Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA MAKANAN HALAL

Identifikasi Gelatin dengan Spektroskopi FTIR






Disusun oleh:
Kelompok 2
Sry Wardiyah 1111102000058
Brasti Eka Pratiwi 1111102000061
Rianisa Karunia 1111102000064
Erlin Febriyanti 1111102000069
Fio Noviany 1111102000074
Athirotin Halawiyah 1111102000075
Sutar 1111102000077
Rizza Permana Suci 1111102000082

Farmasi 6 - C

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masalah kehalalan pangan merupakan isu yang sering kali menjadi polemik di
masyarakat. Salah Satu faktor penyebab timbulnya isu ini antara lain adalah kurangnya
perhatian dan pengawasan dari pemerintah terhadap para produsen yang bergerak dalam
bidang pengolahan dan pengadaan bahan pangan. Seiring dengan tingkat pertumbuhan
ekonomi dan pengetahuan masyarakat akan produk pangan yang aman, halal dan
menyehatkan maka semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya produk
halal. Produk halal adalah produk yang diperbolehkan menurut ketentuan hukum islam untuk
dikonsumsi sebagaimana tercantum dalam Al Quran.
Seiring dengan era globalisasi dan pasar bebas telah membawa konsekuensi banyak
makanan dan minuman impor baik yang jelas kehalalannya maupun yang tidak jelas masuk
ke wilayah Indonesia dan beredar di tengah-tengah kita. Terlebih lagi, banyak sekali
produsen industri pangan di dalam negeri yang masih sangat tergantung dengan suplai bahan
baku dan bahan tambahan pangan yang masih harus diimpor dari luar untuk memenuhi
kebutuhan produksinya. Beberapa bahan tambahan (ingredient) yang diimport sebagian besar
masih sangat diragukan kehalalnnya dan tidak mudah mengenali asal bahan tersebut, karena
ketiadaan dokumen sertifikasi halal atau karena kompleksitas dari bahan tersebut. Untuk
itulah diperlukan adanya peraturan dan metode analisa yang jelas, yang dapat menjamin
kehalalan suatu bahan atau produk pangan.
Berdasarkan keharamannya, terdapat tiga kelompok bahan pangan hewani segar yang
diharamkan, salah satunya adalah bagian tubuh yang bisa dimakan (daging, lemak, atau
turunan senyawa lainnya) yang diperoleh dari binatang babi. Kehadiran komponen lemak
babi, serendah apapun kandungannya dalam produk pangan akan membawa makanan
tersebut menjadi haram untuk dikonsumsi. Lemak babi yang dikenal dengan istilah lard,
banyak digunakan dalam processing makanan, terutama sebagai minyak penggoreng atau
sebagai bahan aditif yang dicampurkan dengan minyak nabati dengan tujuan untuk
memperoleh cita rasa (flavor) yang lebih baik dari bahan yang diolah.


