Anda di halaman 1dari 40

i

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan limpahan rahmat-Nyalah maka kami boleh menyelesaikan tugas
terstruktur ini dengan tepat waktu. Tugas terstruktur ini merupakan sebuah laporan
berdasarkan Praktik Kerja Lapangan yang dilakukan pada hari Jumat tanggal 9 Mei
2014 di PT. Sri Rejeki Isman Textil (Sritex). Laporan yang berjudul Kajian
Lingkungan Fisik Pada Departement Garment V PT. Sri Rejeki Isman Textil (Sritex)
Sukoharjo dibuat untuk memenuhi kewajiban pembelajaran pada mata kuliah
Higiene Industri di Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman.
Melalui kata pengantar ini, kami mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak terkait yang telah membantu kami dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam
penyusunan makalah ini, khususnya kepada Bapak Suryanto yang telah membimbing
kami baik pada saat Praktik Kerja Lapangan berlangsung hingga pengarahan dalam
penyusunan laporan ini. Makalah ini disusun berdasarkan sistematika sedemikian
rupa yang berisi mengenai gambaran lingkungan fisik pada departemen garmen di
PT. Sritex .
Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini. Oleh karna itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan
saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.Dengan ini
kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga
Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kita
semua.

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Tujuan Penulisan ............................................................................... 2
C. Manfaat Penulisan ............................................................................. 3
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Pengertian lingkungan kerja fisik...................................................... 4
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja fisik................ 5
C. Pemantauan lingkungan kerja ......................................................... 23
D. Upaya perbaikan lingkungan kerja.................................................. 26
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil PKL ........................................................................................ 29
B. Pembahasan .................................................................................... 29
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................... 34
B. Saran ............................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 35

LAMPIRAN ................................................................................................ 36



1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Menurut UU No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, Industri merupakan
kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi,
dan/ atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk
penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Era globalisasi saat ini banyak kasus-kasus yang terjadi di sebuah perusahaan
tentang lalainya perusahaan tersebut akan kesehatan dan keselamatan para pekerja-
pekerjanya. Padahal dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-harinya karyawan/pekerja di
sektor industri maupun perkantoran akan memiliki resiko bahaya di tempat kerjanya
(Suardi,2007).
Setiap hari manusia terlibat pada suatu kondisi lingkungan kerja yang
berbeda-beda, dimana perbedaan kondisi tersebut sangat mempengaruhi terhadap
kemampuan manusia. Manusia akan mampu melaksanakan kegiatannya dengan baik
dan mencapai hasilnya yang optimal apabila lingkungan kerjanya mendukung.
Lingkungan kerja yang nyaman sangat dibutuhkan oleh pekerja untuk dapat bekerja
secara optimal dan produktif, oleh karena itu lingkungan kerja harus ditangani dan
atau di desain sedemikian sehingga menjadi kondusif terhadap pekerja untuk
melaksanakan kegiatan dalam suasana yang aman dan nyaman (Suardi, 2007).
Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah kesehatan
kerja yang meliputi faktor fisik (Kebisingan, getaran, listrik, udara, radiasi), faktor

2

kimia (Cairan, asap, debu, gas, uap), faktor biologi (Jamur, bakteri, virus), faktor
mekanik dan ergonomi (Pencahayaan dan penglihatan), faktor psikososial (Tekanan
kerja, kebosanan, bekerja pada hari libur) (Harrington, 2005).
PT. Sri Rejeki Isman Textil (Sritex) Sukoharjo merupakan salah satu
industri/pabrik yang bergerak dalam bidang sandang. Sritex merupakan salah satu
pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara yang tentunya telah menerapkan standar
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja secara internasional. PT.Sritex
bertanggung jawab untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi
peningkatan kinerja para pekerja/karyawan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui
pengembangan diri karyawan, baik di bidang keterampilan teknis, kinerja,
kemampuan dan rasa percaya diri sehingga dapat menjamin pertumbuhan perusahaan.
Penerapan higiene industri sangat diperlukan untuk meningkatkan keselamatan dan
kesehatan kerja karyawan, oleh karena itu, kami ingin melaporkan bagaimana situasi
dan kondisi lingkungan kerja di PT. Sri Rejeki Isman Textil (Sritex) Sukoharjo.

B. Tujuan penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk memberi gambaran lingkungan kerja fisik di PT.
Sri Rejeki Isman Textil (Sritex) Sukoharjo berdasarkan Praktik Kunjungan Lapangan
yang sudah dilakukan.





3

C. Manfaat penulisan
1) Bagi Mahasiswa
Menambah pengetahuan mahasiswa tentang standar operasional
(K3,Higiene,dan sanitasi) termasuk lingkungan kerja di PT. Sri Rejeki Isman
Textil (Sritex) Sukoharjo.
Menambah pengalaman mahasiswa tentang proses produksi tekstil di PT. Sri
Rejeki Isman Textil (Sritex) Sukoharjo.
2) Bagi PT. Sri Rejeki Isman Textil (Sritex) Sukoharjo
Membantu dalam memberikan informasi mengenai faktor-faktor kepuasan
kerja karyawan (khususnya pada aspek lingkungan kerja fisik) yang dapat
mempengaruhi kinerja karyawan.
Membantu para pimpinan dalam mengambil kebijakan agar selalu berusaha
memenuhi standar operasional agar dalam rangka peningkatan produktifitas
karyawan.







4

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Lingkungan Kerja Fisik
Menurut Nitisemito (2002:183) mengemukakan Lingkungan kerja adalah
segala yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas yang dibebankan. Sedangkan Sedarmayanti (2009:2)
mengungkapkan bahwa Lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan
bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, metode
kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai
kelompok. Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa
lingkungan kerja merupakan semua keadaan disekitar tempat kerja, baik yang
menyangkut aspek fisik maupun non fisik dan dapat membuat para karyawan merasa
nyaman dan melakukan pekerjaannya dengan baik (Mangkunegara, 2007).
Sedarmayanti (2009:26) mengemukakan bahwa lingkungan kerja dibagi
kedalam dua bagian, yaitu lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik.
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar
tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Yang termasuk kedalam lingkungan kerja fisik adalah:
1. Lingkungan yang langsung berhubungan dengan pegawai (seperti: pusat kerja,
kursi, meja dan sebagainya)
2. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut lingkungan kerja
yang mempengaruhi kondisi manusia.


