Anda di halaman 1dari 22

Farmasi UNSRAT

PENGGUNAAN OBAT PADA GERIATRI


KELOMPOK 2
Nama Anggota Kelompok :
Angela Erlitha Tanner (111015008)
Gebbie Prisiliya Lumentut (111015078)
Isnania (101015008)
Ni Putu Megasari (111015020)
Ni Wayan Elan Andriani (101015019)
Olnike Haluang (111015012)
Vini Alvionita Sarapi (111015013)
Yefta Sanni (111015049)


i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas rahmatNya penulis dapat menyelesaikan makalah mengenai Pengunaan obat
pada lanjut usia (Geriatri).
Makalah ini berisi tentang Pengunaan obat-obatan pada lanjut usia
(Geriatri), termasuk dalam makalah ini mengenasi Peresepan obat yang tidak
tepat, Tujuan terapi, Efek samping obat, Kepatuhan Pasien dan Daftar periksa
dalam Peresepan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut
serta membantu penyelesaian makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada dosen mata kuliah farmasi klinik yang telah memberikan tugas ini
untuk menunjang penilaian farmasi klinik.
Penulis juga menyadari dalam makalah ini terdapat banyak
kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan
makalah di waktu selanjutnya.
Penulis Berharap Semoga Makalah ini yang berjudul tentang
Pengunaan obat-obatan pada lanjut usia (Geriatri) dapat bermanfaat bagi Para
pembaca sekalian.


Manado, 26 November 2013

Penulis

ii


DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR................................................................................................................ i
DAFTAR ISI ........................................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 1
1.3 Tujuan ....................................................................................................................... 2
BAB II ISI .............................................................................................................................. 3
2.1 PERUBAHAN PENATALAKSANAAN OBAT .................................................................. 3
2.2 PERESEPAN YANG TIDAK TEPAT DAN POLIFARMASI ................................................ 9
2.3 TUJUAN TERAPI OBAT ............................................................................................. 10
2.4 EFEK SAMPING OBAT .............................................................................................. 13
2.5 KEPATUHAN PASIEN ................................................................................................ 15
2.6 DAFTAR PERIKSA DALAM PERESEPAN .................................................................... 17
BAB III PENUTUP ............................................................................................................... 18
3.1. KESIMPULAN ..................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 19

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penduduk dengan usia diatas 65tahun hanya merupakan sebagian kecil
dari populasi penduduk diindonesia yaitu 4,3% (ekonomis, 1998), tetapi
jumlahnya terus meningkat dan mereka merupakan pengguna obat yang paling
utama. Timbulnya penyakit yang menetap, seperti : artritis, penyakit
kardiovaskuler, Parkinson dan diabetes, akan meningkat dengan bertambahnya
usia. Penyakit penyakit tersebut biasanya ditanami dengan penggunaan terapi
obat . Oleh karena itu, pasien lanjut usia memerlukan lebih banyak obat, terutama
bagi mereka yang menderita bermacam-macam penyakit yang menetap.
Perubahan dalam penatalaksanaan obat sering kali terjadi akibat factor-faktor
farmakokinetik dan farmakodinamik yang terkait dengan bertambahnya usia.
Banyaknya obat yang diresepkan untuk pasien lanjut usia akan
menimbulkan masalah termasuk polifarmasi, peresepan yang tidak tepat, dan juga
kepatuhan .

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses farmakokinetik dan farmakodinamik obat pada lansia ?
2. Jelaskan mengenai peresepan obat dan polifarmasi pada lansia !
3. Sebutkan tujuan dan efek samping obat yang muncul pada populasi lanjut usia !
4. Bagaimana cara mendorong kepatuhan pasien lanjut usia ?

2

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengevaluasi
penggunaan obat pada lanjut usia.

































