Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM PEMBUATAN TABLET

DENGAN BAHAN AKTIF TUNGGAL


MENGGUNAKAN METODA GRANULASI BASAH
| TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN SOLID
00.49 Granulasi Basah, Laporan Praktikum, Pembuatan Tablet, Teknologi Formulasi Sediaan Solid


PEMBUATAN TABLET DENGAN BAHAN AKTIF
TUNGGAL MENGGUNAKAN
"METODA GRANULASI BASAH"



I. Tujuan
1. Mengetahui cara pembuatan tablet dengan metode granulasi basah
2. Melakukan uji Quality Control (QC) terhadap tablet

II. Prinsip
1. Metode granulasi basah
Metode granulasi basah yaitu proses pencampuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi
partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat
sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi

2. Evaluasi tablet berdasarkan standar quality control (QC)
a. Kemampuan alir dan sudut istirahat
b. Kompresibilitas
c. Kadar air (loss on drying)
d. Waktu hancur
e. Kekerasan
f. Friabilitas

III. Teori
Kaplet (kapsul tablet) adalah bentuk tablet yang dibungkus dengan lapisan gula dan
biasanya diberi zat warna yang menarik. Bentuk dragee ini selain supaya bentuk tablet lebih
menarik juga untuk melindungi obat dari pengaruh kelembapan udara atau untuk melindungi
obat dari keasaman lambung. Kaplet pun merupakan sedian padat kompak dibuat secara
kempa cetak, bentuknya oval seperti kapsul.
Kelebihan dan Kekurangan Kaplet :
a. Kelebihan :
- Bentuk tablet lebih menarik
- Kaplet mungkin mudah digunakan untuk pengobatan tersendiri dengan bantuan segelas air

b. Kekurangan :
- Kaplet dan semua obat harus disimpan diluar jangkauan anak-anak untuk menjaga kesalahan
karena menurut mereka kaplet tersebut adalah permen
- Orang yang sukar menelan atau meminum obat.
Kaplet salah satu sediaan padat yang termasuk kedalam bentuk tablet. Menurut
Farmakope Indonesia III, 1979, tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa
cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung,
mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang
digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat
pembasah, atau zat lain yang cocok ( Departemen Kesehatan RI, 1979). Sedangkan
Farmakope Indonesia IV, 1995, menyatakan bahwa tablet merupakan sediaan padat
mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi (Departemen Kesehatan RI, 1995 ).
Sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak digunakan dalam industri
farmasi dibandingkan dengan bentuk sediaan yang lain, seperti; kapsul, granul, dan pil.
Menurut Lachman, 1994, hal ini dikarenakan tablet memiliki beberapa keuntungan antara
lain:
a. Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat sehingga memudahkan pengemasan,
penyimpanan dan pengangkutan.
b. Mengandung zat aktif yang tepat.
c. Sediaan tablet adalah kering sehingga zat aktif lebih stabil.
d. Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah yang besar dengan volume yang kecil.
e. Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut air.
f. Pelepasan zat aktif dapat diatur.
g. Tablet dapat disalut untuk melindungi zat akti, menutup rasa dan bau yang tidak enak.
h. Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana dan cepat sehingga biaya produksinya lebih
rendah.
i. Pemakaian oleh penderita lebih mudah ( Lachman, 1994 ).
Tablet dibuat terutama dengan cara mengempa massa kempa yang mengalir dari corong
ke sisi pengisi lalu ke lubang kempa kemudian dikempa menjadi massa yang kompak atau
secara singkat dapat dikatakan bahwa tablet yang dibuat secara kempa (kompresi),
menggunakan mesin yang mampu menekan bahan bentuk serbuk atau granul dengan
menggunakan berbagai bentuk atau ukuran punch dan die (Lachman, 1994).
Pada umumnya metode pembuatan tablet dengan cara granulasi. Granulasi merupakan
suatu proses membesarkan ukuran partikel-partikel kecil serbuk yang terikat satu sama lain
menjadi besar yang dapat mengalir bebas. Tujuan granulasi adalah membuat massa mengalir
bebas, memadatkan campuran bahan, membuat campuran seragam yang tidak memisah,
memperbaiki karakteristik kompresibilitas dari zat aktif, mengendalikan kecepatan pelepasan
zat aktif dari sediaan, mebgurangi debu dan meningkatkan penampilan tablet (Lachman,
1994).
Granulasi dibagi menjadi dua metode, yaitu metode granulasi basah dan granulasi
kering. Selain metode granulasi, tablet juga dapat dibuat dengan metode kompresi langsung.
Berikut merupakan penjelasan singkat dari ketiga macam metode tersebut :
a. Granulasi Basah
Granulasi basah yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi
partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat
sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi. Metode ini biasanya digunakan
apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit
dicetak langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsip dari metode
granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan larutan pengikat teretentu sampai
mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah tersebut
digranulasi (Lachman, 1994).
b. Granulasi Kering
Granulasi kering disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat aktif dan eksipien
dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat yang selanjutnya dipecah
lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk semula
(granul). Prinsip dari metode ini adalah membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan
pengikat dan pelarut, ikatannya didapat melalui gaya. Teknik ini yang cukup baik, digunakan
untuk zat aktif yang memiliki dosis efektif yang terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau
zat aktif yang sensitif terhadap pemanasan dan kelembaban (Lachman, 1994).
c. Metode Kempa Langsung
Kempa langsung yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat
aktif dan eksipien kering.tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini
merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat pengerjaannya, namun hanya dapat
digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan
terhadap panas dan lembab. Ada beberapa zat berbentuk kristal seperti NaCl, NaBr dan KCl
yang mungkin langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat aktik tidak mudah untuk langsung
dikempa, selain itu zat aktif tunggal yang langsung dikempa untuk dijadikan tablet
kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena air (cairan tubuh). secara umum sifat zat aktif yang
cocok untuk metode kempa langsung adalah; alirannya baik, kompresibilitasnya baik,
bentuknya kristal, dan mampu menciptakan adhesifitas dan kohesifitas dalam massa
tablet (Anas, 2008).
Uji yang dilakukan pada pembuatan kaplet dilakukan sebelum dan setelah kaplet
dicetak. Uji yang dilakukan sebelum pencetakan kaplet dimaksudkan agar granul yang akan
dicetak menjadi tablet memenuhi persyaratan untuk bisa dicetak.

a . Uji Sebelum Pencetakan Kaplet
Kerapatan (Densitas)
Bobot per satuan volume dari partikel padat dinyatakan sebagai kerapatan sejati .
Kebanyakan serbuk dalam farmasetik berukuran kecil dan jika ditempatkan memenuhi 1 cc
pada gelas ukur maka diperoleh kerapatan sebenarnya. Jika serbuk tersebut dimampatkan
hingga memadat, akan didapatkan volume yang lebih kecil; kerapatannya dihitung dari
volume terkecil tersebut dan disebut kerapatan mampat. Partikulat dapat berupa keadaan
yang keras, lembut atau keadaan yang berpori. Kesukaran akan timbul jika dilakukan
percobaan untuk memeriksa volume partikel yang mengandung retakan-retakan halus, pori
internal dan rongga kapiler. Kerapatan curah merupakan massa serbuk dibagi dengan volume
ruah

