Anda di halaman 1dari 28

6

BAB II

MOTOR INDUKSI TIGA FASA




2.1 UMUM
Motor induksi merupakan motor listrik arus bolak balik (ac) yang paling
luas digunakan. Penamaannya berasal dari kenyataan bahwa motor ini bekerja
berdasarkan induksi medan magnet stator ke rotornya, dimana arus rotor motor ini
bukan diperoleh dari sumber tertentu, tetapi merupakan arus yang terinduksi
sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar
(rotating magnetic field) yang dihasilkan oleh arus stator.
Mesin ini juga disebut mesin asinkron (mesin tak serempak), hal ini
dikarenakan putaran motor tidak sama dengan putaran fluks magnet stator.
Dengan perkataan lain, bahwa antara rotor dan fluks magnet stator terdapat selisih
perputaran yang disebut dengan slip.
Pada umumya motor ac yang digunakan adalah motor induksi, terutama
motor induksi tiga fasa yang paling banyak dipakai di perindustrian. Motor
induksi tiga fasa sangat banyak dipakai sebagai penggerak di perindustrian karena
banyak memiliki keuntungan, tetapi juga memiliki beberapa kelemahan.
Keuntungan motor induksi tiga fasa:
1. Sangat sederhana dan daya tahan kuat (konstruksi hampir tidak pernah
terjadi kerusakan, khususnya tipe squirel cage).
2. Harga relatif murah dan perawatan mudah.
Universitas Sumatera Utara
7

3. Efisiensi tinggi. Pada kondisi berputar normal, tidak dibutuhkan sikat
dan karenanya rugi daya yang diakibatkannya dapat dikurangi.
4. Tidak memerlukan starting tambahan dan tidak harus sinkron.
Kerugian motor induksi tiga fasa:
1. Kecepatan tidak dapat berubah tanpa pengorbanan efisiensi.
2. Kecepatannya menurun seiring dengan pertambahan beban.
3. Kopel awal mutunya rendah dibanding dengan motor DC shunt.


2.2 KONSTRUKSI MOTOR INDUKSI TIGA PHASA
Motor induksi merupakan motor listrik arus bolak balik (ac) yang paling
luas digunakan, karena konstruksinya yang kuat dan karakteristik kerjanya yang
baik. Secara umum motor induksi terdiri dari rotor dan stator. Rotor merupakan
bagian yang bergerak, sedangkan stator bagian yang diam. Diantara stator dengan
rotor ada celah udara yang jaraknya sangat kecil. Konstruksi motor induksi dapat
diperlihatkan pada Gambar 2.1.


Rotor
Stator



Gambar 2.1 Konstruksi motor induksi

Universitas Sumatera Utara
8

Komponen stator adalah bagian terluar dari motor yang merupakan bagian
yang diam dan mengalirkan arus phasa. Stator terdiri atas tumpukan laminasi inti
yang memiliki alur yang menjadi tempat kumparan dililitkan yang berbentuk
silindris. Alur pada tumpukan laminasi inti diisolasi dengan kertas (Gambar
2.2.(b)). Tiap elemen laminasi inti dibentuk dari lembaran besi (Gambar 2.2 (a)).
Tiap lembaran besi tersebut memiliki beberapa alur dan beberapa lubang pengikat
untuk menyatukan inti. Tiap kumparan tersebar dalam alur yang disebut belitan
phasa dimana untuk motor tiga phasa, belitan tersebut terpisah secara listrik
sebesar 120
o
. Kawat kumparan yang digunakan terbuat dari tembaga yang dilapis
dengan isolasi tipis. Kemudian tumpukan inti dan belitan stator diletakkan dalam
cangkang silindris (Gambar 2.2.(c)). Berikut ini contoh lempengan laminasi inti,
lempengan inti yang telah disatukan, belitan stator yang telah dilekatkan pada
cangkang luar untuk motor induksi tiga phasa.






Gambar 2.2 Komponen Stator motor induksi tiga fasa
(a) Lempengan inti, (b) Tumpukan inti dengan kertas isolasi pada beberapa
alurnya, (c) Tumpukan inti dan kumparan dalam cangkang stator.
(a) (b)
(c)
Universitas Sumatera Utara
9

Diantara stator dan rotor terdapat celah udara yang merupakan ruangan
antara stator dan rotor. Pada celah udara ini lewat fluks induksi stator yang
memotong kumparan rotor sehingga meyebabkan rotor berputar. Celah udara
yang terdapat antara stator dan rotor diatur sedemikian rupa sehingga didapatkan
hasil kerja motor yang optimum. Bila celah udara antara stator dan rotor terlalu
besar akan mengakibatkan efisiensi motor induksi rendah, sebaliknya bila jarak
antara celah terlalu kecil/sempit akan menimbulkan kesukaran mekanis pada
mesin. Adapun tipe-tipe motor induksi tiga phasa berdasarkan konstruksi rotornya
yaitu motor induksi tiga phasa rotor sangkar tupai ( squirrel-cage rotor) dan motor
induksi tiga phasa rotor belitan ( wound rotor). Kedua motor ini bekerja pada
prinsip yang sama dan mempunyai konstruksi stator yang sama tetapi berbeda
dalam konstruksi rotor.


