Anda di halaman 1dari 19

BIOAVAILABILITAS

UJI BIOAVAILABILITAS DAN UJI IN-VITRO


Untuk menjamin ekivalensi terapeutik dan klinik dari suatu produk obat dalam
berbagai batch produksi, secara ideal penting untuk mengukur secara tepat efek klinik
dan potensi dari sampel yang representatif dari masing-masing batch produk obat
tersebut. Walaupun demikian, pada prakteknya hal tersebut tidak mungkin dilakukan
karena adanya pertimbangan praktis dan aspeketis seperti :
1) Uji klinik memerlukan populasi penderita yang ekstensif dengan jenis dan
keparahanpenyakit yang seragam
2) Uji klinik pelaksanaannya kompleks dan mahal
3) Teknik pengukuran yang obyektif sulit ditemukan dan seringkali tidak sensitif terhadap
berbagai kondisi penyakit.
Cara pendekatan yang terbaik untuk memperkirakan efek klinik suatu obat
adalah dengan pengukuran kadar obat dalam darah, karena ada hubungan yang erat
antara kadar obat dalam darah dengan efek klinik obat tersebut. Tetapi dalam hal ini
juga ditemukan beberapa kelemahan seperti :
1) Uji kadar obat dalam darah biayanya mahal, memerlukan peralatan analitis yang
canggih, tenaga ahli yang terampil, dan sejumlah sukarelawan sehat. Dengan demikian
kelayakan untuk melakukan uji bioavailabilitas dari setiap batch produk obat patut
dipertanyakan.
2) Konsep bioavailabilitas berpijak pada asumsi bahwa parameter biologis suatu obat
(kadar obat dalam darah dan jarringan, ekskresi obat dalam urin atau pengukuran
produk metabolit) secara langsung berkaitan dengan efek klinik obat. Sementara
asumsi ini mungkin saja absah, tetapi sulit untuk memperkirakan ketepatan korelasinya.
Misalnya, jika dua produk menunjukkan perbedaan bioavailabilitas sebesar 20%,
apakah perbedaan ini secara klinik bermakna Sementara saat ini tidak mungkin untuk
melakukan uji kadar obat dalam darah untuk setiap batch produk obat, industry obat
dapat menggunakan uji bioavailabilitas untuk menentukan bahwa produk obatnya
dengan formulasi dan proses produksi yang spesifik akan memberikan efek klinik yang
sebanding dengan produk obat sejenis yang diproduksi industry obat lain
(produk originator atau produk inovator), yang pada uji kliniknya memberikan hasil yang
baik. Sebagai salah satu alternatif untuk melakukan uji bioavailabilitas pada
setiap batch produk obat, uji in vitro telah dikembangkan sebagai indikator
bioavailabilitas, atau untuk menetapkan bahwa batch produk obat selanjutnya akan
menunjukkan bioavailabilitas dan efek klinik yang sebanding dengan batch sebelumnya
yang telah ditetapkan uji kadar obat dalam darah dan uji kliniknya.
Uji laju disolusi dan uji difraksi sinar X merupakan 2 contoh prosedur laboratoris
yang dapat merefleksikan perilaku obat in-vivo. Uji ini telah dimasukkan dalam USP dan
NF dan telah diterapkan pada sejumlah obat. Uji laju disolusi mengukur laju disolusi
sejumlah obat dalam medium tertentu dan pada kondisi tertentu. Uji difraksi sinar X
melengkapi beberapa indikasi dari laju dan jumlah obat yang melarut, dengan demikian
akan bermanfaat dalam memperkirakan absorpsi obat. Sementara kedua uji ini bukan
merupakan uji bioavailabilitas yang sebenarnya, maka kedua uji ini hanya merupakan
indikator yang dapat digunakan untuk memperkirakan bioavailabilitas obat. Suatu
industri obat yang mempunyai data klinik atau informasi yang menunjukkan bahwa
produk obatnya secara klinik efektif, dan bila data ini dikorelasikan dengan uji in vitro
dengan tepat, dan bila formulasi serta prosedur produksi tidak berubah, maka
konsistensi dari batch ke batch dapat dijamin dengan melakukan uji laju disolusi, uji
difraksi sinar X atau uji in vitro lainnya yang relevan.
PENGERTIAN BIOAVALABILITAS
Konsep bioavailabilitas pertama kali diperkenalkan oleh Osser pada tahun
1945, yaitu pada waktu Osser mempelajari absorpsi relatif sediaan vitamin. Istilah yang
dipakai pertama kali adalah availabilitas fisiologik, yang kemudian diperluas
pengertiannya dengan istilah bioavailabilitas. Dimulai di negara Amerika Serikat,
barulah pada tahun 1960 istilah bioavailabilitas masuk ke dalam arena promosi obat.
Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya produk obat yang sama yang diproduksi
oleh berbagai industri obat, adanya keluhan dari pasien dan dokter di man obat yang
sama memberikan efek terapeutik yang berbeda, kemudian dengan adanya ketentuan
tidak diperbolehkannya Apotek mengganti obat yang tertulis dalam resep dengan obat
