Anda di halaman 1dari 9

Yoppy Soleman, 2014

Laporan Inspeksi Teknik


Bangunan Gedung Kantor Pengadilan Negeri Klas 1B Poso
Pendahuluan
Semua material bangunan mengalami perubahan volume sebagai respons terhadap
perubahan temperatur dan kelembaban (kadar air). Perubahan volume material,
deformasi elastik akibat beban-beban, rangkak (creep), dan faktor-faktor lainnya
mengakibatkan terjadinya pergerakan. Kekangan terhadap pergerakan-pergerakan ini
menimbulkan tegangan di dalam bangunan yang berakibat pada terjadinya retak
(crack). Dari sisi konstruksi, retak-retak yang pada mulanya dipicu oleh karakteristik
material bangunan akan menjadi lebih intensif dan lebih beresiko bilamana terdapat
kelemahan-kelemahan tertentu dalam desain konstruksi.
Batasan Masalah
Oleh karena keterbatasan instrumen pengukur presisi maka semua indikasi keretakan
dinding bata pada bangunan gedung Kantor PN Klas 1B Poso ini dianggap hanya
merupakan respons dari aksi gaya-gaya yang bekerja di dalam bidang (in-plane wall),
bukan aksi gaya di luar bidang (out of plane wall) sebagaimana yang mungkin
disebabkan oleh gaya gempa lateral.
Penjelasan UmumKeretakan
Retak-retak dinding pasangan bata batu yang terjadi pada 27 titik bangunan Gedung
Kantor Pengadilan Negeri Klas 1B Poso pada bulan Mei 2014 memiliki variasi dalam
lebar dan pola keretakan. Mayoritas keretakan merupakan retak mikro (micro crack)
dengan lebar < 1.0 mm, beberapa termasuk kategori retak ringan dengan lebar 1.2
1.5 mm. Pola retak bervariasi mulai dari pola vertikal, vertikal-ireguler, vertikal diagonal
dan diagonal. Berdasar itu, penyebab retak dan faktor-faktor kontribusinya ada lebih
dari satu. Menginvestigasi secara eksak penyebab retak-retak dinding ini bukanlah hal
yang sederhana oleh karena keterbatasan instrumen pengukuran dalam skala sangat
kecil (micro scale). Dari inspeksi visual selama 2 minggu terakhir pada keseluruhan
kerangka struktur kolom beton bertulang, balok girder, balok sloof, balok ring dan pelat
lantai, tidak ditemukan indikasi yang sangat mencolok (secara visual) yang dapat
segera menjadi pertanda (indikator) langsung dari penyebab keretakan dinding bata.
Karena tidak terdapat pola keretakan struktural yang signifikan pada komponen struktur
maka dapat disimpulkan bahwa keretakan bukan pertama-tama bersifat struktural (non-
struktural).
Gbr. 1.a-b. Bentangan tengah (midspan) dan tepi (endspan) dari balok girder 35x65 cm, L = 10 m. Tidak
ditemukan indikasi yang mencolok (secara visual) berupa keretakan atau defleksi ekstrim dari
struktur pendukung pelat dan dinding ini (panel balok-pelat monolit Ruangan Hakim)
Secara teknik struktur, dinding pasangan bata batu diklasifikasikan sebagai bukan
Yoppy Soleman, 2014 2
Laporan Inspeksi Teknik Bangunan Gedung Kantor
PN Klas 1B Poso, Mei 2014
komponen struktural bangunan oleh karena tidak memikul beban mati dan beban hidup
bangunan. Dinding pasangan bata batu dikategorikan sebagai elemen pengisi rangka
struktur kolom-balok (masonry/brick-wall infilled frame) dan hanya berkontribusi dalam
menambah kekakuan rangka struktural, terutama apabila bangunan mengalami
gerakan lateral atau horizontal akibat gempa bumi dan getaran.
Gbr. 2. a-b. Bentangan tepi (endspan) dari balok 30x45 cm, L = 5 m, pendukung pelat lantai dan dinding
bata pembatas ruangan bagian Selatan Ruang Panitera Pengganti. Secara inspeksi visual
tidak ditemukan indikasi yang sangat mencolok berupa keretakan atau defleksi ekstrim pada
balok, pertemuan (join) kolom-balok dan kolom beton bertulang.
Gbr. 3. a-b. Bentangan tengah (midspan) dan tepi (endspan) dari balok 30x45 cm, L = 5 m, pendukung
pelat lantai dan dinding bata pembatas ruangan bagian Utara Ruang Hakim. Secara inspeksi
visual tidak ditemukan indikasi yang sangat mencolok berupa keretakan atau defleksi
ekstrim pada balok, pertemuan (join) kolom-balok dan kolom beton bertulang.