5

Sementara lingkungan kerja non fisik menurut Sedarmayanti (2001:31) adalah semua
keadaan yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan
maupun hubungan sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan bawahan
(Mangkunegara, 2007).
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja Fisik
Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja fisik dijelaskan sebagai berikut:
1. Kebisingan
Bunyi atau suara didengar sebagai rangsangan pada sel syaraf pendengaran
dalam telinga oleh gelombang longitudinal yang ditimbulkan oleh getaran dari
sumber bunyi atau suara dan gelombang tersebut merambat melalui media udara
atau peghantar lainnya, dan manakala bunyi atau suara tersebut tidak dikehendaki
oleh karena mengganggu atau timbul di luar kemauan orang yang bersangkutan,
maka bunyi-bunyian atau suara demikian dinyatakan sebagai kebisingan
(Sumamur, 2009).
a. Pengertian kebisingan
Kebisingan (Noise) adalah suara yang tidak dikehendaki. Menurut Wall
(1997), kebisingan adalah suara yang mengganggu. Sedangkan menurut
Kep.Men-48/MEN.LH/11/1996, kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan
dari suatu usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan,
termasuk ternak, satwa, dan sistem alam (Subaris dkk, 2007).


6

Dalam rangka perlindungan kesehatan tenaga kerja kebisingan diartikan
sebagai semua suara/ bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-
alat produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat
menimbulkan gangguan pendengaran (Sumamur, 2009).
b. Jenis kebisingan
Steady State Noise adalah kebisingan dimana fruktuasidari intensitasnya
tidak lebih dari 6 dB. Sebagai contoh, suara yang ditimbulkan oleh komposer,
kippas angin, dapur pijar (Steady State wide Band Noise); suara mesin gergaji
sirkuler (Circular Chain Saw), dan suara yang ditimbulkan oleh katup (Steady
State Narrow Band Noise).
Impact/Impulse Noise, adalah kebisingan yang ditimbulkan oleh sumber
tunggal atau bunyi yang pada saat tertentu terdengar secara tiba-tiba, misalnya
kebisingan yang ditimbulkan oleh ledakanbom atau meriam, sedangkan
impulsive berulang terjadi pada mesin produksi di industri.
Intermitten/interuted Noise adalah kebisingan dimana suara mengeras
dan kemudian melemah secara perlahan-lahan. Sebagai contoh, kebisingan yag
ditimbulkan oleh kendaraan lalu lintas atau pesawat udara yang tinggal landas
(Subaris dkk, 2007).
c. Sumber kebisingan
Menurut Dirjen PPM dan PL, DEPKES & KESSOS RI Tahun 2000,
sumber kebisingan dibedakan menjadi :


7

1. Bising Industri
Industri besar termasuk didalamnya pabrik, bengkel dan sejenisnya. Bising
Industri dapat dirasakan karyawan maupun masyarakat disekitar industri.
2. Bising rumah tangga
Umumnya disebabkan oleh alat-alat rumah tangga dan tidak terlalu tinggi
tingkat kebisingannya.
3. Bising spesifik
Bising yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan khusus, misalnya
pemasangan tiang pancang tol atau bangunan.
Bila sumber kebisingan dilihat dari sifatnya dibagi menjadi dua yaitu
(Wisnu, 1996):
1. Sumber kebisingan statis: pabrik, mesin, tape, dan lainnya.
2. Sumber kebisingan dinamis: mobil, pesawat terbang, kapal laut, dan lainnya.
Sedangkan sumber bising yang dilihat dari bentuk sumber suara yag
dikeluarkannya ada dua, yaitu (Men. KLH, 1989):
1. Sumber bising yang berbentuk sebagai suatu titik/bola/lingkaran. Contoh:
sumber bising dari mesin-mesin industri/mesin yang tak bergerak.
2. Sumber bising yang berbentuk sebagai suatu garis, misalnya kebisingan
yang timbul karena kendaraan-kendaraan yang bergerak di jalan (Subaris
dkk, 2007).
d. Dampak kebisingan
1. Pada indera pendengaran (Audiotory Effect)


8

a. Trauma akustik, gangguan pendengaran yang disebabkan oleh pemaparan
tunggal terhadap intensitas kebisingan yang sangat tinggi dan terjadi
secara tiba-tiba. Sebagai contoh ketulian yang disebabkan oleh suara
ledakan bom.
b. Ketulian sementara (Temporary Threshold Shift/TTS), gangguan
pendengaran yang dialami seseorang yang sifatnya sementara. Daya
dengarnya sedikit demi sedikit pulih kembali, waktu untuk pemulihan
kembali adalah berkisar dari beberapa menit sampai beberapa hari (3-7
hari), namun yang paling lama tidak lebih dari sepuluh hari.
c. Ketulian permanen (Permanent Threshold Shift/PTS), Bilamana
seseorang pekerja mengalami TTS dan kemudian terpajan bising kembali
sebelum pemulihan secara lengkap terjadi, maka akan terjadi akumulasi
sisa ketulian (TTS), dan bila hal ini berlangsung secara berulang dan
menahun, sifat ketuliannya akan berubah menjadi menetap (Permanen).
PTS sering juga disebut NIHL (Noise Induced Hearing Loss) dan NIHL
terjadi umumnya setelah terpajan 10 tahun atau lebih.
2. Effek kebisingan bukan pada indera pendengaran (Non Audiotory Effect).
a. Gangguan komunikasi, oleh kebisingan telah terjadi, apabilla komunikasi
pembicaraan dalam pekerjaan harus dijalankan dengan suara yang
kekuatannya tinggi dan lebih nyata lagi apabila dilakukan dengan cara
berteriak. Gangguan komunikasi seperti itu menyebabkan terganggunya
pekerjaan, bahkan mungkin mengakibatkan kesalahan atau kecelakaan,


9

terutama pada pengguna tenaga kerja baru oleh karena timbulnya salah
faham dan salah pengertian (Sumamur, 2009).
b. Gangguan tidur (Sleep interference), menurut EPA (1974), manusia dapat
terganggu tidurnya pada intensitas suara 33-38 dBA dan keluhan ini akan
semakin banyak ditemukan bila tingkat intensitas suara di ruang tidur
mencapai 48 dBA.
c. Gangguan pelaksanaan tugas (Task Interference), terutama pada tugas-
tugas yang menumbuhkan ketelitian atau pekerjaan yang rumit dan
pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
d. Perasaan tidak senang/ mudah marah (Annoyance).
e. Stress, pengalaman pada pemeriksaan di perusahaan menunjukkan
beberapa tahapan akibat stress kebisingan, yaitu menurunnya daya
konsentrasi, cenderung cepat lelah, gangguan komunikasi, gangguan
fungsi pendengaran secara bertahap, ketulian/penurunan daya dengar
yang menetap (Subaris dkk, 2007).
e. Pengukuran kebisingan
Pengukuran kebisingan bertujuan untuk membandingkan hasil
pengukuran pada suatu saat dengan standar stau Nilai Ambang Batas (NAB)
yang telah ditetapkan.
Pengukuran yang ditunjukan hanya sekedar untuk mengendalikan
terhadap lingkungan kerja dilaksanakan di tempat di mana pekerja
menghabiskan waktu kerjanya serta dilaksanakan pada waktu pagi, siang, dan
sore hari.


