Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR

GOLONGAN DARAH PADA MANUSIA













NAMA : YENNY RAHMA
NIM : 120210103101




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012



I. JUDUL : Golongan Darah pada Manusia

II. TUJUAN
Setelah selesai praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan
penggolongan darah manusia.

III. DASAR TEORI
Golongan darah adalah hasil dari pengelompokan darah berdasarkan ada atau
tidaknya substansi antigen pada permukaan sel darah merah (eritrosit). Antigen
tersebut dapat berupa karbohidrat, protein, glikoprotein, atau glikolipid. Golongan
darah manusia bersifat herediter, dan sangat tergantung pada golongan darah kedua
orang tua manusia yang bersangkutan. Saat ini sudah dikenal puluhan sistem golongan
darah, namun sistem yang paling umum dikenal di dunia hanya ada beberapa. Di
antaranya adalah sistem ABO yang diperkenalkan Karl Landsteiner (1868-1943) pada
tahun 1903, sistem Rhesus yang diperkenalkan Landsteiner juga pada tahun 1937, dan
sistem MNS (sekretor dan nonsekretor). Landsteiner mulanya menemukan 3 golongan
darah saja pada tahun 1900, yaitu A,B, dan O. Golongan AB baru ditemukan 2 tahun
kemudian, itu pun oleh Decastrello dan Sturli (bukan oleh Landsteiner) (Anonim,
2012).
Orang dibagi atas beberapa golongan berhubungan dengan berbedanya
terdapat susunan protein darahnya. Protein memgang peranan untuk ini ialah antigen
dan agglutinin (antibody). Antigen, protein yang terdapat dalam eritrosit, agglutinin
dalam plasma. Agglutinin akan menyerang antigen darah segolongan orang tapi tidak
darah yang segolongan dengan dia. Agglutinin yang menyerang antigen itu
menyebabkan terjadinya penggumpalan (agglutinasi) (Yatim, 1987: 211-212).
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan antigen, berikut kombinasi
yang mungkin terjadi:
Individu dengan A pada sel darah merahnya, memiliki anti B pada plasmanya.
Individu dengan B pada sel darah merahnya, memiliki anti A pada plasmanya.
Individu dengan A dan B pada sel darah merahnya, tidak memiliki anti A maupun
anti B pada plasmanya.
Individu tidak terdapat zat A dan B pada sel darah merahnya, memiliki anti A
maupun anti B pada plasmanya (Tim Dosen Pembina, 2012: 24-25)
Sistem ABO yang sering digunakan yaitu ditemukan oleh K. Landsteiner,
menggolongkan darah manusia menjadi 4 macam diantaranya:
Golongan darah A, yaitu apabila didalam sel darah merahnya mengandung
aglutinogen A dan serumnya dapat membuat agglutinin (beta).
Golongan darah B, yaitu apabila didalam sel darah merahnya mengandung
aglutinogen B dan serumya dapat membuat agglutinin (alfa).
Golongan darah AB, yaitu apabila didalam sel darah merahnya, mengandung
aglutinogen A dan aglutinogen B, tetapi anti serumnya tidak dapta membuat
agglutinin.
Golongan darah O, yaitu apabila didalam sel darah merahnya tidak terdapat
aglutinogen, tetapi serumnya dapat membuat agglutinin alfa dan agglutinin beta
(Waluyo, 2010: 172-173).
Transfusi darah yaitu pemberian darah dari seseorang yang disebut donor
kepada seseorang yang membutuhkan darah yang disebut resipien (Kirana, 2009: 64).
Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi
transfuse imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan
kematian (Mustaqib, 2007). Golongan darah A tidak dapat memberikan darah pada
golongan darah B, dan sebaliknya, sebab bisa terjadi aglutinasi. Golongan darah O
hanya dapat menerima darah O saja, tetapi dapat memberikan kepada semua golongan
(donor universal). Golongan darah AB hanya dapat memberikan darahnya kepada
golongan darah AB saja, tetapi dapat menerima dari semua golongan (resipien
universal) (Waluyo, 2010: 173).
Jenis penggolongan darah lain, selain system ABO adalah sistem rhesus.
Rhesus adalah protein (antigen) yang terdapat pada permukaan sel darah merah.
Sistem penggolongan berdasarkan rhesus ini ditemukan oleh Landsteiner dan Wiener
tahun 1940. Disebut rhesus karena saat itu Landsteiner-Wiener melakukan riset
dengan menggunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera
yang banyak dijumpai di India dan Cina. Mereka yang mempunyai faktor protein ini
disebut rhesus positif. Sedangkan yang tidak memiliki faktor protein ini disebut rhesus
negative (Prasetyo, 2012). Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan
penggolongan ABO. Golongan darah

