Anda di halaman 1dari 24

1

USAHA KECIL MENENGAH (UKM)


PEMBUATAN BATU BATA


1. Gambaran Umum UKM
Usaha kecil menengah yang dipilih dalam penyusunan tugas ini batu bata,
disebabkan karena usaha batu bata banyak dijumpai di kota Langsa. UKM ini
terdiri dari 5 orang pekerja yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 2 orang
perempuan, UKM ini berproduksi berdasarkan order yang datang. Kebetulan saat
ini UKM ini mendapatkan order untuk menyelesaikan pasar Kota Langsa.
Batu bata adalah bahan bangunan yang paling banyak dipakai sebagai
material pembuat dinding rumah. Sejak jaman dahulu, batu bata telah menjadi
material utama dalam pembangunan rumah tinggal. Di Indonesia, batu bata yang
paling banyak dipakai adalah batu bata yang terbuat dari tanah liat atau lempung.
Penggunaan bata merah pada pemasangan dinding memang sedikit lebih mahal
karena jumlah yang digunakan cukup banyak dan waktu pemasangan lebih lama,
tapi masyarakat Indonesia tetap memilih bata merah karena dapat meredam panas
yang berlebihan. Berbeda halnya dengan batako, jika dilihat dari harga dan
efisiensi waktu, menggunakan batako akan menghemat biaya, tapi penggunaan
batako bata dinding akan mengakibatkan suhu ruang menjadi lebih panas.
Tugas ini membahas peta kerja setempat dan peta kerja keseluruhan serta
penilaian postur kerja terhadap masing-masing aktivitas dalam proses produksi
batu bata.

2. Aktivitas kegiatan
aktivitas pembuatan batu bata dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pengisian cetakan batu bata
b. Pencetakan batu bata
c. Pemotongan batu bata
d. Pengeringan batu bata
e. Pembakaran
2

Aktivitas pembuatan batu bata dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Aktivitas Pembuatan Batu Bata

3. Proses Produksi
Proses pembuatan batu bata keseluruhan dapat dilihat dengan menggunakan
peta aliran proses. Peta aliran proses merupakan suatu diagram yang menunjukkan
urutan dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu, dan penyimpanan yang
terjadi selama satu proses atau suatu prosedur berlangsung. Di dalamnya memuat
pula informasi-informasi yang diperlukan untuk analisa seperti waktu yang
dibutuhkan dan jarak. Peta aliran proses pembuatan batu bata dapat dilihat pada
Gambar 2.
3




Gambar 4. Peta Aliran Proses
4

Proses pembuatan batu bata dikerjakan oleh lebih dari satu orang pekerja. Untuk
melihat kerja masing-masing operator dapat dilihat melalui peta grup kerja. Peta
grup kerja merupakan bagian dari peta aliran proses. Memang pada dasarnya peta
proses kelompok kerja merupakan hasil perkembangan dari suatu peta aliran
proses . Peta ini bisa digunakan dalam suatu tempat kerja di mana untuk
melaksanakan pekerjaan tersebut memerlukan kerja sama yang baik dari
sekelompok pekerja.Peta grup kerja dapat dilihat pada Gambar 3.

4. Penentuan Waktu Baku
Sebelum menghitung waktu baku, terlebih dahulu harus dihitung waktu
waktu siklus dan waktu normal. Waktu siklus adalah waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan elemen-elemen kerja. Waktu siklus dalam pembuatan batu bata ini
diperoleh dari peta aliran proses. Dalam peta aliran proses dalam satu siklus kerja
menghasilkan 225 unit batu bata. Waktu siklus produk diperoleh dari waktu siklus
proses kegiatan. Perhitungan waktu siklus dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Urutan Proses Produksi
Urutan proses waktu (detik)
Pengisian tanah liat ke dalam cetakan 300
Pencetakan 35
Pemotongan 2.313
pengeringan 604.850
Pembakaran 605.100
Jumlah 1.212.598

Sehingg waktu siklus pembuatan batu bata adalah 1.212.598 detik 14 hari
50 menit.