Kompresibilitas (%) = Kerapatan mampat-kerapatan longgar x 100%
Kerapatan mampat
(Aulton, 1989).
Laju Alir
Bilamana aliran suatu serbuk dari dalam bejana melalui lubang kecil diamati, akan
terlihat dua kemungkinan jenis alir yang berbeda bentuk sifat alirnya yaitu : jenis alir bebas
atau jenis lengket (sticky ; kohesif).
Jenis alir bebas memungkinkan serbuk dapat mengalir dengan mantap dan kontinyu,
sedangkan jenis kohesif mengalami kesukaran untuk mengalir.
Sifat alir serbuk tersebut dipengaruhi oleh ukuran partikel; bentuk; porositas dan
kerapatan dan susunan (tekstur) permukaan. Kebalikan dari sifat kohesif adalah dustibility
yaitu kemudahan serbuk untuk bertabur (Aulton, 1989).
Sudut istirahat adalah sudut yang terbentuk antara lereng suatu timbunan serbuk dengan
bidang horizontal. Sudut istirahat dipengaruhi fraksi antar partikel-partikel. Makin kasar dan
tidak beraturan permukaan partikel, akan semakin besar sudut istirahatnya. Umumnya serbuk
mempunyai sudut istirahat sekitar 34
o
sampai 48
o
. Serbuk yang lebih mudah mengalir
mempunyai sudut istirahat yang kecil.
b. Uji Setelah Pencetakan Kaplet
Keseragaman Ukuran dan Bobot
- Uji Keseragaman Ukuran
Panjang, lenat dan tinggi kaplet diukur masing-masing (pada pengujian kali ini dilakukan
terhadap dua puluh kaplet) dengan menggunakan alat jangka sorong untuk mengukurnya
(Departemen Kesehatan RI, 1995).
- Uji Keseragaman Bobot
Ditimbang dua puluh kaplet, dihitung berat rata-rata tiap kaplet, kemudian kaplet-kaplet
tersebut ditimbang satu persatu. Tidak boleh lebih dari dua kaplet yang masing-masing
beratnya menyimpang dari berat rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan pada
kolom A dan tidak boleh satu kapletpun yang beratnya menyimpang dari berat rata-ratanya
lebih dari harga yang ditetapkan pada kolom B pada Tabel 3.5 (Departemen Kesehatan RI,
1979).

Uji Kekerasan
Uji kekerasan kaplet dapat didefinisikan sebagai uji kekuatan kaplet yang
mencerminkan kekuatan kaplet secara keseluruhan, yang diukur dengan memberi tekanan
terhadap kaplet. kaplet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan tertentu serta dapat
bertahan dari berbagai goncangan mekanik pada saat pembuatan, pengepakan dan
transportasi. Alat yang biasa digunakan adalah hardness tester (Banker and Anderson, 1984).
Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan ketahanan kaplet dalam melawan tekanan
mekanik seperti goncangan, kikisan dan terjadi keretakan kaplet selama pembungkusan,
pengangkutan dan pemakaian. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari tekanan
pengempaan (Parrott, 1971).
Waktu Hancur
Supaya komponen obat sepenuhnya tersedia untuk diabsorpsi dalam saluran
pencernaan, maka kaplet harus hancur dan melepaskan obatnya ke dalam cairan tubuh untuk
dilarutkan. Waktu hancur kaplet berkaitan dengan daya hancur yang sangat penting untuk
kaplet yang mengandung bahan obat (seperti antasida dan diare) yang tidak dimaksudkan
untuk diabsorpsi tetapi lebih banyak bekerja setempat dalam saluran cerna. Dalam hal ini,
daya hancur kaplet memungkinkan partikel obat menjadi lebih luas untuk bekerja secara lokal
dalam tubuh (Ansel, 1989).
Friabilitas
Uji friabilitas sebenarnya berkaitan erat dengan kekerasan kaplet karena uji friabilitas
menentukan kecenderungan kaplet untuk pecah atau kehilangan berat. Pengukuran dilakukan
dengan cara menghitung kehilangan berat kaplet sebelum dan sesudah pengujian. Ketahanan
terhadap kehilangan berat menunjukkan kaplet tersebut bertahan terhadap goresan ringan atau
benturan yang terjadi selama penanganan, pengemasan, dan pengiriman (Ansel,1989).
Kaplet ditimbang sebanyak kurang lebih enam koma lima gram, kemudian dimasukkan
ke dalam alat penguji keregasan kaplet. Alat dijalankan selama empat menit dengan
kecepatan putaran dua puluh lima putaran per menit. Tablet yang masih utuh ditimbang,
kemudian dihitung kehilangan bobotnya. Kehilangan bobot yang masih diperbolehkan tidak
lebih dari 0,8%.

Friabilitas Kaplet = W1 W2 x 100%
W1

Keterangan : W1 = Berat Awal
W2 = Berat Akhir
(Ansel,1989).
Paracetamol
Pemerian : hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa pahit
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
(96%), dalam 13 bagian aseton, dalam 40 bagian
gliserol, dan dalam 90 bagian propilen glikol, larut
dalam larutan alkali hidroksida.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat : analgetikum, antipiretikum (Departemen Kesehatan RI, 1979).

