Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Ikan mas (cyprinus carpio) merupakan salah satu komoditas tertua yang sudah banyak
dibudidayakan masyarakat. Berbagai teknologi pembenihan dan pembesaran sudah dilakukan
dan diterapkan baik secara ekstensif dan intensif. Aktifitas perikanan budidaya adalah proses
pembenihan. Pembenihan mata rantai awal kegiatan budidaya yang sangat berperan penting
dalam menjamin keberlangsungan kegiatan berikutnya, yaitu pembesaran. Kegiatan
pembenihan yang baik akan menghasilkan produk benih ikan yang berkualitas baik. Benih
ikan yang berkualitas baik, menghasilkan pertumbuhan yang cepat dan tahan terhadap
serangan penyakit, merupakan suatu kebutuhan mutlak yang harus disediakan. Penyedian
benih bermutu merupakan salah satu kebutuhan utama dalam meningkatkan produktivitas
usaha budidaya ikan air tawar.
Usaha pembenihan merupakan ujung tombak keberhasilan usaha budidaya ikan air
tawar. Usaha pembenihan dapat mensuplay benih terhadap usaha budidaya ikan untuk setiap
musim pemeliharaan. Teknik pemijahan beberapa jenis ikan asli Indonesia telah banyak
berkembang dan banyak pula diminati masyarakatnya dibandingkan dengan ikan-ikan
introduksi.
Usaha budidaya tidak cukup bila hanya mengandalkan benih secara alami, karena
bersifat musiman seperti ikan mas (Cyprinus carpio, L) yang ditemukan hanya pada awal
musim hujan. Penyediaan benih tidak hanya dalam jumlah yang cukup dan terus-menerus,
tetapi diperlukan mutu yang baik serta tepat sasaran.
Sejalan dengan perkembangan teknologi diberbagai bidang ilmu termasuk bidang
perikanan, budidaya ikan sedang mengarah ke berbagai budidaya intensif. Intensifikasi di
bidang perikanan menuntut adanya ketersediaan benih dalam jumlah dan mutu yang memadai
secara kontinyu. Kontinyuitas ketersediaan benih tersebut membutuhkan kegiatan
pembenihan yang intensif pula. Pembenihan yang intensif membutuhkan dukungan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Karena itu, penggalian ilmu pengetahuan dan teknologi adalah
kegiatan praktikum di lapangan bagi mahasiswa perikanan.
Pemijahan salah satu kegiatan produksi benih untuk keberlangsungan kegiatan
berikutnya, mengingat perkembangan di alam mulai mengurang akibat penangkapan yang
berlebihan, maka dari itu perlu dilakukan pelestarian atau budidaya. Pemijahan ikan mas
dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi
2

buatan (induced spawning) dan pemijahan buatan (induced/artificial breeding). Pemijahan
alami dilakukan dengan cara memilih induk jantan dan betina yang benar-benar matang
gonad selanjutnya dipijahkan secara alami di bak / wadah pemijahan dengan pemberian
kakaban. Pemijahan semi buatan dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan
penyuntikan hormon perangsang selanjutnya dipijahkan secara alami. Pemijahan buatan
dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikkan hormon perangsang
selanjutnya dipijahkan secara buatan.

1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum tekhnik pembenihan ikan adalah sebagai berikut:
1. Mampu membedakan antara induk ikan mas jantan dan ikan mas betina melalui
pengamatan seksualitas primer dan sekunder pada ikan.
2. Mampu mengenali induk ikan mas yang siap memijah.
3. Memahami tekhnik striping dan tekhnik pencampuran telur dan sperma ikan mas.
4. Mengetahui tekhnik inkubasi telur.
5. Mampu membedakan bentuk telur yang terbuahi dan yang tidak terbuahi
6. Mampu mengetahui dan melihat perkembangan telur sejak fertilisasi hingga
penetasan telur.

1.3 Manfaat Praktikum
Adapun manfaat yang di dapat dalam pelaksanaan praktikum teknik
pembenihan ikan mas yaitu untuk dapat mengetahui dan mempraktikkan langsung tata
cara pembenihan ikan mas secara buatan.