10

Pengukuran yang bertujuan untuk mengetahui efek kebisingan terhadap
pendengaran perlu dilaksanakan secara intensif selama jam keja. Bila pekerja
selalu berpindah tempat maka disamping dilaksanakan pengukuran tingkat
tekanan suara juga dicatat waktu selama pekerja berada di tempat-tempat
tersebut agar dapat diketahui apakah pekerja sudah terpajan melampaui NAB.
Alat yang digunakan untuk pegukuran intensitas kebisingan adalah
Sound Level Meter (SLM) yang mempunyai beberapa jenis antara lain:
1. Precision Sound Level Meter
2. General Purpose Sound Level Meter
3. Survey Sound Level Meter
4. Special Purpose Sound Level Meter (Subaris dkk, 2007).
f. Program pengendalian bising
Berdasarkan teknik pelaksanaannya, pengendalian bising dibedakan dalam tiga
cara:
1. Pengendalian pada sumber
Beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam cara ini adalah sebagi berikut:
a. Meredam bising/getaran yang ada
b. Mengurangi luas permukaan yang bergetar
c. Mengatur kembali tempat sumber
d. Mengatur waktu operasi mesin
e. Pengecualian atau pengurangan volume.
f. Pembatasan jenis dan jumlah lalu lintas dan lainnya.



11

2. Pengendalian pada media bising
Langkah-langkah yang bisa dilakukan dengan cara ini adalah sebagai
berikut:
a. Memperbesar jarak sumber bising dengan pekerjaan atau pemukiman.
b. Memasang peredam suara pada dinding dan langit-langit.
c. Membuat ruang kontrol agar dapat dipergunakan mengontrol pekerjaan
dari ruang terpisah.
d. Bila sumber bising adalah lalulintas, bisa dilakukan pembatasan jalan
dengan rumah/gedung/rumah sakit, dan lain-lain. Dengan penanaman
pohon, pembuatan gundukan tanah, pembuatan tembok/pagar, pembuatan
jalur hijau dan daerah penyangga dan lainnya.
3. Pengendalian pada penerima
Pengendalian dengan cara ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara
lain:
a. Memberi alat pelindung diri seperti ear plug, ear muff, helmet.
b. Memberi latihan dan pendidikan kesehatan dan keselamatan kerja,
khususnya tentang kebisingan dan pengaruhnya.
c. Tindakan pengamanan juga dapat dilakukan dengan cara memindahkan
tenaga kerja terkena bising (Subaris dkk, 2007).



12

2. Penerangan atau pencahayaan
Penerangan atau pencahayaan merupakan salah satu komponen agar
pekerja dapat bekerja/ mengamati benda yang sedang dikerjakan secara jelas,
cepat, nyaman, dan aman. Lebih dari itu penerangan yang memadai akan
memberikan kesan pemandangan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang
menyegarkan. Pencahayaan dalam lingkungan kerja adalah agar benda terlihat
jelas. Pencahayaan dapat diatur sedemikian rupa yang disesuaikan dengan
kecermatan atau jenis pekerjaan sehingga memelihara kesehatan mata dan
gairahan kerja. (Subaris dkk, 2007).
Penerangan yang baik adalah penerangan yang memungkinkan tenaga
kerja dapat melihat obyek pekerjaannya dengan teliti, cepat dan tanpa upaya yang
tidak perlu, serta membantu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan
menyenangkan. Penerangan yang baik ditentukan oleh faktor-faktor berikut :
1. Pembagian luminensi dalam lapangan penglihatan
2. Pencegahan terhadap kesilauan
3. Pengaturan arah sinar
4. Penggunaan warna yang dipakai untuk penerangan
5. Pemakaian sumber cahaya yang tidak atau minim menimbulkan panas terhadap
lingkungan. (Sumamur, 2009).
a. Faktor yang mempengaruhi intensitas pencahayaan
1. Sumber cahaya : berbagai jenis sumber cahaya yang dapat dipakai dan
pada saat ini dipergunakan antara lain ; lampu pijar/bolam, lampu TL
(lampu pelepasan listrik/fluorescent lamp), dan sumber cahaya alami.


13

2. Daya pantul (Reflektivitas): bila cahay mengenai suatu permukaan yang
kasar dan hitam maka sumua cahaya akan diserap, tetapi bila permukaan
halus dan mengkilap maka cahaya akan dipantulkan sejajar, sedangkan
bila permukaan tidak rata maka pantulan cahaya akan diffus.
3. Ketajaman penglihatan: kemampuan mata untuk melihat sesuatu benda
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a. Ukuran obyek/benda : besar kecilnya obyek
b. Luminensi Brightness: tingkat terangnya lapangan penglihatan yang
tergantung dari penerangan dan pemantulan obyek/permukaan
c. Waktu pengamatan, lamanya melihat
d. Derajat kontras; perbedaan derajat terang antara obyek dan
sekitarnya/antara 2 permukaan. (Subaris dkk, 2007).
b. Pengaruh pencahayaan
Pengllihatan yang jelas maka tenaga kerja akan melaksanakan
pekerjaannya lebih mudah dan cepat sehingga produktivitas diharapkan naik,
sedangkan penerangan buruk akan berakibat:
1. Kelelahan mata dan berkurangnya daya dan efisiensi kerja
2. Kelelahan mental
3. Keluhan pegal/sakit di sekitar mata
4. Kerusakan indera mata
5. Meningkatnya kecelakaan kerja
Gejala-gejala kelelahan mental meliputi:
1. Sakit kepala


14

2. Penurunan kemampuan intelektual
3. Penurunan daya konsentrasi
4. Penurunan kecepatan berpikir (Subaris dkk, 2007).
c. Pemeliharaan
Penerangan yang baik perlu pemeliharaan yang baik pula. Hal ini
dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
1. Pembersihan lampu secara teratur
2. Pengecatan kembali permukaan-permukaan dalam ruangan
3. Penggantian lampu-lampu yang kurang atau tidak berfungsi (Subaris dkk,
2007).
d. Pengukuran pencahayaan
Pengukuran intensitas cahaya : Luxmeter
Pengukuran Luminensi : Brightnessmeter
Pengukuran kekuatan sumber cahaya : Fotometer (Subaris dkk, 2007).
3. Iklim / cuaca lingkungan kerja
Iklim kerja adalah suatu kombinasi dari suhu kerja, kelembaban udara,
kecepatan gerakan udara dan suhu radiasi pada suatu tempat kerja. Cuaca kerja
yang tidak nyaman, tidak sesuai dengan syarat yang ditentukan dapat menurunnya
efisiensi dan produktivitas tenaga kerja. (Subaris dkk, 2007).





