Anda di halaman 1dari 26

ARTIKEL PENELITIAN

ANALISIS KONSISTENSI PERENCANAAN DAN


PENGANGGARAN BIDANG KESEHATAN
DI KOTA SOLOK TAHUN 2007-2010


Oleh :

Meldayeni


ABSTRAK

Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk menunjang
pembangunan nasional, yang diarahkan untuk menciptakan kemampuan hidup
sehat bagi setiap penduduk dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal. Pentingnya peran kesehatan dalam pembangunan suatu negara dan
daerah menghendaki pembangunan bidang kesehatan dilakukan secara terencana,
terarah, komprehensif dan berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa konsistensi perencanaan dan
penganggaran bidang kesehatan di Kota Solok selama tahun 2007-2010,
pencapaian derajat kesehatan masyarakat serta kebijakan yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan konsistensi perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan
di Kota Solok. Analisis konsistensi antara perencanaan dan penganggaran bidang
kesehatan di Kota Solok dilakukan dengan membuat matrik konsolidasi
perencanaan dan penganggaran (MKPP) program-kegiatan bidang kesehatan.
Pencapaian derajat kesehatan masyarakat berdasarkan indikator kinerja bidang
kesehatan dalam dokumen RPJMD Kota Solok Tahun 2006-2011 dan Indikator
Indonesia Sehat berdasarkan Kepmenkes Nomor 202/Menkes/SK/VIII/2003
dalam mewujudkan Solok Sehat Tahun 2010.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun masih terdapat ada
program dan kegiatan yang tidak konsisten, namun secara umum antar dokumen
telah menunjukkan tingkat konsistensi cukup baik. Konsisten untuk anggaran
bidang kesehatan antara PPAS dengan APBD di Kota Solok cukup baik dengan
tingkat deviasi anggaran yang terjadi sangat kecil yaitu berkisar <10%. Untuk
pencapaian derajat kesehatan masyarakat di Kota Solok 90% dari semua indikator
kesehatan telah melebihi target yang ditetapkan Artinya untuk bidang kesehatan
Pemerintah Kota Solok benar-benar memfokuskan pelaksanaan program dan
kegiatannya untuk pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.




2

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan suatu hal yang menjadi komponen terpenting dalam
kehidupan manusia. Kesehatan sebagai hak asasi manusia sebagaimana termaktub
dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945 yang
dinyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat
tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan. Ini berarti suatu kewajiban untuk menyehatkan
yang sakit dan berupaya mempertahankan yang sehat untuk tetap sehat. Kesehatan
adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinan setiap
orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis, hal ini melandasi pemikiran
bahwa sehat adalah investasi (Menkes, 2006).
Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk menunjang
pembangunan nasional, yang diarahkan untuk menciptakan kemampuan hidup
sehat bagi setiap penduduk dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal. Di Kota Solok pembangunan di bidang kesehatan merupakan salah satu
misi Pemerintah Daerah dan menjadi prioritas agenda pembangunan dalam
dokumen perencanaan baik itu dalam dokumen perencanaan tahunan maupun
dokumen perencanaan jangka menengah. Hal ini sehubungan dengan keinginan
dari Pemerintah Kota untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan
mewujudkan Kota Solok Sehat 2010 sebagai pencapaian tujuan Indonesia Sehat.
Dalam rangka mendukung program Pemerintah Kota Solok dalam bidang
kesehatan tersebut diperlukan optimalisasi penyelenggaraan dalam perencanaan
dan penganggaran. Pentingnya peranan perencanaan pembangunan menjadi
bagian yang tak terhindarkan sebagai suatu kebutuhan untuk menyusun rancangan
kebijakan, program dan kegiatan yang secara konsisten menuju pada cita-cita
yang disepakati bersama. Sementara itu perencanaan pembangunan bidang
kesehatan dalam bentuk program, kebijakan maupun kegiatan akan tinggal
sebagai dokumen yang sia-sia jika tidak dikaitkan dengan penganggarannya, ini
disebabkan arena anggaran merupakan bagian yang sangat penting untuk
3

merealisasikan rencana dan target-target pembangunan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Namun di sisi lain, keterbatasan anggaran semakin menuntut adanya
perencanaan yang matang agar pemanfaatan sumber daya yang tersedia benar-
benar dilakukan secara efektif dan efisien (Mulyati, 2010).
Permasalahan yang sering muncul adalah dokumen perencanaan belum
sepenuhnya digunakan sebagai acuan dalam menyusun rencana kegiatan tahunan,
sehingga antara program dan kegiatan yang direncanakan tidak konsisten dengan
program dan kegiatan yang dianggarkan. Program dan kegiatan yang
direncanakan idealnya sama dengan program dan kegiatan yang dianggarkan.
Namun beberapa hasil penelitian sebelumnya menemukan bahwa pada sebagian
besar pemerintah daerah selama ini dalam penyusunan anggaran mengabaikan
dokumen perencanaan yang ada, sehingga tidak tercapainya sasaran
pembangunan.

B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang permasalahan diatas maka dirumuskan masalah
sebagai berikut :
a. Bagaimana konsistensi antara perencanaan dengan penganggaran bidang
kesehatan di Kota Solok serta alasan yang menjadi penyebab apabila
terjadi ketidakkonsistenan.
b. Bagaimana pencapaian derajat kesehatan masyarakat di Kota Solok.
c. Kebijakan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan konsistensi
perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan sehingga tercapai
sasaran dan tujuan yang diinginkan.