Yoppy Soleman, 2014 3
Laporan Inspeksi Teknik Bangunan Gedung Kantor
PN Klas 1B Poso, Mei 2014
Keterangan Gbr. 4.a-c:
= join (pertemuan) balok ring (atap)
dan sisi atas dinding dengan
tanpa celah ekspansi.
Pada sisi yang lain, dinding pengisi ini sangat integratif dengan komponen struktural
bangunan oleh karena dua situasi berikut ini:
1. Dinding pengisi (= dinding pasangan bata batu) disupport/dipikul oleh balok-balok
beton bertulang yang dicor secara monolit dengan pelat betonnya (lihat Grb. 5.a-c),
dan,
2. Melalui bidang sentuh pada sisi atas, dinding pengisi (paling kurang sebagiannya)
menerima transfer berat sendiri balok ring dan pelat atap terutama apabila terjadi
susut pembebanan (creep) atau defleksi pada sistem balok-pelat atap yang cukup
besar sementara celah ekspansi diantara dua komponen ini tidak dapat
mengakomodasi pergerakan (lihat Gbr. 4.a-c, Gbr. 7, Gbr. 8).
Gbr. 4. a - c. Sistem dinding bata sisip/
dinding pengisi kerangka struktur (brick-
wall infilled frame) dengan tanpa celah
ekspansi pada konstruksi bangunan
gedung Kantor PN Poso.
Gbr. 5. a-c. Sistem kolom-balok-pelat
lantai monolitik sebagai konstruksi
pendukung dinding dan beban-beban
lantai diatasnya.
Yoppy Soleman, 2014 4
Laporan Inspeksi Teknik Bangunan Gedung Kantor
PN Klas 1B Poso, Mei 2014
Defleksi
Penurunan struktur pendukung dinding (sistem balok-pelat lantai monolitik)
Defleksi
Defleksi
Gbr. 6.a-c. Retak dinding pasangan bata di sekitar bukaan pintu dan jendela karena
deformasi elastik dan creep yang menyebabkan penurunan struktur
pendukung.
Yoppy Soleman, 2014 5
Laporan Inspeksi Teknik Bangunan Gedung Kantor
PN Klas 1B Poso, Mei 2014
Celah ekspansi, baik horizontal maupun vertikal dapat digunakan untuk
mengakomodasi pergerakan akibat deformasi elastik, rangkak (creep), susut
(shrinkage) dan mencegah retak, khususnya untuk dinding bata dengan lebar lebih dari
5 meter. Untuk dinding bata sisip (brick infill) dengan bentangan lebih dari pada
kerangka struktur beton bertulang disarankan untuk menempatkan celah ekspansi
horizontal minimum inci (=6.4 mm) diantara struktur dan sisi atas dinding. Celah
ekspansi dapat diisi dengan mortar lentur atau styrofoam.
Celah di
Balok Struktur
Dinding non-struktur
Bukaan Pintu
Kolom Struktur
Klasifikasi Penyebab Utama, Penyebab Minor dan Faktor Kontribusi
Faktor fundamental dalam kasus keretakan dinding ini tidak lain daripada terlampauinya
kapasitas tegangan tarik (tensile-strength) dinding bata (spesi mortar maupun batu
bata) dalam memikul aksi beban luar berupa tegangan tekan, tarikan dan kombinasi
tarikan-lenturan. Penyebab utama dari keretakan dinding adalah susut akibat
pembebanan (creep), deformasi elastik atau pelenturan pelat beton bertulang bawah
Gbr. 7. Join (pertemuan) balok ring pelat monolitik dan sisi atas dinding dengan
bukaan lebar dan tanpa celah ekspansi horizontal (garis kuning putus-putus).
Pelat Lantai, t = 12 cm
Balok Ring 30x45 cm
Dinding Psg. Bata Batu
Lintel/Latei/Latio
Celah ekspansi = 0
Gbr. 8. Join (pertemuan) balok struktur dan sisi atas dinding dengan
bukaan dan celah ekspansi horizontal (garis kuning putus-putus).
Yoppy Soleman, 2014 6
Laporan Inspeksi Teknik Bangunan Gedung Kantor
PN Klas 1B Poso, Mei 2014
dinding dan pembebanan yang ditransfer dari balok ring-pelat atas. Penyebab minor
adalah drying shrinkage (susut kering). Sedangkan faktor yang berkontribusi pada
keretakan adalah dinding lemah karena perkuatan kolom praktis dan balok latei kurang
memadai.
