Anda di halaman 1dari 33

TUGAS KHUSUS

MENURUNKAN NILAI COD LIMBAH CAIR PT POLYPET


KARYA PERSADA SESUAI BAKU MUTU YANG BERLAKU
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan karena
pencemaran yang ditimbulkannya. Limbah industri dapat berwujud gas, padat, cair
dan lumpur. Di antara beberapa wujud limbah industri tersebut, limbah cair
merupakan jenis limbah yang lebih perlu mendapatkan perhatian karena
berpengaruh penting terhadap kerusakan lingkungan. Untuk menjaga keseimbangan
lingkungan, pemerintah menetapkan baku mutu. Baku mutu diberlakukan untuk
menetapkan kadar kadar pencemar yang diizinkan untuk dibuang ke badan air
sehingga lingkungan akan tetap terjaga.
Untuk memenuhi ketentuan pemerintah, PT Polypet Karya Persada telah
mengantisipasi kerusakan lingkungan akibat limbah industrinya dengan
membangun Waste Water Treatment Plant (WWTP). Walaupun telah memiliki unit
WWTP, namun hasil pengolahan limbah cairnya belum dapat memenuhi baku mutu
yang ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 10 tahun 2007
mengenai Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Industri Poly
Ethylene Terephtalat (PET). Sebagai industri yang bertanggung jawab dan
melaksanakan pengolahan limbah yang berwawasan lingkungan, maka PT Polypet
Karya Persada berupaya memperbaiki kinerja dari unit WWTP yang dimilikinya
sehingga dampak yang mungkin terjadi dari limbah cairnya dapat diantisipasi.
1.2 Perumusan Masalah
Untuk menurunkan nilai COD limbah cair sesuai baku mutu dapat dilakukan
dengan mengkaji efisiensi unit pengolahan limbah dan mengoptimalkan efisiensi
unit pengolahan limbah cair yang sudah ada.
1.3 Tujuan
Pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan yang ditimbulkan oleh
industri dengan mengoptimalkan efisiensi unit WWTP sehingga kualitas limbah
cair memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan sebelum dibuang ke badan air.
1.4 Manfaat
Dari tugas khusus ini, diharapkan dapat memberi gambaran bagi mahasiswa
kerja praktek mengenai pengolahan limbah cair yang dilakukan pada skala industri
dan dapat mengetahui masalah masalah yang terjadi serta memberikan solusi
pada masalah yang ada.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengolahan Limbah yaitu upaya pengurangan volume, konsentrasi, dan tingkat
bahaya limbah dengan jalan pengolahan secara fisik, kimia, biologi atau gabungan dari
ketiga cara tersebut.
a. Pengolahan Fisik
Unit pengolahan fisik merupakan jenis pengolahan limbah yang didalam
prosesnya menggunakan mekanisme fisik seperti sedimentasi dan filtrasi.
Sedimentasi merupakan proses pemisahan partikel dari cairannya, baik partikel yang
memang telah berada dalam air baku, yang terbentuk sebagai akibat penambahan
kimia, maupun partikel yang dihasilkan dari flokulasi fisis yang digabungkan dengan
pengolahan biologis dengan memanfaatkan gaya grafitasi. Unit sedimentasi dapat
mengurangi nilai COD sebesar 30 40 % (www.chem-is-try.org). Waktu tinggal
sedimentasi optimum pada waktu berkisar 3 jam.
Operasi filtrasi dengan alat filter media butiran secara luas digunakan untuk
memindahkan padatan tersuspensi dari dalam air. Bentuk padatan tersuspensi dapat
berasal dari sumber air ataupun sebagai hasil dari proses kimia seperti koagulasi dan
flokulasi, presipitasi kimia dan lainnya. Unit filtrasi mempunyai efisiensi penurunan
COD sebesar 30 60 %
b. Pengolahan Kimia
Pengolahan air limbah secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan
partikel partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam logam berat,
senyawa phosphor, dan zat organic beracun. Prinsip dari pengolahan kimia adalah
dengan menggunakan metode dimana bahan pencemar dipisahkan atau dikonversi
dengan cara menambahkan bahan kimia contohnya dalam proses koagulasi dan
flokulasi.
Proses koagulasi adalah proses destabilisasi muatan partikel sehingga menjadi
bermuatan netral, proses ini dilakukan dengan pengadukan cepat dengan
ditambahkan bahan kimia koagulan. Setelah proses koagulasi biasanya dilanjutkan
dengan proses flokulasi yang dimaksudkan untuk menggabungkan flok flok yang
berukuran besar dan berat sehingga lebih mudah dan cepat mengendap pada bak
sedimentasi. pH optimum untuk proses koagulasi ialah 6,5 8,5. Jenis koagulan yang
biasa digunakan ialah tawas, Poli Alumunium Chloride (PAC), TOPAC, Ferro Sulfat
(FeSO
4
), Ferri Sulfat (FeCl
3
), dan jenis flokulan yang biasa digunakan ialah Poli
Akrilamida. Pengolahan limbah secara koagulasi dan flokulasi dapat memberikan
efisiensi penghilangan COD sebesar 30 60 % sedangkan BOD sebesar 40 70%
(Ema H, 2007).
c. Pengolahan Biologis
Pengolahan limbah cair secara biologis merupakan pengolahan limbah dengan
menggunakan kemampuan mikroorganisme untuk menstabilkan zat organik dan zat
anorganik yang terlarut didalam air limbah dengan cara mengkonversikannya
menjadi gas dan partikel tersuspensi yang dapat dipisahkan dengan cara pengendapan
pengolahan limbah secara biologis dibagi menjadi dua jenis yaitu pengolahan secara
anaerobik dan aerobik.

1. Anaerobik
Pengolahan limbah secara anaerobik merupakan pengolahan limbah dengan
mikroorganisme pendekomposisi bahan bahan organic dalam air limbah yang
akan terganggu pertumbuhannya atau bahkan mati jika terdapat oksigen bebas
dalam system pengolahannya. Beberapa parameter yang perlu dijaga dalam
pengolahan anaerob ialah pH, suhu, dan nutrisi.
Nilai pH yang harus dijaga dalam pengolahan anaerob ialah berkisar 6,5 7,5
karena mikroba dapat mati jika lingkungan terlalu asam atau pun basa. Mikroba di
anaerob tidak dapat hidup pada tempratur yang terlalu tinggi ataupun terlalu
rendah, mikroba anaerob dapat melakukan penguraian dengan baik dalam range
suhu 35
o
C 37
o
C, jika suhu melebihi 40
o
C akan menyebabkan mikroba mati .
Nutrisi yang dibutuhkan bagi pengolahan secara biologis yaitu nitrogen dan
phosphor, nitrogen biasanya didapatkan dari kandungan pada urea sedangkan
phosphor biasanya didapatkan dari kandungan asam phospat, perbandingan nutrisi
yang dibutuhkan bagi pengolahan secara anaerob ialah melalui perbandingan
COD : N : P = 350 : 5 : 1.
Metode pengolahan secara anaerobik biasanya digunakan untuk pengolahan
air limbah yang mempunyai kandungan organik tinggi (>2000 ppm). Efisiensi
penyisihan COD pengolahan limbah secara anaerob dapat mencapai 75 80%
dengan beban limbah organik 4000 mg/l.hari (Balslev-Olesen et al, 1990),
(Mendez et al, 1992). Mekanisme proses anaerob ialah sebagai berikut :
a. Tahap Hidrolisis dan Fermentasi
Tahap hidrolisis adalah tahap penguraian polimer polimer organic tak larut
seperti protein, karbohidrat, lemak menjadi senyawa organic terlarut.
Lemak
hidrolisis
Asam Lemak

