Anda di halaman 1dari 7

PERHITUNGAN KEPADATAN LALAT di TPS WARTEG

AMELIA MENGGUNAKAN
FLY TRAP
Mata Kuliah : PVBP-B (Pengendalian Vektor dan Binatang
Pengganggu-B)

Achmad Fadli Saputra (P2.31.33.1.12.001) Ida Nadia Saumi (P2.31.33.1.12.021 )
Ade Putri Lestari (P2.31.33.1.12.002) Ina Isna Saumi (P2.31.33.1.12.022 )
Aliva Ikma Yuhastari (P2.31.33.1.12.003) Khairina Ariesta (P2.31.33.1.12.026 )
Aprilia Prihatiwi (P2.31.33.1.12.006 ) Priharsi Yudhita (P2.31.33.1.12.032)
Kelompok 5
2 DIV
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Jln. Hang Jebat Raya no. 47A Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telp : (021)7397641 Fax: (021) 7397769
Website : poltekkesjkt2.ac.id
Jakarta, 2014
Pendahuluan
Seperti kita ketahui bersama bahwa lalat dianggap sebagai hewan yang lebih banyak
menghantarkan kerugian bagi manusia. Semua bagian tubuh lalat bisa berperan sebagai alat
penular penyakit (badan, bulu pada tangan dan kaki, feces dan muntahannya). Penyakit yang
biasanya menjadi langganan penularan lalat di antaranya kolera, diare, disentri, tifus, dan
virus penyakit saluran pencernaan.
Kondisi lingkungan yang kotor dan berbau merupakan tempat yang sangat baik bagi
pertumbuhan dan perkembangbiakan lalat. Kondisi seperti ini mungkin dapat kita temui di
TPS. Salah satu contoh media perkembangbiakan yang disukai oleh lalat adalah sampah
basah hasil buangan rumah tangga, sampah basah merupakan tempat yang disukai lalat untuk
mencari makanan sekaligus tempat berkembang biak.
Lalat tidak hanya hinggap di gunungan sampah, namun dapat juga menyebar ke
permukiman warga. Dengan keadaan tersebut sudah dapat kita ketahui bahwa kehadiran lalat
cukup merepotkan dan mengganggu dalam kehidupan manusia, baik dalam segi estetika
maupun kesehatan. Sehingga tingkat frekuensi populasi lalat perlu kita ketahui agar
masyarakat sadar akan mutu kesehatan, dan makin tanggap dalam penanganan kehadiran
insekta ini.
Maka dari itu sebagai upaya untuk mengetahui tingkat kepadatan lalat pada TPS
tersebut, kami melakukan praktikum pengukuran kepadatan lalat menggunakan media Fly
Trap, agar setelah diketahui tingkat kepadatan lalatnya dapat dilakukan tahap
penanggulanagan selanjutnya.

I. POKOK BAHASAN
Survey Perilaku Lalat Dengan Fly Trap
II. TUJUAN
1. Mengetahui tingkat frekuensi populasi lalat pada suatu tempat.
2. Mengetahui identitas species yang dominan lalat pada suatu priode tertentu.
3. Mengetahui pola perilaku lalat pada setiap periode tertentu pengamatan.
III. ALAT DAN BAHAN
1. Fly Trap 6. Antrekten
2. Stop Watch 7. Alat tulis
4. Senter 8. Piring plastik
5. Hygrometer

IV. CARA KERJA
1. Melakukan survey awal.
2. Letakan Fly Trap pada lokasi yang telah ditentukan.
3. Letakan antractent di bawah Fly Trap.
4. Catat suhu dan kelembaban setiap 4 jam sekali, amati setiap 1 jam sekali keadaaan
lalat dan jumlah lalat.
5. Hitung jumlah lalat selama 4 jam tersebut.
6. Siapkan alat kedua kemudian lakukan pengamatan setiap 4 jam sekali.
7. Seharusnya praktikum ini dilakukan selama 24 jam dan dicatat setiap 4 jam sekali.
8. Disederhanakan pratikum ini dilakukan selama 2 jam dan dicatat setiap 1 jam
sekali.
9. Fly trap diletakkan miring agar lalat dapat masuk.
10. Dengan menggunakan antrakten udang busuk lihat berapa banyak lalat yang mau
hinggap/mendekati Fly Trap tersebut.
11. Hitung juga berapa jenis lalat yang ada dan hitung jumlah tiap jenis lalat.