Gelatin merupakan salah satu jenis protein konversi yang diperoleh melalui proses
hidrolisis kolagen dari kulit, tulang dan jaringan serat putih (whitefibrous) hewan. Gelatin
termasuk protein yang unik karena mampu membentuk gel yang thermo-reversible dengan
suhu leleh yang dekat dengan suhu tubuh, serta larut dalam air. Dalam industri makanan,
gelatin berfungsi sebagai penstabil, pengental (tickenner), pengemulsi (emulsifier),
pembentuk jeli, pengikat air, pengendap dan pembungkus makanan (edible coating)
(Damanik, 2005). Di bidang farmasi dan medis, gelatin digunakan sebagai matriks untuk
implan pada pemberian injeksi mikrosfer dan infus intravena (Pollack, 1990). Dalam industri
farmasi, gelatin digunakan pada pembuatan cangkang kapsul keras maupun lunak,
pengembang plasma dan perawatan luka. Gelatin yang rendah kalori digunakan dalam bahan
makanan untuk meningkatkan kadar protein. Gelatin juga digunakan untuk mengurangi kadar
karbohidrat dalam makanan dan diformulasikan untuk pasien diabetes. Sumber utama gelatin
adalah dari tulang dan kulit sapi serta babi. Produksi gelatin dari bahan baku kulit babi
mencapai 44%, kulit sapi 28%, tulang sapi 27% dan porsi lainnya 1%, dengan total produksi
dunia mencapai 326.000 ton (GME, 2009). Penggunaan gelatin dari sumber mamalia
memiliki beberapa keterbatasan dan halangan dari aspek religi, sosial dan kesehatan.
Masyarakat Yahudi danmasyarakat Hindu tidak mengonsumsi bahan-bahan dari sapi. Adanya
penyakit Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) atau dikenal sapi gila (mad cow) juga
merupakan kendala pemakaian gelatin dari sapi. Oleh karenanya, pencarian gelatin alternatif
yang tidak bersumber dari babi sangat dibutuhkan (Karim dan Bhat, 2009).
Metode FTIR merupakan sebuah metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi
kehadiran lemak babi dalam bahan pangan secara cepat, konsisten, dan dengan tingkat
akurasi yang bisa diandalkan. Latar belakang penggunaan alat FTIR untuk tujuan ini adalah
karena beberapa peneliti sebelumnya telah berhasil mengembangkan berbagai metode cepat
untuk analisa kualitas minyak dan lemak dengan FTIR sebagai alternatif untuk metode kimia
(wet chemical analyses) di laboratorium yang terkadang rumit, memakan waktu dan biaya
(bahan kimia).
Pemilihan analisa lemak babi dengan menggunakan FTIR juga tak terlepas dari
'kesederhanaan' proses yang perlu dilakukan seorang analis. Alat ini tidak memerlukan
persiapan sampel yang rumit karena baik sampel padat dan cair bisa langsung di-scan untuk
mendapatkan spektrum. Dengan demikian, dari segi biaya, akan sangat menguntungkan
lantaran tidak ada pelarut atau bahan kimia lainnya yang diperlukan. Sampel padat cukup
cukup diblender, sedangkan sampel cair hanya perlu dibuat homogen. Karena tidak


memerlukan bahan kimia apapun, analisa dengan menggunakan FTIR juga dapat dianggap
ramah lingkungan.
Cara kerja FTIR secara umum dapat digambarkan sebagai berikut: sampel di-scan,
yang berarti sinar infra-merah akan dilalukan ke sampel. Gelombang yang diteruskan oleh
sampel akan ditangkap oleh detektor yang terhubung ke komputer yang akan memberikan
gambaran spektrum sampel yang diuji. Struktur kimia dan bentuk ikatan molekul serta gugus
fungsional tertentu sampel yang diuji menjadi dasar bentuk spectrum yang akan diperoleh
dari hasil analisa. Dengan demikian alat ini dapat digunakan untuk pengujian secara kualitatif
dan kuantitatif.

1.2 Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa mampu memahami prinsip kerja spektrofotometer FTIR untuk
mengidentifikasi suatu sampel
2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi perbedaan profil lemak hewani dengan
analisis FTIR.










BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 SPEKTROFOTOMER INFRA MERAH
Berdasarkan namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometer ini berdasar
pada penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi menjadi
infra merah dekat, pertengahan dan jauh. Infra merah pada spektrofotometer adalah infra
merah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000m. Pada
spektrofotometer IR meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun biasanya
lebih kepada analisa kualitatif. Umumnya spektrofotometer IR digunakan untuk
mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa, terutama senyawa organik. Setiap
serapan pada panjang gelombang tertentu menggambarkan adanya suatu gugus fungsi
spesifik. Dasar Spektroskopi Infra Merah dikemukakan oleh Hooke dan didasarkan atas
senyawa yang terdiri atas dua atom atau diatom yang digambarkan dengan dua buah bola
yang saling terikat oleh pegas seperti tampak pada gambar disamping ini. Jika pegas
direntangkan atau ditekan pada jarak keseimbangan tersebut maka energi potensial dari
sistim tersebut akan naik. Setiap senyawa pada keadaan tertentu telah mempunyai tiga
macam gerak, yaitu:
- Gerak Translasi, yaitu perpindahan dari satu titik ke titik lain.
- Gerak Rotasi, yaitu berputar pada porosnya, dan
- Gerak Vibrasi, yaitu bergetar pada tempatnya.
Bila ikatan bergetar, maka energi vibrasi secara terus menerus dan secara periodik
berubah dari energi kinetik ke energi potensial dan sebaiknya. Jumlah energi total adalah
sebanding dengan frekuensi vibrasi dan tetapan gaya (k) dari pegas dan massa ( m1) dan
(m2) dari dua atom yang terikat. Energi yang dimiliki oleh sinar infra merah hanya
cukup kuat untuk mengadakan perubahan vibrasi. Prinsip dari spektrofotometer IR
adalah ketika suatu molekul dari suatu senyawa diberikan energi radiasi inframerah,
maka molekul tersebut akan mengalami vibrasi dengan syarat energi yang diberikan
terhadap molekul cukup untuk mengalami vibrasi. Macam macam vibrasi ada 2 yaitu ada
vibrasi regangan atau sterching dan vibrasi bending. Vibrasi streching ada dua tipe yaitu


