Anda di halaman 1dari 3

Pasangan Gatot-Eri Gagal Memimpin Sumut :

Baru Setahun Memimpin, Penduduk Miskin di Desa dan Kota Bertambah


Medan-ORBIT : Gawat!, baru setahun Gatot Pujo Nugroho memimpin
Sumatera Utara, jumlah penduduk miskin di daerah ini bertambah. Data dan fakta
yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut terjadi pertambahan penduduk
miskin, sehingga pasangan Gatot-Eri dianggap gagal memimpin daerah ini, dan
gagal menjadi pimpinan.

Ironisnya, dengan data ini, bukannya politisi ini malu dengan data tersebut, lalu
mengajukan pengunduran diri. Malah dengan data yang ada ini, ia malah
sepertinya akan menjadikan tahun ini sebagai tahun kerja keras.

"Angka kemiskinan ini harus dijadikan cambuk, segera lakukan perbaikan. Saya
minta semua jajaran untuk memulai tahun ini dengan kerja keras. Harus ada
perbaikan, mari saling mengingatkan supaya bisa semangat!" kata Gatot pada suatu
kesempatan memimpin apel perdana di tahun 2014, Senin (6/1) lalu.

Menurut BPS Sumut, hingga September 2013 penduduk miskin di Sumatera Utara
bertambah 51.600 jiwa menjadi 1.390.800 jiwa dibanding hingga Maret 2013 yang
jumlahnya hanya sekitar 1.339.200 jiwa. Pertambahan jumlah penduduk miskin
tersebut terjadi baik di pedesaan maupun perkotaan.
Ini jelas menunjukkan , APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Sumatera
Utara (Sumut) tahun 2013 digunkan bukan untuk mensejahterakan masyarakat,
tapi digunakan hanya untuk kepentingan diri sendiri pejabat yang berkuasa di
daerah ini, terutama pejabat di daerah.
Bayang aja, kata Kepala Divisi Advokasi FITRA (Forum Indonesia untuk
Transparansi Anggaran) Sumut kepada Harian Orbit, Selasa (7/1), belanja
pegawai pada Tahun Anggaran (TA) 2013 saja rata rata mencapai 51%. Namun
kinerja anggaran pemerintah kabupaten/kota di Sumut, menunjukan tak
memuaskan.
Besarnya belanja pegawai, kata Irvan, tak sebanding dengan pengelolaan anggaran
daerah yang diperuntukan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Ini
menunjukan buruknya kinerja pemerintah kabupaten/kota dalam penyerapan
anggaran dan dalam menyusun prioritas alokasi anggaran.
Alokasi belanja urusan pendidikan untuk pemerintah kabupaten/kota di Sumatera
Utara mendapat porsi pertama dengan rata-rata mencapai 35%. Itu pun banyak
diragukan penggunaannya. Lihat aja di Dinas Pendidikan Sumut, segudang kasus
dugaan korupsi belum tuntas-tuntas, tegasnya.
Selain itu, tegas Irvan, belanja urusan pemerintahan umum dari seluruh
kabupaten/kota mendapat porsi kedua, rata-rata sebesar 19,2%, padahal belanja
pegawai sudah mencapai 51%. Ini kan luarbiasa, kemana saja digunakan,
tegasnya.
Sedang belanja urusan pekerjaan umum dan urusan kesehatan hanya mendapat
prioritas ketiga dan keempat dengan alokasi anggaran rata-rata sebesar 16,8% dan
10,1%. Berarti, tegasnya, ini menunjukkan, pemerintah daerah di seluruh
kabupaten/kota masih mementingkan kebutuhan diri sendiri daripada
mensejahterakan rakyatnya.
Dari data ini, menunujukkan, kegagalan politis PKS itu memimpin daerah ini,
apalagi mengawasi penggunaan anggaran. Wajar bila infrastruktur di Sumut
banyak yang hancur. Bukan karena tak memilki dana, akan tetapi tak menjadi
prioritas utama dilakukan pemerintah daerah, dan ujung-ujungnya banyak yang
diduga dikorupsi.
Irvan menambahkan, Pelayanan publik, nyatanya masih jauh dari standar
pelayanan minimal. Ada sinyalemen bahwa dalam tata kelola pelayanan publik,
korupsi didesain secara sistematis sejak pada tahapan perencanaan dan
penganggaran.
Selain itu, tak terakomodasinya kepentingan masyarakat marjinal terhadap
kebutuhan dasar pelayanan publik di Sumatera Utara. Penyelengaraan pelayanan
publik banyak melanggar prinsip integritas dan akuntabilitas yang dilakukan
dengan prinsip ekonomi biaya tinggi, sehingga terjadi diskriminasi dalam
tatakelola pelayanan publik.
Jika alokasi anggaran tahun 2013 masih diprioritaskan untuk belanja pegawai
bukan untuk mensejahterakan masyarakat di Sumatera Utara, pantas penduduk
miskin di daerah ini bertambah. Karena, pengentasan kemiskinan di Sumatera
Utara hanya jargon belaka.
Bertambahnya penduduk miskin di daerah ini, dikuatirkan pula ke depan akan
dijadikan ajang untuk melakukan korupsi. Seolah-olah membantu penduduk
miskin, tapi anggarannya dikuatirkan diselewengkan. Pemimpin semacam ini, kata
Irvan, sudah sepantasnya mundur, bukan malah bangga dengan adanya
pertambahan penduduk miskin.
Salahsatu penyebab terjadinya peningkatan angka kemiskinan di Sumut, tidak
terlepas kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap masyarakatnya. Program
pengentasan kemiskinan dengan membuka lapangan kerja, biaya pendidikan dan
berobat gratis merupakan janji-janji kepala- kepala daerah sewaktu kampanye
pillkada. Namun setelah dilantik, janji tersebut mereka lupakan.
Irvan kembali menegaskan, bila melihat postur APBD 33 kabupaten/kota tahun
2013 yang lalu, ternyata APBD 33 kabupaten/kota se-Sumatera Utara tahun 2013
bukan untuk mensejahterakan masyarakat, tapi digunakan hanya untuk
kepentingan diri sendiri. Awas, jangan sampai terjadi revolusi rakyat, ujarnya.
Melihat fakta di lapangan, Irvan pesimis dengan upaya meminimalisir korupsi ke
depan, bahkan ia kuatir, kejahatan korupsi bakal menjadi-jadi, dan sepertinya
elemen hukum apalagi pejabat penyelengara negara ini, enggan mencanangkan
pemberantasan korupsi. Untungnya masih ada KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi) yang diharapkan rakyat bisa berperan banyak untuk membersihkan
mafia korupsi di tubuh pemprov dan pemkab/pemko yang diduga ke depan
sudah membuat strategi khusus, mengemas bagaimana caranya para koruptor
bisa lolos dari undang-undang tindak pidana korupsi, pungkas Irvan.Om-14.