Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perkembangan ilmu gizi telah berkembang pesat di dunia. Sehingga banyak
metode untuk mengetahui status gizi dan zat gizi yang dibutuhkan individu
maupun populasi. Hal yang sering dilakukan adalah Nutritional Assessment.
Yaitu, dengan cara mengumpulkan, mengidentifikasikan, menganalisis, dan
mengiterpretasikan informasi untuk menentukan status gizi kesehatan individu
maupun kelompok yang dipengaruhi oleh intake makanan, kecukupan gizi, dan
energi yang digunakan.
Dalam melakukan penilaian terhadap intake makanan dilakukan dengan
metode dietary assessment. Metode ini merupakan metode langsung terhadap
subyek dan cara yang sensitif untuk mengatasi permasalahan gizi awal. Salah satu
metode dietary assessment yang akan dibahas penulis adalah Vitamin A Semi
Quantitative (VASQ). Karena vitamin A merupakan salah satu zat gizi mikro
yang dibutuhkan untuk tubuh dalam proses pertumbuhan, reproduksi dan
deferensiasi sel (Viveka Persson, et al, 2002). Dari beberapa penelitian
menyatakan bahwa vitamin A masih rendah di konsumsi oleh masyarakat.
Penilaian asupan makanan dengan metode tersebut bertujuan untuk
mengukur apakah makanan yang dikonsumsi oleh seseorang cukup atau belum
sesuai dengan kebutuhan yang ditentukan.Dalam studi yang dilakukan Nutrition
and Health Surveillance System (NHSS), dan Departemen Kesehatan (2001) pada
makalah Rani (2012) menunjukkan sekitar 50% anak Indonesia usia 12-23 bulan
tidak mengkonsumsi vitamin A dengan cukup dari makanan sehari-hari. Menurut
WHO (2001) dalam makalah Rani (2012) melaporkan bahwa setiap 1 menit, 12
orang anak di dunia menjadi buta, dan 4 di antaranya bermukim di Asia Tenggara
(Arisman, 2005). Untuk perbaikan intake vitamin A harus dilakukan sedini
mungkin karena dapat mempengaruhi masa yang akan datang.
Oleh sebab itu, perlunya penulis membahas Vitamin A Semi Quantitative
(VASQ). Supaya pembaca lebih memahami dan dapat menginterventasikan dalam
2

kehidupan sehari-hari Sehingga dapat mengetahui banyaknya asupan vitamin A
dan membantu dalam evaluasi peningkatan intake vitamin A.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud metode Vitamin A Semi Quantitative (VASQ)?
1.2.2 Bagaimana prinsip metode Vitamin A Semi Quantitative(VASQ)?
1.2.3 Bagaimana prosedur pelaksanaan metode Vitamin A Semi
Quantitative(VASQ)?
1.2.4 Apa saja kelebihan, kekurangan, dan sumber kesalahan metode Vitamin A
Semi Quantitative(VASQ)?
1.2.5 Bagaimana modelform metode Vitamin A Semi Quantitative(VASQ)?

1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Mengetahui tentang metode Vitamin A Semi Quantitative (VASQ).
1.3.2 Mengetahui prinsip metode Vitamin A Semi Quantitative (VASQ).
1.3.3 Memahami prosedur pelaksanaan metode Vitamin A Semi Quantitative
(VASQ).
1.3.4 Mengetahui kelebihan, kekurangan, dan sumber kesalahan metode
Vitamin A Semi Quantitative (VASQ).
1.3.5 Memahami model form metode Vitamin A Semi Quantitative (VASQ).












3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Metode Vitamin A Semi Quantitative (VASQ)
Metode Vitamin A Semi Quantitative (VASQ) merupakan salah satu dari
dietaryassessment yang menggunakan dasar kuesionerrecall24-jamdan untuk
memperkirakan asupan vitamin A dengan menghitung dan mengukur data
berdasarkan jumlah asupan atau intake makanan dari suatu populasi dengan
metode yang relative cepat dan sederhana (Saskia, et.al, 2006). Metode 24 hours
VASQ ini didasarkan pada kuisioner recall 24 hours mengenai makanan dan
minuman yang telah dikonsumsi oleh responden dengan detail mulai dari
komposisi bahan makanan dan ukuran perporsinya (Rani, 2012). Namun VASQ
kurang akurat apabila hanya dilakukan hanya untuk individu, lebih baik
digunakanuntuk suatu populasi supaya mengetahui perkembangan Vitamin A
pada populasi itu. Metode VASQ jugamemonitor perubahan asupan dalam ruang
waktu,membandingkan asupan antar populasi, mengidentifikasikontribusi dari
empat kelompok makanan yang berbeda, yaitu sayuran,buah-buahan, makanan
hewan dan fortified foodsterhadap kandungan vitamin A serta mengidentifikasi
populasi yang berisiko kekurangan vitamin A (Humairah, 2011).

