tahun 2007
sampai tahun 2011 mengalami kenaikan sekitar 25%. Dimana
investasi pada tahun 2011 hampir mencapai 3500 Juta USD yang
sebelumnya pada tahun 2007 masih sekitar 600 juta USD. Share
investasi terbesar pada KK, IUJP, PKP2B dan IUP BUMN.
2.3.3. Kebijakan Ekspor Batubara
Dalam rangka mengoptimalkan penerimaan Negara
dari sektor pertambangan dan batubara, maka pemerintah perlu
melaksanakan pengawasan pelaksanaan ekspor batubara, dimana
sampai saat ini masih terjadi perbedaan besarnya volume ekspor
tersebut, khususnya ekspor batubara antara kementeriaan energi
dan sumber daya mineral dengan pihak bea cukai, kementeriaan
keuangan, kementeriaan perdagang maupun Bank Inonesia.
Disamping itu KESDM juga berkoordinasi antar pihak-pihak terkait.
PKP2B / IUP wajib menyampaikan Rencana Kerja dan Anggaran
Biaya (RKAB) kepada Pemerintah Pusat / Daerah. Pemerintah Pusat
/ Daerah menetapkan Persetujuan RKAB yang salah satunya berisi
total tonase batubara yang diijinkan untuk ekspor maupun penjualan
domestik.
RKAB yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten atau Propinsi
harus disampaikan kepada ESDM (Ditjen Minerba) dan telah diterima
oleh Ditjen Minerba selambat lambatnya akhir bulan Januari.
Untuk penjualan ke domestik dalam rangka DMO, harus disesuaikan
dengan kuota yang telah ditetapkan untuk masing masing PKP2B /
IUP yang nantinya akan diverifkasi oleh surveyor yang ditunjuk oleh
pemerintah.

43
Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.25 Bagan Pengawasan Mineral dan Batubara
Untuk penjualan ekspor, akan dilakukan verifkasi oleh ESDM /
Minerba sesuai dengan RKAB yang telah disetujui dan menetapkan
jumlah ekspor per perusahaan per tahun dengan catatan sebagai
berikut :
Harga minimal sesuai HPB
Sudah lunas royalty / DHPB sebelum nya
Tonase yang telah ditetapkan dalam RKAB
ESDM melalui Ditjen Minerba memberikan kepada Kementerian
Perdagangan tentang data ekspor maksimum per perusahaan
(PKP2B/IUP) per tahuan sesuai dengan persetujuan RKAB PKP2B
maupun IUP yang telah disampaikan oleh Pemerintah Daerah.

PKP2B / IUP mengajukan permohonan ijin ekspor kepada Kementerian
Perdagangan untuk kuantitas (tonase) ekspor per triwulan nya.
Kementerian Perdagangan akan menetapkan Ijin Ekspor Per Triwulan
(tonase) berdasarkan rekomendasi ESDM (secara total setahun).
Surveyor akan melakukan verifkasi terhadap kualitas dan kuantitas
batubara yang akan diekspor dan akan mengeluarkan laporan hasil
verivikasi. Bea cukai melakukan verifkasi terkait hasil verifkasi
surveyor, rekomendasi maupun ijin dari Kementerian Perdagangan
sebagai bahan evaluasi dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang
(PEB) yang merupakan pintu / flter terakhir dalam penjualan ekspor.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

43

bea cukai, kementeriaan keuangan, kementeriaan perdagang maupun Bank
Inonesia. Disamping itu KESDM juga berkoordinasi antar pihak-pihak terkait.
PKP2B / IUP wajib menyampaikan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya
(RKAB) kepada Pemerintah Pusat / Daerah. Pemerintah Pusat / Daerah
menetapkan Persetujuan RKAB yang salah satunya berisi total tonase
batubara yang diijinkan untuk ekspor maupun penjualan domestik.
RKAB yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten atau Propinsi harus
disampaikan kepada ESDM (Ditjen Minerba) dan telah diterima oleh Ditjen
Minerba selambat lambatnya akhir bulan Januari. Untuk penjualan ke
domestik dalam rangka DMO, harus disesuaikan dengan kuota yang telah
ditetapkan untuk masing masing PKP2B / IUP yang nantinya akan
diverifikasi oleh surveyor yang ditunjuk oleh pemerintah.

Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 2.25 Bagan Pengawasan Mineral dan Batubara

Untuk penjualan ekspor, akan dilakukan verifikasi oleh ESDM / Minerba
sesuai dengan RKAB yang telah disetujui dan menetapkan jumlah ekspor per
perusahaan per tahun dengan catatan sebagai berikut :
Harga minimal sesuai HPB
44
PKP2B / IUP dapat melakukan penjualan ekspor dengan cara penjualan
langsung kepada end user atau melalui trader luar negeri maupun
melalui trader domestik. Khusus untuk trader / pemegang IUP OP
Khusus Pengangkutan dan Penjualan, penentuan perhitungan tonase
ekspor tetap mengacu kepada ketentuan ekspor dari pemegang IUP
Operasi Produksi dalam RKAB nya. Setiap penjualan ekspor harus
mendapat dokumen PEB.
Untuk DMO, Suveyor yang telah ditunjuk oleh Pemerintah akan
melakukan verifkasi terhadap pemenuhan kuota DMO yang telah
ditentukan kepada PKP2B / IUP dan hasil verifkasi nya disampaikan
kepada ESDM.

Apabila kuota ekspor sudah habis, PKP2B / IUP dapat meminta
rekomendasi ke Ditjen Minerba ESDM, dengan catatan kewajiban ke
domestik (DMO) telah dipenuhi sesuai ketentuan berlaku, kemudian
ESDM akan memberikan rekomendasi kepada Kementerian
Perdagangan.
Dilakukan koordinasi antara ESDM/Minerba, Kemdag, Beacukai,
untuk rekonsiliasi realisasi ekspor dan perijinan ekspor yang telah
diterbitkan
2.3.4. Arah Kebijakan Tahun 2013
Mendorong pengembangan nilai tambah produk komoditi
hasil tambang (a.l. pengolahan, pemurnian, local content, local
expenditure, tenaga kerja dan pengembangan masyarakat);
Melaksanakan peningkatan pembinaan dan pengawasan pada
kegiatan pertambangan;
Mendorong peningkatan investasi dan optimalisasi penerimaan
negara melalui peningkatan kerjasama dengan instansi terkait
(Pemda, BPK, BPKP, Kemenkeu dan KPK);
Memberikan kepastian dan transparansi di dalam kegiatan usaha
pertambangan dengan regulasi pendukung UU No. 4/2009
(Permen dan Kepmen);
Menjamin keamanan pasokan batubara dalam negeri melalui
Domestic Market Obligation (DMO);
Mempertahankan kelestarian lingkungan melalui pengelolaan
dan pemantauan lingkungan, termasuk reklamasi dan pasca
tambang.
45
2.3.5. PERMASALAHAN SEKTOR PERTAMBANGAN DAN
UPAYA PENYELESAIAN
a. Rekonsiliasi IUP
Masih banyaknya IUP yang belum clear and clean, oleh karena
itu perlu melanjutkan verifkasi melalui unit pelayanan terpadu.
Lambatnya respon Pemda (Pemprov, Pemkab/Pemkot)
dalam menyelesaikan permasalahan tumpang tindih wilayah
dan administrasi perijinan IUP, oleh karena itu diharapkan
kedepannya agar Mendorong komitmen dari Gubernur,
Bupati, Walikota untuk penyelesaian hal tersebut.
Batas wilayah antar daerah secara defnitif belum tegas,
oleh karena itu perlu Penegasan batas wilayah antar daerah
secara defnitif yang telah ada Permendagri-nya yang dapat
digunakan sebagai dasar dalam penataan IUP.
b. Peningkatan Nilai Tambah/Hilirisasi Minerba Di Dalam Negeri
Kemampuan industri dalam negeri untuk menyerap produk
hasil pengolahan dan pemurnian mineral dan batubara masih
belum memadai apabila seluruh hasil tambang mineral diolah
di dalam negeri, oleh karena itu tentunya kedepannya agar
menningkaktan kemampuan industri dalam negeri untuk
menyerap produk hasil pengolahan dan pemurnian mineral
dan batubara.
Pasar luar negeri untuk produk hasil pengolahan dan
pemurnian mineral dan batubara mayoritas masih terbatas
pada pasar jepang, china dan korea, upaya yang sangat di
diperlukan adalah diplomasi perdagangan luar negeri yang
kuat.
Untuk membangun fasiiltas pengolahan dan pemurnian
membutuhkan investasi yang sangat besar dengan payback
period yang lama, sehingga diperlukan insentif agar menarik
minat untuk berinvestasi. Untuk mengatasi permasalahan ini
maka diperlukan kajian bersama antara KESDM, Kemenkeu
dan Kemenperin terkait jenis insentif yang tepat untuk
pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral
dan batubara.
c. Penyesuaian (Renegosiasi) KK Dan PKP2B
Belum diperoleh rumusan ketentuan perpajakan untuk
46
penyesuaian/renegosiasi KK dan PKP2B belum diperoleh
dari Kemenkeu. Oleh karena itu diharapkan agar Kemenkeu
segera menyampaikan rumusan ketentuan perpajakan untuk
penyesuaian KK dan PKP2B.
Belum seluruh KK/PKP2B yang disesuaikan dengan UU No. 4
Tahun 2009. Oleh karena itu perlu adanya Koordinasi dengan
SesMenko Perekonomian untuk pelaksanaan kegiatan Tim
Pelaksanaan Evaluasi Penyesuaian KK/PKP2B sesuai dengan
KepMenko Bid. Perekonomian No. KEP-54/M.EKON/06/12.
2.3.6. Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan
1. Lahirnya UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara memberikan kepastian hukum kepada semua pihak,
karena dalam proses penyusunannya banyak terkait dengan
tuntutan demokratisasi, otonomi daerah, HAM, kebutuhan
sosial, ekonomi dan lingkungan hidup, sehingga sumberdaya
mineral dan batubara dapat dimanfaatkan secara optimal untuk
kepentingan bangsa dan negara.
2. Industri pertambangan mineral dan batubara ditujukan untuk
mendukung kebijakan pemerintah Four Track Strategies yaitu:
Pro Poor, Pro Job, Pro Growth dan Pro Environment, sehingga
terwujud pengelolaan pertambangan mineral dan batubara yang
bermanfaat, berkeadilan dan keberpihakan bagi kesejahteraan
masyarakat.
3. Untuk menjamin keberlanjutan pengolahan dan pemurnian
mineral di dalam negeri pada masa yang akan datang, maka
mutlak untuk dilakukan pengendalian penjualan mineral ke luar
negeri dalam bentuk bijih.
4. Permen ESDM No. 7/2012 dan peraturan lainnya sebagai acuan
untuk tata laksananya, menjadi dasar hukum yang kuat bagi
Pemerintah guna mendorong perusahaan melakukan peningkatan
nilai tambah pertambangan mineral melalui pengolahan dan
pemurnian di dalam negeri.
5. Fakta bahwa ekspor batubara dari Indonesia yang tidak tercatat
pada data ekspor di Indonesia kemungkinan dapat menjadikan
perbedaan data ekspor batubara yang tercatat di luar negeri
dibandingkan dengan data yang tercatat di Indonesia
6. Pada saat ini masih terdapat sejumlah permasalahan yang perlu
47
menjadi perhatian bersama, diantaranya adalah: tumpang tindih
perizinan, infrastruktur, dll.
7. Perlu dukungan semua pihak pemangku kepentingan untuk
mewujudkan peningkatan nilai tambah mineral melalui kegiatan
pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri sesuai
amanat UU No 4/2009.
8. Prospek usaha pertambangan mineral dan batubara di masa
mendatang masih sangat terbuka sebagai peluang berinvestasi.
Kerjasama internasional diperlukan dalam berbagai kegiatan
pertambangan, seperti eksplorasi, tambang bawah permukaan
(underground mining), pengolahan dan pemurnian mineral, produk
nilai tambah batubara: UBC, pencairan batubara, gasifkasi, dll).
Rekomendasi
1. Dalam rangka mendorong perusahaan melakukan peningkatan
nilai tambah pertambangan mineral melalui pengolahan dan
pemurnian di dalam negeri, diharapkan agar pasokan energi
dapat terpenuhi untuk operasional smelter.
2. Perlunya penetapan batasan minimum pengolahan dan pemurnian
dalam Permen yang otomatis diberlakukan pada IUP baru dan KK
serta PKP2B yang akan memasuki tahap produksi.
3. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal bagi Negara
direkomendasikan pengendalian ekspor melalui penerapan Tata
Niaga Ekspor dan Bea Keluar.
4. Penerbitan Izin Ekspor Mineral wajib mendapatkan rekomendasi
dari Kementerian ESDM dengan persyaratan: IUP Clear and
Clean, Pemenuhan Kewajiban Keuangan, Rencana Pengolahan
dan Pemurnian, dan menandatangani Pakta Integritas (untuk
mengolah dan memurnikan ore/raw material di dalam negeri
paling lambat tanggal 12 Januari 2014).
5. Penetapan tarif bea Keluar dikenakan pada semua komoditas
mineral dengan tarif seragam karena keterbatasan data yang
diperoleh dari Pemerintah Daerah dan Pemegang IUP maka
diusulkan bea Keluar menggunakan 1 tarif yang dapat diterima
sebagian besar Pemegang IUP berbagai komoditas.
48
2.4. PERKEMBANGAN DAN OUTLOOK EKONOMI INDONESIA
DAN IMPLIKASINYA PADA KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL
2.4.1 Latar Belakang
Sejak era globalisasi, krisis keuangan terjadi lebih sering daripada
sebelumnya, hal utamanya adalah karena kemajuan dalam
bidang teknologi informasi, yang dapat memperbesar gelombang
krisis dan mempercepat penyebarannya ke daerah atau negara
lain. Selain itu, krisis disebabkan oleh perkembangan dari sektor
keuangan yang sangat pesat, salah satu contoh adalah munculnya
International Financial Integration (IFI). Dalam hal ini, Edison et al.
(2002) menjelaskan bahwa IFI mengacu pada sejauh mana suatu
perekonomian tidak membatasi transaksi lintas batas. Oleh karena
itu, dengan sistem keuangan yang terintegrasi maka timbulnya
gangguan keuangan domestik di satu negara dapat mengakibatkan
efek domino dengan cara mengacaukan ekonomi terintegrasi lainnya
yang mengarah kepada kekacauan keuangan global.
Dalam dua dekade terakhir, setidaknya dua krisis keuangan besar
terjadi, yaitu Krisis Keuangan Asia Timur 1997 dan Krisis Keuangan
Global 2008. Jika krisis pada tahun 1997 disebabkan oleh kurangnya
transparansi dan kredibilitas pemerintah yang menyebabkan distorsi
struktural dan gejolak ekonomi, sedangkan tahun 2008 terutama
dipicu oleh inovasi yang cepat dalam produk keuangan seperti
praktek sekuritisasi dan credit default swap. Hal ini diperburuk oleh
spekulasi properti dan peringkat kredit yang tidak akurat dan kasus
ini menyebar ke benua lain, dan menjadi krisis global karena efek
menular di tengah sistem keuangan yang terintegrasi secara global
dan penyebaran informasi yang cepat. Meskipun sumber krisis dapat
bervariasi, konsekuensi dari krisis keuangan selalu dikaitkan dengan
indikator makroekonomi, khususnya pertumbuhan ekonomi.