Asam Propionat
Protein
hidrolisis
Asam Amino Asam Keto
Karbohidrat
hidrolisis
Asam Keto + Alkohol
Asam Keto Asam Piruvat Asam laktat
Asam Propionat
Asam Butirat
b. Tahap Asetogenesis
Tahap asetogenesis merupakan tahap pembentukan asam asetat. Asam asetat
yang terbentuk sebagian besar berasal dari asam propionate dan asam butirat.
Asam propionate menjadi asam asetat
CH
3
CH
2
COOH + 2 H
2
O
Bakteri
CH
3
COOH + CO
2
+ 3H
2
Asam butirat menjadi asam asetat
CH
3
CH
2
CH
2
COOH + 2 H
2
O
Bakteri
2CH
3
COOH + 2 H
2
c. Tahap Metanogenesis
Pada tahap ini terbentuk tahap pembentukan gas metana, baik yang berasal dari
asam asetat atau pun dari hydrogen.
Pembentukan gas metana dari asam asetat
CH
3
COOH
bakteri
CH
4
+ CO
2
Pembentukan gas metana dari hidrogen
4H
2
+ CO
2

bakteri
CH
4
+ H
2
O
2. Aerobik
Pengolahan limbah secara aerobik merupakan pengolahan limbah yang
memanfaatkan mikroorganisme pendekomposisi bahan bahan organic dalam air
limbah dengan menggunakan oksigen yang disuplai oleh aerator. Reaksi
dekomposisi/degradasi bahan organik secara aerobic dan reaksi pertumbuhan
mikroorganisme yang terjadi dalam system pengolahan air limbah ditunjukan
sebagai berikut :
a. Katabolisme
[bahan organic] + O
2
+ nutrisi
mikroba
O
2
+ NH
3
+ produk akhir lain (NO
3,
PO
4,
H
2
O, SO
4
) + Energi

b. Anabolisme
[mikroba] + O
2
+ Nutrien + Energi
mikroba
C
5
H
7
NO
2
(sel bakteri baru)
c. Respirasi Endogen (Auto Oksidasi)
C
5
H
7
NO
2
+ 5O
2
5 CO
2
+ NH
3
+ 2 H
2
O + Energi
Proses degradasi bahan bahan organik dan proses pertumbuhan mikroba
dapat berlangsung dengan baik jika terdapat kondisi lingkungan yang mendukung.
Derajat keasaman (pH) yang relatif netral, yaitu pH 6,5 8,0; suhu normal yaitu
dalam rentang 25 35
o
C dan tidak terdapat senyawa toksik yang merugikan.
Penyuntikan udara ke dalam tangki aerasi dilakukan secara difusi (penyemprotan)
atau secara mekanis atau gabungan keduanya. Di depan tangki aerasi terdapat
tangki pengendap/sedimentasi sekunder, tangki sedimentasi ini berfungsi untuk
mengembalikan sebagian lumpur aktif yang terbawa oleh aliran efluen. Sekitar 2
30% lumpur yang masuk clarifier dikirim kembali ke tangki aerasi sedangkan
lumpur yang lainnya diendapkan selama 2 3 jam dalam tangki sedimentasi akhir
untuk diendapkan (Herawati, 2007).
Nutrisi/makanan yang diberikan bagi mikroorganisme pendegradasi limbah
dalam lumpur aktif diberikan berdasarkan perbandingan BOD:N:P = 100 : 5 : 1.
Rasio food to microorganism (F/M) yang ideal untuk system lumpur aktif berkisar
antara 0,05 0,5 kg BOD/hari/kg MLSS (Ridwan, 2008). Jika rasio F/M terlalu
besar maka akan terdapat dominasi pertumbuhan bakteri filament sedangkan jika
terlalu rendah akan terbentuk busa yang berasal dari pertumbuhan bakteri
pembentuk busa. Metode pengolahan limbah dengan system aerobic ini
merupakan metode yang banyak digunakan dalam pengolahan air limbah industri.
Terdapat beberapa alasan yang mendasari hal tersebut yakni efisiensi pengolahan
cukup tinggi yaitu sekitar 80 85% (Metcalf & Eddy, 2003), desain reaktornya
sederhana, dan rentang dari jenis limbah cair yang dapat diolah cukup luas.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Pengumpulan Data
PT Polypet Karyapersada mempunyai unit Waste Water Treatment Plant
dengan kapasitas 100 m
3
/hari, namun karena kadar COD limbah terhitung tinggi
maka debit limbah dijaga agar beban pengolahan tidak terlalu besar, nilai maksimal
beban pengolahan sebesar 800 ppm COD/hari, sehingga debit yang diatur fluktuatif
setiap hari, rata rata debit limbah yang diatur sebesar 75 m
3
/hari.
a. Karakteristik Limbah Cair
Setiap industri selalu mempunyai karakteristik limbah yang berbeda beda,
tidak semua jenis industri yang sama mempunyai karakteristik limbah yang
sama, hal ini tergantung dari bahan baku yang digunakan maupun dari proses
yang dilakukan. Berikut data karakteristik limbah cair PT. Polypet Karyapersada
yang diambil dari rata rata karakteristik limbah cair selama kurun waktu 3
bulan (Desember 2010 Februari 2011)
Tabel.1 Karakteristik Limbah Cair PT. Polypet Karya Persada
Parameter Inffluent Effluent Baku Mutu
pH + 2 6 7,2 6 9
BOD
5
(ppm) 3381 193,51 75
COD (ppm) 10144,15 580,54 150
TSS (ppm) 80 40,95 100
Suhu (
o
C) 40
o
C 25
o
C -
b. Data Operasional
DO (Dissolved Oksigen) masuk unit WWTP berkisar 3,0 ppm, sedangkan
setelah melalui unit WWTP naik menjadi 3,1 ppm
Rata rata nilai MLSS pada unit aerasi yaitu 4687,97 ppm
Rata rata nilai MLVSS pada unit aerasi yaitu 3281,58 ppm
Rata rata nilai SV
30
yaitu 689,56 ppm
Besar nilai RAS (return active sludge) pada unit settlement tidak menentu
tergantung dari jumlah MLSS pada unit aerasi.