2.2.1. Konstruksi Motor Induksi Tiga Phasa Rotor Sangkar Tupai
Penampang motor sangkar tupai memiliki konstruksi yang sederhana. Inti
stator pada motor sangkar tupai tiga fasa terbuat dari lapisan lapisan pelat baja
beralur yang didukung dalam rangka stator yang terbuat dari besi tuang atau pelat
baja yang dipabrikasi. Lilitan lilitan kumparan stator diletakkan dalam alur
stator yang terpisah 120 derajat listrik. Lilitan fasa ini dapat tersambung dalam
hubungan delta ( ) ataupun bintang ( ). Rotor jenis rotor sangkar ditunjukkan
pada Gambar 2.3 di bawah ini.
Universitas Sumatera Utara
10


Batang Poros
Kipas
Laminasi Inti
Besi
Aluminium
Cincin
Aluminium
Batang
Poros
Kipas
(b)
(a)


Gambar 2.3 Konstruksi rotor motor induksi rotor sangkar
(a) Tipikal rotor sangkar, (b) Bagian-bagian rotor sangkar

Batang rotor dan cincin ujung motor sangkar tupai yang lebih kecil adalah
coran tembaga atau aluminium dalam satu lempeng pada inti rotor. Dalam motor
yang lebih besar, batang rotor tidak dicor melainkan dibenamkan ke dalam alur
rotor dan kemudian dilas dengan kuat ke cincin ujung. Batang rotor motor sangkar
tupai tidak selalu ditempatkan paralel terhadap poros motor tetapi kerapkali
dimiringkan. Hal ini akan menghasilkan torsi yang lebih seragam dan juga
mengurangi derau dengung magnetik sewaktu motor sedang berputar.
Pada ujung cincin penutup dilekatkan sirip yang berfungsi sebagai
pendingin. Rotor jenis rotor sangkar standar tidak terisolasi, karena batangan
membawa arus yang besar pada tegangan rendah. Motor induksi dengan rotor
sangkar ditunjukkan pada Gambar 2.4.
Universitas Sumatera Utara
11



Gambar 2.4 Konstruksi motor induksi rotor sangkar
(a) Konstruksi motor induksi rotor rangkar ukuran kecil,
(b) Konstruksi motor induksi iotor sangkar ukuran besar

2.2.2. Konstruksi Motor Induksi Tiga Phasa Rotor Belitan
Motor rotor belitan ( motor cincin slip ) berbeda dengan motor sangkar
tupai dalam hal konstruksi rotornya. Seperti namanya, rotor dililit dengan lilitan
terisolasi serupa dengan lilitan stator. Lilitan fasa rotor dihubungkan secara dan
masing masing fasa ujung terbuka yang dikeluarkan ke cincin slip yang
terpasang pada poros rotor. Secara skematik dapat dilihat pada Gambar 2.5. Dari
gambar ini dapat dilihat bahwa cincin slip dan sikat semata mata merupakan
penghubung tahanan kendali variabel luar ke dalam rangkaian rotor. Pada motor
ini, cincin slip yang terhubung ke sebuah tahanan variabel eksternal berfungsi
membatasi arus pengasutan yang bertanggung jawab terhadap pemanasan rotor.
(a) (b)
Universitas Sumatera Utara
12

Sumber tegangan
Belitan
Stator
Belitan
Rotor
Slip
Ring
Tahanan
Luar

Gambar 2.5 Skematik motor induksi rotor belitan
Selama pengasutan, penambahan tahanan eksternal pada rangkaian rotor
belitan menghasilkan torsi pengasutan yang lebih besar dengan arus pengasutan
yang lebih kecil dibanding dengan rotor sangkar. Konstruksi motor tiga phasa
rotor belitan ditunjukkan pada Gambar 2.6 berikut.




Gambar 2.6 Konstruksi motor induksi rotor belitan
(a) Rotor belitan, (b) Konstruksi motor induksi tiga phasa dengan rotor belitan.