streching asimetris dan stretching simetris. Perbedaannya, streching simetris merupakan
perubahan panjang ikatan menjadi lebih panjang atau lebih pendek namun tidak
menyebabkan perubahan momen dipol (momen dipol 0) sehingga tidak IR aktif.

2.1.1 Parameter Kualitatif
Spektrofotometer IR dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu senyawa.
Yang menjadi parameter kualitatif pada spektrofotometer IR adalah bilangan
gelombang dimana muncul akibat adanya serapan oleh gugus fungsi yang khas dari
suatu senyawa. Namun jika hanya daerah gugus fungsi saja tidak dapat digunakan
untuk menganalisis identitas senyawa. Pada umumnya identifikasi suatu senyawa
didasarkan oleh vibrasi bengkokan, khususnya goyangan (rocking), yaitu yang
berada di daerah bilangan gelombang 2000 400 cm-1. Karena di daerah antara
4000 2000 cm-1merupakan daerah yang khusus yang berguna untuk identifkasi
gugus fungsional. Daerah ini menunjukkan absorbsi yang disebabkan oleh vibrasi
regangan. Sedangkan daerah antara 2000 400 cm-1 seringkali sangat rumit,
karena vibrasi regangan maupun bengkokan mengakibatkan absorbsi pada daerah
tersebut. Dalam daerah 2000 400 cm-1 tiap senyawa organik mempunyai
absorbsi yang unik, sehingga daerah tersebut sering juga disebut sebagai daerah
sidik jari (fingerprint region). Daerah finger print ini untuk setiap senyawa tidak
akan ada yang sama sehingga merupakan identias dari suatu senyawa. Berikut
adalah contoh serapan yang khas dari beberapa gugus fungsi :
Gugus Jenis Senyawa Daerah Serapan (cm
-1
)
C-H Alkana 2850-2960, 1350-1470
C-H Alkena 3020-3080, 675-870
C-H Aromatik 3000-3100, 675-870
C-H Alkuna 3300
C=C Alkena 1640-1680
C=C aromatik (cincin) 1500-1600


C-O Alkohol, eter, asamkarboksilat, ester 1080-1300
C=O Aldehid, keton, asam karboksilat, ester 1690-1760
O-H alkohol, fenol(monomer) 3610-3640
O-H alkohol, fenol (ikatan H) 2000-3600 (lebar)
O-H asam karboksilat 3000-3600 (lebar)
N-H Amina 3310-3500
C-N Amina 1180-1360
-NO
2
Nitro 1515-1560, 1345-1385

2.1.2 Prinsip
- Penyerapan sinar IR oleh molekul/ ikatan yang bervibrasi
- Penyerapan sinar IR menyebabkan berubahnya frekuensi vibrasi
- Sinar yang diserap karakteristik untuk setiap ikatan



2.1.3 Cara Kerja FTIR






2.1.4 Instrumen FTIR

Dua jenis instrumen yang biasa digunakan untuk memperoleh spektrum IM :
instrumen dispersif, yang menggunakan suatu monokromator untuk memilih
masing-masing bilangan gelombang secara berurutan untuk memantau
intensitasnya setelah radiasi telah melewati sampel, dan instrumen transformasi
Fourier, yang menggunakan suatu interferometer. Instrumen transformasi Fourier
menghasilkan sumber radiasi dengan masing-masing bilangan gelombang dapat
dipantau dalam 1 detik pulsa radiasi tanpa memerlukan dispersi.