BAB IV
PENGOLAHAN DATA
Unit unit pengolahan limbah di Waste Water Treatment di PT. Polypet Karya
Persada sudah dapat mengolah nilai TSS, pH, BOD sesuai baku mutu namun nilai COD
masih dalam proses untuk menuju baku mutu. Berdasarkan pengkajian data nilai COD
selama tiga bulan (Desember 2010 Februari 2011) dapat terlihat kenaikan dan
penurunan COD pada grafik.

250
2250
4250
6250
8250
10250
12250
14250
16250
C
O
D

(
p
p
m
)

Grafik COD Januari 2011

Terlihat dari hasil grafik selama tiga bulan pada unit aeration penurunan COD
cenderung rendah dan pada unit settlement, post treatment (koagulasi & flokulasi) dan
filtrasi grafik yang dihasilkan cenderung konstan dan bahkan sering terjadi kenaikan
COD pada unit tersebut.
Sedangkan untuk nilai % efisiensi dari unit pengolahan tersebut dapat dilihat pada
lampiran 6. Dilihat dari nilai efisiensi unit unit pengolahan tersebut efisiensi unit
aerasi, settlement, filtrasi, koagulasi dan flokulasi memang terhitung rendah melihat dari
unit unit tersebut dapat mencapai efisiensi yang cukup besar menurut literatur. Untuk
menangani masalah tersebut dapat dilakukan dengan mengkaji proses yang dilakukan
pada setiap unit WWTP sehingga dapat mengoptimalkan efisiensi pengolahan di unit
unit pengolahan yang sudah ada.
1. Unit Aeration
Permasalahan
Unit aeration di PT. Polypet Karyapersada sudah mencapai efisiensi sebesar 66%,
dari nilai efisiensi ini sebenarnya pengolahan limbah secara aerob dapat ditingkatkan
150
2150
4150
6150
8150
10150
12150
14150
Ekualisasi EGSB Aeration Settlement Post
Treatment
Filtrasi Flow
Chamber
C
O
D


(
p
p
m
)

Grafik COD Februari 2011
hingga mencapai efisiensi sebesar 80 - 85% (Metcalf & Eddy, 2003) sehingga
penurunan COD akan semakin maksimal dan baku mutu pemerintah dapat tercapai.
Penyelesaian
Menaikan efisiensi suatu unit di Waste Water Treatment dapat dengan mengkaji
parameter - parameter yang penting pada unit tersebut. Parameter parameter yang
berpengaruh pada unit aeration (lumpur aktif) yaitu :
MLSS (Mix Liquor Suspended Solid)
MLSS (Mix Liquor Suspended Solid) merupakan nilai yang menunjukan jumlah
total dari padatan tersuspensi yang berupa material organik, mineral, dan termasuk
mikroorganisme didalamnya. Nilai MLSS rata rata unit aeration di WWTP PT.
Polypet Karya Persada sebesar 4687,97 ppm, sudah sesuai dengan range yang
sebaiknya terkandung didalam lumpur aktif yaitu 4000 5000 ppm.
MLVSS (Mix Liquor Volatile Suspended Solid)
MLVSS (Mix Liquor Volatile Sospended Solid) merupakan nilai yang
menunjukan porsi material organik pada MLSS, berisi material organik bukan
mikroba, mikroba hidup dan mati, dan hancuran sel (Nelson dan Lawrence, 1980).
Nilai MLVSS rata rata unit aeration di WWTP PT. Polypet Karyapersada
sebesar 3281,58 ppm, sudah sesuai dengan range yang sebaiknya terkandung
dalam lumpur aktif yaitu 3000 4000 ppm.
Umur Lumpur
Umur lumpur (Sludge age). Umur lumpur adalah waktu tinggal rata-rata
mikroorganisme dalam system. Parameter ini berbanding terbalik dengan laju
pertumbuhan mikroba. Berikut perhitungan umur lumpur pada tangki aerasi unit
WWTP PT.Polypet Karya Persada.
Umur Lumpur = MLSS x V
(SS
eff aerasi
x Q
eff aerasi
) + (SS
waste aerasi
x Q
waste aerasi
)

= 4687,97 mg/L x 1200.000 L

(170,85 g/m
3
x 75 m
3
/hari) + (7032 g/m
3
x 15 m
3
/hari)
= 5,63 x 10
6

g

(1,28 x 10
4
gr/hari) + (1,06 x 10
5
gr/hari)
= 47,39 hari
Berdasarkan perhitungan umur lumpur diatas, umur lumpur di unit aerasi PT.
Polypet Karyapersada sebesar 47,39 hari, idealnya umur lumpur di suatu unit
aerasi berkisar 10 40 hari (Ridwan, 2008) oleh karena itu dapat dikatakan
lumpur sudah sedikit tua, dengan lumpur yang tua akan menimbulkan beberapa
permasalahan yaitu :
1. Penguraian zat organic yang tidak maksimal jika lumpur terus digunakan
karena lumpur akan semakin tua dan akhirnya mati.
2. Pengendapan di settlement sulit, hal ini terlihat pula pada nilai efisiensi unit
settlement yang sebesar -17,39 % yang dapat diartikan COD bertambah di
unit settlement.
3. Nilai MLVSS sesuai dengan range semestinya namun banyak mengandung
dengan mikroorganisme yang sudah mati.
Permasalahan permasalahan ini dapat ditanggulangi dengan cara
a. Nutrisi diperbanyak
Di unit aerasi mikroorgnisme akan melakukan reaksi sebagai berikut
Zat organic + Nutrisi + O
2
CO
2
+ mikroorganisme baru + NH
3
+
energi + Produk Lain (NO
3
, PO
4
)
Sehingga dengan memperbanyak nutrisi maka akan banyak pula
menghasilkan mikroorganisme yang baru.
b. RAS (return aktif sludge) diperkecil
Nilai RAS yang diperkecil akan menjaga regenarasi lumpur baru yang
semakin baik, dengan RAS yang diperkecil maka akan membuat semakin
banyak lumpur tua yang terbuang dan akan tergantikan dengan lumpur
lumpur muda yang dihasilkan dari penambahan nutrisi. Nilai RAS dapat
diperkecil hingga 2%.
c. Seeding Bakteri
Seeding bakteri merupakan pembenihan bakteri baru, dengan penambahan
bakteri tentunya umur lumpur akan semakin muda, namun dengan seeding
bakteri tidak akan efisien karena dibutuhkan waktu yang lama untuk
mencapai fase mikroorganisme optimum sebagai pengurai zat organik,
sedangkan debit limbah akan semakin bertambah tiap hari.
F/M ( food to microorganism ratio)
Ratio F/M merupakan rasio yang menunjukan perbandingan antara jumlah
makanan dengan jumlah mikrorganisme yang terkandung dalam tangki aerasi.
Ratio yang baik dalam tangki aerasi sebaiknya berkisar sekitar 0,05 0,5 kg
BOD/kg MLSS/hari (Ridwan, 2008), namun ratio F/M di unit aerasi WWTP PT.
Polypet Karyapersada terhitung rendah. Berikut perhitungan rata rata dari nilai
F/M di tangki aerasi unit WWTP PT Polypet Karya Persada.
F/M = Q
limbah masuk
x BOD
5 rata rata masuk