adalah yang paling umum dijumpai,


meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa
daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B. Kecocokan faktor rhesus
amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengna


sedangkan resipennya

dapat menyebabkan produksi antibody terhadap antigen


Rh(D) yang mengakibatkan hemolisis (Mustaqib, 2007).
Dalam system MNS orang dibagi atas berbagai jenis: MS, MNS, NS, Ms,
MNs, dan Ns. Disini juga hanya ada antigen pada eritrosit, tapi tak ada agglutin dalam
plasma (Yatim, 1987).

IV. ALAT DAN BAHAN
4.1 Alat : 1. Mikroskop
2. Tusuk gigi
3. Pinset
4. Pensil
5. Lanset/jarum steril
6. Gelas obyek

4.2 Bahan : 1. Serum A dan B
2. Alkohol 70%
3. Kapas
4. Darah segar manusia

V. LANGKAH KERJA













Menarik garis tengah lurus pada sisi panjang yang
membagi sisi gelas obyek menjadi dua bagian yang
sama menggunakan pensil. Meletakkan gelas objek
pada selembar kertas putih dan menuliskan A di
pojok kiri atas dan B di pojok kanan atas gelas
objek.


































Mencuci tangan, mengambil kapas lalu menceluplan
ke dalam alkohol dan menggosokkan pada ujung jari
manis. Membiarkan alkohol kering lalu menusuk
bagian tersebut dengan lenset. Menempatkan setetes
darah pada bagian A dan B gelas obyek.
Menutup bekas tusukan dengan kapas yang telah
dicelupkan ke dalam alkohol.
Meneteskan serum anti A pada bagian A dan serum
anti B pada bagian B. Mengaduk pada masing-
masing bagian dengan tusuk gigi.
Membandingkan kedua bagian A dan B pada
gelas obyek , jika :
a. Terjadi penggumpalan pada bagian A,
bergolongan darah A.
b. Terjadi penggumpalan pada bagian B,
bergolongan darah B.
c. Terjadi penggumpalan pada bagian A dan B,
bergolongan darah AB.
d. Tidak terjadi penggumpalan, bergolongan
darah O.
VI. HASIL PENGAMATAN
No. Nama Probandus Golongan Darah Bagian A Bagian B
1 Ratna Sari A



2 Nur Faizah B



3 Lailatul Jannah A



4 Ayuni Puji R. B



5 Rizana Istna Amalia A



6 Yenny Rahma A




VII. PEMBAHASAN
Hasil pemeriksaan golongan darah pada keenam probandus menunjukkan
bahwa probandus 1, 3, 5, dan 6 bergolongan darah A sedangkan probandus 2 dan 4
bergolongan darah B.
Pengamatan dilakukan pada salah satu anggota kelompok kami yaitu sampel
darah saya sendiri (Yenny Rahma). Yang menjadi 2 bagian pada gelas obyek yaitu
bagian A dan B. Pada bagian A ditetesi serum anti A dan pada bagian B ditetesi serum
anti B. Setelah diaduk, tejadi penggumpalan darah pada bagian A dan tidak terjadi
penggumpalan darah pada bagian B. Dapat dikatakan pada bagian A mengandung
aglutinogen A karena serum anti A bersifat menggumpalkan darah yang mengandung
aglutinogen A dan tidak mengandung aglutinogen B, sedangkan serum anti B bersifat
menggumpalkan darah yang mengandung aglutinogen B. Hal ini juga terjadi pada
sempel darah Ratna Sari, Lailatul Jannah, dan Rizana Istna Amalia. Sehingga dapat
diartikan bahwa keempat sempel darah tersebut merupakan golongan darah A karena
menurut teori jika terjadi penggumpalan pada bagian A maka bergolongan darah A.
Selain itu pengamatan dilakukan pada sempel darah Nur Faizah dan Ayuni
Puji R. yang dibagi menjadi 2 bagian pada gelas obyek yaitu bagian A dan bagian B.
Pada bagian A ditetesi serum anti A dan pada bagian B ditetesi serum anti B. Setelah
diaduk terjadi penggumpalan pada bagian B dan tidak terjadi penggumpalan pada
bagian A. Hal ini berarti pada bagian A tidak mengandung aglutinogen A dan pada
bagian B mengandung aglutinogen B, karena sifat serum anti B dapat menggumpalkan
aglutinogen B. Menurut teori jika terjadi penggumpalan pada bagian B yang ditetesi
serum anti B maka bergolongan darah B.
Golongan darah manusia dibedakan berdasarkan komposisi aglutinogen dan
agglutininnya. Aglutinogen adalah antigen dalam eritrosit yang membuat sel peka
terhadap aglutinasi (penggumpalan darah), sedangkan agglutinin adalah substansi
dalam plasma darah yang menyebabkan aglutinasi. Sistem golongan darah ada 3 yaitu
sistem ABO, sistem Rhesu, dan sistem MNS.
Sistem ABO dibagi menjadi empat macam golongan darah yaitu golongan
darah A jika mengalami penggumpalan saat ditetesi serum anti A dan tidak
menggumpal jika ditetesi serum anti B. Golongan darah B jika mengalami
penggumpalan saat ditetesi srum anti B dan tidak menggumpal saat ditetesi serum anti
A. Golongan darah AB jika mengalami penggumpalan saat ditetesi serum anti A dan
ditetesi serum anti B. Golongan darah O jika tidak mengalami penggumpalan saat
ditetesi serum anti A dan serum anti B.
Sistem Rhesus ditentukan berdasarkan ada atau tidaknya faktor Rh. Jika ada
(