2.4.2 Perkembangan Terkini Perekonomian
Tahun 2012 kondisi perekonomian global masih melambat dan diliputi
ketidakpastian, dimana pertumbuhan ekonominya diperkirakan
hanya mencapai 3,1% sedangkan pada tahun 2013 pertumbuhan
ekonomi global diperkirakan juga masih rendah, yaitu hanya sekitar
3,4%. Tren ekonomi Amerika Serikat juga masih menurun dan pada
tahun 2013 tumbuh sekitar 2%. Uni Eropa juga masih mengalami
49
resesi, dan beresiko menurunnya peringkat rating invetasi beberapa
negara anggota Zona Euro, bahkan menuju sub-investment grade,
dan tahun 2013 diprediksi juga masih mengalami resesi. China
sendiri pertumbuhannya tidak setinggi yang diperkirakan, namun
akan membaik sejak Triwulan IV-2012, sedangkan pada tahun 2013
pertumbuhan diperkirakan membaik dng pertumbuhan 8%.
Di tengah kondisi ekonomi global yang melambat, pertumbuhan
ekonomi pada tahun 2012 masih tumbuh cukup tinggi. Pertumbuhan
ekonomi tersebut terutama ditopang oleh permintaan domestik.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012
mencapai 6,3% dan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan
tertinggi dan paling stabil di dunia dalam 5 tahun terakhir.
Konsumsi rumah tangga sebagai salah satu komponen yang
mendorong tetap kuatnya pertumbuhan ekonomi nasional, tumbuh
cukup tinggi 5,4% pada tahun 2012. Berdasarkan komponennya,
pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang kuat tersebut terutama
bersumber dari konsumsi non-makanan. Kuatnya konsumsi rumah
tangga tersebut didukung oleh menguatnya keyakinan konsumen,
membaiknya daya beli masyarakat, rendahnya infasi, dan tersedianya
pembiayaan konsumsi.
Investasi juga tumbuh tinggi sekitar 9,8%, meningkat dibandingkan
pertumbuhan pada 2011 sebesar 8,8%. Kuatnya pertumbuhan
investasi tersebut antara lain didorong oleh optimisme pelaku
usaha terhadap perekonomian Indonesia, perbaikan iklim investasi
serta terjaganya kestabilan makroekonomi. Dari sisi pembiayaan,
peningkatan investasi juga didukung oleh meningkatnya Foreign
Direct Investment (FDI), dukungan belanja modal pemerintah dan
sumber pembiayaan eksternal lainnya.
Pada tahun 2013, pertumbuhan ekonomi diperkirakan dapat mencapai
kisaran 6,3%-6,7%. Sumber utama pertumbuhan tersebut diperkirakan
didorong masih kuatnya konsumsi dan investasi, serta ekspor
yang diperkirakan lebih baik sejalan dengan proyeksi membaiknya
perekonomian dunia. Konsumsi yang masih kuat didukung oleh daya
beli yang tetap tinggi yang didorong oleh meningkatnya pendapatan
masyarakat terkait kenaikan Upah Minimum Regional, peningkatan
gaji Pegawai Negeri Sipil dan kebijakan pemerintah menaikkan
Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP).
50
Infasi 2012 diperkirakan akan sedikit lebih rendah dari titik tengah
target 4,5%, sejalan dengan permintaan yang mereda paska lebaran,
koreksi harga komoditas global, serta ekspektasi yang terkendali.
Infasi bahan pangan (volatile food) juga menurun, didorong oleh
penurunan harga komoditas pangan yang cukup signifkan, terjaganya
pasokan, dan kebijakan intensif yang dilakukan Pemerintah dalam
pengendalian harga pangan. Di sisi lain, infasi administered prices
juga terkendali dengan tidak adanya kebijakan Pemerintah di bidang
harga barang dan jasa yang bersifat strategis. Infasi tahun 2013
diprakirakan mencapai 4,8%, setelah menghitung dampak kenaikan
TTL sebesar 15% (0,39%) dan kenaikan UMP secara rata-rata
tertimbang 29% (0,25%).
Kuatnya investasi dan konsumsi mendorong peningkatan barang-
barang impor, baik impor bahan baku, barang modal dan konsumsi. Di
tengah melemahnya ekspor, kuatnya impor menyebabkan melebarnya
defsit transaksi berjalan yang diperkirakan akan mencapai sekitar
2,3% di akhir 2012 dan menjadi sekitar 2% di akhir 2013.
2.4.3 Dampak Kebijakan Energi Pada Perekonomian
Dengan masih adanya kebijakan subsidi harga BBM maka akan
mendorong peningkatan konsumsi BBM. Di lain sisi, produksi minyak
bumi nasional dari tahun ke tahun cenderung mengalami penurunan.
Konsumsi BBM nasional paling besar adalah untuk sektor transportasi
yaitu hampir mencapai 90% dari konsumsi BBM nasional. Hal ini
disebabkan kenaikan penjualan kendaraan bermotor, baik mobil
maupun sepeda motor dari tahun ke tahun.

Pertumbuhan permintaan dunia yang melambat dan harga komoditas
ekspor yang menurun tajam, di tengah permintaan domestik yang
masih kuat dan konsumsi BBM yang meningkat, menyebabkan
surplus neraca perdagangan nonmigas menyusut dan defsit neraca
perdagangan migas melebar. Konsumsi BBM yang lebih tinggi dari
produksi minyak bumi mendorong peningkatan impor produk minyak.
Akibatnya, pada tahun 2012 transaksi berjalan mengalami defsit
sekitar 2,7% dari PDB. Namun, defsit transaksi berjalan ini dapat
diimbangi oleh surplus transaksi modal dan fnansial yang meningkat
pesat dibandingkan tahun sebelumnya sehingga Neraca Pembayaran
Indonesia (NPI) masih mengalami surplus sebesar US$0,2 miliar dan
cadangan devisa dapat dipertahankan pada tingkat relatif aman.
51
Kenaikan surplus transaksi modal dan fnansial tersebut bukan
hanya berasal dari investasi portofolio, tetapi juga berupa investasi
Penanaman Modal Asing (PMA), dan didukung pula oleh semakin
besarnya porsi devisa hasil ekspor yang diterima melalui perbankan
domestik serta keberhasilan dalam meningkatkan arus masuk
investasi asing dan mengendalikan defsit transaksi. Berdasarkan
data historis, tekanan terhadap transaksi berjalan di tahun 2012
terjadi pula di tahun 2005 dan 2008 pada saat terjadi lonjakan impor
minyak bumi.
2.4.4 Implikasi Kebijakan
Komoditi yang termasuk dalam administered price adalah barang-
barang yang mekanisme pembentukan harganya banyak dipengaruhi
oleh kebijakan pemerintah. Walaupun pada periode-periode lainnya
pergerakan harga komponen ini terbentuk dari mekanisme pasar,
namun pada periode tertentu terdapat pengaruh dari kebijakan
pemerintah yang berdampak sangat signifkan terhadap pembentukan
keseimbangan harga yang baru pada komponen ini. Sehingga dalam
jangka panjang, pembentukan harga komponen ini dapat dikatakan
lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah.
Kebijakan administered prices berpengaruh terhadap infasi melalui
jalur langsung dan tidak langsung. Dengan demikian kebijakan harga
energi untuk BBM dan TDL pada sektor rumah tangga merupakan
startegic administered price akan berdampak langsung terhadap
administered prices, dan dampak tidak langsung terhadap infasi core.
Sedangkan kebijakan pemerintah pada BBM dan TDL untuk sektor
industri akan berdampak tidak langsung pada infasi core. Bobot
komponen administered price dalam pembentukan infasi Indeks
Harga Konsumen (IHK) dapat menunjukkan seberapa besar peran
pemerintah dalam perkembangan infasi IHK.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

54


Sumber: Paparan BI
Gambar 2.26 Kebijakan Administered Prices terhadap Inflasi IHK

Sebagai ilustrasi, Bank Indonesia (BI) melakukan simulasi terhadap dampak
kenaikan harga BBM dimana dengan kenaikan Rp 500 per liter maka akan
memberikan dampak langsung terhadap inflasi sebesar 0,3%. Sedangkan
dampak tidak langsung akan lebih kompleks perhitungannya dengan
memperhitungkan kenaikan tarif baru untuk transportasi orang maupun barang.
Namun inflasi tidak langsung ini akan bersifat temporer one-time shock dan
inflasi akan kembali menurun sesuai dengan kondisi fundamental
perekonomian. Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) akan memantau dengan
ketat setiap kebijakan pemerintah, khususnya untuk BBM agar dapat dapat
dijaga target inflasinya, melalui penguatan operasi moneter untuk
mengendalikan ekses likuiditas jangka pendek serta dengan tetap menjaga
konsistensi kebijakan suku bunga dengan prakiraan makroekonomi ke depan.

52
Sebagai ilustrasi, Bank Indonesia (BI) melakukan simulasi terhadap
dampak kenaikan harga BBM dimana dengan kenaikan Rp 500
per liter maka akan memberikan dampak langsung terhadap infasi
sebesar 0,3%. Sedangkan dampak tidak langsung akan lebih
kompleks perhitungannya dengan memperhitungkan kenaikan tarif
baru untuk transportasi orang maupun barang. Namun infasi tidak
langsung ini akan bersifat temporer one-time shock dan infasi akan
kembali menurun sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian.
Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) akan memantau dengan ketat
setiap kebijakan pemerintah, khususnya untuk BBM agar dapat
dapat dijaga target infasinya, melalui penguatan operasi moneter
untuk mengendalikan ekses likuiditas jangka pendek serta dengan
tetap menjaga konsistensi kebijakan suku bunga dengan prakiraan
makroekonomi ke depan.

Sumber: Paparan BI
Gambar 2.27 Ekspektasi Infasi Pedagang
Selain itu, ekspektasi infasi akan dilakukan pula oleh pedagang
terhadap rencana Pemerintah tentang kebijakan harga BBM seperti
yang terlihat dalam gambar di atas. Untuk memetakan ekspektasi
infasi pedagang ini, BI secara melakukan Survei Konsumen (SK)
dan Survei Penjualan Eceran (SPE) yang hasilnya diterbitkan dengan
menampilkan indeks ekspektasi harga tiga dan enam bulan ke depan
menurut perspektif konsumen dan pedagang.
Berdasarkan simulasi BI, kenaikan harga BBM bersubsidi yang
dilakukan secara bertahap akan berdampak pada infasi yang sedikit
lebih rendah tetapi hal ini harus didukung dengan komunikasi yang
baik untuk mengendalikan ekspektasi.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

55


Sumber: Paparan BI
Gambar 2.27 Ekspektasi Inflasi Pedagang
Selain itu, ekspektasi inflasi akan dilakukan pula oleh pedagang terhadap
rencana Pemerintah tentang kebijakan harga BBM seperti yang terlihat dalam
gambar di atas. Untuk memetakan ekspektasi inflasi pedagang ini, BI secara
melakukan Survei Konsumen (SK) dan Survei Penjualan Eceran (SPE) yang
hasilnya diterbitkan dengan menampilkan indeks ekspektasi harga tiga dan
enam bulan ke depan menurut perspektif konsumen dan pedagang.
Berdasarkan simulasi BI, kenaikan harga BBM bersubsidi yang dilakukan
secara bertahap akan berdampak pada inflasi yang sedikit lebih rendah tetapi
hal ini harus didukung dengan komunikasi yang baik untuk mengendalikan
ekspektasi.
Tabel 2.6 Dampak Kenaikan Harga BBM Langsung dan Bertahap

Sumber: Paparan BI
53
Tabel 2.6 Dampak Kenaikan Harga BBM Langsung dan Bertahap

Sumber: Paparan BI
Dari tabel di atas terlihat bahwa dampak langsung terhadap kenaikan
harga BBM bersubsidi akan memengaruhi IHK, dimana setiap ada
kenaikan BBM secara langsung sebesar Rp 500 per liter akan
berdampak infasi IHK sebesar 0,69-0,81%, kenaikan Rp 1000 per liter
berdampak infasi IHK sebesar 1,5-1,62%, sedangkan untuk kenaikan
BBM sebesar Rp 1500 per liter akan berdampak infasi IHK 2,43%.
Namun apabila kenaikan BBM tersebut dilakukan secara bertahap
setiap triwulan sebesar Rp 500 per liter, akan berdampak pada
infasi IHK sebesar 2,35%. Besaran infasi di atas sudah termasuk
perhitungan terhadap dampak tidak langsung terhadap tarif angkutan
umum, maupun ke komoditas lainnya.
Kebijakan pembatasan BBM untuk mobil pribadi berdasar kapasitas
mesin akan memberikan tambahan tekanan terhadap infasi dengan
besaran yang relatif moderat. Dari analisis Bank Indonesia, untuk
wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi dengan asumsi
mobil pribadi dengan kapasitas > 1.500 cc yang menggunakan
Pertamax 30%, maka akan berdampak infasi sebesar 0,19%. Untuk
wilayah Jawa-Bali berdampak infasi sebesar 0,17%. Sedangkan
untuk total Jawa-Bali berdampak infasi sebesar 0,36%.
Kenaikan TTL rumah tangga berdampak langsung pada IHK melalui
komponen tarif listrik dalam keranjang IHK, sementara kenaikan TTL
industri berdampak tidak langsung pada IHK melalui kenaikan biaya
produksi.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

55


Sumber: Paparan BI
Gambar 2.27 Ekspektasi Inflasi Pedagang
Selain itu, ekspektasi inflasi akan dilakukan pula oleh pedagang terhadap
rencana Pemerintah tentang kebijakan harga BBM seperti yang terlihat dalam
gambar di atas. Untuk memetakan ekspektasi inflasi pedagang ini, BI secara
melakukan Survei Konsumen (SK) dan Survei Penjualan Eceran (SPE) yang
hasilnya diterbitkan dengan menampilkan indeks ekspektasi harga tiga dan
enam bulan ke depan menurut perspektif konsumen dan pedagang.
Berdasarkan simulasi BI, kenaikan harga BBM bersubsidi yang dilakukan
secara bertahap akan berdampak pada inflasi yang sedikit lebih rendah tetapi
hal ini harus didukung dengan komunikasi yang baik untuk mengendalikan
ekspektasi.
Tabel 2.6 Dampak Kenaikan Harga BBM Langsung dan Bertahap

Sumber: Paparan BI
54
Tabel 2.7 Dampak Infasi dari Kenaikan TTL 2013

Dari tabel di atas, terlihat bahwa kenaikan TTL secara bertahap
Triwulanan dengan total 22,09% (Tw I=5,39%, Tw II=6,91%, Tw
III=5,07% dan Tw IV=4,73) akan berpengaruh terhadap total infasi
langsung sebesar 0,21%, dan infasi dampak tidak langsung 0,18%,
sehingga total infasinya sebesar 0,39%. Total infasi sebesar 0,39%
tersebut sama dengan apabila pemerintah menaikan TTL sebesar
15,40% secara langsung di awal tahun.

2.4.5 Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan
a. Pertumbuhan ekonomi global 2012 diperkirakan mencapai 3,1%
dan 2013 mencapai 3,4%.
b. Indeks harga ekspor non migas Indonesia (IHEx) Nov 2012
turun 11,9% (yoy) atau turun 2,9% (mom). Tahun 2013, IHEx
diperkirakan akan naik 2% (yoy).
c. Di tengah perlambatan global, ekonomi Indonesia cukup resisten.
Pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai
6,3%, paling stabil di dunia dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun
2013 pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih dalam kisaran 6,3
6,7% dengan faktor pendorong tetap dari permintaan domestik.
d. Selama periode 2002 2012 infasi berdasarkan IHK dan infasi
inti (core infation) menurun secara gradual. Infasi tahun 2012
diperkirakan sedikit lebih rendah dari target sebesar 4,5%. Pada
tahun 2013 infasi diperkirakan 4,8% setelah menghitung dampak
kenaikan TTL 15% (0,39%) dan kenaikan UMP rata-rata 29%
(0,25%).
e. Implikasi kebijakan energi pada perekonomian antara lain :
- Kebijakan subsidi energi berdampak pada transaksi berjalan
dan stabilitas makroekonomi.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

56

Dari tabel di atas terlihat bahwa dampak langsung terhadap kenaikan harga
BBM bersubsidi akan memengaruhi IHK, dimana setiap ada kenaikan BBM
secara langsung sebesar Rp 500 per liter akan berdampak inflasi IHK sebesar
0,69-0,81%, kenaikan Rp 1000 per liter berdampak inflasi IHK sebesar 1,5-
1,62%, sedangkan untuk kenaikan BBM sebesar Rp 1500 per liter akan
berdampak inflasi IHK 2,43%. Namun apabila kenaikan BBM tersebut dilakukan
secara bertahap setiap triwulan sebesar Rp 500 per liter, akan berdampak pada
inflasi IHK sebesar 2,35%. Besaran inflasi di atas sudah termasuk perhitungan
terhadap dampak tidak langsung terhadap tarif angkutan umum, maupun ke
komoditas lainnya.
Kebijakan pembatasan BBM untuk mobil pribadi berdasar kapasitas mesin akan
memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi dengan besaran yang relatif
moderat. Dari analisis Bank Indonesia, untuk wilayah Jabodetabek dengan
asumsi mobil pribadi dengan kapasitas > 1.500 cc yang menggunakan
Pertamax 30%, maka akan berdampak inflasi sebesar 0,19%. Untuk wilayah
Jawa-Bali berdampak inflasi sebesar 0,17%. Sedangkan untuk total Jawa-Bali
berdampak inflasi sebesar 0,36%.
Kenaikan TTL rumah tangga berdampak langsung pada IHK melalui komponen
tarif listrik dalam keranjang IHK, sementara kenaikan TTL industri berdampak
tidak langsung pada IHK melalui kenaikan biaya produksi.