3


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Mas
Secara morfologi bentuk tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak
(compressed). Mulut berada di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protaktif).
Bagian ujung mulut memiliki dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi
kerongkongan (pharyngeal teeth) yang tersusun dari tiga baris gigi geraham. Secara umum,
hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik, kecuali beberapa varietas yang memiliki
sedikit sisik. Sisik ikan mas yang berukuran relatif besar digolongkan ke dalam sisik tipe
lingkaran (sikloid) dan terletak beraturan (Rochdianto, 2005).
Menurut Sutisna dan Sutarmono (1995), klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Sub kelas : Teleostei
Ordo : Ostariophisi
Sub ordo : Cyprinidea
Family : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio
Menurut Khairuman et.al (2005), tubuh ikan mas dilengkapi juga dengan sirip. Sirip
punggung (dorsal) memanjang dan bagian belakangnya berjari keras. Sementara itu, ketiga
dan keempatnya bergerigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sirip
perut (ventral). Sirip dubur (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yakni berjari keras
dan bergerigi. Garis rusuk atau gurat sisi (linea literalis) pada ikan mas berada di pertengahan
tubuh mulai dari belakang tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor.
2.2 Habitat dan Penyebaran
Di alam asli, ikan mas dapat ditemui di pinggiran sungai, danau, atau perairan tawar
lainnya yang keadaan air tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras. Meskipun ikan
mas termasuk ikan air tawar, namun tidak jarang ikan ini ditemui hidup di daerah muara
sungai yang berair payau (Djarijah, 2001).
Khairuman et.al (2005), menyatakan ikan mas dapat hidup di tempat (habitat)
perairan air tawar yang tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, misalnya di
4

pinggiran sungai atau danau. Ikan ini dapat hidup baik di ketinggian 150-600 meter di atas
permukaan laut (dpl) dan pada suhu 25300C.
Ikan mas yang dibudidayakan di areal perkolaman dapat dikawinkan sepanjang tahun
(tidak mengenal musim). Tetapi di alam aslinya misal: sungai, danau ataupun genangan air
lainnya, ikan mas memijah pada awal atau sepanjang musim penghujan. Biasanya memijah
pada perairan dangkal, setelah mengalami kekeringan musim kemarau, dan menempelkan
seluruh telurnya pada tanaman atau rerumputan di tepi perairan. Atas dasar inilah orang
kemudian beranggapan bahwa ikan mas yang akan memijah harus didahului dengan tindakan
memanipulasi lingkungan yang meliputi pengeringan kolam dan pengisian air baru. Sebagai
bahan penempel telurnya digunakan kakaban, yaitu ijuk yang dijepitkan di dua bilah bambu
(Pribadi, 2002).

2.3 Perkembangbiakan
Djarijah (2001), menyatakan di wilayah beriklim tropis, ikan mas mencapai tingkat
kedewasaan yaitu sekitar umur 12 tahun dengan kisaran berat antara 1,5 - 2 kg/ekor untuk
betina. Sedangkan ikan mas jantan mencapai matang kelamin relatif lebih mudah dari pada
betina yaitu 8 bulan dengan berat badan 0,5 0,7 kg/ekor. Proses matang kelamin ikan mas
berlangsung relatif lama dan pelan-pelan. Perkembangan gametnya sangat dipengaruhi oleh
temperatur lingkungan. Perkembangan telur dan sperma induk ikan mas yang hidup di daerah
tropis relatif lebih cepat dibandingkan dengan kawasan subtropis.
Siklus reproduksi ikan mas dimulai di dalam gonad, yaitu ovari pada ikan betina dan
testis pada ikan jantan. Dari ovari akan dihasilkan telur dan dari testis akan dihasilkan
spermatozoa. Pemijahan pada ikan mas dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak tergantung
pada musim. Secara alami pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar.
Menjelang ikan mas memijah induk-induk ikan mas bersifat lebih agresif. Di alam telah
menjadi kebiasaan, sebelum memijah ikan akan mencari tempat rimbun dengan tanaman air
atau rumput-rumput yang menutupi permukaan air. Substrat-substrat tersebut dapat
merangsang pemijahan dan digunakan untuk meletakan telur-telurnya. Sifat telur ikan mas
adalah melekat pada substrat. Telur- telur ikan mas berbentuk bulat, bening, dan ukurannya
bervariasi menurut umur dan bobot induk. Diameter telur ikan mas tersebut antara 1,5 - 1,8
mm dengan bobot antara 0,17 - 0,20 mg (Kilawati, 2004).