5


Gambar 3. Peta Grup Kerja
6

Waktu normal adalah waktu siklus yang telah mempertimbangkan rating
factor. Rating factor adalah perbandingan prestasi seorang pekerja dengan konsep
normal yang telah disepakati untuk pekerjaan yang dilakukannya. Bila seorang
pekerja berprestasi sama seperti konsep normal pekerjaannya, berarti rating
factornya 100%. Penentuan rating factor ada beberapa cara, namun dalam tulisan
ini digunakan cara Westinghouse system of rating karena sistem ini
mempertimbangkan lebih banyak faktor dan lebih terperinci. Rating factor setiap
pekerja dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rating Factor Pekerja
No Faktor Kelas (lambang) Penyesuaian
Farol
1 Keterampilan Average (D) 0,00
2 Usaha Good (C1) +0,05
3 Kondisi kerja Fair (E) -0,03
4 Konsistensi Average (D) 0,00
Jumlah +0,02
Lukman
1 Keterampilan Good (C1) +0,06
2 Usaha excellent (B2) +0,08
3 Kondisi kerja Fair (E) -0,03
4 Konsistensi Average (D) 0,00
Jumlah +0,11
Agam
1 Keterampilan Excellent (C1) +0,08
2 Usaha Good (C1) +0,05
3 Kondisi kerja Fair (E) -0,03
4 Konsistensi Average (D) 0,00
Jumlah +0,10
Nani
1 Keterampilan Good (C1) +0,06
2 Usaha Good (C1) +0,05
3 Kondisi kerja Fair (E) -0,03
4 Konsistensi Average (D) 0,00
Jumlah +0,08



7

Waktu normal adalah waktu yang digunakan oleh tenaga kerja terampil
untuk menyelesaikan suatu pekerjaan pada keadaan normal, dimana operator
bekerja sesuai metode kerja yang ditetapkan. Secara matematis waktu normal
ditentukan dengan rumus berikut.
Wn =Wi x Rf

Keterangan :
Wn : Waktu normal
Wi : Waktu kegiatan ke i
Rf : Rating Factor (%).
Perhitungan waktu normal dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Waktu Normal
Urutan Proses Waktu (detik) Waktu normal
Pengisian tanah liat ke dalam
cetakan 300 306
Pencetakan 35 38,85
Pemotongan dan penyusunan 2.313 2544,3
Pengeringan 604.850 653238
Pembakaran 605.100 617202
Jumlah 1.212.598 1.273.329,15

Waktu normal 1 unit batu bata adalah 1.273.329,15 detik 14 hari 17 jam
42 menit.

Menentukan Kelonggaran (Allowance)
Kelonggaran terdiri atas tiga bagian, yaitu :
1. Kelonggaran untuk kebutuhan Pribadi
Yang termasuk ke dalam kebutuhan pribadi disini adalah, hal-hal seperti
minum sekadarnya untuk menghilangkan rasa haus, ke kamar kecil,
bercakap-cakap dengan teman sekerja sekedar untuk menghilangkan
ketegangan ataupun kejemuan dalam kerja.

8

2. Kelonggaran untuk menghilangkan rasa fatique
Rasa fatique tercermin antara lain dari menurunnya hasil produksi baik
jumlah maupun kualitas. Fatique merupakan hal yang akan terjadi pada
diri seseorang sebagai akibat melakukan pekerjaan. Karena itulah
kelonggaran untuk melepaskan rasa lelah karena fatique ini perlu
ditambahkan.
3. Kelonggaran untuk hambatan-hambatan tak terhindarkan.
Kelonggaran untuk hambatan-hambatan tak terhindarkan terjadi di luar
kekuasaan pekerja untuk mengendalikannya, misalnya mesin terhenti
akibat terputusnya aliran listrik, meminta petunjuk dari pengawas,
kerusakan pada mesin, dan lain-lain.
Perhitungan allowance dalam pembuatan batu bata dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Allowances Pekerja
No Faktor
Allowance
(%)
Farol
1 Tenaga yang dikeluarkan 12
2 Sikap kerja 1
3 Gerakan kerja 0
4 Kelelahan mata 0
5
Keadaan temperatur tempat
kerja 5
6 Keadaan atmosfer 0
7 keadaan lingkungan yang baik 1
Jumlah 19
Lukman
1 Tenaga yang dikeluarkan 24
2 Sikap kerja 1
3 Gerakan kerja 0
4 Kelelahan mata 0
5
Keadaan temperatur tempat
kerja 5
6 Keadaan atmosfer 0
7 keadaan lingkungan yang baik 1
Jumlah 31

9

Tabel 4. Allowances Pekerja(Lanjutan)
No Faktor
Allowance
(%)
Agam
1 Tenaga yang dikeluarkan 19
2 Sikap kerja 1
3 Gerakan kerja 0
4 Kelelahan mata 0
5
Keadaan temperatur tempat
kerja 5
6 Keadaan atmosfer 0
7 keadaan lingkungan yang baik 1
Jumlah 26
Nani
1 Tenaga yang dikeluarkan 5
2 Sikap kerja 1
3 Gerakan kerja 0
4 Kelelahan mata 0
5
Keadaan temperatur tempat
kerja 5
6 Keadaan atmosfer 0
7 keadaan lingkungan yang baik 1
Jumlah 12

Waktu baku adalah waktu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja normal
untuk bekerja secara wajar dalam sistem kerja yang terbaik. Penentuan waktu
standar didasarkan pada pengukuran waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang
disesuaikan dengan keadaan normal dan ditambah dengan allowance yang
diberikan . Waktu standar dihitung dengan rumus berikut.
Ws = Wn x (1 + All)
Keterangan :
Ws : Waktu baku
Wn : Waktu normal
All : Allowance.