Tabel 2.7 Dampak Inflasi dari Kenaikan TTL 2013

55
- Infasi masih rentan terhadap perubahan kebijakan energi
(BBM dan TTL).
- Penyesuaian harga BBM harus memperhatikan waktu dan
magnitude (besaran) untuk mengurangi dampak negatif
jangka pendek terhadap perekonomian.
- Permintaan valas Pertamina sering menimbulkan volatilitas
yang berlebihan.
f. Kebijakan subsidi BBM mendorong peningkatan konsumsi BBM
karena besarnya gap antara harga BBM subsidi dengan non
subsidi. Sementara produksi minyak mengalami trend yang
menurun sehingga mendorong peningkatan impor produk minyak.
Hal ini menambah tekanan terhadap neraca pembayaran.
g. Kebijakan pembatasan BBM bersubsidi untuk mobil pribadi
berdasar kapasitas mesin akan memberikan tambahan tekanan
terhadap infasi dengan besaran yang relatif moderat.
h. Kenaikan TTL rumah tangga berdampak langsung terhadap
infasi IHK melalui komponen tarif listrik. Kenaikan TTL industri
berdampak tidak langsung terhadap infasi IHK melalui kenaikan
biaya produksi (biaya input).
i. Kenaikan harga BBM yang tinggi berdampak pada infasi,
melemahkan keyakinan konsumen dan pertumbuhan PDB.
Kenaikan harga BBM lebih dari 10% pada tahun 2005 menaikkan
infasi hingga 17% dan menurunkan PDB pada tahun 2006.
Rekomendasi:
a. Pemerintah harus dapat memberikan kepastian tentang
kebijakan harga BBM serta metode apa yang dipakai sehingga
dapat mengurangi resiko ekspektasi infasi yang berlebihan dari
masyarakat.
b. Untuk meminimalkan dampak kenaikan harga BBM bersubsidi
terhadap infasi maka harus dilakukan secara bertahap dan
didukung komunikasi yang baik untuk mengendalikan ekspektasi.
c. Diperlukan data dan informasi yang jelas terhadap kebutuhan valas
Pertamina untuk mengimpor minyak/BBM sehingga pengelolaan
pasar valas dapat diatur dengan baik untuk mengurangi volatitas
nilai tukar.
56
BAB III.
MENCARI TEROBOSAN INVESTASI PANAS BUMI INDONESIA
3.1. Pendahuluan
Indonesia memiliki beragam sumber energi primer, baik
sumber energi fosil (batubara, minyak dan gas bumi) maupun sumber
energi terbarukan (panas bumi, tenaga air, tenaga angin, tenaga
surya, dan biogas). Saat ini jenis energi primer yang dominan dalam
penyedian energi untuk keperluan di dalam negeri adalah minyak bumi,
diikuti oleh batubara, biomasa dan gas bumi. Disamping biomasa,
sumber energi terbarukan yang telah cukup banyak dimanfaatkan
adalah tenaga air skala besar dan panas bumi, sedangkan sumber
energi terbarukan lainnya seperti bahan bakar nabati (BBN), tenaga
surya dan angin belum banyak dimanfaatkan dan masih dalam tahap
pengembangan.
Tabel 3.1 Potensi Energi Terbarukan
Penyediaan energi nasional (enegy mix) masih didominasi oleh
energi fosil yang disubsidi, sementara energi terbarukan belum
banyak dimanfaatkan. Produksi minyak bumi dari tahun ketahun terus
mengalami penurunan, dan cadanganpun demikian juga, dilain sisi
penemuan cadangan baru belum tercapai. Oleh karena itu dalam
rangka pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri, maka pemerintah
setiap tahunnya melakukan impor bbm dari luar. Share pemakaian
energi fnal tahun 2011 masih didominasi energi fosil, yaitu bbm
sebesar 47,7%, batubara sebesar 18,9%, gas bumi sebesar 15,8%,
listrik sebesar 12,8%, serta LPG sebesar 4,8%.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

60

BAB III.
MENCARI TEROBOSAN INVESTASI PANAS BUMI INDONESIA

3.1. Pendahuluan
Indonesia memiliki beragam sumber energi primer, baik sumber energi
fosil (batubara, minyak dan gas bumi) maupun sumber energi terbarukan
(panas bumi, tenaga air, tenaga angin, tenaga surya, dan biogas). Saat ini
jenis energi primer yang dominan dalam penyedian energi untuk keperluan di
dalam negeri adalah minyak bumi, diikuti oleh batubara, biomasa dan gas
bumi. Disamping biomasa, sumber energi terbarukan yang telah cukup
banyak dimanfaatkan adalah tenaga air skala besar dan panas bumi,
sedangkan sumber energi terbarukan lainnya seperti bahan bakar nabati
(BBN), tenaga surya dan angin belum banyak dimanfaatkan dan masih dalam
tahap pengembangan.
Tabel 3.1 Potensi Energi Terbarukan
NO
RENEWABLE
ENERGY
RESOURCES
(R)
INSTALLED
CAPACITY (IC)
RATIO IC/R
(%)
1 Hydro 75,670 MW 6,866 MW 9.074
2 Mini/Micro Hydro 769.69 MW 217.89 MW 28.31
3 Geothermal 29,215 MW 1,228 MW 4.23
4 Biomass 49,810 MW 1,618.40 MW 3.25
5 Solar Energy
4.80 kWh/m
2
/day
13.50 MW -
6 Wind Energy 3 6 m/s 2.731 MW -
7 Ocean Energy 43.000 MW - -
Sumber: Ditjen EBTKE, 2012
Penyediaan energi nasional (enegy mix) masih didominasi oleh energi fosil
yang disubsidi, sementara energi terbarukan belum banyak dimanfaatkan.
Produksi minyak bumi dari tahun ketahun terus mengalami penurunan, dan
57
Potensi energi baru dan terbarukan Indonesia sangat besar dan
beragam, sehingga pemanfaatan yang optimal akan meningkatkan
kemandirian energi, dan mengurangi emisi Gas Rumah Kaca.
Disamping itu, Presiden RI pada Forum G-20 di Pittsburgh, USA
tahun 2009 dan pada COP 15 di Copenhagen menyampaikan bahwa
Indonesia bisa menurunkan emisi sebesar 26% dengan upaya
sendiri atau sebesar 41% dengan bantuan negara maju hingga tahun
2020, sehingga perlu disusun Agenda Sektor EBTKE dengan cara
mengurangi emisi GRK. Sektor Energi berkewajiban menurunkan
emisi sebesar 6%.
Penerapan mandatori penyediaan energi terbarukan dan komitmen
efsiensi pemanfaatan energi menjadi kunci utama dalam mencapai
green energy.
Landasan kebijakan pengembangan EBT di Indonesia sesuai dengan
UU Energi, Nomor 30 Tahun 2007 bahwa:

Pasal 20 :
(1) d. Penyediaan energi dilakukan melalui diversifkasi,
konservasi, dan intensifkasi sumber energi dan energi
(2) Penyediaan energi oleh pemerintah/pemerintah daerah
diutamakan di daerah yang belum berkembang, terpencil
dan daerah perdesaan, dengan menggunakan sumber
energi setempat khususnya sumber energi terbarukan.
(3) Daerah penghasil sumber energi mendapat prioritas untuk
memperoleh energi dari energi setempat.
(4) Penyediaan energi baru dan energi terbarukan wajib
ditingkatkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai
dengan kewenangannya.
(5) Penyediaan energi dari sumber energi baru dan sumber
energi terbarukan yang dilakukan o!eh badan usaha,
bentuk usaha tetap, dan perseorangan dapat memperoleh
kemudahan dan/atau insentif dari Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya untuk
jangka waktu tertentu hingga tercapai nilai keekonorniannya.
58
Pasal 21:
(1) Butir (c) Pemanfaatan energi memprioritaskan pemenuhan
kebutuhan masyarakat dan peningkatan kegiatan ekonomi
di daerah penghasil sumber energi.
(2) Pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan wajib
ditingkatkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.
(3) Pemanfaatan energi dari sumber energi baru dan sumber
energi terbarukan yang dilakukan oleh badan usaha,
bentuk usaha tetap, dan perseorangan dapat memperoleh
kemudahan dan/atau insentif dari Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangarlnya untuk
jangka waktu tertentu hingga tercapai nilai keekonorr~iannya
3.2. Potensi Panas Bumi Indonesia
Sebagian besar dari lokasi panas bumi di Indonesia terletak di
lingkungan vulkanik dan sisanya berada di lingkungan batuan
sedimen dan metamorf, sehingga sebagian besar sumber panas bumi
di Indonesia tergolong mempunyai enthalpi tinggi dengan temperatur
250300 oC dan sisanya mempunyai enthalpi rendah atau sering
disebut juga aquathermal dengan temperatur sekitar 140oC. Saat ini
telah tersedia teknologi pembangkit listrik yang dapat memanfaatkan
tenaga panas bumi dengan temperatur sekitar 140 oC, sehingga di
masa mendatang panas bumi aquathermal dapat dimanfaatkan.
Indonesia memiliki potensi Panas Bumi terbesar di dunia (29 GW),
namun demikian pemanfaatannya masih kecil, yaitu kapasitas
terpasang masih sebesar 1.226 MW.
Tabel 3.2 Potensi Panas Bumi
Total sumber daya (spekulatif dan hypothetical) panas bumi sebesar
13.195 MW, dan Cadangan sebesar 16.020 MW, yang terdiri dari
cadangan terduga (possible) sebesar 12.909 MW, cadangan mungkin
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

63

sekitar 140
o
C, sehingga di masa mendatang panas bumi aquathermal dapat
dimanfaatkan.
Indonesia memiliki potensi Panas Bumi terbesar di dunia (29 GW), namun
demikian pemanfaatannya masih kecil, yaitu kapasitas terpasang masih
sebesar 1.226 MW.
Tabel 3.2 Potensi Panas Bumi
SUMBER DAYA
(MW)
%
CADANGAN
(MW)
%
Spekulatif
(Speculative)
Hipotesis
(Hypothetical)
45.17%
Terduga
(Possible)
Mungkin
(Probable)
Terbukti
(Proven)
54.83%
8.231 4.964 12.909 823 2.288
13.195 16.020
29.215
Sumber: Ditjen EBTKE, 2012
Total sumber daya (spekulatif dan hypothetical) panas bumi sebesar 13.195
MW, dan Cadangan sebesar 16.020 MW, yang terdiri dari cadangan terduga
(possible) sebesar 12.909 MW, cadangan mungkin (possible) sebesar 823
MW, dan cadangan terbukti (proven) sebesar 2.288 MW.
Potensi panas bumi tersebut tersebar hampir diseluruh pulau di Indonesia
yaitu di Sumatera sebesar 13.470 MW (86 lokasi), di Jawa sebesar 9.717 MW
(71 lokasi), Bali 296 MW (5 lokasi), Nusa Tenggara 1.471 MW (22 lokasi),
Kalimantan 145 MW (12 lokasi), Sulawesi 2.939 MW (56 lokasi), Maluku 1.051
(30 lokasi) dan Papua 75 MW (3 lokasi).
Sampai saat ini (Agustus 2012) telah ditetapkan sebanyak 58 WKP yang
tersebar di NAD 2 WKP, Sumut 5 WKP, Sumbar 4 WKP, Jambi 1 WKP,
Sumsel 3 WKP, Bengkulu 2 WKP, Lampung 5 WKP, Banten 2 WKP, Jawa
Barat 10 WKP, Jawa Tengah 6 WKP, Jawa Timur 3 WKP, Bali 1 WKP, NTB 2
WKP, NTT 2 WKP, Sulawesi Tengah 2 WKP, Gorontalo 1 WKP, Sulawesi
Utara 2 WKP, Maluku 1 WKP, dan Maluku Utara 2 WKP.
59
(possible) sebesar 823 MW, dan cadangan terbukti (proven) sebesar
2.288 MW.
Potensi panas bumi tersebut tersebar hampir diseluruh pulau di
Indonesia yaitu di Sumatera sebesar 13.470 MW (86 lokasi), di Jawa
sebesar 9.717 MW (71 lokasi), Bali 296 MW (5 lokasi), Nusa Tenggara
1.471 MW (22 lokasi), Kalimantan 145 MW (12 lokasi), Sulawesi 2.939
MW (56 lokasi), Maluku 1.051 (30 lokasi) dan Papua 75 MW (3 lokasi).

Sampai saat ini (Agustus 2012) telah ditetapkan sebanyak 58 WKP
yang tersebar di NAD 2 WKP, Sumut 5 WKP, Sumbar 4 WKP, Jambi
1 WKP, Sumsel 3 WKP, Bengkulu 2 WKP, Lampung 5 WKP, Banten
2 WKP, Jawa Barat 10 WKP, Jawa Tengah 6 WKP, Jawa Timur 3
WKP, Bali 1 WKP, NTB 2 WKP, NTT 2 WKP, Sulawesi Tengah 2 WKP,
Gorontalo 1 WKP, Sulawesi Utara 2 WKP, Maluku 1 WKP, dan Maluku
Utara 2 WKP.

Sumber: Ditjen ebtke
Gambar 3.1 Distribusi Lokasi WKP
Dalam rangka pengembangan panas bumi di Indonesia, Pemerintah
sudah menetapkan road map Pengembangan Panas Bumi yang
diatur dalam Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan
Energi Nasional.

Dalam implementasinya, pemerintah telah mencanangkan Program
Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 MW tahap
II yang ditegaskan di dalam Perpres no. 4 Tahun 2010. Kontribusi
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

64


Sumber: Ditjen ebtke
Gambar 3.1 Distribusi Lokasi WKP
Dalam rangka pengembangan panas bumi di Indonesia, Pemerintah sudah
menetapkan road map Pengembangan Panas Bumi yang diatur dalam
Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.
Dalam implementasinya, pemerintah telah mencanangkan Program
Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 MW tahap II yang
ditegaskan di dalam Perpres no. 4 Tahun 2010. Kontribusi pengembangan
panas bumi sampai dengan Tahun 2014 sebesar 4.925 MW. Daftar Proyek
PLTP yang termasuk di dalam Perpres no. 4 Tahun 2010 sesuai dengan
Lampiran Permen ESDM 1/2012.
Dalam rangka pengembangan panasbumi dalam Program Percepatan 10.000
MW Tahap II untuk hampir tersebar diseluruh wilayah Indonesia, yaitu di
Pulau Sumatera (PLTP: 2.670 MW), Pulau Jawa (PLTP: 2.010 MW), Pulau
Sulawesi (PLTP: 145 MW), Pulau Bali dan Nusa Tenggara (PLTP: 65 MW),
Pulau Sulawesi (PLTP: 145 MW), Pulau Maluku dan Papua (PLTP: 35 MW).