3

BAB II
ISI


2.1 PERUBAHAN PENATALAKSANAAN OBAT
Sejumlah perubahan akan terjadi dengan bertambahnya usia, termasuk
anatomi, fisiologi, psikologi juga sosiologi. Meskipun semua perubahan tersebut
berperan penting untuk pasien lanjut usia , makalah ini hanya menitik beratkan
pada perubahan perubahan yang memberikan efek secara langsung pada
penatalaksanaan obat.
Perubahan fisiologi yang terkait lanjut usia akan memberikan efek serius
pada banyak proses yang terlibat dalam pentalaksanaan obat. Efek pada saluran
pencernaan, hati dan ginjal dapat dilihat pada tabel berikut.
Perubahan fisiologi yang terkait usia pada saluran pencernaan, hati dan
ginjal:
1. Reduksi sekresi asam lambung
2. Penurunan motilitas gastroinstesinal
3. Reduksi luas permukaan total absorpsi
4. Reduksi aliran darah jaringan (splanchnic)
5. Reduksi ukuran hati
6. Reduksi aliran darah hati
7. Reduksi filtrasi glomerulus
8. Reduksi filtrasi tubuler ginjal

2.1.1 Farmakokinetik
Obat harus berada pada tempat kerjanya dengan konsentrasi yang tepat
untuk mencapai efek terapeutik yang diharapkan. Perubahan- perubahan
4

farmakokinetik pada pasien lanjut usia memiliki peranan penting dalam
bioavabilitas obat tersebut.
Absorbsi
Penundaan pengosongan lambung, reduksi sekresi asam lambung dan
aliran darah jaringan , semuanya secara teoritis berpengaruh pada absorbsi. Tetapi
pada kenyataannya, perubahan-perubahan yang terkait dengan usia ini tidak
berpengaruh secara bemakna terhadap bioavailabilitas total obat yang terabsorpsi.
Beberapa pengecualian termasuk digoksin maupun obat dan substansi lain
dengan mekanisme aktif yang absorpsinya berkurang, contoh adalah tiamin,
kalsium, besi dan beberapa jenis gula.
Distribusi
Faktor-n yang menentukan distribusi obat termasuk komposisi tubuh,
ikatan plasma protein danaliran darah organ. Semuanya akan mengalami
perubahan dengan bertambahnya usia, akibatnya konsentrasi obat akan berbeda
pada pasien lanjut usia jika dibandingkan dengan pasien yang lebih muda pada
pemberian dosis obat yang sama.
Komposisi tubuh
Total air dalam tubuh dan massa tubuh tanpa lemak mengalami penurunan
dengan bertambahnya usia sehingga menyebabkan penurunan volume distribusi
obat yang larut air. Akibatnya, konsentrasi obat tersebut dalam plasma akan
meningkat, sebagai contohnya adalah digoksin dan simetidin.
Sebaliknya, peningkatan total lemak dalam tubuh akan mengakibatkan
meningkatnya volume distribusi obat yang larut lemak. Selanjutnya, konsentrasi
obat dalam plasma akan turun, tetapi lama kerja obat akan diperpanjang,
contohnya golongan benzodii azepine seperti diazepam.

5

Ikatan plasma-ptotein
Jumlah albumin plasma berkurang dengan bertambahnya usia obat-obat
yang bersifat asam contoh (simetidin, furosemide, warfarin) berikatan dengan
protein tersebut, jadi konsentrasi obat tersebut dalam keadaan bebas akan
meningkat pada pasien lanjut usia. Jumlah asam 1 glikoprotein plasma (dimana
obat-obat basa seperti lidokain, terkait) tidak berubah atau meningkat sampai
jumlah yang tidak bermakna secara klinis.
Aliran darah organ
Perubahan aliran darah organ akan mengakibatkan penurunan perfusi pada
anggota gerak hati, mesenterium, otot jantung dan otak. Perfusi menurunkan
sampai dengan 45% pada pasien lanjut usia jika dibandingkan dengan usia 25
tahun. Bukti klinis tidak menunjukkan secara jelas tentang adanya perubahan
dalam distribusi obat, tetapi secara teoritis setidaknya penurunan kecepatan
distribusi ke jaringan harus diperhitungkan.
Eliminasi
Metabolisme hati dan ekskresi ginjal adalah mekanisme penting yang
terlibat dalam pemindaha obat dari tempat kerjanya. Efek dosis obat tunggal akan
diperpanjang dan kosnsentrasi si keadaan jenuhakan meningkat jika kedua proses
tersebut menurun.
Metabolisme hati
Setelah diabsorbsi obat-obat yang diberikan secara oral akan melewati
siklus portal ke hati. Substansi yang larut lemak akan termetabolisme secara
ekstensif disini sehingga mengakibatkan penurunan bioavailabilitas sistemik. Oleh
karena itu adanya penurunan metabolisme disini akan meningkatkan
bioavailabilitas sistemik obat. Pada pasien lanjut usia tampak adanya gangguan
metabolisme lintas pertama untuk beberapa macam obat termasuk klormetiazol
labetolol, nifedipin, nitrat, propranolol data n verapamil.
6