2.2 Prinsip Metode Vitamin A Semi Quantitative(VASQ)
Dalam melaksanakan VASQ, sudah ditentukan dalam beberapa penelitian
yang telah dilakukan bahwa terdapat perbedaan vitamin A yang signifikan dari
hewani, nabati baik sayuran maupun buah-buahan dan bahan makanan yang sudah
melakukan fortifikasi. Dan kemungkinan sulit dalam mengidentifikasikan
makanan yag berasal dari berbagai bahan makanan. Oleh sebab itu,metode
inimengalami modifikasi yaitu mengandung 10kelompok makanan (food code):3
kelompokuntuk sayuran, 3 kelompokuntuk buah-buahan, 3 kelompokuntuk
makanan hewani, dan 1 grup untukmakanan yang difotifikasi. Untuk hidangan
campuran,setiap bahan-bahan yang digunakan harus dikodekan secara
terpisah,untuk kelompokmakanan serta untuk kategori kandungan vitamin A.

4

Dari beberapa penelitian menyatakan bahwa metode tersebut menghasilkan
data tentang asupan vitamin A dengan memiliki kaitanpada konsentrasi serum
retinol secara dosis-responsif (Saskia, 2006). Karena asupan vitamin A atau
kandungan vitamin A pada makanan berbeda-beda setiap daerah, karena
tergantung pada ketersediaan bahan makanan,kebiasaan makanan suatu daerah,
dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi bahan makanan tersebut. Sasaran
yang biasanya digunakan untuk VASQ adalah semua populasi. Dan hasilnya akan
lebih akurat apabila responden memiliki ingatan mengenai makanan dengan baik.
Kuesioner 24-hr recalldigunakan untuk populasi dengan menjelaskan
semuamakanan dan minuman yang dikonsumsi selama satu hari sebelumnya,
denganrincian mendetail padabahan yang digunakan per sajiansertaukuran
porsinya.Setiap bahan yang mengandung vitamin A kemudian dikategorikan
dengan menggunakan dua kode, kode makanan (food code), berdasarkan jenis
makanan dan kandungan vitamin A, sertakode kandungan vitamin A(content
code), berdasarkan pada jumlahvitamin A dalam jumlah bahan yang dikonsumsi
(Saskia, 2006).
Tabel 1: Food Code

Tabel 2: Vitamin A Content Code

5

Sedangkan dalam Metode24-VASQ juga dapat dilakukan untuk perhitungan
di ASI untuk asupan Vitamin A pada bayi karena jumlah vitaminA yang cukup
besar dariASI. Menurut Saskia (2006), asumsi kandungan vitaminApada ASIdari
ibudi negara yang sedang berkembang adalah sekitar1,00mol/ L(setara
dengan571RE /L). Rinciannya adalah:

Tabel 3: Vitamin A Content Code pada ASI


Namun, sangat sulit untuk menilai asupan vitamin A dari ASIpada tingkat
individu. Oleh karena itu, hubungan antara asupan vitamin Aintake dan status
vitamin A mungkin harus dianalisis secara terpisah untuk sebagian anak-anak
yang menyusu dan untuk anak-anak yang tidak disusui lagi.
Dalam pengembangan daftar makanan (food list) harus menetapkan dan
menentukan makananyang sesuai dan kode kandungan vitamin A,
setelahmengumpulkandata 24hr-recall,dengan ketentuan dalam daftar makanan
terdapat kandunganVitamin Aper 100g, kode makanan, dan ukuran porsiyang
paling umum, ukuran jumlah dalam gramdan jumlahRE yang
terkandungdalamgram.
Daftar iniakan mudah untukdigunakan saatmakananyangdicantumkan dalam
urutan abjadperkategorimakanan(sayuran, buah-buahan, makanan
hewani,makanan fortifikasi). Ketikamembuatdaftarmakanan, hal ini sangat
penting untuk disadari, karena perbedaandalambioavailabilitaskarotenoid,
misalnya padlabu danubi jalardikategorikan sebagaibuah,sedangkan
worteldikategorikan sebagaisayuran.Sebagian besar hal yangdibutuhkan
6