60
pengembangan panas bumi sampai dengan Tahun 2014 sebesar
4.925 MW. Daftar Proyek PLTP yang termasuk di dalam Perpres no. 4
Tahun 2010 sesuai dengan Lampiran Permen ESDM 1/2012.
Dalam rangka pengembangan panasbumi dalam Program Percepatan
10.000 MW Tahap II untuk hampir tersebar diseluruh wilayah
Indonesia, yaitu di Pulau Sumatera (PLTP: 2.670 MW), Pulau Jawa
(PLTP: 2.010 MW), Pulau Sulawesi (PLTP: 145 MW), Pulau Bali dan
Nusa Tenggara (PLTP: 65 MW), Pulau Sulawesi (PLTP: 145 MW),
Pulau Maluku dan Papua (PLTP: 35 MW).
Tabel 3.3 Daftar Proyek PLTP yang Masuk dalam Crash Program 10.000 MW Tahap II
(berdasarkan Permen ESDM No. 1/2012)
Sumber : Ditjen EBTKE, 2012
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

65

Tabel 3.3 Daftar Proyek PLTP yang Masuk dalam Crash Program 10.000 MW Tahap
II (berdasarkan Permen ESDM No. 1/2012)
Sumber : Ditjen EBTKE, 2012
Saat ini, kapasitas pembangkit panas bumi (PLTP) terpasang adalah sebesar
1.226 MW atau 4,2% dari potensi panas bumi yang ada. Dimana kapasitas
terpasang terbesar ada di Jawa yaitu sebesar 1.134 MW (PLTP Salak 377
NO. NAMA PROYEK PEMBANGKIT PROVINSI
ESTIMASI
KAPASITAS
(MW)
RENCANA
KAPASITAS
TERPASANG
1 PLTP Sungai Penuh Jambi 2x55 110
2 PLTP Hululais Bengkulu 2x55 110
3 PLTP Kotamobagu 1 dan 2 Sulawesi Utara 2x20 40
4 PLTP Kotamobagu 3 dan 4 Sulawesi Utara 2x20 40
5 PLTP Sembalun Nusa Tenggara Barat 2x10 20
6 PLTP Tulehu Maluku 2x10 20
7 PLTP Tangkuban Perahu I Jawa Barat 2x55 110
8 PLTP Kamojang 5 dan 6 Jawa Barat 1 x30 1 x60 90
9 PLTP Ijen Jawa Timur 2x55 110
10 PLTP Iyang Argopuro Jawa Timur 1 x55 55
11 PLTP Wilis/Ngebel Jawa Timur 3x55 165
12 PLTP Gunung Endut Banten 1 x55 55
13 PLTP Rawa Dano Banten 1 x 110 110
14 PLTP Cibuni Jawa Barat 1 x 10 10
15 PLTP Cisolok-Cisukarame Jawa Barat 1 x50 50
16 PLTP Karaha Bodas Jawa Barat 1 x30 2x55 140
17 PLTP Patuha Jawa Barat 3x60 180
18 PLTP Tampomas Jawa Barat 1 x45 45
19 PLTP Tangkuban Perahu II Jawa Barat 2x30 60
20 PLTP Wayang Windu Unit 3 dan 4 Jawa Barat 2x 110 220
21 PLTP Gunung Ciremai Jawa Barat 2 x 55 110
22 PLTP Baturaden Jawa Tengah 2x 110 220
23 PLTP Dieng Jawa Tengah 1 x55 1 x60 115
24 PLTP Guci Jawa Tengah 1 x55 55
25 PLTP Ungaran Jawa Tengah 1 x55 55
26 PLTP Seulawah Agam Nanggroe Aceh Darussalam 1X55 55
27 PLTP Jaboi Nanggroe Aceh Darussalam 2x5 10
28 PLTP Sarulla 1 Sumatera Utara 3x 110 330
29 PLTP Sarulla 2 Sumatera Utara 2x55 110
30 PLTP Umbul Telumoyo Jawa Tengah 1 x55 55
31 PLTP Simbolon Samosir Sumatera Utara 2x55 110
32 PLTP Sipoholon Ria-Ria Sumatera Utara 1 x55 55
33 PLTP Sorik Marapi Sumatera Utara 240 (Total) 240
34 PLTP Muaralaboh Sumatera Barat 2x 110 220
35 PLTP Bonjol Sumatera Barat 3x55 165
36 PLTP Lumut Balai Sumatera Selatan 4x55 220
37 PLTP Rantau Dadap Sumatera Selatan 2x110 220
38 PLTP Rajabasa Lampung 2x110 220
39 PLTP Ulubelu 3 dan 4 Lampung 2x55 110
40 PLTP Suoh Sekincau Lampung 4x55 220
41 PLTP Wai Ratai Lampung 1 x55 55
42 PLTP Danau Ranau Lampung 2x55 110
43 PLTP Lahendong 5 dan 6 Sulawesi Utara 2x20 40
44 PLTP Bora Sulawesi Tengah 1 x5 5
45 PLTP Marana/Masaingi Sulawesi Tengah 2x10 20
46 PLTP Hu'u Nusa Tenggara Barat 2x10 20
47 PLTP Atadei Nusa Tenggara Timur 2 x2,5 5
48 PLTP Sokoria Nusa Tenggara Timur 3x5 15
49 PLTP Mataloko Nusa Tenggara Timur 1 x5 5
50 PLTP Jailolo Maluku Utara 2x5 10
51 PLTP Songa Wayaua Maluku Utara 1 x5 5
4925 TOTAL RENCANA KAPASITAS TERPASANG
61
Saat ini, kapasitas pembangkit panas bumi (PLTP) terpasang adalah
sebesar 1.226 MW atau 4,2% dari potensi panas bumi yang ada.
Dimana kapasitas terpasang terbesar ada di Jawa yaitu sebesar
1.134 MW (PLTP Salak 377 MW, PLTP Wayang Windu 227 MW, PLTP
Kamojang 200MW, PLTP Drajat 270 MW, PLTP Dieng 60 MW), di
Sumatera Utara 12 MW (PLTP Sibayak) dan di Sulawesi Utara PLTP
Lahendong sebesar 80 MW.
Tabel 3.4 Kapasitas PLTP Terpasang
Sumber : Ditjen EBTKE, 2012
3.3. KENDALA DAN UPAYA PENYELESAIAN
3.3.1. Tumpang Tindih Lahan
Sebagian besar potensi panas bumi ada di kawasan hutan
mencapai 42% atau setara dengan 12.069 MW. Terkait dengan
hal tersebut, dalam rangka mempercepat penyelesaian tumpang
tindih dan perizinan pengusahaan panas bumi pada kawasan hutan
produksi, kawasan hutan lindung dan pengembangan panas bumi
di kawasan konservasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral dan Kementerian Kehutanan telah melakukan koordinasi dan
sinkronisasi yang hasilnya diwujudkan dengan penandatanganan
Nota Kesepahaman tanggal 19 Desember 2011. Penandatanganan
Nota Kesepahaman ini merupakan salah satu upaya dalam rangka
mendukung program percepatan pembangunan pembangkit listrik
10.000 MW Tahap II, dimana PLTP diharapkan dapat memberikan
konstribusi sekitar 4.925 MW.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

66

MW, PLTP Wayang Windu 227 MW, PLTP Kamojang 200MW, PLTP Drajat
270 MW, PLTP Dieng 60 MW), di Sumatera Utara 12 MW (PLTP Sibayak) dan
di Sulawesi Utara PLTP Lahendong sebesar 80 MW.

Tabel 3.4 Kapasitas PLTP Terpasang
No. WKP, Lokasi PLTP
Kapasitas
Terpasang
(MW)
1 Sibayak Sinabung, SUMUT Sibayak 12
2 Cibeureum Parabakti, JABAR Salak 377
3 Pangalengan, JABAR
Wayang
Windu
227
4 Kamojang Darajat, JABAR Kamojang 200
5 Kamojang Darajat, JABAR Darajat 270
6 Dataran Tinggi Dieng, JATENG Dieng 60
7 Lahendong Tompaso, SULUT Lahendong 80

1.226
Sumber : Ditjen EBTKE, 2012

3.3. KENDALA DAN UPAYA PENYELESAIAN
3.3.1. Tumpang Tindih Lahan
Sebagian besar potensi panas bumi ada di kawasan hutan mencapai
42% atau setara dengan 12.069 MW. Terkait dengan hal tersebut, dalam
rangka mempercepat penyelesaian tumpang tindih dan perizinan
pengusahaan panas bumi pada kawasan hutan produksi, kawasan hutan
lindung dan pengembangan panas bumi di kawasan konservasi, Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kementerian Kehutanan telah
melakukan koordinasi dan sinkronisasi yang hasilnya diwujudkan dengan
penandatanganan Nota Kesepahaman tanggal 19 Desember 2011.
Penandatanganan Nota Kesepahaman ini merupakan salah satu upaya dalam
62
Kementerian ESDM dan Kementerian Kehutanan telah menyepakati
bahwa pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi merupakan
program prioritas Pemerintah dalam rangka mendukung ketahanan
dan kemandirian energi, dan untuk mengurangi emisi karbon sebagai
upaya menurunkan efek gas rumah kaca. Terkait dengan kawasan
konservasi yang merupakan kawasan tertentu yang mempunyai fungsi
pokok pengawetan, perlindungan dan pemanfaatan sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya, maka diperlukan kesamaan pemahaman
dalam perumusan regulasi mengenai pemanfaatan panas bumi di
kawasan tersebut. Dalam penandatanganan Nota Kesepahaman telah
disepakati target penyelesaian perizinan pengusahaan panas bumi
pada kawasan hutan produksi, kawasan hutan lindung dan langkah-
langkah dalam pengembangan panasbumi di kawasan konservasi.
Disamping itu perlu dilakukan terobosan agar pengembangan panas
bumi dapat dilakukan namun tetap mempertimbangkan kelestarian
hutan khususnya pada kawasan hutan konservasi.
3.3.2. Peraturan Perundang Undangan
Undang undang Panas Bumi Nomor 27 Tahun 2003, Pasal 1, ayat
1 mencantumkan bahwa tidak memungkinkan melakukan kegiatan
Panas Bumi pada kawasan hutan karena kegiatan Panas Bumi
dikategorikan sebagai kegiatan pertambangan. Oleh karena itu dalam
rangka mempercepat pemanfaatan panas bumi, maka pemerintah
diharapkan dapat menyusun kembali peraturan perundangan agar
dapat mendorong kegiatan panas bumi.
3.3.3. Negosiasi Kontrak.
Negosiasi kontrak membutuhkan waktu lama, harga
pembelian panas bumi disamakan untuk semua wilayah, maksimum
9,7 cent US$/kWh;
Solusi Penyelesaian: Merevisi kebijakan harga listrik panas bumi
dengan menggunakan feed-in tariff (harga listrik panas bumi per
wilayah ditetapkan oleh Pemerintah dikaitkan dengan komitmen
COD) sesuai Permen ESDM Nomor 22 Tahun 2012
Dalam rangka mempercepat proses pengusahaan panas bumi, harga
jual listrik dari PLT panas bumi akan ditetapkan oleh Pemerintah secara
63
fx, tidak dinegosiasikan dengan PLN. Harga ini yang dikenal sebagai
feed-in tariff, akan ditentukan dengan pertimbangan , ketersediaan
sumber energi yang ada di suatu daerah; daya dukung lingkungan;
dan keekonomian.
Tabel 3.5 Harga Listrik Panas Bumi

Sumber: Ditjen Ketenagalistrikan, 2012
Feed-in Tariff ini akan diberlakukan untuk kontrak baru dan extension
atau penambahan kapasitas. Diharapkan dengan feed-in tariff
tersebut, akan mempercepat sekurang-kurangnya pengembangan 16
proyek panas bumi.
3.4. Kebijakan Pemerintah Untuk Meningkatkan
Pengembangan Panas Bumi
a. Peningkatan dan harmonisasi kebijakan dan peraturan di bidang
panas bumi antara lain dengan revisi UU 27/2003. Hal-hal pokok
yang dimasukkan dalam draf RUU meliputi :
Pengusahaan panas bumi tidak dikategorikan sebagai kegiatan
pertambangan;
Untuk menunjang penetapan Wilayah Kerja, Menteri dapat
menugaskan pihak lain untuk melakukan Eksplorasi.
Perizinan yang diperlukan dalam pengusahaan panas bumi selain
IUP/IUPB ;
Kewajiban penerbitan izin lingkungan sebelum melakukan
kegiatan eksplorasi & eksploitasi;
Pemegang IUPB wajib menawarkan participating interest kepada
BUMD atau BUMN sebelum masuk ke tahapan eksploitasi
sebesar 10% (sepuluh) persen.
b. Kontribusi panas bumi pada Crash Program 10.000 MW Tahap II
yaitu 4.925 MW
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

68

3.3.3. Negosiasi Kontrak.
Negosiasi kontrak membutuhkan waktu lama, harga pembelian panas
bumi disamakan untuk semua wilayah, maksimum 9,7 cent US$/kWh;
Solusi Penyelesaian: Merevisi kebijakan harga listrik panas bumi dengan
menggunakan feed-in tariff (harga listrik panas bumi per wilayah ditetapkan
oleh Pemerintah dikaitkan dengan komitmen COD) sesuai Permen ESDM
Nomor 22 Tahun 2012
Dalam rangka mempercepat proses pengusahaan panas bumi, harga jual
listrik dari PLT panas bumi akan ditetapkan oleh Pemerintah secara fix, tidak
dinegosiasikan dengan PLN. Harga ini yang dikenal sebagai feed-in tariff,
akan ditentukan dengan pertimbangan , ketersediaan sumber energi yang ada
di suatu daerah; daya dukung lingkungan; dan keekonomian.
Tabel 3.5 Harga Listrik Panas Bumi

Sumber: Ditjen Ketenagalistrikan, 2012
Feed-in Tariff ini akan diberlakukan untuk kontrak baru dan extension atau
penambahan kapasitas. Diharapkan dengan feed-in tariff tersebut, akan
mempercepat sekurang-kurangnya pengembangan 16 proyek panas bumi.

