Anda di halaman 1dari 59

Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK

UNIBA 2012 1

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang maha
pengasih dan maha penyayang. Dan segala rahmat dan kaunianyalah, sehingga makalah kami ini yang
berjudul PEMERIKSAAN CAIRAN selesai dengan baik. Dan tak lupa pula kita haturkan sholawat
serta salam kepada junjungan besar kita yaitu nabi muhaammad SAW. Karena beliaulah yang telah
mengantarkan kita dari alam kegelapan, alam jahiliyah menuju ke alam yang mulia, alam yang terang
benderang yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan pada saat ini.
Kami menyadari bahwa makalah kami ini tak luput dari yang namanya kesalahan, serta
kehilafan dalam penulisan, karena tidak ada satupun manusia yang sempurna di dalam dunia ini,
sehingga kami dari penyusun dan penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Selanjutnya Krtitik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan dan
butuhkan dengan tujuan untuk membangun serta perbaikan makalah kami yang selanjutnya.

Wassalam

Batam, 28 sep 2013



Penyusun






DAFTAR ISI
Kata pengantar
Daftar isi
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 2

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Tujuan
C. Scenario
D. Seven jump
Kata sulit
Kata kunci
Kunci permesalahan
Analisa masalah
Tujuan umum tujuan khusus
Mind mapping
BAB II PEMBAHASAN
o Pembahasan
Demam brdarah dengue
Tuberculosis paru
Pemeriksaan cairan
o Darah
o Cerebrospinal
o Sputum
o Pleura
o Urine
o Tinja
o Secret vagina/cerviks
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 3

BAB III PENUTUP
A. penutup
B. Saran
C. Daftar pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Seorang dokter harus mampu menyelesaikan masalah kesehatan berdasarkan
landasan ilmiah ilmu kedokteran dan kesehatan yang mutakhir untuk mendapat hasil yang
optimum. Hal ini merupakan kompetensi inti yang tercantum dalam Landasan Ilmiah Ilmu
Kedokteran Edisi Desember 2012 area kompetensi lima. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut
harus mengatahui alasan ilmiah dalam menentukan penatalaksanaan masalah kesehatan
berdasarkan etiologi, patogenesis, dan patofisiologi.
Pada umumnya diagnosis penyakit dibuat berdasarkan gejala penyakit yang
mengarahkan dokter pada kemungkinan penyakit penyebab. Hasil pemeriksaan laboratorium
dapat menunjang atau menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang menjadi penyebab.

I.2. Skenario
Anakku Dirawat Inap
Cika, seorang anak berusia 15 tahun di bawa ke UGD RSUD kota batam oleh
ayahnya karena sakit demam tinggi sejak tiga hari yang lalu. Cika juga muntah-muntah dan
mengeluh sakit ulu hatinya.Cika juga sempat mengalami mimisan sejak 2 hari yang lalu.Ayah
Cika sangat khawatir dengan kondisi anaknya sehingga segera di bawa ke RS.Ayah Cika juga
khawatir anaknya menderita demam berdarah karena dilingkungan rumahnya CIka saat ini
juga dalam pengobatan sakit paru-paru oleh dokter spesialis paru di diagnosis menderita TB
karena hasil positif pada pemeriksaan dahak Cika.Pemeriksaan dahak Cika dengan
pewarnaan khusus yaitu pewarnaan Zieehl-Nielseen.Pengobatan TB ini baru berjalan 2
minggu.
Di UGD setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dokter UGD, dokter
menganjurkan dilakukan pemeriksaan darah.Dari hasil pemeriksaan darah Cika positif
DBD.Dokter UGD menyarankan untuk dirawat inap sehinggaa dapat dilakukan pengobatan
lebih lengkap.Cika Dirawat dengan intensif di RS tersebut.Setelah beberapa hari dirawat Cika
juga menderita diare yang terus menerus.DIare disertai dengan lendir dan darah juga.Selama
dirawat Cika diambil juga sampel urin dan fesesnya.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 4

Selama dirawat Cika selalu ditemani oleh ayahnya.Cika juga satu ruangan rawat
inaap dengan penderita lainnya.Disebelah tempat tidur Cika ada seorang laki-laki berusia 40
tahun menderita penyakit paru-paru yang sedang diambil cairan pleura dan serebrospinal.
Ayah Cika sempat menanyakan kepada dokter yang merawat Cika, apakah Cika juga akan
diambil juga cairan pleura dan serebrospinal seperti pada pasien di sebelah Cika. Dokter
menjelaskan bahwa pemeriksaan sampel darah dan cairan tubuh lainnya harus berdasarkan
indikasi medis yang tepat sebelum diambil.Ayah Cika juga sempat menanyakan cairan tubuh
yang mana saja yang dapat diambil dari tubuh pasien. Dokter menjelaskan cairan tubuh yang
bisa diambil antara lain sampel darah, urin, feses, dahak, pleura, serebrospinal, sperma, secret
vagina dan serviks.
I.2.1 Kata Sulit
Serebrospinal (berkenaan dengan otak dan batang otak).cairan serebrospinal merupakan
cairan yang berada di otak dan sterna serta ruang subarachnoid yang mengelilingi otak
dan medulla spinalis. (www. kamuskesehatan.com)
Pleura merupakan membrane tipis terdiri dari dua lapisan yaitu pleura fiseralis dan
pleura parietalis. Cairan pleura adalah cairan yang mengisi pleura dan berfungsi sebagai
pelican bagi permukaan membrane dalam pergerakan masing-masing organ. (dr. Henny
Rahmar R.Y)
Pewarnaan Ziehl-Nielseen merupakan prosedur pewarnaan tahan-asam yang paling tua
terhadap Myobacterium spp, Nocardiaspp yang mensyaratkan bahwa pewarnaan primer
fuksin-karbol dipanasi sampai beruap selama proses pewarnaan (Buku Tinjauan Klinis
Hasil Pemeriksaan Laboratorium)
Mimisan adalah perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibatsebab local atau sebab
umum/kelainan sistemik (Klinik Dokter Kita)
Dahak dan lendir. Sputum adalah lendir dan materi lainnya yang dibawa dari paru-paru,
bronkus, dan trakea yang mungkin dibatukkan dan dimuntahkan atau ditelan.
(www.kamuskesehatan.com)
Intensif adalah secara bersungguh-sungguh dan terus menerus dalam mengerjakan
sesuatu hingga memperoleh hasil yang optimal
sekretadalah cairan yang dikeluarkan oleh semua membrane dan berfungsi untuk
meminyaki atau membasahi rongga yang diselaputinya. (Buku anatomi dan Fisiologi
untuk Paramedis)
Indikasi merupakan tanda-tanda yang menarik perhatian; petunjuk. (www.kbbi.web.id)

I.2.2 Kata Kunci
Cika berusia 15 tahun di bawa ke UGD karena demam tinggi sejak 3 hari yang lalu
Cika juga muntah-muntah dan sakit ulu hatinya
Mimisan sejak 2 hari yang lalu
Di lingkungan rumah Cika terdapat tetangga yang meninggal karena sakit demam
berdarah
Dari hasil pemeriksaan dahak, CIka positif TBC
Pemeriksaan dahak Cika dengan pewarnaan Ziehl-Nielseen
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 5

Hasil pemeriksaan dahak CIka positif TBC
Pengobatan TBC baru berjalan 2 minggu
Setelah beberapa hari dirawat Cika menderita diare yang terus menerus dengan disertai
lendir dan darah
Selama dirawat Cika diambil juga sampel urin dan fesesnya
Pemeriksaan sampel darah dan tubuh lainnya harus berdasarkan indikasi medis yang
tepat
Cairan tubuh yang bias diambil antara lain sampel darah, urin, feses, dahak, pleura,
serebrospinal, sperma, secret vagina dan serviks

I.2.3 Kunci Permasalahan
cika berusia 15 tahun dibawa ke RSUD Kota Batam karena demam tinggi,
muntah-muntah, mimisan dan kemudian dilakukan pemeriksaan cairan tubuh
berdasarkanindikasi medis
I.2.4 Analisa Masalah
Apa saja gelaja-gejala dan tanda-tanda yang timbul pada penderita TBC dan DBD?
Bagaimana proses pemeriksaan cairan tubuh?
Bagaimana keadaan normal cairan tubuh?
Bagaimana kriteria diagnose TBC dan DBD?
Apa saja syarat perawatan intensif secara umum?

I.2.5 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang pemeriksaan cairan tubuh
berdasarkan indikasi medis
I.2.6 Tujuan khusus
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang gelaja-gejala dan tanda-
tanda yang timbul pada penderita TBC dan DBD
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentangproses pemeriksaan cairan
tubuh
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang keadaan normal cairan
tubuh
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang kriteria diagnose TBC dan
DBD
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentangsyarat perawatan intensif
secara umum

I.2.7 Mind Map

Pemeriksaan
Cairan Tubuh
Macam
Tujuan
Indikasi
Sampel
darah
Urin
Feses
Pleura
CSS
Sputum
kriteria
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 6






BAB II
PEMBAHASAN

II. DBD
II. Kriteria Diagnosa DBD WHO 1997
1. Klinis :
- Demam mendadak tinggi, 2-7 hari (yang khas adalah tidak berkeringat dan baru
berkeringat setelah panas turun)
- Perdarahan spontan seperti petekie, epistaksis, hematemesis dll atau uji tourniquet / uji
bendung (+)
- Hepatomegali
- syok, nadi kecil dan cepat, tekanan nadi 20 mm Hg, atau hipotensi disertai gelisah dan
akral dingin.

2. Laboratorik :
- trombositopenia ( < 100.000)
- hemokonsentrasi (kadar Ht 20 % dari normal)

3. Beratnya penyakit :
a. Derajat I : demam dengan uji tourniquet (+)
b. Derajat II : Derajat I ditambah perdarahan spontan
c. Derajat III : nadi dan lemah, TN 20 mm Hg, hipotensi, akral dingin
d. Derajat IV : syok berat, nadi tak teraba, TD tak teratur.

Definisi Kasus Demam Dengue (DD)
Tersangka (probable): jika ada episode demam dengan sekurang-kurangnya 2 gejala di bawah
ini :
sakit kepala, nyeri retro-orbital, mialgia, arthralgia, rash, manifestasi perdarahan atau
leukopenia
dan ditunjang laboratorium serologis IgM-IgG, atau adanya kasus lain yang terbukti
demam dengue di sekitarnya
o Terbukti (confirmed) secara laboratorik
o Reportable ( dapat dilaporkan)
Definisi Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD):
Semua gejala berikut harus ada :
- Demam, riwayat demam 2-7 hari biasanya bifasik
- Kecenderungan perdarahan, sekurang-kurangnya salah satu dari berikut ini:
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 7

a. uji tourniquet positif
b.petekie, ekimosis atau purpura
c.perdarahan mukosa, GI, lokasi injeksi
d.hematemesis / melena
- Trombositopenia
- Bukti adanya kebocoran plasma, sekurang-kurangnya salah satu dari berikut ini:
a. nilai Ht meningkat
b.efusi pleura, asites dan hipoproteinemia.
TATALAKSANA
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma
sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat perdarahan. Pasien DD
dapat berobat jalan sedangkan pasien DBD dirawat di ruang perawatan biasa, tetapi pada
kasus DBD dengan komplikasi diperlukan perawatan intensif. Untuk dapat merawat pasien
DBD dengan baik, diperlukan perawatan intensif. Untuk dapat merawat pasien DBD dengan
baik, diperlukan dokter dan perawat yang terampil, sarana laboratorium yang memadai,
cairan kristaloid dan koloid, serta bank darah yang senantiasa siap bila diperlukan. Diagnosis
dini dan memberikan nasehat untuk segera dirawat bila terdapat tanda syok, merupakan hal
yang penting untuk mengurangi angka kematian.
Di pihak lain, perjalanan penyakit DBD sulit diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk
keadaan umumnya tampak baik, dalam waktu singkat dapat memburuk dan tidak tertolong.
Kunci keberhasilan tata-laksana DBD / SSD terletak pada para dokter untuk dapat mengatasi
masa peralihan dari fase demam ke fase penurunan suhu (fase afebris / fase kritis, fase syok)
dengan baik. Jadi pada saat suhu turun , observasi / pemeriksaan harus lebih sering (untuk
dapat segera mengetahui adanya syok).

Klasifikasi infeksi Virus Dengue ( DD / DBD )
DD/DBD
Derajat Gejala Tatalaksana
DD Demam akut 2-7 h disertai 1 / lebih gejala:
nyeri kepala, nyeri retroorbita, mialgia,
artralgia
Rawat jalan
DBD I Gejala tersebut di atas, ditambah uji
tourniquet positif
Rawat, Observasi di PKM /
RS tipe D/C
DBD II Gejala tersebut di atas, ditambah perdarahan
spontan
Rawat inap di PKM /RS
tipe D/C
DBD III Gejala tersebut di atas, ditambah kegagalan
sirkulasi:
Rawat inap di RS tipe
C/B/A
DBD IV Syok berat disertai tekanan darah dan nadi
tak terukur
Rawat inap di RS tipe B/A
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 8


Monitoring
Tanda vital dan kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara teratur untuk menilai
hasil pengobatan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada monitoring adalah,
Nadi, tekanan darah, respirasi, dan temperatur harus dicatat setiap 15-30 menit atau
lebih sering, sampai syok dapat teratasi.
Kadar hematokrit harus diperiksa tiap 4-6 jam sampai keadaan klinis pasien stabil.
Setiap pasien harus mempunyai formulir pemantauan, mengenai jenis cairan, jumlah,
dan tetesan untuk menentukan apakah cairan yang diberikan sudah mencukupi.
Jumlah dan frekuensi diuresis.
Kriteria Memulangkan Pasien
Pasien dapat dipulangkan apabila,
Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik.
Nafsu makan membaik
Tampak perbaikan secara klinis
Hematokrit stabil
Tiga hari setelah syok teratasi
Jumlah trombosit > 50.000/ul
Tidak dijumpai distress pernapasan (disebabkan oleh efusi pleura atau asidosis).

II. TBC
II. Kriteria Diagnosa
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisis/jasmani,
pemeriksaan bakteriologi, radiologi dan pemeriksaan penunjang lainnya.

II.1 Gejala klinik
Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan gejala
sistemik, bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratori
(gejala lokal sesuai organ yang terlibat)
1.Gejala respiratorik: batuk > 2 minggu, batuk darah, sesak napaS, nyeri dada. Gejala
respiratori ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat
tergantung dari luas lesi. Kadang pasien terdiagnosis pada saat medical check up. Bila
bronkus belum terlibat dalam proses penyakit, maka pasien mungkin tidak ada gejala batuk.
Batuk yang pertama terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk
membuang dahak ke luar.
2.Gejala sistemik: demam. Gejala sistemik lain adalah malaise, keringat malam, anoreksia
dan berat badan menurun
3.Gejala tuberkulosis ekstraparu. Gejala tuberkulosis ekstraparu tergantung dari organ yang
terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosis akan terjadi pembesaran yang lambat dan
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 9

tidak nyeri dari kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosis akan terlihat gejala
meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosis terdapat gejala sesak napas dan kadang
nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.