IV. Alat Dan Bahan
A. Alat



Alat Uji Kekerasan Alat Uji Kompresibilitas Alat Uji
Friabilitas





Alat Uji LOD Alat Uji Laju Alir Alat Uji Waktu
Hancur







Granulator Jangka Sorong
Loyang





Mesin cetak kaplet single-punch Pengayak


B. Bahan
. Amprotab
. Amprotab pro paste
. Mg stearat
. Parasetamol
. PVP
. Talk


V. Prosedur
1. Penimbangan bahan untuk fase dalam
Sebelum ditimbang, bahan-bahan yang akan digunakan diayak terlebih dahulu
menggunakan pengayak no.40. Setelah diayak bahan-bahan ditimbang sesuai dengan
perhitungan, yaitu parasetamol 250 g, Amprotab 30 g dan Amprotab Pro Paste 15 g.
2. Pembuatan Pasta Amilum
Amprotab 15 g yang telah ditimbang, dimasukkan kedalam beaker glass 250 ml dan
ditambahkan 100 ml air panas. Diaduk diatas kompor hingga membentuk campuran yang
bening. Ditimbang pasta amilum yang telah terbentuk.
3. Pembuatan granul basah
Bahan-bahan fase dalam (Parasetamol dan amprotab) dicampurkan dan diaduk hingga
homogen. Lalu ditambahkan sedikit demi sedikit pasta amilum yang telah dibuat sebelumnya
dan diaduk hingga rata sampai menjadi massa yang bisa dikepal dan ketika kepalan tersebut
diijatuhkan tidak hancur. Ditimbang sisa pasta amilum yang tidak digunakan. Kemudian
massa yang sudah dapat dikepal tersebut kemudian dibuat granul dengan
granulator. Granul yang terbentuk ditampung diatas baki (Loyang) yang telah disiapkan
sebelumnya. Permukaannya diratakan agar panas yang diterima merata. Granul tersebut
kemudian dikeringkan dalam oven dengan suhu 50C selama 18 - 24 jam.
4. Evaluasi Granul
a. Uji LOD
Granul yang telah kering diletakkan pada wadah alat uji LOD sebanyak 10 gram, granul
diratakan pada tempat LOD, alat ditutup dan kemudian tekan tombol start hingga muncul
tanda rest over. Lalu dilihat nilai persennya.
b. Uji daya alir granul
Granul ditimbang sebanyak 15 gram. Disiapkan alat untuk menentukan kecepatan alir
serbuk dan sudut istirahat, pastikan bagian bawah alat (berupa corong) telah tertutup rapat. Di
bawah alat diberi alas berupa kertas untuk membuat plot diameter yang berbentuk. Kemudian
granul yang akan diuji dimasukkan ke dalam wadah berbentuk corong dan dibuka
penutupnya. Stopwatch dinyalakan bersamaan dengan dibukanya penutup corong. Setelah
granul telah mengalir semua, diukur tinggi dan diameter tumpukan granul yang dihasilkan.
Hasil waktu dicatat.
c. Uji Kompresibilitas Granul
Granul ditimbang sebanyak 15 gram, kemudian dimasukkan pada gelas ukur penampung
massa cetak. Dan dicatat volume awalnya. Kemudian tombol on pada alat ditekan, sehingga
menghasilkan beberapa ketukan, dan alat dinyalakn selama 5 menit. Lalu dicatat kembali
volume akhirnya dan hitung % kompresibilitas.
5. Penimbangan bahan untuk fase luar
Sebelum ditimbang, bahan-bahan yang akan digunakan diayak terlebih dahulu
menggunakan pengayak no.40. Setelah diayak bahan-bahan ditimbang sesuai dengan
perhitungan, yaitu Mg stearat 2,901 g; PVP 14,505 g dan talk 5,802 g.
6. Penambahan fase luar ke granul
Bahan-bahan fase luar yang telah ditimbang ditambahkan ke dalam granul yang telah
kering, kemudian diaduk hingga homogen.
7. Pencetakan kaplet
Pada alat pencetak kaplet, beberapa gram granul dimasukkan kedalamnya, lalu hoper
atau eeding shoe dipasang untuk memastikan masa granul. Ketentuan kaplet yang diinginkan
adalah bobot antara 600,4 mg 663,6 mg dan kekerasannya 70-80 N. Jalankan mesin untuk
pencetakan kaplet secara manual untuk mengukur berat dan kekerasan kaplet. Bila belum
sesuai dengan yang diinginkan, atur berat kaplet. Dan diatur kekerasan tablet. Setelah berat
dan kekerasan kaplet telah sesuai dan stabil maka mesin dijalankan untuk mencetak kaplet
dari seluruh bahan yang telah dibuat.
8. Evaluasi kaplet
a. Uji keseragaman bobot
Kaplet sebanyak 20 buah, ditimbang satu per satu diatas alat timbangan. Kemudian hasil
dicatat dan dihitung rata-ratanya. Analisis keseragaman bobot kaplet dengan membandingkan
bobot kaplet dalam rentang penyimpangan bobot rata-rata kaplet.
b. Uji keseragaman ukuran
Kaplet sebanyak 20 buah diukur satu per satu menggunakan jangka sorong untuk
mengetahui ukuran panjang, lebar dan tinggi kaplet, setelah itu dihitung rata-ratanya.
Kemudian hasilnya dicatat.
c. Uji friabilitas
Timbang 8 buah kaplet, drum putar dilepaskan dari mesinnya dengan cara melonggarkan
sekrup. kaplet yang akan diuji dimasukkan ke dalam drum putar, pasang kembali drum putar
ke mesinnya dan kencangkan sekrup. Kecepatan putaran diatur per menit dengan memutar
tombol putar SPEED. Untuk mengatur waktu putaran gunakan tombol putar hitam.
Kemudian mesin dinyalakan dengan menekan tombol MAIN SWITCH dan lampu
menyala. Setelah pengujian selesai mesin dimatikan dengan menekan kembali tombol
MAIN SWITCH dan lampu mati. Setelah itu lepaskan drum putar dari mesin dengan
melonggarkan sekrup, kaplet diambil dan drum putar dibersihkan menggunakan kuas. Setelah
selesai massa kaplet ditimbang kembali.
d. Uji waktu hancur
Alat dinyalakan dengan menekan tombol MAIN SWITCH. Suhu diatur hingga 37 2 C
dengan menekan tombol HEATER. Kemudian enam kaplet yang akan diuji dimasukkan ke
dalam keranjang (sumur-sumur) pada alat dan cakram dimasukkan di atas masing-masing
kaplet dengan posisi yang sama. Lalu keranjang dimasukkan ke dalam beaker glass ukuran 1
Liter yang berisi aquades yang telah dipanaskan sampai suhu 37 2 C. Penutup lubang alat
uji waktu hancur dibuka dan masukkan beaker glass ke dalam alat dan gantungkan keranjang
pada gantungan logam, kemudian nyalakan alat dengan menekan tombol START sambil
menghitung waktu. Pengujian dihentikan saat semua kaplet telah hancur sempurna. Matikan
alat dengan menekan tombol START, HEATER, MAINSWITCH. Hasil waktu dicatat.
e. Uji Kekerasan tablet
Disiapkan 20 kaplet untuk pengujian kekerasan kaplet. Tombol diputar ke posisi EINS
dan lampu penunjuk kekerasan menyala. Jarum penunjuk kekerasan diperiksa ada di titik nol
atau tidak. Bila belum tekan tombol . Kaplet diletakkan vertikal dan tepat di tengah
tengah jarum penekan. Berdirikan kaplet dinaikkan dengan memutar sekrup di bawahnya
sampai kaplet menekan jarum penekan dan lampu stop menyala. Lalu tombol ditekan,
jarum penunjuk skala bergerak dan berhenti saat kaplet pecah dan menunjukkan angka unit
kekerasan dengan skala newton. Lampu stop padam. Dan tombol ditekan untuk
mengembalikan jarum penunjuk ke angka nol. Hasil dicatat dan dihitung rata-ratanya.

VI. Data pengamatan dan Perhitungan
A. Data pengamatan
1. Evaluasi Granul
a. Laju Alir
Waktu: 2,41 detik
Tinggi: 1,3 cm
Diameter: 8,5 cm
Jari-jari: 4,25 cm
Tan = = = 0,306
= 17,008
0

b. Kadar Air (Loss On Drying/LOD)
LOD = 1,74%
c. Kemampatan (Tap Density)
Massa granul : 15 gram
Volume awal: 37 ml
Volume akhir: 31,5 ml
Kerapatan nyata = =
= 0,405 gram/ml
Kerapatan mampat = =
= 0,476 gram/ml
Kompresibilitas =
= = 14,92%

2. Evaluasi Kaplet
a. Keseragaman Bobot
No. Massa Kaplet (mg)
1 668,9
2 678,2
3 680,6
4 683,8
5 666,1
6 686,5
7 629,1
8 677,1
9 666,6
10 603,8
11 609,8
12 642,1
13 654,6
14 679,4
15 661,3
16 688,4
17 613,2
18 653,4
19 686,3
20 687,6
Jumlah 13216,8 mg
Rata-rata 660,84 mg


b. Keseragaman Ukuran
No. Panjang Lebar Tinggi
1. 17,01 6,49 6,33
2. 17,07 6,49 6,42
3. 17,01 6,50 6,40
4. 16,98 6,49 6,42
5 17,04 6,50 6,35
6 17,03 6,49 6,45
7 17,07 6,50 6,00
8 17,02 6,56 6,36
9 16,96 6,51 6,21
10 16,90 6,48 6,11
11 17,05 6,52 6,10
12 17,05 6,49 6,17
13 17,06 6,51 6,29
14 17,11 6,49 6,20
15 17,04 6,49 6,30
16 17,00 6,49 6,44
17 16,98 6,16 6,60
18 17,02 6,50 6,30
19 17,01 6,58 6,48
20 17,03 6,50 6,38
Jumlah 342,04 129,74 126,31
Rata-rata 17,102 6,487 6,3155


c. Kekerasan Kaplet
No. Kekerasan (Newton)
1 120
2 124
3 115
4 84
5 115
6 114
7 125
8 90
9 100
10 117
11 140
12 115
13 103
14 120
15 111
16 92
17 112
18 112
19 125
20 120
Jumlah 2254
Rata-rata 112,7

d. Friabilitas
Berat satuan kaplet: 0,79 gram
Berat awal(W
1
): 6,32 gram
Berat akhir(W
2
): 5,80 gram
% Friabilitas = x 100% = x 100% = 8,23%
e. Waktu Hancur (Disintegrasi)
Waktu hancur kaplet : > 15 menit

B. Perhitungan
1. Berat Amprotab yang digunakan dalam pasta
- Berat beaker glass kosong = 102,21 gram
- Berat beaker glass kosong + pasta = 227,07 gram
- Berat beaker glass kosong + pasta sisa = 159,45 gram
- Berat pasta yang digunakan = 227-159,45 = 67,62 gram
- Amprotab pro pasta yang digunakan = 15% x 67,62= 10,143 gram