Penyusunan optik yang sebenarnya jauh lebih rumit daripada diagram di atas,
tapi diagram tersebut menunjukkan bagian-bagian komponen penting untuk suatu
instrumen IM dispersif. Filamen yang digunakan terbuat dari oksida logam, seperti
oksida zirkonium, itrium, dan torium, dan dipanaskan untuk memancarkan cahaya
di udara. Sampel tersebut terdapat dengan berbagai cara di dalam cakram atau sel
yang terbuat dari halida logam alkali. Jika cahaya telah melewati sampel, cahaya
tersebut didispersikan sehingga satu bilangan gelombang atau sedikit bilangan
gelombang dapat dipantau secara berurutan dengan detektor yang melintasi rentang
spektrum tersebut.
Dalam suatu instrumen IM transformasi Fourier (Fourier transform infrared,
FT-IR), prinsipnya sama kecuali bahwa monokromator digantikan oleh suatu
interferometer. Interferometer menggunakan cermin bergerak untuk memindahkan
bagian radiasi yang dihasilkan oleh suatu sumber, sehingga menghasilkan suatu
interferogram, yang dapat diubah dengan menggunakan suatu persamaan yang
disebut transformasi Fourier untuk mengekstrasi spektrum dari suatu seri
frekuensi yang bertumpang tindih.

Keuntungan teknik ini adalah bahwa seluruh hasil pindai spektrum dapat
diperoleh dalam waktu 1 detik, dibandingkan dengan 2-3 menit yang diperlukan
agar suatu instrumen dispersif mendapatkan satu spektrum. Selain itu, karena
instrumen tersebut dihubungkan pada komputer, beberapa hasil pindai spektrum
dapat diambil dan dihitung rata-ratanya untuk memperbaiki rasio sinyal: derau
untuk spektrum tersebut (signal-to-noise) dan resolusi yang spesifik.



2.1.5 Kalibrasi Instrumen
Untuk memastikan bahwa instrumen-instrumen sesuai dengan spesifikasi BP,
skala panjang gelombang pada instrumen diperiksa dengan mendapatkan spektrum
IM selaput tipis polistiren.

Beberapa pita yang digunakan untuk memeriksa akurasi skala panjang
gelombang suatu spektrofotometer IM ditunjukkan pada gambar di atas. Toleransi
yang diperbolehkan untuk variasi dalam panjang gelombang serapan, terutama
0,3 nm. Dua pita tersebut yang berada pada 907 cm
-1
, 1028 cm
-1
, 1495 cm
-1
, atau
1601 cm
-1
(biasanya 1028 dan 1601 cm
-1
) menutupi spektrum BP standar untuk
menunjukkan bahwa spektrum tersebut telah diperoleh dengan instrumen yang
telah dikalibrasi dengan baik. Selain itu, penetapan toleransi untuk skala panjang
gelombang BP menetapkan derajat resolusi yang harus dapat dicapai oleh
instrumen tersebut, misalnya maksimum pada 2849,5 cm
-1
dan minimum pada
2870 cm
-1
harus memiliki daerah lembah di antaranya sebesar 18% transmitans.
Pada spektrum di atas, daerah lembah antara maksimum dan minimum pada kedua
panjang gelombang ini adalah 25% transmitans. Selain itu, perbedaan antara
persentase transmitans pada transmisi maksimum pada 1589 cm
-1
dan transmisi
minimum pada 1583 cm
-1
harus lebih besar daripada 12.




