Anda di halaman 1dari 41

LONG CASE

SKIZOFRENIA PARANOID

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa RSUD Panembahan Senopati Bantul









Disusun oleh :
WULAN SUCI SAKTI RONY
20070310177

Dokter Penguji :
dr. Vista Nurasti P, Sp.KJ, M.Kes




SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA
RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
2013

HALAMAN PENGESAHAN
SKIZOFRENIA PARANOID

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti
Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
RSUD Panembahan Senopati Bantul






Disusun Oleh:
WULAN SUCI SAKTI RONY
20070310177


Telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal Januari 2013
Oleh :
Dokter Penguji



dr. Vista Nurasti P, Sp.KJ








SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA
RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
2013
KASUS
Nama : Ny. N
Usia : 50 tahun
No. CM : 34.91.75
Alamat : Desa Caben, Bantul.
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Menikah
Agama : Katolik
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tidak bekerja

II. ANAMNESIS
Riwayat Penyakit Sekarang
ALLOANAMNESIS
Sumber 1 2
Nama Sdr. Y Ny. K
Umur 26 tahun 40 tahun
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
Alamat Serumah dengan pasien Tetangga pasien
Pekerjaan Buruh Ibu Rumah Tangga
Pendidikan SMEA SMA
Hubungan Anak Kandung Pasien Tetangga Pasien


I. IDENTITAS
Alloanamnesis dari sumber 1
Keluhan Utama / Alasan masuk RS : Kontrol rutin ke poli jiwa, masih merasa
curiga, dan jarang bersosialisai dengan tetangga.
Kronologis : Anak pasien mengatakan perubahan tingkah laku anaknya terjadi
saat tahun 2002 yaitu saat pasien kuliah di tahun ketiga di UNY jurusan teknik
elektro. Menurut ayah pasien, kemungkinan penyebab pasien seperti keadaan
sekarang ini adalah tugas kuliahnya yang banyak, sering kali pasien mengeluhkan
tugasnya banyak dan susah dalam mengerjakan. Tanda-tanda awalnya adalah
pasien sering bicara sendiri, bingung, ling-lung, bicara kemana-mana, tidak
nyambung, tidak pernah keluar rumah, aktifitas sehari-hari sering dilakukan di
kamar, kurang aktif dan sering menyendiri. Permasalahan dengan keluarga dan
permasalahan-permasalahan lain disangkal, hanya saja masalah kecil saja, seperti
contohnya perbedaan selera acara televisi, karena televise yang dipunyai hanya
satu buah.
Sebelum terjadi tanda-tanda ini, ayah os mengatakan bahwa os merupakan anak
yang aktif seperti anak seumurannya, agak pendiam, tidak penakut, tidak memiliki
musuh, aktifitas lebih senag di kamar, perkembangannyapun tidak dirasakan
lambat, semasa SD os dapat mengikuti pelajaran dengan baik, tapi ada beberapa
nilai yang kurang memuaskan, kemudian ayahnya mulai mengatur os, boleh
kemana-mana asalkan pukul 3 sore sudah harus di kamar, duduk dan belajar.
Akhirnya os dapat lulus dan masuk ke SMP negeri, saat SMP lancar, dan
kemudian dapat masuk SMA 1 bantul dan kemudian dilanjutkan ke UNY jurusan
teknik elektro, dalam pemilihan jurusan tidak ada pemaksaan dari orang tua.
Mulai kuliah ini, os mengikuti juga pesantren di desanya, pagi kuliah kemudian
sore hari ikut mengaji di pesantren. Hal ini dilakukan karena kakak os juga
mengikuti pesantren sebelumnya, dalam mengikuti acara pesantren itupun tidak
ada paksaan dari orang tua. Artinya, os menginginkan sendiri. Os adalah orang
yang rajin beribadah, sholat 5 waktu dan mengaji rutin. Namun ketika sakit ini,
sholatnya mulai bolong-bolong, aktivitasnya pun berkurang, jadi jarang
beraktifitas, sering di rumah, tidur, menyendiri.
Os adalah empat bersaudara, os merupakan anak terakhir. Keriga kakaknya sudah
menikah dan tinggal berlainan rumah dengan os dan orang tua. Os tinggal
bersama kedua orang tuanya. Ayah os mengatakan hubungan os dengan
keluarganya baik, tidak pernah membeda-bedakan pola asuh. Kehidupan ekonomi
juga tidak dirasa kurang, karena ayah os adalah pensiunan guru dan terkadang
diberi kiriman dari kakak os yang di Kalimantan.
Kemudian sebelum keluar dari universitas, os telah berobat jalan di rumah sakit
puri nirmala. Sampai kemudian os keluar dari universitasnya, kemudian pada
tahun 2005 os mondok di Rumah Sakit Sarjito selama 2x karena atas permintaan
kakak-kakaknya. Kemudian setelah itu barulah os mulai control rutin di RSPS.
Sampai saat ini os masih terkadang bicara sendiri, marah-marah dan menendangi
ibunya. Ayah mengeluhkan sampai saat ini kenapa perkembangan pengobatannya
belum nampak. Aktifitas os mandi bisa, masak telor bisa.

