Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH SEMINAR

ASUHAN KEPERAWATAN pada KLIEN EMFISEMA

Disusun oleh :
CECEP RUDI DARMAWAN (0980200016)
DEKO HADI SAPUITRA (0980200018)
SEPTI ANNGRAINI (0980200088)
TIARA WULANDARI (0980200095)

FAKULTAS KESEHATAN
PROGAM STUDI KEPERAWATAN
SEMESTER 11 TA. 2010
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU

KATA PENGANTAR
Pengetahuan dan ketrampilan melakukan asuhan keperawatan merupakan aspek
penting yang harus dipelajari oleh mahasiswa keperawatan dan kuasai oleh perawat
professional mengingat semakin menigkat nya peran perawat dalam system pelayanan
kesehatan dewasa ini, baik ditingkat internasional maupun nasional. Di tingkat internasional,
beberapa negara menerapkan pelayanan kesehatan terintergritas dan manajemen menyeluruh.
Di berbagai Negara maju, berbgai klinik di masyarakat dikelola oleh perawat. Di tingkat
nasional dan daerah, peran ini akan semakin nyata dengan diselengarakannya desentralisasi
kesehatan dan otonomi daerah yang menuntut semua jajaran pelayanan kesehatan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan tetap mengacupada petunjuk pada
pemerintah dalam mencapai setandar kesehatan.
Walaupun isi makalah ini sudah menjelaskan semuanya n pemberian asuhan keperawatan
kepada klien emfisema pembaca dsarankan untuk mengacu pada buku- buku tentang diagnose
keperawatan untuk mendalami lebih lanjut. Pemahaman tentang diagnose keperawatan
merupakan persyaratan penting sebelum menjadi perawat professional. Pembuatan keputusan
professional juga harus ditentukan untuk mengetahui sejauh mana perawat melakukan
pemberian asuhan keperawatan.
Harapan kami, semoga makalah ini dapat membantu teman- teman mahasiswa dalam
memberikan asuhan kepada klien emfisema dengan benar dan akurat.
Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam peyusunan
makalah ini.

Bengkulu, April 2010

Penulis

Daftar Isi

Kata pengantar..................................................................................................................
Kata pengantar
Daftar isi
Bab 1
A. Pendahuluan
B. Tujuan
C. Metode penulisan
Bab 2 Pembahasan
A. Definisi
B. Etiologi
C. Patofisiologi
D. Manifestasi klinis
E. Pemeriksaan fisik
F. Pemeriksaan penunjang
G. Komplikasi
H. Terapi/ Pengobatan
I. Asuhan keperawatan
Bab 3
Tijauan kasus
Bab 4
Kesimpulan

Saran
Daftar pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dimasa sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat
pesat terutama pada bidang medis atau kesehatan. Gaya hidup yang serba praktis sangat
mempengaruhi kesehatan. Pengembangan kesehatan di Indonesia pada hakikatnya merupakan
upaya bangsa Indonesia khususnya setiap orang yang diarahkan untuk mencapai kemampuan
hidup sehat agar dapat mewujudkan derajat keasehatan yang optimal, sebagai alah satu
mencapai kesejahteraan hidup. Untuk mencapai hal tersebut pemerintah menjabarkan
beberapa program kesehatan diantaranya menurunkan angka penyakit system pernafasan,
khususnya EMFISEMA.
Peningkatan pelayanan kesehatan merupakan tanggung jawab kita semua khususnya untuk
tenaga kesehatan yang sangat berhubungan dengan tugas perawat yang memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien dengan berbagai penyakit. Untuk memelihara kesehatan dan
mencegah terjadinya resiko komplikasi dari berbagai macm penyakit diantaranya penyakit
system respirasi khususnya emfisema. Penyakit emfisema berkaitan erat dengan factor
genetic, rokok infeksi, fator social ekonomi, dll
Secara umum emfisema adalah Suatu perubahan anatomis paru yang ditandai dengan
melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus terminal, yang disertai
kerusakan dinding alveolus. (The American Thorack society 1962). Dengan ini diperlukan
peran perawt sebagai tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan dan agar tidak
terjadi komplikasi yang lebih lanjut. Perawat merupakan salah saatu tenaga kesehatan yang
dapat memberikan asuhan keperawatan secara professional mandiri dan kolaborasi.

B. METODE PENULISAN
Metode yang digunakan pada penyusunan laporan ini adalah Metode D eskriptif
dengan pendekatan studu pustaka.

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Tujuan umum
Agar mahasiswa memahami dan mampu memberikan asuhan keperawatan kepada klien
emfisema.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui dan memahami tentang proses penyakit, pengertian, penyebab, pengobatan
dan perawatan dari Empisema.
b. Mengetahui dan memahami pengkajian yang dilakukan, masalah keperawatan yang
muncul, rencana keperawaatan dan tindakan keperawatan yang diberikan dan evaluasi
keperawatan yang dilakukan.
c. Mengetahui gambaran penyakit empisema dan penatalaksanaan.
d. Mampu melakukan pengkajian pada pasien empisema.
e. Mampu menyusun analisa data pada pasien empisema.
f. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien empisema.
g. Mampu menyusun intervensi keperawatan pada pasien empisema.

h. Mampu melaksanakan implementasi keperawatan dan evaluasi


keperawatan pada pasienempisema.