2.2 GELATIN
Gelatin adalah suatu polipeptida larut berasal dari kolagen, yang merupakan
konstituen utama dari kulit, tulang, dan jaringan ikat binatang. Gelatin diperoleh melalui
hidrolisis parsial dari kolagen. Ketika kolagen diperlakukan dengan asam atau basa dan
diikuti dengan panas, struktur fibrosa kolagen dipecah ireversibel menghasilkan gelatin
(Zhou dan Regenstein, 2004, 2005). Tingkat konversi kolagen menjadi gelatin
berhubungan dengan tingkat kerusakan dari perlakuan pra- dan proses ekstraksi, pH,
suhu dan waktu ekstraksi (Johnston-Banks, 1990).
Gelatin merupakan salah satu bahan yang paling banyak digunakan dalam farmasi
dan industri makanan. Penggunaan di bidang pangan antara lain untuk produk permen,
coklat, hasil olahan susu, es krim dan produk daging. Dalam produk pangan gelatin
digunakan karena kemampuannya sebagai penstabil dan pengemulsi. Sebagai pengeulsi
artinya dapat mencampur bahan air dan minyak secara merata. Sebagai pesntabil artinya
gelatin dapat menstabilkan campuran tersebut. Gelatin juga digunakan dalam produk
kosmetik.
Sumber gelatin antara lain kulit dan tulang mamalia Selain itu, gelatin juga bisa
didapatkan dari ikan laut. Permintaan gelatin telah meningkat selama bertahun-tahun.
Laporan terkini mengindikasikan produksi gelatin dunia mendekati angka 326.000 ton
per tahun, dimana gelatin dari kulit babi sebesar 46%, dari kulit sapi sebesar 29,4%, dari
tulang sapi sebesar 23,1%, dan dari sumber lain sebesar 1,5% (Karim, 2009).Saat ini,
gelatin di Indonesia kebanyakan diimpor dari luar negeri. Negeri pengimpor terbesar
antara lain dari Eropa dan Amerika dengan jumlah sekitar 2000-3000 ton per tahun.
Proses pembuatan gelatin sendiri terbagi menjadi dua:
a. Proses asam, menghasilkan produk gelatin tipe A. Dalam proses ini, bahan
baku diberi perlakuan berupa perendaman dengan asam anorganik seperti
asam klorida, asam sulfat, asam fosfat dan lain-lain
b. Proses basa, menghasilkan produk gelatin tipe B. Bahan baku diberi
perlakuan berupa perendaman dengan air kapur.
Secara umum, ada tiga tahapan dalam ekstraksi gelatin:


1. Persiapan bahan baku, dengan menghilangkan materi non kolagen dari
bahan baku dengan atau tanpa mengurangi ikatan antar kolagen
2. Konversi kolagen menjadi gelatin
3. Pemurnian serta perolehan gelatin menjadi bentuk kering.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses demineralisasi yang efektif yaitu
selama 10 hari. Sedangkan kombinasi konsentrasi terbaik adalah HCl 4 % dan Ca(OH)2
10 %. Pada kombinasi ini rendemen gelatin yang dihasilkan adalah 7,38 %-10,52 %.
Bila dibandingkan pproses basa, proses asam lebih menguntungkan untuk produksi
gelatin, dilihat dari waktu perendaman. Hal ini karena dalam waktu yang lebih singkat,
perendaman menggunakan asam dapat melepaskan struktur dan ikatan kolagen lebih baik
daripada proses basa pada perendaman tulang selama 8 minggu.
Pada prakteknya terdapat banyak cara untuk memproduksi gelatin meski prinsip
yang digunakan sebenarnya sama.Perbedaan yang ada adalah dari sisi konsentrasi asam,
basa, suhu dan waktu ekstraksi, lama perendaman, suhu dan waktu pemanasan serta
bahan kimia yang digunakan.













BAB III
METODOLOGI

3.1 Metode Uji Gelatin Babi Murni Pada FTIR
A. Alat :
- Timbangan digital
- Beaker gelas
- Pipet ukur
- water bath
- Batang pengaduk
- Pipa kapiler
- Seperangkat alat FTIR
B. Bahan :
- Gelatin babi murni
- Aquadest
C. Prosedur kerja :
1. Ditimbang 100 mg gelatin babi dengan gelas beaker 50 ml. Lalu larutkan
dengan air panas 5 ml pada suhu 30
o
C, dan dihomogenkan hingga larut
sempurna.
2. Bersihkan perangkat instrumen FTIR dengan aseton, lalu teteskan larutan
gelatin ke alat FTIR. Kemudian diratakan hingga menyebar sempurna di
alatnya.
3. Dimasukkan ke dalam pendeteksi instrument FTIR.