(a) (b)
Universitas Sumatera Utara
13

2.3 PRINSIP MEDAN PUTAR
Perputaran motor pada mesin arus bolak-balik ditimbulkan oleh adanya
medan putar ( fluks yang berputar ) yang dihasilkan dalam kumparan statornya.
Medan putar ini terjadi apabila kumparan stator dihubungkan dalam fasa banyak,
umumnya fasa 3. Hubungan dapat berua hubungan delta () atau bintang (Y).
Misalkan kumparan a a; b b; c c dihubungkan tiga fasa, dengan beda
fasa masing masing 120
0
(gambar 2.5a) dan dialiri arus sinusoid. Distribusi arus
i
a
, i
b
, i
c
sebagai fungsi waktu adalah seperti Gambar 2.7b. pada keadaan t
1
, t
2
,
t
3
,dan t
4
fluks resultan yang ditimbulkan oleh kumparan tersebut masing masing
adalah seperti Gambar 2.8.
Pada t
1
fluks resultan mempunyai arah sama dengan arah fluks yang
dihasilkan oleh kumparan a a; sedangkan pada t
2
, fluks resultannya mempunyai
arah sama dengan arah fluks yang dihasilkan oleh kumparan c c; dan untuk t
3

fluks resultan mempunyai arah sama dengan fluks yang dihasilkan oleh kumparan
b b. Untuk t
4
, fluks resultannya berlawanan arah dengan fluks resultan yang
dihasilkan pada saat t
1
keterangan ini akan lebih jelas pada analisis vektor.

Gambar 2.7. (a) Diagram phasor fluksi tiga phasa, (b) Arus tiga phasa setimbang
Universitas Sumatera Utara
14



Gambar 2.8. Medan putar pada motor induksi tiga phasa
Dari gambar c, d ,e, dan f tersebut terlihat fluks resultan ini akan berputar satu
kali. Oleh karena itu untuk mesin dengan jumlah kutub lebih dari dua, kecepatan
sinkron dapat diturunkan sebagai berikut :

...(2.1)
Dimana :

= kecepatan sinkron (rpm)


= frekuensi (Hz)
= jumlah kutub
2.3.1. Analisis Secara Vektor
Analisis secara vector didapatkan atas dasar:
1. Arah fluks yang ditimbulkan oleh arus yang mengalir dalam suatu
lingkar sesuai dengan perputaran sekrup ( Gambar 2.9 ).

Universitas Sumatera Utara
15

Gambar 2.9. Arah fluks yang ditimbulkan oleh arus yang mengalir
dalam suatu lingkar
2. Kebesaran fluks yang ditimbulkan ini sebanding dengan arus yang
mengalir.
Notasi yang dipakai untuk menyatakan positif atau negatifnya arus yang
mengalir pada kumparan a a, b b, dan c c yaitu: harga positif, apabila tanda
silang (x) terletak pada pangkal konduktor tersebut ( titik a, b, c ), sedangkan
negatif apabila tanda titik ( . ) terletak pada pangkal konduktor tersebut (Gambar 2.9
). Maka diagram vektor untuk fluks total pada keadaan t1, t2, t3, t4, dapat dilihat pada
Gambar 2.10.

Gambar 2.10. Diagram vektor untuk fluks total pada keadaan t1, t2, t3, t4

Dari semua diagram vektor di atas dapat pula dilihat bahwa fluks resultan
berjalan (berputar).
Universitas Sumatera Utara
16

2.4 PRINSIP KERJA MOTOR INDUKSI TIGA PHASA
Pada keadaan beban nol ketiga phasa stator yang dihubungkan dengan
sumber tegangan tiga phasa yang setimbang menghasilkan arus pada tiap belitan
phasa. Arus pada tiap phasa menghasilkan fluksi bolak-balik yang berubah-ubah.
Amplitudo fluksi yang dihasilkan berubah secara sinusoidal dan arahnya tegak
lurus terhadap belitan phasa. Akibat fluksi yang berputar timbul ggl pada stator
motor yang besarnya adalah

(2.2)

Atau

(2.3)
Dimana:

= Tegangan induksi pada rotor saat rotor dalam keadaan diam


= Jumlah lilitan kumparan rotor


= Fluks maksimum (Weber)


Karena kumparan rotor merupakan rangkaian tertutup, maka ggl tersebut
akan menghasilkan arus I
2
. Adanya arus I
2
di dalam medan magnet akan
menimbulkan gaya F pada rotor. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya F
cukup besar untuk memikul kopel beban, rotor akan berputar searah medan putar
stator. Perputaran rotor akan semakin meningkat hingga mendekati kecepatan
sinkron. Perbedaan kecepatan medan stator (n
s
) dan kecepatan rotor (n
r
) disebut
slip (s) dan dinyatakan dengan