Alloanamnesis dari tetangga :
Tetangga depan rumah pasien mengatakan bahwa keadaan os menjadi terganggu
dimulai dari saat kuliah. Tanda-tandanya diawali dari sering bolak-balik ke
pesantren membawa makanan untuk diberikan ke pesantren kemudian di pondok
menyalami kyai-kyainya seperti orang bingung. Sebelum diperiksakan ke RSJ
(sebelum di puri nirmala), os pernah hendak melukai orang dengan melempar
kepala orang tersebut dengan kamera, untungnya kejadian ini dapat dicegah oleh
tetangga os. Os juga pernah seolah-olah ditantang oleh tetangganya tersebut,
padahal tetangga os tidak berkata apapun. Os selama ini tidak pernah melakukan
tindak kekerasan di lingkunga sekitar, hanya saja dahulu sering membanting
kaleng dan piring, bicara kotor dan sering marah. Dahulu, os dikenal di
masyarakat sebagai remaja yang aktif dalam kegiatan, rajin ke masjid, sosialisasi
ke masyarakat baik, memiliki banyak teman, akan tetapi tetangga mengatakan os
agak pendiam. Hubungan dengan orang tua os dan saudara-saudaranya dikenal
baik dan tidak ada permasalahan. Orang tua os juga tidak dikenal orang yang
keras, Ibu os dikenal baik. Riwayat os menjalin hubungan dengan wanita tidak
didapatkan. Tetangga mengenal bahwa keluarga os adalah orang yang pintar,
saudara os pun bisa bekerja di Kalimantan dan selalu mengirimkan uang bagi
orang tuanya. Namun, ayah os pernah dikucilkan oleh warga ngrukem karena
melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hati warga, sampai acara-acara
kampong, beliau tidak pernah diikutsertakan. Namun sampai saat ini hubungan
sudah mulai membaik. Ibu os ternyata juga memiliki riwayat gangguan jiwa,
dahulu sering jalan-jalan di pasar kemudian menyalami semua penjual di pasar
dan terlihat ling-lung. Tetangga juga mengatakan bahwa ada saudara dari Ibu os
yang mengalami penyakit dengan gangguan jiwa.
Saat ini tetangga os mengatakan bahwa keadaan os sudah membaik tidak
seperti dulu lagi yang sering marah-marah, sekarang kegiatannya memang kurang
dibandingkan saat normal, yang dilakukan os adalah keluar teras, duduk-duduk
sambil merokok, mengendarai motor, tapi diakui bahwa os memang jarang keluar
rumah.

Autoanamnesis dari pasien :
Os mengatakan keluhan saat ini masih sering bingung, masih kadang
marah-marah terutama berlaku kasar (menendang-nendang) ibunya, dan takut
kalau tidak ada teman/sendiri. Os mengatakan saat ini masih sering mendengar
orang-orang berisik berbicara membisiki dia. Hal ini dimulai saat SMP setiap
malam dia sudah mendengar sesuatu tersebut, tapi dia hiraukan. Kemudian makin
parah dan merasa stress dan capai saat kuliah. Os bercerita kalau dulu
mengerjakan tugas kuliah tidak dapat menemukan materi yang ditugaskan
sehingga sering dia mencontek temannya. Os berpendapat bahwa stressnya itu
karena tugas kuliah dank arena miskin. Apalagi hal tersebut mulai kumat apabila
dia tidak sholat. Os mengatakan bahwa dahulu pertama kalinya, dia didatangi 4
kyai di kamarnya informasi mengenai apa yang dikatakan kyai tidak didapatkan.
Semenjak kejadian itu, os mulai sering mendengar bisikan-bisikan. Dahulu, dia
menanggapi bisikan-bisikan yang mengejek dia tersebut, lama-lama dirasakan
stress. Sekarang dia tidak pernah menanggapi, namun masih mengganggu sekali.
Bisikan tersebut mengatakan kepada os antara lain : mengancam kalau tidak
menyodomi orang akan dibunuh, selalu komentar dengan apa yang akan
dilakukan ada bisikan melarang apabila os hendak berbaur dengan tetangga yang
mengatakan nanti akan terjadi hal buruk, bisikan orang-orang yang kumpul di
pinggir jalan apabila ia hendak menyeberang akan membunuhnya. Os juga
percaya bahwa dia telah diikuti (ditempleki) kolor ijo dan terkadang kolor ireng di
punggungnya yang dia bawa semenjak dari pesantren bahwa hal tersebut yang
menyebabkan dia sering memukuli ibunya. Os merasa sering disuruh-suruh,
dikendalikan, dan dipengaruhi oleh bisikan-bisikan tersebut saat melakukan
tindakan. Os juga mengatakan televise sering membicarakan tentang dosanya
yang terkadang membuat dia buneg dan mulai mendengar bisikan-bisikan lagi
yang menyebabkan os mematikan TV dan masuk ke kamar. Os juga mengatakan
pernah melihat kepala manusia di atas meja sesaat ketika dia bangun tidur, 1 tahun
terakhir ini, tetapi kemudian hilang. Os bercerita juag tentang ketidakcocokan
acara TV antara ayah dan os, seringnya os mengalah dan masuk kamar. Os juga
bercerita bahwa pagi tadi sang ibu memberikan pisau ke ayah, dia anggap itu akan
digunakan untuk bunuh diri sang ayah, ini sesuai dengan ajaran sartorial di
pesantrennya. Aktivitas kesehariannya sekarang adalah tidur, makan, merokok,
jarang jalan-jalan keluar. Saat ini dia sadar kalau sakit dan sempat bertanya
bagaimana supaya tidak sering marah dan tidak menendang ibunya, masih merasa
tersinggung merasa orang-orang membicarakan dia.
Sartori adalah mencapai penerangan, yakni menghayati, meresapi,
mengiyakan semuanya sebagaimana adanya lengkap dengan kepenuhan adanya.
Menjadi Buddha artinya mampu melihat inti dirinya, lepas dan bebas dari segala
ketidaktahuan. (Wikipedia).

HAL-HAL YANG MENDAHULUI PENYAKIT
Fakta Organik : Tidak ada
Stressor : Pekerjaan kuliah yang banyak dan tidak mampu
mengikuti
Merasa miskin
Faktor predisposisi : Penyakit herediter yang diderita ibu dan
saudara dari ibu os.
Faktor presipitasi :
- Tugas perkuliahan
- Kehidupan ekonomi
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien pernah melakukan pengobatan di :
RS Puri Nirmala tahun 2004 sebelum keluar dari Universitas berobat
jalan
RS Sardjito 2x pada tahun 2005 Rawat inap

RIWAYAT KELUARGA
1) Pola asuh keluarga
Pasien merupakan anak terakhir dari 4 bersaudara. Ke-tiga
kakaknya tidak tinggal bersama dengan os dan orang tua. Ayah os
merupakan pensiunan guru dan Ibu os adalah ibu rumah tangga.
Kedua orang tua os dikenal tidak keras. Tidak menyatakan adanya
anak yang paling disayangi, semua anaknya diasuh dengan kasih
sayang yang sama. Pola asuh keluarga cenderung permisif, anak-
anaknya tidak pernah dikekang untuk menentukan keputusan,
mereka diberikan kebebasan untuk melakukan apapun sesuai
kehendak mereka.
2) Riwayat penyakit keluarga
Terdapat kelainan yang serupa pada ibu pasien dan saudara laki-
laki ibu pasien. Tidak terdapat penyakit lain pada keluarga os.