Terdapat reduksi sebanyak 35% mulai usia 30-90 tahun sehingga
menurunkan kapasitas metabolisme interinsik hati pada psien lanjut usia. Keadaan
tersebut bersama-sama dengan penurunan aliran darah hati menjadi penyebab
utama dalam peningkatan bioavailabilitas obat yang mengalami metabolisme
lintas pertama. Sebagai contohnya adalah efek hipotensif dari nifedipin yang
meningkat secara bermakna pada pasien lanjut usia.
Faktor utama lain yang berpengaruh pada metabolisme obat oleh hati
terkait denga perubahan enzimatis yang muncul denganbertambahnya usia.
Contohnya, kecepatan metabolisme system sitokrom P450 dengan menurunkan
sampai dengan 40% jika dibandingkan dengan dewasa muda. Pada obat-obat
dengan indeks terapeutik sempit, perubahan seperti ini dapat bermaka secara
klinik.
Eliminasi ginjal
Penurunan aliran darah ginjal, ukuran organ, filtrasi glomerular dan fungsi
tubuler, semuanya merupakan perubahan yang terjadi dengan tingkta yang
berbeda pada lanjut usia. Kecepatn filtrasi glomerular menurunkan sekitar 1% per
tahun mulai dari usia 40 tahun. Perubahan tersebut mengakibatkan beberapa obat
dieliminasi lebih lambat pada usia, sperti pengaruhnya pada fungsi ginjal.
Pada prakteknya, fungsi ginjal sangat bervariasi pada usia lanjut. Oleh
karena itu, dosis obat-obatan yang diekskresi oleh primer secara ginjal harus
disesuaikan untuk masing-masing individu. Obat-obatan dengan indeks terpeutik
sempit harus diberikan dengan pengurangan dosis, contohnya adalah digiksin dan
aminoglikosida dan pengurangan dosis sebanyak 50% sebagai dosis awal yang
dianjurkan pada banyak kasus. Penyesuaian dosis dapat tidak diperlukan untuk
obat dengan indeks terpeutik yang luas contohnya penislin.




7

2.1.2. Farmakodinamik
Perubahan-perubahan farmakodinamik pasien lanjut usia dapat merubah
respons terhadap obat. Penurunan dalam kemampuan menjaga keseimbangan
homeostatik, perubahan-perubahan pada reseptor-reseptor spesifik dan tempat
sasaran akan dipertimbangkan disini.
Penurunan kemampuan dalam menjaga keseimbangan homeostatic
Kemampuan pengaturan yang memadai dan tepat mengenai keadaan
fisiologi tubuh sangat diperlukan dalam homeostatik. Endokrin, transmisi
neuromuskuler dan respons organ, semuanya akan menurun dengan bertambahnya
usia, yang berakibat pada ketidakmampuan untuk menjaga keseimbangan
homeostatic. System yang biasa mengalami gangguan termasuk:
Pegaturan temperature
Hipotermia yang tidak diharapkan dapat terjadi pada pasien lanjut usia
yang mendapat beberapa macam obat. Yang terlibat adalah obat-obatan yang
menyebabkan sedasi, gangguan kepekaan subjektif terhadap temperature,
penurunan mobilitas maupun aktivitas otot dan vasodilatasi. Obat-obat yang
dimaksudkan disini termasuk benzodiazepine, opioid, alcohol, dan antidepresan
trisiklik.
Fungsi usus dan kandung kemih
Konstipasi sering muncul pada lanjut usia sebagai akibat penurunan
motilitas gastrointestinal. Obat-obat antikolinergik, opiate, antihistamin, dan
antidepresan trisiklik dapat memperburuk masalah tersebut. Obat-obat
antikolonergik juga dapat mengakibatkan retensi urin pada pria lanjut usia,
terutama yang dengan hipertrofi prostat. Ketidakstabilan kandung kemih juga
sering terjadi, terutama pada wanita lanjut usia dengan disfungsi uretra. Diuretika
kuat (loop diuretics) dapat mengakibatkan tercirit (incontinence) pada pasien-
pasien tersebut.