(2.4)
Universitas Sumatera Utara
17

Pada saat rotor dalam keadaan berputar, besarnya tegangan yang
terinduksi pada kumparan rotor akan bervariasi tergantung besarnya slip.
Tegangan induksi ini dinyatakan dengan E
2s
yang besarnya
E
2s
=

(2.5)
Dimana :
E
2s
= tegangan induksi pada rotor dalam keadaan berputar (Volt)

= s. = frekuensi rotor (frekuensi tegangan induksi pada rotor dalam


keadaan berputar)
Bila n
s
= n
r
, tegangan tidak akan terinduksi dan arus tidak akan mengalir
pada kumparan rotor, karenanya tidak dihasilkan kopel. Kopel ditimbulkan jika n
r

< n
s
2.5 RANGKAIAN EKIVALEN MOTOR INDUKSI TIGA PHASA
Untuk menentukan rangkaian ekivalen dari motor induksi tiga fasa,
pertama -tama perhatikan keadaan pada stator. Gelombang fluks pada celah udara
yang berputar serempak membangkitkan ggl lawan tiga phasa yang seimbang di
dalam phasa-phasa stator. Besarnya tegangan terminal stator berbeda dengan ggl
lawan sebesar jatuh tegangan pada impedansi bocor stator, sehingga dapat
dinyatakan dengan persamaan
1
V =
1
E +
1
I (
1 1
jX R + ) (Volt) (2.6)
Di mana :
1
V = tegangan terminal stator (Volt)

1
E = ggl lawan yang dihasilkan oleh fluks celah udara resultan (Volt)

1
I = arus stator (Ampere)

1
R = resistansi efektif stator (Ohm)
Universitas Sumatera Utara
18


1
X = reaktansi bocor stator (Ohm)
Seperti halnya transformator, arus stator dapat dipecah menjadi dua
komponen, komponen beban dan komponen peneralan. Komponen beban
2
I
menghasilkan suatu fluks yang akan melawan fluks yang diakibatkan arus rotor.
Komponen peneralan
u
I , merupakan arus stator tambahan yang diperlukan untuk
menghasilkan fluks celah udara resultan. Arus peneralan dapat dipecah menjadi
komponen rugi rugi inti
c
I yang sefasa dengan
1
E dan komponen magnetisasi
m
I yang tertinggal dari
1
E sebesar 90 . Sehingga dapat dibuat rangkaian
ekivalen pada stator, seperti Gambar 2.11 berikut ini :

Gambar 2.11 Rangkaian ekivalen stator
Misalkan pada rotor belitan, jika belitan yang dililit sama banyaknya
dengan jumlah kutub dan phasa stator. Jumlah lilitan efektif tiap fasa pada lilitan
stator banyaknya a kali jumlah lilitan rotor. Bandingkan efek magnetis rotor ini
dengan yang terdapat pada rotor ekivalen magnetik yang mempunyai jumlah
lilitan yang sama seperti stator. Untuk kecepatan dan fluks yang sama, hubungan
antara tegangan E
rotor
yang diimbaskan pada rotor yang sebenarnya dan tegangan
E
2s
yang diimbaskan pada rotor ekivalen adalah

E
2s
=a E
rotor
(Volt) (2.7)
Universitas Sumatera Utara
19

Bila rotor rotor akan diganti secara magnetis, lilitan-ampere masing-
masing harus sama, dan hubungan antara arus rotor sebenarnya I
rotor
dan arus I
2s

pada rotor ekivalen haruslah :
I
2s
=
a
I
rotor
(Volt) (2.8)
Akibatnya hubungan antara impedansi bocor frekuensi slip
S 2
Z dari rotor
ekivalen dan impedansi bocor frekuensi slip
rotor
Z dari rotor yang sebenarnya
haruslah sebagai berikut.
s 2
Z = =
s 2
s 2
I
E
=
rotor
rotor
2
I
E a
rotor
2
Z a

(2.9)
Karena rotor terhubung singkat, hubungan antara ggl frekuensi slip E
2s

yang dibangkitkan pada phasa patokan dari rotor patokan dan arus I
2s
pada phasa
tersebut adalah
=
s 2
s 2
I
E
s 2
Z =
2
R +
2
jSX (Ohm) (2.10)
Dimana :

S
Z
2
= impedansi bocor rotor frekuensi slip tiap phasa berpatokan pada stator
(Ohm)

2
R = tahanan rotor (Ohm)
SX
2
= reaktansi bocor patokan pada frekuensi slip (Ohm)
Reaktansi yang didapat pada persamaan (2.10) dinyatakan dalam cara demikian
karena sebanding dengan frekuensi rotor dan slip. Jadi
2
X didefinisikan sebagai
harga yang akan dimiliki oleh reaktansi bocor pada rotor dengan patokan pada
frekuensi stator.
Universitas Sumatera Utara
20