Faktor Fundamental:
Terlampauinya kapasitas tegangan tarik-langsung (direct tensile-strength) dan
tegangan tarik-lentur (flexural tensile-strength) dinding bata (spesi mortar
maupun batu bata) dalam memikul aksi beban luar berupa tegangan tekan, aksi
tarikan dan kombinasi aksi tarikan-lenturan.
Penyebab Utama:
1. Defleksi beton pelat lantai-balok monolit pendukung dinding akibat proses
rangkak (creep);
2. Transfer beban mati dari berat balok ring-pelat monolitik atas dinding, dan
3. Deformasi elastik sistem balok-pelat lantai akibat peningkatan beban mati lantai.
Penyebab Minor:
4. Susut volume atau susut pengeringan (shrinkage) spesi semen atau mortar.
Faktor Kontributif:
5. Perkuatan dinding lemah akibat ketiadaan atau akibat kurang memadainya
rangka perkuatan kolom praktis latei/lintel pada bukaan-bukaan (pintu dan jendela).
Defleksi Beton Pelat Lantai-Balok Monolitik Pendukung Dinding akibat
Proses Creep (Rangkak)
Rangkak (creep) adalah peningkatan regangan material (beton) terhadap waktu akibat
beban yang bekerja dan menyebabkan kontraksi (pengerutan) volume pelat beton.
Penyebab creep (rangkak) ada dua, sbb:
1. Pertambahan beban mati yang bekerja di atas pelat oleh karena pemasangan lantai
keramik. Berat spesi mortar (adukan semen) dan berat keramik granito dengan
berat satuan 45-50 kg/m
2
;
2. Mutu pelaksanaan beton kurang baik karena faktor air semen (fas) yang terlalu
besar (FAS > 0.60) menyebabkan peningkatan poripori (rongga) beton. Karena tidak
menggunakan vibrator pada saat pengecoran pelat dan balok maka para pekerja cenderung
menambahkan air ke dalam adukan beton segar untuk mendapatkan campuran yang lebih
encer agar workabilitas (sifat mudah dikerjakan) meningkat. Hal ini memang akan
meningkatkan workabilitas beton namun mengurangi kekuatannya karena terjadi
peningkatan ukuran dan jumlah pori-pori dalam beton (pori-pori pertama-tama diisi oleh air
berlebih, namun air berlebih akan menguap sejalan waktu dan terbentuk rongga-rongga
mikro dalam beton).
Gambar 9. Skematik creep (rangkak) dan drying shrinkage (susut
kering). Rangkak disebabkan oleh pertambahan beban
Yoppy Soleman, 2014 7
Laporan Inspeksi Teknik Bangunan Gedung Kantor
PN Klas 1B Poso, Mei 2014
Transfer Beban Mati dari Berat Balok Ring-Pelat Monolitik Atas Dinding
Pembebanan berarah vertikal yang ditransfer dari berat balok ring-pelat lantai monolitik
melalui kontak atas dinding melampaui kapasitas geser dinding pasangan bata, baik
kekuatan spesi mortar maupun kekuatan batu bata. Ini dikategorikan sebagai beban
berlebih.
Tekanan akibat berat balok
ring-pelat lantai monolitik
Reaksi vertikal
Deformasi Elastik akibat Peningkatan Beban Mati Lantai
Komponen struktural bangunan mengalami deformasi elastik akibat beban mati dan
beban hidup. Apabila sistem struktur balok-pelat lantai beton bertulang memiliki
bentang yang relatif panjang (panel pelat tengah bangunan gedung Kantor PN Poso
memiliki lebar 10.0 meter maka sistem struktur itu tentu saja akan menjadi lebih
fleksibel terhadap peningkatan beban diatasnya, dengan kata lain struktur tersebut
mudah melendut.
Gambar 10. Mekanisme retak krn beban berlebih.
Dinding bata mengalami
tekanan (kompresi) vertikal yang
melampaui kekuatan geser
lapisan spesi mortar antar bata ataupun
kekuatan bata itu sendiri dan
mengakibatkan tegangan tarik
horizontal yang menimbulkan retak
vertikal atau campuran vertikal diagonal
Spesi mortar
Yoppy Soleman, 2014 8
Laporan Inspeksi Teknik Bangunan Gedung Kantor
PN Klas 1B Poso, Mei 2014
Struktur balok-pelat beton mengalami pelenturan deformasi elastik
Gambar 13. Pelenturan (deformasi elastik) struktur
pendukung akibat peningkatan beban lantai
Yoppy Soleman, 2014 9
Laporan Inspeksi Teknik Bangunan Gedung Kantor
PN Klas 1B Poso, Mei 2014

Anda mungkin juga menyukai