merek lainnya. Sebagai cabang ilmu yang relatif baru, ditemukan berbagai definisi
tentang bioavailabilitas dalam berbagai literatur. Bagian yang esensial dalam konsep
bioavailabilitas adalah absorpsi obat ke dalam sirkulasi sistemik. Ada 2 unsur penting
dalam absorpsi obat yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
1) kecepatan absorpsi obat
2) jumlah obat yang diabsorpsi
Ke dua faktor ini sangat kritis dalam memperoleh efek terapeutik yang
diinginkan dengan toksisitas yang minimal. Atas dasar kedua faktor ini dapat
diperkirakan bagaimana seharusnya definisi tentang bioavailabilitas. Dua definisi berikut
ini merupakan definisi yang relative lebih sesuai dengan kedua faktor di atas adalah:
Definisi 1: Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan
jumlah obat tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh, dan masuk ke dalam
sirkulasi sistemik.
Definisi 2 : Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan
jumlah obat tersebut yang diabsorpsi
TUJUAN PENETAPAN BIOAVAILABILITAS
Dengan mengetahui jumlah relatif obat yang diabsorpsi dan kecepatan obat berada
dalam sirkulasi sistemik, dapat diperkirakan tercapai tidaknya efek terapi yang
dikehendaki menurut formulasinya. Dengan demikian, bioavailabilitas dapat digunakan
untuk mengetahui faktor formulasi yang dapat mempengaruhi efektivitas obat.
Beberapa manfaat studi bioavailabilitas yang berkaitan dengan mutu produk obat yaitu :
1) bagi apoteker dalam bidang penelitian kefarmasian, bioavailabilitas merupakan uji yang
penting dalam penelitian peningkatan mutu obat
2) bagi dokter dan apoteker di apotek, bioavailabilitas merupakan pertimbangan kritis yang
digunakan untuk pemilihan obat yang bermutu baik
JENIS PENELITIAN BIOAVAILABILITAS OBAT
Penelitian bioavailabilitas obat dapat merupakan :
1) Penelitian bioavailabilitas absolut, yaitu membandingkan bioavailabilitas suatu bentuk
sediaan obat per oral dengan pemberian secara intravena.
2) Penelitian bioavailabilitas relatif, yaitu membandingkan secara relatif bioavailabilitas
suatu bentuk sediaan obat per oral dengan bentuk sediaan obat sejenis lainnya.
Sebagai produk standar dapat digunakan :
1) produk larutan oral
2) produk inovator/originator, yaitu produk yang dibuat oleh pabrik penemunya, yang
dianggap mempunyai bioavailabilitas terbaik yang sudah teruji secara klinik dengan
hasil terapi yang baik (biasanya ditentukan oleh lembaga resmi, misalnya FDA).
Penelitian bioavailabilitas relatif dapat diterapkan untuk :
1) memilih satu dari alternatif dua atau lebih bentuk sediaan yang sama dengan formulasi
yang berbeda yang akan diproduksi oleh suatu pabrik, sehingga diketahui pengaruh
komponen formulasi terhadap bioavailabilitas.
2) memilih bentuk sediaan yang mempunyai bioavailabilitas terbaik dari beberapa alternatif
bentuk sediaan yang akan dikembangkan.
3) mengontrol variabilitas yang mungkin terjadi antar batch dari bentuk sediaan yang sama
dari batch yang berlainan.
4) membandingkan secara komparatif produk pabrik mana yang mempunyai
bioavailabilitas terbaik.
PELAKSANAAN PENELITIAN BIOAVAILABILITAS OBAT :
Penelitian bioavailabilitas obat memerukan fasilitas laboratorium
analisis/bioanalitik yang canggih dengan tenaga ahli yang profesional dan harus
memenuhi persyaratan tertentu. Untuk beberapa macam obat, persyaratan
pelaksanaannya telah dikeluarkan oleh American Pharmaceutical Association dalam
bukunya The Bioavailability of Drug Products. Protokol penelitian bioavailabilitas obat
hendaknya memuat tujuan percobaan, latar belakang obat yang hendak diteliti, bahan
obat, pemilihan sukarelawan, disain penelitian, penanganan sampel, metoda analisis
kadar obat dalam darah, dan hal-hal lain. Secara garis besar pelaksanaan suatu
penelitian bioavailabilitas obat dilakukan sebagai berikut :
1) Pemilihan sukarelawan yang mencakup pemeriksaan kesehatan,
penandatanganan informed consent.
2) Periode puasa dari minum obat apapun (1 minggu)
3) Puasa 1 malam sebelum pemberian obat
4) Pemberian obat
5) Pengambilan sampel material hayati (darah dan/atau urin) pada interval waktu tertentu.
OBAT-OBAT YANG PERLU DITELITI BIOAVAILABILITASNYA
1) Obat-obat yang batas keamanannya sempit
2) Obat-obat yang absorpsinya berfluktuasi
3) Obat-obat yang variasi individunya besar dalam kadar plasma pada dosis biasa
4) Diperlukan untuk mempertahankan MEC/MIC obat dalam cairan hayati selama terapi
5) Obat-obat baru
http://nenifriska.blogspot.com/2013/04/bioavailabilitas.html















KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena
berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat penulis selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam
makalah ini penulis membahas Bioavailabilitas dan Bioekivalensi, yang meliputi penjelasan-
penjelasan, rumus-rumus, bahkan perbedaan dari keduanya.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang bioavailabilitas dan
bioekivalensi, dimana dalam makalah ini saya mengambil sumber dari beberapa buku yang
berkaitan dengan itu. Selain itu, makalah ini juga dibuat untuk memenuhi penugasan makalah
dari mata kuliah Biofarmasetika di jurusan Farmasi, fakultas Farmasi, Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Selanjutnya, penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Anita
Sukmawati, Ph.D, Apt., selaku dosen Biofarmasetika dan kepada segenap pihak yang telah
memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini
Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam
penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari
para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Surakarta, 15 Oktober 2013
Penulis





BAB I
PENDAHULUAN



1.1. LATAR BELAKANG
Bioavailabilitas adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan jumlah obat dalam persen
terhadap dosis yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk aktif/utuh. Sedangkan
bioekivalensi atau kesetaraan biologis dapat diartikan sebagai kesetaraan kadar atau jumlah obat
bentuk aktif dalam darah dan jaringan antara satu sediaan obat dengan sediaan obat lain yang
memiliki zat berkhasiat sama. Dua sediaan obat berekuivalensi kimia tetapi tidak berekuivalensi
biologik dikatakan bio in ekuivalensi. Perbedaan bioavailabilitas sampai dengan 10% umumnya
tidak menimbulkan perbedaan yang berarti dalam efek kliniknya artinya memperlihatkan
ekuivalensi (BE) dengan obat inovatornya (obat pendahulu, dan dijadikan referensi untuk
sediaan-sediaan obat yang diproduksi berikutnya oleh perusahaan farmasi lain) dapat diklaim
sebagai obat yang memiliki kualitas setara dengan obat innovator.
Kenapa bioekivalensi obat ini sangat penting? Apabila obat orisinil dan obat generic
diberikan ke pasien dalam bentuk zat berkhasiat murni tanpa bahan tambahan lain, bioekivalensi
tidak akan menjadi masalah karena dapat dipastikan kedua obat tersebut akan memberikan efek
yang sama. Dalam prakteknya tidaklah seperti itu, karena obat tidak hanya terdiri dari zat
berkhasiat saja, melainkan dicampur dengan bahan-bahan lain. Di samping perbedaan terhadap
zat tambahan, perbedaan dalam proses pembuatan juga akan mempengaruhi suatu obat. Maka
mungkin kita pernah mendengar atau mengalami ada dokter yang hanya mau memakai obat
merek tertentu yang mungkin salah satu alasannya masalah keyakinan ini.


1.2. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah bioavailabilitas dan bioekuivalensi itu?
2. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam uji bioavailabilitas dan bioekuivalensi?

1.3. TUJUAN
1. Mengetahui penjelasan dari bioavailabilitas dan bioekuivalensi
2. Mengetahui hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam uji bioavailabilitas dan
bioekuivalensi.