3) Silsilah keluarga
Silsilah keluarga Sdr. M
Dibuat tanggal 06 November 2012






B RT




SJ AB KH M
Ket :

= gangguan jiwa
RIWAYAT PRIBADI
a) Riwayat Kelahiran dan Perkembangan awal
Seingat ayah os, selama kehamilan dan persalinan os tidak
terdapat kelainan. Kelahiran os ditolong oleh dukun, ketika
itu langsung menangis. Selama masa-masa awal tidak ada
kuning. Perkembangan motorik dan sensorik normal, tidak
terdapat kelainan.
b) Riwayat pendidikan
SD : lulus dengan cukup
SMP : lulus dengan baik
SMA : lulus dengan baik
Universitas : selama 3 tahun, tidak tuntas.
c) Riwayat perkembangan psikoseksual
Sulit dinilai. Tidak didapatkan jalinan kasih antara os
dengan lawan jenis.
d) Sikap dan kegiatan moral spiritual
Os menganut agama Islam, sebelum sakit os rajin sholat 5
waktu dan mengaji. Setelah sakit kegiatan ini berkurang
kualitasnya. Mengikuti pondok di desanya, mengikuti
kegiatan pondok sepulang kuliah, berupa pengisian materi
dan mengaji.
e) Riwayat Kehidupan emosional
Sebelum sakit, os dikenal sebagai orang yang aktif,
sosialisasi baik dengan masyarakat, mengikuti karang
taruna, tidak memiliki musuh, cenderung pendiam, tidak
suka bercerita, pemendam, belum pernah menjalin
hubungan dengan lawan jenis, lebih sering melakukan
kegiatannya di kamar dan sendiri. Cenderung memeberikan
gambaran kepribadian schizoid.
f) Status ekonomi
Kehidupan ekonomi dari os ditanggung oleh ayah os yang
merupakan pensiunan guru. Kakak os juga membantu
orang tuanya dengan mengirimkan uang. Menurut ayah os,
keadaan ini dirasakan cukup. Rumah os cukup bagus
dibandingkan dengan rumah-rumah sekitarnya, bertingkat,
berdinding tembok, ventilasi cukup, sanitasi baik, dan
terkesan rapi, tapi keadaan rumah sering tertutup dan sunyi.
g) Riwayat khusus
Mengikuti kegiatan pondok pesantren An-Nur di desanya.

ANAMNESIS SISTEM
Sistem Saraf : nyeri kepala (-), demam (-), tremor (-)
Sistem Kardiovaskular : nyeri dada (-), edema kaki (-)
Sistem Respirasi : sesak nafas (-), batuk (-), pilek(-)
Sistem Digestiva : BAB normal, mual (-), muntah (-), diare (-),
sulit makan (-), Sakit perut (-)
Sistem Urogenital : BAK normal
Sistem Integumentum : warna biru pada kuku (-), gatal pada kulit (-),
biru-biru (-)
Sistem Muskuloskeletal : edema (-), nyeri sendi (-), bengkak sendi (-
), nyeri otot (-), kelemahan otot (-)
Dari pemeriksaan, tidak didapatkan keluhan fisik apapun.

GRAFIK PERJALANAN PENYAKIT
Mental Health
Line/Time

1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 ----------------------2012

III. PEMERIKSAAN PSIKIATRIK
Keadaaan Umum : Seorang laki-laki sesuai umur, kebersihan diri baik,
keadaan gaduh gelisah, agak takut, agitasi psikomotor,
bingung-kooperatif.
Status Internus
Bentuk Badan : tidak ditemukan kelainan.
Berat Badan : tidak dilakukan pengukuran
Tinggi Badan : tidak dilakukan pengukuran
Tanda Vital
- Tekanan Darah : 120/80 mmHg.
- Nadi : 82 x/menit.
- Respirasi : 16 x/menit.
- Suhu : 36,1C

Kepala :
- Inspeksi wajah : tidak ditemukan adanya kelainan
- Mata : conjunctiva anemis (-), sklera ikterik (-)
Leher :
- Inspeksi : leher tampak bersih.
- JVP : tidak dilakukan pemeriksaan
Thorax
- Sistem Kardiovaskuler : S1 S2 reguler
- Sistem Respirasi : wheezing (-), RBK (-), vesikuler
(+)

Abdomen
- Sistem Gastrointestinal : bising usus (+), NT (-)
- Sistem Urogenital : tidak
dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas
- Sistem Muskuloskeletal : tidak ditemukan kelainan
Sistem Integumentum : tidak ditemukan kelainan
Kelainan Khusus: (-)

Kesan Status Internus : dalam batas normal, meskipun
ada beberapa pemeriksaan yang
tidak dilakukan karena tidak
tersedianya tempat.