Pada stator ada gelombang fluks yang berputar pada kecepatan sinkron.
Gelombang fluks ini akan mengimbaskan tegangan pada rotor dengan frekuensi
slip sebesar E
2s
dan ggl lawan stator E
1
. Bila bukan karena efek kecepatan,
tegangan rotor akan sama dengan tegangan stator, karena lilitan rotor identik
dengan lilitan stator. Karena kecepatan relatif gelombang fluks terhadap rotor
adalah S kali kecepatan terhadap stator, hubungan antara ggl efektif pada stator
dan rotor adalah
E
2s
=S E
1
(Volt) (2.11)
Gelombang fluks magnetik pada rotor dilawan oleh fluks magnetik yang
dihasilkan komponen beban I
2
dari arus stator, dan karenanya, untuk harga efektif
I
2s
=I
2
(Ampere) (2.12)
Dengan membagi persamaan (2.11) dengan persamaan (2.12) didapatkan
s 2
s 2
I
E
=
2
1
I
SE

Didapat hubungan
=
s 2
s 2
I
E
2
1
I
SE
=
2
R +
2
jSX (Ohm) (2.13)
Dengan membagi persamaan (2.13) dengan S, maka didapat :
2
1
I
E
=
S
R
2
+
2
jX (Ohm) (2.14)


Dari persamaan (2.10), (2.11) dan (2.14) maka dapat digambarkan rangkaian
ekivalen pada rotor sebagai berikut.
Universitas Sumatera Utara
21


Gambar 2.12 Rangkaian ekivalen rotor
dimana :

S
R
2
=
S
R
2
+
2 2
R R
S
R
2
=
2
R + ) 1
S
1
( R
2
(Ohm) (2.15)
Dari penjelasan mengenai rangkaian ekivalen pada stator dan rotor di atas,
maka dapat dibuat rangkaian ekivalen motor induksi tiga phasa pada masing
masing fasanya. Perhatikan gambar di bawah ini :
1
V
1
R
1
X
1
I
c
R
m
X
u
I
c
I
m
I
2
I
1
E
2
SX
2
I
2
R
2
SE
Gambar 2.13 Rangkaian ekivalen motor induksi
Untuk mempermudah perhitungan maka rangkaian ekivalen pada Gambar
2.13 diatas dapat dilihat dari sisi stator, rangkaian ekivalen motor induksi tiga fasa
akan dapat digambarkan sebagai berikut.
Universitas Sumatera Utara
22


Gambar 2.14 Rangkaian ekivalen motor induksi dilihat dari sisi stator
atau seperti gambar berikut.
Gambar 2.15 Bentuk lain rangkaian ekivalen motor induksi dilihat dari sisi
stator
Dimana:
2
'
X =
2
2
X a

2
'
R =
2
2
R a
Dalam teori transformator-statika, analisis rangkaian ekivalen sering
disederhanakan dengan mengabaikan seluruh cabang penalaran atau melakukan
pendekatan dengan memindahkan langsung ke terminal primer. Pendekatan
demikian tidak dibenarkan dalam motor induksi yang bekerja dalam keadaan
normal, karena adanya celah udara yang menjadikan perlunya suatu arus
peneralan yang sangat besar (30% sampai 40% dari arus beban penuh) dan karena
Universitas Sumatera Utara
23

reaktansi bocor juga perlu lebih tinggi. Untuk itu dalam rangkaian ekivalen
c
R
dapat dihilangkan (diabaikan). Rangkaian ekivalen menjadi gambar berikut.


Gambar 2.16 Rangkaian ekivalen motor induksi dengan mengabaikan tahanan
R
c
2.6 ALIRAN DAYA PADA MOTOR INDUKSI
Pada motor induksi, tidak ada sumber listrik yang langsung terhubung ke
rotor, sehingga daya yang melewati celah udara sama dengan daya yang
diinputkan ke rotor. Daya total yang dimasukkan pada kumparan stator (P
in
)
dirumuskan dengan
cos I V 3 P
1 1 in
= ( Watt ) (2.16)
Dimana :
V
1
= tegangan sumber (Volt)
I
1
= arus masukan (Ampere)
= perbedaan sudut phasa antara arus masukan dengan tegangan
sumber
Universitas Sumatera Utara
24