II.Pemeriksaan Jasmani
Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari organ yang
terlibat.
Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur paru.
Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali)
menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior
terutama daerah apeks dan segmen posterior (S1 dan S2) , serta daerah apeks lobus inferior
(S6). Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan antara lain suara napas bronkial, amforik,
suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum.
Pada pleuritis tuberkulosis, kelainan pemeriksaan fisis tergantung dari banyaknya
cairan di rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak, pada auskultasi suara napas yang
melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan.
Pada limfadenitis tuberkulosis, terlihat pembesaran kelenjar getah bening, tersering di
daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadang-kadang di daerah ketiak.
Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi cold abscess

Gambar 3. Paru : apeks lobus superior dan apeks lobus inferior

dikutip dari (3,12)

II. Pemeriksaan Bakteriologik
a. Bahan pemeriksasan
Pemeriksaan bakteriologi untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti yang
sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologi ini
dapat berasal dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 10

lambung, kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces dan jaringan
biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH)
b.Cara pengumpulan dan pengiriman bahan
Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS):
- Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan
- Pagi ( keesokan harinya )
- Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi) atau setiap pagi 3 hari berturut-
turut.
Bahan pemeriksaan/spesimen yang berbentuk cairan dikumpulkan/ditampung dalam
pot yang bermulut lebar, berpenampang 6 cm atau lebih dengan tutup berulir, tidak mudah
pecah dan tidak bocor. Apabila ada fasiliti, spesimen tersebut dapat dibuat sediaan apus
pada gelas objek (difiksasi) sebelum dikirim ke laboratorium.Bahan pemeriksaan hasil
BJH, dapat dibuat sediaan apus kering di gelas objek, atau untuk kepentingan biakan dan
uji resistensi dapat ditambahkan NaCl 0,9% 3-5 ml sebelum dikirim ke
laboratorium.Spesimen dahak yang ada dalam pot (jika pada gelas objek dimasukkan ke
dalam kotak sediaan) yang akan dikirim ke laboratorium, harus dipastikan telah tertulis
identiti pasien yang sesuai dengan formulir permohonan pemeriksaan laboratorium. Bila
lokasi fasiliti laboratorium berada jauh dari klinik/tempat pelayanan pasien, spesimen
dahak dapat dikirim dengan kertas saring melalui jasa pos.

Cara pembuatan dan pengiriman dahak dengan kertas saring:
- Kertas saring dengan ukuran 10 x 10 cm, dilipat empat agar terlihat bagian tengahnya
- Dahak yang representatif diambil dengan lidi, diletakkan di bagian tengah dari kertas
saring sebanyak + 1 ml
- Kertas saring dilipat kembali dan digantung dengan melubangi pada satu ujung yang
tidak mengandung bahan dahak
- Dibiarkan tergantung selama 24 jam dalam suhu kamar di tempat yang aman, misal di
dalam dus
- Bahan dahak dalam kertas saring yang kering dimasukkan dalam kantong plastik kecil
- Kantong plastik kemudian ditutup rapat (kedap udara) dengan melidahapikan sisi
kantong yang terbuka dengan menggunakan lidi
- Di atas kantong plastik dituliskan nama pasien dan tanggal pengambilan dahak
- Dimasukkan ke dalam amplop dan dikirim melalui jasa pos ke alamat laboratorium. c.
Cara pemeriksaan dahak dan bahan lain.
Pemeriksaan bakteriologi dari spesimen dahak dan bahan lain (cairan pleura, liquor
cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar /BAL, urin,
faeces dan jaringan biopsi, termasuk BJH) dapat dilakukan dengan cara Mikroskopik dan
Biakan
Interpretasi pemeriksaan mikroskopis dibaca dengan skala IUATLD (rekomendasi
WHO). Skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) :
-Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif
-Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang ditemukan
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 11

-Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (1+)
-Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ (2+)
-Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+)

II. Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi: foto lateral,
top-lordotik, oblik, CT-Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi
gambaran bermacam-macam bentuk (multiform). Gambaran radiologi yang dicurigai
sebagai lesi TB aktif :
- Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen
superior lobus bawah
- Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular
- Bayangan bercak milier
- Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)
Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif: Fibrotik, Kalsifikasi , Schwarte
atau penebalan pleura, Luluh paru (destroyed Lung ) :
Gambaran radiologi yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat, biasanya
secara klinis disebut luluh paru . Gambaran radiologi luluh paru terdiri dari atelektasis,
ektasis/ multikaviti dan fibrosis parenkim paru. Sulit untuk menilai aktiviti lesi atau
penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologi tersebut.
Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat
dinyatakan sebagai berikut (terutama pada kasus BTA negatif) :
- Lesi minimal , bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak
lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas chondrostemal junction dari
iga kedua depan dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra
torakalis 5), serta tidak dijumpai kaviti
-Lesi luas. Bila proses lebih luas dari lesi minimal.

II. Pemeriksaan khusus
Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalah lamanya waktu
yang dibutuhkan untuk pembiakan kuman tuberkulosis secara konvensional. Dalam
perkembangan kini ada beberapa teknik yang lebih baru yang dapat mengidentifikasi
kuman tuberkulosis secara lebih cepat.
1. Pemeriksaan BACTEC
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode radiometrik. M
tuberculosis memetabolisme asam lemak yang kemudian menghasilkan CO
2
yang akan
dideteksi growth indexnya oleh mesin ini. Sistem ini dapat menjadi salah satu alternatif
pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu menegakkan diagnosis dan melakukan
uji kepekaan (dikutip dari 13)
Bentuk lain teknik ini adalah dengan menggunakan Mycobacteria Growth Indicator Tube
(MGIT).
2. Polymerase chain reaction (PCR):
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 12

3. Pemeriksaan serologi, dengan berbagai metoda :

a. Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)
Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yang dapat mendeteksi respons humoral
berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Beberapa masalah dalam teknik ini antara lain
adalah kemungkinan antibodi menetap dalam waktu yang cukup lama.
b.ICT
Uji Immunochromatographic tuberculosis (ICT tuberculosis) adalah uji serologi untuk
mendeteksi antibodi M.tuberculosis dalam serum. Uji ICT merupakan uji diagnostik TB
yang menggunakan 5 antigen spesifik yang berasal dari membran sitoplasma M.tuberculosis,
diantaranya antigen M.tb 38 kDa. Ke 5 antigen tersebut diendapkan dalam bentuk 4 garis
melintang pada membran immunokromatografik (2 antigen diantaranya digabung dalam 1
garis) disamping garis kontrol. Serum yang akan diperiksa sebanyak 30 ml diteteskan ke
bantalan warna biru, kemudian serum akan berdifusi melewati garis antigen. Apabila serum
mengandung antibodi IgG terhadap M.tuberculosis, maka antibodi akan berikatan dengan
antigen dan membentuk garis warna merah muda. Uji dinyatakan positif bila setelah 15 menit
terbentuk garis kontrol dan minimal satu dari empat garis antigen pada membran.

c.Mycodot
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalam tubuh manusia. Uji ini
menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang direkatkan pada suatu alat yang
berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini kemudian dicelupkan ke dalam serum pasien, dan
bila di dalam serum tersebut terdapat antibodi spesifik anti LAM dalam jumlah yang
memadai sesuai dengan aktiviti penyakit, maka akan timbul perubahan warna pada sisir
dan dapat dideteksi dengan mudah

d. Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi serologi yang terjadi.
Dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan serologi yang diperoleh, para klinisi harus hati
hati karena banyak variabel yang memengaruhi kadar antibodi yang terdeteksi.
e. Uji serologi yang baru / IgG TB
Uji IgG adalah salah satu pemeriksaan serologi dengan cara mendeteksi antibodi IgG
dengan antigen spesifik untuk Mycobacterium tuberculosis. Uji IgG berdasarkan antigen
mikobakterial rekombinan seperti 38 kDa dan 16 kDa dan kombinasi lainnya akan
menberikan tingkat sensitiviti dan spesifisiti yang dapat diterima untuk diagnosis. Di luar
negeri, metode imunodiagnosis ini lebih sering digunakan untuk mendiagnosis TB
ekstraparu, tetapi tidak cukup baik untuk diagnosis TB pada anak.
Saat ini pemeriksaan serologi belum dapat dipakai sebagai pegangan untuk diagnosis.

Pemeriksaan Penunjang lain
1. Analisis Cairan Pleura
Pemeriksaan analisis cairan pleura dan uji Rivalta cairan pleura perlu dilakukan pada pasien
efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis. Interpretasi hasil analisis yang
mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji Rivalta positif dan kesan cairan eksudat, serta
pada analisis cairan pleura terdapat sel limfosit dominan dan glukosa rendah
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 13

2. Pemeriksaan histopatologi jaringan
Pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis TB.
Pemeriksaan yang dilakukan ialah pemeriksaan histopatologi. Bahan jaringan dapat diperoleh
melalui biopsi atau otopsi, yaitu: Biopsi aspirasi dengan jarum halus (BJH) kelenjar getah
bening (KGB), Biopsi pleura (melalui torakoskopi atau dengan jarum abram, Cope dan Veen
Silverman), Biopsi jaringan paru (trans bronchial lung biopsy/TBLB) dengan bronkoskopi,
trans thoracal needle aspiration/TTNA, biopsi paru terbuka).
Pada pemeriksaan biopsi sebaiknya diambil 2 sediaan, satu sediaan dimasukkan ke dalam
larutan salin dan dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk dikultur serta sediaan yang
kedua difiksasi untuk pemeriksaan histologi.
3.Pemeriksaan darah
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk
tuberkulosis. Laju endap darah ( LED) jam pertama dan kedua dapat digunakan sebagai
indikator penyembuhan pasien. LED sering meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap
darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis. Limfositpun kurang spesifik.
4.Uji tuberkulin
Uji tuberkulin yang positif menunjukkan ada infeksi tuberkulosis. Di Indonesia dengan
prevalens tuberkulosis yang tinggi, uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik penyakit
kurang berarti pada orang dewasa. Uji ini akan mempunyai makna bila didapatkan konversi,
bula atau apabila kepositivan dari uji yang didapat besar sekali. Pada malnutrisi dan infeksi
HIV uji tuberkulin dapat memberikan hasil negatif.
PENGOBATAN TUBERKULOSIS
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase
lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat utama dan
tambahan.
A. OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT)
Obat yang dipakai:
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah:
INH
Rifampisin
Pirazinamid
Streptomisin
Etambutol 2.
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
Kanamisin
Amikasin
Kuinolon
Obat lain masih dalam penelitian yaitu makrolid dan amoksilin + asam klavulanat
Beberapa obat berikut ini belum tersedia di Indonesia antara lain :
o Kapreomisin
o Sikloserino
o PAS (dulu tersedia)
o Derivat rifampisin dan INH
o Thioamides (ethionamide dan prothionamide) Kemasan - Obat tunggal,
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 14

Obat disajikan secara terpisah, masing-masing INH, rifampisin, pirazinamid dan
etambutol.
- Obat kombinasi dosis tetap (Fixed Dose Combination FDC)
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari 3 atau 4 obat dalam satu tablet
Dosis OAT
Tabel 2. Jenis dan dosis OAT
Obat Dosis
(Mg/Kg
BB/Hari)
Dosis yg dianjurkan DosisMaks
(mg)
Dosis (mg) / berat
badan (kg)
Harian
(mg/
kgBB /
hari)
Intermitten
(mg/Kg/BB/kali)
< 40 40-
60
>60
R 8-12 10 10 600 300 450 600
H 4-6 5 10 300 150 300 450
Z 20-30 25 35 750 1000 1500
E 15-20 15 30 750 1000 1500
S 15-18 15 15 1000
Sesuai
BB
750 1000

Pengembangan pengobatan TB paru yang efektif merupakan hal yang penting untuk
menyembuhkan pasien dan menghindari MDR TB (multidrug resistant tuberculosis).
Pengembangan strategi DOTS untuk mengontrol epidemi TB merupakan prioriti utama
WHO. International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (IUALTD) dan WHO
menyarakan untuk menggantikan paduan obat tunggal dengan kombinasi dosis tetap dalam
pengobatan TB primer pada tahun 1998. Dosis obat tuberkulosis kombinasi dosis tetap
berdasarkan WHO seperti terlihat pada tabel 3. Keuntungan kombinasi dosis tetap antara lain:

1. Penatalaksanaan sederhana dengan kesalahan pembuatan resep minimal
2. Peningkatan kepatuhan dan penerimaan pasien dengan penurunan kesalahan pengobatan
yang tidak disengaja
3. Peningkatan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap penatalaksanaan yang benar dan
standar
4. Perbaikan manajemen obat karena jenis obat lebih sedikit
5. Menurunkan risiko penyalahgunaan obat tunggal dan MDR akibat penurunan
penggunaan monoterapi
Tabel 3. Dosis obat antituberkulosis kombinasi dosis tetap
Fase intensif Fase lanjutan
2 bulan 4 bulan
BB Harian Harian 3x/minggu Harian 3x/minggu
RHZE RHZ RHZ RH RH
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 15

150/75/400/275 150/75/400 150/150/500 150/75 150/150
30-37
38-54
55-70
>71
2
3
4
5
2
3
4
5
2
3
4
5
2
3
4
5
2
3
4
5

Penentuan dosis terapi kombinasi dosis tetap 4 obat berdasarkan rentang dosis yang telah
ditentukan oleh WHO merupakan dosis yang efektif atau masih termasuk dalam batas dosis
terapi dan non toksik.
Pada kasus yang mendapat obat kombinasi dosis tetap tersebut, bila mengalami efek samping
serius harus dirujuk ke rumah sakit / dokter spesialis paru / fasiliti yang mampu
menanganinya.

REFERENSI
Sacher, Ronald A.2002. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium E/11

Pemeriksaan Darah Lengkap

Yang termasuk dalam pemeriksaan darah lengkap:

1. Hb ( Hemoglobin) .g/dl
2. Haematocrite ( Hct )
3. Laju endap darah (ESR).mm/jam
4. Jumlah Sel Darah Putih ..x10/mm
5 Hitung Jenis Sel Darah Putih ( Diff Counting)
6.Jumlah Sel Darah Merah. Jt/mL
7.Jumlah trombosit/mm
8.Indeks eritrosit.

Manfaat pemeriksaan darah lengkap :
1. Sbg Pemeriksaaan penyaring untuk membantu diagnosa.
2. Sbg Pencerminan reaksi tubuh terhadap suatu penyakit.
3. Dapat dipakai sebagai petunjuk kemajuan penderita anemia atau infeksi.

PEMERIKSAAM KADAR Hb
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 16

Metode KALORIMETRI

1. Direct Matching
Warna drh dibandingkan dengan warna standar.
Cepat, sederhana, menyenangkan
Kesalahan besar, tidak tepat

2. Alkali Hematin
Darah + Na oH dididihkan Hb hijau biru dari larutan, alkali hematin Standar /
Spectrophotometer
Akurat
Tidak akurat untuk ukur Hb bayi

3. Metode Oxyhemoglobine
Darah + Na2 Co3 / NH4OH Oxyhemoglobin Spectropht
Cepat, akurat
Oxyhemoglobin + Cu methemoglob shg hasil lebih rendah

4. Metode cyanmethemoglobine
Darah ( Hb ) + lar Drabkin K3Fe(CH)6 MetHb
MetHb + KCN CyanmetHb diperiksa dengan Spectrophotometer 540 nm dibandingkan
dengan standard.
Cepat, teliti kecuali Sulhemoglobine
Mengandung CN yg bersifat racun

5. Metode Asam Hametin ( Sahli )
Hb direaksikan dg Hcl asam hematin (sempurna) diencerkan
Dibaca pada skala tabung sahli sesuaikan dengan standard
Cepat, sederhana, tidak mahal
Kurang teliti, kesalahan + 5 s/d 10 %


HEMATOKRIT ( HCT ) = PCV ( Packed Cell Volume )
Prosentase volume sel darah merah thd vol darah seluruhnya
( Darah + anticoagulan dipusingkan )
Normal : Dewasa Laki : 45 47 %, Dewasa Wnt : 40 42 %
Hematocrit meningkat pada :
- Peningkatan Juml RBC : Policitemia
- Penurunan vol plasma
- Makrositosis

o Hematocrit menurun pada :
- Anemi
- Micrositosis
- Dilusi = hidrasi
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 17

Lihat gambar .
Metode Px. Hct :
Makro = Wintrobe
Micro = Tabung kapiler
Elektronik = Auto Analysa, Caulter Caunter

Penyebab kesalahan pemeriksaan :
1. Sample darah diambil setelah terjadi perdarahan ( Hematocrit cenderung tinggi )
2. Anticoalugan berlebih
3. Kecepatan & waktu pemusingan ( Macro 30, Mikro 5-10 )
4. Terlalu lama Vena terbendung
LAJU ENDAP DARAH ( LED )
= ESR ( erytrocyt sedimentation rate )
1. Kecepatan RBC mengendap setelah memisahkan diri dari plasma
2. Ukuran : mm/jam
3. Menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara eritrocit & plasma
4. Setiap keadaan yg meningkatkan penggumpalan sel satu dgn yg lain akan meningkatkan
LED.