3.1.1. Status Neurologis
Kepala dan Leher : Dalam batas normal
Tanda Meningeal : (-)
Nervi Kranialis : tidak dilakukan.
Kekuatan Motorik : dalam batas normal
Sensibilitas : dalam batas normal
Fungsi Saraf Vegetatif : dalam batas normal.
Refleks Fisiologis : tidak dilakukan
Refleks Patologis : Hoffman-Trommner (-)
Gerakan Abnormal : (-)
Gangguan Keseimbangan dan Koordinasi Gerakan: (-)
Kesan Status Neurologis : pemeriksaan yang dilakukan dalam
batas normal.
Status Psikiatrik
Kesadaran : Composmentis
Orientasi : Waktu : jelek
Tempat : baik
Orang : jelek
Situasi : jelek
Sikap/ Tingkah laku : kooperatif
Roman muka : sedikit mimik
Mood : cemas, ketakutan dan membingungkan
Afek : terbatas
Kesesuaian : inappropriate
Bicara : senang berbicara, cepat, emosional.
Bentuk pikir : non-realistik, sirkumstansialitas, tangensialitas,
inkoheren, flight of ideas.
Isi pikir : waham bizarre, waham referensi, waham
pengendalian, waham sesuai dengan mood, paranoid, idea of
reference, idea of influence.
Progresi pikir : inkoheren-irelevan-relevan
Cenderung irelevan
Halusinasi :
halusinasi auditorik + : mengenai ancaman apabila tidak melakukan
sesuatu, larangan melakukan sesuatu, komentar tentang tindakan os dan
ejekan yang mengganggu kehidupan os.
Ilusi : tidak ada
Hubungan jiwa : sulit dinilai
Perhatian : baik
Insight : jelek.

VIII. DIAGNOSIS
Axis I : Skizofrenia Paranoid (F.20.0)
DD : - Gangguan waham (F.22)
Axis II : Gambaran kepribadian schizoid
Axis III : Tidak ada
Axis IV : Tugas kuliah yang memberatkan
Merasa miskin
Axis V : GAF 40-31 beberapa disabilitas dalam hubungan dgn realita dan
komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi.
IX. TERAPI
Risperidone 2 mg , 2 dd 1
Depakote ER 500mg 2x1/2
Triheksiphenidil 2 mg, 2 dd 1
TINJAUAN PUSTAKA
I. DEFINISI
Skizofrenia adalah penyakit jiwa yag secara klinis adanya suatu sindroma
psikotik yang ditandai oleh penyimpangan fundamental dan karakteristik dari
pikiran, afek yang tumpul atau tak wajar, persepsi, tingkah laku, atau perilaku
yang bizzare.
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu skizo yang artinga retak atau
pecah, dan frenia yang artinya jiwa, dengan demikian, seseorang yang menderita
skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakkan
kepribadian.
II. EPIDEMIOLOGI
Menurut data World Health Organization ( WHO),masalah gangguan kesehatan jiwa di
seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius. Pada tahun 2001 WHO
menyatakan, paling tidak ada satu dari empat orang di dunia mengalami gangguan
kesehatan jiwa. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia mengalami gangguan
kesehatan jiwa, yang terdiri dari 150 juta depresi, 90 juta gangguan penggunaan zat dan
alkohol, 38 juta epilepsi, 25 juta skizofrenia serta hampir 1 juta melakukan bunuh
diri setiap tahunnya. Sementara itu, menurut Uton Muchtar Rafei, Direktur WHO Wilayah Asia
Tenggara, hampir satu pertiga dari penduduk di wilayah ini pernah mengalami gangguan
neuropsikiatri. Hal ini dapat dilihat dari data Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT);
tahun 1995 saja, di Indonesia diperkirakan sebanyak 264 dari 1000 anggota rumah
tangga menderita gangguan kesehatan jiwa. Data American Psychiatric
Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia
menderita skizofrenia. 75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia
16-25 tahun.
III. ETIOLOGI
Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (etiologi) yang pasti
mengapa seseorang menderita skizofrenia, padahal orang lain tidak. Saat ini
etiologi yang dianut adalah model diatesis stress dimana skizofrenia timbul karena
adanya integrasi antara faktor biologis, sosial, dan lingkungan. Terdapat beberapa
penyebab terjadinya skizofrenia menurut Viedebeck tahun 2008 dan Doenges
tahun 2007, yaitu :
a. Teori biologi
Teori biologi ini berfokus pada 3 hal, yaitu :
Faktor genetik
Penelitian yang dilakukan pada anak kembar menujukkan bahwa kembar
identik beresiko mengalami gangguan ini sebanyak 50%, sedangkan
kembar fraternal hanya beresiko sebesar 15%. Hal ini mengindikasikan
bahwa skizofrenia diturunkan. Penelitian lain menunjukkan bahwa apabila
salah satu orangtua biologis penderita skizofrenia maka memiliki resiko
15% sedangakan apabila kedua orangtua biologis skizofrena maka
meningkat menjadi 35%.
Faktor neuroanatomi dan neurokimia
Penelitian menunjukkan bahwa jaringan otak penderita skizofrenia
memiliki jaringan otak yang lebih sedikit. CT scan menunjukkan
pembesaran ventrikel otak dan atropi korteks. Penelitian PET
menunjukkan bahwa ada penurunan oksigen dan metabolisme glukosa
pada struktur korteks frontal otak. Penelitian secara konsisten
membuktikan bahwa adanya penurunan volume otak dan fungsi otak yang
abnormal pada area temporal dan frontal pada penderita skizofrenia. Selain
itu kemungkinan besar adanya malfungsi pada jaringan neuron yang
mentransmisikan informasi berupa sinyal-sinyal listrik dari sel saraf
melalui aksonnya dan melalui sinaps ke reseptor pascasinaptik di sel-sel
saraf yang lain.
Faktor imunovirologi
Teori populer menurut Egan dan Hyde tahun 2000 bahwa perubahan
patologi otak pada individu penderita skizofrenia dapat disebabkan oleh
pajanan virus, atau respon imun tubuh terhadap virus dapat mengubah
fisiologis otak.