8

Pengaturan tekanan darah
Pada pasien lanjut usia terdapat penumpulan reflex takikardia yang normal
terlihat pada pasien dewasa muda ketika berdiri. Oleh karena itu, hipotensi
postural merupakan masalah yang sering terjadi pada lanjut usia. Hal ini
mengakibatkan obat-obat dengan efek antihipertensi cenderung memperparah
masalah ini.
Keseimbangan cairan/elektrolit
Pada lanjut usia terjadi penurunan kemampuan untuk mengekskresikan
kelebihan air. Obat-obat yang dapat mengakibatkan retensi cairan, seperti
kortikosteroid dan anti inflamasi non steroid (AINS), dapat menyebabkan masalah
bagi pasien lanjut usia.
Fungsi kognitif
System saraf pusat mengalami sejumlah perubahan struktur dan kimiawi
saraf dengan bertambahnya usia. Aktivitas enzim kholin asetiltransferase menurun
pada lanjut usia dan hal ini mengindikasikan penurunan transmisi kolinergik.
Transmisi ini sangat berkaitan dengan fungsi kognitif normal. Obat-obat seperti
antikolonergik, hipnotik, dan penghambat adrenoseptor beta dapat memperburuk
efek tersebut sehingga menimbulkan kebingungan pada pasien lanjut usia.

Perubahan pada reseptor-reseptor spesifik dan tempat sasaran
Sebagian besar obat akan memberikan efek setelah berikatan dengan
reseptor yang spesifik. Perubahan densitas reseptor atau afinitas molekul obat
pada reseptor akan merubah responsnya terhadap obat. Gangguan aktivasi enzim
atau perubahan respons jaringan sasaran itu sendiri juga dapat menyebabkan
perubahan respons terhadap obat.


9

Adrenoseptor alfa
Responsivitas adrenoseptor alfa-1 tidak mengalami perubahan pada lanjut
usia, sebaliknya terjadi penurunan responsivitas pada adrenoseptor alfa-2.
Adrenoseptor beta
Fungsi adrenoseptor beta menurun dengan bertambahnya usia. Oleh
karena itu, terapi beta bloker pada lanjut usia dapat menjadi kurang efektif,
kemungkinan akibatnya adalah penurunan efek efek antihipertensi. Ada juga
beberapa bukti yang mengarah pada penurunan densitas adrenoseptor beta.
Benzodiazepin
Pasien lanjut usia lebih sensitive terhadap efek sedasi obat golongan
benzodiazepine jika dibandingkan dengan pasien yang lebih muda. Penelitian
yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan jumlah atau
afinitas tempat ikatan benzodiazepine. Mekanisme efek ini tidaklah diketahui.

2.2 PERESEPAN YANG TIDAK TEPAT DAN POLIFARMASI
Diperkirakan bahwa setidaknya 25% obat yang diresepkan untuk pasien
lanjut usia tidak efektif atau tidak diperlukan. Seringkali dijumpai obat sekunder
yang kemungkinan diresepkan untuk mengatasi efek samping obat lain.
Contohnya, peresepan L-dopa untuk mengatasi tremor pada pemberian obat-
obatan yang mengiduksi tremor, atau fenotiazin untuk mengatasi pusing yang
disebabkan hipotensi postural akibat penggunaan obat lain.