sebelummenggunakan metode24hr recall-VASQ ini adalah diperlukannya
penyusunandaftar makanan (food list).Dan memungkinkan ada beberapa bahan
makanan yang masih terbatas (istilah bahan makanan belum tercantum dalam food
list) serta dikonsumsi secara berkala oleh responden.
Akurasi dalammemperkirakan ukuran porsi. Sehubungan
denganmemperkirakan ukuranporsi daribahanyang dikonsumsi,ketika memasukan
data padakuesioner24-hoursrecall, akurasi haruscukup untukdapat
menetapkankode kandungan vitamin A(content code) dengan sesuai.Karena kode
itu mengacu padakategori dengankisaran kandungan vitamin A yang
relatifluas,para peneliti lapanganakan menemukan bahwaperkiraan yangrelatif
kasardari jumlahbahanyang dikonsumsisering dianggapcukup
untukmenetapkankode kandungan vitamin A(content code).
Perkembangan dari daftar makanan (food list) yang dapat digunakan pada
kebutuhan peneliti lapangan, terpisah dari pengidentifikasian ukuran porsi,
memperkirakan berat dan menghitung kandungan vitamin A yang terkandung, hal
lain yang perlu diperhatikan adalah pemilihan nilai terbaik yang tersedia untuk
kandungan vitamin A (RE/100 g) pada setiap bahan makanan. Karena banyak
tabel komposisi makanan, terutama yang digunakan di negara berkembang,
seringkali didasarkan padaspektrofotometri analisis, yang mana sering melebih-
lebihkan kandungan provitamin A, kehati-hatian diperlukan ketika akan
memutuskan data mana yang akan digunakan untuk menentukan kandungan
vitamin A pada sayur dan buah. Dalam koreksi, sayuran dikalikan dengan 0.23
dan buah-buahan dikalikan 0.5 (Saskia, 2006).Sehingga perlu adanya koreksi
lebih lanjut untuk menentukan kandungan Vitamin A yang sesuai. Untuk
makananhewanitidak adakoreksiyang diperlukan.Untukmakanan yang
terfortifikasi tergantung padafortificant yangdigunakan.Ketikaretinoldigunakan
untukfortifikasi,koreksitidak diperlukan,tetapi ketika-karotentelah digunakan,
koreksi harus digunkan sesuia penelitian yang ada.
Setelah kuisioner24-hoursrecalltelah dilakukan dan kode telah ditetapkan
dengan tepat,kode-kode ini perludiringkasdalam tabel lain, yangjuga dapat
digunakanuntuk masukan data. Sepertiform ringkasan. Pada tiap barisdari form
ringkasan ini, total dalam kolom frekuensiharus sama dengantotaldari enam
7

kolom kandungan vitamin A selanjutnya.Berdasarkanringkasan ini, asupan
vitaminA dapatdihitung per kodemakanan,per kelompokmakanan (sayuran, buah,
makanan hewan, danmakanan terfortifikasi), serta totalnya.Dari
caradatadirangkum, juga dimungkinan untuk
menghitungfrekuensiasupanmakanan dari kelompokberbagai makanan(V1, V2,
V3, F1dll)

2.3 ProsedurPelaksanaan Metode Vitamin A semi Quantitative (VASQ)
Dalam melakukan metode VASQ harus sesuai dengan prosedur yang tersedia
supaya menghasilkan data yang valid. Prosedur VASQ (Saskia, 2006) adalah:
a. Kelompokkan makanan yang biasanya dikonsumsi di daerah survei dengan
mengelist makanan.
b. Kumpulkan data makanan yang mengenaikandungan vitamin A dan sususnlah
tabel komposisi kandungan vitamin A pada makanan.
c. Kumpulkan informasi pada ukuran porsi yang paling umum digunakan dan
jumlah gram tiap ukuran porsi bahan makanan yang dimakan.
d. Menyusun daftar makanan yang mengandung vitamin A
e. Apabila persiapan awal dalam 24 hours recall untuk VASQ telah siap maka
lakukan 24-hours recall kepada responden dengan menanyakan makanan yang
sebelumnya pernah dimakan .
f. Berdasarkan data dari 24 hours recall, maka tentukan food code dengan melihat
sample food list.Setelah menentukan food code, tentukan Vitamin A Content
Code berdasarkan porsi yang dikonsumsi. Sample food list juga dapat
membantu dalam menentukan Vitamin A content code.Selanjutnyadengan
menggunakan summary form. Untuk menetapkan kode makanan dan
kandungan vitamin A yang sesuai, setelahmengumpulkan data 24-hr recall,
pewawancara membuat list tentang daftar makanan, yaitu kandungan vitamin
A per 100 gr, Food codes (kode makanan), dan porsi yang biasa dikonsumsi
(gr).
g. Memilih komposisi makanan sesuai data yang digunakan dengan
mengidentifikasi porsi ukuran, memperkiraan berat badan, menghitung
8