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pertanyaan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
a. Menganalisis konsistensi antara perencanaan dengan penganggaran bidang
kesehatan di Kota Solok serta sebab-sebab apabila terjadi
ketidakkonsistenan.
4

b. Menganalisis pencapaian derajat kesehatan masyarakat di Kota Solok.
c. Menyusun implikasi kebijakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
konsistensi perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan dalam
pencapaian sasaran dan tujuan.

D. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa batasan penelitian, diantaranya:
a. Penelitian ini ditujukan pada perencanaan dan penganggaran dalam 4 (lima)
Tahun Anggaran yaitu Tahun Anggaran 2007-2010. Tahun Anggaran 2007
merupakan tahun pertama Pemerintah Kota Solok mengimplementasikan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006.
b. Program dan kegiatan yang menjadi objek penelitian adalah mengenai
program dan kegiatan untuk bidang kesehatan di Kota Solok.
c. Dokumen KUA, PPAS dan APBD yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dokumen setelah dilakukannya perubahan karena program dan kegiatan dalam
dokumen tersebut yang dilaksanakan setiap tahunnya untuk mencapai tujuan
dan sasaran yang telah ditetapkan.
d. Analisis pencapaian derajat kesehatan berdasarkan sasaran bidang kesehatan
dalam RPJMD Kota Solok Tahun 2006-2011 dalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dan Indikator derajat kesehatan untuk Kota Solok
Sehat 2010 berdasarkan Indonesia Sehat 2010.
e. Sasaran bidang kesehatan dalam RPJMD Pemerintah Kota Solok Tahun
2006-2011 dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kota Solok
adalah Usia Harapan Hidup, Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian
Ibu (AKI) melahirkan dan Angka Prevalensi Gizi Kurang Anak Balita.
f. Indikator derajat kesehatan berdasarkan Indonesia Sehat 2010, terdiri atas
Mortalitas, morbiditas dan status gizi.


5

II. Tinjauan Literatur

A. Perencanaan Pembangunan
Konsep dasar perencanaan adalah rasionalitas, ialah cara berpikir ilmiah
dalam menyelesaikan problem dengan cara sistematis dan menyediakan berbagai
alternatif solusi guna memperoleh tujuan yang diinginkan. Menurut Syafrizal
(2009: 15) perencanaan pada dasarnya merupakan cara, teknik atau metode untuk
mencapai tujuan yang diinginkan secara tepat, terarah dan efisien sesuai dengan
sumber daya yang tersedia. Menurut Jhingan (2000), perencanaan adalah
teknik/cara untuk mencapai tujuan, untuk mewujudkan maksud dan sasaran
tertentu yang telah ditentukan sebelumnya dan telah dirumuskan dengan baik
oleh Badan Perencana Pusat, tujuan tersebut untuk mencapai sasaran sosial,
politik atau lainnya.
Perencanaan pembangunan merupakan suatu fungsi utama dari manajemen
pembangunan yang mutlak diperlukan mengingat kebutuhan akan pembangunan
lebih besar dari sumber daya yang tersedia. Melalui perencanaan pembangunan
yang lebih baik dirumuskan kegiatan pembangunan yang lebih efisien dan efektif
dengan hasil yang optimal dalam pemanfaatan sumber daya yang ada (Pelengkap
Buku Pegangan, 2007, Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah
Departemen Keuangan Republik Indonesia).
Untuk mewujudkan perencanaan yang sinergis dan harmonis, maka dalam
penyusunannya diperlukan proses :
a. Pendekatan politik. Hal ini dikarenakan rakyat dipandang memilih
Presiden/Kepala Daerah berdasarkan program-program pembangunan
yang ditawarkan sehingga perencanaan pembangunan merupakan
penjabaran dari agenda-agenda pembangunan yang ditawarkan
Presiden/Kepala Daerah pada saat kampanye ke dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).
6

b. Pendekatan teknokratik. Yaitu bahwa perencanaan dilaksanakan dengan
menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau
satuan kerja yang secara fungsional bertugas untuk hal tersebut.
c. Pendekatan partisipatif. Yaitu bahwa perencanaan dilaksanakan dengan
melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) terhadap
pembangunan. Pelibatan mereka adalah untuk mendapatkan aspirasi dan
menciptakan rasa saling memiliki.
d. Pendekatan atas-bawah (top-down) dan bawah-atas (bottom-up).
Pendekatan ini dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Rencana hasil
proses atas-bawah diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan di
tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, Desa dan
Kelurahan.
Dengan mempedomani proses perencanaan yang sinergis dan nantinya
akan melahirkan dokumen perencanaan pembangunan ditingkat daerah. Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2004 Pasal 1 ayat (3) menyatakan definisi dari sistem
perencanaan pembangunan nasional sebagai berikut : Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan
untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka
menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan
masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah. Adapun ruang lingkup perencanaan
pembangunan meliputi :
a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang
b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah
c. Rencana Kerja Perangkat Daerah
d. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Rentra-SKPD)
e. Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD)