3.2 Metode Uji Sampel Pada FTIR
A. Alat :
- Timbangan digital
- Beaker gelas


- Pipet ukur
- Water bath
- Batang pengaduk
- Pipa kapiler
- Vortex
- Batang pengaduk
- Tabung reaksi
- Seperangkat alat FTIR
B. Bahan :
- Cangkang kapsul hobat
- Aquadest
- Aseton
C. Prosedur kerja :
Pembuatan sampel
- Ambil kapsul hobat, pisahkan cangkang kapsul dengan isinya
- Cangkang kapsul ditimbang sebanyak 2 gram
- Masukkan ke dalam beaker glass 250 ml, larutkan dalam 5 ml aquadest
- Ambil 1 ml larutan masukkan kedalam tabung kaca untuk di vortex,
tambahkan aseton 4 ml, setelah itu divortex, lalu di diamkan selama 1hari.
Preparasi sampel
- Sampel yang telah mengendap, diambil endapan gelatinnya yang
berwarna putih, dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, bila didapatkan
gelatin yang belum berwarna putih dan aseton masih berwarna maka
tambahkan kembali aseton, dan kembali di vortex. Hal ini dilakukan
berulang kali sampai terdapat gelatin putih dan aseton berwarna jernih.
- Kemudian endapan dilarutkan dengan air panas sebanyak 6 ml, dan di
aduk hingga larut secara sempurna.
- Lalu dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat FTIR.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

Spektrum gelatin babi dan sapi




Perbedaan pada peak
Peak (cm-1)
Nomor Peak Sapi Babi
6 2326.7 1633.41
7 1633.41 1556.27






Spektrum Babi dan Soft capsul




Spektrum soft capsul dan ikan (berdasarkan jurnal)


A
B








4.2 PEMBAHASAN

Gelatin mengandung polipeptida dengan berat molekul yang besar dan
merupakan turunan dari kolagen, merupakan komponen protein utama pada jaringan
hewan. Gelatin mengandung asam amino yang terbatas seperti His, Ile, Met dan Trp.
FTIR merupakan salah satu metode teknik spektroskopik yang sudah banyak
digunakan untuk menganalisis produk makanan yang bersifat sensitive, non desktruktif,
A B
A
B
Spektrum Gelatin Ikan
A
B


dan mudah digunakan. Praktikan menggunakan sampel soft kapsul, gelatin sapi, dan
gelatin babi dengan spectrum dari 4000 sampai 400 cm-1.
Pada praktikum kali ini kami membuat standar gelatin sapi dan babi, serta
menguji sampel yang mengandung gelatin. Pembuatan standar babi dan sapi dilakukan
dengan cara menimbang 100 mg gelatin standar dan dilarutkan dalam 5 ml air hangat
(60-70C). Penggunaan air hangat ini adalah agar gelatin dapat terlarut sempurna.
Kemudian larutan standar diambil sebanyak 1 tetes pipa kapiler dan diteteskan ke
sampel holder, yang sebelumnya sudah dibersihkan dengan aseton. Kemudian dideteksi
dan dianalisa hasil spektrum tersebut.
Pada preparasi sampel, kami menggunakan sampel soft capsule Habbatussauda.
Pertama kali, dipisahkan cangkang kapsul dengan isinya. Kemudian cangkang kapsul
ditimbang sebanyak 2 gram dan dilarutkan dengan 5 ml aquadest (sampai larut).
Larutan sampel kemudian diambil sebanyak 1 ml dan dilarutkan dengan aseton dingin
4. Pemberian aseton ini adalah untuk membilas sampel yang berwarna dan membentuk
endapan sampel. Kemudian larutan tadi divortex selama 5 menit dan dimasukkan ke
dalam freezer selama 24 jam. Selanjutnya, endapan sampel diambil dan dimasukkan ke
dalam tabung reaksi. Jika sampel masih belum bening dan jernih atau masih berwarna,
bisa ditambahkan aseton kembali dan divortex. Hal ini dilakukan berulang-ulang
sampai bening, kemudian endapan yang terbentuk dilarutkan dengan menggunakan air
panas secukupnya sampai terlarut sempurna. Lalu diaplikasikan ke FTIR. Namun pada
saat pelarutan sampel dengan air hangat, sampel kami tidak bisa terlarut dengan
sempurna, sehingga larutan sampel tadi kami vortex dan diambil supernatannya untuk
diaplikasikan ke FTIR.
Povine (babi)
No. Spektrum IR (cm
-1
) Senyawa
1 3458,71 OH
2 3443,28 OH
3 3417,24 OH
4 2358,52 CN
5 2339,23 CN
6 1633,41 Aromatik