BAB II
KONSEP PENYAKIT

2.1. DEFINISI
Suatu perubahan anatomis paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran
udara bagian distal bronkus terminal, yang disertai kerusakan dinding alveolus. (The
American Thorack society 1962)
Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus
terisi udara walaupun setelah ekspirasi.(Kus Irianto.216.2004)
Emfisema merupakan morfologik didefisiensi sebagai pembesaran abnormal ruang-ruang
udara distal dari bronkiolus terminal dengan desruksi dindingnya.(Robbins.253.1994)
Emfisema adalah penyakit obtruktif kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas
permukaan alveoli.(Corwin.435.2000)
Emfisema paru merupakan bentuk paling berat dari PPOM dikarakteristikkan oleh inflamasi
berulang yang melukai dan akhirnya merusak dinding alveolar menyebabkan banyak blab
atau bula (ruang udara) kolaps bronkiolus pada ekspirasi (jebakan udara).
Emfisema paru juga dapat didefinisikan sebagai suatu distensi abnormal ruang udara di luar
bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli. Kondisi ini merupakan tahap akhir
proses yang mengalami kemajuan dengan lambat selama beberapa tahun.
Emfisema dibagi menurut pola asinus yang terserang. Ada dua bentuk pola morfologik dari
emfisema yaitu:
1. CLE (emfisema sentrilobular)
CLE ini secara selektif hanya menyerang bagian bronkhiolus respiratorius. Dinding-dinding
mulai berlubang, membesar, bergabung dan akhirnya cenderung menjadi satu ruang. Mulamula duktus alveolaris yang lebih distal dapat dipertahankan penyakit ini sering kali lebih

berat menyerang bagian atas paru-paru, tapi cenderung menyebar tidak merata. CLE lebih
banyak ditemukan
pada pria dibandingkan dengan bronchitis kronik, dan jarang ditemukan pada mereka yang
tidak merokok(Sylvia A. Price 1995).
2. PLE (emfisema panlobular)
Merupakan bentuk morfologik yang lebih jarang, dimana alveolus yang terletak distal dari
bronkhiolus terminalis mengalami pembesaran serta kerusakan secara merata. PLE ini
mempunyai gambaran khas yaitu tersebar merata diseluruh paru-paru. PLE juga ditemukan
pada sekelompok kecil penderita emfisema primer, Tetapi dapat juga dikaitkan dengan
emfisema akibat usia tua dan bronchitis kronik. Penyebab emfisema primer ini tidak
diketahui, tetapi telah diketahui adanya devisiensi enzim alfa 1-antitripsin. Alfa-antitripsin
adalah anti protease. Diperkirakan alfa-antitripsin sangat penting untuk perlindungan terhadap
protease yang terbentuk secara alami( Cherniack dan cherniack, 1983).
PLE dan CLE sering kali ditandai dengan adanya bula tetapi dapat juga tidak. Biasanya pula
timbul akibat adanya penyumbatan katup pengatur bronkhiolus. Pada waktu inspirasi lumen
bronkhiolus melebar sehingga udara dapat melewati penyumbatan akibat penebalan mukosa
dan banyaknya mucus.. Tetapi sewaktu ekspirasi, lumen bronkhiolus tersebut kembali
menyempit, sehingga sumbatan dapat menghalangi keluarnya udara.

2.2 ANATOMI FISIOLOGI

Suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolus-alveolus yang tidak dapat pulih, dapat
bersifat menyeluruh atau terlokalisasi, mengenai sebagian atau seluruh paru disebut
emfisema.
Kalau dinding-dinding mulai berlubang, membesar, bergabung dan akhirnya cenderung
menjadi satu ruang. Mula-mula duktus alveolaris yang lebih distal dapat dipertahankan
penyakit ini sering kali lebih berat menyerang bagian atas paru-paru, tapi cenderung
menyebar tidak merata disebut CLE (emfisema sentrilobular).
Sedangkan, kalau bentuk morfologik yang lebih jarang, dimana alveolus yang terletak distal
dari bronkhiolus terminalis mengalami pembesaran serta kerusakan secara merata disebut
PLE (emfisema panlobular).
PLE dan CLE sering kali ditandai dengan adanya bula tetapi dapat juga tidak. Biasanya pula
timbul akibat adanya penyumbatan katup pengatur bronkhiolus. Pada waktu inspirasi lumen
bronkhiolus melebar sehingga udara dapat melewati penyumbatan akibat penebalan mukosa

dan banyaknya mucus.. Tetapi sewaktu ekspirasi, lumen bronkhiolus tersebut kembali
menyempit, sehingga sumbatan dapat menghalangi keluarnya udara.

2.3 ETIOLOGI
1. Faktor Genetik
Factor genetic mempunyai peran pada penyakit emfisema. Factor genetic diataranya adalah
atopi yang ditandai dengan adanya eosinifilia atau peningkatan kadar imonoglobulin E (IgE)
serum, adanya hiper responsive bronkus, riwayat penyakit obstruksi paru pada keluarga, dan
defisiensi protein alfa 1 anti tripsin.
2. Hipotesis Elastase_Anti Elastase
Didalam paru terdapat keseimbangan antara enzim proteolitik elastase dan anti elastase
supaya tidak terjadi kerusakan jaringan. Perubahan keseimbangan menimbulkan jaringan
elastik paru rusak. Arsitektur paru akan berubah dan timbul emfisema.
3. Rokok
Rokok adalah penyebab utama timbulnya bronkitits kronik dan emfisema paru. Secara
patologis rokok berhubungan dengan hyperplasia kelenjar mucus bronkus dan metaplasia
epitel skuamus saluran pernapasan.
4. Infeksi
Infeksi menyebabkan kerusakan paru lebih hebat sehingga gejalanya pun lebih berat. Infeksi
pernapasan bagian atas pasien bronchitis kronik selalu menyebabkan infeksi paru bagian
dalam, serta menyebabkan kerusakan paru bertambah. Bakteri yang di isolasi paling banyak
adalah haemophilus influenzae dan streptococcus pneumoniae.
5. Polusi
Sebagai factor penyebab penyakit, polusi tidak begitu besar pengaruhnya tetapi bila ditambah
merokok resiko akan lebih tinggi..
6. Faktor Sosial Ekonomi

Emfisema lebih banyak didapat pada golongan social ekonomi rendah, mungkin kerena
perbedaan pola merokok, selain itu mungkin disebabkan factor lingkungan dan ekonomi yang
lebih jelek.