10

Perhitungan waktu baku dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Waktu Baku
Urutan Proses
Waktu Normal
(detik)
Allowance
Waktu Baku
(detik)
Pengisian tanah liat ke dalam cetakan 306 1,19 364,14
Pencetakan 38,85 1,31 50,89
Pemotongan dan penyusunan 2544,3 1,26 3.205,82
Pengeringan 653238 1,12 731.626,56
Pembakaran 617202 1,19 734.470,38
Jumlah 1.273.329

1.469.717,79

Waktu baku pembuatan batu bata adalah 1.469.717,79 detik 17 hari 16
menit.

5. Postur kerja
Penilaian postur kerja digunakan untuk mengetahui tindakan yang harus
dilakukan apabila postur kerja melebihi batas level tertentun. postur kerja dinilai
dengan menggunakan metode REBA. Postur kerja pembuatan batu bata dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Pengisian cetakan batu bata


Penilaian postur pengisian cetakan batu bata dapat dilihat pada Gambar 4.
11

Gambar 4. Penilaian Postur Mengisi Cetakan
12

Analisa pengisian cetakan batu bata
Level resiko sedang dan perlu tindakan, tindakan yang bisa dilakukan
adalah merancang alat bantu untuk mengisi tanah liat ke dalam cetakan
tanpa harus dilakukan secara manual, dengan memperhatikan dimensi
antropometri dan kekuatan otot, sehingga dimensi dan material yang
digunakan dapat mengakomodasi pekerja dengan baik.
b. Menahan cetakan


Penilaian postur menahan cetakan dapat dilihat pada Gambar 5.
13

Gambar 5. Penilaian Postur Menahan Cetakan
14

Analisa postur menahan cetakan.
Level resiko tinggi dan perlu tindakan secepatnya, tindakan yang bisa
dilakukan adalah mesin cetakan batu bata sebaiknya dilengkapi dengan
penahan yang kokoh sehingga tanah terpress secara sempurna. Sehingga
tidak lagi dilakukan pengeprsan manual.

c. Pemotongan batu bata


Penilaian postur emotongan batu bata dapat dilihat pada Gambar 6.
15


Gambar 6. Penilaian Postur Memotong Batu Bata
16

Level resiko sedang dan perlu tindakan, tindakan yang bisa dilakukan
adalah mendesain pegangan yang benar sesuai dimensi antropometri dan
mengganti bahan pemotong batu bata yang tajam dan tidak lengket sehingga
saat memotong batu bata usaha yang dikeluarkan tidak besar sekali.

d. Penyususnan batu bata ke gerobak dorong


Penilaian postur penyusunan batu bata ke gerobak dorong dapat dilihat pada
Gambar 7.
17



e.
Gambar 7. Penilaian Postur Menyusun Batu Bata ke Gerobak
18

Level resiko tinggi dan perlu tindakan secepatnya, tindakan yang bisa
dilakukan adalah mendesain gerobak dorong yang dilengkapi dengan belt
conveyor yang bisa dipasang dan dilepas di meja pemotongan batu bata,
sehingga batu bata tidak lagi disusun secara manual ke gerobak dorong.

f. Membawa gerobak dorong ke tempat pengeringan


Penilaian postur membawa gerobak dorong ke tempat pengeringan dapat
dilihat pada Gambar 8.
19

Gambar 8. Penilaian Postur Membawa Gerobak Batu Bata
20

Level resiko tinggi dan perlu tindakan secepatnya, tindakan yang bisa
dilakukan adalah karena beratnya beban dan banyaknya jumlah unit yang
diproduksi sebaiknya dipasang belt conveyor dari meja pemotongan ke
tempat pengeringan, sehingga gerobak dorong tidak lagi digunakan dan batu
bata tidak lagi secara manual.

g. Menurunkan batu bata dari gerobak dorong ke lantai


Penilaian postur menurunkan batu bata dari gerobak dapat dilihat pada
Gambar 9.
21


Gambar 9. Penilaian Postur Menurunkan Batu Bata dari Gerobak
22

Level resiko tinggi dan perlu tindakan secepatnya, tindakan yang bisa
dilakukan adalah tempat pengeringan dilengkapi dengan meja pengeringan
yang dilengkapi dengan per, sehingga saat tumpukan bata tinggi meja
otomastis turun sesuai dengan berat massa yang diterima.

h. Penyusunan batu bata

Penilaian postur penyusunan batu bata dapat dilihat pada Gambar 10.

23



Gambar 10. Penilaian Postur Menyusun Batu Bata
24

Level resiko tinggi dan perlu tindakan secepatnya, tindakan yang bisa dilakukan
sama seperti analisa postur penurunan batu bata dari gerobak dorong.