5

2.4. Pemeliharaan Induk
Keberhasilan usaha pembenihan ikan mas ditentukan oleh kualitas induk. Pemilihan
calon induk harus mempertimbangkan ras atau strain ikan yang akan dipelihara. Ciri ciri
calon induk yang baik berbeda-beda untuk setiap ras atau strain. Secara umum ciri-ciri calon
induk yang baik sebagai berikut : Sehat, Tidak cacat, dan tidak luka. Umur induk 1.5 2
tahun. Sisik tersusun dengan teratur.
Sisik Penuh dan normal. Kepala relative kecil dibandingkan badan. Ukuran tubuh
relative tinggi dan panjang serta berbadan tebal, perut lebar, pangkal ekor lebar dan kuat.
Lubang dubur lebih dekat ke ekor. ( Gunadi. 2010).
Menurut Sudenda (2008), Ikan mas induk betina dapat dipijahkan setelah berumur 1.5
2 tahun, dengan berat mencapai 1.5 kg. Induk jantan mencapai kematangan lebih awal,
yakni sekitar 8 bulan dengan berat 0,5 kg lebih. Induk ikan jantan dan betina sebaiknya
dipelihara secara terpisah di kolam-kolam khusus. Cara ini untuk memudahkan dalam
penyeleksian ikan yang akan dipijahkan serta untuk menghindari terjadinya pemijahan liar.
Jika memungkinkan yang sudah dipijahkan juga terpisah dari yang belum dipijahkan. Induk
di pelihara terpisah, bertujuan untuk mendapatkan perkembangan gonad dengan baik. Untuk
mendapatkan induk matang gonag yang baik, kondisi lingkungan harus baik serta makanan
tersedia dengan cukup.keadaan ini dapat dicapai dengan mengatur jumlah induk yang
dipelihara disesuaikan dengan intensitas pengelolaan budidaya.

2.5. Pematangan Gonad
Keberhasilan pemijahan ikan mas sangat ditentukan oleh tingkat kematangan gonad.
Induk dipelihara dalam kolam pemeliharaan induk selama 1.5 bulan, induk biasanya sudah
mengalami kematangan gonad. Bobot induk betina 1.5 4 kg / ekor dan induk jantan 0.5 2
kg. Ciri ciri induk betina yang sudah matang gonad antara lain bagian perutnya tampak
besar dan bergelambir jika dilihat dari atas. Perut diraba terasa lembek dan sekitar lubang
urogenitalianya tampak memerah dan keluar telur ketika diurut (striping). Induk jantan
matang kelamin ditandain dengan keluarnya sperma berwarna putih ketika diurut
urogenitalnya. (Suseno. 1999). Menurut Gunadi (2010), Ciri ciri telur ikan mas yang sudah
matang antara lain ukurannya merata dan berwarna coklat muda atau abu abu. Telur ikan
mas yang berkualitas rendah berwarna putih atau keputih putihan, karena terlalu muda /
terlalu tua. Setelah pembuahan telur masih nampak jernih dan bening, berarti telur tersebut
berkembang cukup baik. Sebaliknya telur berwarna putih, pucat atau putih keruh berarti telur
6

tidak menetas / mati. Selanjutnya ciri ciri sperma ikan mas yang berkualitas unggul,
berwarna putih kekuningan, kekentalannya seperti krim susu, kisaran pH sperma 6.8 7.6.