Tahapan :
1. Terbentuknya Rouleaux
2. Vase pengendapan cepat
3. Vase pengendapan lambat

Faktor-faktor yang mempengaruhi :
1. Faktor sel darah merah ( massa yg terbentuk stlh rou;eaux )
Bentuk tertentu sel darah merah
Aglotinasi
Makrosit
RBC yg rendah

2. Plasma :
Alfa globulin
Alga2 globulin
Fibrinogen

3. Faktor mekanis dan teknis
Posisi tabung LED yg panjang & diameter tabung sterilitas
Sterilitas
Suhu
Kondisi darah ( Antikoagulan, darah simpan lama ).
Cara Pemeriksaan :
1. Makro ( 1 s/d 2 ml darah ) : Westergren, Wintrobe, Culter
2. Mikro ( 1 tetes darah ) : Landau, Hellinger, Cresta.

Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 18

Harga Normal :
Laki-laki Wanita
Westergren 0 15 mm/jam 0 20 mm/jam
Wintrobe 0 10 mm/jam 0 20 mm/jam
FK Unair 2 13 mm/jam 2 12 mm/jam
HITUNG LEKOSIT ( WBC = WHITE BLOOD CELL )

Dengan kamar penghitung IMPROVED NEUBAUER

Harga Normal : 4 10 x 109/ dl / cmm
Laki : 4,7 10,3 x 109/l
Wanita : 4,3 11,3 x 109 /l


Alat yang dipakai :
o Mikroskop
o Pipet Lekosit
o Kamar hitung
o Larutan pengencer Leukosit ( Turk, asam aeetat )

Pemeriksaan Automatic : Elektronik

HITUNG JENIS SEL DARAH PUTIH

o Menghitung dan mengelompokan WBC yg tampak dihapusan darah dari 100 200 sel
o Berperan dalam diagnosa penyakit
o Normal ada 6 jenis WBC matur :
Eo / Ba / Neu stab / Neu seg / Limfosit / Mo

HITUNG ERITROSIT ( RBC = RED BLOOD CELL )

Pengukuran jumlah RBC.
Saat lahir jumlah RBC paling tinggi, berangsur turun saat
Dewasa.
RBC dibentuk dalam sumsum tulang pipih & proximal dari tulang panjang.
Umur RBC 120 hari dalam peredaran darah.
Harga NORMAL :
Laki 2 dws : 4,3 jt 5,9 jt/mL
Wanita dws : 3,9 jt 4,8 jt/mL
Bayi : 5,0 jt 7.0 jt/mL
Anak 3 bl : 3,2 jt 4,8 jt/mL
1 th : 3,6 jt 5,2 jt/mL
10-12 th : 4,0 jt 5,4 jt/mL
Untuk penghitungan jumlah RBC dapat dipakai :
-Manual : Kamar Hitung Improved Neubauer setelah diencerkan dgn larutan Hayem.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 19

-Elektrik


HITUNG TROMBOSIT ( PLT = PLATELET )
Pada penderita dgn riwayat perdarahan atau purpura, monitoring pada pemberian obat yang
potensial atau
diperkirakan beracun pada sumsum tulang, monitoring
terapi heparin, monitoring setelah splenektomi jum-
lah trombosit harus dimonitor.
Jumlah NORMAL TROMBOSIT : 150.000 -400.000 /mm
Perdarahan spontan terjadi pada Plt < 20.000/mm terjadi

Pada : Penurunan fs sumsum tulang.
Hipersplenisme
D I C
Infeksi
Trombositosis mungkin terjadi pada : Leukemia, Lymphoma.
Penghitungan Jumlah trombosit dengan :
- Manual : Kamar Hitung Improved Neubauer (lar
Rees Ecker ).


INDEKS ERYTROCYT

Indeks eritrosit rata2 adalah :
Perhitungan yang menyatakan besarnya volume eritrosit
dan konsentrasi hemoglobin dalam tiap sel.
Penggolongan anemia berdasarkan Indeks Erytrosit paling ber
manfaat yaitu anemia mikrositik, normositik dan makrositik,
karena : -mengarah mengarah pada sifat defek primernya
-menunjukkan kelainan yang mendasari sebelum terjadi anemia yang jelas.

1. M C V (Mean Cell Volume)
didapatkan dari : Hematocrite : jml eritrosit
Nilai Normal : 80 100 fl (dewasa)
76 86 fl ( anak < 1 th)
mikrositosis < 80 100 fl < makrositosis
2. M C H (Mean Cell Haemoglobine)
Mengukur banyaknya Hb yang terdapat dalam satu sel darah merah.
Ditentukan dengan membagi jumlah Hb dalam 1000 ml darah dengan jumlah eritrosit
Per mm3 darah pikogram
Nilai normal : 27 32 pg (dewasa)
23 31 pg ( anak )
Jika nilai kurang dari normal : hipokrom
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 20


3. M C H C ( Mean Cell Hb Concentrate )
Kadar rata-rata Hb : volume eritrosit.
Kadar Hb/haematocrite



PEMERIKSAAN LAIN DILUAR DARAH LENGKAP.

HAPUSAN DARAH TEPI ( BLOOD SMEAR )

Tujuan permeriksaan HDT : menilai pelbagai unsur sel darah tepi seperti RBC, WBC
PLT dan mencari adanya parasit seperti malaria, tripanosoma, microfilaria dll.
HDT yang dibuat dan diwarnai dengan baik merupakan syarat mutlak untuk
mendapatkanhasil pemeriksaaan yang baik.

Ciri hapusan darah tepi yang baik :
Cukup tipis, sel-sel darah terpisah satu sama lain, tidak saling menumpuk,
dapat diidentifikasi masing2 jenis sel, tdk ada artefak, lekosit tidak boleh
mengerombol di akhir hapusan darah.

Cari faktor2 yang mempengaruhi tebal tipisnya HDT yang dibuat.!

Prinsip :
Setetes darah dipaparkan di atas gelas obyek lalu dicat dan diperiksa dibawah mikroskop.
Pembuatan hapusan darah :
a. Alat-alat : Gelas obyek, Gelas penghapus
b. Tehnik : Membuat hapusan darah di atas gelas obyek
Mengeringkan
Mengecat
Menilai hapusan darah

Cat yang biasa dipakai :
a. Giemsa
b. Wrights stain : mengandung Eosin dan Methylene blue,
Buffer phospat ph = 6,4 komposisi KH2PO4, Na2HPO4

Cara evaluasi hapusan darah :
1. Pembesaran kecil ( obyektif 10 x ) :
Untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh dariHDT.
Penilaian kualitas hapusan darah.
Perhatikan penyebaran sel2 apakah sudah cukup merata.
Penaksiran jumlah Lekosit dan Eritrosit, apakah ada sel-sel yg abnormal.(microfilaria)

Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 21

2. Pemeriksaan menggunakan minyak imersi
Eritrosit : 3 S ( Shape, Size, Staining )
Apakah ada kelainan/variasi marfologis
Trombosit : penaksiran jumlahnya dan bagaimana morfologinya
Lekosit : penghitungan differensial
Dicari kelainan-kelainan morfologis
Sel-sel abnormal : pemeriksaan morfologis

Hitung retikulosit.

Retikulosit adalah RBC muda yang tidak berinti dan dlm sitoplasmanya terdapat sisa ribosom
dan RNA.
Mengandung sisa ribosom dan sisa asam ribonukleat dan bereaksi dgn BCB (Brilliant Cressyl
Blue)membentuk filament.
Pada pedarahan selam sumsum tulang masih baik 6 jam kemudian terjadi reaksi erytropoisis
2-3 hari terjadi
Peningkatan retikulosit. (MAX 6-10 HR)
Harga Normal : 0,8 1,5 % dewasa
2 6 % pada bayi .
Retikulosit tinggi menunjukkan respon sumsum tulang yang
memproduksi banyak RBC sebagai respon thd anemia.
Retikulosit rendah menandakan inadequate erytropoisis respons.

RDW = Red Cell Distribution Width
Membantu dalam klasifikasi anemia, berhubungan dengan hapusan darah dan indeks erytrosit
lainnya.
RDW penting untuk indicator derajat anisositosis atau variasi abnormal dari ukuran RBC.
Harga normal : 10,0 15,0


Pemeriksaan cairan Cerebro spinal
Lumbar Puncture (LP) adalah penyisipan (penusukan) dari jarum kedalam cairan
didalam kanal tulang belakang (spinal canal). Ia diistilahkan "lumbar puncture"
karena jarum masuk kedalam bagian lumbar dari punggung.

Nama-nama lain untuk lumbar puncture (LP) temasuk spinal tap, spinal puncture,
thecal puncture, dan rachiocentesis.
Mengapa Lumbar Puncture Dilakukan ?

LP paling sering dilakukan untuk mendiagnosa penyakit, yaitu untuk emperoleh
sample dari cairan dalam spinal canal (cairan cerebrospinal) untuk pemeriksaan.

LP dapat juga dilakukan untuk merawat penyakit-penyakit. Contohnya, sebagai cara
untuk memasukan antibiotik-antibiotik, obat-obat kanker, atau agen-agen anesthetic
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 22

kedalam spinal canal. Cairan spinal adakalanya dikeluarkan dengan LP untuk tujuan
pengurangan tekanan cairan spinal pada pasien-pasien dengan kondisi-kondisi yang
tidak umum (seperti misalnya hydrocephalus tekanan normal dan hipertensi
intracranial yang tidak berbahaya).
Bagaimana LP Dilaksanakan ?

Pasien secara khas berbaring miring pada sisi untuk prosedur ini. Kurang sering,
prosedur dilakukan ketika pasien duduk. LP-lp pada bayi-bayi seringkali dilakukan
pada posisi tegak lurus.

Setelah pembius lokal disuntikan kedalam bagian kecil dari punggung (area lumbar),
jarum dimasukan diantara blok-blok bangunan yang bertulang (vertebrae) yang
berdekatan kedalam spinal canal. (Jarum biasanya ditempatkan antara lumbar
vertebrae ketiga dan keempat).
Apa Yang Dilakukan Berikutnya ?

Tekanan cairan tulang belakang (spinal fluid) dapat kemudian diukur dan cairan
cerebrospinal (CSF) dikeluarkan untuk pemeriksaan.
Definisi Cerebrospinal Fluid (CSF)

CSF bersirkulasi mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang atau spinal cord
(sistim syaraf sentral). "Mandi air" ini bekerja sebagai pendukung dari daya apung
untuk otak dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Dukungan dari CSF membantu
melindungi otak dari luka.

CSF yang normal mengandung beragam kimia-kimia, seperti protein dan gula
(glucose), dan sedikit jika ada sel-sel apa saja. Cairan tulang belakang (spinal fluid)
juga mempunyai tekanan yang normal ketika pertama kali dikelurakan.

Definisi CSF Normal

Nilai-nilai normal untuk pemeriksaan cairan tulang belakang (spinal fluid) adalah
sebagai berikut:

* Protein (15-45 mg/dl)
* Glucose (50-75 mg/dl)
* Jumlah sel (0-5 mononuclear cells)
* Tekanan Awal (70-180 mm)

Nilai-nilai normal ini dapat dirubah oleh luka atau penyakit dari otak, sumsum tulang
belakang (spinal cord) atau jaringan-jaringan yang berdekatan. Nilai-nilai secara rutin
dievaluasi selama pemeriksaan spinal fluid yang diperoleh dari lumbar puncture.
Sebagai tambahan, cairan tulang belakang (spinal fluid) diuji untuk infeksi di
laboratorium mikrobiologi.
Penyakit-Penyakit Yang Didiagnosa Dengan Pemeriksaan CSF

Spinal fluid (cairan tulang belakang) yang diperoleh dari lumbar puncture dapat
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 23

digunakan untuk mendiagnosa banyak penyakit-penyakit penting seperti perdarahan
sekitar otak; tekanan yang meningkat dari hydrocephalus; peradangan dari otak,
sumsum tulang belakang (spinal cord), atau jaringan-jaringan yang berdekatan
(encephalitis, meningitis); tumor-tumor dari otak atau spinal cord, dll. Adakalanya
cairan tulang belakang (spinal fluid) dapat mengindikasikan penyakit-penyakit dari
sistim imun, seperti multiple sclerosis.
Risiko-Risiko Dari LP

Ketika cairan tulang belakang (spinal fluid) dikeluarkan selama LP, risiko-risiko
termasuk sakit kepala, herniasi otak, perdarahan, dan infeksi. Setiap dari komplikasi-
komplikasi ini adalah tidak umum dengan pengecualian sakit kepala, yang dapat
timbul dari berjam-jam sampai satu hari setelah LP. Sakit-sakit kepala terjadi kurang
sering jika pasien tetap berbaring rata 1-3 jam setelah prosedur.
Manfaat-Manfaat Dari LP

Manfaat-manfaat dari LP tergantung pada situasi yang tepat untuk mana ia dilakukan,
namun LP dapat menyediakan informasi yang menyelamatkan nyawa.