B. Konsep Anggaran
Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak
dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial,
sedangkan penganggaran adalah proses atau metoda untuk mempersiapkan suatu
7

anggaran. Menurut Deputi Pengawasan Bidang Penyelenggaraan Keuangan
Daerah Direktorat Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah Wilayah 3,
Penganggaran merupakan rencana keuangan yang secara sistimatis menunjukkan
alokasi sumber daya manusia, material, dan sumber daya lainnya.
Dalam penganggaran terdapat prinsip-prinsip yang melekat (Deputi IV
BPKP), yaitu :
1) Transparansi dan akuntabilitas anggaran
APBD harus dapat menyajikan informasi yang jelas mengenai tujuan,
sasaran, hasil, dan manfaat yang diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan
atau proyek yang dianggarkan. Anggota masyarakat memiliki hak dan akses
yang sama untuk mengetahui proses anggaran karena menyangkut aspirasi
dan kepentingan masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhan hidup
masyarakat. Masyarakat juga berhak untuk menuntut pertanggungjawaban
atas rencana ataupun pelaksanaan anggaran tersebut.
2) Disiplin anggaran
Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara
rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan
belanja yang dianggarkan pada setiap pos/pasal merupakan batas tertinggi
pengeluaran belanja. Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan
adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup dan tidak
dibenarkan melaksanakan kegiatan/proyek yang belum/tidak tersedia
anggarannya dalam APBD/perubahan APBD.
3) Keadilan anggaran
Pemerintah daerah wajib mengalokasikan penggunaan anggarannya secara
adil agar dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa
diskriminasi dalam pemberian pelayanan karena pendapatan daerah pada
hakekatnya diperoleh melalui peran serta masyarakat.
4) Efisiensi dan efektifitas anggaran
Penyusunan anggaran hendaknya dilakukan berlandaskan azas efisiensi, tepat
guna, tepat waktu pelaksanaan, dan penggunaannya dapat
8

dipertanggungjawabkan. Dana yang tersedia harus dimanfaatkan dengan
sebaik mungkin untuk dapat menghasilkan peningkatan dan kesejahteraan
yang maksimal untuk kepentingan masyarakat.
5) Disusun dengan pendekatan kinerja
APBD disusun dengan pendekatan kinerja, yaitu mengutamakan upaya
pencapaian hasil kerja (output/outcome) dari perencanaan alokasi biaya atau
input yang telah ditetapkan. Hasil kerjanya harus sepadan atau lebih besar
dari biaya atau input yang telah ditetapkan. Selain itu harus mampu
menumbuhkan profesionalisme kerja di setiap organisasi kerja yang terkait.
Secara lebih spesifik, paradigma anggaran daerah yang diperlukan di era
otonomi daerah adalah sebagai berikut:
1. Anggaran Daerah harus bertumpu pada kepentingan publik.
2. Anggaran Daerah harus dikelola dengan hasil yang baik dan biaya rendah
(work better and cost less).
3. Anggaran Daerah harus mampu memberikan transparansi dan
akuntabilitas secara rasional untuk keseluruhan siklus anggaran.
4. Anggaran Daerah harus dikelola dengan pendekatan kinerja (performance
oriented) untuk seluruh jenis pengeluaran maupun pendapatan.
5. Anggaran Daerah harus mampu menumbuhkan profesionalisme kerja di
setiap organisasi yang terkait.
6. Anggaran Daerah harus dapat memberikan keleluasaan bagi para
pelaksananya untuk memaksimalkan pengelolaan dananya dengan
memperhatikan prinsip value for money.

C. Keterkaitan antara Perencanaan dan Penganggaran
Perencanaan dan penganggaran merupakan proses yang paling krusial
dalam penyelenggaraan pemerintah, karena berkaitan dengan tujuan dari
pemerintah itu sendiri untuk mensejahterakan rakyatnya. Perencanaan dan
penganggaran merupakan proses yang terintegrasi, oleh karenanya output dari
9

perencanaan adalah penganggaran. Perencanaan merupakan panduan strategis
dalam mewujudkan tujuan yang akan dicapai.
Dalam proses penyusunan anggaran harus memperhatikan beberapa aspek
yaitu : (1) kesesuaian atau keterkaitan antara belanja yang dikeluarkan dengan isu
strategis, tujuan, sasaran dan prioritas pembangunan yang disepakati,
penganggaran dikaitkan dengan tujuan dan sasaran strategis; (2) terdapat tujuan
dan program yang jelas; (3) terdapat standar pelayanan yang jelas; (4) terdapat
indikator kinerja yang disepakati untuk mengukur kinerja program/kegiatan.
Gambar 2.1. Alur Perencanaan dan Penganggaran

Sumber: UU Nomor 25 Tahun 2004 dan UU Nomor 17 Tahun 2003

D. Konsep Peningkatan Kesehatan
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur
kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 1 disebutkan bahwa Kesehatan adalah
keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang
10

memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Dalam Pasal 3 Undang-Undang ini disebutkan pula bahwa pembangunan
kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia
yang produktif secara sosial dan ekonomis.
Upaya kesehatan merupakan setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan
yang dilakukan secara terpadu, terintregasi dan berkesinambungan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dasar-dasar
pembangunan nasional di bidang kesehatan adalah sebagai berikut:
1. Semua warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang optimal agar
dapat bekerja dan hidup layak sesuai dengan martabat manusia.
2. Pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara dan
mempertinggi derajat kesehatan rakyat.
3. Penyelenggaraan upaya kesehatan diatur oleh pemerintah dan dilakukan
secara serasi dan seimbang oleh pemerintah dan masyarakat.
Peningkatan kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan derajat
kualitas manusia. Menurut Elfindri (2003), kesehatan sebagai modal dimana
investasi kesehatan bermakna secara mikro untuk meningkatkan nilai stok
manusia, berupa ketahan fisik dan intelejensia, serta investasi kesehatan dapat
mengurangi penyusutan nilai stok manusia. Perbaikan kesehatan yang terus-
menerus akan menuju pada suatu keadaan yang sehat.
Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah ditegaskan
bahwa tujuan pembangunan kesehatan masyarakat salah satunya adalah
meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya.
Oleh karena itu pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian cukup
besar terhadap pembangunan kesehatan masyarakat.