64
c. Pemerintah memberikan insentif fskal bagi panas bumi, dengan
dikeluarnya Permen Keuangan Nomor 21/PMK.011/2010 tentang
Fasilitas Pajak dan Kepabeanan untuk Kegiatan Pemanfaatan
Sumber Daya Energi Terbarukan, diantaranya perihal pembebasan
bea impor untuk pembangunan industri kelistrikan.
d. Untuk mempercepat pengembangan panas bumi, Pemerintah
menawarkan Penugasan Survei Pendahuluan kepada pihak
ketiga (investor) yang memberikan frst right refusal.
e. Mekanisme pemantauan oleh pemerintah yang dilaksanakan
oleh Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengelolaan
Pembangunan (UKP4) membantu untuk memudahkan dalam
koordinasi dengan pihak terkait
f. Telah ditandatangani Nota Kesepahaman antara MESDM dan
Menhut untuk mempercepat perizinan dikawasan hutan.
g. Dalam waktu dekat Pemerintah berencana untuk menentukan
harga listrik berdasarkan konsep feed-in tariff untuk setiap WKP,
dengan mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut :
Biaya Pokok Penyediaan (BPP) Listrik setempat;
Bahan bakar yang digunakan untuk membangkitkan listrik;
Daya dukung lingkungan;
Harga keekonomian (tingkat pengembalian investasi yang
menarik).
Sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No 2 / 2011 tentang
Penugasan kepada PLN untuk membeli listrik dari pembangkit
listrik panas bumi, Pemerintah telah menetapkan Peraturan
Harga patokan pembelian listrik Panas Bumi dengan harga
tertinggi sebesar 9,7 cent US$
3.5. PELUANG INVESTASI
Pengembangan 3.967 MW listrik dari Panas Bumi dalam
Crash Program 10.000 MW Tahap II sampai dengan tahun
2014 diperlukan lebih dari US$ 11 Miliar untuk investasi.
Rencana pengembangan listrik dari panas bumi sebesar
12.000 MW sampai tahun 2025 membutuhkan investasi
sebesar US$ 36 Miliar.
Pencapaian target tersebut membutuhkan dukungan
perbankan dalam hal pendanaan.
Kepemilikan Asing di Bisnis Panas Bumi diperbolehkan hingga
95%.
Peluang bisnis di sektor panas bumi:
- Pemanfaatan langsung Panas Bumi;
65
- Potensi panas bumi bersuhu rendah ;
- Pembangkit listrik skala kecil;
- UU No 27/2003 tentang Panas Bumi memberikan
kesempatan bagi sektor swasta untuk terlibat dalam
pengembangan panas bumi melalui Penugasan Survei
Pendahuluan, Studi Kelayakan, Eksplorasi & Eksploitasi
Panas Bumi;
3.6. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
KESIMPULAN:
1. Permen ESDM No. 2 Tahun 2011 tidak sepenuhnya mengadopsi
konsep feed-in tariff karena hanya menetapkan harga patokan
tertinggi pembelian listrik oleh PT PLN sehingga mekarnisme
lelang untuk mendapatkan WKP masih bisa dengan lelang harga
terendah.
2. Beberapa pertimbangan terkait penetapan feed-in tariff:
- Bagaimana feed-in tariff disusun, bagaimana harga akan
dibedakan mengingat proyek panas bumi sangat site specifc.
Penentuan kelompok harga hendaknya memerhatikan
jenis teknologi, kapasitas proyek, kualitas resources, status
pengembangan (green/existing feld), dan lokasi/kondisi
infrastruktur
- Perlu dipikirkan kaitannya dengan UU No. 30 Tahun 2009
tentang Ketenagalistrikan mengingat potensi akan Pasal 33
ayat 2.
- Bagaimana terkait proses pengusahaan panas buminya
(lelang untuk mendapatkan WKP, mekanisme penugasan
survei pendahuluan) proses lelang migas dapat menjadi acuan
untuk proses lelang WKP karena harga sudah tidak menjadi
faktor penentu.
REKOMENDASI:
1. Pemerintah harus segera menetapkan feed in tariff untuk panas
bumi dengan memerhatikan berbagai masukan terhadap potensi
masalah yang ada.
2. Pemerintah harus terus mendorong penyelesaian perizinan
existing WKP Pertamina dan PLN dalam rangka mempercepat
pengembangan panas bumi, dengan harapan lebih mudah
berkoordinasi dengan BUMN.
3. Pemerintah harus memfasilitasi pemenang WKP yang sudah
66
berizin IUP dengan PLN supaya pemenang WKP dapat segera
melakukan eksplorasi.
4. Pemerintah dapat memberikan penugasan Survei Pendahuluan
kepada Badan Geologi ESDM yang sejalan dengan Undang-
Undang.
5. Pemerintah perlu memperjelas status dan peruntukan dana
eksplorasi panas bumi yang ada di Kementerian Keuangan
sehingga di kemudian hari tidak bertentangan dengan kebijakan
feed in tariff
6. Pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas sumber
daya manusia (SDM) untuk pengembangan panas bumi nasional.
67
BAB IV
MANFAAT CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
PERUSAHAAN TAMBANG TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR
4.1 PENDAHULUAN
4.1.1 LATAR BELAKANG

Tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social
Responsibility (CSR) mungkin masih kurang popular dikalangan
pelaku usaha nasional. Namun, tidak berlaku bagi pelaku usaha asing.
Kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan secara sukarela itu,
sudah biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional
ratusan tahun lalu.
Berbeda dengan kondisi Indonesia, kegiatan CSR baru dimulai tahun
1990 an, namun berkembang pada tahun 2003. Tuntutan masyarakat
dan perkembangan demokrasi serta derasnya arus globalisasi dan
pasar bebas, sehingga memunculkan kesadaran dari dunia industri
tentang pentingnya melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan
(CSR). Walaupun sudah lama prinsip-prinsip CSR diatur dalam
peraturan perundang-undangan dalam lingkup hukum perusahaan.
Namun amat disesalkan dari hasil survey yang dilakukan oleh Suprapto
pada tahun 2005 terhadap 375 perusahaan di Jakarta menunjukkan
bahwa 166 atau 44,27 % perusahaan menyatakan tidak melakukan
kegiatan CSR dan 209 atau 55,75 % perusahaan melakukan kegiatan
CSR. Sedangkan bentuk CSR yang dijalankan meliputi; pertama,
kegiatan kekeluargaan (116 perusahaan), kedua, sumbangan pada
lembaga agama (50 perusahaan), ketiga, sumbangan pada yayasan
social (39) perusahaan) keempat, pengembangan komunitas (4
perusahaan).
Hasil Program Penilaian Peringkat Perusahaan (PROPER) 2004-
2005 Kementerian Negara Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa
dari 466 perusahaan dipantau ada 72 perusahaan mendapat rapor
hitam, 150 merah, 221 biru, 23 hijau, dan tidak ada yang berperingkat
emas. Dengan begitu banyaknya perusahaan yang mendapat rapor
hitam dan merah, menunjukkan bahwa mereka tidak menerapkan
tanggung jawab lingkungan. Disamping itu dalam prakteknya tidak
semua perusahaan menerapkan CSR. Bagi kebanyakan perusahaan,
68
CSR dianggap sebagai parasit yang dapat membebani biaya capital
maintenance. Kalaupun ada yang melakukan CSR, itupun dilakukan
untuk adu gengsi. Jarang ada CSR yang memberikan kontribusi
langsung kepada masyarakat.
Kondisi tersebut makin populer tatkala DPR mengetuk palu tanda
disetujuinya klausul CSR masuk ke dalam UU No. 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas (UU PT) dan UU No. 25 Tahun 2007
tentang Penanaman Modal (UU PM). Pasal 74 UU PT yang
menyebutkan bahwa setiap perseroan yang menjalankan kegiatan
usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam
wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Jika
tidak dilakukan, maka perseroan tersebut bakal dikenai sanksi sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan.
Aturan lebih tegas sebenarnya juga sudah ada di UU PM Dalam
pasal 15 huruf b disebutkan, setiap penanam modal berkewajiban
melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Jika tidak, maka
dapat dikenai sanksi mulai dari peringatan tertulis, pembatasan
kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas
penanaman modal, atau pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas
penanaman modal (pasal 34 ayat (1) UU PM).

Tentu saja kedua ketentuan undang-undang tersebut membuat fobia
sejumlah kalangan terutama pelaku usaha lokal. Apalagi munculnya
Pasal 74 UU PT yang terdiri dari 4 ayat itu sempat mengundang
polemik. Pro dan kontra terhadap ketentuan tersebut masih tetap
berlanjut sampai sekarang. Kalangan pelaku bisnis yang tergabung
dalam Kadin dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang
sangat keras menentang kehadiran dari pasal tersebut. Pertanyaan
yang selalu muncul adalah kenapa CSR harus diatur dan menjadi
sebuah kewajiban ? Alasan mereka adalah CSR kegiatan di luar
kewajiban perusahaan yang umum dan sudah ditetapkan dalam
perundang-undangan formal, seperti : ketertiban usaha, pajak atas
keuntungan dan standar lingkungan hidup. Jika diatur sambungnya
selain bertentangan dengan prinsip kerelaan, CSR juga akan memberi
beban baru kepada dunia usaha. Apalagi kalau bukan menggerus
keuangan suatu perusahaan.
69
Pikiran-pikiran yang menyatakan kontra terhadap pengaturan CSR
menjadi sebuah kewajiban, disinyalir dapat menghambat iklim
investasi baik bagi perseroan yang sudah ada maupun yang akan
masuk ke Indonesia. Atas dasar berbagai pro dan kontra itulah tulisan
ini diangkat untuk memberikan urun rembug terhadap pemahaman
CSR dalam perspektif kewajiban hukum. (Kemen Hukum dan HAM)
4.1.2 DEFINISI
Ada beberapa defnisi Corporate Social Responsibility (CSR) yang
dapat menjadikan patokan audit program CSR yang dilaksanakan
oleh perusahaan. Namun, sampai sekarang belum ada defnisi CSR
yang secara universal diterima oleh berbagai lembaga. Ada beberapa
defnisi CSR di bawah ini yang menunjukkan keragaman pengertian
CSR, adalah sebagai berikut:
Undang-undang tentang CSR di Indonesia diatur dalam UU PT
No.40 Tahun 2007 yang menyebutkan bahwa PT yang menjalankan
usaha di bidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya
alam wajib me0njalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan
(Pasal 74 ayat 1). UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman
Modal. Pasal 15 (b) menyatakan bahwa Setiap penanam modal
berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.
Selajutnya lebih terperinci adalah UU No.19 Tahun 2003 tentang
BUMN. UU ini kemudiaan dijabarkan lebih jauh oleh Peraturan
Menteri Negara BUMN No.4 Tahun 2007 yang mengatur mulai
dari besaran dana hingga tatacara pelaksanaan CSR.
CSR menurut World Business Council For Sustainable
Development (WBCSD) merupakan suatu komitmen berkelanjutan
dari dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi
kepada pengembangan ekonomi pada komonitas setempat
ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf
hidup karyawan beserta seluruh keluarganya.
Menurut ISO 26000 Karakteristik dari Social Responbility adalah
kemauan sebuah organisasi untuk mempertimbangkan aspek
sosial dan lingkungan dalam pengambilan keputusan dan
bertanggung jawab atas dampak dari keputusan sarta aktivitas
yang mempengaruhi masyarakat dan lingkungan.
International Finance Corporation: Komitmen dunia bisnis
untuk memberi kontribusi terhadap pembangunan ekonomi
berkelanjutan melalui kerjasama dengan karyawan, keluarga
70
mereka, komunitas lokal dan masyarakat luas untuk meningkatkan
kehidupan mereka melalui cara-cara yang baik bagi bisnis
maupun pembangunan.
Institute of Chartered Accountants, England and Wales: Jaminan
bahwa organisasi-organisasi pengelola bisnis mampu memberi
dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan, seraya
memaksimalkan nilai bagi para pemegang saham (shareholders)
mereka.
Canadian Government: Kegiatan usaha yang mengintegrasikan
ekonomi, lingkungan dan sosial ke dalam nilai, budaya,
pengambilan keputusan, strategi, dan operasi perusahaan yang
dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab untuk
menciptakan masyarakat yang sehat dan berkembang.
European Commission: Sebuah konsep dengan mana
perusahaan mengintegrasikan perhatian terhadap sosial dan
lingkungan dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksinya
dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan
prinsip kesukarelaan.
CSR Asia: Komitmen perusahaan untuk beroperasi secara
berkelanjutan berdasarkan prinsip ekonomi, sosial dan
lingkungan, seraya menyeimbangkan beragam kepentingan para
stakeholders.
John Elkingstons menegaskan Corporate Social Responsibility is
a concept that organisation especially (but not only) corporations,
have an obligation to consider the interests of customers,
employees, shareholders, communities, and ecological
considerations in all aspect of their operations. This obligation is
been to extend beyond their statutory obligation to comply with
legislation
It is true that economic and social objectives have long been seen
as distinct and often competing. But this is a false dichotomy
Companies do not function in isolation from the society around
them. In fact, their ability to compete depends heavily on the
circumstances of locations where they operate. Michael E. Porter
dan Mark R. Kramer (2002: 5)
71
4.1.3 SEJARAH SINGKAT CSR
Dalam konteks global, istilah CSR mulai digunakan sejak
tahun 1970an dan semakin populer terutama setelah kehadiran
buku Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century
Business (1998), karya John Elkington. Mengembangkan tiga
komponen penting sustainable development, yakni economic growth,
environmental protection, dan social equity, yang digagas the World
Commission on Environment and Development (WCED) dalam
Brundtland Report (1987), Elkington mengemas CSR ke dalam tiga
fokus: 3P, singkatan dari proft, planet dan people. Perusahaan yang
baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi belaka (proft).
Melainkan pula memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan
(planet) dan kesejahteraan masyarakat (people).
Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak tahun
1990-an. Beberapa perusahaan sebenarnya telah lama melakukan
CSA (Corporate Social Activity) atau aktivitas sosial perusahaan.
Walaupun tidak menamainya sebagai CSR, secara faktual aksinya
mendekati konsep CSR yang merepresentasikan bentuk peran serta
dan kepedulian perusahaan terhadap aspek sosial dan lingkungan.
Melalui konsep investasi sosial perusahaan seat belt, sejak tahun
2003 Departemen Sosial tercatat sebagai lembaga pemerintah yang
aktif dalam mengembangkan konsep CSR dan melakukan advokasi
kepada berbagai perusahaan nasional.
Kepedulian sosial perusahaan terutama didasari alasan bahwasanya
kegiatan perusahaan membawa dampak for better or worse, bagi
kondisi lingkungan dan sosial-ekonomi masyarakat, khususnya
di sekitar perusahaan beroperasi. Selain itu, pemilik perusahaan
sejatinya bukan hanya shareholders atau para pemegang saham.
Melainkan pula stakeholders, yakni pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap eksistensi perusahaan.
Stakeholders dapat mencakup karyawan dan keluarganya, pelanggan,
pemasok, masyarakat sekitar perusahaan, lembaga-lembaga swadaya
masyarakat, media massa dan pemerintah selaku regulator. Jenis dan
prioritas stakeholders relatif berbeda antara satu perusahaan dengan
lainnya, tergantung pada core bisnis perusahaan yang bersangkutan
(Supomo, 2004). Sebagai contoh, PT Aneka Tambang, Tbk. dan Rio
72
Tinto menempatkan masyarakat dan lingkungan sekitar sebagai
stakeholders dalam skala prioritasnya. Sementara itu, stakeholders
dalam skala prioritas bagi produk konsumen seperti Unilever atau
Procter & Gamble adalah para customer-nya. (Rahmat Hidayat, S.T.,
M.Sc-Universitas Andalas)
4.2 CAKUPAN CSR
Dari penelitian yang dilakukan oleh CECT di Indonesia, CSR memiliki
beberapa tingkatan berdasarkan ruang lingkup dan kompleksitasnya,
yaitu :
Kepatuhan terhadap semua hukum yang ada
CSR dalam bentuk Filantropi
CSR dalam bentuk Community Development
CSR dimana perusahaan mengandung dampak negatif yang
timbul dari bisnisnya dan meningkatkan dampak positif bisnisnya.
CSR sebagai suatu sistem yang terintegrasi dalam perencanaan
bisnis perusahaan (Radyati, 2010)
Berdasarkan tingkatan tersebut, perusahaan sangat dianjurkan
melakukan kegiatan CSR yang melampaui kepatuhan terhadap
semua hukum (beyond compliance). Dalam melaksanakan kegiatan
CSR sangat dianjurkan perusahaan melibatkan komunitas setempat,
sehingga kegiatan CSR tersebut menghasilkan dampak positif tidak
hanya untuk internal tetapi juga eksternal perusahaan. Kegiatan
perlibatan langsung komunitas di wilayah perusahaan berada selama
ini dikenal dengan nama CD atau Comdev.
Community Development (CD) atau yang dikenal sebagai Comdev
atau pengembangan masyarakat merupakan suatu proses yang
dirancang untuk menciptakan kemajuan kondisi ekonomi dan sosial
warga masyarakat melalui partisipasi aktif, dimana pada akhirnya
akan menumbuhkan prakarsa dan kemandirian masyarakat itu sendiri.
Konsep CSR erat kaitannya dengan konsep pengembangan
masyarakat atau community development (Comdev), dimana Comdev
merupakan bagian penting dalam proses implementasi kegiatan CSR.
Sementara Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL), sebagaimana
termaktub dalam Pasal 74 UU No. 40/2007 tentang perseroan Terbatas
merupakan kepatuhan perusahaan kepada peraturan sektoral yang
sudah ada.
73
CSR bisa dilaksanakan secara langsung oleh perusahaan di bawah
divisi human resource development atau public relations. CSR bisa
pula dilakukan oleh yayasan yang dibentuk terpisah dari organisasi
induk perusahaan namun tetap harus bertanggung jawab ke CEO
atau ke dewan direksi.
Sebagian besar perusahaan di Indonesia menjalankan CSR melalui
kerjasama dengan mitra lain, seperti LSM, perguruan tinggi atau
lembaga konsultan. Beberapa perusahaan ada pula yang bergabung
dalam sebuah konsorsium untuk secara bersama-sama menjalankan
CSR. Beberapa perusahaan bahkan ada yang menjalankan kegiatan
serupa CSR, meskipun tim dan programnya tidak secara jelas
berbendera CSR (Suharto, 2007a).
Pada awal perkembangannya, bentuk CSR yang paling umum
adalah pemberian bantuan terhadap organisasi-organisasi lokal
dan masyarakat miskin di negara-negara berkembang. Pendekatan
CSR yang berdasarkan motivasi karitatif dan kemanusiaan ini pada
umumnya dilakukan secara ad-hoc, partial, dan tidak melembaga.
CSR pada tataran ini hanya sekadar do good dan to look good, berbuat
baik agar terlihat baik. Perusahaan yang melakukannya termasuk
dalam kategori perusahaan impresif, yang lebih mementingkan
tebar pesona (promosi) ketimbang tebar karya (pemberdayaan)
(Suharto, 2008).
Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang kurang menyukai
pendekatan karitatif semacam itu, karena tidak mampu meningkatkan
keberdayaan atau kapasitas masyarakat lokal. Pendekatan
community development kemudian semakin banyak diterapkan
karena lebih mendekati konsep empowerment dan sustainable
development. Prinsip-prinsip good corporate governance, seperti
fairness, transparency, accountability, dan responsibility kemudian
menjadi pijakan untuk mengukur keberhasilan program CSR. Sebagai
contoh, Shell Foundation di Flower Valley, Afrika Selatan, membangun
Early Learning Centre untuk membantu mendidik anak-anak dan
mengembangkan keterampilan-keterampilan baru bagi orang dewasa
di komunitas itu. Di Indonesia, perusahaan-perusahaan seperti
Freeport, Rio Tinto, Inco, Riau Pulp, Kaltim Prima Coal, Pertamina
serta perusahaan BUMN lainnya telah cukup lama terlibat dalam
menjalankan CSR.
74
Kegiatan CSR yang dilakukan saat ini juga sudah mulai beragam,
disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat berdasarkan
needs assessment. Mulai dari pembangunan fasilitas pendidikan dan
kesehatan, pemberian pinjaman modal bagi UKM, social forestry,
penakaran kupu-kupu, pemberian beasiswa, penyuluhan HIV/AIDS,
penguatan kearifan lokal, pengembangan skema perlindungan sosial
berbasis masyarakat dan seterusnya. CSR pada tataran ini tidak
sekadar do good dan to look good, melainkan pula to make good,
menciptakan kebaikan atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
(Rahmat Hidayat, S.T., M.Sc-Universitas Andalas)
4.3 PERAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