Sebelum daya ditransfer melalui celah udara, motor induksi mengalami
rugi-rugi berupa rugi-rugi tembaga stator (P
SCL
) dan rugi-rugi inti stator (P
C
).
Daya yang ditransfer melalui celah udara (P
AG
) sama dengan penjumlahan rugi-
rugi tembaga rotor (P
RCL
) dan daya yang dikonversi (P
conv
). Daya yang melalui
celah udara ini sering juga disebut sebagai daya input rotor.
conv RCL AG
P P P + = (Watt) (2.17)
( ) ( )
'
2
2
'
2
'
2
2
'
2
R I 3
s
R
I 3 = + ( )
s
s
R I
) (
' '
1
3
2
2
2
(Watt) (2.18)
Diagram aliran daya motor induksi dapat dilihat pada Gambar 2.17 di
bawah ini.
r oad out
= t
l
P =
u cos .
L L in
3 I V P =
Daya celah udara
AG
P
conv
P
SCL
P
C
P
RCL
P
W & F
P
SLL
P
Gambar 2.17 Aliran daya motor induksi
Dimana :
-
SCL
P = rugi rugi tembaga pada kumparan stator (Watt)
-
C
P = rugi rugi inti pada stator (Watt)
-
AG
P = daya yang ditranfer melalui celah udara (Watt)
-
RCL
P = rugi rugi tembaga pada kumparan rotor (Watt)
-
W F
P
+
= rugi rugi gesek + angin (Watt)
Universitas Sumatera Utara
25

-
SLL
P = stray losses (Watt)
-
CONV
P = daya mekanis keluaran (output) (Watt)
Hubungan antara rugi-rugi tembaga rotor dan daya mekanis dengan daya
masukan rotor dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
( )
AG 2
2
2 RCL
3 sP R I P = =
' '
( Watt ) (2.19)
( )
AG 2
2
2 conv
1
1
3 sP s R
s
s
I P ) (
) (
' '
=

= ( Watt ) (2.20)
Dari Gambar 2.17 dapat dilihat bahwa motor induksi juga mengalami rugi-
rugi gesek + angin (P
F&W
), sehingga daya mekanis keluaran sama dengan daya
yang dikonversi (P
conv
) dikurangi rugi-rugi gesek + angin.
P
out
= P
conv
P
F&W
(2.21)


Secara umum, perbandingan komponen daya pada motor induksi dapat
dijabarkan dalam bentuk slip yaitu :
P
AG
: P
RCL
: P
conv
= 1 : s : 1 s (2.22)
2.7 EFISIENSI
Efisiensi motor induksi adalah ukuran keefektifan motor induksi untuk
mengubah energi listrik menjadi energi mekanis yang dinyatakan sebagai
perbandingan antara masukan dan keluaran atau dalam bentuk energi listrik
berupa perbandingan watt keluaran dan watt masukan. Defenisi NEMA terhadap
efisiensi energi adalah bahwa efisiensi merupakan perbandingan atau rasio dari
daya keluaran yang berguna terhadap daya input total dan biasanya dinyatakan
Universitas Sumatera Utara
26

dalam persen Juga sering dinyatakan dengan perbandingan antara keluaran dengan
masukan ditambah rugi-rugi, yang dirumuskan dalam persamaan (2.23) :
Loss out
out
in
loss in
in
out
P P
P
P
P P
P
P
+
=

= = q % 100

(2.23)
Dari persamaan terlihat bahwa efisiensi motor bergantung pada besar rugi-
ruginya. Rugi-rugi pada persamaan tersebut adalah penjumlahan keseluruhan
komponen rugi-rugi yang dibahas pada sub bab sebelumnya.
Pada motor induksi pengukuran efisiensi motor induksi ini sering dilakukan
dengan beberapa cara seperti:
- Mengukur langsung daya elektris masukan dan daya mekanis keluaran
- Mengukur langsung seluruh rugi-rugi dan daya masukan
- Mengukur setiap komponen rugi-rugi dan daya masukan,
dimana pengukuran daya masukan tetap dibutuhkan pada ketiga cara di atas.
Umumnya, daya elektris dapat diukur dengan sangat tepat, keberadaan daya
mekanis yang lebih sulit untuk diukur. Saat ini sudah dimungkinkan untuk
mengukur torsi dan kecepatan dengan cukup akurat yang bertujuan untuk
mengetahui harga efisiensi yang tepat. Pengukuran pada keseluruhan rugi-rugi ada
yang berdasarkan teknik kalorimetri. Walaupun pengukuran dengan metode ini
relatif sulit dilakukan, keakuratan yang dihasilkan dapat dibandingkan dengan
hasil yang didapat dengan pengukuran langsung pada daya keluarannya.
Kebanyakan pabrikan lebih memilih melakukan pengukuran komponen
rugi-rugi secara individual, karena dalam teorinya metode ini tidak memerlukan
pembebanan pada motor, dan ini adalah suatu keuntungan bagi pabrikan.
Keuntungan lainnya yang sering disebut-sebut adalah bahwa memang benar error
pada komponen rugi-rugi secara individual tidak begitu mempengaruhi
Universitas Sumatera Utara
27