2.6. Seleksi Induk
Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu secara
tradisional, semi intensif dan secara intensif. Dengan semakin meningkatnya teknologi
budidaya ikan, khususnya teknologi pembenihan telah dilaksanakan penggunaan induk
induk yang berkualitas baik. Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung
pada kondisi alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan diantaranya
pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan teknik
pembuahan buatan, penetasan telur secara terkontrol, pengendalian kuantitas dan kualitas air,
teknik kultur makanan alami dan pemurnian kualitas induk ikan. Untuk peningkatan produksi
benih perlu dilakukan penyeleksian terhadap induk ikan mas. (Gunadi, 2010).
Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah matang untuk
dipijah adalah sebagai berikut:
a. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor,
b. Jantan: umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.
c. Bentuk tubuh secara keseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor mulus,
sehat, sirip tidak cacat.
d. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih,
panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan; lensa mata tampak jernih.
e. Sisik tersusun rapi, cerah tidak kusam.
f. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih panjang
dibandingkan lebar/tebal ekor. (BSN, 1999).


Ciri ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:
Betina
- Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.
- Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.
- Bila disentuh operculumnya terasa lembut.

7

Jantan
- Badan tampak langsing.
- Gerakan lincah dan gesit.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
- Bila disentuh operculumnya terasa kasar.

2.7 Pemijahan Semi Buatan
Pemijahan adalah pertemuan antara ikan jantan dengan betina yang bertujuan untuk
pembuahan telur oleh sperma. Pemijahan semi buatan adalah pemijahan yang berlangsung
akibat adanya setengah campur tangan manusia, dengan menyuntikan hormon perangsang
pada induk betina. Pemijahan semi buatan di atur oleh manusia waktu untuk ikan memijah.
(Gunawan, 1999).
Pemijahan semi buatan tak sesederhana pemijahan alami. Ada satu pekerjaan yang
harus dilakukan, yaitu menyuntik atau memasukan hormon perangsang pada induk betina.
Namun tingkat keberhasilannya bisa lebih tinggi. Meski kematangan induk sulit ditentukan
secara visual, telur yang ada dalam tubuh dipaksa untuk keluar, hingga terjadi pemijahan.
Hambatan dalam produksi masih bisa ditekan. Ada beberapa kekurangan dalam pemijahan
semi buatan. Selain memerlukan satu tambahan pekerjaan, juga memerlukan biaya tambahan,
yaitu biaya untuk menyediakan hormon perangsang. Hormon perangsang cukup mahal
harganya. Untuk membeli ovaprim harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 200.000,- / botol.
Untuk membeli ikan mas harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 20.000,- / kg, (Gunadi,
2010).

2.8 Kualitas Air
Usaha pembenihan dan pendederan ikan mas dapat menggunakan air hujan, air
waduk, air sungai, mata air, air irigasi, air permukaan, air sumur terbuka, dan air sumur
pantek.
Menurut Cahyono (2001), Dari berbagai sumber air tersebut, air waduk dianggap yang
terbaik karena endapannya cukup sedikit dan kandungan oksigen serta unsur hara yang
diperlukan untuk pertumbuhan pakan alami cukup tinggi. Sementara air sumur terbuka, air
sumur pantek, atau air tanah lainnya, lebih aman dari kontaminasi biota dan penyakit, tetapi
miskin oksigen (O2) terlarut dan kandungan karbondioksidanya (CO2) cukup tinggi. Air jenis
ini harus mendapatkan perlakuan aerasi terlebih dahulu sebelum dipergunakan untuk
pembenihan dan pendederan ikan mas. (Gunadi, 2010).
8

Menurut Gufhran (2007), Kualitas air atau mutu air sangat berpengaruh terhadap
kelangsungan hidup ikan dan hewan air lainnya. Kualitas air yang baik, ikan hidup dengan
baik, nafsu makan tinggi, dan tidak mudah terserang penyakit. Sebaliknya, kualitas air yang
buruk, ikan tidak dapat hidup dengan baik, nafsu makan rendah, mudah terserang penyakit,
mudah setres, dan dapat menimbulkan kematian.