aerasi
V x MLSS
= 75 x 813,61

1200 x 4687,97
= 0,01 kg BOD/kg MLSS/hari
Dengan ratio F/M yang rendah ini menunjukan jika mikrorganisme dalam keadaan
lapar karena jumlah makanan tidak sebanding dengan jumlah mikroorganisme
yang terdapat dalam tangki aerasi hal ini yang menyebabkan timbulnya banyak
busa pada permukaan tangki aerasi. Dengan timbulnya banyak busa ini akan
menganggu distribusi oksigen pada tangki aerasi sehingga mikrorganisme akan
kekurangan oksigen.
Permasalahan ini dapat diselesaikan dengan beberapa cara yaitu penambahan
nutrisi sehingga jumlah makanan akan bertambah banyak dan nilai F/M akan naik
dan memperkecil aliran RAS (Return Active Sludge) , dengan memperkecil aliran
RAS maka jumlah mikrorganisme akan berkurang dan tergantikan oleh
mikroorganisme baru dari penambahan nutrisi.
Dosis Nutrisi
Berikut perhitungan dosis makanan yang seharusnya diberikan berdasarkan
teoritis dengan diketahui debit limbah dari sumpit sebesar 50 m
3
dan debit limbah
dari reject reverse osmosis sebesar 25 m
3

BOD
5

rata rata masuk aerasi
= 813,614 mg/l
Volume
tangki aerasi
= 1200 m
3
= 1200.000 L
BOD : N : P = 100 : 5 : 1
BOD = 813,614 ppm
N = 5 x 813,614 = 40,68 ppm
100
P = 1 x 813,614 = 8,14 ppm
100
Kebutuhan N
Kebutuhan N per hari = 40,68 gr/m
3
x 75 m
3
/day
= 3051 gr/hari
Kebutuhan N dalam Urea = Mr Urea x kebutuhan N per hari
Ar N
= 60 x 3051 gr/hari
14
= 13076 gr/hari
= 13,076 kg/hari
Kebutuhan Urea per m
3
limbah = 13,076 kg/hari
75 m
3
/hari
= 0,17 kg/m
3
Kebutuhan P
Kebutuhan P per hari = 8,14 gr/m
3
x 75 m
3
/hari
= 610 gr/hari
Kebutuhan P dalam H
3
PO
4

= Mr H
3
PO
4
x kebutuhan P per hari
Ar P
= 98 x 610 gr/hari
31
= 1928 gr/hari
= 1,928 kg/hari
Kebutuhan H
3
PO
4
per m
3
limbah = 1,928 kg/hari
75 m
3
/hari
= 0,025 kg/m
3
Dari perhitungan dosis nutrisi secara teoritis, didapat kebutuhan nitrogen dalam
urea sebanyak 13,076 kg/hari dan kebutuhan phosphor dalam H
3
PO
4
sebanyak 1,928
kg/hari sedangkan di aktual pemberian urea dan H
3
PO
4
dengan jumlah debit yang
sama sebanyak + 9 kg/hari dan 1,05 kg/hari. Dari data tersebut dapat dikatakan
bahwa pemberian nutrisi bagi mikroorganisme di tangki aerasi masih kurang
sehingga menyebabkan nilai F/M rendah, namun dalam pemberian nutrisi harus
selalu dijaga kadar NO
3
dan PO
4
dalam keluaran tangki aerasi karena jika kadar NO
3

dan PO
4
berlebih akan menyebabkan pertumbuhan alga yang subur dan
mengakibatkan eutrofikasi sehingga distribusi oksigen yang dihasilkan oleh aerator
akan terhalang oleh pertumbuhan alga. Kadar NO
3
ideal di keluaran tangki aerasi
sebesar 5 - 10 ppm sedangkan untuk PO
4
sebesar 0,5 1 ppm (Ridwan, 2008).
2. Unit Settlement
Permasalahan
Pada unit Settlement nilai COD cendrung mangalami kenaikan hal ini pun dapat
dilihat pada nilai efisiensi unit settlement yaitu -17,39%. Padahal pada kondisi ideal
unit settlement dapat menurukan COD sebesar 30 40% (www.chem-is-try.org) ,
dapat dikatakan bahwa pengendapan di unit settlement kurang maksimal hal ini dapat
dilihat dari nilai SV
30
yang rendah, yaitu :
Desember 2010 = 12,6 20,78% MLSS, rata rata berkisar 16,57% MLSS
Januari 2011 = 9,33 28,28 % MLSS, rata rata berkisar 20,41% MLSS
Februari 2011 = 7,04 9,38% MLSS, rata rata berkisar 8,09%
Dilihat dari data tersebut, nilai SV
30
cenderung rendah karena idealnya nilai SV
30
berkisar 80 120 % MLSS dan dilihat dari nilai SVI pun terhitung terlalu besar
karena idealnya nilai SVI sebesar 80 120 mg/l (Ridwan, 2008). Berikut perhitungan
SVI (sludge volume index) :
SVI (mg/l) = 1000 x SV
30
MLVSS
= 1000 x 689,56
4687,97
= 147,09 mg/l
Nilai SVI mendekati 150 mg/l menandakan lumpur itu cenderung bulky, lumpur
bulky merupakan lumpur yang menggumpal dan mengapung dipermukaan settlement
sehingga sulit untuk diendapkan. Hal ini sesuai dengan keadaan di unit settlement
PT. Polypet Karyapersada saat ini, banyak lumpur lumpur seperti cake, berwarna
cokelat kehitaman yang mengapung diatas unit settlement, untuk menghilangkan
lumpur lumpur tersebut di kondisi aktual dilakukan dengan menyaring lumpur
tersebut secara berkala.
Nilai COD pada settlement mengalami kenaikan dapat disebabkan karena waktu
tinggal yang terlalu lama sehingga gas CO
2
(dihasilkan dari reaksi di aerasi) yang
terperangkap dibawah lumpur seiring waktu tinggal yang semakin lama akan naik ke
atas permukaan tangki dan membawa serta lumpur, oleh karena itu lumpur lumpur
tersebut yang tidak lain zat organic akan menyebabkan kenaikan nilai COD.

