Anda di halaman 1dari 33

ASMA BRONKIAL

OLEH

DR. BUDI HARTINI
DEFINISI
The American Thoracic Society 1962
: asma adalah suatu penyakit
dengan ciri meningkatnya respon
trakea dan bronkus terhadap
berbagai rangsangan dengan
manifestasi adanya penyempitan
jalan napas yang luas dan derajatnya
dapat berubah-ubah, baik secara
spontan maupun sebagai hasil
pengobatan.
Bila ditelaah lebih lanjut
definisi tadi dapat diuraikan :
1. Ada peningkatan respon trakea
dan bronkus.
2. Serangan asma jarang sekali
hanya dicetuskan oleh satu
macam rangsangan, tetapi oleh
berbagai rangsangan.

3. kelainan tersebar luas pada
kedua paru tidak hanya satu
paru atau satu lonus paru.
4. Derajat serangan asma
dapat berubah-ubah.
STATUS ASMATIKUS
Merupakan suatu keadaan
dimana serangan asma akut
yang demikian beratnya tidak
dapat diatasi dengan obat-
obat adrenergik beta dan
teofilin.
FAKTOR FAKTOR YANG
MEMPEGARUHI PREVALENSI

1. Anak
Penelitian di berbagai negara telah
dilakukan untuk memperoleh angka
prevalensi pada anak di berbagai negara
diteliti dengan hasil sebagai berikut :
- Skandinavia 0,5 2,0 %
- Inggris&USA 1,5 - 5,1 %
- Australia 5,4 - 7,4 %
- Jepang 3,0 - 5,0 %

2. Dewasa
Dari penelitian di London
terhadap penderita berusia 45-
70 tahun yang
mengikutsertakan semua orang
yang pernah mengi sesekali,
ditemukan prevalensi pada laki-
laki 28,1 % dan wanita 22,1 %.
3. Kelamin
Kebanyakan peneliti
menemukan prevalensi asma
pada anak laki-laki dan
perempuan berbanding 1,5 : 1
dan 3,3 : 1, sedang pada orang
dewasa lebih kurang sama, dan
pada orang tua lebih banyak
pada wanita.
4. Atopi
Dari hasil penelitian Warwick
tidak ditemukan perbedaan
prevalensi asma dalam
keluarga penderita atopi dan
non atopi.
5. Faktor bangsa
Faktor bangsa nampak jelas
pada asma Tokyo Yokohama
yang timbul pada anggota
tentara Amerika dan
keluarganya yang tinggal di
Jepang. Keadaan mereka akan
membaik jika kembali ke
Amerika.
6. Faktor genetik
Dalam keluarga penderita asma
ditemukan lebih banyak asma
dibandingkan keluarga yang tidak
menderita asma.
7. Pengaruh lingkungan
Cuaca lembab serta hawa gunung sering
mempengaruhi asma. Atmosfir yang
mendadak menjadi dingin sering
merupakan faktor provokatif untuk
serangan.
8.Faktor psikologi
Beberapa ahli berpendapat
bahwa asma terjadi akibat
tekanan emosi, sedangkan
kebanyakan peneliti tidak
menemukan adanya
pengaruh psikologik.
PATOGENESIS
Sampai saat ini patogenesis maupun
etiologi asma belum diketahui dengan
pasti. Teori yang paling banyak disepakati
banyak ahli adalah yang berdasarkan
gangguan saraf autonom dan sistem
imun.
Gangguan saraf autonom meliputi saraf
parasimpatis (hiperreaktivitas saraf
kolinergik), gangguan saraf simpatis
(blokade reseptor adrenergik beta) dan
hiperreaktivitas adrenergik alfa.
Rangsangan reseptor kolinergik dan
rangsangan reseptor adrenergik alfa
menimbulkan bronkokonstriksi.
Pada gangguan reseptor kolinergik,
rangsangan seperti hawa dingin,
asap rokok, pertikel-partikel yang
ada dalam udara, tertawa yang pada
orang normal tidak menimbulkan
apa-apa, tetapi pada penderita asma
dapat menimbulkan serangan asma.
Dalam keadaan normal aktivitas
adrenergik beta lebih dominan
daripada adrenergik alfa. Pada
sebagian penderita asma , aktivitas
adrenergik alfa diduga meningkat.
Gangguan sistem saraf autonom
tidak dapat menerangkan terjadinya
asma sepenuhnya, karena itu
dikemukakan teori gangguan sistem
imun.
Pada gangguan sistem imun,
kelainan dimulai dengan masuknya
alergen dari luar badan ke dalam
saluran napas. Pada penderita asma,
alergen tadi akan merangsang
sistem imun untuk membentuk
antibodi jenis IgE. Imunoglobulin ini
akan menempel pada permukaan sel
mastosit yang didapatkan
disepanjang saluran napas dan kulit.
Ikatan antara alergen yang masuk ke
dalam badan dengan IgE pada permukaan
sel mastosit mencetuskan reaksi dan
menyebabkan pelepasan mediator kimia
seperti histamin, leukotrin, prostaglandin.
Mediator-mediator inilah yang dapat
menyebabkan bronkokonstriksi, edema,
hiperreaksi kelenjar-kelenjar sub mukosa
dan infiltrasi sel-sel radang di saluran
napas.
Meskipun patogenesis asma
belum jelas benar, suatu hal
yang menonjol pada semua
penderita asma adalah fenomena
hiperreaktivitas bronkus.
Bronkus penderita asma sangat
peka terhadap rangsangan
imunologi maupun non
imunologi.
BEBERAPA FAKTOR PENCETUS
SERANGAN ASMA
1. Alergen utama debu rumah, spora
jamur, tepung sari rerumputan.
2. Iritan seperti asap, bau-bauan, polutan.
3. Infeksi saluran napas.
4. Perubahan cuaca yang ekstrim
5. Kegiatan jasmani yang berlebihan.
6. Lingkungan kerja.
7. Obat-obatan.
8. Emosi.