2. Fase Dalam Teoritis
- Parasetamol = 250 gram
- Amprotab = 30 gram
- Amprotab pro pasta = 10,143 gram
Total fase dalam teoritis = 290,143 gram

3. Fase Luar Teoritis
- PVP = 5% x 290,143 gram x 100/92 = 15,769 gram
- Talkum = 2% x 290,143 gram x 100/92 = 6,307 gram
- Mg stearat = 1% x 290,143 gram x 100/92 = 3,154 gram
Total fase luar teoritis = 25,23 gram

4. Massa Tablet Total Teoritis
Fase dalam + fase luar = 290,143 + 25,23 gram = 315,373 gram

5. Berat Satuan Tablet Teoritis
315,373 gram : 500 tablet = 0,631 gram = 631 mg

6. Fase Dalam Nyata(Berat Granul Hasil Granulasi)
- Berat granul hasil pengeringan yang ditimbang = 276,9 gram
- Berat granul untuk uji LOD = 10 gram
- Berat fase dalam nyata yang digunakan = 276,9 10 = 266,9 gram
-
7. Massa Tablet Total Teoritis
Fase dalam + fase luar = 266,9 + 23,208 gram = 290,108 gram

8. Jumlah Tablet yang Diproduksi
(massa tablet nyata:massa tablet teoritis) x 500 tablet = 459,94
= 459 tablet

9. Berat Satuan Tablet Nyata
290,108 gram : 459 tablet = 0,632 gram = 632mg

VIII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, formula yang digunakan adalah
R/ PCT 250 gram
Amprotab 30 gram
Amprotab pro pasta q.s (15%)
PVP 5 %
Talkum 2 %
Magnesium stearat 1 %
Untuk kemudian dibuat tablet dengan metode granulasi basah dengan hasil 500
tabet. Granulasi basah adalah metode pembuatan tablet dengan pencampuran fase dalam
tablet terlebih dahulu dengan pengikat yang basah, digranulasi lalu dicampurkan dengan fase
luar tablet, kemudian dicetak menjadi tablet. Granulasi basah digunakan karena zat aktif dan
beberapa zat tambahan pada formula diatas memiliki laju alir yang buruk sehingga tidak
memungkinkan untuk digunakan metode kempa langsung. Pembagian fase luar dan fase
dalam berdasarkan fungsi dan karakteristik setiap zat. Fase dalam biasanya terdiri dari zat
aktif, zat pengisi, dan zat pengikat yang tahan terhadap suhu tinggi dalam waktu lama karena
peada proses pembuatan granulasi basah, pemanasan dalam oven untuk menghilangkan air
dilakukan setelah terbentuk granul. Fase luar adalah zat eksipien yang berfungsi untuk
membantu proses pengempaan tablet, yaitu zat pelincir dan zat eksipien lain yang tidak tahan
pemanasan dalam waktu lama.
Pada formula diatas, PCT atau parasetamol sebagai zat aktif dengan efek farmakologis
sebagai zat antipiretik dan analgesic. PCT dimasukkan ke fase dalam karena stabil dalam
pemanasan yang lama.
Amprotab merupakan zat tambahan fase dalam yang digunakan sebagai pengisi dan
pengikat karena harga ekonomis sehingga mengurangi biaya produksi. Fungsi sebagai pengisi
untuk menambah massa tablet yang akan dicetak dan fungsi sebagai pengikat untuk mengikat
zat aktif dan zat pengisi sehingga dapat tercampur dengan homogen. Amprotab dapat
digunakan sebagai zat pengikat dengan pencampuran amprotab dan aquadest hangat dengan
konsentrasi 3-20 % b/b untuk mendapatkan amprotab pro pasta segar (HOPE, 2009). Pada
praktikum ini dibuat amprotab propasta dengan konsentrasi 15% yang ditambahkan
secukupnya.
PVP merupakan zat tambahan fase luar digunakan sebagai pengikat yang membantu
pengikatan fase luar dengan granul fase dalam. PVP walaupun berfungsi sebagai pengikat
dimasukkan ke fase luar karena tidak tahan dengan pemanasan yang lama (HOPE, 2009).
Selain itu juga berfungsi sebagai disintegrant yang membantu penghancuran tablet sehingga
meningkatkan kelarutan obat dalam cairan tubuh. PVP sebagai pengikat dan disintegrant
digunakan sebanyak 0.5- 5% (HOPE, 2009). Pada praktikum ini digunakan PVP sebanyak 5
% agar tablet lebih mudah hancur dan larut dalam tubuh.
Talkum dan magnesium stearat adalah zat tambahan fase luar yang berfungsi sebagai
pelincir yang meningkatkan aliran granul sehingga tersebar ke seluruh tempat cetakan pada
saat pengempaan dan agar tidak meyumbat di cetakan. Selain itu pelincir dapat
memperpanjang waktu penghancuran obat, sehingga pada saat dilakukan uji friabilitas, massa
tablet tidak berkurang banyak. Kedua zat ini ditambahkan sebagai fase luar untuk
memberikan hasil yang lebih baik pada kekerasan tablet dibandingkan ditambahkan sebagai
fase dalam. Pada formulasi tablet, talcum ditambahkan sebanyak 1- 10% dan magnesium
stearat ditambahkan sebanyak 0.25- 5% (HOPE, 2009). Pada praktikum ini digunakan talcum
2% dan magnesium stearat 1%, penambahan hanya sedikit karena pelincir yang banyak dapat
menyebabkan tablet terlalu keras sehingga sulit hancur dan sulit terlarut serta sulit
dimetabolisme didalam tubuh.
Proses pembuatan tablet paracetamol pada praktikum ini dilakukan dengan metode
granulasi basah. Granulasi basah merupakan salah satu cara pembuatan tablet kompresi
yang paling banyak digunakan. Granulasi merupakan perlakuan awal terhadap serbuk yang
sukar untuk dicetak menjadi massa yang dapat ditabletasi. granulasi adalah proses
peningkatan ukuran dimana partikel-partikel kecil digabungkan menjadi partikel dengan
ukuran lebih besar, membentuk aglomerat atau granul stabil sehingga lebih mudah mengalir.
Proses granulasi dilakukan karena sebagian besar serbuk tidak dapat dibentuk menjadi tablet
secara langsung karena kohesivitasnya rendah, tidak memiliki sifat lubrikasi dan disintegrasi
yang diperlukan dalam proses tabletasi.
Formula yang digunakan untuk pembuatan tablet paracetamol adalah paracetamol
250mg, amprotab 30mg, amprotab pro paste 15% q.s. sebagai fase dalam, PVP 5%, Talcum
2%, dan Mg Stearat 1% sebagai fase luar. Paracetamol merupakan zat aktif yang memiliki
khasiat sebagai analgesik dan antipiretik. Amprotab berfungsi sebagai zat pengisi dan
disintregan, sedangkan amprotab pro pasta digunakan sebagai zat pengikat pada fase dalam.
PVP berfungsi sebagai pengikat untuk fase luar, talcum berfungsi sebagai pelincir dan
diluent, sedangkan Mg stearat berfungsi sebagai zat pelincir.
Untuk pembuatan tablet dengan metode granulasi basah, hal yang pertama yang harus
dilakukan adalah menggranulasi fase dalam dari formula diatas. Fase dalam biasanya terdiri
dari zat aktif, pengisi dan pengikat. Amprotab pro paste yang digunakan sebagai pengikat
dibuat dalam konsentrasi 15% dengan cara 15gr amprotab ditimbang dan dilarutkan dalam
100ml air dan dipanaskan hingga terbentuk suatu mucilago yang bening. Untuk pemakaian
terbaik, konsentrasi maksimum amprotab yang digunakan sebagai pasta ini biasanya 30%,
tablet yang mengandung amilum dengan konsentrasi tinggi tidak dapat dicetak dikarenakan
kompresibilitas nya yang tidak baik.
Selanjutnya, parasetamol sebagai zat aktif dan amprotab dicampurkan hingga
terbentuk suatu campuran yang homogen. Amprotab merupakan disintregan yang paling
umum digunakan. Mekanisme kerja nya adalah dengan membentuk ikatan hidrogen saat
pengempaan dan pecah atau mengembang saat cairan masuk ke dalam pori-pori tablet
(kapiler). Amprotab pro pastayang telah dibuat sebelum nya dicampurkan sedikit demi sedikit
hingga terbentuk suatu massa yang dapat dikepal. Penambahan amprotab pro pasta harus
dilakukan dengan hati-hati dan secara perlahan, karena apabila amprotab pro pasta yang
digunakan terlalu banyak akan menyulitkan proses granulasi dan pada akhirnya tablet yang
dihasilkan akan sangat keras dan waktu hancur nya akan sangat lama.
Selanjutnya, massa campuran tadi dimasukkan ke dalam alat granulasi yang disebut
granulator. Pada alat granulator ini, massa dilewatkan pada mesh atau ayakan dan diberi
tekanan agar terbentuk suatu granul sehingga luas permukaannya meningkat dan proses
pengeringan berjalan dengan lebih cepat. Ukuran mesh yang digunakan biasanya mesh no.16.
Granul yang terbentuk, selanjutnya dikeringkan dengan cara dimasukan ke dalam oven pada
suhu 50-60
0
C selama 18-24 jam. Setelah proses pengeringan selesai, granul kemudian di