10

Tabel (Krska J, 2000) masalah-masalah yang sering kali dijumpai pada evaluasi
pengobatan pasien lanjut usia
Ketidaksesuaian dalam jumlah yang diresepkan
Item yang sebenarnya sudah tidak diperlukan
Petunjuk yang tidak memuaskan
Frekuensi , interval atau kekuatan dosis yang tidak tepat
Duplikasi dalam terapi
Interaksi obat

Polifarmasi merupakan problem utama dalam kelompok pasien ini .
semakin banyak jumlah obat yang diterima pasien maka semakin besar pula risiko
efek samping obat , interaksi obat-obat dan interaksi obat-penyakit. Resiko
rendahnya tingkat kepatuhan pasien juga meningkat.

2.3 TUJUAN TERAPI OBAT
Telah dibahas sebelumnya bahwa pengetahuan yang menyeluruh tentang
perubahan-perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik pada lanjut usia sangat
penting dalam upaya memberikan pelayanan kefarmasian yang terbaik.
Disamping itu, ada beberapa hal lain yang perlu dibahas dalam rangka
optimalisasi terapi obat pada pasien lanjut usia.
Tabel Daftar obat yang dapat menimbulkan masalah pada pasien lanjut usia.
Kelompok Obat Alasan meningkatnya risiko bermasalah
Antidepresan trisiklik Menyebabkan gangguan kognitif
Peningkatan distribusi ke jaringan adipose
Reduksi metabolisme
Antipsikotik Menyebabkan gangguan kognitif
Reduksi metabolisme
Opioid Menyebabkan gangguan kognitif
11

Digoksin Reduksi ekskresi
Penghambat ACE Reduksi ekskresi
Warfarin Peningkatan sensitivitas
Levodopa Reduksi sensitivitas
Benzidiazepin aksi panjang
(Long-acting benzodiazepines)
Reduksi metabolisme
AINS Peningkatan toksisitas terhadap lambung
Sulfonilurea aksi panjang
(Long-acting sulphonylureas)
Reduksi eliminasi
Beta boker Reduksi khasiat
Reduksi ekskresi ginjal
Kortikosteroid Gangguan kognitif
Peningkatan toksisitas terhadap lambung
Antimuskarinik Peningkatan sensitivitas
Beberapa Sefalosporin Reduksi ekskresi ginjal
Diuretika Tiazid Tidak efektif pada gangguan ginjal

Hindari terapi obat yang tidak diperlukan
Apakah penambahan obat lain benar-benar diperlukan? Pertanyaan ini
harus ditanyakan setiap kali ada obat baru yang hendak diberikan pada pasien
lanjut usia.
Perlu dicermati adanya kemungkinan alternatif terapi tanpa penggunaan
obat. Sebagai contoh, pada hipertensi ringan mungkin dapat diberikan petunjuk
tentang pola hidup sehat terlebih dahulu, misalnya berhenti merokok. Petunjuk
diet juga dapat menjadi alternatif. Hal ini terutama berguna bagi pasien dengan
hiperlipidemia yang ringan. Pada kasus-kasus yang lain, pemberian obat-obatan
tidak diperlukan sama sekali, salah satu contoh yang baik adalah peresepan obat-
obat hipnotik. Pasien lanjut usia seringkali mengharapkan tidur melebihi
kebutuhannya. Hal ini dapat mendorong mereka untuk mencari teraapi hipnotik
yang tidak tepat. Dalam usaha meningkatkan kualitas tidur, sebenarnya ada
12

beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan, termasuk buang air kecil sebelum
tidur atau optimalisasi keadaan dalam ruang tidur.

Kualitas Hidup
Sangatlah mudah untuk melihat tujuan pemberian obat pada pasien lanjut
usia, yaitu unttuk memperpanjang masa harapan hidup. Walaupun demikian,
tanggung jawab untuk memperbaiki kualitas hidup pasien tetap ada. Sebagai
contohnya, seorang wanita lanjut usia dengan osteoporosis dipinggulnya, akan
paling baik diatasi dengan operasi pinggul daripada terapi jangka panjang dengan
obat AINS (Anti Inflamasi Non-Steroid) dan resiko efek sampingnya.