Pemeriksaan cairan pleura

Tekanan hidrostatik normal di dalam kapiler pleura parietal kemungkinan sama
dengan tekanan di kapiler-kapiler sistemik dengan rata-rata 25 mmHg, sedangkan
tekanan intrapleura sedikit di bawah atmosfir dengan rata-rata 3 mmHg,
memungkinkan filtrasi cairan. Kebalikannya yaitu tekanan onkotik yang mana
tekanan onkotik tersebut lebih tinggi di plasma daripada di cairan pleura sehingga
memungkinkan reabsorpsi. 4
Pada kapiler di pleura visceral, keseimbangan antara tekanan hidrostatik dengan
onkotik adalah berlawanan, walaupun begitu tekanan onkotiknya sama dengan di
kapiler pleura parietal dan tekanan hidrostatik dan onkotiknya yang memungkinkan
terjadinya reabsorpsi di pleura visceral yang hasil akhirnya karena ada keseimbangan
antara filtrasi dari plura parietal dengan reabsorpsi dipertahankan minimal. 4
Tekanan hidrostatik kapiler dinding dada adalah 22 mmHg sedangkan tekanan di
dalam rongga pleura 5 mmHg sehingga tekanan mendorong filtrasi besarnya 22 + 5
= 27 mmHg. Tekanan osmotik koloidal darah di pleura parietalis 25 mmHg dan
tekanan osmotik di rongga pleura 6 mmHg, artinya tekanan menghambat filtrasi di
pleura parietalis 25 6 = 19 mmHg, sehingga tekanan total yang mendorong filtrasi
di pleura parietal adalah 27 19 = 8 mmHg. Dengan cara yang sama didapatkan
tekanan total yang mendorong reabsorpsi di pleura visceral yaitu sebesar 4 mmHg. 4
Akumulasi cairan yang berupa transudat terjadi apabila hubungan normal antara
tekanan kapiler hidrostatik dan tekanan koloid osmotik menjadi terganggu, sehingga
terbentuknya cairan pada satu sisi pleura akan melebihi reabsorpsi oleh pleura
lainnya. 1,4
Eksudat merupakan cairan pleura yang terbentuk melalui membran kapiler yang
permiabel abnormal (meninggi) dan berisi protein berkonsentrasi tinggi. Terjadinya
perubahan permeabilitas membran adalah karena adanya peradangan pada pleura.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 24

Akibat meningkatnya permeabilitas kapiler dapat menyebabkan bocornya pembuluh
darah menyebabkan cairan eksudat kaya akan protein dan sel. 1,2,3,4
Peningkatan permeabilitas kapiler pleura karena radang, bertambah masuknya protein
dan cairan ke rongga pleura, sistem limfe yang tidak adekuat dan metastase tumor
ganas dapat menambahkan jumlah cairan dan konsentrasi protein dan sel-sel di
rongga pleura. 1,2,3,4
4. ETIOLOGI
Ada dua penyebab efusi pleura yaitu transudat dan eksudat. 1,2,3,4
4.1. Transudat
Pada cairan transudat, selain memiliki serum protein yang rendah (< 0,5) juga
memiliki LDH yang rendah (< 0,6).
Penyebab utama terjadinya cairan transudat ini adalah:
Sindroma nefrotik
Sirosis hepatis
Sindroma Meigs
Tumor
4.2. Eksudat
Pada cairan eksudat kadar protein lebih tinggi dari 0,5 gram/100 cc cairan efusi dan
kadar LDH lebih tinggi dari 0,6.
Terjadinya eksudat antara lain disebabkan oleh:
Infeksi paru akibat: pneumococcus, staphylococcus, haemophillus, tuberculosa dan
kuman gram negatif yaitu psudomonas aeroginosa.
Neoplasma
Infark paru.
Komposisi normal cairan pleura
Volume : 0,1 0,2 ml/kg
Sel/mm3 : 1.000 5.000
% sel mesothelial : 3 70%
% monosit : 30 75%
% limfosit : 2 30%
% granulosit : 10%
Protein : 1 2 g/dl
% albumin : 50 70%
Glukosa : sama dengan kadar plasma
LDH : < 50% kadar plasma
Warna Cairan. Cairan transudat biasanya berwarna jernih dan kekuning-kuningan.
Sedangkan cairan yang banyak mengandung protein dan sel serta cairan makin keruh
disebut cairan eksudat. 1,2,3,4,5
Kultur Bakteriologi. Biasanya cairan pleura steril tapi kadang-kadang dapat
mengandung mikroorganisme seperti pneumococcus, klebsiella, pseudomonas,
enterobacter, dan tuberculosa. 1,2,3,4,5
Sitologi. Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk diagnosis
penyakit pleura, terutama bila ditemukan sel-sel patologis atau sel-sel tertentu, yaitu:
2
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 25

Sel-sel patologis pada cairan pleura
Sel neutrofil : menunjukan adanya infeksi akut
Sel limfosit : menunjukan adanya infeksi kronis, seperti pleuritis tuberkulosa atau
limfoma malignum
Sel mesotel : bila jumlahnya meningkat, ini menunjukan adanya infark paru
Sel mesotel maligna : pada mesotelioma
Sel-sel besar dengan banyak inti : pada arthritis rheumatoid
Sel LE : pada lupus eritematosus sistemik
Biokimia. Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang
perbedaannya dapat dilihat pada tabel di bawah: 2,4
Transudat Eksudat
Kadar protein dalam efusi (g/dl) < 3 > 3
Kadar protein dalam efusi
Kadar protein dalam serum < 0,5 > 0,5
Kadar LDH dalam efusi (IU) < 200 > 200
Kadar LDH dalam efusi
Kadar LDH dalam serum < 0,6 > 0,6
Berat jenis cairan efusi < 1,016 > 1,016
Rivalta Negatif Positif
Selain test di atas dapat juga dilakukan tes-tes khusus, antara lain: 2
Transudat Eksudat
Eritrosit < 10.000 /mm3 > 100.000 /mm3 menggambarkan neoplasma, infark, trauma
> 10.000 < 100.000 /mm3 tidak dapat ditentuk
Leukosit < 1.000 /mm3 Biasanya > 1.000 /mm3
Hitung jenis leukosit Biasanya > 50% limfosit atau sel mononukleus > 50% limfosit
(tuberkulosis, neoplasma)
> 50% polimorfonullear (radang akut)
PH > 7,3 < 7,3 (radang) Glukosa Sama seperti darah (+) Rendah (infeksi) Sangat
rendah (arthritis rheumatoid, kadang-kadang neoplasma Amilase > 500 unit/ml
(pankreatitis: kadang-kadang neoplasma, infeksi)
Protein spesifik Komponen komplemen C3, C4 rendah (SLE, arthritis rheumatoid)
Faktor rheumatoid
Faktor anti nukleus
5.5. Tes Tuberkulin
5.6. Kultur darah/sputum
5.7. Biopsi Pleura
Biopsi pleura parietalis merupakan yang paling baik untuk mendiagnosa efusi pleura.
Umumnya biopsi pleura dilakukan setelah torakosentesis.
Dapat dilakukan bila ternyata hasil biopsi pertama tidak memuaskan atau dapat
dilakukan beberapa biopsi ulangan. 2,3
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 26

7. PENATALAKSANAAN
Atasi sesak napas dengan cara membersihkan jalan napas dan beri oksigen.
Obati penyakit yang mendasarinya (penyebab).
Torakosentesis (pungsi).
Merupakan suatu tindakan pengambilan cairan pleura dengan tujuan untuk
membedakan apakah cairan tersebut transudat, eksudat atau emphyema. Untuk itu
perlu dipasang WSD (Underwater Seal Drainage). WSD adalah cara yang paling
efektif untuk membuat katub, dimana udara dan cairan dapat dikeluarkan dari toraks.
Dalam melakukan pemasangan WSD perlu diingat:
Harus tidak ada kebocoran
Diklem bila botol tidak digunakan
Posisi botol harus di bawah toraks
Metode harus asepsis
Drain harus diangkat setelah 24 jam
Pipa dada harus diganti selama 7 10 hari digunakan.
Bila cairan yang terlalu banyak, dimana perlu dilakukan tindakan pungsi yang
berulang-ulang sehingga dapat menyebabkan gangguan elektrolit, maka perlu
dilakukan pleurodesis.
Operasi.
Menjahit pleura parietalis dengan pleura visceralis. Tujuannya agar bersatu, sehingga
tidak terbentuk cairan yang sifatnya irreversibel. 3,4,5

SPUTUM
A. Definisi
Sputum adalah secret dibatukkan dan berasal dan bronkhie, bukan bahan yang berasal
dari tenggorokan, hidung atau mulut.

B. Macam-Macam yang digunakan untuk Pemeriksaan Laboratorium
C. Sputum pagi (sampel yang terbaik)
Sputum yang dibatukkan pertama kali saat bangun tidur,
1. Sputum Induksi
D. Cara Pengambilan Sputum
1. Pada anak
a. Nasofaring swab (usapan nasofaring / sekrit tenggorok)
- Sputum tertinggal pada dinding tenggorok anak, sehingga ulasan dinding nasofaring
dapat diambil sebagai sampel sputum.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 27

- Cukup baik untuk penderita bronchitis disebabkan oleh Haemophilus influenza.
b. Caughplate :
Batuk langsung pada cawan / piring
c. Cough Swat Technique
- Cara ini mudah dikerjakan dan sampel tidak terkontaminasi
- Mulut dibuka dengan bantuan spatel, lidah ditekan maka epiglottis terlihat, epiglotis
dihisap dengan swab untuk merangsang batuk.
2. Pada penderita sukar batuk
Dilakukan dengan sputum induksi : menaikkan sekresi bronchus dan merangsang
batuk, dilakukan dengan 10% propyline glycol.
3. Pada orang dewasa
Sampel yang digunakan sputum pagi dan sputum induksi
4. Pada khasus tertentu
Didapat dengan aspirasi trantracheal
a. Pada kontra indikasi trantracheal aspirasi penderita tak kooperatif, diatese
hemoragi, batuk berat, kardiak anitmia
b. Pada komplikasi pendarahan, inteksi pada trachea, episema sub human
*Sampel sputum sering terkontaminasi dengan salifa, sekresi, sanafaring dan bakteri
* Untuk mengurangi kontaminasi dilakukan.
- Kumur terlebih dahulu sebelum sampel diambil
- Memakai ekspeteran / mukolitik
Wadah yang telah digunakan disterilkan dalam autoclave, karton sputum harus
dibakar, meja kerja dan mikroskop dibersihkan dengan larutan Lysol 10%

E. Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan Makroskopis
2. Prinsip percobaan : Untuk menggambarkan rupa sputum dengan cahaya tembus,
ambil sejumlah sputum secukupnya, ratakan dalam sebuah cawan petri dengan batang
steril, dengan bantuan sinar matahari nyatakan rupa sputum secara makroskopis.
Sedang, untuk pemeriksaan unsur khusus, perlu latar belakang hitam dan dengan
loupe.
3. Bahan pemeriksaan : sputum
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 28

4. Alat yang digunakan : piring petri, batang steril, loupe
5. Reagen:(-)
6. Tata cara pemeriksaan :
volume : Nyatakan dengan sedikit banyak, banyak, tidak ada sedang. Jika
banyak atau sedang ukur berapa aja.
Warna : Nyatakan dengan kuning, hijau, coklat, merah
bau : Nyatakan dengan tidak berbau, berbau, barbau faeces atau berbau
busuk.
konsistensi : Nyatakan dengan jernih, serus, opalesen atau kental, mukus, purulen,
seromukus, mukopurulen.
Unsur khusus : Nyatakan dengan ada (+)
Misal masa pekerjaan (+)
Keadaan normal sputum :
Volume : Sedikit atau tak ada (tak lebih 25 m) per 24 jam
Warna : Tidak berwarna
Bau : Tak berbau
Konsistensi : seperti air, sedikit kental
Unsur khusus : tidak ada
B. 2. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS
B.2. a. Natif
1. Metode pemeriksaan : Pemeriksaan mikroskopis sediaan natif
2. Prinsip percobaan : Untuk melihat unsur-unsur dalam sputum secara mikroskopis
perlu dilakukan pemeriksaan pada preparat natif.
3. Sample : Sputum

4. Alat : - Obyek glass
- Kaca penutup
- Api spiritus
- Mikroskop
5. Tata cara pemeriksaan : Ambil sedikit sputum, ratakan pada obyek glas. Panaskan
sediaan tersebut pada api. Biarkan dingin, periksa.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 29

Dicari : serabut elastis, spiral curchmann, kristal- kristal, sel mengandung butir
hyalin,lekosit,eosinofil,eritrosit,epitel,limfosit,jamur,parasit.
6. Tata cara pembacaan hasil : Bila ada nyatakan dengan ada (+)
B.2.b Pengecatan Gram.
1. Metode pemeriksaan : Pemeriksaan sputum dengan pengecatan GRAM
2. Prinsip percobaan : Untuk melihat unsur dalam sputum secara mikroskopis
perlu dilakukan pemeriksaan preparat dengan pengecatan.
3. Sample : Sejumlah sputum
4. Alat :- Obyek Glas
- Api Spiritus
- Mikroskopis
5. Reagen
Gram A, Gentian violet 1 gr, phenol 10% 99cc
Gram B, Iodium 1 gr, Kalium Iodida 2 gr, Aquadest 30 cc
Gram C, Alkohol 90%
Gram D, Safranin 1 gr, Alkohol 96%cc, Aquadest 99 cc
6. Tata cara pemeriksaan :
Preparat tipis yang telah direkat, digenangi larutan Gram selama 5 menit. Tanpa
dicuci dimasukkan ke dalam larutan Gram B selama 30 detik / 40 detik. Segera cuci
dengan air lalu dimasukkan larutan gram C sampai warnanya mulai luntur. Tepat
pada waktu luntur, segera cuci dengan air dan masukkan ke dalam larutan gram D
selama 5 menit. Cuci dengan air, biarkan kering, periksalah.
7. Tata cara pembacaan hasil :
Bakteri Gram positif berwarna ungu
Bakteri Gram negative berwarna merah
Gram positif (+) :
Streptococcus Staphylococcus
Diplococcus Mycobacterium tubercolosae
Gram negatif (-) :
Neisseria catharralis Neissera gonorrhoe
Hemopylus influenza Bacillus friedlander
B.2.c Ziehl Neelsen.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 30

1. Metode pemeriksaan : Pemeriksaan sputum pengecatan Ziehi Neelsen
2. Prinsip pemeriksaan : Untuk melihat unsur-unsur dalam sputum secara mikroskopis
perlu di lakukan pemeriksaan pada preparat pengecatan.
3. Sample : Sejumlah sptum
4. Alat-alat : obyek glas
Mikroskop
Apispirtus
5. Reagen
ZNA Fuchsin basis 1 gr, alkohol 96% 10 cc, phenol
5% dalam aqua 960 cc
ZNB HCL pekat 3 cc, alcohol 97 cc
ZNC Methylene blue
6. Tata Cara Pemeriksaan
Preparat tipis yang telah direkat digenangi dengan larutan ZNA dan dipanaskan di
atas lampu spirtus sehingga terlihat adanya uap keluar dari genangan, tetapi dijaga
larutan jangan sampai mendidih, kemudian didinginkan. Ulang pekerjaan ini sampai
tiga kali. Kemudian larutan dibuang dan preparat dicuci dengan air lalu dimasukkan
ke dalam larutan ZNB Sambil digoyang-goyang sampai warna cat dilunturkan. Lalu
cuci dengan air, kemudian masukkan ke dalam larutan ZNC selama 5 menit. Cuci
dengan air dan keringkan di udara. Periksalah dengan mikroskop obyektif 100x
7. Tata Cara Pembacaan Hasil
Bakteri ZN positif: berwarna merah
Bakteri ZN negative :berwarna biru
Niehl neelsen untuk pemeriksaan bakteri tahan asam.

Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 31

(LENGKAP) HASIL PEMERIKSAAN URINE
RUTIN/URINALISIS :
Makroskopik (Glukosa, Protein, Bilirubin,
Urobilinogen,Keasaman/pH, berat jenis/BJ, Darah, Keton, Nitrit,
Lekosit Esterase) | Mikroskopik (Eritrosit, Leukosit, Sel Epitel,
Silinder, Bakteri, Ragi, Trichomonas, Kristal (Kalsium Oksalat, Triple
Fosfat, Asam Urat, Sistin, Leusin/Tirposin, Kolesterol, Natrium Urat,
Amorf Urat, Ca-Fosfat, Amorf Fosfat)
Urinalisis 1
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis
infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal,
memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi
(hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
SPESIMEN
Urinalisis yang akurat dipengaruhi oleh spesimen yang berkualitas. Sekresi vagina,
perineum dan uretra pada wanita, dan kontaminan uretra pada pria dapat mengurangi
mutu temuan laboratorium. Mukus, protein, sel, epitel, dan mikroorganisme masuk ke
dalam sistem urine dari uretra dan jaringan sekitarnya. Oleh karena itu pasien perlu
diberitahu agar membuang beberapa millimeter pertama urine sebelum mulai
menampung urine. Pasien perlu membersihkan daerah genital sebelum berkemih.
Wanita yang sedang haid harus memasukkan tampon yang bersih sebelum
menampung specimen. Kadang-kadang diperlukan kateterisasi untuk memperoleh
spesimen yang tidak tercemar.
Meskipun urine yang diambil secara acak (random) atau urine sewaktu cukup bagus
untuk pemeriksaan, namun urine pertama pagi hari adalah yang paling bagus. Urine
satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsure-
unsur yang terbentuk mengalami pemekatan.
Gunakan wadah yang bersih untuk menampung spesimen urin. Hindari sinar matahari
langsung pada waktu menangani spesimen urin. Jangan gunakan urin yang
mengandung antiseptik.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 32

Lakukan pemeriksaan dalam waktu satu jam setelah buang air kecil. Penundaan
pemeriksaan terhadap spesimen urine harus dihindari karena dapat mengurangi
validitas hasil. Analisis harus dilakukan selambat-lambatnya 4 jam setelah
pengambilan spesimen. Dampak dari penundaan pemeriksan antara lain : unsur-unsur
berbentuk dalam sedimen mulai mengalami kerusakan dalam 2 jam, urat dan fosfat
yang semula larut dapat mengendap sehingga mengaburkan pemeriksaan mikroskopik
elemen lain, bilirubin dan urobilinogen dapat mengalami oksidasi bila terpajan sinar
matahari, bakteri berkembangbiak dan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan
mikrobiologik dan pH, glukosa mungkin turun, dan badan keton, jika ada, akan
menguap.
PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK
Urinalisis dimulai dengan mengamati penampakan makroskopik : warna dan
kekeruhan. Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit
berkabut dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin. Intensitas
warna sesuai dengan konsentrasi urine; urine encer hampir tidak berwarna,
urine pekat berwarna kuning tua atau sawo matang. Kekeruhan biasanya
terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urine asam) atau
fosfat (dalam urine basa). Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan selular
berlebihan atau protein dalam urin.
Volume urine normal adalah 750-2.000 ml/24hr. Pengukuran volume ini pada
pengambilan acak (random) tidak relevan. Karena itu pengukuran volume harus
dilakukan secara berjangka selama 24 jam untuk memperoleh hasil yang akurat.
Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat mengindikasikan
kemungkinan adanya infeksi, dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakit hati,
kerusakan otot atau eritrosit dalam tubuh. Obat-obatan tertentu juga dapat mengubah
warna urin. Kencing berbusa sangat mungkin mewakili jumlah besar protein dalam
urin (proteinuria).
Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :
Merah : Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin.
Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab
(kelembak), senna.
Oranye : Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab nonpatologik : obat
untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin.
Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin. Penyebab
nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin.
Hijau : Penyebab patologik : biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas). Penyebab
nonpatologik : preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 33

Biru : tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran.
Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu. Pengaruh
obat : levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.
Hitam atau hitam kecoklatan : Penyebab patologik : melanin, asam homogentisat,
indikans, urobilinogen, methemoglobin. Pengaruh obat : levodopa, cascara,
kompleks besi, fenol.
ANALISIS DIPSTICK
Dipstick adalah strip reagen berupa
strip plastik tipis yang ditempeli
kertas seluloid yang mengandung
bahan kimia tertentu sesuai jenis
parameter yang akan diperiksa.
Urine Dip merupakan analisis kimia
cepat untuk mendiagnosa berbagai
penyakit.
Uji kimia yang tersedia pada reagen strip umumnya adalah : glukosa, protein,
bilirubin, urobilinogen, pH, berat jenis, darah, keton, nitrit, dan leukosit
esterase.
Prosedur Tes
Ambil hanya sebanyak strip yang
diperlukan dari wadah dan segera
tutup wadah. Celupkan strip reagen
sepenuhnya ke dalam urin selama
dua detik. Hilangkan kelebihan urine
dengan menyentuhkan strip di tepi
wadah spesimen atau dengan
meletakkan strip di atas secarik
kertas tisu. Perubahan warna
diinterpretasikan dengan membandingkannya dengan skala warna rujukan, yang
biasanya ditempel pada botol/wadah reagen strip. Perhatikan waktu reaksi untuk
setiap item. Hasil pembacaan mungkin tidak akurat jika membaca terlalu cepat atau
terlalu lambat, atau jika pencahayaan kurang. Pembacaan dipstick dengan
instrument otomatis lebih dianjurkan untuk memperkecil kesalahan dalam
pembacaan secara visual.
Pemakaian reagen strip haruslah dilakukan secara hati-hati. Oleh karena itu harus
diperhatikan cara kerja dan batas waktu pembacaan seperti yang tertera dalam leaflet.
Setiap habis mengambil 1 batang reagen strip, botol/wadah harus segera ditutup
kembali dengan rapat, agar terlindung dari kelembaban, sinar, dan uap kimia. Setiap
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 34

strip harus diamati sebelum digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada perubahan
warna.

Glukosa
Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin
(kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena
nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 35

Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak
sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria
tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes mellitus.
Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (GOD),
peroksidase (POD) dan zat warna.
Protein
Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap
oleh tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urine biasanya tidak melebihi 150 mg/24
jam atau 10 mg/dl dalam setiap satu spesimen. Lebih dari 10 mg/ml didefinisikan
sebagai proteinuria.
Sejumlah kecil protein dapat dideteksi dari individu sehat karena perubahan
fisiologis. Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging dapat
menyebabkan protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin. Pra-
menstruasi dan mandi air panas juga dapat menyebabkan jumlah protein tinggi.
Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin
merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan
karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan peningkatan
ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang sensitif
untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel.
Dipsticks mendeteksi protein dengan indikator warna Bromphenol biru, yang sensitif
terhadap albumin tetapi kurang sensitif terhadap globulin, protein Bence-Jones, dan
mukoprotein.
Bilirubin
Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urine adalah bilirubin direk (terkonjugasi),
karena tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan
diekskresikan ke dalam urine bila kadar dalam darah meningkat. Bilirubinuria
dijumpai pada ikterus parenkimatosa (hepatitis infeksiosa, toksik hepar), ikterus
obstruktif, kanker hati (sekunder), CHF disertai ikterik.
Urobilinogen
Empedu yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin terkonjugasi mencapai area
duodenum, tempat bakteri dalam usus mengubah bilirubin menjadi urobilinogen.
Sebagian besar urobilinogen berkurang di faeses; sejumlah besar kembali ke hati
melalui aliran darah, di sini urobilinogen diproses ulang menjadi empedu; dan kira-
kira sejumlah 1% diekskresikan ke dalam urine oleh ginjal.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 36

Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar menurun
atau terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang melebehi
batas kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen meninggi dijumpai
pada : destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia hemolitik
oleh sebab apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa,
sirosis hepar, keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi
usus, mononukleosis infeksiosa, anemia sel sabit. Urobilinogen urine menurun
dijumpai pada ikterik obstruktif, kanker pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah
empedu yang dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis,
diare yang berat.
Hasil positif juga dapat diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat disebabkan
oleh kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil
urobilinogen.
Keasaman (pH)
Filtrat glomerular plasma darah biasanya diasamkan oleh tubulus ginjal dan saluran
pengumpul dari pH 7,4 menjadi sekitar 6 di final urin. Namun, tergantung pada status
asam-basa, pH kemih dapat berkisar dari 4,5 8,0. pH bervariasi sepanjang hari,
dipengaruhi oleh konsumsi makanan; bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan
menjadi kurang basa menjelang makan berikutnya. Urine pagi hari (bangun tidur)
adalah yang lebih asam. Obat-obatan tertentu dan penyakit gangguan keseimbangan
asam-basa jug adapt mempengaruhi pH urine.
Urine yang diperiksa haruslah segar, sebab bila disimpan terlalu lama, maka pH akan
berubah menjadi basa. Urine basa dapat memberi hasil negatif atau tidak memadai
terhadap albuminuria dan unsure-unsur mikroskopik sedimen urine, seperti eritrosit,
silinder yang akan mengalami lisis. pH urine yang basa sepanjang hari kemungkinan
oleh adanya infeksi. Urine dengan pH yang selalu asam dapat menyebabkan
terjadinya batu asam urat.
Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :
pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih
(Proteus atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia), terapi
alkalinisasi, asidosis tubulus ginjal, spesimen basi.
pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis
sistemik (kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau metabolic
memicu pengasaman urine dan meningkatkan ekskresi NH4+), terapi pengasaman.
Berat Jenis (Specific Gravity, SG)
Berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolalitas urin yang mengukur
konsentrasi zat terlarut) mengukur kepadatan air seni serta dipakai untuk menilai
kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urin.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 37

Spesifik gravitasi antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika
fungsi ginjal normal. Nilai rujukan untuk urine pagi adalah 1,015 1,025, sedangkan
dengan pembatasan minum selama 12 jam nilai normal > 1,022, dan selama 24 jam
bisa mencapai 1,026. Defek fungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus adalah
kehilangan kemampuan untuk memekatkan urine.
BJ urine yang rendah persisten menunjukkan gangguan fungsi reabsorbsi tubulus.
Nokturia dengan ekskresi urine malam > 500 ml dan BJ kurang dari 1.018, kadar
glukosa sangat tinggi, atau mungkin pasien baru-baru ini menerima pewarna
radiopaque kepadatan tinggi secara intravena untuk studi radiografi, atau larutan
dekstran dengan berat molekul rendah. Kurangi 0,004 untuk setiap 1% glukosa untuk
menentukan konsentrasi zat terlarut non-glukosa.
Darah (Blood)
Pemeriksaan dengan carik celup akan memberi hasil positif baik untuk
hematuria, hemoglobinuria, maupun mioglobinuria. Prinsip tes carik celup ialah
mendeteksi hemoglobin dengan pemakaian substrat peroksidase serta aseptor
oksigen. Eritrosit yang utuh dipecah menjadi hemoglobin dengan adanya aktivitas
peroksidase. Hal ini memungkinkan hasil tidak sesuai dengan metode mikroskopik
sedimen urine.
Hemoglobinuria sejati terjadi bila hemoglobin bebas dalam urine yang disebabkan
karena danya hemolisis intravaskuler. Hemolisis dalam urine juga dapat terjadi
karena urine encer, pH alkalis, urine didiamkan lama dalam suhu kamar.
Mioglobinuria terjadi bila mioglobin dilepaskan ke dalam pembuluh darah akibat
kerusakan otot, seperti otot jantung, otot skeletal, juga sebagai akibat dari olah raga
berlebihan, konvulsi. Mioglobin memiliki berat molekul kecil sehingga mudah
difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresi ke dalam urine.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Hasil positif palsu dapat terjadi bila urine tercemar deterjen yang mengandung
hipoklorid atau peroksida, bila terdapat bakteriuria yang mengandung peroksidase.
Hasil negatif palsu dapat terjadi bila urine mengandung vitamin C dosis tinggi,
pengawet formaldehid, nitrit konsentrasi tinggi, protein konsentrasi tinggi, atau
berat jenis sangat tinggi.
Urine dari wanita yang sedang menstruasi dapat memberikan hasil positif.
Keton
Badan keton (aseton, asam aseotasetat, dan asam -hidroksibutirat) diproduksi untuk
menghasilkan energi saat karbohidrat tidak dapat digunakan. Asam aseotasetat dan
asam -hidroksibutirat merupakan bahan bakar respirasi normal dan sumber energi
penting terutama untuk otot jantung dan korteks ginjal. Apabila kapasitas jaringan
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 38

untuk menggunakan keton sudah mencukupi maka akan diekskresi ke dalam urine,
dan apabila kemampuan ginjal untuk mengekskresi keton telah melampaui batas,
maka terjadi ketonemia. Benda keton yang dijumpai di urine terutama adalah aseton
dan asam asetoasetat.
Ketonuria disebabkan oleh kurangnya intake karbohidrat (kelaparan, tidak
seimbangnya diet tinggi lemak dengan rendah karbohidrat), gangguan absorbsi
karbohidrat (kelainan gastrointestinal), gangguan metabolisme karbohidrat (mis.
diabetes), sehingga tubuh mengambil kekurangan energi dari lemak atau protein,
febris.
Nitrit
Di dalam urine orang normal terdapat nitrat sebagai hasil metabolisme protein, yang
kemudian jika terdapat bakteri dalam jumlah yang signifikan dalam urin (Escherichia
coli, Enterobakter, Citrobacter, Klebsiella, Proteus) yang megandung enzim
reduktase, akan mereduksi nitrat menjadi nitrit. Hal ini terjadi bila urine telah berada
dalam kandung kemih minimal 4 jam. Hasil negative bukan berarti pasti tidak
terdapat bakteriuria sebab tidak semua jenis bakteri dapat membentuk nitrit, atau
urine memang tidak mengandung nitrat, atau urine berada dalam kandung kemih
kurang dari 4 jam. Disamping itu, pada keadaan tertentu, enzim bakteri telah
mereduksi nitrat menjadi nitrit, namun kemudian nitrit berubah menjadi nitrogen.
Spesimen terbaik untuk pemeriksaan nitrit adalah urine pagi dan diperiksa dalam
keadaan segar, sebab penundaan pemeriksaan akan mengakibatkan perkembang
biakan bakteri di luar saluran kemih, yang juga dapat menghasilkan nitrit.
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Hasil positif palsu karena metabolisme bakteri in vitro apabila pemeriksaan
tertunda, urine merah oleh sebab apapun, pengaruh obat (fenazopiridin).
Hasil negatif palsu terjadi karena diet vegetarian menghasilkan nitrat dalam jumlah
cukup banyak, terapi antibiotik mengubah metabolisme bakteri, organism
penginfeksi mungkin tidak mereduksi nitrat, kadar asam askorbat tinggi, urine tidak
dalam kandung kemih selama 4-6 jam, atau berat jenis urine tinggi.