masukan kembali ke dalam granulator dan diayak dengan menggunakan ayakan yang ukuran
nya lebih kecil, biasa nya digunakan ayakan no.18 agar ukuran granul menjadi lebih
homogen.
Setelah itu, granul yang diperoleh kemudian ditimbang, dan dievaluasi. Evaluasi
terhadap granul ini dilakukan dengan menentukan laju alir, kompresibilitas, dan susut
pengeringan atau lost of drying (LOD). Laju alir granul memegang peranan penting dalam
pembuatan tablet. Apabila granul mudah mengalir, tablet yang dihasilkan mempunyai
keseragaman bobot yang baik. Laju alir ini dapat ditentukan dengan menentukan sudut
istirahat dari granul dengan menggunakan metode corong, Sudut istirahat ini merupakan
sudut yang dibentuk oleh tumpukan serbuk terhadap bidang datar setelah serbuk atau granul
tersebut mengalir secara bebas melalui suatu celah sempit dalam hal ini adalah corong. Jadi,
sudut istirahat diperoleh dengan memasukan sekitar 15gr serbuk ke dalam corong yang
ditutup, kemudian tutup tersebut dibuka, dan dihitung waktu alir serta tinggi dan diameter
dari tumpukan granul yang dihasilkan. Dari hasil uji terhadap granul yang dihasilkan,
diperoleh sudut istirahat granul sebesar 17,008
0
C dengan waktu alir selama 2,41 detik. Nilai
ini menunjukkan bahwa granul yang dihasilkan memiliki sifat laju alir yang baik karena pada
umumnya granul dikatakan mengalir baik (free flowing) apabila sudut diamnya lebih kecil
dari 30
0
C, sehingga granul dapat dicetak menghasilkan tablet yang homogen.
Evaluasi terhadap granul yang berikutnya adalah penentuan nilai kompresibilitas
dari granul dengan menggunakan alat tap density. Sebanyak 15gr granul dimasukan ke dalam
gelas ukur yang ada pada alat, kemudian dicatat volume awal nya. Selanjutnya alat
dinyalakan selama 4 menit dan kemudian volume akhir nya dicatat.
suatu granul yang baik memiliki nilai % kompresibilitas dibawah 20 %. Dari hasil pengujian
dan perhitungan, diperoleh nilai % kompresibilitas dari granul sebesar 14,92 %. Nilai ini
menunjukan bahwa granul memiliki nilai kompresibilitas yang baik.
Pengujian berikutnya adalah penentuan kadar susut pengeringan atau loss of
drying (LOD) unutk menentukan kadar air yang terkandung dalam granul. Sebanyak 10 gr
granul disimpan secara merata diatas piringan logam pada alat uji. Kemudian suhu diatur
pada 70
0
C, dan kemudian alat dinyalakan selama 10 menit. Dari hasil pengujian diperoleh %
LOD atau kadar air yang terkandung dalam granul sebesar 1,74 %. Nilai ini menujukan
bahwa granul memiliki kadar air yang baik, karena batas maksimum kadar air untuk granul
adalah 2 %.
Setelah evaluasi granul dilakukan, granul dipersiapkan untuk dicetak. Pertama, granul
dicampurkan dengan fase luar yang terdiri dari PVP 5%, talcum 2%, dan Mg Stearat 1%.
Fase luar dan granul dicampurkan dan diaduk hingga homogen supaya distribusi fase luar
merata dan homogen. PVP berfungsi sebagai zat pengikat fase luar, talcum berfungsi sebagai
glidan dan lubrikan, sedangkan Mg Stearat digunakan sebagai glidan dan lubrikan. Pengikat
digunakan untuk mengikat fase luar dengan fase dalam supaya dapat menyatu dan tercampur
homogen. Lubrikan digunakan untuk menghilangkan gesekan/friksi saat pengempaan dan
penarikan kaplet ke luar cetakan. Glidan digunakan untuk memperbaiki laju alir hasil
campuran fase luar dengan granul (fase dalam) supaya memudahkan pengaliran granul saat
pencetakan kaplet. Hasil pencampuran cukup homogen.
Kemudian, dilakukan pencetakan kaplet dengan single punch tablet press dengan
cetakan kaplet. Dilakukan beberapa kali pencetakan awal, dimana setiap 1 kaplet yang dibuat
kemudian diuji bobot dan kekerasannya. Hal ini dilakukan supaya kaplet yang dicetak
memenuhi rentang bobot kaplet teoritis yang diizinkan, yaitu antara 599,45 mg hingga 662,55
mg. Pada kaplet yang dibuat ke 8 kalinya, didapatkan berat yang memenuhi syarat yaitu
0,66127 g dengan kekerasan yang tinggi dimana kaplet pecah pada tekanan 122 N, dimana
kekerasan kaplet yang baik berkisar antara 40-80 N.
Setelah kaplet dicetak seluruhnya, dilakukan evaluasi kaplet. Pengujian keseragaman
bobot dan ukuran dilakukan untuk melihat keseragaman dosis pada masing-masing kaplet.
Pada evaluasi keseragaman bobot, didapatkan bobot rata-rata sebesar 0,66084 g. Berdasarkan
FI III, untuk uji keseragaman bobot pada kaplet yang telah dibuat dengan bobot rata-rata
tersebut (di atas 300 mg), dinyatakan bahwa tidak boleh ada lebih dari 2 kaplet yang
bobotnya menyimpang dari 5% bobot rata-rata (0,03304 g) dan tidak boleh ada 1 kaplet pun
yang bobotnya menyimpang dari 10% bobot rata-rata (0,06608 g). Dari data yang didapat,
terdapat 3 kaplet yang menyimpang dari 5% bobot rata-rata dengan penyimpangan bobot
sebesar 0,057 (kaplet no. 10); 0,051 (no. 11); dan 0,048 g (no. 17) serta tidak ada satupun
kaplet yang bobotnya menyimpang dari 10% bobot rata-rata. Dengan demikian, kaplet yang
dibuat hampir memenuhi syarat. Dilihat dari bobot yang didapatkan dibandingkan dengan
bobot teoritis, terdapat beberapa kaplet yang bobotnya tidak masuk rentang toleransi yang
diizinkan. Hal ini akan mempengaruhi sedikit kadar zat aktif pada masing-masing kaplet. Hal
ini dikarenakan kondisi mesin pencetak kaplet yang kurang baik dan bentuk granul yang
kurang seragam.
Pada pengujian keseragaman ukuran, disyaratkan tidak boleh ada panjang, lebar, dan
tinggi kaplet yang menyimpang 1% dari rata-ratanya (p=0,17 mm; l=0,07 mm; t=0,06 mm).
Pada pengukuran panjang terdapat 1 kaplet yang meyimpang (no. 10), pada pengukuran lebar
terdapat 1 kaplet yang menyimpang (no. 17) dan pada pengukuran tinggi terdapat 12 kaplet
yang menyimpang (no. 2, 3, 4, 6, 7, 11, 12, 14, 16, 17, 19, 20), yang berarti,
ketidakseragaman ini akan mempengaruhi kadar zat aktif dalam kaplet. Dengan demikian,
keseragaman ukuran tidak memenuhi syarat. Hal ini dikarenakan kondisi mesin pencetak
kaplet yang kurang baik dan bentuk granul yang kurang seragam.
Pengujian kekerasan dilakukan untuk melihat seberapa kuat kaplet sehingga
mempengaruhi pengemasan dan penyimpanannya. Pada pengujian kekerasan, kaplet
diletakan dengan posisi panjang vertikal seperti angka 0 karena pada posisi ini tekanan
maksimalnya dapat terukur. Dari hasil yang didapatkan, kekerasan kaplet yang didapat tinggi,
menyebabkan kaplet pecah pada tekanan diatas 80 N, sedangkan kaplet yang baik memiliki
tekanan antara 40-80 N. Hal ini dapat disebabkan karena efek dari lubrikan yang kuat
sehingga meningkatkan kekerasan serta granul yang kurang baik.
Data friabilitas digunakan untuk mengukur ketahanan permukaan kaplet terhadap
gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan pengiriman. Pada pengujian frialbilitas,
digunakan 8 kaplet dengan bobot total 6,32 g. %friabilitas tidak boleh lebih dari 1%. Setelah
diuji, didapatkan %friabilitas sebesar 8,23%. Hasil ini tidak memenuhi syarat. Hal ini
dikarenakan nilai LOD yang kecil.
Pengujian waktu hancur dilakukan untuk melihat seberapa lama kaplet akan hancur
pada kondisi yang menyerupai tubuh manusia. Berdasarkan FI III, waktu hancur yang baik
tidak lebih dari 15 menit. Pada pengujian ini, didapatkan waktu hancur yang melebihi 15
menit, dimana terdapat 1 kaplet yang hancur kurang dari 15 menit namun 5 sisanya tidak
hancur setelah lebih dari 15 menit. Waktu hancur tidak dilanjutkan hingga didapatkan waktu
hancur pastinya untuk menghemat waktu. Waktu hancur yang tidak baik ini dikarenakan
proses granulasi yang kurang baik dan efek Mg Stearat. Saat pencampuran fase luar dengan
fase dalam, bila pengocokan kurang baik dan terlalu lama, maka Mg stearat akan
memadatkan kaplet dan dengan sifatnya yang tidak larut air akan memperlama waktu hancur
kaplet. Perbedaan waktu hancur tersebut dikarenakan ketidakseragaman bobot dan ukuran
kaplet serta homogenitas yang kurang baik.