11

III. Metodologi Penelitian

A. Kerangka Analisis
Gambar 3.1. Kerangka Analisis
Tahap I








Tahap II



Tahap III



Program dan Kegiatan
Bidang Kesehatan dalam
Dokumen Perencanaan
Program, Kegiatan dan
Alokasi Dana Bidang
Kesehatan dalam Dokumen
Anggaran
Analisis Konsistensi Perencanaan dan
Penganggaran Bidang Kesehatan
Analisis pencapaian
derajat kesehatan
masyarakat
Menyusun implikasi kebijakan
untuk meningkatkan
konsistensi dalam pencapaian
sasaran dan tujuan
Konsisten
Tidak Konsisten,
sebab-sebab terjadinya
ketidakkonsistenan

12

B. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 (dua) jenis, yaitu data
sekunder dan data primer. Data sekunder adalah data yang dikeluarkan oleh
dinas/instansi terkait yang ada di Kota Solok, berupa Buku Kota Solok dalam
Angka, Profil Kesehatan Kota Solok, Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD), Kebijakan Umum
Anggaran (KUA), Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) dan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Solok. Sedangkan data
primer diperoleh melalui wawancara dengan pejabat yang terkait dalam proses
penyusunan perencanaan dan penganggaran, dan SKPD yang mengurus bidang
kesehatan di Kota Solok.

C. Metode Analisis
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, tujuan dari
penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan
secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta
hubungan antara fenomena yang diselidiki. Disamping itu, metode penelitian
komparatif juga digunakan dalam penelitian ini yaitu mencari jawaban secara
mendasar tentang sebab akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab
terjadinya ataupun munculnya fenomena tertentu. Metode penelitian komparatif
adalah bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian
telah selesai berlangsung.
1) Analisis konsistensi antara perencanaan dan penganggaran untuk bidang
kesehatan
Analisis dilakukan dengan mengevaluasi program dan kegiatan dalam
dokumen perencanaan dan penganggaran berupa RPJMD, RKPD, KUA,
PPAS dan APBD disusun dengan membuat matrik konsolidasi perencanaan
dan penganggaran (MKPP) program-kegiatan bidang kesehatan. Penyusunan
Matrik Konsolidasi Perencanaan dan Penganggaran program-kegiatan
dilakukan dengan integrasi antara dua dokumen, yakni:
a. Integrasi RPJMD dengan RKPD
13

b. Integrasi RKPD dengan KUA
c. Integrasi KUA dengan PPAS
d. Integrasi RKPD dengan APBD
e. Integrasi PPAS dengan APBD
Pengelompokkan konsistensi untuk dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 3.1. Pengelompokkan Konsistensi Program dan Kegiatan

No. Program/Kegiatan Pengelompokkan
Konsistensi Dokumen A Dokumen B
1. Ada Ada Konsisten
2. Ada Tidak ada Tidak Konsisten
3. Tidak ada Ada Tidak Konsisten
Selanjutnya untuk menentukan tingkat konsistensi secara keseluruhan
dari dokumen tersebut dilakukan melalui teknik persentase yaitu :
Tingkat konsistensi (%) Program = Jumlah Program yang konsisten x 100%
Total Program
Tingkat konsistensi (%) Kegiatan = Jumlah Kegiatan yang konsisten x 100%
Total Kegiatan
Untuk mengatahui penyebab program dan kegiatan yang tidak
konsisten, dilakukan wawancara mendalam (indept interview). Untuk program
dan kegiatan yang telah konsistensi secara nomenklatur, seterusnya dilihat
konsistensi berdasarkan deviasi anggaran. Hal ini dapat dilihat pada Gambar
3.2 berikut :
Gambar 3.2. Flowchart Analisis Konsistensi Dokumen PPAS dengan APBD





PPAS NOMENKLATUR
SINKRON
APBD
Konsisten
Deviasi Anggaran PPAS
dengan APBD
Tidak Konsisten
Faktor Penyebab
14

Selanjutnya untuk mengetahui jumlah dan persentase (%) deviasi
anggaran untuk program dan kegiatan yang telah konsistensi secara
nomenklatur disajikan dalam Tabel 3.2.
Tabel 3.2. Deviasi Anggaran Kegiatan Bidang Kesehatan di dalam PPAS
dan APBD di Kota Solok
No
Program
/Kegiatan yang Konsisten
PPAS APBD Deviasi Anggaran
(Rp) (Rp) (Rp) %
1.


2.


3.


4.

5. Dst.
Total
2). Analisis Pencapaian Derajat Kesehatan Masyarakat di Kota Solok
Untuk menganalisis pencapaian derajat kesehatan masyarakat dilakukan
dengan menganalisis kondisi pencapaian derajat kesehatan masyarakat
berdasarkan sasaran bidang kesehatan dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang terdapat dalam Dokumen Perencanaan Jangka Menengah
Kota Solok Tahun 2006-2011 dan indikator derajat kesehatan untuk Kota
Solok Sehat 2010 berdasarkan Indonesia Sehat 2010, dengan cara membuat
deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat
mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang
diselidiki.
3). Menyusun Implikasi Kebijakan untuk Peningkatan Konsistensi Perencanaan
dan Penganggaran
Berdasarkan hasil dari temuan tingkat konsistensi dan penyebab terjadinya
ketidakkonsistenan serta pencapaian indikator-indikator kesehatan, disusun
implikasi kebijakan untuk peningkatan konsistensi perencanaan dan penganggaran
bidang kesehatan di Kota Solok.