2.9 Hama dan Penyakit
2.9.1 Hama
Hama dikenali juga sebagai predator atau pemangsa yang hidup di air dan di darat. Ukuran
hama lebih besar dari pada mangsanya. Jenis hama umumnya menyerang ikan mas adalah
biawak, ular, linsang, kodok dan beberapa jenis burung (misalnya burung belekok, kuntul,
dan bangau). Pengendalian hama dapat dilakukan secara mekanis, yakni membunuh langsung
hama yang ditemukan di tempat pemeliharaan ikan. Tindakan pencegahan yang bisa
dilakukan adalah memasang perangkap dan melokalisir seluruh area kolam dengan pagar
tembok sehingga hama tidak dapat masuk. (Afrianto, 1992).
Selain hama berukuran besar, ada juga sekelompok hewan air (hama) berukuran kecil
yang dapat memangsa benih ikan mas di kolam pembenihandan pendederan. Beberapa hewan
air (hama) yang sering menyerang benih ikan mas adalah ucrit, notonecta, dan kini kini.
Pencegahan hama ucrit dilakukan dengan cara memasang saringan di pintu pemasukan air
dan padat penebarannya tidak terlalu tinggi. Hama notonecta dilakukan dengan cara
memasang saringan di pintu pemasukan air, cara lain dapat dikendalikan dengan memercik
minyak tanah kepermukaan air sebanyak 0.5 liter / 50 m2 luas permukaan air kolam.
Selanjutnya pencegahan hama kini kini dilakukan dengan cara padat penebaran tidak terlalu
tinggi. (Muharam, 2009).


2.9.2 Penyakit
Penyebab penyakit pada ikan mas ada dua, yakni jasad hidup dan bukan jasad hidup.
Jasad hidup yang menyebabkan penyakit pada ikan adalah parasit. Parasit yang menyerang
ikan mas adalah virus, jamur, bakteri, protozoa, cacing dan udang renik. Selanjutnya
penyebab penyakit yang bukan termasuk jasad hidup adalah sifat fisika air, kimia air, dan
pakan yang kurang baik untuk pertumbuhan atau kehidupan ikan mas. (Afrianto, 1992).
Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang ikan mas yaitu:

9

1. Ichthyophthirius multifillis
Penyakit ini dikenal dengan sebutan bintik putih atau white spot. Sering menyerang
ikan mas dengan cara bersarang di lapisan lendir kulit, sirip, dan lapisan insang. Ciri ikan
yang diserang white spot adalah banyak mengeluarkan lendir, tubuhnya pucat, dan
pertumbuhannya lambat. Ikan mas yang terserang penyakit ini bisa diobati dengan cara
merendam dalam larutan Methylene Blue. Jika Methylene Blue sulit didapat, bisa digantikan
dengan larutan garam dapur (NaCl) sebanyak 1 3 gr untuk setiap 100 ml air bersih. Lama
perendaman yang dianjurkan 5 10 menit dan perendaman diulang hingga 2 3 kali.
2. Lernea
Parasit lernea berbentuk seperti cacing dan hidup dalam tubuh ikan mas dengan cara
memasukkan kepalanya yang berbentuk jangkar ke tubuh ikan. Parasit ini mudah sekali
berkembang biak pada kondisi lingkungan yang banyak mengandung bahan organik, seperti
sisa- sisa pemupukan, sampah, dan sisi sisa pakan. Pertumbuhan ikan mas yang terserang
lernea akan lambat dan tubuhnya menjadi kurus. Pengobatannya dengan cara merendapkan
dalam 2.5 ml larutan formalin yang dicampur dengan 100 liter air bersih. Perendaman
dilakukan selama 10 menit, selanjutnya ikan di pelihara dalam air bersih dan mengalir.

















10

BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum dilakukan pada tanggal 08 03 Maret 2013 yang berlokasi di Balai Benih
Ikan Jantho, Aceh Besar.