Mengobati penyebab bukan sekedar gejala
Ketika seorang pasien lanjut usia menunjukkan suatu gejala, sangatlah
penting mencari penyebabnya. Merupakan tindakan yang tidak tepat jika hanya
mengobati gejalanya yang malah mungkin menutupi masalah sebenarnya yang
lebih serius. Seorang pasien dapat menunjukkan gejala gangguan pencernaan
tetapi ternyata menderita tukak lambung. Mengobati pasien ini dengan antasid
jelas tidak tepat dan potensial menimbulkan bahaya karena penyakit yang lebih
serius tidak diobati. Oleh karena itu, penyebab dari gejala tersebut harus diketahui
terlebih dahulu, kemudian pengobatan diberikan secara tepat.

Riwayat Pengobatan
Mengetahui riwayat pengobatan pasien, akan sangat membantu dalam
seleksi obat. Dari sini dapat diketahui jika pasien mengalami alergi atau toleransi
terhadap obat tertentu pada masa lalu. Disamping itu, efek samping obat dan
interaksi obat yang potensial terjadi juga lebih mudah untuk dihindari.

Titrasi dosis
Perubahan-perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik pada lanjut
usia biasanya menjadi sebab mengapa dosis yang lebih rendah diperlukan untuk
memperoleh efek terapeutik yang dikehendaki. Pada sebagian besar kasus
13

merupakan hal yang rasional untuk memulai terapi dengan dosis serendah
mungkin, kemudian jika diperlukan dapat ditingkatkan secara bertahap dosis atau
frekuensi pemberiannya.

Penyakit medis yang bersamaan
Pasien lanjut usia seringkali menderita lebih dari satu kondisi medis. Hal
ini dapat mengakibatkan kontra-indikasi atau perlunya perhatian khusus terhadap
obat-obat tertentu. Gangguan fungsi ginjal dan disfungsi hati merupakan kondisi-
kondisi yang sering muncul pada pasien lanjut usia, sehingga diperlukan perhatian
khusus dalam pemilihan terapi obat.

Pemilihan obat dan bentuk sediaan yang tepat
Jika tealah diputuskan untuk melakukan terapi obat, selanjutnya sangatlah
penting untuk memastikan bahwa obat yang terpilih adalah obat yang paling tepat.
Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah efek samping yang mungkin terjadi
dan kondisi medis pasien pada saat itu. Juga termasuk pertimbangan bentuk
sediaan yang akan digunakan. Pasien lanjut usia seringkali lebih tepat untuk
mendapat sirup, suspensi atau tablet terlarut. Untuk menelan tablet stau kapsul
yang besar, seringkali menimbulkan kesulitan atau kecemasan tersendiri yang
nantinya dapat mengurangi tingkat kepatuhan.

2.4 EFEK SAMPING OBAT
Telah terbukti dengan jelas bahwa efek samping obat muncul dengan
frekuensi yang lebih tinggi pada populasi lanjut usia. Sejumlah penelitian yang
mempelajari kecenderungan ini, pada akhirnya membuat beberapa kesimpulan
yang menarik :
Pasien lanjut usia tiga kali lebih besar kemungkinannya untuk masuk ke
rumah sakit karena efek samping obat.
Laporan tentang efek samping obat yang serius pada pasien lanjut usia
ditemukan dua kali lebih sering daripada mereka yang masih di bawah usia
40 tahun.
14