b. Teori Model Keluarga
Pasangan dengan salah satu atau keduanya penderita skizofrenia akan membuat
anak tidak memiliki role model yang baik untuk perkembangannya. Demikian
juga keluarga dengan komunikasi, ekspresi emosi yang destruktif bisa
menimbulkan perilaku ekplosif.
c. Teori Budaya dan Lingkungan
Skizofrenia seringkali lebih banyak ditemukan pada keadaan sosioekonomi
rendah. Hal ini terjadi karena kelompok ini lebih banyak mengalami stress seperti
dikatakan Kaplan (1994).
Neurotransmiter paling mempengaruhi sikap, emosi, dan perilaku seseorang
yang ada antara lain Asetil kolin, dopamin, serotonin, epinefrin, norepinefrin.
Pada pasien penyakit jiwa seperti skizofrenia terdapat berbagai keadaan yang
diyakini disebabkan oleh salah satu atau lebih dari tiga kemungkinan berikut:
Terjadi hambatan terhadap sinyal-sinyal saraf di berbagai area pada lobus
prefrontalis atau disfungsi pada pengolahan sinyal-sinyal.
Perangsangan yang berlebihan terhadap sekelompok neuron yang
mensekresi dopamin dipusat-pusat perilaku otak, termasuk di lobus
frontalis, dan atau
Abnormalitas fungsi dari bagian-bagian penting pada pusat-pusat sistem
pengatur tingkah laku limbik di sekeliling hipokampus otak.

Dopamin telah diduga kemungkinan penyebab skizofrenia secara tidak
langsung karena banyak pasien parkison yang mengalami gejala skizofrenia
ketika diobati dengan obat yang disebut L-DOPA. Obat ini melepaskan dopamin
dalam otak, yang sangat bermanfaat dalam mengobati parkinson, tetapi dalam
waktu bersaman obat ini menekan berbagai bagian lobus prefrontalis dan area
yang berkaitan dengan lainnya. Telah diduga bahwa pada skizofrenia terjadi
kelebihan dopamin yang disekresikan oleh sekelompok neuron yang
mensekresikan dopamin yang badan selnya terletak tegmentum ventral dari
mesensefalon, disebelah medial dan anterior dari sistem limbik, khususnya
hipokampus, amigdala, nukleus kaudatus anterior dan sebagian lobus frefrontalis
ini semua pusatpusat pengatur tingkah laku yang sangat kuat. Suatu alasan yang
sangat kuat. Suatu alasan yang lebih meyakinkan untuk mempercayai skizofrenia
mungkin disebabkan produksi dopamin yang berlebihan ialah bahwa obat-obat
yang bersifat efektif mengobati skizofrenia seperti klorpromazin, haloperidol, dan
tiotiksen semuanya menurunkan sekresi dopamin pada ujung-ujung syaraf
dopaminergik atau menurunkan efek dopamin pada neuron yang selanjutnya.
Ada lima hipotesis perkembangan neuron pada penderita skizofrenia yaitu :
Abnormalitas perkembangan otak janin selama fase awal dari seleksi
neuron dan migrasi.
Terjadinya proses degenerasi abnormal yang mungkin berhubungan
dengan genetik dalam perkembangan otak janin
Gejal skizofrenia tidak terjadi selama otak dapat memperbaiki sinap-sinap
yang mengalami gangguan
Infeksi virus, kurang gizi dan proses autoimun selama masa kehamilan
dapat terjadi apoptosis atau nekrosis neuron di kemudian hari
Perubahan struktur dan abnormalitas dari neuron yang masih berfungsi
mengakibatkan terjadinya inervasi dan sinyal dari neuron yang salah target
dan menjadi kacau.

IV. GEJALA DAN TANDA
Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal,
fase aktif dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala-gejala
non spesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun
sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi gangguan pada
fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi
perawatan diri. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya. Pada
fase aktif gejala positif/psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik,
inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu
datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala-gejala
tersebut dapat hilang spontan suatu saat, mengalami eksaserbasi atau terus
bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dengan gejala-gejala yang
sama pada fase prodromal tetapi gejala positif/psikotiknya sudah berkurang.
Disamping gejala-gejala yang terjadi pada ketiga fase di atas, penderita
skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara
spontan, mengurutkan 7 peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi,
konsentrasi, hubungan sosial) (Luana, 2007).

VII. KLASIFIKASI
Kraepelin membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis. Penderita
digolongkan ke dalam salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat
padanya. Akan tetapi batas-batas golongan-golongan ini tidak jelas, gejala-gejala
dapat berganti-ganti atau mungkin seorang penderita tidak dapat digolongkan ke
dalam salah satu jenis. Pembagiannya sebagai berikut : (Maramis, 2009)
a. Skizofrenia paranoid
Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain dalam
jalannya penyakit. Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering lama kelamaan
menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simplex, atau gejala-gejala hebefrenik dan
katatonik bercampuran. Skizofrenia paranoid memiliki perkembangan gejala yang
konstan. Gejala-gejala yang mencolok adalah waham primer, disertai dengan
waham-waham sekunder dan halusinasi. Pemeriksaan secara lebih teliti juga
didapatkan gangguan proses pikir, gangguan afek, dan emosi. Jenis skizofrenia ini
sering mulai sesudah umur 30 tahun. Permulaannya mungkin subakut, tetapi
mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat digolongkan
skizoid, mudah tersinggung, suka menyendiri dan kurang percaya pada orang lain.
b. Skizofrenia hebefrenik
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa
remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses
berpikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality.
Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-
kanakan sering terdapat pada skizofrenia heberfenik. Waham dan halusinasi
banyak sekali.
c. Skizofrenia katatonik
Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun, dan biasanya akut serta
sering didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh-gelisah katatonik
atau stupor katatonik. Stupor katatonik yaitu penderita tidak menunjukkan
perhatian sama sekali terhadap lingkungannya. Gejala paling penting adalah
gejala psikomotor seperti:
1) Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup
2) Muka tanpa mimik, seperti topeng
3) Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama,
beberapa hari, bahkan kadang sampai beberapa bulan.
4) Bila diganti posisinya penderita menentang : negativisme
5) Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga berkumpul dalam mulut
dan meleleh keluar, air seni dan feses ditahan.
6) Terdapat grimas dan katalepsi.
Secara tiba-tiba atau pelan-pelan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan
mulai berbicara dan bergerak. Gaduh gelisah katatonik adalah terdapat
hiperaktivitas motorik, tetapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan
tidak dipengaruhi rangsangan dari luar.
Penderita terus berbicara atau bergerak saja, menunjukan stereotipi, manerisme,
grimas dan neologisme, tidak dapat tidur, tidak makan dan minum sehingga
mungkin terjadi dehidrasi atau kolaps dan kadang-kadang kematian (karena
kehabisan tenaga dan terlebih bila terdapat juga penyakit lain seperti jantung,
paru, dan sebagainya).
d. Skizofrenia simplex
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis
simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses
berpikir biasanya sulit ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat.
Jenis ini timbulnya perlahan-lahan sekali. Permulaan gejala mungkin penderita
mulai kurang memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan.
e. Skizofrenia residual
Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya
satu episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang ke arah gejala
negatif yang lebuh menonjol. Gejala negatif terdiri dari kelambatan psikomotor,
penurunan aktivitas, penumpula afek, pasif dan tidak ada inisiatif, kemiskinan
pembicaraan, ekspresi nonverbal yang menurun, serta buruknya perawatan diri
dan fungsi sosial.