Bovine (sapi)
No. Spektrum IR (cm
-1
) Senyawa
1 3458,71 OH
2 3439,42 OH
3 3416,28 OH
4 2362,37 CN
5 2337,3 CN
6 2326,7 CN
7 1633,41 Aromatik

Sampel soft capsule Habbatussauda
No. Spektrum IR (cm
-1
) Senyawa
1 3431,71 OH
2 1650,77 Aromatik
3 1644,02 Aromatik
4 1421,28 Alkena
5 1364,39 NO
2

6 924,7 Alkena
7 674,963 Alkena

Spektrum peak standar gelatin sapi dan babi
Peak (cm-1)
Nomor Peak Sapi Babi
6 2326.7 1633.41
7 1633.41 1556.27

Pada hasil menunjukan adanya kemiripan pada peak gelatin sapi dan gelatin babi,
namun muncul perbedaan pada peak nomor 6 dan nomor 7. Perbedaan lain adalah pada
sapi terdapat 15 peak yang muncul, sedangkan pada babi hanya ada 14 peak yang
muncul, yaitu perbedaan pada peak nomor 6 pada gelatin sapi. Hal ini menunjukan
bahwa hanya sedikit sekali perbedaan gelatin babi dan sapi.


Dari hasil di atas, terlihat perbedaan antara gelatin babi dan sapi yaitu pada
spektrum ke 6 dan 7. Pada gelatin sapi spektrum ke 6, itu pada 2326,7 cm
-1
merupakan
senyawa CN. Sedangkan pada gelatin babi spektrum ke 6, pada 1633,41 cm
-1

merupakan senyawa aromatik.
Sedangkan bila dibandingkan antara peak babi dan soft capsul, terdapat
perbedaan yang cukup besar, begitu pula apabila dibandingkan dengan gelatin sapi.
Pada gelatin babi ada 14 peak yang muncul, sedangkan pada gelatin soft capsul hanya
ada 10 peak yang muncul. Kemiripan peak muncul pada peak nomor 1 yaitu peak
nomor 3458.71 cm
-1
(O-H) dan pada sampel 3431.71 cm
-1
(O-H). Hal ini menunjukan
bahwa adanya senyawa sama pada kedua gelatin tersebut, karena keduanya muncul
pada range 3400 cm
-1
. Hal ini menunjukan bahwa soft capsul tidak menggunakan
gelatin babi, melainkan menggunakan sumber lain, yaitu seperti tulang ikan, udang atau
rumput laut.
Pada sampel, tidak ditunjukkan perbedaan maupun persamaan dengan kontrol
gelatin sapi dan gelatin babi. Berdasarkan jurnal yang kami dapatkan, hasil spektrum
sampel terlihat mirip dengan spektrum gelatin ikan.
Praktikan membandingkan dengan jurnal yang didapat, spektrum yang dihasilkan
dari praktikum bukan merupakan gelatin sapi atau gelatin babi, melainkan
menggunakan gelatin ikan. Hal ini ditunjukan dari kemiripan spectrum antara soft
capsul dengan spectrum gelatin ikan pada jurnal. Kemiripan peak ditunjukan pada peak
poin A (gambar hasil) 3431.71 cm-1 dan pada sampel ikan 3434 cm -1, yaitu senyawa
O-H. Lalu pada poin B 1650.77 cm-1 dan sampel ikan 1650 cm-1, yaitu C=O stretch.
Dari hasil ini dapat di prediksi soft capsul yang digunakan menggunakan bahan dasar
ikan, namun hal ini tidak dapat dipastikan karena membutuhkan analisa lebih lanjut
untuk memastikan hal tersebut dan tidak adanya spectrum standar ikan untuk
membuktikannya.