kandungan vitamin A, dan memilih kandungan vitamin A yang paling baik
(re/100 gr)
h. Akurasi dalam mengukur ukuran porsi makanan Untuk menetapkan vitamin A
yang terkandung dalam bahan makanan, akurasi harus cukup teliti sesuai
dengan kode kandungan makanannya. Misalnya: 1 sdm cabai merah besar,
dengan kandungan vitamin A 150 RE/100 g, memiliki berat 25 gr dan
mengandung 38 RE. Dilihat dari contoh tersebut, kandungan vitamin A
dipengaruhi juga oleh jumlah yang dikonsumsi. Jadi perhitungannya harus
detail supaya hasilnya tepat. Namun ada beberapa bahan makanan yang tingkat
akurasinya besar dengan jumlah kecil yaitu wortel dan hati.
i. Menyimpulkan Data dan Menghitung Asupan dari data kuisioner 24 hours
recall dalam populasi, menentukan food code, meringkas kode dalam tabel
yang sudah ada, dan menyimpulkan kandungan vitamin A yang telah di
konsumsi dengan membandingkan intake konsumsi vitamin A yang seharusnya
digunakan.
j. Melakukan 24-hours recalldi hari berikutnya kepada responden untuk
mengetahui rata-rata intake vitamin A

2.4 Kelebihan, Kekurangan, dan Sumber KesalahanMetode Vitamin A Semi
Quantitative(VASQ)
2.4.1 Kelebihan Metode Vitamin A Semi Quantitative (VASQ)
a. Memberikan hitungan intake zat gizi vitamin A dalam sehari degan
secara nyata
b. Dalam pelaksanaannya mudah dilakukan, cepat penyelesaiannya, tidak
merepotkan responden, dan biaya relatif murah.
c. Biaya relatif murah karena tidak memerlukan peralatan khusus,
pelatihan khusus, dandapat dilakuakan untuk populasi
d. Dapat dientervensikan untuk orang normal dan orang berkebutuhan
khusus

2.4.2 Kekurangan Metode Vitamin A Semi Quantitative (VASQ)
9

a. Harus mengetahui lebih detail tentang bahan makanan yang terkandung
dalam seporsi makanan yang di konsumsi
b. Apabila melakukan recall kepada responden hanya sehari, maka belum
bisa mengetahuai rata-rata asupan vitamin yang dikonsumsi tiap hari.
c. Terkadang tidak valid, karena bergantung pada data dari responden
yaitu ingatan responden tentang apa saja yang di makan sebelumnya.
d. The flat slope syndrome, yaitu kecenderungan bagi responden
yangkurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over
estimate)dan bagi responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih
sedikit(under estimate)(Saskia, 2006).
e. VASQ kurang cocok apabila 24-hours recall ditanyakan langsung
kepada anak-anak dan lanjut usia karena dipengaruhi oleh ingatann
yangbelum atau kurang baik saat menginjak usia seperti itu.
f. Cenderung terjadi kesalahan dalam menentukan porsi yang dikonsumsi
sehingga mempengaruhui dalam penilaian intake vitamin A.
g. Tidak dapat menghitung variasi konsumsi makanan individu sehari-
hari.
h. Pewawancara harus mempunyai skill yang bagus dan alat yang
digunakan banyak untuk pewawancara yang masih pemula.
i. Terjadinya perlawanan dari responden atas ketidaknyamanan ketika
diwawancarai.
j. Terjadinya kesalahan pada pengkodean makanan dalam database
sehingga akan menyebabkan kesalahan dalam menentukan kandungan
vitamin A dalam makanan yang dikonsumsi.