V. HASIL PENGAMATAN
Survey awal
a. Fisik
1) Jenis sampah : basah dan sampah kering.
2) Lokasi : TPS Warteg Amelia
3) Tingkat kepadatan : tinggi
b. Biologi
1) Jenis predator : kucing, tikus, dan tawon
2) Tingkat kebauan : menyengat
c. Sosial
1) Keberadaan warung makan di sekitar TPS
2) Frekuensi lintasan : ramai
d. Perlakuan
Pemberian udang busuk sebagai antrakten (umpan)



Data Perlakuan
(Kegiatan pagi dan siang hari)
Periode 1
(Pukul 11.45-12.45 WIB)
Suhu : 32 C
Kelembaban : 57%
Jumlah lalat :
a) Lalat hijau : 35 ekor
b) Lalat rumah : 20 ekor

Periode 2
(Pukul 12.45-13.45 WIB)
Suhu : 31,6 C
Kelembaban : 55%
Jumlah lalat :
a) Lalat hijau : 30 ekor
b) Lalat rumah : 13 ekor


Tabel Kunjungan atau Tangkapan Lalat Pada Fly Trap

Perhitungan :
1. Rata-rata kepadatan lalat


Jadi : T1 = 55 49 = 6
T2 = 43 49 = 6
Jumlah = 6 + 6 = 12
No Jenis Lalat Priode Waktu Dalam Dua Jam Total

T1 T2

1. Lalat hijau 35 30 65
2. Lalat rumah 20 13 38
Maka :
Indeks Kepadtan Lalat



2. Kesalahan Presentasi (KP)



3. Kealahan Relatif (KR)
KR = X + Y
= X Y

= 43
Standar Indeks Kepadatan Lalat:
0 - 2 : Rendah / tidak bermasalah
3 - 5 :Sedang perlu pengamanan terhadap perkembangbiakan
6 - 0 :Padat / perlu pengamanan terhadap tempat perkembang biakan dan
pengendalian. Lalat dewasa.
20 :Sangat padat / harus ada pengamanan tempat perkembangbiakan dan
pengendalian terhadap lalat dewasa ..

VI. ANALISIS HASIL
Indeks kepadatan lalat yang didapat adalah 6 yang artinya keberadaan lalat di TPS
warteg Amelia tergolong padat dan perlu pengamanan terhadap tempat
perkembangbiakan dan pengendalian lalat dewasa.
Kepadatan lalat ditempat pembuangan sampah dekat Warteg Amelia tergolong tinggi
karena menggunakan umpan udang yg sudah busuk.
Jenis lalat yg ditemukan di TPS tersebut adalah lalat rumah dan lalat hijau karena
jenis sampah terdiri dari sampah organik.
Keberadaan warteg disekitar TPS menunjang tingginya jumlah lalat karena banyak
nya sampah organik yg dibuang oleh warteg tersebut.
Kepadatan lalat tinggi karena jumlah predator dekat TPS sedikit, diantaranya kucing
dan tawon.
Seharusnya kepadatan lalat bisa lebih rendah dari hasil yg ditemukan karena lokasi
TPS yg ramai kendaraan bermotor.
Pengangkutan sampah yg lama menyebabkan tumpukan sampah dan menimbulkan
bau tak sedap yg mengundang datangnya lalat.
Jenis sampah banyak terdiri dari sampah basah hasil buangan rumah tangga yg
merupakan tempat yg disukai oleh lalat rumah utk mencari makan sekaligus tempat
berkembang biak.
Sebenarnya keberadaan warteg disekitar TPS tidak baik karena dapat memicu
datangnya lalat.
Keberadaan warteg dekat TPS mengurangi nilai estetika dan tidak baik utk kesehatan.

VII. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yg dilakukan pada TPS Warteg Amelia, hasil yg didapatkan
adalah 65 ekor lalat hijau dan 38 ekor lalat rumah dengan menggunakan antrekten udang
busuk. Indeks kepadatan lalat yang didapat adalah 6 yang artinya keberadaan lalat di TPS
warteg Amelia tergolong padat dan perlu pengamanan terhadap tempat perkembangbiakan
dan pengendalian lalat dewasa.
Dengan menggunakan Fly Trap kita dapat mengetahui jumlah species dan kepadatan serta
frekuensi populasi lalat pada tempat sampah tersebut.

VIII. Saran
1. Sebaiknya TPS dekat warteg Amelia atau pusdiklat menggunakan tutup agar lalat
tidak mudah masuk kedalam TPS dan menimbulkan gangguan kesehatan
2. Sebaiknya tidak boleh ada warteg didekat TPS karena akan berbahaya bagi konsumen
dalam segi kesehatan dan estetika berupa bau yang tidak sedap.
3. Seharusnya pengangkutan sampah di TPS dekat warteg Amelia dilakukan secepat
mungkin untuk menghindari penumpukan sampah yang menjadi pemicu datangnya
lalat.
4. Sebaiknya dilakukan pemilahan sampah organic dan anorganik pada TPS tersebut
sehingga bahan organic dapat dijadikan kompos sehingga sampah organic akan
berkurang dan meminimalisir keberadaan lalat.