VIII. TERAPI
Modalitas terapi pasien psikiatri umumnya ada empat yaitu :
Farmakoterapi : obat-obatan
Terapi fisika : ECT , TMS ( baru ), pembedahan, foto terapi
Psikoterapi : Suportif, rekonstruktif dan reedukatif
Rehabilitasi : okupasi , vokasi, Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
Terapi Somatik
1) Antipsikotik
Pemilihan obat pada dasarnya semua obat antipsikosis mempunyai efek
primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekivalen, perbedaan utama pada efek
sekunder dengan efek samping seperti sedasi, otonomik, ekstrapiramidal.
Pemilihan jenis antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan
dan efek samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekivalen.
Apabila obat antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis dalam
dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan
obat antipsikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan dosis
ekivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya
sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih
kembali untuk pemakaian sekarang.
Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah
obat antipsikosis atipikal, Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol
dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah tipikal. Obat antipsikotik sering
dipakai klinisi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu antipsikotik generasi
pertama (APG I) dan antipsikotik generasi kedua (APG II).
APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal,
nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala
positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa: gangguan
ekstrapiramidal, tardive diskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan
menyebabkan disfungsi seksual/peningkatan berat badan dan memperberat gejala
negatif maupun kognitif.
APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau
antipsikotik atipikal. Antipsikosa jenis ini bekerja melalui interaksi serotonin dan
dopamin pada keempat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek
samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif (Luana, 2007).
Neurotransmiter dopamin berhubungan secara resiprokal dengan
neurotransmiter asetilkolin , dopamin dapat menghambat pelepasan Ach di
nigrostriatal post sinaps. Jadi bila reseptor dopamin di blok maka terjadi pening
katan aktivasi Ach (terutama golongan anti psikotika generasi I dengan blokade
muskarinik lemah) aktivitas dopamin menurun dan Ach meningkat sehingga
kejadian EPS meningkat.

Antipsikotik tipikal yang ada di Indonesia adalah :
Jenis antipsikotik Dosis Ekivalen
(mg)
Dosis
mg/hari
Efek
sedasi
Ekstrapiramidal Anti-
kolinegik
Klorpromazin
(CPZ, largactil,
Promactil)
100 200-800 +++ ++ +++
Thioridazin
(Meleril)
100 150-800 +++ + +++
Flufenazin
(Anatensol)
5 5-15 + +++ +
Perfenazin
(Trilafon)
8 8-24 + +++ +
Trifluoperazin
(Stelazin, Trizin)
5 5-30 + +++ +
Haloperidol
(Haldol,
Serenace,
Lodomer)
2 2-20 + +++ +

Antipsikotik atipikal adalah :
Jenis antipsikotik Dosis Efek Ekstrapiramidal Antikolinergik
mg/hari sedasi
Klozapin
(Clozaril, Syzoril)
300-900
Dibagi 2-3
kali/hari
+++ 0/+ +++
Olanzapin
(Zyprexa)
5-20
Dibagi 1-2
kali/hari
++ 0/+ +/++
Quetiapin
(Seroquel)
150-600
Dibagi 2-3
kali/hari
++ 0/+ 0/+
Risperidon
(Risperdal, Persidal,
Zofredal)
1-6
Dibagi 2-3
kali/hari
+ 0/+ 0/+
Aripiprazol
(Abilify)
10-30
mg/hari
dosis
tunggal
0 0/+ 0
Zolepine
(Lodopine)
75-300
dibagi 3
kali/hari
++ 0/+ 0/+