15

V. Hasil Analisis dan Pembahasan

A. Analisis Konsistensi Perencanaan dan Penganggaran Bidang Kesehatan
Kota Solok Tahun 2007-2010
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM
Daerah) dimaksud untuk merumuskan pilihan-pilihan strategi, kebijakan dan
program yang akan diambil dalam rangka mencapai sasaran dan target yang ingin
dicapai. Sasaran dan target tersebut dapat dicapai jika dalam penyusunan anggaran
berpedoman kepada RPJMD yang telah disusun, karena dalam RPJMD terdapat
program yang diprioritaskan dalam pembangunan daerah.
Analisis konsistensi antara perencanaan dan penganggaran dilakukan
dengan membandingkan antara program dan kegiatan dalam dokumen RPJMD,
RKPD, KUA, PPAS dan APBD dalam bidang kesehatan untuk mencapai sasaran
dan tujuan yang diinginkan. Perkembangan konsistensi antara perencanaan dan
penganggaran bidang kesehatan di Kota Solok dapat dilihat pada Tabel berikut
ini.
Tabel 5.1.Perkembangan Konsistensi Antara Dokumen Perencanaan dan Penganggaran Tahun
2007-2010 (Persentase)

Konsistensi
2007 2008 2009 2010
Konsisten Tidak
Konsisten
Konsisten Tidak
Konsisten
Konsisten Tidak
Konsisten
Konsisten Tidak
Konsisten
RPJMD dengan RKPD
(Program)
44,44 55,56 100 - 100 - 88,23 11,77

RKPD dengan KUA
(Kegiatan)
26,47 73,53 90,9 9,01 89,36 10,64 97,67 2,33
RKPD dengan APBD
(Kegiatan)
26,47 73,53 90,9 9,01 89,36 10,64 97,67 2,33
KUA dengan PPAS
(Kegiatan)
100 - 100 - 100 - 100 -
PPAS dengan APBD
(Kegiatan)
100 - 100 - 100 - 100 -
Sumber : Hasil analisis
Dari Tabel diatas dapat dilihat konsistensi antara perencanaan dan
penganggaran di Kota Solok selama tahun 2007-2010. Dari hasil tersebut masih
diperoleh ketidakkonsistenan setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena :
16

a. RKPD Tahun 2007 masih berpedoman kepada RPJMD Pemerintah Daerah
Kota Solok Periode Kepala Daerah sebelumnya untuk program transisi
kepala daerah, karena ketika penyusunan RKPD ini RPJMD tahun 2006-
2011 untuk Kepala Daerah terpilih belum selesai dibuat dan disahkan
(disahkan tanggal 21 Maret 2006).
b. Tahun Anggaran 2007 merupakan tahun pertama Pemerintah Kota Solok
mengimplementasikan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006, sedangkan RKPD tahun 2007 ditetapkan dengan Peraturan
Walikota Nomor 3 Tahun 2006 dan disusun masih berdasarkan
Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2002 dan Perda Nomor 1 Tahun 2003.
Sehingga pada tahun 2007 RKPD yang telah dibuat belum mengacu
kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
(ditetapkan tanggal 15 Mei 2006), sedangkan penyusunan KUA telah
berdasarkan kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006.
c. Adanya Dana Alokasi Khusus yang diterima dari Pemerintah Pusat yang
digunakan untuk peningkatan sarana dan prasarana kesehatan Kota Solok
petunjuk teknis penggunaan dana tersebut baru diketahui setelah dokumen
perencanaan selesai disusun, untuk itu Pemerintah Kota Solok harus
memprioritaskan kegiatan tersebut dan menyediakan dana pendamping /
penunjang untuk kegiatan ini. Untuk membiayai kegiatan ini maka
kegiatan yang telah direncanakan dalam RKPD tidak jadi dianggarkan
karena anggaran yang ada terbatas dan kegiatan tersebut tidak masuk
dalam prioritas
d. Adanya program yang sebelumnya tidak ada dalam RPJMD dan Program
tersebut direncanakan dalam RKPD berdasarkan hasil musrenbang yang
dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah untuk program yang akan dilakukan
dan merupakan kebutuhan masyarakat (tahun 2010)
e. Adanya kegiatan yang mempunyai sasaran yang sama, sehingga tidak
perlu dianggarkan kembali (tahun 2010).