Lekosit esterase
Lekosit netrofil mensekresi esterase yang dapat dideteksi secara kimiawi. Hasil tes
lekosit esterase positif mengindikasikan kehadiran sel-sel lekosit (granulosit), baik
secara utuh atau sebagai sel yang lisis. Limfosit tidak memiliki memiliki aktivitas
esterase sehingga tidak akan memberikan hasil positif. Hal ini memungkinkan hasil
mikroskopik tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan carik celup.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 39

Temuan laboratorium negatif palsu
dapat terjadi bila kadar glukosa
urine tinggi (>500mg/dl), protein
urine tinggi (>300mg/dl), berat jenis
urine tinggi, kadar asam oksalat
tinggi, dan urine mengandung cephaloxin, cephalothin, tetrasiklin. Temuan positif
palsu pada penggunaan pengawet formaldehid. Urine basi dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan.
Urinalisis 2 (Analisis Mikroskopik)
Pemeriksaan mikroskopik diperlukan untuk mengamati sel dan benda berbentuk partikel
lainnya. Banyak macam unsur mikroskopik dapat ditemukan baik yang ada kaitannya
dengan infeksi (bakteri, virus) maupun yang bukan karena infeksi misalnya perdarahan,
disfungsi endotel dan gagal ginjal.
Metode pemeriksaan mikroskopik sedimen urine lebih dianjurkan untuk dikerjakan
dengan pengecatan Stenheimer-Malbin. Dengan pewarnaan ini, unsur-unsur mikroskopik
yang sukar terlihat pada sediaan natif dapat terlihat jelas.
PROSEDUR
Sampel urin dihomogenkan dulu kemudian dipindahkan ke dalam tabung pemusing
sebanyak 10 ml. Selanjutnya dipusingkan dengan kecepatan relatif rendah (sekitar
1500 2000 rpm) selama 5 menit. Tabung dibalik dengan cepat (decanting) untuk
membuang supernatant sehingga tersisa endapan kira-kira 0,2-0,5 ml. Endapan
diteteskan ke gelas obyek dan ditutup dengan coverglass. Jika hendak dicat dengan
dengan pewarna Stenheimer-Malbin, tetesi endapan dengan 1-2 tetes cat tersebut,
kemudian dikocok dan dituang ke obyek glass dan ditutup dengan coverglass, siap
untuk diperiksa.
Endapan pertama kali diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran rendah
menggunakan lensa obyektif 10X, disebut lapang pandang lemah (LPL) atau low
power field (LPF) untuk mengidentifikasi benda-benda besar seperti silinder dan
kristal. Selanjutnya, pemeriksaan dilakukan dengan kekuatan tinggi menggunakan
lensa obyektif 40X, disebut lapang pandang kuat (LPK) atau high power field
(HPF) untuk mengidentifikasi sel (eritrosit, lekosit, epitel), ragi, bakteri,
Trichomonas, filamen lendir, sel sperma. Jika identifikasi silinder atau kristal belum
jelas, pengamatan dengan lapang pandang kuat juga dapat dilakukan.
Karena jumlah elemen yang ditemukan dalam setiap bidang dapat berbeda dari satu
bidang ke bidang lainnya, beberapa bidang dirata-rata. Berbagai jenis sel yang
biasanya digambarkan sebagai jumlah tiap jenis ditemukan per rata-rata lapang
pandang kuat. Jumlah silinder biasanya dilaporkan sebagai jumlah tiap jenis yang
ditemukan per lapang pandang lemah.
Cara melaporkan hasil adalah sebagai berikut :
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 40

Dilaporkan Normal + ++ +++ ++++
Eritrosit/LPK 0-3 4-8 8-30 lebih dari 30 penuh
Leukosit/LPK 0-4 5-20 20-50 lebih dari 50 penuh
Silinder/Kristal/LPL 0-1 1-5 5-10 10-30 lebih dari 30
Keterangan :
Khusus untuk kristal Ca-oxallate : + masih dinyatakan normal; ++ dan +++ sudah
dinyatakan abnormal.
Eritrosit
Eritrosit dalam air seni dapat berasal dari bagian manapun dari saluran kemih. Secara
teoritis, harusnya tidak dapat ditemukan adanya
eritrosit, namun dalam urine normal dapat
ditemukan 0 3 sel/LPK. Hematuria adalah
adanya peningkatan jumlah eritrosit dalam urin
karena: kerusakan glomerular, tumor yang
mengikis saluran kemih, trauma ginjal, batu
saluran kemih, infeksi, inflamasi, infark ginjal,
nekrosis tubular akut, infeksi saluran kemih atas
dan bawah, nefrotoksin, dll.
Hematuria dibedakan menjadi hematuria makroskopik (gross hematuria) dan
hematuria mikroskopik. Darah yang dapat terlihat jelas secara visual menunjukkan
perdarahan berasal dari saluran kemih bagian bawah, sedangkan hematuria
mikroskopik lebih bermakna untuk kerusakan glomerulus.
Dinyatakan hematuria mikroskopik jika dalam urin ditemukan lebih dari 5
eritrosit/LPK. Hematuria mikroskopik sering dijumpai pada nefropati diabetik,
hipertensi, dan ginjal polikistik. Hematuria mikroskopik dapat terjadi persisten,
berulang atau sementara dan berasal dari sepanjang ginjal-saluran kemih. Hematuria
persisten banyak dijumpai pada perdarahan glomerulus ginjal.
Eritrosit dapat terlihat berbentuk normal, membengkak, krenasi, mengecil, shadow
atau ghost cells dengan mikroskop cahaya. Spesimen segar dengan berat jenis 1,010-
1,020, eritrosit berbentuk cakram normal. Eritrosit tampak bengkak dan hampir tidak
berwarna pada urin yang encer, tampak mengkerut (crenated) pada urine yang pekat,
dan tampak mengecil sekali dalam urine yang alkali. Selain itu, kadang-kadang
eritrosit tampak seperti ragi.
Eritrosit dismorfik tampak pada ukuran yang
heterogen, hipokromik, terdistorsi dan sering
tampak gumpalan-gumpalan kecil tidak beraturan
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 41

tersebar di membran sel. Eritrosit dismorfik memiliki bentuk aneh akibat terdistorsi
saat melalui struktur glomerulus yang abnormal. Adanya eritrosit dismorfik dalam
urin menunjukkan penyakit glomerular seperti glomerulonefritis.
Leukosit
Lekosit berbentuk bulat, berinti, granuler,
berukuran kira-kira 1,5 2 kali eritrosit. Lekosit
dalam urine umumnya adalah neutrofil
(polymorphonuclear, PMN). Lekosit dapat berasal
dari bagian manapun dari saluran kemih.
Lekosit hingga 4 atau 5 per LPK umumnya masih
dianggap normal. Peningkatan jumlah lekosit
dalam urine (leukosituria atau piuria) umumnya
menunjukkan adanya infeksi saluran kemih baik bagian atas atau bawah, sistitis,
pielonefritis, atau glomerulonefritis akut. Leukosituria juga dapat dijumpai pada
febris, dehidrasi, stress, leukemia tanpa adanya infeksi atau inflamasi, karena
kecepatan ekskresi leukosit meningkat yang mungkin disebabkan karena adanya
perubahan permeabilitas membran glomerulus atau perubahan motilitas leukosit.
Pada kondisi berat jenis urin rendah, leukosit dapat ditemukan dalam bentuk sel
Glitter merupakan lekosit PMN yang menunjukkan gerakan Brown butiran dalam
sitoplasma. Pada suasana pH alkali leukosit cenderung berkelompok.
Lekosit dalam urine juga dapat merupakan suatu kontaminan dari saluran urogenital,
misalnya dari vagina dan infeksi serviks, atau meatus uretra eksterna pada laki-laki.
Sel Epitel
Sel Epitel TubulusSel
epitel tubulus ginjal
berbentuk bulat atau
oval, lebih besar dari
leukosit, mengandung
inti bulat atau oval besar,
bergranula dan biasanya
terbawa ke urin dalam
jumlah kecil. Namun, pada
sindrom nefrotik dan
dalam kondisi yang
mengarah ke degenerasi
saluran kemih, jumlahnya
bisa meningkat. Jumlah sel tubulus 13 / LPK atau penemuan fragmen sel tubulus
dapat menunjukkan adanya penyakit ginjal yang aktif atau luka pada tubulus,
seperti pada nefritis, nekrosis tubuler akut, infeksi virus pada ginjal, penolakan
transplnatasi ginjal, keracunan salisilat.

Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 42

Sel epitel tubulus dapat
terisi oleh banyak tetesan lemak
yang berada dalam lumen tubulus
(lipoprotein yang menembus
glomerulus), sel-sel seperti ini
disebut oval fat bodies / renal
tubular fat / renal tubular fat
bodies. Oval fat
bodiesmenunjukkan adanya
disfungsi disfungsi glomerulus
dengan kebocoran plasma ke
dalam urin dan kematian sel epitel
tubulus.Oval fat bodies dapat
dijumpai pada sindrom nefrotik, diabetes mellitus lanjut, kerusakan sel epitel
tubulus yang berat karena keracunan etilen glikol, air raksa. Selain sel epitel
tubulus, oval fat bodies juga dapat berupa makrofag atau hisiosit.Sel epitel tubulus
yang membesar dengan multinukleus (multinucleated giant cells) dapat dijumpai
pada infeksi virus. Jenis virus yang dapat menginfeksi saluran kemih adalah
Cytomegalovirus (CMV) atau Herpes simplex virus (HSV) tipe 1 maupun tipe 2.
Sel epitel transisionalSel epitel ini dari pelvis ginjal, ureter, kandung kemih (vesica
urinaria), atau uretra, lebih besar dari sel epitel tubulus ginjal, dan agak lebih kecil
dari sel epitel skuamosa. Sel epitel ini berbentuk bulat atau oval, gelendong dan
sering mempunyai tonjolan. Besar kecilnya ukuran sel epitel transisional tergantung
dari bagian saluran kemih yang mana dia berasal. Sel epitel skuamosa adalah sel
epitel terbesar yang terlihat pada spesimen urin normal. Sel epitel ini tipis, datar,
dan inti bulat kecil. Mereka mungkin hadir sebagai sel tunggal atau sebagai
kelompok dengan ukuran bervariasi.
Sel skuamosaEpitel
skuamosa umumnya dalam
jumlah yang lebih rendah
dan berasal dari
permukaan kulit
atau dari luar uretra.
Signifikansi utama mereka
adalah sebagai indikator
kontaminasi.
Silinder
Silinder (cast) adalah massa
protein berbentuk silindris yang terbentuk di tubulus ginjal dan dibilas masuk ke
dalam urine. Silinder terbentuk hanya dalam tubulus distal yang rumit atau saluran
pengumpul (nefron distal). Tubulus proksimal dan lengkung Henle bukan lokasi
untuk pembentukan silinder. Silinder dibagi-bagi berdasarkan gambaran morfologik
dan komposisinya. Faktor-faktor yang mendukung pembentukan silinder adalah laju
aliran yang rendah, konsentrasi garam tinggi, volume urine yang rendah, dan pH
rendah (asam) yang menyebabkan denaturasi dan precipitasi protein, terutama
mukoprotein Tamm-Horsfall. Mukoprotein Tamm-Horsfall adalah matriks protein
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 43

yang lengket yang terdiri dari glikoprotein yang dihasilkan oleh sel epitel ginjal.
Semua benda berupa partikel atau sel yang terdapat dalam tubulus yang abnormal
mudah melekat pada matriks protein yang lengket.
Konstituen selular yang umumnya melekat pada silinder adalah eritrosit, leukosit, dan
sel epitel tubulus, baik dalam keadaan utuh atau dalam berbagai tahapan disintegrasi.
Apabila silinder mengandung sel atau bahan lain yang cukup banyak, silinder tersebut
dilaporkan berdasarkan konstituennya. Apabila konstituen selular mengalami
disintegrasi menjadi partikel granuler atau debris, biasanya silinder hanya disebut
sebagai silinder granular.
1. Silinder hialin
Silinder hialin atau silinder protein
terutama terdiri dari mucoprotein
(protein Tamm-Horsfall) yang
dikeluarkan oleh sel-sel tubulus.
Silinder ini homogen (tanpa
struktur), tekstur halus, jernih, sisi-
sisinya parallel, dan ujung-ujungnya
membulat. Sekresi protein Tamm-
Horsfall membentuk sebuah silinder
hialin di saluran pengumpul.
Silinder hialin tidak selalu
menunjukkan penyakit klinis.
Silinder hialin dapat dilihat bahkan pada pasien yang sehat. Sedimen urin normal
mungkin berisi 0 1 silinder hialin per LPL. Jumlah yang lebih besar dapat dikaitkan
dengan proteinuria ginjal (misalnya, penyakit glomerular) atau ekstra-ginjal
(misalnya, overflow proteinuria seperti dalam myeloma).
Silinder protein dengan panjang, ekor tipis terbentuk di persimpangan lengkung
Henles dan tubulus distal yang rumit disebut silindroid (cylindroids).
2. Silinder Eritrosit
Silinder eritrosit bersifat granuler
dan mengandung hemoglobin dari
kerusakan eritrosit. Adanya silinder
eritrosit disertai hematuria
mikroskopik memperkuat diagnosis
untuk kelainan glomerulus. Cedera
glomerulus yang parah dengan
kebocoran eritrosit atau kerusakan
tubular yang parah menyebabkan
sel-sel eritrosit melekat pada matriks
protein (mukoprotein Tamm-
Horsfall) dan membentuk silinder eritrosit.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 44

3. Silinder Leukosit
Silinder lekosit atau silinder nanah,
terjadi ketika leukosit masuk dalam
matriks Silinder. Kehadiran mereka menunjukkan
peradangan pada ginjal, karena silinder tersebut tidak akan
terbentuk kecuali dalam ginjal. Silinder lekosit paling khas
untuk pielonefritis akut, tetapi juga dapat ditemukan pada
penyakit glomerulus (glomerulonefritis). Glitter sel
(fagositik neutrofil) biasanya akan menyertai silinder lekosit.
Penemuan silinder leukosit yang bercampur dengan bakteri
mempunyai arti penting untuk pielonefritis, mengingat
pielonefritis dapat berjalan tanpa keluhan meskipun telah merusak jaringan ginjal
secara progresif.
4. Silinder Granular
Silinder granular adalah silinder
selular yang mengalami degenerasi.
Disintegrasi sel selama transit
melalui sistem saluran kemih
menghasilkan perubahan membran
sel, fragmentasi inti, dan granulasi
sitoplasma. Hasil disintegrasi
awalnya granular kasar, kemudian
menjadi butiran halus.
5. Silinder Lilin (Waxy Cast)
Silinder lilin adalah silinder tua hasil silinder granular yang mengalami perubahan
degeneratif lebih lanjut. Ketika silinder selular tetap berada di nefron untuk beberapa
waktu sebelum mereka dikeluarkan ke kandung kemih, sel-sel dapat berubah menjadi
silinder granular kasar, kemudian menjadi sebuah silinder granular halus, dan
akhirnya, menjadi silinder yang licin seperti lilin (waxy). Silinder lilin umumnya
terkait dengan penyakit ginjal berat dan amiloidosis ginjal. Kemunculan mereka
menunjukkan keparahan penyakit dan dilasi nefron dan karena itu terlihat pada tahap
akhir penyakit ginjal kronis.
Yang disebut telescoped urinary sediment adalah salah satu di mana eritrosit,
leukosit, oval fat bodies, dan segala jenis silinder yang ditemukan kurang lebih sama-
sama berlimpah. Kondisi yang dapat menyebabkan telescoped urinary sediment
adalah: 1) lupus nefritis 2) hipertensi ganas 3) diabetes glomerulosclerosis, dan 4)
glomerulonefritis progresif cepat.
Pada tahap akhir penyakit ginjal dari setiap penyebab, sedimen saluran kemih sering
menjadi sangat kurang karena nefron yang masih tersisa menghasilkan urin encer.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 45

Bakteri
Bakteri yang umum dalam spesimen urin karena
banyaknya mikroba flora normal vagina atau meatus
uretra eksternal dan karena kemampuan mereka untuk cepat berkembang biak di
urine pada suhu kamar. Bakteri juga dapat disebabkan oleh kontaminan dalam wadah
pengumpul, kontaminasi tinja, dalam urine yang dibiarkan lama (basi), atau memang
dari infeksi di saluran kemih. Oleh karena itu pengumpulan urine harus dilakukan
dengan benar (lihat pengumpulan specimen urine)
Diagnosis bakteriuria dalam kasus yang dicurigai infeksi saluran kemih memerlukan
tes biakan kuman (kultur). Hitung koloni juga dapat dilakukan untuk melihat apakah
jumlah bakteri yang hadir signifikan. Umumnya, lebih dari 100.000 / ml dari satu
organisme mencerminkan bakteriuria signifikan. Beberapa organisme mencerminkan
kontaminasi. Namun demikian, keberadaan setiap organisme dalam spesimen
kateterisasi atau suprapubik harus dianggap signifikan.
Ragi
Sel-sel ragi bisa merupakan
kontaminan atau infeksi jamur sejati.
Mereka sering sulit dibedakan dari
sel darah merah dan kristal amorf,
membedakannya adalah bahwa ragi
memiliki kecenderungan bertunas.
Paling sering adalah Candida, yang
dapat menginvasi kandung kemih,
uretra, atau vagina.
Trichomonas vaginalis
Trichomonas vaginalis adalah parasit menular seksual yang dapat berasal dari
urogenital laki-laki dan perempuan. Ukuran organisme ini bervariasi antara 1-2 kali
diameter leukosit. Organisme ini mudah diidentifikasi dengan cepat dengan melihat
adanya flagella dan pergerakannya yang tidak menentu.
Kristal
Kristal yang sering dijumpai adalah kristal calcium oxallate, triple phosphate, asam
urat. Penemuan kristal-kristal tersebut tidak mempunyai arti klinik yang penting.
Namun, dalam jumlah berlebih dan adanya predisposisi antara lain infeksi,
memungkinkan timbulnya penyakit kencing batu, yaitu terbentuknya batu ginjal-
saluran kemih (lithiasis) di sepanjang ginjal saluran kemih, menimbulkan jejas, dan
dapat menyebabkan fragmen sel epitel terkelupas. Pembentukan batu dapat disertai
kristaluria, dan penemuan kristaluria tidak harus disertai pembentukan batu.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 46