GENERASI ANTIPSIKOTIK TERKINI
(Aripiprazole , Abilify )
Partial agonis pada reseptor D2 dan 5HT1serta antagonis reseptor
5HT2A
Bila hiperdopaminergik mengakibatkan afinitas terhadap Dopamin kuat.
Bila hipodopaminergik maka dapat berperan agonis dopamin
Sehingga disebut sebagai dopamin system stabilizer
Efektif : memperbaiki gejala positif, gejala negatif,gangguan fungsi
kognitif maupun mood
Afinitas terhadap reseptor M1 rendah sehingga ES Ach rendah
Tdk mempengaruhi metabolisme glukose
Pemberian 1 kali sehari
Penggunaan antipsikotik perlu memperhatikan efek samping yang terjadi.
Menurut penelitian yang telah dilakukan Lieberman dkk tahun 2005 dengan
melihat efek samping yaitu perawatan kembali di rumah sakit untuk eksaserbasi
skizofrenia, efek neurologis, gangguan tidur, gangguan berkemih dan defekasi,
penambahan berat badan, efek metabolik, efek ekstrapiramidal, perubahan
hemoglobin, glukosa darah, kolesterol, trigliserida, dan adanya perubahan pada
EKG menyebabkan terjadinya putusnya penggunaan obat antipsikotik sebelum 18
bulan. Menurut penelitian tersebut bahwa olanzapin memiliki keberlangsungan
penggunaan yang lebih lama dibandingkan dengan qutiapine dan risperidone.
Namun olanzapin tidak lebih efektif dibandingkan prephenazine dan ziprasidon.
Olanzapin sendiri memiliki efek meningkatkan berat badan, peningkatan
hemolobin yang terglikosilasi, kolesterol, dan trigliserid sehingga meningkatkan
resiko sindroma metabolik.
2) Terapi Elektrokonvulsif
Electroconvulsive Therapy (ECT) merupakan jenis terapi somatik di samping
terapi obat-obatan. Indikasi terapi ini adalah pada skizofrenik yang mengalami
depresi dan tidak dapat diobati, depresi dengan bunuh diri, depresi yang disertai
penolakan makan dan minum, depresi selama kehamilan, pasien dengan riwayat
keberhasilan terapi ECT sebelumnya, sindroma katatonik, skizofrenia dengan
serangan akut, depresi psikotik atau melankolik yang tidak berespon terhadap
terapi obat, episode manik yang perilakunya mengarah ke kelelahan yang sangat
dan membahayakan tanpa pengobatan dengan lithium (Nuhriawangsa dan Adi,
2004).

Penelitian yang dilakukan Dr.Prem Pillay, Singapore Expert Neurosurgeon
- Brain, Spine & Nerve, menghasilkan pernyataan bahwa terapi kombinasi antara
ECT dan clozapine memberikan efek yang lebih baik dengan efek samping yang
lebih minimal dibandingkan dengan terapi clozapine atau ECT sendiri.



Terapi Psikososial
Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain :
1) Psikoterapi individual
a) Terapi suportif
Metode terapi psikososial berorientasi realita bersifat suportif dan
bermanfaat pada terapi jangka panjang skizofrenia (Tomb, 2003; Maramis,
2009).
b) Social skill training
Terapi ini melatih penderita mengenai ketrampilan atau keahlian
sosial, seperti kemampuan percakapan, yang dapat membantu dalam
beradaptasi dengan masyarakat. Social Skills Training menggunakan latihan
bermain sandiwara. Bentuk terapi seperti ini sering digunakan dalam panti-
panti rehabilitasi psikososial untuk membantu penderita agar bisa kembali
berperan dalam masyarakat.
Mereka dibantu dan didukung untuk melaksanakan tugas-tugas harian
seperti memasak, berbelanja, ataupun untuk berkomunikasi, bersahabat, dan
sebagainya. Meskipun terapi ini cukup berhasil, akan tetapi sulit
mempertahankan perilaku bila suatu program telah selesai, dan bagaimana
dengan situasi-situasi yang tidak diajarkan secara langsung (Sutatminingsih,
2002).
c) Terapi kognitif dan perilaku (CBT)
Pada dasarnya, terapi perilaku menekankan prinsip pengkondisian
klasik dan randomisasi, karena terapi ini berkaitan dengan perilaku nyata. Para
terapist mencoba menentukan stimulus yang mengawali respon yang
menyimpang dan kondisi lingkungan yang menguatkan atau mempertahankan
perilaku itu. Terapi ini memberikan hasil yang cukup baik, terutama untuk
kasus-kasus baru. Secara umum terapi ini juga bermaksud secara langsung
membentuk dan mengembangkan perilaku penderita skizofrenia yang lebih
sesuai, sebagai persiapan penderita untuk kembali berperan dalam masyarakat
(Sutatminingsih, 2002).
2) Psikoterapi kelompok
Banyak masalah emosional menyangkut kesulitan seseorang dalam
berhubungan dengan orang lain, yang dapat menyebabkan seseorang berusaha
menghindari relasinya dengan orang lain, mengisolasi diri, sehingga
menyebabkan pola penyelesaian masalah yang dilakukannya tidak tepat dan tidak
sesuai dengan dunia empiris. Dalam menangani kasus tersebut, terapi kelompok
akan sangat bermanfaat bagi proses penyembuhan penderita skizofrenia. Terapi
kelompok termasuk salah satu jenis terapi humanistik. Pada terapi ini, beberapa
skizofrenik berkumpul dan saling berkomunikasi dengan terapist yang berperan
sebagai fasilitator dan sebagai pemberi arah di dalamnya. Melalui terapi ini, iklim
interpersonal relationship yang konkrit akan tercipta, sehingga penderita
skizofrenia selalu diajak untuk berpikir secara realistis dan menilai pikiran serta
perasaan yang tidak realistis (Sutatminingsih, 2002).
3) Psikoterapi Keluarga
Terapi keluarga ini merupakan suatu bentuk khusus dari terapi kelompok.
Kelompoknya terdiri atas suami istri atau orang tua serta anaknya yang bertemu
dengan satu atau dua terapist. Terapi ini digunakan untuk penderita yang telah
keluar dari rumah sakit jiwa dan tinggal bersama keluarganya. Ungkapan-
ungkapan emosi dalam keluarga yang bisa mengakibatkan penderita kambuh
diusahakan kembali. Keluarga diberi informasi tentang cara-cara untuk
mengekspresikan perasaan-perasaan, baik yang positif maupun yang negatif
secara konstruktif dan jelas, dan untuk memecahkan setiap persoalan secara
bersama-sama (Sutatminingsih, 2002; Maramis, 2009).
Keluarga diberi pengetahuan tentang keadaan penderita dan cara-cara
untuk menghadapinya. Keluarga juga diberi penjelasan tentang cara untuk
mendampingi, mengajari, dan melatih penderita dengan sikap penuh penghargaan.
Perlakuan-perlakuan dan pengungkapan emosi anggota keluarga diatur dan
disusun sedemikian rupa serta dievaluasi (Sutaminingsih, 2002; Maramis, 2009).
IX. PROGNOSIS
Daftar masalah yang muncul :
1. Organobiologis
Adanya batuk kronis.Pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan.
Pemeriksaan penunjang foto thorax belum dilakukan.
Differential Diagnose : TB paru, PPOK.
2. Psikososial
Perilaku dan psikomotor adalah hipoaktif.
Adanya blocking pada pembicaraan.
Tidak ada waham dan halusinasi.
Insight jelek.
Prognosis skizofrenia dikatakan baik apabila :
1. Late onset
2. Mempunyai faktor pencetus yang jelas
3. Tidak memiliki riwayat keluarga skizofrenia
4. Memiliki riwayat premorbid yang baik dalam sosial, seksual, dan
pekerjaan.
5. Mempunyai sistem support yang baik
6. Gejala aktif berlangsung tidak lama.
Prognosis skizofrenia dikatakan buruk apabila :
1. Onset usia muda
2. Onset perlahan-lahan dan tidak jelas
3. Memiliki riwayat premorbid jelek
4. Dijumpai perilaku autistik atau menarik diri.
5. Gambaran gejalan negatif tampak jelas.
6. Memiliki riwayat keluarga skizofrenia
7. Memiliki sistem support yang buruk.
8. Memiliki riwayat trauma perinatal.
9. Tidak ada remisi selama 3 tahun pengobatan.
10. Terjadinya banyak relaps.
Sehingga pada pasien ini dapat dikatakan prognosisnya buruk.