BAB II
PEMBAHASAN



2.1. Bioavailabilitas dan Bioekivalensi
Bioavailabilitas (BA)
Bioavailability (BA) adalah presentase obat yang diabsorbsi tubuh dari suatu dosis yang
diberikan dan tersedia, untuk melakukan efek terapeutisnya. Di beberapa Negara (AS, Jerman),
BA mencakup pula kecepatan dengan mana obat muncul si sirkulasi darah. Biasanya, efek obat
baru mulai nampak sesudah obat melalui sistem pembuluh porta serta hati dan kemudian tiba di
peredaran darah besar yang mendistribusikannya ke seluruh jaringan.
BA dapat diukur in vivo (pada kedaan sesungguhnya pasien) dengan menentukan kadar
plasma obat sesudah tercapai steady state. Pada keadaan ini terjadi keseimbangan antara kadar
obat di semua jaringan tubuh dan kadar darah yang praktis konstan, karena jumlah zat yang
diserap dan yang dieliminasi adalah sama. Antara kadar plasma dan efek terapeutis pada
umumnya terdapat suatu korelasi yang baik. Pengecualian adalah pada misalnya obat hipertensi
yang masih berefek walaupun kadarnya dalam plasma sudah tidak data diukur lagi.
Bioavailabilitas : suatu istilah yang menyatakan jumlah/proporsi (extent) obat yang
diabsorbsi dan kecepatan (rate) yang diabsorbsi itu terjadi. Extent biasanya dinyatakan dalam F.
hal ini biasanya diukur dari perkembangan kadar obat (zat aktif) atau metabolit aktifnya dalam
darah dan eksresinya dalam urin terhadap waktu.


Bioavailabilitas terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Bioavailabilitas absolut : bioavailabilitas zat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik dari
suatu sediaan obat dibandingkan dengan bioavailabilitas zat aktif tersebut dengan pemberian
intra vena.

Bioavailabilitas suatu produk obat dibandingkan dengan bioavailabilitas secara intravena.
2. Bioavailabilitas relatif : bioavailabilitas zat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik dari
suatu sediaan obat dibandingkan dengan bentuk sediaan lain selain intra vena.

Bioavailabilitas suatu produk obat dibandingkan dengan produk standar
Faktor-faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas :
1. Obat : sifat fisiko-kimia zat aktif, formulasi, dan teknik pembuatan.
2. Subjek : karakteristik subjek (umur, bobot badan), kondisi patologis, posisi, dan aktivitas tubuh
(pada subjek yang sama)
3. Rute pemberian
4. Interaksi obat/makanan : misalnya grisovulvin sukar larut dalam air. Apabila dberikan bersama
makanan berlemak jadi mudah larut. Di dalam tubuh, digunakan surfaktan alami sehingga baik
diabsorbsi. Pemberian vitamin B12 dengan coca cola menghasilkan absorbs yang lebih baik.

Tujuan bioavailabilitas :
1. Pengembangan ilmu
2. Pengembangan produk/formulasi
3. Pengembangan senyawa baru
4. Jaminan mutu produk (quality control)


Kesetaraan obat :
1. Farmakokinetik : 2 obat memiliki molekul kimia yang berbeda, tetapi mempunyai aktivitas
yang sama dan melekat pada substrat molekul aktif yang sama. Misalnya bentuk ester dan garam
dari suatu zat aktif.
2. Farmasetik : 2 produk obat dinyatakan memiliki fase farmasetik yang sama apabila
mengandung zat aktif yang sama dalam jumlah yang sama serta bentuk sediaan yang sama dan
memenuhi standar kompendial yang sama (misalnya waktu hancur, keseragaman kandungan, dan
kecepatan disolusi), walaupun bentuk, mekanisme pelepasan, eksipien, kemasan, dan sebagainya
berbeda.
3. Biologik : 2 produk obat disebut ekivalen apabila mempunyai ekivalensi farmasetik
yang sama dan pada pemberian molar yang sama akan menghasilkan bioavailabilitas yang
sebanding sehingga kemanjuran dan keamanannya akan sama baiknya.
4. Klinik/terapetik : 2 obat yang diberikan pada subjek yang sama dengan posologi yang
sama akan menghasilkan efek terapetik/toksisitas yang sama.