17

Gambar 4.1. Konsistensi antara dokumen perencanaan dan penganggaran tahun
2007-2010 (Persentase)

Dapat disimpulkan bahwa secara umum untuk bidang kesehatan di Kota
Solok selama tahun 2007-2010 untuk program dan kegiatan antara dokumen-
dokumen perencanaan dan penganggaran menunjukkan adanya keterkaitan dan
konsistensi yang cukup baik. Kegiatan yang telah konsistensi secara nomenklatur
antara PPAS dengan APBD bidang Kesehatan di Kota Solok, seterusnya dilihat
berdasarkan deviasi anggaran. Deviasi ini untuk melihat seberapa besar jumlah
anggaran dalam APBD berpedoman terhadap jumlah anggaran yang telah
ditetapkan dalam PPAS.
Tabel 4.2. Jumlah Kegiatan Bidang Kesehatan di Kota Solok Berdasarkan Deviasi
Anggaran
Tahun Tingkat Deviasi Total
Kegiatan
Jumlah deviasi
anggaran (Rp) <10% 10%-
20%
20%-
30%
>30%
2007 1 0 0 0 34 20.000
2008 1 0 0 0 43 1.432.000
2009 6 1 0 0 40 (337.957.400)
2010 1 0 1 0 40 510.868.500
Sumber : Hasil analisis
Pada tabel diatas dapat dilihat jumlah kegiatan (%) berdasarkan tingkat
deviasi anggaran. Selama tahun 2007-2010 tingkat deviasi anggaran yang terjadi
antara PPAS dengan APBD sangat kecil yaitu berkisar <10% dan hanya terjadi
18

pada 1 kegiatan tahun 2007, 2008 dan 2010, dan 6 kegiatan pada tahun 2009. Pada
tahun 2009 10-20% pada satu kegiatan dan 2010 ditemukan tingkat deviasi 20-
30% pada satu kegiatan.
Deviasi anggaran ini disebabkan adanya penambahan atau pengurangan
anggaran yang telah ditetapkan dalam PPAS untuk menjalankan program dan
kegiatan yang direalisasikan dalam APBD. Pengurangan anggaran ini dalam
rangka efisiensi anggaran, adanya kesalahan membuat rincian dalam perhitungan
anggaran oleh SKPD. Penambahan anggaran dalam rangka percepatan pencapaian
sasaran yang telah ditetapkan. Namun secara umum tingkat konsisten anggaran
untuk bidang kesehatan di Kota Solok cukup baik.

B. Pencapaian Derajat Kesehatan Masyarakat di Kota Solok.
Capaian ini berdasarkan sasaran bidang kesehatan dalam meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat yang terdapat dalam Dokumen Perencanaan Jangka
Menengah Kota Solok Tahun 2006-2011 dan capaian indikator derajat kesehatan
untuk Kota Solok Sehat 2010 berdasarkan Indonesia Sehat 2010 sesuai dengan
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1202/Menkes/SK/VIII/2003 tentang
Indikator Indonesia Sehat 2010. Hasil capaian ini akan dikaitkan dengan
konsistensi antara perencanaan dan penganggaran dalam bidang kesehatan ini.
Hal ini dilakukan untuk melihat implikasi konsistensi perencanaan dan
penganggaran bidang kesehatan terhadap capaian derajat kesehatan masyarakat di
Kota Solok.

Tabel 4.3. Capaian Sasaran Bidang Kesehatan Kota Solok Berdasarkan Dokumen
RPJMD 2006-2011
Sasaran Bidang Kesehatan
CAPAIAN Target
MDGs
2007 2008 2009 2010 2015
1. Meningkatnya Usia Harapan Hidup dari
68,9 tahun 2005 menjadi 71,6
69,23 69,34 69,31 69,34 -
2. Menurunnya Angka Kematian Bayi per-
1000 kelahiran hidup
18 17,85 10,1 13,2 23
3. Menurunnya Angka Kematian Ibu
Melahirkan per-1000 kelahiran hidup
88,41 81,17 0 0
102 per
100.000
4. Menurunnya Angka Prevalensi Gizi
Kurang Anak Balita (Persentase)
2,7 46 3,43 2,3 3,15
Sumber : Buku Profil Kesehatan Kota Solok Tahun 2008-2011
19

RPJM Kota Solok tahun 2006-2011 merupakan penjabaran dari visi, misi
dan program kerja Pemerintah Daerah. Visi Pemerintah Daerah Kota Solok
sebagai harapan, gambaran atau cita-cita yang ingin diwujudkan kedepan,
diaplikasikan kedalam misi, strategi dan arah kebijakan. Dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah tahun 2006 2011 bidang
kesehatan merupakan prioritas pembangunan dalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Adanya peningkatan derajat kesehatan menunjukkan
terjadinya perbaikan derajat kesehatan dan gizi masyarakat. Berarti konsistensi
antara program dan kegiatan yang direncanakan dalam dokumen perencanaan dan
telah dilaksanakan dengan anggaran yang tersedia dalam rangka mencapai sasaran
yang ditetapkan dalam RPJMD Pemerintah Kota Solok Tahun 2006-2011 untuk
bidang kesehatan menampakkan hasilnya terhadap pencapaian tujuan dan sasaran
yang ditetapkan .

Tabel 4.4. Capaian Indikator derajat kesehatan dalam rangka Kota Solok Sehat
2010 berdasarkan Indikator Indonesia Sehat 2010
INDIKATOR
TARGET
2010
CAPAIAN
2007 2008 2009 2010
Mortalitas:
1. Angka Kematian Bayi per-1000
kelahiran hidup
40 18 17,85 10,1 13,2
2. Angka Kematian Balita per-1000
kelahiran hidup
58 0,3 1,6 11,7 10,39
3. Angka Kematian Ibu Melahirkan
per-100.000 kelahiran hidup
150 0,7 0 0 0
4. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir 67,9 69,23 69,34 69,31 69,34
Morbiditas :
5. Angka Kematian Malaria per-1.000
penduduk
5 0 0 0 0
6. Angka Kesembuhan Penderita TB
Paru BTA+
85 26 26 27 26
6. Angka Acute Flaccid Paralysis
(AFP) pada anak usia < 15 tahun
per-100.000 anak
0,9 0 19,81 5 0
7. Angka kesakitan Demam Berdarah
Dengue (DBD) per-100.000
penduduk
2 14 18,59 23,13 11,79
Status Gizi :
8. Persentase Balita dengan gizi buruk 15 1,2 3,87 4,87 3,9
9. Persentase kecamatan bebas rawan
gizi
20 100 100 100 100
Sumber : Buku Profil Kesehatan Kota Solok Tahun 2008-2011
20