keseluruhan efisiensi. Keuntungannya terutama adalah fakta bahwa ada
kemungkinan koreksi untuk temperatur lingkungan yang berbeda. Biasanya data
efisiensi yang disediakan oleh pembuat diukur atau dihitung berdasarkan standar
tertentu.
2.8 DESAIN KELAS MOTOR INDUKSI
Motor asinkron yang sering kita temukan sehari-hari misalnya adalah :
kipas angin, mesin pendingin, kereta api listrik gantung, dan lain sebagainya.
Untuk itu perlu diketahui kelas-kelas dari motor tersebut untuk mengetahui unjuk
kerja dari motor tersebut. Adapun kelas-kelas tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kelas A : Torsi start normal, arus start normal dan slip kecil
Tipe ini umumnya memiliki tahanan rotor sangkar yang rendah. Slip pada
beban penuh kecil atau rendah namun efisiensinya tinggi. Torsi maksimum
biasanya sekitar 21% dari torsi beban penuh dan slipnya kurang dari 21%.
Motor kelas ini berkisar hingga 20 Hp.
2. Kelas B : Torsi start normal, arus start kecil dan slip rendah
Torsi start kelas ini hampir sama dengan kelas A tetapi arus startnya
berkisar 75%I
fl
. Slip dan efisiensi pada beban penuh juga baik. Kelas ini
umumnya berkisar antara 7,5 Hp sampai dengan 200 Hp. Penggunaan
motor ini antara lain : kipas angin, boiler, pompa dan lainnya.
3. Kelas C : Torsi start tinggi dan arus start kecil
Kelas ini memiliki resistansi rotor sangkar yang ganda yang lebih besar
dibandingkan dengan kelas B. Oleh sebab itu dihasilkan torsi start yang
lebih tinggi pada arus start yang rendah, namun bekerja pada efisisensi dan
slip yang rendah dibandingkan kelas A dan B.
Universitas Sumatera Utara
28

4. Kelas D : Tosi start tinggi, slip tinggi
Kelas ini biasanya memiliki resistansi rotor sangkar tunggal yang tinggi
sehingga dihasilkan torsi start yang tinggi pada arus start yang rendah
Sebagai tambahan pada keempat kelas tersebut diatas, NEMA juga
memperkenalkan desain kelas E dan F, yang sering disebut motor induksi soft-
start, namun desain kelas ini sekarang sudah ditinggalkan.
2.9. PENENTUAN PARAMETER MOTOR INDUKSI
Data yang diperlukan untuk menghitung performansi dari suatu motor
induksi dapat diperoleh dari hasil pengujian tanpa beban, pengujian rotor tertahan,
dan pengukuran tahanan dc belitan stator.
2.9.1. Pengujian Tanpa Beban (No Load Test)
Pengujian tanpa beban pada motor induksi akan memberikan keterangan
berupa besarnya arus magnetisasi dan rugi rugi tanpa beban. Biasanya pengujian
tersebut dilakukan pada frekuensi yang diizinkan dan dengan tegangan tiga fasa
dalam keadaan setimbang yang diberikan pada terminal stator. Pembacaan
diambil pada tegangan yang diizinkan setelah motor bekerja cukup lama, agar
bagian bagian yang bergerak mengalami pelumasan sebagaimanamestinya. Rugi
rugi rotasional keseluruhan pada frekuensi dan tegangan yang diizinkan pada
waktu dibebani biasanya dianggap konstan dan sama dengan rugi rugi tanpa
beban.
Pada keadaan tanpa beban, besarnya arus rotor sangat kecil dan hanya
diperlukan untuk menghasilkan torsi yang cukup untuk mengatasi gesekan.
Karenanya rugi rugi

tanpa beban cukup kecil dan dapat diabaikan. Pada


transformator rugi rugi

primernya tanpa beban dapat diabaikan, akan tetapi


Universitas Sumatera Utara
29

rugi rugi stator tanpa beban motor induksi besarnya cukup berarti karena arus
magnetisasinya lebih besar. Besarnya rugi rugi rotasional


pada keadaan kerja
normal adalah :

(2.24)

Dimana :
= daya input tiga fasa
= arus tanpa beban tiap fasa ( A )


= tahanan stator tiap fasa ( ohm )

Karena slip pada keadaaan tanpa beban sangat kecil, maka akan
mengakibatkan tahanan rotor

sangat besar. Sehingga cabang paralel rotor


dan cabang magnetisasi menjadi


di shunt dengan suatu tahanan yang sangat
besar, dan besarnya reaktansi cabang paralel karenanya sangat mendekati