IX. Kesimpulan
1. Cara pembuatan tablet dengan metode granulasi basah yaitu dengan mencampurkan zat aktif
dan eksipien ke bagian fase dalam yang mengandung pengikat hingga membentuk massa
lembab yang dapat digranulasi, hasil granul dikeringkan, granul kemudian diberi tambahan
fase luar, granulasi kembali baru dicetak.
2. Uji quality control yang dilakukan terhadap granul dan tablet hasil produksi berupa:
a. Kemampuan alir dan sudut istirahat
b. Kompresibilitas
c. Kadar air (loss on drying)
d. Waktu hancur
e. Kekerasan
f. Friabilitas


DAFTAR PUSTAKA


Anas. 2008. Obat-obatan Tablet Yang Perlu Dikritisi. Tersedia
di http://jalurgaza.wordpress.com/ (diakses tanggal 6 April 2013)
Ansel, H.C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Penerjemah : F. Ibrahim. Edisi ke-4. Penerbit
Universitas Indonesia. Jakarta.
Aulton, M. E., 1988, Pharmaceutics: The Science of Dosage Form Design, Churchill Livingstone
Inc, New York.
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi ketiga. Departemen Kesehatan. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi keempat. Departemen Kesehatan.
Jakarta.
Lachman, L., A. L. Herbert, & L. K. Joseph. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Diterjemahkan oleh: Siti Suyatmi. Universitas Indonesis Press. Jakarta.
Parrot, EL. 1971. Pharmaceutical Technology Fundamental pharmaceutics Third Edition. Burges
Publishing Company. USA.
Royal Pharmaceutical Society of Great Britain. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipient.
6
th
Edition. Pharmaceutical Press. London


Read more: http://laporanakhirpraktikum.blogspot.com/2013/06/laporan-praktikum-pembuatan-
tablet.html#ixzz2wVopgK6L

EKSIPIEN UNTUK SEDIAAN TABLET (lanjutan)
Jun
9

FILLERS/DILUENTS/BAHAN PENGISI
Bahan pengisi dibutuhkan untuk membuat bulk (menambah bobot
sehingga memiliki bobot yang sesuai untuk dikempa), memperbaiki
kompresibilitas dan sifat alir bahan aktif yang sulit dikempa serta untuk
memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung. Bahan
pengisi dapat dibagi berdasarkan katagori: material organik (karbohidrat
dan modifikasi karbohidrat), material anorganik (kalsium fosfat dan
lainnya), serta co-processed diluents. Jumlah bahan pengisi yang
dibutuhkan bervariasi, berkisar 5-80% dari bobot tablet (tergantung
jumlah zat aktif dan bobot tablet yang diinginkan). Bila bahan aktif
berdosis kecil, sifat tablet (campuran massa yang akan ditablet) secara
keseluruhan ditentukan oleh sifat bahan pengisi.
Tabel I. Macam-macam bahan pengisi tablet
Tidak larut Larut
Kalsium sulfat
Kalsium fosfat, dibasic dan tribasik
Kalsium karbonat
Amilum
Modifikasi amilum
Mikrokritalin selulosa
Laktosa
Sukrosa
Dektrosa
Mannitol
Sorbitol
Bahan pengisi yang dapat digunakan untuk kempa langsung disebut
dengan filler-binders. Filler-binders adalah bahan pengisi yang sekaligus
memiliki kemampuan meningkatkan daya alir dan kompaktibilitas massa
tablet. Filler binders digunakan dalam kempa langsung. Persyaratan
suatu material dapat berfungsi sebagai filler-binders adalah mempunyai
fluiditas dan kompaktibilitas yang baik. Material yang mempunyai sifat
demikian biasanya mempunyai ukuran partikel yang relatif besar
(bukan fines) dengan bentuk yang sferis. Bahan pengisi yang dapat
berfungsi sebagai filler-binders biasanya hasil modifikasi, termasuk co-
processed diluents. Co-processed diluentsmerupakan material hasil
modifikasi dan kombinasi 2 atau lebih material dengan proses yang
sesuai. Material co-processed diluents lebih baik untuk kempa langsung
dibandingkan hasil modifikasi 1 macam diluents saja.
Tabel II. Macam-macam filler- binder hasil modifikasi tunggal dan co-
processed
Filler- binder Diskripsi
Modifikasi tunggal
Avicel
Spray dried lactose
Ditab
Co-processed
Fast Flo lactose