15

a. Proses pertukaran panas
Di daerah tropis masalah pemaparan panas menjadi faktor penting yang
harus diperhatikan. Disamping cuaca kerja, sebetulnya tubuh sendiri ketika
melakukan aktifitas juga memerlukan panas (Subaris dkk, 2007).
Proses pertukaran panas antara tubuh dan lingkungan terjadi melalui
mekanisme konveksi, radiasi, evaporasi, dan konduksi. Bila seseorang sedang
bekerja, tubuh pekerja tersebut akan mengadakan interaksi dengan keadaan
lingkungan yang terdiri dari suhu udara, kelembaban dan gerakan atau aliran
udara. Proses metabolisme tubuh yang berinteraksi dengan panas di
lingkungannya akan mengakibatkan pekerja mengalami tekanan panas.
Tekanan panas ini dapat disebabkan karena adanya sumber panas maupun
karena ventilasi yang tidak baik (Subaris dkk, 2007).
b. Pekerjaan yang berpotensi menjadi sumber pemaparan panas
1. Jenis pekerjaan di luar ruangan/udara terbuka (outdoor)
a. Pertanian, perkebunan, kehutanan
b. Kontruksi terutama jalan raya, jembatan, lapangan golf, renovasi rel
kereta api
c. Pengeboran, pertambangan terbuka
d. Memancing, rekreasi dengan perahu boat
e. Aktivitas latihan militer.
2. Jenis pekerjaan di dalam ruangan/udar (indoor)
a. Pabrik pengolahan makanan
b. Proses pencelupan batik


16

c. Laundry
d. Dapur di rumah sakit
e. Ruang mesin, proses pengecoran logam
f. Ventilasi ruang kerja sangat kurang untu ruang di daerah tropis (Subaris
dkk, 2007).
c. Pengaruh pemaparan panas terhadap kesehatan
1. Dehidrasi : tubuh letih, lesu, lemas, kantuk, muntah
2. Heat Cramps : kejang otot karena kehilangan cairan dan garam akibat
keringat berlebihan yang menyebabkan kecenderungan sirkulasi jantung
kurang adequate.
3. Heat exhaustion (Heat perforation) : perubahan aliran darah kulit menjadi
lebih rendah dari suhu tubuh sehingga membutuhkan volume darah lebih
banyak. Kejadian ini biasanya terjadi bersamaan dengan kehilangan cairan
akibat keringat berlebihan dan cenderung menyebabkan kolapsnya sirkulasi
darah.
4. Heat Stroke : temperatur tubuh 40-41C yang mengakibatkan kerusakan
jaringan-jaringan, seperti liver, ginjal, dan otak. Korban merasa; sakit
kepala, fatigue, pening, denyut nadi cepat, disorientasi, dan cepat tidak
sadarkan diri. (Subaris dkk, 2007).
d. Pengukuran suhu lingkungan dan kelembaban
Untuk mengetahui tingkat tekanan panas harus diukur faktor-faktor
yang mempengaruhi sehingga diperlukan unit peralatan, yaitu:


17

1. Psycrometer, alat untuk mengukur suhu udara dan kelembaban nisbi
2. Termometer Globe, alat untuk mengukur tingkat radiasi
3. Termometer kata, alat untuk mengukur kecepatan gerakan udara
4. Termometer basah alami, alat untuk mengukur suhu basah alamiah.
5. Anemometer/velometer, alat untuk mengukur kecepatan gerakan udara
(Subaris dkk, 2007).
e. Suhu dingin
Respon tubuh bila suhu lingkungan turun; metabolisme meningkat,
sehingga produksi panas naik, vasikontriksi perifer, menyebabkan kehilangan
panas. Vasikontriksi berlebihan akan terjadi gangguan perfusi jaringan.
Akibat suhu dingin terhadap kesehatan pekerja:
1. Chilblain: suhu cukup dingin dan lama, gejala; kulit merah, bengkak, panas,
diperberat oleh anemi
2. Trencfoot, terjadi kerusakan anggota badan terutama kaki, pucat, iskemis,
kadang nadi tidak teraba, rasa kesemutan, kaku, berat, bila lanjut terjadi
gangren.
3. Froshbite: terjadi pada suhu 0C, terjadi gangrene
4. Kadang sebagai pencetus trigger asma. Rhinitis alergi, sakit fifi,
dermatitis alergi, nyeri tulang dll. (Subaris dkk, 2007).
4. Ventilasi Tempat Kerja
Ventilasi adalah cara mengontrol bahaya dengan penggantian/pertukaran
udara segar menggantikan udara kotor. Tenaga kerja yang bekerja pada


18

lingkungan yang kotor dan tekanan suhu yang ekstrim akan mengalami
kecenderungan kecelakaan, gangguan kapasitas kerja dan kapasitas mental,
kepuasan kerja rendah, dan produktivitas yang tidak maksimal. Tujuan dari
pemasangan sistem ventilasi adalah mengontrol bahaya lingkungan kerja pada
sumbernya demi keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan tenaga kerja. Tetapi
ventilasi juga sering menimbulkan permasalahan yaitu: kebisingan yang
ditimbulkan oleh sistem peralatan tersebut, berkurangannya kelembaban sehingga
udara terasa kering serta energi yang merupakan biaya rutin untuk mengoperasikan
sistem ventilasi tersebut. (Subaris dkk, 2007).
5. Getaran di tempat kerja
Berdasarkan dampaknya pada tubuh getaran diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Getaran seluruh tubuh (1 - 80 Hz) dihasilkan karena seluruh masa tubuh
berhadapan dengan getaran mekanis, contoh: getaran permukaan enyangga
mesin traktor.
2. Getaran pada sebagian alat tubuh, misalnya pada tangan/lengan dari 8 1 kHz,
ini ditentukan sebagi getaran yang terjadi pada alat tubuh yang bersentuhan
dengan media getaran dan bagian tubuh yang lain berada pada posisi diam.
Getaran ini bukan berarti bahwa bagian tubuh yang tidak bersentuhan langsung
dengan media getaran tidak terpengaruh. (Subaris dkk, 2007).
a. Pengaruh getaran terhadap kesehatan
Terdapat sejumlah pengaruh fisiologis dan psikologis yang nyata
karena adanya getaran pada seluruh tubuh. Hal ini berkisar dari perubahan-