Perbedaan dapat terjadi pada bioavailabilitas dan respon klinik apabila obat dengan bentuk
sediaan yang sama tetapi diproduksi oleh industry yang berbeda. Hal ini dapat disebabkan oleh
faktor bahan baku, formulasi, dan cara pembuatan yang berbeda. Apabila terdapat perbedaan
yang bermakna pada bioavailabilitas dari produk obat yang diuji dengan produk obat
pembanding, maka kedua produk itu dapat dikatakan inekivalen secara terapetik. Dalam hal ini
harud dilakukan reformulasi dan uji bioavailabilitas harus dilakukan lagi.

Metode penentuan bioavailabilitas :
a. Konsentrasi obat dalam plasma (Cp) :
- t
max
(waktu Cp
max
)
Perkiraan kecepatan absorbsi : t
max
=
- Cp
max

Indikasi efektifitas atau toksisitas terapi
Indikasi secara kasar kecepatan absorbsi
Cp
max
= ( )
-

AUC
Jumlah total obat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik
Ukuran level bioavailabilitas
Metode trapezoid
Eliminasi tak terjenuhkan sebanding dengan dosis


b. Ekskresi obat dalam urin (Cu) :
- (jumlah kumulatif obat terekskresi di urin)
Indikasi jumlah total obat terabsorbsi
- dD
u
/ dt (kecepatan ekskresi obat)
Umumnya merupakan proses orde 1 yang tergantung k dan Cp
Bentuk kurva serupa dengan profil Cp
Waktu tercapainya maksimum kecepatan ekskresi = t
max

- (waktu total obat terekskresi)
Penting sebagai pembanding bioavailabilits berbagai tipe obat.
c. Efek farmakodinamik akut
- Beberapa obat : assay Cp tidak mudah
- Obat dengan tujuan non sistemik : Cp tidak mencermikan bioavailabilitas di tempat aksi.
- Bioavailabilitas ditentukan berdasarkan profil kurva dosis-respon
- Uji bioekuivalen
AUC profil farmakodinamik vs time
Puncak efek farmakodinamik
Waktu untuk mencapai puncak efek farmakodinamik
- Contoh :
Bronkodilator penurunan volume pernapasan
Pemakaian topical preparat steroid pemucatan kulit
d. Observasi klinik
- Akurasi, sensitifitas, dan reproduksibilitas paling rendah
- Hanya digunakan jika metode dengan Cp, Du, dan efek farmakologi tidak memungkinkan.
e. Metode in vitro
- Uji disolusi sebagais ektimasi kecepatan proses adsorbsi
- Uji kesetimbangan dan kinetic pengikatan pada garam-garam asam empedu, misalnya
kolesterami resin.

Desain studi bioavailabilitas
- Subyek :
1. Manusia (pria) sehat
2. Usia 18 35 tahun
3. Tinggi dan bobot badan normal
4. Jumlah minimum = 12 subyek
- Durasi sampling : harus cukup untuk menjamin lengkapnya data fase absorbsi (>3 t
0,5
)
- Frekuensi sampling harus mencukupi
- Multiple vs single dose
Keuntungan :
1. Tidak perlu ekstrapolasi profil Cp untuk menentukan total AUC
2. Tidak perlu menunggu wash-out period yang lama diantara dosis
3. Lebih sesuai dengan kondisi real tetapi klinik dan memungkinkan pengukuran Cp yang akan
dijumpai pada proses terapi
4. Cp lebih tinggi pengukuran lebih mudah dan lebih dapat dipercaya
5. Dapat dengan mudah mengidentifikasi kondisi saturable pharmacokinetics pada steady state