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari seluruh Indikator derajat
Kesehatan (10 indikator) hanya 1 indikator yaitu Angka kesakitan Demam
Berdarah Dengue (DBD) per-100.000 penduduk yang belum dicapai oleh
Kota Solok untuk mewujudkan Kota Solok Sehat 2010, sedangkan indikator
lainnya telah melebihi target yang ditetapkan untuk Indonesia Sehat 2010.
Kota Solok Sehat 2010 telah menunjukkan keberhasilannya karena 90%
indikator derajat kesehatan telah tercapai. Konsistensi antara perencanaan dan
penganggaran bidang kesehatan dalam program dan kegiatan yang
dilaksanakan berdampak terhadap peningkatan pencapaian indikator derajat
kesehatan untuk Kota Solok Sehat 2010.

















21

IV. Penutup

A. Kesimpulan
Dari penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan hal sebagai
berikut:
1. Konsistensi antara perencanaan dan penganggaran untuk bidang kesehatan di
Kota Solok tahun 2007-2010, berdasarkan analisis konsistensi antar
dokumen dengan menggunakan Matrik Konsolidasi Perencanaan dan
Penganggaran dapat disimpulkan bahwa antar dokumen telah menunjukkan
tingkat konsistensinya yang cukup baik. Artinya untuk bidang kesehatan
Pemerintah Kota Solok benar-benar memfokuskan pelaksanaan program dan
kegiatannya untuk pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.
2. Dalam penelitian masih terdapat ada program dan kegiatan yang tidak
konsisten. Ketidakkonsistenan setiap tahunnya disebabkan karena :
(a) Lambatnya penyelesaian dan pengesahan RPJMD tahun 2006-2011,
(b) Keluarnya peraturan baru dalam pengelolaan keuangan yaitu Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, (c) Adanya Dana Alokasi
Khusus yang diterima dari Pemerintah Pusat yang digunakan untuk
pelaksanaan kegiatan didaerah, (d) Adanya program baru yang merupakan
aspirasi dan kebutuhan masyarakat, (e) Adanya kegiatan dengan tujuan dan
sasaran yang sama.
3. Selama tahun 2007-2010 tingkat deviasi anggaran yang terjadi antara PPAS
dengan APBD sangat kecil yaitu berkisar <10% dan hanya terjadi pada 1
kegiatan tahun 2007, 2008 dan 2010, dan 6 kegiatan pada tahun 2009. Pada
tahun 2009 ditemukan tingkat deviasi 10-20% dan 2010 tingkat deviasi
22,87% pada satu kegiatan. Secara umum tingkat konsisten anggaran untuk
bidang kesehatan di Kota Solok cukup baik.
4. Pencapaian untuk derajat kesehatan masyarakat di Kota Solok yang
merupakan sasaran untuk bidang kesehatan yang tertuang dalam RPJMD
Kota Solok Tahun 2006-2011, adanya peningkatan derajat kesehatan
22

menunjukkan terjadinya perbaikan derajat kesehatan dan gizi masyarakat.
Berarti konsistensi antara program dan kegiatan yang direncanakan dalam
dokumen perencanaan dan telah dilaksanakan dengan anggaran yang tersedia
dalam rangka mencapai sasaran yang ditetapkan dalam RPJMD Pemerintah
Kota Solok Tahun 2006-2011 untuk bidang kesehatan menampakkan hasilnya
terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan .
5. Pencapaian Kota Solok Sehat 2010 untuk indikator derajat kesehatan
menunjukkan 90% indikator derajat kesehatan telah tercapai. Konsistensi
antara perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan dalam program dan
kegiatan yang dilaksanakan berdampak terhadap peningkatan pencapaian
indikator derajat kesehatan untuk Kota Solok Sehat 2010.

B. Rekomendasi
Terhadap beberapa persoalan yang ditemukan dari hasil penelitian, untuk
meningkatkan konsistensi antara perencanaan dan penganggaran,bidang kesehatan
di Kota Solok maka dapat direkomendasikan: mempercepat dalam membuat dan
menyelesaikan dokumen perencanaan lima tahunan RPJMD Pemerintah Kota
Solok setelah terpilihnya Walikota dan Wakil Walikota, peningkatan intensitas
informasi dan komunikasi dengan pemerintah yang lebih tinggi, meningkatkan
SDM perencana dalam membuat setiap kegiatan yang diajukan dan meningkatkan
pengetahuan aparatur yang terkait dalam penyusunan anggaran.