Mineral dan batubara merupakan sumber daya alam yang tidak
terbaharukan (non renewable) yang dikuasai oleh negara, maka
pengelolaannya harus memberi nilai tambah bagi perekonomian
nasional guna mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pengelolaan pertambangan
mineral dan batubara berazaskan manfaat, keadilan dan
keseimbangan, serta keberpihakan kepada kepentingan bangsa.
Sesuai ketentuan dalam Undang-undang No 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara, wajib dilakukan peningkatan
nilai tambah mineral dan batubara melalui pengolahan dan pemurnian
di dalam negeri.
Sektor ESDM sampai saat ini masih mempunyai peran yang sangat
penting terhadap penerimaan negara, dimana pada tahun 2012 sektor
esdm berkontribusi sekitar Rp 415,2 Triliun (30%) dari pagu APBN.
Dimana tahun 2011 hanya sekitar Rp 387,97 Triliun (29%).
75
Tabel 3.6 Capaian Strategis Sektor ESDM

Sumber: KESDM (Kilas Balik Sektor ESDM 2012 dan Rencana 2013)
Tahun 2011 penerimaan negara sektor ESDM adalah sebesar Rp
387,97 Triliun, dimana penerimaan dari sub sektor minyak dan gas
bumi (migas) masih merupakan komoditi primadona yaitu sebesar Rp
278,97 Triliun, sub sektor pertambangan umum sebesar Rp 107,27
Triliun, sub sektor panas bumi sebesar Rp 0,43 Triliun, sub sektor
lainnya sebesar Rp 1,89 Triliun.
Besarnya penerimaan sektor ESDM tersebut belum termasuk deviden
dari BUMN di lingkungan sektor ESDM, pajak-pajak dari pengusahaan
sektor ESDM yang terdiri dari PPN, PBBKB dan PBB dan royalti, iuran
tetap dari pemegang IUP yang ijinnya diterbitkan oleh Bupati dan
sebagian masih diaudit.
Sebagai sumber penerimaan negara, sektor ESDM tiap tahunnya
memberikan kontribusi sekitar 30% terhadap penerimaan nasional.
Pada tahun 2011, penerimaan sektor ESDM mencapai Rp. 387,97
triliun atau sekitar 29% terhadap perkiraan penerimaan nasional
sebesar Rp. 1.199 triliun. Penerimaan sektor ESDM tersebut 109%
dari APBN-P 2011 sebesar Rp. 324 triliun, dan 122% dari penerimaan
tahun 2010 sebesar Rp. 288,84 triiliun. Lebih tingginya realisasi
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

82

Tabel 3.6 Capaian Strategis Sektor ESDM


Sumber: KESDM (Kilas Balik Sektor ESDM 2012 dan Rencana 2013)
Tahun 2011 penerimaan negara sektor ESDM adalah sebesar Rp 387,97
Triliun, dimana penerimaan dari sub sektor minyak dan gas bumi (migas)
masih merupakan komoditi primadona yaitu sebesar Rp 278,97 Triliun, sub
sektor pertambangan umum sebesar Rp 107,27 Triliun, sub sektor panas
bumi sebesar Rp 0,43 Triliun, sub sektor lainnya sebesar Rp 1,89 Triliun.
Besarnya penerimaan sektor ESDM tersebut belum termasuk deviden dari
BUMN di lingkungan sektor ESDM, pajak-pajak dari pengusahaan sektor
ESDM yang terdiri dari PPN, PBBKB dan PBB dan royalti, iuran tetap dari
pemegang IUP yang ijinnya diterbitkan oleh Bupati dan sebagian masih
diaudit.
Sebagai sumber penerimaan negara, sektor ESDM tiap tahunnya memberikan
kontribusi sekitar 30% terhadap penerimaan nasional. Pada tahun 2011,
penerimaan sektor ESDM mencapai Rp. 387,97 triliun atau sekitar 29%
terhadap perkiraan penerimaan nasional sebesar Rp. 1.199 triliun.
76
penerimaan migas antara lain disebabkan karena tingginya harga
Minyak Mentah Indonesia (ICP) dan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar
Amerika.
Besarnya penerimaan sektor ESDM tersebut belum termasuk deviden
dari BUMN di lingkungan sektor ESDM, pajak-pajak dari pengusahaan
sektor ESDM yang terdiri dari PPN, PBBKB dan PBB dan royalti, iuran
tetap dari pemegang IUP yang ijinnya diterbitkan oleh Bupati dan
sebagian masih diaudit.
Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 3.2 Dana Community Development (2007-2011)
Peran sektor ESDM lainnya, juga penting sebagai pendorong
pembangunan daerah. Peran sektor ESDM terhadap pembangunan
daerah diwujudkan, antara lain melalui dana bagi hasil (DBH), kegiatan
pengembangan masyarakat atau community development (comdev)
atau corporate social responsibility (CSR). Selain itu terdapat program
pembangunan Desa Mandiri Energi (DME), Pemboran air tanah dan
listrik murah dan hemat yang merupakan program-program pro-rakyat
sehingga pembangunan daerah dapat berjalan lebih efektif.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

83

Penerimaan sektor ESDM tersebut 109% dari APBN-P 2011 sebesar Rp. 324
triliun, dan 122% dari penerimaan tahun 2010 sebesar Rp. 288,84 triiliun.
Lebih tingginya realisasi penerimaan migas antara lain disebabkan karena
tingginya harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) dan nilai tukar Rupiah
terhadap Dollar Amerika.
Besarnya penerimaan sektor ESDM tersebut belum termasuk deviden dari
BUMN di lingkungan sektor ESDM, pajak-pajak dari pengusahaan sektor
ESDM yang terdiri dari PPN, PBBKB dan PBB dan royalti, iuran tetap dari
pemegang IUP yang ijinnya diterbitkan oleh Bupati dan sebagian masih
diaudit.








Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 3.2 Dana Community Development (2007-2011)
Peran sektor ESDM lainnya, juga penting sebagai pendorong pembangunan
daerah. Peran sektor ESDM terhadap pembangunan daerah diwujudkan,
antara lain melalui dana bagi hasil (DBH), kegiatan pengembangan
masyarakat atau community development (comdev) atau corporate social
responsibility (CSR). Selain itu terdapat program pembangunan Desa Mandiri
Energi (DME), Pemboran air tanah dan listrik murah dan hemat yang
merupakan program-program pro-rakyat sehingga pembangunan daerah
dapat berjalan lebih efektif.
Growth 8%
77
Tebel 3.7 Produksi Mineral 2009-2013

Catatan : *) proyeksi hingga akhir tahun 2012 **) rencana 2013
Sumber: KESDM (Kilas Balik Sektor ESDM 2012 dan Rencana 2013)
Secara umum, produksi mineral tahun 2011 relatif baik, terdapat
peningkatan produksi dari beberapa komoditi mineral seperti logam
timah, bijih besi, bijih nikel, ferro nike, dan granit dibandingkan
produksi tahun 2010.
Tidak tercapainya rencana produksi komoditas tembaga emas dan
perak terjadi akibat penurunan produksi PT Freeport Indonesia yang
terjadi akibat demo dan pemogokan kerja yang terjadi sejak triwulan
III tahun 2011, yang berimbas pada berhentinya operasional PT
Freeport Indonesia.
Tidak tercapainya rencana produksi komoditas logam timah di tahun
2011 terjadi akibat keputusan bersama pengusaha timah di Bangka
dan Belitung untuk menghentikan ekspor logam timah sejak Oktober
2011. Hal ini berimbas pada terhentinya aktivitas produksi logam
timah di Bangka Belitung.
Peran sektor ESDM juga penting sebagai pendorong pembangunan
daerah. Peran sektor ESDM terhadap pembangunan daerah
diwujudkan, antara lain melalui dana bagi hasil (DBH), kegiatan
pengembangan masyarakat atau community development (comdev)
atau corporate social responsibility (CSR). Selain itu terdapat
program pembangunan Desa Mandiri Energi (DME), dan Pemboran
air tanah yang merupakan program-program pro-rakyat sehingga
pembangunan daerah dapat berjalan lebih efektif.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

84

Tebel 3.7 Produksi Mineral 2009-2013

Catatan : *) proyeksi hingga akhir tahun 2012 **) rencana 2013
Sumber: KESDM (Kilas Balik Sektor ESDM 2012 dan Rencana 2013)
Secara umum, produksi mineral tahun 2011 relatif baik, terdapat peningkatan
produksi dari beberapa komoditi mineral seperti logam timah, bijih besi, bijih
nikel, ferro nike, dan granit dibandingkan produksi tahun 2010.
Tidak tercapainya rencana produksi komoditas tembaga emas dan perak
terjadi akibat penurunan produksi PT Freeport Indonesia yang terjadi akibat
demo dan pemogokan kerja yang terjadi sejak triwulan III tahun 2011, yang
berimbas pada berhentinya operasional PT Freeport Indonesia.
Tidak tercapainya rencana produksi komoditas logam timah di tahun 2011
terjadi akibat keputusan bersama pengusaha timah di Bangka dan Belitung
untuk menghentikan ekspor logam timah sejak Oktober 2011. Hal ini berimbas
pada terhentinya aktivitas produksi logam timah di Bangka Belitung.
Peran sektor ESDM juga penting sebagai pendorong pembangunan daerah.
Peran sektor ESDM terhadap pembangunan daerah diwujudkan, antara lain
melalui dana bagi hasil (DBH), kegiatan pengembangan masyarakat atau
community development (comdev) atau corporate social responsibility (CSR).
Selain itu terdapat program pembangunan Desa Mandiri Energi (DME), dan
Pemboran air tanah yang merupakan program-program pro-rakyat sehingga
pembangunan daerah dapat berjalan lebih efektif
78
Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka
persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi, sebagaimana Undang-Undang Nomor
33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah. DBH sektor ESDM bersumber dari
kegiatan minyak bumi, gas bumi dan pertambangan umum, serta
panas bumi.
Tebel 3.8 Dana bagi hasil sektor esdm
Triliun Rupiah

Sumber: Ditjen Minerba, 2012 *) un-audited
Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka
persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi, sebagaimana Undang-Undang Nomor
33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah. DBH sektor ESDM bersumber dari
kegiatan minyak bumi, gas bumi dan pertambangan umum, serta
panas bumi.

Dana bagi hasil sektor ESDM pada tahun 2011 diperkirakan dapat
mencapai sebesar Rp. 40,9 triliun yang terdiri dari minyak bumi Rp.
16,4 triliun, gas bumi Rp. 11,7 triliun, pertambangan umum Rp. 12,3
triliun dan panas bumi Rp. 0,5 triliun.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

85

Dana bagi hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu
untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi,
sebagaimana Undang-Undang Nomor 33/2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. DBH sektor
ESDM bersumber dari kegiatan minyak bumi, gas bumi dan pertambangan
umum, serta panas bumi.