B


BAB V
KESIMPULAN


Praktikan menggunakan sampel soft kapsul, gelatin sapi, dan gelatin babi dengan spectrum
dari 4000 sampai 400 cm
-1
.
Sampel yang digunakan adalah soft capsule Habbatussauda.
Terdapat kemiripan pada peak gelatin sapi dan gelatin babi, namun muncul perbedaan
pada peak nomor 6 dan nomor 7. Perbedaan lain adalah pada sapi terdapat 15 peak yang
muncul, sedangkan pada babi hanya ada 14 peak yang muncul.
Pada gelatin sapi spektrum ke 6, itu pada 2326,7 cm
-1
merupakan senyawa CN.
Sedangkan pada gelatin babi spektrum ke 6, pada 1633,41 cm
-1
merupakan senyawa
aromatik.
Sedangkan bila dibandingkan antara peak babi dan soft capsul, terdapat perbedaan yang
cukup besar, begitu pula apabila dibandingkan dengan gelatin sapi. Pada gelatin babi ada
14 peak yang muncul, sedangkan pada gelatin soft capsul hanya ada 10 peak yang muncul.
Kemiripan peak muncul pada peak nomor 1 yaitu peak nomor 3458.71 cm
-1
(O-H) dan
pada sampel 3431.71 cm
-1
(O-H)
Setelah membandingkan dengan jurnal yang didapat, spektrum yang dihasilkan dari
praktikum bukan merupakan gelatin sapi atau gelatin babi, melainkan menggunakan
gelatin ikan. Kemiripan peak ditunjukan pada peak poin A (gambar hasil) 3431.71 cm-1
dan pada sampel ikan 3434 cm -1, yaitu senyawa O-H. Lalu pada poin B 1650.77 cm-1
dan sampel ikan 1650 cm-1, yaitu C=O stretch.









DAFTAR PUSTAKA

Muyonga, J.H., Cole, C.G.B, dkk. 2004. Fourier transform infrared (FTIR) spectroscopic
study of acid soluble collagen and gelatin from skins and bones of young and adult Nile
perch (Latesniloticus). Food Chemistry.Vol 86 issue 3, page 325-332
Stuart, Barbara. 2004. Infrared Spectroscopy Fundamentals and application. New
york: wiley and son Ltd.
Thermo nicolet cooperation. 2001. Introduction To Fourier Transform Infrared
Spectrometry. USA: Thermo nicolet.
Watson, David G. 2009. AnalisisFarmasi: Buku Ajar untuk Mahasiswa Farmasi dan
Praktisi Kimia Farmasi. Jakarta: EGC.




















PEMBUATAN LARUTAN STANDAR









Siapkan alat dan
bahan yang
digunakan
Timbang standar
gelatin babi
Panaskan air untuk
melarutkan standar
Larutkan standar
dengan air yang telah
dipanaskan
Siapkan aseton di
becker glass
Bersihkan wadah
sampel FTIR dengan
aseton, lalu keringkan
Teteskan larutan
sampel dengan pipa
kapiler, keringkan
Masukkan wadah
sampel ke FTIR,
running alat


PEMBUATAN SAMPEL









Bersihkan wadah
sampel dengan
aseton, keringkan
Timbang sampel yang
mengandung gelatin
Siapkan air untuk
melaurtkan sampel
Setelah sampel
terlarut sempurna,
ambil 1 ml sampel
Masukkan ke tabung
vortex lalu
tambahkan 4 ml
aseton dingin
Vortex sampai terjadi
presipitasi
Terlihat presipitasi
sampel
Tambahkan dengan
air panas, sentrifuge
Teteskan larutan sampel
dengan pipa kapiler, keringkan,
masukan ke FTIR, running