2.4 PATOFISIOLOGI
Merokok dan polusi
udara

Makrofag

Inflamasi paru

Mediator imflamansi lainnya

neutrofil
Leukosit

Infeksi

Pertukaran gas
Melemahnya saluran nafas

Elastisitas saluran paru


Daya kembang paru

Terjadi peradangan
pada paru
Edema

Nyeri dada

2.5 MANIFESTASI KLINIS

Emfisema

Emfisema paru adalah suatu penyakit menahun, terjadi sedikit demi sedikit bertahunbertahun. Biasanya mulai pada pasien perokok berumur 15-25 tahun.
Pada umur 25-35 tahun mulai timbul perubahan pada saluran nafas kecil dan fungsi paru.
Umur 35-45 tahun timbul batuk yang produktif. Pada umur 45-55 tahun terjadi sesak nafas,
hipoksemia dan perubahan spirometri. Pada umur 55-60 tahun sudah ada kor-pulmonal, yang
dapat menyebabkan kegagalan nafas dan meninggal dunia.
1.Dispnea
2.Pada inspeksi: bentuk dada burrel chest
3.Pernapasan dada, pernapasan abnormal tidak efektif, dan penggunaan otot-otot aksesori
pernapasan (sternokleidomastoid)
4.Pada perkusi: hiperesonans dan penurunan fremitus pada seluruh bidang paru.
5.Pada auskultasi: terdengar bunyi napas dengan krekels, ronki, dan perpanjangan ekspirasi
6.Anoreksia, penurunan berat badan, dan kelemahan umum
7.Distensi vena leher selama ekspirasi

2.6 PEMERIKSAAN FISIK


1. Inspeksi:
- Paru hiperinflasi, ekspansi dada berkurang, kesukaran inspirasi, dada berbentuk barrel chest,
dada anterior menonjol, punggung berbentuk kifosis dorsal.
2. Palpasi :
- Ruang antar iga melebar, taktik vocal fremitus menurun,
3. Perkusi :
- Terdengar hipersonor, peningkatan diameter dada anterior posterior.
4. Auskultasi :
- Suara napas berkurang, ronkhi

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


a) Sinar x dada: dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma;
peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema);
peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi
(asma).
b) Tes fungsi paru: dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan
apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat
disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, mis., bronkodilator.
c) TLC: peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma; penurunan
emfisema
d) Kapasitas inspirasi: menurun pada emfisema
e) Volume residu: meningkat pada emfisema, bronkitis kronis, dan asma
f) FEV1/FVC: rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada
bronkitis dan asma
g) GDA: memperkirakan progresi proses penyakit kronis
h) Bronkogram: dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kollaps
bronkial pada ekspirasi kuat (emfisema); pembesaran duktus mukosa yang terlihat
pada bronkitis
i) JDL dan diferensial: hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eosinofil
(asma)
j) Kimia darah: Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa
emfisema primer
k) Sputum: kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen;
pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi

2.8 KOMPLIKASI

1. Sering mengalami infeksi pada saluran pernafasan


2. Daya tahan tubuh kurang sempurna
3. Tingkat kerusakan paru semakin parah
4. Proses peradangan yang kronis pada saluran nafas
5. Pneumonia
6. Atelaktasis
7. Pneumothoraks
8. Meningkatkan resiko gagal nafas pada pasien

2.9 TERAPI/ PENGOBATAN


Tujuan pengobatan adalah untuk memperbaiki kualitas hidup, untuk memperlambat kemajuan
proses penyakit, dan untuk mengatasi, obstruksi jalan napas untuk menghilangkan hipoksia.
Pendekatan terapeutik mencakup:
a.Tindakan pengobatan dimaksudkan untuk memperbaiki ventilasi dan menurunkan upaya
bernapas
b.Pencegahan dan pengobatan cepat terhadap infeksi
c.Teknik terapi fisik untuk memelihara dan meningkatkan ventilasi pulmonari
d.Pemeliharaan kondisi lingkungan yang sesuai untuk memudahkan pernapasan
e.Dukungan psikologis
f.Penyuluhan pasien dan rehabilitasi yang berkesinambungan
g.Bronkodilator

Bronkodilator diresepkan untuk mendilatasi jalan nafas karena preparat ini melawan edema
mukosa maupun spasme muskular dan membantu mengurangi obstruksi jalan nafas serta

memperbaiki pertukaran gas.Medikasi ini mencakup antagonis -adrenergik (metoproterenol,