1. Kalsium Oksalat
Kristal ini umum dijumpai pada spesimen urine bahkan
pada pasien yang sehat. Mereka dapat terjadi pada urin
dari setiap pH, terutama pada pH yang asam. Kristal
bervariasi dalam ukuran dari cukup besar untuk sangat
kecil. Kristal ca-oxallate bervariasi dalam ukuran, tak
berwarna, dan bebentuk amplop atau halter. Kristal
dapat muncul dalam specimen urine setelah konsumsi
makanan tertentu (mis. asparagus, kubis, dll) dan
keracunan ethylene glycol. Adanya 1 5 ( + ) kristal Ca-oxallate per LPL masih
dinyatakan normal, tetapi jika dijumpai lebih dari 5 ( ++ atau +++ ) sudah dinyatakan
abnormal.
2. Triple Fosfat
Seperti halnya Ca-oxallate, triple fosfat juga dapat
dijumpai bahkan pada orang yang sehat. Kristal
terlihat berbentuk prisma empat persegi panjang
seperti tutup peti mati (kadang-kadang juga
bentuk daun atau bintang), tak berwarna dan larut
dalam asam cuka encer. Meskipun mereka dapat
ditemukan dalam setiap pH, pembentukan mereka
lebih disukai di pH netral ke basa. Kristal dapat
muncul di urin setelah konsumsi makan tertentu (buah-buahan). Infeksi saluran kemih
dengan bakteri penghasil urease (mis. Proteus vulgaris) dapat mendukung
pembentukan kristal (dan urolithiasis) dengan meningkatkan pH urin dan
meningkatkan amonia bebas.
3. Asam Urat
Kristal asam urat tampak berwarna kuning ke coklat, berbentuk belah ketupat
(kadang-kadang berbentuk jarum atau mawar). Dengan pengecualian langka,
penemuan kristal asam urat dalam urin sedikit memberikan nilai klinis, tetapi lebih
merupakan zat sampah metabolisme normal; jumlahnya tergantung dari jenis
makanan, banyaknya makanan, kecepatan metabolisme dan konsentrasi urin.
Meskipun peningkatan 16% pada pasien dengan gout, dan dalam keganasan limfoma
atau leukemia, kehadiran mereka biasanya tidak patologis atau meningkatkan
konsentrasi asam urat.
4. Sistin (Cystine)
Cystine berbentuk heksagonal dan
tipis. Kristal ini muncul dalam urin
sebagai akibat dari cacat genetic
atau penyakit hati yang parah.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 47

Kristal dan batu sistin dapat
dijumpai pada cystinuria dan
homocystinuria. Terbentuk pada pH
asam dan ketika konsentrasinya >
300mg. Sering membingungkan
dengan kristal asam urat. Sistin crystalluria atau urolithiasis merupakan indikasi
cystinuria, yang merupakan kelainan metabolisme bawaan cacat yang melibatkan
reabsorpsi tubulus ginjal tertentu
termasuk asam amino sistin.
5. Leusin dan Tirosin
Leusin dan tirosin adalah kristal
asam amino dan sering muncul
bersama-sama dalam penyakit hati
yang parah. Tirosin tampak sebagai
jarum yang tersusun sebagai berkas
atau mawar dan kuning. Leusin
muncul-muncul berminyak bola dengan radial dan konsentris striations. Kristal
leucine dipandang sebagai bola kuning dengan radial konsentris. Kristal ini kadang-
kadang dapat keliru dengan sel-sel, dengan pusat nukleus yang menyerupai. Kristal
dari asam amino leusin dan tirosin sangat jarang terlihat di sedimen urin. Kristal ini
dapat diamati pada beberapa penyakit keturunan seperti tyrosinosis dan penyakit
Maple Syrup. Lebih sering kita menemukan kristal ini bersamaan pada pasien
dengan penyakit hati berat (sering terminal).
6. Kristal Kolesterol
Kristal kolesterol tampak regular atau irregular , transparan, tampak sebagai pelat
tipis empat persegi panjang dengan satu (kadang dua) dari sudut persegi memiliki
takik. Penyebab kehadiran kristal kolesterol tidak jelas, tetapi diduga memiliki makna
klinis seperti oval fat bodies. Kehadiran kristal kolesterol sangat jarang dan biasanya
disertai oleh proteinuria.
7. Kristal lain
Berbagai macam jenis kristal lain yang dapat dijumpai dalam sedimen urin misalnya
adalah :
Kristal dalam urin asam :
Natirum urat : tak berwarna, bentuk batang ireguler tumpul, berkumpul
membentuk roset.
Amorf urat : warna kuning atau coklat, terlihat sebagai butiran, berkumpul.
Kristal dalam urin alkali :
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 48

Amonium urat (atau
biurat) : warna kuning-coklat,
bentuk bulat tidak teratur,
bulat berduri, atau bulat
bertanduk.
Ca-fosfat : tak
berwarna, bentuk batang-
batang panjang, berkumpul
membentuk rosset.
Amorf fosfat : tak
berwarna, bentuk butiran-
butiran, berkumpul.
Ca-karbonat : tak berwarna, bentuk bulat kecil, halter.
Secara umum, tidak ada intepretasi klinis, tetapi jika
terdapat dalam jumlah yang banyak, mungkin dapat
menimbulkan gangguan.
Banyak obat diekskresikan dalam urin mempunyai
potensi untuk membentuk kristal, seperti :
kristal Sulfadiazin dan kristal Sulfonamida

PEMERIKSAAN LABORATORIUM PADA TINJA

BAB I
LATAR BELAKANG
Pemeriksaan feses ( tinja ) adalah salah satu pemeriksaan laboratorium yang telah
lama dikenal untuk membantu klinisi menegakkan diagnosis suatu penyakit.
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 49

Meskipun saat ini telah berkembang berbagai pemeriksaan laboratorium yang modern
, dalam beberapa kasus pemeriksaan feses masih diperlukan dan tidak dapat
digantikan oleh pemeriksaan lain. Pengetahuan mengenai berbagai macam penyakit
yang memerlukan pemeriksaan feses , cara pengumpulan sampel yang benar serta
pemeriksan dan interpretasi yang benar akan menentukan ketepatan diagnosis yang
dilakukan oleh klinisi.

Hal yang melatar belakangi penulis menyusun sebuah makalah dengan judul
pemeriksaan laboratorium pada feses sebagai pemeriksaan penunjang dalam
penegakan diagnosa berbagai penyakit. Agar para tenaga teknis laboratorium
patologi klinik serta para mahasiswa dari berbagai program studi kesehatan
khususnya mahasiswa analis kesehatan dapat meningkatkan kemampuan dan
mengerti bermacam-macam penyakit yang memerlukan sampel feses, memahami
cara pengumpulan sampel untuk pemeriksaan feses secara benar. mampu
melaksanakan pemeriksaan sampel feses dengan baik, dan pada akhirnya mampu
membuat interpretasi hasil pemeriksaan feses dengan benar.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendahuluan
1. Definisi
Feses adalah sisa hasil pencernaan dan absorbsi dari makanan yang kita makan yang
dikeluarkan lewat anus dari saluran cerna.Jumlah normal produksi 100 200 gram /
hari. Terdiri dari air, makanan tidak tercerna, sel epitel, debris, celulosa, bakteri dan
bahan patologis, Jenis makanan serta gerak peristaltik mempengaruhi bentuk, jumlah
maupun konsistensinya dengan frekuensi defekasi normal 3x per-hari sampai 3x per-
minggu.

B. Pemeriksaan

1. Indikasi dilakukan pemeriksaan feses
a. Adanya diare dan konstipasi
b. Adanya darah dalam tinja
c. Adanya lendir dalam tinja
d. Adanya ikterus
e. Adanya gangguan pencernaan
f. Kecurigaan penyakit gastrointestinal

2. Macam pemeriksaan
a. Makroskopis
Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah, warna, bau, darah,
lendir dan parasit.Feses untuk pemeriksaan sebaiknya yang berasal dari defekasi
spontan. Jika pemeriksaan sangat diperlukan,boleh juga sampel tinja di ambil dengan
jari bersarung dari rectum. Untuk pemeriksaan biasa dipakai tinja sewaktu, jarang
diperlukan tinja 24 jam untuk pemeriksaan tertentu.
Tinja hendaknya diperiksa dalam keadaan segar, kalau dibiarkan mungkin sekali
unsure-unsur dalam tinja itu menjadi rusak. Bahan ini harus dianggap bahan yang
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 50

mungkin mendatangkan infeksi,berhati-hatilah saat bekerja.
Dibawah ini merupakan syarat dalam pengumpulan sampel untuk pemeriksaan feses :
1) Wadah sampel bersih, kedap, bebas dari urine
2) Harus diperiksa 30 40 menit sejak dikeluarkan jika ada penundaan simpan di
almari es
3) Tidak boleh menelan barium, bismuth dan minyak 5 hari sebelum pemeriksaan
4) Diambil dari bagian yang paling mungkin memberi kelainan. misalnya bagian yang
bercampur
darah atau lendir
5) Paling baik dari defekasi spontan atau Rectal Toucher sebagai pemeriksaan tinja
sewaktu.
6) Pasien konstipasi dapat diberikan saline cathartic terlebih dahulu
7) Pada Kasus Oxyuris dapat digunakan metode schoth tape & object glass
8) Untuk mengirim tinja, wadah yang baik ialah yang terbuat dari kaca atau sari
bahan lain yang tidak
dapat ditembus seperti plastic. Kalau konsistensi tinja keras,dos karton berlapis
paraffin juga boleh
dipakai. Wadah harus bermulut lebar.
9) Oleh karena unsure-unsur patologik biasanya tidak dapat merata, maka hasil
pemeriksaan
mikroskopi tidak dapat dinilai derajat kepositifannya dengan tepat, cukup diberi
tanda (negatif),
(+),(++),(+++) saja

Berikut adalah uraian tentang berbagai macam pemeriksaan secara makroskopis
dengan sampel feses.

1) Pemeriksaan Jumlah
Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per hari. Banyaknya
tinja dipengaruhi jenis makanan bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat.

2) Pemeriksaan Warna
a) Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan
terbentuknya urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh
berbagai jenis makanan, kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang dimakan.
Warna kuning juga dapat disebabkan karena susu,jagung, lemak dan obat santonin.
b) Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang mengandung
khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin
dalam mekonium.
c) Warna kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran
pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif, tinja tersebut disebut akholis.
Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada
steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat
dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan radiologik.
d) Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar
dibagian distal, mungkin pula oleh makanan seperti bit atau tomat.
e) Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 51

pencernaan atau karena makanan seperti coklat, kopi dan lain-lain. Warna coklat tua
disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik. Sedangkan warna
hitam dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi, arang atau bismuth dan
mungkin juga oleh melena.

3) Pemeriksaan Bau
Indol, skatol dan asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. Bau busuk
didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan
dirombak oleh kuman.Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu.
Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna
seperti pada diare. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam. Konsumsi makanan
dengan rempah-rempah dapat mengakibatkan rempah-rempah yang tercerna
menambah bau tinja.

4) Pemeriksaan Konsistensi
Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan bebentuk. Pada diare konsistensi
menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala
didapatkan pada konstipasi. Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang
lunak dan bercampur gas. Konsistensi tinja berbentuk pita ditemukan pada penyakit
hisprung. feses yang sangat besar dan berminyak menunjukkan alabsorpsi usus

5) Pemeriksaan Lendir
Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja. Terdapatnya
lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus.
a) Lendir yang terdapat di bagian luar tinja, lokalisasi iritasi itu mungkin terletak pada
usus besar. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi
terjadi pada usus halus.
b) Pada disentri, intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja.
c) Lendir transparan yang menempel pada luar feces diakibatkan spastik kolitis,
mucous colitis pada anxietas.
d) Tinja dengan lendir dan bercampur darah terjadi pada keganasan serta peradangan
rektal anal.
e) Tinja dengan lendir bercampur nanah dan darah dikarenakan adanya ulseratif
kolitis, disentri basiler, divertikulitis ulceratif, intestinal tbc.
f) Tinja dengan lendir yang sangat banyak dikarenakan adanya vilous adenoma colon.

6) Pemeriksaan Darah.
Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda,coklat atau hitam. Darah itu
mungkin terdapat di bagian luar tinja atau bercampur baur dengan tinja.
a) Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja
dan warna menjadi hitam, ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices
dalam oesophagus.
b) Pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darah terdapat di bagian luar
tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma
rektum. Semakin proksimal sumber perdarahan semakin hitam warnanya.

7) Pemeriksaan Nanah
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 52

Pada pemeriksaan feses dapat ditemukan nanah. Hal ini terdapat pada pada penyakit
Kronik ulseratif Kolon , Fistula colon sigmoid, Lokal abses.Sedangkan pada penyakit
disentri basiler tidak didapatkan nanah dalam jumlah yang banyak.

8) Pemeriksaan Parasit
Diperiksa pula adanya cacing ascaris, anylostoma dan spesies cacing lainnya yang
mungkin didapatkan dalam feses.