Efek samping obat juga telah terbukti sebagai alasan bermakna untuk
masuk rumah sakit, dan menjadi satu-satunya alasan bagi 2,8% pasien usia
lanjut untuk masuk rumah sakit. Efek samping obat juga menjadi faktor
pada 7,7% berikutnya untuk masuk rumah sakit.
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan pasien lanjut usia cenderung
mengalami efek samping obat. Polifarmasi, penggunaan bermacam-macam terapi
obat, sering terjadi pada pasien lanjut usia dan memberikan pengaruh yang besar
pada insiden efek samping obat. Bagaimanapun juga ada faktor-faktor lain yang
turut terlibat, misalnya keadaan patologi yang bermacam-macam, penatalaksanaan
obat yang berubah dan peresepan yang tidak tepat. Perubahan dalam
penatalaksanaan obat dan mekanisme homeostatic akan meningkatkan sensitivitas
pasien lanjut usia terhadap efek terapi obat yang mereka peroleh. Oleh karena itu,
pada pasien lanjut usia proporsi efek samping yang tergantung dosis sangat tinggi.
Ditemukan bahwa dua pertiga efek samping obat pada pasien lanjut usia
disebabkan oleh dua kelompok obat yaitu obat-obat kardiovaskuler dan obat-obat
yang bekerja di Sistem saraf pusat. Oleh karena itu perlu diberikan perhatian
khusus penggunaan obat-obat seperti : digoksin, diuretic, anti-hipertensi, hipnotik,
antipsikotik dan depresan.
Walaupun telah diketahui bahwa efek samping obat lebih sering terjadi
pada populasi anjut usia, namun ada beberapa faktor yang mempersulit
deteksinya. Pasien lanjut usia seringkali menderita beberapa penyakit bersamaan
sehingga lebih sulit untuk mengorelasikan gejala yang tampak dengan penyebab
yang spesifik. Masalah yang sama juga muncul pada pasien yang mendapat
bermacam-macam terapi obat. Hal ini yang membuat pendeteksian penyebabnya
menjadi lebih sulit. Lagipula, harapan ynag rendah akan kesehatan yang baik
seringkali menyebabkan efek samping obat yang tidak dilaporkan oleh pasien
ataupun tenaga kesehatan profesional.

15

2.5 KEPATUHAN PASIEN
Meskipun telah dibuat rencana pelayanan farmasian yang baik dan
peresepan paling tepat, tetapi jika pasien tidak patuh terhadap pengobatan maka
hasil terapi yang optimal tidak akan tercapai. Sebagian besar pasien lanjut usia
mengalami penurunan kemampuan kognitif dan kemungkinan untuk mendapat
bermacam-macam pengobatan dengan aturan dosis yang rumit. Hal ini
mengakibatkan persoalan kepatuhan yang rendah sehingga menjadi kemungkinan
penyebab kegagalan pengobatan dan memperpanjang waktu pengobatan.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab ketidak patuhan pasien lanjut usia
yaitu:
1. Tidak memahami tujuan pengobatan
2. Hanya memperoleh sedikit atau tidak memperoleh manfaat dari terapi
pengobatan sebelumnya
3. Kemungkinan efek samping tidak jelas dan sangat menggangu bagi pasien.
4. Aturan dosis yang rumit
5. Ketika melakukan pengobatan sendiri tidak memahami instruksi dosis, hal ini
dapat disebabkan kesulitan dalam membaca bahasa atau mendengar.
Ketidakmampuan dalan membuka kemasan juga menjadi masalah bagi pasien
yang mengalami penurunan ketangkasan misalnya penderita artritis.
Faktor ketidakpatuhan tidak hanya mempengaruhi proses pengobatan pada
pasien tetapi juga pengaruh secara finansial. Farmasi dapat memegang peranan
penting disini, yaitu dengan memberikan informasi yang benar kepada pasien
sering kali melalui orang yang merawatnya untuk mendorong kepatuhan yang
benar pula.
Motifasi Pasien
Farmasi harus menunjukan ketertarikan yang nyata terhadap kesehatan
pasien.
16

Dalam hal ini nantinya akan melibatkan atmosfer empati, pengertian
tentang problem-problem yang dihadapi pasien dan memperbolehkan pasien
untuk ikut ambil bagian dalam mengambil keputusan tentng pengobatannya.
Informasi tentang Obat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembekalan beberapa informasi
tertentu kepada pasien akan membantu meningkatkan kepatuhan : Nama obat,
Untuk apa, Mengapa diberikan, Bagaimana dan kapan hatus diberikan, apa
efeknya, Efek samping apa yang dapat terjadi dan apa yang harus dilakukan jika
ada dosis yang terlewatkan.