Microcellac


Ludipress


Nu-Tab


Di-Pac


Sugartab


Emdex


Cal-Tab


Cal-Carb


Calcium 90


StarLac
Modifikasi dari mikrokristalinselulosa/MCC
Hasil spray laktosa
Modifikasi dikalsium fosfat dihidrat
Hasil spray campuran -lactose kristalin
monohidrat dan laktosa amorp.
75% laktosa dan 25% MCC (Microkristalin
selulosa).
93% -laktosa monohidra, 3,5% PVP dan
3,5% crospovidone.
Sukrosa 95-97%, gula invert 3-4% dan
magnesium stearat 0,5%.
Sukrosa 97% dan dextrin modifikasi 3%
Sukrosa 90-93% dan gula invert 7-10%.
Dextrosa 93-99% dan maltosa 1-7%
Kalsium sulfat 93% da gom alam 7%
Kalsium karbonat 95% dan maltodektrin5%
Kalsium karbonat (minimum) 90% da
Amilum, NF (maksimum) 9%
Laktosa 80% dan Amilum Jagung 20%
BINDERS (PENGIKAT)
Binders atau bahan pengikat berfungsi memberi daya adhesi pada
massa serbuk pada granulasi dan kempa langsung serta untuk
menambah daya kohesi yang telah ada pada bahan pengisi. Bahan
pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk kering dan bentuk larutan
(lebih efektif). Bahan pengikat secara umum dapat dibedakan menjadi:
pengikat dari alam, polimer sintetik/semisintetik dan gula.
Pada granulasi basah, bahan pengikat biasanya ditambahkan dalam
bentuk larutan (dibuat solution, musilago atau suspensi), namun dapat
juga ditambahkan dalam bentuk kering, setelah dicampur dengan massa
yang akan digranul baru ditambahkan pelarut.
Tabel III. Pengikat yang biasanya digunakan dalam granulasi basah
Nama Konsentrasi
(%dari formula)
Pelarut
Selulosa mikrokristalin
Polimer (turunan selulosa)
CMC Na
HPC
10-50
1-5
2-7
2-5
1-3
Air
Air
Alcohol
Alkohol, air
Air
HPMC
MC
HEC
EC
PVP
Gelatin
Gom Alam
Akasia
Tragakan
Guar
Pektin
Amilum
Amilum pregelatin
Sukrosa
Lainnya
Sirup jagung
PEG
Na Alginat
Magnesium aluminum silikat
1-5
2-5
10-25
2-20
5-10
5-10
Air
Air (pasta)
Air
Air
Air
Pada proses granulasi, dengan adanya bahan pengikat dalam bentuk
cair maka bahan pengikat akan membasahi permukaan partikel,
selanjutnya terbentuk jembatan cair (liquid bridges) antar partikel.
Selanjutnya partikel yang berikatan akan semakin banyak sehingga
terjadi pertumbuhan/pembesaran granul. Setelah proses pengayakan
dilakukan proses pengeringan yang mengakibatkan terbentuknya
jembatan padat antara partikel yang saling mengikat membentuk granul.
Banyaknya larutan pengikat yang dibutuhkan dalam proses granulasi
bervariasi tergantung pada: jumlah bahan, ukuran partikel,
kompresibilitas, luas permukaan, porositas, hidrofobisitas, kelarutan
dalam larutan pengikat, dan cara/metode penggranulan. Pada tabel IV
terlihat perkiraan volume larutan pengikat yang dibutuhkan untuk
menggranul berbagai bahan pengisi.
Tabel IV. Banyaknya larutan pengikat yang dibutuhkan untuk
menggranul 3000 g pengisi
Larutan bahan pengikat Pengisi
Sukrosa Lactosa Dektrosa Mannitol
Gelatin 10%
Glukosa 50%
Metilselulosa 2 % (400 cps)
Air
Akasia 10%
Musilagoamili 10%
Alkohol 50%
200
300
290
300
220
285
460
260
290
325
400
400
400
460
700
340
500
500
835
660
685
660
1000
470
560
585
570
750
675
810
1000
525
PVP dalam air 10%
PVP dalam alcohol 10%
Sorbitol dalam air 10%
780
280
650
440
825
750
900
655
Pada pembuatan tablet dengan metode granulasi kering dan kempa
langsung, bahan pengikat ditambahkan dalam bentuk kering.
Tabel V. Jenis-jenis bahan pengikat yang umum digunakan pada kempa
langsung
Bahan Pengikat Kelas
Avicel (PH 101) Mikrokristalinselulosa
SMCC (50) Silicified Mikrokristalinselulosa
UNI-PURE(DW) Amilum pregelatin partial
UNI-PURE (LD) Amilum densitas rendah
DC Lactose DC laktosa anhydrous
DI TAB DC-Calsium fosfat dihidrat dibasa
Tabel VI. Karakteristik bahan pengikat untuk kempa langsung (DC/Direct
compression)
Sifat alir DI TAB > SMCC(50) > DC Lactose , UNI PURE(DW) > Avicel (PH
101) > UNI PURE(LD)
Compresibilitas UNI PURE(LD) > SMCC(50) , Avicel (PH 101) > UNI PURE(DW) ,
DC Lactose > DI TAB
Crushing Strength UNI PURE(LD) > SMCC(50) > UNI PURE(DW) > Avicel
DISINTEGRANTS DAN SUPER DISINTEGRANTS
Bioavailabilitas suatu tablet tergantung pada absorpsi obatnya. Absorpsi
obat tergantung pada kelarutan obat dalam cairan gastrointestinal dan
permeabilitas obat melintasi membran. Kecepatan kelarutan suatu obat
dalam tablet tergantung pada sifat fisika-kimia obat, dan juga kecepatan
disintegrasi dan disolusi dari tablet. Untuk mempercepat disintegrasi
tablet, maka ditambahkan disintegran/bahan penghancur. Bahan
penghancur akan membantu hancurnya tablet menjadi granul,
selanjutnya menjadi partikel partikel penyusun sehingga akan
meningkatkan kecepatan disolusi tablet.
Bahan penghancur dapat ditambahkan langsung (pada kempa
langsung) atau dapat ditambahkan secara intragranular, ekstragranular
serta kombinasi intra-ekstra pada granulasi. Aksi bahan penghancur
dalam menghancurkan tablet, ada beberapa mekanisme, yaitu: aksi
kapiler,swelling/pengembangan, heat of wetting, particle repulsive
forces, deformation, release of gases,enzymatic action.
Tabel VII. Tipe dan jumlah disintegran/bahan penghancur yang umum
ditambahkan
Disintegrant Konsentrasi (%)
Amilum
Amilum 1500
Avicel (mikrokristalin selulosa)
Solka floc
Asam alginat
Explotab (sodium starch glycolate)
Gom guar
Policlar AT (Crosslinked PVP)
Amberlite IPR 88
Metilselulosa, CMC, HPMC.
5-20
5-15
5-10
5-15
5-10
2-8
2-8
0,5-5
0,5-5
5-10
BAHAN PELICIN
Bahan pelicin mempunyai 3 fungsi, yaitu:
1. Lubricants
Lubrikan adalah bahan yang berfungsi untuk mengurangi friksi antara
permukaan dinding/tepi tablet dengan dinding die selama kompresi dan
ejeksi. Lubrikan ditambahkan pada pencampuran akhir/final
mixing, sebelum proses pengempaan. Lubrikan dapat diklasifikasikan
berdasarkan kelarutannya dalam air yaitu larut dalam air dan tidak larut
dalam air. Pertimbangan pemilihan lubrikan tergantung pada cara
pemakaian, tipe tablet, sifat disintegrasi dan disolusi yang dinginkan,
sifat fisika-kimia serbuk/granul dan biaya.
Tabel VIII. Macam-macam lubrikan yang biasa digunakan pada sediaan
tablet
Jenis Lubricants Konsentrasi(%)
Water insoluble lubricants
Stearates(Magnesium Stearate, Calcium Stearate,
Sodium stearate)
0,25-1
Talc 1-2
Sterotex 0,25-1
Waxes 1-5
Stearowet 1-5
Glyceryl behapate(Compritol