9) Pemeriksaan adanya sisa makanan
Hampir selalu dapat ditemukan sisa makana yang tidak tercerna, bukan
keberadaannya yang mengindikasikan kelainan melainkan jumlahnya yang dalam
keadaan tertentu dihubungkan dengan sesuatu hal yang abnormal.
Sisa makanan itu sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi
makanan berasal dari hewan, seperti serta otot, serat elastic dan zat-zat lainnya.
Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan Lugol maka pati
(amylum) yang tidak sempurna dicerna nampak seperti butir-butir biru atau merah.
Penambahan larutan jenuh Sudan III atau Sudan IV dalam alkohol 70% menjadikan
lemak netral terlihat sebagai tetes-tetes merah atau jingga.

b. Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa, telur cacing, leukosit,
eritosit, sel epitel, kristal, makrofag dan sel ragi. Dari semua pemeriksaan ini yang
terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing.
1) Protozoa
Biasanya didapati dalam bentuk kista, bila konsistensi tinja cair baru didapatkan
bentuk trofozoit.
2) Telur cacing
Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides, Necator americanus,
Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan sebagainya.
3) Leukosit
Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Pada
disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah
leukosit. Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada
penderita dengan alergi saluran pencenaan.
Untuk mempermudah pengamatan leukosit dapat ditambah 1 tetes asam acetat 10%
pada 1 tetes emulsi feces pada obyek glass.
4) Eritrosit
Eritrosit hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus. Sedangkan
bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Adanya eritrosit dalam tinja
selalu berarti abnormal.
5) Epitel
Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epite lyaitu yang berasal dari
dinding usus bagian distal. Sel epitel yang berasal dari bagian proksimal jarang
terlihat karena sel inibiasanya telah rusak. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau
ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal.
6) Kristal
Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 53

tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak. Kristal tripel fosfat dan kalsium oksalat
didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi, sedangkan kristal asam lemak
didapatkan setelah banyak makan lemak.
Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden Tinja, Butir-butir
amilum dan kristal hematoidin. Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran
pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis. Pada perdarahan saluran pencernaan
mungkin didapatkan kristal hematoidin.
7) Makrofag
Sel besar berinti satu dengan daya fagositosis, dalam sitoplasmanya sering dapat
dilihat bakteri selain eritrosit, lekosit .Bentuknya menyerupai amuba tetapi tidak
bergerak.
8) Sel ragi
Khusus Blastocystis hominis jarang didapat. Pentingnya mengenal strukturnya ialah
supaya jangan dianggap kista amoeba
9) Jamur
a. Pemeriksaan KOH
Pemeriksaan KOH adalah pemeriksaan tinja dengan menggunakan larutan KOH
(kalium hidroksida) untuk mendeteksi adanya jamur, sedangkan pemeriksaan tinja
rutin adalah pemeriksaan tinja yang biasa dilakukan dengan menggunakan lugol.
Untuk membedakan antara Candida dalam keadaan normal dengan Kandidiasis
adalah pada kandidiasis, selain gejala kandidiasis, dari hasil pemeriksaan dapat
ditemukan bentuk pseudohifa yang merupakan bentuk invasif dari Candida pada
sediaan tinja.
Timbulnya kandidiasis juga dapat dipermudah dengan adanya faktor risiko seperti
diabetes melitus, AIDS, pengobatan antikanker, dan penggunaan antibiotika jangka
panjang. Kalau memang positif kandidiasis dan terdapat gejala kandidiasis, maka
biasanya dapat sembuh total dengan obat jamur seperti fluconazole, tetapi tentu saja
bila ada faktor risiko juga harus diatasi.
Swap adalah mengusap mukosa atau selaput lendir atau pseudomembran kemudian
hasil usapan diperiksa secara mikroskopik, sedangkan biopsi adalah pengambilan
jaringan atau sel untuk dilakukan pemeriksaan secara mikroskopik juga.

c. Kimia
1) Darah samar
Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar.
Tes terhadap darah samar dilakukan untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang
tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik.
Adanya darah dalam tinja selalau abnormal. Pada keadaan normal tubuh kehilangan
darah 0,5 2 ml / hari. Pada keadaan abnormal dengan tes darah samar positif (+)
tubuh kehilangan darah > 2 ml/ hari
Macam-macam metode tes darah samar yang sering dilakukan adalah guajac tes,
orthotoluidine, orthodinisidine, benzidin tes berdasarkan penentuan aktivitas
peroksidase / oksiperoksidase dari eritrosit (Hb)
a) Metode benzidine basa
i. Buatlah emulsi tinja dengan air atau dengan larutan garam kira-kira 10 ml dan
panasilah hingga mendidih.
ii. Saringlah emulsi yang masih panas itu dan biarkan filtrat sampai menjadi dingin
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 54

kembali.
iii. Ke dalam tabung reaksi lain dimasukkan benzidine basa sebanyak sepucuk pisau.
iv. Tambahkan 3 ml asam acetat glacial, kocoklah sampai benzidine itu
v. Bubuhilah 2ml filtrate emulsi tinja, campur.
vi. Berilah 1ml larutan hydrogen peroksida 3 %, campur.
vii. Hasil dibaca dalam waktu 5 menit ( jangan lebih lama )

Catatan :
Hasil dinilai dengan cara :
Negative ( - ) tidak ada perubahan warna atau samar-samar hijau
Positif ( +) hijau
Positif (2+) biru bercampur hijau
Positif (3+) biru
Positif (4+) biru tua

b) Metode Benzidine Dihidrochlorida
Jika hendak memakai benzidine dihirochlorida sebagai pengganti benzidine basa
dengan maksud supaya test menjadi kurang peka dan mengurangi hasil positif palsu,
maka caranya sama seperti diterangkan diatas.

c) Cara Guajac
Prosedur Kerja :
i. Buatlah emulsi tinja sebanyak 5ml dalam tabung reaksi dan tambahkan 1ml asam
acetat glacial, campur.
ii. Dalam tabung reaksi lain dimasukkan sepucuk pisau serbuk guajac dan 2ml
alcohol 95 %, campur.
iii. Tuang hati-hati isi tabung kedua dalam tabung yang berisi emulsi tinja sehingga
kedua jenis campuran tetap sebagai lapisan terpisah.
iv. Hasil positif kelihatan dari warna biru yang terjadi pada batas kedua lapisan itu.
Derajat kepositifan dinilai dari warna itu.

Zat yang mengganggu pada pemeriksaan darah samar diantara lain adalah preparat
Fe, chlorofil, extract daging, senyawa merkuri, Vitamin C dosis tinggi dan anti
oxidant dapat menyebabkan hasil negatif (-) palsu, sedangkan Lekosit, formalin, cupri
oksida, jodium dan asam nitrat dapat menyebabkan positif (+) palsu

10) Urobilin
Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Jumlah urobilin akan berkurang pada ikterus
obstruktif, pada kasus obstruktif total hasil tes menjadi negatif, tinja dengan warna
kelabu disebut akholik.
Prosedur kerja :
1. Taruhlah beberapa gram tinja dalam sebuah mortir dan campurlah dengan larutan
mercurichlorida 10 % dengan volume sama dengan volume tinja
2. Campurlah baik-baik dengan memakai alunya
3. Tuanglah bahan itu ke dalam cawan datar agar lebih mudah menguap dan biarkan
selama 6-24 jam
4. Adanya urobilin dapat dilihat dengan timbulnya warna merah
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 55


2) Urobilinogen
Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jika
dibandingkan terhadap tes urobilin,karena dapat menjelaskan dengan angka mutlak
jumlah urobilinogen yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermakna dalam
keadaan seperti anemia hemolitik dan ikterus obstruktif.
Tetapi pelaksanaan untuk tes tersebut sangat rumit dan sulit, karena itu jarang
dilakukan di laboratorium. Bila masih diinginkan penilaian ekskresi urobilin dapat
dilakukan dengan melakukan pemeriksaan urobilin urin.

3) Bilirubin
Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal,karena bilirubin dalam
usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi
menjadi urobilin.
Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi
perubahan bilirubin menjadi urobilinogen, seperti pengobatan jangka panjang dengan
antibiotik yang diberikan peroral, mungkin memusnakan flora usus yang
menyelenggarakan perubahan tadi.Untuk mengetahui adanya bilrubin dapat
digunakan metode pemeriksaan Fouchet


Interpretasi Hasil Pemeriksaan Feses :

Makroskopi dan Mikroskopi Interpretasi
Butir, kecil, keras, warna tua Konstipasi
Volume besar, berbau dan mengambang Malabsorbsi zat lemak atau protein
Rapuh dengan lendir tanpa darah Sindroma usus besar yang mudah
terangsang inflamasi dangkal dan difus,
adenoma dengan jonjot- jonjot
Rapuh dengan darah dan lendir (darah
nyata)
Inflamasi usus besar, tifoid, shigella,
amubiasis, tumor ganas
Hitam, mudah melekat seperti ter Perdarahan saluran cerna bagian atas
Volume besar, cair, sisa padat sedikit Infeksi non-invasif (kolera, E.coli
keadaan toksik, kkeracunan makanan
oleh stafilokokus, radang selaput osmotic
(defisiensi disakharida, makan berlebihan)
Rapuh mengandung nanah atau jaringan
nekrotik
Divertikulitis atau abses lain, tumor
nekrotik, parasit
Agak lunak, putih abu- abu sedikit Obstruksi jaundice, alkoholik
Cair bercampur lendir dan eritrosit Tifoid, kolera, amubiasis
Cair bercampur lendir dan leukosit Kolitis ulseratif, enteritis, shigellosis,
salmonellosis, TBC usus
Lendir dengan nanah dan darah Kolitis ulseratif, disentri basiler,
karsinoma ulseratif colon, diverticulitis
akut, TBC
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 56


BAB III
KESIMPULAN


Pemeriksaan feses masih sering dilakukan pada laboratorium-laboratorium klinik
maupun laboratorium di rumah sakit. Pemeriksaan feses adalah salah satu parameter
yang digunakan untuk membantu dalam penegakan diagnosis suatu penyakit serta
menyelidiki suatu penyakit secara lebih mendalam.

Pemeriksaan feses dibagi menjadi 3 macam pemeriksaan yaitu pemeriksaan
makroskopis, mikroskopis dan kimia.
1. Pemeriksaan makroskopis terdiri dari Pemeriksaan jumlah, pemeriksaan warna,
pemeriksaan bau, pemeriksaan konsistensi, pemeriksaan lendir, pemeriksaan
darah.pemeriksaan nanah, pemeriksaan parasit dan pemeriksaan adanya sisa
makanan.
2. Pemeriksaan mikroskopis feses terdiri dari pemeriksaan terhadap Protozoa, telur
cacing, leukosit, eritrosit, epitel, kristal,makrofag,sel ragi, dan jamur.
3. pemeriksaan kimia meliputi pemeriksaan Darah samar, urobilin, urobilinogen dan
bilirubin.
Dalam pemeriksaan feses perlu diperhatikan tahapan-tahapan pemeriksaan mulai dari
bagaimana pengumpulan sampel yang benar, memeriksa sampel yang sesuai dengan
prosedur, dan bagaimana menginterprestasikan hasil pemeriksaan sehingga dapat
mengeluarkan hasil yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal tersebut
sangat penting karena dari hasil pemeriksaan tersebut digunakan untuk menentukan
tindakan lebih lanjut seperti tindakan pengobatan.

)

Pemeriksaan Sekret Vagina

Prinsip : dengan pewarnaan gram, kuman neisseria gonorrhea akan menyerap cat carbol
fuchsin sehingga kuman akan bewarna merah
Tujuan : mencari kuman Neisseria gonorrhea dalam secret genital
Persiapan pasien :
Pasien dalam pengobatan, obat perlu dihentikan sehari sebelum pengambilan specimen
Sebaiknya pengambilan specimen pada pagi hari sebelum buang air kecil
Pada wanita gonorrhea kronis, specimen sebaiknya diambil sebelum atau sesudah haid
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 57

Pengambilan specimen, pembuatan dan pengiriman sediaan :
A. Pengambilan specimen
Alat (loop/lidi kapas steril, kaca objek yang kering, bersih, lampu spiritus, kursi obstetric,
speculum vagina steril, sarung tangan, pinsil kaca, larutan salin steril

Cara pengambilan
Pasien laki-laki :
Bersihkan lubang kemaluan dengan lidi kapas steril yang sudah dibasahi nacl
Dengan tekanan ringan pada alat kemaluan diurut dari bagian pangkal ke arah ujung
(belakang ke depan)
Secret yang di dapat dioleskan pada kaca objek, kemudian diratakan sampai tipis

Pasien wanita :
Pasien terbaring terlentang kedua lutut ditekuk pada kursi obstetric (posisi litotomi)
Masukan speculum steril dengan hati-hati dan speculum dibuka
Masukan ujung kapas lidi dan oleskan pada daerah endoservik. Gerakan lidi melingkar ke
kanan diamkan beberapa saat untuk penyerapan
Secret yang didapat dioleskan pada kaca objek yang telah di beri nomor untuk dibuat
sediaan
B. Pembuatan sediaan
Alat (forcep, rak pewarna, rak pengering)
Reagen (lar carbol gentian violet, lugol/iodin, larutan carbol fuchsin)
Cara :
Pasca pengolesan di objek glas biarkan di udara beberapa saaat mongering, fiksasi dengan
melakukan diatas nyala api lampu spiritus
Tuangi larutan carbol gentian violet selama 2-3 menit
Cuci dengan air kran atau air mengalir
Tuangi dengan alcohol 95% selama 20-30 detik cuci kembali
Tuangi carbol fuchsin selama 1-2 menit kembali
Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 58

Keringkan
C. Pengiriman sediaan
Bila perlu uji silang (cross cek) dila fasilitas lab kurang sediaan erlu di kirim ke lab
Cara pengiriman :
Setelah sediaan difiksasi bungkus dengan kertas tik tipis di bagi 2 menurut pjnya, tiap
potong untuk 15-20 sediaan
Bungkus lagi dengan kertas karton bergelombang menurut lebarnya dan ikta 2 kali
Bungkus lagi dengan kertas karton bergelombang menurut panjangnya dan ikat satu kali
Bungkus kagi dengan kertas karton bergelombang menurut panjangnya dan ikat dua kali
Bungkus lagi dengan kertas sampul dan ikat 3 kali

LAPORAN CSL
Menghitung Laju Endap Darah

Prosedur:
1. Mempersiapkan alat dan bahan seperti pipet westergren, pipet eritrosit, rak standar
westergren, dispossible syringe 1ml dan 3 ml, turniket, Na Sitrat, darah (jika
menggunakan EDTA maka gunakan reagen NaCl), botol kosong dan bersih.
2. Mencuci tangan dan memakai handskun
3. Isap Na Sitrat dengan spuit 1 cc hingga terisi 0.4 ml dan tuangkal ke dalam botol
bersih dan kering.
4. Ambillah darah 1.6 ml dan tuangkan ke dalam botol yang telah berisi Na Sitrat
5. Homogen kan larutan tersebut dengan memutarnya secara perlahan
6. Isap campuran tersebut dengan pipet wertergren secara tegak lurus sampai angka 0
7. Pindahkan pipet ke rak standar westergren secara tegak lurus dengan sudut 90
0
dan
pastikan pipet tetap tertutup rapat
8. Biarkan 1 jam dan lihat hasilnya
9. Interpretasikan hasilnya. LED pada laki normalnya 0-10 ml/jam sedangkan LED
pada wanita normalnya 0-15 ml/jam





Makalah Modul 2 Semester 3 Pemeriksaan Cairan Tubuh oleh kelompok 5 tutorial FK
UNIBA 2012 59

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan penunjang diagnose penyakit,
guna mendukung dan menyingkirkan diagnosis lainnya. Pemeriksaan laboratorium
merupakan penelitian perubahan yang timbul pada penyakit dalam hal susunan kimia dan
mekanisme biokimia tubuh . pemeriksaan laboratorium juga sebagai ilmu terapan untuk
menganalisa cairan tubuh dan jaringan guna membantu petugas kesehatan dalam
mendiagnosis dan mengobati pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1Masnjoer A, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi II. Jilid II. FK UI. Media Aesculapius.
Jakarta. 1982; 206-8.
2 Bahar A. Penyakit-Penyakit Pleura. Dalam: Soeparman, Sukaton U, Waspadji S, et al.
Editor. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 1998; 785-97.
3.Rab T. Ilmu Penyakit Paru. Hipokrates. Jakarta. 1996; 573-86.
4. Amin M, Alsagaff H, Saleh WBMT. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga
University Press. Surabaya. 1995; 128-30.
5. Uyainah AZN. Efusi Pleura. Dalam: Simadibrata M, Setiati S, Alwi I, et al, Ed. Pedoman
Diagnosis dan Terapi di Bidang II
6. kamus kedokteran Dorland edisi 31
Kamus kesehatan.com
7patofisiology silvaa edisi 68 Gandasoebrata,R.1999.Penuntun Laboratorium Klinik.Jakarta:
PT Dian Rakyat.
(Halaman 180-185)
9 Corwin, Elisabeth J.2001.Buku Saku Patofisiologi.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran
EGC.(Halaman 518-519)
10. http://www.kalbe.co.id/consultation/14/apa-itu-pemeriksaan-tinja-dg-koh-dan-
bedanya
pemeriksaan-tinja-rutin.htm ( Diakses pada 28 Maret 2011, pukul 16.30 )
mu Penyakit Dalam. Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Jakarta. 2000; 210-11.
http://rsudrsoetomo.jatimprov.go.id/pelatihan-pemeriksaan-feses (Diakses
http://health.detik.com/bila-feses-berwarna-hitam (Diakses 25 Maret 2011, 45