isoproterenol) dan metilxantin (teofilin, aminofilin), yang menghasilkan dilatasi bronkial.
Bronkodilator mungkin diresepkan per oral, subkutan, intravena, per rektal atau inhalasi.
Medikasi inhalasi dapat diberikan melalui aerosol bertekanan, nebuliser.Bronkodilator
mungkin menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan termasuk takikardia, disritmia
jantung, dan perangsangan sisten saraf pusat. Metilxantin dapat juga menyebabkan gangguan
gastrointestinal seperti mual dan muntah.
1. Terapi Aerosol
Aerosolisasi (proses membagi partikel mrnjadi serbuk yang sangat halus) dari bronkodilator
salin dan mukolitik sering kali digunakan untuk membantu dalam bronkodilatasi. Aerosol
yang dinebulizer menghilangkan edema mukosa dan mengencerkan sekresi bronkial. Hal ini
mempermudah proses pembersihan bronkhiolus, membantu mengendalikan proses inflamasi
dan memperbaiki fungsi ventilasi.
2. Pengobatan Infeksi
Pasien dengan emfisema rentan dengan infeksi paru dan harus diobati pada saat awal
timbulnya tanda-tanda infeksi seperti sputum purulen, batuk meningkat dan demam.
Organisme yang paling sering adalah S. pneumonia, H. influenzae, dan Branhamella
catarrhalis. Terapi antimikroba dengan tetrasiklin, ampisilin, amoksisilin atau trimetoprimsulfametoxazol (Bactrim) mungkin diresepkan.
3. Oksigenasi
Terapi oksigen dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien dengan emfisema berat.
Hipoksemia berat diatasi dengan konsentrasi oksigen rendah untuk meningkatkan tekanan
oksigen hingga antara 65 dan 80 mmHg. Pada emfisema berat, oksigen diberikan sedikitnya
16 jam perhari sampai 24 jam perhari
Selain itu juga dapat dilakukan terapi:
1) Terapi Farmakologi
Tujuan utama adalah untuk mengurangi obstruksi jalan nafas yang masih mempunyai
komponen yang reversible meskipun sedikit. Hal ini dapat dilakukan dengan :
1. pemberian bronkodilator

2. pemberian kortikosteroid
3. mengurangi sekresi mucus
1. Pemberian bronkodilator
a. golongan teofilin
Biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg BB per oral dengan memperhatikan kadar
teofilin dalam darah. Konsentrasi dalam darah yang baik antara 10-15 mg/L
b. golongan agonis B2
Biasanya diberikan secara aerosol/nebuliser. Efek samping utama adalah tremor,tetapi
menghilang dengan pemberian agak lama.
2. Pemberian kortikosteroid
Pada beberapa pasien, pemberian kortikosteroid akan berhasil mengurangi obstruksi saluran
nafas.Hinshaw dan Murry menganjurkan untuk mencoba pemberian kortikosteroid selama 3-4
minggu. Kalau tidak ada respon baru dihentikan.
3. Mengurangi sekresi mucus
1. Minum cukup,supaya tidak dehidrasi dan mucus lebih encer sehingga urine tetap
kuning pucat.
2. Ekspektoran, yang sering digunakan ialah gliseril guaiakolat, kalium yodida, dan
amonium klorida.
3. Nebulisasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencerkan
sputum.
4. Mukolitik dapat digunakan asetilsistein atau bromheksin.

2) Fisioterapi dan Rehabilitasi


Tujuan fisioterapi dan rehabilitasi adalah meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas
hidup dan memenuhi kebutuhan pasien dari segi social, emosional dan vokasional.
Program fisioterapi yang dilaksanakan berguna untuk :
a. Mengeluarkan mucus dari saluran nafas.
b. Memperbaiki efisiensi ventilasi.

c. Memperbaiki dan meningkatkan kekuatan fisis

3) Pemberian O2 jangka panjang


Pemberian O2 dalam jangka panjang akan memperbaiki emfisema disertai kenaikan toleransi
latihan. Biasanya diberikan pada pasien hipoksia yang timbul pada waktu tidur atau waktu
latihan. Menurut Make, pemberian O2 selama 19 jam/hari akan mempunyai hasil lebih baik
dari pada pemberian 12 jam/hari.
2.10 ASUHAN KEPERAWATAN
2.10.1Pengkajian
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala :
1. Keletihan, kelelahan, malaise
2. Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas
3. Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi
4. Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan
Tanda :
1. Keletihan, gelisah, insomnia
2. Kelemahan umum/kehilangan massa otot
3. Sirkulasi

b. pembengkakan pada ekstremitas bawah


Tanda :
1. Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia,
distensi vena leher

2. Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung


3. Bunyi jantung redup (yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada)
4. Warna kulit/membran mukosa: normal atau abu-abu/sianosis
5. Pucat dapat menunjukkan anemia

c. Makanan/Cairan
Gejala :
1. Mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia (emfisema)
2. Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan
3. Penurunan berat badan menetap (emfisema), peningkatan berat badan menunjukkan
edema (bronkitis)
Tanda :
1. Turgor kulit buruk, edema dependen
2. Berkeringat, penuruna berat badan, penurunan massa otot/lemak subkutan (emfisema)
3. Palpitasi abdominal dapat menyebabkan hepatomegali (bronkitis)

d. Hygiene
Gejala :
1. Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas seharihari
Tanda :
1. Kebersihan, buruk, bau badan

e. Pernafasan
Gejala :
1. Nafas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala menonjol pada
emfisema) khususnya pada kerja, cuaca atau episode berulangnya sulit nafas (asma),
rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas (asma)
2. Lapar udara kronis
3. Bentuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada saat bangun)
selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi
sputum (hijau, putih dan kuning) dapat banyak sekali (bronkitis kronis)
4. Episode batuk hilang timbul biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun dapat
terjadi produktif (emfisema)
5. Riwayat pneumonia berulang: terpajan pada polusi kimia/iritan pernafasan dalam
jangka panjang (mis., rokok sigaret) atau debu/asap (mis., abses, debu atau batu bara,
serbuk gergaji)
6. Faktor keluarga dan keturunan, mis., defisiensi alfa-anti tripsin (emfisema)
7. Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus
Tanda :
1. Pernafasan: biasanya cepat, dapat lambat, penggunaan otot bantu pernapasan
2. Dada: hiperinflasi dengan peninggian diameter AP, gerakan diafragma minimal
3. Bunyi nafas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi (emfisema); menyebar, lembut
atau krekels, ronki, mengi sepanjang area paru.
4. Perkusi: hiperesonan pada area paru
5. Warna: pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku.

f. Keamanan

Gejala :
1. Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan
2. Adanya/berulangnya infeksi
3. Kemerahan/berkeringat (asma)

g. Seksualitas
Gejala :
1. Penurunan libido

h. Interaksi sosial
Gejala :
1. Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, ketidak mampuan
membaik/penyakit lama
Tanda :
1. Ketidakmampuan untuk/membuat mempertahankan suara pernafasan
2. Keterbatasan mobilitas fisik, kelainan dengan anggota keluarga lalu.

i. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala :
1. Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan, kesulitan menghentikan merokok,
penggunaan alkohol secara teratur, kegagalan untuk membaik.