GAMBARAN KLINIS
Pada penderita yang sedang
bebas serangan tidak ditemukan
gejala klinis, sedangkan pada
waktu serangan tampak
penderita bernapas cepat dan
dalam, gelisah, duduk dengan
tangan menyangga ke depan
serta tampak otot-otot bantu
pernapasan bekerja dengan
keras.
Gejala asma yang klasik terdiri atas
batuk, sesak dan mengi (wheezing)
dan pada sebagian penderita
disertai rasa nyeri di dada.
Ada beberapa tingkat penderita
asma sebagai berikut :
1. Tingkat pertama, yaitu penderita
yang secara klinis normal, tanpa
kelainan pemeriksaan fisik maupun
kelainan fungsi parunya.
2. Tingkat kedua adalah penderita asma
tanpa keluhan dan tanpa kelainan pada
pemeriksaan fisiknya, tetapi fungsi
parunya menunjukkan tanda-tanda
obstruksi jalan napas.
3. Tingkat ketiga adalah penderita asma
tanpa keluhan tetapi pada pemeriksaan
fisik maupun pemeriksaan fungsi paru
menunjukkan tanda obstruksi jalan
napas.
4. Tingkat keempat adalah penderita
asma yang paling sering dijumpai
baik dalam praktek sehari-hari
maupun di Rumah Sakit. Penderita
mengeluh sesak napas, batuk dan
napas berbunyi. Pada pemeriksaan
fisik maupun pemeriksaan
spirometri akan ditemukan tanda-
tanda obstruksi jalan napas.
5. Tingkat kelima adalah status
asmatikus.

DERAJAT BERAT ASMA
BERDASARKAN AKTIVITAS
JASMANI
1. Derajat I A :
dapat bekerja dengan agak
susah. Tidur kadang-kadang
terganggu.
Derajat I B :
dapat bekerja dengan susah
payah. Tidur seringkali
terganggu.
2. Derajat II A :
tiduran/duduk, bisa bangun
dengan agak susah. Tidur
terganggu.
Derajat II B :
tiduran/duduk, bisa bangun
dengan susah payah. Nadi
>120/menit.
3. Derajat III :
tiduran/duduk, tidak bisa
bangu. Nadi >120/menit.
4. Derajat IV :
Pasien sudah tidak dapat
bergerak lagi dan kelelahan.

Pada serangan asma yang berat, gejala-
gejala yang timbul makin banyak,
antara lain :
1. Kontraksi otot-otot bantu
pernapasan.
2. Sianosis.
3. Silent chest
4. Gangguan kesadaran
5. Penderita tampak letih
6. Takikardia

DIAGNOSIS
Umumnya diagnosis asma tidak sulit,
terutama bila dijumpai gejala yang klasik
seperti sesak napas, batuk dan mengi.
Adanya riwayat asma sebelumnya,
riwayat penyakit alergi seperti rhinitis
alergik dan keluarga yang menderita
penyakit alergik, dapat memperkuat
dugaan penyakit asma.
Selain hal di atas, pada anamnesis perlu
ditanyakan faktor pencetus serangan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Spirometri untuk menunjukkan adanya
obstruksi jalan napas reversibel.
2. Tes provokasi bronkial untuk
menunjukkan adanya hiperreaktivitas
bronkus.
3. Pemeriksaan tes kulit untuk
menunjukkan adanya antibodi IgE yang
spesifik dalam tubuh.
4. Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE
spesifik dalam serum
5. Pemeriksaan radiologi : pada
umumnya pemeriksaan foto
dada penderita asma adalah
normal. Pemeriksaan dilakukan
bila ada kecurigaan adanya
komplikasi asma.
6. Analisis gas darah hanya
dilakukan pada penderita
dengan serangan asma berat.
7. Pemeriksaan eosinofil total dalam
darah dimana pada penderita asma
akan meningkat.
8. Pemeriksaan sputum, disamping
untuk melihat eosinofil, kristal
Charcot Leyden, spiral
Churschmann, pemeriksaan sputum
penting untuk menilai adanya
miselium Aspergilus fumigatus.
KOMPLIKASI ASMA BRONKIAL
1. Pneumotoraks
2. Pneumomediastinum dan emfisema
subkutis
3. Atelaktasis
4. Aspergilosis bronkopulmoner alergik
5. Gagal napas
6. Bronkitis
7. Fraktur iga
PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN

1. Menghilangkan obstruksi jalan napas dengan
segera.
2. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang
dapat mencetuskan serangan asma.
3. Memberikan penerangan kepada penderita atau
keluarga mengenai penyakit asma, baik dalam
cara pengobatannya maupun tentang
perjalanan penyakitnya, sehingga penderita
mengerti tujuan pengobatan yang diberikan
dan bekerja sama dengan dokter yang
merawatnya.