888) 1-5
Liquid paraffin Sampai 5
Water soluble lubricants
Boric acid 1
Sodium benzoate, Sodium oleate, Sodium acetate 5
Sodium Lauryl sulfate (SLS) 1-5
Magnesium lauryl sulfate (MLS) 1-5
2. Glidants
Glidants ditambahkan dalam formulasi untuk menaikkan/meningkatkan
fluiditas massa yang akan dikempa, sehingga massa tersebut dapat
mengisi die dalam jumlah yang seragam. Amilum adalah glidan yang
paling populer karena disamping dapat berfunsi sebagai glidan juga
sebagai disintegran dengan konsentrasi sampai 10%. Talk lebih baik
sebagai glidan dibandingkan amilum, tetapi dapat menurunkan
disintegrasi dan disolusi tablet. Pada tabel IX terlihat beberapa tipe
glidan yang biasa digunakan.
Tabel IX. Tipe dan jumlah lubrikan yang biasanya digunakan
Glidants Konsentrasi (%)
Logam stearat
Asam stearat
Talk
Amilum
Natrium benzoat
Natrium klorida
Natrium dan magnesium lauril sulfat
PEG 4000 dan 6000
< 1
1-5
1-5
1-10
2-5
5-20
1-3
2-5
3. Antiadherents
Antiadherents adalah bahan yang dapat mencegah melekatnya
(sticking) permukaan tablet padapunch atas dan punch bawah. Talk,
magnesium stearat dan amilum jagung merupakan material yang
memiliki sifat antiadherent yang sangat baik.
Tabel X. Daftar antiadherent yang biasa digunakan
Jenis antiadherents Konsentrasi (% b/b)
Talk 1-5
Magnesium stearat < 1
Amilum jagung 3-10
Colloidal silica 0,1-0,5
DL-Leucine 3-10
Natrium lauril sulfat < 1
COLORS DAN PIGMENTS
Bahan pewarna tidak mempunyai aktifitas terapetik, dan tidak dapat
meningkatkan bioavailabilitas atau stabilitas produk, tetapi pewarna
ditambahkan kedalam sediaan tablet untuk fungsi menutupi warna obat
yg kurang baik, identifikasi produk, dan untuk membuat suatu produk
lebih menarik (aesthetic appearance and brand image in the market).
Akan tetapi penggunaan pewarna yang tidak tepat/salah akan
mempengaruhi mutu produk. Pewarna yang digunakan haruslah
pewarna yang diperbolehkan oleh undang-undang untuk digunakan
sebagai pewarna untuk sediaan obat.
Bahan pewarna ada yang larut dalam air dan ada tidak larut. Pewarna
ditambahkan dalam bentuk larutan atau suspensi dalam granulasi
basah, tergantung apakah pewarna tersebut larut atau tidak.
Penggunaan pewarna yang larut kemungkinan dapat terjadi migrasi zat
warna selama proses pengeringan yang dapat mengakibatkan tidak
meratanya warna. Penggunaan pewarna yang tidak larut dapat
mengurangi resiko interaksi yang kemungkinan terjadi dengan zat aktif
dan bahan tambahan yang lain. Terhadap tablet yang telah diberi
pewarna, sangat penting untuk dilakukan pengukuran keseragaman
warna pengkilapan, serta perubahan warna karena pengaruh cahaya
pada permukaan tablet. Pengukuran dapat dilakukan
dengan Reflectance Spectrophotometry,Tristimulus Colourimetric
Measurements dan Microreflectance Photometer
Tabel XI: Jenis pewarna (sintetik) yang biasa digunakan
Pewarna Nama umum
Red 3 Erythrosine
Red 40 Allura red AC
Yellow 5 Tartrazine
Yellow 6 Sunset Yellow
Blue 1 Brilliant Blue
Blue 2 Indigotine
Green 3 Fast Green
SWEETENERS, FLAVORS
Penambahan Pemanis dan pemberi rasa biasanya hanya untuk tablet-
tablet kunyah, hisab, buccal, sublingual, effervescent dan tablet lain yg
dimaksudkan untuk hancur atau larut dimulut.
Tabel XII. Beberapa pemanis yang biasa digunakan dalam formulasi
tablet
Pemanis alami Pemanis sintesis/buatan
Mannitol Sakarin
Lactosa Siklamat
Sukrosa Aspartame
Dektrosa
Sakarin 500 kali lebih manis dibandingkan sukrosa, kekurangannya
berasa pahit pada akhir dan bersifat karsinogenik, sama seperti siklamat
yang juga karsinogenik. Aspartame 180 kali lebih manis dibanding
sukrosa, tetapi kurang stabil pada kondisi lembab sehingga tidak dapat
digunakan dengan komponen yang higroskopis.
Flavors digunakan untuk memberi rasa atau meningkatkan rasa pada
tablet-tablet yang dikehendaki larut atau hancur dimulut sehingga lebih
dapat diterima oleh konsumen. Flavors dapat ditambahkan dalam
bentuk padat (spray dried flavors) atau dalam bentuk minyak atau
larutan (water soluble) flavors. Dalam bentuk padat lebih mudah
penanganannya dan secara umum lebih stabil dari pad bentuk minyak.
Minyak biasanya ditambahkan pada tahap lubrikasi sebab minyak
sensitif terhadap moisture dan bertendensi menguap ketika dipanaskan
pada pengeringan. Jadi yang paling mungkin adalah diadsorbsikan ke
dalam eksipien dan ditambahkan pada proses lubrikasi. Maksimum
penambahan minyak yang ditambahkan pada granul tanpa
mempengaruhi karakter tablet atau proses penabletan adalah 0,5-
0,75. Aqueous flavors tidak banyak digunakan sebab tidak stabil
because pada penyimpanan.
PERTIMBANGAN DALAM PEMILIHAN EKSIPIEN UNTUK TABLET
Eksipien yang dibutuhkan dalam formulasi sediaan padat begitu banyak
(jenis dan fungsinya), dengan pilihan yang beragam pula. Dalam
beberapa decade terakhir, produsen terus mengembangkan dan meriset
berbagai eksipien generasi baru dengan berbagai sifat kimia-fisika dan
keunggulannya. Dalam memilih eksipien, dituntut kejelian dan
kecerdasan dari formulator sehingga dapat dihasilkan suatu tablet yang
bermutu (aman, manjur, acceptable dan stabil). Banyak faktor yang
harus dipertimbangkan dalam memilih eksipien seperti: sifat fisika kimia
zat aktif dan eksipien, proses/metode pembuatan, cara/rute pemakaian,
dosis dan profil pelepasan yang dinginkan, dan lain sebagainya. Semua
pertimbangan tersebut harus dikaji secara komprehensif, sehingga akan
dapat dihasilkan suatu formula yang baik. Prinsip dasar yang dapat
menjadi landasan adalah penggunaan eksipien sebaiknya dalam jumlah
(jenis dan kuantitas) yang sesedikit mungkin untuk menghindari interaksi
yang lebih besar yang mungkin terjadi antar komponen yang ada.
Sebaliknya suatu ketika mungkin akan dibutuhkan jumlah (jenis dan
kuantitas) yang besar untuk mencapai tujuan tertentu.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan eksipien
KESIMPULAN
Dalam formulasi sediaan tablet, selain bahan aktif juga dibutuhkan
eksipien/bahan tambahan, karena zat aktif tidak memiliki semua sifat
yang baik untuk langsung dibuat tablet. Bahan tambahan bukan
merupakan bahan aktif, namun secara langsung atau tidak langsung
akan berpengaruh pada kualitas/mutu tablet yang dihasilkan. Pemilihan
bahan tambahan harus disesuaikan dengan sifat kimia-fisika dari bahan
obat, serta dengan tujuan yg ingin dicapai

http://www.saifullah.staff.ugm.ac.id/?p=37