Penyelesaian
Penyelesaian yang dapat dilakukan yaitu dengan memperkecil waktu tinggal.
Waktu tinggal yang optimal dari unit settlement tank yaitu berkisar + 3 jam, dan
waktu tinggal akan semakin dapat di atur lebih cepat jika industri dalam daerah panas
karena kerapatan antar lumpur lebih tinggi. Sedangkan dari perhitungan waktu
tinggal unit settlement tank di PT.Polypet Karyapersada berkisar lebih dari 6 jam.
Berikut perthitungan waktu tinggal unit settlement WWTP PT. Polypet
Karyapersada,
Waktu Tinggal = V/Q
= 20 m
3
/ 75 m
3
/hari
= 0,267 hari x 24
= 6,4 jam
Untuk memperkecil waktu tinggal dapat dengan memperkecil atau memperbesar
aliran RAS, namun kondisi lumpur di unit aerasi terhitung tua sehingga jika lumpur
tersebut lebih banyak yang dikembalikan (aliran RAS diperbesar) maka akan
membuat umur lumpur semakin tua, oleh karena itu akan lebih baik jika nilai RAS
yang diperkecil sehingga waktu tinggal akan semakin cepat tetapi umur lumpur tidak
semakin tua.
Untuk mendapatkan waktu tinggal berkisar 3 jam , bukaan pompa aliran buangan
dapat diatur sebagai berikut :
Debit per hari = 75 m
3
/hari waktu tinggal 6,4 jam
Debit per hari = 150 m
3
/hari Waktu tinggal 3,2 jam
Kapasitas Pompa (bukaan 100%) = 240 m
3
/hari
150 m
3
/hari = 240 m
3
/hari
X 100%
X = 62,5 %

3. Unit Koagulasi dan Flokulasi
Permasalahan
Efisiensi unit koagulasi dan flokulasi PT. Polypet Karyapersada yaitu berkisar
9,26% sedangkan idealnya efisiensi koagulasi dan flokulasi dapat menghilangkan
COD mencapai 30 - 60% (Ema H, 2007). Beberapa faktor yang mempengaruhi
proses koagulasi dan flokulasi ialah kecepatan pengadukan, jenis koagulan/flokulan,
dan dosis koagulan/flokulan yang diberikan pada air limbah.
Kecepatan pengadukan pada proses koagulasi dan flokulasi di unit post treatment
WWTP PT. Polypet Karyapersada sudah ideal yaitu 136 rpm untuk proses koagulasi
dan 90 rpm untuk proses flokulasi. Koagulan yang digunakan yaitu tawas (Al
2
SO
4
)
dan flokulan jenis polimer anionik. Dengan penggunaan tawas walau harga di
pasaran terhitung murah namun memerlukan dosis yang besar dan efisiensi
penurunan COD yang tidak begitu besar. Di unit koagulasi dan flokulasi PT. Polypet
Karyapersada dosis tawas yang digunakan berkisar 100 200 ppm sedangkan untuk
flokulan polimer anionik sebesar 12,5 ppm, selain bahan kimia tersebut ditambahkan
pul bahan kimia penunjang yaitu NaOCl sebesar 70 ppm sebagai oxidator.
Penggunan dosis koagulan dan flokulan berbeda pada tiap jenis koagulan dan
flokulan untuk itu diperlukan penentuan dosis optimum dengan melakukan jartest
untuk mengetahui dosis yang tepat dan pemilhan koagulan yang tepat sehingga
didapatkan kinerja unit koagulasi dan flokulasi yang maksimal.
Penyelesaian
Mengganti chemical koagulan dari tawas dengan PAC. Keuntungan menggunakan
PAC jika dibandingkan dengan tawas ialah :
PAC dapat membentuk gumpalan/flok lebih cepat dan lebih besar sehingga
waktu pengendapan menjadi lebih singkat.
Daya ikatnya terhadap zat pengotor lebih besar
Sifat kelarutannya lebih baik di dalam air
Daya koagulasinya tetap efektif pada skala pH yang luas sehingga dapat
mengurangi pemakaian alkali (soda ash, caustic soda, kapur)
Jika dilihat dari segi ekonomis, dosis pemakaian PAC lebih rendah dari pada
tawas (Al
2
SO
4
).
Untuk mengetahui perbandingan antara PAC dan tawas dalam melakukan
koagulasi pada limbah cair yang dihasilkan PT. Polypet Karyapersada maka
dilakukan jartest pada tanggal 23 Maret 2011. Jartest yang dilakukan menggunakan
variasi koagulan dan dosis koagulan. Koagulan yang digunakan ialah PAC dan tawas,
sedangkan dosis yang diatur ialah dosis 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm dan 200 ppm
untuk masing masing koagulan. Flokulan yang digunakan ialah polimer anionic
dengan dosis sama yaitu 12,5 ppm untuk setiap variasi yang dilakukan.
Langkah kerja dari tiap masing masing variasi sama yaitu denga langkah
pertama mengukur nilai COD dan pH awal dari limbah cair, nilai COD awal yaitu
sebesar 156 mg/l sedangkan nilai pH sebesar 8,3, kemudian selanjutnya
menambahkan koagulan (PAC/tawas) berdasarkan variasi dosis (50/100/150/200
ppm) ke dalam 300 ml air limbah, selanjutnya dilakukan pengadukan selama 10
menit dengan kecepatan pengadukan 100 rpm, kemudian ditambahkan flokulan
polimer anionic sebanyak 12,5 ppm dan diaduk kembali selama 10 menit dengan
kecepatan pengadukan 60 rpm. Kemudian tahap terakhir di endapkan selama 30
menit.
Pada jartest yang dilakukan ingin diketahui pula pengaruh oxidator dalam proses
koagulasi dan flokulasi, maka dari dosis optimum yang didapat dari percobaan
sebelumnya selain penambahan koagulan dilakukan pula penambahan NaOCl
sebanyak 70 ppm saat proses koagulasi dan kemudian dilakukan langkah yang sama
dengan perlakuan variasi yang lain.