Kerugian :
1. Perlu waktu lebih panjang
2. Lebih sulit dan mahal (monitor subyek uji yang lebih lama)
3. Masalah lebih besar dengan compliance control
4. Resiko adverse drug reactions lebih bear karena pemejanan obat yang lebih lama dan dalam
dosis yang lebih besar
- Mengapa tidak pada pasien?
1. Fungsi fisiologis normal
2. Pasien mungkin menggunakan obat yang lain interaksi yang mengaburkan data kecepatan dan
level bioavailabilitas
3. Diet dan jumlah air yang diminum pada pasien da[at mempengaruhi bioavailabilitas
4. Pasien akan lebih sulit untuk diminta mengikuti protocol uji yang diperlukan
- Jika diperlukan informasi tentang pengaruh kondisi patologis terhadap bioavailabilitas :
1. Uji terpisah pada pasien yang bersesuaian dengan obat yang diuji.
Bioekivalensi (BE)
a. Desain
- Melibatkan ahli statistik, farmakokinetik, dokter, analis
- Protokol studi
- Batasan etik untuk studi pada manusia
- Sediaan yang serupa, dosis, rute pemberian yang sama
b. Metode analisis
- Akurat, sensitif, dan spesifik
- Studi bioavailabilitas memerlukan juga analisis metabolit yang utama
c. Formulasi standar (referens)
- Referensi: innovator produk yang telah dipasarkan dan memiliki data valid tentang etikasi dan
keamanannya.
d. Persyaratan khusus untuk sediaan lepas terkontrol
Menguji apakah:
- Mekanisme liberasi obat sesuai klaim
- Dose dumping
- Steady state setara dengan produk normal
- Profil PK konsisten diantara individual tablet
e. Produk kombinasi beberapa obat
Menguji apakah kecepatan dan level bioavailabilitas setiap kompinen setara dengan profil
bioavailabilitas individual obat tersebut.

Penentuan bioekivalensi
Kriteria farmakokinetika : AUC (extent) dan C
max
(rate)
Kriteria statistik :
Metode Westlake : 0,8 < < 1,2 dan 0,8 <
Beberapa persamaan
1. MRT
iv
=
2. k =
3. t
1/2
=
4. Cp
0iv
= AUC . k
5. V
d
=
6. Cp
iv
= Cp
0
e
-kt

7. f = .
8. MRT
po
=
9. MRT
po
= MRT
po
- MRT
iv

10. k
a
=


11. T
p
=


12. Cp
max
= . (e
-kt
e
-katp
)

2.2.Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Uji Bioavailabilitas dan Bioekivalensi
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam uji bioavailabilitas/bioekivalensi :
1. Adanya oemahaman terhadap farmakokinetik obat (adsorbsi, distribusi, metabolisme, dan
eliminasi)
2. Pemilihan metode analisis yang tepat : hal ini diperlukan untuk mengetahui efek samping, efek
toksik, penanganan terhadap efek-efek tersebut.
3. Stabilitas obat dalam sampel
4. Penyusunan percobaan protocol yang tepat : sebelum dilakukan uji, sebaiknya mendapat
persetujuan dari BPOM dan dilakukan kajian etik terlebih dahulu. Protokol harus lulus kajian
ilmiah.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rancangan percobaan bioavailabilitas/bioekivalensi:
1. Sediaan pembanding
2. Subjek percobaan dan kriteria
3. Jumlah subjek
4. Desain percobaan
5. Interval waktu pemberian
6. Modalitas pengambilan sampel : tunggal, berulang, jumlah dosis, dll
7. Senyawa yang akan dianalisis dan metodenya
8. Frekuensi dan waktu pengambilan sampel
9. Jenis sampel yang akan dikumpulkan : darah/urin.
Kriteria obat pembanding :
1. Produk obat innovator
2. Primary market di Negara lain atau
3. Market leader di Indonesia
4. Produk pembanding yang digunakan harus mendapatkan persetujuan dari BPOM (Badan
Pengawas Obat dan Makanan)

