Anda di halaman 1dari 2

Analisis Sampel Obat Paracetamol secara Kuantitatif menggunakan Instrumen

Perhitungan

Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar parasetamol (C8H9NO2) dalam larutan
sampel x yang tidak diketahui dengan metode spektrofotometri. Prinsipnya adalah pengukuran
parasetamol pada panjang gelombang maksimum yang ditentukan yaitu 244 nm, setelah
larutan sampel yang mengandung parasetamol dilakukan pengenceran dan ditambahkan
dengan BPFI (baku pembanding farmakope indonesia)
Pada analisis ini, sampel yang digunakan adalah tablet parasetamol yang memiliki
pengisi (tidak murni), maka perbandingan respon/konsentrasi antara sampel dan larutan
standar tidak sama, misalnya disebabkan oleh matrik atau komposisi yang berbeda antara
sample dan standar, maka penggunakaan kurva kalibrasi untuk menentukan konsentrasi
sampel akan memberikan hasil yang tidak akurat. Sehingga, metode yang digunakan untuk
menganalisis adalah metode standar adisi, dimana kedalam sejumlah sampel ditambahkan
larutan standar (konsentrasi diketahui dengan pasti) dengan volume yang bervariasi. Kemudian
diencerkan hingga volumenya sama. Dengan demikian maka baik matrik sampel maupun
matrik standar adalah sama. Yang berbeda hanyalah konsentrasi standar yang ditambahkan
pada sampel.
Penentuan parasetamol dibagi menjadi beberapa tahapan. Tahapan tersebut antara lain
pembuatan larutan baku, pengenceran larutan sampel, dan pengukuran dengan
spektrofotometer UV.
Larutan standar murni parasetamol dibuat dengan melarutkan 5mg BPFI dalam
aquadest hingga 50 ml sehingga larutan ini mengandung 100 ppm parasetamol. Aquadest
digunakan karena parasetamol larut dalam 70 bagian air. Larutan sampel parasetamol dibuat
dengan cara menggerus 20 tablet sampel menggunakan mortir dan stamper yang bertujuan
untuk mengambil sampel secara acak namun tetap homogen. Dari hasil penimbangan diperoleh
berat sampel 12071,3 mg yang kemudian dirata-ratakan menjadi 603 mg. 603 mg sampel
dilarutkan dalam 500ml aquadest Sehingga didapat konsentrasi 1206 ppm. Larutan kemudian
disaring menggunakan kertas saring, hal ini dilakukan guna menyaring pengotor dan eksipien
dari obat yang tidak terlarut dalam aquadest. Setelah itu diencerkan kembali dengan
menggunakan 1,5 ml dari larutan sampel dan menambahkan aquadest hingga 25 ml, sehingga
diperoleh konsentrasi 72,36 ppm.
Setelah itu dibuat pengenceran bertingkat dengan variasi volume standar 0, 1, 2, dan 3
ml. Pertama-tama, dipipetkan 1,5 ml larutan sampel ppm ke dalam labu ukur 25 ml, dan
ditambahkan aquadest hingga tanda batas (Labu I). Selanjutnya, dipipetkan 1,5 ml larutan
sampel 72,36 ppm dan 1 ml larutan baku 100 ppm ke dalam labu ukur 25 ml, lalu ditambahkan
aquadest hingga tanda batas (Labu II). Dipipetkan 1,5 ml larutan sampel dan 2 ml larutan baku
ke dalam labu ukur 25 ml, lalu ditambahkan aquadest hingga tanda batas (Labu III). Dipipetkan
1,5 ml larutan sampel dan 3 ml larutan baku ke dalam labu ukur 25 ml, lalu ditambahkan
aquadest hingga tanda batas (Labu IV). Masing-masing larutan diukur absorbansinya
menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 244 nm.


Absorbansi
Hasil