Tebel 3.8 Dana bagi hasil sektor esdm
Triliun Rupiah

Sumber: Ditjen Minerba, 2012 *) un-audited
Dana bagi hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu
untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi,
sebagaimana Undang-Undang Nomor 33/2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. DBH sektor
ESDM bersumber dari kegiatan minyak bumi, gas bumi dan pertambangan
umum, serta panas bumi.
Dana bagi hasil sektor ESDM pada tahun 2011 diperkirakan dapat mencapai
sebesar Rp. 40,9 triliun yang terdiri dari minyak bumi Rp. 16,4 triliun, gas bumi
79
Tebel 3.9 Dana community development sektor esdm
Miliar rupiah

Sumber: Ditjen Minerba, 2012 *) un-audited
Di sektor energi dan sumber daya mineral, community development
(comdev) adalah bagian dari tanggung jawab korporat (Corporate Social
Responsibility) yang merupakan komitmen bisnis untuk berkontribusi
dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para
karyawan perusahaan, keluarga karyawan tersebut berikut komunitas
setempat (lokal) dan masyarakat secara keseluruhan, dalam rangka
meningkatkan kualitas kehidupan.
Keseluruhan peran sektor ESDM memiliki satu muara tujuan yaitu :
mengkonversi keunggulan potensi sumber daya alam yang dimiliki
oleh Indonesia berupa potensi Sumber Daya Alam (SDA) energi dan
mineral yang dikenal sebagai comparative advantage yang merupakan
keunggulan yang bersifat sementara menjadi keunggulan potensi
Sumber Daya Manusia (SDM) yang dikenal sebagai competitive
advantage yang merupakan keunggulan yang bersifat kualitas.
Upaya mengkonversi comparative advantage menjadi competitive
advantage yang paling potensial adalah melalui peningkatan kualitas
sumber daya manusia dalam bidang pendidikan.
Pendidikan berdampak besar dalam meningkatkan kualitas sumber
daya manusia yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
(knowledge), ketrampilan (ability) dan budi pekerti (attitude).
Implementasi program CSR secara nyata yaitu dengan pemberian
beasiswa, bantuan sarana dan prasarana pendidikan dan sarana
olah raga, pelatihan, bantuan tenaga guru, dan pelatihan bagi guru,
pembangunan tempat ibadah, pengadaan air bersih, pemberdayaan
pertanian dan peternakan secara modern.
Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

86

Rp. 11,7 triliun, pertambangan umum Rp. 12,3 triliun dan panas bumi Rp. 0,5
triliun.
Tebel 3.9 Dana community development sektor esdm
Miliar rupiah

Sumber: Ditjen Minerba, 2012 *) un-audited
Di sektor energi dan sumber daya mineral, community development (comdev)
adalah bagian dari tanggung jawab korporat (Corporate Social Responsibility)
yang merupakan komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan
ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga
karyawan tersebut berikut komunitas setempat (lokal) dan masyarakat secara
keseluruhan, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan.
Keseluruhan peran sektor ESDM memiliki satu muara tujuan yaitu :
mengkonversi keunggulan potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh
Indonesia berupa potensi Sumber Daya Alam (SDA) energi dan mineral yang
dikenal sebagai comparative advantage yang merupakan keunggulan yang
bersifat sementara menjadi keunggulan potensi Sumber Daya Manusia
(SDM) yang dikenal sebagai competitive advantage yang merupakan
keunggulan yang bersifat kualitas. Upaya mengkonversi comparative
advantage menjadi competitive advantage yang paling potensial adalah
melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam bidang pendidikan.
80
Dana comdev (CSR) sektor ESDM pada tahun 2011 sebesar Rp. 1,56
triliun, sedangkan realisasinya diperkirakan mencapai Rp. 1,66 triliun
atau 106% terhadap target 2011.
Program comdev yang dijalankan perusahaan, yaitu :
a. Hubungan Masyarakat, berupa keagamaan, sosial, budaya dan
olahraga
b. Pelayanan masyarakat, berupa bantuan dan charity
c. Pemberdayaan masyarakat, berupa kesehatan, pendidikan,
ekonomi, dll
d. Pengembangan infrastruktur, seperti sarana ibadah, saran
kesehatan, dll
Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 3.3 Kontribusi Sub Sektor Minerba Terhadap Penerimaan Negara
4.4 RUMUSAN PERMASALAHAN
Indonesia adalah negara penghasil tambang yang besar.
Pada tahun 2010 tercatat GDP dari sektor pertambangan sebesar Rp.
718.136,8 milyar atau menyumbang 11,2% dari GDP total. Namun
tingkat kemiskinan di propinsi-propinsi penghasil utama pertambangan
mineral masih tinggi.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

87

Pendidikan berdampak besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge),
ketrampilan (ability) dan budi pekerti (attitude). Implementasi program CSR
secara nyata yaitu dengan pemberian beasiswa, bantuan sarana dan
prasarana pendidikan dan sarana olah raga, pelatihan, bantuan tenaga guru,
dan pelatihan bagi guru, pembangunan tempat ibadah, pengadaan air bersih,
pemberdayaan pertanian dan peternakan secara modern.
Dana comdev (CSR) sektor ESDM pada tahun 2011 sebesar Rp. 1,56 triliun,
sedangkan realisasinya diperkirakan mencapai Rp. 1,66 triliun atau 106%
terhadap target 2011.
Program comdev yang dijalankan perusahaan, yaitu :
a. Hubungan Masyarakat, berupa keagamaan, sosial, budaya dan olahraga
b. Pelayanan masyarakat, berupa bantuan dan charity
c. Pemberdayaan masyarakat, berupa kesehatan, pendidikan, ekonomi, dll
d. Pengembangan infrastruktur, seperti sarana ibadah, saran kesehatan, dll











Sumber: Ditjen Minerba, 2012
Gambar 3.3 Kontribusi Sub Sektor Minerba Terhadap Penerimaan
Negara



81
Tabel 3.10 GDP sektor pertambangan di 5 propinsi penghasil tambang mineral terbesar
di Indonesia

Sumber: paparan SAM IP, 2012
Kontribusi sektor pertambangan terhadap penerimaan negara yang
begitu besar, namun berdasarkan data di atas, dapat terlihat bahwa
masih terdapat ketimpangan tingkat pendapatan/kemiskinan didaerah-
daerah penghasil mineral tambang. Oleh karena itu perlu upayakan
maksimal pemerintah dalam rangka pengembangan manfaat dari
pendapatan mineral dan batubara dan sejauh mana dampak dimensi
industri pertambangan terhadap pengentasan kemiskinan di daerah-
daerah tambang.

Disamping itu kita dapat mengidentifkasi berbagai penyebab mengapa
pelaksanaan CSR tidak berdampak nyata terhadap peningkatan taraf
hidup masyarakat disekitar pertambangan dan bagaimana program
CSR kedepan.

Kemudian mencari masukan bagaimana upaya untuk mewujudkan
terjadinya trickle down effect industri pertambangan dalam
pengentasan kemiskian terutama di daerah sekitar tambang.

Seperti kita ketahui bersama bahwa mineral right atau kepemilikan dari
mineral itu ada di bangsa dan negara. Inilah yang kemudian didalam
peyelenggaraannya penguasaan pertambangan ini di delegasikan
kepada pemerintah, yang dalam ini ada pemerintah pusat, Provinsi,
Kabupaten Kota. Pemerintah pusat memiliki kewenangannya dalam
hal penetapan kebijakan dan pengaturan.

Analisis Isu-Isu Sektor ESDM
2012

88

4.4 RUMUSAN PERMASALAHAN
Indonesia adalah negara penghasil tambang yang besar. Pada tahun
2010 tercatat GDP dari sektor pertambangan sebesar Rp. 718.136,8 milyar
atau menyumbang 11,2% dari GDP total. Namun tingkat kemiskinan di
propinsi-propinsi penghasil utama pertambangan mineral masih tinggi.
Tabel 3.10 GDP sektor pertambangan di 5 propinsi penghasil tambang
mineral terbesar di Indonesia

Sumber: paparan SAM IP, 2012

Kontribusi sektor pertambangan terhadap penerimaan negara yang begitu
besar, namun berdasarkan data di atas, dapat terlihat bahwa masih terdapat
ketimpangan tingkat pendapatan/kemiskinan didaerah-daerah penghasil
mineral tambang. Oleh karena itu perlu upayakan maksimal pemerintah dalam
rangka pengembangan manfaat dari pendapatan mineral dan batubara dan
sejauh mana dampak dimensi industri pertambangan terhadap pengentasan
kemiskinan di daerah-daerah tambang.
Disamping itu kita dapat mengidentifikasi berbagai penyebab mengapa
pelaksanaan CSR tidak berdampak nyata terhadap peningkatan taraf hidup
masyarakat disekitar pertambangan dan bagaimana program CSR kedepan.
82
Kemudian penetapan standard dan pedoman, penetapan kriteria
pembagian urusan pusat dan daerah, kemudian tanggungjawab
pengelolaan mineral batubara yang berdampak pada nasional
dan lintas provinsi, jadi ini tugas dari pemerintah pusat. Kemudian
pemerintah untuk tingkat Provinsi, ini berkaitan dengan pengelolaan
yang lintas kabupaten atau yang mempunyai dampak regional.
Kemudian kabupaten, ini yang pengelolaan di wilayah kabupaten
atau kota. Kemudian instrument kebijakan di daerah itu dalam bentuk
Perda.
Kemudian pelaku usaha itu adalah mempunyai hak pengusahaannya/
economic right, jadi pelaku usaha ini BUMN, BUMD, badan usaha
swasta dan perseorangan, dan ini dasarnya adalah Undang-Undang.
Oleh karena itu kebijakan pengelolaan ini harus mampu mengubah
kondisi saat ini menuju kepada kondisi yang diinginkan dengan
mempertimbangkan lingkungan strategis yaitu peluang dan kendala.
Kemudian kalau kita lihat hipotesisnya itu adalah pertambangan
mineral dan batubara belum mampu menciptakan kondisi yang lebih
baik bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat disekitar tambang.
Karena kalau kita cermati sebenarnya dengan pertumbuhan ekonomi
yang cukup pesat pada saat ini, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar
6,3-6,4 persen, serta kalau kita lihat sebenarnya ada perbaikan,
apabila kita lihat dari sisi kemiskinan, justru kemiskinan sekarang ini
ditingkat nasional terjadi penurunan.

Kalau kita lihat 2011 kita bandingkan 2010, itu terjadi penurunan secara
nasional. Tahun 2011 itu tingkat kemiskinan 12,49 persen, namun
kalau kita cermati ternyata tingkat kemiskinan di rural, itu jauh tinggi
dibandingkan di urban. Kalau kita lihat ternyata tingkat kemiskinan
di daerah-daerah rural itu 70 persen lebih tinggi dibandingkan di
perkotaan. Namun kalau dicermati ada daerah-daerah tambang
yang cukup baik yaitu di Kalimantan Selatan (Kalimantan Timur itu
tingkat kemiskinannya sudah jauh lebih kecil dibandingkan dengan
nasionalnya). Namun ada daerah-daerah tambang yang tingkat
kemiskinannya masih lebih tinggi dibandingkan ditingkat nasional.
Kebijakan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara,
sebenarnya tugas dari pemerintah yang tadi mempunyai hak untuk
pengelolaan dari mining right, itu adalah semaksimalnya bisa
mengambil manfaat dan hasil atas pengelolaan dan pengusahaan
pertambangan mineral dan batubara.
83
Pemerintah mempunyai kewenangan dalam hal kebijakan dan
pengaturan, perizinan, pembinaan dan pengawasan. Kemudian
manfaat ini dalam bentuk penerimaan negara, yaitu baik pajak dan
penerimaan negara bukan pajak. Kemudian juga memaksimalkan
produksi untuk pasokan bagi kebutuhan dan kepentingan nasional,
disamping investasi, CSR, dana bagi hasil, ada dana alokasi khusus,
ada dana alokasi umum, dan ada juga program-program dari pusat
untuk daerah (pro growth, pro job, pro poor, pro environment).

Penerimaan Negara peranannya masih cukup signifkan 30% dari
penerimaan nasional dan kedepan memang sebaiknya itu penerimaan
negara ini sebagian besar harus dari pajak. Kemudian dana bagi hasil
ini yang ke daerah ini cukup signifkan, sekitar 40 trilyun, dan 2012 ini
kita targetkan 55 trilyun.
CSR ini cukup signifkan, antara lain dengan banyak program-program
pemerintah pusat untuk di daerah, ini misalnya untuk meningkatkan
rasio elektrifkasi kita membangun jaringan, kemudian juga ada
percepatan pengembangan energi setempat melalui desa mandiri
energi, kemudian kita juga ada penyediaan air bersih, investasi.
Dengan investasi itu sendiri mempunyai multiplier effect bagi
tenaga kerja setempat. Jadi ini modal dasar kita untuk mendorong
pengentasan kemiskinan di daerah-daerah.

Oleh sebab itu kedepannya kiranya perlu adanya optimalisasi
program-program CSR, untuk jangka pendek dan jangka menengah,
revitalisasi program-program dan kegiatan daerah.

4.5 PEMBAHASAN
Sumberdaya pada industri pertambangan merupakan sumberdaya
alam tidak terbarukan, waktu panjang dalam menghasilkan return
(slow yielding), beresiko tinggi, padat modal dan keahlian, terletak
pada lokasi sudah tertentu dan tidak bisa dipilih (biasanya berlokasi di
daerah terpencil dengan infrastruktur minim), menjadi ujung tombak
pembangunan di daerahnya, serta rawan isu politik, lingkungan hidup
dan sosial.
84
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar
pertambangan, maka pemangku kepentingan harus memiliki
strategi jangka pendek, menengah dan panjang dalam pengelolaan
pertambangan agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-
besarnya terhadap masyarakat setempat.

Hal-hal kritikal agar multiplier effect pertambangan dapat terjadi:
1. Penetapan arah kebijakan pembangunan wilayah pertambangan
(5, 10, 15, 20 tahun ke depan).
2. Identifkasi dari Spending dan Income Cycle di wilayah
pertambangan (kondisi saat ini dan yang diharapkan di masa
depan).
3. Program peningkatan kapasitas masyarakat wilayah
pertambangan didasarkan pada strategi jangka panjang.
4. Program pemerintah yang fokus pada pembangunan infrastruktur,
pendidikan, dan kesehatan di wilayah pertambangan.
Oleh karena itu, Industri pertambangan harus dipandang sebagai satu
kesatuan yang terdiri dari berbagai macam jenis dan skalanya. Dalam
prakteknya banyak perusahaan kecil yang memiliki resiko kerusakan
lingkungan yang tinggi dan praktek CSR yang buruk. Image buruk
sektor pertambangan ini juga menimpa perusahaan tambang besar
yang telah menerapkan good mining practis. Sebelum memetakan
dampak CSR dan bagaimana CSR ke depan, kita harus memetakan
dahulu industri pertambangan yang ada saat ini baik jenis dan
skalanya.
Tujuan CSR idealnya adalah membangun infrastruktur, membentuk
pola pikir masyarakat, pembentukan karakter, pemberdayaan SDM
menuju masyarakat mandiri. Ironisnya banyak tambang yang tidak
dapat melakukan hal ini yaitu perusahaan tambang kecil. Untuk itu
dalam rangka mencapai tujuan ideal CSR maka nilai komplemen CSR
harus dibedakan antara satu perusahaan dengan lainnya dengan
melihat kondisi riil pertambangan yaitu jenis dan luasan perusahaan
tambang, serta bagaimana bentuk komplemen CSR.

Bagi perusahaan tambang skala kecil yang kembang kempis
untuk mendapatkan proft, CSR mungkin hanya berupa community
development atau charity yang dimasukkan sebagai biaya yang
85
dikeluarkan dalam rangka keamanan wilayah tambangnya dan CSR
yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan masih menjadi PR
pemerintah untuk memetakan.
Dalam pelaksanaan 3 P (Proft, People, Planet) pemerintah harus
lebih detail dalam menekankan elemen proft melalui analisis market
industri pertambangan yang berujung pada pelaksanaan kontrol
produksi. Misalnya pemerintah berusaha menarik investor sebanyak-
banyaknya namun tidak melakukan analisis SWAT sehingga banyak
investor yang mati dalam perjalanannya.
Regulasi pada setiap wilayah pertambangan, misalnya Sumatera
dan Kalimantan, harus dibedakan sesuai karakteristik daerah. Untuk
wilayah Sumatera misalnya pembangunan PLTU mulut tambang.
Pembangunan PLTU mulut tambang tidak untuk meningkatkan PNBP
tetapi lebih ditujukan untuk meningkatkan makro ekonomi daerah,
maka selanjutnya CSR akan tumbuh.
Ada 5 aspek yang dapat dimasukkan dalam CSR :
Legal compliance, sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.
Welfare, kesejahteraan masyarakat sekitar tambang meningkat.
Corporate image, dapat menjadi daya jual perusahaan.
Relationship antara perusahaan dan masyarakat, saat ini
banyak terjadi konfik perusahaan tambang dengan masyarakat
(resistensi lokal).
Equity antara Welfare atau well being, proft harus dihasilkan
dengan keseimbangan dengan pemerataan kesejahteraan antara
perusahaan dengan masyarakat sekitar.
Harus ada integrasi antara perusahaan dengan masyarakat sekitar
tambang untuk menghindari adanya resistensi lokal dan pemerataan
kesejahteraan antara perusahaan dengan masyarakat sekitar.