2.4.3 Sumber Kesalahan pada Metode 24 hoursrecall VASQ
a. Kesalahan dari pengumpul data
Pengaruh situasi, misalnya perbedaan sikap pewawancara di rumah
responden, karena ada orang lain yang ikut mendengarkan dan
keinginan untuk merahasiakan data responden.
Pengaruh sikap bertanya, dalam mengarahkan jawaban, mencatat
hasil wawancara atau sengaja membuat data sendiri.
10

Kesalahan dalam mengkonversikan makanan ke dalam ukuran
rumah tangga.
b. Kesalahan dari responden
Terbatasnya ingatan responden dan kemungkinan responden salah
dalam memperkirakan makanan yang dikonsumsi kedalam URT.
Kecenderungan menambah-nambahkan atau mengurang-ngurangi
makanan yang dikonsumsi sehingga asal-asalan dalam menjawab
pertanyaan dari responden
c. Kesalahan karena alat
Ketidaktepatan dalam mengkonversikan makanan yang dikonsumsi
ke dalam URT.
d. Kesalahan dari DKBM
Kesalahan penentuan nama bahan makanan yang digunakan.
Perbedaan kandungan zat gizi dari makanan yang tidak sama, karena
tingkat kematangan, tanah dan pupuk yang dipakai tidak sama.
Tidak adanya komposisi informasi mengenai komposisi makanan
jadi atau jajanan.
e. Kesalahan karena kehilangan zat gizi dalam proses pemasakan,
perbedaan penyerapan dan penggunaan zat gizi tertentu berdasarkan
perbedaan












11



2.5 Contoh Model Form Metode VASQ

Tabel 4: 24 hours recall


Sumber: Billin. 2012. Model Form VASQ. Gizi Kesehatan Universitas Brawijaya

Tabel 5: Summary Form Tabel 6: Kesimpulan

Sumber: Billin. 2012. Model Form VASQ. Gizi Kesehatan Universitas Brawijaya




12



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Metode Vitamin A Semi Quantitative (VASQ) merupakan salah satu dari
dietaryassessment yang menggunakan dasar kuesionerrecall24-jamdan
untuk memperkirakan asupan vitamin A dengan menghitung dan
mengukur data berdasarkan jumlah asupan atau intake makanan dari suatu
populasi dengan metode yang relative cepat dan sederhana
3.1.2 Metode VASQ mengalami modifikasi yaitumengandung 10kelompok
makanan (food code):3 kelompokuntuk sayuran, 3 kelompokuntuk buah-
buahan, 3 kelompokuntuk makanan hewani, dan 1 grup untukmakanan
yang difotifikasi. Untuk hidangancampuran,setiap bahan-bahan yang
digunakanharusdikodekansecara terpisah,untuk kelompokmakanan serta
untuk kategori kandunganvitaminA. Terdapat Enamkategori
untukkandungan vitamin A darimakanan yang dikonsumsi (content code),
yaitu: <20RE; 20-75RE; 76-150RE; 151-350RE; 351-750RE, dan>750RE.
Selain itu juga dapat dilakukan untuk perhitungan di ASI untuk asupan
Vitamin A pada bayi karena jumlah vitaminA yang cukup besar dariASI.
3.1.3 Prosedur yang dilakukan melakukan food list dan mengetahui food code
dan Vitamin A Content Code. Setelah persiapan semua selesai melakukan
24 hours recall kepada responden dan di interpretasikan sesuai cara kerja
VASQ. NamunVASQ kurang akurat apabila hanya dilakukan hanya untuk
individu, lebih baik digunakanuntuk suatu populasi supaya mengetahui
perkembangan Vitamin A pada populasi itu dan dilakukan tidak ahanya
satu kali supaya menentukan asupan Vitamin A yang valid dalam
kehidupan sehari-hari.
2.4.2 Metode Vitamin A Semi Quantitative (VASQ) memiliki kelebihan dan
kelemahan yang harus di pahami supaya dapat menjalankan metode
VASQ dengan baik Selain itu terdapat sumber kesalahan pada Metode
VASQ adalah kesalahan dari responden, alat, DKBM, dan pengumpul data
13


DAFTAR PUSTAKA

Saskia, et.al. 2006. 24 VASQ Method For Estimating Vitamin A Intake.
http://www.hki.org/research/ 24_VASQ_Method_VitA_Intake_2006.pdf. Diakses
pada 28 April 2014.

Humairatunnisa, 2011 VASQ Method And Nutrient Analysis. Jurusan Gizi Kesehatan
Universitas Brawijaya.

Youningsih, Rani. 2012. 24 Hours VASQ Method. Jurusan Gizi Kesehatan Universitas
Brawijaya. (online) http://www.scribd.com/doc/146593858/NA-VASQ. Di akses
tanggal 24 April 2014

Billin. 2012. Model Form VASQ. Gizi Kesehatan Universitas Brawijaya