COD awal = 156 mg/l
pH awal = 8,3
Tabel 3. Data Pengamatan Jartest dengan Menggunakan Tawas
Kadar Tawas pH COD (mg/l) Efisiensi Penurunan COD (%)
50 ppm 8,92 114 26,92
100 ppm 8,61 71 54,49
150 ppm 7,96 69 55,77
200 ppm 7,56 58 62,82
200 ppm + NaOCl 70 ppm 8,65 83 46,80

COD awal = 156 mg/l
pH awal = 8,3
Tabel 4. Data Pengamatan Jartest dengan Menggunakan PAC
Kadar PAC
pH COD (mg/l) Efisiensi Penurunan COD (%)
50 ppm 8,77 67 57,05
100 ppm 8,80 48 69,23
150 ppm 8,75 52 66,67
200 ppm 8,93 54 65,39
100 ppm + NaOCl 85 ppm 8,72 85 45,51



Dari data pengamatan terlihat bahwa efisiensi penurunan COD dengan dosis yang
sama selalu lebih besar koagulan PAC dibanding tawas, dosis optimum dari tawas
yaitu 200 ppm dengan efisiensi penurunan COD sebesar 62,82 % sedangkan dosis
optimum dari PAC yaitu 100 ppm dengan efisiensi penurunan COD sebsar 69,23%,
hal ini membuktikan bahwa PAC dapat melakukan koagulasi dengan dosis yang lebih
0
10
20
30
40
50
60
70
50 ppm 100 ppm 150 ppm 200 ppm 200 ppm +
NaOCl 70 ppm
E
f
i
s
i
e
n
s
i

P
e
n
u
r
u
n
a
n

C
O
D

(
%
)

Dosis Tawas (ppm)
Grafik Dosis Tawas Vs Efisiensi Penurunan
COD
0
10
20
30
40
50
60
70
80
50 ppm 100 ppm 150 ppm 200 ppm 100 ppm +
NaOCl
E
f
i
s
i
e
n
s
i

P
e
n
u
r
u
n
a
n

C
O
D

(
%
)

Dosis PAC (ppm)
Grafik Dosis PAC Vs Efisiensi Penurunan
COD
sedikit dibanding tawas namun menghasilkan efisiensi penurunan COD yang lebih
besar. Pada percobaan penambahan NaOCl dengan koagulan didapat hasil penurunan
COD yang lebih kecil dibandingkan dengan koagulasi tanpa penambahan NaOCl hal
ini dapat disebabkan karena NaOCl dalam air akan bereaksi menjadi asam hipoklorit,
asam hipoklorit akan bereaksi dengan NH

yang dihasilkan dari sisa proses penguraian
mikroba, menjadi monokloramin sedangkan monokloramin merupakan salah satu
dari kelompok zat organik (Wikipedia, 2010) sehingga dapat memperbesar nilai
COD.
NaOCl + H
2
O HOCl
Natrium hipoklorit Air Asam Hipoklorit
HOCl + NH
3
NH
2
Cl + H
2
O
Asam hipoklorit Amoniak Monokloramin Air
( Wikipedia, 2010)

Gambar 1. Limbah Cair Awal

(a) (b)
Gambar 2. Jartest (a) Dosis Tawas 50 ppm, (b) Dosis PAC 50 ppm

(a) (b)
Gambar 3. Jartest (a) Dosis Tawas 100 ppm, (b) Dosis PAC 100 ppm

(a) (b)
Gambar 4. Jartest (a) Dosis Tawas 150 ppm, (b) Dosis PAC 150 ppm

(a) (b)
Gambar 5. Jartest (a) Dosis Tawas 200 ppm, (b) Dosis PAC 200 ppm

(a) (b)
Gambar 6. Jartest (a) Dosis Tawas 200 ppm + NaOCl 70ppm, (b)Dosis PAC 100 ppm + NaOCl

Dari gambar 1 hingga gambar 5 terlihat bahwa kejernihan air yang dihasilkan
antara penggunaan tawas dan PAC tidak berbeda jauh namun flok yang dihasilkan
oleh PAC lebih banyak dibandingkan tawas, hal ini membuktikan bahwa PAC
mempunyai daya ikat terhadap zat pengotor lebih besar dibanding tawas.

4. Unit Sand Filter & Karbon Filter
Permasalahan
Nilai efisiensi yang terhitung rendah hanya 10,73 %, padahal idealnya proses
filtrasi dapat mencapai efisiensi sebesar 30 60%. Efisiensi yang terhitung rendah
dapat dikarenakan beberapa factor yaitu proses operasional yang tidak tepat,
pemilihan media filter yang tidak tepat dan dapat disebabkan karena saat proses
pembentukan flok yang tidak sempurna diproses koagulasi dan flokulasi sehingga
mengakibatkan banyak flok kecil yang terbawa ke unit filtrasi sehingga
meningkatkan beban penyaringan.
Penyelesaian
Pada unit filtrasi, backwash merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh bagi
efektivitas proses filtrasi. Backwash dilakukan untuk mengambil material yang
terakumulasi di media filter. Pada unit filtrasi di WWTP PT Polypet Karyapersada
proses backwash sudah cukup sering dilakukan yaitu sebanyak tiga kali sehari,
namun pada prosedur backwash yang dilakukan, air yang digunakan backwash
berasal dari break tank dua yang merupakan air kotor yang akan di filtrasi padahal
idealnya air yang digunakan backwash ialah air yang bersih hasil proses filtrasi
(Iwan, 2007), hal ini dikarenakan air backwash dengan konsentrasi yang lebih rendah
nilai kelarutannya akan lebih besar untuk melarutkan pengotor pengotor yang
menumpuk di atas media filter selain itu proses backwash tidak efektif jika
menggunakan air kotor yang akan difiltrasi karena saat proses backwash berlangsung
akan menghasilkan pengotor pengotor lagi hasil air backwash di bawah media
filter.
Pada proses backwash di unit filtrasi WWTP PT Polypet Karyapersada saat awal
proses backwash pembukaan valve dilakukan langsung pada titik full-scale sebaiknya
saat awal proses backwash pembukaan valve secara perlahan-lahan hingga tinggi air
menutupi seluruh permukaan lapisan filter, baru kemudian flow rate backwash
diperbesar hingga titik full-scale, jika bukaan katup backwash dilakukan secara
mendadak maka dapat terjadi pengangkatan media filter yang mengakibatkan
susunan media penyaring menjadi tidak terkontrol, hal ini akan menyebabkan proses
filtrasi tidak maksimal.
Untuk memperbesar efisiensi dari unit karbon filter dapat dilihat mengenai
prosedur penyimpanan karbon aktif pada storage material dan jenis karbon aktif itu
sendiri. Penyimpanan karbon aktif di storage material berada dalam kantong plastik
namun dalam keadaan terbuka, hal ini tentunya dapat membuat karbon aktif jenuh
karena karbon aktif salah satu material yang bersifat higroskopis yaitu sangat sensitif
untuk menghisap zat zat yang ada di udara, sehingga sebelum digunakan untuk
pengolahan limbah, karbon aktif sudah terlebih dahulu jenuh, oleh karena itu lebih
baik jika karbon aktif ditempatkan dalam keadaan yang kedap udara seperti drum,
container dan plastik rapat.
Jenis karbon aktif yang digunakan di unit carbon filter PT. Polypet Karya Persada
yaitu karbon aktif dengan iodine number 1000. Iodine number 1000 diartikan sebagai
1gr karbon aktif dapat mengabsorb 1000 mg iodine, sehingga dapat dikatakan
semakin besar nilai iodine number semakin besar pula kemampuan karbon active
untuk mengabsorb zat zat pencemar. Karbon aktif dengan iodine number 1000
mempunyai kandungan ash content sebanyak 0,25% dari berat karbon aktif, ash
content ini dihasilkan dari proses karbonisasi dan aktivasi saat proses pembuatan
karbon aktif. Karbon aktif yang mempunyai kandungan ash besar akan mempunyai
efisiensi lebih kecil dibandingkan dengan karbon aktif yang tidak mempunyai
kandungan ash, oleh karena itu lebih baik jika memakai karbon aktif dengan iodine
number diatas 1000 dan nilai ash content yang rendah.
Tabel 5. Jenis - Jenis Karbon Aktif