Informasi secara lisan dari Farmasis akan memperkuat informasi yang
telah ada secara tertulis. Jawaban yang diberikan farmasis untuk pertanyaan
pasien harus ringkas dan jelas sehingga lebih mudah untuk mengingatnya.

Aturan Pemberian Obat
Aturan pemberian Obat yang sederhana akan berakibat pada kepatuhan
yang lebih baik sebagai contoh adalah modifikasi aturan pakain Fenitoin dari satu
tablet 3 x sehari menjadi 3 tablet pada malam hari. Hal ini tidak akan mengurangi
jumlah frekuensi pemberian, tetapi juga akn mengurangi kemungkinan terjadinya
efek sedative sepanjang hari.

Saranan untuk kepatuhan (`compliance aids`)
Catatan harian peresepan(`prescription diaries`)
Sistem dosis yang terpantau (`monitored dosage systems`)
Peralatan audio, alarm
Penandaan warna pada wadah
Konseling oleh farmasis
Mengubah rute pemberian obat
Evaluasi aturan dosis
Alat bantu mekanik, contohnya: haleraid, autodrop

17

2.6 DAFTAR PERIKSA DALAM PERESEPAN
Bab ini menitikberatkan pada sejumlah persoalan yang perlu dipehatikan
dalam pemantauan peresepan untuk pasien lanjut usia. Suatu pendekatan yang
menyeluruh terhadap proses pemantauan peresepan pada kelompok pasien ini
hanya dapat meningkatkan layanan kefarmasian mereka. Dibawah ini adalah
contoh daftar yang dapat digunakan dalam praktek :
Pastikan bahwa peresepan sudah tepat
Hindarkan polifarmasi
Perimbangkan penanganan obat yang berubah
Pemeriksaan kepatuhan
Pencatatan dan pelaporan efek samping obat
Evaluasi peresepan secara teratur
Apakah tujuan terapi obat sedang dicapai ?

















18

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Sebagai akibat dari meningkatnya populasi lanjut usia secara terus
menerus, maka kebutuhan khusus kelompok pasien ini akan terapi obat perlu
diperhatikan. Farmasis harus memahami perubahan-perubahan terkait usia yang
memiliki efek bermakna terhadap hasil terapi obat, seperti perubahan-perubahan
farmakokinetik dan farmakodinamik. Evaluasi pengobatan, bersama-sama dengan
pencegahan polifarmasi yang tidak perlu terjadi, sangatlah penting untuk
meningkatkan layanan kefarmasian pada pasien lanjut usia.














19

DAFTAR PUSTAKA


Aslam, Mohamed, dkk. 2003. Farmasi Klinis. Elex Media Komputindo : Jakarta.
Corlett AJ 1996.Aids to compliance with medication. BMJ 313 : 962-929.
Hall F, Bruce J 2001 .Lecture notes on drug use in the elderly. Sheffield, Northern
General Hospital NHS Trust & Surabaya, PIOLK, Univrsitas
Surabaya.
Hudson SA, Boyter AC 1997.Pharmaceutical care of the elderly. Pharm J 259:
686-700.
Krska J,Jamieson D 2000.Medication review in older people. Pharmacy Magazine
Continuing professional development programme module 55.
Macphee G, Brodie M 1998.Drugs in the elderlt. Med intern 4258-4263.
Pharmacy update 2000.Age old problems. Chemist and Druggist 1108.
Pharmacy update 2000.Old habits. Chemist and Druggist 1109.
Sheehan O, Feely J 1999.Prescribing considerations in elderly patients.
Prescriber 75-83.
Walker R, Edwards C 1999.Clinical Pharmacy and therapeutics,2
nd
edn.
Edinburgh, Churchill Livingstone pp 119-131.
Winfield AJ, Richard RME 1998.pharmaceutical practice, 2
nd
edn. Edinburgh,
Churchill Livingstone pp 448-450.