2.10.2 Pemeriksaan fisik :

a. Inspeksi:
Paru hiperinflasi, ekspansi dada berkurang, kesukaran inspirasi, dada
berbentuk barrel chest, dada anterior menonjol, punggung berbentuk
kifosis dorsal.
b.

Palpasi :
Ruang antar iga melebar, taktik vocal fremitus menurun

c.

Perkusi :
Terdengar hipersonor, peningkatan diameter dada anterior posterior.

d. Auskultasi :
Suara napas berkurang, ronkhi bisa terdengar apabila ada dahak
e. Pengkajian:
1) Kaji status pernapasan.
2) Kaji adanya sianosis.
3) Kaji fremitus faktil kedua paru.
4) Lakukan pemeriksaan tanda vital lengkap.
5) Kaji adanya nyeri tekan bila napas.

2.10.3 Diagnosa Keperawatan


1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
kebutuhan dan suplai oksigen.
2. Gangguan pertukaran gas berrhubungan dengan ketidakseimbangan
perfusi ventilasi.
3.

Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ventilasi alveoli

4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familier dengan sumber


informasi

2.10.4 Tujuan dan Inetrvensi Keperawatan


Diagnosa 1

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara


kebutuhan dan suplai oksigen.
a. NOC
1. Pasien bernafas dengan efektif
2. Mengatasi masalah intoleransi aktivitas pada pasien.
b. NIC
1. Pasien bisa mengidentifikasikan factor-faktor yang
menurunkan toleran aktivitas.
2. Pasien memperlihatkan kemajuan khususnya dalam hal
mobilitas.
3. Pasien memperlihatkan turunnya tanda-tanda menurunkan
toleran aktivitas.

c. Intervensi
1. Kaji respon individu terhadap aktivitas
a. Ukur tanda vital saat istirahat dan segera setelah aktivitas
serta frekuensi, irama dan kualitas.
b. Hentikan aktifitas bila respon klien : nyeri dada, dyspnea,
vertigo/konvusi, frekuensi nadi, pernapasan, tekanan darah
sistolik menurun.
2. Meningkatkan aktifitas secara bertahap.
3. Ajarkan klien metode penghematan energi untuk aktifitas.
d. Rasionalisasi
1.

Mendapatkan tanda fital pasien normal, baik saat


istirahat ataupun setelah beraktifitas.

2.

Masalah intoleransi aktivitas pada pasien dapat


teratasi.

Diagnosa 2
Gangguan pertukaran gas berrhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi
ventilasi.

a. NOC
1. Pertukaran gas pasien kembali normal
2. Tidak terjadi perubahan fungsi pernapasan.
b. NIC
1. Pasien bisa bernapas normal tanpa menggunakan otot
tambahan pernapasan.
2. pasien tidak mengatakan nyeri saat bernapas.
c. Intervensi
1. Posisikan pasien dengan posisi semi fowler agar pasien bisa
melakukan respirasi dengan sempurna.
2. Kaji adanya nyeri dan tanda vital berhubungan dengan
latihan yang diberikan.
3. Ajari pasien tentang teknik penghematan energi.
4. Bantu pasien untuk mengidentifikasi tugas-tugas yang bisa
diselesaikan.

d. Rasionalisasi
1. Pasien bernapas dengan lancer tanpa gangguan.
2. Fungsi paru kembali normal.

Diagnosa 3
Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ventilasi alveoli.
a. NOC
1. Tidak terjadi perubahan dalam frekwensi pola pernapasan.
2. Tekanan nadi (frekwensi, irama, kwalitas) normal.
b. NIC
1. Pasien memperlihatkan frekwensi pernapasan yang efektif
dan mengalami perbaikan pertukaran gas pada paru.
2. Pasien menyatakan factor penyebab, jika mengetahui.
c. Intervensi
1. Pastikan pasien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk
menjamin keamanan.

2. Alihkan perhatian pasien dari pemikiran tentang keadaan


ansietas (cemas) dengan meminta pasien mempertahankan
kontak mata dengan perawat.
3. Latih pasien napas perlahan-lahan, bernapas lebih efektif.
4. Jelaskan pada pasien bahwa dia dapat mengatasi
hiperventilasi melalui control pernapasan secara sadar.
d. Rasionalisasi
1. Ventilasi alveoli normal.
2. Tidak terjadi gangguan perubuhan fungsi pernapasan.