6. Pengelolaan Limbah Cair
Selain pengolahan limbah ada beberapa cara lain untk menjaga lingkungan dari
masalah limbah industri. Urutan tahapan - tahapan dalam pengelolaan limbah ialah
sebagai berikut :

Gambar 7. Hirarki Pengelolaan Limbah
Tahap pertama ialah minimasi limbah baik itu dari proses maupun non proses, jika
sudah melakukan minimasi limbah ternyata limbah masih terbentuk kemudian dilakukan
3R (reuse, recycle dan recovery), setelah melakukan 3R dan limbah masih juga
terbentuk maka dilakukan pengolahan limbah, kemudian jika telah meakukan
pengolahan limbah secara maksimal dan limbah masih tetap terbentuk tahap terakhir
yaitu pembuangan limbah. PT. Polypet Karyapersada telah melakukan 3R seperti
Nitrogen Purification Unit dan unit MEG Recovery, kemudian pengolahan limbah serta
pembuangan limbah, namun minimasi limbah belum dilakukan.
Minimasi limbah merupakan sebuah strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat
preventif atau pencegahan terpadu yang perlu diterapkan secara terus menerus pada
proses poduksi dan daur hidup produk. Pengelolaan limbah yang dilakukan pada industri
industri saat ini cenderung pengelolaan limbah yang didasarkan pada pendekatan
pengelolaan limbah yang terbentuk (end-of-pipe treatment), yang terkonsentrasi pada
upaya pengolahan dan pembuangan limbah untuk mencegah pencemaran dan kerusakan
lingkungan. Strategi ini dinilai kurang efektif karena kegiatan yang dilakukan sifatnya
reaktif, yaitu bereaksi setelah terbentuknya limbah (at the end of pipe); bukan berupa
pencegahan atau preventif, tetapi kuratif yaitu perbaikan setelah terjadi kerusakan atau
pencemaran. Akibatnya diperlukan biaya tinggi untuk perbaikan kerusakan lingkungan,
dan kerusakan lingkungan terus meningkat. Minimasi limbah dapat dilakukan dengan
beberapa cara diantarnya yaitu substitusi bahan baku yang berbahaya dan mencemari
lingkungan.
Substitusi bahan baku yang berpotensi mencemari lingkungan dengan bahan baku
yang ramah lingkungan dapat dilakukan oleh PT. Polypet Karyapersada yaitu dengan
mengganti Mono Ethylene Glycol yang digunakan dengan Bio Mono Ethylene Glycol
(bio MEG). Bio-MEG terbuat dari bio-ethanol yaitu ethanol yang terbuat dari gula
tebu yang difermentasi.
Reaksi pembuatan bio MEG ialah sebagai berikut :

C
6
H
12
O
6
fermentasi

2 C
2
H
5
OH + CO
2
Glukosa Bio Etanol Karbon Dioksida

2 C
2
H
5
OH
dehidrasi
C
2
H
4
+ H
2
O
Bio Etanol Bio - Etilen Air
C
2
H
4
Oksidasi
C
2
H
4
O
Bio Etilen Bio Etilen Oksida
C
2
H
4
O + H
2
O HOCH
2
CH
2
OH
Bio - Etilene oksida Air Bio - MEG
Toyota Tsusho bekerja sama dengan China Chemical Fiber Corp. membuat plant
baru yaitu Green Taiwan Corp. yang memproduksi bio-MEG dengan bahan baku gula
tebu.

Gambar 8. Bio PET
Proses pembuatan bio-ethanol dari bahan baku hingga menjadi bio-ethanol
diproduksi oeh Petrobas dari Brazil dengan kapasitas produksi bio-ethanol sebesar
143.000 m
3
/tahun, bioethanol yang telah diproduksi kemudian dikirim ke Taiwan
untuk diproses menjadi bio-ethylene kemudian menjadi bio-MEG oleh Green Taiwan
Corp. dengan kapasitas produksi sebesar 100.000 ton/tahun kemudian bio-MEG dikirim
ke industri industri PET di kawasan asia untuk diolah menjadi bio PET dengan
bahan baku 70% PTA dan 30% bio - MEG. Bio PET kemudian dijual ke berbagai
wilayah Jepang, Eropa, dam US. Untuk digunakan sebagai bahan baku produksi tekstil,
interior mobil dam botol PET. Toyota Tsusho memprediksi kebutuhan bio-PET akan
mencapai tiga juta ton per tahun pada tahun 2015.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Fitriani, Niza. 1999. Optimasi Pengolahan Limbah Cair dengan Proses Fisika Kimia
Biologi. Jakarta : Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana.
Greenfield, Richard. 2000. Activated Carbon/Charcoals The Rundown.
Aquarticles.com
Hadiwidodo, Muchtar dan Nur Fajri Arifani. 2007. Evaluasi Desain Instalasi
Pengolahan Air PDAM Klaten. Semarang : Program Studi Teknik Lingkungan
Semarang
Herlambang, Arie. 2010. Teknologi Pengolahan Limbah Tekstil dengan Sistem Lumpur
Aktif. Jakarta : Direktorat Teknologi Lingkungan.
Jurnal Praktikum Pengolahan Limbah Cair Politeknik Negeri Bandung. 2007. Bandung :
Program Studi Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 10 Tahun 2007 Tentang Baku
Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Industri Poly Ethylene
Terephtalat.
Subrata, Ridwan. 2008. Training Pengolahan Air Limbah PT. Polypet Karyapersada.
Cilegon : Dokumen PT. Polypet Karyapersada.



