3.2 Alat dan bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah :
No. Alat dan Bahan Jumlah
1. Induk ikan mas betina 5 ekor
2. Induk Ikan mas Jantan 2 ekor
3. Hapa 1 unit
4. Kakaban 6 buah
5. Spet 1 unit
6. Hormon Ovaprim 1 unit
7. Baskom 1 unit


3.3 Metode Kerja
Teknik pemijahan yang digunakan pada saat praktikum adalah teknik pemijahan
buatan, dimana proses pemijahan diawali dengan penyuntikan horman ovaprim terhadap
induk betina dengan dosis 0,5 cc / kg berat induk.
Berikut adalah tahapan-tahapan yang dilakukan pada praktikum pemijahan buatan
ikan mas (ciprinus carpio), diantaranya:
Dipersiapkan wadah dan media pemijahan (hapa dan kakaban).
Diletakkan kakaban pada dasar kolam pemijahan yang ditimpa dengan batu supaya
kakaban tenggelam.
Diseleksi induk yang sudah siap pijah.
Dilakukan penyuntikan hormon ovaprim pada induk betina.
Dimasukan induk betina yang telah disuntik hormon kedalam sterofom.
Dimasukan induk jantan yang siap pijah kedalam sterofom yang lainnya, dipisahkan
antara betina dan jantan.
11

Ditunggu selama 10 jam setelah dilakukan penyuntikan hormon.

Dicampurkan sperma dengan NaCl fisiologis 0,9% sebanyak 500 ml/ekor ikan jantan.
Distriping induk mas betina ke dalam baskom dengan cara mengurut pada bagian
perutnya secara perlahan.
Dimasukkan sperma kedalam telur dari hasil striping dengan mengaduk-aduk secara
perlahan hingga sperma dan telur menyatu.
Ditebarkan telur kedalam kolam pemijahan yang telah disediakan kakabannya.
Diukur parameter kualitas air (pH, suhu dan DO).
Di rendam kakaban yang sudah tertempel telur kedalam larutan malachitgren
Diukur parameter kualitas air (pH, suhu dan DO).
Dibiarkan selama 24 - 48 jam
Direndam kakaban yang sudah tertempel telur kedalam larutan malachitgren
Dihitung telur dengan menggunakan metode transec kuadrat
Di hitung panjang dan lebar kakaban nya.


3.4 Analisa data
Berikut ini adalah analisa data pada praktikum pembenihan ikan mas secara buatan di
Balai Benih Ikan Jantho Aceh Besar.
Jumlah telur perkakaban
Kakaban 1
Transek I = 220
Transek II = 85
Transek III = 73
Kakaban 2
Transek I = 121
Transek II = 85
Transek III = 330
Kakaban 3
Transek I = 180
Transek II = 105
Transek III = 78
Kakaban 4
Transek I = 102
Transek II = 73
Transek III = 31
12


Kakaban 5
Transek I = 95
Transek II = 120
Transek III = 73
13


Berikut perhitungan telur pemijahan ikan mas secara buatan :

Kakaban I
DIK :
Ulangan I : 220
Ulangan II: 85
Ulangan III : 73
Jadi untuk mencari rata rata yaitu : 220 + 85 +73 = 378 / 3 = 126
Luas Transek : 5 x 5 = 25 cm
Jadi 126 / 25 = 5,04 butir telur / transek
Luas kakaban : P X l
= 170 x 65
= 11.050 x 5,04
= 55.692 butir / kakaban
Jadi dalam 1 cm transek terdapat 5 butir telur






Kakaban II
DIK :
Ulangan I : 121
Ulangan II: 85
Ulangan III : 330
Jadi untuk mencari rata rata yaitu : 121 + 85 + 330 = 536 / 3 = 178,6
Luas Transek : 5 x 5 = 25 cm
Jadi 178,6 / 25 = 7,14 butir telur / transek
14

Luas kakaban : P X l
= 170 x 65
= 11.050 x 7,14
= 78.897 butir / kakaban
Jadi dalam 1 cm transek terdapat 7 butir telur

Kakaban III
DIK :
Ulangan I : 180
Ulangan II: 105
Ulangan III : 75
Jadi untuk mencari rata rata yaitu : 180 + 105 + 75 = 360 / 3 = 120
Luas Transek : 5 x 5 = 25 cm
Jadi 120 / 25 = 4,8 butir telur / transek
Luas kakaban : P X l
= 170 x 65
= 11.050 x 4,8
= 53.040 butir / kakaban
Jadi dalam 1 cm transek terdapat 5 butir telur

Kakaban IV
DIK :
Ulangan I : 102
Ulangan II: 73
Ulangan III : 31
Jadi untuk mencari rata rata yaitu : 102+ 173 + 31 = 206 / 3 = 68,6
Luas Transek : 5 x 5 = 25 cm
15