19

perubahan morfologis pada tulang belakang, masalah sistem pencernaan,
kerusakan alat-alat reproduksi pada wanita, gangguan pada alat penglihatan
dan kesalahan pada sistem vestibular di dalam telinga. (Subaris dkk, 2007).
b. Sumber getaran
1. Alam
Merupakan fenomena geologi yang mengakibatkan gelombang (gerakan
bumi) sehingga menimbulkan masalah pencemaran getaran. Yang
bersumber dari getaran tektonik dan getaran vulkanik.
2. Aktivitas manusia
Getaran berasal dari gerakan/gesekan mesin dan alat-alat kerja lain yang
menimbulkan getaran. Contoh sumbernya adalah mesin-mesin produksi,
mesin bor pneumatik, pahat, gerenda, gergaji serta aktivitas mesin yang
menimbulkan gesekan dan getaran. (Subaris dkk, 2007).
c. Penanggulangan getaran
1. Penanggulangan pada sumber
a. Gunakan penggantung elastis pada mesin yang menyebabkan gerakan-
gerakan tersebut (karet peredam getaran, per-per logam, per-per angin,
pangkalan terapung, pangkalan tergantung dll)
b. Tambahlah pada pangkalan mesin yang menyebabkan getaran-getaran
atau tambahkan beban di bawah pangkalan
c. Seimbangkan bagian-bagian yang berputar dari mesin yang
menyebabkan getaran-getaran


20

d. Kurangi energi pemicu dengan melakukan pemeliharaan atau
memperbaiki mesin yang menimbulkan getaran-getaran
2. Langkah penanggulangan sepanjang rute propagasi
a. Ambilah manfaat dari pengecilan dengan jarak, dengan menjauhkan
titik penerima dan sumber agar semakin jauh.
b. Galilah parit peredam getaran atau buat suara penyekat
3. Langkah penanggulangan pada titik penerima
Cegahlah bagian-bagian gedung (prabotan) agar jangan bergetar. (Subaris
dkk, 2007).
6. Radiasi di tempat kerja
Radiasi adalah emisi energi yang dilepas dari bahan atau alat radiasi. Jenis
radiasi secara rinci meliputi:
1. Radiasi pengion:
a. Partikel : , Neutron dan Proton
b. Foton (gelombang elektromagnetik tertentu misalnya sinar X, sinar Y)
c. Radiasi alam yang berasal dari kerak bumi, seperti uranium, thomrium, dan
carbon 14.
2. Radiasi Non Pengion
a. Radiasi medin listrik dan magnet listrik seperti alat rumah tangga elektronik,
pemanas di pengecoran, pengecoran logam, jaringan tenaga listrik (SUTET
& SUTT), dan monitor.


21

b. Gelombang radio seperti pemancar UHF, pemancar HF, menara VHF,
menara antena TV, stasiun utama, stasiun satelit bumi, telekomunikasi
gelombang mikro, oven, gelombang mikro, telepon seluler, mesin pengelas
PVC.
c. Radiasi optik meliputi Ultra Violet dan Infra merah misalnya alat pengering,
matahari, lampu halogen tungsiram, industri kaca, sinar matahari, laser
pengelasan. (Subaris dkk, 2007).
Dampak radiasi terhadap kesehatan manusian dapat bersifat somatik dan
degeneratif baik oleh radiasi pengion maupun non pengion.
1. Dampak radiasi pengion
a. Radiasi sinar rontgen dan gamma menimbulkan : luka bakar, impotensi,
kerusakan sistem haemolitik dan leukemia
b. Radiasi sinar-sinar radioaktif menimbulkan : kelainan-kelainan sistemik
pada faal tubuh (kanker).
2. Dampak radiasi non pengion
a. Dampak radiasi sinar laser terhadap tubuh manusia adalah gangguan pada
mata (kerusakan retina dan kebutaan) dan kulit. Radiasi sinar inframerah
juga menyebabkan gangguan lensa mata (katarak). Radiasi sinar ultra violet
(pengelasan suhu tinggi, lampu pijar dan sinar matahari) menyebabkan
konjungtivitis foto elektrika.
b. Pengaruh langsung gelombang radio terhadap kesehatan tubuh manusia
adalah kerusakan jaringan setempat dan luka bakar. Sedangkan arus


22

gelombang terhadap frekuensi yang rendah berpengaruh terhadap sistem
saraf. Pengaruh tidak langsung apabila manusia menyentuh obyek logam
yang berdekatan dengan pemancar berdaya tinggi akan mengakibatkan luka
bakar (Subaris dkk, 2007).
7. Bau-bauan di tempat kerja
Bau-bauan adalah suatu jenis pencemaran udara, yang tidak hanya penting
ditinjau dari aspek penciuman terhadapnya, tetapi juga dari sudut pandang higiene
pada umumnya. Bau yang tidak disukai atau tidak enak sekurang-kurangnya
mengganggu perasaan orang yang tidak menyukainnya, mengurangi kenyamanan,
memeri kesan tidak sehat, mencerminkan keadaaan kotor atau kurangnya
kebersihan, sedangkan bau-bau tertentu dapat menjadi petunjuk bagi adanya
pencemaran udara oleh bahan berbahaya atau beracun.
Pengendalian bau-bauan di tempat kerja dilakukan dengan:
1. Pembakaran udarayang berbau, untuk merubah molekul zat yang memiliki bau
menjadi molekul yang tidak berbau.
2. Penambahan bau-bauan baru kepada udara yang berbau dan merangsang untuk
menrubah zat berbau menjadi zat lain yang kurang merangsang
3. Proses menutupi (masking process) yang didasarkan atas kerja antagonitis
antara dua zat berbau
4. Adsorpsi, absopsi, kondensasi dan proses-proses lainnya
5. Pengubahan kimiawi dari bau-bauan meliputi penggunaan zat oksidator seperti
klor dan persenyawaannya serta ozon
6. Air conditioning dan ventilasi umum (general ventilation) (Sumamur, 2009).