Diagnosa ke4
Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familier dengan sumber informasi
a) NOC :
1) Knowledge : Disease Process (1803)
1. Kenalkan dengan nama penyakit
2. Gambarkan dari proses penyakit
3. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit
4. Jelaskan faktor resiko
5. Jelaskan efek dari penyakit
6. Jelaskan tanda dan gejala
2) Knowledga Illness care (1824
1. Proses penyakit
2. Pengendalian infeksi
3. Pengobatan
4. Prosedur pengobatan
5. Perawatan terhadap penyakit
b) NIC :
1) Teaching Disease Process
Aktifitas :
1. Jelaskan patofisiologi penyakit
2. Jelaskan tanda dan gejala dari penyait
3. Jelaskan proses penyakit

4. Identifikasi kemungkinan penyebab penyakit


5. Diskusikan pilihan perawatan

2) Teaching : Prosedur / Treatment


Aktifitas :
1. Informasikan kepada pasien kapan dan dimana prosedur perawatan
dilakukan
2. Informasikan kepada pasien tentang berapa lama prosedur
dilakukan
3. Jelaskan tujuan dari prosedur / perawatan
4. Gambarkan aktifitas sebelum prosedur dilakukan
5. Jelaskan prosedur tindakan

BAB III
TINJAUAN KASUS
Tanggal masuk

: 25-04-10

Tanggal pengkajian

: 25-04-10

No register

: 2176

Ruangan

: Mawar

Diagnosa

: Emfisema

A. Pengkajian
1. Biodata

Nama

: Rio

Umur

: 50 Tahun

Agama

: Islam

Jenis kelamin : Laki- laki


Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Kampung Hongkong

Penangguna Jawab
Nama

: Rina

Umur

: 45 Tahun

Agama

: Islam

Jenis kelamin : Perempuan


Hubungan

: Istri

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Kampung Hongkong

2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Klien diantar kerumah sakit Dr.M.Yunus Bengkulu pada tanggal 25-04-10 dengan
keluhan sesak nafas. Ini sudah dirasakan sejak 2 bulan, saat di bawah kerumah sakit pasien
dalam keadan lemah. Setelah di kaji pada tanggal 25-04-10 jam 09.00 pasien mengatakan
sesak nafas, dan sesaknya sering datang tiba- tiba, dan pasien mengatakan tidak mengetahui

tentang penyakitnya. Pasien tampak gelisah, ekspresi wajah tampak cemas, pasien sering
memegang dada, dan pasien sering bertanya- Tanya tentang penyakitnya.
b. Riwayat Kesehatan dulu
Sebelum masuk rumah sakit klien pernah menderita hal yang sama seperti yang
dialami sekarang. Pasien mengatakan masih merokok.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang terkena TBC dan Emfisema.

3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadan Umum
- Klien tampak lemah
- Kesadaran

- TTV

: Kompos mentis

: - TD
- Nadi

: 90/70mmHg
: 75x/menit

- Pernapasan : 15x/menit
- Suhu

: 37C

b. Kepala
1) Rambut

: Warna hitam, tidak terdapat ketombe, tidak terdapat benjolan.

2) Mata

: Bentuk simetris, pupil bereaksi terhadap cahaya, bisa melihat kesemua arah,
konjungtiva tidak anam nesis.

3) Telinga

: Bentuk simetris, seruman tidak ada, tidak terdapat nyeri tekan.

4) Hidung

: Bentuk hidung simetris, mukosa lembap, tidak terdapat sumbatan dalam


hidung.

5) Mulut

: Bentuk simetris, mukosa bibir kering, fungsi pengecap baik.

c. Leher

: Bentuk simetris, tidak ada pembesaran vena jugularis maupun kelenjar tiroid.

d. Dada

; Dada berbentuk barrel chest, dada anterior menonjol, Ruang antar iga
melebar, taktik vocal fremitus menurun.

e. Abdomen

: Tidak adanya perubahan warna kulit, bising usus normal, tidak nyeri
tekan.

f. Extremitas :
- Atas: kanan dan kiri : fleksi 90, ekstansi 45, abduksi jari- jari 20,
adduksi jari bersentuhan
- Bawah: kanan dan kiri : Fleksi 90, Ekstensi 30, abduksi 45,
adduksi 20, rotasi internal 40, rotasi eksternal 45.
- Tidak nyeri tekan
- Tidak oedem
- Elastisitas/ turgor kulit baik

4. Aktivitas sehari- hari


No
1.

Kebiasan

Dirumah

Dirumah Sakit

a. Makan
- Frekeuensi

3 x sehari

3 x sehari

- Jenis

Ns

Bubur+lauk+sayur

- Porsi

putih+sayur+lauk

1 porsi

b. Minum

1 porsi

- Frekeunsi
- Jenis

4-5 gelas/ hari


7-8 gelas/ hari
Air putih

Air putih

2.

Eliminasi
a. BAB
- Frekuensi

1-2x/ hari

1-2x/ hari

- Konsistensi

Lembek

Lembek

- Warna

Kuning

Kuning

- Bau

Khas

Khas

- Kesulitan

Tidak ada

Tidak ada

- frekuensi

4-5x/ hari

2-3x/ hari

- bau

Khas

Khas

- warna

Kuning jernih

Kuning jernih

- pola tidur

6-8jam/ hari

4-5 jam

- gangguan tidur

Tidak ada

Kadang- kadang

b. BAK

3.

Istirahat dan tidur

terbangun
4.

Personal haygiene
a. mandi
- frekuensi

2x/ hari

2x/ hari

-mngnkn sabun

Ya

Pakai sapu tangan


menggunakan air

b. cuci rambut
- frekuensi

Setiap hari

Belum

- mngnkn shampoo

Ya

tidak

ya

tidak

c. sikat gigi
- mnggnkn close up

5. Data psikologis
a. Status emosi

: Pasien gelisah, emosi stabil.

b. Gaya komunikasi : Pasien mau diajak berkomunikasi secara langsung.


c. Pola interaksi

: Pasien berineraksi dengan orang disekitarnya.

6. Data social
Hubungan social

: Pasien mempunyai hubungan yang harmonis dengan lingkungan


sekitarnya, dinyatakan dengan banyak pengunjung.