Jadi 68,6 / 25 = 2,74 butir telur / transek
Luas kakaban : P X l
= 170 x 65
= 11.050 x 2,74
=30.277 butir / kakaban
Jadi dalam 1 cm transek terdapat 3 butir telur

Kakaban IV
DIK :
Ulangan I : 95
Ulangan II: 120
Ulangan III : 73
Jadi untuk mencari rata rata yaitu : 95 + 120 + 73 = 288 / 3 = 96
Luas Transek : 5 x 5 = 25 cm
Jadi 96 / 25 = 3,84 butir telur / transek
Luas kakaban : P X l
= 170 x 65
= 11.050 x 2,74
=42.432 butir / kakaban
Jadi dalam 1 cm transek terdapat 4 butir telur











16

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berikut ini adalah hasil dari analisa data pemijahan buatan ikan mas (Ciprinus carpio) di Balai
Benih Janto :

no Kakaban Jumlah telur pertransek Jumlah telur
perkakaban
1 Kakaban I 5,04 55.692
2 Kakaban II 7,14 78.897
3 Kakaban III 4,8 53.040
4 Kakaban IV 2,74 30.277
5 Kakaban V 3,84 42.432
Tabel 4.1 hasil perhitungan telur pada pemijahan buatan ikan mas

4.2 Pembahasan
Pada saat berlangsungnya praktikum Teknik Pembenihan Ikan Secara Buatan yang
dilaksanakan pada tanggal 8 sampai 10 Maret 2013 di Unit Pelaksana Teknis Daerah Budidaya
Air Tawar (UPTD_BAT) jantho, Aceh besar. Kami melakukan beberapa kegiatan untuk
melaksanakan praktikum teknik pembenihan ikan secara buatan, diantaranya adalah kegiatan
seleksi induk, persiapan kolam pemijahan, penyuntikan hormon ovaprin, pengamatan telur dan
menghitung jumlah telur dengan menggunakan metode transek.
Seleksi induk merupakan salah satu kegiatan yang sangat menentukan dalam kegiatan
pemijahan secara buatan. Kegiatan seleksi induk dilakukan untuk memilih induk - induk yang
siap dipijahkan (induk yang telah matang gonad) serta mendapatkan telur dan benih yang unggul.
Induk yang layak di pijahkan, yaitu induk yang kematangan gonadnya sudah optimal. Induk ikan
mas yang diseleksi minimal berumur 1,5 - 2 tahun. Ciri-ciri induk yang siap dipijahkan antara
lain perutnya besar apabila diraba terasa lunak, gerakannya lambat, pada ikan betina jika diurut
mengeluarkan telur, sedangkan ikan jantan mengeluarkan cairan putih.
17