23

C. Pemantauan Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang manusiawi dan lestari akan menjadi pendorong bagi
kegairahan dan efisiensi kerja. Sedangkan lingkungan kerja yang melebihi toleransi
kemampuan manusia tidak saja merugikan produktivitas kerjanya, tetapi juga menjadi
sebab terjadinya penyakit atau kecelakaan kerja. Hanya lingkungan kerja yang aman,
selamat, dan nyaman merupakan prasyarat penting untuk terciptanya kondisi
kesehatan prima bagi karyawan yang bekerja di dalamnya. Untuk menjamin kearah
tersebut diperlukan pemantauan lingkungan kerja terhadap semua unit dalam suatu
perusaah yang bertujuan :
1. Memastikan apakah lingkungan kerja tersebut telah memenuhi syarat K3
2. Pedoman bahan perencanaan dan pengendalian terhadap bahaya-bahaya yang
timbul oleh faktor-faktor yang ada di setiap tempat kerja
3. Sebagai data pembantu untuk mengkorelasikan hubungan sebab akibat terjadinya
suatu penyakit akibat kerja maupun kecelakaan
4. Bahan dokumen untuk mengembangkan program-program K3 selanjutnya (Ichsan,
2001).
Pemantauan lingkungan kerja tidak hanya dilakukan secara kualitatif tetapi
harus dilakukan melalui pengukuran secara kuantitatif dengan menggunakan
peralatan lapangan atau analisis laboratorium agar diperoleh data objektif. Meskipun
belum ada norma dan kajian yang baku, seyogyanya pemantauan lingkungan kerja
dilakukan sekerap mungkin untuk mendapatkan data dan akurasi yang tepat (Ichsan,
2001).


24

Unit K3 atau P2K3 yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan K3 harus
menyusun perencanaan dan pelaksanaan terhadap pemantauan lingkungan kerja.
Dalam pelaksanaan di lapangan pemantauan lingkungan kerja harus dilakukan
melalui langkah-langkah :
1. Pengenalan lingkungan kerja
Pengenalan lingkungan kerja adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh
seseorang untuk mengamati dan mengenali lingkungan kerja untuk mengetahui secara
kualitatif faktor bahaya yang mungkin timbul di tempat kerja. Pengenalan lingkungan
kerja sifatnya subjektif, dipengaruhi oleh faktor individu yang melakukan kegiatan
ini. Dari tahapaan ini kita dapat mencurigai potenssi bahaya yang mungkin timbul
dari setiap unit dan faktor penyebabnya. Tahapan ini bermanfaat untuk :
a) Bahwa sejumlah faktor tertentu di salah satu unit dapat membahayakan dan perlu
diwaspadai
b) Dengan cepat, tepat, dan benar dapat diketahui unit mana yang diperkirakan
timbulnya gangguan tersebut dan langkah pengendalian apa yang harus dilakukan
c) Dapat memperkirakan jumlah karyawan tertentu dalam suatu unit yang terkena
gangguan tersebut.
Karena sifatnya masih subjektif maka perlu dipastikan hasil tersebut dengan
melakukan penilaian lingkungan kerja dengan menggunakan peralatan.




25

2. Penilaian lingkungan kerja
Penilaian lingkungan kerja adalah kegiatan pengukuran, pemeriksaan, dan
pengujian dengan menggunakan alat untuk mengetahui kadar kuantitatif suatu
faktor bahan di suatu tempat kerja. Peralatan yang digunakan tergantung jenis
parameter yang akan diukur.
Lingkungan Kerja (Parameter) Peralatan
Kebisingan SLM
Getaran Vibrasimeter
Debu Personal Dust Sampler
Air Water checker
Hasil pengukuran tersebut dibandingankan dengan standar atau ketentuan
Nilai Ambang Batas (NAB), apakah sama, lebih besar, atau lebih kecil. Bila
ditemukan angka lebih besar dari NAB harus dilakukan upaya pengendalian.
3. Pengendalian lingkungan kerja
Pengendalian terhadap bahaya di setiap unit harus diawali melalui
pendekatan manajemen (administrative), dan diikuti dengan pengendalian teknis
dan medis. Kepala bagian, supervisor harus memiliki pengetahuan tentang K3 agar
program pengendalian dapat dilakukan secara efektif. Langkah ini dapat dilakukan
sendiri atau bersama-sama sesuai kemampuan dan kondisi lapangan. Upaya ini
harus terintegrasi bersama-sama melalui engineering control, pendidikan kepada
karyawan (education), dan pengawasan ketat (enforcement). Sedapat mungkin


26

langkah yang ditempuh harus maksimal untuk mengurangi atau meniadakan risiko
bagi karyawan, sehingga mereka merasa aman, tenang bekerja serta meningkatkan
moral kerja dan motivasi (Ichsan, 2001).
D. Upaya Perbaikan Lingkungan Kerja
Perbaikan lingkungan kerja diterapkan sebagai salah satu upaya pencegahan
penyakit akibat kerja, yaitu untuk mengendalikan hazard atau bahaya lingkungan di
tempat kerja yang bersifat fisik, kimia, dan biologi, seperti bising, pencahayaan,
temperature, kelembapan, getaran, logam berat, pelarut, bahan karsinogenik, virus flu
burung, atau hiv, dan sebagainya. Ilmu yang mempelajari bagaimana memperbaiki
lingkungan kerja yaitu hygiene industri (Kurniawidjaja, 2010).
Konsep dasar hygiene industri adalah manajemen risiko, merupakan siklus
terdiri dari 4 tahapan yang harus dilaksanakan secara urut dan berkesinambungan,
yaitu :
a) Antisipasi, merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memprediksi hazard
lingkungan atau bahaya yang ada atau yang mungkin timbul di lingkungan tempat
kerja sebelum munculnya gangguan kesehatan pada pekerja.
b) Rekognisi, merupakan kegiatan pengenalan lebih lanjut (identifikasi) bahaya dan
efek kesehatan yang ada ditempat kerja. Rekognisi dapat dilakukan dengan
beberapa cara seperti survey jalan selintas, observasi, wawancara, penggunaan
data dari ahli hygiene industry, atau penggunaan data rekam medis.