7. Data spiritual
Pasien beragama islam, sebelum sakit pasien taat beribadah,selama dirawat pasien tidak bisa
beribadah tapi pasien mempunyai keyakinan bahwa dia akan sembuh.
8. Data penunjang
1. Lab darah : Hemotology rutin, BUN, kreatinin dan elektrolit darah
- HB: 13gr%

2. Radiologi : Terlihat diafragma yang rendah dan datar,kadang-kadang terlihat konkaf


9. Penatalaksanaan
Pemberian oksigen kecepatan rendah : masker Venturi atau nasal prong
Ventilator mekanik dengan tekanan jalan nafas positif kontinu (CPAP) atau PEEP
Inhalasi nebuliser
Fisioterapi dada
Pemantauan hemodinamik/jantung
Pengobatan
Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan

B. ANALISA DATA

No
1.

Data senjang

Intervensi data

Ds :
-

masalah
Gangguan

Pasien mengatakan sering

- Posisikan pasien dengan

pertukaran

sesak nafas

posisi semi fowler agar pasien

gas

Pasien mengatakan, sesak

bisa melakukan respirasi

nafas sering dating tiba-

dengan sempurna.

tiba

- Kaji adanya nyeri dan tanda


vital berhubungan dengan
latihan yang diberikan.
- Ajari pasien tentang teknik

Do :

penghematan energi.

Pasien tampak gelisah

- Bantu pasien untuk

Ekspresi wajah pasien

mengidentifikasi tugas-tugas

tampak cemas

yang bisa diselesaikan.

Pasien sering memegang


dada

2.

Do :
-

Kurang
Pasien mengatakan tidak

- Jelaskan patofisiologi penyakit

pengetahuan

tau, tentang penyakit yang

- Jelaskan tanda dan gejala dari

tentang

dideritanya

penyait

penyakitnya

- Jelaskan proses penyakit


- Identifikasi kemungkinan
Ds :

penyebab penyakit

Pasien tampak cemas

Pasien sering bertanyaTanya tentang penyakitnya

- Diskusikan pilihan perawatan

C.DIAGNOSA KEPERAWATAN

Masalah

Tujuan

Intervensi

Rasoinal

Implementasi

- Gangguan

Dalam 3x 24 jam,

- Posisikan paisen

- Pasien

-Mengobservasi

pertukaran gas

klien mampu

dengan posisi semi

bernafas

keadan umum

berrhubungan

menunjukkan :

fowler agar pasien

dengan

- Mengukur TTV

dengan

Bunyi paru bersih

bisa melakukan

lancar

- Intruksikan pasien

ketidakseimban

Warna kulit

respirasi dengan

gan perfusi

normal

sempurna

- Fungsi

ventilasi

Gas-gas darah

- Kaji adanya nyeri

paru

dalam batas normal

dan tanda vital

berfungsi

untuk usia yang

berhubungan

normal

diperkirakan

dengan latihan

untuk melakukan
tekhnik relaksasi
- Mempertahankan
tirah baring
- Gunakan palpasi

yang diberikan

selama mengubah

- Ajari pasien

posisi

tentang teknik
penghematan
energy
- Bantu pasien
untuk
mengidentifikasi
tugas- tugas yang
bisa di selesaikan
- Kurang

Dalam 3X 24 jam

- Kuatkan rasional

- Klien

pengetahuan

klien mampu

pengobatan

percaya

- Menjelaskan

berhubungan

menunjukan:

bahwa

kepada klien

dengan tidak

- Pasien tidak cenas

- Ikutti aktivitas

perubahan

penyebab ssak

familier dengan

lagi

atau proses dengan

program

napas

priode istiraha

pasca

- Membatasi

pulang

pengunjung

sumber
informasi

- Pasien mengerti
tentang

- diskusikan

dibolehkan

Mempertahankan

penyakitnya

penyebab dari

bila merasa

tirah baring

emfisema

baik

- Mengajarkan

- Pasien tidak

tekhnik relaksai

bertanya lagi

- menjelaskan cara

- Untuk

- Mendiskuksikan

tentang kondisi

mengurangi

meningkatk dengan klien

penyakitnya

terjadinya resiko

an

tenteng penyebab

emfisema

penyembuh emfisema
an dan rasa

- Menjelaskan

cemas

kepada klien
tentang resiko

- Untuk

terjadinya

mengetahui emfisema
penyebab

- Menganjurkan

penyakit

klien untuk
tenang dan tidak

- Untuk

cemasdengan

mencegah

penyakitnya

terjadinya
emfisema
lanjutan

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

No

Nama

: RIO

Umur

: 50 tahun

No register

: 2176

Ruangan

: Mawar

Diagnosa keperawatan

Tgl diterima

paraf

Tgl teratasi

paraf

1.

Gangguan

25-04-10

cecep

cecep

25-04-10

cecep

29-04-10

cecep

pertukaran gas
berrhubungan
dengan
ketidakseimbangan
perfusi ventilasi.
2.

Kurang
pengetahuan
berhubungan
dengan tidak
familier dengan
sumber informasi

D. INTERVENSI KEPERAWATAN

Nama

: RIO

Umur

: 50 tahun

No register

: 2176

Ruangan

: Mawar

No
1.

Tanggal/
jam
25-04-10
09.30

Kriteria hasil

intervensi

Rasional

Pasien mampu

Kaji terhadap

- membantu

menunjukkan :

tanda dan gejala

menentukan

Bunyi paru bersih

hipoksia dan

pilihan

Warna kulit normal

hiperkapnia

intervensi

paraf
Cecep

Gas-gas darah
dalam batas normal
untuk usia yang

Kaji TD, nadi

diperkirakan

apikal dan tingkat

- laporkan

kesadaran setiap

perubahan

1jam dan prn,

tinmgkat

Cecep

kesadaran pada
dokter.
Pantau dan catat
pemeriksaan gas
darah

- mengkaji
adanya
kecenderungan
kenaikan
dalam PaCO2
atau penurunan
dalam PaO2

Cecep

2.