PEMBAHASAN
Pedoman Diagnostik Skizofrenia menurut PPDGJ-III, adalah sebagai berikut
(Maslim, 2003).:
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. thought echo, yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau
bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun
isinya sama, namun kualitasnya berbeda atau thought insertion or
withdrawal yang merupakan isi yang asing dan luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari
luar dirinya (withdrawal); dan thought broadcasting, yaitu isi pikiranya
tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.
b. delusion of control, adalah waham tentang dirinya dikendalikan oleh
suatu kekuatan tertentu dari luar atau delusion of passivitiy merupaka
waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan
dari luar; (tentang dirinya diartikan secara jelas merujuk kepergerakan
tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus),
atau delusional perception yang merupakan pengalaman indrawi yang
tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat
mistik atau mukjizat.
c. Halusinasi auditorik yang didefinisikan dalam 3 kondisi dibawah ini:
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap
perilaku pasien, atau
Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri
(diantara berbagai suara yang berbicara), atau
Jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian
tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal
keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di
atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau
berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain).
2. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
a. Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan
(over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
b. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme;
c. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme,
dan stupor;
d. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
e. Adanya gejala-gejala khas di atas telah berlangsung selama kurun waktu
satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
(prodromal)
f. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi
(personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-
absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.
Adapun kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM IV adalah (Tomb, 2003):
a. Berlangsung minimal dalam enam bulan
b. Penurunan fungsi yang cukup bermakna di bidang pekerjaan, hubungan
interpersonal, dan fungsi dalam mendukung diri sendiri
c. Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selama
berlangsungnya sebagian dari periode tersebut
Tidak ditemui dengan gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan
mood mayor, autisme, atau gangguan organik.

Pada kasus ini, didiagnosis skizofrenia tipe paranoid sesuai dengan criteria
PPDGJ III.
USULAN TINDAK LANJUT ;
1. Penggantian antipsikotik generasi kedua selain Risperidone
Karena dalam waktu 12 minggu setelah pemberian antipsikotik generasi
kedua memberikan respon sebagian atau parsial.

DAFTAR PUSTAKA
Andreasen, N,C., Carpenter, M.T., Kane, J.M.,Lasser, R.A.,Marder, S.R.,
Weinberger, D.R. 2005. Remission in Schizophrenia: Proposed Criteria and
Rationale for Consensus. Am J Psychiatry. 162:441449.
Hawari, Dadang, 2003. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa. Ed 2. Jakarta:
FKUI.
Jeffrey A. Lieberman, M.D., T. Scott Stroup, M.D., M.P.H., Joseph P. McEvoy,
M.D., Marvin S. Swartz, M.D.,Robert A. Rosenheck, M.D., Diana O. Perkins,
M.D., M.P.H., Richard S.E. Keefe, Ph.D.,
Sonia M. Davis, Dr.P.H., Clarence E. Davis, Ph.D., Barry D. Lebowitz, Ph.D.,
Joanne Severe, M.S.,
and John K. Hsiao, M.D. 2005. Effectiveness of Antipsychotic Drugs in Patients
with Chronic Schizophrenia. NEJM. 353; 1209-1223.

Kaplan H.I, Sadok B.J. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat, Cetakan I, Widya Medika,
Jakarta, 1998 : 227-229
Keliat, B.A., 1996, Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan
Jiwa, EGC, Jakarta Luana, N.A. 2007. Skizofrenia dan Gangguan Psikotik
lainnya dalam Simposium Sehari Kesehatan Jiwa dalam Rangka Menyambut Hari
Kesehatan Jiwa Se-dunia. Jakarta : Ikatan Dokter Indonesia cabang Jakarta Barat .

Maramis, W. F. (2009). Ilmu Kedokteran Jiwa edisi 2. Surabaya: Pusat penerbitan
dan percetakan.
Maslim R, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan dari
PPGDJ-III, Jakarta, 2001 : 65
Nuhriawangsa, I dan Adi,N. Dalam Indonesian Psychiatric Association. 2004.
Tanggapan Keluarga Pasien terhadap Terapi Kejang Listrik pada Pasien
Skizofrenia di RSK Puri Waluyo Surakarta. 3ed National Conference on
Schizophrenia. Bali : Indonesian Psychiatric Association
Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ III), Direktorat
Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1993.
http://www.priory.com/psych/clozapinenect.htm Stroke Therapy Treatments
Dr.Prem Pillay, Singapore Expert Neurosurgeon - Brain, Spine & Nerve
www.DrPremPillay.or
Comparative Study Of Clozapine, Electroshock (ECT), And The Combination Of
ECT With Clozapine In Treatment-Resistant Schizophrenic Patients