Anda di halaman 1dari 3

PUBLIC RELATIONS WRITING

Jangan ngaku jadi mahasiswa PR kalau nggak bisa Nulis



Apa yang harus dimiliki seorang calon praktisi Public Relations? Apakah
penampilan anda jadi satu-satunya faktor penting dalam karir anda? Ternyata ada
kemampuan yang mau nggak mau harus anda kuasai kalau ingin jadi praktisi
hebat? Kemampuan itu adalah kemampuan menulis ( Public Relations Writing).
Teknik Penulisan Humas (Public Relations Writing) adalah keterampilan
menulis (writing skill) khas Humas/PR dalam menghasilkan naskah-naskah yang
diperlukan untuk kepentingan pencitraan positif dan popularitas
perusahaan/organisasi.
Ada sejumlah tipe penulisan Public Relations atau naskah PR dapat dibagi
menjadi dua bagian:
1. Media Relations/Press Relations, seperti naskah press release (siaran pers),
advertorial, dan press conference (press kit/media kit).
2. Berkaitan dengan media promosi, informasi, dan komunikasi
perusahaan/organisasi, seperti naskah untuk dipublikasikan di newsletter, in
house magazine/Company Magazines, naskah laporan tahunan (annual
report), company profile, leaflet, booklet, brosur, dan sebagainya.
Apa yang harus dimiliki seorang praktisi Public Relations, untuk bisa
menulis? Untuk bisa menghasilkan naskah yang baik (good writing), Humas/PR
harus memiliki keterampilan jurnalistik. Ketrampilan layaknya seorang wartawan,
seperti pemahaman tentang nilai berita (news values), bahasa jurnalistik (language
of mass communications), kode etik jurnalistik, dan sebagainya.

Untuk kepentingan publikasi yang luas, Humas/PR membutuhkan peran media.
Karena itu, diperlukan sebuah hubungan yang baik dengan kalangan pers/media
massa (Press/Media Relations). Agar hubungan itu tercipta dengan baik, Humas
perlu mengenali dunia pers dengan baik pula, seperti karakteristik wartawan,
format media, cara kerja wartawan/media, dan sebagainya.

Contoh Siaran Pers
Siaran Pers (Press Release, biasa disebut rilis saja) adalah naskah berita
(data atau informasi tentang sebuah kegiatan pra ataupun pasca) yang
disampaikan kepada wartawan atau kantor redaksi media untuk dipublikasikan di
media tersebut. Dengan demikian, menulis siaran pers pada dasarnya sama dengan
menulis berita seperti dilakukan para wartawan. Oleh karenanya, karakteristik dan
struktur penulisan siaran pers sama dengan menulis berita.
Karakteristik siaran pers adalah memiliki nilai berita (news values), yakni
aktual, faktual, penting, dan menarik. Struktur penulisannya pun sama dengan
dengan penulisan berita, yakni terdiri dari head (Judul), dateline (baris tanggal),
lead (teras berita), dan news body (tubuh atau isi berita). Berita sendiri artinya
adalah laporan peristiwa atau peristiwa yang dilaporkan oleh media massa.
Pada umumnya siaran pers dikirimkan via pos, via fax, ataupun dikirimkan
melalui surat elektronik kepada para editor dari semua surat kabar, majalah,
stasiun-stasiun radio; televisi dan jaringannya. Terkadang siaran pers tunda
dikirimkan dalam rangka undangan untuk menghadiri "Konferensi pers".

Pengelolaan siaran pers oleh media

Media saat menerima siaran pers dapat mengelolanya dengan berbagai
macam cara, diantaranya adalah:
Dipublikasikan sebagaimana adanya.
Ditulis ulang untuk disesuaikan dengan format berita.
Dipadatkan (apabila isinya terlalu bertele-tele)
Informasi dilacak lebih lanjut untuk kelengkapan berita.


TEKNIK DASAR PENULISAN PRESS RELEASE

Menulis Press Release sama halnya menulis berita untuk media massa. Press
release yang baik akan mendapatkan perhatian yang baik pula dari jurnalis.
Sebaliknya, press release yang tidak terarah boleh jadi hanya masuk tong sampah
redaksi.

Beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam menulis:

1. Fokus.Tulisan yang baik harus mempunyai gagasan utama, sehingga
memudahkan untuk memilah berbagai bahan yang ada. Pilih bahan yang
hanya ada hubungannya dengan gagasan utama sebagai fokus sentral.
Tuangkan gagasan utama ke dalam satu kalimat. Kalimat yang baik tidak
lebih dari 25 kata.Setelah mendapatkan fokus, pilihlah informasi yang akan
mendukung gagasan dasar atau fokus itu.

2. Lead .Lead atau nose biasa disebut intro atau kepala berita atau teras
berita, berupa kalimat atau paragraf pembuka yang mengajak pembaca agar
mau melanjutkan bacaannya. Isinya satu atau beberapa fakta dasar: siapa,
apa, bila, di mana, mengapa, bagaimana, lalu apa. Dasar ini biasa kita kenal
dengan 5W+1H (who = siapa, what = apa, when = bila/kapan, where = di
mana, why = mengapa, ditambah how = bagaimana, dan lalu apa (so what).

3. Tubuh Berita. Berisi fakta atau kutipan yang mendukung lead, termasuk
menyebutkan (attribution) sumber informasi.

4. Penutup (Ending). Umumnya berisi kutipan sumber utama yang
menyimpulkan isu keseluruhan, penjelasan mengenai tindakan selanjutnya
atau fakta tambahan.

5. Perbaikan Kemudian. Ketika ide mengalir dalam menulis, maka biarkanlah.
Jangan ragu soal tata bahasa, misalnya. Jika terbentur pada kalimat atau
paragraf yang rasanya tidak benar, berilah tanda. Setelah selesai menulis,
kembalilah dan perbaiki.

6. Gunakan Teknik Tanya Jawab. Ketika sedang menulis, apakah suatu paragraf
membangkitkan pertanyaan yang perlu dijawab pada paragraf selanjutnya?
Antisipasi pertanyaan itu dengan jawaban.

7. Baca Kembali. Sebaiknya setiap selesai menulis satu kalimat maka bacalah
kembali secara seksama. Demikian pula dengan selesai menulis secara total
dalam satu judul. Akan kelihatan bagian yang tidak cocok yang tidak
tertangkap oleh mata, termasuk penggunaan tanda baca. Perbaikilah.

8. Periksa Akurasi. Baca ulang dan periksa nama, judul, tanda baca, dan
kutipan-kutipan. Pastikan bahwa nama yang dihubungkan dengan kutipan itu
benar. Periksa juga salah ketik dan ejaan.

9. Jangan lupa mencantumkan nama dan nomor kontak pada bagian akhir press
release. Maksudnya, untuk memudahkan jurnalis menghubungi Humas
manakalah masih ada data atau bahan berita yang kurang.

Anda mungkin juga menyukai