23

Daftar Pustaka


Arsyad, Lincolin, 1999, Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi
daerah , BPFE,Yogyakarta

A.W Widjaja, 1995, Titik Berat Otonomi pada Daerah Tingkat II, Manajemen
PT.Grafindo Persada, Jakarta

-----------------, 2004, Otonomi Daerah dan Daerah Otonomi, Penerbit Pt.Grafindo
Persada, Jakarta

Bunglin, Buehan, 2005, Analisis Data Penelitian Kualitatif, PT.Raja Grafindo
Persada, Jakarta

Bratakusumah dan Riyadi, 2005, Perencanaan Pembangunan Daerah Strategi
Menggali Potensi dalam mewujudkan Otonomi Daerah, PT.Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008, Pedoman Penyusunan Profil
Kesehatan Kabupaten/kota, Jakarta

Deputi Pengawasan Bidang Penyelenggaraan Keuangan Daerah, Direktorat
Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah Wilayah 3, 2005,
Pedoman Penyusunan Anggaran Berbasis kinerja, Jakarta

Eprienti, Lelis, 2006, Analisis Tingkat Konsistensi Program dalam Restrada dan
APBD Kota Sawahlunto, Tesis Perencanaan Pembangunan, Universitas
Andalas

Elfindri, 2001, Ekonomi Sumber Daya Manusia, Penerbit Universitas Andalas,
Padang

---------,2003, Ekonomi Layanan Kesehatan, Penerbit Universitas Andalas,
Padang

---------, 2008, Strategi Sukses Membangun Daerah, Penerbit Gorga Media

Institute For Civil Strengthening (ICS), 2009, Apbd 2008 Tidak Memenuhi
Kelayakan, Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil Papua

Jhingan, M.L, 2007. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, PT.Raja Grafindo
Persada, Jakarta

Kunarj, 2002, Perencanaan dan Pengendalian Program Pembangunan, UI Press,
Jakarta

24

Kuncoro, Mudrajat, 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah, Penerbit Erlangga,
Jakarta

Mardiasmo, 2002, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Penerbit Andi,
Yogyakarta

-------------, 2002, Akuntansi Sektor Publik, Penerbit Andi, Yogyakarta

------------, 2002,Otonomi Daerah sebagai Upaya Memperkokoh Basis
Perekonomian Daerah, Jurnal Ekonomi Rakyat (Artikel-Th.1-Nomor 4-
Juni 2002)

Mulianto, dkk, 2004. Penelitian optimalisasi Kemampuan Daerah Kabupaten/kota
dalam Melaksanakan Otonomi Daerah, Balitbang Prov. Jawa Tengah

Mulyati, S.Endang, 2010, Konsistensi Perencanaan dan Penganggaran Bdang
Pendidikan di Kota Padang Panjang Tahun 2007-2009, Tesis Perencanaan
dan Kebijakan Publik, Universitas Indonesia

Musgrave, Richard dan Peggi, 1991. Keuangan Negara dan Daerah, Jakarta,
Erlangga.

Nazir, Moh, 2003, Metode Penelitian, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17
Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25
Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33
Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17
Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
Tahun 2005-2025

Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36
Tahun 2009 Tentang Kesehatan

25

Pemerintah Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

Pemerintah Republik Indonesia, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7
Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
Tahun 2004-2009

Pemerintah Republik Indonesia, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59
Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah

Pemerintah Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
741/MENKES/PER/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Miniman Bidang
Kesehatan di Kabupaten/Kota

Pemerintah Republik Indonesia, Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 828/MENKES/KES/SK/IX/2008 tentang Petunjuk
Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/kota

Pemerintah Daerah Kota Solok, Rencana Pembangunan Jangka Menengah
(RPJM) Daerah Pemerintah Daerah Kota Solok periode 2006-2011, Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah.

Pemerintah Daerah Kota Solok, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota
Solok Tahun 2007 sampai dengan Tahun 2010, Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah.

Pemerintah Daerah Kota Solok, Kebijakan Umum Anggaran (KUA) Kota Solok
Tahun 2007 sampai dengan Tahun 2010, Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah.

Pemerintah Daerah Kota Solok, PPAS Kota Solok Tahun 2007-2010, Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah.

Pemerintah Daerah Kota Solok, Perubahan APBD Kota Solok Tahun 2007 sampai
dengan Tahun 2010, Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan
Daerah.

Pemerintah Daerah Kota Solok, Kota Solok Dalam Angka Tahun 2006 sampai
dengan Tahun 2010, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

Pemerintah Daerah Kota Solok, Profil Kota Kesehatan Kota Solok Tahun 2006
sampai dengan Tahun 2011, Dinas Kesehatan.

Pemerintah Daerah Kota Solok, Profil Kota Solok Tahun 2006 sampai dengan
Tahun 2010, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

26

Suparmoko, 2002, Ekonomi Publik : Untuk Keuangan dan Pembangunan Daerah,
Penerbit Andi, Yogyakarta

Syafrizal, 2009, Teknik Praktis Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah,
Penerbit Baduose Media, Padang

Sinaga, Murbanto, 2004, Realita Perencanaan dan Anggaran, Departemen
Ekonomi Pembangunan, Universitas Sumatera Utara

Suwandi, Made, 2002, Konsepsi Dasar Otonomi Daerah Indonesia, Pemerintah
Republik Indonesia, Jakarta

Suyatno, Ukuran-Ukuran dalam Kesehatan dan Epidemiologi, Universitas
Diponegoro

Usodo, G.Wisnu, 2008, Konsistensi Perencanaan dan Penganggaran di Kabupaten
Temanggung Kasus : Program Wajib Belajar Sembilan Tahun, Tesis
Perencanaan Pembangunan, Universitas Andalas

Utama, Surya, 2004, Upaya Menghadapi Masalah Kesehatan di Masa Depan,
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara

Buku Saku MDGs