25-04-10

- Pasien tidak cenas

- Kuatkan rasional

- Klien percaya Cecep

lagi

pengobatan

bahwa

10.20 wib

perubahan
program pasca
- Pasien mengerti

pulang

tentang penyakitnya

dibolehkan bila
merasa baik

- Pasien tidak

- Ikutti aktivitas

- Untuk

bertanya lagi tentang

atau proses dengan

meningkatkan

kondisi penyakitnya

priode istiraha

penyembuhan

Cecep

dan rasa cemas


- diskusikan

- Untuk

penyebab dari

mengetahui

emfisema

penyebab

Cecep

penyakit
- menjelaskan cara

- Untuk

mengurangi

mencegah

terjadinya resiko

terjadinya

emfisema

emfisema
lanjutan

Cecep

E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Nama

: RIO

Umur

: 50 tahun

No register

: 2176

Ruangan

: Mawar

Tgl/ jam
26-04-10

No
1

Implementasi
-

08.30
09.00

Mengobservasi

Respon hasil
-

keadan umum
1

Pasien masih

paraf
Cecep

lemah

Mengukur TTV

Cecep
-

TD: 120/80,
N:80x/menit,P:20x/
menit,S: 36,5c

11.20

Mengukur tetesan

Tetesan 20x/ menit

Pasien tampak

Cecep

cairan infus
12.00

Intruksikan pasien
untuk melakukan

Cecep

tenang

tekhnik relaksasi
12.30

Mempertahankan

Gunakan palpasi

Cecep

nyaman

tirah baring
13.00

Pasien tampak

Pasien tidak
kesulitan

Cecep

Pasien tampak
cemas

Cecep

selama mengubah
posisi
14.10

Mencatat respon
emosi

14.30

Menjelaskan kepada

Cecep

klien tentng

Pasien mengerti
apa yang di
jelaskan perawat

Pasien percaya
bahwa perubahan
baik pasca pulang,
di bolehkan pulang

Klien mengerti apa


yang di jelaskan
oleh perawat

Pengunjung
tampak berkurang

Cecep

Pasien tampak
nyaman

Cecep

Klien mengerti
tentang teknik
relaksasi

Cecep

Klien mengerti
tentang penyebab
emfisema

Klien mengerti apa


yang dijelaskan
oleh perawat

Klien tampak
tenang setelah
mendengar
penjelasan dari
perawat

pentingnya menjaga
kesehatan
15.00

Menguatkan rasional
pengobatan

Cecep

27-04-10
09.45

Menjelaskan kepada
klien penyebab ssak

Cecep

napas
10.00

Membatasi
pengunjung

10.45

Mempertahankan
tirah baring

11.30

Mengajarkan
tekhnik relaksai

12.10

Mendiskuksikan
dengan klien tenteng
penyebab emfisema

13.35

Menjelaskan kepada
klien tentang resiko
terjadinya emfisema

14.25

Menganjurkan klien
untuk tenang dan
tidak cemasdengan
penyakitnya

Cecep
Cecep

Cecep

F. EVALUASI / CATATAN PERKEMBANGAN


Nama

: RIO

Umur

: 50 tahun

No register

: 2176

Ruangan

: Mawar

Tanggal

No

28-04-10

Evaluasi/ Catatan Perkembangan

Paraf

S : Pasien mengatakan sesak nafas berkurang


Cecep

09.55

O : - Ekspresi wjah pasien tidak tampak cemas lagi


- Pasien tidak gelisah lagi
- Pasien tidak memegang dada lagi
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan

29-04-10

S : Pasien sudah mengerti tentang penyakitnya


Cecep

11.00

O:-

Pasien tidak tampak cemas lagi


Pasien tidak bertanya- Tanya lagi tentang penyakitnya

A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jadi secara umum emfisema adalah suatu perubahan anatomis parenkim paru yang
ditandai dengan pelebaran dinding alveolus, duktus alveolaris dan destruksi dinding alveolar
yang terjadi sedikit demi sedikit selama bertahun-bertahun. Biasanya mulai pada pasien perokok
yang berkisar 15-25 tahun.
Pada umur 25-35 tahun mulai timbul perubahan pada saluran nafas kecil dan fungsi paru. Umur
35-45 tahun timbul batuk yang produktif. Pada umur 45-55 tahun terjadi sesak nafas, hipoksemia
dan perubahan spirometri. Pada umur 55-60 tahun sudah ada kor-pulmonal, yang dapat
menyebabkan kegagalan nafas dan meninggal dunia.

B. SARAN

Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi penulis sendiri
khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.Bagi para pembaca diharapkan dapat mengatur
pola hidup sehat mulai dari sekarang seperti tidak merokok, menghidari linkungan polusi dan
bila perlu dapat dilakukan vaksinasi.

DAFTAR PUSTAKA:
Baughman,D.C & Hackley,J.C.2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2001
Mills,John & Luce,John M.1993. Gawat Darurat Paru-Paru. Jakarta : EGC
North American Nursing Diagnosis Association.(2006).Nursing Diagnosis.philadelphia:The
Nort American Nursing Diagnosis Asossiation.
Perhimpunan Dokter Sepesialis Penyakit Dalam Indonesia. Editor Kepela : Prof.Dr.H.Slamet
Suryono Spd,KE
Soemarto,R.1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Surabaya : RSUD