Lampiran 6. Efisiensi Penurunan COD Setiap Unit Pengolahan
Bulan
Anaerobik Digester Tank Aerobik Digester Tank Settlement Koagulasi & Flokulasi Sand & Carbon Filter
Range Rata - Rata Range
Rata -
Rata
Range Rata - Rata Range Rata - Rata Range
Rata -
Rata
Januari 2010 68,13 s/d 86,46 76.56 50,92 s/d 84,3 70,81
-44,29 s/d 90,07 -5,85
- - - -
Februari 2010 67,25 s/d 92,5 81.48 -6,44 s/d 94,82 65,24
-199,62 s/d 38,5 -30,67
- - - -
Maret 2010 72,08 s/d 91,33 81.09
-17,53 s/d
83,81
63,28
-245,92 s/d 9,3 -67,89
- - - -
April 2010 - - -87,27 s/d 79,36 42
-191,2 s/d 2,65 -65,93
- - - -
Mei 2010 72,4 s/d 95 86.93 -67,89 s/d 69,85 41,37
-263 s/d 64,57 -11,29
- - - -
Juni 2010 63,45 s/d 86,41 79.65
-762,65 s/d
86,48
46,92
-34,48 s/d 15,91 -6,96
- - - -
Juli 2010 63,63 s/d 82,03 73.55 51,51 s/d 84,29 73,73
-214,69 s/d 21,93 -18,38
- - - -
Agustus 2010 59,72 s/d 76,60 69.78 68,76 s/d 82,34 74,47
-54,09 s/d 86,83 0,28
- - - -
September 2010 60,8 s/d 81,87 72.06 -223 s/d 94,6 72,03
-177,3 s/d 84,06 -5,34
- - - -
Oktober 2010 55,42 s/d 86,38 69.77 44,78 s/d 90,11 79,29
-54,52 s/d 70,46 0,84
- - - -
November 2010 64,45 s/d 83,92 73.18 46,67 s/d 87,82 77,2
-65,98 s/d 13,89 -8,97
- - - -
Desember 2010 31,29 s/d 88,78 73.95
-159,02 s/d
92,78
67,18
-52,73 s/d 63,18 0,73
-143,14 s/d 35,31 -12,47 -4,38 s/d 48,47 11,33
Januari 2011 56,31 s/d 94,5 75.2 52,91 s/d 85,95 70,15
-65,55 s/d 28,72 -6,07
-4,41 s/d 34,47 12,25 -16,33 s/d 43,78 10,17
Februari 2011 60,89 s/d 88,73 77.89 54,71 s/d 96,99 88,82
-172,34 s/d 94,17 -18
-15,39 s/d 70,13 28,01 -24,88 s/d 58,55 10,69
Rata - Rata 14
Bulan
76.23

66,61
- -17,39
9,26 10,73
Lampiran 7. Rincian Biaya Bahan Kimia yang Digunakan Unit Waste Water Treatment Plant
Debit sebesar 100m
3
/hari
No Bahan Kimia
Kebutuhan
(Kg/m
3
)
Kebutuhan
(Kg/hari)
Harga bahan
kimia (Rp/Kg)
Biaya
pengolahan
(Rp/m
3
)
Rata rata
biaya per m
3

limbah
Biaya
pengolahan
(Rp/hari)
Rata rata
biaya per
hari
1 NaOH 1,07 1,28 107 128 2750 2942,5 - 3520 Rp.3231,3 294250 - 352000 Rp.323130
2 FeCl
3
0,005 0,01 0,5 1 5750 28,75 57,5 Rp.43,125 2875 5750 Rp.4312,5
3 H
3
PO
4
0,0028 0,282 10500 29,4 Rp.29,4 2940 Rp.2940
4 Urea 0,94 94 5000 4700 Rp.4700 470000 Rp.470000
5 Tawas (Al
2
SO
4
) 0,100 0,200 10 20 1900 190 380 Rp.285 19000 38000 Rp.28500
6 Polimer Anionik 0,01 0,015 1 1,5 56000 560 - 840 Rp.700 56000 - 84000 Rp.70000
7 NaOCl 0,01 0,015 1 1,5 2500 25 37,5 Rp.31,25 2500 3750 Rp.3125
8 Kapur 0,1 10 1800 180 Rp.180 18000 Rp.18000
9 Karbon Aktif 0,12 12 14000 1680 Rp.1680 168000 Rp.168000
10 Cobalt 0,006 0,6 130500 783 Rp.783 78300 Rp.78300
11 Nikel 0,0045 0,45 78300 352,35 Rp.352,35 35235 Rp.35235
12 Bakteri Guard 0,05 5 14000 700 Rp.700 70000 Rp.70000
13 Polymer Kationik 0,01 - 0,015 1 1,5 67500 675 - 1012

Rp.844 67500 - 101200 Rp.84400
Jumlah Biaya Pengolahan Rp13.559,43 - Rp1.355.943
Lampiran 8. Rincian Biaya Kebutuhan Listrik Unit Waste Water Treatment Plant
No Unit Nama Alat Daya (Watt)
1

Ekualisasi 2
Pompa Dosing 5741 A 736
Pompa Dosing 5741 B 736
Pompa Sirkulasi P5742 A 3000
Agitator Ekualisasi M 5740 A 2300
Agitator Ekualisasi M 5740 B 2300
pH Control 1150
LS 5740 1250
LC 5704 1250
2 Ekualisasi 1
Pompa Dosing 5760 70
Pompa Dosing 5720 3700
pHC 5720 100
LC 5720 1250
3 Neutralization Chemical Dossing
Pompa Dosing 5762 130
Pompa Dosing 5763 70
Agitator 5705 370
Agitator 5706 370
Agitator 5707 370
Pompa Dosing 5761 130
Pompa Dosing 5764 70
4 Netralisasi
Pompa Netralisasi 5721 5500
pHC 5721 100
LC 5721 1250
5 Anaerobik Digesting
Pompa sludge 5722 3000
Pompa sludge 5737 3000
6 Aerobik Digesting
Agitator Anoxic (M-5725) 2200
Aertion aerator (5726 A/B/C/D/E) 1850
Sludge Scrapper 750
Pompa RAS (P-5727) 370
LC 5728 1250


















Dari perincian biaya diatas didapat cost production keseluruhan ialah :
Kebutuhan Kimia + Kebutuhan Listrik = Rp 1.355.943 + Rp 932.844
= Rp 2.288.787

7 Post Treatment
Agitator Koagulasi & flokulasi
(M729/30) 740
Sludge Scrapper 370
Pompa Transfer (P-5728) 370
Pompa Sludge (P-5731) 370
Kompressor (K-5700) 3700
Pompa Dosing Koagulan (P-5765) 130
Pompa Dosing Flokulan (P-5767) 130
Pompa Dosing Oxidator (DP-5766) 70
8 Sludge Treatment
Pompa Transfer Sludge (P-5734) 370
Agitator CSTR (M-5735) 5500
Pompa Dossing Kaustik (DP
5706) 130
Chemical Agitator (M-5736) 370
Sludge Decanter (S-5703) 7000
Pompa Dosiing Polymer (P-5769) 115
Pompa Transfer Sludge (P-5737) 3000
9 Filtration Sistem
Pompa Transfer (P-5732) 5500
Pompa Effluent (P-5733) 7500
10 ADT Sedimentation
Level Switch (LS-5738) 1250
Level Switch (LS 5739) 1250
11 Flow Chamber
Level Switch (LS 5733) 1250
Jumlah Daya 77.737 watt
Jumlah Daya per hari 1865,7 Kwh
Total biaya kebutuhan listrik (1 Kwh = Rp 500) Rp 932.844