27

c) Evaluasi, merupakan kegiatan pengukuran terhadap hazard secara lebih spesifik
dan sistematis menggunakan metode-metode tertentu. Hasil dari pengukuran
tersebut dibandingkan dengan standar yang berlaku.
d) Pengendalian, merupakan langkah penting dalam ilmu hygiene industry. Langkah
ini dilakukan untuk dapat mengendalikan bahawa yang ada di tempat kerja
sehingga tidak menimbulkan dampah kesehatan baik bagi pekerja maupun
masyarakat di sekitar tempat kerja (Kurniawidjaja, 2010).
Lingkungan kerja yang tidak baik, dalam hal ini mengandung hazard
lingkungan yang dapat memajani pekerja, bila kadarnya melebihi nilai ambang batas.
Penyakit yang ditimbulkan oleh pajanan hazard di lingkungan kerja merupakan salah
satu bentuk penyakit akibat kerja. Berikut tabel hazard lingkungan kerja pada faktor
fisik dan jenis penyakit yang diakibatkan.
Hazard Lingkungan Kerja Penyakit Akibat Kerja
Bising Vibrasi Penurunan pendengaran (NIHL)
Suhu Ekstrem White finger, haemolisis, gangguan
lokomotor
Hiperbarik Penyakit coissons
Sinar Ultra Violet Katarak, Kanker kulit
Radiasi Mengion Leukimia, anemia aplastik,
kelainan genetik
(Kurniawidjaja, 2010).


28

Upaya perbaikan lingkungan kerja untuk pencegahan penyakit dilaksanakan
dengan program hygiene industry yang bertujuan memberikan lingkungan sehat,
selamat, dan nyaman bagi semua pekerja, dengan cara menjaga pajanan hazard tetap
aman di bawah nilai ambang batas yang telah ditetapkan. Berikut beberapa aktivitas
yang dilakukan yaitu :
a) Survey area kerja untuk identifikasi hazard dan melakukan tindakan perbaikan
b) Evaluasi bahaya potensial di tempat kerja serta melaksanakan pengendalian yang
memadai, sebelum risiko menjadi kenyataan
c) Implementasi pengendalian teknik bila memungkinkan
d) Implementasi pengendalian adminstratif bila pengendalian teknik tidak
memungkinkan
e) Melaksanakan komunikasi hazard kepada pimpinan dan pekerja, serta melatih
pekerja agar dapat mengenali hazard serta mampu melaksanakan tindakan
pengendalian bila bekerja di tempat yang mengandung hazard
f) Memilih alat pelindung diri yang sesuai
g) Menetapkan individu atau kelompok pekerja berisiko yang harus dipantau
kesehatannya
h) Menetapkan area kerja yang harus dipantau hazard kesehatannya
i) Melaksanakan surveilans kesehatan kerja
j) Menilai keberhasilan program perbaikan lingkungan dengan menganalisis hasil
pemantauan hazard dan efek kesehatan (Kurniawidjaja, 2010).


29

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil PKL
Berdasarkan kunjungan lapangan yang kami lakukan pada hari Jumat, tanggal
9 Mei 2014 di PT. Sri Rejeki Isman Tbk Sukoharjo (PT. SRITEX) khuusnya di
Garmen V, diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut,
FAKTOR
LINGKUNGAN FISIK
HASIL PENGAMATAN
KETERANGAN KURAN
G
CUKU
P
BAI
K
Kebisingan

suara mesin jahit
Penerangan/pencahayaa
n

disetiap meja pekerja disediakan
lampu penerangan
Iklim / cuaca lingkungan
kerja


panas timbul dari mesin kerja
yang sedang beroperasi
Ventilasi Tempat Kerja


disetiap sisi ruangan terdapat
banyak ventilasi
Getaran di tempat kerja

timbul dari mesin jahit
Radiasi di tempat kerja


radiasi berasal dari alat
pendeteksi logam
Bau-bauan di tempat
kerja

tercium bau yang berasal dari
kain

B. Pembahasan masalah
1. Profil Perusahaan
SRITEX merupakan perusahaan textile dengan konsep manufakturing yang
terintegrasi dalam satu kawasan serta terbesar di kawasan Asia Tenggara. SRITEX
lahir dari dedikasi seorang HM Lukminto dan keluarga yang membangun dengan
kerja keras, ketekunan, track record management yang sangat excellent serta dari
awal divisikan menjadi perusahaan besar.


30

Didukung divisi Penelitian dan Pengembangan, Sritex memenuhi setiap
kebutuhan spesifik pelanggan dengan kemampuannya untuk menciptakan beragam
jenis dan spesifikasi kain dari berbagai bahan dan model rajutan. Contoh kecil dari
kesuksesan Divisi Penelitian dan Pengembangan Sritex diantaranya adalah
diciptakanya beragam aplikasi tambahan untuk kain yang berupa anti air, anti
serangga, tahan api, bebas noda, anti infra-red, bobot ringan, dan berpori-pori yang
bisa digunakan untuk berbagai tipe bahan.
SRITEX merupakan perusahaan textile dengan konsep manufakturing yang
terintegrasi dalam satu kawasan serta terbesar di kawasan Asia Tenggara. SRITEX
lahir dari dedikasi seorang HM Lukminto dan keluarga yang membangun dengan
kerja keras, ketekunan, track record management yang sangat excellent serta dari
awal divisikan menjadi perusahaan besar.
Untuk menjaga kualitas produk, Sritex menerapkan sistem kontrol kualitas
AQL 2,5 yang dengan ketat memonitor semua aktifitas produksi dari proses
inspeksi kain sampai penjahitan garmen. Hal ini terus ditingkatkan dengan sistem
kontrol kualitas mandiri yang dilakukan sebelum inspeksi final yang dilakukan
oleh pelanggan. Produk-produk berkualitas tinggi dan pengiriman tepat waktu
telah melampaui ekspetasi dari berbagai klien yang terus bertambah. Pembuktian
Sritex memiliki tradisi kualitas yang kuat dengan diakuinya kualitas Sritex secara
dunia dengan Sertifikat Registered Supplier Bundeswehr (Angkatan darat Jerman)
dan Sertifikat NATO dimana keduanya standar kualitas tertinggi untuk