) dan jika tidak ada (

). Sistem MNS ditentukan berdasarkan ada atau


tidaknya antigen M atau N.

VIII. PENUTUP
8.1 Kesimpulan
Penggolongan darah yang digunakan dalam praktikum ini adalah sistem ABO
dimana sistem ABO didasarkan pada aglutinogen dan agglutinin yang terdapat dalam
sel-sel darah. Dapat dikatakan bahwa golongan darah tergantung pada antigen-antigen
yang terdapat pada permukaan sel-sel darah merah. Dimana antigen ini akan bereaksi
dengan antiserum yang sesuai, sehingga dalam reaksi tersebut akan terjadi
penggumpalan dan penggumpalan inilah yang menjadi kunci utama penggolongan
darah pada manusia. Terdapat empat macam golongan darah pada sistem ABO, yaitu
golongan darah A, golongan darah B, golongan darah AB, dan golongan darah O.
Dikatakan golongan darah A jika mengalami penggumpalan saat ditetesi serum
anti A dan tidak menggumpal jika ditetesi serum anti B. Golongan darah B jika
mengalami penggumpalan saat ditetesi srum anti B dan tidak menggumpal saat
ditetesi serum anti A. Golongan darah AB jika mengalami penggumpalan saat ditetesi
serum anti A dan ditetesi serum anti B. Golongan darah O jika tidak mengalami
penggumpalan saat ditetesi serum anti A dan serum anti B. Hal ini terjadi karena
serum anti A bersifat menggumpalkan darah yang mengandung aglutinogen A dan
tidak mengandung aglutinogen B, sedangkan serum anti B bersifat menggumpalkan
darah yang mengandung aglutinogen B. Aglutinogen adalah antigen dalam eritrosit
yang membuat sel peka terhadap aglutinasi (penggumpalan darah), sedangkan
agglutinin adalah substansi dalam plasma darah yang menyebabkan aglutinasi.

8.2 Saran-saran
Diharapkan kepada para praktikan agar memahami terlebih dahulu materi tentang apa
yang akan dipraktikumkan agar praktikum berjalan dengan lancar dan waktu yang digunakan
efisien. Dan diharapkan kerja sama antar kelompok praktikan saling di jaga serta di adakan
pembagian tugas setiap anggota kelompok agar tidak terjadi dominan kerja di salah satu
anggota dan agar setiap anggota dapat melaksanakan praktikum dengan baik.

IX. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Golongan Darah 1. http://www.rhesusnegatif.com.
Kirana, Candra. 2009. Biologi. Klaten: Viva Pakarindo.
Mustaqib. 2007. Fisiologi 1: Sel Darah, Imunitas dan Pembekuan Darah. Jember:
Universitas Jember.
Prasetyo, Agustinus Hartono. 2012. Mengenal Resus Darah.
http://infosehat09hartonoprasetyo.wordpress.com.
Waluyo, Joko. 2010. BIOLOGI UMUM. Jember: Universitas Jember.
Yatim, Wildan. 1987. Biologi. Bandung: Tarsito.