Obat yang harus diuji bioavailabilitas:
Obat oral dengan pelepasan segera, yaitu:
1. Nonlinear farmakokinetik
2. Obat oral yang diberikan untuk kondisi segera
3. Obat oral dengan indeks terapi sempit
4. Obat oral dengan sifat fisikokimia tidak menguntungkan
Subjek dan jumlah subjek:
1. Sukarelawan sehat
2. Jumlah subjek dihitung berdasarkan koefisien variasi intrasubjek dari parameter bioavailabilitas
yang utama, yaitu AUC
3. Koefisien variasi diperkirakan dari percobaan pendahuluan atau dari data publikasi
4. Pada umumnya dibutuhkan 18-24 subjek, minimal 12 orang
5. Jika ternyata koefisien variasi yang diperoleh lebih besar, maka jumlah dapat ditambah.
Kriteria subjek:
1. Inklusi
- Sukarelawan sehat : pemeriksaan fisik dan laboratorium
- Umur antara 18-55 tahun
- Berat badan dalam kisaran normal ( 15% BB)
- Sebaiknya tidak merokok. Bila merokok sebaiknya disebutkan (perokok sedang) dan dievaluasi.
2. Eksklusi
- Perokok berat, peminum, alkohol, dan pengguna narkotika
- Penderita HIV/AIDS
- Criteria lain tergantung obat yang diuji misalnya riwayat alergi, wanita hamil, dan wanita haid,
dll.
Kondisi penelitian
Harus dilakukan agar tidak terjadi variabilitas. Yang harus dilakukan adalah:
1. Lamanya berpuasa
2. Makanan dan minuman yang diberikan
3. Kondisi kesehatan pasien (tidak sedang mengkonsumsi obat, jamu, dan supplement)
4. Posisi tubuh dan aktivitas fisik
Produk uji
1. Harus sesuai dengan CPOB
2. Sudah dilakukan uji disolusi terbanding secara in vitro
3. Produk dengan tujuan registrasi harus identik dengan produk yang akan dipasarkan
4. Harus diambil dari batch skala industri atau skala pilot yang besarnya 1/10 skala industry atau
batch kecil minimal 100.000 unit.
5. Sampel harus disimpan selama 2 tahun atau 1 tahun lebih lama waktu kadaluarsa atau sampai
izin edar keluar
Metode uji bioekivalensi :
1. Uji bioavailabilitas komparatif
2. Uji farmakodinamik komparatif
3. Uji disolusi in vitro komparatif
Rancangan dan pelaksanaan uji bioekivalensi :
1. Harus mengikuti Pedoman Cara Uji Klinis yang Baik (CUKB)
2. Protokol harus lolos kajian ilmiah dan kajian etik sebelum penelitian dimulai
3. Protokol harus mendapat persetujuan BPOM sebelum penelitian dimulai.

Rancangan penelitian :
1. Desain penelitian menyilang 2 arah
2. Pemberian produk diberikan secara acak
3. Kedua perlakuan dipisahkan oleh periode wash out
4. Untuk obat yang memiliki waktu paruh panjang dapat dipertimbangkan desain 2 kelompok
paralel
5. Pemberian dosis tunggal.
Rancangan percobaan
1. Uji paralel : dengan 2 kelompok berbeda dilakukan bila waktu paruh eliminasi panjang (> 24
jam)
2. Uji pada keadaan tunak diperlukan bila : farmakokinetik non linear, kinetic obat bergantung
waktu pemberian obat, misalnya kortikosteroid, bentuk sediaan lepas lambat, obat kombinasi
tetap rasio kadar obat dalam plasma penting, misalnya kortimoksazol.



BAB III
PENUTUP


3.1. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan :
- Bioavailabilitas adalah presentase obat yang diabsorbsi tubuh dari suatu dosis yang diberikan
dan tersedia, untuk melakukan efek terapeutisnya, sedangkan bioekivalensi yaitu suatu proses
dengan innovator produk yang telah dipasarkan dan memiliki data valid tentang etikasi dan
keamanannya
- Sediaan obat yang dinyatakan lulus uji bioavailabilitas dan uji bioekivalensi terhadap produk
innovator berarti memiliki kualitas yang sama dengan produk innovator, dan produk inilah yang
dapat dijadikan alternatif selain produk innovator.

1.2. SARAN
Studi bioekivalensi berguna dalam membandingkan bioavailabilitas suatu obat dari
berbagai produk obat. Dan dalam menguji bioavailabilitas dan bioekivalensi dapat berpedoman
pada parameter-parameternya, sehingga hasil uji yang kita dapatkan lebih akurat dan tingkat
keamannya dengan memperhatikan hal-hal penting dalam proses pengujian.






DAFTAR PUSTAKA



Amalia, Lala. 2008. Bioavalabilitas dan Bioekivalensi. Tersedia: ladytulipe.wordpress.com/2009/12/16/
bioavalabilitas-dan-bioekivalensi /. Diakses pada : 15 Oktober 2013, pukul: 16.05
Bachtiar, Rico. 2009. Bioekuivalensi. Tersedia: ricobachtiar.wordpress.com/2009/07/17/bioekuivalensi/.
Diakses pada : 15 Oktober 2013, pukul: 15.20
Hakim, Lukman. 2002. Farmakokinetika. Bursa Buku. Yogyakarta
R, Husniah. 2007. Obat-Obat Penting. Elex Media Komputindo. Jakarta
http://eldesimedis.blogspot.com/2013/10/makalah-biofarmasetika-bioavailabilitas.html
http://www.scribd.com/doc/38748963/Bioavailabilitas-Obat
http://www.scribd.com/doc/174915392/Bioavailabilitas-Obat