.
Sehingga besar reaktansi yang tampak


yang diukur pada terminal stator pada
keadaan tanpa beban sangat mendekati


, yang merupakan reaktansi
sendiri dari stator, sehingga



Maka besarnya reaktansi diri stator, dapat ditentukan dari pambacaan alat ukur
pada keadaan tanpa beban. Untuk mesin tiga fasa yang terhubung Y besarnya
impedansi tanpa beban :

(2.25)
Di mana


merupakan tegangan line, pada pengujian tanpa beban.
Universitas Sumatera Utara
30

Besarnya tahanan pada pengujian tanpa beban


adalah :

(2.26)


merupakan suplai daya tiga fasa pada keadaan tanpa beban, maka besar
reaktansi tanpa beban.

(2.27)
sewaktu pengujian beban nol, maka rangkaian ekivalen motor induksi seperti
Gambar 2.18
Gambar 2.18. Rangkaian Ekivalen Motor Induksi pada Percobaan Beban Nol
2.9.2. Pengujian Tahanan Stator (DC Test)
Untuk menentukan besarnya tahanan stator R
1
dilakukan dengan test DC.
Pada dasarnya tegangan DC diberikan pada belitan stator motor induksi. Karena
arus yang disuplai adalah arus DC, maka tidak terdapat tegangan yang
diinduksikan pada rangkaian rotor sehingga tidak ada arus yang mengalir pada
rotor. Dalam keadaan demikian, reaktansi dari motor juga bernilai nol, oleh
karena itu, yang membatasi arus pada motor hanya tahanan stator.
Universitas Sumatera Utara
31

Untuk melakukan pengujian ini, arus pada belitan stator diatur pada nilai
rated, yang mana hal ini bertujuan untuk memanaskan belitan stator pada
temperatur yang sama selama operasi normal. Apabila tahanan stator dihubung Y,
maka besar tahanan stator/ fasa adalah :

(2.28)
Bila stator dihubung delta, maka besar tahanan stator,

(2.29)
Dengan diketahuinya nilai dari R
1
, rugi rugi tembaga stator pada beban
nol dapat ditentukan, dan rugi rugi rotasional dapat ditentukan sebagai selisih
dari daya input pada beban nol dan rugi rugi tembaga stator.
Gambar 2.19 menunjukkan salah satu bentuk pengujian DC pada stator
motor induksi yang terhubung Y.

Gambar 2.19. Rangkaian Pengukuran Untuk Test DC
2.9.3. Pengujian Rotor Tertahan (Block Rotor Test)
Pengujian ini bertujuan untuk menentukan parameter parameter motor
induksi, dan biasa juga disebut dengan locked rotor test. Pada pengujian ini rotor
dikunci/ ditahan sehingga tidak berputar.
Universitas Sumatera Utara
32

Untuk melakukan pengujian ini, tegangan AC disuplai ke stator dan arus
yang mengalir diatur mendekati beban penuh. Ketika arus telah menunjukkan nilai
beban penuhnya, maka tegangan, arus, dan daya yang mengalir ke motor diukur.
Rangkaian ekivalen untuk pengujian ini dapat dilihat pada gambar 2.20 di bawah
ini.

Gambar 2.20 Rangkaian Ekivalen Motor Induksi pada Percobaan Block Rotor
Test
Saat pengujian ini berlangsung s = 1 dan tahanan rotor R
2
/s = R
2
. Karena
nilai R
2
dan X
2
begitu kecil, maka arus input akan seluruhnya mengalir melalui
tahanan dan reaktansi tersebut. Oleh karena itu, kondisi sirkit pada saat ini terlihat
seperti kombinasi seri X
1
, R
1
, X
2
, dan R
2
. Sesudah tegangan dan frekuensi diatur,
arus yang mengalir pada motor diatur dengan cepat, sehingga tidak timbul
kenaikan temperatur pada rotor dengan cepat. Daya input yang diberikan kepada
motor ;

(2.30)


= tegangan line pada saat pengujian berlansung


= arus line pada saat pengujian berlangsung
Universitas Sumatera Utara
33

(2.31)


= impedansi hubung singkat


Tahanan block rotor :




Sedangkan reaktansi block rotor

adalah reaktansi stator dan rotor pada frekuensi pengujian.



(2.32)
Nilai dari


ditentukan dari DC Test. Karena reaktansi berbanding langsung
dengan frekuensi, maka reaktansi ekivalen total X
BR
pada saat frekuensi operasi
normal.

(2.33)











Universitas Sumatera Utara