Persiapan kolam pemijahan dilakukan sebelum proses penyuntikan. Pada kolam yang
akan digunakan diletakkan hapa yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 3 m x 1,5 m.
Selanjutnya, ikan yang sudah siap melakukan pemijahan dimasukkan kedalam kolam kemudian
diletakkan kakaban berukuran 170 cm x 65 cm. Satu kolam pemijahan secara buatan tersebut
terdapat 5 kakaban.
Penyuntikan induk dilakukan pada pukul 11:00 wib. Sebelumnya dilakukan penimbangan
induk yang bertujuan untuk mengetahui dosis hormon ovaprin yang akan disuntikkan. Dosis
ovaprin yang digunakan adalah 0,5 cc/kg bobot tubuh induk. Jumlah induk yang digunakan pada
praktikum ini berjumlah 7 ekor, terdiri dari 5 ekor induk betina dan 2 ekor induk jantan. Hormon
ovaprin hanya disuntikkan pada induk betina dan induk jantan. Induk betina dan induk jantan
tersebut disuntik pada bagian punggung dibelakang sirip dorsal. Selanjutnya, induk yang sudah
disuntik dipindahkan ke hapa yg berbeda yang sudah disiapkan untuk menunggu matangnya
gonad selama kurun waktu 10 jam.
Setelah kedua induk ikan sudah matang gonad maka siap untuk di striping. Pertama-tama
yang di striping adalah induk jantan, setelah spermanya keluar semua kemudian dicampur
dengan NaCL. Kemudian induk betina di striping, setelah telurnya keluar semua maka dicampur
dengan sperma dan diaduk agar sperma dan telur terbuahi secara keseluruhan. Setelah itu,
ditebarkan kedalam kolam yang telah disiapkan.
Perhitungan telur dilakukan dengan metode transek. Perhitungan dengan metode tersebut,
dilakukan dengan cara acak pada kakaban kakaban yang ditempeli telur. Perhitungan tersebut
dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan pada setiap bagian kakaban, yaitu kakaban bagian atas
dan kakaban bagian bawah. Telur telur yang terdapat didalam transek dihitung dan dicatat
jumlahnya. Penghitungan telur tersebut bertujuan untuk mengetahui jumlah telur yang dibuahi
pada teknik pemijahan secara semi buatan.
Telur yang terdapat pada pada kakaban ke 1 sebanyak 55.692 butir, kakaban ke 2
sebanyak 78.897 butir, pada kakaban ke 3 sebanyak 53.040 butir, kakaban ke 4 sebanyak 30.277
butir, kakaban ke 5 sebanyak 42.432 butir.
Pengamatan telur dilakukan pada lab Unit Pelaksana Teknis Daerah Budidaya Air Tawar
(UPTD_BAT) jantho, Aceh besar menggunakan microscop. Pengamatan pertama dilakukan pada
18

pukul 21:00 wib. Pada pengamatan pertama tersebut telur masih berbentuk seperti bulan dengan
cangkangnya yang terlihat berwarna hitam. Selanjutnya, pengamatan kedua dilakukan pada
pukul 06:00 wib, dari pengamatan tersebut tidak terlihat adanya perubahan. Kemudian pada
pukul 12:00 wib dilakukan pengamatan ketiga, dimana pada telur yang diamati mulai terbentuk
embrio, namun belum terlihat jelas. Setelah pengamatan ketiga tersebut, dilanjutkan dengan
pengamatan keempat pada pukul 18:00 wib, dimana telur yang diamati telah terbentuk mata dan
ekor. Hasil pengamatan keempat tersebut, bentuk embrio sudah terlihat jelas. Pukul 00:00 wib
dilakukan pengamatan terakhir, dipengamatan ini embrio sudah terbentuk dengan sempurna,
pembuluh darahnya mulai tampak dan bergerak aktif.

























19

BAB V
PENUTUP

5.1 kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum tekhnik pembenihan ikan mas
secara buatan adalah sebagai berikut :
1. Seleksi induk merupakan salah satu kegiatan yang sangat menentukan dalam kegiatan
pemijahan secara buatan.
2. Perhitungan telur dilakukan dengan metode transek dan perhitungan dengan metode
tersebut, dilakukan dengan cara acak pada kakaban kakaban yang ditempeli telur.
3. Hormone yang digunakan untuk pemijahan ikan mas secara buatan yaitu hormone
ovaprin.
4. Telur yang terdapat pada pada kakaban ke 1 sebanyak 55.692 butir, kakaban ke 2
sebanyak 78.897 butir, pada kakaban ke 3 sebanyak 53.040 butir, kakaban ke 4 sebanyak
30.277 butir, kakaban ke 5 sebanyak 42.432 butir.
























20

DAFTAR PUSTAKA


Dharijah, 2001. Pembenihn Ikan Air Tawar. Kanisius, Yokyakarta.
Gunadi, 2010. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Mas. Kanisius. Yogyakarta.
Khairutman, 2005. Perikanan Indonesia. PT.Cipta Sari Grafika, Bandung.
Kilawati, 2004. Budidaya ikan air tawar,Kanisius,Yogyakarta
Pribadi, 2002. Pembenihan ikan mas, Kanisius,Yogyakarta
Rochdianto, 2005. Budidadaya Air Tawar. Kanisius. Yogyakarta
Suseno, Djoko. 1999. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sustina dan Sutarmono, 1995. Dunia Ikan. Armico, Bandung