31

manufacturing garmen untuk militer. Dalam skala nasional Sritex mendapatkan
beberapa perhargaan salah satunya Rekor Muri.
2. Lingkungan Kerja Fisik PT. SRITEX
Sistem manajemen K3 diterapkan dengan baik oleh PT. Sritex Grup
sehingga perusahaan ini berhasil meraih sistem manajemen mutu ISO 9001:2008.
Sertifikat tersebut diterima Presiden Direktur Iwan Setiawan Lukminto pada tahun
2011. Faktor lingkungan kerja meliputi faktor fisik, kimia, biologi dan psikososial,
laporan ini khusus membahas mengenai lingkungan kerja fisik di PT. Sritex
Sukoharjo. Lingkungan kerja fisik tersebut meliputi,
1. Kebisingan
Kebisingan dapat mengganggu ketenangan kerja dan konsentrasi dalam bekerja,
serta dapat mengurangi kesehatan, sehingga berdampak pada timbulnya
kesalahan kerja. Kami menyimpulkan tingkat kebisingan di bagian Garmen V
termasuk ke dalam kriteria baik sebab kami tidak merasa terganggu oleh suara-
suara mesin yang bekerja. Selain itu, kami juga mendengar lagu-lagu yang
mengiringi karyawan bekerja. Kami menilai hal tersebut baik karena suara lagu
yang diperdengarkan dapat mengurangi stress dan kejenuhan dalam bekerja.
2. Pencahayaan
Pencahayaan yang tidak sesuai dapat mengganggu konsentrasi dalam bekerja.
Hal tersebut dapat menimbulkan kelelahan dan gangguan pada mata,sehingga
produktivitas kerja bisa menurun. Kami menyimpulkan tingkat pencahayaan di
bagian Garmen V termasuk ke dalam kriteria baik, sebab di masing-masing


32

meja kerja disediakan lampu yang menurut kami pencahayaannya sudah sesuai
(tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap).
3. Iklim
Iklim kerja berhubungan dengan suhu ruangan. Iklim kerja yang terlalu panas
atau terlalu dingin menimbulkan ketidaknyamanan dalam bekerja. Iklim yang
tidak sesuai dengan syarat yang ditentukan dapat menurunnya efisiensi dan
produktivitas tenaga kerja. Kami menyimpulkan suhu ruangan di Garmen V
termasuk dalam kriteria cukup, karena suhu di ruangan tersebut relatif panas.
Ditambah karena observasi dilakukan di siang hari.
4. Ventilasi
Ventilasi adalah cara mengontrol bahaya dengan penggantian/pertukaran udara
segar menggantikan udara kotor. Ventilasi yang terdapat di Garmen V
merupakan ventilasi alami yang terdapat di setiap sisi ruangan sehingga
memungkinkan terjadinya sirkulasi udara yang sehat. Sehingga kami
menyimpulkan ventilasi yang terdapat di Garmen V termasuk ke dalam kriteria
baik.
5. Getaran
Getaran di Garmen V ditimbulkan dari mesin jahit yang digunakan oleh
masing-masing pekerja sehingga dampak getaran tersebut hanya dirasakan oleh
pekerja yang menggunakan mesin jahit tersebut dan tidak mengganggu pihak
lain yang berada di Garmen V. Sehingga kami menyimpulkan getaran yang
terdapat di Garmen V termasuk ke dalam kriteria baik.



33

6. Radiasi
Radiasi adalah emisi energi yang dilepas dari bahan atau alat radiasi. Radiasi
yang ditimbulkan di Garmen V berasal dari alat pendeteksi logam pada pakaian
yang telah jadi dan siap untuk dikemas, sehingga yang kemungkinan terpapar
radiasi hanya para pekerja yang bertugas di bagian tersebut dan jarak
penempatan alat tersebut jauh dari lokasi pekerja lainnya. Sehingga kami
menyimpulkan Radiasi yang terdapat di Garmen V termasuk ke dalam kriteria
baik.
7. Bau-bauan
Bau-bauan adalah suatu jenis pencemaran udara, yang tidak hanya penting
ditinjau dari aspek penciuman terhadapnya, tetapi juga dari sudut pandang
higiene pada umumnya. Bau yang tidak disukai atau tidak enak dapat
mengganggu konsentrasi pekerja. Bau yang ditimbulkan berasal dari kain hasil
produksi dan pakaian yang sedang di setrika. Bau-bauan tersebut masih dalam
batas normal sehingga tidak mengganggu aktivitas pekerja lainnya. Sehingga
kami menyimpulkan Bau-bauan yang terdapat di Garmen V termasuk ke dalam
kriteria baik.



34

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Lingkungan kerja fisik di PT. Sri Rejeki Isman Textil (Sritex) Sukoharjo
berdasarkan Praktik Kunjungan Lapangan yang sudah dilakukan dikategorikan
kedalam kriteria baik, karena dari faktor-faktor lingkungan fisik yang telah
disebutkan yaitu kebisingan, pencahayaan atau penerangan, iklim, ventilasi, getaran,
radiasi, dan bau-bauan di tempat kerja masih sesuai dengan standar dan tidak
menimbulkan gangguan pada pekerja. Selain itu PT. Sri Rejeki Isman Textil (Sritex)
Sukoharjo sudah mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008 pada tahun 2011.
B. Saran
1. Bagi perusahaan
Perusahaan sebaiknya tetap mempertahankan sistem manajemen K3 agar dapat
meningkatkan produktivitas pekerja dalam menghasilkan produk yang berkualitas.
2. Bagi pekerja
Mematuhi tata tertib yang ditetapkan perusahaan dan senantiasa menerapkan
prinsip K3 di tempat kerja.
3. Bagi mahasiswa
Dapat menerapkan prinsip-prinsip K3 baik pada saat sekarang sebagai mahasiswa
jurusan kesehatan masyarakat maupun nanti ketika terjun langsung ke lapangan.




35

DAFTAR PUSTAKA

Ichsan, Slamet. 2001. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia
Kurniawidjaja, L. Meily. 2010. Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. Jakarta: Penerbit
Indonesia
Mangkunegara, A. A. Anwar Prabu. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia
Perusahaan. Cetakan Ketujuh. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Subaris, Bayu dkk. 2007. Hygiene Lingkungan Fisik. Jogjakarta: Mitra Cendekia
Sumamur, DR. 2009. Higiene Perusahaan Dan Keselamatan Kerja (Hiperkes).
Jakarta: Sagung Seto














36

LAMPIRAN


1.1 Tampak depan perusahan
1.2 Suasana salam penyambutan oleh tenaga
kerja pada garment V


37

























1.3 Proses pembuatan pola pada kain
1.4 bagian pemotongan pola

1.3 Proses pembuatan pola pada kain


38






1.5 Proses menjahit
1.6 Mesin pendeteksi logam