Maka itu perlu ada peraturan perundangan dan proporsi CSR yang
jelas. Harus ada indeks CSR yang jelas dan disepakati bersama,
seperti halnya indeks kemiskinan, indeks demokrasi, indeks equality,
dll.
86
4.6. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
KESIMPULAN:

a. Istilah Corporate Social Responsibility (CSR) mulai digunakan
sejak tahun 1970an dan di Indonesia istilah CSR baru digunakan
sejak tahun 1990-an. Sebagian besar perusahaan di Indonesia
menjalankan CSR melalui kerjasama dengan mitra lain, seperti
LSM, perguruan tinggi atau lembaga konsultan
b. Empat sasaran pokok program CSR, antara lain:
- Prioritas sektor ekonomi ditunjukkan untuk peningkatan
ekonomi mikro melalui usaha mandiri (home industry) dan
peningkatan belanja lokal.
- Prioritas yang diberikan di sektor pendidikan ialah peningkatan
kualitas sumber daya manusia, melalui bantuan-bantuan
sarana pendidikan dan pemberian beasiswa bagi masyarakat
yang kurang mampu.
- Pembangunan fasilitas umum/sosial yang bisa dirasakan
langsung oleh masyarakat.
- Pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi warga yang tidak
mampu serta perbaikan sarana kesehatan yang sudah ada
c. Sektor pertambangan saat ini menyumbang penerimaan negara
cukup tinggi (30%), tetapi tingkat kemiskinan di wilayah-wilayah
pertambangan masih tetap tinggi (13%).
b. CSR merupakan kewajiban pembayaran externality cost industri
pertambangan bagi masyarakat setempat.
c. Pelaksanaan Good Corporate Governance di dalam CSR
telah diatur dalam ISO 26000 dan dapat menjadi acuan dalam
pelaksanaan CSR.
d. Perusahaan tambang skala besar telah banyak yang menerapkan
good mining practise termasuk CSR sedangkan perusahaan
tambang skala kecil belum melaksanakan padahal kerusakan
lingkungan yang ditimbulkannya cukup besar.
REKOMENDASI:
a. CSR seyogyanya dikembalikan pada flosofnya yaitu bertujuan
memberikan kontribusi dan pengembangan masyarakat yang
berkesinambungan namun terintegrasi dengan strategi bisnis
perusahaan (tidak hanya bersifat philanthropic, tetapi merupakan
social investment).
87
b. Sifat industri pertambangan adalah non renewable, high
risk, long term dan slow yielding sehingga program CSR
membutuhkan skema yang spesifk untuk setiap wilayah
dengan mempertimbangan tahapan, jenis dan skala industri
pertambangan.
c. Perlu dikembangkan suatu indeks penilaian pelaksanaan CSR di
perusahaan tambang.
d. Kementerian ESDM diharapkan menetapkan regulasi terkait CSR
perusahaan tambang yang dapat diadaptasi oleh perusahaan
tambang.
e. Diperlukan terobosan baru yaitu mendayagunakan CSR untuk
pengembangan energi baru terbarukan mulai dari skala mikro
sebagai salah satu model pemberdayaan masyarakat dalam
mendukung kebijakan energy mix.
88
BAB V
PENUTUP

Dari Kegiatan Analisis Isu-Isu Sektor ESDM ini dapat disimpulkan
sebagai berikut :
a. Kebijakan subsidi listrik tahun 2013
- Penyesuaian tarif tenaga listrik tahun 2013 sangat diperlukan
agar pendistribusian subsidi listrik lebih tepat sasaran; dana
penghematan subsidi listrik dapat dipakai untuk membangun
infrastruktur;
- Kebutuhan dana untuk pembangunan jaringan dan pembangkit
guna meningkatkan Rasio Elektrifkasi (dari realisasi 2011
sebesar 72,95% dengan target sebesar 77,65% pada tahun
2013) dan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 6,8%
pada tahun 2013;
- Dengan pertumbuhan penjualan listrik sebesar 9%, susut
jaringan 8,5%, dan margin 7%, maka dibutuhkan dana
pengadaan listrik sebesar Rp. 226,91 triliun;
- Dengan kenaikan TTL sebesar 15% pada tahun 2013,
dibutuhkan subsidi tahun berjalan sebesar Rp. 78,63 triliun.
Apabila tidak dinaikkan diperlukan Rp. 93,52 triliun, artinya
mendapat penghematan anggaran sebesar Rp. 14,89 triliun;
- Penerima subsidi terbesar adalah dua golongan; yaitu R1/450
VA dan R1/900 VA (total: 39.180.800 pelanggan) yang
mencapai 53,1% (Rp. 41,76 triliun) dari kebutuhan subsidi
listrik tahun 2013.
- Upaya-upaya yang dilakukan untuk menekan BPP, yaitu
Optimalisasi energi primer untuk pembangkit yaitu dengan
meningkatkan pemanfaatan batubara dan gas bumi. Setiap
peningkatan 1% penggunaan batubara pada bauran energi
untuk menggantikan minyak diperkirakan dapat menghemat
subsidi listrik sebesar Rp. 2,3 T. Dalam hal pemanfaatan gas,
setiap peningkatan 1% pada bauran energi diperkirakan dapat
menghemat subsidi sebesar Rp.2,1 T; Pembangunan FSRU
antara lain di Teluk Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur
dan Jawa Tengah; Program peningkatan efsiensi melalui
penurunan susut jaringan (losses).
89
b. Kebijakan Subsidi BBM
1. Subsidi BBM, BBN, dan LPG tahun 2013 (Kurs Rp. 9.224,36/
US$) :
Volume subsidi BBM dan BBN pada tahun 2013 sesua dengan
nota keuangan sebesar 46,01Juta KL.
Volume LPG 3 Kg sebesar 3,86 Juta MTon
Subsidi Biodiesel (BBN) sebesar Rp 3.000/ liter
Subsidi Bioethanol (BBN) sebesar Rp 3.500/ liter
Subsidi untuk LGV sebesar Rp 1.500/ liter
BBM (Alpha) sebesar Rp 642,64/ liter (Alpha BBM dengan
asumsi ICP: US$ 100/bbl, Kurs Rp. 9.300/US$)
2. Sebesar 25% kelompok rumah tangga dengan penghasilan
(pengeluaran) per bulan tertinggi justru yang menerima alokasi
subsidi yaitu sebesar 77%. Sementara kelompok 25% kelompok
rumah tangga dengan penghasilan (pengeluaran) per bulan
terendah hanya menerima subsidi sekitar 15%.
3. Penyebab terjadinya over kuota yang berlangsung hampir setiap
tahunnya adalah sebagai berikut:
Meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
Program pengaturan BBM bersubsidi yang telah direncanakan
tidak dapat dilaksanakan secara penuh
Terjadinya peningkatan penjualan mobil & motor .
Tingginya disparitas harga BBM bersubsidi dan BBM non
subsidi sehingga terjadi migrasi konsumen dari BBM Non
Subsidi ke BBM Bersubsidi.
4. Upaya pemerintah dalam rangka mengurangi konsumsi BBM
bersubsidi :
Pengalihan Subsidi Harga ke Subsidi Langsung dan Bantuan
Sosial melalui penguatan program-program penanggulangan
kemiskinan.
Pengurangan Volume (Q ) BBM tertentu, dengan cara :
Pengurangan pemakaian Bahan Bakar Minyak Tertentu
- Diversifkasi energi
- Penerapan Sistem Distribusi Tertutup untuk pengguna
tertentu
90
- Insentif dan Disinsentif Fiskal
Pemilihan Harga Patokan BBM yang tepat
- Menekan biaya distribusi BBM
- Menghitung harga keekonomian penyediaan BBM
- Penetapan Harga Jual BBM tertentu sesuai daya beli
pengguna tertentu
c. Kebijakan Ekspor Mineral dan Batubara
- Lahirnya UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara memberikan kepastian hukum kepada semua
pihak, karena dalam proses penyusunannya banyak terkait
dengan tuntutan demokratisasi, otonomi daerah, HAM,
kebutuhan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup, sehingga
sumberdaya mineral dan batubara dapat dimanfaatkan secara
optimal untuk kepentingan bangsa dan negara
- Industri pertambangan mineral dan batubara ditujukan untuk
mendukung kebijakan pemerintah Four Track Strategies
yaitu: Pro Poor, Pro Job, Pro Growth dan Pro Environment)
sehingga terwujud pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara yang bermanfaat, berkeadilan dan keberpihakan
bagi kesejahteraan masyarakat.
- Untuk menjamin keberlanjutan pengolahan dan pemurnian
mineral di dalam negeri pada masa yang akan datang, maka
mutlak untuk dilakukan pengendalian penjualan mineral ke
luar negeri dalam bentuk bijih.
- Permen ESDM No. 7/2012 dan peraturan lainnya sebagai
acuan untuk tata laksananya, menjadi dasar hukum yang kuat
bagi Pemerintah guna mendorong perusahaan melakukan
peningkatan nilai tambah pertambangan mineral melalui
pengolahan dan pemurnian di dalam negeri.
- Fakta bahwa ekspor batubara dari Indonesia yang tidak tercatat
pada data ekspor di Indonesia kemungkinan dapat menjadikan
perbedaan data ekspor batubara yang tercatat di luar negeri
dibandingkan dengan data yang tercatat di Indonesia
- Pada saat ini masih terdapat sejumlah permasalahan yang
perlu menjadi perhatian bersama, diantaranya adalah:
tumpang tindih perizinan, infrastruktur, dll.
- Perlu dukungan semua pihak pemangku kepentingan untuk
mewujudkan peningkatan nilai tambah mineral melalui
kegiatan pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri
91
sesuai amanat UU No 4/2009.
- Prospek usaha pertambangan mineral dan batubara di masa
mendatang masih sangat terbuka sebagai peluang berinvestasi.
Kerjasama internasional diperlukan dalam berbagai kegiatan
pertambangan, seperti eksplorasi, tambang bawah permukaan
(underground mining), pengolahan dan pemurnian mineral,
produk nilai tambah batubara: UBC, pencairan batubara,
gasifkasi, dll).
d. Perkembangan Dan Outlook Ekonomi Indonesia Dan
Implikasinya Pada Kebijakan Energi Nasional.
- Pertumbuhan ekonomi global 2012 diperkirakan mencapai
3,1% dan 2013 mencapai 3,4%.
- Indeks harga ekspor non migas Indonesia (IHEx) Nov 2012
turun 11,9% (yoy) atau turun 2,9% (mom). Tahun 2013, IHEx
diperkirakan akan naik 2% (yoy).
- Di tengah perlambatan global, ekonomi Indonesia cukup
resisten. Pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Indonesia
mencapai 6,3%, paling stabil di dunia dalam 5 tahun terakhir.
Pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih
dalam kisaran 6,3 6,7% dengan faktor pendorong tetap dari
permintaan domestik.
- Selama periode 2002 2012 infasi berdasarkan IHK dan infasi
inti (core infation) menurun secara gradual. Infasi tahun 2012
diperkirakan sedikit lebih rendah dari target sebesar 4,5%.
Pada tahun 2013 infasi diperkirakan 4,8% setelah menghitung
dampak kenaikan TTL 15% (0,39%) dan kenaikan UMP rata-
rata 29% (0,25%).
- Implikasi kebijakan energi pada perekonomian antara lain :
Kebijakan subsidi energi berdampak pada transaksi
berjalan dan stabilitas makroekonomi.
Infasi masih rentan terhadap perubahan kebijakan energi
(BBM dan TTL).
Penyesuaian harga BBM harus memperhatikan waktu dan
magnitude (besaran) untuk mengurangi dampak negatif
jangka pendek terhadap perekonomian.
Permintaan valas Pertamina sering menimbulkan volatilitas
yang berlebihan.
- Kebijakan subsidi BBM mendorong peningkatan konsumsi
BBM karena besarnya gap antara harga BBM subsidi dengan
92
non subsidi. Sementara produksi minyak mengalami trend
yang menurun sehingga mendorong peningkatan impor
produk minyak. Hal ini menambah tekanan terhadap neraca
pembayaran.
- Kebijakan pembatasan BBM bersubsidi untuk mobil pribadi
berdasar kapasitas meesin akan memberikan tambahan
tekanan terhadap infasi dengan besaran yang relatif
moderat. Berdasarkan hasil analisis dampak pembatasan
BBM bersubsidi terhadap mobil pribadi kapasitas >1.500 cc
di wilayah Jabodetabek akan menaikkan infasi pada kisaran
0,14 0,33%. Pada wilayah Jawa-Bali akan menaikkan infasi
pada kisaran 0,13 0,29%, dan total Jawa-Bali berkisar 0,27
0,62%.
- Kenaikan TTL rumah tangga berdampak langsung terhadap
infasi IHK melalui komponen tarif listrik. Kenaikan TTL industri
berdampak tidak langsung terhadap infasi IHK melalui
kenaikan biaya produksi (biaya input).
- Kenaikan harga BBM yang tinggi berdampak pada infasi,
melemahkan keyakinan konsumen dan pertumbuhan PDB.
Kenaikan harga BBM lebih dari 10% pada tahun 2005
menaikkan infasi hingga 17% dan menurunkan PDB pada
tahun 2006.
e. Mencari Terobosan Investasi Panas Bumi Indonesia
- Permen ESDM No. 2 Tahun 2011 tidak sepenuhnya mengadopsi
konsep feed-in tariff karena hanya menetapkan harga patokan
tertinggi pembelian listrik oleh PT PLN sehingga mekarnisme
lelang untuk mendapatkan WKP masih bisa dengan lelang
harga terendah.
- Beberapa pertimbangan terkait penetapan feed-in tariff:
Bagaimana feed-in tariff disusun, bagaimana harga
akan dibedakan mengingat proyek panas bumi sangat
site specifc. Penentuan kelompok harga hendaknya
memerhatikan jenis teknologi, kapasitas proyek, kualitas
resources, status pengembangan (green/existing feld), dan
lokasi/kondisi infrastruktur
Perlu dipikirkan kaitannya dengan UU No. 30 Tahun 2009
tentang Ketenagalistrikan mengingat potensi akan Pasal 33
ayat 2.
93
Bagaimana terkait proses pengusahaan panas buminya
(lelang untuk mendapatkan WKP, mekanisme penugasan
survei pendahuluan) proses lelang migas dapat menjadi
acuan untuk proses lelang WKP karena harga sudah tidak
menjadi faktor penentu.
6. Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan
Tambang Terhadap Masyarakat Sekitar
- Istilah Corporate Social Responsibility (CSR) mulai digunakan
sejak tahun 1970an dan di Indonesia istilah CSR baru digunakan
sejak tahun 1990-an. Sebagian besar perusahaan di Indonesia
menjalankan CSR melalui kerjasama dengan mitra lain, seperti
LSM, perguruan tinggi atau lembaga konsultan.
- Empat sasaran pokok program CSR, antara lain:
Prioritas sektor ekonomi ditunjukkan untuk peningkatan
ekonomi mikro melalui usaha mandiri (home industry) dan
peningkatan belanja lokal.
Prioritas yang diberikan di sektor pendidikan ialah
peningkatan kualitas sumber daya manusia, melalui
bantuan-bantuan sarana pendidikan dan pemberian
beasiswa bagi masyarakat yang kurang mampu.
Pembangunan fasilitas umum/sosial yang bisa dirasakan
langsung oleh masyarakat.
Pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi warga yang tidak
mampu serta perbaikan sarana kesehatan yang sudah ada
- Sektor pertambangan saat ini menyumbang penerimaan
negara cukup tinggi (30%), tetapi tingkat kemiskinan di wilayah-
wilayah pertambangan masih tetap tinggi (13%).
- CSR merupakan kewajiban pembayaran externality cost
industri pertambangan bagi masyarakat setempat.
- Pelaksanaan Good Corporate Governance di dalam CSR
telah diatur dalam ISO 26000 dan dapat menjadi acuan dalam
pelaksanaan CSR.
- Perusahaan tambang skala besar telah banyak yang
menerapkan good mining practise termasuk CSR sedangkan
perusahaan tambang skala kecil belum melaksanakan padahal
kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya cukup besar.
Pengarah
Waryono Karno
Sekretaris Jenderal KESDM
Penanggungjawab
Ego Syahrial
Kepala Pusat Data dan Informasi ESDM
Atena Falahti
Kepala Bidang Kajian Strategis
Ketua
Aang Darmawan
Kepala Sub Bidang Kajian Strategis Energi
Wakil Ketua
Arifn Togar Napitupulu
Kepala Sub Bidang Kajian Strategis Mineral
Koordinator
Agus Supriadi
Anggota
Tri Nia Kurniasih
Aries Kusumawanto
Golfritz Sahat Sihotang
Catur Budi Kurniadi
Ameri Isra
Narasumber
Cecilya Malik
Agus Sugiyono
BPPT
Maya Kalalo
PT PLN (Persero)
TIM PENYUSUN